Camilan Sayuran Kering Pengusaha ini Enak Menguntungkan

Profil Pengusaha Andriani Kurnia 


 
Susahnya anak- anak makan sayur menjadi ide. Nah, kali ini kita ide bisnisnya datang dari Andriani Kurnia, yang mencoba peruntungan di bisnis camilan sehat. Apalagi banyak camilan mengandung pengawet. Orang tau butuh sesuatu yang sehat tetapi menarik perhatian si kecil.

Bisnis ibu rumah tangga


Ide bisnis ini datang ke seorang ibu rumah tangga asal Bandung. Dia mencampurkan sayuran tanpa bahan pengawet. Ketidak sukaan anak mengkonsumsi sayur memang menjengkelkan. Padahal sayurang sangatlah baik karena mengandung banyak vitamin. Tidak jarang orang tua menakut- nakuti anaknya agar doyan sayur.

Andriani memutar otak agar tidak maen ancam. Berbekal kemampuan mengolah kue kering, dia mencoba membuat camilan pendorong nafsu makan sayuran. "Saya coba- coba mencampurkan sayuran ke dalam adonan kue kering," tandasnya.

Merasa caranya jitu menciptakan sesuatu. Andriani mulai membuat kue kering berbahan sayur lagi. Lalu dia coba jualkan ke pasar- pasar. Respon pasar ternyata baik dan menerima kehadiran bisnis Andriani. Ia resmi membuka bisnis camilan sehat sejak Oktober 2008 silam.

Modal awalnya Rp.500.000, yang mana bahannya tepung terigu, mentega, keju, telur dan sayuran tentunya. Dia memakai peralatan sederhana. Wanita 32 tahun ini semangat membuat cheese stick sayur. Dimana ia menambahkan sayuran di tengah penghalusan adonan. Kandungan sayuran perlu diingat 40% dari adonan itu.

Kandung sayurang yang besar membuat cita rasa berbeda. Itu meliputi enam pilihan rasa, yakni brokoli, seledri, bayam, bit, jagung, dan wortel. Satu lagi tanpa sayuran yaitu rasa keju original. Untuk kemasan dia menggunakan plastik mika. Kalau kemasan tidak terbuka lama, camilan tanpa pengawet ini bisa 3 bulan awetnya.

Ada dua kemasan yakni 1 ons dengan harga Rp.3000- Rp.3500 dan kemasan 2,5 ons -atau seperempat ons- harganya Rp.10.000. Ia juga menjualnya dengan sistem curah. Harganya cuma Rp.40.000 per- kilo. Istri Dikdo Maruto ini berproduksi seminggu dua kali.

Sekali produksi menghasilkan 3- 4 kilogram masing- masing rasa. Dia dibantu dua karyawan berbekal peralatan memasak rumah tangga. Pemasaran masih di Bandung, Jakarta, dan Jepara. Mereka yang beli biasanya buat dijual kembali. Ibu dua anak ini sudah dua semester berbisnis camilan sayuran sehat ini.

Omzetnya masih Rp.3 jutaan, sudah dipotong biaya produksi dan gaji karyawan, maka margin untungnya ia cuma dapat 30%. Memang masih kecil tapi sejalan dengan pola produksi yang masih kecil dan lama usaha ini berjalan. Banyak kendala dihadapi mulai proses edukasi pasar yang berjalan lambat.

Apalagi dia belum punya tempat jualan sendiri. Kedepan kalau ada modal usaha dia akan membuka outlet sendiri. Karena industri rumaha penetrasi pasar juga lemah. Ia sendiri tidak tinggal diam. Masih menyusun konsep tepat untuk produknya.

Ia mencatat prospek bisnis camilan sehat bagus. Dia yakin akan ada perkembangan tentang bisnisnya. Dia mengingatkan bahwa ini camilan sehat tanpa pengawet. Camilan ini sehat tanpa pewarna dan pengawet karena warnanya sudah dari sayuran itu sendiri.

Jualan Sosis Bandeng Profil Bisnis Menguntungkan

Profil Pengusaha Imam Tantowi 


pengusaha jualan sosis bandeng

Aneka olahan ikan bandeng sudah banyak. Bukan berarti tidak ada prospek bisnis. Ini contohnya jika kita pandai menebak pasar lewat kreatifitas. Salah satunya Imam Tantowi, pengusaha satu ini membidik bisnis sosis bandeng. Dengan membuat bandeng jadi gampang dimakan bebas durinya yang menjengkelkan.

Beda dengan presto yang masih ada kepala dan ekor. Sosis bandeng lebih halus teksturnya buat disantap. Mas Anton, begitu dia biasa disapa, sudah mengembangkan bisnis sosis ini sejak akhir 2015 di Bekasi. Ia mendirikan Izzan sebagai merek dagang sosisnya.

Uang Rp.1 juta digelontorkan untuk bisnis. "Separuhnya hasil pinjam kakak saya," jelasnya. Susah memang mencari modal usaha. Tetapi Anton semangat karena yakin ide bisnisnya akan sukses. Anton sudah nekat menjadi pengusaha karena perusahaan media tempatnya bekerja bangkrut.

Beruntung dia sudah siap mental, menjadi wirausaha sudah menjadi pilihan semenjak dia bekerja. Pria 35 tahun ini tidak serta merta meluncurkan Izzan. Butuh tiga bulan hingga ia menemukan resep tepat. Dia lalu menambahkan telor dalam campuran dagingnya.

Resep rahasia


"Plus bumbu (rahasia) yang saya racik sendiri," paparnya.

Teknik pembuatannya: Pertama ikan bandeng, telor, dan bumbu di campur, digiling satu wadah. Kemudian itu digiling lembut dan dimasak dengan cara khusus. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut caranya. Soal teknik agar adonan bebas dari duri juga tidak dijelaskan (rahasia mungkin).

Selepas matang daging ditaruh kembali di kerangka, lengkap dengan kepala dan ekornya. Agar terlihat nih produknya benar- benar bandeng asli. "Jadi tetap mempertahankan bentuk asli, tetapi kalau dipotong tidak ada durinya," paparnya. Untuk kualitas terbaik sengaja dia memilih bandeng hitam sebagai landasan.

Karena bandeng hitam tidak mengandung lumpur. Tidak ada bau lumpur di dagingnya nanti. Bandeng jenis ini dibeli di Bekasi, Cikarang, Karawang, dan Rengasdengklok. Dia memilih yang segar seharga Rp.15 ribu sampai Rp.16 ribu.

Dan nama sosis bandeng ini sudah terkenal di tiga daerah, yakni Cirebon, Banten, dan Semarang. Kalau di daerah ini namanya macam- macam. Dari bandeng gepuk di Cirebon, sate bandeng di Banten, dan otak- otak jika di Semarang. Tetapi ia meyakinkan buatanya berbeda karena merupakan resep rahasia khusus.

Bisnis ini prospeknya tinggi hanya belum tergali. Agar populer butuh diperluaskan pemasarannya, agar keuntungan bisa jadi berlimpah ruah. Anton sudah menebar benih bandeng sosisnya, dari Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, Makassar. Semua dipasarkan lewat keagenan tersebar di berbagai kota.

Berbisnis terus dia mampu menembus pasar supermarket, seperti Giant, Hero, Farmers Market Kelapa Gading, dan Mal Pondok Indah 1. Juga termasuk beberapa restoran Sunda di Jabodetabek. Dibantu empat karyawan mampu memproduksi 1.400 kardus. Satu kardus berisi bandeng seberat 185grm harga Rp.15- 17 ribu.

Omzet Rp.13 juta sampai Rp.15 juta per- bulan. Omzetnya dikatakan turun karena musiman, bisa sampai Rp.20 jutaan. Pelebaran sayap pasar seperti ke Bandung menjadi solusi. Alasannya dia mendangar di sana cocok dikembangkan. Karena kota ini dianggap tempatnya orang Jakarta mencari oleh- oleh buat dibawa.

Ikut Kompetisi Shark Tank Pengusaha Salon Cowok

Profil Pengusaha Michael Elliot 


bisnis salon cowok
 
Namanya Michael Elliot, merasakan betul bahwa laki- laki juga butuh manja. Seorang teman menganalisa dia benar butuh pedicure. Dia, perempuan, kemudian mengajak Michael pergi pedicure. Jujur si temannya ini mau bilang tetapi memilih diam. Takut kalau Michael tersinggung karena dia laki- laki.

Alhasil dia dibawa secara rahasia ke tempat perawatan kuku. Dan semuanya perempuan, tidak ada tempat bagi Michael merasa nyaman. Kemudian pengalaman itu diadaptasi olehnya. Menjadi bisnis hingga sang penulis skenario itu berubah menjadi pengusaha sukses.

Penulis Brown Sugar dan Just Wright, yang melihat peluang dibutuhkannya tempat perawatan khusus buat pria. Kita juga butuh kebersihan mendetail. Higenitas sudah bukan lagi barang bawaan wanita. Maka jadilah sebuah tempat dengan tempat tidur kulit, televisi flat- screen, furnitur kayu klasik, dan tentu minuman wiski.

Semua dapat ditemukan jiga perawatan ke Hammer & Nails, the Nail Shop for Guys. Dibuka tahun 2013 membutuhkan dana tidak tanggung $250.000. Harga perawatan antara $23 sampai $120, dari perawatan kuku dengan susu dan madu. Hasilnya dalam lima bulan menghasilkan $150.000 keuntungan.

Malu ke salon perempuan


Jujur dia suka perawatan kaki, tetapi dia merasa tidak nyaman jika harus perawatan bersama banyak wanita. Ia lebih memilih hengkang dari tempat tersebut. Kecuali ketika ada pria lain datang masuk dan mulai melakukan perawatan juga.

"Kami mulai ngobrol dan saya mengatakan ke dia bahwa saya merasa seperti ikan di lain air," kenangnya. Ia merasakan seperti dituduh menginvasi ruang wanita. Dan pria tersebut juga merasakan hal sama, maka ia berpikir apakah itu juga dirasakan semua pria.

Ia lantas melakukan aneka penelitian. Seperti bayanganya, tidak ada satupun salon buat perawatan khusus pria apalagi perawatan kuku. Dia ingin berdedikasi di area tersebut. Meski pandangan bahwa area tersebut tidak penting bagi pria. Tetapi bagi kesehatan ternyata itu sangat penting dipertimbangkan oleh kita loh.

November 2013, -delapan bulan setelah pengalaman pertama ke salon- , dia membuka usahanya sendiri tersebut. Tidak mudah bagi Michael Elliot menggapai mimpi. Butuh modal tentu untuk membuka usaha ini. Alhasil dia mengikuti berbagai kompetisi wirausaha, salah satunya di stasiun televisi ABC.

Acara Shark Tank tentu kamu sudah tau kan. Dia hadir di Season 6, pada 26 September 2014, dimana jadi penayangan terbanyak penontonnya dalam sejarah Shark Tank. Dia mencari investasi $200.000 yang mana sebagai gantinya dapat saham 20% untuk mengembangkan brand franchisenya.

Ya, untuk mengembangkan bisnis tersebut cepat. Michael memilih mengkonsep bisnis waralaba. Juga satu kebetulan dia terinspirasi kisah sukses waralaba. Dia menjelaskan kepada para Shark bahwa salonnya dirancang menarik hati para cowok maco.

Sayangnya, seperti beberapa pengusaha sukses lain di Shark Tank, dia tidak mendapatkan apapun. Bahkan menurut Kevin O'Leary, "itu tidak akan pernah bekerja". Beruntung salah satu penonto episodenya adalah satu investor perempuan Africa- America, yang lantas memberinya kesempatan dengan investasi setelah itu.

Bisnis resiko


"Sejak awal, saya telah berpikir besar dan saya punya potensi untuk menjadi brand nasional," paparnya. Dia menyebutkan apa kita pikirkan akan berpengaruh ke masa depan kita. Dengan berpikir besar pengusaha akan menjadi sosok pemikir setiap langkah ke depan meskipun sekecil apapun -pasti akan berdampak juga.

Dia tidak ingin jadi salon murahan. Maksudnya cuma jualan di mall, tetapi harus memiliki tempat sendiri premium. Seperti memasang bisnis di tiga tempat ikonik yakni Rodeo Drive, Sunset Boulevard, atau di Melrose. "Saya selalu tau saya mau mengintregasi barber menjadi satu model bisnis jadi waralaba besar."

Dengan konsep waralaba, berapa Michael Elliot dapatkan, yakni investasi $234.700 sampai $531.000 dan menjual lebih dari 183 lisensi franchise Hammer & Nails.

Jika menelisik lebih dalam adakah prospek bisnis ini. Ditelisik ternyata perawatan kuku bagi pria itu beda. Jika wanita melakukan itu demi estetik; dimana mereka berganti warna setiap kali bosan. Maka bagi pria adalah murni soal kesehatan dan kebugaran.

Untuk mendukung bisnisnya Michael juga melakukan riset. Ia memberika delapa alasan kenapa pria harus pedicure. Salah satunya sebagai langkah pendeteksi awal retakan, infeksi jamur, dan kuku yang tumbuh tidak teratur. Kamu harus tau kuku tidak sehat membuat infeksi, bau busuk, kulit- kulit jelek mengeletek.

Maka setiap ada orang biasa datang berkunjung. Mereka yang baru ingin coba- coba. Tidak tau bahwa ada bahaya dibalik jamur kuku. Mungkin mereka tidak pernah membahas kaki dengan istri atau teman. Tapi mereka perlu tau pemain basket NBA menurut Wall Street Journal melakukan pedicure pada kaki mereka.

Jika pelanggan datang bukan soal kuku bersinar, maka setidaknya berpikirlah tentang aspek kesehatan. Ambil lah contoh Lebron James, sosok pemain basket terkenal sedunia ini paling vokal soal aktivitasnya pedicure kuku kaki. Lalu ada Dwyane Wade sebagai pebasket kaki adalah aset, maka dia merawat kakinya.

Persepsi tentang pedicure lambat laun berubah. Meskipun begitu dukungan wanita juga penting. Alhasil ada klien 3 sampai 5 persen adalah wanita. Mereka yang mengajak pasangannya yang kakinya bau. Meski begitu Michael tetap fokus terutama menarget mereka para pria berjas yang sudah memiliki pendidikan tinggi.

Wanita ini memberikan kontribusi 30% penghasilan perusahaan. Mereka mendorong para prianya agar tau bahwa kaki mereka butuh perawatan. Bisnis Michael adalah perawatan kuku dan tangan termasuk pedicure tetapi juga lainnya. Untuk menarik para pria ada perawatan pijat dengan scrub yang dicampur wiskiy juga.

Bisnis Restoran Meksiko El Pastor Menu Andalanya Taco

Profil Pengusaha James Hart 


bisnis jualan taco
 
Menjadi pegawai bergaji puluhan juta memang enak. Tetapi kalu memiliki usaha sendiri lebih memuaskan hasrat kita. Apalagi kalau bisnisnya sukses menghasilkan lebih. Kebebasan finansial ditambah kebebasan kita berpassion. Inilah kisah dua saudara berbisnis taco Meksiko di Inggris, siapakah mereka.

James Hart, 32 tahun, memilih jalan berbeda dibanding dua saudara laki- lakinya. Mereka berdua yang dikenal sebagai pengusaha pemilik restoran juga. Dia memilih jalan menjadi broker. Bergaji enam digit angka dollar Amerika. Tetapi baru saja dia menyadari bahwa passion -nya adalah membuat makanan enak.

Sudah mendarah daging maka lahirlah bisnis El Pastor, bersama kedua saudaranya dan seorang temannya. Ia mendapatkan review bagus dan antrian pembeli. Sepuluh tahun bekerja menjadi pegawai di kota London. "Ketika saya resign Desember 2015 saya tidak terpikirkan untuk berbisnis di bidang jasa."

Ketika dia tengah berjuang berbisnis, sang kakak yakni Eddie (41), dan Sam (43), sudah membuka cabang ke empat restorannya -yang bernama Barrafina.

Bisnis Taco


Ide El Pastor ialah tentang Kota Meksiko, dimana Sam menjalankan tempat klubing El Colmillo antara tahun 90- 00an. Orang cinta dengan kultur dan masakannya. Orang akan berdebat panjang tentang makanan taco ketika menikmati minuman dan musik.

Makanan Meksiko di Inggris ya gitu aja. Ada keju manis, ada nachos, krim, dan cabai jalepanos bila kita beruntung. Hingga restoran taco benar buka memberikan suguhan lebih menonjok. Ia mencoba mengikuti jalur tersebut bukan dengan restoran cepat saji tetapi restoran klasik.

Banyak orang memiliki mimpi bisnis taco. James hanya mengamati, menganalisa, bagaimana agar bisa ditranslatekan kepada tradisi lokal. Hingga dia menemuka titiknya semuanya adalah perjalanan sejarah. Ia meluncurkan El Pastor pada Desember 2016, tiga restoran telah dibuka hanya kurun 10 tahun saja.

Kisah suksesnya adalah pada rasa menonjok. Ia telah menemukan keilmuan tentang memasak taco yang sempurna. Dengan pergi kembali ke Meksiko, dia belajar sendiri dari ahlinya tentang taco, sejarah tentang masakan ini menambah cita rasanya. Semakin dipelajari ternyata makanan Meksiko sudah eksis 60 tahun lebih.

"Kami belajar dengan sendiri, jadi tentu saja banyak masalah menghadapi kami," ujar James.

Namanya diambil dari nama bisnis Taco Al Pastor, yang dikembangkan oleh imigran Lebanon di Meksiko. Inilah menu utama restoran ini. Bagaimana memberi bumbu menjadi kunci. Setiap detail kecil dalam hal pengolahan daging menjadi hal utama.

Trademark kualitas menjadi nomor satu. James menciptakan Al Pastor menjadi kasual. Bagaimana orang bisa menikmati makanan sesantai mungkin. Rasanya harus sangat brilian, dimana anda tidak perlu butuh akan adanya meja dan tetek bengek di atasnya.

"Layaknya makanan jalanan, itu merupakan jalan terbaik buat makan."

"Kami suka berbagi, ini merupakan satu cara kami menimati makan," ujar James. Meskipun sukses tidak mudah baginya menggaet para Londoner. Merupakan sentral makanan membuatnya pasti bertemu banyak pesaing. "Kami berjuang keras, sangat keras untuk lokasi kami (berbisnis)," tambahnya.

Margin untung bertambah akan sangat sulit. Dimana jika anda tidak memiliki ruang untuk bernafas buat menyempurnakan sagala hal. Biaya sewa tinggi membuatnya nerves untuk memandang ke depan. Akan semakin sulit menggaet orang baru berkenalan dengan produknya.

Hal tersulit menjadi pengusaha selain hal di atas. Adalah rutinitas dimana James harus bangun jam 6 pagi, bagaimana agar tetap sehat dan fit setiap hari. Dimana bisnisnya buka jam 7.30 sampai 4.30, yang mana sudah termasuk tetek bengeknya, tidak ada waktu buatnya pergi ke gym.

Meskipun sulit dibanding ketika dia bekerja menjadi pegawai. Ia sempatkan diri untuk fitnes disela- sela kesibukan bisnisnya. "Orang menjadi sangat bersemangat ketika berbicara tentang gaji namun demikian mereka lupa bahwa kunci semua hal adalah kebahagiaan," ucapnya, siap bertaruh jangka panjang wirausaha.

Petani Pengusaha Singkong Gajah Kalimantan

Profil Pengusaha Ariyanto Zeydan


tanaman singkong gajah

Namanya singkong gajah, merupakan varian baru singkong yang sudah pasti lebih di ukurannya. Namanya juga gajah, jika dirawat benar, ukurannya bisa mencapai berat 80kg satu batangnya. Rasanya tuh gurih seperti mentega, teksturnya lunak, umbinya tidak cepat membusuk selepas dicabut dari tanah.

Hasil panan bisa mencapai 150- 200 ton jika dikelola baik, kalaupun tidak intesif mencapai 100 ton per- ha. Singkong ini cocok dijadikan bisnis tepung mocaf -tepung singkong fermentasi- karena warnya yang putih bersih.

Kulit umbi bagian dalam berwarna merah, batang mudah berwarna ungu, batang tua berwarna coklat, dan daun muda berwarna coklat. Salah satu pengusaha yang menarget keunggulan singkong gajah: Adalah Ariyanto Zeydan, seorang pengusaha budidaya singkong gajah asal Kalimantan Timur.

Pria yang juga berprofesi sebagai Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur ini, cuma memanfaatkan waktu luangnya menjadi petani singkong. Dia sangat suka berkebun. Bertahap dia mencari informasi budidaya apa yang asik tetapi menguntungkan sesuai kondisi lahan yang luas di sana.

Kemudian dia bertemu artikel dari pakar singkong Prof Dr. Ristono MS dari Universitas Mulawarman. Ini jadi titik tolak menaman bibit di lahan 1 ha. Sejak tiga tahun lalu dia sudah menggelontorkan uang Rp.25 juta. Kemudian tumbuh menjadi 2 ha di Samarinda dan membuka lahan 50 ha di Balikpapan Timur.

Lahan sendiri maupun lahan petani lain dengan bagi hasil. Harga jualnya tejangkau yakni Rp.1.000- 2000/kg tapi kuantitasnya besar. Jika dijual ke pedagang lain atau ke konsumen langsung harganya jadi Rp.1500- 2500/kg. Dia juga berjualan bibit singkong ukuran diameter 2- 3 cm dan panjang 20cm seharga Rp.500/batang.

Ia sangat optimis dengan bisnis singkong. Terbukti permintaan singkong terus berjalan. Bahkan sempat juga merasa kwalahan. Menurut Anto, singkong miliknya jadi rebutan tengkulak, karena mereka tau rasa singkong ini maknyus. "Saya sampai kwalahan memenuhi permintaan," paparnya.

Bahkan dia sudah membangun pabrik pengolahan sekala kecil. Dengan bantuan investor dari China dan lain- lainnya, dia tengah membangun lahan di Kutai Kartanegara seluas 7000 ha, Malinau 20.000ha, Berau 5000 ha, dimana dia berencana juga membuka lahan seluas 1000ha di Samarinda, tutup pria kelahiran 14 Januari 1977 ini.

Jual Kerajinan Bunga Sabun Pengusaha ini Untung

Profil Pengusaha Sukses Camelia


 
Selain harum di tubuh wangingnya sabun juga menguntungkan. Berapa banyak rupiah bisa diteguk. Ternyata bisa diluar dugaan dengan kreatifitas tingkat tinggi. Ini cerita seorang pengusaha wanita bernama Camelia. Siapa sangka wanginya sabun batangan bisa diubah menjadi emas sungguhan.

Singkat cerita dimulai dari ketertarikan Camelia akan karya seni. Bermula 2013 silam, lewat saudarinya dari Kendari, yang memperlihatkan kerajinan berbahan dasar sabun mandi. Produk sehari- hari tersebut ia lihat bisa dirubah menjadi sebuah bentuk kesenian ukir.

Melihat bentuk unik, indah, dan harum, Cameli mendapatkan ide cemerlang untuk membuat kerajinan dari bahan sabun batangan. Wanita asal Makassar ini menghasilkan keuntungan sampai jutaan. Untuk bisa dia sekarang, belajar mengukir sabun membutuhkan waktu lama.

Tidak mudah apalagi dia bukan orang menganggur. Sebagai ibu rumah tangga, kegiatan menata rumah bisa menyita waktu. Disela- sela membersihkan rumah, dia mengukir alat pembersih tersebut menjadi bentuk bunga. Satu pot diproduksi dalam tempo tiga pekan. Bau sabun berbentuk bunga menjadi kelebihan hiasan ini.

Semangat wirausaha menggebu ketika Camelia dikunjung orang. Melihat hiasan tersebut dan wanginya yang memenuhi ruangan. Mereka tertarik memberikan lontaran pertanyaan. Dari ketertarikan mereka bisa disimpulkan sendiri bahwa Camelia punya peluang bisnis menjelang Idul Fitri. Berjualan di Pantai Losari, hasilnya jualan Camelia laku keras diborong pembeli.

"Responnya sangat bagus, orang penasaran dengan kerajinan ini," jelasnya.

Bisnis serius


Dia merasa bisnisnya bisa dipasarkan lebih luas. Selepas Idul Fitri jualanya menyebar dari mulut ke mulut. Dibantu anak ketiganya, Adel, bisnis kerajinan sabun semakin dikenal masyarakat. Adel membantu pula promosi lewat sosial media. Pesanan semakin banyak lewat promosi semacam tersebut.

Dia juga ikut berbagai ajang promosi usaha kecil dan menengah. Juga ikut berbagai pelatihan wirausaha, seperti tentang bagaimana berpromosi, cara mencari modal, hingga produk mereka semakin luas dalam hal jangkauan penjualan.

Bunga buatan mereka pun ikut dipamerkan di acara pameran Menteri Koperasi dan UKM. Yang mana tiap pot ukuran besar dihargai Rp.150 ribu. Terhitung murah karena waktu pengerjaan mencapai 2 mingguan. Dan yang kecil dijualnya Rp.50 ribuan, usaha ini menghasilkan untung Rp.500 ribu per- bulannya.

Meskipun kecil, dia tidak menyerah, masih ada pasar yang tengah digalinya lagi. Untuk membuat satu pot atau 25 tangkai, dibutuhkan tiga sampai empat batang sabun. Sabun tersebut diparut kecil- kecil, hingga jadi serbuk, diberi air dijadikan adonan yang gampang dibentuk.

Setiap rangkaian dibentuk dengan lem. Kemudian diberi batang besi panjang sebagai dahan. Nah, kalau hal daunnya dibuat dari daun plastik. Ditempel ke bunganya hingga membentuk indah. Bunga akan mengeras dalam waktu. Soal wanginya bisa bertahan sampai empat bulanan.

Gunakan plastik yang dilubangi, dibungkuskan ke bunga, tujuannya agar wangi jadi lebih awet tahan lama. Produk ini juga ditawarkan ke pihak hotel, atau perusahaan- perusahaan. Optimis bisnis ini berkembang bahwa ketika mereka sadar akan produknya. Pastilah pesanan akan membanjiri dia ketika sudah berhasil.

Kisah Mualaf Pengusaha Berwirausaha Khanz Hijab Bogor

Profil Pengusaha Juwita Karo Karo




Ada hikmah dibalik pristiwa. Sejalan dengan pencariannya akan Tuhan, siapa sangka nasib membawa Juwita Karo Karo, bisa menjadi salah satu pengusaha hijab ternama. Dari kecil dia mengaku sudah merasakan ketentraman ketika Adzan berkumandang. Juwita adalah CEO sekaligus pemilik Khanz Hijab Bogor.

Memeluk Islam sejak 2008 silam, perjalanan hidupnya sangat getir dan berbeda 180 derajat jika nanti kita bandingkan dengan bisnisnya. Penampilan Juwita tidak seperti sekarang. Lahir dari keluarga Kristen yang taat. Juwita terasingkan dari keluarganya karena masuk Islam.

Hanya berbekal pakaian di badan, sepasang sepatu, Juwita hijrah ke Bogor mencoba mengadu nasibnya. Ia dimana- mana tidak diterima keluarga. Tidak punya apa- apa. Juwita seolah putus asa, mulai melangkahkan kakinya mencari tempat tinggal sementara.

Badannya yang lusuh karena memang sudah lama tanpa tujuan -sudah seperti pengemi-, mereka yang ia tanyai memilih menghindar. "Saya benar- benar hampir putus asa," kenang dia.

Kisah susahnya menjadi mualaf


Memang tahun pertama menjadi mualaf sangat keras. Selain penolakan dari keluarga, hal lainnya adalah ia harus segera memperdalam ilmunya. Kenyataan bahwa dia sekarang sendiri berbahaya. Jika tidak karena iman kuat mungkin Juwita tidak akan bertahan kala itu.

Kehidup ekonomi juga terbolak- balik. Jika dulu dia berkecukupan sekarang susah. Untuk makan saja dia tidak mampu. Waktu itu masih SMA kemudian mau meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Sampai di Bogor, dia menuju Universitas Ibun Khaldun, dimana ada pendaftaran mahasiswa baru.

Tidak punya apapun Juwita nekat menghadap Rektor. Waktu itu Rektornya, Prof. Ramly Hutabarat, dia memohon kepadanya langsung. Karena iba Rektor memberinya kesempatan, dan bahkan memberikannya beasiswa. Prinsip keluarga masih tertanam mengakar bahwa "tangan  di atas lebih baik dibanding di bawah."

Konsekuensinya dia bekerja keras agar membuktikan. Mengganti biaya masuk Rp.6,5 juta. Dia harus bisa hingga siap bekerja sambilan. Dia menjadi reseller gorengan di kampus. Karena saking rajinnya Juwita mau mengganti uang tersebut. Dia dikenal bukan sebagai mahasiswa tetapi penjual gorengan.

"Sampai seluruh dosen dan mahasiswa UIKA kenal dengan saya, bahkan saya ini dianggap tukang jualan gorengan, bukan mahasiswa UIKA," tujuh tahun silam ketika dia memulai hidupnya dari nol kembali.

Berangkat jam 07.00, tidak pernah malu berjualan gorengan keliling kampus. Padahal kuliah mulai pukul 09.00. Ketika kuliah jalan dia tetap menjajakan dagangan ke teman- temannya.

Hidayah datang ketika dia mempertanyakan tentang adzan. Kenapa di agama Kristen tidak ada adzan yang berkumandang. Sebuah perasaan ingin tau luar biasa. Yang mana dianggap salah oleh kedua orang tuanya. Bukannya mendapatkan jawaban malah Juwita dilarang menanyakan hal semacam itu.

"Ma, kenapa sih di gereja tidak ada adzan?" tuturnya.

Dia memang terlahir dari keluarga Kristen misionari yang taat. Pengambilan keputusan soal agama tidak boleh gegabah. Meskipun belum bersyahadat, Juwita sudah mulai memakai mukena dan belajar sholat. Ya namanya tupai melompat, sepandai- pandainya pasti jatuh juga.

Sang ibu memergoki dia sedang belajar bacaan sholat. Dia sempat diusir orang tua. Namun tidak berapa lama, dia diajak kembali pulang. Dia diberikan pilihan mau tetap atau menjadi muslimah. Juwita dengan tegas memilih Islam dibanding keluarganya.

Sebagai mahasiswa dan mualaf, Juwita adalah berprestasi dimana banyak organisasi kampus diikuti. Dia salah satu anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), anggota dakwah kampus, dan kegiatan lainnya. Dia sosok mahasiswa berprestasi dengan IPK 4.00 ditengah kesibukan wirausaha dan kuliahnya.

Tahun 2011, dia lulus dengan nilai cumlaud, sang Rektor yang menerimanya dulu lantas memberikan satu pesan khusus. "Perjuangan belum selesai, Juwita," ucapnya. Tawaran bekerja di Bank Syariah sudah bisa dia masuki langsung. Namun dia tolak karena memilih fokus melanjutkan wirausaha di fashion hijab.

Bisnis mualaf


Usaha pertama ialah reseller gorengan. Tanpa rasa malu rutinitas jualan gorengan keliling kampus. Jualan gorengan milik orang demi bertahan hidup buat makan. Tatapan mata Juwita memandang berita tentang kita akan menghadapai MEA. Kita harus mencintai produk buatan Indonesia, harus menciptakan produk baru.

"Saya tidak mau menyerah, apapung yang terjadi, saya terus berusaha," ujarnya.

Mengumpulkan uang kemudian dia berbisnis lain. Dia mencoba beternak lele. Gagal, dia memang merasa ternak lele bukan jalannya. Tidak ada passion bisnis ketika disana. Rugi Rp.30 juta tidak membuat ia merasa putus asa  justru semakin bekerja keras menjemput rejeki.

Kemudian dia melirik bisnis fashion hijab. Berawal dari menjadi reseller, dia mulai menjajakan via online aneka hijab kepada masyarakat. Mulai dari reseller kemudian iseng mencoba mendesain hijab sendiri. Ia mengajak satu penjahit, dia kemudian dibagian pemasaran dibantu empat orang buat pemotongan kain.

Dia mampu menjual 500 potong per- hari. Nama bisnis Khanz Hijab Bogor mampu menarik banyak orang menjadi reseller. Dia mampu menjual sampai ke Malaysia dan Hongkong. Juwita belajar dari siapapun, termasuk belajar dari resellernya, yang menjual ratusan ribu sampai puluhan juta rupiah.

Pengusaha harus punya semangat pantang menyerah. Juga kedisplinan dan kesungguhan. Tidak cuma itu ia menambahkan bahwa belajar kapanpun dimanapun. Belajar tidak lama- lama, cukup 20 menit belajar yaitu terutama sebelum sholat Subuh. "...otak masih fresh," tutupnya.

Potensi Berbisnis Clay Buat Wirausaha Menjanjikan

Profil Pengusaha- Pengusaha Clay 


mereka pengusaha clay

Memang bisnis bidang kerajinan selalu ada jalan. Kalau kita jeli, pasti ada saja peluang dapat kamu bidik kembali. Cukup mengikuti trend kekinian bisa. Ambil contoh sukses beberapa pengusaha berikut. Soal bisnis mereka boleh dibilang tengah digandrungi masyrakat yaitu bisnis clay.

Clay impor menjadi pilihan beberapa pengusaha. Polymer clay memang bisa diubah menjai apa saja. Salah satu pengusahanya bernama Yeni, wanita 31 tahun yang mulai mendalami kerajinan clay sejak 2002 silam. Awalnya dia diajari seorang teman hingga akhirnya berwirausaha.

Produk mulai dari miniatur hewan, bentuk makanan, dan bunga. Pesanan bisa mencapai ratusan juta loh. Dia menjual Rp.15.000 per- item. Soal omzet Yeni memilih tidak memberi tau. Tetapi bisa dipastikan jika produk claynya sangat mirip aslinya, sudah pasti omzetnya bisa sampai puluhan juta.

Meskipun masa krisis, dia masih bisa menjual terutama mereka para kolektor. Pengusaha clay lainnya ada pasangan suami istri Hermawan dan Widi. Mereka membuat aneka figura berbahan polymer clay. Yang mana clay ini dioven dulu baru kering.

Bisnis mereka bermula dari hobi sang istri. Widi merupakan penggemar clay sejak dulu. Jadi tanganya memang sudah terampil. Masuk 2007, dia dan suami, mulai menekuni bisnis aneka produk clay dibawah bendera Pro C1ayArt, yang mana fokus mereka lebih artistik lewat figura clay bukan sekedar miniatur.

Perpaduan warna detail, dimana sudah ada 25 desain frame foto 3R dan 4R. Dimana sudah termasuk aneka hiasan kecil berbahan clay juga. Hiasannya juga tidak besar, terkadang hanya butuhkan 1 kilogram saja per- bulan. Dimana harga jualnya Rp.400-500 ribu dimana omzet mereka perbulan mencapai Rp.40 juta.

"Karena harus impor, harga jualnya jadi mahal," paparnya.

Mencintai Wirausaha Pengusaha Muda Vietnam Mendunia

Profil Pengusaha Thuy Thanh Truong


kisah pengusaha muda vietnam

"Ketika saya mengerjakan sesuatu yang aku cintai tentanya maka aku akan menikmatinya, untuk ku berhenti mengerjakan itu berarti sebuah hukuman," ia membuka.

Namanya Thuy Thanh Truong, pengusaha muda asal Vietnam, dikenal sebagai ratunya startup di negar itu. Ia merupakan putri satu- satunya. Kelahiran Bein Hoa, kota di utara Vietnam. Di 2003, orang tuanya lalu pindah ke Amerika, untuk pendidikan lebih baik Thuy.

Dia masuk Alhambra High School. Kemudian kuliah di Pasadena City Collage. Tahun 2009 dia pindah ke University of Southern California sebagai lulusan ilmu komputer.

"Saya cuma tidur lima jam sehari," ucap pengusaha 29 tahun ini.

"Saya bahkan tidak bisa mengatasi jet leg. Saya tidak percaya prinsip hidup seimbang," jelasnya. Kenapa bisa begitu karena dia sibuk menjalankan tiga bisnis di dunia berbeda. Dia dengan semangatnya bisa masuk ke jajaran perusahaan Silicon Valley.

Awal bisnis


Layaknya orang tua lain asal Vietnam, Amerika menjadi tujuan terbaik pendidikan anak mereka. Tetapi ia memilih kembali ke Vietnam ketika lulus. Jujur orang tua Thuy ingin dia bekarir di Amerika Serikat. Dia kemudian memulai bisnis pertama yakni bisnis yogurt beku bersama teman sekolah menengahnya.

Bisnis tersebut dimulai 2008, yang mana diberinya nama Parallel Frozen Yogurt. Dengan sistem yang bersifat startup. Bisnis ini berkembang diluar perkiraan. Yang mana dia mendapatkan pendanaan untuk bisa membuka 3 cabang.

Dia berhasil menghasilkan ribuan dollar. Dengan marketing dan branding baik, bisnis Thuy bisa dibilang tidak ada hambatan. Namun brand bagus saja tidak cukup loh. Intinya bagaimana Thuy menciptakan bisnis berkesinambungan. gagal. Dalam tiga tahun akhirnya bisnis ini tutup pada 2012.

Penjelasannya adalah 99% bisnis startup gagal, hanya 1% yang berhasil dalam perjalanannya nanti. Dia menambahkan ketika kamu muda. Kamu mau menjalankan bisnis. Jalankan bisnis kamu rasa passion mu itu. "(Tapi) tidak ada garansi itu akan berhasil," terang dia.

Walaupun gagal dia menjelaskan di sana, kita bisa belajar sesuatu untuk bisnis lainnya ke depan. Disisi lain ternyata Thuy juga sedang menjalankan bisnis teknologi pertamanya -disaat yang sama bisnis yogurt dia jalankan.

Tahun 2010, teman kuliahnya, Elliot Lee berkunjung ke Vietnam. Keduanya setuju membuat studio kecil di Ho Chi Minh City, untuk membantu teknisi asal Vietnam berkembang. Usaha tersebut diberinya nama GreeGar dimana merupakan aplikasi whiteboard aplikasi desain kolaboratif laris iOS Store di berbagai negara.

Dimana penggunanya sempai 100 negara, penggunanya adalah para anak sekolahan. "Kami menghasilkan ribuan  dollar tetapi gagal menaikannya," tandasnya. Dimana pada 2014, bisnis ini selesai, tutup dimana sebagian timnya terpecah dan Thuy bersama beberapa orang mengerjakan aplikasi Tappy.

Apa sih Tappy? Sebuah aplikasi sosial media, dimana menyasar orang Vietnam sendiri, dengan tumbuhnya sampai 10% per- tahun. Tappy mencoba menjadi pemain lokal. Dengan mengenali keadaan Vietnam lokal mampu membuat aplikasi ini lebih bersinar.

Lewat Tappy bisa mencari orang di sebuh event tertentu. Tappy bisa digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain. Kemudian jadilah komunitas kalian sendiri lewat Tappy. Pada Mei 2015, pihak Weebly, sudah sepakat membeli Tappy dimana senilai 7 digit angka nilai dalam waktu 10 bulan launching.

Lantas dia diangkat menjadi direktur bisnis oleh Weebly untuk Asia. Meskipun terlihat Vietnam punya potensi besar dalam startup. Faktanya infrastruktur masih terkendala. Wi- Fi dimana- mana sih. Tetapi sinyalnya sangat lemot. Dan perusahaan yang mau investasi butuh waktu 6 bulan hingga dokumennya siap.

Menjadi pengusaha muda Silicon Valley kehidupan Thuy adalah 50- 50 antara ke Amerika dan Vietnam. Dimana juga termasuk ke Singapura, dengan 10 kali pertemuan tiap harinya. Orang tuanya tinggal di Los Angles, pulang ke Vietnam dia berkunjung ke rumah paman dan sepupu di kampunya Bein Hoa.

Kekek Thuy dan ayahnya adalah pekerja keras, mereka memilih wirausaha. Mangkanya orang tua Thuy bisa mendukung memberikan semangat. "Kamu harusnya kerja keras ketika muda," tutup Thuy.

Toko Kebakaran Bangkrut Pengusaha Nazhmah Bangkit Lagi

Profil Pengusaha Nazmah Armadhani 


bangkit dari kebangkrutan

Menjadi pengusaha harus siap mengambil resiko. Begitu juga sukses Nazmah Armadhani, masih saja dia teringat cemooh tetangga. Waktu itu Nazmah sudah bekerja kantoran. Sebagai lulusan Sarjana, kok, gaji Nazmah tidak sebesar gaji babysitter.

"Sarjana kok gajinya kalah sama babysitter ku," ia menirukan.

Dia, seorang ibu rumah tangga memiliki tiga anak, bekerja kantoran cukup menyita waktu. Tetapi hasilnya tidak sebesar perjuangan mencapai gelar sarjana itu. Terselip keinginan membuka usaha sendiri. Namun dia belum punya bayangan. Berbisnis sepatu lukis? Menggambar saja Nazmah tidak bisa mau melukis lagi.

Bertitle Sarjana Ekonomi, pencapain Nazmah ialah bekerja sebagai editor, dan itupun di perusahaan kecil buku- buku Islam. Tahun 1992 digajinya uang Rp.80.000 per- bulan. Sedangkan sang babysitter tetangga gajinya Rp.400.000 per- bulan.

Malu Nazmah mendengar kenyataan hidup. Apalagi ditambah ejekan soal suami yang betah di kampung karena jam kerja Nazmah. Sang suami memang tinggal terpisah di kampunya, Banjarmasin, Kalimantan. Ia mencapai titik kesal ketika harus mengandung anak kedua.

Tahun berlanjut, masuk tahun 2000, anaknya sudah masuk TK -yang cukup mentereng di Surabaya. Yang mana isinya anak- anak tergolong mampu. Dibanding Nazmah, maka ia tidak ada apanya, justru ketika itu dia mulai mengamati paluang masuk ke dunia mereka.

Modal pertemanan dan tetangga toko di Pasar Turi. Dimana suaminya adalah pedagang ritel di sana. Maka Nazmah mendapatkan harga kusus buat ambil barang. Lantas dia mencoba menjajakan ke mereka berbekal mengamati mereka. Bisnis busana muslim Nazmah baru saja dimulai sambil membawa anak bungsu jalan.

Awalnya dia sama sekali tidak berani menawarkan. Mental tempe katanya. Padahal dia sudah bawa banyak barang tetapi tidak jadi dijual. Sampai ada ibu mendekati Nazmah karena penasaran akan barang bawaan -yang sangat besar itu. Nazhmah hanya tersenyum penuh arti. 

Sang ibu spontan nyeletuk. Rasa ingin tau membawanya membuka bawaan Nazmah. "Lho ini dijual ya, saya buka ya?" terang Nazmah. Dari sanalah kepercayaan lebih timbul. Mulai Nazmah berubah menjadi sosok pengusaha pakaian muslim sekaligus ibu rumah tangga.

Musibah bisnis


Diantara perjuangannya menjadi pengusaha. Kabar buruk terjadi yakni dua toko suaminya terbakar. Alhasil dia kehilangan banyak modal usaha. Padahal satu toko tersebut merupakan toko baru. Tetapi memang itu sudah menurun pendapatannya dan akhirnya terbakar. Tahun 2007 kerugian ratusan juta diterima dia dan suami.

Memulai bisnis kembali memang susah. Tapi Nazmah membuktikan dirinya mampu. "Dua toko kita habis, pas mau bulan puasa. Dua tahun kita bingung karena nggak ada pemasukan," ia mengenang. Dan suatu saat, sang anak mulai membuat lukisan di atas sepatu polos, Nuzmah lantas menjajal masuk ke pameran.

"Ternyata ibu gubernur suka," jelasnya.

Padahal bisnis dijalankan Nuzmah terbilang pasaran. Banyak sudah pengusaha masuk di bisnis tersebut. Tapi ia meyakinkan diri bahwa produknya berbeda. Pengalaman merupakan hal terpenting. Namun, disisi lain, Nuzmah merupakan sosok pelajar mengamti pasar dan juga kemampuan pegawainya.

Jika pengusaha lain sudah percaya diri. Nuzmah yang tidak bisa melukis. Mempercayakan kepada mereka yang cuma lulusan SD. Mereka mungkin tidak berpendidikan tinggi. Tetapi justru disana ada ketelatenan. Dan darah seni tidak memandang jenjang pendidikan.

Hasilnya produk Nazmah seperti buatan pabrik. Garisnya rapih bukan sembarang goresan. Karyawannya cukup lima orang asal Jawa Timur. Bahan cukup cat sablon atau cat akrilik, kemudian sepatu polos didapat dari Surabaya, Sidoarjo, hingga Bandung juga.

Omzet sampai Rp.20 juta kalau ikutan pameran. Sedangkan kalau tidak mengantungi omzet Rp.6 jutaan. Ia menambahkan masalahnya karena produknya nyempil di toko orang. Tidak terlihat mencolok namun pasti menarik pembeli. Ada 60 pasang dijamin laku ketika sudah keluar dari rumah produksinya.

Harga bervariatif antara cewek dan cowok beda. Harga mulai Rp.100- 300 ribuan, dan kalau cowok kan medianya besar jadi harganya lebih mahal. Nuzmah sendiri belum merambah pasar ekspor. Alasanya ya karena prosesnya berbelit. Walaupun sudah ada penawaran tetapi masih dia tolak buat memenuhi pasar.

Ia membayangkan keribetan ekspor. Sudah lagi ada kendala bahasa, dan ditambah lagi keharusan merapikan manajemen dulu. Bagi pengusaha sepatu lukis waktu empat tahun dianggapnya kurang. Mungkin 10 tahun lagi. Pemasan bisa memesan dengan model sendiri inilah kelebihan dia.

Warna cerah menjadi andalan brand Dhona Dani ini. Tips sukses buat kita? Nazmah mengatakan bagi kita pengusaha pemula, tidak khusus pengusaha sepatu lukis ya, harus percaya diri akan karya kita sendiri. Dia mengatakan kita harus selalu optimis ada masa depan di bisnis kita jalankan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba