Profil Pengusaha Purboningsih Sri Yuniati
Mau jadi pengusaha untung ratusan juta. Coba tiru bisnis keripik paru sapi buatan Bu Pur. Berasal dari wilayah Salatiga sentra pembuatan karipik khas ini. Pembeli dari luar tidak cuma sekitar, tetapi keripik paru sapi menjalar sampai Jakarta.
Paru sapi memang idaman diolah berbagai macam. Salah satunya dibikin keripik dan khas Salatiga. Selain enting- enting gepuk nama makanan paru sapi diminati. Ini menjadi incaran wisatawan ketika berkunjung ke wilayah lereng gunung Merbabu.
Nama pengusaha tersebut Purboningsih atau Bu Pur. Bercerita bahwa Keripik Paru Sapi Cap Bu Pur dari wilayah Yogyakarta, Tangerang, Bandung, dan Jakarta. Di Salatiga asalnya sudah tersedia di grosir oleh- oleh langganannya.
Bisnis Keripik Paru Sapi
Masing- masing pelanggan perhari memesan dua sampai tiga kali sebulan. Buat memenuhi pesanan dia memproduksi rata- rata dua kuintal paru, atau setara 200 bungkus keripik. Usaha sejenis juga dilakoni wanita bernama Sri Yuniati.
Sri menamai usahanya Cap Lombok. Sri merupakan pengusaha wanita asal Mrican, Salatiga. Dia telah memproduksi sejak 20 tahun silam. Produksinya menyasar wilayah Semarang, Bogor, Tangerang, dan Jakarta. Ia cuma memproduksi 24% buat pasar Salatiga, sisanya nanti dijual keluar kota.
Harga keripik kedua pengusahanya dikisaran Rp.80 ribu perkg. Ukuran kecil dijual Rp.25 ribu perkg, dan ada kemasan kaleng berbobot 1,35 kg, dijual seharga Rp.145 ribuan. Untuk memproduksi kedua merek ini mendapatkan pasokan rumah pemotongan sapi Salatiga.
Mereka kompak mencari bahan baku dalam kota. Dan mereka menghindari pembelian dari daerah lain seperti Boyolali. Semua disebabkan kekhawatiran pengusaha akan kualitas sapi. Kan jauh takutnya berasal dari sumber sapi gelonggongan.
Sapi gelonggongan merupakan sapi diminumi air banyak biar berat. Baik Pur maupun Sri membeli paru sapi segar seharga Rp.40 ribuan. Rata- rata Sri membutuhkan paru bermutu baik, dapat dilihat dari warna dan kekeringan paru.
"Paru yang bagus berwarna jambon (merah muda) cerah, dan tidak mengandung air," terang Bu Sri.
Bahan 50 kg begitu hanya terpakai separuhnya. Bukan karena tidak dipakai melainkan susut. Sebelum dimask, paru harus direbus dahulu sampai terjadi penyusut, baru dibumbui dan digoreng. Keripik paru setelah direbus diiris tipis dahulu.
"Ketebalan paru harus diperhatikan agar renyah," lanjutnya. Sri pun sudah hafal ukuran tipisnya keripi ketika mengiris. Tidak perlu memakai alat mengukur tertentu. Sri mengatakan ukurannya tipis. Bila tidak hati- hati saat mengiris, maka bisa- bisa tangan dan jari menjadi korban.
Taukah bahwa permasalahan utama bisnis keripik paru sapi dimana. Terletak di bahan bakar memasak baik gas maupun minyak butuh banyak. Mahal sampai akan mempengaruhi harga produk. Maka dua pengusaha baik Bu Pur maupun Bu Sri memakai bahan bakar kayu.
Penggunaan kayu bakar ternyata memberikan efek ganda. Bahwa keripiknya akan berbau harum bila memakai bahan kayu, selain lebih murah. "Wanginya bisa beda dan lebih khas," lanjut Sri. Dia bisa mengantongi untung ratusan juta, dan Bu Pur Rp.30 juta, dan berlipat ganda bila Ramadhan tiba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.