Waralaba Franchise Sukses Apa Maksudnya

Artikel Bisnis Arti Waralaba Franchise


waralaba franchise populer

Waralaba franchise telah banyak berguguran, tapi katanya nih bisnis waralaba atau franchise tak kan mati. Mereka para pengusaha menawarkan atau meminta mewaralaba sama- sama kuat permintaan. Kenyataan memang sistem ini mudah tumbuh, lalu ditambah mudahnya operasional. 
 
Di Amerika sendiri, konsep franchise masihlah banyak diagandrungi, buktinya banyaknya perusahaan konglomerat berkonsep waralaba. Di penghujung 2003 saja, jika kamu iseng- iseng datang ke pameran waralaba lokal, maka kamu akan lihat banyak stan waralaba berjejer disana. 
 

Waralaba Franchise Sukses

 
Bukan soal makanan, tapi beberapa waralaba memilih menawarkan bidang jasa diwaralabakan. Salah satunya MultiPlus, sebuah merek dagang yang menawarkan berbagai jasa, bisnis satu paket kerja. Ada jasa pengiriman, warnet, fotokopi, wartel dan lain- lain. 
 
Kebanyakan produknya berhubungan jasa digital. Prinsip kerjanya dinilai bagus, dan memang sedang tumbuh.  Untuk waralaba lain, yang sudah terkenal, sebut saja Indomaret punya kesempatan besar buat kamu orang baru.  
 
Alasan utamanya karena menguasai pasar mini market (satu pesaing), merek Indomaret juga telah dikenal baik dari iklan atau dilapangan, beda dengan MultiPlus ini. Ricky Irawan memiliki pengalaman dengan Indomaret. Ia mengaku sekedar mengikuti jejak temannya yang sudah lebih dulu sukses.

"Teman saya cerita betapa enaknya menjadi franchisee Indomaret. Semuanya sudah diatur secara profesional. Tidak perlu capek mengurusi tetek bengek operasional," terusnya.

Temannya diberi pilihan menyediakan karyawan sendiri. Namun, waralaba Indomaret tetap memberikan standar dipenuhi. Kamu tak perlu repot soal teknisnya, cukup hitung biaya saja.

"Serahkan samua pada Indomaret," ucap Ricky lanjut.

Lain hal Andrew Mulianto, dia masih gamang memilih mewaralaba. Temannya sudah duluan sukses bermodal waralaba kuliner. Tidak hanya pasti laris tapi juga tinggal masak. Ia bercerita lebih lanjut bahwa gerai sang teman hanya bertahan 6 bulan saja. 
 
Temanya ikutan waralaba Bakmi Japos yang dijualnya di kawasan kota Bandung. Apa sebabnya gagal? Tentu kembali ke pribadi masing- masing, ada pula konsep waralaba  terlalu dipaksakan.

Sudah terlalu banyak saingan meski beda merek. Ada pula terlalu menjamur outlet nya di satu tempat seperti hal waralaba Apotek K24. Setelah mencari-cari, tahun lalu Andrew memutuskan membeli hak waralaba TX Travel. 
 
"Saya tertarik membeli franchise ini karena pemiliknya. Dari beberapa pameran waralaba, konsep dan pemikiran pemilik TX Travel berbeda," ujar mantan karyawan perusahaan farmasi ini. 
 
Selain itu, Andrew menilai, untuk bisnis travel, pasarnya masih sangat menjanjikan. Terbukti, tiap bulan TX Travel meraup omset sekitar Rp 200 juta. 
 
Robert Bond, CEO dari World Franchising Network (WFN), ada lima aspek perusahaan waralaba yang kuat: jumlah lokasi (semakin banyak semakin bagus), rata- rata kegagalan (jumlah penutupan oulate tiga tahun fiskal terakhir dilaporkan dibagi jumlah total lokasi yang ada), pertumbuhan outlet dalam tiga tahun, dan jumlah jam pelatihan sebagai persentase dari biaya startup (yang lebih banyak dukungan dari kantor rumah, semakin baik). 

Pedagang Asongan dan Koran Jadi Pengusaha Sukses

Profil Pengusaha Ayis Rochma

 
 
pedagang asongan usaha souvenir
 
Siapa menyangka bahwa pedagang asongan dan koran sukses. Dia jadi pengusaha sukses berkat bekerja keras. Keterbatasan tidak membuatnya menyerah sampai akhir. Pemuda tersebut bernama lengkap Ayis Rochma, kuliah jurusan Sastra Jawa, Universitas Indonesia.

Dia bukanlah anak orang berkecukupan. Ayis berjualan sepulang kuliah. Tepatnya dia menjadi pedagang asongan dan koran di Stasiun Depok, Jawa Barat. Anak rantau asal Gorontalo, kemudian merantau pada 2007 silam, kemudian dia ditampung di Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok.
 

Merantau ke Ibu Kota Jakarta


Ia tipikal tidak berpuas diri. Banyak hal ingin digenggam dan dikerja salam hidup. Ditambah biaya kuliah makin mahal dirasa.
 
"Saya cuma anak kampung, mau sampai kapan juga ya tetap anak kampung, cuma bedanya sekarang sudah tidak kampungan. Hehehe"

Semua bermula dia berambisis berkuliah di Universitas Indonesia. Berlanjut ingin menjadi pengusaha sukses kelak. Bukan anak orang berkecukupan, bayangkan ayahnya hanyalah kuli bangunan, senentara ibu membantu kerja serabutan.

Di kampung, pagi harinya, sebelum matahari terbit dia sudah sibuk mengerjakan pekerjaan. Pemuda itu bergegas memenjual kue keliling kampung. Ayis sudah melakoni pekerjaan semenjak usia 5 tahun. Dia berkata kalau tidak berjualan tidak sekolah.

Uang berjualan kemudian dipakai kebutuhan sehari- hari dan bayar sekolah. Pasar sudah jadi rumah keduanya. Masa kecilnya dihabiskan berjualan di pasar. Beranjak remaja, dia memiliki pekerjaan baru berjualan kresek. Enam tahun sudah dia berjualan kresek keliling pasar.

Dia lantas memilih menjadi penjual peralatan rumah tangga. Ayis juga berjualan souvenir seperti bros dan lainnya ketika pulang sekolah. Ketika anak lain, di dalam tasnya berisikan buku dan peralatan tulis menulis, maka isinya tas Ayis malah dagangan.

Orang tuanya memang hidup jauh dari berkecukupan. Maka dia bekerja keras mandiri bahkan semenjak masih kecil. Dia tidak mau bermalas- malasan. Bahkan ketika waktunya dia diseharusnya bermain bersama teman sepantaran.

Dia tidak mau diam. Sebab bila dia tidak bekerja maka, sudah pastilah, esok harinya sekeluarga tidak akan menikmati sebungkus nasi. Ketika sekolah menengah atas dia memutuskan merantau. Dia hijrah sampai ke Ibu Kota. Keluarga sempat menentang disebabkan tidak memiliki biaya transport.

Ayah- ibu belum merelakan anaknya merantau ke Jakarta. Tapi Ayis telah memiliki cita- cita. Belum pernah ke Jakarta, Ayis kebingungan ketika menginjakan kakinya pertama kali. Bingung, sebab dia tak punya satupun kerabat tinggal di sini.

Begitu menamatkan sekolah menengah pertama dia berangkat ke Jakarta. Ayis berangkat bermodalkan 3 juta rupiah. Tanpa memiliki sanak- saudara lantas bagaimana dia bertahan. Dia berjualan koran dari satu terminal ke terminal lain. Dia sudah mendapatkan label anak jalanan atau gelandangan.

Dia bercerita bagaimana dibantu kakak- kakak mahasiswa UI. Nampaknya mereka tertarik mendengar semangat Ayis merantau. Berkat soal- soal ujian mereka ajarkan, Ayis mampu diterima menjadi salah satu mahasiswa Universitas Indonesia, Jakarta.

Ayis tidak berhenti sekedar mendapat gelar anak jalanan kuliah. Dia bersama satu sahabatnya memulai usaha.

Desain Produk Pengusaha Bambu Harry Anugrah

Profil Pengusaha Harry Anugrah Mawardi


mahasiswa itb pengusaha

Terbukti banyak lulusan ITB menjadi wirausahawan sukses. Salah satunya pengusaha bambu, Harry Anugrah, yang menekankan desain produk modern. Mahasiswa lulusan Institut Teknologi Bandung, 2009 silam, yang mengambil jurusan Desain Produk Fakultas Seni Rupa dan Desain.

Berkat kurikulum ITB memupuk para calon pengusaha maji. Kini, berkat program kewirausahaan ITB, Harry menjadi eksportir bambu ke Jepang. Berawal dari kegiatan mata kuliah. Bersama- sama beberapa dosen ITB, mereka mengajak mahasiwa untuk aktif mengamati kerajinan tradisional.

Produk Bambu Berkualitas

 
Mereka diharapkan mengamati dan mengembangkan sproduk baru. Harry dan kawan- kawan sedang bersama pengrajin bambu asal Garut, Jawa Barat. Bagaimana  kerajinan bambu tradisional jadi lebih bernilai. Berbekal coretan pena di kertas, para Dosen berharap mahasiswanya menemukan celah itu.

Harry didoktrin untuk merubah bambu menjadi produk tidak biasa. Jika biasanya bambu menjadi pagar rumah, atau bambu dipotong jadi tusuk sate. Ditangan anak muda bambu harus diubah menjadi hiasan mentereng kafe- kafe, atau dijadikan aksesoris eksotis wanita yang cantik.

Bersama mereka menghasilkan laporan penelitian. Sejumlah sentra bambu dikunjungi, dijajaki, hanya saja cuma menghasilkan makalah, jurnal, atau poster ilmiah. Tidak pernah menghasilkan keuntungan langsung kepada pengrajin bambu.

Itulah kenapa Harry berpikir ulang tentang kunjungan itu. Ada perasaan tidak puas tentang hasil yang mereka dapatkan. Dia memandang bambu memiliki potensi besar global. Pengrajin bambu sekarang cuma menghasilkan produk seadanya, dari segi desain ataupun fungsi, jadi dihargai murah.

Dia lalu membangun Amygdala Bamboo di tahun 2013. Bisnis tersebut cuma dimodali 1 juta rupiah dari kantong pribadi. Harry tidak sendirian membangun bisnis. Dia lalu mengajak pengrajin bambu, Utang Mamad, 45 tahun, asal Kampung Ciloa, Desa Mekarsari, Kecamatan Slaawi, Kabupaten Garut.

Harry meyakini usaha ini lebih bermanfaat, dibanding cuma lembaran kertas laporan. Memang di daerah bernama Slawi, sudah dikenal menjadi sentra bambu. Dia melihat disana ada potensi. Hingga akhirnya mengajak satu pengrajin untuk mewujudkan gagasannya.

Terdengar seperti mimpi ketika produknya menjual hingga Jepang.

"Saya mencoba memasarkan sendiri dari desain- desain tersebut," ia menjelaskan.

Produk yang awalnya prabotan rumah tangga dan sangkar burung. Harry bikin lebih kreatif dari segi desain hingga membuat produk baru. Bahannya murah banyak tersedia di daerah tersebut. Tinggal butuh didesain ulang. Di tahun 2014 Amygdala Bamboo mengembangkan tiga brand dibawahnya.

Berawal dari keaktifan dirinya dalam perkuliahan. Mata kuliah itu membawa dirinya menjadi sosok pengembang desain baru. Melihat potensi bambu menurutnya memiliki potensi global. Dia mulai mendesain aneka produk bambu sendiri.

"...pengrajin tidak memiliki akses dan wawasan tepat untuk itu," tuturnya.

Keinginan menjadikan kerajinan tradisional menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dia ingin menjadi contoh bagi desainer lainnya. Bahwa kuliah desain harus menjadi manfaat bagi orang lain. Kenapa harus bekerja untuk perusahaan lain. Jika kamu bisa membuat perusahaan kamu sendiri mewujudkan idealisme mu.

Antara pengrajin desa yang diwakili Bapak Utang. Pengrajin kota yang diwakili dirinya. Bagaimana menggabungkan dua desain menjadi kesatuan. Bagaimana mengadaptasi nilai tradisional demi bisa memenuhi kebutuhan pasar global. Utang berhasil membuat puluhan produk, harganya mulai Rp.50- Rp.2,2 juta.

Amygdala memberikan produk handmade. Juga emberikan solusi modern agar kecepatan produksi. Peralatan modern mendukung produk handmade ini. Meskipun memakai perlatan tanpa melepaskan sentuhan tangan dan teknik handmade khusus.

Per- bulan para pengrajin mampu memproduksi sampai 100 buah. Pola kerja bisnisnya adalah pola kemitraan. Tidak hanya mempekerjakan pengrajian. Harry mencoba memberikan wawasan kepada pengrajin juga. Tugasnya memastikan pengrajin meningkat dalam kesejahteraan mereka.

Ada lima hingga tujuh orang pengrajin bergabung. Jumlah akan tersebut terus meningkat. Bersamaan dengan jumlah pesanan meningkat. Permintaan meningkat didukung desain berkualitas. Memang ada kecenderungan meningkat. Pasar tertarik akan bahan alami yang dianggap mudah dibudidayakan ini.

Potensi Bisnis Kerajinan Bambu


Harry mencoba menangkap kebutuhan pasar. Meskipun sukses banyak pesanan belum terorganisir baik. Pasalnya kecepatan produksi tidak sejalan permintaan pasar. Belum lagi kalau bicara kebutuhan custom. Hingga ia melakukan segala inovasi memaksimalkan produksi.

Peralatan produksi sudah dimodifikasi. Jangka pendek mulai mempercepat proses produksi. Ini bukan perkara gampang bisnis ini tidak langsung bisa cepat. Dia membutuhkan waktu memperkenalkan produknya. Dia membuat promosi sejak 2014 silam.

Perkembangan pesat ketika media cetak, televisi, majalah, radio, ikut memberitakan kisah Hary. Dia memanfaatkan ini sebagai media promosi. Ia sekalian memamerkan desainnya. Menampilkan foto produk yang dibuat. Penjualan Amygdala melalui instagram dan penjualan kolektif lewat web.

"...kami bekerja sama dengan furnislab.com," unggahnya.

Marketing itu meningkatkan kesadaran orang atas produk buatannya. Keuntungan banyak didapat dari Instagram. Penjualan partai besar dipesan untuk kebutuhan kafe dan restoran. Penjualan selain dari Instagram juga punya blog sendiri, yakni amygdalaid.wordpress.com.

Bisnisnya viral dari mulut ke mulut. Penetrasi bisnisnya cepat melalui internet. Kemudahan internet memberikan kecepatan menjangkau wilayah terdalam. Bisnis tanpa bertemu tatap muka, berbekal brand yang sudah dikenal membuatnya mudah menjual meski barang tidak dipegang langsung.

Mendapatkan sorotan media, membuat bisnis Amygda berkembang pesat hingga meyakinkan bahwa produknya berkualitas. Dia tidak mau setengah- setengah berbisnis bambu. Pengusaha muda satu ini mulai mengembangkan berbagai strategi bisnis.
 
Meyakinkan bahwa mereka menjadi terdepan dalam produk bambu. Bisnis mereka sukses juga termasuk aktif mengikuti kompetisi. Amygdala telah mengembangkan sistem produk mereka sendiri. Ini berkat kreatifitas Hary menciptakan sistem crowd sourcing bisnis kerajinan.

Menjaring lebih banyak pengrajin bambu diluar daerah tempatnya beroprasi. Berbagai jenis produk lalu dikembangkan. Tidak terbatas pada produk tertentu. Workshopnya tidak lagi jadi cuma tempat produksi. Tetapi dirubah menjadi tempat menyimpan produk.

Disini menjadi tempatnya transit produk, diperiksa kualitas dulu, lalu barulah dipasarkan hingga jika produk dijual berkualitas. Membangun jejaringan menjadi andalan marketing Amygda. Visi dari Hary menjadi produk "Most wanted bamboo product in Indonesia".

Meraup Omzet dari Koneksi


Koneksinya meraup hampir semua pengrajin bambu di Jawa Barat. Dia rajin mengikutkan produknya ke pameran- pameran besar, seperti Trade Expo, Inacraft, IFEX, dan Crafina. Menggunakan strategi titip berjualan di situs. Ini mengurangi biaya promosi karena promosi sudah ada yang mengurusi.

Hary tinggal mengeluarkan biaya ke situs tersebut, timbal baliknya pemili situs itu mempromosikan produk Amygda. Marketing 500 ribu dikeluarkan Hary. Terbaru mengambil endorsing dari ilustrator Rukmanul Hakim, komikus Tika Larasati, hingga peneliti Jessica Milla.

Strategi ini dianggap berhasil membawa lebih banyak pesanan. Omzet kini telah mencapai kisaran ratusan juta rupiah. Sebenarnya orang Indonesia sangat pandai membuat kerajinan tangan. Buktinya ada orang Jepang menantangnya membuat sesuatu.

Orang Jepang tersebut menantang membuat sarung bantal bambu. Ketika produk itu jadi, orang Jepang itu kaget karena di China atau Vietnam tidak ada yang seperti itu.

"Ketika mesin tidak sanggup melakukan pekerjaan sesuai diinginkan mereka berhenti," ujar Hary

Berbekal satu mesin gerindra saja. Pak Utang mampu menciptakan karya- karya menakjubkan. Dia mampu mengikuti desain Hary. Padahal jika dilihat dari contoh di Instagram mereka. Desain yang ditampilkan merupakan desain modern.

Anugrah Jawara Wirausaha Sosial Bandung (AJWS) memberikan Hary penghargaan. Kriteria mereka adalah pengusaha yang mampu memberikan dampak sosial, memiliki model, mampu bekelanjutan bisnisnya, dan pasar.

Awal Kecamatan Slaawi lesu. Pengrajin tidak aktif berproduksi. Mereka merasa hasil kerajinan tidak memberi penghidupan. Mereka lebih memilih beralih menjadi buruh pabrik. Mereka lebih memilih pergi ke kota- kota besar. Utang kini membuktikan pengrajin mampu menghidupi lewat kreatifitas.

Pengusaha bambu Harry Anugrah semakin gemilang. Desain produk bervariatif disesuaikan dengan pemesanan. Ia membuktikan desainer tidak semata soal digital. Kamu tidak lagi berpatokan seorang desainer harus membuat fashion. Kerajinan kriya seperti inipun mampu menghasilkan ratusan juta.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba