Kaos Om Telolet Om Hasilkan Jutaan Rupiah

Profil Pengusaha Dianto Arif Martadi 


 
Kisah viral om telolet om membawa keberuntung. Kali ini, pengusaha muda bernama Dianto Arif Martadi yang menggarap kaus bertajuk sama. Pengusaha yang sudah lama bergelut dibisni distri ini pun. Akhirnya meneguk untung lumayan lewat ngehits viral om telolet om.

Seorang pengusaha sablon asal Solo. Seperti dilansir Okezone, dengan mengusung brand Brothel, emang hobi mengangkat kata- kata nyeleneh. Misalnya kaus bersablon mboknom atau yang artinya istri muda dalam bahasa Jawa. Tidak mau kehilangan kesempatan om telolet om diubah menjadi kaus sablonan.

Padahal sih kaus bikinan Arif sangat sederhana. Hanya menonjolkan kalimat tersebut lewat sedikit bumbu humor tambahan. Baru lima hari saja dipublikasikan menghasilkan lumayan. Baru lima hari sudah banyak berminat. Alhasil sekarang dia mengumpulkan omzet sampai Rp.13 juta, hanya dari satu desain kaus.

Setelah ditelisik ternyata bukan kali pertama. Arif bersama Brothel memang senang senang akan isu- isu hits. Apalagi kalau berhubungan dengan sosial media. Banyak hal bisa dijadikan bisnis dadakan mereka. Contoh nih, selain om telolet om, ada tajuk 212, Jokowi Payung, kemudian adapula AFF Cup kemaren.

Pokoknya bisnisnya rajin mantengin isu di Twitter ataupun Instagram. Cara terbaik meningkatkan bisnis ia mengangkat ise panas. Kalau sudah mulai anget ya dia harus rajin cari lagi. Itulah kenapa satu tajuk akan cuma dibuat 2 lusin sehari. Sudah selesai isu kaus tidak akan tersisa, tinggal Arif mencari lagi.

Kaus om telolet om dalam tiga hari laku 30 kaus. Penjualan akan berhenti seiring isu memudar. Jadi Arif harus terus mantengin tuh. Kaus bertajuk unik dihargai Rp.65 ribu. Tidak cuma jualan kaus ngehits bisnis Arif juga menerima kaus bikinan kamu sendiri.

Ukuran F4 dihargai Rp.75 ribu, dan A3 dihargai Rp.90 ribu. Untung kaus isu hasilkan Rp.15 ribu. Jika kaus custom lebih banyak yakni Rp.25- 30 ribu. Omzet sampai Rp.1,5 juta- 2 juta perhari. Profitnya kalau sudah dipotong oprasional dan bahan jadi Rp.300 ribu- 500 ribu. Omzet perbulan mencapai Rp.7,8- 13 juta.

Membuat Brownies Sayuran Bebas Mengasuh Anak

Profil Pengusaha Ana Risnawati


 
Terinspirasi kisah- kisah sukses pengusaha. Wanita asal Yogyakarta bernama Ana Risnawati, kini adalah seorang pengusaha. Meskipun masih sekala kecil usahanya lumayan loh. Inspirasi oleh acara televisi yang sempat ngehits Bosan Menjadi Pegawai, dalam satu acara televisi, hingga dia memutuskan resign kerja.

Karis reporter salah satu radio swasta ditinggalkan. Semua demi mengejar membuka usaha sendiri. Dia lantas menggeluti keahliannya. Ana memang jago membuat aneka brownies. Mangkanya dia memilih di bisnis brownies kukus, tetapi dia butuh sekedar brownies.

Kan udah banyak orang bisa membuat brownies. Ide datang. Wanita 25 tahun ini kemudian membuat aneka brownies kukus sayuran. Semua berawal karena pekerjaan dan tugasnya menjadi ibu rumah tangga. Susah buat mengatur waktu karena reporter sering pergi ke luar. Dunia reporter itu tidak mengenal waktu luang.

Membuat brownies kukus sayuran. Lebih sehat buat keluarga Ana. Tidak ada salahnya jika dia mencoba menjual ke umum. "Masa itu saya putuskan berhenti dari dunia jurnalis," Ana tegas. Usaha kemudian dia rencanakan bagaimana menjual brownies kukus sayuran.

Bisnis sehat


Warga Madelan, Desa Sumberagung, Bantul, mengatakan putra pertamanya tuh tidak suka sayuran. Inilah cara dia mengatasi hal tersebut. Anak- anak memang lebih suka kue, nuget, sosis, padahal sayuran sangat baik buat pertumbuhan mereka.

Bisnis Ana cepat mendapatkan tanggapan positif. Cara marketing Ana sederhana kok. Cukup lewat mereka orang terdekat, keluarga, teman, dan menyebar. Ia menjadikan mereka konsumen awal. Lantas ditambah aneka iklan internet mendukung bisnis Ana.

Ana jelaskan perbedaan brownies kukus coklat dan sayuran. Cara pembuatan berbeda: Lapisan adonan dia buat bukannya coklat tetapi sayuran. Banyak varian sayuran dia buat seperti jagung, wortel, selada, brokoli, dan tomat. Perloyang nanti dijual Rp.20 ribu, untung diperoleh perloyang sampai 20% atau Rp.4000.

Dalam satu bulan dia menyebutkan. Sekarang pesanan mencapai sampai 100 loyang. Namun, jika ramai- ramainya nih, bsa mencapai 250 loyang. Melalui internet pemesan juga datang dari luar kota juga. Pesanan terbanyak masih datang dari dalam Yogyakarta. Banyak teman juga mendukung Ana mengembangkan ini.

Pemesanan buat aneka acara diminta teman. Brownies kukus sayuran miliknya lantas diberi nama Kue Brownies Brosaku. Pembuatan mudah cuma butuh ekstra kreatifitas. Karena ya namanya brownies masih orang banyak kenal mengandung banyak coklat. 

Orang banyak tidak menyangka kalau kue mereka makan berbahan sayuran. Ini bukti nyata bahwa Ana telah sukses mengembangkan kemungkinan. Ketika bisnis kue brownies tengah naik daun, banyak pesaing tetapi dia mantap mengambil celah. Pembeli suka karena tidak cuma coklat melainkan adanya lapisan sayuran.

Rasa sayurnya tidak kentara. "Pokoknya enak," tutur dia kapada pewarta Vivanews.

Bisnis brownies sayur miliknya makin menggeliat. Usaha kecil- kecilan tersebut sudah mempekerjakan empat orang. Dia sekarang juga menjual perkotak berat 500gr. Segitu dijual Rp.25 ribu tergantung juga topingnya. Omzet kotor dua juta rupiah perbulan, kalau ramai ya mencapai Rp.6 jutaan.

Pengacara Nyambi Menanam Jagung di Kampung

Profil Pengusaha Roder Nababan 



Siapa sangka pengacara kondang asal Tapanuli Utara, kelahiran 31 Juli 1970, ini selain bekerja juga mau berbecek ria. Dia ternyata punya usaha bidang agro loh. Pengacara bernama Roder Nababan menceritakan kisah dia dan persawahan dia miliki kepada JPNN.com

Suatu waktu dia akan ke Jakarta menangani kasus. Di kampung, Desa Paniaran, Siborong- borong, punya kurang lebih 40 hektar. Tanah warisan sudah ratusan tahun dibiarkan begitu saja. Tidak dikelola menjadi lahan produktif. Kemudian 15 hektar bagiannya ia tanami jagung, sisanya ubi Jepang dan cabe.

Ia pun bercerita bagaimana bisnisnya untung. Lumayan satu hektar lahan dia hasilkan Rp.15 juta. Itu sudah termasuk potongan buat biaya pemeliharaan dan tenaga. Roder hitung kasar saja Rp.15 dikali 15 hektar sudah dapat Rp.225 juta.

Jika dihitung jagung saja, masa panen kan tiap 4 bulan, jika dihitunga perbulang untung bersih Rp.56, 25 juta. Dia juga membentuk komunitas petani jagung. Namanya Perhimpunan Tani Akal Sehat. Kok nama perhimpunannya lucu. Ternyata ada alasan kenapa pakai kata Akal Sehat.

"...karena selama ini para warga di sana tidak menggunakan akal sehat," selorohnya. Pasalnya tanah begitu luas dibiarkan tidak produktif. Lahan bagus dibiarkan begitu saja padahal bisa berguna.

Ia ngoto tidak ada lahan tidur. Kalau ada ya kalian pemilik tanah yang tidur. Kalian tidur karena tidak mau merubah tanah menjadi lahan produktif. Ide awal menjadi petani jagu dari mana sih? Ternyata tidak serta- merta Roder menjadi petani jagung.

Iseng dia tanya kepada temannya, Wakil Ketua DPRD, Dairin Dahlan Sianturi. Iseng sih, sekedar bentuk bercandaan, kan emang tuh gosip bahwa pejabat nyari- nyari proyek dari Bupati. Sang teman kemudian mengajak Roder berkeliling tempat tinggalnya.

Dahlan mantap berkata tidak meminta proyek. Ia sadar akan tugasnya sebagai wakil rakyat. Meminta satu proyek berarti merusak kerajanya sebagai anggota dewan. Sambil jalan menelusuri lahan, dia mengajak Roder datang ke lahan kebun miliknya. Ada 12 hektar lahan sudah ditanami jagung yang siap dipanen.

Inilah "proyek" pribadi milik Dahlan. Dengan bangga sang Wakil Ketua DPRD menunjukan hasil kerja kerasnya. Perbulan bisa menghasilkan Rp.45 juta. "Kemudian saya ingin menirunya," ujar Roder, yang adalah pengacara handal spesialis kasus sengketa Pilkada.

Untung uang bukanlah hal dibesarkan. Dia justru mengambil segi positif lain. Selain bentuk pemanfaatan biar tidak mubazir. Roder juga merasa nyaman ketika berkunjung ke kebun. Energi alam merasuk ke dalam membuat dia hilang penat. Bahkan menyusun gugatan di kebun, dia bisa menghemat waktu setengah hari.

Lebih cepat selesai pekerjaan ketika di luar. Kalau di Jakarta kerjaan bisa seharian baru selesai. Kadang dia malah molor sampai sepekan- dua pekan tinggal di Jakarta.

Juragan Beras Pasar Induk Paling Terkenal Nellys Jaya

Biografi Pengusaha Nellys Soekidi 


 
Terlahir sebagai anak pasangan petani. Hidup Nellys Soekidi tidak jauh dari beras. Namun kesuksesan dia sekarang bukan tanpa perjuangan. Pria yang dikenal sebagai juragan beras. Sekarang memang memiliki 5 kios dan satu gudang penyimpanan di PBIC, merupakan salah satu juragan beras besar asal Pasar Cipinang.

Lima kiosnya menduduki kawasan Pasar Induk Cipinang. Delapan toko lain juga tersebar di sekitaran Kota Jakarta alias Jabodetabek. Ada di Pondok Ungu, Bintara, Kalimalang, Cilodong, Depok, dan Cengkareng. Omzetnya mencapai Rp.500 juta perhari atau Rp.15 miliaran perbulan.

Labar bersih sendiri dia tidak mau menyebut. Tetapi cukuplah kata Nellys, jualan beras itu punya untung sedikit tetapi awet.

Siapa sangka dia cuma menamatkan bangku SMA di Ngawi, Jawa Timur. Kondisi ekonomi keluarga Nellys memang sangat kekurangan. "Saya tamat SMA tahun 1990," tutur dia. Langsung pergi merantau ke Jakarta tanpa bekal. Mengadu nasib layaknya nasib perantau lainnya. Ia seolah terjebak hanya mampu bekerja asal- asalan.

Tanpa memiliki keahlian mau jadi apa di Jakarta. Nasib membawa Nellys kerja menjadi buruh proyek. Ya kalau ada proyek bangunan, jika tidak ada nasib Nellys digantungkan lewat mengamen. Lorong jalan, terminal becek, dan panasnya bus- bus dalam kota, membawa Nellys melihat masa depan samar.

Kalau ngamen dia mangkal di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Jika ngamen, dia tidak pernah melakukan hal melanggar aturan, kemudian suatu hari ketika mengamen dia bertemu seorang teman. Dia teman dari kampung Nellys.

Ternyata dia sudah bekerja di toko beras kawasan PIBC. Inilah awal perkenalan Nellys dengan bisnis juragan beras. Oleh temannya, ditawari kerja menjaga toko beras milik si boss. Waktu itu Nellys ingat tahun 1992 dia memulai semua perjalanan karir.

Bekerja di toko, Nellys diserahi bagian pembukuan lantaran otaknya encer. Dia ditugaskan mencatat nama dan jumlah barang keluar- masuk toko. Meskipun bekerja di tempat penting toh gajinya tetap ala kadarnya. Seorang sang boss mengejek Nellys lantaran cuma pengamen dan lulusan menengah atas.

Meskipun begitu dia tetap bersyukur. Segala upaya dilakukan agar tetap makan. Disisi lain tetap tidak lupa dia menabung. Uang pas- pasan apa yang bisa didapat Nellys. Ternyata banyak, yakni pengalaman bekerja berjualan beras, termasuk tentang pergudangan serta urusan pengeluaran atau pemasukan.

Dia mengembangkan kemampuan akuntansi atau pembukuan. Natural Nellys mengamati cara kerja di toko beras. Sifat supel membuat dia akrab dengan penyumplai beras, dari Cirebon dan Garut. Rasaya syukur dia coba terus panjatkan. Tidak punya uang banyak tetapi ketemu banyak kenalan. 

"Saya selalu berusaha jujur," ujarnya.

Sifat baik Nellys ternyata diamati rekan kerja atasannya. Para pemasok beras menilai sifat Nellys sangat menarik. Tahun 1993, dia memutuskan cabut dari pekerjaan, nekat dia mencoba peruntungan dari bisnis beras. Bekal dia cuma ilmu akuntansi seadaanya, sisanya adalah relasi dengan para pemasok beras.

Bisnis nekat


Bermodal Rp.3 juta dia mulai jualan di los Pasar Induk. Itu uang hasil nabung selama bekerja. Walaupun ia modal cekak tetapi dukungan relasi kuat. Kunci sukses juragan bera Nellys cukup selalu berlaku jujur, dan ditambah ketekunan mengerjakan usaha. Niscaya usaha kamu akan kayak usaha Nellys Jaya, toko miliknya.

Hubungan baik selalu dijaga dia, dengan pemasok asal Pula Jawa, dari Jawa Barat, Cibinong, dan Garut, dia rangkul. Siap membantu mereka buat menyalurkan beras mereka dengan harga baik. Uang modal Rp.3 juta cuma dapat 1 ton saja.

Beruntung karena memiliki relasi kuat. Dipercaya, mereka pemasok bahkan rela menggunakan sistem titip atau konsinyasi. Total berang dititip makin lama semakin besar. Bahkan sampai 15 ton hingga 20 ton perhari. Nellys akan membayar ketika beras sudah habis terjual. Ia dikasih waktu seminggu buat habiskan itu.

Kemampuan kesupelan Nellys terbawa dalam berbisnis. Mampu menjual barang mudah hingga tak jarang beras stok habis sehari, paling lama ya dua hari. Uang penjualan tidak mampir. Dia langsung bayarkan ke pemasok beras. Pembayaran cepat sampai pemasok semakin yakin bahwa dia orang yang tepat.

Tepat buat diajak kerja sama. Usaha jualan beras Nellys semakin berjaya. Penjualan semakin meningkat pesat saja. Uang untung diperolah ditabung. Tidak seperti juragan beras lain. Begitu sukses langsung lah berubah gaya hidup. Ia memilih bersabar fokus mengerjakan bisnis.

Ketika teman pedagang membeli mobil baru. Nellys memilih mengembangkan usaha. Pokoknya begitu ada untung sisanya buat ditabung. Uang tabungan apalagi kalau bukan buat nambah usaha. Cukup empat sampai lima tahun sudah dia menghasilkan kios khusus di Pasar Induk.

Harganya saja Rp.160 juta karena posisinya strategis. Dia juga mengajak orang bekerja buatnya. Dengan berbisnis menambah lapangan pekerjaan. Ia punya 34 orang karyawan. Nellys banyak menampung mereka yang masih saudara.

Usaha sukses Nellys sempatkan melanjutkan pendidikan. Dia beranggapan bahwa pendidikan merupakan juga hal penting. Mengembangkan hidup Nellys tidak selalu uang. Ia ambil jurusan manajemen. Disaat ia kuliah di perguruan tinggi, dia sudah punya istri dan dua anak.

Bisnis belajar


Bisnis tidak melulu uang. Ada pembelajaran kuat meningkatkan usaha kita. Uang banyak tanpa pengetahuan tidak cukup. Mangkanya dia memilih kuliah selaras dalam berbisnis. Semakin jeli melihat peluang bisnis kedepan. Dia menemukan itu ketika kembali ke Ngawi, Jawa Timur, menikmati hamparan persawahan.

Ide bisnis muncul. Dan dia laksanakan di Kota Ngawi. Nellys membangun satu pabrik penggilingan padi. Tahun 2008 dia mendirikan pabrik penggilingan bermuatan 25 ton perhari. Lantas bisnis selanjutnya dia membuka bisnis pusat kebugaran. Mungkin terdengar nyeleneh tetapi dia lakukan bukan tanpa alasan.

Dia suka kebugaran atau fitness. Sela berbisnis dia juga aktif mengikuti aneka organisasi. Sudah 19 tahun bisnis berjalan semakin berkibar. Nilai aset Nellys setara Rp.9 miliaran. Uang Rp.3 miliar tidak ragu ia keluarkan buat membangun bisnis pabrik penggilingan padi. Pabrik itu berdiri di lahan seluas 4000 meter persegi.

Penggilingan beras dilengkapi juga penyimpanan beras. Sudah jadi pemasok besar, tetapi dia tidak mau buat membeli gabah dari petani. Pasalnya dia tidak mau membunuh penggilingan kecil. Lantas dia mulai mengajak mereka, penggilingan kecil, menjadi mitra bisnis.

Ia justru membeli dari penggilingan kecil juga. Dari penggilingan mereka dimasukan ke penyimpanan dia. Oleh Nellys diproses dengan mesin kembali. Agar meningkatkan kualitas beras buat dikirim ke Jakarta. Ia juga mengajak petani bekerja bersama. Kemudian dia akan mengembangkan kapasitas penggilang tersebut.

Bisnis pusat kebugaran di Pondok Kopi, Bekasi Barat, juga jalan. Dia menjaring 400- 500 orang anggota fitness. Ia merambah bisnis suplemen, berbagai macam makanan sehat, mulai dari jualan beras merah, susu kedelai, lain- lain.

Kesibukan lain, dia menjabat Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (DPD Perpadi DKI Jakarta). Sudah menjabat sejak 2009, juga menjabat Sekretaris Koperasi Pedagang Pasar Induk Cipinang Jakarta. Jabatan itu digunakan untuk memperbaiki keadaan Pasar Induk.

Ia mencontohkan cap negatif pedagang Pasar Induk. Sering dianggap apalah- apalah. Disini tuga Nellys membuktikan mereka tidak begitu. Salah satunya dengan kegiatan penggalangan bantuan. Membantu orang banyak termasuk ketika gempa Padang. Mereka menggalang empat kontainer berisis beras buat bantuan.

Kisah Haru Pengusaha Roti Bakar Pantang Menyerah

Kisah Pengusaha Menyentuh Hati 



Terkadang kita suka maksa ke mas penjual. Kadang minta cepat dilayani padahal si penjual sudah bekerja. Kita mungkin harus sedikit bersabar. Ini bukanlah kisah pengusaha sukses. Hanya sebuah kisah yang diliat dari sebuah foto viral sosial media.

Pengguna Facebook bernama Bobby Lamanepa. Mengabadikan sebuah kejadian super langka. Dimana dia bertemu seorang penjual roti bakar. Siapa sangka dibalik diam, sibuk sendirinya penjual itu, ternyata ada alasan karena segala kekurangan pelayanan terhadap pembeli.

Ternyata penjual tersebut memiliki keterbatasan. Penjual tersebut tunarungu dan tunawicara. Cara unik dia lakukan agar tetap melayani. Karena dia sadar bahwa pelanggan terkadang komplain. Menurut Bobby, dia memiliki keterbatasan, dan tetap semangat melayani pesanan yang lumayan banyak.

Agar Bobby bersabar ditulis sebuah tulisan di kaca. Bunyinya "mohon maaf, saya penyandang tunarungu dan tunawicara. Kalau anda memesan roti, silahkan tulis dibuku saja, ya. Terima kasih atas kunjungan anda dan saya mohon maaf kalau pelayanan saya kurang di hati pembeli sekalian. Terima kasih."

Samangat berjualan inilah menjadi kekaguman buat Bobby. Perasaan jengkel menunggu sirna karena sang penjual penuh kejujuran akan kekuranganya. Bahkan seharusnya tanpa harus meminta maaf. Penjual roti bakar tunarungu tersebut tetap meminta maaf.

Postingan Bobby sudah dishare lebih dari 900 kali dan dibagikan lebih dari 900 kali. 

Sumber: citizen6.liputan6.com

Cara Mengajari Wirausaha Anak Romantic Cotton

Profil Pengusaha Monic Subiakto 



Monica Subiakto berbisnis bermula keinginan sang anak. Dia, Amanda, ingin membuka usaha sendiri, dan ia mencoba memfasilitasi hal tersebut. Bisnis mereka berawal sederhana kok. Monica mulau jualan kaus- kaus asal Bangkok, Thailand. Dimana ia mendapatkan kaos tersebut dari seorang teman.

Respon ternyata cukup bagus, hingga Monica memutuskan membuat produk sendiri. Inilah cikal- bakal usaha yang lantas dia namai Romantic Cotton. Monic yang gencar mengikuti aneka pameran telah mampu meraup omzet sampai ratusan juta.

Uang Rp.3 juta digunakan membeli barang. Berdagang selama enam bulan uang berlipat. Lantas memasuki 2008 semakin besar, hingga Monica memutuskan membuka pabrik garmen sendiri, tepatnya mulai bulan Juli 2008. 

Bisnis tersebut didukung latar belakang karir. Ia pernah bekerja di Danar Hadi dan Matahari Department Store selama puluhan tahun. Karena masih bekerja menjadi karyawan. Ada koneksifitas ke pedagangan konveksi. Mangkanya dia kenal banyak pengusaha konveksi yang tersebar di Jakarta.

Monica memanfaatkan sistem maklun atau cut, make & trim (CMT). Dimana pengusaha konveksi tinggal mencontoh barang sample Monica buat. Selanjutnya pengusaha konveksi akan meniru dengan berbagai ukuran standar. Monic tidak juga mendesain sendiri produk bikinannya.

Terkadang merupakan contoh barang hasil buruan di luar negeri. Terkadang sih dia juga mendapatkan ide dadakan jika tidak puas akan barang buruan. Dia lantas merubah bahan. Mengaplikasikan beberapa hal yang berbeda. Modelnya juga tidak jarang dirubah pengusaha ini, yang juga fans desainer dunia Laura Ashley.

Kalau beda dari produk lainnya. Monic memilih cuma beberapa warna, ada dusty pink, mint green, dan juga mustard yellow. Warna lembut tersebut masih belum digunakan desainer asal Indonesia.

Mantan broker


Ternyata nih, Monic juga dikenal sebagai broker, ketika sang anak minta dibikinkan usaha. Monic sempat gugup. Lantaran Amanda masih duduk di bangku SMP. Melihat keinginan wirausaha sang anak yang begitu tinggi. Ia kemudian mengajak Amanda berkolaborasi. Anak Monic sejak remaja udah "ogah" kerja sama orang!

"Mungkin dia tidak nyaman melihat bapak- ibunya bekerja," jelas Monic. Karena ya namanya pegawai bisa berangkat pagi pulang larut malam.

Amanda sendiri sejak kelas 3 SD sudah jualan pernak- pernik. Dukungan Monic sebatas mengarahkan dan mengawasi. Permintaan lugu anaknya, ternyata didukung pengalaman dia sendiri, mulai dari jualan stiker, akesoris rambut, kemudian perlatan sekolah, yang Amanda beli secara grosir buat dijual lagi.

Monic mengakui Amanda lebih jago. Dia mampu merayu teman- temannya yang awalnya tidak mau. Dia mampu membuat konsep beli buat hadiah adik, atau teman yang ditaksir. 

Untuk awal berbisnis bersama mereka tidak mamakai uang besar. Pasalnya dia khawatir Amanda akan bosa ditengah jalan dengan bisnis itu. Uang sebesar Rp.3 juta itu didapat dari kakak dan pinjam asisten rumah tangga. Kenapa pinjam ke pembantu rumah tangga. Ternyata ada alasan khusus bukan semata butuh uang.

Ada tantangan bagaimana Monic harus kembalikan. Usaha mereka nih harus sukses. Uang harus sudah bisa mereka kembalikan kurang dari seminggu -sesuai dijanjikan Monic. "Saya ingin membuktikan, saya bisa berhasil," tegas Monic. Cara jualan Monic standar yakni beli dari kawan barang impor buat dijual kembali.

Waktu cuma seminggu uang tersebut menjadi Rp.6 juta. Monic lantas menepati janjinya mengembalikan uang ke asisten rumah tangga. Dipikir bisnis mereka ternyata menjanjikan juga. Monic merasa tertantang menambah modal sampai Rp.9,5 juta, dimana dia dapat pinjam kepada sebuah bank asing.

Tiga tahun hutang dicicil Rp.425 ribu perbulan. "Tanggung jawab membayar cicilan, saya serahkan kepada Amanda," ia menambahkan. Tujuannya agar Amanda sadar agar tidak bermain- main dengan bisnis. Bisnis mereka menyasar produk wanita berbahan dasar katun, katun lokal, impor Jepang, Korea, dan India.

Ada alasan tertentu kenapa Monic fokus di katun. Kain ini cocok buat Indonesia yang beriklim tropis. Ia menambahkan bahwa terjangkau kalangan menengah. Harga dikisaran Rp.175.000- 700.000. Eksperimen terhadap katun dilakukan Monic lewat tabrak warna, tidak monoton polkadot, bunga, atau garis- garis.

Di sehalai pakaian akan ada variasi warna. Dia terinspirasi pakaian bayi Amanda. Produk bernama Oliliy itu, warnanya lembut, dimana motif bunganya tabak lari. Empat warna bahkan dijadikan satu dalam satu helai pakaian. "Tapi, kok, tetap lucu," selorohnya.

Bisnis katun kuat


Warna tidak ngejreng justru menjadi kalem. Laura Ashley memberikan banyak inspirasi. Desainer yang dikenal memulai dari bisnis kain perca. Masalah utama Monic awal adalah warna itu sendiri. Tabrakan warna membuat satu pakaian butuh banyak kain. Tetap untung loh tak menghabiskan biaya produksi banyak kok.

Kemudian dia memakai uang Rp.12 juta. Uang tersebut dipakai buat memproduksi 50 helai pakaian. Ia serahkan pembuatan ditangan penjahit pilihan. Lahirlah bisnis bernama Romantic Cotton sejak Juli 2011 resmi. Branding kemudian menjadi fokus Monic dengan pengalaman belasan tahun di bisnis dagang.

Ia mencetak katalog. Meski uang terbatas, ia juga membuat paperbag. Koleksi pertama dipajang di sebuah bazar. Macam komentar diluncurkan masyarakat. Mulai yang menganggapnya baju tidur. Adapula yang kaget karena harga mahal buat bahan katun. Meski begitu, toh, jualan Monic habis dibeli masyarakat yang tertarik.

Penjualan berikutnya lewat bazar di sekitar rumah. Koleksi habis. Tinggal marketing mulut ke mulut yang berkembang di masyarakat. Sukses meski sekala masih kecil menaikan percaya diri Monic dan Amanda.

Bisnis mereka makin serius. Uang untung dijadikan modal kembali. Mangkanya rumah mereka di kawasan Kemang Pratam tertumpuk banyak kain katun. Memang sengaja disebar Monic. Warna- warni kain katun akan diseleksi lewat insting dipadu padankan di ruang tamu rumah mereka.

Target berikutnya promosi adalah Inacraft 2009, di Jakarta Convention Center (JCC), tepat pada April 2009 silam. Hasil lebih mengejutkan didapatkan Monic. "Stannya hampir roboh," kenang dia. Kan waktu itu dibantu Amanda dan dua asisten, hasilnya mengejutkan karena omzet nonjok sampai 150 juta!

Meskipun mulai berjalan baik. Pernah nih suatu ketika ada kesalahan warna. Meskipun sepele Monic tetap tidak suka. Dimana penjahit salah memasang warna resleting. Backpack warna kalem kok resletingnya warna hitam. Langsung deh dia kirim semuanya ke panti asuhan -dimana dia biasa juga memberi donasi.

Pokoknya Monic bisa dibilang perfeksionis soal kualitas. Mangkanya kerja sama dengan penjahit benar- benar dia perhatikan. Tidak boleh ada kesalahan. Kerja sama Monic sudah tersebar di Jakarta, Solo, Yogya, sampai Bali. Ia tinggal kirim desain gambar dan ukuran. Kalau di Jakarta dia awasi langsung pekerjaannya.

Jika ada masalah juga bisa menjadi ide bisnis. Contohnya suatu ketika mendapati kiriman kain perca yang tidak sesuai. Ukurannya terlalu kecil yakni 10x20cm dan 3x2cm. Waranya bagus, lucu- lucu, bahannya juga katun berkualitas. Dibuang sayang, akhirnya Monic memutar otak bagaimana biar tidak dia buang.

Dia pergi keliling mencari orang. Siapa saja yang bisa bikin aneka aksesoris, mulai kalung, cincin, bando, jepit, bros, tas, sampai taplak pun jadi. Ketika ada pembeli batal beli pakaian karena tidak ada ukuran. Jadi memilih memberi aksesoris buatan Romantic Cotton.

Sukses mereka memang tidak mudah. Tetapi dilalui karena memiliki passion. Sukses Monic selanjutnya apa yah. Sekembali dari ibadah Haji, Monic kepikiran membuat koleksi pakaian hijab. Tetapi tidak mau gegabah. Perlahan tetapi pasti akan terwujud. Dari 4 potong per- desain, jadi selusin, dua lusin dan terus.

Monic selalu memilih buat berkutat langsung. Selera kain katun berkualitas, kemampuan membaca selera pasar, dan tidak malu menjadi pengsuaha. Tidak malu buat keluar masuk pasar mencari bahan bagus. Cara penjualan juga unik awalnya dimana pelanggan meminta Monic mengirim banyak ke rumah buat dipilih.

Semua layanan terbaik diberikan Monic. Tujuannya adalah membangun kepercayaan kepada brand baru mereka Romantic Cotton.

Tidak Betah Jadi Pramugari Cantik Memilih Bisnis

Profil Pengusaha Sara Febriana 



Jenuh bekerja di perusahaan penerbangan. Sara Febriana tidak mau lagi jadi pramugari. Gadis cantik asal Samarinda ini, lantas membuka bisnis butik sendiri. Mahasiswi Universitas Balikpapan, lulusan 2011, mengaku sudah lama menyimpan cita- cita jadi pengusaha.

Beberapa usaha ternyata pernah digeluti. Sebelum menjadi pramugari, dia pernah membuka usaha event organizer bernama Quinn & Co. Juga pernah coba berbisnis batu bara dan properti di 2011 sampai 2013 silam. Hingga dia memilih berbisnis pakaian pada jenjang berikutnya.

Dunia fasion searah dengan dirinya -sebagai seorang wanita kota. Selera Sara memang diuji lewat usaha jualan aneka pakaian fashionable. "Saya ingin jadi pengusaha," tegas Sara. Kebetulan dia juga memiliki minat tinggi akan dunia fasion wanita.

Kerana sudah punya pengalaman bisnis panjang. Dia langsung buka tempat di Komplek Bumi Sempaja, Jalan PM Noor, Kelurahan Sempaja, Kecamatan Samarinda Utara, Samarinda, Kaltim. Dan semua karena rasa jenuhnya bekerja menjadi pegawai. "Sudah jenuh diatur perusahaan," jelas Sara.

Wanita penghobi traveling ini, juga bermimpi akan kebebasan waktu. Karena berbisnis fasion adalah satu passionnya maka semua enak. Selain berbisnis fasion dia juga menyasar bisnis dekorasi. Bisnis bernama S.A.I.A Boutique menyediakan pula penyewaan dan penjualan kostum, kebaya, dan gaun pesta.

Kalau dilihat Sara tidak main- main soal bisnis. Bayangkan dia juga menyediakan pembuatan gaun custom. Mulai gaun pengantin, kebaya, kaftan, dan baju kasual ready to wear. Harga mulai Rp.200 ribu buat baju kasual hingga Rp.6 jutaan untuk dress full payet kristal swarovski.

Biodata pengusaha


Nama : Sarah Febriani
Lahir : Samarinda, 25 Februari 1988
Orangtua : H. Imansyah Kadrie - H. Djunaidah
Alamat : Ruko Komplek Bumi Sempaja Jalan PM. Noor, Samarinda
Pendidikan : Sarjana Ekonomi Universitas Balikpapan tahun 2011
Hobby : Traveling
Bisnis :
- Pramugari Maskapai Garuda Indonesia tahun 2006-2009
- Boutique SAIA (Sewing House and Dress Maker)
- Even Organizer Quinn & Co : Party Planner and Decoration, Designer, Photoshot dan Bridal. (bud)

Kisah Penjual Tahu Bulat Bisnis Lima Ratusan

Profil Prospek Tahu Bulat


 
Suara tahu bulat digoreng dadakan... lima ratusan... bergema. Dibalik mobil bak terbuka itu, tampak lah seorang pria tengah asik menggoreng. Pria tersebut bernama Ismail, 21 tahun, bertugas menggoreng, lalu menyajikan tahu bulat digoreng dadakan tersebut.

Didepan mobil pickup, ada sopir tentunya, namanya Aditya Farid, umurnya 18 tahun fokus mengendalikan laju mobil. Suara keras bergema disepanjang mereka berjalan. Megaphone aktif mengumandangkan ikonik suara panggilan tahu bulat digoreng dadakan.

Penjual tahu bulat kerap terlihat di sudut jalan Ibu Kota. Mereka berdua tengah bekerja. Dua anak muda ini memulai dari kawasan Kosambi, Jakarta Barat, dimulai pukul 07.00. Keduanya tidak segan mengitari jalan baru mereka lalui.

Prospek tahu bulat


Satu hari penuh mereka menjajakan tahu bulat. Setelah diwawancarai Viva, ternyata nih, mereka berdua itu karyawan seorang pengusaha. Tugas mereka berkeliling menjajakan tahu dari Kosambi, lalu Joglo hingga ke kawasan Ciledug. Rute dibuat segampang mungkin berputar kembali lagi ke awal.

Target penjualan 3.000 buah tahu dalam sehari. Harganya ya lima ratusan seperti trademark mereka. Apa mereka rugi jualan pakai mobil. Keduanya mengaku menghabiskan uang Rp.50 ribu seharian. Dan mereka dapat jatah Rp.100 dari sang pengusaha. Dimana nanti diambil rugi dari keuntungan dia dapatkan.

Sementara Adit dan Ismail bisa dapat Rp.350 ribu. Mereka bisa kantongi uang tersebut seharian saja -jika mencapai target. "Kotor enggak termasuk uang makan," paparnya. Kesimpulan sederhana omzetnya kan kalau 3000 dikali Rp.500 sudah Rp.1,5 juta, dipotong Rp.100 ribu dan gaji keduanya masing- masing itu.

Untung didapat si pengusaha ya sampai Rp.700 ribu perhari. Uang makan tidak ditanggu sang pemilik tahu bulat dan mobil. Pembeli sendiri mulai pengendara motor atau mobil, mereka akan menstop mobil ini buat sekedar beli tahu bulat. Kadang kalau masuk perumahan, ada ibu- ibu, anak kecil, beli tahu bulat juga.

Faktor cuaca kadang menambah syahdu. Bisnis tahu bulat panas laris manis karena itu. Biasanya selepas hujan turun maka pembeli akan menyerbu tahu bulat. Kalau hujan datang memang menjadi titik larisnya tahu bulat digoreng dadakan. Adit bahkan berdoa kalau bisa hujan terus deh biar tahu bulat habis 3.000 buah.

Pelopor Bisnis Sambal Kemasan Sendiri ANT

Profil Pengusaha Hadianto 



Pengusaha veteran itu bernama Hadianto. Pria asal Belitung, Provinsi Bangka Belitung, yang sudah lama menjalankan bisnis sambal. Bahkan sebelum bisnis sambal ngetren seperti sekarang. Usaha sambal buatan Hadianto sudah pasti terjamin. Sudah 20 tahun dia melalang buana menjajakan sambal terasi ANT.

Pria asal Desa Air Saga, yang memulai bisnis lebih lama. Sebelum orang sadar bahwa rebon bisa dijadikan bahan mengejutkan. Sebelum orang Belitung sadar bahwa terasi itu enak. Sudah tidak terhitung berapa banyak orang merasa tertanggu akan bau terasi. Sampai akhirnya mereka mencicipi lezatnya sambal terasi itu.

Hedianto memulai bermodal televisi. Dijualnya televisi menghasilkan Rp.300 ribu. Itulah modal awal dia berjualan sambal. Maklum kedua orang tua Hedianto hanya nelayan dan pedagang ikan asin.

Orang tua Hedianto juga membuat terasi. Berbahan udang rebon, yang diambil sendiri dari lautan. Alhasil mereka cuma menjual beberapa kali. Dimana ternyata banyak tengkulak pula menguasai. Mangkanya nih berjualan terasi bukan solusi bisnis. "Kondisi ini saya perhatikan hingga dewasa," ungkapnya.

Dia merasakan ada prospek. Namun bagaimana cara agar terhindar tengkulak. Hedianto pengen buat terasi sendiri. Alasan karena merupakan bumbu masak utama. Alasan lainnya adalah karena sudah biasa bergelut di laut. "...saya tertarik," Hedianto begitu semangat.

Bisnis ikonik


Uang Rp.300 ribu buat membeli alat dan bahan terasi. Ia mulai membuat terasi sendiri. Dan masalah pertama muncul yakni diusir warga. Karena kebauan mereka mengusir Hedianto. Untuk menghindari hal serupa ia memindahkan tempat produksi.

Hanya berbekal terasi kemudian menjadi sambal. Usaha dijalankan sejak 1996 sudah dikenal warga. Mulai baunya yang menggoda. Serta kelezatannya yang teruji bertahan 20 tahun. Pria 46 tahun ini selalu berani membuktikan analasisanya benar. Dibuktikan dengan mengangkat 3 orang karyawan pembuat sambal.

Semenjak majunya pariwisata Belitung. Berdampak positif pula buat bisnis sambal ANT. Jika 15 tahunan sudah bisnis sering tersendat. Akhir 2015 ini bisnis sambal milik Hedianto kian moncer. Sambal ANT menjadi ikonik pariwisata ketika orang berkunjung ke sana.

Dia juga menggaet Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tujuan agar menjadikan sambal ANT tak sekedar sambal biasa. Prinsip harus memenuhi standar kesehatan dan bahan baku berkualitas.

Bisnis sambal ANT lantas dikembangkan ke kemasan botol, sambal terasi siap saji, yang mana dihargai Rp.11 ribuan. Kemudian ada terasi berbungkus tikar, isinya terasi setengah jadi, jadi harga per- tikarnya cuma Rp.9000. Penjualan sudah melalui galeri sepanjang Tanjung Pandan.

Terasi ANT sudah berjejer di toko- toko penjuru Belitung. Terasi 20 tahun tersebut dikenal memiliki rasa nikmat. Selain nikmat sudah terbukti sehat berkat verifikasi. Berasal dari udang rebon pilihan yang sudah difermentasi, bukan rebon busuk.

"Resep fermentasi ini saya yang menemukan," unggahnya.

Inilah kisah Raja Terasi dengan omzet Rp.75 juta- Rp.80 juta, dimana dia mampu menjual 1,5 ton. Dia bertekat menjadi pemain dominan di Belitung. Dia akan selalu meningkatkan kualitas terasi ANT. Harapan terbesar menguasai Belitung dimana 6 ton terasi luar masuk tiap bulan.

Ia dikenal sebagai pecetus fermentasi udang. Untuk rebon didatangkan dari Jawa dan Sumatera, seperti dari Lampung. Karena di daerah Belitung sudah tidak mencukupi. Produksi 100kg terasi mentah butuh setidaknya 120kg udang rebon. Beda jika terasi identik dengan udang busuk maka terasi Belitung tidak ada.

Bisa dibilang jauh dari mikroba berbahaya buat pencernaan. Berkat cita rasa otentik, setiap hari bisa capai 1000 pesanan botol terasi kering, belum basah. Agar bisnis makin berkembang dia mengajutkan kredit ke Bank Mandiri senilai Rp.25 juta dengan bunga 9 persen per- tahun, dari program Kredit Usaha Rakyat.

Batu Bata Samroni Tegal Hasilkan Rumah 1 Miliar

Profil Pengusaha H. Samroni


 
Sejak muda H. Samroni sibuk jualan batu bata. Tekat Samroni melebih keras batu bata merah. Semenjak ia masih remaja hingga kini pengusaha batu bata. Awal sekali hanya sekedar salesman, sekarang dia sudah mempunyai pabrik batu bata sendiri di Tegal. 

Ini kisah pengusaha sederhana, yang sekarang sudah sanggup membeli rumah Rp.1 miliar. Warga Setu RT. 3 RW. 2 mengumpulkan uang sejak dulu. Semenjak bujang sudah punya cita- cita membelikan rumah. Dia ingin bukan rumah biasa menaungi istri dan anaknya kelak.

Banyak loh orang tidak percaya dia beli rumah sendiri. Masih tidak percaya kalau sanggup membeli rumah seharga satu miliar. "Saya punya rumah di sini (Taman Sejahtera)," ujarnya kepada pewarta JPNN.com.
Kini, Samroni sudah mempunyai 40 orang karyawan lebih, mereka membuat batu bata merah Tegal.

Banyak orang heran serta tidak percaya. Bahkan serifikat sudah resmi hak milik. "Padahal sertifikat sudah atas nama saya," sembari menunjukan fotokopi sertifikat asli legalisir. Tidak bisa dipercaya orang yang mengenal mereka bahwa mereka membeli rumah Rp.1 miliar.

Pabrik miliknya menghasilkan batu bata sampai 7 ribu- 8 ribu perhari. Tanpa berhenti mereka membuat dan mendisribusikan ke aneka toko bangunan. Bukan waktu singkat ujar pria 41 tahun sejak bujang usaha sendiri. Sekarang mah enak dia tidak kerja sendiri lagi, sudah punya istri dan dua orang anak.

Dia membeli rumah di kawasan elit Kota Tegal. Perumahan Taman Sejahtera, Kelurahan Kemandungan, Kecamatan Tegal, yang mana pemilik rumah kebanyakan pejabat, politis, dan pengusaha ternama. Siapa sangka dia mampu membeli rumah di kawasan kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES) Tegal.

Pemasaran masih disekitar Tegal. Mungkin karena Tegal tengah berbenah. Permintaan selalu saja datang ke pabrik miliknya. Untuk memenuhi kebutuhan bahkan setiap hari berproduksi. Kok beda dengan banyak kisah pembuat batu lain. Karena H. Samroni bekerja dengan ambisi untuk mencapai sesuatu.

Setiap hari pasti ada pesanan dan barang dikirim. Ia bahkan menarget mengembangkan cabang buat bisnis batu bata. Bukan buat diri sendiri adalah pesan ingin disampaikan pengusaha ini. Sang pengusaha batu bata merah ingin membahagiakan istri dan kedua anaknya. 

Setiap ada untung selalu sempatkan menabung. "Kalau ada rezeki berlebih, tak lupa kami bersedekah untuk warga kurang mampu," tutup.

Jualan di Gang Pudding Art Sunarno Berbunga

Profil Pengusaha  Dedi Kurnia Sunarno


 
Bisnis memang harus kreatif jaman sekarang. Tidak boleh cuma bermodal kerja keras. Ini dibuktikan oleh pria bernama lengkap Dedi Kurnia Sunarno. Pria 30 tahun yang bergutat dengan lembutnya pudding. Bukan sembarang pudding loh. Dia pengusaha seni di atas permukaan pudding atau Pudding Art.

Pikiran kreatif Dedi memang mengejutkan. Jika pengusaha pudding biasa cuma menebus pasar biasa. Dia mampu menembus pasar non- konvensional. Aneka bentuk mampu diciptakan Dedi lewat jarinya. Kisah sukses Dedi bermula sudah sejak sekolah menengah dulu.

Bisnis seni kuliner


Masa SMA akan segera berakhir juga. Dan Dedi bingung harus melanjutkan kuliah atau tidak. Ia memutar otak hingga berencana membuka usaha. Dedi lantas meniru mereka yang sukses berbisnis kuliner. Hingga langkahnya menemukan kuliner bernama pudding. Pertama Dedi mulai membuat pudding berbentuk biasa.

"Itu juga karena putus cinta, akhirnya jualan puding saja," selorohnya. Karena jualan pudding biasa maka kurang laku.

Pengusaha asal Surabaya ini kemudian menemukan cara. Ilham datang mungkin dari cerita luar negeri. Ia menemukan kesenian pudding art. Satu cara agar dagangannya berbeda. Cara jitu menaikan pamor kuliner puding bikinannya.

Dedi mulai menambahkan aneka kreasi. Di atas puding, seolah dijadikan kanvas olehnya, aneka bentuk ia sejikan ternyata sangat diterima masyarakat. Dedi mengias pudingnya. Dimulai aneka warna bunga ditaruh di atas. Kemudian semakin berkreasi lewat aneka bentuk imut lainnya.

Tidak cuma memakai cara konvensional. Sekarang juga berjualan lewat sosial media. Penjualan terbilang lumayan. Peningkatan terlihat, dimana jika sebelumnya cuma Rp.3 juta per- bulan. Sekarang dia sudah menjual Rp.20 juta per- bulan.

Harapan Dedi sekarang adalah melebarkan sayap bisnis. Termasuk kemungkinan merambah pasaran luar negeri. Dedi tidak muluk. Harapan utama bagaimana memasuki pasar Asia Tenggara.

Jualan di gang


Bermula dari gang tempat tinggal Deni. Usaha tersebut dijalankan sangat sederhana. Sesederhana pudding ia tawarkan pertama kali. Target usaha adalah mereka masyarakat kelas menengah ke bawah. Jualannya cuma di Kelurahan Kapasari, Surabaya.

Kemudian dia mengikuti pelatihan bernama Pahlawan Ekonomi tahun 2014. Pengembangan pudding tidak lagi monoton. Melalui pudding art usaha dijalankan Dedi makin bersinar. Pelajaran teknik suntik didalami untuk membentuk pudding. Terbukti lewat teknik suntik membuat pudding art makin gampang saja.

Meskipun sudah sukses membuat aneka bentuk. Dia tetap tidak berhenti ikut pelatihan. Program Tatarup III dilakon Dedi. Program tersebut membantu Dedi menata marketing bisnis De 'Nil Pudding Art. Dahulu kalau jualan pudding pasti pakai wadah berwarna gelap.

Kini, dia diajari untuk menonjolkan produknya, lewat program Tatarupa dia belajar bagaiman mendandani pudding agar cantik. Kemasan dirubah menjadi transparan hingga terlihat. Motif- motif pudding keliatan tuh dari luar. Pembeli makin tertarik makin banya datang memesan.

Cara berjualan lewat sosial media memang enak. Lebih banyak menggaet pelanggan. Ditambah lagi biaya dia keluarkan murah. Mudah juga tinggal memposting produk ke halaman. Ada Facebook Fanpage, lalu ada Twitter, Instagram dan WhatsApp. Yang mana orderan 80% datangnya dari aktifitas jualan di sosmed.

Saat ini, dia dibantu 6 orang karyawan, menghasilkan delapan varian rasa pudding. Mulai rasa original, ada rasa pisang, coklat, strawberry, dan banyak lagi.

Masih Jadi Karyawan Meski Punya Usaha Sepatu Lukis

Profil Pengusaha Sukses Gilang 


 
Kanvas sekarang sudah menjadi alas lukis lama. Kini, pengrajin berlomba- lomba, menciptakan peluang berbeda lewat sentuhan karya. Sambil menyalurkan hobi lukis. Seorang pemuda 28 tahun bernama Gilang memulai berbisnis. Bermodal talenta lukis dan alas lukis berbeda yakni tas dan sepatu.

Keromon berawal dari keadaan mendesak. Bingung mau bayar kuliah. Gilang lantas mencari ide tentang usaha. Gilang memulai bisnis lukis sejak kuliah. Sejak duduk di bangku kuliah semester 3, jari tangannya sudah memoles anaka barang dijadikan media lukis.

Tanpa menggelontorkan uang sepeser pun. Ia bercerita modal awalnya cat. Itupun pinjam dari teman saja. Ia mencoba memakai sepatu sendiri. Menjadikan barang sendiri jadi eksperimen, eh ternyata, hasilnya tidak mengecewakan. Dia upload foto ke sosial media. Dan pembeli pertama menanyakan hasil karyanya.

Dijual beberapa rupiah lantas dipakai lagi. Ia mengganti uang cat milik temannya. Kemudian dia bikin lagi lalu hasilnya diputar menjadi modal. Kuas dan cat dibelinya kembali. "Dengan kata lain nol rupiah untuk modal awal," jelasnya.

Bisnis berlanjut


Sukses Gilang karena menerapkan konsep custom. Dimana ia menyerahkan desain kepada konsumen. Dia hanya mengikuti arahan sembari memberi saran. Justru melalui cara tersebut bisnis berkembang. Disisi lain mengasah daya kreatifitas seorang Gilang akan trend kebanyakan di masyarakat.

Gambar tergantung bisa karakter, atau lukisan wajah, ataupun pemandangan dan batik. Semuanya Gilang bisa gambar diatas media lukis sepatu. Keahlian Gilang tidak serta- merta bisa. Namanya bakat kalau tidak diasah akan tumpul. Melalui bisnis sepatu lukis bakasnya terasa ke arah lebih komersial tetapi "nyeni".

Bisnis ini dijalankan lumayan lama. Sampai bertahun- tahun, dan Gilang menikmati bisnis sampingannya tersebut. Untung diraup Gilang bersih minimal Rp.6 juta per- bulan. Cukup lewat jualan di sosial media dia bisa segitu. Kendala bisnis tidak ada yang berarti jelas Gilang kepada jurnalis Okezone.

Kendala utama ya mungkin di bahan baku. Harga sepatu lukis harganya bisa menjadi mahal. Karena banyak orang melihat pasar yang sama. Bisnis sepatu lukis memang sudah banyak dikenal. Tetapi Gilang mengaku meski harga bahan baku naik, harga sepatu lukis dipatoknya tidak naik, karena harga harus tetap bersaing.

Dia sudah menjual lebih murah dibanding lainnya. Karena itulah orang bisa menjadi reseller karena dia ambil untung minimal. Itulah cara marketing diterapkan Gilang. Perbanyak pilihan produk menjadi satu cara Gilang lebih maju. Mulai wedges, heels, dan boots lukis tengah dikembangkan Gilang Keromon.

Pengusaha muda

Umurnya baru 28 tahun tetapi bisnisnya moncer. Pemilik Keromon, brand fasion lukis, Gilang sendiri tidak cuma berbisnis. Dia dikenal sebagai workaholic. Terbukti aneka profesi dia jabani. Mulai dari jadi fotografer pre- wedding sampai karyawan swasta. Semua demi memenuhi rasa hausnya akan pengalaman.

Kunci sukses pengusaha sampingan: Membagi waktu semaksimal mungkin. Jam 08.00 sampai 16.00 sore dia karyawan swasta. Naik jam 19.00 sampai 23.00 dia akan menjadi pengusaha. Kemudian pada Sabtu- Minggu dia akan menjadi fotografer pre- wedding.

Padahal dia memproduksi 150 buah sepatu lukis per- bulannya. Semua masih dilakoni sendiri lantaran dia belum menemukan pegawai kompeten. Dulu ada sih karyawan tetapi kerjanya tidak serius. Mencari sosok karyawan penuh dedikasi bukan cuma skill memang susah. "...dan mau bekerja keras," Gilang menjelaskan.

Namun tetap dia tidak mau pantang menyerah. Dia akan tetap mencari pegawai. Karena tujuannya akan jadi lebih luas. Bukan sekedar usaha sampingan. Gilang ingin membuka workshop. Untuk kedepan dia akan merekrut karyawan dari kalangan marjinal. Mereka pekerja keras yang dipinggirkan karena masalah hidup.

Sebagai pengusaha muda, Gilang menjadi panutan mematahkan mitos bahwa bisnis butuh modal besar. Dia bahkan tanpa modal. Semua berkat sifatnya yang humble ke teman. Disinilah kita bisa belajar bahwa jadi pengusah ialah tentang konektifitas.

Kisah Raja Perak Malang Berbisnis Karena Gagal Karyawan

Profil Pengusaha Faishal Arifin


 
Siapa sangka Faishal Arifin pernah menjadi supir angkot. Pengusaha muda 28 tahun ini memulai segalanya dari nol. Sampai sekarang banyak orang menyebutnya Raja Perak. Ia berkisah setalah lulus kuliah jurusan ekonomi manajemen, Universitas Widya Gama, Malang, tahun 2008, kok susah ya mencari pekerjaan.

Untuk menunjukan bahwa kuliahnya tidak sia- sia. Dia banting stir menjadi pengusaha dadakan. Dia memilih jualan ayam bakar. Selepas berjualan beberapa lama, dia kemudian bangkrut, uangnya ludes juga dibakar api karena kiosnya kebakaran. Karena tidak ingin menyerah akan nasib, Faishal memilih merantau ke Kalimantan.

Di Kalimantan, pengusaha kelahiran 3 Juni 1987, ini juga gagal mendapatkan pekerjaan seperti di Malang. Dia bahkan ditolak masuk perusahaan tambang. Harapan merubah nasib seolah mau tertutup. Tidak mau menyerah kembali ke Kota Malang.

Bisnis perak


Faishal melihat banyak perajin batu permata. Muncul perasaan tertarik akan usaha tradisi tersebut. Lalu ia iseng mencoba ikutan mendalami. Semakin lama menumbuhkan minat akan usaha perhiasan. Pengalaman belajar perhiasan membuat dia nyaman. Bagaimana kalau nanti diseriuskan saja menjadi usaha di Malang.

Dia memboyong ilmu batu permata Kalimantan. Di Malang, Maret 2009, dia mulai membuat perhiasan yang modalnya hanya koran bekas. Tepatnya gambar perhiasan majalah bekas. Ditiru kemudian dijadikan perhiasan sendiri. Berjalan ke Pasar Comboran, Malang, menemukan majalah bekas bergambar perhiasan.

"...saya gunting dan kliping, itu yang saya jadikan modal," imbuh Faishal.

Pesanan pertama datang dari seorang ibu- ibu. Ia tidak menyangka. Bahkan pesanan tersebut tidak sedikit. Ia akhirnya malah kebingungan karena tidak punya peralatan.

Ia kemudian ingat seorang kenalan. Orang Malang juga yang pernah bekerja menjadi perajin. Kemudian ia mengajaknya menjadi mitra. Hasil untungnya dibagi dua, yang mana nanti juga dibelikan peralatan usaha bersama. Modalnya ala kadar ia bercerita cuma mengeluarkan uang Rp.150 ribu.

Faishal cukup membeli peralatan dari tukang perhiasan yang bangkrut. Lumayan lah, dijual murah, tetapi masih layak digunakan. 

Cuma modal nekat


Dia pernah berkeliling dari Banjarmasin- Martapura. Mulai mencari pekerjaan biasa, atau mencoba masuk menjadi pegawai BUMN, ataupun coba ikutan tes PNS. Gagal. Ia malah ketagihan belajar membuat aneka perhiasan di sana. Kembali ke Malang dia sempat urungkan niat menjadi pengusaha.

Ia sempat mencoba lagi. Mencari pekerjaan tetapi kembali gagal. Titik inspirasi mengembalikan niatan awal. Dia menemukan majalah bekas ketika jalan- jalan. Tidak memiliki uang sama sekali. Dia berjalan tanpa arah ke Pasar Comboran, Malang.

Dia bolak- balik ke pasar jalan kaki karena tidak punya kendaraan. Ayah dua anak ini kemudian menemukan majalah berisi katalog perhiasan. Nekat dia meminta majalah bekas tersebut. Beruntung sang penjual mau memberi majalah tersebut cuma- cuma. Sepulangnya dia gunting kecil- kecil kemudian ditempat dalam map.

Esok harinya dia lari ke pusat pemerintahan. Mencoba menawarkan gambar tersebut. Dia melewat aneka keribetan birokrasi. Tidak gampang memang apalagi dia menjual harapan. Sesampainya disana, seorang ibu- ibu tertarik, seolah menguji keseriusan Faishal bahkan dia rela memberikan DP yang diminta Faishal.

Padahal nih, gambarnya dari majalah luar negeri, dia cuma asal menawarkan saja. Hasilnya DP senilai 60% harga disepakati. "Kala itu, pemesan perhiasan tersirat rasa curiga," kenang Faishal. Karena tidak mau melepas kesempatan. Dia rela menyerahkan KTP asli dan fotokopinya menjadi jaminan.

Syaratnya harus jadi seminggu ke depan. Kemudian dia ingat kawan lama perantauan. Dan dengar- dengar dia sudah bekerja di toko perhiasan. Keduanya kemudian negosiasi dan saling sepakat kerja sama. Faishal akan dibantu sang kawan memenuhi pesanan. Selesai, hasilnya memuaskan sesuai harapan pembeli dulu.

Cuma bermula sebuah proyek tungga menjadi viral. Melalui mulut ke mulut usahanya mulai dikenal oleh orang. Pesanan makin banyak. Karena tidak sanggup sendiri. Dia mengajak rekan awalnya kembali tetapi lewat kerja sama lebih dari sekedar untung.

Dia diajak menjadi pegawai, menjanjikan insentif, dan memaparkan pandangannya ke depan. Faishal tidak mau sekedar menjual janji. Akhirnya sang kawan mau hingga sekarang masih setia. Dari banyak orderan, mereka melewati bersama dan diselesaikan dengan sangat baik.

Kesuksesan Faishal kemudian terdengar sampai ke Walikota Malang, Moch. Anton. Mbah Anton lantas menjadi pelanggan tetap buat aneka kesempatan. Menjadikan perhiasan Fasihal souvenir sampai ke tangan orang lain di luar daerah. Menjadi satu kebanggan bagi Kota Malang karena ada pengusaha perhiasan perak hebat.

Ia kemudian rajin diajak ke aneka pameran wirausaha. Lewat itu dia berkenalan dengan eksportir. Seorang eksportir bahkan mengajaknya menjual sampai ke Ethiopia. Sadar akan kekurangan tenaga kerja. Tetapi tidak mau hilang kesempatan, dia merekrut beberapa perajin kecil Malang, Wajak, dan Pujo, Kab. Malang.

Mereka dilatih kusus, diberikan bekal peralatan, dan semakin banyak saja perajin datang bergabung ke usaha dijalankan Faishal.

Jika diandaikan kalau saja tidak nekat. Nilai usahanya akan setara modal Rp.35 juta. Beruntung tekad keras menjadi modal sangat berharga. Serta keberuntungan disetiap keputusan Faishal.  Omzet dicapai sampai ke angka Rp.350 juta. Tidak cuma berproduksi dia juga memberika pelatihan kepada masyarakat sekitar.

Konsep social entrepreneurship dijalankan dia. Tujuannya adalah agar memberikan lebih banyak peluang buat masyarakat Malang. Lahirnya bisnis yang diberinya nama Silver 999, merupakan bukti bahwa dia bekerja keras dan tekun. Dibalik itu keuntungan tumbuh dengan tanggung jawab akan kepentingan sosial kita.

Silver999 meyakinkan kita. Lewat penelitian mereka yakinkan aman alergi. Tahun 2010, dia bekerja sama dengan PT. Sucofindo, melalukan jaminan sertifikasi bahwa produknya berstandar kesehatan. Untuk hal ini Faishal menjadi mitra binaan agar mudah verifikasi.

Jika sebelumnya hasil menyontek. Faishal meyakinkan produknya kin 100% desain sendiri. Katika ada boming batu permata usaha dijalankannya mampu meraup omzet Rp.500- 600 juta -itupun buat ekspornya saja.

Bisnis Paper Cutting Dewi Kacu Cutteristic

Profil Pengusaha Dewi Kacu


 
Berawal keisengan membuat seni potong kertas. Awalnya dia akan berikan sebagai hadiah buat ponakan. Nah, dari sanalah, Dewi Kucu menemukan ide bisnis. Dia menghasilkan puluhan juta cuma dari hobinya mengukir kertas. Usaha bernama paper cutting, yang mulai ditekuninya sebagai usaha sejak 2010 silam.

Karena latar belakang pendidikan arsitektur. Mangka Dewi gampang memasuki dunia paper cutting. Selain memang kehidupannya tidak jauh dari dunia seni. Dia pernah bekerja menjadi fotografer, juga pernah jadi digitak marketer selama empat tahun.

Pengalaman serta melihat peluang. Mangka sejak tahun tersebut Dewi mulai fokus. Berderet nama- nama beken menghiasi kertasnya, mulai dari pengusaha sampai orang nomor satu Indonesia. Seorang lulusan Universitas Tarumanegara, Jurusan Arsitektur, semakin ahli melalui aneka artikel tentang paper cutting.

Bisnis hobi


Dari hobi, dia mulai menyalurkan bakatnya ke orang terdekat. Mulanya menjadi hadiah buat saudara yang ulang tahun. Kemudian keluarga memintanya membikinkan. Mereka meminta pesanan khusus bahkan rela membayar. Animo akan bisnis meningkat, Dewi mempromosikan lewat Facebook, dan makin dikenal luas.

Gadis kelahiran 1985 ini, tahun 2011, masih sempat bekerja menjadi pegawai. Menjadi desainer dan juga fotografer di Vinotti Living. Kemudian dia makin serius ke sananya. Bahkan membuat brand sendiri, lalu membuat akun sosial media, serta membuat situs toko online sendiri.

Nama usahanya Cutteritic diambil nama alat pemotong cutter. Mencerminkan kreatifitas diatas segalanya, bahkan hanya bermodal peralatan sederhana. Pakai cutter cukup menciptakan produk berkualitas bernilai jual. Situs toko onlinenya dibuat sebaik mungkin, juga segampang mungkin dikases oleh pengunjung.

Dia juga menerapkan search engine optimization (SEO). Strategi yang mampu mengalirkan pesanan baru setiap harinya. Pesana makin banyak dibanding dulu. Tetapi, Dewi, masih bekerja menjadi pegawai dari pagi sampai sore. Pesanan dikejerkan waktu malam harinya. Bukannya lelah, ia malah merasa tenang dan senang.

Pasalnya mengukir kertas sudah menjadi hobi. Disalurkan malah membuatnya seperti meditasi. Berlanjut namanya makin dikenal tidak cuma dikalangan pembeli. Dewi mendapatkan sorotan dari media masa baik cetak maupun elektronik. Nama Cutteristic makin melambung membawa lebih banyak pesanan datang.

Tidak bisa menghindar lagi. Dewi memilih fokus mengerjakan bisnisnya. April 2014, Dewi resign, sudah tidak bekerja lagi menjadi Manajer Pemasaran Digital & Kreatif di Sunpride.

Bakat seni dan bisnis


Dewi mewarisi bakat seni dari sang ibu. Dia dikenal memiliki hobi membuat aneka ketrampilan. Namun, lucunya, ketika Dewi mendalami paper cutting, ibu menjadi orang pertama yang protes. Karena Dewi buat rumah jadi kotor karena banyaknya potongan kertas.

Sekarang ibu Dewi bangga akan anaknya. Lantaran melalui hobi menghasilkan sesuatu. Tidak cuma uang, tetapi kesenian indah eksotis yang membanggakan. Kunci sukses Dewi menurut kami: Adalah fakta dia tidak menganggap ini bisnis memberatkan. Hobi selamanya akan menjadi hobi tutur gadis cantik ini.

Berawal hobi untuk mengisi waktu luang. Disela- sela kesibukannya bekerja menjadi pegawai. Kalau saja, hal yang awalnya cuma kado, tidak menjadi minat besar orang. Mungkin Dewi tidak akan mau melepaskan pekerjaan. Apalagi lewat bisnis ini menghasilkan omzet lumayan yakni Rp.30- 40 juta.

Berawal marketing mulut ke mulut. Dewi mulai mengisi rasa ingin taunya. Seberapa besar orang akan mau mengapresiasi karyanya. Hingga membuka halaman Facebook, aktif di situs jejaring sosial, dan juga mau membuka toko online sendiri. Dari sekedar paper cutting melebar hingga bisnis desain interior kertas.

Ia iseng memention karyanya ke majalah interior. Dari sejumlah majalah desain interior dia mention di akun Twitternya. Salah satunya merespon kemudian mengajaknya kerja sama. Semenjak itu permintaan jadi makin membesar. Padahal jika melihat proses kerjanya dan peralatan cuma pakai peralatan sederhana.

Bedanya cutter dipakai Dewi punya bantalah. Disisi- sisinya ada bantalan khusus buat jari. Fungsinya buat menjaga jari Dewi tidak kapalan. Karena internsitas produksi yang lumayan. Bayangkan untuk membuat satu sisi desainya saja. Bagian terkecil dan detailnya butuh waktu sampai tiga jam pengerjaan.

Cutter merupakan pensil, kuas, pewarna dalam karyanya. Ini bukan sekedar barang dagangan tetapi karya seni. Dia tidak memakai kerta khusus. Cukup kertas biasa bahkan kertas bekas. Dalam pembuatan pola juga tidak spesifik layaknya pabrikan. Dia melakukan seperti maestro melukis di atas kanvas dengan kuas.

Ini tentang apa yang tangan kerjakan. Orang beli karena indah dan karena datang dari tangannya. Tidak ada mesin yang membuat ratusan desain. Meskipun sudah menjadi bisnis menjanjikan. Dewi memilih tidak mau merekrut pegawai. Meskipun banyak orang bisa lukis, karya seni adalah milik mereka pembuatnya.

Semua karya Dewi buatan tangan. Disamping itu, paper cuttingnya tidak semua merupakan barang jualan. Ada yang dijadikan koleksi pribadi. Bisnis ini juga tidak mau mengeksporalif. Maksudnya membuat masal kemudian ditawar- tawarkan. Murni barang dihasilkan merupakan buah pikiran inspiratif manuasia.

"Kalau ada pesanan tapi kepepet deadline, saya prefer tidak ambil," imbuhnya. Jika banyak orang berharap karyanya menjadi booming. Dewi justru menjaga agar paper cutting tetap dijalur semestinya sebagai seni rupa.

Semanjak terekspos media, perasaan khawatir cukup menghinggapi. Banyak media besar mau mengolah apa karyanya. Namun dia memilih menjaga paper cutting sebagai kerajinan. Karena itulah dia mulai jarang aktif di sosial media baik Facebook ataupun Twitter. Dewi hanya tetap memajang desainya tanpa aktif marketing.

Dewi merasa bisnis dijalankan adalah seni. Harus menunggu mood bagus barulah jadi. Layaknya lukisan seni rupa. Dewi tidak mau dipaksa- pakas berproduksi. Namun nama Dewi Kucu sudah terlanur populer di kalanga pencari Google. Alhasil pesanan besar datang tiba- tiba dari pengusaha besar Tomy Winata.

Dia tanya Pak Tomy shio -nya apa. Dewi kemudian mengerjakan buat dia. Pesanan semakin deras mengalir hampir setiap hari karena Tomy Winata bukan orang biasa.

Bisnis jiwa


Cutter adalah soulmate itulah ujar Dewi ke Fimela. Dia punya 8 jenis cutter aneka warna. Pemakaian biar tidak bosan. Namun tidak semua cutter dipakai. Kadang dia minta dibelikan hingga ke Jepang, Singapura, pokoknya kalau ada. Tidak semua juga dipakai karena rasa nyaman tidak ditemukan.

Cutter harus ergonomis nyaman dipakai. Hanya ada satu yang sangat sering dipakai. Karena rasanya sudah nyaman di tangan Dewi.

Ketika dia membuat produk tidak sembarangan. Setiap karya dihasilkan terselip unsur budaya Indonesia, khususnya pola Batik. Pemberian unsur budaya dilakukan sebisa mungkin. Disetiap pesanan akan coba ia telisipkan budaya. Adalah batik megamendung menjadi favorit karena sesuai akan citra paper cutting.

Megamendung menggambarkan kesuburan, harapan akan kelancaran usaha, yang mana merupakan satu buah motif turunan dari budaya China. Cutteristic mengambil pedoman passion and obsession. Passion berarti semangat. Semangat buat tetap fokus meski lelah karena polanya sangat tipis dan sulit dipotong.

Obsession sendiri tentang orang lain. Bagaiman tetap membuat orang selalu tertarik akan karyanya. Juga bagaimana mengubah pola bahwa batik terkesan kuno.

Karya yang menjadi kebanggan? Ia pernah membuat paper cutting ukuran 1x1meter. Berisi foto sepasang suami istri pengusaha Indonesia. Dimana sang pengusaha cuma mengirim foto ukuran 17kb. Karena sudah dipercaya maka Dewi bekerja super- keras buat memuaskan permintaan klien khususnya tersebut.

Karena ada idealisme dibalik karnya. Dewi bisa dibilang seniman. Jangan selalu mengharapkan untunng jika menghasilkan karya. Esensi seni bisa hilang jika kamu mulai mengejar untung semata. Dewi hanya membuat apa di kepalanya. Terkadang membuat tanpa berpikir apa akan laku dijual atau tidak.

Meskipun bahan relatif murah. Dia berani mematok harga tinggi. Awal buat karya ukuran A5 dijualnya seharga Rp.300 ribu. Sekarang ukuran 35x35cm dihargai sampai Rp.1,4 juta. Ukuran 35x35 menjadi favorit dipesan pembeli untuk hadiah pernikahan atau lahiran anak.

Meskipun bahan baku murah. Ia berani mematok harga tinggi. Yah karena dia percaya nilanya setara nilai dengan jerih payahnya. Buktinya dia tidak pernah sepi aliran pesanan. Sejumlah pesanan dari Hong Kong, Australia, Singapura dan Malaysia.

Tidak ada kesulitan berarti dalam bisnisnya. Kalau desain akan diberikan awal. Tiga desain akan ditawarkan kepada pelanggan dulu. Soal desain juga bisa tinggal potong. Desain lama terkadang sudah ada stok buat dipotong nanti. Justru memilik peluang lain seperti dibuatkan kalung atau juga dijadikan hiasan interior.

Membuat Sabun Berbahan Susu Kambing Etawa

Profil Pengusaha Ragil Bambang Sumatri 


 
Menjadi sarajana arsitektur, Ragil Bambang Sumatri, malahan memilih beternak kambing. Pria kelahiran 6 Januari 1982 ini diejek tetangga. Tetangga mengguyoni pemuda ganteng angon kambing. Namun itu tidak membuat Ragil jatuh. Ia meyakini kambing mampu mencukupi kebutuhan hidup.

Ia sempat menjadi konsultan proyek. Pernah bekerja di beberapa perusahaan swasta. Hingga, suatu saat, ia ketemu godaan beternak kambing. Ia telah jatuh cinta kepada kambing jenis etawa. Bahkan kata Ragil jauh sebelum dia lulus kuliah Institut Teknologi Nasional (ITN), Malang.

Rasa penasaran makin menjadi ketika kakaknya gulung tikar. Yusuf, sang kakak, adalah seorang peternak kambing tetapi gulung tikar pada 2003 silam. Lantas disela- sela kuliah, Ragil mulai membuka jurnal dan buku- buku tentang kambing.

Pemuda asal Desa Kemadu, Kecamatan Sulang, ini lantas menemukan kunci bagaimana beternak kambing. Kunci sukses menurut Ragil ada pada manajemen ternak dan pakan. Juga perhatikan kebersihan kandang dan mengecek kesehatan ternak, pakan juga terjaga baik. Dia bekerja bersama seorang kaka sepupunya.

Bisnis etawa


Tahun 2006, dia kerja sama dengan kakak sepupu, Ragil bersama Zainal Abidin bertenak kambing etawa peranakan jarawadun. Agar pakan terjaga dia menanam rumput gajah, lagume juga dedaunan hijau, seperti lamtoro, kaliandra, dan kleresede.

Sebelum etawa booming di 2009, ia sudah dahulu beternak kambing etawa.Serius berwirausaha suami Nurul Azizah ini, kemudian menyabet penghargaan Juara II Pemuda Pelopor Bidang Kewirausahaan tingkat Jateng 2011. Sampai 2013 total kambing diternakan Ragil mencapai 40 ekor.

Sebagian kambing sangat produktif menghasilkan susu etawa. Berawal usahnya mendapatkan pekerjaan mapan. Ragil memilih bewirausaha menggantungkan hidup mandiri. Melewati proses panjang sampai dia memerah hasil. Berawal dari usaha nekat membeli delapan kambing etawa.

Hingga mendirikan Kelompok Tani Ternak (KTT) Margomulyo. Mereka mewujudkan mimpinya tentang produk olahan non- susu. Ia mengenang ketika kuliah. Mengamati tanggal kadaluwarsa yogurt memang sangat cepat.

Terbersit pemikiran membuat olahan lain, yakni produk kecantikan berupa sabun susu. Produk buatannya mulai sabun etawa, masker susu etawa, serta susu murni serta aneka olahan yogurt, sudah jadi primadona beberapa kota di Indonesia.

Omzet dihasilkan mencapai Rp.20 juta, dimana pemasaran sudah merambah pasar luar Jawa. Ragil sendiri sudah melakukan uji klinis menganai produk kecantikan mereka. Seperti sabun yang sudah uji lab hingga ke laboratorium Gajah Mada, dan hasilnya tidak ada masalah.

Bisnis panjang


KTT Margomulyo sudah punya 223 ekor kambing. Kambing pribadi Ragil berjumlah 60 ekor kambing. Ia juga mengambangkan peternakan diluar mereka. Contohnya menggaet agensi penjualan produk mereka. Aganesi sudah sampai ke kawasan Palembang, Sumatera Utara.

Azizah menjelaskan usaha mereka juga sudah merambah ke bisnis online. Perempuan berjilbab ini gencar mempromosikan ke situs jejaring sosial. Mereka mendapat suntikan modal dari PT. Semen Indonesia, senilai Rp.25 juta dan Rp.35 juta setiap peternak.

Ide bisnis sabun susu etawa mendobrak pakem. Usaha mereka mampu diterima masyarakat kita. Dan sudah mampu menjual 1.000 batang per- bulan. Azizah dan suami kerap saling bertukar ide tentang produk yang akan dikembangkan kepada para peternak.

Harga produk mereka bervariatif dimana susu dijual Rp.10 ribu, sabun dan masker Rp.10- 15 ribu. Ragil mengevaluasi perjalanan bisnis mereka: Banyak hal perlu ditingkatkan mulai dari kebersihan kandang, terus kualitas pakan, fasilitas produksi, melengkapi izin produk.

Produk mereka juga merambah permen susu etawa juga. Dan inilah kenapa perusahaan Semen Indonesia rela menggelontorkan modal. Kelebihan binaan mereka adalah produksi pasca- panen. Menurut Ragil, ia sesukses sekarang karena memanfaatkan waktu dengan sangat baik.

Ragil memberikan saran kepada pemuda. Hendak lah kita menjadi pemuda pemalu. Mau menggeluti usaha apapun tanpa gengsi. Kunci sukses beternak adalah keuletan. Kamu bisa memulai dengan beternak jenis kambing yang lebih murah. Mau merubah nasib jangan cuma asik duduk minum kopi sambil ngobrol saja.

Hampir Bangkrut Karena Pakai Uang Perusahaan

Profil Pengusaha Daropi Alex 


 
Pengalaman menjadi penjual membuatnya tegar. Namanya Daropi Alex, pernah menjadi salesman door- to- door paling bersemangat. Jadilah ia paham betul cara menjual. Pengalaman 11 tahun tentu sudah lah ia banyak makan asam garam dunia. Bermula dari penawaran kartu kredit kemudian salesman furnitur.

Dia dikenal pendiri PT. Alexis Cipta Furnitama. Bisnisnya distributor peralatan dan perlengkapan kantor. Ia akhirnya berani membuka usaha sendiri. Sejak 1996, lulusan ekonomi UPI YAI, beralih menjadi sosok distributor peralatan dan perlengkapan Datascript.

Bisnis sambil belajar


Alex melayani over head project (OHP), layar, hingga kursi ataupun furnitur kantor lainnya. Beda kan jika dia menjadi salesman kartu kredit. Sementara kartu kredit barangnya langsung. Usaha dijalankan bermula dari Alex dengan menjadi pegawai dulu.

Tidak mudah apalagi mencoba menembus perusahaan besar. Alex belajar lewat menjadi salesman kembali peralatan kantor. Menawarkan apa yang dia miliki sendiri ke perusahaan besar. Seluk peluk proyek pengedaan barang harus dikuasai. 

Lewat bekerja menjadi pegawai dulu ini gajian pertama Alex cuma Rp.450 ribu.

"Saya bisa belajar mandiri dan berwirausaha," Alex, menjelaskan alasannya bertahan. Tahun ke 10 barulah ia mendapatkan proyek besar. Tahun 2006 bisnisnya berjalan mendapatkan proyek dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP), proyek modernisasi sejumlah kantor.

Proyek tersebut langsung senilai Rp.1,6 miliar. Keberanian Alex dituntut untuk membuka peluang usaha mandiri. Dia lantas nekat merintis bisnis sendiri. Jadi sambil bekerja, dia menawarkan usahanya sendiri, jadi dia bekerja dengan dua kaki; Menjadi pengusaha juga bekerja menjadi pegawai.

Alex memang sengaja bekerja sambil belajar. Ia belajar banyak hal. Kemudian dia pahami bagaiman cara membuat peralatan kantor. Mulai dari bahan dan cara pembuatan, mulai dari meja kantor sampai kursi buat kantor. Ide bisnis sudah sejak 2007 ide akan bisnis peralatan kantor.

Produksi pertama ada di kawasan Cileungsi, Bogor, merekrut 20 orang pagawai. Uang dikeluarkan tidak butuh banyak. Usaha ini menggunakan Rp.7 juta. Alat serta bahan baku dipinjami orang. Proyek selesai ia barulah membayar. Dia tergolong nekat karena pengalaman menjadi produsen berbeda dari ditributor saja.

Bisnis nekat


Pengusaha baru Alex cukup terkejut. Kondisi pengelolaan memang beda kan. Saat menjadi pegawai jika ia bandingkan dengan pengusaha, beda! Pengusaha butuh dana buat pembuatan bahan baku dan gaji pegawai. Sementara menjadi distributor dia digaji. Juga dia cukup memasarkan tanpa memikirkan gaji siapapun.

Dia pernah melakukan kesalahan. Uang dari proyek malah dipakai pribadi semua. Bukannya buat gaji para karyawan, dia malah pakai buat kredit mobil dan uang muka rumah. Dia lupa menganggarkan keuangan buat bisnisnya. Bisnisnya sempat berhenti tiga bulan. Dana segar untuk oprasional tidak ada butuh waktu jelas dia.

Pegawai juga tidak dipekerjakan kembali. Inilah titik terendah usaha dijalankan oleh Alex. Waktu itu ia sempat stress. Mau jual mobilnya malah dilarang istri. Untung seorang teman memesan 600 buah kursi ke dia. Alex langsung tancap gas mobil barunya, mencari dana segar buat melanjutkan berproduksi pesanan.

Dapat dana Rp.50 juta, dia mampu membuka usaha kembali dari nol. Inilah proyek sebenarnya setelah dia sempat vakum tiga bulan, dan hampir menyerah. Tiga pekan 600 kursi selesai. Meskipun pengiriman kursi tepat waktu. Sayangnya, dianggap gagal lantaran kualitas kursi buatan Alex bisa dibilang buruk.

Tepatnya enam bulan kemudian semenjak proyek. Jika awalnya dia memproduksi furnitur kayu. Kemudian dia merubah arahnya ke produksi berbahan besi, plastik, hingga kain. Tidak segan Alex mengunjungi aneka pameran alat perkantoran di Malaysia, untuk mendapatkan informasi tentang bahan dan desainnya.

Alex belajar betul dari kegagalan pertama. Ia mulai fokus menata bisnis kembali. Alhasil, dalam waktu relatif singkat, 9 bulan saja dia membeli lahan seluas 250m2 di Kalimantan, Bekasi, yang lantas dijadikan workshop. Semua keuntungan bisnis ditaruh dijadikan workshop sendiri.

Proyek- proyek besar dia lalui. Tidak cuma disana, dia juga menjadi pemasok buat swalayan besar, seperti di Atria Living. Pegawai produksi menjadi 30 orang. Omzet bisnisnya sudah mencapai Rp.600 juta- 700 jutaan saban bulan. Permintaan membesar dia mulai meluaskan workshop miliknya lagi.

Dia beli gudang seluas 1000 m2. Pria Bangka ini kemudian membeli ruko. Tujuannya dijadikan galeri buat pemasaran langsung. Produk Alexis Cipta Furnitama memenuhi pemesanan distributor dan proyek. Juga menjadi perusahaan menjual ke para konsumen langsung. Mencakup ke rumah sakit, bank, dan institusi pendidikan.

Garansi produk diberikan 2 tahun. Ia mendapatkan nama dikalangan suplier bahan baku. Mereka mengincar Alexis menjadi klien mereka. Sejak 2011 rutin pula mengikuti pameran ke China. Dia juga menjadi mitra importir bagi perusahaan China. Kiblat bisnis ke China sampai mempekerjakan 70 orang produksi.

Pengusaha Muhammad Hatta Jualan Kursi Balon

Profil Pengusaha Mainan 



Bisnis Hatta dimulai ketika dia melihat ponakan. Inspirasi dari mainan kemudian menjadi sandaran. Pria yang bernama lengkap Muhammad Hatta mulai sejak 2010 silam. Berawal dari melihat ponakan asiknya di kolam renang. Dia sedang asik memainkan balon air untuk tetap mengambang di atas kolam.

Pemikiran bahwa anak kecil suka balon air. Jadi dia bagaimana membuat produk mainan balon. Cuma tidak cuma balon tetapi memiliki fungsional. Hatta tertarik membuat usaha kursi balon.

Agar anak kecil tertarik dibikin aneka karakter kartun. Dua fungsi utama kursi balon: Menjadi mainan buat anak- anak. Juga sebagai sarana anak duduk- duduk santai. Hatta mendesain sendiri berbentuk selinder. Yang diameternya 30cm. Target pemasaran adalah anak usia 1- 5 tahun, berat beban sudah dihitung dia.

Bahan utama bernama PVC atau jenis plastik. Bahan ini dipilih karena ketebalan tidak mudah bocor. Hatta sukses meraih perhatian anak- anak. Untuk mendukung ide bisnis Hatta. Tak segan dia menyambangi para perajin plastik di kawasan Bekasi, Jawa Barat.

Pria berusia 34 tahun ini membuat desain alasnya. Sisanya akan dikerjakan perajin dengan kontrol dari ia sendiri. Penjualan terus meningkat sejak pertama diluncurkan. Bahkan dia sudah memproduksi ratusan buah. Produksi kursi balonya 1.000- 2.000 buah setiap bulan.

Harga jualnya Rp.60.000- 65.000 per- kursi. Buat untungnya sampai 20% keuntungan. Sekarangan ini, ia menargetkan peningkatan produksi, sisanya bagaimana menciptakan desain beda. Kali in"i Hatta pengen buat kursi balon bermotif etnik. Jadi pasarnya berkembang tidak cuma monoton di satu pasar anak- anak.

"Banyak orang tua memesan motif batik," paparnya. Mangkanya Hatta tengah giat menciptakan produk itu menjadi nyata. Selain jualan di dunia nyata bilangan Depok. Dia juga menjual melalui online lewat blog toko online di kursibalon.blogspot.com.

Pernah Ditipu Penjual Tokek ini Makin Berjaya

Profil Pengusaha David Hendar 


 
Jualan tokek ternyata sangat menggiurkan. Bahkan siapa sangka bisa jadikan kamu miliarder. Hewan ini lalu diburu dan diternakan. Dapat diekspor sampai ke luar negeri juga. Menurut David Hendar, dirinya bisa mengentungi ratusan juta sekali transaksi. Namun bukan sembarangan tokek bisa dijual dihargai mahal.

Tidak semua tokek menghasilkan. Biasanya berat juga diperhitungkan. David mengistilahkan berat harus lebih dari 3,5 ons. Kalau kamu tangkap tokek biasa, yang beratnya dibawah 2ons. Ya cuma laku buat dijual jadi obat china. Harga jualnya juga relatif tidak semengejutkan hasil David.

Pria kelahiran Prubolinggo, 24 November 1957 ini, menjelaskan tokek juga bisa sangatlah murah. Bahkan sampai dihargai cuma seribu- dua ribu. Tokek macamnya banyak kayak tokek hutan, tokek batu, lalu yang paling sering tokek rumah.

Paling banyak digemari justru tokek rumah. Hendra memang baru setahun bisnis. Tetapi dia mampu jualan sampai tokek seberat 7ons. Jualnya sampai Rp.500 juta. Boleh percaya atau tidak David meyakinkan itu kepada pembaca. "Anda percaya atau tidak, tapi ini benar- benar terjadi," yakinnya.

Harga tokek lain tidak sebesar tokek rumah. Kalau harganya cuma Rp.5 juta per- kg. Dan tokek campuran seperempat harganya. Tidak jelas alasan apa kenapa pembeli mau membeli tokek cuma sebesar 7ons. Buat tokek batu beratnya sampai berkilogram. Satu ekor biasa bisa lebih dari 1kg tetapi tetap tidak sebanding.

Harga memang menggiurkan, mangkanya banyak orang latah ikutan berbisnis tokek. Namun tidak semua bisa seberuntung David. Disisi lain efek negatifnya menjadi ladang tukang tipu. Penipu menjanjikan bisa memberikan obat, makanan, atau alat lainnya agar tokek besar. Bahkan ada yang niat memasukan biji besi ke tokek.

Pengusaha multi- talenta ini memilih fokus. Pengalaman setahun membuatnya sadar tokek. Baginya bisnis ini menjanjikan. Dia yang sudah memiliki koneksi ke luar negeri. Mengaku sangat hati- hati jika menjadi perantara penjualan tokek. Suami Tabita Sriwatiningsih menyebutkan sudah punya jaringan tokek khusus.

Pembeli kebanyakan datang dari luar negeri. Dibawah dia mencari pengepul, yang terbung langsung ke penjual, dan penjual diperhatikan sekali lewat beberapa tahap. Meskipun penjualnnya melalui foto sudah ada caranya. Kan memang bisnis omzet sampai miliaran rawan penipuan makelar nakal.

Tokek difoto tertutup tidak utuh segambar. Tokek difoto diatas timbangan. Agar memastikan tangga foto itu diambil memakai koran hari itu. Timbangan tokek pun memakai timbangan digital. Foto dipasarkan ke internet atau bisa langsung diprint out ke pembeli. Kalau mau menyanggupi transaksi dan mau transfer.

Untuk selanjutnya diadakan transaksi langsung. Transaksi selesai barulah dibayar lunas. Tahapan pertama ialah kesanggupan dirinya membeli. Lalu diberi jeda waktu melihat kondisi tokek beberapa hari. Jikalau dirasa kesehatan tokek tidak berubah.

David akan membayar uang muka jika dirasa toket sehat. Nah, setelah dibayar uang muka, dia akan melihat lagi apakah tokek tidak berubah. Berulah dia bayar sisanya jika aman dan sehat. David mengaku sudah tau rasanya ditipu. Ya sekarang dia haruslah lebih cerdas dibanding penipu.

"Itu pengalaman paling berharga," jelasnya.

Pria pengendara Honda Jazz merah ini, negara pembeli tokek nya kebanyakan orang asing. Tetapi David enggan menyebut asal negaranya, karena rahasia bisnis. Pokoknya dibeli orang luar negeri. Berat tokek ia jual lebih dari 3,5 ons katanya bisa dipakai buat penelitian.

Menurutnya tokek bisa dipakai obat, bahkan senjata biologis, kepentingan banyak dibalik tokek yang orang anggap binatang sejenis cicak. Kan teknologi tidak akan surut, dan penggunaan tokek dirasa David masih bisa lebih kedepan -masih menguntungkan dibisniskan.

Pengembangan bisnis bisa dilakukan. Buktinya dia membuka lima cabang selain di Semarang. Cabang itu ia jadikan pusat pemasaran. Cabangnya ada di Bekasi, Bandung, Surabaya, Denpasar, dan Jakarta. Tidak cuma berbisnis tokek, David punya bisnis kursus bahasa, pembuatan website, bisnis handphone- komputer.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba