Kertas Berbahan Batang Pisang Pengusaha M. Shafiq

Profil Pengusaha M. Shafiq

 
kertaspisang.png
 
Terbersit pikiran membuat kertas berbahan batang pisang. Dia ingin membuat Al Quran sendiri. Inilah kreatifitas M. Shafiq kini sibuk menggeluti bisnis alternatif kertas tersebut. Kertas bukan sembarang kertas, tapi kertas- kertas yang dibuat dari batang pisang. 
 
Tidak hanya memberdayakan masyarakat tapi juga menjaga lingkungan. Pasalnya di daerah asalnya bagian batang pohon pisang ini jadi sampah. Bentuk tidak menarik, berair, dan tidak punya nilai ekonomi. Berbanding terbalik jika berbicara daun atau buahnya.

Batang pohon pisang ditempatnya, biasanya, akan langsung dibuang setelah habis buahnya. Dibanding dengan daun dan buahnya yang bisa dijual, memang batang pisang cenderung diabaikan. 
 

Pengusaha Pisang

 
Pria asli Boyolali, Jawa Timur, itu lantas menjelaskan dulu ia pernah bekerja di Yayasan Istiqlal. Sebuah tuga membuat Al- Quran raksasa, bersama temannya, mereka menemukan fungsi lain batang pisang. Dari batangnya itu bisa diolah menjadi kertas warna- warni.

Tidak cuma digunakan membuat Al- Quran. Kamu juga bisa membuat kertas kardo dari batangnya. Selepas keluar dari Yayasan Istiqlal Shaiq meneruskan penemuannya itu. Pengusaha alumnus IAIN Wali Songo, Semarang, bersama beberapa temannya mendirikan usaha kertas daur ulang. 
 
Perusahaan unik fokus pada membuat aneka kertas dari batang pisang. Perusahaan berbendera Banana Paper ini membuat aneka kertas termasuk kertas kado yang elegan atau kartu undangan nan cantik.

"Awalnya pengin bikin Alquran yang ditulis sendiri, kemudian dari situ bikin usaha kertas daur ulang dari kertas koran bersama teman, tapi saya akhirnya resign dan mengkhususkan pada bahan baku pisang," ungkap Syafiq, saat ditemui di Pameran Inacraft 2013 Jakarta, ketika tengah memamerkan produk- produknya.

Banyak alasan mendorong dirinya mengerjakan bisnis ini. Selain fakta bahwa ini penemuan baru, tapi fakta bahwa di daerahnya, ia menemukan banyak batang pohon pisang terbengkalai. Alasan lain kenyataan bahwa masyarakat di sekitar rumahnya berpendidikan rendah. 
 
"Kampung saya banyak pohon pisang," selorohnya.

Kalaupun dipergunakan, orang menggunakan batang pisang secukupnya untuk bungkus rokok tembakau. Lalu Shafiq pun membeli sisanya untuk diolah kembali. Apa kelebihan kertas dari batang- batang pisang dibanding kertas biasa. 
 
Pohon pisang mengandung zat anti- air yang kuat sehingga tidak akan membutuhkan banyak bahan pengawet. Dia sendiri mendapatkan pengetahuan itu dari seorang teman.

Kertas Berbahan Pisang


Syafiq mengaku tidak pernah belajar khusus. Dia cuma belajar inti pembuatan kertasnya bukan prosesnya. Dijelaskannya ia telah mengantongi ilmu bagaimana kertas itu disaring. Tapi untuk saringan apa, bagaimana ia memprosesnya, bubur kertanya diapakan, semua itu dari otodidak. 
 
Dia mengaku semua belajar dari trial- error saja. Untuk membuat kertas ia akan mendatangi petani sendiri. Dibelinya seharga Rp.1.750 per- kg itu langsung ke para petaninya.

Dalam sebulan diakuinya membutuhkan 600kg batang pisang. Pewarnanya ada dua macam: pewarna alami dan sintetis. Guna menarik perhatian masyarakat kertanya biasa dihiasi. Syafiq menghiasi dengan daun- daun aneka bentuk. 
 
Bisa pula membuat hiasan sendiri berbentuk binatang, bunga, ataupun motif daun. Hiasan itu bisa pula diambil dari alam. Kertas Banana Paper terlihat unik karena coraknya aneka ragam.

Adapula yang dihiasai daun pohon kelengkeng, daun cemara, bougenvile, kupu- kupu, dan belang.

Dibutuhkan waktu bagi dirinya untuk sampai pada masa sekarang. Butuh lah waktu bagi pria kelahiran 7 November 1967 ini untuk memulai usaha. Dimulai dengan menitipkan produk lewat toko, mengikuti berbagai bazar, ataupun melalui jaringan pertemanan. 
 
Setelah jatuh bangun sebagai pengusaha pemula. Akhirnya usaha Bananan Paper di JL. Sadang Serang No.8 Bandung ini meraih pasarnya. Dibutuhkan waktu 3 tahun jelasnya. Omzetnya bahkan melonjak sampai Rp.300 juta per- bulan. Termasuk jika memasuki bulan Ramadhan. 
 
Produknya sampai ke Bali, Jakarta, ataupun Bandung tetapi juga Malaysia. Guna memenuhi kebutuhan dibutuhkan 10 orang dipekerjakannya. Dalam sebulannya ia bisa menghasilkan angka Rp.6.000- 55.000 per- lembar. Produknya juga termasuk bok- bok hias ataupun cover buku lucu.

Bisnis Keripik Paru Sapi Untung Ratusan Juta

Profil Pengusaha Purboningsih Sri Yuniati

 

bisniskeripikparu.png
 

Mau jadi pengusaha untung ratusan juta. Coba tiru bisnis keripik paru sapi buatan Bu Pur. Berasal dari wilayah Salatiga sentra pembuatan karipik khas ini. Pembeli dari luar tidak cuma sekitar, tetapi keripik paru sapi menjalar sampai Jakarta.

 

Paru sapi memang idaman diolah berbagai macam. Salah satunya dibikin keripik dan khas Salatiga. Selain enting- enting gepuk nama makanan paru sapi diminati. Ini menjadi incaran wisatawan ketika berkunjung ke wilayah lereng gunung Merbabu.

 

Nama pengusaha tersebut Purboningsih atau Bu Pur. Bercerita bahwa Keripik Paru Sapi Cap Bu Pur dari wilayah Yogyakarta, Tangerang, Bandung, dan Jakarta. Di Salatiga asalnya sudah tersedia di grosir oleh- oleh langganannya.

 

Bisnis Keripik Paru Sapi

 

Masing- masing pelanggan perhari memesan dua sampai tiga kali sebulan. Buat memenuhi pesanan dia memproduksi rata- rata dua kuintal paru, atau setara 200 bungkus keripik. Usaha sejenis juga dilakoni wanita bernama Sri Yuniati.


Sri menamai usahanya Cap Lombok. Sri merupakan pengusaha wanita asal Mrican, Salatiga. Dia telah memproduksi sejak 20 tahun silam. Produksinya menyasar wilayah Semarang, Bogor, Tangerang, dan Jakarta. Ia cuma memproduksi 24% buat pasar Salatiga, sisanya nanti dijual keluar kota.


Harga keripik kedua pengusahanya dikisaran Rp.80 ribu perkg. Ukuran kecil dijual Rp.25 ribu perkg, dan ada kemasan kaleng berbobot 1,35 kg, dijual seharga Rp.145 ribuan. Untuk memproduksi kedua merek ini mendapatkan pasokan rumah pemotongan sapi Salatiga.


Mereka kompak mencari bahan baku dalam kota. Dan mereka menghindari pembelian dari daerah lain seperti Boyolali. Semua disebabkan kekhawatiran pengusaha akan kualitas sapi. Kan jauh takutnya berasal dari sumber sapi gelonggongan.


Sapi gelonggongan merupakan sapi diminumi air banyak biar berat. Baik Pur maupun Sri membeli paru sapi segar seharga Rp.40 ribuan. Rata- rata Sri membutuhkan paru bermutu baik, dapat dilihat dari warna dan kekeringan paru.


"Paru yang bagus berwarna jambon (merah muda) cerah, dan tidak mengandung air," terang Bu Sri.


Bahan 50 kg begitu hanya terpakai separuhnya. Bukan karena tidak dipakai melainkan susut. Sebelum dimask, paru harus direbus dahulu sampai terjadi penyusut, baru dibumbui dan digoreng. Keripik paru setelah direbus diiris tipis dahulu. 


"Ketebalan paru harus diperhatikan agar renyah," lanjutnya. Sri pun sudah hafal ukuran tipisnya keripi ketika mengiris. Tidak perlu memakai alat mengukur tertentu. Sri mengatakan ukurannya tipis. Bila tidak hati- hati saat mengiris, maka bisa- bisa tangan dan jari menjadi korban.


Taukah bahwa permasalahan utama bisnis keripik paru sapi dimana. Terletak di bahan bakar memasak baik gas maupun minyak butuh banyak. Mahal sampai akan mempengaruhi harga produk. Maka dua pengusaha baik Bu Pur maupun Bu Sri memakai bahan bakar kayu.


Penggunaan kayu bakar ternyata memberikan efek ganda. Bahwa keripiknya akan berbau harum bila memakai bahan kayu, selain lebih murah. "Wanginya bisa beda dan lebih khas," lanjut Sri. Dia bisa mengantongi untung ratusan juta, dan Bu Pur Rp.30 juta, dan berlipat ganda bila Ramadhan tiba.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba