Kisah Desainer Pakaian Barbie Linggra Kartika

Profil Pengusaha Linggra Karika


desainer linggra kartika
 
Memiliki kemampuan menjahit bisa dijadikan bisnis kreatif. Seperti desainer pakaian berbie bernama Linggra Kartika, pengusaha wanita yang berawal dari hobinya menjahit. Dia senang menjahit pakaian untuk saudara, lalu berkembang menjadi jasa menjahitkan ke teman- teman kampus.

Dia cukup mematok Rp.50 ribu perpakain. Hasil karyanya memang bagus sehingga laris manis. Dari kemampuan inilah dia menjajal menjadi desainer. Ia suka pakaian pesta baik untuk dewasa ataupun remaja. Perempuan 22 tahun ini lalu mengambil pasaran tersebut untuk awalan.

"Baju anak- anak lebih simpel," jelas pengusaha muda ini ke Tribun News.

Desainer Pakaian Anak


Linggra tidak berhenti di satu macam pakaian saja. Tidak pula berhenti hanya membuat untuk orang dewasa. Ia meresa lebih mudah membuatkan anak- anak. Kalau sukar paling di bagian detail, tetapi itupun tidak sedetail pakaian dewasa.

Namanya menjadi semakin terkanl berkat kolaborasi dengan artis. Dia dijuluki sebagai desainer anak tetapi bukan. Linggra lebih menyebut dirinya sebagai desainer serba bisa. Dibuktikan dengan fashion show yang bertema Ethnic Retro, ia tengah mengangkat motif yang tren di era 60- 80 -an.

Dia memanfaatkan kain organdi dan tulle. Sedangkan ciri khasnya di setiap karya, Linggra menyebut tulle selalu ada. Koleksi busana miliknya tidak melulu untuk pesta tetapi juga semi kasual. Untuk produk khusus anak, Linggra memberi nama koleksinya My Little L.

Pengusaha wanita lulusan International Business Management, Universitas Ciputra Surabaya ini, memiliki beberapa lini bisnis. Dia menamai lini bisnis pakaian kasualnya Milkha. Pakaian anak tema Ethin Retro memiliki warna terang, dari biru elektrik, peach, merah dan kuning.

Desainnya nampak elegan walaupun nampak sederhana. Dia juga menambahkan monte atau manik- manik. Potongan pakaian rok dan gaun nampak mengembang layaknya putri raja. Ketika hari kartini dia menambahkan kesan retro dengan aksen.

Ia memberikan kesan nampak kuno tetapi elegan modern. Walaupun bermain etnik, pandangan dia sebagai desainer anak sangat melekat. Linggra dikenal sebagai desainer pakaian pesata anak. Kisah desainer pakaian berbie ini, membuat pakaian ala putri Disney dengan gaun mengembang.

Dia belajar otodidak dengan tambahan kursus sana- sini. Tidak memiliki background mendesain tapi dia berhasil menunjukan. Selama kita memiliki passion, maka akan mengerjakan sesuatu dengan baik dan memuaskan hasilnya. Buktinya dia mampu menjual pakaian tembus Rp.1,5 juta peritemnnya.

Bicara kesuksesan ia memiliki pengalaman unik ketika merintis. Dia nekah mengontak Ciptra World untuk bisa tampil di fashion show. Kenekatan Linggra karena berani mengambil resiko, prinsipnya ialah "taken for granted", kesuksesan tidak datang begitu saja tetapi harus diperjuangkan.

Cara Entrepreneur Muda Pembuat Gae Koen Tok

Profil Pengusaha Abi Bayu

Abi Bayu bukanlah orang baru dalam bisnis clothing. Berikut cara entrepreneur muda pembuat Gae Koen Tok membangun. Bermula dari ide kemudian didukung oleh passion nya di entrepreneurship. Bayu tak menyangkan bisnis clothing line nya diterima, dan bahkan menjadi ikonik warga Surabaya.

Abi Bayu Gusti Kamajaja, pemuda kelahiran Surabaya, 28 Januari 1990, yang tak berhenti untuk berkarya. Dia sudah terbiasa mencari uang sendiri. Mulai dari model pakaian, menjadi MC acara pernikahan, ia kemudian membuka clothing line pada 2010 silam.

Sebagai mahasiswa Universitas Ciputra, tak salah kalau Abi memilih membuka usaha sendiri. Dia menyasar anak muda untuk target pasarnya. Mereka yang hobi mengenakan kaos, tetapi belum khas Surabaya. Abi membangun brand Gae Koen Tok, yang dalam bahasa berarti "hanya untuk kamu".

Ciri khas Surabaya diangkat melalui gambaran kaos. Awalnya dia bekerja bersama tiga temannya, tetapi mereka berhenti di tengah jalan. Abi tak pantang menyerah menjadi pemilik sekaligus pegawai satu- satunya. Lambat laun usaha yang dijalankan Abi menjadi terkenal dan ikonik Kota Surabaya.

Perjalanan Gae Koen Tok bisa dibilang mati dan hidup. Abi sama sekali tak paham mengenai bisnis fashion. Kenekatan itu cuma bermodal kemampuan menjual ke teman- teman. Agar Abi paham akan sistem bisnis distro, pada 2013, dia memutuskan untuk bekerja sebagai store manager.
 

Passion Pengusaha Muda


Dia melamar ke anaka fashion store sampai diterima. Abi diterima sebagai store manager di Salvatore Ferragami. Di brand asing tersebut, Abi belajar banyak mengelola sebuah distro dan memasarkan produk, pengalaman ini kemudian diaplikasikan ke bisnis Gae Koen Tok.

Dia bahkan mampu membuka cabang. Gae Koen Tok berjalan sangat baik bahkan tanpa dirinya. Ia menerapkan sistem profesional. Hingga, di tahun yang sama, Abi memutuskan untuk menjadi model pakaian. Abi sempat ragu karena tak pernah terjun di catwalk, tetapi dia mau mencoba hal baru.

"Pas di DBL Arena, ada talent show dari agensi modeling yang nawarin," tuturnya.

Baginya bisnis fashion merupakan passion -nya, jadi kenapa tidak dia menjadi model. Dia menerima tawaran tersebut. Abi diajari agensinya bagaimana jadi model. Entah karena bakat atau memang dia mudah paham, orang mengaggap Abi layaknya profesional.

Mereka mengajaknya ikutan Fashion Parade hingga Ciputra World Fashion Week. Dia juga ikutan ajang Natasha Award 2015, yang siangannya mereka yang sudah profesional. Pengalaman sedikit Abi tak membuatnya gentar ikutan. Dia beruntung bisa masuk babak final, padahal modalnya nekat aja.

Percaya diri merupakan kunci kesuksesan. Cara entrepreneur muda pembuat Gae Koen Tok ini adalah berusaha yang terbaik. Diterimannya dia menjadi store manager pun berkat kepercayaan diri. Ia nekat mengontak pemilik usaha itu via LinkedIn.

"Saya cuma bisa PD maksimal, dan berusaha memberika yang terbaik," ucap pengusaha ini.

Soal menjadi MC, dia mengakut ikut management bernama 86 Management, yang mana dia ngehost secara otodidak. Sedangkan Gae Koen Tok masih dijalankan kok, bahkan mampu menggaet banyak pelanggan luar negeri.

Ia mampu membuat bisnisnya berjalan otomatis. Bisnis Gae Koen Tok tetap berjalan, meskipun si empunya banyak kegiatan. Selain menjadi model Abi juga suka berolah raga, tujuannya agar hidup sehat dan membentuk tubuh. Bisnis cinderamata ala Gae Koen Tok pun tak terbatas pada bisnis kaos.

Abi membuat mug, topi, pin, dan kaos polo. Awal tujuan bisnisnya ialah melihat kesuksesa Dagadu dan Joger. Keduanya memberikan kesan bahwa "kalo gak bawa ini belum ke Bali atau Yogya". Abi pun ingin menjadi Gae Koen Tok layaknya bisnis tersebut.

Dalam sebulan bisnisnya mampu meraup Rp.20 juta sampai Rp.30 juta. Sudah sukses tak membuat Abi foya- foya. Dia memilih untuk membagi ke sesamanya. Ia memberikan bantuan dana SSCS yaitu dengan menjual kaos Rp.89 ribu dan kaos 15 ribu, yang kemudian diberikan ke anak jalanan.

Definisi Sukses Menurut Pengusaha Muda Sosial

Profil Pengusaha Hafiza Elfira


pengusaha muda sosial

Definisi sukses bagi setiap orang berbeda- beda. Menurut pengusaha muda sosial ini, semuanya itu tentang berbuat baik ke sesama. Hafiza Elfira tidak memandang berwirausaha adalah banyak uang. Ia mangatakan wirausaha harus membantu banyak orang.

Dia memberdayakan para penderita kusta. Mereka diajari untuk berwirausaha hingga mandiri. Elfira bukan sekedar mengajarkan tetapi memberi bukti. Bagi penderita kusta sama halnya dengan manusia biasa. Perbedaan mereka dengan yang normal sama, hanya fisik mereka berkurang kemampuan.

Dengan ulet Hafiza mengajarkan mereka penuh keyakinan. Hafiza memiliki keterampilan menjahit manik- manik. Hafiza membuat manik untuk hijab agar tampil lebih elegan. Nalacity Foundation yang didirikannya bersama membesarkan bisnis ini, namun apakah semudah itu perjalanan Hafiza.

Menolong Orang Agar Sejahtera


Hafiza bukanlah orang biasa tetapi lulusan Universitas Indonesia. Dia berkuliah jurusan perawatan, kelahiran 22 September 1990, di Jakarta. Hafiza atau yang akrab dipanggil Fiza merupakan CEO dari Nalacity. Ia pernah menjadi mahasiwi berprestasi dan aktif berorganisasi, Nalacity Foundation.

Nalacity Foundation digagas sebagai program wirausaha sosial Universitas Indonesia, melalui satu program bernama Indonesia Leadership Development Program (ILDP). Proyek sosial ini lalu terus berlanjut dibawah tangan dingin Fiza.

Berawal dari ide cemerlanya bersama empat orang kawan kuliah. Mereka memberdayakan ibu- ibu rumah tangga. Ibu- ibu ini merupakan mantan penderita kusta yang telah sembuh. Walaupun sudah dianyatakan sembuh oleh RS. Dr. Sitanala, mereka tak bisa bekerja dan membantu ekonomi keluarga.

Pandangan miring diberikan kepada mereka mantan penderita kusta. Bisnis menghias hijab dengan manik- manik. Produk mereka mampu menarik banyak konsumen dari pasaran. Ini yang mengangkat namanya sebagai salah satu pengusaha muda sosial sukses.

Sebagai mahasiswa mereka diajak mengadakan kegiatan sosial. Nah, suatu hari salah satu temannya, melewati kawasan yang nampak memprihatinkan di Tangerang. Di jalanan banyak orang mengemis, menyapu jalanan, dan sebagian mereka jadi tukang becak, bila dicermati mereka berbeda dari kita.

Fisik mereka telah berubah akibat penyakit kusta yang sembuh. Penyakit kusta memang menular dan merubah fisik seseorang. Namun apabila telah sembuh yang tersisa cumalah cacat fisik. Walaupun belum sembuh, penyakit kusta sangat susah untuk ditularkan, kecuali terkena kontak kulit yang luka.

OYPMK atau Orang yang Pernah Menderita Kusta sangat dikucilkan. Awalnya mereka enggan untuk bergabung karean stigma. Hanya lima orang OYPMK yang ikut bergabung dengannya. Produk milik mereka juga berkembang pesat, dan membutuhkan lebih banyak pegawai.

Tetapi banyak ibu- ibu yang memilih keluar dari sana. Ada banyak alasan, tetapi akan ada orang baru lagi, tetapi akan keluar lagi hingga cuma ganti orang. Kualitas yang bagus menarik banyak pembeli, sampai pesananan sulit dipenuhi. Fiza tetap bertahan bahkan merambah memproduksi produk sendiri.

Definisi sukses baginya tidak semata menghasilkan uang. Pengusaha muda sosial ini bertahan dan bisa seperti sekarang. Bertahap pula para mantan penderita kusta ikut bergabung ke bisnis ini. Apa dia langsung sesukses sekarang, ternyata tidak karena mereka berbisnis sangat jujur.

Nalacity memberikan label dibuat oleh mantan penderita kusta. Efeknya penjualan di awal- awal sangat sukar. Mereka bahkan harus mengedukasi masyarakat terus- menerus. Ibu- ibu yang bekerja di sana sangat pekerja keras dan terampil, alhasil produknya sangat laku dipasaran.

"Nalacity tumbuh dengan tujuan memandirikan ibu- ibu dari orang yang pernah menderita kusta di Sitanala, Tangerang. Ibu- ibu ini dilatih untuk membuat jilbab, bros, serta pakaian yang cantik, elegan, dan sarat akan makna kekeluargaan," tuturnya tentang apa itu definisi sukses.

Mantan Aktivis Kampus Menjadi Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Rony Suhartono


pemilik raja kaos
 
Alkisah Rony Suhartono yang menginspirasi anak muda Indonesia. Seorang mantan aktivis kampus yang menjadi pengusaha muda. Dia sukses berbisnis kaos distro bernama Radja Kaos. Dalam sebulan Rony menghasilkan 1 miliar rupiah, dengan bermodal kondisi yang pernah dialaminya di kampus.

Suasana politik yang musiman terkadang memanas ketika Pilkada. Rony memang tak bisa lepas dari politik Indonesia, tetapi kali ini dengan meraup untung. Fakta Pilkada menghabiskan banyak budget bagi para calon. Nah, inilah gilirannya meraup untung, Radja Kaos menawarkan kaos politik calon.

Para politisi akan memesan kebutuhan kampanye ke Radja Kaos. Pilkada yang digelar menghasilkan pesanan sampai 200.000 potong untuknya. Radja Kaos bahkan mampu mendapatkan 500.000 potong kaos. Pengusaha muda ini kala itu mampu menghasilkan omzet sampai Rp.2 miliar rupiah.

Pencapaian bisnis sudah dirasakan ketika usia masih 25 tahun. Bisnis Rony bukanlah tanpa berjuang, dirinya hanyalah anak muda yang biasa saja. Anak ingusan asal Tuban, Jawa Timur, yang sedari kecil terbiasa hidup pas- pasan. Kedua orang tuanya hanyalah guru yang dibayar ala kadarnya setiap bulan.

Aktivis Kampus Jadi Pengusaha


Dia hanyalah anak seorang guru honorer yang hidup pas- pasan. Putra sulung dari tiga saudara yang tergolong pintar. Ia selalu rangking satu hingga menjadi siswa teladan. Rony berhasil masuk ke SMP dan SMA terbaik Tuban. Selain jadi ketua OSIS, Rony juga menjabat aktivis keagamaan di sekolah.

Lulus SMA dirinya sadar bahwa sulit buat melanjutkan kuliah. Dia tak bermimpi melanjutkan untuk berkuliah. Suatu hari teman Rony menantang dirinya untuk berkuliah; dia menerima. Rony kemudian memilih Jurusan Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, dan akhirnya diterima masuk.

Tetapi bukannya senang malah membuat ayah Rony pusing tujuh keliling. "Kami tidak punya uang untuk daftar ulang," ia mengenang. Alhasil ayahnya menjual dua kambing peliharaan untuk biaya ke Jakarta. Ayah Rony menjual Rp.600.000 dimana menjadi modal untuknya hidup di Jakarta.

Tahun 1994, Rony hidup sendiri di Ibu Kota, bermodal uang seadanya berjalan keliling kebingungan. Dia butuh tiga hari untuk menemukan kampus Universitas Indonesia. Rony bahkan berjalan kaki dari Salemba ke Depok. Belum hilang lelah, Rony kaget karena biaya pendaftaran mencapai Rp.800 ribu.

Uang bekalnya yang cuma Rp.600 ribu sudah dipakai sebagian. Mau kembali ke Tuban, Jawa Timur, dia butuh waktu tiga hari dan butuh biaya. Alhasil Rony terancam tak bisa masuk ke UI karena gagal daftar ulang. Pengusaha sukses ini nekat menemui Rektor UI untuk penangguhan pembayaran.

Beruntung dia berhasil tetapi masalah kembali datang. Rony tidak bisa membayar uang sewa pondok, dan dia harus tinggal di masjid UI. "Saya biasa tidak pegang uang berbulan- bulan," ia melanjutkan. Dia juga tak bisa bergantung dengan kiriman orang tua, dan terpaksa mencari cara agar bisa makan.

Ia tak ragu untuk membantu pedagang pecel lele. Upahnya cukup diberikan satu porsi untuk makan malam. Kalau pedagang pecel sepi, dia tak enggan mencabut singkong liar di kawasan Universitas untuk dimakan. Biaya kuliah lain lagi, dia harus memutar otak lebih keras dibanding untuk makan saja.

Sambil berkuliah, dia berjualan teh botol keliling kampus tanpa malu- malu. Bisnis lain yaitu dia memberi jasa menulis catatan kampus. Ketika malam tiba, Rony terkadang berjualan buah di Pasar Minggu, dan uangnya dikumpulkan sedikit- demi sedikit untuk membiaya kuliah.

"Lumaya bisa buat bayar SPP," kenangnya.

Tahun 1997 genderang reformasi bergema diantara mahasiswa kampus. Ia sebagai mahasiswa, ikut menyalakan semangat reformasi, dan berhasil menggulingkan rezim Orba. Jangan salah, Rony ini bukan orang sembarangan, dirinya sangat bersemangat hingga diangkat menjadi ketua BPM UI.

Dia sangat lama berkuliah karena jadi aktivis. Saking lamanya rektor sampai menanyakan hidupnya, dan menawarkan bisnis. Dia ditawari untuk membuka usaha konveksi untuk perlengkapan mahasiswa baru. Bertahap Rony belajar menjadi pengusaha muda, hingga nama Radja Kaos bisa dibangun nanti.

Rony mengehubungi pedagang penyedia kaos di Jembatan Lima, Jakarta Barat. Ia mulai mengerjakan bisnis konvekis hingga berkembang. Berkat kerja kerasnya banyak perusahaan menitipkan jasa untuk konveksi. Pengusaha muda ini kemudian berkembang sampai mampu melayani kaos partai.

Dia mampu melayani pesanan untuk Pilgub maupun Pilkwalkot. Rony juga melayani pesanan kaos untuk partai politik. Alhasil bisnisnya semakin berkembang higga tak terbendung. CV. Radja Kaos sekarang juga menyiapkan jasa sepanduk dan poster. Semoga bisa menjadi inspirasi buat wirausaha muda.

Pemilik Klinik ZAP Pengusaha Fadli Zahab

Profil Pengusaha Fadly Sahab


pengusaha pemilik zap

Siapakah pemilik klinik ZAP pasti kalian penasaran. Pengusaha Fadly Sahab bercerita sedikit kepada CNBC Indonesia. Sejak dulu pengusaha satu ini memang memiliki passion di bisnis. Aneka usaha ia pernah jalankan dan gagal, mulai dari bisnis tempat wisata outbond dan aneka bisnis kuliner.

Pengusaha kelahiran 11 Agustus 1984 yang pernah jualan di jalanan. Ia bersama teman pernah buka bisnis kafe tenda. Hingga bencana gempa bumi melanda dan mengguncang Fadly. Usahanya tak jadi berkembang karean hancur, dan akhirnya Fadli memutuskan berhenti karena tak punya modal.

Dia lalu membuka bisnis training outbond di Solo. Tetapi kembali alumni Universitas Gajah Mada, jurusan Studi Perencanaan Pembangunan ini, mengalami kegagalan. Tidak semudah dibayangkan ia mengaku bisnis tak laku. Kostumer tidak memberikan feedback sesuai yang diharapkannya.

Alhasil Fadli bekerja kantoran untuk menyambung hidup. Hanya jiwa kewirausahaan itu masihlah membara. Bekerja sebagai surveyor product & development 3 tahun, Fadli  makin memahami konsep bisnis dan marketing lebih dalam. 

Ide Bisnis Kapan Saja


Pemilik klinik ZAP ini menjelaskan ide bisnis bisa tiba- tiba. Ia yang memang mudah bergaul mulai menemukan ide. Fadli bercerita pernah dicurhati teman- temannya mengenai rambut. Mereka yang kesulitan menghilangkan bulu halus, kalau salon ada tetapi untuk menghilangkan bulu masih susah.

Ia menyadari bahwa mereka butuh tempat khusus. Sebuah klinik yang membuka jasa penghilang bulu tubuh. Di situlah, Fadly memberanikan diri meminjam uang sampai Rp.50 juta, semua itu dipinjam dari keluarga bukan dari bank atau jasa pinjaman.

"Tim saya sendiri dengan satu therapis karena hanya doing hair removal dan pinjam mobil bapak untuk kelilinga," tuturnya.

Dia sama sekali tidak memiliki klinik pada awalnya. Bahkan mereka harus menawarkan dari pintu ke pintu. Ia bermodal 50 juta yang sebagian besar hutang keluarga. Namun Fadli yakin walaupun begitu ternyata tak semudah dibayangkan.

Pengusaha ini tidak memiliki alat yang layak untuk treatment. Alhasil pelanggan pertama Fadli hanya teman- teman warga negara asing. Biaya perawatan kala itu ia jelaskan hanya seratus ribu atau masih terbilang murah. Bertahap permintaan meningkat, ia harus membuka tempat untuk klinik perawatan.

Ia menyewa tempat 2,5 cm x 3 cm dengan sewa Rp.2 juta perbulan. Sejak 2013- 2014 keuntungan klink miliknya meningkat hingga cukup buat iklan. Dia mulai beriklan dengan Facebook dan berhasil sekali. Bertahap dia membuka klinik berstandarisasi internasional untuk treatment pelanggan.

Membuka ZAP merupakan hasil keluhan dan feedback teman- teman. Berkat beriklan di Facebook usaha Fadli semakin laris. Namun dia tidak mudah puas, awal- awal mematok harga sangat murah yakni Rp.100 ribu, kini dengan klinik terstandarisasi jangan ditanya biaya perawatan setiap kali.

"Terus terkenal karena saya iklan di Facebook, bikin website sendiri dan layanan chat sendiri," jelas pengusaha sukses Fadli Zahab.

Wirausaha Harus Serba Bisa


Pada dasarnya kita harus mengetahui seluk- beluk dari bisnis sendiri. Ia selain pemilik juga menjadi marketing untuk ZAP. Awal- awal dia menyerahkan soal layanan kepada Dokter Dermatologi. Dia tak mau main- main, tetapi mengerti cara kerjanya, sembari itu mulai memasarkan bisnis ZAP lagi.

ZAP Clinic tumbuh menjadi ikon gaya hidup milenial. Kesadaran akan kesehatan serta tuntutan gaya hidup membuat ZAP tumbuh. Sebagai pelopor bisnisnya berkembang seperti bisnis dari luar negeri saja. Banyak orang menyangka bahwa ZAP merupakan brand asing, tetapi faktanya ini 100% lokal.

Ia juga merambah bisnis selain hair removal, seperti perawatan kulit hingga bisnis kosmetik. Menjadi wirausaha memang harus serba bisa. Berkat aneka promosi melalui sosmed brand ZAP tumbuh. Ia bahkan mengantongi omzet sampai ratusan miliar, dan siap untuk berekspansi ke model bisnis lain.

Wirausaha memang harus serba bisa untuk segala bisnis. Fadli telah memiliki 15 cabang dan akan menjadi 50 klinik 2018. Dia juga bercencana membuka usaha lain seperti rumah sakit. Ia menarget bisnis rumah sakit anak ala ZAP, yang berkonsep hotel bintang 5 diharapkan menggaet banyak orang.

Kemudian timbulah ide membangun ZAP for Men. Diharapkan menggaet kaum milenial dan para eksekutif muda. Mereka yang malu- malu untuk hari removel cukup ke ZAP. Apakah bisnis ini memilik masa depan, faktanya milenial menghabiskan sampai 50 juta untuk perawatan tubuh saja.

Agar tak terkesan untuk kalangan menengah ke atas, mereka berinovasi. ZAP Clinic menawarkan paket grade A- C dengan pembayaran tahunan. Semakin ke depan perawatan tidak hanya soal rambut dan wajah. Bisnis estetik telah berkembang pesat dari sekedar salon, menjadi klinik dan resort.

Pengusaha Muda Unika Bisnis Cheese Cake

Profil Pengusaha Selvi Septiana dan Novi Sungkar


 
Pengusaha muda Unika Seogijapranata ini tak menyangka. Siapa sangka bisnis cheese cake kecil itu berubah menjadi penghasilan tetap. Dua mahasiswi cantik yang memiliki permasalah sama, suka beli kue terutama cheese cake tetapi merasa terlalu mahal, dan akan lebih murah bila masak sendiri.

Harga cake terlalu mahal jadi keduanya memilih masak sendiri. Dari ise membuat kue sendiri, lalu mereka jajakan kepada teman- teman kampus. Mereka adalah Novi Sungkar (22) dan Selvi Septiana (22), yang dimulai enam bulan sejak Januari 2015.

Mahasiswi Teknologi Pangan, Unika Soegijapranata, yang memberi nama usaha mereka SS Cheese Cake. Mereka menawarkan cake dalam toples yang serius digeluti. Walau mereka baru menjual cake tersebut di sekitaran Semarang, dalam kurun waktu 6 bulan sudah laris manis hingga berlanjut.

Pengusaha Wanita Inspiratif


Aneka varian ditawarkan SS Cheese Cake, seperti rasa original, oreo, greetea, chocoreo, ovomaltine, nutela dan red velvet. Mereka memanfaatkan sosial media sebagai linimasa promosi. Ide membuat varian wadah dalam toples, bermula ketika pernah mereka membeli cake untuk dibawa pulang.

Mereka ingat betul betapa ribetnya mengirim kue. Timbulah ide memakai toples kaca untuk wadah agar bisa dikirim ke manapun. Bukan pengusaha muda sukses kalau tanpa masalah dihadapi. Mereka menghadapi permasalahan modal, merintis usaha tidak mudah apalagi keduanya masih mahasiswa.

Shannon dan Selvi bertekat untuk melanjutkan usahanya. Alhasil masalah perputaran modal tersebut bisa diatasi. Keduanya semakin percaya diri ketika mampu menjual 15000 jar. Rekor yang mereka miliki menjual 45 jar satu orang, dan pengiriman terjauhnya sampai ke Tangerang.

Sebagai pengusaha wanita inspiratif mereka memiliki moto: "Jangan pernah takut mencoba, jangan terkendala dengan keuangan, karena dari situlah akan menjadi kreatif," tutur Shannon.

Apakah menjalankan wirausaha membutuhkan kenekatan. Memang karena kita diajarkan berenang dalam ketidak pastian. Kedua pengusaha wanita inspiratif ini menyadari, dan terus berinovasi untuk menggaet lebih banyak pelanggan.

Mereka juga memiliki cita- cita untuk membuka bakery cafe. Ingin rasanya membangun tempat buat menikmati bakery dengan modern. Mereka ingin membangun suasana nyaman untuk kumpul. Dua mahasiswi ini kemudian menyemangati kita untuk berwirausaha walaupun masih kuliah.

Pengusaha Muda Eksportir Burung Walet Yogi

Profil Pengusaha Yogi Pramadani


pengusaha muda sarang burung walet
 
Nama pengusaha muda eksportir burung walet, Yogi Pramadani. Suksesnya tidak lah semudah yang anda lihat. Dia pernah menjalankan aneka usaha dari digital hingga konvensional. Pemuda 23 tahun yang tak takut resiko, ayahnya seorang PNS dan ibunya petani, mengumpulkan modal 40 juta untuk bisnis ini.

Ia memiliki prinsip membangun koneksi. Berbisnis bukan sekedar uang pribadi, tetapi bersama- sama membangun perusahaan. Dia bermodal uang 40 juta dari orang tua. Kemudian Yogi mencari patner dan bertemulah dengan Tio Roslitiawan (26), yang kemudian bersama merintis usaha.

Bukan masalah gampang, karena Yogi harus belajar banyak tentang walet. "Cari patner dan koneksi. Dari situlah semuanya berawal saya membangun perusahaan ini," ujarnya.

Optimisme Pengusaha Muda


Yogi bercerita sebelumnya pernah bekerja di Jakarta. Bukan sekedar keuntungan, dia juga ingin untuk membangun kehidupan sosial masyarakat Bengkulu. Ruang lingkupnya dianggap cocok untuk usaha budidaya walet. PT. Karya Raflesia begitu nama perusahaanya, yang mampu ekspor sampai ke negeri China.

Belum lama usahanya berjalan omzet Yogi mencapai ratusan juta. Tetapi dia tidak sembrono untuk berfoya- foya. Pengusaha muda satu ini dikenal memiliki gaya anak muda, tetapi sederhana. Yogi lebih memilih untuk fokus mengembangkan usaha. Alhasil perusahaan Karya Raflesia menghasilkan miliaran.

Disela- sela aktivitas ia masih berkuliah jurusan agrobisnis. Yogi juga mengerjakan aneka usaha lain dibawah naungan Raflesia Corp. Dari hanya memiliki 30 orang karyawan, Yogi mempekerjakan 700 orang lebih karyawan. Dia mengatakan bahwa tujuan berbisnis, tidak lagi untuk membuka lapangan kerja.

Perusahaan ini menjadi satu- satunya yang memilik syarat wajib. Bagi karyawan perempuan Muslim diwajibkan memakai jilbab ketika bekerja. Perushaaan juga memberikan kemudahan untuk karyawan beribadah. Dengan mengembangkan prinsip ini, terbukti perusahaanya semakin maju dan untung.

Bengkulu sendiri bukan wilayah pertama budidaya walet. Banyak persaingan dengan usaha sejenis di sini. Yogi tak ragu walaupun harus bersaing. Bahkan dia mengembangkan anak usaha yang diluar bisnis sejenis. Prinsipnya sebagai wirausahawan muda harus banyak pengalaman dan berkembang.

Ia merupakan pemilik Raflesia Nest, Raflesia Food, Warta Raflesia, Pesona Raflesia, dan bahkan satu tim eSport, Raflesia Esport. Di tahun 2024, harapannya untuk menjadi perusahaan global yang bisa memberi manfaat, salah satunya membuka lowongan pekerjaan untuk pemuda- pemuda Bengkulu.

"Kualitas walet di sini sangat bagus, serta pengolahannya sangat terampil, oleh karena itu kami ajak kerja sama," ujarnya, yang baru- baru ini mengajak kerja sama perusahaan Shanghai.

PT. Karya Raflesia Mandiri mampu menghasilkan 50 kg perbulan, dengan estimasi perkilonya Rp.30 juta. Saat ini perusahaanya mampu menembus pasar ekspor ke China, dengan pembeli yang dikenal sangat teliti dan kritis akan kualitas. Dia bersyukur walaupun baru buka perusahaanya mampu tembus ekspor.

Bisnis Coklat Tempe Linda Raup Jutaan Rupiah

Profil Pengusaha Linda Ivone


bisnis coklat tempe
 
Kreativitas tanpa henti membuat Linda jadi pengusaha. Berkat bisnis coklat tempenya, Linda Ivone Manuputty mampu menembus pasar luar negeri. Pengusaha wanita kelahiran Ambon ini mengatakan bahwa produknya spesial. Bukan sembarangan memakai tempe melainkan yang berkualitas tinggi.

Produk racikannya disejajarkan dengan coklat berisi almond. Bila biasanya tempe dijadikan teman makan nasi, sekarang oleh Linda jadi isian coklat. Hasilnya tidak kalah crunchy dibanding coklat berisi kacang apalagi almond.

Tempe Dijual ke Luar Negeri


Bisnis coklat tempe bermerek "Edun" mampu dibuat sangat sederhana. Warga Komplek Padasuka Ideal Residence Blok D2, No. 11, RT 03 RW 12, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Dia membuat coklet cukup dirumah saja, rasanya gurih manis dibuat dengan peralatan sederhana.

Tidak mudah karena dia membutuhkan pengalaman lama. Selama 8 tahun barulah produk itu bisa menghasilkan setara coklat ternama. Linda menjelaskan sudah 5 tahun semenjak dirinya berbisnis. Ia melakukan semua berbekal coba- coba alias trial and error.

Segala uji coba ia lakukan untuk menghasilkan tekstur, ukuran tempe yang pas, dan rasa sempurna. Ia menciptakan coklat tempe crunchy atau kriuk. Dia berkisah bahwa Dominico, putranya yang berusia 13 tahun, tidak menyukai tempe padahal makanan ini begitu populer di masyarakat.

Dia kemudian berinovasi untuk menghasilkan produk kesukaan. Ia mempunyai ide menggabungkan coklat dan tempe. Tidak mudah karena itu saja belum cukup membuat suka "Awalnya anak saya tidak menyukai tempe. Saya berpikir keras agar anak saya tau tempe mengandung manfaat," tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa anaknya menyukai coklat. Dia kemudian gabungkan dan hasilnya memuaskan. Linda lantas menjualnya di Instagram @ivonelinda33, pengusaha wanita ini lalu menawarkan ke reseller, darinya dijual Rp.6 ribu dan pihak reseller bisa menjual sampai Rp.10 ribuan.

Linda tak hanya berhenti disebatas membuat coklat tempe. Ia mengembangkan aneka rasa dari yang pedas, dan orginal. Tidak cuma tempe kemudian juga ia membuat coklat kacang. Sukses Linda bisa menggaet pihak Dinas Pariwisata Jawa Barat, yang memesan coklat tempe sampai satu kuintal.

Alhasil produk coklat tempenya bisa melenggang sampai ke luar negeri. Dia menjual ke Amerika, Jepang, dan Hong Kong. Dari Nevada, Amerika Serikat, dirinya mengikuti pameran kuliner. Mereka warga Amerika menyukai produknya, bukan karena coklatnya melainkan karena isi tempe itu sendiri.

Awal dia sangat bekerja keras karena ini tidaklah mudah. Memperkenalkan produk baru sangat sulit diterima pasar. Untuk menyambung hidup bisnisnya, dia juga menjalankan bisnis sampingan jadi translator Mandarin, Kanton, dan Phong Thung Hwa untuk berbagai perusahaan di Jawa Barat.

Ketika ada orang China yang berkunjung ke perusahaan, maka Linda mencari celah untuk melakukan promosi coklat tempenya. "Alhamdulillah banyak yang suka dan pesan," tutup Linda, mengakhiri percakapan dengan pihak Detik.com

Pemilik Snazzy Boom Wirausaha Makanan Jadul

Profil Pengusaha Ryan Angkawijaya


pengusaha arumanis snazzy boom

Prospek bisnis kuliner terutama jajanan terbuka luas. Pemilik Snazzy Boom wirausaha makanan jadul ini contohnya. Pengusaha muda bernama Ryan Angkawijaya, merasakan betul kesuksesannya berkat inovasi berlanjut. Ryan tak ingin makanan jadul ini hanya akan dikenang atau hilang dari peredaran.

Dia mengaku bekerja keras untuk mengangkat jajanan ini. Ryan mampu membuktikan makanan yang hampir punah ini bisa dikembalikan. Restorasi jajanan yang disebut rambut nenek ini, diinovasikan dengan cita rasa modern. Dia mengisahkan bisnis rambut nenek tidak serta merta menjadi nyata.

Ryan pernah membuka usaha dibidang konveksi. Anggapan bahwa bisnis jenis ini masih memiliki banyak peluang, faktanya Ryan bangkrut. Dia juga pernah terkena tipu oleh orang kepercayaanya. Ia menyebutkan total kerugian sampai ratusan juta.

"Dan memaksa saya harus menjual semua alat- alat konveksi saya," tuturnya.

Pengusaha muda ini menjual apa saja untuk menutup kerugian. Kondisi keuangannya terpuruk, cuma menyisakan uang dikantong Rp.3 juta saja. Dia hampir putus asa. Tetapi ide bisnis bisa datang kapan saja loh, dia waktu itu bertemu seorang teman yang memiliki bisnis arumanis rumahan.

Wirausahakan Makanan Jadul


Pertemuan tersebut membuatnya terusik ingin mencoba. Ingin rasanya dia mengetahui segala tentang rambut nenek. Dia menyadari bahwa jajanan ini telah punah di pasaran. Pedagang kaki lima jaman sekarang lebih memilih berjualan cilok, batagor, dan jajanan lainnya.

Arum manis atau rambut nenek yang hampir punah ini, membuat Ryan semakin penasaran untuk bisa membangkitkan kembali. Ryan memutuskan untuk menggeluti bisnis makanan jadul ini. Namun dia membutuhkan penelitian lebih lanjut, dan menemukan jalannya dengan temannya yang satu lagi.

Dia bertemu seorang teman di suatu acara pernikahan. Mereka kemudian berbincang serius tentang arumanis. Teman sekolahnya dulu itu mengeluhkan ingin makan arumanis lagi, tetapi dia kesulitan untuk menemukan itu.

Akhirnya dia mantap, untuk mengembangkan bisnis jajanan jadul arumanis atau rambut nenek. Dia melakukan riset terlebih dahulu. Akhirnya pada 11 Januari 2017, pengusaha muda ini meluncurkan bisnis rambut nenek yang bernama Snazzy Boom, yang tidak mudah langsung sukses begitu saja.

Visi perusahaan kecilanya tidak lah semudah dibayangkan. Ia ingin menaikan pamor arumanis seperti dulu. Misinya bagaimana mengemasnya agar tidak punah dimakan jaman. Pengusaha muda ini betul merasakan tidak semudah dibayangkan, 2- 3 bulan pertama merupakan bulan terberatnya berbisnis ini.

"Segala strategi dan riset yang saya lakukan mengalami kegagalan," ia berujar.

Ia bercerita bagaimana cuma laku 5- 10 pcs saja. Bahkan bisa sampai tidak laku sama sekali alias dia merugi. "...bahkan lebih sering tidak laku sama sekali," kenangnya. Aneka startegi marketing Ryan pernah mencoba, dari menjual langsung di jalanan, ke dalam mall- mall, dan masuk pasar tradisional.

Pengusaha Siap Bangkrut


Ryan pernah diusir dan diamankan petugas satpam, bahkan dituding jualan narkoba. Dia kemudian memutuskan rehat sejenak selam 2 minggu. Beruntung dia tidak sendirian, bersama beberapa orang yang satu tim, mereka belajar lagi, mengevaluasi semua aspek, dan berpikir caranya gimana.

Mereka melakukan kembali rebranding, packing, menarget baru, positioning, dan lain- lain. Jujur dia sempat ketakutan karena dituding jualan permen narkoba. Tetapi semuanya diperbaiki, Ryan lalu bangkit kemudian menjual kembali, hasilnya 1000 pcs dan merekrut 300 reseller untuk 1 minggu.

Kamu bayangin dulu dia jualan 10 pcs saja setengah mati. Sekarang Ryan mampu menjual lebih dari seribu perbulan. Namun masalah belum selesai ya, karena rekan bisnisnya memilih keluar, dan sangat berefek kepada bisnis Snazzy Boom.

Dia jatuh kembali ke titik dasar. Dari semua karyawan hanya menyisakan satu orang bertahan. Sosok karyawannya ini sangat setia, berdedikasi, dan menyamangati Ryan. Ia pun berjanji akan menaikan derajat karyawannya ini. Dia sangat menghargai karyawan tersebut meskipun cuma lulusan SMP.

Ryan mampu mendorong bisnis kembali bangkit, dan menepati janjinya kepada sang karyawan. Ia bisa menggaji karyawannya itu hingga membeli rumah. Bertahap bisnis Snazzy Boom bangkit hingga mempunyai karyawan banyak, tetapi dia kemudian ditipu oleh karyawan adminnya.

Dia ditipu sejak November 2017, dan baru menyadari penipuan tersebut pada Agustus 2018. Ini yang membuatnya mengibarkan bendera putih alias bangkrut lagi. Hati kecilnya masih belum menyerah untuk mencoba. Dia berpikir pasti ada jalan, dan singkat cerita Ryan merombak semua sistem kerja.

Snazzy Boom memulai dari awal belajar dari kesalahan. Ryan merombak dari sistem produksi, tim penjualan, dan semua kini lebih tertata. Perombakan tersebut menghentak kesuksesannya menjadi 3 kali lipat. Snazzy Boom mampu merekrut 3000 reseller, 30 distributor, dan tersebar seindonesia.

Ryan mampu membuktikan bahwa bisnis seperti tak kalah. Dia mampu menghasilkan omzet Rp.250 juta. Mitranya bahkan mampu menjual 3 ribuan pcs sendirian. Setiap mitra Snazzy Boom mendapat untung Rp.5 ribu per- pcs, yang menjual aneka rasa mulai dari cokelat, melon, durian, nanas, dll.

Dia pun diganjar aneka penghargaan mulai dari daerah sampai nasional. Ryan juga memenangkan dana Wismillah Success Challenge 2018. "Perjuangan itu seperti arumanis, jika tekun menjalaninya akan terasa manis pada akhirnya," tutup pemikik Snazzy Boom, Wirausaha makanan jadul ini.

Game Viral Flappy Bird Pengusaha Dong Nguyen

Profil Pengusaha Dong Nguyen


game viral flappy bird

Kisah game ini sangat unik karena tingkat keviralan mendunia. Game viral Flappy Bird, inilah kisah pengusaha Dong Nguyen, yang "menyesal" telah membuat game ini. Walaupun secara tampilan yang sangat meniru game populer Mario Bros, serta aspek- aspek lain yang dianggap tidak orisinal; tetap menuai sukses.

Pasalnya game ini sangat mudah dimainkan, tetapi susah untuk ditamatkan. Prinsip endless point nya membuat game Flappy Bird bisa sangat membosankan, tetapi menantang. Para pemain hanya akan melewati sela pipa, tanpa ada batasan garis finish, yang ada hanyalah skor yang tercantum, dan suara koin.

Bahkan tingkat kesulitan pun tak berkembang, tidak ada evolusi pada pipa atau cara main. Jika di Mario Bros ada trik kekuatan, variasi tempat, dan tambahan tantangan; Flappy Bird monoton. Namun anehnya pemain sangat adiktif untuk memainkannya.

Dong Nguyen seorang pria 29 tahun, asal Van Phuc dekat Hanoi, Vietnam. Dia sangat suka dengan permainan Super Mario Bros. Sejak kecil usia 16 tahun ia sudah mengenal dunia koding, dan pada usia 19 tahun, memenangkan kesempatan intern Punch Entertainment, satu dari beberapa perusahaan game.

Game Legendaris Viral Sepanjang Masa


Suatu ketika dia menggunakan iPhone, Dong menemukan bahwa game viral kala itu Angry Bird itu terlalu sulit. Dia membutuhkan game yang lebih sederhana seperti Pong. Perlu kamu tau bahwa game ini sangat populer, karena mudah berkonsep bola yang melompat- lompat, inilah cikal bakal Flappy Bird.

Game Flappy Bird merupakan perpaduan antara Mario dan Pong. Jika mereka berkonsep melompati halang rintang, maka Flappy Bird memastikan tetap melayang. Konsep Dong ialah membuat game yang selalu move on. Proses pembuatan Flappy Bird ini cuma membutuhkan dua sampai tiga tahun.

Karakter game viral Flappy Bird, Faby, awalnya didesain untuk satu game gagal di 2012. Rancangan Faby ditolak, lalu menjadi ikonik di game Flappy Bird, yang berkonsep seperti game pingpong. Ia mengatakan game ini awalnya sangat mudah, maka konsep akhirnya dia kembangkan jadi lebih sulit.

Konsep gamenya jadi kemudian dilempar ke masyarakat. Didownload secara gratis, Dong mengambil untung dari pengiklan di dalam Flappy Bird. Ia mengatakan bahwa game barat itu susah. Maka ia melalui perusahaanya, dotGears, meluncurkannya dengan konsep "sangat terinspirasi dari game retro keemasan".

"Semuanya jelas, sangat susah dan sangat menyenangkan untuk dimainkan," ia menjelaskan.

Game ini direncanakan pada 24 Mei 2013, dengan target iPhone 5 dan kemudian diupdate untuk iOS 7, pada Januari 2014 itu menjadi app tertinggi untuk Amerika dan China. Ketika dia memasukan ini ke app store untuk Inggris, namanya disebut sebagai "Angry Bird Baru", dan menjadi paling diunduh.

Pendapatan Dong mencapai $50.000 cuma dari iklan di dalam gamenya. Namun tiba- tiba, pada 8 Februari 2014, dia menyatakan menarik semua game tersebut dari App Store dan Google Play, yang mana alasanya karena dia sudah tak sanggup lagi!

"Saya minta maaf pengguna Flappy Bird, 22 jam sejak saat ini, saya akan menarik game ini. Saya tak sanggup lagi," twitnya.

Taukah anda bahwa Flappy Bird menyebabkan kecanduan global. Pemainnya merasa selalu ingin bermain untuk mencapai nilai tertinggi. Padahal kalau kamu memainkan ini maka harus mengulang nilai dari awal. Walaupun begitu pemain tetap melanjutkan karena game ini mudah, harusnya mereka bisa.

Dalam sebuah artikel berita Vietnam dijelaskan game ini sangat mirip. Dong dikatakan menjiplak dari Kek, seorang developer game Pou Pou -yang juga viral global. Disisi lain game ini dianggap meniru grafik dari Mario Bros, yang mana dari pihak Nintendo sendiri menanggapinya santai dan tak menuntut.

Keuletan Pengusaha Muda Mandiri Sop Buah

Profil Pengusaha Gendra Krama


pengusaha muda sop buah
 
Apapun usaha kamu nanti pastikan memiliki pandangan jauh ke depan. Inilah keuletan pengusaha muda mandiri bernama Gendra. Dia mungkin hanya berjualan sop buah, namun inovasinya tak mau berhenti di sekedar sop buah biasa. Jatuh bangun berwirausaha sudah menjadi makanan Gendra di masa lalu.

Pemuda 28 tahun bernama lengkap Gendra Krama Putra Santosa, bukanlah pemuda gengsian yang tak mau turun ke jalan. Dia memiliki passion di bidang entrepreneurship, uniknya kegagalan sudah menjadi "hobinya", sampai Gendra menemuka bisnis real yakni sop buah.

Mahasiswa lulusan IPB tahun 2005, awalnya membuka usaha soto betawai, namun kegagalan yang dia dapatkan. Usahanya tak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Gendra. Akhirnya pengusaha muda ini menyerah dan berhenti berjualan, tapi jangan salah sangka, dia belum menyerah untuk buka usaha lagi.

Hobi Berwirausaha Apapun


Hobi membutuhkan pemikiran kreatif dan perencanaan matang. Selain hobinya entrepreneurship, ia juga memilik hobi lain yakni makan buah durian. Kemudian dia berpikir caranya mengolah durian jadi kuliner unik. Berkat keuletan mencari produk, ia menemukan konsep sop buah dimodifikasi.

Dia mau merubah durian menjadi sop buah. Kala itu di Depok, belum banyak orang yang berjualan sop durian. Bermodalkan Rp.20 juta dimulailah perjalannya berjualan sop durian. Bermodal uang itu dibelinya pendingin, mesin kasir, meja dan kursi, peralatan masak, peralatan makan dan membeli durian.

"Sejak awal saya hanya coba- coba saja, belum punya resep khusus dan penyajiannya hanya juga hanya durian ditambah es," ia menceritakan.

Lambat laun menunya berkembang baik diberi ketan hitam, hingga membuat variasi topping dan juga camilan tambahan. Enam bulan pertama dia mengenang usahanya sepi tidak ada pembeli. Olahan ini terdengar aneh ditelinga masyarakat, namanya durian kok dibuat menjadi sop alhasil jualannya sepi.

Ditambah lagi Gendra hanya membuka satu stan kecil, kalau dari jauh orang tak menyangka kalau dia tengah jualan. Melalui mulut ke mulut jualannya direspon, hingga menjadi viral di masyarakat sekitar. Mereka datang karena penasaran kata orang- orang kalau ini enak.

Perlahan tapi pasti stannya menjadi ramai oleh pembali. Mereka merasa cocok dengan cita rasa sop duriannya. Kemudian Gendra memviralkan bisnisnya ke teman- teman, akhirnya bisnis ini semakin membesar.

Tidak sekedar durian biasa melainkan durian enak asal Sumatra. Untuk memenuhi stok bahan baku, ia biasa membeli 850- 1000 buah, yang dikirim setiap seminggu sekali. Durian berasal Palembang, Sumatra Utara, atau ketika stok kosong Gendra membeli dari Sidikalang, Medan, Sumatra Utara.

Bisnis Besar dari Kecil


Stok buah durian diambil 80% dari Palembang, alasannya karena manis buahnya pas. Dia merasa ini paling cocok. Dibanding durian medan yang dianggapnya terlalu manis, kalau dirasakan terasa ada rasa pahit dilidah dan wanginya menyengat hidung.

Ia menjelaskan bukan sembarang durian menjadi sop. Kalau salah pilih maka rasanya akan berbeda ketika disop. Karena pembeli produknya bukan orang- orang sembarangan, mereka pecinta durian yang bisa membedakan rasa. Untuk itulah dia membuat pengumuman kalau duriannya bukan seperti biasanya.

Maka pembeli tidak akan kecewa dan maklum apabila rasanya beda. Soal mereka jadi membeli atau tidak adalah pilihan. Namanya usaha berbahan alami, kita tak bisa menentukan kualitas bahan atau kuantitasnya. Gendra cuma bisa memilih yang terbaik, memastikan buah cocok dengan racikan sop buahnya.

Saban hari Gendra mampu menjual sampai 30 kilogram, atau setara 200 sampai 300 mangkuk ketika akhir pekan. Bicara omzet blak- blakan, Gendra mengakui mampu meraup omzet sampai 80 juta di akhir pekan, mereka yang membeli kebanyakan warga Depok, Bogor, dan bahkan Jakarta.

Pengusaha muda mandiri ini terus berinovasi aneka menu baru. Stan itupun menjelma menjadi kedai dengan aneka pilihan menu. Ada 20 varian menu unik dari sop durian original, roti, kelapa, kacang hijau, brownies, dan strawberri, harganya dari Rp.8000- 12.000 per- porsi.

Soal promosi salain dari mulut ke mulut, untuk membesarkan usahanya lagi dia menggunakan sarana sosmed. Mereka yang membeli mengakut puas akan cita rasa sop durian. Justru pembeli sendirilah yang menuliskan kesan dan pesan di komentar Facebook, IG, dan Twitter.

Jika ditanya apakah dia mau membuka franchise atau waralaba. Gendra tak mau tergesa- gesa karena semua butuh pemikiran matang. Dia mengatakan dibutuhkan perencanaan sebelum membuka sistem itu. Gendra sendiri lebih memilih fokus pada kedainya, satu tempat yang sedang dia kembangkan.

Ia sendiri menambahkan durian itu musiman. Tak bisa menjamin bahwa stok bahan bakunya akan terus ada, sementar itu Gendra sendiri tak mau menurunkan kualitas sop duriannya. Bila tidak pada musim durian dia pun buka terlambat, yakni pukul 10 pagi sampai 10 malam, dan bisa sampai 24 jam.

Kalau stok durian sangat melimpah dia rela membuka sampai seharian. Tetapi begitu pula jika dia tak mendapatkan stok, maka bisa tutup sampai beberapa hari. Bisnisnya memang tergantung kepada stok buah. Tetapi dari segi dihasilkan lumayan besar, karena memang sangat laris manis diborong orang.

Bayangkan suatu waktu kamu bisa melihat antrian yang mengular, sampai tumpah ruah ke jalan raya depan kedai. Ini bahkan ditegur oleh polisi karena tak cukupnya ruang parkir mobil. Dia dianggap sering menyebabkan kemacetan. Kini, Gendra mempekerjakan 13 orang karyawan, dan mereka kerja shift.

Dendam Pengusaha Muda Beromzet Ratusan Juta

Profil Pengusaha Laksita Pradnya Paramita


pengusaha muda kaos kaki

Dirinya membuktikan bahwa kita bisa membelas dengan prestasi. Dendam pengusaha muda ini jadi omzet ratusan juta. Laksita Paramita mengenang pernah disepelekan, dihina, dan diolok- olok karena hal sepele. Bayangkan karena nilai IQ, dirinya harus menderita trauma bahkan sampai lulus sekolah menengah.

Ia ingat waktu itu sekolahnya mengadakan penilaian IQ. Hasil dari nilai Mitha diluar dugaan karena dibawah 100. Ini sama saja menyatakan bahwa dirinya bodoh secara umum. Akhirnya teman- teman sekolahnya tau, mereka mengolok- olok hasil tes IQ tersebut, menganggapnya sebagai orang gagal.

"Waktu itu saya sampai menangis di kelas," tuturnya.

Pengusaha Muda Terus Berusaha


Suatu saat dia mengalami puncak kemarahan karena nilai IQ nya tersebut. Seorang temannya mulai mengolok- olok lagi. Dia meremehkan kemampuan Mitha, bahkan nyeletuk bahwa kelak dirinya tak akan sukses, alasanya karena nilai IQ nya rendah.

Dia marah, kecewa, kemudian mengutarakan semua kekesalannya. Mitha menantang orang tersebut lima tahun ke depan, kita buktikan saja siapa yang akan sukses duluan.

"Saya sampai bangkit dari kursi, gebrak meja, terus bilang sama dia, lihat aja lima tahun ke depan, siapa yang duluan sukses," jelas dia.

Anak pertama dari tiga bersaudara ini berpikir ulang ucapanya sendiri. Terbersit pertanyaan keraguan akan kemampuan diri sendiri. Dia mau bekerja apa selepas lulus sekolah menengan nanti. Bukannya bekerja Mitha memilih membuka usaha, beberapa kali mencoba tetapi akhirnya gagal- gagal juga.

Ucapan ketika itu menjadi bahan renungan panjang Mitha. Apalagi dia mengucapkan itu di depan orang banyak. Dia pernah berjualan pulsa, jus, baju wanita, dan ayam tulang lunak. Ia sempat terus mencoba tetapi belum beruntung, semua karena perencanaan tak matang dan kurang manajemen.

Untuk ayam tulang lunak terdapat kisah lucu sekaligus menyedihkan. Pada pertama kali membuka bisnis ayamnya, sempat terjadi kejadian tak enak. Padahal dia sudah membuat acara pembukaan, dari nama dan logo sudah disiapkan, usaha yang bernama Ayam Razet ini memiliki makna "rusak" dalam Sunda.

Begitu selesai "grand opening", eh ternyata pisau untuk jualan tertinggal di rumah, dan Mitha segera bergegas pulang ke rumah. Diperjalanan kembali ke tempat usaha, dia mengalami kecelakaan tepat di seberang Rumah Sakit Borromeus, Jalan Ir. H. Djuanda, yang membuatnya patah tulang.

Dia mendapatkan enam jahitan luka dan diperban. Lucunya kalau dilihat- lihat, posisi lukanya tepat sesuai logo dari usaha Ayam Razet nya. Kaki Mitha diperban, jalannya pincang, memakai tongkat di kanan- kiri, seperti logo ayamnya.

"Aduh, malu banget," kenangnya.

Benar kata orang bahwa logo bisa menjadi doa bagi pemiliknya. Mitha belajar untuk berhati- hati dalam berusaha. Bahkan dalam hal sepele pun, pengusaha muda 20 tahun ini memilih memikirkan matang- matang.

Walaupun gagal dengan bisnis ayam tulang lunak, dia tetap tidak patah semangat karena bukan cuma soal dendam. Mitha juga memiliki passion dibidang kewirausahaan. Jadi dia tetap berusaha sampai menemukan bisnis kaos kaki. Kewirausahaan memang tak mudah, dari itu dia belajar desain kaos kaki sendiri.

Ia mulai berjualan ke segala macam marketplace, dari sana kaos kakinya terjual sampai ke Malaysia, Brunai Darusalam, dan Amerik Serikat. Sukses baginya bukan sekedar menghasilkan banyak uang. Ia menyebut harus juga memberi banyak manfaat.

Bisnis Miliaran Rupiah Anak Muda


Mampu menghasilkan omzet Rp.300 juta perbulan merupakan prestasi. Itu karena dendam pengusaha muda ini terhadap pembully. Kisah seperti ini bukanlah yang pertama, jadi buat kalian yang pernah dibully, maka tirulah perjalanan Mitha yang mampu membalikan keadaan.

Bukan perkara mudah, aneka usaha telah dijalaninya tetapi mengalami kegagalan. Tetapi dia tidak hanya memiliki semangat "membalas dendam". Mitha melakukan semua karena memang passionya di bidang wirausaha, hingga akhirnya dia berhasil sukses besar berkat jualan hal sepele.

Berkat kaos kaki gadis 21 tahun asal Kebumen, Jawa Tengah, ini berjaya. Dia meraih banyak piagam penghargaan wirausahawan muda. Untuk menunjang passionya dibidang kewirausahaan, sembari dia tetap menjalankan usaha, Mitha memutuskan untuk berkuliah di Young Entrepreneur Academy.

Awal dia berbisnis kaos kaki karena memandang target pasarnya. Para pengusaha menganggap kaos kaki merupakan produk tidak fashion. Alhasil kebanyakan para pengusaha sukses lebih membidik bisnis umum. Padahal kaos kaki sangat tidak inovatif, dan disini lah seharusnya ada kesempatan kita.

Mitha mulai mengembangkan desainnya sendiri. Dia menciptakan kaos kaki bermotif tribal, yang dia dapatkan dari Pasar Baru, Bandung. Ia secara khusus memesannya dengan mencari mitra. Pertama- tama dia melihat respon pasar, dan Mitha pun segera berangkat mencari rekanan sampai ke Bandung.

Dia menjual produknya di Instagram dengan merek Varia Socks. Nama brandnya diambil dari kata Euphoria, yang menjadi doa harapan produknya menjadi uforia. Didirikan tahun 2013, usahanya ini memanfaatkan sosial media terutama Instagram, starteginya dengan memberikan diskon ke teman.

Dengan marketing akun ke akun, usahanya meningkat tajam dari awal diluncurkan. Pasarnya tidak hanya di Indonesia, tetapi sampai ke Amerika, Singapura, Malaysia, Brunei dan Australia. Dalam sebulan ia mampu memproduksi 500 pasang, seharga Rp.30 ribu sampai Rp.85 ribu untuk sepasang.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba