Tampilkan postingan dengan label Unik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Unik. Tampilkan semua postingan

Pengusaha Tas Kulit Ular Eksotis Hasilkan 4,5 Juta

Profil Pengusaha Anto Suroto


pengusaha tas kulit ular

Kisah pengusaha tas kulit ular eksotis. Mereka memang memiliki pasarnya tersendiri. Pengusaha tas kulit ular ini mengaku, tidak mudah mengolah kulit ular dengan aneka persyaratannya. Industri rumahan ini memang tidak banyak terbayangkan oleh orang.
 
Alhasil Anto Suroto mampu menghasilkan penghasilan puluhan jutaan. Sukses berkat usaha kulit ular. Lebih tepatnya tidak hanya kulit ular sih. Tapi, ia menyamak berbagai kulit reptil untuk dijadikan berbagai produk. 
 
Produk yang dihasilkan bermacam, dari produk tas, pakian, aksesoris, dan juga berbagai produk lain.

Raja Studio Foto Bogor Bisnis Fotografer Keliling

Profil Pengusaha Khaidiri


raja studio foto bogor

Siapa sangka bisnis fotografer keliling ini menjadi legenda. Raja studio foto bermula hobi menjadi nomor satu di Bogor. Hobi jadi bisnis mungkin cocok bagi pengusaha satu ini. Sosok pengusaha yang bukan apa- apa, kini bisa jadi raja. Raja studio foto tepatnya. 
 
Namanya Pak Khaidir, wirausahawan studio foto yang mempunyai 250 studio foto. Outlate fotonya tersebar di kawasan Bogor. Bicara berapa omzet -nya, tak tanggung- tanggung, ia menghasilkan 15 miliar rupiah. 
 

Inspirasi Raja Studio Foto

 
Padahal di tahun 1982, Khaidir hanyalah seorang fotografer keliling yang menjajakan fotonya di kawasan Kebun Raya Bogor. Omzetnya sih besar tapi bukan perkara mudah membangun bisnisnya. Bukan candi yang dibangun semalam. 
 
Ia harus menabung sebagai fotografer keliling selama 2 tahun. Khaidir mengumpulkan 600 ribu untuk modal bagi usaha studio fotonya. Abadi Photo pertama didirikan bermodal 600 ribu, yang disewanya sebuah kios, seperangkat kamera studio standar, dan seperangkat kamera luar sederhana pula. 
 
Semua- muanya memang sederhana diawal. Dia merupakan contoh pengusaha yang percaya efek domino. Margin besar bukanlah yang utama bagai usahanya di awal. Semua mengalir apa adanya ketika pertama kali membuka studio foto. 
 
Yang penting dia sudah untung tanpa menghilangkan pelayanan maksimal. Selama pelayanan itu terbaik maka pelanggan akan datang dengan sendirinya. Siap yang tidak akan jatuh cinta jika pelayanan baik. Meski bermodal kamera yang standar Khaidir tetap percaya diri.

Ujian pertama yang dilalui Khaidir yaitu ketika melawan pesaing yang mapan (lebih bermodal). Kala itu, ia punya rencana untuk menjalin kerjasama dengan Modern Photo milik Fuji. Sayang, pesaing sudah memiliki lebih dulu hak cetak Modern Photo. 
 
Andai saja dia bisa lebih cepat pastilah usahanya yang diterima. Dia terlambat hingga tak bisa merasakan alat cetak cepat milik Modern asal Fuji tersebut. Untungnya, perlu kamu ketahui Modern Photo punya satu buah kebijakan bekerja sama. 
 
Mereka akan memberikan hak cetak untuk yang lebih dekat dari 1 km. Merasa dirinya pantas dengan klausa itu. Serta usaha fotonya memang lebih beromzet baik dari sang pesaing itu. Khaidir tak pantang menyerah. Walau terkesan ngotot ia mengajukan banding berkat klausa tersebut. 
 
Dia meyakinkan bahwa dia lah yang pantas untuk peralatan canggih Modern. Berkat kegigihan itulah ia berhasil mendapatkan hak cetak Modern. Dia kini dilengkapi peralatan modern canggih besutan Fuji.

Pada tahun 2006, Khaidir tercatat memiliki 250 studio foto dikawasan Bogor. Prospek yang bagus dimana banyak wisatawan di sana menambah pundi- pundinya. Namun, sekali lagi, ia menegaskan ini bukanlah soal uang tapi pelayanan maksimal. 
 
"Kalau kamu memberikan yang terbaik pastilah hasilnya pasti juga akan lebih baik," begitu kiranya.

Facebook: Abadi Photo Studio

Pelukis Rahasia Roti Khong Guan dan Monde

Profil Pengusaha Bernardus Prasojo

 
pelukis khong guan

Rahasia roti Khong Guan dan Monde. Siapa pelukis kaleng Khong Guan dan Monde. Jawaban tersebut sekaligus menjawab "dimana ayah di kaleng roti Khong Guan". Dimanakah pelukisnya atau siapakah pelukisnya, tak terpikirkan kah pertanyaan itu. 
 
Ternyata dia adalah seorang Bernard -panggilan akrab Bernardus Prasojo- maestro, pelukis dibalik gambar seorang ibu dan dua anak yang tengah menikmati biskuit di meja makan.

Menjadi Pelukis

 
Sapuan dan goresan catnya nampak seperti orang asing sih. Tapi bukan, dia orang asli Indonesia, produk lukisan Khong Guan asli Indonesia. Dan usut punya usut, dia pula lah pelukis kaleng Monde, tempat sang bapak ibu dan dua anak itu menikmati kue.

Pria kelahiran Solo, 25 Januari 1948 ini, mengaku bahwa dalam dirinya mengalir darah seni turunan ayahnya.

"Ayah saya seorang pelukis, mertua saya juga. Tetapi, entah kenapa anak-anak saya tidak berminat menjadi seorang pelukis," kata Bernard ketika ditemui di RS Mitra Keluarga Kemayoran, Jakarta.

Dia menuturkan kisahnya kepada VIVAnewes, perihal bagaimana dia mendapatkan pesanan untuk melukis gambar merek pangan. Ketika itu dirinya masih bekerja di sebuah perusahaan percetakan, Forinco. 
 
Sayang, ia tak bisa mengingat pasti tanggalnya kapan dia mendapatkan tawaran itu. Bernard cuma mengingat nama si pemberi pekerjaan saja.

"Itu sudah lama sekali, sekitar 40 tahun lalu. Tetapi, saya masih ingat siapa orangnya. Namanya Pak Bambang. Kalau beliau masih hidup, mungkin usianya sudah 80 tahun," kata pria yang hobi melukis sejak kecil ini.

Ia mendapatkan orderan dari perusahaan seperasi film. Salah satunya, perusahaan Khong Guan, ketika itu ia bekerja di Forinco. Dia menambahkan setelah itu ada pesanan lagi serupa. Kali itu ia melukis untuk satu perusahaan roti dan wafer bernama Nissin. 
 
Namun, ia menjelaskan itu bukan murni idenya jadi ia hanya akan mengikuti mau si pembei pekerjaan saja lah. Jadinya sampai sekarang ia tidak memiliki hak atas lukisan itu secara penuh.

"Saya hanya mengubah sedikit. Misalnya, ini lebih terang dan yang ini kurang," kata Bernard yang kini tinggal di daerah Kalipasir, Cikini.

Ketika menggambar ilutrasi itu, ia mengaku sama sekali tidak mengeluarkan dana.  Dia hanya menggunakan peralatan melukis biasa seperti kuas, kertas, dan cat air miliknya. Proses pembuatannya pun tidaklah begitu lama, hanya memakan waktu 3-4 hari. 
 
Pertama- tama, dia membuat sketsa lukisan. Langkah selanjutnya barulah melukisnya dengan cat air. Bernard menambahkan bahwa kertasnya harus dibasahi air biar tidak mengerut, dibahasi bagian yang tidak disentuh cat karena disana bisa jadi kerutan.

Bernard tak mau membuka harga lukisan tersebut. "Saya lupa. Yang penting, dari perusahaan itu saya bisa membesarkan tiga orang anak," kata pria beranak tiga. Tidak hanya ilustrasi kedua produk penganan itu saja yang dibuatnya, ternyata ada produk-produk lainnya seperti minuman dan sikat gigi. 
 
Mungkin jika menelusuri dari gaya lukisnya, kita bisa menemukan karya Bernard satu per- satu. "Misalnya, Monde, dan produk-produk Hero (Hero Supermarket). Dulu seperti minuman kerasnya, pabrik kaos, dan sikat gigi," ujarnya.

Pelukis Profesional

 
Lambang perusahaan pun tidak luput dari goresan ajaib tangannya. "Dulu saya buat logo Hero, Danamon (PT Bank Danamon Tbk), dan hotel di Jakarta. Saya lupa namanya. Logonya ada gambar robot, dan rumit hingga makan waktu sebulan penggambaran. Saya kira, hotel itu sudah tidak ada lagi. Kalau yang Danamon, tulisan Danamon-nya masih dipakai," kata dia.



Rupanya tidak hanya orang Indonesia yang tertarik akan karyanya. Dia mengatakan ada sekitar tahun 1970- 1980, pernah ada pesanan ilustrasi gambar untuk buku dari Filipina. Waktu itu, dia diminta menggambarkan malaikat berdasarkan permintaan. Dia kala itu hanya diberikan konsep malaikat yang diinginkan pemesan. Tangannya pun menggambarkan malaikat sesuai pesanan.

"Saya juga diminta menggambar dari Italia. Waktu itu, hanya melukis wajah orang untuk buku," kata Bernard yang hanya lulusan SMA.

Dia mengaku sempat mengenyam pendidikan tinggi jurusan seni rupa di sebuah instansi pendidikan di Bandung. Namun sayangnya, pria bercucu tujuh ini tidak menamatkan pendidikannya. Apa yang terjadi, ia mengaku, dulu, di tahun 1970- 1980 komik menjadi sebuah fenomena "wah" dan kesempatan itu tidak dilepaskannya. 
 
Dia turut membuat ilustrasi dan komik. Saat itu, dia memilih menjadi seorang freelance. Saking asyiknya menggambar, Bernard pun terpaksa keluar dari kampusnya di Bandung.

"Karena sudah kenal uang, saya jadi keasyikan menggambar. Saya banyak meninggalkan kelas," kata pria yang tidak tamat kuliah jurusan seni rupa ini.

Bernard mengaku telah membuat 4-5 judul komik. Dua di antaranya adalah komik berjudul "Kasih Ibu" dan satu lagi komik yang bercerita tentang kisah seseorang dari Rusia. Sayangnya, dia lupa judul komik yang kedua. 
 
Kepada VIVAnews, ia menunjukan bangga salah satu komiknya. Sebuah komik yang tergores tinta berwarna hitam. Masing-masing kotak berisi gambar dan balon kata. Ada beberapa halaman komik tersebut yang sudut atasnya robek.

"Dimakan tikus," kata dia sambil tertawa.

Komik "Kasih Ibu" telah dimuat di sebuah majalah terkenal pada tahun 1970-an, yaitu Aktuil. Majalah ini adalah majalah musik yang terbit perdana pada 8 Juni 1967. Pada 1970-1975, majalah ini menjadi "bacaan wajib" bagi anak muda di Indonesia. 
 
Dalam majalah itu, selalu ada dua lembar cerita berjudul "Kasih Ibu". Komik yang total halaman sebanyak 100 halaman ini bercerita tentang seorang anak yang menyayangi ibunya. Ide ceritanya berasal dari pemikirannya sendiri.

Bernard sempat kewalahan menghadapi deadline dari majalah yang terbit mingguan itu. "Mereka itu percaya kepada saya. Saking percayanya, komik belum jadi, mereka langsung beli. Saya juga kewalahan waktu komik belum jadi, padahal majalah hendak terbit," kenang Bernard.

Bagaimana dengan komik lain? Selain mengerjakan komik itu, ia juga sudah menggambar untuk komik lain yang sudah berbentuk buku. "Saya membuat komik lainnya dan sudah jadi buku," kata dia. Bernard dalam sesi wawancara mengatakan bahwa dulu melukis menjadi pekerjaan utamanya, tetapi sekarang tidak. 
 
Kini, dirinya aktif sebagai pekerja di Yayasan Prana Indonesia, yaitu tempat pusat pelatihan, penyembuhan, dan meditasi. Di kantor yang berpusat di Jalan Kalipasir, Pengarengan No. 7, Kebon Sirih, Cikini, Jakarta, dia bekerja sebagai koordinator penyebaran prana metoda Grandmaster Choa Kok Sui di seluruh Indonesia. 
 
"Kini, saya bekerja di Yayasan Prana Indonesia," tuturnya. Setelah melihat artikel ini, anda perlu tau bahwa teori tentang keluarga Khong Guan memang ada dasarnya, bahwa pria di kaleng  roti Monde memang lah sang ayah dari keluarga Khong Guan, mungkin.

Kafe Sereal Ide Bisnis Pengusaha Kembar Inggris

Profil Pengusaha Kembar Alan dan Gart Keery

 
 
Ide bisnis pengusaha kembar ini layak diamati dan dikembangkan. Mereka mendirikan kafe sereal pertama di Inggris, telah membuka bisnisnya di Desember di Brick Lane, Shoreditch. Bukan yang pertama untuk kafe sejenis ini, yaitu Cereality, satu kafe sejenis yang ada di Amerika.

Cereal Killer Cafe, dimiliki dan dijalankan oleh saudara kembar Alan dan Gary Keery, yang ada untuk anda menawarkan lebih dari 100 jenis sereal sarapan dan lebih dari 13 jenis susu untuk dicampur dalam bungkus sereal kamu. Untuk toping, Keerys akan memberikan pilihan 20 toping istimewa.
 

Ide Bisnis Unik


Alan mengatakan bahwa ia ingin merasakan kembali kegembiraan itu kembalia. Rasa yang ia rasakan ketika menikmati sereal ditiap harinya ketika masih kecil, dan memorabilia sereal antik di kafe akan membangkitkan banyak nostalgia bagi pelanggan.

Gary mengatakan kepada The Independent: "sereal favorit saya tiap menitnya adalah sesuatu yang berasa selai kacang dari Amerika, terutama Captain Crunch Peanut Butter dicampur dengan Strawberry Milk Dan untuk klasik, saya masih penggemar Shreddies yang menjadi makanan penenang saya ketika disajikan dalam susu panas. "

Bagi mereka yang kurang tertarik pada biji- bijian olahan, kafe ini juga akan menyediakan makanan lain yang diproduksi secara lokal kopi, serta roti, roti tart pop, dan sarapan kolot lainnya.

Sereal telah populer di seluruh dunia selama berabad- abad dalam bentuk bubur atau gandum, tetapi varietas modern yang kita datangkan dalam pers pers benar- benar tak sahet akhir- akhir ini.

Sebuah laporan terbaru oleh 
Environmental Working Group (EWG) yang berbasis di AS telah menunjukkan bahwa sereal yang diperkaya dengan nutrisi tambahan menempatkan anak- anak pada risiko kelebihan dosis vitamin, mendorong asupan jauh melampaui batas merekomendasikan.

Sugar Puffs juga telah diganti namanya menjadi Honey Monsters Puffs, dalam upaya untuk menghindari gula yang tidak sehat.

Tapi industri sereal tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. 2013/14 melihat jumlah gandum yang digiling mencapai nilai tertinggi yang pernah ada, yang didorong sebagian besar oleh permintaan untuk makanan sarapan dan sereal bar.

Cereal Killer Cafe akan melayani lebih dari 100 jenis sereal dari seluruh dunia di pusatnya, di Brick Lane di East End London, sejak tanggal 10 Desember.

Usaha yang digagas dua kembar identik dari Belfast, Alan dan Gary Keery, yang bersumber dari berbagai merek sereal dari Amerika, Perancis, Australia, Afrika Selatan dan Korea Selatan.
Sebuah toko dua lantai akan dihiasi dengan sereal sebagai hiasan, termasuk reflektor sepeda dan botol sus. 
 
Kafe yang menawarkan orang- orang produk seperti produk Lucky Charms, Trix and Corn Pops dengan 12 jenis susu (termasuk beras, kedelai, almond, gandum dan varietas hazelnut) dan 20 topping dari Oreo ke marshmallow.
 
Penggila sarapan juga dapat memilih lebih dari 18 jenis Pop-Tarts dan koktail kreasi yang menantang seperti campuran sereal, topping dan susu. 
 
 Saudara kembar hanya bermodal £1.015 dari £60,000 tujuan mereka melalui situs donasi (sekitar $ 2.088 dari $ 123,432) IndieGoGo, tetapi sejak ditemukan orang terus datang untuk investasi lanjutan.

Pasangan ini juga telah menempatkan £ 20.000 dari tabungan mereka sendiri ke dalam proyek kafe sereal.

Jual Kerajinan Bonggol Jagung Jutaan

Profil Pengusaha Eddie Juandi 


jualkerajinan.png

Jual kerajinan bonggol jagung berapa pendapat Eddie. Menjadi pegawai sebuah perusahaan pipa terkemukan tidak membuatny puas. Di dalam dirinya terdapat jiwa kreatifitas tinggi butuh penyaluran. Eddie Juandi memiliki penghasilan lebih dari cukup. 
 
Penghasilan rutin tidak membuatnya berhenti dan duduk nyaman. Pria 57 tahun ini benar- benar menginginkan lebih dari sekedar asik mengerjakan laporan.

Ia mulai memutar otak keras. Semenjak tidak bekerja di perusahaan, aneka usaha sudah dilakukan Eddie di rumah. Hingga takdir membawa hidupnya kepada bonggol jagung. Perjalanan mencari usaha berbahan baku mudah dan murah, tetapi menghasilkan produk elegan. 
 

Usaha Kerajinan Bonggol

 
Dia menemukan bonggol jagung menjadi solusi tepat usaha. Pasalnya, Bogor tempatnya tinggal, adalah tempat dimana jagung menjadi komoditas unggulaan. Sayang, ketika jagung banyak diolah menjadi manisan, maka bonggol jagung terbengkalai seperti sampah. 
 
Ia memungut boggol jagung tersebut. Dia teringat suatu hari ketika berkunjung ke rumah teman. Dia memberi Eddie sebuah hiasan dari tempelan bonggol jagung. Eddi tergelitik untuk mengutak- atik bonggol jagung itu menjadi aneka produk.

Imajinasi mengembara membawa pikiran produk dari bonggol jagung. Kebetulan memang di Bogor, jagung menjadi komoditas utama sebagai bahan manisan. Namun bonggolnya terbuang menjadi limbah. 
 
Eddie bisa kapan saja menggunakan itu cuma- cuma. Kecintaan akan seni kriya terekspresikan lewat aneka produk dari bonggol jagung. Awal usaha tersebut terbentur akan fakta: Bonggol jagung itu rapuh mudah rusak. 
 
Dia pun tidak tau caranya bagaimana mengeraskan bonggol jagung. Solusi pertama lewat cairan formalin, tetapi, setelah ia pikirkan ini sangat berbahaya untuk dirinya. Tidak puas membawa dirinya ke teman- temanya di Institut Pertanian Bogor (IPB). 
 
Lewat mereka lah Eddie mendapatkan campuran kimia yang relatif aman. Hingga pada suatu titik, perasaan tidak puas kembali menyeruak akan zat kimia tersebut. Dia meyakini pasti ada cara alami mengeraskan dan mengawetkan bonggol jagung.
 

Rahasia Usaha

 
Jawaban baru ditemukan ketika ia bertemu Suku Dayak Kalimantan. Kearifan lokal memperkenalkan ia dengan pengawetan alami, seperti menggunakan garam, pinang, pasak bumi, serta bahan lainnya.

Kerja keras Eddie terbayar mendapatkan hasil seperti diinginkan. Usaha kerajinan bonggol kayu Eddie pun dilanjutkan kembali. Dalam perjalanan sudah tidak terhitunga berapa kali dirinya gagal. Bahkan sang istri mulai meragukan apakah bonggol jagung tersebut laku. 
 
Lewat marketing mulut ke mulut usahanya mulai bisa menampakan hasil. Pesanan mengalir selama perjalanan waktu tersebut. Ia semakin bertekat menaikan nilainya. Eddie bersemangat mengikuti aneka pameran kerajinan. Tidak cuma di dalama negeri tetapi sampai ke luar negeri. 
 
Optimisme bertambah ketika mengetahui bonggol jagung jadi satu- satunya. Kini aneka produksi bonggol jagung bisa ditemui di Singapura, Jepang, Belanda, dan Prancis.

"Amerika Serikat saja sebagai negara penghasil jagung terbesar di dunia hanya mengolah bonggol jagung sebatas menjadi pipa rokok," tutur Eddie.

Eddie bisa menghabiskan 40- 50 karung bonggol jagung. Ini cukup bersumber dari satu pasokan pasar saja. Itu saja masih berserakan di jalanan menjadi limbah. 
 
Hasil karya Eddie meliputi kap lampu, khususnya kap lampu duduk, kemudian tatakan gelas, tempat tisu, anyaman tas, cooler laptop, sampai tas laptop.

"Waktu itu kalau nggak salah tahun 2008, ada teman ngasih vas bunga. Saya kaget, ternyata vas bunga itu terbuat dari bonggol jagung," kenang Eddie.

Untuk satu kap lampu bisa dikerjakan sampai 4 hari. Karena butuh ketelitian dan waktu lama tak ayal harga bisa mencapai Rp.350 ribuan. Meski karya bonggol jagung sudah dikenal, soal bisnis masih belum tumbuh signifikan. 
 
Eddie sadar gairah saja tidak akan mendatangkan modal tetapi prospek bisnis. Sementara kalau modal investasi dari pemerintah menurut Eddi masih kecil dari harapan.

Pendekatan sosial coba dijalankan Eddie. Seperti mengajukan aneka proposal pembiayaan lewat Pemerintah Kota atau Kabupaten. Banyak pemerintah daerah tertarik menjadikan bonggol jagung sebagai sarana. Ia pun lantas mulai mengajar di daerah- daerah. 
 
Eddie bersama pemerintah berhasil menginisiasi bengkel- bengkel kecil kerajinan bonggol jagung. Bertempat di showroom milik pribadinya di Jalan Pembangunan 2 No. 42 Kedung Halang, Bogor, Jawa Tengah, setiap harinya Eddie menghasilkan berbagai produk bonggol jagung. 
 
Usahanya cukup disuplai dari pasar- pasar tradisional di sekitar Bogor. Bonggol tersebut dibersihkan terlebih dahulu, baru itu kemudian dikeringkan. Lantas dia akan menambahkan cairan khusus pengawet disana hingga masuk cetakan.

Bonggol dibentuk lingkaran kecil melalui cetakan kayu. Setelah itu disusun menjadi landasan bentuk aneka kreasi bonggol jagung. Meski manual tetapi hasilnya ternyata sangat rapih. Untuk dijual harga kreasi bonggol ini saharga Rp.1 juta sampai Rp.3 juta tergantung ukuran dan tingkat kerumitan.

Seniman Kuningan Pengusaha Miniatur Ontel

Profil Pengusaha Heri Suryono


senimankuningan.png
 
Kisah pengusaha miniatur ontel. Merupakan bagian masyarakat Seniman Yogyakarta. Kreatifitas yang tak terbatas menghasilkan barang seni menarik. Seniman Yogya menghasilkan kerajinan kayu, kramik, aneka produk kulit, batik, kain tenun, olahan serat alam dan logam. 
 
Tetapi berbeda pengusaha miniatur ontel ini.  Heri Suryono khususkan menghasilkan kerajinan logam. Berbagai produk telah dihasilkan mulai minatur becak, dokar, dan ontel. Sukses pengusaha asal Kota Gede ini sudah mengikuti aneka pameran, seperti Inacraft. 
 
Ini merupakan salah satu pameran terbesar di Indonesia. Adapula pameran lain bernama Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI) yang mulai menarik perhatian.

Seniman Kuningan

  
Suryono merupakan pemilik Wilidi Craft. Usaha turun- temurun yang dipolesnya sedemikian rupa. Ia sukses berkat kreatifitas aneka miniatur becak, dokar, dan ontel sejak 1996. Latar belakang keluarga tentulah jadi alasan dirinya mahir. 
 
Tetapi kalau bukan karena kreatifitas maka hidupnya akan biasa. Pasalnya usaha milik ayah dan kakeknya berbeda jauh. Mereka mengerjakan usaha kerajinan cor logam kuningan.

Sementara pembuatan miniatur terkesan sepel. Padahal, kalau dilihat segi keuntungan, apalagi Yogya sebagai salah satu pusat kebudayaan; Suryono menang banyak. Pengetahuan tentang logam dimanfaatkan baik lewat produk modern. 
 
Walaupun fokus usaha di aneka minatur, jangan salah, Suryono masih mengerjakan usaha cor kuningan keluarga. Soal produksi kerjinan logam dirinya tidak segan turun tangan. Di bengkelnya terdapat aneka desain produk logam dan miniatur logam. 
 
Walidi Cor Kuningan -sekarang Wilidi Craft, mempunya 18 orang karyawan. Mereka terbagi enam orang mengerjakan kerajinan kuningan dan enam orang lagi akan bekerja di percetakan dan pengecoran. 
 
Usaha Suryono tidak pernah sepi dari pelanggan setiap hari. Meski pun sepi, Wilidi Craft menurutnya masih memproduksi barang untuk distok. Kendati demikian barang stok sudah terlebih dahulu diperhitungkan. 
 
Ia hanya membuat produk stok yang bisa dijual pasar ke depan. Wilidi Craft mampu memproduksi minatur sebanyak 400 unit per- bulan. Untuk produk cor kuningan lebih banyak karena sudah punya mesin yakni 500- 600. Pemasaran produk sampai di Bali, Jawa, Sumatra dan Kalimantan.

Untuk pasar ekspor akunya sudah masuk Malaysia, Singapura, Belanda dan Amerika Latin. Kegiatan rutin ekspor adalah pasar Malaysia dan Belanda. Guna meningkatkan daya jual maka mengikuti pameran menjadi salah satu cara Suryono sekarang ini.

Desain minatur pun bekembang tidak sebatas sepeda ontel. Mereka bisa membuat strika kuno, meriam, atau kalau kamu mau bisa lewat foto. Nah, satu ini yang membedakan usaha milik Suryono, dimana cuma modal foto sudah bisa jadi minatur peris. 
 
Pengalaman menarik usahanya adalah ketika pesanan dari Malaysia. Entah apa maksudnya mereka impor meminta tidak diberi lebel Made In Indonesia.

"Malaysia biasanya pesan kosongan, atau tidak ada label MadeinIndo (Indonesia)," paparnya. Tetapi untuk negara lain tidak terjadi hal semacam itu. 
 
Suryono cuma bisa mengiyakan saja. Dimana harga miniatur yang ukuran sedang Rp.65 ribu dan kecil Rp.45 ribu. Adapula ukuran mini dijual Rp.22.500 dan untuk becak mini seharga Rp.100 ribu.

Pengusaha Madu Amfoang Mantan Kontraktor

Profil Pengusaha Roby Manoh 


pengusahamadu.png
 
Pengusaha madu Amfoang bermula mantan kontraktor. Siapa sangka potensi sumber daya alam kita begitu kaya. Pria ini sukses melihat hal tersebut di Kota Kupang khususnya, dan juga Nusa Tenggara Timur umumnya. 
 
Poteni tersebut ialah madu hutan menyehatkan. Yang terkenal akan khasiatnya khusus untuk menjaga kesehatan dan kecantikan.

Pengusaha Madu

 
Sayangnya, produksi madu hutan ini jumlahnya masih terbatas, belum bisa memenuhi kebutuhan pasar.

"Saat itu nama madu Amfoang sedang meledak. Saya pikir mengapa saya tidak kembangkan anugrah Tuhan ini," tuturnya.

Roby Manoh melihat potensi besar sumber daya alam untuk Indonesia Timur. Sumber daya yang menurutnya terabaikan selama ini. Mereka para wisatawan disuguhkan madu tetapi dengan konsep tak profesional. 
 
Hati kecilnya terpanggil untuk merubahnya. Bayangkan madu- madu itu hanya dikemas dengan botol bekas air kemasan. Padahal wisatawan itu jauh- jauh ke NTT untuk menikmati dasyatnya madu hutan ini

Ia tercatat pernah menjadi karyawan  sebuah perusahaan kontraktor di Kupang dari 1990- 2002. Sampai persaingan antar kontraktor semakin ketat, yang membawanya memilih menjadi pengusaha. 
 
Sebagai awalan, Roby langsung pergi magang di pengelolaan madu Balai Besar Industri Nasional di Bogor, Jawa Barat. Hingga tahun 2002, sekembali dari Bogor, ia aktif mengunjungi sumber- sumber potensi madu hutan yang ada.

Sejumlah kawasan di Amfoang dan daratan Timor Barat dikunjunginya. Tahun 2003, Roby mulai membentuk kelompok pengumpul madu. Pertama kalinya cuma ada 10 orang yang bersedia bergabung. Satu kelompok yang diberinya nama Kelompok Amfoang. 
 
Kini, sudah banyak orang mengikuti, total sudah 43 kelompok mengikuti jejak Roby, mulai dari kelompok Amfoang, Amarasi, dan sampai ke penjuru daratan Timor Barat lain.

Nama Amfoang sendiri terinspirasi atas nama sebuah daerah meliputi tiga kecamatan di Kabupaten Kupang. Sampai tahun 1990 -an, penyebutan nama Amfoang, maka akan identik akan madu hutan asli khas Nusa Tenggara Timur. 
 
Madu Amfoang sendiri memiliki khasiat beragam, dari cuma menyebuhkan luka terbuka, sampai mengatasi tuberkulosis, masuk angin, jantung, darah tinggi dan menambah kecantikan perempuan.

Mantan Kontraktor Sukses


Amfoang merupakan kawasan hutan seluas 1.000 hektar. Hutan yang didukung beragam kekayaan hayati berkualitas seperti cendana, kayu putih, dan kenari. Bunga- bunga aneka ragam yang dihinggapi lebah hutan pencari makan. 
 
Lebah ini asli dari hutan sengaja tidak diternakan. "Jika diternakan, berpotensi menggunakan bahan kimia," tuturnya. Madunya alami, mulai dari hutannya, proses pengambilan, proses penyimpanan, dan penjualan.

Madu standar ekspor memiliki kadar air 18 persen, panasnya 40- 60 derajat celcius, kadar air maksimal di 21 persen, dan debu atau abu 1 persen. Madu Amfoang memiliki kadar air 16- 17 persen, panas 50- 60 derajat dalam kandungan madu, dan debunya cuma 0,6 persen. 
 
Pendiri CV. Amfoang Jaya ini mengatakan madunya tersebut sudah diseleksi ketat. Cakupan madu Amfoang sudah mencapai Jakarta, Surabaya, Denpasar, dan Timor Leste. Ada laboratorium dan tabung pendeteksi memastikan keaslian madu. 
 
Dibeli dari 43 kelompok binaan, yang jumlah anggotanya mencapai 1.500 orang. Dimana setiap kelompok beranggotakan 25 orang. Harga per- botol Rp.25.000 (650ml). Dan, rata- rata tiap kelompok menghasilkan 25 botol per- pekan atau 600 botol per- bulan.

Madu biasanya bersumber dari madu gantung di pohon. Tetapi tidak ada perbedaan antara madu gantung atau batu. Kualitas bukan ditentukan tempat tetapi kualitas serbuk bunga. Pengambilan madu dilakukan berdasarkan kearifan lokal, tidak menebang pohon, ataupun merusak hutan. 
 
Jumlah 43 orang kelompok bisa menghasilkan 2.000- 10.000 liter madu per- bulan. Roby akan membeli madu mereka seharga Rp.40.000 per- liter.

Kelompok binaan menghasilkan 40- 250 liter madu per- bulan. Tidak mencolok kecuali kelompok tersebut rajin mengamati ke hutan. Proses standarisasi dijalankan lewat showroom. 
 
Diberinya kemasan menarik, dan diberi lebel Madu Amfoang Timur, kemudian dikirim ke Jakarta, Surabaya, dan Timor Leste. Dimana Per- bulan perusahaan mengirim 4.000- 5.000 botol ke Jakarta dan Surabaya. Timor Leste sendiri mendapatkan jatah 3.000 botol.

"Permintaan dari Jakarta 12.000 botol, tetapi kami hanya mampu 5.000 botol per bulan," jelas Roby lagi. 
 
Kemudian 1.000 botol dipajang di showroom dan didistribusikan ke toko, pusat cendramata, souvenir, dan swalayan 2.000 botol per- bulan. Harga madu ini di kupang Rp.100.000 per- botol (650ml), Jakarta Rp.120.000 per- botol, dan Surabaya Rp.150.000 per- botol. 
 
Untuk inovasi ada madu yang diberi ramuan khusus. Madu vitalitas tersebut dijualnya seharga Rp.100.000 per- botol, tetapi isinya cuma 350ml. Kekuatan dari produk Amfoang sendiri adalah keasliannya. Mampu memberikan alternatif suplemen sehari- hari. 
 
Memang CV. Amfoang Jaya dikenal getol mempertahankan keaslian madu. Lima liter madu yang dibeli cuma hasilkan tiga liter saja. Karena namanya madu hutan maka dibuat di hutan, sudah tercampuran air hujan, kotoran, dan lainnya.

Semua unsur sudah dibuang terlebih dahulu dalam proses deteksi. Kepercayaan akan kebersihan memang sangat dijaga CV. Amfoang Jaya. "Madu tidak boleh disimpan di dalam bahan plastik berupa jeriken dan bekas botol air mineral seperti kebanyakan dilakukan masyarakat," jelas Roby. 
 
Ada fakta menarik kalau madu disimpan di botol. Katanya akan meledak jika dimasukan ke bekas air mineral, buka karena gas tetapi higenitas.

"Madu di dalam jeriken atau botol plastik sering meledak bukan karena panas, melainkan karena wadah itu kotor," imbuhnya.

Madu baiknya disimpan di wadah tabung gelas atau bekas botol minuman dan sejenisnya. Kelompok binaan tidak cuma diajarkan bagaimana mencari madu tetapi juga menjaga hutan. 
 
Karena jika makin rimbun hutan maka semakin potensial madu hutan banyak disana. Ia menjelaskan prospek madu juga karena ini minuman segala usia.

Anak 11 Tahun Jadi Pengusaha Beromzet 6 Juta

Profil Pengusaha Syahrizal Fadillah


anaksebelas.png
 
Ada berita menarik, berjudul "Anak 11 Tahun Jadi Pengusaha Beromzet 6 Juta Perbulan. Menarik karena si bocah ternyata bukan bocah biasa. Pasalnya dia sudah mepunyai jiwa entrepreneurship sejak dini. Ia bahkan sudah punya ambisi "mengalahkan" McDonald. 
 
Ketika ditanya oleh orang yang melihatnya berjual dari sepedanya. Syahrizal Fadillah umur 11 tahun entengnya menjawab hobi berbisnis.
 

Kisah Anak Jadi Pengusaha


Yah, selain membantu ekonomi keluarga, juga karena jiwa entrepreneurshipnya. Kalau anak sebayanya di kampung tengah asik dengan gadgetnya. Begitu pula dia, cuma bedanya dia membeli gadget dari jerih payah dia sendiri. 
 
Bayangkan dalam sebulan sudah mengantongi omzet Rp.6 juta. Gajinya lebih banyak dari upah yang dihasilkan oleh buruh kita. Miris, tapi menginspirasi sekali. terutama buat penulis membacanya.

Rizal begitu sapaan akrabnya. Tidak pernah sekalipun ibu Rizal dilarang ibunya. Karena berdagang juga hasilnya tidak diambil semua. Bahkan dia bisa membeli sendiri sepeda BMX -nya tersebut seharga Rp.700 ribu, lewat apa yang disebutnya hobi ini. 
 
Berbekal sepeda itulah dia berjualan aneka jajanan, seperti jus buah, roti coklat, dan cemilan kering. Dijualnya itu keliling daerah Minomartani Sleman, Yogyakarta. Bahkan sudah menghasilkan tablet sendiri seharga Rp.1 juta.

"Saya bercita- cita menjadi pengusaha. Mau ngalahin pemilik McDonald," ujarnya kepada keluarganya terus terang.

Teringat kisah Warren Buffett penulis ingin kembali lagi. Perlu kamu tau, diumur 11 tahun, seusia Riza sosok investor sepanjang masa ini sudah membeli sahamnya sendiri. Bukan dari mana, tapi dari aneka usaha, sejak kecil sudah bekerja seperti Rizal berjualan aneka jajan. 
 
Buffett juga pernah menjadi loper koran loh. Ada lagi kisah pengusaha seumuran Rizal sekarang. Cory Nieves baru berumur saja 11 tahun. Memulai usaha lewat berjualan aneka kue kering buatan sendiri. Tujuan si bocah ini yakni agar bisa membelikan ibunya sebuah mobil. 
 
Beda Rizal anak Amerika ini berjualan didepan pasar swalayan. Kamudian ada Bridges-Mo yang sudah memulai sejak 9 tahun. Ia memulai lewat dasi kupu- kupu rajutan sang nenek. Adalagi Madison Robinson yang memulai sejak 8 tahun lewat sandal warna- warni.
 

Mengajari Anak Wirausaha

 
Mengajari anak wirausaha memang sulit. Ada orang berpendapat anak bekerja berarti eksploitasi. Tapi, ketika anak sudah punya passion sejak kecil, dalam pendidikan manapun kami yakin harus mengakomodir. Bedanya ada di perlakuan kedua orang tua. 
 
Termasuk orang tua Rizal bocah asal Sleman ini. Anak kedua dari tiga bersaudara ini punya satu semangat perlu kita acungi jempol. Sekali lagi ia mengakui bahwa, "Saya jualan memang karena hobby", juga membantu keluarga.

Kepada pewarta dia bercerita bahwa keinginan itu timbul sendiri. Kedua orang tuanya tidak pernah meminta dirinya bekerja. Ia mulai berjualan bahkan sejak kelas 2 SD. "Saya jualan pulang sekolah. Lalu sore ngaji dulu. Lalu lanjut jualan sampai maghrib," ujar Rizal polos. 
 
Meski berdagang satu hal, dia tidak pernah tinggal soal sholat lima waktu. Bocah chubby berkulit sawo ini akan bermain ketika di sekolah dan di tempat ngaji.

Jualannya dari sandwich, nugget, jus buah, sampai juga coklat pisang. Rizal rata- rata menjualnya Rp.2.500 sampai Rp.3000. Untuk jus buah dibandrol seharga Rp.1.500, yang dibawanya lewat kota merah diikat di belakang sepedanya. Omzet per- harinya Rp.150.000 sampai Rp.200.000. 
 
Hasil jualan akan diberikan ke ibu. Lalu uang tersebut akan ditabungkan oleh ibunya Rp.50.000. Sang ibu juga tidak melarang ketika Rizal memakai uangnya. "Kadang saya pakai beli jajan buat adik," katanya lagi.

Dia pandai membaca Al- Quran di kampung. Ketika pertama kali meminta berjualan. Ibu sudah mewanti- wantinya agar nilainya tidak turun. Rizal penuh semangat bahkan dia ingin mengalahkan pemilik McDonald. 
 
Anak kedua dari tiga bersaudar ini nila ujiannya tidak pernah jeblok. Bahkan bisa masuk sepuluh besar, " Dia rajin belajar dan rajin ngaji sama enggak pernah bolong salat juga," kata Ibu.

Sudah tertarik jualan sejak SD. Ketika itu ibunya langsung mengamini keinginan tersebut. Syarat nilai tidak boleh jeblok dipegang Rizal. Ibu pun mendukung lewat aneka kue bikinan sendiri. "Saya buatkan roti, pisang coklat, dan jus buah buat jualan," tambahnya. 
 
Mulai kelas IV SD berjualan lah si Rizal, yang pertama- tama jualan di kantin sekolah. Padahal ibu dan ayahnya tidak pernah memintanya berjualan. Kedang ibu meras kasihan meminta agar tidak jualan. Cuma ia sendiri yang mau berjualan. 
 
Kalau dilihat dari kacamata awam, beberap ibu- ibu pembeli, melihat si Rizal sangat kasihan awalnya. Masih kecil kok sudah dipaksa jualan tutur seorang pelanggan Rizal. Namun, ketika perbincangan terjadi, sosok Rizal bukan lah anak kecil biasa. 
 
Rizal bahkan membuat anak pelanggan itu terinspirasi. Anak si ibu itu malah ikutan jualan di sekolah.

"Tapi begitu ngobrol-ngobrol saya jadi salut dan respek sama Rizal. Dia jualan karena kemauannya sendiri. Dia menginspirasi Sandy (anaknya)," ujar Santi.

Kegigihan bocah kelahiran 12 Februari 2002 ini juga menular ke kakanya. Dia yang sudah SMK sekarang ikutan berjualan di sekolah. Sejak dulu, ia memang sudah bercita- cita menjadi pengusaha. Meski harus mengayuh sepeda tiap hari dibawah teriknya matahari. 
 
Dia melakoni semuanya demi nama passion. Ketika ditanya siapa inspirasi maka jawabanya salah satu pengusaha Indonesia; bukan pengusaha McDonald.

Dulu TKI Sekarang Pengusaha Pemilik CV Bandeng

Profil Pengusaha Maidah Dahmalia


macam- macam olahan bandeng
 
Dulu TKI sekarang pengusaha pemilik CV usaha. Sejak awal wanita tersebut terbiasa bekerja dalam ruangan. Sebagai mantan TKI, dulunya bekerja sebagai buruh pabrik baterai di Malaysia. Dua tahun masa kontrak dia kembali ke Indonesia. 
 
Lantas apa yang bisa dilakukannya untuk bertahan hidup sekarang. Masa itu dia tinggal di Serang, Banten, perihatin melihat bagaimana bandeng berlimpahan. Di 2000 -an, bandeng begitu berlimpah belum tersentuh variasi, "...saya pikir ikan bandeng yang banyak ini harus dimanfaatkan," tuturnya.
 

Pengusaha Pemilik CV


Midah Dahmalia kemudian menyulap bandeng menjadi sate. Memang sudah menjadi makanan khas Serang kalau sate bandeng. Selanjutnya pengusaha ini membuat aneka olahan bervariasi, seperti ada nuget, abon, pangsit, kerupuk tulang bandeng, kerupuk bakso ikan, bandeng basah, sampai telur ikan.

Bersama bisnis CV. Bilvie. Modal awalnya Rp.2 juta, ikan bandeng didapat dari tempat budidaya setempat. Tahun 2013 menjadi awal titit kewirausahaannya. Sempat mau hutang bank, namun tidak jadi karena takut tidak bisa bayar karena usahanya masih kecil.

Menjadi pengusaha oleh- oleh tidak membuat dia lupa asal. Midah memberdayakan para TKI yang sudah pulang kampung. Membuat sebuah sentra produksi bersama dengan pengawasan dia. Sebuah bentuk solidaritas karena memang sulit mendapatkan pekerjaan kalau sudah pulang kampung.

Dari Serang, Pandeglang, Rangkasbitung, hingga daerah lain sekitar Serang. "Habis gimana kalau mereka pulang kampung kadang kehabisan uang," jelas Midah.

Tidak jarang mereka yang sudah mantap, kemudian memisahkan diri dari kelompok binaan Midah, dan akhirnya membangun usaha sendiri. Dia tidak menganggap itu sebagai apa. Pada prinsipnya dia senang jika rekan- rekannya ini menemukan pendapatan mereka sendiri tanpa bekerja keluar negeri.

Midah sendiri tidak sendirian mengembangkan usaha. Ada pihak kementrian kelautan yang menjadi pembina usahanya. Pihak KPP, mengundah Midah sampai ke Malaysia untuk mengikuti bazar UKM, dimana dia bercerita produk olahan miliknya langsung ludes ketika dipasarkan di sana.

Namun begitu, walau laris manis, ternyata untuk pasar ekpor ke Malaysia masih kecil. Midah sendiri tidak menampik program kala itu sebagai "icip- icip". Meskipun begitu dirinya masih yakin. Apalagi kalau produk turunannya tidak umum, produk abon bandeng jadi terlaris ketika disajikan di bazar.

Djemi Lassa Pengusaha Komputer Bekas Kupang

Biografi Pengusaha Djemi Lassa


pengusahakomputer.png
 
Biografi Djemi Lassa berkesempatan menceritakan kisah suksesnya. Dia pengusaha komputer bekas Kupang, tetapi apa hanya itu. Melalui satu wawancara ekslusip Pos Kupang. Dia adalah anak seorang pengusaha. 
 
Sayangnya, sang ayah sebagai kepala keluarga harus menanggung bangkrut. Ini membuat nasib Djemi sebagai salah satu yang tertua di keluarga. Putra kedua pasangan Alexander Lassa dan Ny. Domina Julianan Ang ini, akhirnya ikutan bekerja.
 

Pengusaha Komputer Bekas


Nyemplung mengerjakan aneka macam pekerjaan. Dia bahkan tidak punya masa kecil. Dalam ingatan itu cuma masa kecilnya tidak terlalu menyenangkan. Jangan salah, meski tidak terlalu menyenangkan, Djemi mengaku ini sangat menyenangkan. 
 
Ia membentuk karakter itu sendiri. Lewat aneka pekerjaan dari berjualan kue, mendorong kereta, dan membuat batako. Ini merupakan palajaran seorang Djemi Lassa sampai sekarang. Dia menjadi sosok pengusaha yang tangguh. 
 
Siapa sih yang tak mengenal pengusaha komputer bekas asal Kupang ini. Pendiri Timorese Group, yang beralamat di Jalan Tom Pello- Kupang, memulai dari bisnis komputer bekas menjadi aneka lini bisnis. Kisah sukses orang berbeda- beda. Ada yang harus bekerja sangat keras sepertihal Djemi dulu.

"Masa kecil saya tidak terlalu bagus. Dalam arti begini, waktu itu papa saya memiliki usaha, tapi bangkrut. Jadi saya ikut kerja membantu keluarga," buka Djemi. Sebagai anak kedua dari enam bersaudara, membuat Djemi kecil jadi ikut menanggung beban keluarga. 
 
Dia tidak mengeluh. Semua dijalaninya sebagai anak berbakti kepada orang tua. Apa pekerjaan Djemi kecil itu berganti- ganti. Kebanyakan ikut membantu usaha kedua orang tuanya. Ayahnya akhirnya menjadi petani dan tukang kayu, dan Djemi siap membantu sang papa sebisanya.

Papa Djemi bekerja menjadi pencari pohon untuk ditebang diambil kayunya. Tak jarang, ia ikut membantu angkat- angkat kayu. Djemi kecil juga membantu memikul beberapa potong kayu. Dipikulnya itu dibawa ke pinggiran hutan atau tidak jarang sampai pinggiran jalan. 
 
"Anda bisa bayangkan, saya memikul kayu di hutan, jalan jauh bahkan mungkin berkilo- kilo meter," tuturnya. Selepas itu truk akan mengangkut kayu- kayu tersebut.
 
Dia bercerita karena pekerjaan itu. Djemi pernah sekali terkena malaria karena tinggal satu bulan di pelosok. Ya banyak hal dilaluinya ketika membantu keluarga. Hal lain, dia sering ikut membantu mengusir burung- burung di sawah.

Dia pernah berjualan kue keliling kampung. Djemi berkeliling kampung menawarkan kue bikinan sang ibu ke rumah- rumah. Berjalan kaki beberapa kali Djemi akan berhenti. Dia selalu berharap si empunya rumah akan membeli dagangannya. 
 
Berjualan kue dilakukan sejak kelas IV SD sampai SMP. Menyambung saat masuk bangku SMA. Pekerjaan menjual kue dilakukan pukul 05:00- 06:00 Wita dan disambung ke sekolah.

"Jualan sampai jam 06.30Wita. Setelah itu kembali ke rumah karena harus sekolah. Nah pulang sekolah jual lagi," tambah Djemi.

Dia juga pernah bekerja membuat batako. Pekerjaan ini cuma menghasilkan Rp.100 setiap batako yang bisa dihasilkan.

Sejak kelas II sampai III SMA, Djemi punya cita- cita menjadi dokter. Cuma akhirnya kandas kerena dia paham betul keadaan keluarga. Dia mulai berpikir akan mustahil kalau menjadi dokter. Mama pasti tidak mengijinkan karena ekomoni keluarga. 
 
Karena mama cuma ibu rumah tangga biasa, yang membantu suami lewat membuat aneka kripik dan kue. Kebetulan sang mama memang jago memasak.

Tidak bisa menjadi dokter bukan berarti tidak berkuliah. Pada akhirnya Djemi bisa berkuliah semua berkat beasiswa. Waktu itu ia diterima di Universitas Petra Surabaya jurusan teknik sipil. Masuk di tahun 1996, ia melewati serangkaian test dan mendapat beasiswa penuh. 
 
Meski beasiswa penuh ternyata tidak mencangkup biaya makan. Alhasil, meski kuliah gratis, Djemi harus memutar otak agar bisa makan dan minum.

"Nah, uang makan minum ini dari mana, saya sempat bingung juga karena saat itu ekonomi keluarga kami belum membaik. Tapi saya tetap kuliah, meski setengah mati, mama tetap mengirimkan saya uang Rp 150 ribu perbulan, itu untuk uang penginapan dan makan- minum," kenang Djemi lagi.

Biografi Djemi Lassa

 
Karena itulah pola pikir Djemi berbalik arah. Dia berpikir bagaimana bisa menjadi seorang pengusaha. Jika teman- teman sudah punya masa depan jelas. Selepas menjadi insinyur mereka akan langsung bekerja di kontraktor besar. 
 
Dimana mereka berencana akan mengerjakan proyek- proyek pemerintah. Djemi tidak bisa begitu keadaanya. Hingga di tahun 1997- 1999, ketika krisis ekonomi menghantam Indonesia, sang dosen sempat berpesan agar dia bersiap menjadi pebisnis. 
 
Pelajarilah aneka jenis strategi bisnis dan rangkumlah. Ketika itu ia tengah mengerjakan tugas akhir bertema manajemen proyek. Mengikuti saran mulailah dipelajarinya bisnis ritel, konsultan, bisnis kontraktor. Dia lantas berkesimpulan bahwa dirinya telah salah jurusan.

Menurut pemahaman kami: maksudnya ialah sang dosen telah membaca arah. Dia telah melihat bahwa bisnis kontraktor sulit dimasa tersebut. Untung, ketika kuliah berjalan, Djemi sempat mengerjakan bisnis seriusnya yang pertama. 
 
Sebelum skripis, ketika pulang kampung ke Kupang naik kapal laut, ia sempat membaca satu iklan di salah satu koran. Yakni iklan seseorang yang menawarkan komputer bekas seharga Rp.1 juta.

"Saya berpikir, wah... ini komputer kayaknya bisa dijual di Kupang," jelasnya.

Djemi lantas meminjam uang kepada kakaknya. Uang tersebut cuma cukup dibelikan satu buah komputer bekas. "...jadi saya beli satu unit dan bawa ke Kupang. Di Kupang saya tawarkan kepada kawan-kawan, "hai mau komputer"," ujar Djemi menirukan. 
 
Dia ingat betul sambutan dari teman- temanya ternyata positif. Padahal ketika itu harga jual komputer bekas itu menjadi Rp.2 juta.

Masalah utama berbisnis komputer bekas ada di jarak. Dia menjelaskan bahwa stok komputer diambil dari Surabaya. Untuk menghemat biaya, Djemi sendiri berangkat ke Surabaya, dipanggulnya semua komputer- komputer tersebut sendiri. Dia memanggul sendiri menaiki kapal Dobonsolo.

"Saya sendiri yang beli di Surabaya, saya yang pikir sendiri di kapal dan bawa sampai di Kupang. Anda bayangkan, saya pikul komputer ini dalam dos-dos bekas," jelasnya.

Pertama kali memesan dua- tiga unit. Lama- kelamaan naik sampai memesan lima- enam unit. Hasilnya komputer bekas itu menumpuk. Mau- tidak mau Djemi menyewa rumah untuk gudang penyimpanan. Jadilah menyewa rumah di RSS Liliba No D 47.  
 
Sekembali dari Surabaya dibawa lagi 10 unit. Begitu jualan laku, uangnya langsung digunakan untuk memasang iklan. Waktu itu memang masih jarang orang memasang iklan di koran. Waktu itu iklan di koran masih belum ramai. Iklan di Pos Kupang juga belum ada yang berjualan komputer bekas. 
 
Djemi menjadi yang pertama berjualan komputer bekas di koran. Beriklan di koran ternyata cukup sulit. Sambil menjual komputer bekas sambil mengumpulkan uang. Terkumpul uang 20 juta itu setengah mati langsung digunakan kontrak iklan. 
 
Selepas itu mengumpulkan uang Rp.20 juta lagi dan harus keluar lagi buat sewa tempat.

"Waktu saya lihat iklan ada di gedung Percetakan Negara mau di kontrakan Rp 20 juta. Saya punya uang hanya Rp 20 juta, saya sudah tabung setengah mati dan harus kasih keluar lagi," ujarnya.

Uang tersebut cuma berputar- putar untuk bisnis kembali. Dia tidak mau uangnya habis untuk hal- hal tidak berguna. Djemi langsung menggunakan lagi. Begitu seterusnya menjadi pondasi bisnis. Kalau tidak menyewa tempat sendiri maka tidak akan maju. 
 
Kalau tidak beriklan di Percetakan Negara ya tidak bisa menjual lebih banyak. Dikontraklah satu rumah -dua kamar selama dua tahun. Dia mulai berjualan komputer bekas lambat laun menjadi komputer baru.

Dia kontrak iklan di Percetakan Negara selama tujuh tahun sejak 2002. "Kita baru keluar dari situ tahun 2009 lalu," ujar Djemi.
 
Jujur dia tidak paham soal komputer. Cuma satu prinsip bisnis komputer bekas: bisnis ini pasti laku dan bisa dipelajari sendiri. Semasa kuliah juga tidak memegang komputer. Tapi Djemi punya semangat belajar komputer. Dia tidak malu belajar sendiri. 
 
Sampai- sampai harus meminjam komputer milik orang. Dia belajar secara otodidak. Kendati sukses berbisnis, tidak membuat suami Eliyana Wirawan ini, tak lantas jadi besar kepala.

Dia ingat betul kisah perjalanan hidupnya. Ini merupakan anugrah Tuhan YME. Tetap rendah hati dan bicara sopan santun selalu keluar dari mulutnya. "Praise the Lord, usaha yang saya bangun berkembang," ucap syukur Djemi. 
 
Tahun 2002, seorang pengusaha asal Surabaya datang kepadanya. Dia punya masalah dan ia berharap Djemi bisa membantu. Cabang perusahaan di Kupang milik pengusaha itu tengah mengalami masalah.

Cuma di Kupang saja yang ada kendala luar biasa. Usaha bernama Busi Deso lantas diserahkan kepada Djemi. Maksudnya bagaimana jika dirinya menjadi distributor. Perusahaan spare part sepeda motor ini mencoba menawarkan kerja sama. 
 
Secara Djemi merupakan pengusaha putra asli Kupang. "Awalnya saya ragu, tapi saya diyakinkan prospek usaha ini," jelasnya. Awal usaha menjadi distributor memang susah. Tetapi ketika kamu sudah punya pemasaran yang baik, ia pun melanjutkan, ini menghasilkan dan bisa maju pesat. 
 
Pokoknya Djemi tetap optimis menjadi distributor. Awal- awal diambilah distributor Denso, pada enam bulan kemudian, datang tawaran menjadi distributor SKF. Ini ternyata berjalan sangat baik. Dia menjadi distributor produk bering atau leher. Jelasnya produk untuk bagian as roda.

Informasi tambahan bahwa SKF ini digunakan semua motor. SKF juga menyediakan onderdil after market atau setelah lepas dari pabrikan. Ini menjadi onderdil wajibnya toko- toko onderdil motor. Setelah pegang merek SKF, tawaran produk lain mudah berdatangan. 
 
Bahkan jika umumnya produk besar meminta deposit sebelum menjadi distributor. Ini, mereka tidak meminta sama sekali. Semua karena saking besar percayanya mereka. Dari Denso, menjadikan Djemi distributor spare- part terpercaya aneka busi motor, mobil, dan komponen elektrik lain. 
 
Kemudian mendapatkan kepercayaan dari SKF, yang disusul oleh distributor MTR dan di tahun 2007 remsi menjadi distributor ban merek Mizzle asal Swiss. Bisnis SKF berjalan lama mulai di tahun 2004 sampai 2009. 
 
Di tahun 2005, pengusaha ini mendapat kepercayaan menjadi servis resmi printer Cannon data skrip Jakarta. Usaha aneka distributor tak melengahkan. Dia masih fokus di bisnis komputer miliknya. Untuk itulah, selepas segala kesibukan distributor, pada 2005 dibuka lah cabang pertama bisnis miliknya. 
 
Dibawah bender baru yaitu perusahaan bernama Petra Gemilang. Cabang pertama dibuka di Jalan WJ Lalamentik. "Saya bikin dengan konsep berbeda sedikit dengan nama menggunakan nama Petra Komputer," ujarnya.

Kedua usaha Djemi itu berjalan beriringan sejalan. Tahun 2006- 2007, selaku distributor bisa mendapatkan kepercayaan menjualkan ban Wizzle. Meski di Kupang sendiri ban Wizzle telah menjamur. Secara resmi dirinya lah yang mendapatkan hak distributor tunggal. 
 
Meski mereka lebih dulu ada, toh faktanya, hanya Djemi yang akhirnya paling dipercaya oleh perusahaan asal Swiss tersebut. Ini berkat brand yang dibangun sejak lama. Tahun 2009, ia mulai berjualan Vision Notebook di Jalan Lalametik. 
 
Dimana ia mampu menjual 100 unit notebook tersebut dalam satu bulan. Luar biasa memang pengusaha muda satu ini bekerja. Dari penjualan tersebut dari menyewa tempat, Djemi bisa membeli roko tersebut, dan akhirnya memiliki ruko sendiri yang ditempatinya sajak 2008. 
 
Ketika kita melihat latar belakangn, maka banyak orang tidak akan menyangka ini hasilnya. Dia sendiri tak menyadari bisnisnya begitu besar. Mungkin jikalau dilihari dari orang luar memang besar, tapi dirasanya hanya sebuah kenikmatan dan kesenangan. 
 
Semua dijalaninya mengikuti alur membawa arah hidup Djemi Lassa. Banyak orang berkontribusi bagi berdirinya Timorese Group. Ia mengakui hal tersebut. Selain pegawai adapula sosok istrinya yang selalu mendukung. Papah satu orang anak ini kini menjadi distributor tunggal Cannon di NTT.

Mengenang kisah cintanya ketika masa remaja. Ketika remaja dia masih berjualan kue. Bahkan oleh teman- teman Djemi dipanggil "Djemi si Penjual Kue. Nama panggilan yang membuatnya sangat minder, apalagi jika diucapkan dihadapan cewek yang dianggapnya cantik.

"Omong jual kue gini, masa- masa umur kita 13-14 tahun itu masa puber. Jadi malu setengah mati, apalagi ketemu kawan nona. Tapi saya berusaha tidak malu, seperti tadi saya bilang ini proses yang Tuhan izinkan untuk saya melawan rasa malu yang luar biasa," jelasnya.

Djemi tak pernah malu berjualan kue. Ada alasan menyentuh dibalik itu semua. Kenapa mau berjualan kue, karena rasa hormat dan keinginan sang mama untuk menjualkan kue tersebut. Tidak ada kiat khusus soal berjualan kue ini. 
 
Hanya harus siap menahan rasa malu apalagi didepan cewek. Dia modal nekat cuma ingat kata mama, "mama saya bilang saya harus jual kue. Jadi saya juga harus jual kue, jadi rasa malu itu saya lawan sendiri."

Djemi mensyukuri pengalaman menjual kue tersebut. Inilah menjadi tempatnya menempa mental pengusaha. Kalau bertemu beberap teman, sosok Djemi Lassa masih dikenal sebagai si penjual kue. Dia yang pemalu ketika ketauan tengah berjualan. 
 
Dia yang malu- malu ketika bertemu cewek di sekolahnya. Djemi masih sama ketika dia bertemu teman- teman di sekolahnya.

Biografi Djemi Lassa


Nama : Djemi Lassa
Tempat Tgl Lahir : 13 Juni 1977
Jabatan : Presiden Direktur Timorese Group
Pendidikan : SD Inpres Nifuboko-SoE tamat tahun 1990
SMPN I SoE-TTS tamat tahun 1993
SMAN I SoE-TTS tamat tahun 1996
S1 Teknik Sipil-Universitas Petra Surabaya, tamat tahun 2001.
Istri : Eliyana Wirawan
Anak : Kineshia Lassa

Mantan Buruh Korea Berbisnis Sendiri

Profil Pengusaha Saipunawa Raepani


mantanburuh.png

Mantan buruh Korea korban krisis moneter. Dia berbisnis sendiri hingga menjadi pengusaha sukses. Ia menyebut pristiwa moneter 98 hikmah. Namanya Saipunawas Raepani. Modalnya mesin jahit lima buah dan juga pinjaman uang Rp.12 juta. 
 
Kini, dia dikenal jadi pengusaha boneka. Bahkan namanya tercatat diberbagai media masa termasuk Kontan. Seperti apakah kisahnya?
 

Berbisnis Sendiri


Hanyalah pria biasa kelahiran Bumiayu, Brebes, sekitar 45 tahun silaman dimana terlahir dari keluarga yang berkurangan. Ayahnya seorang petani dan ibunya cumalah penjahit. Makanya Saipun bisa menjadi sosok pekerja keras. 
 
Ketika kecil dirinya terbiasa hidup kekurangan. Ketika musim paceklik maka Saipun tak akan bisa membayar sekolah. Karena paceklik membuat ayahnya tak menghasilkan apa- apa.

"Kalau diomelin guru gara-gara belum bayar, saya sih ndableg saja," kenangnya.

Berbeda dengan anak- anak jaman sekarang. Sosok Saipun kecil justru malah suka namanya sekolah. Kalau dimarahi guru karena belum membayar sekolah; ia cuek. Bahkan terus berangkat ke sekolah menuntut ilmu. 
 
Ia baru berhenti ketika akan memasuki jenjang perguruan tinggi. Karena tidak bisa melanjutkan sekolah tinggi apa yang dilakukannya. Pria yang akrab dipanggil Nawas ini kemudian menceritakan lebih lanjut. Dia memilih merantau saja ke kota Surabaya. 
 
Mengadu nasib di Kota Pahlawan aneka usaha sudah dilakoninya. Yang penting halal, dari jualan mie ayam, bubur ayam, pokoknya apa- apa saja yang halal dan bisa dimakan katanya. Di tahun 1986, ia putuskan memilih pindah ke Bekas bersama kakaknya. 
 
Mulailah ia jualan ayam potong ikuti jejak kakaknya sejak 1990. Berjualan ayam potong dilakukannya saban hari di Pasar Bantargeban, Bekasi. Sayang, bisnis ayam potong sukses dijalaninya selama lima tahun itu bangkrut. 
 
Akhirnya Nawas menjadi pengangguran dan apalagi yang ia bisa lakukan. "Tapi saya di rumah enggak bisa diam," ujar Nawas. Bisnis apa saja, apa saja bisa dijualnya ya dijualnya. Semisal jualan boneka, alat elektronik, dan juga mesin jahit bekas.

"Nah, dari situlah saya mulai kenal dengan para perajin boneka. Barulah ada feeling ke sana (boneka)," tutur Nawas.

Di tahun 2000, akhirnya, dia diterima menjadi karyawan pabrik boneka di Korea. Mendapatkan ilmu disana dirasanya cukup barulah berani mandiri. Dia langsung membuka usaha sendiri. 
 
Bisnis dibawah bendera PD Dwi Putra Mandiri Toys, sayangnya, usaha patungan tersebut malah harus kandas ditengah jalan. Mungkin saja karena kekurangan modal dan masalah pribadi. Masalah tengah menguji ketekunan Nawas. 
 
Apakah ia akan berbisnis lain lagi atau memilih melanjutkan. Akhirnya ia memilih melanjutkan usaha PD Dwi Putra Mandiri Toys sendiri. Tak punya modal, beruntung, ada seorang kawan mau membantunya. Kawanya memodali Nawas Rp.12 juta ditambah lima mesin jahit ditangannya. 
 
Dari modal tersebut menghasilkan produksi 100 boneka per- hari. Dia tak sendirian bekerja, dimana dibantu lima orang mitra bersama. Usahanya tumbuh, dimana pesanannya dari 100 boneka menjadi 3000 boneka/bulan.

Rumahnya sekaligus tempat produksinya di Bantargebang Barat sudah kwalahan. Tahun 2006, ia membuka ruangan tambahan, tepat dibelakang rumahnya jadi tempat pembuatan boneka tambahan. 
 
Luas bangunannya 550 meter persegi, mempekerjakan 55 orang karyawan, dimana mulai bekerja dari 08:00- 16:00 WIB. Tempat tersebut untuk proses produksi, meliputi pemotongan kain, penjahitan pola, memasukan dakron dan finishing.

"Dengan menggunakan 18 mesin jahit, dalam sehari kami bisa memproduksi sampai 500 boneka," sebutnya.

Semangat Pengusaha


Bertambahnya permintaan akan boneka karyanya. Membuat Nawas berpikir bagaimana mendapatkan mesin jahit baru. Untuk hal tersebut diselesaikannya lewat mesin- mesin jahit bekas pabrik. Kalau ada yang jual mesin jahit masih bagus kualitasnya; ia beli. 
 
Begitu dibeli akan diserahkan langsung kepada para warga di sekitar rumahnya. Mereka adalah mitra Nawas dalam hal produksi. Mereka ikut membantu perusahaan kecil miliknya berproduksi.

"Satu orang mitra bisa sampai lima mesin dan mereka boleh mengerjakan di rumah masing-masing. Hasilnya, produksi boneka kami pada 2004 secara kumulatif bisa mencapai 2.000 buah karena yang kerja banyak," bebernnya.

Dengan hormat, Nawas selalu menyebut mereka sebagai mitra kerja bukan karyawannya. Hasilnya, berkat bantuan mitra kerjanya, perusahaan PD Dwi Putra mampu menghasilkan 8.000 boneka per- bulan. Usaha miliknya masih terus berkembang. 
 
Berkat kepandaiannya bernegosiasi penjualan produknya menyebar. Tak cuma terbatas di Bekasi, tapi sampai ke Jakarta, Samarinda, dimana omzet bisnisnya telah mencapai angka Rp.600 juta.

Cukup memanfaatkan jaringan ketika berjualan ayam dulu. Kegagal berubah menjadi kesuksesan. Kemudian kakaknya yang berdagang ayam banting stir jadi pedagang boneka. Sukses Nawas membawa kebanggan bagi keluarganya. 
 
Sambil bercanda ia menyeletuk, "Jadi, kalau dulu kami keluarga ayam, sekarang keluarga boneka." Untuk model bonekanya perusahaan ini menghasilkan 500 model. Kisaran harga perbuah cuma Rp.7000- Rp.125.000.

Jika ditanya model paling laris, maka ada pilihan boneka lumba- lumba, panda, bebek, bentuk pisang, juga bonek Spongebob. Kalau bicara paling laris maka haruslah yang mengikuti pasaran. 
 
Ia menjelaskan produk miliknya selalu mengikuti kebutuhan pasar. Mengawasi tren karakter- karakter booming seperti halnya model tokoh kartun Shoun the Sheep.

Roti Bakar Bandung Madtari Kisah Wirausaha

Biografi Pengusaha David Maidy


rotibakar.png

Roti bakar Bandung Madtari memang melegenda. Kisah wirausaha bersejarah seperti Cendol Elizabeth dan Rumah Makan Sederhana. Usahanya didirikan oleh pria bernama David Maidy. Pengusaha yang membuat kafe bernama Kafe Madtari asli Bandung.

Merupakan sebuah kafe di kawasan Dago. Mempunyai cita rasa mak nyus berkat kejunya yang banyak. Ini sudah dirintis sejak 1997 oleh Om David. Awal usahanya bermula dari bisnis kaki lima bukan mewah. Dan ketika itu ia sadar telah menemukan peluang emas. 
 

Usaha Roti Bakar

 
Pria asli Garut melihat pisang begitu bejubel di kampungnya. Pisang- pisang itu tak punya nilai jual tinggi. Dalam benaknya ada ide gila bagaimana mengolahnya menjadi sebuah bisnis. Itulah awal mula bisnis pisang bakar Madtari.

Pergi lah Om David ke Bandung bermodal Rp.6 juta ditangan. Mulailah berjualan kaki lima bernama Pisang Bakar Madtari. Kala itu, ia masih berumur 36 tahun, dari cuma berbisnis pisang bakar saja berkembang jadi kuliner lain. 
 
Seperti menyediakan aneka mie goreng, kemudian terpopuler juga yaitu roti bakarnya. Menurut Om David nama Madtari berasal dari nama orang tuanya. Agar selalu mengingat kedua orang tuanya ketika berbisnis.

Adapula kepercayaan bahwa ini akan membawa hoki. Meski terlihat sederhana pada jaman itu ceruk pasarnya mungkin masihlah luas. Om David sukses membuka usaha di kawasan Dago Plaza tahun 1997. Ketika ada penggusuran untuk pembuatan taman; Madtari juga ikut pindah ke BPRS. 
 
Kafe tempat favorit nongkrong anak muda itu lantas mengalami beberapa kali pindah tempat, dari Bank Bumi Putra, Dipatikur hingga sampai Ranggagading Dago. Masa tersulit bisnisnya menurutnya ada di empat tahun pertama sejak 1997- 2001. 
 
Empat tahun pertama ia akui menjadi hal tersulit dalam hidupnya."Empat tahun pertama itu jangan bicara soal keuntungan dulu, yang penting cukup aja buat makan dan hidup," ungkap Om David. Ia menyebut apa yang didapatnya merupakan buah kesulitannya dulu. 
 
Bicara soal rahasia sukses kafe Madtari tentu orang bisa sudah membaca. David pun mengamini hal tersebut. Harganya yang murah disebutnya menjadi faktor utama. Tapi bukan itu faktor satu- satunya menurut kami. 
 
Disisi lain soal pelayanan, tempat, dan kualitas disebutnya tak sebanding kafe lain. Meski begitu jikalau tidak punya cita rasa harga murah seberapapun percuma. Soal harga, Om David rela memangkas untungnya meski berada di tempat bersewa tinggi. 
 
Lebih murah dibanding pesaingnya di Kota Bandung. Siasatnya mengakali sewa tinggi cukup menjalankan bisnis buka 24 jam! Soal keju banyak khas Madtari, ternyata, Om David sudah mengerjakan kerja sama dengan Craft. 
 
Produsen keju tersebut istilahnya mengendors usaha miliknya. Kerja sama sejak 2007 ketika jumlah penjualan dari kafe ini sangat tinggi. Meski didukung Craft dan harganya jadi super miring, bukan berarti Craft kena imbas dari segi penjualan. 
 
Keuntungan Craft memang jadi menurun jelasannya, cuma beberapa persen saja. Hasil bagi Craft adalah brand- awareness oleh pelanggan Madtari. Meski tak memakai keju murah, meski tak diendors oleh Craft, Om David mengaku masih bisa mengambil untung. 
 
Tak lain adalah dari penjualan aneka minuman. Keuntunganya cukup besar loh menurutnya. Dalam hal pengelolaan keuangan tak menggunakan pembukuan. Oleh sebab itu dirinya tak tau pasti soal berapa ia dapat tiap harinya.
 

Kisah Wirausaha

 
Sambil bercanda Om David lalu menyebut satu bulannya bisa buat membeli Alphard. Sayang sekali memang dan dirinya sadar akan hal itu. Ia menyarankan buat kamu pengusaha baru aturlah pembukuan mu. Jangan dicontoh karena dia termasuk yang cuma beruntung. 
 
Modalnya kepercayaan dibayar kepercayaan kepada karyawannya. Dia yakin bahwa selama kita menghargai tiap keringat mereka; mereka tak akan berani macam- macam. Hal ini bisa dilihat ketika karyawannya sakit. 
 
Tak segan dirinya ikut sibuk memanggilkan dokter. Untuk marketing Madtari tak punya cara nyeleneh. Tidak ada namanya brosur atau iklan besar- besar. Modalnya adalah mulut- ke mulut, antara satu orang ke orang lainnya. 
 
Pria penghobi bikers ini juga menjelaskan buka tipikal ambisius. Dalam perjalanan baru ada tiga cabang dibuka Madtari. Dan, ketiganya tepat berada di tanah hak miliknya, ia memang memilih mencoba bermain aman yakni membeli asetnya total. 
 
Ketika itu sebenarnya tempat pertama miliknya sendiri adalah hasil sewa. Yah, mungkin belajar dari kafe utamanya yang sewanya semakin mahal. Dirinya memilih meinvestasikan apa miliknya dalam bentuk tanah. Jadi istilahnya membangun candi- candi kecil disekitar candi utamanya. 
 
Jikalau nanti canti utamanya ditengah runtuh; candi kecil dipinggiran akan menahan.

"Jadi Madtari pusat adalah candi besarnya dan ketiga cabang adalah candi kecilnya. Jika Candi besar runtuh, setidaknya masih ada candi-candi yang kecil," ungkap Om David.

Untuk kedepannya dirinya tak menutup cabang baru. Jika ditanya apakah akan diwaralabakan. Sepertinya hal itu jauh dipikirannya.

Sajak 1999 berdiri wujud Mandtari menjadi sosok usaha tak lekang oleh jaman. Kafe roti bakar sederhana ini katanya menghasilkan ratusan juta. Kalau tanya Bandung dan roti bakarnya, maka inilah pilihan utama bisa kamu kunjungi langsung. 
 
Rasa kejunya menutupi rotinya (menggunung). Menurut sang Manajer sekaligus pemilik, David Maidy, menjelaskan konsepnya masih sama tak berubah. Ia meyakini model warung kopi dimana pengunjung dinyamankan.

Namanya sebagai roti bakar rakyat belum lekang. Harganya dari Rp.5000 untuk roti biasa sampai termahal Rp.13.000 -an buat spesial. Bosan makan roti maka jawabannya ada pisang bakar. Masih tak puas bisa juga coba mie instan dan kopinya. 
 
Kalau badang meriang maka minumnya jahe kencod. Bisa menghangatkan tubuh dan mengusir penat. Ini terhitung murah kok cuma Rp.5000 sampai Rp.11.000. Fokus bisnisnya itu memang ada di pasar pelajar.

Pernah Dilarang Jadi Pengusaha Laundry

Profil Pengusaha Fen Saparita


pengusahalaundry.png
 
Pernah dilarang jadi pengusaha laundry. Memang menjadi wirausahawa sulit. Tetapi menjadi pelopor merupakan kebanggan. Kerja kerasany terbayar ikut membangun perekonomian Indonesia. Dialah Fen
Saprita, pelopor bisnis landry, pemilik Melia Laundry berkisah awal terjun berbisnis.
 
Terinspirasi oleh gaya hidup masyarakata urban dimana rutinitas sangat tinggi. Jadilah kebutuhan akan cuci- mencuci pakaian jadi hal merepotkan. Disisi lain, mau menyewa pembantu tak semua orang bisa. Seperti halnya para mahasiswa dari perantauan yang hidup berhemat.
 

Bisnis Inspirasi


Sibu- sibuk itulah masyarakat perkotaan. Pada masanya, Fen cukup kesulitan mengingat saat itu belum lah setenar sekarang. Bisa dibilang dia menjadi salah satu pelopor bisnis laundry. Khususnya buat semua masyarakat di Jogja yang belum terlalu mengenal. 
 
Tahun 1996 tepatnya usaha itu didirikan dimana ia adalah karyawan biasa, ya, seorang yang berani mencoba keluar dari zona nyamannya. Jabatannya kala itu staff keuangan di Semen Gresik ditinggal. Ia malah memilih memulai bisnis laundry sendiri. 
 
Meskipun begitu keluarga besarnya mengaggap ini taklah serius. Mereka meragukan -protes ketika Fen memutuskan keluar. Tapi tak membuatnya nyalinya berbisnis surut. Butuh modal? Tidak perlu, cukup menjual rumahnya sendiri di Jakarta, lantas mantap menetap di Yogyakarta. 
 
Kemudian jadilah sebuah bisnis Melia Laundry & Dry Cleaning di 9 Maret 1996. Lokasinya sederhana saja. Pemilihan kata Melia memiliki arti mengalir menurutnya. Merek dagang yang ia harapkan akan mengalir untungnya. Termasuk mengalir tanpa hambatan apapun. 
 
Tiga bulan membuka usaha sendiri faktanya malah sepi. Tiga bulan semenjak buka tak ada satupun. Fen masih optimis akan usahanya. Ia bahkan semakin ngotot memperkenalkan "apa itu laundry". Kondisi sulit tak membuatnya lantas menyerah. Dibukalah sebuah counter tanya jawab. 
 
Tujuannya yaitu mempromosikan apa itu laundry. Sejak dibukanya sebuah counter di depan Supermarket Hero, sudah mulai banyak orang berminat. Lambat laun masyarakat Yogyakarta mulai paham apa itu laundry. 
 
Konsumen pun mulai datang ke Melia Laundry. Mereka membutuhkan jasa binatu cuci- cuci baju kotor mereka. Lantas, ia mulai membidik pasarnya sedikit- demi sedikit. Beda dari jasa- jasa laundry sekarang, kala itu, pasar targetnya ialah para masyarakata kelas menengah- atas. 
 
Dia memberikan layanan ekslusip buat mereka. Sementara itu menjamurnya bisnis laundry setelahnya tak juga menggoyah pasaran Melia Laundry. Prinspi dasarnya adalah menjaga loyalitas para pelanggan setianya. Fen selalu memperhatikan kepuasan konsumen. 
 
Tak ayak ketika permintaan jasa laundry meningkat. Dengan percaya dirinya membuka peluang baru. Ia menawarkan konsep kemitraan atau franchise. Setelah 8 tahun melewati asam garam bisnisnya, kini dia telah memiliki banyak cabang.
 
Berkat cara inilah Meli Laundry menyebar ke Semarang, Jakarta, Cirebon, Makassar, Bireun Aceh, Bengkalis Riau, Bali, Jambi, Medan, Padang, Surabaya, Samarinda, Bekasi, Banjarmasin, Kendari, Cepu, Bogor, Pasuruan, Pekanbaru, Balikpapan, Magelang, Palangkaraya, Ambon.dll. 
 
Konsepnya matang dan modern membuat usahanya bertahan di ramainya binatu. Prestasi sudah pasti didapatkan olehnya. Dia tercatat menjadi salah satu entrepreneur terbaik. Lelaki paruh baya ini mempunya kegigihan.

Bisnis Buket Boneka Gabungkan Dua Usaha

Profil Pengusaha Mardiah

 

bisnisbuket.png

 

 

Gabungkan dua usaha Mardiah tekun promosikan. Mendengar nama bisnis buket boneka memang tak lazim. Bayangkan bunga dan boneka dijadikan satu. Namun Diah, begitu wanita tersebut akrab disapa bisa menjual untung. Memang memanfaatkan penjualan online menguntungkan.


Ia mampu menjangkau penjualan luas. Bisnisnya meraup keuntungan walau diluar kebiasaan. Diah gigih menjajakan dagangan. Ia meyakini bahwa berbisnis digital akan berkembang. Usaha buket boneka telah dia rintis selama dua tahun.

 

Bisnis Buket Boneka


Sebelumya dia pernah berjualan dompet, jam tangan, dan tas milik orang. Dia cukup lama membanding usaha- usaha tersebut. Ia lantas memutuskan berjualan boneka. Banyak orang yang senang mengoleksi boneka. Orang rela membeli baru demi menambah koleksi.


Suatu ketika, datang pesanan aneh pada Februari, dan Diah menyanggupi keinginan pembeli tersebut dan berlanjut. Pembeli meminta Diah merangkai boneka menjadi buket. Diah menyanggupi. Sisanya dia belajar melalui YouTube. Dan ia kemudian membuka usaha keduanya buket boneka.


Ide bisnis unik tersebut dijalankan. Rata- rata pembeli buket bonek buat wisuda, ulang tahun, ucapan cinta kepada kekasih. Usahanya laris dari Jabodetabek, sampai pemesanan ke Papua. Pelanggan nanti tinggal memilih tema warna yang diinginkan untuk sampul buket.


Lewat sosial media ia berhasil menjaring pembeli diseluruh Indonesia. Kisaran harga buket bonekanya Rp.150 ribu sampai Rp.650 ribu. Saat ini, Diah melakukan penjualan melalui sosial media. Fokus ia menjual di Instagram dan Tokopedia.


Kemudian dia memiliki reseller di Bukalapak, Kaskus, dan Tokopedia. Pemesanan boneka dapat kamu lakukan melalui akun @bonekaimportsabina atau istanabuket. Berkat terus berpromosi kini usahanya memiliki 24 ribu pengikut. Diah berharap usahanya akan berkembang pesat kelak.


Boneka sudah ready stok. Termasuk boneka wisudanya. "kalau mau pesan, bisa dicari boneka sesuai keinginan, misalnya babi, monyet, atau sapi," ujarnya. Diah mengatakan buket boneka miliknya punya variasi beragam. Mulai dari warna, boneka, hingga aksesoris pendukung tinggal ikuti kreatifitas.

Pengusaha Modal Otak- Otak Warisan Ayahnya

Profil Pengusaha Sukses Rudianto


pengusahamodal.png

Menjalankan usaha warisan keluarga bukanlah perkara mudah. Pengusaha modal otak- otak warisan ayahnya. Bukankah bisnis memang buat diwariskan kelak nantinya. Soal bagaimana si anak kelak melanjutkan atau membangun bisnis sendiri; semua kembali ke diri sendiri masing- masing. 
 
Kisah pengusaha kali ini, adalah kisah seorang Rudianto, yang sukses mewarisi bisnis sukses milik sang ayah.
 

Modal Usaha


Bisnisnya Otak- Otak warisan Pak Agu merupakan olahan khas. Sudah didirikan sejak 1988 menjadi salah satu makanan khas Kepulauan Riau. Selain disana, Otak- Otak Warisan Pak Agu juga ada di Ruko Palm Spring B3 No.5 Batam Center. 
 
Dari segi tempat buat yang di Batam, memang masih terlihat baru saja mulai tapi peminatnya sudah menjalar panjang. Ini semua berkat sosok "revolusif" pemuda 26 tahun, lulusan STIE GICI Business School, Batam.

"Dulu yang mendirikan Pak Agu beliau ayah saya. Pada tahun 2006 ayah saya sakit keras dan akhirnya meninggal dunia," katanya.

Usai ayahnya meninggal dunia, Rudianto langsung mengambil alih bisnis keluarga tersebut. Meskipun sudah masuk generasi kedua, hingga tahun 2006, faktanya bisnis otak- otak ini sangatlah memperihatinkan. Bisnis otak- otaknya memang tradisional. 
 
Tetapi memiliki cita rasa kuat sehingga inilah yang digali olehnya. Bisnis Otak- Otak Warisan Pak Agu ini kombinasi ikan parang dan gong- gong. Serta rempah- rempah khusus dari resep keluarganya.

Otak- otak dihasilkan lembut, lebih wangi tak amis, dan sedap rasanya. "Satu gigitan saja akan membuat kita merasakan keistimewaan otak- otak yang begitu terasa keasliannya di lidah," promo Rudi

Bisnis awalnya berada di kawasan Vila Raflesia Batam. Hingga tahun 2011, Rudi bersama bisnisnya lantas mengontrak di roko Palm Spring Batam. Disini, ia mulai memikirkan mengkonsep kembali bisnis keluarga tersebut. Konsepnya dimaksudkan agar otak- otak tak terkesan kuno. 
 
Dia bahkan mengkonsepnya agar jadi lebih eklusip dan modern. Hasilnya ada berbagai macam varian rasa, otak- otak pedas, gong- gong, kukus, putih, sotong dan petai. Selain itu Rudi juga menerapkan konsep reseller di kawasan Batam. 
 
Hasilnya ada 4 outlet Otak- Otak Pak Agu di Batam dan 5 tempat sebagai reseller. Dibantu oleh 9 orang karyawan usahanya suah punya omzet 100 juta- an.

Pendapatanya, bisnis otak- otak memiliki beberapa poin penting agar bisa berhasil. Menurut pengalamannya kesan eklusip otak- otak harus dibentuk. Dimana gambaran tentang otak- otak adalah makanan nikmat bisa jelas. 
 
"Untuk kedepan kami bukan hanya di Batam, rencananya kami juga akan buka di Jakarta targetnya tahun depan," aku Rudi.

Memang eklusip bisnis miliknya menjadi khas berkunjung di Kepulauan Riau dan Batam. Di Batam sendiri, bisnisnya dikemas sedemekian rupa menjadi oleh- oleh. Makanan miliknya menjadi salah satu menu andalan jika wisatawan berkunjung. 
 
Konsumennya datang dari dalam Batam sendiri, dan dari luar kota bahkan dari luar pulau. Otak- Otak Pak Agu menawarkan rasa semakin kaya, paling baru yaitu ada rasa sotong, kukus dan petai, dan yang paling diminati adalah otak- otak putih dan pedas.

Soal harganya juga relatif murah dijual Rp.2.000 sampai Rp.3000. Soal apa kendala bisnisnya apa lagi kalau bukan kebutuhan akan bahan baku. Dimana memang beberapa menu aslinya masih tampak asing jenis ikan yang pernah penulis nikmati. 
 
Namun, penuh percaya diri, pengusaha muda ini menjelaskan bahwa soal bahan baku sudah bisa diatasi.Pengusaha modal otak- otak warisan ayahnya ternyata berhasil.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba