Getuk Goreng Terkenal H. Tohirin Sejarah Bisnis

Profil Pengusaha H. Tohirin Sekeluarga

 

getukgoreng.png
 

Sejarah bisnis getuk goreng terkenal H. Tohirin. Banyak bisnis begini tetapi usaha keluarga berikut tetap merajai. Manajemen sederhana berbasiskan kekeluargaan saling membahu. Bila usaha keluarga lain pecah karena dibagi- bagi, mereka tetap berjualan menjadi kesatuan dalam sekomplek.

 

Berjejer toko getuk gorong bernama sama dalam komplek jalan. Sudah 9 dasawarsa usahanya berjalan sampai diwariskan. Tidak menjadi rebutan bahu- membahu sekeluarga usaha. "Yang pertama dan selalu ramai yang bertuliskan Asli 1," ujar seorang tukang becak berdialek Banyumasan.

 

Toko getuk H. Tohirin begitu ramai ketika dikunjungi pewarta SWA. Ini memang toko oleh- oleh khas Sokaraja. Kini Getuk Goreng Asli H. Tohirin namanya dipatenkan. Sudah diwariskan berkembang jadi 10 gerai toko. Gedung toko relatif besar berjejer berdampingan rapih sepanjang jalan utama itu.

 

 

 

Usia bisnis mereka 93 tahun, dihitung semenjak 1918, dan kini banyak usaha getuk goreng berbagai nama. Akan tetapi, menurut pengakuan langsung pelanggan, rasanya getuk goreng H. Tohirin punya cita rasa khas.

 

Penemu resepnya adalah Mbah Sanpirngad (Almarhum) bersama istrinya, Sayem. Bermula keduanya berusaha nasi sayur. Warungnya sederhana berupa gubuk berbahan anyaman bambu. Selain mereka berjualan nasi sayur dan lauk pauk, terselip makanan getuk singkong.


Sayangnya, semua dagangan kurang laku termasuk si getuk, maka pasangan suami istri tersebut akan membuat sisanya. Tidak mau berputus asa keduanya tetap berjualan. Suatu ketika, Sanpirngad punya ide mengolah getuk sisa yang tidak laku digoreng.


Caranya tidak sulit tinggal ditambah gula kelapa. Ternnyata, rasanya berubah menjadi sangat enak dan cocok di lidah pembeli di warungnya. Sejak itulah, selain getuk basah dan getuk goreng, kenyataanya getuk goreng lah paling dicari pelanggan.


Getuk goreng mereka sangat dicari orang. Nama Getuk Kamal, awalnya cumalah makanan olahan sampingan berubah penyelamat. Usaha getuk goreng Pak Sarpingad mulai terkenal. Getuk goreng yang kemudian dijual dibawah pohon kemal atau asem.


Sepeninggalan Sarpingad pada 1967, usahanya menjadi jualan getuk goreng yang diwariskan kepada anak laki- lakinya, Tohirin. Dia meneruskan sekaligus mengembangkan semakin besar. Ditangannya usaha utama nasi campur malah ditutup.


Tohirin berjualan getuk goreng sampai renovasi warung. Dari bahan anyaman dirubah menjadi gedung permanen. Ekonimi meningkat berkat berjualan getuk goreng. Begitu suksesnya sampai mambawa Tohir berangkat Haji.


Haji Tohirin memang memiliki pandangan berbeda. Ia memiliki visi akan bisnis kedepan. Terlihat dari dia memutuskan mendalami bisnis getuk goreng. Dia menutup usaha nasi, fokus mengerjakan bisnis getuk goreng kemudian menjadikannya oleh- oleh khas.


Begitu namanya berada dipuncak, maka Tohirin kembangkan pusat oleh- oleh dengan produk utama getuk gorengnya. Tentu berbeda karena Tohirin telah membranding getuk khas. Bahkan menjadikan getuk goreng oleh- oleh asli daerahnya.


Usaha tersebut mendorong bisnis lain terutama oleh- oleh. Tidak cuma mengembangkan bisnisnya kedepan. Tohirin membranding getuk gorengnya mamakai namanya. Penggunaan nama asli ternyata merespon bertumbuhnya usaha sejenis di Sokaraja.


Tohirin menyematkan nama "Asli" guna memberikan ciri khas. Dimana kawasan JL Jendral Sudirman di kiri- kanan sudah berjejer saingan. Pusat oleh- oleh getuk goreng begitulah mereka menamai. Haji Tohirin tak mau kalah. 

 

Persaingan begitu ketat bahkan sampai saling menonjolkan. Mereka memasang plang nama besar- besar buat menarik perhatian. Tujuannya mereka pelancong yang datang dari luar daerah. Bahkan, beberapa mereka menggunakan nama "Asli" didepan namanya.


Meskipun persaingan ketat toko Getuk Goreng Asli H. Tohirin disukai. Selain mereka berjualan getuk juga produk lain. Oleh- oleh lainnya merupakan produk titipan produsen lain. Ini sekaligus membantu perekonomian asli daerah.

 

Namanya semakin terkenal karena berita rasa khas. Ketika H. Tohirin meninggal usaha tersebut tetap berjalan. Dia mewariskan usahanya kepada tiga anaknya: Hj. Ning Waryati, Slamet Lukito dan Hj. Warsuti. Dari ketiganya bisnis Getuk Goreng Asli H. Tohirin terus berkembang dan berjalan baik.


Pada masa ketiganya nama dipatenkan Getuk Goreng Asli H. Tohirin. "Sejak 1997 kami sudah memiliki paten," ujar Ning Waryati, anak sulung H. Tohirin yang kini berusia 55 tahun. Dimasa sang ayah, usaha getuk gorengnya hanya memiliki tiga gerai dan mengajak keluarga.


H. Tohirin mengajak anak- anak mengurusi ketiga cabang. Sampai pertengahan 2010, usaha mereka membesar memiliki 10 cabang, dimana sembila di Sokaraja, dan satunya di Buntu, Banyumas. Dan tidak menutup kemungkinan akan memiliki cabang baru.


"Kami membuka outlet berdasarkan kebutuhan pasar," ujar Slamet Lukito, anak kedua H. Tohirin. 

 

Ini tidak lain karena keluarga kompak tidak saling menjatuhkan. Sementara pemegang toko Asli 1 adalah anak pertama H. Tohirin, bernama Ning Waryati, yang juga mengajak putri pertamanya Isniani Nurkhumayah.


Pembuatan getuk sangat tradisional dan dapat dilihat langsung. Pembeli akan melihat semua prosesnya pembuatan. Sekeluarga H. Tohirin sangat menjaga kualitas dan keaslian resep. Menjadi pengusaha sekeluarga memang tidak mudah. Pekerjaan dikerjakan dibelakang di ruangan khusus dibelakang toko. 

 

Di tempat inilah, karyawan laki- laki tengah sibuk mengolah getuk, mereka sibuk memasak dalam jumlah besar buat dijual. Ada yang mengupas singkong, membersihkan, merebus singkong, ada pula yang menumbuk di lumpang, dan ada yang menggoreng.


Begitu getuk goreng jadi, maka akan dibawa ke depan langsung dimasukan toko siap dijual. Pekerja kebanyakan lelaki karena memang butuh tenaga. Karena getul goreng terkenal H. Tohirin bukan main- main. Mereka membuat bahkan ribuan biji getuk digoreng perhari.


Walau permintaan tinggi mereka tetap membuat secara tradisional. Contohnya ini, mengukus masih memakai dandang berbahan bakar kayu bakar. Pembuatan adonan juga masih memakai cara ditumbuk lumpang. Lalu kemasan memakai besek yang besarnya disesuaikan berat jualan.


Dalam ruangan memang nampak mesin disel, tetapi itu cuma dipakai memecah ketela. Sedangkan  penghalusan akan memakai si lumpang tersebut. Mesin tersebut juga dipakai apabila permintaan besar sampai kuintal lebih.


Isnaini, mahasiswi Manajemen Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, ini memastikan bahwa ditumbuh menghasilkan cita rasa lebih enak. "Gambarannya seperti sambel uleg dan sambel belnder, pasti enak yang diuleg," jelas pengusaha berhijab yang akrab dipanggil Mbak Is.


Ada hal menarik ketika membahas permintaan pasar luas. Banyak orang menginginkan mereka jualan diluar tempat mereka kini. Tetapi keluarga Tohirin tidak bergeming memilih berjualan sendiri. Jadi jangan harap kamu menemukan produk mereka di toko oleh- oleh lain.


Mereka beralasan getuk gorengnya akan menjadi khas Sokaraja. Bila terdapat getuk bernama sama diluar tempet ini dipastikan palsu. Walau sudah memiliki 10 gerai, tetap mereka kwalahan melayani pesanan pembeli. Tiap toko menjual tidak kurang 50 kg dan 10 kali lipat bila akhir pekan dan liburan.


Menurut Slamet, anak- anak keluarga H. Tohirin dibebaskan mengembangkan bisnis tidak terikat. Ini tinggal disesuaikan kemampuan masing- masing. Mereka diberikan hak nama H. Tohirin dan boleh melebeli produk getuk dihasilkan.


Adapun nama berupa nomor ternyata bukanlah mengenai kepemilikan. Melainkan menandakan urutan gerai dibangun bukan mana lebih baik. Kesepuluh gerai dimiliki orang berbeda- beda, tiapnya punya kemampuan berbeda mengembangkan bisnis jadi hasil beda- beda.

 

Jumlah gerainya lima milik Warsuti anak ketiga, Ning Waryati memiliki tiga gerai, dan Slamet punya dua gerai. Konon gerai Bu Warsuti memang paling cepat berkembang. Ini dikarenakan manajemen lebih baik dan rapih.


Di gerai milik Bu Warsuti sudah memakai mesin kasir bukan manual. Pemasukan dan pengeluaran sudah tercatat rapi. Berbanding gerai milik saudaranya masih memakai hitung manual. Mungkin dari beberapa hal tampak kompak ternyata tidak juga.

 

Tidak nampak persaingan jelas dan sinergi anak- anak H. Tohirin lemah. Maka perkembangan bisnis berbeda- beda masing gerai. Dampaknya suatu ketika mungkin akan ada yang tersingkir. Persaingan malah nampak pada harga berbeda- beda, harusnya tidak begitu.


Perbedaan harga malah akan riskan walau menarik pembeli. Orang akan membeli paling murah meski satu pabrikan. Disarankan semua saling membahu membangun brand bersama. Saling mematikan harga justru akan membuat keuntungan tipis, sampai tidak mampu membiayai pengembangan.

Peternak Telur Puyuh Jadi Miliarder Pengusaha Slamet

Profil Pengusaha Slamet Wuryadi

 
peternakpuyuh.png
 
Pengusaha Slamet peternak puyuh jadi miliarder.  Mungkin kamu belum pernah mendengar namanya. Dialah miliarder Indonesia kaya berkat puyuh. Itulah yang menarik ketika kamu berpikir miliarder itu batu bara atau migas, ini berkat telur puyuh. 
 
Siapa namanya, namanya Slamet Wuryadi, pertama kali beternak puyuh ia mengaku selalu untung. Apa pasalnya usut- punya usut Indonesia masih kekurangan puyuh sampai 7,5 juta sampai 8 juta. Dia sendiri adalah ketua Asosiasi Peternak Puyuh.

Dalam catatannya kebutuhan benar tak seimbang antara supply dan demand. Bayangkan kawan dalam industri puyuh itu dibutuhkan 11 juta telur/ pekan. Sementara itu para peternak cuma bisa memenuhi angka 3,5 juta/ pekan. Sisa sangat banyak bagi kita memulai beternak puyuh. 
 

Usaha Puyuh

 
Kembali ke Pak Slamet, dari 25 tahun lalu, ia tak pernah menjual telur puyuh dibawah standar. Beda dengan harga dari produk lain yang naik turun. "Itu berarti saya untung terus," ujarnya.

Dia menjelaskan empat alasan kenapa beternak puyuh itu untung: Pertama, penawaran- permintaan tak seimbang. Diamana peternak cuma mampu mengisi 15 persen. Inilah kenapa harganya selalu stabil. Kedua ialah meski stok kekurangan tidak ada impor. 
 
Semua karena korporasi belum menyentuhnya ujar Slamet. Ia sendiri kekeh menolak kerja sama dengan perusahaan asal Malaysia. Dia fokus pada penjualan cash and carry, dimana, uang akan langsung kembali.

Beda dengan korporasi yang suka membayar belakangan. Dimana untung dulu baru membayar peternak biasanya. Faktor keempat, usaha ini serba usaha, atau kamu bisa menjual kesemuanya. Dari telur, menjual puyuh hidup, daging puyuh, bahkan kotorannya. 
 
Selain menjadi peternak sendiri Slamet juga ikut berbisnis sendiri. Usahanya meliputi bakso puyuh, telur asin puyuh, ataupun olahan daging puyuh. Dia menjelaskan sebungkus telur puyuh asin dijualnya Rp.15.000.

Kotoran puyuh ternyata juga bisa dijadikan pupu, utamanya untuk tanaman strowberi dan tomat. Selain itu ada pula kajian dirinya untuk program kotoran puyuh jadi biogas. Sosoknya memang nyatanya bukan orang sembarangan. 
 
Dia punya visi dan "ambisi". Bukan perkara jelek, dia telah aktif untuk memperkenalkan puyuh berkeliling tanah air. Bahkan dia telah dipanggil hingga ke Malaysia dan Brunei.

"Dari hulu sampai hilir dan pascapanen terurus. Sehari ada delapan ton kotoran puyuh," ujar dia.

Dia juga pernah ke Korea Selatan memberikan pelajaran tentang puyuh. Lalu dia juga pernah ke Kenya, Afrika, lagi- lagi mempromosikan puyuh. Dalam negeri kamu bisa mendapatkan 3 buku karangannya tentang beternak puyuh. 
 
Yap, visinya memang tentang puyuh, dia pun mendapatkan gelar sarjana dari puyuh. Pria ini meraih gelar S1 dan S2 dari IPB dari hasil beternak puyuh.

 "Saya hanya bermodal baju empat, celana empat, serta uang Rp 175 ribu," ujar pria yang ternyata memulai usaha ternak puyuh pada 1992 itu.

Selain itu dia juga dikenal sebagai satu- satunya Profesor Puyuh. Dia menjadi orang pertama yang dikenal menyadang gelar profesor puyuh. Semua berkat penawaran sebuah Universitas di Belanda, dan dibiayai oleh mereka, semua berkat passion -nya bertenak puyuh. 
 
Namun, ketika menerima tawaran ini Slamet sempat pikir- pikir dulu karena jika ke Belanda, maka dia tidak bisa mengurus usahanya. Disisi lain, pengusaha pemilik CV. Slamet Quail Farm dan juga ketua Asosiasi Puyuh Indonesia, ini jadi satu kebanggaan ketika dirinya mencapi itu. 
 
Disisi lain dia juga menginginkannya untuk mengakat nama puyuh lebih lagi. "Saya ingin menjadi profesor puyuh," ujarnya. Berternak puyuh, jelasnya, bisa balik tujuh bulan sejak memulai usaha. 
 
Misalnya jika kamu punya modal Rp.15,3 juta, kamu bisa beternak 1.000 ekor puyuh diatas lahan 2x10 meter. Itu sudah termasuk lima kandang dan pakan untuk sebulan. Asumsi produktifitas 75- 80 persen dimana itu bisa menghasilkan keuntungan Rp.99.000 per- hari. 
 
Atau kamu bisa mendapatkan Rp.3 juta per- bulan. Untuk penyakit pada hewan dikatakannya puyuh relatif mudah. Penyakit biasanya ada tetelo dan pilek. Fokus pada puyuh kamu bisa memberi makan- minum, mengumpulkan telur, dan membersihkan kotoran, cuma butuh waktu 45 menit.

"Apalagi kalau kita bisa mengusahakan populasi 6.000 ekor," ujar pengusaha Slamet menjelaskan.  Intinya beternak puyuh itu mudah jelasnya dan untung. Dia sendiri telah beternak puyuh sejak 2002. Semua sekali lagi karena kebutuhan pasar telur puyuh dalam negeri yang besar. 
 
Ketua umum Asosiasi Peternak Puyuh Indonesia ini menyebut untuk wilayah di Jabodetabek, Cianjur, Bandung, Bangka Belitung, dan Palembang, dibutuhkan pasokan 8 juta butir telur puyuh per minggu.

Sedangkan mereka baru sanggup memenuhi pasar sebesar 2,1 juta per- minggunya. Jadi pasar masih saja masih kekurangan sekitar 5,9 juta butir per minggu. Permintaan pasar besar dan tidak pernah turun dari harga BEP (Break Event Point) dimana harga berkisar Rp.180 per- butir. 
 
Slamet menghitung harga pasaran untuk saat ini Rp.215- 225. Lalu jika kamu mengolahnya bisa mencapai 4 kali lipat. Disisi lain jika orang membeli puyuh selalu tunia.

Prospek Beternak Puyuh

 
Slamet mengaku kini usahanya telah memiliki aset 4 miliar. Dengan membudidaya 1.000 ekor puyuh. Ia lalu menyebut angka Rp.14 juta- 15 juta. Angka yang cukup besar tapi tak lebih besar dari menjadi pewaralaba produk tertentu. 
 
Angka itu untuk membuat kandang, membeli peralatan, puyuh anakan dan grower yang digunakan 2 minggu pertama. Minggu kemudian ketika puyuh beranjak dewasa tidak lagi diberi makan si grower ini. Untuk fase memberi makan diperkirakannya Rp.100.000 per-hari.

Pemberian pakan anakan itu dua kali sehari yaitu pagi dan siang. Sedangkan jika sudah remaja atau dewasa kamu bisa memberi makan 1 kali sehari di pagi hari. Pakan grower dan lanjutan bisa mudah didapatkan di pasaran. 
 
Memang jika ditanya tantangan beternak puyuh, Slamet mengaku, dengan tegas ada dibagian pemberian pakan. Nilanya bisa 90% dari proses produksi. Oleh karena itu membuat pakan sendiri bisa jadi altenatif. Slamet pun membidika pasar ini; dia menjual pakannya sendiri.

Berapa banyak puyuh dimilikinya dari artikel yang kami himpun. Dia punya 320.000 dimana setiap 30- 40 hari, puyuh akan mulai betelur, hitungan kasarnya 75% menghasilkan telur. Atau ia bisa menghasilkan 750 telur per- hari. 
 
Puyuh akan terus bertelur sampai maksimal usia 18 bulan. Selepas itu masih bertelur tapi tidak seproduktif sebelumnya. Untuk itulah sebelum umur 18 bulan kamu harus mempersiapkan anakan baru.

Puyuh 18 bulan biasanya sudah dijual oleh pemiliknya. Itu akan dijadikan untuk dipotong dan diolah, benar- benar tak sia- sia. Permintaan daging puyuh juga tinggi ujarnya. Meski dipercaya punya kolesterol tinggi. 
 
Ternyata menurut Slamet, telur puyuh cuma punya 500mg/100gr bukan 844mg/100 kg seperi pemberitaan sebelumnya. Kandungan kolesterolnya terbagi atas HDL (Kkolesterol baik) dan LDL (kolesterol jahat). Pada daging puyuh mengandung protein tinggi yaitu sebesar 22,3%.

Kotoran puyuh juga mengandung protein tinggi, sehingga bisa menjadi pakan alternatif bagi pembudidaya ikan.

Usaha Martabak Fantasy Pekalongan Menginspirasi

Profil Pengusaha Sukses Yono

 
usahamartabak.png
  
Usaha martabak Fantasy Pekalongan memiliki kisah. Bau harum pandan tericum di depan Apotek Asli Pasar Banjarsari Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Sang pemilik usaha martabak Fantasy ini tengah mengolah martabak Bandung rasa manis keju.
 
Varian Martabak Fantasy mengingatkan kita cita rasa martabak Bangka. Jadi memang bukan membuat martabak sembarangan. Yono mampu membuat martabak manis dan asin. Dia mendapatkan resepnya asli dari pembuat asli Bandung.

Yono juga pernah bekerja enak tahun di pusat martabak kawasan Bandung dan Purwokerto. Pengusaha muda asli Purbalingga, memang baru beberapa tahun menjajal peruntungan di Pekalongan. Ia memang lihai memasak sejak lama terutama martabak ini.
 
Delapan bulan dia berwirausaha di Kota Pekalongan. Yono pun mengajak saudaranya asal Purbalingga merantau. Yono tidak menerapkan harga begitu mahal. Uniknya, dia menciptakan tujuh varian rasa dari martabak asin, dari spesial ayam, spesial sapi, kornet, hingga perpaduan ketiganya cuma Rp.17 ribu.
 
Buat martabak biasa kamu cukup membayar Rp.12 ribuan. Kalau martabak manis dia menyajikan dua rasa favorit: pandan keju dan black sweet harganya Rp.12 ribu. Pandan keju merupakan adonan yang ditambah pasta hijau ditambah pasta hijau, jangan lupa ditambah keju Craft.
 
Black Sweet sebenarnya merupakan martabak coklat. "Pelanggan lebih menyukai martabak pandang keju karena warnanya berbeda martabak biasa," jelas pengusaha ini, yang semalam membuat 40 dus baik manis ataupun asin.


Buruh Migran Sukses Richa Susanti Pengusaha Warteg

Profil Pengusaha Richa Susanti

 
usahawarteg.png
 
Buruh migran sukses kita butuh lebih banyak cerita begini. Richa Susanti, pengusaha warteg dulunya mantan TKI Hong Kong. Banyak sudah contoh kesuksesan para TKI menjadi buah bibir. Dunia digital selain membuka pintu peluang usaha, juga menggambarkan bahwa buruh migran sukses mungkin.
 
Utamanya ketika kemunculannya di acara Kick Andy. Siapakah dia Richa Susanti yang kini menjadi pengusaha kuliner di Malang Jawa Timur. Richa yang sudah aktif mengikuti berbagai pelatihan kewirausahaan, mencoba usaha.
 
Total dia bekerja selama 8 tahun berturut- turut. Semua untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari di Indonesia. Bolak- balik dari Hong Kong- Indonesia hasil dari usahanya itu cukup lumayan dibawa pulang. 
 
 

Rahasia Pengusaha Warteg

 
Icha sendiri mengaku berat harus meninggalkan keluarganya. Berat memang terutama meninggalkan anaknya. Waktu itu ia menjelaskan anaknya masih berumur 2 tahun. Ketika di Hong Kong dia masih menyempatkan diri untuk berkomunikasi. Butuh proses ekstra apalagi anak- anak sekecil itu.

Richa menjelaskan dia dan sang anak akan bersama mengerjakan PR via telephon. Suatu hari ada kejadian mengejutkan ketika suaminya mendadak meninggal dunia. Dimana dia tak sempat melihatnya. Anaknya saat itu dititipkan orang tuanya untuk mengasuh. 
 
Namun, kesedihan semakin menjadi, kali ini ketika terjadi sesuatu kepada anaknya dia tak bisa disana. Dia cuma bisa mendengar dari jauh. Tak bisa mendampingi anaknya ketika ia sakit- atau pun bersekolah.

Tak jelas tumbuh kembangnya jelasnya disebuah wawancara oleh situs Ciputra Entrepreneurship.

"Sebagai orang tua satu- satunya bagi anak saya, saya merasa berdosa. Itulah mengapa saya pulang dan memutuskan berwirausaha saja," ungka Rischa.

Menjadi TKI di Hong Kong, dia tak bisa melihat sang suami meninggal dan tak bisa melihat perkembangan sang anak. Ini benar- benar jadi tekanan tersendiri baginya. Dia pun memutuskan untuk pulang membuka usaha sendiri. 
 
Sementara itu sebagai modal Richa aktif mengikuti pelatihan Mandiri Sahabatku. Satu program yang dicanangkan oleh Bank Mandiri. Usaha pertama dijalankan olehnya ialah berjualan aneka pakaian dari online shop.

Cara berbisnis online -nya cukup mudah jika dibayangkan. Ia membeli produk dari sana lalu dijualnya ketika pulang ke Indonesia. Sebaliknya dia bisa menjual barang dari Indonesia disana. Produknya meliputi baju, gamis hijab.dll. 
 
Untuk menambah pemasukan dia juga berjualan pulsa disana. Tak berhenti, ia sempatkan untuk membuka lapak, di Victoria Park dibukannya lapak menyasar sesama TKI. Enam bulan telah berlalu dari rencananya untuk berhenti jadi TKI.

Dimasa persiapan batin untuk pulang kembali ke Indonesia dan berhenti. Kisah pilu menimpanya lagi, ia pun bercerita sambil meneteskan air mata, sang ayah meninggal dunia sebelum dia benar berhenti total. 
 
Akibatnya Icha menjadi panik mendengar kabar itu -harus pulang bagaimanapun caranya. Pada saat itu kontrak satu tahun beru dijalankannya separuhnya. Ayahnya meninggal padahal Almarhum lah, sosok yang menjadi sandarannya dan mendengar aspirasi Richa.

Menjadi anak sulung dirinya harus siap menafkahi ibu dan dua adik, dan pulang ke rumah. "Saya merasa ragu dengan kemampuan saya menjadi sandaran bagi mereka. Tetapi kembali saya meyakinkan diri sendiri bahwa saya bisa dan lakukan yang terbaik."

Majikan di Hong Kong tak tinggal diam. Mereka sempat menawari gaji lebih 80%. Mereka juga menawari sistem pulang setiap setahun sekali. Dia tak goyah sama sekali. Namun, ketika mereka mendengar kabar tentang ayanya.
 

Buruh Migran Sukses

 
Mau- tak mau akhirnya Rischa diperbolehkan untuk pulang. Ayahnya disebut Icha sebagai sosok sandaran selapas tak ada suami. Dia sumber inspirasinya dan ketika harus mendengar kepergian dia; Rischa benar- benar tertekan dan down.

Sebagai anak sulung, kini, ibu dan kedua adiknya mengandalkan dirinya. Beban hidupnya dirasa semakinlah berat. Tapi dari sini ia yakin kembali ke Indonesia. Dia yakin untuk membuka usaha sendiri di Indonesia. 
 
Untunglah selama bekerja di Hong Kong, ia meminta untuk uangnya dijadikan modal. Selama di perantauan ia sempat berpesan kepada orang tua untuk mulai membuka usaha. Sepulang dari Hong Kong usaha itu lantas dilanjutkan oleh Icha.

Perkembang bisnis kecil- kecilan itu baik. Meski diawal sempat terjadi penurunan tapi sekarang terus naik. Semua berkat pelatihan di Hong Kong. Dia fokus mengaplikasikan semua pengetahuan itu. 
 
Pernah laba itu turun 2 juta, tapi tak pantang menyerah, Icha berhasil menaikan untung hingga Rp.3,5 juta. Fokusnya ada di peningkatan pelayanan jelasnya. Usaha warung makan yang diberinya nama "Barokah".

"Warung Barokah saya terletak di sekitar kampus UMM, Malang. Di sana banyak mahasiswa sehingga kebanyakan pelanggan saya ini mahasiswa," jelas Icha.

Kepada Andy F. Noya ia menjelaskan, pertama kali membuka warteg bermodal kecil. Sebuah warteg yang diberinama "WABAH" atau "Warung Barokah". Menyasar para mahasiswa ia bermain- main dengan anek pelayanan menarik. Ia menerapkan konsep kartu ajaib. 
 
Yaitu kartu berlangganan Wabah, nama kamu akan dicatat, berapa kali kamu makan disana. Nah, melalui kartu ini kamu bisa mendapatkan diskon khusus. Ini konsep member card jelasnya kembali.

Tak berhenti dia juga menggunakan layanan "kejutan". Apa kejutannya yaitu kamu bisa mendapatkan satu es teh gratis. Intinya ada gimmick- gimmick agar usaha itu ramai dan berbeda. 
 
Membuat penasaran mahasiswa- mahasiswa pelanggan disana. Selain berbisnis warteg, dia melanjutkan bisnis lain, yaitu bisnis kuliner bakso bernama "Bakso Tersenyum". Dulu cuma mempekerjakan 4 orang kini ia bisa mempekerjakan 8 orang jadi karyawan.

"Bakso Tersenyum. Jadi dulu ini saya buat saat ada lomba wirausaha dan saya memilih kategori ide bisnis. Lalu saya wujudkan sekarang menjadi bisnis nyata dan mendatangkan untung," ungkapnya.

Insting bisnis tumbuh di Hong Kong. Dia mampu melihat faktor lingkungan tepat. Berbisnis dengan tepat dimana dia menyasar sekitara kampus. Selain berbisnis kuliner dia sempat pula berpikir tentang membuka usaha kos- kosan. 
 
Tepatnya dia mau membuka kos- kosan diatas warung makan. Dia lantas memberikan kita wajangan tentang kewirausahaan untuk para pekerja migran. Dia menyebut jangan lantas tergiur dengan kenaikan gaji.

"Menurut saya, jangan takut untuk melangkah maju. Segala sesuatu akan mengambang saat belum dilakukan, tetapi kalau terus ragu pasti tidak akan bisa maju," saran pengusaha warteg ini. 
 
"Jadi saran saya, jangan pikirkan hasil atau akibatnya, pikirkan prosesnya. Fokus ke setiap langkahnya yang harus diambil. Kalau memikirkan hasilnya, bangkrut tidaknya, pasti akan ragu," tutup Icha.

Aneka Olahan Kedelai Bisnis Pabrikan Menjanjikan

Profil Pengusaha Dewi

 

nugettempe.png
 

Apakah kamu mencari bisnis skala pabrikan menjajikan. Maka aneka olahan kedelai bisa menjadi solusi karena banyak varian. Kacang kedelai bukan cuma diolah menjadi tempe atau tahu. Ditangan wanita bernama Dewi, olahannya begitu banyak dibuat seolah menjadi bahan baku daging atau ayam.

 

Aneka olahan kedelai memiliki nilai vitamin dan gizi tinggi. Dewi membuatnya menjadi altenatif hasilkan uang. Awal dia melihat olahan tempe dan tahu lomba Kabupaten monoton. "Pertamanya saya sering lihat lomba di Kabupaten, kayaknya kalau olahan tempe dan tahu itu kan kita bosan," lanjutnya.

 

Bisnis Passion


Anak- anak pasti akan malas makannya padahal penting. Tempe dan tahu mencukupi gizi mereka, banyak vitamin dan nutrisi penting. Maka Bu Dewi mencari cara semakin banyak variasi. Tujuannya agar dapat diterima masyarakat luas, menjadi bisnis.


Kacang kedelai akan menjadi alternatif daging dan ayam. Apalagi kedelai dikenal makanan semua masyarakat kelas bawah sampai atas. Sudah memiliki nutrisi didalam ternyata mudah diolah. Murah dan bagus buat kesehatan didukung mampu diolah bermacam varian.


Pengusaha 45 tahun tersebut menciptakan aneka olahan kedelai. Ada nuget tempe, rolade tempe, steak gelatin, hingga brownis tempe. Adapula ia menciptakan sate tempe dan kroket tempe. Total 16 sampai 20 olahan mampu dia ciptakan.


Bahkan ampasnya diolah menjadi kerupuk, ujar ibu dua anak ini. Usahanya dirintis bermodal sedikit setara Rp.100 ribu. Dia bersama 3 temannya memulai usaha kecil- kecilan. Harga kedelai saat itu murah yakni Rp.6 ribu perkg.


Perhari Dewi rata- rata mengolah 10 kilogram kedelai. Bermodalkan Rp.100 ribu, kini Dewi hasilkan omzet sampai Rp.950 ribu sampai Rp.1,5 juta perbulan. Paling banyak dipesan nuget tempe karena disukai anak- anak. Ia menjelaskan produk dijual terbatas di wilayah Bantul, Jogjakarta.


Mereka masih menjual di kawasan dia dan teman- teman tinggal. Terkendala modal dia belu mampu memasarkan sampai keluar Yogya. Olahannya nanti masih dititipkan ke pasar- pasar. Dewi mengaku tidak mendapatkan tekanan dalam berjualan.


Karena Dewi melakukan sesuatu dia sukai. Teman- teman juga membantu bersama mereka memasak bersama. Di satu kelompok tersebut berjumlah empat orang sangat kompak. Mereka bekerja sama bergotong royong usaha.


Dewi berharap bahwa pemerintah akan bisa membantu. Karena memang masih Usaha Kecil Menengah (UKM) membutuhkan bantuan. Dan pengusaha baru harus siap menghadapi pesaing mapan. Terutama bersaing dengan usaha- usaha beromzet besar.

Pengusaha Muda Cantik Pembuat Hijab Miulan

Profil Pengusaha Tsummadan Wulan Setyoningrum

 
hijabmiulan.png
 
Pengusaha muda cantik berikut membawa perubahan besar. Dialah pembuat Hijab Miulan yang sudah dikenal dan digemari wanita muda. Melihat tren hijab sekarang membuatnya mantap berbisnis sendiri. Tak tanggung- tanggung ia dikabarkan telah memproduksi 12 ribu jilbab. 
 
Tak cuma berhenti di bisnis jilbab saja. Gadis bernama lengkap Tsummadan Wulan Setyoningrum, kini, sukses menjadi desainer sendiri. Menghasilkan 2.000 aneka gamis per- bulannya. Telisik punya telisik semua berkat tugas kuliah yang menantangnya berbisnis tanpa modal.
 

Berbisnis Mandiri

 

Gadis 22 tahun asal Semarang yang sukses merambah pasar Jakarta. Kisahnya bermula ketika dirinya masih mahasiswi di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, mengambil jurusan Fakultas Teknik Ilmu Informatika, tapi mendapat tugas kewirausahaan dari dosennya. 
 
Waktu itu tugasnya adalah bagaimana Wulan bisa berbisnis tanpa modal. Gadis cantik ini pun memutar otak apa bisnis tersebut. Awalnya ia cuma memulai dari menjual pakaian siap pakai dari bosnya (pemilik barang).

Dari sekedar menjual barang orang lain, Wulan naik pangkat jadi desainer kecil- kecilan. Kisahnya tak semudah yang kamu bayangkan; sekedar menjual barang. Ada momen ketika dirinya letih menjual produk pakaian jadi milik orang lain. 
 
Sekedar menjual tak membuatnya puas maka jadilah ia mulai membuat pernak- pernik sendiri. Aneka aksesoris seperti gelang, kalung, dan lain- lain.

Sayang usahanya itu terhenti dan akhirnya ia memilih ikut orang lain (jadi pegawai), lalu dia kembali berbisnis lagi yang mana fokusnya pada pakaian muslim (jilbab.red).

"Aku membangun Miulan dari nol. Mulanya aku malah menjual produk orang," ujar pengusaha muda cantik ini.

Suatu hari bos -nya punya masalah dengan pesanan. Sang atasan atau pemilik barang kualahan dan akhirnya tak tertangani. Melihat ada kesempatan Wulan mengulurkan tangan. Caranya adalah mencari akal bagaimana order sebanyak itu bisa terpenuhi olehnya sendiri. 
 
Semua karena merasa sayang dengan orderan- orderan tersebut yang akhirnya tak jadi. Ia memilih mengambil alih. Pembuat Hijab Miulan mencari penjahit lain yang bisa memenuhi orderan tersebut.

Perlu diketahui dia sama sekali buta soal jahit bahkan desain. Saat itu, apa yang ada didalam pikirannya itu hanya bagaimana mengisi orderan bos -nya. Pengalaman itulah yang membuatnya mantap membuka usaha sendiri. Yang perlu dilakukannya adalah mencari modal.

"Pasarnya ada, aku juga tahu orang yang bisa memproduksi. Mengapa tidak produksis sendiri dan menjual produk sendiri?" ujarnya.

Kalau dipikir untung Wulan memilih ikut orang lain sebelum benar- benar masuk. Ternyata dari sanalah dirinya bisa menemukan pasar pakaian muslim. Pada tahun 2011, dia memutuskan keluar dari tempat usaha tersebut dan memulai bisnis sendiri. 
 
Tahun 2012 mulailah produksinya bisa dijual sendiri. Modalnya apa saja yang bisa didapatnya digunakan sebagai modal uang. Dari menjual dapat untung, lalu tidak dipakai, ia putar lagi untuk produksi kembali.

Ketika memulai bisnis kecil- kecilan tersebut umur Wulan masih 21 tahun. Dalam tempo satu tahun, ia telah memiliki satu toko sendiri bertempat di JL Kedung Batu Selatan no.88 Semarang atau kalau kamu bingung, tepatnya ada di belakang Klenteng Sam Po Kong. 
 
Awalnya sih gak berani juga. Takut jika pelanggan gak suka pada jualannya. Tapi ternyata kebalikannya. Ini membuat Wulan semakin percaya diri. Salah satu kata kuncinya usahanya adalah kepercayaan.

"Lalu costumer ini juga sudah percaya -mereka kadang memberikan uang di muka, maka uang dan kepercayaan itu harus aku pegang betul dan betul- betul aku jadikan modal," ungkapnya kepada Tabloid Binting.

Intinya bagi dirinya, melihat peluang, manfaatkan peluang tersebut, jangan pikirkan tentang berapa modalnya. Ketika kamu sukses jangalah lupa untuk memutar uang itu kembali ke jalurnya. Uniknya selama perjalanan diatas 
 
Wulan sama sekali tidak bersentuhan dengan perbankan. Modalnya itu didapatkan secara ala- alanya saja. Cara mengumpulkan modal Wulan terbilang unik. Selama masih mengerjakan usaha utamanya, ternyata, ia juga aktif menjadi salah satu anggota MLM. 
 

Bisnis Modal MLM

 
Hingga akhirnya ia bisa membangun toko sendiri. Uanganya ya dari bisnis MLM tersebut. Kamu tau katanya memang MLM tempatnya belajar "menjual". Terbukti ia sudah mampu membangun tokonya sendiri. Pertama kali membuka toko jangan tanya apakah tokonya sukses atau tidak. 
 
Toko miliknya sangat sepi bahkan terbilang tak ada pengunjung. Otaknya berputar lagi bagaimana agar bisa sukses berbisnis. Namun, kali ini, bagaimana biar tokonya bisa jadi ramai pembeli.

Dari mendesain pernak- pernik sendiri, bisnisnya berkembang, mulailah membuat aneka desain jilbab sendiri. Dibantu sang ibunda dimulailah mahasiswi informatika ini menjadi desainer. Sukses membuat produk sendiri lantas apa yang bisa dilakukannya. 
 
Pengusaha muda cantik ini memilih menjual produknya lewat internet, selain toko konvensional biasa. Lantas lahirlah sebuah brand sendiri bernama Miulana Boutique.

"Lalu dibantu ibu, saya mendesain hijab dari referensi internet dan dijual via online. Dari situ ternyata banyak peminatnya, maka lahirlah Miulan bulan November 2011 lalu," ujar Wulan.

Setelah mendapatkan nama usahanya makin menggila. Wulan dibantu tujuh orang karyawan. Selain itu ia juga dibantu ibu- ibu tetangganya. Ini ikut membantu perekonomian masyarakat sekitarnya. Sukses usahanya itu membawa brand -nya semakin dikenal. 
 
Ibu- ibu akan membantu bagian produksi. Sedangkan karyawan di toko ada dibagian finishing dan packing. "Ya istilahnya bagi- bagi rejeki lah," tuturnya senang.

Selain menjual secara perbuah, ada pula dijual perdistributor, jika kamu mau menjadi distributor jilbal Miulan maka cukup memesan 100 buah. Semua agen atau reseller yang membeli akan mendapatkan diskon jika membeli lebih dari 20 buah. 
 
Diskonya dari 20% sampai 40%, nah, dari sanalah kamu bisa ambil untungnya. Harga jilbab cukup murah yakni Rp.30- 95 ribu. Tenang soal modelnya karena Wulan mengaku selalu ada minimal empat desain baru tiap bulannya.

Ciri khas jilbab miliknya adalah terbuat dari bahan kaos, modelnya minimalis tapi tetap eksis, ada bunga yang berwarna tak jarang bertabrakan dengan dasarnya, tapi tetaplah menarik jika dikenakan karena warananya yang soft. Soal desainnya karena desain sendiri maka namanya terserah hatinya. 
 
Ada model yang bernama Cottonia Flowering Shawl, Classy Shawl, dan Hoodie Vest Two Face. Tenang soal desainnya ini akan selau mengikuti pasar jelas dara kelahiran 23 Desember 1990 ini.

Dalam satu tahun bisnis barunya diatas mampu menghasilkan ratusan hingga jutaan per- bulan. Dia sangat cakap dalam membangun koneksi melalui Twitter, Facebook dan lain- lain. 
 
Sosial media menjadi senjatanya bahkan sampai tembus ke ranah selebiriti semisal Julia Perez, Lyra Virna, Lia Ananta, Sheza Idris dan masih lah banyak lagi. Sukses berjualan sosial media membuatnya rentan ditiru. Bahkan ada orang yang berani- berani meniru nama usahanya!

Menggunakan istilah anak muda sist atau cin membuatnya lebih mudah. Karena memang orangnya supel lah membuatnya bisa semakin sukses. Biar banyak yang meniru tetap usahanya selalu selangkah kedepan. Itu semua berkat kemampuannya membaca kesempatan. 
 
Uniknya kami menyoroti sama halnya dengan Dea Valencia, karena memang sama cantiknya, Wulan Setyoningrum juga jadi model busana buatannya sendiri. :) Jadi buat kamu yang cantik, ayo berbisnis sendiri!

Facebook: facebook.com/miulan.hijab
Toko online: www.miulana-store.com

Usaha Nasi Uduk Kue Hasilkan Omzet Ratusan Juta

Profil Pengusaha Tania Jean Winarta

 

kuenasiuduk.png
 

Menjajal berbisnis kue hasilkan omzet ratusan juta. Tirulah Tania Jean Winarta usaha nasi uduk menjadi bentuk kue. Pengusaha wanita yang akrab dipanggil Nia, menjelaskan sudah lama menekuni usaha masak memasak. Tetapi ide membuat nasi uduh kue memang muncul tiba- tiba.


Awal dia memang berbisnis nasi uduk bukan kue ya. Nia bercerita awal usahanya memang tidak sukses. Dimulai sejak Februari 2017, nasi uduk miliknya dijual biasa layaknya menjual nasi warungan. Bersama lima orang temannya membuka di foodcourt di daerah Puri Indah, Kembangan, Jakarta Barat.


Berjualan nasik uduk biasa kemudian dikemas nasi kotak. Mau berjualan begitu saingan banyak dari baru sampai yang lama. Nasi uduk memang begitu umum walau sudah dikemas foodcourt tidak naik omzet. Penjualannya kurang menjanjikan sampai ia sempat berpikir ganti usaha.


Mereka bermodalkan kecil cuma Rp.7 juta patungan bersama. Barulah setelah ide usaha nasi uduk kue muncul modalnya ditambah. Mereka menambang sekitar Rp.3 juta modal tambahan. Nia berkata ide membuat nasi uduk memang berawal keisengan.


Nia menangkap pikiran iseng sahabat. Menjadikan nasi uduk menjadi layaknya kue ulang tahun. Dia lalu mencoba membikin. Sayangnya, usaha nasi uduk berbentuk kue telat, justru ketika mereka telah menutup tempat jualan mereka.


"Saya sendiri hobi baking, nah lima orang ini bilang coba dong bikin kue dari nasi," kenang Nia. Dulu ketika masih nasi uduk biasa, udah promosi di sosial media hasilnya tetap sama. Kurang bagus karena sudah banyak saingan usaha nasi uduk online.


Walau sudah menemukan ide baru bukan berarti sukses. Nia harus banyak mempromosikan bukan buat laku dulu, Nia berpromosi buat meyakinkan pembeli. Konsep baru tersebut memang belum dikenal masyarakat. Nama usahanya Nasi Uduk Manja mulai dipromosikan melalui food blogger.


Selain unik tetap harus berasa enak tinggal disuport food blogger. Mereka diendors buat mereview suatu konsep baru. Hasilnya memuaskan walau mengeluarkan modal Rp.50- 500 ribu perendors. Nia menjelaskan selain sudah percaya diri, juga sudah belajar mengenai marketing.


Udah percaya diri dan meyakini akan sukses diendors. "Dari situ kita kirim- kirim ke food blogger, jadi people lebih aware dan marketnya lebih kebuka," ucapnya. Karena mulai berkembang mereka sudah mempekerjakan pegawai.


Mereka mempekerjakan dua pegawai. Walau dikerjakan banyak orang termasuk masih keteteran. Dia mengatakan pesanan sudah banyak. Nia dan kelima temannya menjual dikisaran Rp.150- 1 juta. Harga ditentukan oleh porsi diminta pemesan kedalam pesanan.


Kalau kue senilai Rp1 juta dapat dinikmati 40- 50 orang. Kuenya empat tingkat, atau lebar, menunya menampung banyak. Hitungan perporsi. Nia menghitung makan buat 50 orang bernilai sejuta. Ada pula Rp.150 ribu buat empat orang dimana ukuran bisa disesuaikan.


Perhari mereka memproduksi delapan pesanan perhari. Mereka kini sudah membuka toko kembali. Nia mengatakan mereka menerima pesanan sosmed. Mereka sudah memiliki dapur sendiri. Strategi bisnis mereka unik, pasalnya mereka nanti akan membuat dapur perkota dan dipasarkan di sana.


"Kita enggak mau buka toko lagi, benar- benar lewat online. Yang mau itu diluar kota, jadi misalnya buka dapur di Bandung, di Makassar kaya gitu, tapi bukan toko, hanya dapur saja," Nia menjelaskan kepada Detik.com


Berbisnis tradisional tetapi dikemas kekinian memang menjanjikan. Bukan sekali pengusaha mencoba mengikuti pola tersebut. Usaha nasi uduk kue menghasilkan omzet ratusan juta. 

 

Tahun 2017, usahnya memang lebih banyak makanan baru bukan tradisional seperti nasi uduk. Nia bangga akan pencapaian sekarang. "Hasilnya sekarang sih happy banget, soalnya yang kita lalui awal- awal sih menyedihkan ya, susahnya, dan lain- lain," pungkasnya.

TKI Ganteng Nur Cholis Hidup Susah Jadi Pengusaha

Profil Pengusaha Nur Cholis

 
tkiganteng.png
 
TKI ganteng Nur Cholis tidak menyangka akan hidup susah jadi pengusaha. Dia mantan TKI di Taiwan. Berniat merubah nasib berwirausaha malah membuatnya "menderita". Dia bukanlah tidak berpendidikan tinggi dan menjadi TKI menjanjikan. 
 
Dia itu sarjana. Wajahnya juga tampan akunya ketika hadir di acara Kick Andy. Ilmu bisnisnya ya cumalah bermodal pengalaman. Memulai dari nol, bisnisnya dimulai 15 tahun lalu, bermodal uang sisa menjadi TKI, ia mulai dengan menyewa toko di sebuah pasar di Wonosobo.
 

Jadi Pengusaha

 
Rencananya dia akan membuka sebuah toko tekstil yang lantas diberinya nama "Multazam". Kisah pun berlanjut ketika ia menyadari bahwa modalnya tak cukup. Bukan membangun toko tekstil yang seharusnya. 
 
Dia membuat ala kadarnya. Sebuah ide unik muncul yaitu membeli langsung dari pabriknya. Nur langsung berangkat ke pabrik- pabrik tekstil dan membeli kain murah. Dalam acara Kick Andy, dia lantas menjelaskan kain itu merupakan kain sisa pakai. 
 
Jadi bukanlah kain reject dari produksi yang gagal. Kain ini masih berkualitas tandasnya. Bermodal kain sisa yang dibelinya kiloan dan dijual kiloan. Menjual kiloan justru menjadi tagline sendiri. Bagi bisnis sumur jagung tersebut menjadi beda berarti menjual lebih banyak. 
 
Kelebihan tekstil Multazam, ya, karena Nur Cholis menjualnya secara kiloan. Lantas ketika semua mulai berjalan baik barulah hambatan itu datang. Dia menceritakan bahwa toko kontrakannya mau diambil pemilik lagi. Kontrak dua tahun barulah satu tahun dijalankan.


Bekerja sebagai TKI Nur Cholis ternyata cuma jadi cleaning service. Dia berkisah meski bewajah ganteng, punya ijasah, bisa komputer, itu tidak jadi jaminan. Sudah menyiapkan dasi dan jas, eh malah, dia disuruh untuk membersihkan kamar mandi. Dia disuruh membersihkan WC. 
 
Tidak hanya satu tapi ratusan buah di hotel tempatnya bekerja. Kala itu Nur Cholis masih belum menikah dengan pacaranya semasa kuliah. Dia masih lah membujang ketika menjadi TKI di Arab Saudi. Bekerja penuh ketekunan akhirnya bisa naik pangkat. 
 
Dari menjadi cleaning service yang cuma kebagian membersihkan WC. Saat itu ia naik pangkat jadi tukang bersih di kamar- kamar hotel. Sambil bercanda dia pun berkata kalau datang ke rumahnya kini; WC dan kasur akan sangat bersih seperti di hotel. 
 
Beberapa kali naik pangkat akhirnya dia bisa bekerja di bagian Marketing Manajer. Dia lega akhirnya tak sia- sia membeli jas dan dasi.

Selepas menikah dangan Siti Nur Qomariyah atau Itong, keduanya memutuskan mengumpulkan modal membangun usaha sendiri. Uang itu digunakan untuk membangun usaha di Indonesia. Keduanya sepakat untuk kembali menjadi TKI mengumpukan modal. 
 
Sebelumnya Nur Cholis sempat menjadi TKI di Taiwan. Dia sempatkan membuka usaha sendiri di kampungnya dulu. Ya, itulah Multazam Tekstil, sepanjang berjalannya bisnis tersebut, Itong akan mengirimi uang, dan memberikan tambahan modal.

Berjalan waktu usaha tekstilnya maju. Dia menyebut dari bisnisnya diatas menghasilkan 3 juta per- harinya. Itu berkat kepandaian Nur Cholis memanfaatkan modal seminim mungkin. Biar lebih hemat dia bahkan mau untuk tidur sendiri di tokonya sendiri. 
 
Ketika pagi sampai siang berjualan kain. Ketika di malam harinya, ia akan pura- pura pulang, lalu kembali ke toko menyelinap untuk tidur. Semua dilakukannya agar tak ketahuan satpam yang berjaga di ruko sewanya.

Hidup Susah

 
Kain dijadikan kasur dipakainya tidur di malam hari. Selepas pagi kain itu dibersihkan- dijemur lalu dijual kembali. Semua dilakukannya hingga tokonya makin laris. Menghasilkan tiga juta per- bulan siapa sih yang gak akan iri. 
 
Mungkin inilah mengapa sang pemilik ruko meminta tokonya kembali. Alasan sang pemilik ruko ialah toko utamanya kebakaran. Meski berberat hati ia akhirnya rela melepaskan sisa satu tahun sewanya.

Sang pemilik toko pun mau mengganti kerugian Nur Cholis. Dia dipindahkannya ke tempat lain. Yang sepi dan cuma menghasilkan Rp.17 ribu per- hari. Miris ketika itu omzetnya sangatlah turun drastis. Tentu saja ia jadi stress bahkan berniat menyusul istrinya bekerja ke Taiwan jadi TKI. 
 
Dalam keadaan stress itulah ide kreatifnya muncul lagi. Ia meminta ijin Itong menjual mobil kreditan yang belum lunas dan beberapa perhiasan miliknya. Saat itu sang istri sudah tak bekerja lagi di Taiwan.

Ia mengontrak satu roku di Banjarnegara. Ternyata menjual di luar Wonosobo malah usahanya bisa sangat diterima. Nur Cholis dan istrinya bekerja sama mengerjakan dua toko. Dari Wonosobo ke Bajarnegara dan sebaliknya keduanya tampak kelelahan. 
 
Mereka menjaga dua toko di dua daerah berbeda. Dalam keadaan kepepet, ide kreatif lagi, Nur Cholis berpikir bagaimana biar tokonya tetap berjalan. Bahkan disaat ia dan istrinya tak berada di anatara keduanya.

Dia mulai membuka- buka buku tentang bisnis. Mencari ilmu bagaimana menjalankan "perusahaan" seharunya. Dia secara trial- error (coba- coba) mulai mempekerjakan orang lain. Cuma menunjuk orang menjadi manajer toko dan juga seorang general manager. 
 
Nur Cholis mendelegasikan tuganya ke orang lain. Beberapa orang manajer toko akan mengerjakan pelayanan. Dia akan bertanggung jawab ke si general manajer. Nah, satu general manager akan memberikan laporan ke dirinya.

Untuk ongkos sistemnya ini ia menggelontorkan puluhan juta. Selain menggelontorkan ongkos uang untuk membayar gaji, ada pula ongkos penyalahgunaan kasir, piutang tak terbayar, dan lain sebagainya.

"Saya tidak pernah menganggap kehilangan itu sebagai sebuah kerugian, saya menganggapnya sebagai ongkos belajar, karena dari situlah akhirnya saya mencoba untuk membikin suatu sistim audit yang benar, bikin cash flow report yang bagus, neraca, laporan rugi laba, dan lain sebagainya," jelasnya.

Soal SDM dijelaskannya cuma mengandalkan kejujuran. Dia memprioritaskan passion, barulah integrity, dan juga kejujuran. Selain sistem marketing ia juga membangun sistem pemasaran, periklanan, dan promosi yang terus dikembangkannya. 
 
Dia juga membuat front liner yang fungsinya memberikan panduan bagi karyawan. Tugasnya meliputi bagaimana karyawan menerima telephon, memberi salam, menjelaskan produk, memberi garansi, closing penjualan dan lain- lain.

Punya karyawan sendiri


Menjadi pengusaha besar itulah yang tengah dibangun Nur Cholis. Dimana semua karyawannya punya satu SOP sendiri. 
 
"Karena semuanya melalui trial and error maka SOP yang saya buat masih selalu dalam progress, belum jadi 100%, karena setiap kali ada masalah baru dalam perusahaan maka hal itu akan menjadi item baru dalam SOP kami," tutur ayah dari Julio Maulana Muhamad yang juga hobi fotografi.

Bermodal SOP tersebut dari dua toko saja, kini, usahanya bisa merambah ke tempat- tempat lain. Menjadi puluhan menyebar di Jawa Tengah. Menerapkan konsep jangan menaruh satu telur di satu keranjang. Ia mulai membukan berbagai bisnis lain yang bersumber dari bisnis tekstilnya. 
 
Usaha miliknya mulai merambah kuliner, pengiklan, percetakan, aksesoris motor, sekolah musik, dan pendidikan. Untuk bisnis pendidikan ia bekerja sama dengan Primagama Group.

Memperluas sektor bisnis lantas dipahaminya sebagai cara menambah lapangan pekerjaan baru. Dia bisa membangun lapangan kerja bagi saudara- saudara yang belum berwirausaha. 
 
Alumnus IAIN dan ISI Yogya ini ia juga menambahkan dirinya juga sibuk menghandle lembaga keuangan berkaryawan 800 orang. Dari sana pula  Ia menyadari satu hal: peningkatan SDM menjadi kunci. Dia sadar betul akan kualitas mereka yang bekerj di tempatnya. 
 
Nur Cholis pun mengadakan pelatihan intern perusahaan dan juga memberikan pelatihan diluar melalui aneka seminar. Bisnis baginya tak lagi cuma melulu jual- beli tapi sudah meluas.

"Bisnis itu adalah bagaimana kita bisa menciptakan bisnis yang tersistemasi sehingga kita sebagai business owner tidak harus selalu in business, tetapi bisa work on bussiness, dengan begitu saat ini saya sangat merasakan manfaatnya bahwa karyawan-karyawan saya ternyata lebih pintar dan kreatif dibanding saya," ucapnya.
 
TKIganteng asal Magelang kelahiran 1966, menjelaskan bahwa sinergi dengan karyawan akan mampu mengembangkan perusahaa. Lebih maju hingga pemilik usaha dapat jalan- jalan, bisnis tetap jalan. Ia menemukan kebebasan itulah dia cari.
 .

Kebebasan dalam nama pengusaha bukan berarti bebas bekerja selama mungkin. Kamu bebas bekerja apapun jenis bisnisnya. Dan kamu bebas dari beban pekerjaan apapun. 
 
Menurutnya menikmati hidup itu memang penting, justru karena hidup cuma sekali, kita harus ikut menikmati jalannya bisnis kita. Bentuk menikmati bisnis juga tidak melulu bekerja. Itu termasuk kontribusi perusahaan bagi masyarakat luas.

Untuk itulah perusahaan mantan TKI ini mengadakan aneka CSR. Bentuk tanggung jawab lingkungan ini ia bagikan dalam bentuk biaya listrik dan PAM masjid- masjid, menjadi sponsor khitanan, menyumbang ke panti asuhan, dan mensuport anak -anak asuhnya. 
 
Tidak dipungkiri sosoknya menjadi salah satu pengusaha menginspirasi asal Wonosobo. Sekian kisah hidup susah jadi pengusaha tetapi senang diakhir.

Pengusaha Bawang Goreng Go International

Profil Pengusaha Ragwan Al Idrus

 

bawanggoreng.png
 

Bayangkan pengusaha bawang goreng go international. Memang di jaman sekarang semua dapat terjadi berbekal aneka kemudahan. Produk bawang goreng khas Palu sudah terkenal. Makin terkenal ketika bisa menembus pasar internasional.


Bahkan produk tersebut sudah masuk jenis komoditas. Bawang goreng Palu mendapatkan penghargaan Upakarti. Ini menjadi pendongkrak semangat pengusaha bawang goreng lokal. Seperti Ragwan Hasan Al Idrus, pemilik usaha bawang Sal Han, penerima Upakarti pelopor usaha dari Palu.

 

Bisnis Bawang Goreng


Permintaan datang terutama dari Malaysia ingin membeli. Bawang goreng Palu memang khas, namun belum mampu mencukupi permintaan dari Malaysia tersebut. Berkat penghargaan tersebut maka para pengusaha akan mendapat akses pelatihan dari Dinas Perindustrian.


Ragwan mendapatkan penghargaan langsung dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kedepan akan menjadi perhatian Dinas Perindustrian Kota Palu dan Sulawesi Tengah. Adalah mantan guru fisika alumni Universitas Samratulangi Manado.


Akses lembaga keuangan lebih terbuka semenjak diapresiasi. Mereka memberikan dukungan modal pengembangan usaha. Ragwan sendiri mendapatkan bantuan PT. Telkom pada 2010. Usahanya dapat bantuan pinjaman lunak sampai Rp.40 juta sampai Rp.100 juta.


Ragwan dibantu suaminya Fauzi Salim mengembangkan usaha. Mereka mendapatkan kepercayaan akan akses kredit lembaga keuangan. Bahkan nilai kredit sampai Rp.1 miliar buat mendirikan gedung produksi.


Mereka tidak kurang menggoreng bawang sampai 200kg bawang mentah. Ragwan dan Salim memiliki 20 orang pegawai. Mereka pegawai bertugas mengupas, memotong, sampai menggoreng. Bawang goreng dihasilkan 50kg sampai 60kg, harga jualannya Rp.150.000 perkg dan omzet perhari Rp.8 juta.

 

Ditanya mengenai keuntungan bersih tidak disebutkan. Pokoknya Ragwan mampu menstor arisan sampai Rp.20 juta. Ragwan Al Idrus merupakan pengusaha satu- satunya diluar Jawa. Ini sangat perlu diapresiasi Indonesia sebagai negara besar.

 

Salim menjelaskan usaha mereka mendapatkan pasokan khusus. Bawang berkualitas tersebut berasal dari Lembah Palu. Jadi rasa dihasilkan berbeda bila dibandingkan ditanam tempat lain. Suhu disana menghasilkan kualitas berbeda menjadi istimewa.


Strategi keduanya membangun bisnis bawang Sal Han termasuk menanam. Mereka tidak mau cuma berpatok di lembah Palu. Pengusaha bawang goreng ini juga memiliki tanah ditanami lain. Di lokasi berbeda luas lahan pengelolaan mereka sampai 20 hektar.


Perlu diketahui walau sama- sama lembah Palu, dijarak 1- 2 kilometer cuaca sudah berbeda. Lewat lahan 20 hektar tersebut menghasilkan 2,5 ton bawang goreng. Harga jualnya dari 180 ribu sampai Rp.235 ribu.


Ragwan sempat berpikir mau menjadi PNS. Alih- alih dia memutuskan mengembangkan usaha ini sampai sukses. Perjalanan mereka lumayan terjal namun dapat diatasi. Tahun 2006, ia membatalkan niatnya bahwa sepakat membangun pusat oleh- oleh khas Palu, bersama sang suami Fauzi Salim.

Pengusaha Gagal MLM Ide Jualan Batagor Hanimun

Profil Pengusaha Angga Januar


pengusaha batagor

Pengusaha gagal MLM memilih berjualan biasa. Dia memiliki ide jualan batagor. Ide berjualan kecil- kecilan nyatanya lebih melegakan. Dia tau hasilnya lebih kecil dibanding bisnis MLM. Tetapi pria ini tak susah- susah mencari downline.

Kalau sudah punya produk sendiri dia lebih percaya diri. Lebih mampu mengontrol dan bertanggung jawab. Mungkin dia enggak berbakat bisnis MLM. Dan mungkin, kamu bisa meniru langkah pri muda bernama Angga Januar K ini.
 

Berbisnis Batagor

 
Dia pernah merasakan apa yang pernah kamu rasakan sekarang. Bagaimana rasanya (dijanji- janjikan) mendapatkan mobil mewah dari bisnis MLM. Sayangnya, memang tak semua orang bisa sesukses orang lain. Alkisah ada mantan pemulung yang memang menjadi bahan omongan. 
 
Namanya Sunarno, sukses bisnis MLM dimasa jayanya dahulu loh. Cuma bermodal seadanya, dirinya mampu menduduki posisi tinggi di Forever Young.


Kisah sukses seperti Sunarno ini sudah mulai jarang ditemui. Kisah seorang pemulung sukses berbisnis MLM tanpa modal; adalah seperti legenda saja. Kembali ke sosok Angga, kapankan ia memulai bisnisnya tersebut. 
 
Tepatnya, di 2008, Angga bersama ibunya, mulai tertarik berbisnis MLM yang menjamur. Mereka tergiur iming- iming mobil mewah hingga rumah megah. Tentu jika sukses merekrut orang menjadi downline. Faktanya gambaran serba manis tersebut cuma semu belaka. 
 
Mereka tidak bisnis berbisnis MLM. Mereka tidak berbakat bisnis MLM. Mereka tak mampu mengikuti pola usahanya. Bahkan ibunya sudah menggelontorkan uang banyak. Mereka bahkan sempat kehilangan mobil, rumahnya di kawasan Cimahi, Jawa Barat. 
 
Harta mereka digelontorkan buat menutupi biaya dikeluarkan mereka. Kapok berbisnis MLM membuatnya memilih bisnis konvensional. Sayangnya, lagi- lagi Angga mengalami satu kegagalan kembali. Bisnis konvensional juga sama gagalnya dengan MLM. 
 
Dari bisnis konveksi justru tertipu salah seorang konsumen asal Kalimantan. Jadilah Angga menutup bisnis konveksinya, bangkrut, kehilangan semua modal yang ada.

"Kejadian itu terjadi di tahun 2005, konsumen baru bayar DP (uang muka) 25% untuk order konveksi saya. Setelah orderan selesai dan dikirim, orang yang order tidak bisa dihubungi lagi," jelas Angga kepada situs Myoyeah.

Otaknya berputar keras buat memulai bisnis kembali. Dia seolah tak kapok mengalami kegagalan. Angga mulai berpikir usaha apa yang baru tapi bisa cepat menghasilkan. Ia lantas mencurhatkan kegalauannya ke ayahnya, yang kebetulan adalah seorang akuntan di salah satu bank swasta.

Secara getir, ayahnya kemudian menyodorkan uang 20 juta. "Papa tinggal punya sisa tabungan Rp.20 juta untuk keluarga waktu itu," ia lantas menjelaskan. Angga menceritakan papahnya mengajari dia kunci bisnis cepat.

Menurutnya bisnis yang perputaran uangnya capat adalah bisnis kuliner. Kemudian ia berpikir buat berbisnis batagor karena penggemar batagor. Karena ayahnya bekerja sebagai akuntan. Bisnisnya pun tak terlepas dari sorotan matanya.

Pengusaha gagal ini menceritakan ketika akan memulai usaha; dia diperintahkan menulis anggaran. Dia diperintahkan menulis anggaran usaha yang ia perkirakan nanti.

"Awalnya rencana anggaran itu mencapai angka Rp.15 juta," jelasnya. Papanya kemudian mulai menyarankan agar Angga menghitung ulang. Disarankannya untuk mengambil bahan- bahan dan peralatan lebih murah.

Hasilnya modalnya bisa ditekan menjadi Rp.6 juta. Tapi tentunya tanpa mengurangi kualitas dari batagor buatannya nanti loh. Angga tidak lama dalam keterpurukan kegagalan. Dua tahun semenjak kebangkrutan parah bisnisnya terdahulu tanpa kembali bisnis MLM.

Yakni dari bisnis konveksinya dulu. Moda Rp.6 juta digunakan segera tanpa basa- basi. Pada Februari 2007, resmi bisnis kuliner yang bernama Batagor Hanimun diluncurkan. Adanya pengalaman gagal MLM kemudian gagal berbisnis konveksi menyadarkan satu hal.

Bahwa bisnisnya salah manajemen bukan karena apa. Ini fakta yang diambil ketika memulai brand -nya sendiri.

"Ya,saya menyadari kalau waktu dulu kami buruk dalam hal manajemen," terangnya.

Pengusaha Gagal MLM


Selain sibuk membenahi manajemen, disaat itupula Angga mengikuti anake pameran. Ini memang merupakan strategi khususnya memperkenalkan brand -nya. Ia tak absesn hadir di pameran khususnya pameran kuliner di Bandung.

Saking kerajinan mengikuti pemaran membuatnya dikenal. Sosok Angga sudah dikenal oleh kawan- kawanya sebagai hantu pameran atau jurik pameran. Agresifitas memperkenalkan bisnisnya ternyata membuahkan hasil.

Strateginya buat memperkenalkan juga sebagai sarana membangun koneksi. Disana, Angga mampu menggaet konsumen, bahkan dalam jumlah lebih besar, dan dalam waktu singkat pula. Dibanding lewat cara biasanya berjualan normal yakni berjualan lewat mobil keliling.

Hasilnya mampu naik berkali- kali lipat. Tidak cuma 2- 3 kali lipat tapi mencapai belasan kali lipat untungnya jualan di pameran. Itulah alasan utama lainnya selain memperkenalkan brand -nya.

Apalagi kalau bukan cara cepat menggaet konsumen non- konvensional. Bahkan lewat berjualan di pameran membawanya untung besar. Bukan cuma untung uang loh, tetapi sebuah kesempatan memperluas jaringan bisnis

Dalam penjelasannya, ketika mengikuti pameran PKBL UKM Expo 2009 silam, selain terjual habis Batagor Hanimun -nya; ada sosok investor miliriknya. Inilah tonggak sukses besar dari jualan batagor Hanimun. Dia bercerita saat itu ada satu keluarga yang setiap hari datang ke booth -nya sendiri.

Namun, karena pembeli selalu laris manis jadilah mereka selalu kehabisan. Hingga akhirnya mereka datang lebih awal agar bisa kebagian. Bahkan mereka rela datang ke pameran selanjutnya. Karena datang dari awal, jadilah, satu keluarga itu bisa kebagian lezatnya Batagor Hanimun.

"Hari berikutnya mereka datang lebih awal dan membeli batagor," katanya.

Setelah itu, sang ibu keluarga tersebut menyodorkan nomor telephon. Maksudnya adalah sang ibu itu tertarik menjadi mitra bisnisnya kelak. Angga pun tak menyia- nyiakan tawaran tersebut, dan mulai menjajal konsep bisnis kemitraan.

Untuk pertama kalinya, Angga bisa membuka satu toko bersifat permanen, jika sebelumnya cuma berjualan lewat mobil pribadi. Toko tersebut terletak di Rest Area 97, dimana mitranya adalah si ibu tersebut.

Unik karena Angga tak punya rencana khusus buat kerja sama. Dia bahkan tak menulis proposal bisnisnya. Tak mengira bahwa si ibu mau mengajaknya bemitra. Bahkan menawarinya berapa uang dibutuhkan buat berinvestasi di tempatnya.

Asal- asalan saja terucap kata Rp.10 juta seketika. Ternyata ibu itu tidak surut ketika mendengar angkanya. Jadilah usahanya berkembang berkat hal spontan tersebut. Penjualan dilokasi barunya mencapai 40 ribu pcs/bulan.

Jumlah tersebut dibilang sangat besar dibandingdibayangkannya. Selepas membuka bisnis di Rest Area 97 tersebut membawa keburuntungannya terus saja menanjak. Batagor Hanimun bahkan bisa memiliki 4 cabang di Bandung, 1 di rest area Tol Cipularang, 2 di Jakarta, dan 1 lagi di Bogor.

Cabangnya banyak membawanya jadi kaya mendadak. Bukannya karena sukses MLM tapi karena berbisnis batagor beromzet Rp.300 juta per- bulan.

Profil Dea Valencia Pengusaha Cantik Batik Kultur

Profil Pengusaha Dea Valencia


batik kultur dea valencia

Mau mengenal pengusaha cantik pemilik Batik Kultur. Profil Dea Valencia membuktikan bahwa batik tidak jadul. Bagi kamu yang baru lulus kuliah pasti akan merasa minder. Tetapi Dea Valencia, adalah gadis manis yang sukses besar meskipun baru berusia 19 tahun. 
 
Jika pendapatan kamu per- bulan cuma beberapa juta, pengusaha cantik ini punya miliaran rupiah yang dihasilkan. Apa rahasianya? si pengusaha cantik Dea Valencia, umurnya baru 19 tahun, tetapi berkat ketekunan di dunia bisnis batik, sukses dan mampu mengharumkan nama Indonesia.
 

Bisnis Batik

 
Diberinya nama bisnis batik budaya, Batik Kultur, kisah batik lawas yang dipadu- padankan. Dea pun tak segan berbagi kisah bagaimana, dan kapan usahanya ini berjalan. Sejak usia 16 tahun Dea sudah memiliki ketertarikan terhadapa pola batik. 
 
Namun, ketidak mampuannya membeli batik sendiri membuatnya memutar otak. Dea lantas membuka- buka kembali lemari, menemukan batik- batik lawas yang mungkin tak sesuai lagi. Batik- batik lawas yang sudah mulai rusak atau mungkin tak cukup lagi dipakai. 
 
Batik- batik itu dibentangkannya lalu dipotong- potong. Ia mulai menggunting sesuai pola yang ia sukai, dan membordirnya. Ia ciptakan pakaian dengan hiasan batik lawas berbordir tadi. Baginya batik lawas bukanlah barang buangan. Bukan untuk orang simpan saja di dalam lemari.

"Ini pakai batik lawas yang udah lama disimpan di lemari misalnya. Kan sering rusak, entah dimakan ngengat ataupun bolong kena banjir. Ya nggak bisa disimpan lagi kan? Makanya itu saya gunting-guntingin, misalnya bunga- bunganya," pengusaha cantik ini bercerita. 

"Nah dari situ saya bordir dan digabung dengan kain lain," ungkap Dea untuk situs beritasatu.com di acara Wirausaha Muda Mandiri, Istora Senayan, Jakarta Pusat.

Ternyata dari pola- pola itu terbentuklah pakaian baru. Inilah cikal- bakal Batik Kultural. Awal produksinya, Dea hanya membuat 20 potong pakaian. Kini? Ada 800 potong Batik Kultur yang dipasarkan per bulannya.

Dengan harga antara Rp 250.000 - 1,2 juta, nilainya setara Rp 3,5 M per tahun atau Rp 300 juta per bulan. Dia benar- benar memulai usahanya dari nol. Bahkan dia sendirilah yang menjadi model dadakan untuk Batik Kultur.

Kebetulan gadis cantik dan manis ini memang cocok jika menjadi model profesional.

sejarah batik kultur

Dea yang membuat desain setiap produknya sendiri meski ia mengaku tak bisa menggambar. Kemudian ia bergaya di depan kamera memakai produk miliknya sendiri.

"Desainernya saya sendiri padahal nggak bisa gambar. Imajinasi. Saya ada satu orang yang diandalkan, kerja sama dengan saya. Apa yang ada di otak saya transfer ke dia untuk dijadikan gambar," kata Dea.

Prinsip yang dipegangnya sangatlah menarik dan patut dicontoh. Dia mengaku tak akan menjual produk yang dia tidak suka. "Kalau sudah jadi pasti saya bikin prototype ukuran saya sendiri. Saya coba, saya suka apa enggak? Karena saya nggak mau jual barang yang saya sendiri nggak suka.

Jadi barangnya itu kalau dilihat tidak terlalu nyentrik, lebih seperti pakaian sehari-hari," imbuh gadis asli Semarang.

Tak berhenti di Batik ia mulai merambah kain tenun ikat. Meski lebih sulit, dia tak gentar bahkan rela datang ke pusatnya di Jepara, tepatnya di Desa Troso yang merupakan sentra tenun ikat. Jika dulu membeli beberapa meter kain, kini membelian tak kurang dari 400 meter tenun ikat.

Sebagai alumni program studi Sistem Informasi Universitas Multimedia Nusantara, Dea paham betul kekuatan internet untuk pemasaran. Batik Kultur 95 persen memanfaatkan jaringan internet dalam urusan marketing.

Karena tidak punya pengalaman membatik, ia mulai belajar membatik sambil jalan katanya. Jujur dia tidak memiliki latar belakang membatik. Dia juga bukan dari keluarga pembatik atau punya usaha batik. Ini semua karena hobi dan kecintaan akan dunia budaya batik ini.

"....kecintaan saya terhadap batik Indonesia, yang ditularkan dari ibu saya. Dan juga, keinginan saya untuk mengoleksi batik yang bagus-bagus, tapi enggak ada uangnya," kata Dea mengawali ceritanya.

Dari sekedar menggunakan batik lama yang didaur ulang, Dea kini punya bengkel sendiri. Sebuah bengkel yang terletak di kawasan Semarang, Jawa Tengah. Saat ini, ia tengah menyiapkan pembangunan butiknya.

"Mayoritas produk (harganya) Rp 400.000-Rp 600.000," imbuhnya. Batik- batik ini kemudian dipasarkan ke luar dan dalam negeri dengan usaha sendiri atau pemerintah, tepatnya dari Kementrian Perdagangan dan Dewan Kerjinan Nasional (Dakernas).

Pengusaha Muda Batik Kultur


Pelanggannya saat ini tersebar di seluruh Indonesia maupun luar negeri yang mayoritas pembelinya dari daerah Jakarta untuk Indonesia. Untuk luar negeri, jangkauannya sudah bisa sampai ke Australia, Amerika Serikat, Inggris, Norwegia, Jepang, Belanda, Jerman, dan banyak negara lainnya.

Saat memulai usahanya itu, Dea hanya bermodalkan sekitar Rp 50 juta. Kini, setiap bulan ia mampu memproduksi sekira 800 potong pakaian batik. Upah karyawannya dihitung dengan sistem harian dan dibayarkan setiap bulan.

Dea fokus menjalankan online marketing. Dia  menjadikan Facebook dan Instagram sebagai katalog dan media komunikasi dengan konsumennya. Dari online, referensi Batik Kultur akhirnya menyebar dari mulut ke mulut. Integrasi dunia maya dan dunia nyata menyukseskan bisnis Dea.

Bukannya tanpa hambatan bisnis yang dikerjakannya. Pengusaha muda ini pernah berhenti produksi dan depresi selama berminggu- minggu karena satu masalah hak paten.

"Hambatan... dulu pernah masalah di hak paten. Sebenarnya dulu namanya bukan Batik Kultur by Dea Valencia tapi Sinok Culture," terang dia.

Tapi waktu diurus nama merek ternyata sudah ada yang pakai merek Sinok. Dea Valencia sempat stress selama seminggu. Karena nama Sinok sangat berarti buat dirinya pribadi. "Sinok adalah nama panggilan saya sejak kecil," tutur Dea.

Melihat segala pencapaian Dea sekarang pantaslah kita mengapresiasi. Sulit bagi kita mempercayai bahwa sukses batik ini ada ditangan seorang gadis 19 tahun yang kini telah lulus menjadi sarjana komputer.

"Saya dulu nggak tahu kenapa sama ibu 22 bulan udah disekolahkan. Umur lima tahun udah masuk SD. SMP dua tahun, SMA dua tahu. Jadi itu 15 tahun masuk kuliah. Tiga setengah tahun kuliah, jadi umur 18 udah lulus," jelas Dea.

Meski masih muda dan memiliki pendapatan miliaran rupiah, Dea tak melupakan lingkungan sekitar. Menarik jika mendengar pengakuan Dea tentang beberapa karyawannya. Dia sengaja mempekerjakan mereka yang kebutuhan khusus.

Pertimbangan bahwa kesukses dirinya adalah milik sosial. Enak penjahitnya merupakan tuna rungu dan tuna wicara. Menarik jika dilihat ternyata mayoritas yang dipekerjakan di Batik Kultur adalah mereka yang memiliki keterbatasan fisik.

Bisnis yang dimulai tiga tahun silam telah memasuki semester ke 4. Hingga saat ini Dea telah mempekerjakan 36 karyawan, kebanyakan warga sekitar jebolan dari LPATR (Lembaga Pendidikan Anak Tuna Rungu) kejuruan jahit.

Ada juga beberapa  pegawai Dea yang lulusan RC Jebres, Solo, sambung Dea. Mempekerjakan tunarungu menjadi cerita sendiri bagi perjalanan usaha Dea.

Terlebih lagi, para tunarungu itu bekerja di bagian jahit dan potong, meskipun kebanyakan dari mereka telah mendapatkan pendidikan kejuruan jahit. Memang menjadi tantangan tersendiri baginya ketika memilih mempekerjakan mereka.

Namun dengan beberapa penyesuaian mereka mampu bekerja sama. Masalah komunikasi bisa dia akali lewat media tulis.

Dea lantas berkisah salah satu karyawannya bernama Ari. Kali pertama bekerja di batik Dea, waktu itu usia Ari baru 17 tahun. Jarak rumahnya yang cukup jauh dari workshop membuat Ari memilih memakai angkot atau menaiki sepeda onthel tiap kali bekerja. S

ekarang, lanjut Dea, Ari sudah mampu mencicil motor sendiri. "Pertama kali lihat Ari naik motor baru yang dia sangat sayangi, ada perasaan yang tidak bisa tergambarkan," ucap Dea. Kemudian ada kisah tentang Mbak Tumisih, yang tangannya hanya sampai siku dan kaki sampai lutut.

"...memiliki semangat yang sangat saya kagumi," kata dia.

Dia menceritakan, mulai dari makan, melepas jahitan, menulis, memasukkan benang ke dalam jarum, hingga mengirim SMS, dia bisa melakukannya sendiri. Demikian juga dengan Sriwat, gaji pertama Sriwati yang didapatnya dari Dea seluruhnya dikirimkan ke sang ibu yang berada di desa.

"Selain untuk membalas budi kepada ibu, Mbak Sriwati juga ingin membuktikan apabila bisa bekerja dan menghasilkan seperti yang lainnya," ujarnya.

Terakhir, ia sangat mengapresiasi tindakan pemerintah yang telah melakukan pembinaan terhadap mereka melalui Balai Besar Rehabilitasi Sentrum Bina Daksa (BBRSBD/RC) Jebres, Solo. Beberapa pegawai Mbak Sriwati, Mbak Tumisih, dan Mbak Nikmah diberikan pengarahan dan pendidikan.

Dulu Sopir Sekarang Pengusaha Kue Kacang Hijau

Profil Pengusaha Marfin Gunawan

 

kuekacang.png

Hidup memang tidak dapat ditebak. Dulu sopir sekarang pengusaha kue kacang hijau. Dikisahkan inilah pria bernama Marfin Gunawan, yang mengenang dulu sempat menikmati enaknya kue kacang hijau. Ibu- ibu pada tahun 1990 -an banyak membuat kue macam ini.

 

Kue jadul dijual di warung- warung atau dijajakan keliling. Kue dibawa memakai tampah dan ditarus di atas piring. Kue kacang ijo tersebut sudah menjadi camilan khas Kota Sabang, Pulau We, Naggroe Aceh Darusalam. Dari bentuknya memang mirip kue bakpia dari Jawa tetapi beda.

 

Pengusaha Dulu Sopir


Kue tersebut cuma bertahan satu sampai dua hari. Selebihnya bila tidak disantap akan basi. A Guan begitu nama panggilannya tertarik menaikan pamornya. Pria yang berprofesi sopir angkutan barang, mencoba membuat hingga menjajakan kue jadul ini.


Pria kelahiran Sabang, 13 Juni 1957, memang tidak berniat menjadi pengusaha. Dia sudah cukup jadi sopir angkutan barang. Hingga dia berkenalan dengan pengusaha kue kacang hijau. Tepatnya tahun 1994, pengusaha tersebut membocorkan rahasia kue yang mirip bakpia Jawa tersebut.


Memang sudah jodohnya tetapi tidak semudah dibayangkan. Kan pengusaha tersebut gagal, malahan memilih ganti profesi ketimbang membuat kue kacang. A Guan berpikir keras mengapa dia harus mencoba, padahal si empunya resep gagal.


Iseng A Guan tetap membuat kemudian dititipkan ke toko- toko. Hasilnya ya sama saja, seperti teman pengusaha tersebut A Guan gagal. Dimana sehari cuma laku 50 biji dari 100 biji dibikin. Bukannya menyerah A Guan penasaran, "dari situ saya mulai mencari cara agar kue kacang ini lebih dinikmati."


A Guan mendapati dua kelemahan kue kacang ini. Yakni kue kacang hijau terasa hambar dan basah karena memakai minyak goreng. A Guan mencoba berkali- kali cara. Hingga ia menemukan bahwa mengganti minyak goreng dengan mentega.


Ajib dia menemukan kuenya lebih guring dan kering. Inovasi tersebut membuat kue bikinannya lebih nikmat. Alhasil omzet penjualannya menanjak naik sampai tinggi. Pada tahun 2000, penjualannya itu mencapai 200 sampai 300 kota perhari, seharga Rp.11 ribu perkotak.


Sekotak isinya 20 kue kacang hijau dan dilakukan sendirian. A Guan bangun pagi pukul 03:00 dan langsung menyiapkan adonan. Kemudian dia berjualan dan baru tidur pukul 22:00. Dia tidur selepas bikin adonan kue dulu.


Esok paginya dia bangun menyiapkan adonan dan memasak. Sayangnya, kue begini tidak tahan lama alias mudah basi, cuma bertahan beberapa hari membuat A Guan pusing. Dia lantas berkonsultasi ke Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan.


Dia kemudian mendapat cairan antibasi. Zat tersebut berkat saran pegawai Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan. Berkat zat tersebut maka kue kacang hijau miliknya bertahan sepekan. Menurut A Guan bukan pengawet tetapi zat alami.


"Saya tidak berani memberi zat pengawet karena katanya bisa menganggu kesehatan," tuturnya. Usaha tersebut terus berkembang dibantu 25 ibu rumah tangga. Mereka merupakan tetangganya di rumahnya Jalan Sultan Hasanuddin, Sabang.


A Guan semakin bersemangat hingga membeli peralatan baru. Dulu memakai oven manual sekarang sudah mempunyai 3 oven semi manual. Masing- masing oven dibeli seharga Rp.400.000. Pembelian menanjak sampai dia membeli empat buah oven putar, harganya antara Rp.11- 16 juta perbuah.


Tetapi nasib malang tidak mampu ditolak harus dihadapi. Ada tsunami Aceh yang menggoncang, dan A Guan menjadi korban beruntung dia dan keluarga selamat. Peralatan memasak juga selamat dari hantaman tsunami.

 

Usaha Hampir Bangkrut


Namun A Guan harus menerima fakta bahwa jualannya lesu. Pegawai tengah sibuk membantu karena sibuk menyelamatkan diri, dan membantu keluarga yang mejadi korban. Kalaupun dia memaksakan membuat tidak mungkin laku.


Semua tampak kacau A Guan pasrah akan nasib. "Saat itu, banyak orang berpikir sulit untuk pulih, tetapi saya yakin masih bisa bertahan dan maju," ia mengambil sikap.


Tiga bulan usahanya tidak berjalan. A Guan sudah mikir semua sudah berakhir. Seiring pulihnya warga masyarakat dari tsunami, dirinya bangkit. Para karyawan datang mau bekerja kembali. A Guan sangat sumringah memulai bisnis dari nol.


Dulu sopir sekarang pengusaha menjadi pengangguran. Kembali menjadi pengusaha membuatnya dari nol. Ia seolah merintis usaha kembali. A Guan meyakinkan diri dan para pegawai. Ia menyemangati bahwa semua akan pulih, dan benar saja, dalam dua- tiga bulan omzetnya kembali.


Bahkan usahanya naik menjadi 500 kota perhari. Disaat bersamaan ia merasakan kekurangan. Perlu perbaikan ternyata masalah kotak kemasan. Ia masih memakai kotak polos putih. Sekarang dia bikin kemasan berwarna, bergambar, dan sudah dilabeli halal.


Tujuannya menarik perhatian pelancong ikut membeli. Orang akan membeli menjadikan ini oleh- oleh khas. Dia lalu menghubungi temannya di Sumatra Utara, Medan. Dia dimintanya membantu membuat kemasan jualan.


Desain kemasan membuat kotak kemasan kue makin menarik. Sejak 2005, kemasan sudah menarik lengkap nama brand serta detail produk dan menarik bila dipajang. Terlihat kue kacang hijau bermerek AG Sabang berjejer cantik di toko oleh- oleh atau warung.


Kerja kerasnya diapresiasi pelanggan. Dia pun mendapatkan penghargaan Bintang Keamanan Pangan oleh BPOM. Ini karena dari pembuatan sudah menjaga higenitas, keamanan penyimpanan, sanitasi yang bagus, serta peralatan yang bersih dan aman.


Hampir semua pusat oleh- oleh Sabang mengenalnya. Nama kue kacang hijau AG Sabang sudah jadi khas pelancong. Kalau orang datang ke Sabang tanpa membeli sudah pasti rugi. Ketenaran AG Sabang menanjak ketika disuport TNI asal Yogyakarta yang bolak- balik Sabah- Jogja.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba