Pengusaha Kerupuk Dorokdok Bandung Ucu

Profil Pengusaha Ulfah Nurfebrianti

 

usahadorokdok.png
 

Inilah kisah pengusaha kerupuk dorokdok Bandung. Gadis bernama lengkap Ulfah Nurfebrianti, tidak pernah menyangkan akan sesukses begini. Dia tidak menyangka jualan camilan tradisional ini, akan begitu diminati masyarakat sampai keluar Bandung.


Usaha bernama Dorokdokcu bermula ketidak sengajaan. Dikisahkan dia tengah jalan- jalan sembari live Instagram. Tepatnya, pada Mei 2019, dirinya tengah berjalan- jalan dia menemukan ini. Dorokdok yang dibungkus plastik besar. Dibuat berbuntal- buntal dijajakan di pinggiran jalan.


Kerupuk kulit yang memiliki tekstur renyah. Camilan tersebut renyah dan gurih. Bahan kulit dijual lewat plastik- plastik besar. Unggahan Ucu ternyata menarik perhatian orang. Respon penasaran datang dari teman- temannya diluar Bandung.


Tujuan Wirausaha


Mereka penasaran sampai bertanya kepada Ucu. Mereka minta dikirimin oleh Ucu ke rumah. Ucu lalu mengirim sehingga berkirim sampai kini. Ucu sadar bahwa dorokdok akan menjadi peluang. Dia lalu meminjam modal kepada orang tua.


Uang Rp.1,5 juta dipakainnya buat jualan langsung. Cara pengusaha kerupuk derokdok Bandung terbilang lucu. Ucu datang siang- siang, dan langsung berkata,  "mah, pinjem uang ya, sore ini aku balikin."


Uang tersebut dibelikan 15 kantong besar kerupuk. Buat menarik perhatian pembeli difotonya kerupuk dan diupload. Ucu menawarkan konsep open order. Beruntung permintaan datang seketika tanpa ia kerja keras. Pembeli bahkan diluar harapan Ucu karena melebihi kapasitas.


Ada 34 pesanan tetapi hanya 15 bungkus dijual. Sisanya dia memutar kembali keuntungan berjualan pertama. Singkat ceritanya mampu menjual sampai sekarang. Usaha tersebut masih berjalan sampai menjual 4.200 bungkus perharinya.


Gadis 25 tahun tersebut merupakan pendiri Dorokdokcu. Merupakan gabungan namanya dan kerupuk dorokdok. Ucu tidak pernah bercita- cita menjadi pengusaha. Tidak punya bakat menjadi pengusaha, pasalnya tidak ada satupun keluarganya berwirausaha.


Ia lantas menggandeng Lutfi Azar. Sosok temannya yang lebih paham mengenai kewirausahaan. Dia membantu Ucu kembangkan varian rasa. Dia juga membantu promosi, dan mengkonsep bisnis. Dari dia lah muncul konsep membuka cabang distributor berbagai kota.


Ada 25 kota distribusi Dorokdokcu. Reseller Bandung sudah 200 orang lebih. Pasaranya sampai ke Sumatra dari Lampung dan Palembang. Adapula Kalimantan ada di Banjarmasin. Di Bandung sudah memiliki 5 distributor.


Khusus Jawa, Dorokdokcu tersebar di Jabodetabek, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Gresik, Pasuruan hingga Sidoarjo. Ucu memanfaatkan program GrabExpress. Dimana dalam sehari 30- 40 sampai 80 persen pesanan perhari lewat GrabExpress.


Varian Dorokdokcu memang berkembang pesat. Ada rasa jeruk pedas, pedas gurih, original, asin gurih, jagung bakar, pedas cikur, dan barbeque. Ditanya soal penghasilkan mereka sepakat tidak menyebut nominal. Tapi mereka sekarang sudah mampu membeli mobil sendiri.


Bayangkan penjualan sebulan 33.000 sampai 50.000 perbungkus. Ucu lewat dorokdok tidak sekedar mencari uang. Berkat produk tersebut dia dapat membantu keuangan orang. Ada teman yang datang bersilaturahmi kemudian menjadi reseller.


Dia senang didoangakan banyak orang. Membuka lapangan pekerjaan lebih penting. Ucu berkata, "itu yang membuat senang dan tenang. Apalagi mendapatkan doa dari mereka."


Tidak cuma membuka lapangan pekerjaan perkotaan. Di pusat dorokdok, di kampungnya mendapat dampak positif kenaikan ekonomi. Pengiriman keluar kota menambah banyak pegawai baru. Uca telah memiliki pabrikan, dimana kebanyakan pegawainya merupakan ibu- ibu rumah tangga.


Mereka tampak senang dan berterima kasih ketika Ucu berkunjung. Antusiasme mereka merupakan energi pengusaha muda ini. Mereka diantara banyak pengusaha yang dipanggil oleh Presiden Jokowi, untuk program #banggabuatanindonesia.

Modal Eksportir Kerajinan Pengusaha Subkhan

Profil Pengusaha Subkhan Nur Raufiq

 
eksporkerajinan.png
 
Pengusaha Subkhan Nur Raufiq cuma belasan ribu. Bayangkan modal eksportir kerajinan cuma Rp.12. 500. Mungkinkan pria 42 tahun tersebut mampu. Bermodalkan segitu pria warga Dusun Sentan, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini, mampu.
 
Bermodalkan segitu tidak menyangka, bahwa dia bisa menaklukan kota rantauannya. Dimana dulu, Subkhan diketahui masih menjadi buruh kerja di sebuah perusahaan, bukan pengusaha. Ia harus rela pulang malam bergaji biasa.

Suatu ketika dia tengah berjalan- jalan di Malioboro. Disuatu sudut Subkhan melihat- lihat berbagai kerajinan tangan yang dijual di pinggiran. Ide itu memang muncul seketika jelasnya lagi. Muncul ide dibenaknya, bagaimana memanfaatkan batok kelapa di kampungnya untuk membuat gantungan kunci. 
 
Subkhan bercerita bahwa batok kelapa hanya digunakan untuk membuat arang atau bahkan hanya dibuang begitu saja karena kayu bakar masih melimpah di kampungnya.

Berusaha Sebelum Sukses.


"Usai lulus SMA tahun 1992, ketika teman mencari pekerjaan di luar kota, saya hanya jalan-jalan di Malioboro untuk melihat-lihat kerajinan tangan. Setelah itu, muncul ide memanfaatkan batok kelapa untuk menjadi gantungan kunci atau suvenir untuk pernikahan," katanya.
 
Ketika itu pengusaha Subkhan tengah ditemui di bengkelnya. Bengkel yang bernama Chumplung Adji Craff di Dusun Santan, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, DIY.

Modalnya cuma Rp.12.500, yang dibelikannya mesin bubut sederhana dan masih manual. Tak disangka- sangka justru alat itulah yang menjadi modal besar membuat berbagai gantungan kunci dan souvenir tersebut. 
 
"Saat itu, pemasarannya masih door to door, sehingga kurang laku di pasaran dan penjualan sangat terbatas," ujarnya tentang modal eksportir kerajinan ini.

Akibat tak begitu laku, dia nekat melakukan promosi produknya ke hotel- hotel yang ada di Yogyakarta. Kala itu, hanya di dua hotel, yaitu Hotel Garuda dan Hotel Ambarukmo merimanya.

Berawal dari coba- coba justru dia bertemu nasib baiknya. Waktu itu ada pembeli dari luar negeri yang mau menawarinya pekerjaan. Dia menawarkan Subkhan untuk membuatkannya sebuah alat musik Marakas. 
 
Alat musik yang berasal dari Kanada. Apa itu? Bahkan Subkhan tak tau benda apa yang diinginkan si bule tersebut. "Mereka memberikan contoh alat musik tersebut dan dengan alat yang masih manual itu akhirnya pesanan dapat dipenuhi dan dikirim ke Kanada," katanya. 

Jadilah bisnis pembuatan Marakas menjadi basisi bisnisnya hingga di tahun 1998, tumbuh semakin besar dan besar. 
 
Saat itu Indonesia tengah mengalami krisis ekonomi tapi produk kerajinan tangan yang dihasilkannya justru malah mendapatkan keuntungan besar karena pasarnya adalah luar negeri dengan transaksi dolar.

"Ketika dolar harganya Rp15.000, sekali kirim hasil kerajinan tangan sesuai dengan pesanan pembeli, maka miliaran rupaiah dapat diraup. Itu merupakan puncak usaha yang saya geluti," terangnya.

Ia mengaku masih punya delapan orang yang bekerja menyelesaikan pesanan dari luar negeri. Mereka yang mengerjakan pesanan dari Eropa, Australia maupun kawasan Timur Tengah. 
 
Namun demikian, jika memang pesanannya cukup banyak, pekerjaan di sub-kan kepada tetangganya yang kini ada delapan kepala keluarga yang mengerjakan kerajinan tangan dengan bahan baku tempurung kelapa atau batok.

Untuk pesanan dari luar negeri memang cukup banyak untuk dipenuhi. Pesanan dari luar negeri itu pun sulit untuk dipenuhi. Dia mengaku pekerja yang memiliki sifat elaten, ulet, dan sabar sangat sulit ditemukan sehingga untuk memenuhi pesanan produk ekspor sulit untuk dipenuhi. 
 
Apalagi, setiap tenaga yang mampu membuat produk, mereka akan "diusir" untuk dapat mandiri dan berusaha sendiri.

"Saya ingin menciptakan bos-bos baru, bukan menciptakan tenaga kerja saja. Ketika banyak bos baru, harapan saya 'one village one product' dapat terealisasi," tuturnya.

Hartini (40), istri Subkhan, menyebut rahasia sukses bisnisnya karena produk mereka yang memang ramah lingkungan. Produk semacam ini memang sangat diminati para pembeli asing dari berbagai negara. "Dalam bulan ini, kita mendapatkan pesanan peralatan makan dari tempurung kelapa. 
 
Mulai dari gelas hingga piring dan tempat nasi atau sayur yang hanya sekali pakai. Pesanan datang dari negara Jepang," ujarnya.

Hartini yang telah dikarunia dua orang putra dari pernikahanya dengan Subkhan mengatakan bahwa pangsa pasar luar negeri, terutama produk yang ramah lingkungan masih sangat terbuka dan tinggal kemauan dan kemampuan SDM yang perlu ditingkatkan. 
 
Sebab, untuk pasokan bahan baku sudah ada yang akan memasok dan tidak akan kekurangan. "Permasalahan yang mendasar saat ini adalah kemampuan SDM, karena untuk permodalan pemerintah dapat memberikan modal tambahan dengan bunga yang sangat ringan," tegasnya.

 Alamat:

Chumplung Adji Craft,

Santan Rt.03 Guwosari Pajangan Bantul Yogyakarta 55751

Email: chumplungadji@yahoo.co.id
          chumplungcraft2santan@gmail.com

Hp   : 085643454575, 081328055857

Rahasia Es Dawet Durian Wirausahawan Rahma

Profil Pengusaha Rahma

 

rahasiaesdawet.png
 

Wirausahawan Rahma tengah melayani sendiri pembeli. Gadis berkacamata tersebut membagikan rahasia es dawet durian. Usaha yang bernama Kedai Dapoer Gentong, menarik puluhan masyarakat Kudus sampai mengantri. Viralnya bisnis Rahma ternyata bermodal nekat bukan sekedar uang.


Dia bercerita sama sekali tidak punya uang. Ia membuka usaha dawet bermodalkan utang dan tabungan. Usahanya dirintis 15 Maret 2020, yang diakuinya menghabiskan uang Rp. 70 juta. Uang segitu digunakan buat menyewa tempat, renovasi, dan membeli bahan baku.

 

Pengusaha Muda

 

"Modal sih ada, tapi sedikit dan masih kurang banyak untuk memulai usaha. Sebab itulah agar cukup modal, kekurangannya saya carikan modal," tuturnya.


Warga Desa Menawan, Kec. Gebog, Kabupaten Kudus, sedari dulu memang menggemari wirausaha. Dia memang cita- cita menjadi pengusaha muda. Kegemaran wirausaha sudah dipraktikan semenjak bangku sekolah.


Disaat SMP, sembari sekolah, ia berjualan pulsa sampai masuk sekolah menengah. Di bangku kuliah, selain jualan pulsa, dia berjualan baju hingga kecantikan online. Jualan Rahma ternyata lumayan dari keduanya, menghasilkan Rp.5 sampai Rp.7 juta perusaha.


Wirausahawan Rahma menambahkan bahwa dirinya suka berkuliner. Maka anak pertama dari empat bersaudara ini, sudah menekatkan buat membuka usaha kuliner selepas sekolah. Namun, disaat dirinya minta ijin orang tua, mereka tidak mengijinkan malah memintanya bekerja.


"Orang tua saya itu inginnya agar saya itu kerja saja. Memanfaatkan ijasah yang baru saya dapat," ia mengenang. Tetapi dia telah bertekat membuka usaha sendiri.


Usaha kulinernya bernama Depoer Gentong. Usahanya menyediakan aneka makanan, ada soto gentong dan soto mie seharga Rp.5 ribu. Andalan Rahma adalah minuman es dawet dan dawet durian. Es yang original dihargai Rp.5000, dan es dawet durian Rp.10.000- 18.000, murah bukan.


Beberapa bulan buka sudah mengajak lumayan banyak. Pembeli banyak datang di akhir pekan, maka kedainya akan ramai, dan menghasilkan. Rahma bertahap mulai membayar hutang. Dia berharap akan usahanya berkembang. Bahkan dia ingin membuka cabang dan membuka lapangan pekerjaan.


"Agar bisa buka lapangan kerja untuk orang lain," jelasnya kepada Betanews.id. Usahanya terletak di Jalan Lingkar Utara, Desa Peganjaran, Kec. Bae, Kabupaten Kudus.


Rahma menjelaskan mengapa laris karena pertama. Satu- satunya es dawet di Kota Kudus komplit. Dari dirilis sudah menarik perhatian banyak masyarakat Kudus. Aneka rasa dawet dikembangkan oleh Rahma, seperti dawet coklat dan hijau, cincau, tape, alpukat, nangka dan durian.

Mr P atau Mizterpi Pengusaha Viral Marketing

Profil Pengusaha Sukses Syehpudji dan Iltidas 


mizterpi.png
 
Yuk belajar dari pengusaha viral marketing Mizterpi. Namanya Mr P bikin penasaran karena memang tabu diucapkan. Kalau didengar begitu tetapi sebenarnya berbeda tulisan. Brand Mizterpi ini mampu membuat masyarakat penasaran sampai membeli.
 
Adalah produk olahan pisang dari Kota Kudus, Jawa Tengah, yang diciptakan dua pengusaha muda lokal. Iltidas dan rekannya Syehpudji seolah memberikan penyegaran. Kuliner  terdengar unik memang tengah menjadi andalan.
 

Viral Marketing

 
Dua sosok pengusaha ini berhasil menangkap konsep tersebut. Cuma bedanya mereka tidak sekedar memberi nama tetapi benar- benar unik. Ketika ditelisik lebih lanjut, para penggemar kuliner pasti tergoda mencicipi lezatnya si Mizterpi ini. Nama unik memang sengaja dipasang oleh Idas -panggilan untuk Iltidas- dan patnernya.

Mereka terang- terang mengakui kesengajaan tersebut.

"Kalau usaha yang berbahan dasar pisang banyak, tapi kalo sate pisang, rasanya baru Mizterpi," tandas Idas.

Mizterpi kepanjangan dari mizter pisang. Syehpudji sendiri bukan nama pria asal Semarang yang jadi berita karena poligaminya. Keduanya dua pengusaha muda penuh prestasi. Nama Mizterpi memang sempat menggegerkan jagad dunia maya. 
 
Lewat model marketing viral lewat sosial media itu, kemitraan sate pisang ini mulai dilirik para pencari peluang, apakah sukses?

Bukan cuma nama memikat nama pencari peluang. Juga bukan lah manisnya pisang saja yang menjadi satu incaran para pecinta kuliner. Namun bumbu rahasia layaknya sate biasanya. Dan Idas tetap kekeh tidak mau menyebutkan apa itu resepnya. 
 
Ia hanya meyakinkan kamu bahwa Mizterpi benar- benar berbeda. Pembeda inilah yang membuat keduanya yakin bisa bertahan.

Setiap tusukan sate diberikan sentuhan bumbu rahasia. Kemudian ditambah aneka toping coklat, strawbery, tiramisu, durian, mangga, sambal pedas dan es krim. Lewat aneka toping istimewa membuat pisang menjadi aneka rasa. Aneh bukan mendengar pisang rasa durian bukan. 
 
Sedangkan untuk proses pembuatan sendiri terbilang tidak terlalu sulit. Cukuplah digoreng seperti hal pisang goreng biasa saja.

"Bumbunya rahasia, tidak dijual di pasaran," terang Idas.

Pisang dipotong kecil- kecil kemudian ditusuk sate. Tinggal digoreng sampai kering dan diberi toping sesuai selera. Harga perporsi dibandrol Rp.3.000 jadi sangat murah. Sejak diluncurkan pertama kali outlet pisang Mizterpi sudah berdiri tiga di Kudus Jawa Tengah. 
 
Idas mengaku tidak akan kesulitan ketika memulai masuk ke sistem waralaba. Modalnya cukup mempersiapkan konsep gerobak atau booth -nya.

Untuk bermitra dengan Mizterpi cukup membayar merek, maskot, dan booth atau gerobak. Kita sudah siap bahan baku awal untuk berjualan.

Pake waralaba sate pisang ini sendiri terdiri dari 3 paket. Yakni paket reguler, paket silver, dan paket gold. Tenang semua paket sudah disediakan booth berdesain unik. Untuk fasilitas perangkan yang bisa kita dapat meliputi kompor, wajan, baskom, dan lainnya. 
 
Paket awal produknya meliputi bahan- bahan baku dan juga kemasan. Termasuk seragam pegawai, menyediakan lokasi, terkhusus operator yang punya modal cukup. Mereka pengusaha viral marketing patut kita contoh.

Contoh Beternak Ayam Kalkun Wirausaha Mandiri

Profil Pengusaha Joko Wahyulianto

 
ayamkalkun.png
 
Contoh beternak ayam kalkun dan nikmati hasilnya. Wirausaha mandiri Joko Wahyulianto, dimana dalam sebulan bisa mengirimkan anakan kalkun di seluruh Indonesia. Peternak ayam kalkun yang menjual satu ekor anakan ayam seharga Rp.25.000.
 
Pengusaha Joko menetapkan jumlah minimal pemesanan 40 ekor per- orang. Harga itu akan bertambah mahal, bila pemesan akan menghendaki ayam berwarna khusus. Ayam- ayam kalkun berwarna khusus ini biasanya dijadikan ayam hias saja.

Ayam Potong dan Hias

 
Empat tahun silam, awalnya sih hanya coba- coba, setelah sebelumnya mencoba bisnis ayam hias biasa, tapi dihitung- hitung kurang menguntungkan. Di sisi lain, jika dihitung- hitung ternyata biaya perawatan ayam kalkun lebih murah, ini bisa menutupi biaya operasional harian. 
 
Awalnya Joko membeli sepasang anakan kalkun yang baru menetas yang dia dapatkan dari seorang pedagang di pasar. Masing- masing anakan ayam dibeli seharga Rp.25.000. Joko memelihara burung berpial (gelambir dibawah paruh) itu hingga bertelur sendiri.

Di kandang ternaknya yang sederhana di Jalan Parangtritis (sebelah utara) restoran Numani, Joko telah setidaknya memiliki 30 induk dengan tujuh ekor pejantan. Ia memilih fokus pada penjualan anakan kalkun  atau DOT sebutannya. 
 
Dalam satu bulan, tak kurang ada 300 ekor DOT dikirimkan ke sejumlah kota baik di Jawa ataupun di luar Jawa. Seperti sejumlah kota di sekitar Jawa Timur, Kota Semarang, Jakarta, Batam dan Balikpapan. Satu ekor akan dijual Rp.25.000 saja.

Untuk jenis Black Spanish Turkey, anakan kalkun yang seluruhnya berwarna hitam legam bisa mencapai harga tinggi, yakni  Rp.200.000 per- ekor, atau jenis Bourbonred Turkey seharga Rp.80.000 per ekor. Tak kurang hasilnya ia mengantungi Rp.7,5 juta hanya dari penjualan DOT saja. 
 
Meski sudah berjalan bertahun- tahun, Joko mengaku masih saja kualahan untuk melayani pesanan. Ia tak kehilangan akal. Dibantu peternak lain, Joko bisa memenuhi kebutuhan yang besar itu. 
 
Memang sangat menggiurkan budidaya kalkun ini tidak berhenti pada hasil, proses pemeliharaan piaraan jenis burung rupanya juga relatif gampang. Joko pun tidak perlu repot menyediakan kandang, cukup diumbar di halaman belakang rumah, kalkun-kalkun tersebut bisa bertahan hidup.

"Menjaga kebersihan kandang relatif mudah, hanya perlu disapu kotoran seperlunya saja, tidak ada yang terlalu istimewa. Hanya kalkun membutuhkan sejenis dahan atau ranting minimal 50 cm dari tanah untuk bertengger saat beristirahat," katanya. 
 
Mungkin di Indonesia usaha ayam kalkun terlihat masih baru. Beberapa pakar menyebut bahwa bisnis ini memang punya prospek bagus di masa depan. 
 
Di luar negeri sendiri memang ada beberapa pengusaha yang sukses, sampai- sampai mereka kwalahan menerima pesanan, artinya apa mereka harus menolak karena keterbatasan jumlah ayam kalkun. Dengan hal itu kita dapat memanfaatkan dunia ekspor juga selain dalam negeri.

Dan di Indonesia, kita punya sosoknya, contoh pengusaha dan peternak spesialis ayam kalkun. Cara merawatnya pun mudah ungkap Joko. Soal pakan, ia cukup mengambil daun genjer yang biasa tumbuh liar di area persawahan atau gedebok pisang. 
 
Bahan yang diperoleh secara gratis tersebut lantas dicincang dan dicampurkan dengan dedak, jagung giling, sentrat bebek, mineral B12 dan sisa nasi yang tidak basi. Dalam satu hari, piaraannya ini diberi makan dua kali, pagi sekitar pukul 07.30 WIB dan sore sekitar pukul 15.00 WIB.

Joko mengaku untuk memenuhi kebutuhan pakan ternaknya ini tidak lebih dari Rp.500.000 untuk 30 induk dalam waktu satu bulan. 
 
"Biaya produksi cukup rendah, karena beberapa pakan bisa dicari di sawah dan nasi sisa bisa diambil dari restoran, tapi dengan catatan nasi-nasi itu tidak basi dan tidak bercampur dengan minyak," katanya lagi.

Setiap ekor kalkun mulai memasuki masa produktif setelah usia delapan bulan. Setiap bertelur, seekor betina kalkun bisa menghasilkan 10-15 butir telur. Sebulan setelah bertelur, kalkun betina akan kembali memasuki fase produktif dan bisa bertelur lagi. 
 
Tahapan ini akan berlangsung hingga usia kalkun lebih dari lima tahun bahkan 10 tahun. Namun, ada satu tahapan seekor betina yang tidak bertelur karena mengalami fase molting atau perubahan pada bulunya.

Namun setelah sebulan, fase itu akan kembali normal dan produktif. Joko lantas menjelaskan resiko gagal menetas telur kalkun sangatlah rendah. Setelah diletakkan dalam mesin- mesin penetas, sekitar 28 hari maka itu telur-telur tersebut akan menetas dan siap dikirim ke pelanggan. 
 
"Risiko DOT terhitung rendah, karena mereka masih steril dalam box, tidak mudah stres dan setelah menetas mereka bisa bertahan selama dua hari tanpa pakan,"jelasnya kepada Solo Post.
 
Kamu bisa mendapatkan bibit kalkun bisa dari dalam negeri maupun luar negeri, biasanya bibit kalkun unggulan bisa diimpor dari Turkey dll, tapi alangkah baiknya impor sekali saja kemudian di kawinkan dengan kalkun lokal, sehingga diharapkan melahirkan sepesies ayam baru yang berkualitas tinggi. 
 
Mungkin kalau anda bingung bagaimana cara mendapatkan bibit-  bibit ayam kalkun; kamu bisa mengamati dulu lewat internet. Itulah contoh beternak ayam kalkun buat kamu wirausaha mandiri.

Usaha Kerupuk Kulit dan Rempeyek Sederhana

Profil Pengusaha Elvi Marlina dan Dedi Irawan

 

usaharempeyek.png
 

Pengusaha sukses berikut mengajarkan jangan malu. Usaha kerupuk kulit dan rempeyek sederhana, tetapi nikmat dijalani. Dia mampu mensekolahkan anak. Punya rumah, menguliahkan anak, beli rumah, mobil dan juga beberapa kendaraan lain.


Awal pasangan Dedi Irawan dan Elvi Marlina, warga Lorong Cendana, Kelurahan Solok Sipin, dimana usahanya masih berupa aneka kerupuk. Terutama mereka membuat kerupuk kulit kerbau dan sapi. Lalu bertahap mereka membuat aneka rempeyek.


Usaha jajanan bernama Moza Snack menghasilkan. Dedi memproduksi kerupuk gurih, rempeyek udang dan teri, peyek tempe dan makanan lain. Elvi dan suami menjalankan usahanya rumahan. Berkat modal pinjaman dari Telkom Jambi, senilai Rp. 32 juta buat membeli bahan dan mesin pembuat.


Naiknya, ketika keduanya tertarik membuat kerupuk kulit beraneka rasa, ini yang sangat diminati masyarakat Jambi. Tidak memiliki guru khusus maupun bakat usaha. Mereka melakukan sendirian dan pertama kali mereka membikin kerupuk.


Berkat browsing internet mereka menghasilkan banyak produk baru. Kerupuk kulit aneka rasa sangat diminati masyarakat. Pasangan pengusaha sukses ini memiliki tujuh karyawan, dan memproduksi empat ribu bungkus kerupuk kulit rasa.


Satu bungkusnya dijual Rp. 9000 tinggal dikalikan 4000 sehari. Mereka juga memproduksi rempeyek dan habiskan 20 kg tepung. Rempeyek Moza memiliki ramuan khusus hingga enak dan gurih. Yakni udang dilumat diadon tepung, dan dimasukan aneka bumbu rempah dan ditaburi ikan teri diatasnya.


Rempeyek istimewa tersebut menjadi andalan mereka lain. Moza Snack memiliki prospek. Dan produk Moza Snack sudah dikirim keluar Sumatra Selatan. Dijajakan di Jambi, Moza Snack sudah masuk ke supermarket dan minimarket. Mereka berencana mengirim sampai ke Pekanbaru dan Lampung.


Ternyata usaha kerupik kulit dan rempeyek sederhana menguntungkan. Walau mereka enggan buat menyebutkan angka. Bila harga Rp. 9000 dikali 4000 perhari, maka mereka menghasilkan setidaknya satu miliar rupiah perbulan kotor.

Kerajinan Kulit Kerbau Pengusaha Wanita Parni Margono

Profil Pengusaha Parni Margono

 
usahakulit.png
 
Pengusaha wanita Parni Margono bercerita usahanya. Dia menjual kerajinan kulit karbau asli. Tidak disangka- sangka, ternyata pilihan Parni mewarisi usaha keluarga tak sia- sia. Dia, Parni Margono, apa yang dilakukannya hanyalah memanfaatkan kulit hewan Rajakaya. 
 
Jika kamu tak tau apa itu Rajakaya, ialah mereka- mereka hewan- hewan berkaki empat seperi kerbau. Dari kulitnya binatang kerbau bisa dikaryakan sebagai berbagai aksesoris, seperti wayang kulit, kipas, lampu, gantungan kunci, bahkan pensil. 
 

Prospek Bisnis

 
Selain itu, ada juga produk pembatas buku, kap lilin/lampu, dan souvenir pernikahan. Parni sendiri tak ingat persis berapa dia keluarkan untuk modal. 
 
"Sebab, saat membuat sebuah model dan laku dijual, saya langsung mengembangkan model yang lain. Jadi, tidak bisa dipatok Rp10 juta untuk modal," kata wanita lulusan STM jurusan teknik bangunan tersebut.

Memang di wilayah (Karangasem) tempat tinggal Parni tekenal sebagai sentra wayang kulit. Kedua orang tua Parni juga menekuni usaha ini. Karena sudah sentralnya, ia tinggal melanjutkan apa yang orang tua ajarkan. 
 
Baru di tahun 1997, ia mulai fokus membuat berbagai pernak- pernik seperti  kipas, lampu, gantungan kunci, dan pensil. Selain itu, ada pembatas buku, kap lilin/lampu, dan souvenir pernikahan. Selain itu ia juga masih mengerjakan berbagai macam wayang kulit.

Nyatanya, usaha yang dijalani berkembang menjadi bisnis berprospek bagus. Berbagai kersjinan yang dibuatnya memang bagus dan lebih variatif, membuatnya mudah masuk ke pasar. Berapa besar yang didapat Parni. Jika dihitung harganya mulai dari Rp5 ribu sampai Rp1,5 juta per- itemnya. 
 
Yang Rp5 ribu itu seperti souvenir perkawinan, pembatas buku, dan gantungan kunci. Berbagai souvenir ini biasa digunakan untuk kepentingan kenang- kenangan pernikahan.dsb. 
 
Dan, yang Rp1,5 juta itu seperti wayang yang berukuran besar, misalnya Bima (tokoh wayang) dan gunungan jelas Parni.

Sebuah workshop dibukanya pada 1998 memproduksi berbagai aneka produk berbahan kulit. Kondisi saat ini, usaha Parni Margono lebih banyak memproduksi souvenir dibandingkan kerajinan Wayang untuk standar pedalangan. 
 
Produk kerajinan ini modelnya selain desain yang ada, desainnya juga bisa saja menyesuaikan keinginan konsumen. Pemesanan souvenir minimal 100 pieces sedangkan wayang satu buah pun tetap dilayani.

Bahan bakunya sudah ada disekitar tempat tinggalnya. Bahan kulitnya ternyata tidak hanya berhenti di kulit kerbau, adapula kulit sapi, kambing. Sebagai tambahan ia juga menggunakan tanduk baik kerbau ataupun tanduk kambing untuk tambahan.

Ada dua cara yang digunakan untuk membersihkan kulit hewan- hewan tersebut terang Parni. Pertama adalah cara tradisional dengan mengerok bulu kulit hingga halus manual. Ada pula cara modern yaitu dengan memakai bahan kimia. 
 
Kulit hewan ditebalkan dulu, lalu direndam dengan bahan kimia. Setelah itu, dipotong dengan mesin.Menurutnya, cara modern ini lebih murah.

"Kalau yang tradisional, saya dapat satu kulit potong dari satu lembar kulit. Kalau yang modern, saya dapat tiga potong kulit dari satu lembar kulit," kata dia kepada wartawan VIVAnews.

Setelah proses pengkulitan selesai barulah pola dibuat. Pola kemudian ditempatkan pada bahan kulit. Lalu kulit pun dipotong. Bentuk akan tergantung ketebalan serta warna kulit yang diinginkan.

"Setelah dipahat, tergantung konsumen, apakah ini mau dicat atau warnanya polos. Lalu, kalau bentuknya wayang, kami beri gagang. Langkah terakhir adalah produk ini tinggal dikemas," kata Parni.

Ibu dari dua anak itu tidak sendirian mengerjakan semua. Dirinya dibantu tiga karyawan tetap dan 15 tenaga lepas. Karyawan tetapnya adalah karyawan laki-laki, sedangkan tenaga lepasnya adalah ibu-ibu yang ada di lingkungan sekitar rumah Parni. 
 
Mereka diperbantukan ketika order kerajinan tangannya sedang banyak.

"Kalau sekarang, susah cari tenaga kerja. Kebanyakan anak muda lebih memilih bekerja di pabrik," kata dia.

Proses pembuatan kerajinan tangan itu pun dilakukan di rumahnya."Kalau ada borongan, mereka (tenaga lepas) membawa pekerjaan itu ke rumahnya masing-masing. Kalau sudah selesai, ya, kembalikan lagi kepada saya," kata Parni.

Kerajinan Kulit


Pengusaha wanita Parni Margono menggunakan berbagai jenis kulit. Jenisnya yang berbeda tergantung pada produk yang akan dibuat. Untuk wayang, menggunakan kulit kerbau sedangkan untuk souvenir menggunakan kulit domba dari pabrik. 
 
Parni memilih menggunakan kulit dengan harga terjangkau untuk menekan biaya produksi namun pengolahannya diperhatikan sehingga produk yang dihasilkan tetap berkualitas.

Kebutuhan bahan baku untuk saat ini 100 hingga 1000 lembar kulit. harga perlembar kulit ini mulai Rp. 9000 hingga 40.000 tergantung ukuran kulit. Parni dalam memproduksi souvenir ini dibantu tiga tenaga kerja tetap, 15 tenaga borongan dan 10 perajin yang menjadi suppliernya.

Selain memproduksi aneka kerajinan kulit, Parni Margono menerima jasa cetak hot print untuk kerajinan kulit. Harga cetak kulit ini Rp.125 perlembar dimana minimal pesanan untuk 100 buah. 
 
Pemesan cetak kulit bisa menggunakan desain buatan sendiri atau memesan desain sesuai keinginnanya. Untuk desain, pemesan membayar jasa desain mulai Rp. 70 ribu hingga Rp. 200 ribu tergantung ukuran dan kerumitan desain.

Ia mengaku produknya baru dijual di wilayah Yogyakarta saja. Akan tetapi, Parni menyebut produknya juga pernah dilirik turis asing. 
 
"Ada yang dari Jepang, India, Jerman, dan Australia. Orang Australia kebanyakan membeli wayang karena mereka memang senang wayang, sedangkan orang Jepang suka membeli pembatas buku yang kecil-kecil." ungkapnya kepada Bantulbiz.com

Info lebih lanjut hubungi :

Parni Margono
Pucung, Karangasem, Rt.01 Wukirsari, Imogiri Bantul
HP. 0813 2879 0707, 087 887 110 119, 0813 2834 8080, 0878 3905 1348
margono_parni@yahoo.com

Pengusaha Pekalongan Merintis Usaha Cendol Gading

Profil Pengusaha Nurul Huda

 

cendolgading.png

Simak kisah pemuda ini merintis usaha Cendol Gading. Pengusaha Pekalongan tersebut bernama Nurul Huda. Dia memiliki pengalaman panjang berwirausaha. Dimana dia merupakan penjual cendol keliling di kawasan Tegalaga, Bandung.


Huda memang datang dari keluarga penjual cendol. Dia hijrah ke Bandung dan berjualan sejak 1990 -an. Dia mengaku telah mempelajari aneka teknik dan ramuan cendol. Itu didapat dari ayahnya, yang lebih dahulu berjualan cendol.


Bisnis Cendol Keluarga


Huda mengatakan punya resep cendol sendiri. "Saya hanya lulusan SD saja. Jadi modal ilmu saya datang dari keluarga saya yang juga berdagang cendol di Tegalaga, Bandung," ucapnya. Pengusaha muda ini bercerita bekerja serabutan buat modal usaha.


Hadi cuma mampu mengumpulkan Rp. 350 ribu. Uang tersebut dipakai berjualan cendol di kawasan sama. Namun, Hadi ingin merubah nasib, maka dia memilih hijrah ke Jakarta buat berjualan cendol. Ia mencari jalan- jalan ramai di Jakarta.


Dia menemukan kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, dan Glodok, Jakarta Barat. Hadi cukup lama berjualan keliling. Sampai dia memutuskan berhenti dan akan membuka lapak. Uang diinvestasikan kemudian dibukalah lapak.


Keputusan Hadi ternyata sangat tepat membuka lapak. Dagangan cendolnya laku keras ketika jualan cendol di daerah Glodok. Hadi mampu meraup omzet sampai Rp.1 juta perhari. Itu sangat hebat karena tahun tersebut belum ada seramai miliknya.


"Saat itu belum banyak pedagang cendol yang selaris itu. Jadi geger dunia percendolan," kenangnya sembari tertawa lepas.


Menyadari racikan cendolnya memiliki keistimewaan. Huda ingin mengembangkan usahanya. Ia sadar, bahwa kalau cuma mengadalkan pengalaman, kesuksesan akan jauh diharapkan. Dia memang sudah lama dalam dunia pemasaran. Namun Hadi telah memiliki patokan sendiri mengenai makna sukses.


Hadi melihat pengusaha kuliner lain. Inilah mengapa dia tidak segan meminta bantuan. Lewat mentor yang notabennya pengusaha sukses, Hadi berharap usahanya akan tersebar keseluruh Indonesia. Lewat sistem kemitraan berharap usaha tersebut menyebar.


Tahun 2003 sampai 2005, dia dimentori Pak Wahyu Saidi, bos Bakmi Tebet, memberikan arah mana Hadi tempuh. Dia pun mengikuti aneka seminar pengembangan diri. Dia mengikuti aneka pameran produk UMKM. 


Hadi memutuskan mewaralabakan sejak 2005 silam. Awal perkenalan, brand Cendol Gading memang mendapatkan apresiasi masyarakat. Huda menawarkan paket kecil buat menjalankan brandnya. Cuma modal Rp. 3 juta sudah bisa membuka Cendol Gading.


"Waktu itu karena gak ada pemaian yang kecil, dan baru hanya saya saja, jadi ramainya luar biasa," ia menceritakan. Produknya 'booming' bukan main banyak penawaran. Banyak orang tertarik menjadi mitra Cendol Gading.


Sistemnya mudah, praktis, dan gampang dijalankan. Siapapun boleh menjalankan kemitraan Cendol Gading. Hadi pun menaikan brandnya lewat kemitraan Rp. 5 juta dalam kota, dan Rp. 7,5 juta untuk kemitraan diluar kota.


Brand Cendol Gading diharapkan akan berkembang menjadi kafe. Dimana dia akan menyuguhkan banyak makanan dan minuman, selain cendol. Dia mengembangkan banyak jenis cendol. Mulai dari cendol beras merah, cendol nangka, dan duren. 

 

"Saya ingin agar kami tidak hanya menjual cendol," tuturnya. Baginya kewirausahaan adalah mengenai etos kerja. Pengusaha harus menjaga mimpi- mimpi kedepan. Kalau kamu punya niat, menurutnya maka kamu akan menguasahakan segala daya upaya.


"Jadi kalau dari awal nita kita sudah yakin kita bisa, saya yakin jalan keluar akan dimudahkan," tutup Huda.

Biografi Pisang Goreng Madu Bu Nanik Pengusaha

Profil Pengusaha Nanik Soelistiowati 


bu nanik pisang goreng madu
  
Biografi pisang goreng madu Bu Nanik. Pengusaha yang mengawali lewat masalah kesehatan.  Hingga menjadi ide bisnis menguntunkan. Inilah kisah Nanik Soelistiowati dan bisnisnya yaitu pisang goreng madu Bu Nanik. 
 
Kini bisnis Nanik sudah dilirik pihak Istana Negara. Bermula dari satu pengalaman pribadi, penyakit diabetes membuatnya harus pilah- pilih makanan yang akan dikonsumsi.

Dia menemukan cara tetap bisa makan makanan manis. Tetap berasa manis tetapi nanti tidak akan mengganggu gula darah. Dia juga menambahkan bahwa keluarganya suka manis. Nah, jadilah dia coba berbisnis pisang goreng manis, dan keluarga dekatnya suka pisang goreng buatannya.
 

Pengusaha Pisang madu


Penyakit diabetes membuatnya sangat hati- hati. Bahkan makanan yang terlihat sehat belum tentu cocok. Contohnya pisang goreng biasa, bisa menaikan gula darah Nanik tinggi juga. Lalu keinginan untuk makan pisang goreng terutama pisang goreng madu muncul.

Dia membuat pisang goreng madu khusus. Madunya bukan sembarangan tetapi sudah disesuaikan. Bentuk pisang goreng madunya seperti gosong. Tetapi sebenernya merupakan karamelisasi dari madu itu. Dari cuma dikosumsi sendiri, dicoba tetangga, kini dipesan banyak orang buat dinikmati.

Sejak 2007, bisnisnya bermula dari gerai kecil sederhana, dimana dia menjajakan pisang gorengnya. Dia memanfaatkan aneka bazar makanan. Resep ditemukan ketika 20 tahun sebelumnya dia fokus berbisnis katering untuk hotel.

Ia menjual menggunakan namanya sendiri. Pisang Goreng Madu Bu Nanik atau Pisang Goreng Bu Nanik, dan orang ternyata gampang menghafalnya. Bu Nanik sendiri merupakan pelopor pisang goreng madu yang ada di Jakarta.

Sukses dia mampu memproduksi 70 peti pisang setiap hari. Hingga terkadang dia kesulitan menemukan bahan baku saking banyak permintaan. Khususnya waktu musim kemarau maka jumlah bahan baku akan menurun drastis. 
 
Bertahap bisnisnya tidak cuma terbatas pada produk pisang goreng madu saja. Nanik menjual juga ubi madu, cempedak madu, nanas goreng madu, dan nangka goreng madu. Lalu ada risoles, tahu, tempe, yang asin- asin.

Sukses berbisnis pisang goreng bukanlah akhir. Pengusaha ini ingin lebih maju lagi dengan bisnis lebih berkembang. Nanik bercita- cita mendirikan toko pusat oleh- oleh Jakarta. Maka pendapatan dia dapatkan tidak bisa ia langsung habiskan. 
 
Meski banyak untung, semisal Rp.10 ribu, tidak bisa begitu saja dipakai tetapi investasi ulang. Biografi pisang goreng madu Bu Nanik.

"Anak saya digaji dan saya juga mengambil gaji, sisanya saya investasikan," paparnya.

Keuletan merupakan kunci sukses berbisnis apapun. Kemudian, janganlah kamu melihat masa lalu, lihat ke masa depan, jalankan usaha kamu tanpa takut kegagalan. Ia juga mengatakan anda harus mengerjakan bisnis anda sendiri. 
 
Kuasai pasar anda, harus dimulai dari skala kecil terus promosikan bisnis anda ke khalayak. "Jika ada project atau acara yang lain bawa kaos, sepatu, saya bawa pisang dan kartu," Nanik menambahkan.

Ia membawa kartu nama usahanya. Sementara pisang akan dibeli atau dibagikan sebagai upaya promosi. Dari semula berbisnis katering, ternyata berbisnis pisang goreng lebih menguntungkan. Memang bisnis makanan bisa masuk ke mana saja, ke perorangan, perusahaan, maupun perhotelan.

Bisnis Penyewaan Mobil di Luar Negeri Diaspora

Profil Pengusaha Johnny Harjantho

 
diasporaindo.png
 
Kisah diaspora Indonesia seorang perantau di negeri orang. Pengusaha bisnis penyewaan mobil di luar negeri. Mereka yang berjuang dari nol terseok- seok. Mereka tidak mendapatkan dukungan pemerintah sendiri. 
 
Inilah hidup Johnny Harjantho, pengusaha sukses justru ketika tinggal di Negeri Singa. Ya, Johnny terbilang sebagai pengusaha sukses di perantauan, pemilik sekaligus Managing Director dari Smart Group. Bisnisnya itu bergerak dibiang transportasi seperti taksi. 
 
Sebetulnya jauh sebelum kesuksesan Smart Group, ia dikenal sebagai seorang importir Singapura- Indonesia.
 

Berbisnis di Negeri Orang


"Saya mulai bisnis tahun 80an. Beli barang Singapura dan jual di Indonesia," ujarnya mengenang kembali bagaimana ia membangun usaha di Singapura.

Sudah 10 tahun sudah dirinya berbisnis dagang dan itu memberikan kuntungan luar biasa. Dari Singapura pula lah, Johnny akhirnya menemukan cinta wanita yang kini dinikahinya. Setelah menikah keduanya sepakat menetap di negara bekas jajahan Inggris. 
 
Akhirnya bisnis dagang tersebut kemudian ditinggalkan. Lalu apalagi bisnisnya? Berkat pengalaman bolak- balik Singapura- Indonesia, ia punya pandangan sendiri tentang berbisnis di Singapura.

Melihat kesempatan ada ia mantap membuka bisnis penyewaan mobil. Dengan modal sendiri ia membeli tiga unit mobil kemudian mengajukan pinjaman ke bank. Tiga unit mobil itulah cikal bakal sukses Smart Group di Singapura.

"Waktu dulu itu, mobil sangat mahal. Tapi saya sangat percaya diri. Dengan uang seadanya dan saya pinjam dana ke bank, mereka pun menyambut positif," kata Johnny.

Jangan berharap bisnisnya bisa mulus. Ketika awal memulai saja, ia sudah dihadapkang sulitnya mengajukan  pinjaman ke bank. 
 
"….mereka (bank) tidak mau lagi memberikan saya pinjaman. Alasannya saya tidak punya referensi dan bank tentunya takut memberikan pinjaman, saya kaget waktu itu," ucapnya. Masalah tidak membuatnya surut, justru semakin bersemangat berjuang meski dengan modal seadanya.

Susah memang menambah jumlah armada dengan pendanaan bank. Ia harus bergantung pada modal sendiri seadanya. Akhirnya, suatu saat, Johnny mendapatkan ide untuk menyewa mobil sewaan lagi. Ya, idenya gampang yaitu menggunakan mobil sewaan untuk disewakan lagi. 
 
Cara tersebut ternyata efektif. Johnny bisa meningkatkan jumlah armada seketika. "Setiap mobil saya tempel stiker Smart jadi orang berpikir usaha saya sudah besar dan akhirnya pinjam uang ke bank jadi lebih gampang," ungkap Johnny.

Dalam hitungan tahun bisnisnya sukses membesar. Johnny berhasil membawa SMART Automobile Pte Ltd menjadi perusahaan transportasi yang diperhitungkan. Kini, bukan hanya bisnis rental atau sewa mobil yang dirambahnya, ia pun merambah bisnis taksi. 
 
Smart Cab, perusahaan taksi  didirikan pada tahun 1991 hanya dengan 3 kendaraan, lalu tumbuh menjadi lebih dari 2.441 taksi taksi SMART di jalan raya.

Johnny Harjanthos sang Managing Director Smart Cab, memulai dengan kendaraan bermesin diesel untuk perusahaan taksnya. Dia sosok percaya diri bahwa ketika ekonomi terus tumbuh akan ada lebih banyak kendaraan di jalan serta bertambahnya pencemaran lingkungan. 
 
Dengan demikian, Johnny memutuskan untuk menjadi pelopor untuk CNG dan mengambil tantangan kendaraan hijau untuk mendukung lingkungan dan menciptakan kota yang bersih untuk hidup sehat.

Cinta Indonesia

 
Meski sudah puluhan tahun menetap di Singapura, Johnny mengaku masih cinta Indonesia. "Dada saya masih merah putih, saya masih Warga Negara Indonesia, makanya saya ikut kongres diaspora," ucapnya penuh semangat. 
 
Ia menjelaskan, komunitas diaspora Indonesia yang ada di Singapura jumlahnya berkisar 180 ribu hingga 200 ribu orang. Ini merupakan komunitas diaspora Indonesia yang paling besar dibandingkan yang ada di negara-negara lain.

Menurutnya sekitar 100 orang lebih warga Indonesia yang tingga di Singapura. Mereka bekerja baik sebagai tenaga profesional ataupun jadi pengusaha.  Sebagian lainnya adalah mahasiswa dan pekerja terlatih yang hanya tinggal sementara untuk sekolah dan bekerja. 
 
Jumlah perusahaan di Singapura yang dimiliki oleh orang Indonesia pun cukup banyak, baik itu yang skala kecil, menengah, maupun besar.

Tapi pada umumnya, kata Johnny, perusahaan- perusahaan besar Indonesia di sana adalah cabang dari perusahaan induk di Indonesia, misalnya Salim Group dan sebagainya.

"Cukup banyak pengusaha Indonesia di Singapura yang memulai usahanya dari nol. Mereka adalah yang saya sebut sebagai generation zero, dimana pada umumnya mereka memulai usahanya dengan visa kunjungan dan selanjutnya menetap dengan membuka usaha," kata Johnny. 
 
Rasa kebangsaan dari generasi zero ini cukup tinggi loh. Mereka yang menetap, memulai bisnisnya dari nol di negeri rantau. Mereka, jelas Johnny, seperti dirinya tau benar bahwa mengelola usaha di Singapura tidaklah semudah yang dibayangkan. 
 
"Tingkat kompetisinya cukup tinggi dan harus selalu berupaya untuk lebih cepat dari orang lain," kata Johnny.

Karena itulah, mereka yang tergolong generation zero ini memiliki ikatan persaudaraan yang kuat satu sama lain."Saya sendiri sudah 32 tahun tinggal dan membuka usaha di Singapura, sehingga culture masyarakat Singapura sudah cukup mendalam bagi saya. 
 
Namun demikian kami tetap menjaga culture sebagai masyarakat Indonesia. Kami menyelenggarakan pameran kebudayaan Indonesia secara rutin," ujarnya. Nah inilah pengusaha Singapura asli Indonesia, yang mempunya bisnis penyewaan mobil.

Fahira Fahmi Idris Sukses Berkat Bisnis Parsel

Biografi Pengusaha Fahira Fahmi Idris  

 
fahiraidris.png
 
Biografi Fahira Fahmi Idris sukses berkat bisnis parsel. Pengusaha wanita sekaligus putri dari politikus senior partai Golkar, ya, dialah putri dari Fahmi Idiris. Dia dikenal aktif di sosial media Twitter. Fahira dikenal vokal menyakut kehidupan sosial bermasyarakat.
 
Meski memikul nama besar milik sang ayah, wanita kelahiran 20 Maret 1968 ini punya gaya tersendiri, baik ketika berbisnis ataupun saat menjadi seorang politisi. Fahira semakin menarik perhatian dengan gayanya yang berani menghadapi ormas FPI.  
 
Wanita yang berani mengkritik keras tindak tanduk FPI, ia bahkan berani mendatangi kantornya, mengajak berdiskusi dan menyampaikan keluhan masyarakat.
 

Bisnis Parsel

 
Ditengah kesibukannya sebagai seorang pengusaha, Fahira juga aktif di berbagai organisasi sosial, diantaranya di Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin). Di organisasi yang didominasi pria itu, Fahira menjabat sebagai Ketua Harian Perbakin Pengda DKI Jakarta.

Di organisasi Saudagar Muda Minang Fahira menjabat sebagai Ketua Umum DPP. Berdarah minang, tentu ia menjadi sosok yang tangguh terutama dalam berbisnis. Bisnis awalnya yaitu bisnis parsel dan bunga. 
 
Fahira sendiri berbisnis ketika usianya 20 tahun beranam Nabila Parcel & Florist, ketika itu ia masih mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia. Meski lahir di keluarga yang berkecukupan tidak membuatnya berhenti berempati dan memilih bekerja keras. 
 
Dia sendiri mengaku merasakan masa kanak- kanak yang sangat membahagiakan.

"Masa kecil saya lalui dengan bahagia," kenang Fahira. 

Kedua orangtuanya mendidik Fahira pendidikan penuh kedisiplinan dan juga selalu mengedepankan kesederhanaan. "Saya bangga memiliki orangtua yang mengajarkan kesederhanaan," ujar Fahira. 
 
Ketika ia masih kecil, dia bercerita pernah disekolahkan di SD Argentina, Jakarta selama tiga tahun. Ia lantas pindah saat menginjak kelas 4 SD ke SD Besuki, Jakarta. Fahira kemudian melanjutkan pendidikannya ke SMP Al-Azhar dan SMA Al-Azhar.

Memang darah Minang yang berasal dari sang ayah sangat kental terasa dalam diri Fahira ketimbang darah Banjarmasin dari sang ibu.

"Saya saat bersekolah sudah mulai berjualan, jadi saya merasa sebagai orang Minang," ujar Fahira sembari tertawa lebar. Waktu itu Fahira sudah berjualan kaos dan kartu ucapan saat masih duduk di bangku sekolah. "Waktu itu, keuntungannya lumayan loh," lanjutnya singkat. 
 
Ditelisik lebih dalam, di sebuah wawancara dengan akun @bukalapak, ia menyebut bahkan sejak sekolah dasar telah berani berjualan. Jualan apa? Dia menjelaskan berjualan perangko, dan bisnisnya terus digeluti dari SMP sampai kuliah.

"Saya menjual kaos saat SMP dan menjual kue saat SMA. Ketika berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, saya membuka usaha parsel. Saya pun mendapat dukungan dari ayah yang saat itu belum menjabat sebagai menteri," imbuhnya.

Sang ayah mendukung usaha apa saja yang dilakukan asal dia menyenanginya. Saat duduk di bangku SMP, empatinya terasa, kepedulian sosial Fahira juga mulai terlihat saat meletusnya gunung Galunggung di Jawa Barat pada tahun 1982. 
 
Ia bersama anggota PMR (Palang Merah Remaja) di sekolahnya pergi ke daerah di sekitar gunung Galunggung guna memberikan bantuan bagi warga sekitar terdampak bencana.

"Jadi sebenarnya kegiatan di Padang, bukanlah kali pertama saya terjun langsung," aku pemilik yayasan Nabila Zahra yang menaungi sekitar 60 yatim piatu ini.

Sedari kecil hobi membuat pernak- pernik. Fahira selalu sangat sibuk ketika ada temannya berulang tahun. Ia serius mengerjakan kado dari membeli, membungkus dan menghias. Mungkin dari situlah ide membuka bisnis parsel berkembang. 
 
Selain itu karena sering pergi berburu bersama ayahnya, jadilah Fahira menyukai hobi berburu. Dua hobi yang kemudian mengilhami dua usaha berbeda satu sama lain, dari parsel hingga klub menembak.

"Saya juga hobi berburu. Ketika berburu di hutan, saya sering melihat orang-orang membuka lahan untuk mencari minyak dan gas. Ini memberi saya ide untuk membuka bisnis perminyakan hingga sekarang," jelas Fahira tentang mengapa usahanya kini ada di bisnis perminyakan.

Lulus SMA di tahun 1986, Fahira lantas melanjutkan kuliah di Jurusan Matematika, Universitas Padjadjaran, Bandung. Namun, hanya setahun mengenyam bangku kuliah di kota Kembang, dia justru memilih untuk berkuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia (UI), Jakarta. 
 
Sambil mengenyam bangku kuliah, dia mulai merintis bisnis parsel bersama sepuluh teman kuliahnya.

Perusahaan parsel yang awalnya bernama Bella Parcel tersebut lantas diubah menjadi Nabila Parcel, setelah kepemilikannya diambil alih Fahira secara penuh. Kemudian bisnis parsel miliknya bekembang pesat. 
 
Tak hanya di ibu kota, ia sukses melebarkan nama usahanya ke penjuru tanah air. Nama Fahira menjadi ikon kualitas produk pasel bunga milik PT. Nabila Bunga Parsel Internasional. Setelah matang di dalam negeri, ia pun merambah pasar luar negeri untuk kebutuhan ekspor.

Berbisnis Migas

 
Meski sang ayah menjabat menteri di dua periode, Fahira mengaku sama sekali tidak pernah memanfaatkan nama besar sang ayah dalam membangun bisnisnya.

"Justru bisnis saya itu sudah saya tekuni jauh sebelum ayah saya menjadi menteri," aku Fahira yang tak suka berjalan-jalan di mal ini. Semula berawal dari berjualan perangko, Fahira kecil ketagihan mendapatkan uang dari usaha sendiri. Sejak muda ia selalu diberi uang pas- pasan untuk akomodasi. 
 
Jadi menjadi pengusaha menjadi sesuatu yang menyenangkan bisa menghasilkan uang sendiri. Untung dari memiliki bisnis kaos, kue, dan parsel, uang dari bisnis itu bisa digunakan berbelanja bahkan jalan-jalan keliling Eropa selama liburan musim panas. 
 
Selain juga sibuk berbisnis parsel yang kian berkembang, Fahira juga mulai aktif di beberapa organisasi sekaligus. Salah satunya adalah di Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin).

Sukses di bidang parsel tidak membuat dia berhenti berbisnis di satu bidang. Dia memilih berbisnis migas di kawasan sekitar pulau Sumatra. Wanita yang penuh semangat ini lalu menjelaskan apa itu bisnisnya disana. Fahira menyisir perusahaan- perusahaan minyak di sekitar Sumatra. 
 
Mereka membutuhkan berbagai layanan seperi transportasi dan rumah portable. Nah, itualah apa yang dikerjakan bisnisnya sekarang. Adalah sebuah peluang yang tidak banyak dibidik orang.

"Orang kan ngebor minyak, mereka perlu service- service yang lain. Misal, helikopter. Nah saya saat ini menyewakan helikopternya yang membawa orang dari titik satu ke titik yang lain," jelasnya.

Usahanya selain menyediakan helikopter itu, Fahira juga melayani kebutuhan propaken bagi proyek- proyek strategis pengeboran minyak. Propaken, lanjutnya, adalah kontainer- kontainer yang  dijadikan perkantoran atau perumahan. "Ini nanti ditempatkan di hutan. Itu bisa dibikin," tambahnya.

Ia menambahkan harga yang dipatoknya untuk propaken bisa mencapai puluhan juta rupiah. Salin ada sistem jual, ia menambahkan sistem sewa untuk propaken yang telah siap pakai. Modalnya puluhan juta, dimana kebanyakan meminta sistem sewa. 
 
Bentuk propaken yang dimiliki Fahira adalah perkantoran, tapi bisa pula dibentuk menjadi tempat beristirahat. Selain bisnis baru di industri migas, ia mempunyai keinginan membuka sekolah merangkai bunga.

Ide ini berawal dari kecintaannya pada dunia florist tersebut. Ia masih melihat belum ada sekolah khusus untuk mendalami ilmu tersebut. Padahal, jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, bisnis ini dapat menembus pasar internasional dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah setiap bulannya. 
 
"Kalau untuk bisnis bunga dan parsel yang ingin saya tambah adalah sekolahnya. Kan orang bisnis bunga parcel ini butuh sekolah juga. Ini belum ada sekolahnya," tutupnya.

Mau Usaha Cendol Kisah Pengusaha Tatang Kusbina

Profil Pengusaha Tatang Kusbina

 

cendoldesa.png
 

Mau usaha cendol simak kisah pengusaha berikut. Ini Tatang Kusbina merupakan pemilik bisnis Cendol Desa. Usaha yang dirintis semenjak 2009, dan telah memiliki 10 kios mini atau gerobak. Cendol Desa pun mantap menjajakan bisnis lewat waralaba.


Bila cendol lain sangat bergantung kepada lahan atau lapak jalan. Maka Cendol Desa memberikan konsep gerobak. Usaha waralaba dengan biaya Rp. 3,9 juta sampai Rp. 9,5 juta. Beda keduanya terletak pada kelengkapan varian rasa, besar kecil gerobak dan material.


Minuman bervariasi rasa namun tetap cendol. Tatang menjual Rp. 3.500- 4000 pergelas. Bila lelah kamu tinggal menumpang di depan toko. Gerobak akan memudahkan tanpa harus membangun tenda. Mau usaha cendol tanpa franchise khusus Jabodetabek.


"Kompetitor tetap ada, karena rasa dasarnya cendol tidak jauh beda," ucapnya. Memang prospek usaha cendol selalu menggiurkan pengusaha pemula. Dikisahkan permulaan Tatang menjadi pengusaha. Dia berpikir kenapa tidak membuka usaha.


Dia ingin membuka lapangan pekerjaan. Daripada pusing memikirkan tuntutan hidup makin berat. Dia mau membuka usaha sembari bekerja. Tatang berasal dari Jawa Barat dan cendol khas disana. Orang- orang juga sudah mengenalnya. Minuman tradisional ini sangat terbuka dinikmati masyarakat umum.


Cendol sudah mendarah daging menjadi minuman masyarakat. Ia juga merasakan usaha cendol lebih mudah diaplikasikan. Prospek cendol aman karena memang diminati. Orang seperti tidak bosen minum cendol. "Selain itu, modal enggak terlalu mahal, jadi bisa ngajak banyak orang berbisnis," imbuhnya.


Tatang belajar mengolah cendol dari penjual jalanan. Pengusaha ini bermodal browsing racikan cendol yang digemari. Ada proses penelitian buat mendapatkan cendol bercita rasa luar biasa. Kebetulan, sang istri juga pintar membuat cendol, dan kata orang cendol buatanya khas Jawa Barat.

Kerajinan Limbah Kaca Ide Bisnis Menjanjikan

Profil Pengusaha Suyanto

 
 
usahalimbah.png
 
Ide bisnis menjanjikan tidak harus kuliner. Kerajinan limbah kaca ternyata menghasilkan. Pengusha ini mengolah kaca limbah menjadi produk. Pria asal Yogyakarta, Suyanto, mengaku memang tertarik usaha pengolahan limbah non- organik ataupun organi.
 
Pilihannya jatuh kepada mendaur ulang limbah kaca. Bakat seninya sangat membantu usaha tersebut. Ia sudah 3 tahun menjalankan. Akhirnya dia menghasilkan jutaan rupiah berkat limbah kaca. Satu buah hiasan bervariasi sampai Rp.1 juta.

"Saya mengolah limbah anorganik dan organik berupa furniture (bekas), limbah rumah tangga, dan toko," ujar Suyanto.
 

Ide Bisnis Menjanjikan


Sebelumnya ia bekerja di satu perusahaan ekspor impor dan aksesoris. Setelah merasa cukup lama pengalaman bekerja selama 17 tahun; ia memutuskan berwiraswasta.

"Saya lebih tertarik untuk berwirausaha untuk mengembangkan bakat saya," kata pria lulusan UPN Veteran Yogyakarta ini.

Modal bisnis Rp15 juta cuma cukup digunakan untuk membeli mesin pemotong kaca, mesin ampelas, dan juga mesin pemotong kayu, ia kemudian membuat kerajinan hiasan mozaik dari kaca, cangkang, telur dan tempurung kelapa. Suyanto dibantu oleh dua orang karyawan saat itu.

Dia mencoba membuat vas bunga, nampan, lalu membuat kaligrafi, alas gelas, dan tempat tisu. Fokus usaha kecilnya ialah hiasan fungsional yang biasa digunakan di rumah. 
 
Sarjana geologi ini mengatakan lebih lanjut, bahwa tantangan yang dirinya hadapi dalam berbisnis ini bahwa kerajinan tak bisa diproduksi massal. Setiap produknya merupakan buatan tangan (hand made) dan membutuhkan cita rasa untuk menghasilkannya. Itu juga berarti harga jualnya tinggi.

"Ini adalah produk ini hand made, ada feeling dalam pembuatannya. Tidak seperti produk pabrik, ini tidak bisa dipesan banyak," kata Suyanto.

Pembuatannya juga cukup rumit, memulai dengan memotong kaca sesuai pola yang diinginkan. Selanjutnya kaca itu dihaluskan bagian sisinya agar tidak terlalu tajam. Kemudian Suyanto menempelkan kaca itu pada media kayu dengan lem. 
 
Tahap penempelan pecahan kaca inilah yang memakan waktu lebih, setelah kering barulah kaca itu diberi pewarna kaca.

"Penempelan kaca tidak bisa sehari kering," kata dia

Dia mengaku mampu menghasilkan hiasan yang menarik, dimana harganya sangat bervariasi. Ia menjelaskan satu produk bisa saja terjual Rp15 ribu hingga Rp1 juta. "Kalau yang Rp15 ribu itu seperti tatakan gelas. Kalau yang Rp1 juta seperti guci," kata Suyanto.

Soal omzet? Ia tak mau mengungkapkannya.

Menurutnya ia tidak berorientas ekspor meski produknya diminati oleh konsumen asing. Suyanto memang lebih tertarik membuat produknya mengakar di pasar di dalam negeri, namun bisa dibeli oleh peminat dari manca negara juga. 
 
Dia tak membatasi hal itu tapi tetap fokusnya tidak mencari pembeli dari luar negeri. "Ada yang pesan orang Jerman, Spanyol, Meksiko, dan Nikaragua," kata dia.

Suyanto pun mempersilakan bagi peminat kreasinya untuk mengunjungi bengkel dan outlet-nya di Sanggar Kerajinan Kaca Surya Kencana Mozzaic yang berlokasi di Semoyan, Singosaren, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Apabila tidak sempat berkunjung, untuk komunikasi mengenai produk dan pemesanan dia bisa diemail melalui zakaseluler@yahoo.com.

Kisah Startup Berbisnis di Masa Pandemi Corona

Profil Pengusaha Agus Suhendar

 

startupmypin.png
 

Berbisnis di masa pandemi Corona tidak mudah. Namun, sesuai kisah startup berikut, bisa menjadi suatu awalan yang baik ketika menjajal akan sesuatu. Masa- masa awal usaha memang diawali keringat dan darah. Kita berkorban dan di masa pandemi Corona akan dicepatkan.


Artinya kamu akan melewati masa sulit tersebut lebih awal. Bahkan mungkin kamu malah akan mendapat keuntungan. Seperti Agus Suhendar yang malah mendapatkan banyak pesanan. Kisah startup hantarannya mampu menerbas sulitnya masa pandemi.


Bisnis Menolong

 

Berawal dia adalah karyawan tidak digaji dan dirumahkan. Pada awal Juni 2020, Agus harus berhentik kerja dari perusahaan retail Bali, ya karena pemasukan perusahaan menurun drastis. Begitu keluar ia lalu menjajal usaha hantar- menghantar barang belanjaan.


Berbekal ongkos kirim murah dia mengendarai motornya. Pengusaha asal Bogor tersebut mendirikan aplikasi MyPin. Dimana orang akan memesan makanan atau barang lewat online. Ini sangat membantu pengusaha UMKM mitra.


Ia memantu tidak kurang 300 mitra UMKM se- Bali, meliputi wilayah Badung, Jimbaran, Nusa Dua, Denpasar, Tabanan, dan Gianyar. Ongkos kirim diambil Agus murah cuma Rp.1.250. Ongkos kirim murah juga akan membantu UMKM mitar berkembang dan tumbuh.

 

Agus melihat peluang memanfaatkan masa sulit pandemi. "Saya melihat ini sebagai peluang untuk membangun jasa kirim dengan ongkos kirim yang ekonomis," ujarnya. Agus berharap akan ikut buat membantu pelaku usaha kecil.

 

Agus tidak fokus buat meraup keuntungan semata. Di masa pandemi Covid 19, usaha UMKM banyak sekali merumahkan karyawanya di Bali. Bahkan mereka yang bekerja di hotel, restoran, travel agent, dan tempat wisata, macam dirinya harus rela berhenti tanpa dibayar.


"Perubahan pola konsumsi masyarakat untuk menjaga stok makanan di rumah, dan akan berkorelasi dengan kebutuhan makanan olahan (pre- cook) seperti makanan siap saji, dan makanan beku," jelasnya lagi.


Jujur pengusaha berikut menyadari akan aspek ongkos kirim. Makin murah ongkos kirim akan ikut membantu pengusaha mitra. Dia menyadari ongkos kirimnya akan membantu UMKM Bali. Agus lalu berharap akan banyak orang merintis usaha dikalan pandemi.


Pengusaha harus mampu melihat celah peluang dalam masalah. Ia memiliki 10 mitra driver berstatus karyawan MYPIN. Mereka juga merupakan korban pandemi dan unpaid leave. Agus berharap bahwa wisata akan kembali normal. Pariwisata akan dibuka dan akan banyak pengusaha UMKM muncul.

Kerajinan Batok Kelapa Solusi Wirausaha Sosial

Profil Pengusaha Mahasiswi UNY

 
kerajinanbatok.png
 
Kerajinan batok kelapa bisa menjadi solusi limbah. Lewat wirausaha sosial mampu memberikan suatu dampak nyata. Berkat kreatifitas mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta, kita mampu melihat apa fungsi batok diluar menjadi sampah.
 
Suatu kelompok yang menasional menjadi tajuk artikel di berbagai media online. Mereka adalah Lely Suci Rahmawati, Hesti Sulistyani, serta Maryanto, mahasiwa dan mahasiswi dari jurusan pendidikan sosiologi Fakultas Ilmu Sosial UNY. 
 
Mereka menghadirkan inovasi pemanfaatan bahan- bahan limbah. Produknya memanfaatkan serabut, kopeng, dan batok kelapa.
 

Bisnis Kerajinan


Ini mungkin bisa jadi solusi daur ulang yang menghasilkan. Mereka meciptakan nilai jual dari sampah industri semacam batok dan serabut. Lebih lanjut, apakah yang mereka buat, produk kreatif berupa bunga dari bahan batok. Hasilnya sangat unik dan memiliki nilai seni. 
 
Menurut Lely, produk kreatif berupa bunga kering dari serabut, kopeng, dan batok kelapa tersebut dapat dijadikan alternatif hiasan yang cantik dan menarik untuk ruangan.

"Selain itu, produk ini dapat mengangkat potensi sumber daya alam yang belum optimal dimanfaatkan dan menjadi unit usaha berkelanjutan sebagai modal dasar dalam berwirausaha," sambungnya, Kamis 15 Agustus 2013, melalui situs vivanews.co.id.

Hesti menjelaskan bahwa serabut, kopeng, dan batok itu mudah ditemukan. Di tempatnya sendiri cenderung melimpah tidak dimanfaatkan masyarakat. 
 
Dan, modalnya memang tidak terlalu besar, dapat diusahakan menjadi usaha sampingan maupun ditekuni sebagai mata pencaharian pokok menghasilkan.  Cara membuatnya juga sederhana.

Pertama- tama kita membuat pola seperti pola mahkota bunga untuk batok kelapanya menggunakan pensil,  penghapus, dan kertas karton. Kemudian, batok kelapa dipotong batok kelapa akan sesuai dengan pola menggunakan gergaji besi lalu dihaluskan menggunakan amplas. 
 
"Lubangi pada bagian ujung batok kelapa menggunakan solder, lalu batok-batok kelapa dikaitkan menggunakan benang dan lem menjadi mahkota bunga dan dipernis," jelasnya.

Lanjutnya, Hesti menjelaskan, pisahkan serabut kelapa beserta kulitnya. Caranya cukup dipukul- pukul menggunakan martil dan dipisahkan menggunakan pisau, kemudian baru dibentuk menjadi kelopak- kelopak bunga.
 
Setelah jadi kaitkan menggunakan kawat dan disatukan menjadi mahkota bunga. Setelah itu buat kawat menjadi batangnya, caranya balut kawat dengan pelepah pisang kering. Lekatkan kawat yang sudah dibalut dengan kopeng dan mahkota bunga yang sudah dibuat sebelumnya. 
 
Gunakan lem untuk melekatkan masing- masing bagian. Putik bunga dibuat dari biji salak yang dibalut dengan lem dan ditaburi pasir putih, namun putik bunga juga dapat dibuat dari bunga pinus sebagai variasi jenis bunganya. 
 
"Tahap terakhir, menyatukan putik dengan kawat yang dibalut pelepah pisang yang sudah dibuat, dan bunga kering siap dipasarkan," tutup pengusaha muda. Kerajinan batok kelapa solusi limbah sekaligus menjalankan wirausaha sosial.

Berbisnis Karangan Bunga Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Hidayat Maulana


jualbunga.png
 
Dia tidak menyangkan pilihan berbisnis karangan bunga berhasil. Pengusaha muda tersebut bernama Hidayat Maulana. Yang tidak memiliki bakat ataupun keturunan seorang florist. Dia tak pernah punya pengalaman pengusaha.
 
Pekerjaan nyamannya di kantor, bekerja sebagai pegawai bagian pemasaran internet, dan merasa tidak berpuas hati. Menjadi pengusaha muda justru membuatnya senang, Selain dia kini menghasilkan lebih banyak pundi- pundi uang.
 
Hidayat mengaku kepada vivanews.com, dia sama sekali buta akan bunga, baik pengetahuan mendasar, baik ragam maupun cara penjualan.

Modal Nekat

 
Hanya bermodal nekat, ia minta diajari oleh orang yang sudah lama berbisnis bunga. "Saat itu, saya menerima order, lalu memberikannya kepada perajin. Saya dapat komisi," ujar Hidayat di kediamannya, Rawabelong, Jakarta.

Ia mengaku tidak berpikir untuk mendalami bisnis ini. Setelah mencicipi bunganya barulah ia mencoba lebih dalam lagi. Manisnya bunga mempunyai prospek yang menggiurkan jelasnya. Akhirnya pria asli kelahiran Bukittinggi ini berani membuka satu toko bunga pada 2011. 
 
Toko Bunga Cantik, dikelola oleh Hidayat membutuhkan Rp5 juta untuk modal awalnya.

"Waktu itu, saya dapat 29 pesanan bunga sekitar Desember 2010 hingga Januari 2011," kata dia.

Bisnis bunga menggiurkan alasnya karena bunga selalu "hidup". Maksudnya bisnisnya akan selalu ada pesanan dari sana- sini. Setiap upacara terkait fase kehidupan manusia selalu dilambangkan dengan bunga aneka jenis, mulai dari kelahiran hingga kematian.

"Waktu ada bayi lahir, ada bunga sebagai ucapan selamat kelahiran. Ada bunga selamat ulang tahun. Bunga saat wisuda. Bunga saat pernikahan. Bahkan, saat meninggal pun diberi bunga," kata dia.

Toko Bunga Cantik mempekerjakan 19 orang karyawan antara lain kurir, tukang bunga, karyawan administrasi, customer service, dan marketing. Usahanya cukup mendapatkan pasokan dari berbagai tempat. 
 
Biasanya dia mendapatkan pasokan dari Cipanas, Lembang, Bandung, dan Malang. Bahkan, untuk bunga tulip, pasokannya didatangkan dari Belanda sendiri.

Bisnisnya meliputi karangan bunga, hand bouquet, dan bunga meja. Bunganya pun bervariasi. Mulai dari bunga lokal seperti mawar, matahari, gerbera, hingga bunga impor seperti  lili dan mawar hitam. Soal harga, ia membandrol angka Rp.5 juta. 
 
Untuk serangkaian bunga meja harganya paling murah Rp250 ribu, dan terdiri atas 10-20 batang. Namun, jika rangkaian bunga impor, harganya bisa mencapai Rp1-3 juta.

"Bunga yang paling banyak diminati itu bunga krisan, lili, gerbera, tulip, matahari, dan mawar," kata dia.

Sayang, pria lulusan D-3 akuntasi pajak ini tak mau menyebut angkanya berapa omzet bisnis ini. Menurutnya cukup untuk jalan- jalan keluar negeri dan membesarkan 3 anak. Benar- benar bisnis berprospek bagus. 
 
Ia menambahkan pesanan bunga ini bisa variasi,  seperti karangan bunga untuk ucapan pelantikan pejabat dan peresmian kantor baru. Sementara itu, bunga meja untuk keperluan pernikahan, ucapan selamat ulang tahun, atau perkawinan.

"Karena saya bukan ahlinya, saya kurang paham. Tapi, prosesnya lumayan lama sekitar 2-3 jam untuk membuat karangan bunga. Kami menempelkan bambu dengan styrofoam, lalu diberi lapisan kain foam, selanjutnya diberi bunga," kata Hidayat.

Hidayat bercerita tentang pengalamannya menghadapi pasanan bunga mawar hitam. Ya, bunga mawar hitam ini memang langka, sangat jarang di pasaran dan termasuk bunga impor. Jumlahnya terbatas, sekali impor, dia hanya mendapat sepuluh tangkai. 
 
Karena langka, ia pun sempat- sempatnya menjelaskan hal ini kepada para pembeli. Harganya mahal ujar Hidayat.

Harganya cukup fantastis dikisaran harga Rp.1 juta hanya untuk sepuluh tangkai. "Biasanya pembeli kaget. Dikiranya harganya sama saja dengan mawar biasa," kata dia. Tantangan bisnis bunga menurut Hidayat ialah  harus selalu berpacu dengan waktu ketika pesanan datang.

"Harus cepat. Kalau tidak, pembeli bisa pindah ke tempat lain," kata lulusan Universitas Trisakti ini.

Meskipun menggiurkan, Hidayat mengatakan bahwa bisnisnya pun tidak luput dari pasang surut. Pria kelahiran 1980 ini mencermati bahwa bisnis ini kurang laku ketika bulan puasa. Justru penjualannya lebih laris pada akhir tahun dan Lebaran Haji.

Hidayat menyebut bunganya sudah banyak dipesan dari dalam maupun luar negeri, seperti Amerika, Inggris, Eropa, Singapura, dan India. 
 
Karena bunga tidak tahan lama  -misalnya bunga mawar yang hanya tahan 2-3 hari, Hidayat menjalin hubungan kerja dengan penjual toko bunga di berbagai tempat, misalnya Yogyakarta, Papua, dan Padang.

"Kalau di Jabodetabek, kami yang bermain. Kalau di Papua, ada di Jayapura. Tapi, kalau di Biak, ya, tidak ada. Susah," ujarnya kepada VIVA News.

Ia membuka situs www.tokobungacantik.com sebagai sarana pemasaran online. "Semua orang butuh cepat. Jadi, kalau sedang sibuk dan ingin memesan bunga, tidak harus membuka-buka katalog bunga," kata dia. 
 
Sementara itu Toko Bunga Cantik sendiri berlokasi di Jalan Berdikari Nomor 37, Rawabelong, Jakarta Barat. Pemesanan bisa melalui telepon (021) 91579440 atau via email di order@tokobungacantik.com. Dan ternyata berbisnis karangan bunga tidak seram loh.

Toko Serba Pedas Ide Bisnis Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Willyhono

 
toserba.png
 
Ide bisnis pengusaha muda berikut baik ditiru. Toko serba pedas ini adalah konsep one stop service menarik.  Bila kamu berkunjung ke Bandung maka banyak kuliner. Di setiap tempat menyajikan aneka kuliner unik, termasuk yang pedas- pedas.

Mereka memanjakan lidah. Kamu harus bersiap- siap menentukan apa yang akan kamu makan hari ini. Salah satu kuliner "ngejren" yang patut anda coba ialah Toserda alias Toko Serba Lada. Usaha yang memfokuskan aneka olahan. 
 
Pemiliknya, Willyhono, kemudian berbagi cerita kepada Vivanews.com, bahwa bisnis Toserda ialah bisnis aneka makanan serba pedas.
 

Kembangkan Ide Bisnis


Kemudian Willy, sapaan Willyhono, bercerita bahwa bisnisnya merupakan berkelanjutan bisnis sebelumnya. Waktu itu ia menjajakan produk olahan pedas namun hanya satu jenis. 
 
"Dulu, saya menjual satu produk saja, yaitu bawang pedas. Namanya, Bawang Pedas Balalada buatan teman saya," kata dia. Lama- lama karena melihat respon pasar bagus, jadilah pria kelahiran 1983 ini, mencetuskan ide gila yakni berjualan makanan serba pedas.

"Kalau saya lihat, respons konsumen bagus. Rata-rata orang Indonesia suka makanan pedas," kata dia.

Dia memutuskan untuk mengembangkan usaha itu lebih. Idenya memperbanyak jenis dagangannya. Sukses dia menanjak setelah menggunakan sistem online. 
 
Pertama- tama, Willy membangun toko di Jalan Padjajaran No. 4, Bandung, modal awalnya total sebesar Rp10- 15 juta. Untuk nama toko seluas 25 meter persegi itu, dia sengaja memilih akronim dan ada unsur bahasa Sunda. Biar mudah diterima warga Bandung mungkin.

"Orang-orang tahunya Toserba, toko serba ada. Tapi, saya pilih Toserda, toko serba lada. Kata 'lada' dalam bahasa Sunda, kan, artinya pedas," kata dia. Jadi nama lada disini bukanlah dikususkan untuk makanan yang serba lada, ini juga makanan berbahan pedas lainnya.

Kemudian dia mulai memperbanyak jenis dagangannya, mulai dari makanan bawang goreng pedas, keripik, kerupuk, abon, sambal, rendang, bahkan cokelat. Produk dagangannya memiliki tingkat kepedasan, mulai level satu untuk pedas hingga level enam untuk sangat pedas. 
 
Penganan di Toserda pun beraneka macam ukurannya, mulai dari 100 gram, 300 gram, dan 400 gram. Harganya juga bervariasi, mulai dari seharga Rp5.000 -an hingga Rp59.000.

"Yang Rp5.000 itu keripik, beratnya 100 gram dan Rp59.000 adalah rendang kering," kata pria lulusan Universitas Parahyangan, Bandung itu.

Dari mana barang itu berasal? Barang dagangannya berasal dari home industry di Bandung dan sekitarnya. 
 
"Tapi, kalau untuk abon, saya juga mendapatkannya dari Cirebon, Medan, Jakarta, dan Surabaya. Untuk cokelat, saya mengambil produk Chocodot dari Garut dan Monggo dari Jawa (Yogyakarta) dan harganya berkisar Rp10-15 ribu per kemasan," kata dia.

Ada dua cara diterapkan oleh Willy untuk menjadi pemasok tokonya. Pertama, melalui sistem beli putus, artinya dia membeli produk itu sendiri berdasarkan berat tertentu dan selesai. Dia lalu menjual kembali produknya. 
 
Cara titip barang jadi yang paling banyak digunakan para supplier di Toserda. Mungkin karena lebih praktis soal jumlah saja. "Saya hanya mengambil marjin keuntungan 20 persen dari dagangan mereka," kata dia.

Memang tidak semua penganan pedas akan masuk ke daftar jualannya tanpa seleksi. Willy akan aktif ikut mensurvei dahulu calon dagangannya tersebut. 
 
"Saya lihat-lihat dulu dagangannya, mana yang paling laris. Sambal biasanya habis 10 kemasan per minggu, sedangkan basreng (bakso goreng) habis 100-200 bungkus per minggu," ujarnya lagi.

Jangan pikir bisnisnya tanpa hambatan selalu berbuah manis. Willy mengaku mengawali bisnisnya dengan pasang surut. Ketika keripik pedas booming jadilah Toserda mampu meraup omzet sampai Rp.60- 70 juta. 
 
Tapi, dengan bertambahnya saingan, produk- produk keripik pedas lain memotong omzetnya bisa sampai cuma Rp.30 juta per- bulan. Sarjana matematika ini cuma mempekerjakan dua pegawai offline juga satu pekerja online dan satu programer.

Toserda online


Makanan yang dijajakan antara lain keripik, abon, bawang goreng pedas, kerupuk, sambal, rendang, hingga coklat pedas. Memang sangatlah unik, bahkan produknya dikategorikan berdasarkan tingkatan level juga, dari level satu untuk pedas sampai level enam untuk rasa super pedas. 
 
Kemudian selain melalui tokonya yang berada di Bandung, Toserda juga membukan satu toko online melalui toserda.com, yang ikonnya berupa gambar cabai rawit super pedas. 
 
Toko online yang didirikan pada 11 Juni 2011, biaya yang dia keluarkan untuk membuat website ini sama dengan biaya yang dia keluarkan untuk toko offline, yaitu Rp10-15 juta. 
 
Willy menyewa satu domain dengan kapasitas 200-an MB dan ada satu karyawan khusus yang menangani toko online itu, mulai desain hingga pemeliharaan. Tak mau setengah- setengah, barangnya itu dipastikan mampu menembus pasar nasional dan internasional.

Barang dagangannya itu sudah pernah dibeli konsumen Jakarta, Bandung, dan Tasikmalaya untuk pasar lokal. Kalau online, barangnya sudah pernah dibeli orang Indonesia, bahkan hingga konsumen dari Malaysia, Singapura, Amerika, Swedia, Inggris, dan Australia. 
 
Willy menjelaskan tidak mau membatasi jumlah minimal penganan kepada pelanggannya, baik di toko offline maupun online.

"Saya sih tidak membatasi. Kalau pembeli mau beli satu bungkus, ya, kami tetap melayani. Itu kan nanti dikenai biaya pengiriman kalau online," ujarnya. 
 
Bahkan ada pelanggan yang membeli satu bungkus, tetap ia layani, "Pernah ada konsumen dari Nusa Tenggara yang hanya membeli satu bungkus basreng," kata dia.

Ia menambahkan Toserda belum memiliki cabang, tapi sudah memilik reseller dan agen. Memang ada berbagai persyaratan bagi siapa pun yang berminat untuk menjadi reseller dan agennya. Menurut dia, reseller itu ada dua, yaitu yang dropship dan stock. 
 
"Reseller dropship itu gratis, tapi dia tidak punya stok barang. Jadi, dia membeli dari saya. Harga jual ke konsumen, sih, tergantung dia," katanya. Jika pemesan menjadi reseller tinggal menghubungi dia langsung untuk pemesanan baik dropship atau tidak.

Kemudian reseller mentransfer sejumlah uang sesuai barang yang dipesan. "Setelah mendapat konfirmasi, kami mengirimkan barang itu kepada reseller dan dia yang menjualnya ke pembeli itu," tuturnya. 
 
Beda antara reseller stock dan agen. Ada minimal pembelian yang harus dipenuhi keduanya. Untuk reseller, dia wajib membeli minimal sebesar Rp.500 ribu, sedangkan agen, dia wajib membeli minimal Rp.3 juta. 
 
"Terserah barang apa yang dia pesan, dan jumlahnya itu tergantung harga barangnya," kata dia.

Saat ini, para reseller Toserda berasal dari wilayah Bogor, Medan, Jakarta, Samarinda, bahkan Belanda dan Swedia. "Mereka itu orang Indonesia dan memasarkan produknya ke perkumpulan orang-orang Indonesia di Eropa. Di sana susah mencari makanan Indonesia," ujarnya. 
 
Ada sedikit pengalaman menarik yang ia rasakan ketika berjualan penganan pedas, dan itu terjadi dua tahun yang lalu. Katika itu harga cabai sedang melambung, akhirnya banyak orang justru banyak membeli cabe olahan daripada cabe asli.

"Dulu, waktu harga cabai sempat naik hingga Rp80 ribu, orang-orang lebih suka membeli sambal seharga Rp20 ribuan per kemasan daripada cabai Rp80 ribu per kilogram," ungap Willy ke vivanews.com. 
 
Apabila anda tertarik menjajal berbagai produk makanan pedas ini, bisa saja langsung berkunjung ke Toserda, yang terletak di Jl. Padjajaran No. 4, Bandung. Tapi, apabila kamu tidak sempat berkunjung ke sana, kamu bisa juga mengakses toko online-nya di www.toserda.com.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba