Kisah Pendiri Startup SehatQ Pengusaha Linda Wijaya

Profil Pengusaha Linda Wijaya

 

lindawijaya.png
 

Pengusaha Linda Wijaya merupakan sedikit dari banyak pendiri startup Indonesia. Simak kisah pendiri startup SehatQ  membangun kesehatan bangsa. Wanita memang sudah tidak boleh dipandang sebelah mata. Telah banyak mereka mendirikan perusahaan dan atau memimpi perusahaan.


Linda merupakan lulusan Master Industrial Engineering dari University Michigan. Ia mulai kembangkan aplikasi miliknya semenjak November 2018. Dalam kurun 10 bulan, dia bersama timnya gencar untuk melakukan perkenalan.

 

Layanan Kesehatan


Mereka juga terus melakukan ekspansi layanan. Peluncuran resmi aplikasi SehatQ baru di 25 September 2019 silam. Linda merupakan ibu dua orang anak. Merasakan keresahan begitu rumit birokrasi kesehatan kita. Sempat dia kesulitan ketika hamil besar, sementara anak sulungnya demam.


Pusing Lindah diminati aneka hal sampai akhirnya mendapatkan layanan. Padahal dia tengah hamil 8 bulan. Anaknya demam tinggi 40 derajat, jadilah buru- buru berangkat ke rumah sekit. "Tapi apa yang saya alami waktu itu benar-benar menyiksa, saya harus menunggu sampai 5 jam," kenangnya.


Hamil gede kan capek tetapi masih disuruh mengurusi persyaratan. Proses birokrasi menambah lama, padahal itu malam hari, udah gak ada orang ngantri tetap lama nunggu. Ini telah menjadi rahasia umum tantangan pelayanan umum rumah sakit.


Banyak kelengkapan administrasi sebelum dilayani dokter. Ia berharap, ada tempat lebih simple, yang enggak terlalu ribet, dan punya banyak waktu mengurus keluarga kita. Dengan SehatQ diharapkan tinggal one click layanan.


SehatQ lebih menyediakan open platform. Tidak menginginkan monopoli layanan. SehatQ dihadirkan berdasarkan kebutuhan pasien. Dalam kurun waktu 10 bulan, semenjak pertama diluncurkan platform SehatQ telah memiliki 3,2 juta pengguna. Linda pun menargetkan 6 juta pengguna hingga akhir 2019.


SehatQ memiliki fitur Chat Dokter dan Booking Dokter. Juga menghadirkan layanan konten kesehatan valid. Pasien dapat berhubungan chat dengan dokter di Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Konsultasi tidak dipungut biaya. 

 

Chat akan disimpan menjadi rekam kesehatan akun SehatQ dan menjadi catatan medis digital. Nanti dapat dicetak atau dilihat rekam medisnya. Booking Dokter memberikan informasi status dokter di rumah sakit atau klinik sekitar.


Pengguna dapat menentukan jadwal periksa tanpa tunggu lama. Ia mengingatkan bahwa keberadaan SehatQ bukan menggantikan dokter. Pengusaha Linda Wijaya bahkan berharap terjadi kerja sama dari berbagai pihak.


Kan tujuannya mempermudah masyarakat mendapat layanan. Dalam benaknya ada tiga holly trinity: pasien, asuranasi dan lainnya, dan pemberi fasilitas kesehatan. Dan Linda memperhatikan sekali tiga hal ke dalam aplikasi SehatQ.


Masalah keamanan data sudah terenskripsi demi keamanan. Ia memastikan bahwa SehatQ akan selalu menjaga data pasien. Fitur chat tidak dapat diakses kecuali oleh pasien dan dokter. Uniknya dokter tak diperbolehkan mendiagnosa secara online, dilarang memberi resep online, belum ada regulasinya.


Diceritakan bahwa SehatQ merupakan aplikasi self medication. Pengguana kebanyakan bukanlah dari mereka yang memembutuhkan resep dokter. Ada 60 sampai 70 persen penggunannya, yang adalah penderita penyakit ringan saja.


Ada 12 dokter bekerja sama dan 40 dokter akan bergabung pada 2019. Untuk Booking Dokter telah terintegrasi dengan 8000 pihak seluruh Indonesia. Pengusaha Linda Wijaya sendiri merupakan putri Teguh Ganda Wijaya. Seperti namanya dia adalah cucu dari pendiri Sinarmas, Eka Tjipta Widjaja.

Pengusaha Dewi Tanjung Bisnis Waralaba Souvenir

Profil Pengusaha Dewi Tanjung Sari


bisnis waralaba souvenir

 
 
Ini kisah pengusaha Dewi Tanjung Sari, wanita 33 tahun, yang memulai bisnis waralaba souvenir pernikahan. Dewi menjadi contoh nyata kegigihan untuk mencapai cita- cita. Apa yang dia inginkan telah tercapai, walaupun bukanlah mudah. 
 
Dia ingin menjadi pengusaha tetapi belum tau mau usaha apa. Dewi ingin menjadi pewirausaha sukses. Sebagai anak yatim sejak kecil, mentalnya telah terlatih untuk hidup mandiri. Ibu Dewi bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sosoknya menginspirasi hidup Dewi agar bisa menjadi orang sukses kelak.

Merintis Bisnis Souvenir

 
Ia ingin mensejahterakan orang tua satu- satunya. Maka Dewi memulai bisnis sejak awal mengambil kuliah program diploma III di Universitas Brawijaya, Malang. Dewi telah mengembangkan bisnisnya baik dalam kendala dan hambatan, sembari kuliah hasilnya cukup untuk membantu keluarga.

Setelah mengambi Program Diploma, Dewi berkuliah Program Sarjana di IKIP Budi Utomo. Bisnis Dewi semua bermula dari keinginan untuk membantu sang ibu. Dia ikut membantu agar ibunya bisa membuka warung.

Sejak masuk kuliah di Brawijaya, tahun 2003 -an, Dewi sering sepulang sekolah mencari daun- daun kering. Entah kenapa begitu mungkin bentuk keisengan tersendiri. Namun lambat laun, muncul ide untuk membuat kerajinan, maka dikumpulkannya daun- daun lagi.

Ia ingin merubah limbah di penjuru kampus menjadi kerajinan. Daun- daun kering tersebut lalu mulai dibersihkan, kemudian dikeringkan, dan dibentuknya menjadi sesuatu. Daun- daun tersebut lantas Dewi bentuk menjadi figura foto lucu, kotak pensil, undangan, dan bentuk kerajinan lain.

Hasil penjual kerajinan tersebut tidaklah banyak di awal. Ia hanya menjual 50 ribu, dan itupun dijual kepada teman- temannya di kampus. Jika ada pameran kerajinan di kampus, pastilah produk miliknya laku keras -terjual habis. Dewai lantas bertekat untuk menekuni bisnis ini lebih lanjut.

Suatu hari di tahun 2005, dia bertemu pengusaha karajinan dari produk limbah. Sang pengusaha lalu memesan produk kerajinan berbagai jenis. Dewi senang karena mendapatkan pesanan banyak. Itu sangat banyak buat seorang Dewi yang masih merintis usaha.

Sejak itulah usahanya berkembang pesat tak terbendung. Semula semua produksi ia lakukan secara sendiri, sekarang melibatkan 16 keryawan lepas yang merupakan tetangganya sendiri. Diluar dugaan, tahun 2007 -an, pengusaha eksportir kerajinan limbah itu harus menutup bisnisnya atau bangkrut.

Ini membuat Dewi memutar otak agar mempertahankan jalannya roda bisnis. Ia bingung bagaimana agar bisa mengelola usaha secara sendiri. Dia kebingungan akan nasib produk kerajinan yang telah ia selesai produksi. Ia harus mencari cara agar produknya cepat laku terjual.

Untuk sementara proses produksi dihentikan. Itu berarti juga menghentikan para pekerja lepas. Dewi lalu menjual dan menitipkan produk- produk sisa ke teman kampusnya. Dewi juga memajang produk tersebut di warung ibunya, berharap karyawan kantor di depan warung akan membeli.

Suatu hari ada orang belanja yang di warung ibunya menanyakan. Dia tertarik salah satu produk yang Dewi ciptakan. Pembeli tersebut kemudian membeli 750 pcs atau seharga Rp.15000 /pcs, yang kemudian dijadikan merchandise perkawinan.

Bukan main senangnya Dewi mendapatkan pesanan lagi. Kesempatan itu berlanjut menjadi produk merchandise De Tanjung. Tiap produk diberi nomor telephon, alamat, dan website usaha. Selain itu ia berani menitipkan produk- produk itu ke Gramedia, serta pusat kerajinan berbentuk konsinyasi.

Menjadi Pengusaha


Hasilnya ternyata memuaskan lebih dari harapan. Ternyata cara marketing seperti itu mampu menarik pembeli. Tidak cuma membeli sekali tetapi mengingat mereknya, siap pembuatnya, dan menjadi pelanggan tetap produk De Tanjung.

Sebuah marketing dari mulut- ke mulut. Selepas itu. Dewi jadi lebih rajin mengunjungi event fashion show dan aneka wedding expo yang diadakan di berbagai kota. Tujuannya mencari tau tentang tren terbaru dalam industri, terutama yang berkaitan bisnis pernikahan.

Secara periodik, Dewi bekerja sama dengan beberapa pragawati untuk pemaran souvenir dan kartu undangan perkawinan. Ini karena pernak- pernik, souvenir, dan kartu undangan sudah masuk menjadi lifestyle bukan sekedar untuk pernikahan.

Khususnya bagi mereka kelas menengah atas sangat tertarik. Dewi pun menyediakan aneka produk berbagai harga. Dia menyiapkan dari termurah Rp.3.000 hingga Rp.50.000 per- pcs. Produk- produk itu akan disesuaikan kebutuhan pelanggan bukan sekedar membuat

Anak tunggal pasangan almarhum Adi dan Suharti, yang tak segan memperluas pangsan pasarnya melalui waralaba. Usaha ini ternyata terbukti ampuh membuka berbagai mitra pewaralaba souvenir. Produknya kini bisa ditemui di berbagai kota dari Malang, Bontang, Palu, Bekasi, Cirebon, bahkan Papua.

Berkat marketing pintar, omzet bisnisnya juga meningkat, dari yang sebelumnya cuma Rp. 650 juta di tahun 2008, meningkat menjadi Rp. 935 juta di 2009, dan di tahun 2010 lalu, omzet usahanya telah tembus mencapai Rp. 1,1 miliar, dimana keuntungan bersih Rp. 273 juta.

Dia, kini, mempekerjakan 52 orang di pusat produksinya. Sebagian mereka bekerja adalah anak- anak muda sekitar rumah. De Tanjung, bendera bisnis miliknya telah berumur 11 tahun dimana omzetnya mencapai Rp.2 miliar. Sang pemilik pun dianugrahi berbagai penghargaan atas bisnis dan usahanya kini.

"Bagi saya karyawan- karyawan inilah yang membantu usaha saya berkembang menjadi besar," ujar pengusaha muda Dewi Tanjung.

"Ini buah kesabaran, ketekunan, dan yang paling utama berani bermimpi," cetus Dewi, yang terlihat memasang raut wajah gembira. Dia salah satu pemenang Wrausahawan Mandiri di 2011 bersama 180 peserta. Yang mengejutkan ketika Dewi mengungkapkan modal usaha ini cuma Rp.50 ribu.

Kontak:

Email: de_tanjung@yahoo.com
Facebook: Dewi Tanjung
Alamat: Jl. Mondoroko tengah 19 A, Singosari – Malang

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba