Contoh Beternak Ayam Kalkun Wirausaha Mandiri

Profil Pengusaha Joko Wahyulianto

 
ayamkalkun.png
 
Contoh beternak ayam kalkun dan nikmati hasilnya. Wirausaha mandiri Joko Wahyulianto, dimana dalam sebulan bisa mengirimkan anakan kalkun di seluruh Indonesia. Peternak ayam kalkun yang menjual satu ekor anakan ayam seharga Rp.25.000.
 
Pengusaha Joko menetapkan jumlah minimal pemesanan 40 ekor per- orang. Harga itu akan bertambah mahal, bila pemesan akan menghendaki ayam berwarna khusus. Ayam- ayam kalkun berwarna khusus ini biasanya dijadikan ayam hias saja.

Ayam Potong dan Hias

 
Empat tahun silam, awalnya sih hanya coba- coba, setelah sebelumnya mencoba bisnis ayam hias biasa, tapi dihitung- hitung kurang menguntungkan. Di sisi lain, jika dihitung- hitung ternyata biaya perawatan ayam kalkun lebih murah, ini bisa menutupi biaya operasional harian. 
 
Awalnya Joko membeli sepasang anakan kalkun yang baru menetas yang dia dapatkan dari seorang pedagang di pasar. Masing- masing anakan ayam dibeli seharga Rp.25.000. Joko memelihara burung berpial (gelambir dibawah paruh) itu hingga bertelur sendiri.

Di kandang ternaknya yang sederhana di Jalan Parangtritis (sebelah utara) restoran Numani, Joko telah setidaknya memiliki 30 induk dengan tujuh ekor pejantan. Ia memilih fokus pada penjualan anakan kalkun  atau DOT sebutannya. 
 
Dalam satu bulan, tak kurang ada 300 ekor DOT dikirimkan ke sejumlah kota baik di Jawa ataupun di luar Jawa. Seperti sejumlah kota di sekitar Jawa Timur, Kota Semarang, Jakarta, Batam dan Balikpapan. Satu ekor akan dijual Rp.25.000 saja.

Untuk jenis Black Spanish Turkey, anakan kalkun yang seluruhnya berwarna hitam legam bisa mencapai harga tinggi, yakni  Rp.200.000 per- ekor, atau jenis Bourbonred Turkey seharga Rp.80.000 per ekor. Tak kurang hasilnya ia mengantungi Rp.7,5 juta hanya dari penjualan DOT saja. 
 
Meski sudah berjalan bertahun- tahun, Joko mengaku masih saja kualahan untuk melayani pesanan. Ia tak kehilangan akal. Dibantu peternak lain, Joko bisa memenuhi kebutuhan yang besar itu. 
 
Memang sangat menggiurkan budidaya kalkun ini tidak berhenti pada hasil, proses pemeliharaan piaraan jenis burung rupanya juga relatif gampang. Joko pun tidak perlu repot menyediakan kandang, cukup diumbar di halaman belakang rumah, kalkun-kalkun tersebut bisa bertahan hidup.

"Menjaga kebersihan kandang relatif mudah, hanya perlu disapu kotoran seperlunya saja, tidak ada yang terlalu istimewa. Hanya kalkun membutuhkan sejenis dahan atau ranting minimal 50 cm dari tanah untuk bertengger saat beristirahat," katanya. 
 
Mungkin di Indonesia usaha ayam kalkun terlihat masih baru. Beberapa pakar menyebut bahwa bisnis ini memang punya prospek bagus di masa depan. 
 
Di luar negeri sendiri memang ada beberapa pengusaha yang sukses, sampai- sampai mereka kwalahan menerima pesanan, artinya apa mereka harus menolak karena keterbatasan jumlah ayam kalkun. Dengan hal itu kita dapat memanfaatkan dunia ekspor juga selain dalam negeri.

Dan di Indonesia, kita punya sosoknya, contoh pengusaha dan peternak spesialis ayam kalkun. Cara merawatnya pun mudah ungkap Joko. Soal pakan, ia cukup mengambil daun genjer yang biasa tumbuh liar di area persawahan atau gedebok pisang. 
 
Bahan yang diperoleh secara gratis tersebut lantas dicincang dan dicampurkan dengan dedak, jagung giling, sentrat bebek, mineral B12 dan sisa nasi yang tidak basi. Dalam satu hari, piaraannya ini diberi makan dua kali, pagi sekitar pukul 07.30 WIB dan sore sekitar pukul 15.00 WIB.

Joko mengaku untuk memenuhi kebutuhan pakan ternaknya ini tidak lebih dari Rp.500.000 untuk 30 induk dalam waktu satu bulan. 
 
"Biaya produksi cukup rendah, karena beberapa pakan bisa dicari di sawah dan nasi sisa bisa diambil dari restoran, tapi dengan catatan nasi-nasi itu tidak basi dan tidak bercampur dengan minyak," katanya lagi.

Setiap ekor kalkun mulai memasuki masa produktif setelah usia delapan bulan. Setiap bertelur, seekor betina kalkun bisa menghasilkan 10-15 butir telur. Sebulan setelah bertelur, kalkun betina akan kembali memasuki fase produktif dan bisa bertelur lagi. 
 
Tahapan ini akan berlangsung hingga usia kalkun lebih dari lima tahun bahkan 10 tahun. Namun, ada satu tahapan seekor betina yang tidak bertelur karena mengalami fase molting atau perubahan pada bulunya.

Namun setelah sebulan, fase itu akan kembali normal dan produktif. Joko lantas menjelaskan resiko gagal menetas telur kalkun sangatlah rendah. Setelah diletakkan dalam mesin- mesin penetas, sekitar 28 hari maka itu telur-telur tersebut akan menetas dan siap dikirim ke pelanggan. 
 
"Risiko DOT terhitung rendah, karena mereka masih steril dalam box, tidak mudah stres dan setelah menetas mereka bisa bertahan selama dua hari tanpa pakan,"jelasnya kepada Solo Post.
 
Kamu bisa mendapatkan bibit kalkun bisa dari dalam negeri maupun luar negeri, biasanya bibit kalkun unggulan bisa diimpor dari Turkey dll, tapi alangkah baiknya impor sekali saja kemudian di kawinkan dengan kalkun lokal, sehingga diharapkan melahirkan sepesies ayam baru yang berkualitas tinggi. 
 
Mungkin kalau anda bingung bagaimana cara mendapatkan bibit-  bibit ayam kalkun; kamu bisa mengamati dulu lewat internet. Itulah contoh beternak ayam kalkun buat kamu wirausaha mandiri.

Usaha Kerupuk Kulit dan Rempeyek Sederhana

Profil Pengusaha Elvi Marlina dan Dedi Irawan

 

usaharempeyek.png
 

Pengusaha sukses berikut mengajarkan jangan malu. Usaha kerupuk kulit dan rempeyek sederhana, tetapi nikmat dijalani. Dia mampu mensekolahkan anak. Punya rumah, menguliahkan anak, beli rumah, mobil dan juga beberapa kendaraan lain.


Awal pasangan Dedi Irawan dan Elvi Marlina, warga Lorong Cendana, Kelurahan Solok Sipin, dimana usahanya masih berupa aneka kerupuk. Terutama mereka membuat kerupuk kulit kerbau dan sapi. Lalu bertahap mereka membuat aneka rempeyek.


Usaha jajanan bernama Moza Snack menghasilkan. Dedi memproduksi kerupuk gurih, rempeyek udang dan teri, peyek tempe dan makanan lain. Elvi dan suami menjalankan usahanya rumahan. Berkat modal pinjaman dari Telkom Jambi, senilai Rp. 32 juta buat membeli bahan dan mesin pembuat.


Naiknya, ketika keduanya tertarik membuat kerupuk kulit beraneka rasa, ini yang sangat diminati masyarakat Jambi. Tidak memiliki guru khusus maupun bakat usaha. Mereka melakukan sendirian dan pertama kali mereka membikin kerupuk.


Berkat browsing internet mereka menghasilkan banyak produk baru. Kerupuk kulit aneka rasa sangat diminati masyarakat. Pasangan pengusaha sukses ini memiliki tujuh karyawan, dan memproduksi empat ribu bungkus kerupuk kulit rasa.


Satu bungkusnya dijual Rp. 9000 tinggal dikalikan 4000 sehari. Mereka juga memproduksi rempeyek dan habiskan 20 kg tepung. Rempeyek Moza memiliki ramuan khusus hingga enak dan gurih. Yakni udang dilumat diadon tepung, dan dimasukan aneka bumbu rempah dan ditaburi ikan teri diatasnya.


Rempeyek istimewa tersebut menjadi andalan mereka lain. Moza Snack memiliki prospek. Dan produk Moza Snack sudah dikirim keluar Sumatra Selatan. Dijajakan di Jambi, Moza Snack sudah masuk ke supermarket dan minimarket. Mereka berencana mengirim sampai ke Pekanbaru dan Lampung.


Ternyata usaha kerupik kulit dan rempeyek sederhana menguntungkan. Walau mereka enggan buat menyebutkan angka. Bila harga Rp. 9000 dikali 4000 perhari, maka mereka menghasilkan setidaknya satu miliar rupiah perbulan kotor.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba