Dendeng Jantung Pisang Bisnis Dua Pengusaha

Profil Pengusaha Diah Srikandi

 

dendengjantung.png
 

Pernah terpikir tidak berbisnis dendeng jantung pisang. Bisnis dua pengusaha berikut menghasilkan  uang lumayan loh. Ada Bambang Eko Putro, warga Cimahi mengolah bahan dianggap limbah ini. Jantung buah pisang memang dianggap limbah.


Beberapa daerah melihat mereka menjadi bahan makanan. Namun pamornya masih kalah hingga banyak orang masih membuangnya. Inilah Denjapi atau dendeng jantung pisang diolah seperti daging. Bila orang biasanya memakai daging kini memakai jantung pisang.

 

Dua Pengusaha Dendeng


Tekstur bagian tanaman ini memiliki tekstur serat mirip daging. Tidak semua pisang dapat diolah bagian tubuhnya ini. Diantara jantung pisang enak adalah jenis klutuk, kepok, raja bulu, dan raja siam. Dan paling enak adalah jantung pisang klutuk.


Bentuk dan rasanya enak memiliki tekstur sangat mirip. Tingga kamu memotong persegi, tipis, lalu diolah hingga tampak berserat, warna kecoklatan dan berasa manis. Mirip daging asli. Memakai bahan rempah benar akan hadirkan aroma tajam menggoda.


Makanan khas Cimahi yang diketahui memiliki kandungan gizi baik. Kandungannya protein 12,051%, karbonhidrat 34,831%, dan lemak total 13,050%. Hebatnya bila dikombinasikan dengan buah dan daun akan lebih untung. Pengusaha akan dapat memanfaatkan semua bagian tubuh pohon pisang tersebut.


Kisah Diah Retnowati sedikit berbeda karena tidak mengikuti tren. Dia merupakan warga Jawa Timur bukan Cimahi. Oleh- oleh khas salah satu daerah Jawa Barat kemudian Diah adaptasi. Nama usahanya Dendeng Ontong Srikandi.


Wanita yang lebih dikenal dengan nama Diah Srikandi. Dalam bahasa Jawa jelasnya "ontong" berarti merujuk jantung pisang. Bagian tubuh pohon pisang berwarna merah keunguan bukan barang baru. Ini sudah sering dipakai bahan masakan kuliner, terutama sayur lodeh dan pecel.


Diah tidak cuma membuat dendeng. Ontong pisangnya diolah brownis, paru, bahkan kerupuk. Bagian pisang ini sangat digemari pelaku vegetarian. "Olahan ontong andalan kami adalah dendeng ontong yang disukai para vegetarian," lanjutnya.


Usahanya terletak di toko Srikandi di Jalan Raya Rogo Kabupaten Kediri. Menurutnya spesial dendeng ontong memakai jenis pisang klutuk atau kepok. "Selain pisang kepok dan klutuk tidak bisa dipakai buat dendeng. Selain rasanya bisa sepet seratnya juga tidak bisa menyerupai daging," lanjutnya.


Pengusah Diah Srikandi menjelaskan terdapat beberapa variasi rasa. Dia membuat dendeng rasa abon, rendang, manis dan pedas. Itu semua dikemas dalam dua kemasan berupa kaleng dan kardus. Diah menjelaskan kemasan kaleng dapat tahan setahun.


Kemasan kardus asal disimpan rapat bertahan tujuh bulan. Diah mengikuti aneka pameran berkeliling Indonesia mewakili Jawa Timur. Dia mengatakan harga jualnya terbilang terjangkau. Harga kalengan dendeng Rp.17 ribu/kaleng, brownis Rp.23 ribu dan krupuk Rp.20 ribu.


Harganya terjangkau cocok dijadikan oleh- oleh ketika di Kediri. Diah dibantu tujuh karyawan dan seorang wakil bernama Marsiah. Dia sudah bekerja 32 tahun, sudah memiliki anak yang sudah Diah anggap anak sendiri, dan Marsiah mengurusi semua urusan toko dan pabrik ketika Diah ikut pameran.


Ide Dendeng Jantung Pisang


Usaha tersebut bermula kejenuhan Diah menjalani bisnis. Selama 32 tahun usahanya membuat bolu, tart, nastar, dan makanan ringan seperti keripik, rangginan, sambal pecel dan petis. Jatuh bangun dan nyaris bangkut sudah berusaha lama.


Di bisnis, ditipu dan dibohongi menurut Diah adalah biasa, ia berprinsip kegagalan adalah kesuksesan tertunda. "Saya pernah ditipu ratusan juta. Orang Bojonegoro dan beberapa orang lainnya," Diah lalu menceritakan.


Ceritanya mereka memesan banyak untuk lebaran. Tetapi mereka kembalikan tujuh hari sebelum hari lebaran. Mereka tidak mau melunasi pembayaran. Padahal Diah memakai modal memakai utang dari bank ini.


Pusing Diah dibikin memikirkan modal utang bank. Pengusaha wanita tegar sampai rela menjual aset rumah. Sudah melunasi hutang dirinya memilih rehat jualan selama setahun. Suatu ketika ia berjalan- jalan ke belakang rumahnya yang persawahan.


Diah melihat pohon pisang lengkap bersama jantung pisang. Iseng- iseng dia membeli beberapa di pasar buat diolah. Dia mencoba mengolah ontong dijadikan lodeh dan sayur pecel. Dari sana dia mempelajari tentang kelezatan ontong pisang kepok dan klutuk.


Kedua jenisnya memiliki cita rasa cocok dijadikan bahan makanan. Terus ada teman yang ternyata vegetarian, menyarankan membuat lauk berbahan ontong menggantikan ikan atau daging. Idenya membuat lauk pengganti ditanggapi serius.


Diah berhasil membuat dendeng ontong. Sebelumnya dia menyadari jantung pisang mirip daging sapi, kalau diolah memakai bumbu bahkan akan sulit dibedakan. Singkatnya dia berhasil membuat bahan ontong dan diuji cobakan.


Teman Diah yang melakukan uji coba rasa, ternyata berhasil menghasilkan tanggapan positif. Suatu kesempatan tidak boleh dilewatkan di 2004. Dimana Diah diajak mengikuti Pameran Pekan Budaya yang digelar Pemkab Kediri, maka disanalah dendeng Diah pertama diperkenalkan khalayak umum.


Hingga dendeng miliknya telah terkenal di daerah Ponorogo dan Madiun. "Saya kemudian mengurusi legalitas halal, setalah itu baru ikut pameran keliling Indonesia," tutur Diah. Masalah kembali datang ketika ditipu orang disaat pameran di Cito Surabaya.


Dia dikenal seorang wanita asal Sidoarjo. Tanpa curiga, dia memenuhi pesanan senilai Rp.7 juta. Dia hingga akhir tidak menerima pembayaran. Dia sudah menjelajahi Jakarta, Jogja, Semarang, Bandung, Bali, Kalimantan dan Nusa Tenggara Barat.


Omzet sekarang tinggal Rp.90 juta perbulan. Dulu dia mampu mengantongi omzet Rp.300- 400 juta. Diah Srikandi sendiri kemudian menjadi pembicara. Khususnya dia membicarakan mengenai bahan baku disekitar kita untuk diolah.

Resep Abon Membuka Peluang Usaha Menjanjikan

Profil Pengusaha Johan Yuniarto

 
resepabon.png
 
Berbekal resep abon membuka peluang usaha menjanjikan. Usianya mungkin sudah tidak muda, tetapi masih bersemangat menjadi pengusaha. Bahkan pria berambut putih ini berniat menaikan level ke nasional. Inilah Johan Yuniarto, pria kelahiran Bandung yang tak muda lagi memilih berbisnis abon. 
 
Dia yang telah pensiun merasa perlu mengisi hari- harinya dan berbisnis merupakan jalan. Berawal kesempatan, ia melihat bisnis makanan begitu berkembang di Bandung. Dia yakin abon buatannya akan diterima pasaran.

Pasalnya, ia membuat abon yang berbeda memiliki cita rasa khas. Johan mengambil bahan bahan dari laut daripada abon sapi. Abonnya diolah dari bahan baku unggulan seperti ikan hiu, tuna, kakap, salem, dan ikan krapu. 
 

Peluang Usaha

 
Dia menuturkan lantaran ini pula harga abon miliknya mencapai Rp.20.000- Rp.25.000. Masih bisa dibilang murah, Johan berseloroh itu karena abonnya mampu meningkatkan kecerdasan otak.

"Kalau abon harganya Rp.20.000 itu untuk bahan bakunya ikan air tawar, tapi untuk yang Rp.25.000 terbuat dari ikan laut," tuturnya.

Dia menambahkan usahanya dimulai sejak 2009 silam masih berorientasi usaha kecil. Dia mengerjakan semuanya bersama keluarga di Jl. Keadilan II No.33 Bandung. Dalam waktu dekat, Johan berjanji akan membuka cabang baru di beberapa tempat. 

Johan menawarkan beragam rasa dan semunya merupakan hasil dedikasi. Ia membuat resepnya sendiri melalui berbagai percobaan panjang. Dia bahkan mengorbankan keluarganya mencicipi resepnya. 
 
Akhirnya berhasil, resep abonnya lahir setalah 3 bulan masa percobaan kemudia disusul sample yang siap dipasarkan. Ia yakin betul sukses suatu produk berdasarkan keunikannya. Ditambah, abonnya selalu menggunakan bahan- bahan terbaik. 
 
Johan telah lama mengamati di Jawa Barat khususnya, jarang ditemukan pembuatan produk abon ikan. Bermodal 4 juta rupiah, ia yakin bisnisnya akan berhasil membawanya menjadi pengusaha sukses di 2009.

"Saya survei ke supermarket di Bandung jarang ditemukan abon ikan semacam ini. Kalau ada, paling hanya sedikit, itupun diproduksi diluar Bandung; seperti Cirebon dan Subang. Itupun masih sebatas abon nila, belum bentuk variasi," ujar dia berbincang di Liputan6.com.

Menurutnya bagian tersulit hanya bagaimana memastikan bahan- bahannya. Dia berbicara bagaimana cara memilih ikan, mencuci, dan memisahkan daging dari duri. Rumah Abon, nama usahnya, mengambil ikan di daerah sekitar Bandung untuk ikan air tawar. 
 
Ikan air laut, ia mengambil dari Pangandaran, Indramayu, dan Cirebon. Produk abonnya meliputi abon ikan air laut, seperti abon hiu, tuna, kakap, salem, dan kerapu.

Sedangkan abon ikan air tawar, meliputi abon ikan nila, gurame, gabus, lele dan belut. Sebagai catatan tambahan, bisnis abon akan menurun penjualannya di masa masuk sekolah. Ibu- ibu akan memilih belanja keperluan sekolah daripada membeli abon. 
 
Di lain waktu, seperti Ramadhan, Johan mengaku permintaan meningkan jauh disebabkan kepraktisan abon. Ibu- ibu dengan mudahnya membeli, menyimpan, kemudia memakannya ketika berbuka atau sahur.

Dalam sebulan, Rumah Abon menghasilkan 1 kuintal abon atau sekitar 1000 box pesanan. Satu box akan dijual untuk Rp.25.000. Kini omset rumah abon sendiri mencapai Rp.25 juta per- bulan. Johan memiliki 2 karyawan, dan beberapa anggota keluarga yang ikut masuk di bisnisnya. 
 
Ia menempatkan mereka ditiap cabang membuat bisnis keluarga semakin luas. Untuk terus laris, Johan Yuniarto selalu mengembangkan cara baru bisnisnya. Dimulai dari pemasaran dimana ia menyerahkan semuanya melalui penjualan online. 
 
Dari segi produksi, ia membuka cabang baru sedangkan disegi produk; Johan tak segan mencoba resep baru lagi. Ia bahkan menemukan resep baru yaitu abon kremes. Apa itu? abon ikan yang merupakan gabungan ikan dan irian kentang halus yang digoreng kering.

"Kalau keuntungan sih cukup lumayan, apalagi saat ini produk kami dipromosikan hingga ke Mekah. Kami juga membuka kesempatan menjadi reseller," ujarnya. 
 
Ia juga menambahkan saat ini bisnsnya menghasilkan omset sekitar 25 juta rupiah. Nilai yang sangat besar bagi seorang pensiunan yang tidak mungkin lagi bekerja sebagai pegawai.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba