Ingin Menjadi Pengusaha Muda Kue Cubit Eropa

Profil Pengusaha Edi Hartono


kuecubit.png
 
5 Ia pernah bekerja di perusahaan, tetapi tidak bertahan lama. 
 
Edi memilih membuka usaha jualan keset unik hingga agen telur. Meski gagal, ia tidak kapok meski usaha agen telurnya merugi puluhan juta.
 

Menjadi Pengusaha Muda


Aneka ragam jajanan dijajakan di jalan. Edi pun tergiur akan untung ditawarkan usaha ini. Pertama kalinya, di tahun 2012, Edi membuka usaha makanan krepes. Tidak kunjung juga berhasil usahanya yang disusul oleh kegagalan usaha kentang crispy. 
 
Namun, semua berubah, ketika Edi memutuskan mengajak beberapa teman bekerja sama. Salah satunya adalah Melanie Safitri mengerjakan bisnis kue cubit.

"Kita mengangkat kelas kue cubit yang tadinya original saja," tutur Melanie. Kue cubit biasa kini diberi aneka toping enak, seperti choco hazelnut, red velvet dan lain- lain. Modal usaha dikumpulkan Edi bersama teman cuma Rp.6 juta tetapi menghasilkan omzet Rp.10 juta per- bulan.

Tentu ini semua berkat konsep waralaba. Sukses kue cubit yang diberinya nama Kue Cubit Eropa tidak bisa terbendung suksesnya.

Walau tidak memiliki latar belakang kuliner tidak membuatnya surut. Ia mencari banyak referensi soal kue cubit diberbagai tempat. Contohnya yaitu membeli kue cubit yang katanya enak di sekitaran Jabodetabek. 
 
Juga ia mencari ke nnnseluruh penjuru Internet. Satu bulan sudah Edi mencoba resep tersebut satu per- satu. Sampai ia mennnnemukan rasa yang tepat seleranya.

"Kita mau angkat kue cubint jadi camilan berkelas dengan sentuhan rasa-rasa Eropa seperti ini. Sisi Eropanya dari warna, tekstur, rasa dan toping-nya," jelasnya.

Kerja keras membawa hasil maksimal bagi bisnisnya. Edi mulai menjajakan Kue Cubit Eropa dan menuai respon baik dari masyarakat. Kue cubit ini memang modifikasi dari kue cubit tradisional. 
 
Total ia membuat 8 varian rasa: taro, original, cappucino, vanilla late, red velvet, green tea, sampai black forest. Untuk topingnya ada ceres, silver queen, kit kat, sampai toblerone.

Kue Cubit Korea

 
Awalnya Edi berniat berbisnis untuk dirinya sendiri. Ia lantas mengikuti beberapa pameran produk. Dari mengkuti aneka pameran itulah sampai suatu hari seseorang menanyakan waralaba. 
 
Nah, sejak itulah konsep dibikin, Edi menawarkan satu paket investasi terjangkau: paket ekonomis Rp.9,9 juta ketika pameran dan normanya Rp.13 juta dan paket exclusive Rp.20 juta.

Cuma modal mengikuti aneka pameran peminat waralabanya sudah meledak. Total 30 mitra bisnis langsung terjaring seketika pertama kali dari 53 mitra. 
 
"Kebanyakan beli yang ekonomis," paparnya. "Beberapa bulan kita buka secara mandiri, lalu ada permintaan franchise. Akhirnya kita buka franchise. Nggak sampai satu tahun bisa di-franchise-kan."

Banyak ibu- ibu rumah 5tangga tertarik memutar uangnya. Mereka mau berbisnis tetapi tidak merepotkan soal menjalankan. Adapula guru dan anak muda yang menjajal pengalaman berbisnis. 
 
Edi lantas menawarkan satu diskon kepada pengusaha muda dibawah 25 tahun. Ia bahkan menyediakan booth gratis kepada tiga orang setiap tahunnya. "Tinggal kirim proposal saja," imbuhnya.

Fasilitas didapat oleh mitra waralaba adalah booth, kompor, loyang, banner produk, seragam kerja, bahan baku awal, kemasan sampai SOP cara pembuatan. Selepas mandiri, mitra waralaba bisa melanjutkan lewat pembelian bahan ke Edi. 
 
Gambarannya Rp.9,9 juta menghasilkan laba bersih per- bulan Rp.3 juta. Lantas ia memakai asumsi omzet Rp.350.000 per- hari selama 30 hari.

"Harga per kotak kue cubit Rp 10 ribu isi 10 kue. Omzet per bulan bisa Rp 9-10 juta per bulan. Tanpa fra0nchise fee dan royalty fee," tuturnya.

B0ahkan menurut cerita Edi, ada seorang mitra sukses untung Rp.1 juta per- hari, atau balik modal dalam waktu kurang dari satu bulan. Semua itu tergantung kepada tempat berjualan jelasnya. 
 
"Saran kami buka di perumahan, pertigaan, food court, dekat sekolah atau dekat kampus," kata Edi. Menanggapi soal karyawan jutek maka ia menawarkan konsep mystery guest.

"...ngecek karyawan. Kita ada tim dibagi per- wilayah, salah satu tugasnya untuk cek kualitas pe0layanan," tutup Edi.

Seniman Kuningan Pengusaha Miniatur Ontel

Profil Pengusaha Heri Suryono


senimankuningan.png
 
Kisah pengusaha miniatur ontel. Merupakan bagian masyarakat Seniman Yogyakarta. Kreatifitas yang tak terbatas menghasilkan barang seni menarik. Seniman Yogya menghasilkan kerajinan kayu, kramik, aneka produk kulit, batik, kain tenun, olahan serat alam dan logam. 
 
Tetapi berbeda pengusaha miniatur ontel ini.  Heri Suryono khususkan menghasilkan kerajinan logam. Berbagai produk telah dihasilkan mulai minatur becak, dokar, dan ontel. Sukses pengusaha asal Kota Gede ini sudah mengikuti aneka pameran, seperti Inacraft. 
 
Ini merupakan salah satu pameran terbesar di Indonesia. Adapula pameran lain bernama Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI) yang mulai menarik perhatian.

Seniman Kuningan

  
Suryono merupakan pemilik Wilidi Craft. Usaha turun- temurun yang dipolesnya sedemikian rupa. Ia sukses berkat kreatifitas aneka miniatur becak, dokar, dan ontel sejak 1996. Latar belakang keluarga tentulah jadi alasan dirinya mahir. 
 
Tetapi kalau bukan karena kreatifitas maka hidupnya akan biasa. Pasalnya usaha milik ayah dan kakeknya berbeda jauh. Mereka mengerjakan usaha kerajinan cor logam kuningan.

Sementara pembuatan miniatur terkesan sepel. Padahal, kalau dilihat segi keuntungan, apalagi Yogya sebagai salah satu pusat kebudayaan; Suryono menang banyak. Pengetahuan tentang logam dimanfaatkan baik lewat produk modern. 
 
Walaupun fokus usaha di aneka minatur, jangan salah, Suryono masih mengerjakan usaha cor kuningan keluarga. Soal produksi kerjinan logam dirinya tidak segan turun tangan. Di bengkelnya terdapat aneka desain produk logam dan miniatur logam. 
 
Walidi Cor Kuningan -sekarang Wilidi Craft, mempunya 18 orang karyawan. Mereka terbagi enam orang mengerjakan kerajinan kuningan dan enam orang lagi akan bekerja di percetakan dan pengecoran. 
 
Usaha Suryono tidak pernah sepi dari pelanggan setiap hari. Meski pun sepi, Wilidi Craft menurutnya masih memproduksi barang untuk distok. Kendati demikian barang stok sudah terlebih dahulu diperhitungkan. 
 
Ia hanya membuat produk stok yang bisa dijual pasar ke depan. Wilidi Craft mampu memproduksi minatur sebanyak 400 unit per- bulan. Untuk produk cor kuningan lebih banyak karena sudah punya mesin yakni 500- 600. Pemasaran produk sampai di Bali, Jawa, Sumatra dan Kalimantan.

Untuk pasar ekspor akunya sudah masuk Malaysia, Singapura, Belanda dan Amerika Latin. Kegiatan rutin ekspor adalah pasar Malaysia dan Belanda. Guna meningkatkan daya jual maka mengikuti pameran menjadi salah satu cara Suryono sekarang ini.

Desain minatur pun bekembang tidak sebatas sepeda ontel. Mereka bisa membuat strika kuno, meriam, atau kalau kamu mau bisa lewat foto. Nah, satu ini yang membedakan usaha milik Suryono, dimana cuma modal foto sudah bisa jadi minatur peris. 
 
Pengalaman menarik usahanya adalah ketika pesanan dari Malaysia. Entah apa maksudnya mereka impor meminta tidak diberi lebel Made In Indonesia.

"Malaysia biasanya pesan kosongan, atau tidak ada label MadeinIndo (Indonesia)," paparnya. Tetapi untuk negara lain tidak terjadi hal semacam itu. 
 
Suryono cuma bisa mengiyakan saja. Dimana harga miniatur yang ukuran sedang Rp.65 ribu dan kecil Rp.45 ribu. Adapula ukuran mini dijual Rp.22.500 dan untuk becak mini seharga Rp.100 ribu.

Pembuat Mainan TK PAUD Pengusaha Fiber

Profil Pengusaha Sukses Sugiono


pengusahafiber.png

Pengusaha fiber tersebut bernama Sugiono. Hanya pembuat mainan TK PAUD, namun ia layak kita beri apresiasi. Sosok seorang manusia biasa yang beradu nasib berwirausaha. Setamat sekolah STM di Blora, dia pindah ke Solo dan bekerja serabutan. 
 
Mulai berjualan cilok, roti terang bulan, serta pekerjaan lainnya berkeliling kampung. Ide bisnis muncul ketika bersentuhan langsung dengan anak- anak. Bermodal ijasah STM -nya, Sugiono lantas melamar kerja ke sebuah perusahaan mainan elektronik.
 

Pengusaha Mainan PAUD


Cuma bekerja delapan bulan hingga mengantungi Rp.1 juta. Uang tersebut lantas digunakan untuk memulai usaha utamanya. Modal Rp.1 juta dijadikan produk papan seluncur anak TK. Ia cukup mencari tukang fiber yang biasanya digaji Rp.17.000 per- hari. Tidak mau setengah dikeluarkan uang Rp.45.000 per- hari. Inilah bukti bakat berbisnis seorang Sugiono terlihat.

Jadilah bisnis mainan anak ini berkembang. Semakin banyak pesanan, dirinya semakin percaya diri akan arah usaha kedepan. Meski begitu usaha barunya tidak begitu efektif. Usaha yang dimulai sejak 2004 ini cuma bermodal marketing door- to- door dari Pedan, Kelaten. 
 
Perlu usaha keras ekstra memang buat mainan fibernya laku tinggi. Akhirnya, Sugiono masuk ke ranah iklan di Internet, memanfaatkan berbagai situs iklan gratis.

Usaha tersebut berhasil membawakan pesanan besar. Suatu hari, dia ditelepon oleh sesorang asal Meulaboh, Aceh. Kala itu tengah diadakan proyek pembangunan playground pasca gelombang Tsunami. 
 
Semua untuk anak- anak Aceh yang tengah dirundung duka. "Itu pesanan pertama saya yang bernilai besar," kenangnya.

Semenjak itu pesanan datang tidak terbendung. Seperti pesanan dari Kota Bogor berupa 200 unit perahu bebek. Belum lagi pesanan dari Pantai Benter Purbalingga, Selecta Malang, hingga Sindrap Sulawesi. 
 
Ia juga mendapatkan pesanan dari mal- mal di kota- kota kecil. Mereka memesan kereta- kerat apian kecil beserta relnya dan paket wahana playground. Menjamurnya water park atau water boom di daerah, ternyata menimbulkan fenomena menarik. 
 
Orang pikir mereka adalah hasil buah karya orang Jakarta. Padahal kenyataanya tidak seperti pikiran kita. Siapa sangka bahwa beberapa wahana di Solo adalah hasil karya seniman lokal. Mereka merupakan pengusaha sekitar salah satunya adalah Sugiono.

"Ada orang Solo mencari pembuatnya ke Jakarta. Justru saat itu orang Jakarta sendiri yang memberi tahu bahwa mereka juga memesan dari Solo," ucap pemilik Rumah Fiber ini.

Tujuh tahun sudah sosoknya bermain di bisnis fiber. Sudah tidak terhitung berapa karyanya memanjakan kita dan anak kita. Fokusnya kini mengerjakan aneka pesanan water park. Nama Sugiono di Solo memang tidak begitu dikenal tetapi tidak di Jepara, Colomadu, Tasikmadu, dan Kudus. Dia lah sosok dibalik wahana air di kawasan tersebut.

"Sekarang saya sedang mengerjakan water park di Taman Puncak Sindrap, Sulawesi." tutunya kepada Solo Pos. Selain itu, usaha Rumah Fiber miliknya juga masih fokus mengerjakan yang kecil- kecil. Yang terbaru ia mengerjakan pesanan bak sampah pemerintah daerah dan perusahaan.

Juga termasuk mengerjakan wahanan mainan koin. Itu loh yang sering kita lihat dibeberapa mal ataupun di minimarket. Belum lagi pesanan buat taman kanak- kanak. Tidak terbayang sibuknya si mantan penjual cilok ini sekarang. 
 
Kalau memesan sekarang sudah dipastikan menunggu. Karena Rumah Fiber punya begitu banyak pesanan diterima. Sugiyono sendiri bukan karakter bekerja muluk- muluk. Pencapaian sekarang disukurinya karena memang masih buatan tangan. 
 
Pembuatan dan finishing menggunakan tangan menjadi andalan. Mungkin lebih berseni dibanding hasil karya perusahaan produksi masal.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba