Profil Pengusaha Mbah Mo dan Pak Murladi
Dirintis sejak 1986, bisnis bakmi Mbah Mo merintis dari berjualan pecel pinggir jalan. Pembelinya dari tetangga dan warga sekitar. Entah mengapa, ia memutuskan untuk beralih ke bisnis bakmi, tapi semua membutuhkan waktu tidak instan.
Agar menguasai apa dia ingin bisniskan nanti. Mbah Mo tidak segan belajar membuat bakmi dan ikut magang. Terjun di bisnis baru ini, Mbah Mo magang atau mentoring dengan kakak iparnya, guna menimba pengalaman dan cita rasa. Mereka berjualan bakmi dan tinggal di Yogyakarta.
Brand Besar
Menurut Mbah Mo promosi tidak dilakukan semenjak membuka. Ia memanfaatkan proses marketing mulut ke mulut. Dia hanya berjualan dengan sebaik mungkin. Kualitas terjaga meskipun berjalan sampai 10 kilometer dan 10 ekor ayam.
Bila kamu rasakan bakmi buatan Mbah Mo layak bintang lima. Paling terkenal dia berjualan bakmi godhog atau rebus. Bertempat di Dusun Code, tiga kilometer arah timur Bantul, Yogyakarta, atau tidak kurang 15 km arah selatan Yogya.
Mbah Mo atau Mbah Atmo, beralih fungsi menjadi brand bukan tentang siapa pemiliknya. Mbah Mo dari dulu tidak pernah marketing khusus. Dia lebih suka berjualan semaksimal mungkin. Kualitas dari bakmi godhog nya melegenda berkat cita rasanya.
Promosi terjadi natural melalui percakapan atau mulut ke mulut. Tanpa Mbah Mo memaksakan diri bisnisnya terkenal. Pengusaha veteran dengan cita rasa masakan bak koki hotel bintang lima. Warung dibuka pukul 5 sampai 10 malam kebanyakan pelanggan pakai mobil.
Mereka dari Yogyakarta, Magelang, Klaten dan bahkan Jakarta. Dimana mobil- mobil mewah sampai kuno tampat berderet sepanjang gang. Entah dari mana mereka tau, bahwa di pelosok desa dengan gang kecil tersebut terdapat bakmi super enak tersembunyi.
Mbah Mo memang pandai melestarikan ilmunya meracik bakmi. Di generasi ketiga, cucu Mbah Mo yang bernama Pak Murladi, mewarisi bisnis keluarga tersebut tanpa kendala. Sosok Murladi tidak kalah fenomena karena bukanlah lulusan sarjana.
Dia pensiunan pegawai negeri asal Yogyakarta, lulusan sekolah dasar dengan kemampuan mengelola bisnis. Murladi bahkan diangkat menjadi mentor Entrepreneur University. Bicara Bakmi Mbah Mo, dia bercerita dahulu lokasinya memprihatinkan, tempatnya dulu merupakan bekas kandang sapi.
Pembeli sekarang dari pejabat sampai pengusaha menikmati makan disini. Banyak sudah pejabat telah mencicipi makanan khas ini. Dulu Mbah Mo hanya melayani 5 orang perhari, sekarang sudah puluhan bahkan ratusan perhari. Murladi memiliki teknik sendiri mempertahankan kepopuleran Mbah Mo.
Pertama jangan segan menceritakan bisnis kamu kemanapun. Ini meniru teknik BKKBN, tempatnya dulu bekerja, dimanapun para pegawai akan memberikan penyuluhan KB. Keduanya dia membuka jalur komunikasi dengan pelanggan, berbicara mengenai rasa masakan sampai inovasi ke depan.
Dia tidak segan mengakui kalau kekurangan. Ambil contoh, mengakui bahwa terkadang pelanggan harus menunggu antrian lama. Ia meyakinkan bahwa semua dimasak di tempat. Disiapkan satu per- satu sehingga kesannya lama, tetapi yakinlah bahwa bakmi godhognya enak luar biasa.
Terakhir dia melobi para sopi angkot buat bekerja sama. Tujuannya mereverensikan bakmi Mbah Mo sebagai tujuan wisata. Bahkan malam- malam mereka akan menujukan kelezatan bakmi Mbah Mo ini. Meskipun ada tidak kurang 50 warung bakmi sepanjang jalan, tidak membuat bergeming!
"Ada 50 penjual bakmi sepanjang jalan menuju tempat kami, tapi toh mereka tetap mencari sampai ke sini," ungkap Pak Mur, yang tetap menjaga cita rasa dengan terjun sendiri.
Pak Mur akan memasak bahkan sampai malam hari. Berapa banyakpun warung bakmi sejenis tidak akan mengalahkan produk asli. Ketika malah hari, Pak Nur akan memasak mie langsung, sementara paginya sudah ada jadwal mengajar dan serangkaian kegiatan lain.
"Pada tahun 2008 tercatat jadwal mentoring saya paling padat, sehingga malah jarang di Yogyakarta," papar menantu almarhum Mbah Mo.
Ada 30 tempat disambangi buat mengajar entrepreneurship. Melalui Entrepreneur University (EU), membawanya sampai ke Jakarta, Magelang, Cirebon, Purwarkarta, dan lain- lain. Dia juga kerap diundang menjadi pengisi pelatihan kewirausahaan baik di BUMN dan Universitas negeri dan swasta.
Ia mengajarkan kiat praktis bukan teoiri buku. Itu semua sudah dia lakukan hingga mengangkat nama Mbah Mo. Bayangkan tempat jualannya dipelosok tidak strategis. Tetapi toh tetap laku, bahkan nama Mbah Mo masih melegenda, tidak ada trik- trik canggih spesifik khas pengusaha kekinian.
Bila kamu rasakan bakmi buatan Mbah Mo layak bintang lima. Paling terkenal dia berjualan bakmi godhog atau rebus. Bertempat di Dusun Code, tiga kilometer arah timur Bantul, Yogyakarta, atau tidak kurang 15 km arah selatan Yogya.
Mbah Mo atau Mbah Atmo, beralih fungsi menjadi brand bukan tentang siapa pemiliknya. Mbah Mo dari dulu tidak pernah marketing khusus. Dia lebih suka berjualan semaksimal mungkin. Kualitas dari bakmi godhog nya melegenda berkat cita rasanya.
Promosi terjadi natural melalui percakapan atau mulut ke mulut. Tanpa Mbah Mo memaksakan diri bisnisnya terkenal. Pengusaha veteran dengan cita rasa masakan bak koki hotel bintang lima. Warung dibuka pukul 5 sampai 10 malam kebanyakan pelanggan pakai mobil.
Mereka dari Yogyakarta, Magelang, Klaten dan bahkan Jakarta. Dimana mobil- mobil mewah sampai kuno tampat berderet sepanjang gang. Entah dari mana mereka tau, bahwa di pelosok desa dengan gang kecil tersebut terdapat bakmi super enak tersembunyi.
Mbah Mo memang pandai melestarikan ilmunya meracik bakmi. Di generasi ketiga, cucu Mbah Mo yang bernama Pak Murladi, mewarisi bisnis keluarga tersebut tanpa kendala. Sosok Murladi tidak kalah fenomena karena bukanlah lulusan sarjana.
Dia pensiunan pegawai negeri asal Yogyakarta, lulusan sekolah dasar dengan kemampuan mengelola bisnis. Murladi bahkan diangkat menjadi mentor Entrepreneur University. Bicara Bakmi Mbah Mo, dia bercerita dahulu lokasinya memprihatinkan, tempatnya dulu merupakan bekas kandang sapi.
Pembeli sekarang dari pejabat sampai pengusaha menikmati makan disini. Banyak sudah pejabat telah mencicipi makanan khas ini. Dulu Mbah Mo hanya melayani 5 orang perhari, sekarang sudah puluhan bahkan ratusan perhari. Murladi memiliki teknik sendiri mempertahankan kepopuleran Mbah Mo.
Pertama jangan segan menceritakan bisnis kamu kemanapun. Ini meniru teknik BKKBN, tempatnya dulu bekerja, dimanapun para pegawai akan memberikan penyuluhan KB. Keduanya dia membuka jalur komunikasi dengan pelanggan, berbicara mengenai rasa masakan sampai inovasi ke depan.
Dia tidak segan mengakui kalau kekurangan. Ambil contoh, mengakui bahwa terkadang pelanggan harus menunggu antrian lama. Ia meyakinkan bahwa semua dimasak di tempat. Disiapkan satu per- satu sehingga kesannya lama, tetapi yakinlah bahwa bakmi godhognya enak luar biasa.
Terakhir dia melobi para sopi angkot buat bekerja sama. Tujuannya mereverensikan bakmi Mbah Mo sebagai tujuan wisata. Bahkan malam- malam mereka akan menujukan kelezatan bakmi Mbah Mo ini. Meskipun ada tidak kurang 50 warung bakmi sepanjang jalan, tidak membuat bergeming!
"Ada 50 penjual bakmi sepanjang jalan menuju tempat kami, tapi toh mereka tetap mencari sampai ke sini," ungkap Pak Mur, yang tetap menjaga cita rasa dengan terjun sendiri.
Pak Mur akan memasak bahkan sampai malam hari. Berapa banyakpun warung bakmi sejenis tidak akan mengalahkan produk asli. Ketika malah hari, Pak Nur akan memasak mie langsung, sementara paginya sudah ada jadwal mengajar dan serangkaian kegiatan lain.
"Pada tahun 2008 tercatat jadwal mentoring saya paling padat, sehingga malah jarang di Yogyakarta," papar menantu almarhum Mbah Mo.
Ada 30 tempat disambangi buat mengajar entrepreneurship. Melalui Entrepreneur University (EU), membawanya sampai ke Jakarta, Magelang, Cirebon, Purwarkarta, dan lain- lain. Dia juga kerap diundang menjadi pengisi pelatihan kewirausahaan baik di BUMN dan Universitas negeri dan swasta.
Ia mengajarkan kiat praktis bukan teoiri buku. Itu semua sudah dia lakukan hingga mengangkat nama Mbah Mo. Bayangkan tempat jualannya dipelosok tidak strategis. Tetapi toh tetap laku, bahkan nama Mbah Mo masih melegenda, tidak ada trik- trik canggih spesifik khas pengusaha kekinian.