Pengusaha Kerupuk Kemplang Palembang Eva Yunus

Profil Pengusaha Eva Yunus  

 
evayunus.png
 
Usaha kerupuk kemplang Palembang memang prospek. Pengusaha Eva Yunus telah mampu patahkan mitos usaha butuh modal besar. Eva juga mampu mematahkan bahwa usaha kerupuk recehan. Dia adalah wanita asal Palembang, cuma pembuat kemplang, ya makanan remeh- temeh itu.
 
 
Tapi apakah kamu tau berapa ia menghasilkan. Kini bisnis kemplangnya bisa menghasilkan omzet Rp.35 juta rupiah per- bulannya. Kalo setahunnya bisa menghasilkan cuma Rp.420 juta atau hampir bisa setengah miliar dalam satu tahun.
 

Rahasia Kerupuk Kemplang


Apakah rahasia pengusaha kerupuk kemplang Palembang ini. Eva Yunus berbisnis dengan modal kecil, berapa modalnya ketika ditelusuri tenyata ia cuma punya Rp.200.000 kala itu. Semua dijalaninya dari pertama hingga sekarang sukses. 
 
Apakah rahasianya ya tentu soal inovasinya. Eva dikenal sebagai pengusaha wanita inovatif soal kemplangnya. Salah satu jajanan hasil karyanya yaitu kemplang dari wortel. Kemplang itu manis, sedap, dan gurih dalam satu waktu.

Ia pun tak segan memanfaatkan teknologi modern. Disentuh teknologi dibisnisnya membuat sosoknya jadi semakin bersinar dalam bisnis ini. Bisnis rumahan tapi menguntungkan.



Perlu diketahui Eva menjadi pengusaha karena desakan ekonomi. Mudahnya dia kepepet jadi pengusaha dan itu nyatanya berhasil. Suaminya hanyalah guru, bergaji pas- pasan, hanya mampu menghidupi kebutuhan keluarga sehari- hari. 
 
"Dari situ, saya menguatkan tekat menambah penghasilan," pungkas wanita yang sudah mengerjakan bisnisnya sejak 1998.

Piliha bisnisnya jatuh pada usaha kerupuk. Alasanya usaha apa yang tak bermodal besar, ya, usaha kerupuk inilah hitungan kasar Eva. Tentu hasilnya besar jika benar ia mengerjakannya. Nyatanya ia punya modal yaitu dari ilmu kerupuk dari orang tuanya. 
 
Ia mengaku kedua orang tuanya sudah berbisnis kemplang sejak dulu. Untungnya bisa 20% dari omzet setelah dipotong bahan baku dan lain- lain. Selepas menentukan mau usaha apa. Eva lantas mencari- cari peralatan milik orang tuanya. 
 
Kebetulan juga peralatan itu sudah tak pernah digunakan lagi. Dia lantas membeli bahan- bahan baku pembuatan kerupuk seperti tepung, ikan, dan bumbu. Modalnya cuma minim ia tak punya uang lebih. Upaya meminta tambahan modal dari kerabat nampaknya sia- sia. 
 
Karena mereka sendiri hanya cukup untuk rumah tangganya masing- masing. Makanya Eva lantas meminta sang suami meminjam koperasi. Guna melunasi hutangnya ini suami harus rela uang bulanan kena potong. Eva pun berkata tak mengapa asal usaha jelasnya.

Sayang, menjadi pengusaha itu susah tak segampang ia bayangkan. Dia harus melalui masa- masa sulit di awalnya. Semua karena di Palembang sendiri banyak pengusaha kemplang. Tapi Eva tampak tak mau untuk menyerah. 
 
Alasannya karena kemplang punya pasar banyak dicari oleh masyarakat sekitar dan juga para pelancong. "Mencocol kerupuk ke sambal sambil nonton TV," pungkasnya.

Sasaran pertama "uji coba" kerupuk kemplang buatannya ialah mereka para tetangga dan sanak sudara. Ia lantas menggelar lapak di emperan rumahnya. Agar bisa laris manis sagala upaya dilakukannya. Eits, bukan upaya mencurangi isinya ya. Eva paham betul konsekuensinya. 
 
Ia pun memilih menambah takaran untuk ikan gabus dan tengiri agar lebih dominan diadonannya. Jika biasanya orang memilih lebih banyak tepung, ia lantas menjual 1kg ikan hanya menghasilkan 4 kerupuk mentah.

"Dengen begitu rasa ikannya akan lebih terasa," ungkapnya. Selain pada kualitas ikan ditingkatkan, andalan usahanya ialah ia menggunakan bumbu khusus. Untuk yang satu ini Eva enggan mengungkapnya kepada kita. 
 
Tak puas cuma dikonsumsi orang terdekatnya, berjalan waktu, ia menjual produknya ke halayak luas. Satu kendala lagi yaitu modal untuk promosikan produk olahannya.

Upaya akhirnya ialah ia menawarkan produk itu di acara- acara arisan, sunatan, hingga perkawinan. Dia pun tak lupa menawarkan daganganya ke toko- toko. Dari sanalah ia mendapatkan pesanan- pesanan datang hingga sekarang. 
 
Eva, kini. menjajakan produknya di JL. K.H. A. Azhari Lr. Anten- Anten No.557 RT 165, Ulu Laut, Palembang. Rumah sekaligus tempatnya berjualan dan juga pabriknya itu berada tepat di pinggir jalan besar.

Ia mengaku usahanya ini tak fokus pada untung sebesar- besarnya. Dia malah lebih senang karena kurupuk miliknya Kerupuk Yunus jadi terkenal. Eva lebih fokus pada branding produknya ini. Dengan nama kerupuk miliknya semakin besar maka pembeli akan datang sendirinya.

Modal Usaha Kerupuk Kemplang


Semakin terkenalnya Kerupuk Yunus mengantar Eva ke keberuntungan lain. Konsistensinya membangun dari nol brand miliknya. Membuat usahanya kini didatangi banyak orang, bahkan, kamu akan melihat rentengan mobil- mobil berjejer di depan rumahnya. 
 
Melihat itu PT. Pupuk Sriwijaya mengajak bermitra dengan Eva. Gayung bersambut kesempatan itu dimanfaatkan. Pada tahun 2003, ia resmi mengajukan proposal pinjaman ke Pusri.

Dia mengajukan modal cuma 9 juta. Pinjaman berbunga 6% ini digunakannya nanti untuk menambah jumlah karyawannya. Belum sampai jatuh tempo ia sudah bisa melunasinya. Karena itulah Pusri mau memberikan modal kedua untuk Eva. 
 
Untuk kali ini Eva berani mengambil modal 40 juta, kali ini digunakannya sebagai modal mengembangkan pabriknya. Namun kali ini pengusaha berkerudung ini diberikan syarat tambahan yaitu membimbing petani plasma.

Eva harus membina para nelayan plasma. Mereka adalah para nelayan pemasok ikan gambus dan tengiri. Ini bukanlah persoalan baginya. Justru dengan adanya hal ini ia bisa mendapatkan koneksi. Mereka itulah para nelayan yang membantu memasok usahanya kini. 
 
Cuma ia tak mau asal borong meski ada embel- embel harus membantu mereka. Eva membantu mereka untuk memenuhi kreteria yang ditetapkannya.

"Saya tak segan menolak jika ikan dari nelayan ternyata berkualitas jelek," tandas Eva.

Mendapat sentuhan teknologi Eva mampu berinovasi lebih. Kerupuk kemplang miliknya ini bisa jadi aneka rasa. Dia mendapatkan dorongan bimbingan Badan Litbang dan Inovasi Daerah Sumatra Selatan. Produk kerupuk kemplangnya bisa jadi aneka rasa. 
 
Sebelumnya cuma satu rasa kini ia memiliki 14 model rasa. Ada 4 rasa dengan 18 model bentuk jelasnya; ada digoreng dan dipanggang. Penjualannya bisa mencapai Rp.5 juta- 10 juta, kerupuknya ini telah melalang buana ke Jakarta, Bandung, hingga Batam. 
 
Eva juga tengah menjajaki penggunaan oven khusus. Ia menjelaskan ketika hujan nanti tetap bisa berproduksi tanpa dikeringkan dengan matahari. Meski sudah aneka rasa, Eva Yunus, pengusaha wanita ini menjelaskan produk rasa originalnya tetap paling diminati.

Bisnis Pengusaha Ganteng Max Gunawan Lampu Ajaib

Profil Pengusaha Max Gunawan 


maxgunawam.png
  
Bisnis pengusaha ganteng Max Gunawan memang ajaib. Memiliki latar belakang arsitek dia menekuni pembuatan furnitur. Nama Max Gunawan sedikit dari pengusaha muda asal Indonesia, yang justru sukses di negeri orang. 
 
Max bukanlah anak orang kaya -meski tampan. Dalam sebuah diskusi umum inovasti dan motivasi, TEDxTalks, Max sedikit membocorkan kenapa dia membuat produknya sekarang.

Sejarah Pengusaha Ganteng

 
Alkisah Max kecil hidup dalam kekurangan. Bahkan nih, ia mengaku, waktu kecil iri dengan teman- teman yang memiliki mainan baru. "Semasa kecil saya selalu iri pada hal yang tidak bisa kami miliki," kenangnya. 
 
Mulai dari liburan keluar negeri, robot transformer, dan banyak lainnya, itu semua diirikan oleh Max kecil. Hingga suatu hari ayahnya membawakan jeruk bali. Dia gembira sekali. Tetapi bukan karena mau makan buah tetapi apa yang dia dapat lakukan. 
 
Max kecil menggunakan kulit jeruk menjadi mainan. Itu loh mainan mobil- mobilan dari kulit jeruk Bali yang besar. Kulit jeruk menjadi  badan, sementara rodanya berbahan tutup botol, tinggal dia menariknya dengan seutas tali. 
 
Penoton acara tersebut terkejut bukan main. Namun disanalah, awal kecerdasan Max kecil, dalam hal membangun sebuah konsep dan membawa nasibnya menjadi arsitektur. Jurusannya arsitektur di Connecticut, Amerika Serikat, dimana dia mengambil spesifikasi desain produk.
 
Walau dia memilih arsitektur kecintaan akan seni lebih dominan. Kecintaan akan seni memuncak di semeseter kedua, dimana Profesor nya bercerita tentang Tadao Ando. Dia, Tadao Ando, merupakan sosok arsitektur ikonik asal Jepang yang mengerjakan lampu.
 
Lebih tepatnya dia menciptakan lampu natural, terkonsetrasi dan menyatu alam. Dimana Ando dapat penghargaan Pritzker Prize 1995. Ketika semester ketiga, Max lebih menyeriusi dunia arsitektur karena melihat sudut pandang lain.
 
Ia mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar. Secara finansial dia telah sangat mapan. Namun kekosongan timbul. Apalagi ketika dia mengerjakan budget planning atau rencana anggaran. Dorongan membuat kemandirian sendiri.
 
Tepatnya 2012, dia merasakan kekosongan akan dunia arsitektur menurutnya. Dia bekerja lebih banyak memanajemen proyek dan kurang kreatif di desain. Ternyata dunia arsitekur tidak seseni bayangannya ketika masih berkuliah sangat korporasi.
 
Diwaktu sela dirinya mengerjakan sesuatu dalam workshop. Banyak mesin- mesin membantunya buat mendesain. Dia menciptakan sesuatu. Workshop memberikan pandangan berbeda. Terutama mengenai produk arsitektur idealnya.

Max tak segan memasarkan buatannya ke pasaran. Max ingin membuka usaha sendiri, mendesain, membuat produk sendiri. Dan pekerjaan tidak memberikan kesempatan. Disana dia tidak menciptakan sesuatu. Max disana justru bekerja dibidang perencanaan anggaran, bukan merancang. 

Sebuah pekerjaan bergengsi, gaji besar, dan memiliki nilai tinggi diatas kertas. Kemudian suatu ketika, dimana ia mengerjakan tugas, dan akhirnya memutuskan sudah cukup. Max selalu tertarik akan jenis objek bentuk sampai yang memiliki multi- fungsi.
 

Bisnis Dulu

 
Inilah titik dimana dia memilih entrepreneurship. Max menjadi pengusaha bukan soal uang. Tetapi Max ingin membuat produknya sendiri dan diapresiasi. Inspirasi Max tercipta ketika melihat karya seni arsitektur dunia bernama Jembatan Rolling Bridge, London.

Merupakan bentuk karya urban monumental berbentuk lipat. Awal dia ingin mencipatakan benda lebih besar, yakni rumah lipat yang dapat dimasukan mobil. Tentu semua membutuhkan uang terutama buat dia membuat prototipe.

Maka dia indahkan tetapi tetap produktif membuat benda kecil. Inilah awal dibuatnya Lumio, sebuah lampu portabel, yang bentuknya seperti buku. Lampu yang dapat digunakan kapapun, dimanapun, dan oleh siapapun.

Tahun 2013, dia memutuskan resign kerja, menggeluti desain Lumio. Dalam ketidak pastian, dia mendapat ide mengumpulkan modal. Lewat KickStater yaitu website investasi startup, yang mana didalamnya siapa saja dapat berinvestasi.
 
Max ingat bahwa dia senang membawa kertas catatan. Membuat lampu berkonsep buku memang nampak keren. Idenya September 2010, dia mengerjakan prototipenya dahulu. Max mengatakan ada tantangan dimana dia harus benar membuatnya menyala tanpa mengurangi fungsi lipat.
 
Max berhasil membuat prototipe, dan kebingungan apa orang mau membeli. Tapi Lumio memang bisa menarik perhatian orang. Max makin percaya diri. Harapannya pada Februari 2013, dia akan dapatkan donasi KickStarter senilai $60.000, tetapi malah dapat sepuluh kali lipatnya yakni $578.000.
 
Max berencana membawa itu ke San Fransisco. Berbekal mesinnya dia akan membuat beberapa ribu lampu. Tetapi apakah dia akan mampu membuat segitu dan laku.
 
Dia keluar dari pekerjaan pindah ke China. Max mencari material termasuk rekanan pabrik. Dan pihak pabrik meyakini bahwa Lumio tidak akan laku. Beruntung Max tidak mudah menyerah, memilih buat mengiklankan dan mampu menjual $1 juta.
 
Produknya cantik sampai membuat orang terpesona. Alhasil Max tidak mengeluarkan banyak uang beriklan. Namun masalahnya permintaan menaik tajam sampai pusing. Max kepusingan karena tak mempunyai modal tambahan.

Ikut Shark Tank

 
Awalnya dia cuma berniat mengumpulkan $60 ribu dollar saja. Alangkah terkejut, karena ternyata dia mampu mengumpulkan 580 ribu dollar, menakjubkan dia mampu mengumpulkan 10 kali lipat! Untuk memproduksi Lumio, dia menetap sementara di China, disanalah satu per- satu Lumio diproduksi. 
 
Max sama sekali tidak memiliki pabrik pembuatan sendiri di manapun. Langkah cerdas Max ternyata membuahkan hasil. Namun perlu diingat, dalam perjalanannya, Max langsung turun tangan sendiri mengamati standarisasi. Uniknya dia mampu menjual Lumio tanpa marketing sulit. 
 
Soal satu ini berterima kasih kepada pihak ABC TV dengan acara bertajuk Shark Tanks, yang mengangkatnya. Kerap kali Max berpikir, "apakah ini akan berhasil?" Keraguan tersebut ditepisnya melalui terus bekerja. 
 
Ia tau dirinya tidak bahagia menjadi pegawai kantoran. Max terus berpikir apa yang harus diciptakan. Mulai lah berpikir apa yang dibutuhkan manusia jaman sekarang ini.

Lumio merupakan solusi energi manusia. Tidak cuma berhenti di lampu, Lumio juga sudah ada buat kita pengguna gadget, sebuah carger mini Lumio. Tidak cuma berhenti di Lumio dirinya juga mulai aktif memproduksi aneka furnitur multifungsi.

Shark Tanks, episode 15, ditayangkan 16 Januari 2015, dan Max Gunawan selaku pembuat Lumio mulai memperagakan produk hasilnya. Max mengdapatkan investasi sampai $350.000, dalam bentuk pembagian saham hasil 10%. 
 
Mark Cuban menyebut Lumio lampu terkeren, dan ditulis oleh People Magazine. Akhirnya Robert Herjaveck adalah Sharks -istilah investor di acara tersebut- yang setuju dengan tawaran Max. Lumio sendiri berbentuk buku lipat yang akan terbuka 180 derajat membentuk lingakran. 
 
Ujungnya ada magnet yang dapat kita tempelkan dimanapun. Awalnya Robert mengajukan $100 ribu. Tetapi ternyata ke lima Sharks ini memiliki minat. Mereka lantas berebut memberikan nominal tertinggi. Max adalah bukti nyata kesuksesan tidak semalam.
 
Lumio memang sangat fleksibel. Di jamannya sudah memiliki kemampuan menyimpan daya. Lumio memakai lampu litium layaknya handphon. Dapat diisi ulang melalui kabel USB, tentu bisa dilipat buat dibawa kemana- mana.
 
Bagi para Shark (nama juri Shark Tank) produk Lumio sangat menjual. Gampang dipasarkan serta rasional dalam proses produksi. Lumio beromzet $125 juta di November 2015, dan makin naik seiring penayangan Shark Tank keseluruh penjuru dunia.
 
Dari seluruh dunia ia mendapatkan pemesanan 3000 pesanan. Selepas Shark Tank Januari 2015, bisa menjual $3 juta di akhir 2014, dan seterusnya berlipat. 
 
Seperti diprediksi para Shark, bahwa Lumio akan sangat laku, bahkan sampai dijual sebagai barang high end di Design with Reach, Foundation of Louis Vutton dan MoMA Store.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba