Pengusaha Tas WeBe Biografi Wenny Sulistiowaty

Biografi Pengusaha Wenny Sulistiowaty

 
taswebe.png
 
Biografi Wenny Sulistiowaty pengusaha tas WeBe asli Indonesia. Dia merupakan sedikit dari sosok pengusaha pengolah limbah. Wenny merubah enceng gondok menjadi tas. Taukah bahwa tanaman itu sudah dikenal mampu diolah kerajinan.
 
Dia menjadi sedikit banyak pengusaha yang mampu mengemas produk ini secara modern. Berawal dari hobi. Ia memulai semua dari hobinya membuat berbagai kerajinan dari eceng gondok. 

Produknya tidak hanya tas hand- made, ada aksesoris, juga bingkai foto dan vas. Namun, dari kesemuanya, produk tas lah yang paling mendapat banyak perhatian. Produknya kemudian kita kenal sebagai tas WeBe, nama yang diambil dari nama pasangan Wenny dan suaminya (Budi).
 

Bisnis Handmade


"Saya ingin, handmade yang saya produksi berkualitas tinggi, elegan, eksklusif, dan dapat bersaing, baik di dalam maupun di luar negeri," pungkasnya.

Ia mengawali semuanga atas dasar hobi. Dia jadi salah satu pengusaha yang percaya dari hobi bisa menjadi bisnis. Itu bukanlah isapan jempol. Wenny telah membuktikannya sendiri. Sebenarnya ia suka sesuatu yang modis dan bemerek. Maka ketika menuangkannya dalam hobi. 
 
Hasilnya, sebuah produk- produk yang tak kalah kualitasnya dari produk impor. Meski berbahan eceng gondok. Anda tak akan melihat tanda guratan- guratan bahwa produk ini dari tanaman eceng gondok.

Tahun 1998, Wenny tengah mengambil kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah. Waktu itu ia yang tengah mengerjakan skripsi berpikir untuk membuka usaha sendiri. Kala itu sebenarnya tak mendukung karena krisis moneter. 
 
Tapi ia tetap memberanikan diri membuat usaha sendiri. Dia hanya akan memanfaatkan sumber daya sekitar. Tak perlua meminjam ke Bank. Wenny pun mulai membuat berbagai macam kerajinan tangan.

Usaha kecil- kecilan yang jutru menguntungkan. Toko pertamanya dibuka di JL. Wahid Hasyim, Kranggan, kawasan pecinan di Kota Semarang, Jawa Tengah. Usaha pertamanya mempekerjakan ibu- ibu muda, ia dengan penuh kesabaran mengajari mereka. 
 
Wenny mengutamakan kualitas mengajari mereka bagaimana agar bekerja dengan rapih. Memulai dari pameran ke pameran, dia kemudian mengamati dari sekian banyak produk karyanya, tas dari eceng gondok, rotan, mendong, dan agel paling diminati. 
 
Sejak saat itulah ia fokus pada pembuatan tas saja. Bahannya tak hanya dari eceng gondok, tapi bahan lain di sekitara Yogyakarta dan Solo. Dia mencoba untuk membuatnya berbeda dari segi kualitas, model dan warna. Hingga suatu saat ada permintaan ekspor.

Mulai di tahun 2000, ia mulai menjajal pasa ekspor dengan tas- tas buatannya. Dia, kala itu, dibantu oleh suaminya Budi Husodo, yang kemudian bersama membangun PT. Webe Inter Tirzada. 
 
Sasaran ekspornya lalu meliputi negara- negara kawasan Asia, seperti Jepang, kemudan merambah Amerika Serikat dan Eropa. Kala itu ia belum menggunakan merek WeBe sebagai brand andalannya. Dan telah cukup lama mengerjakan pasar ekspornya. 
 
Wenny menjadi sosok yang semakin matang. Dalam berbisnis ini ia mengamati bahwa orang Jepang menyukai apa- apa dari kain. Sementara itu Amerika Serikat dan Eropa menyukai bahan- bahan alam. Melalu pengamatan dia menjual produknya dengan strategi khusus. 
 
Pengusaha tas WeBe memproduksi tas sesuai musim. Baik model ataupun warna kesemuanya telah disesuaikan kebutuhan konsemen di sana, tidak asal kirim.

Pasarnya di luar negeri semakin kokoh. Lalu bagaimana dengan pasar dalam negeri? Justru disini, produknya lebih dikenal di Jakarta, bukannya di Semarang. Setiap ada kunjungan pastilah mereka yang dari pusat. 
 
Itu semua berkat pemerintah kota Semarang sendiri yang merekomendasikan perusahaanya. Hasilnya mereka para ibu- ibu jadi melirik produk buatannya. Dari pengamatan kami, apa yang membuat produk Wenny jadi berbeda adalah konsepnya.

Tas buatan Wenny tak nampak seperti buatan dari eceng gondok. Teksturnya yang seperti produk tas buatan pabrikan luar semakin menyegarkan. Tak ayal dari mulut ke mulut pamor tasnya telah menyebar di penjuru Jakarta. 
 
Tasnya menjadi sasaran kaum sosialita disana. Intinya adalah kualitas. Prinsipnya adalah "Tuhan sudah memberi talenta, tinggal bagaimana tiap individu itu mau mengembangkan. Setelah diberkati, coba pula untuk memberkati orang lain. Tuhan memberi apapun tanpa ada batasan. 
 
Maka, manfaatkanlah apa yang telah diberikan Tuhan, sebelum apa yang diperoleh akan dihentikan suatu ketika tanpa diduga siapapun."

 Tas WeBe


Ekspor tas eceng gondoknya telah mencapai puncak di tahun 2007. Dia sadar akan produknya. Produknya waktu itu yang dijual tanpa merek, perlu dihentikan. Wenny ingin produknya dikenal sebagai tas merek asal Indonesia. 
 
"Kalau saya ekspor tetapi tidak menggunakan merek sendiri, Indonesia, khususnya Semarang, tidak akan dikenal," kata dia.

Seiring masa kontrak ekspornya selesai. Wenny sigap menghentikan ekspor tasnya. Selepas berhenti ekspor ia tak langsung membuat merek untuk produknya. 
 
Langkah pertamanya adalah membangun galery WeBe Gallery dan WeBe Art di Semarang. Tujuannya agar semakin dikenal dulu bahwa produk itu dari Semarang, Indonesia. Ia menginginkan bahwa siapa yang ingin membeli produk buatannya haruslah ke Semarang.

Usaha rumahannya telah berkembang sangatlah pesat. Pabriknya telah resmi didirikan di kawasan industri Candi. Di pabriknya ini anda akan disuguhi bagaimana tas- tas tersebut diproduksi secara besar- besaran. 
 
Seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa pembelinya bukanlah masyrakat biasa. Mereka pembelinya adalah para kolektor dan pecinta seni khususnya. Lalu, bagi masyarakat, mereka masih memandang produk yang bermerek dan modis.

Karena itulah Wenny berbalik arah. Ia menyasar produk- produk berbahan kain. Produk buatannya yang sebelumnya ditujukan untuk ekspor ke Jepang, dibalik arahkan. Hasilnya produk buatannya yang satu ini sangat diminati pasar Indonesia. 
 
Sepanjang tahun 2007- 2009, Wenny hanya fokus pada pengembangan model untuk brand -nya. Ia fokus pada model dan desain tasnya. Adalah sebuah penelitian panjang hanya untuk menemukan warna- warna yang pas.

Kemudian tas bermerek WeBe secara resmi diluncurkan. Dia memperkenalkan mereknya melalui berbagai pameran. 

"Pameran pun saya buat terbatas. Hanya undangan yang menghadiri pameran saya. Seluruh relasi saya, termasuk para pejabat yang pernah datang ke pabrik, saya undang. Cara ini sengaja saya lakukan untuk menciptakan citra eksklusif pada produk merek WeBe," tutur Wenny.

Di tahun 2010 hingga 2011 Wenny berpikir membuka usaha di tengah kota. Jika sebelumnya para pembeli harus masuk ke kawasan industri, kini, tak perlu lagi. Dulu masyarakat yang biasanya akan berombong untuk masuk ke kawasan industri. 
 
Kini, telah tersedia di tengah kota, produknya bisa ditemui di gerainya di tengah kota. Ini memang sudah menjadi cita- citanya sejak dulu tambahnya. Wenny tak hanya membuka gerai. Dia membuka khawasan penjualan suvenir di kawasan Semarang, yang kemudian diberi nama Kampoeng Semarang. 
 
Tak hanya ingin memajukan produknya sendiri. Ternyata Wenny ingin agar perajin asal Semarang pada umumnya dikenal melalui Kampoeng Semarang. Tempat yang lokasinya seluas sekitar 4.000 meter persegi di kawasan Semarang Utara, Kampoeng Semarang. 
 
Tempatnya kerap menjadi tujuan wisatawan untuk membeli suvenir khas Semarang. Wenny, kini, telah memiliki 100 karyawan yang berasal dari daerah rawan rob dan banjir itu untuk menjadi pegawai di Kampoeng Semarang. 
 
Produk tasnya ada 40 macam model dan 40 ragam warna berbeda untuk anda koleksi.Ia menambahkan apa yang menjadi kekuatan brand WeBe sekarang: warna- warna yang kuat. Dimana jika anda memilih warna apa yang cocok untuk pakaian anda, tas WeBe telah siap. 
 
Tas buatannya telah melalui pasang surut sehingga kualitasnya tak dipertanyakan lagi. Baik material dan model semuanya telah dipikirkan matang oleh seorang Wenny Sulistiowaty Hartono. Modelnya tak akan konu karena si empunya sendiri suka dengan produk modis.

Meski tak lagi secara masal melakukan ekspor. Nyatanya produk WeBe tetaplah berupaya meningkatkan ekspornya. Meski begitu dengan banyaknya produk tiruan dari China, menjadi perhatian khusus Wenny. Ia berkata ketika ke Guanzhou, dia menemukan produk tiruannya. 
 
Tas WeBe yang dijual lebih murah dari apa yang dikerjakannya. Meski kesal dia tetap lega karena merek menjual produk tiruan itu asli Indonesia, asli produksi Semarang.

Biografi Wenny Sulistiowaty Hartono


Lahir: Purwokerto, Jawa Tengah,  10 Oktober 1976

Pendidikan:

1. SD Kristen 3 YSKI Semarang, Jawa Tengah
2. SMP YSKI Semarang
3. SMA YSKI Semarang
4. S-1 Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga

Pekerjaan:

1. Pemilik PT Webe Inter Tirzada, 1998
2. Pemilik Kampoeng Semarang, 2012
3. Pendampingan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)

Biografi Tony Fernandes Bisnis AirAsia

Biografi Pengusaha Tony Fernandes

  
tonyfernandes.png
 
Pria dibalik kesuksesan bisnis AirAsia. Biografi Tony Fernandes, atau Anthony Franches Fernandes bermula akan kritik terhadap penerbangan. Di jamanannya hiduplah era dimana perbedaan setatus begitu terasa. 
 
Berbeda di Indonesia yang memang sudah beda, di Malaysia, kamu tak akan menemukan perbedaan sangat mencolok. Satu kendala seorang Tony menjajaki karirnya bukan sebagai orang pribumi. Maka dalam biografi Tony Fernandes tidak mudah.

Ya, di jamannya, mungkin hingga sekarang adanya satu pembedaan tentang orang pribumi atau tidak terasa. Dia tidak mudah mendapatkan modal apalagi kekayaan.

Berani Bermimpi


Alkisah, pertumbuhan Malaysia begitu pesat semua karena ikut andil tangan pemerintahnya. Dimana di tahun semenjak tahun kemerdekaan Malaysi di Agustus 1957, negara yang dulunya negara agrari ini telah berubah menjadi negara industrial. 
 
Di akhir tahun 1960 -an, dengan jenuhnya pasar impor, negara Malaysia memilih untuk menjadi negara eksportir. Mei 1969, muncul demonstrasi karena pemerintah terlalu berpengaruh. Dimana pemerintah ikut campur sangat dalam soal pembagian kekayaan. 
 
Hampir mirip jaman orde baru kita. Disini terbaliknya dimana pemerintah fokus pada orang pribumi bukan orang asing. Di jamannya itu, kekayaan terbagi tiga ras: yaitu ras Bumiputra (pribumi), Chinese, dan India.

Dimana entrepreneurship kokoh didalam diri orang beras Chinese, dan India juga punya kelebihan pada hal tertentu. Sementara orang Bumiputra kurang dalam entrepreneurship -nya.

Tony lahir 30 April 1964, keluarganya tidak pernah berpengalaman atau kenal entrepreneurship, Ayahnya seorang tabib dari Goa (India), sementara ibunya itu seorang guru musik yang keturunan Malaka- Portugal. 
 
Atau dengan kata lain, Tony datang dari keluarga India- Malaysia dari golongan profesional. Dia itu berasal dari kelas menengah. Seperti halnya anak kelas menengah lain, keluarganya tentu mampu mengirim Tony bersekolah hingga ke London.

Fernandes ketika berumura 12 tahun pergi ke London di tahun 1976. Dia bersekolah di Epsom Collage lalu lulus dan melanjutkan pendidikan di London School of Economics, dimana ia lalu lulus pada tahun 1987, dia mendapatkan gelar sarjana akuntansi. 
 
Totalnya dia telah tinggal di luar negeri selama 11 tahun. Perasaan akan rindu orang tua membawanya kembali ke Malaysia.

Sebuah pengalaman terbang  memberikan gambaran penerbangan murah. Saat itu, tetapi, belum terpikirkan apapun tentang bisnis airlines. Bahkan dia tidak bersentuhan walau secuil pun dengan penerbangan komersil. Dia seorang akuntan biasa saja. 
 
Selama perjalanan karir, dia singgah di Virgin Communication, salah satu perusahaan milik Virgin Group. Apa yang dipelajari dari Virgin? Dia belajar banyak tentang bisnis internasional. Memberikan dirinya pandangan tentang apa itu bisnis multi- nasional dan internasional.

Dia tercatat sebagai pegawai berprestasi. Membawanya resume baik hingga mampu masuk sebagai Senior Financial Analysis di Warner Music International di London. Di Warner, tumbuhlah jiwa entrepreneur dalam dirinya. 
 
Warner kala itu mengubah dirinya sebagai hanya seorang akuntan menjadi sosok seorang analis dan strategis. Dia bekerja menjadi seorang analis disana sejak tahun 1989, kemudian di 2001, secara sadar memutuskan mengundurkan diri. 
 
Padahal kamu perlu tau Fernandes sudah menjadi Vice Presidents di ASEAN regional. Rekam jejaknya bekerja di Warner menunjukan sudah 3 kali dirinya menerima promosi. Mengagumkan.

Seorang pakar menyebut alasannya keluar dari Warner bukan tanpa strategi. Seolah ia telah bisa membaca kegagalan satu merger Warner untuk American Online di 2001. Sampai disini kenyataan bahwa sosok Tony Fernandes telah memiliki entrepreneurship didalamnya.

Tetapi kenyataan miris bahwa Tony Fernandes bukanlah orang Bumiputra menjadi menarik. Bagaimana dia sukses, tentu semuanya berkat kemampuanya sebagai seorang entrepreneur sejati.

Perbedaan itu sangat terasa seperti perbedaan antara kasus Malaysian Airline dan AirAsia sendiri. Dan satu fakta menarik, meski CEO, AirAsia secara kepemiliki lebih besar dimiliki orang asli Malaysia. Jadi menjadi entrepreneur sulit bagi mereka yang bukan penduduk asli Malaysia.

Lahirnya AirAsia


Beda Malasysian Airline dimana pemerintah bekerja sebagai entrepreneurnya. Kisah Tony berbeda, yakni ada sebuah perhentian di London. Inspirasinya ketika melihat Stelios Haji-Ioannou, pendiri easyJet airlines di televisi. Dia lah yang menjadi sumber inspirasi Fernandes membangun low- cost carier.

Sosoknya dilihat oleh Fernandes tengah menjelaskan konsep LCC ini di sebuah stasiun televisi. Tony mulai tersadar menemukan ide tentang penerbangan murah. Dia mulai berpikir dia bisa melakukanya nanti di Asia Tenggara.

AirAsia sendiri sejarahnya berawal dari perusahaan sedarah dari Malaysian Airline. Itu didirikan pada tahun 1993, dirikan oleh perusahaan konglomerat milik negara, DRB-HICOM dan mulai bekerja di tahun 1996. Di tahun 2002, secara tertulis MAS atau Malaysian Airline memonopoli udara.

Menjadi bagian milik negara membuat perusahaan mendapatkan dukungan mutlak pemerintah. Artinya juga termasuk komersialisasi. Tapi disadari atau tidak pemerintah lebih memilih MAS itu, menganak tirikan AirAsia. 
 
Kala itu, Tony Fernandes tengah menggarap idenya di tahun 2001, dan kebetulan, tahun itu AirAsia mempunyai hutang sebesar $37 juta.

Awalnya Tony sendiri tidak tau tentang perihal hutang AirAsia. Tujuannya kala itu cuma datang ke Perdana Menteri Mahathir di Juni 2001 meminta ijin terbang. Dia ngotot ingin bertemu Perdana Menteri untuk memberinya ijin membuka usaha. Tony sendiri sudah mempunyai perusahaan bernama Tune Air. Dia bekerja sama dengan tiga orang patner, yang ternyata Bumiputra. 
 
Akhirnya, setelah bertemu Perdana Menteri, ia berhasil meyakinkan Mahathir soal LCC -nya. Ternyata, bukan cuma lisensi, ia juga memerintahkan Tony ambil alih AirAsia juga.

Dia memintanya agar TuneAir mengambil alih AirAsia sendiri, yang berarti mengambil alih hutang- hutangnya. Bukannya untung dia malah "buntung" harus mengambil alih perusahaan terbengkalai.


Beda target fokus AirAsia kala itu orang Asia yang belum pernah terbang. Memakai slogan "Now everyone can fly" mendorong mereka berbondong- bondong ke AirAsia. Dan, cara itu berhasil, AirAsia mengadopsi cara kerja Ryanair.

Caranya menggunakan satu jenis pesawat, menggunakan sistem online memotong biaya travel agen, makan berbayar, mengurangi waktu di tanah atau pesawat harus terbang sangat sering, dan membuat banyak jadwal penerbangan sesering mungkin.

Tau kah kamu siapa orang dibalik ide brilian diatas. Dibaliknya, ada Connor McCarthy, mantan Direktur Operasi Ryanair, yang dijadikan Tony penasihat. Sosok Tony Fernandes memang risk- taker. Entrepreneur sukses menghasilkan miliaran dollar. 
 
Tony tercatat orang terkaya ke- 7 di Malaysia memiliki total kekayaan $650 juta. Itulah sedikit kisah sukses bisnis AirAsia.

Biografi Sharp Tokuji Hayakawa Sejarah Pengusaha

Profil Pengusaha Tokuji Hayakawa

 

biografisharp.png

Sejarah pengusaha Tokuji Hayakawa berikut biografi Sharp. Hayakawa kelahiran 1893 asal Tokyo, dan keluarganya memiliki masalah domestik. Alhasil Hayakawa kecil diambil asuh keluarga Ideno. Dia telah diadopsi. Hayakawa disekolahkan tetapi cuma mencapai sekolah menengah atas.


Kemudian ia keluar karena memang tidak punya biaya. Keluarganya merupakan pangrajin besi, namun dikhususkan membuat ornamen besi tidak lebih. Mereka hidup miskin. Hayakawa kepikiran membuat sabuk khusus.


Penemuanya beruapa kepala sabuk yang mampu mengikat kuat. Desainnya dipetenkan berupa besi tusuk buat dicantolkan dalam lubang. Inilah cikal sabuk modern yang dinamai "Tokubijo". Begitu ia luncurkan pada 1912, produk yang telah dipatenkan tersebut menarik perhatian masyarakat luas.


Terutama masyarakat Eropa tertarik menerapkan tersebut ke Western Style. Total permintaai sampai 33 grosesses atau 4.752 total. Hayakawa ingin membuka usaha pembuatan independen. Maka ia pun pergi meminjam uang buat mendirikan perusahaan.


Modalnya dibikinkan pabrik pembuatan khusus pada September 1912. Kemudian pabrikannya tumbuh bagus sampai mengekspansi. Ia pada 1913 mendapatkan paten keran air canggih. Kemudian Hayakawa membuat prototip pensil pencet, yang juga bernama Sharp.


Dia kemudian membuat tape rekorder, radio dan televisis. Hayakawa meninggal diusia 86 tahun di tahun 1980. Itulah biografi Sharp Tokuji Hayakawa.


Dulu perusahaan Hayakawa bernama Hayakawa Metal Works di 1924, Tanabe- Cho, Osaka. Di 1942 namanya berganti Hayakawa Electric Industry Company. Jadi perusahaan mereka memang membuat aneka produk elektronik.


Dari membuat televisi sampai membuat kalkulatro. Nah kalkulator inilah menjadi cikal perkembangan perusahaan. Kalkulator mereka terkecil sampai membuat oven microwave pertama. Nama perusahaan berubah menjadi Sharp Corporation pada 1970.

 

Mengapa dinamai Sharp ternyata berasal nama produk pensil. Penemuan pensil mekanikal tersebut yang membuat namanya melambung. Sayang pensil tersebut mengalami masa surut sampai harus bisa membuat lain. Hayakawa memaksakan perusahaan membuat sesuatu tidak pernah dilakukan.

 

Sharp menjadi perusahaan fokus mengerjakan elektronik. Hayakawa menyadari bahwa Jepang sangat ahli meniru. Ketika perusahaanya membuat pensil maka orang lain meniru. Dia tidak masalah. Bahkan ia melakukannya juga termasuk dalam membuat televisi.


"jika Anda selalu berusaha keluar dengan produk unggulan yang akan meniru pesaing, dan perusahaan akan terus berkembang. Imitasi mengarah pada persaingan, meningkatkan tingkat teknologi dan membawa kemajuan dalam masyarakat," jelasnya. 

 

"Namun, perusahaan selalu mengejar produk turunannya, sehingga harus memikirkan produk apa selanjutnya dan penelitian lanjutan," jelas sang pengusaha.


Industri bisa tidak terdapat orginalitas karena semua saling meniru. Bisnis etik buruk tetapi terbukti industri Jepang berkembang pesat. Persaingan membuat produk tiruan namun lebih baik. Hayakawa menyadari bahwa mereka harus lebih terdepan, lebih berkualitas, dan lebih disukai masyarakat.

Usaha Membuat Bumerang Sangat Mengejutkan

Profil Pengusaha Listyo Bramantyo


usahabumerang.png
 
Pengusaha berikut mempopulerkan usaha membuat bumerang. Sangat mengejutkan berawal karya seni menjadi bisnis sendiri. Seni mengandung kenikmatan dalam pembuatan. Harga berapapun nampaknya pantas bila ia tawarkan.
 
Ini kisah Listyo Bramantyo, dimana karya bumerang buatanya ditaksir seharga Rp.1,4 juta. Berkat kejelian pria asal Yogyakarta ini mampu mengenali kualitas kayu. Bumerang buatannya memiliki serat dan lekukan alami dibuat sempurna. 
 
Jatuh cinta pada pandangan pertama Listyo kepada bumerang. Semua karena dia (bumerang) memiliki gaya tarik unik -jika dilempar kembali lagi.

Kerajinan Bumerang

 
Mungkin jika ibaratnya manusia maka bumerang bisa jadi wanita yang setia. Di kediaman Listyo di 
pojokan dekat bentang peninggalan kerajaan Mataram. Ditemui tim Jawa Post, rumah asri miliknya telah dikenal lama menghasilkan bumerang- bumerang. 
 
Waktu kecil katanya dia sudah tertarik akan sosoknya. Sayang, Lis cuma bisa melihat dari gambar saja, setelah besar barulah ia semakin ingin tau. Belajar dan mencari tau, Listyo kini tidak hanya ahli dalam melempar bumerang.

Dia juga bersemangat untuk memproduksi bumerang sendiri. Kan pada awal tahun 1990-an masih jarang orang menjual atau memproduksi bumerang di Indonesia. Jadi ini bisa jadi usaha menguntungkan. 
 
Dia sendiri, kala itu, sudah dikenal sebagai ketua Komunitas Bumerang Jogja dan akhirnya, Listyo mulai membuat bumerang sendiri. Memulai dengan fase coba-coba dan gagal, hingga menemukan formulasi dan bahan yang pas.

Saat itu, tidak banyak sumber bisa dijadikan referensi tidak seperti sekarang yang banyak di Internet. Listyo cuma berbekal mengikuti naluri dan teori. Setelah berbulan-bulan ia bisa membuat boomerang sendiri.

Bumerang buatannya baru berbentuk dan bermodal cuma bisa terbang. Soal kualitas kayu untuk bahan baku, ia mengaku masih banyak belajar. "karena kontur kayu jadi dasar pembuatan bumerang. Jadi paling tidak kita harus tahu karakter tanaman," paparnya. 
 
Sebagai tambahan kolektor tidak hanya memburu bumerang dari bahan pabrikan yang terbuat dari bahan lain, tapi juga berbahan baku alami dari kayu. Hanya saja tidak semua jenis kayu bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan bumerang.

Bahannya bisa kayu kemuning, akasia, sawo, walikukun, sono-keling, dan beberapa jenis pohon lain. Yang pasti baik akar maupun batang bercabangnya bisa digunakan sebagai bahan baku. Kayu solid seperti jati pun bisa. 
 
Namun, hanya akarnya yang mumpuni untuk digunakan, dia menambahkan pohon yang tumbuh lambat sulit dijadikan bahan baku.

Kalo untuk produk bumerang dari kayu jati cuma buat fun saja imbuhnya. Sedangkan umumnya sebagai bahan baku ia menggunakan pohon akasia. Namun bila anda mau yang profesional, yang lemparannya kuat. 
 
Listyo lebih menyarankan untuk menggunakan bahan sonokeling ataupun walikukun.

"Karakter dan serat kayu sam-pai sekarang saya pelajari. Untungnya di Jogja tidak sulit menemukan bahan. Saya juga sudah memiliki kenalan di daerah Dlingo, Bantul, yang mau mencarikan kayu. Kalau cocok, ya saya beli untuk produksi," ujar salah seorang pencetus Asosiasi Bumerang Indonesia ini.

Ditemui di rumahnya di Dalem RT 42 RW 10 Kota Gede, Yogyakarta, dia mulai intens membuat produk dari tahun 2008. Setidaknya dia bisa membuat 16 bumerang dalam satu bulan. Sebagai tambahan dia juga bisa membuat produk pabrikan. 
 
Jika hand made dari kayu hanya bisa membuat 16 bumerang, jika dari produksi pabrikannya bisa menghasilkan puluhan, sehari bisa 5 buah. Namun, menurutnya membuat bumerang dari bahan kayu itu lebih menantang.

Ada nilai seni dari kesabaran membentuk bahan kayunya. Dia harus menunggu hingga dua bulan agar kayu yang dibentuknya kering. Selain itu adanya serat pada kayu menambah seninya. Seolah seperti ukiran alami Listyo rela harus menunggu lama. 
 
Bumerang berbahan kayu yang lekukannya alami bisa memiliki nilai jual yang tinggi tambahnya. Bumerang buatannya dijual dari 400 ribu, dan termahal 1,4 juta dimana bahan kayu, serat, dan lekukannya alami.

Listyo mengaku semakin mencintai bumerang ini. Apalagi, setelah banyak orang dari negara lain yang melirik bumerang buatannya. Belum lama ini dia telah mengirim bumerang pesanan ke kenalannya yang ada di Jerman, serta negara lain seperti Jepang, Brazil, dan bahkan dari negeri asalnya, Australia. 
 
Soal pengiriman ke luar negeri memang agak sulit, terkait pajak. Makanya dia selalu menuliskan di pengirimannya kalau ini handycraft, karena pada kenyataannya ini buat mainan dan koleksi. Usaha membuat bumerang menaikan nama pengusaha Listyo.

Menurutnya bumerang sekarang diminati untuk sekedar koleksi atau hobi. Dia bersama komunitasnya tengah mengupayakan agar bumerang diakui sebagai olah raga.

Kisah Pengusaha Usaha Rumahan Untung 3 Juta

Profil Pengusaha Farah Maulida

 
usaharumahan.png
 
Usaha sambal makin bergairah di Indonesia. Kisah pengusaha tidak cuma berbisnis besar. Kini, usaha rumahan juga siap untuk memanjakan lidah kita. Pedasnya sambal ternyata meledak seperti bisnisnya. Berbagai jenis sambal ada di Indonesia. 
 
Dan kabar baiknya, tidak semua sambal berhasil dikemaskan. Bermula dari kegemaran keluarga akan sambal. Farah Maulida memutuskan memproduksi sambal buatannya sendiri.
 

Rahasia Usaha Rumahan

 
Ditemui tim Harian Yogya, di rumahnya di RT01 Dusun Banyutemumpang, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, ibu satu anak itu tengah bersantai. Sambil menunggu beberapa tetangga, dia mulai bercerita usaha yang kini dilakoninya dibantu para tetangga sekitar rumahnya. 
 
"Biasanya kami mulai memproduksi sambal pagi atau sore hari," tutur Farah berlanjut.

Usaha sambal kemasan yang diberinya merek Sambal Biyung. Usaha rumahan yang telah dilakoninya sejak tahun 2012. Dia menceritakan: meski usahanya terbilang baru, tapi membuat sambal sudah jadi rutinitas. Dia sudah terbiasa membuat sambal di rumah, ceritanya lagi. 
 
Kenapa lantas diberi nama Sambal Biyung karena memang dibuat atas kasih ibu. Kiranya itulah jawaban Laire Siwi Mentari, anak Farah menjawab pertanyaan pewarta.

Variasi sambal ini ada tiga: sambal teri, orginal, dan peda. Ditiap varian terbagi antara merah dan hijau. Jadi anda akan disuguhi sambal teri merah atau hijau dan seterunya. Laire kemudian menyebut mereka juga sudah membuat varian dari cumi dan belut. 
 
"Setiap produksi, kami bisa menghasilkan lima kilogram sambal, baik untuk sambal merah ataupun hijau. Kami tidak membuat sambal setiap hari, tapi biasanya tiga hari sekali," terang Farah.

Farah biasanya membutuhkan lebih dari lima kilogram cabai untuk lima kilogram sambal. Dia mendapatkan pasokan cabai dan bahan- bahan lainnya dari supplier langganannya yang biasa berjualan di Pasar Niten.

Cara dan bahannya sama dengan pembuatan sambal pada umumnya. Ada bahan bawang, gula, terasi, dan minyak nabati. Sambalnya tidak menggunakan bahan pengawet. Untuk mengawetkan Farah menggunakan gula sebagai gantinya.
 
Memang tak tahan hingga berbulan- bulan, tapi ini lebih baik dari sambal kontongan di warung- warung. Farah menambahkan sambalnya bisa tahan enam hari jika disimpan di luar kulkas dan satu bulan jika disimpan di kulkas.

Sedangkan harga cabai yang naik turun dianggap bukanlah penghalang. Jutru yang sulit adalah ketika ia harus mencari peda. "Banyak orang Jogja yang tidak tahu ikan peda, termasuk penjual ikan di pasar," kata Farah. 
 
Peda dan teri pun harus dipilih dengan cermat agar tidak menurunkan kualitas produknya, karena memang diketahui banyak penjual yang sudah mencampur ikan- ikan itu dengan formalin.

Prospek bisnis


Ia mempekerjakan empat hingga lima orang. Mereka akan bekerja sama dengan cobek masing- masing yang berdiameter 45 sentimeter. Farah memproduksi sambalnya cukup di teras rumah. Setiap lima kilogram dari sambal buatannya akan langsung habis. 
 
Semua karena reseller yang sudah menunggu mengantri pasokan. Satu reseller bisa memesan 50 botol dan mereka tersebar di berbagai kawasan di wilayah Indonesia.

Satu botol akan berisi 200 gram dimana setiap botolnya itu seharga 13 ribu. Seharga itu Farah sendiri sukses mengantongi Rp.4000- Rp.5000 dari tiap botolnya. Jika dihitung- hitung ia bisa mengantongi Rp.3 juta per- bulan. Produnya dipasarkan melalui sosial media Twitter. 
 
Dalam satu bulan ia bisa menjual 500 botol ungkap Laire, yang berperan sebagai admin akun Sambal Biyung. Laire, anak Farah, juga mengurusi kemasan juga pengiriman kepada para pemesan.

Pesanan tidak hanya dari Jogja, Sambal Biyung merambah hingga Jakarta, Balikpapan, Aceh. Bahkan juga dari mereka para TKW dari Hong Kong. Beberapa teman, kerabat yang tinggal di Jerman dan Kanada juga ikut memesan Sambal Biyung. 
 
Namun, ada beberapa pembeli yang merasa pedasnya dari Sambal Biyung ternyata masih dirasa kurang oleh beberapa orang. "Ada yang bilang rasanya masih kurang pedas, padahal rasanya sudah pedas banget untuk orang lain," kata Laire sambil tertawa.

Farah bercerita bahwa sebagian besar pria di daerahnya bekerja sebagai buruh tani, buruh bangunan, atau pengangkut batu, dengan upah Rp30.000-Rp40.000 sehari. Sedangkan, para istri biasanya tidak bekerja. 
 
Dengan mengajak ibu-ibu di sekitar rumahnya, Farah berharap dapat ikut membantu meningkatkan kualitas kehidupan mereka.

"Saya belum berani memproduksi lebih banyak, karena masih banyak yang harus disempurnakan. Salah satunya kemasan," tutur Farah melanjutkan. Untuk kemasan saat ini dinilainya masih belum cukup rapat, ini membuat minyak dari sambal masih sering meresap.
 
"Mudah-mudahan dalam waktu dekat masalah kemasan sudah beres, sehingga bisa lebih fokus di produksi," tutup Laire.

Bisnis Animasi Jadi pengusaha Karena Cinta

Profil Pengusaha Marlin Sugama


bisnisanimasi.png

Mereka jadi pengusaha karena cinta. Kisah seorang wanita kelahiran 20 Maret 1980 pecinta game dan animasi, namanya Marlin Sugama memulai bisnis animasi. Dia merupakan sedikit dari orang yang sukses berjuang di bisnis non- mainstream. 
 
Dia mengaku hanya menjalani hidupnya sebagai seorang hobi bermain game dan pecinta buku fantasi akut. Tapi, ia mengaku tidak begitu suka buku komik.

"Hobi saya adalah alasan terbesar untuk memasuki industri game, animasi dan komik. Hingga sekarang saya masih seorang avid gamer, moviegoer, dan suka baca buku apa pun, termasuk komik," ujarnya.

Bisnis Animasi


Hobi bermain game merupakan alasan terbesar dirinya masuk ke dunia game, komik, dan animasi. Dia memulai semuanya di tahun 2003 silam. Waktu itu, Marlin bersama beberapa teman mengikuti sebuah lomba game. 
 
Mereka bersama mengerjakan sebuah game untuk diikut sertakan dalam lomba tersebut, itu adalah sebuah lomba game tingkat nasional yang diadakan sebuah majalah game. Singkat cerita mereka menang. Dan, berkat usaha mereka banyak investor berdatangan.

"Sejak kecil saya ingin menjadi storyteller dan walaupun latar belakang pendidikan tidak sesuai dengan profesi saya sekarang, saya tetap menjadi storyteller melalui produk animasi dan komik yang saya tulis," Marlin melanjutkan.

Tahun 2003, Marlin bertemu seseorang yang punya kegemaran yang sama. Mereka saling bertukar pikiran tentang apa yang akan mereka lakukan. Dialah, Andi Martin, sosok yang kemudian akan menjadi suaminya kelak. Mereka berencana membangun studio game sendiri. 
 
Mereka bersama seorang teman bernama Ardiansyah akhirnya membuka satu studio sendiri. Usaha mereka diberi nama Altermyth. Hanya bertahan tiga tahun saja, dan akhirnya kolaps. Meski gagal, ini tidak membuat mereka berhenti. Mereka membuka usaha lagi serupa yang diberi nama Main Studio. 
 
Apa yang menjadi modal ialah pengalaman buruk mereka. Mereka belajar banyak dari kegagalan bisnis milik Altermyth. Usaha ini bukan usaha mudah loh. Mereka mengucurkan dana 100 juta sebagai modal awal.

Bicara soal pasar, pada jamannya, dunia game dan animasi belum terlalu berkembang. Mereka tak mudah untuk menemukan konsumen. Modal untuk promosi jadi paling banyak. Di saat yang sama ada kesempatan untuk mereka. Sebuah lomba INA ICT Award di tahun 2007. 
 
Marlin membidik acara itu dengan berharap mereka bisa membantu portfolio bisnisnya. Disini lahirlah tokoh Si Hebring yang memenangkan award bergensi tersebut.

"Jadi, Si Hebring ini,  konsepnya universal  agar  bisa diterima  seluruh  lapisan masyarakat," kata Marlin menjelaskan. Lebih lanjut, Si Hebring hanyalah super hero yang baru memiliki kekuatan dari luar. Dia tak tau cara untuk mempergunakannya.

Kisah tokoh Si Hebring jadi sebuah batu loncatan bagi Main Studio. Berbagai usaha dijalankan berdasarkan brand ini. Dari berbisnis game, aksesoris, film animasi, semua usaha komersial telah dilakoni. 
 
Melalui tokoh tersebut Main Studio dilirik banyak pihak dari luar negeri. Kebanyakan konsumen dari negara Amerika Serikat, Inggris dan india. Nama- nama perusahaan besar semacam Nokia, Miniclip.com, Games2 Win dan sebagainya, 
 
Mereka tercatat menjadi pelanggan tetap jasa animasi dan game dari Main Studio. Usaha Marlin akhirnya tercatat sukses membukukan 500 juta per- bulan. Tak berhenti disitu. Marlin juga tercatat menulis beberapa buku.

Profil pengusaha


Marlin mengaku sudah menyukai dunia anak- anak ini sejak kecil. Sejak balita bahkan, tambahnya, bahwa dia selalu menikmati acara kartun anak- anak. Itulah mengapa dia memiliki imajinasi tinggi tentang animasi dan buku fiksi. 
 
Sedangkan untuk game dia baru menyadari di tahun 1988 ketika ia dibelikan console game pertama berupa console Atari. Dia menyukai game yang punya alur cerita sebagai medianya bermain game tersebut.

"Saya suka games yang memakai "alur cerita" sebagai medium koneksi dengan pemainnya dan games "problem solving". Sejauh ini games favorit saya adalah Final Fantasy 7, Heavy Rain, Diablo 3, Sim City dan Roler Coaster Tycoon," ujar Marlin.

Sebagai seorang ibu yang punya anak, ia masih lah sama. Marlin masih hidup di dunia game. Kecintaan sang suami, dirinya, dan anak- anak akhirnya menjadi kelucuan. Ketika mereka berebut untuk bermain game satu sama lain. 
 
"Setiap hari kami rebutan games, tapi akhirnya kami bagi-bagi untuk menyiasatinya, iPad, iPhone dan console serta TV-nya jadi milik anak-anak. Saya dan suami main di PC dan laptop," ujar Marlin sambil tertawa ringan.

Awalnya karena prihatin melihat televisi yang isinya animasi luar yang tak cocok dengan budaya sendiri. Dia bersama sang suami mulai membuat tokoh Hebring. Apalagi lagu cinta- cintaan yang sangat masif di televisi membuatnya semakin membuatnya bersemangat. 
 
Di pertengahan 2000 -an tidak adanya super hero lokal lah yang menjadi pasar mereka. Mereka pun mencoba dari sebuah animasi pendek di You Tube.

Di Main Studio lah tokoh- tokoh seperti Hebring lahir. Banyak usaha coba diraih studio animasi ini. Tidak hanya berhenti pada film animasi atau game. Ada produk mainan yang akan menjadi sasaran juga. Disini, Merlin bekerja sebagai penulis naskah. 
 
Sedangkan sang suami akan memvisualkan tulisan menjadi karakter 3D. Ia merasa apa yang dilakukannya merupakan panggilan hidupnya.

Marlin memilih strategi yang berbeda- beda pada setiap produk. Ada cara berupa web-comic yang bisa dibaca gratis. Dimana, Hebring di distribusikan sebagai konten salah satu provider internet, komik cetak Hebring di distribusikan oleh Gramedia, dan animasi didistribusikan indie di Youtube. 
 
Hingga saat ini, Marlin mengaku tengah mencari investor yang tepat untuk mengangkat Hebring menjadi serial cerita animasi TV. Untuk masa depan bisnisnya, Marlin berharap Main Studio yang dibangunnya akan menjadi seperti halnya Disneyland atau Ghibli Museum.

Tukang Bakso Jadi Kaya Kisah Sukses Pengusaha

Profil Pengusaha  H. Mudo Sartono

 
baksotriman.png
 
Kisah sukses pengusaha tukang bakso jadi kaya. Kata siapa menjadi tukang bakso bukanlah usaha yang menguntungkan. Usaha kecil bisa jadi besar berkat waralaba. Kisah ini, kisah kewirausahawanan bakso Ojo Lali Mas Triman milik H. Mudo Sartono. 
 
Wirausahawan yang sudah berbisnis sejak tahun 1978. Meski persaingan di dunia bakso semakin ketat, berkat ciri khasnya serta merek dagang Ojo Lali, Pak Sartono sukses bertahan puluhan tahun.
 

Tukang Bakso


Pria 56 tahun yang mengawali semuanya dari berjualan bakso keliling. Karena keterbatasan modal apa yang dipikulnya kala itu bukan miliknya. Sudah lama ia berkeliling, berjualan dan menjajakan baksonya di Muara Angke Tangerang, hingga keinginan memiliki tempat sendiri timbul. 
 
Namun semua harus dimulai dari nol. Ia berkisah bagaimana dari bakso pikul jadi bakso grobak. Sartono akhirnya punya grobak bakso sendiri yang digunakannya berkeliling kawasan Grogol Jakarta Barat.

Tahun- tahun itu kawasan Grogol dikenal sebagai kawasan tak ramah. Ia pun sering mendapatkan masalah. Dari kawasan Grogol, Sartono pindah rute berkeliling Pondok Kopi Jakarta Timur, sekitar tahun 1990. Dia tak ngotot untuk punya tempat sendiri. 
 
Justru suatu hari ada pelanggan yang menawarinya. Dia menawari Pak Sartono sebidang tanah untuk disewa di kawasan Pondok Kopi kawasan Jalan Robusta. Lokasi yang cukup strategis untuk mengkal grobak bakso.

Tak berpikir panjang tawaran itu diambil, daripada berkeliling toh tempat itu memang jadi favoritnya. Apalagi si empunya memberikan keringan di satu bulan pertama.

Allah membukakan pintu suksesnya sejak itu. Sejak tahun 1990, seorang Haji memberinya kesempatan untuk berusaha di tempatnya itu. Di Pondok Kopi lah bisnis kecil jadi besar. Nama Ojo Lali sendiri diambil dari bahasa Jawa yang artinya "jangan lupa". 
 
Maksudnya mungkin agar kita tak lupa akan enaknya bakso ini.

"Alhamdulillah bakso saya laris, sampai ada penyanyi ngasih nama Mas Triman," ujar Mudo atau Triman, suami dari Srini ini.

Memang tak memakan waktu lama bagi Triman untuk mengangkat baksonya. Ia mengutamakan rasa serta untungnya karena mendapat tempat strategis. Barokah jalan kakinya menyusuri rel Angke- Tangerang telah terbayar. Prinsipnya menjaga kualitas. 
 
Pada 2004, pria asal Sukoarjo ini akhirnya membuka cabangnya di Ruko Bekasi Timur Regency, lalu membuka lagi di Centra Bumyagara tahun 2006 dan di jalan Mutiara Gading setahun kemarin. 

Triman mengutamakan citarasa dan layanan. Ia selalu menjaga kualitas memilih daging hanya kualitas utama. "Rasa enak bakso karena daging sapinya bagus, tambahan tepung tapiokanya sedikit saja," bocor Triman. 
 
Selain sedap, bakso dan mie ojolali lumayan murah. Seporsi bakso atau pun mie ayam bakso dipatok antara Rp. 8 ribu - 12 ribu. Jika dulu, Pak Triman hanya bisa menghabiskan 2,5 kilogram daging sehari, kini bisa laku 60 Kg-1 kwintal daging.

Cabang Bakso OJOLALI :


1.  Jl. Raya Robusta Blok Q7/3, Depan Kolam Renang HS. Agung, Pondok Kopi
2. Perumahan Bekasi Timur Regency, Bekasi
3. Perumahan Bumyagara Blok D5/7, Bekasi
4. Perumahan Mutiara Gading Timur Blok R, Bekasi
5. Jl. Raya Pengasinan, Depan Ruko Rafflesia, Bekasi
6. Jl. Irian no.6, Nusantara Raya, Depok

Awkarin Kontroversi Personal Branding dan Menjadi Pengusaha

Biografi Pengusaha Karin Novilda


biografi awkarin

Awkarin menjadi pengusaha bukanlah kejutan. Ia mampu merubah kontroversi personal branding. Ini bermula dari viralnya video Awkarin. Gadis bernama lengkap Karin Novilda. Dia seperti gadis belia lainnya tertarik akan ekspresi diri dan berkreasi.

Maka Karin mengupload video Youtube, atau yang kita kenal sekarang vlog atau video blog. Isinya masih standar yakni kehidupan sehari- hari Karin. Alih- alih "memaksa" dirinya menjadi ahli fashion, dirinya tampil apa adanya. Gaya yang ditampilkan ya Awkarin sendiri sebagai personal branding.

Kontroversi personal branding nya tumbuh sejalan waktu. Dia yang sifatnya cuek dan apa adanya, malah mengundang pengikut anak muda. Dulu ada artis Marsanda menjadi kiblat remaja mencari jati diri. Sekarang ada Awkarin, yang ternyata diambil dari "Awkward" dan "Karin", atau Karin "Unik".

Menjadi Diri Sendiri


Kontroversi menjadi ketika mengupload video di Youtube. Berjudul "Gaga's Birthday Surprise and My Confension", dan memiliki subscriber 200 ribu orang. Gegerlah dunia maya melihat video milik si Awkarin ini.  Total viewernya 2 juta yang mana terbilang besar di tahun tersebut.

Ada orang yang mengagumi sifat keterbukaan Awkarin, adapula yang mengejek dan membully. Dari situ mereka berbondong ke Instagram Karin. Geger kembali melihat postingan Awkarin, yang terbuka tanpa tedeng aling- aling. Inilah gaya berpacaran Awkarin dan mengejutkan khalayak ramai.

Tidak mau menghakimi tetapi ini "bom waktu" kehidupan remaja. Melalui Instagram, sosoknya lalu menjadi nampak kepermukaan. Ia sendiri menolak untuk memprivasi foto- foto IG -nya.

"Lihat foto-foto aku pacaran, ciuman, menurut mindset orang Indonesia itu gak pantas, ga sesuai ajaran agama. Mungkin karena Indonesia itu mayoritas Islam jadi semua harus ikut ajaran Islam, padahal kan Indonesia bukan negara Islam?"

Dalam video dengan santainya ia berkata kotor dan tidak senonoh. Tetapi ini bukanlah hal baru dalam dunia remaja. Hanya Awkarin terekspos melalui video yang diunggahnya sendiri. Dia santai tidak terlalu menanggapi serius.

Awkarin menganggap sosial media miliknya, jadi terserah dia, dan bila ada yang berkomentar negatif dia tanggapi santai. Awkarin juga menunjukan mentato tubuhnya. Apapun dia tunjukan merupakan hal tidak terekspos di kalangan anak remaja.

Awkarin yang waktu itu masih bersekolah menengah hidup santai. Dia menjadi dirinya sendiri, dan tidak lupa melihat peluang. Dia menjadi pengusaha melalui popularitas Instagram. Awal dia berjualan casing handphone.

Dari bisnis pertama, ia menghasilkan Rp.10 juta dan disusul endors sponsor yang masuk.Dia tidak berhenti. Karin kembali mencari kesempatan dengan membangun manajemen artis. Dia juga semakin banyak follower sampai 5 juta, maka endorse dan sponsor berdatanngan ditaksir ratusan juta.

Masa Lalu Awkarin


Karin terlahir dari keluarga berkecukupan. Ayahnya bekerja sebagai Dokter mata, dan ibunya bekerja sebagai Dokter gigi. Tidak ada masalah dalam keluarga. Kedua orang tua Awkarin justru memiliki sifat suportif. Mereka selalu menyemangati dia berprestasi ketika sekolah menengah

Karin tumbuh menjadi gadis berprestasi semenjak kecil. Dia selalu mendapatkan juara 1 ketika masih sekolah. Gadis kelahiran 29 November 1997, mendapatkan puncak prestasi dengan nilai sempurna ketika ujian nasional SMA.. Tetapi dalam dirinya terdapat perasaan tertekan ketika masih sekolah.

Tuntutan menjadi siswa berpresatasi membuat jiwanya terpuruk. Dia sakit, tetapi bukan sakit tubuh melainkan mental. Ini sangat jauh sebelum ada namanya Instagram. Ia bahkan bercerita sempat coba bunuh diri. Hingga Karin terpaksa masuk rumah sakit karena percobaan tersebut.

Menjadi siswa berprestasi kemudian Karin menjadi gadis biasa. Ia mengenal kehidupan diluar apa yang dia pahami dulu. Hingga video ketika dirinya menangis dan putus cinta mencuat. Menjadi viral besar sampai mengundang netizen.

 "Dulu banget aku pernah mengalami mental depression. Long before this whole Instagram thing. Long before nangis-nangis karena diputusin."

Dia sebenarnya gadis biasa seperti kebanyak. Hanya sorotan lampu, terus mengarah ke diri Awkarin, sampai ada namanya manajemen merangkul. Sosok Karin diperkuat menjadi "bad girl", padahal ya dia layaknya remaja lain, tengah mencari jati diri.

Menurut pengakuan dirinya dipoles menjadi sosok "bad girl". Bahkan dilebih- lebihkan, karena di dalam dirinya masih ada Karin yang peduli. Terbukti sekarang, Awkarin dikenal melakukan aneka kegiatan kemanusiaan, termasuk ikut membantu masyarakat yang terjebak kebakaran hutan.

Karin menjadi lebih matang dibanding ketika ikut manajemen. "Dulu aku bertingkah seperti bad girl. Itulah image yang dibuat oleh manajemen aku," tuturnya.

Dia bahkan dipaksa menjadi penyanyi. Puncaknya, ketika sang mantan pacar meninggal, Awkarin menjadi sosok tertuduh. Sudah dimaki orang perusak moral, kini orang- orang menyebutnya sebagai penyebab kematian.

Bukannya mendukung pihak manajemen dan para selebgram dibawahnya seolah ikutan. Awkarin lalu menyebut insial YL influencer lain. Tidak mau menambah permasalahan Karin melepaskan diri. Dia memilih menjadi mandiri. Menjadi insfluencer yang lebih baik dan meninggalkan citra "bad girl"

Awkarin Menjadi Pengusaha


Meskipun dia telah menanggalkan kontroversi personal branding. Dirinya tidak lagi berperan menjadi "bad girl". Karin masih menjadi dirinya sendiri. Ya itulah Awkarin, yang akan melakukan sesuatu dia anggap benar tanpa tekanan publik.

Bicara bisnis Karin sudah memulai semenjak sekolah menengah. Memang bakat menjadi pengusaha, contohnya ketika dia meminjam uang ke orang tua. Karin merubah uang pinjaman ayahnnya menjadi berlipat. Bisnis yang dilakukan senang hati menghasilkan berlipat- lipat.

Dia meminjam Rp.500 ribu kembali Rp35 juta. Kini, Awkarin menerima endors dan sponsoran, dan ditaksir bisa menghasilkan ratusan juta. Dari penghasilan itu, orang melihat dirinya hidup bersenang- senang terus. Tetapi faktanya dia mellipatk gandakan dengan aneka investasi dan bisnis.

Ada empat bisnis yang patut kamu soroti:

1. A Team Management

Lepas dari manajemen dulu maka lahirlah perusahaan baru. Ini digagas dirinya dan mengajak talent baru. Tentu Karin memiliki visi sendiri mengenai A Team. Lewat ini para telent akan mendapatkan endorsan. Para talent juga akan dibantu mengembangkan potensi sosial medianya.

2. Hally by Awkarin

Ini sempat mengejutkan karena bertolak belakang. Tetapi ini bentuk analisa seorang Awkarin. Sejak menerima endorse, dia mendapatkan respon positif dari endors dan sponsor hijab. Ia lantas berpikir untuk membangun brand. Tidak ada yang salah dengan bisnis Awkarin memanfaatkan momen.

3. Youtuber

Tidak seramai Instagram tetapi Awkarin juga menghasilkan. Ketika ada momentum viral, Awkarin lalu masuk seperti mengikuti aneka challange di sosmed. Bersubscribe 600 ribuan membahas tidak cuma curhatan Awkarin tetapi juga pembahasan berisi.

Biografi Bambang Sutantio Cimory Pengusaha Idealis

Biografi Pengusaha Bambang Sutantio


bambangsutantio.png
 
Menjadi pengusaha idealis mungkin menyulitkan terkadang gagal. Biografi Bambang Sutantio adalah pemilik Cimory. Menjadi idealis mungkin berhasil bila pada kadarnya. Inilah sosok yang dikenal memperkenalkan manisnya yogurt agresif. 
 
Bayangkan saja ia berbisnis produk mudah kadaluarsa. Memiliki proses produksi tidak mudah. Apalagi kalau bukan lah satu idealisme kuat namanya. Sudah selama tiga tahun ia terus menggeluti produk asing tersebut. Meski harus pergi keluar negeri 'membeli' teknologi disana.

Kisah Bambang terus berlanjut, sekarang, dia adalah Presiden Direktur PT. Cisarua Mountain Dairy, yang lantas menjelma menjadi Macro Group. Sebuah perusahaan yang membawahi lima perusahaan dibawahnya. Kisah bisnisnya sudah dimulai sejak bertandang ke Wonosobo, Jawa Tengah.

Rahasia Pemilik Cimory


Bambang melihat banyak buah nanas hasil panen masyarakat cuma dibuang. Mereka tak mampu mengolah mereka menjadi produk baru. Mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Kejadian di Wonosobo itu begitu membekas dalam benaknya. 
 
Hingga ia pun terbang ke Jerman untuk belajar bagaimana pengolahan pangan berbasis teknologi di Universitas Berlin.

Sekembalinya ke Indonesia, dia berharap ilmunya bisa digunakan di Indonesia. Ilmu disebut ingin ditularkan ke masyarakat agar lebih makmur. Memutuskan untuk menjadi pengusaha merupaka satu jalan dipilihnya. Ia bermodal 150 juta dari kredit usaha kecil- menangah. 
 
Lantas ia membuka usaha yakni bisnis bumbu dan juga peralatan industri. Dalam perjalannanya usahanya berubah jadi bisnis yogurt. Usahanya menjadi identik yakni sebagai perusahaan pengolahan susu.

Untuk mendapatkan kredit UMKM dikorbankannya sebuah ruko. Ia menjaminkan ruko yang mana itu hasil menggadaikan rumah milik orang tuanya. Memulai bisnis bermodal pengetahuan selama di Berlin, sejak tahun 1989, usaha bernama Cisarua Mountain Dairy itu cukup maju. 
 
Bambang sendiri lahir dari keluarga berkarir atau profesional. Jadilah usaha dijalankannya cumalah mencoba- coba. Ia tak punya modal kewirausahaan. Cuma diajarkan sedikit wirausaha dari ibunya.

Modalnya adalah idealismen dan kegigihan untuk tetap pada tujuannya. Bisnis PT. Cisarua Mountain Dairy atau Cimory lantas tumbuh semakin baik. Pelan tapi pasti pria asal Semarang tersebut membangun usahanya. 
 
Usaha Cimory bermasalah ketika menghadapi krisis ekonomi di tahun 1989. Untunglah usahanya itu meski tidak umum tapi memiliki kekuatan sendiri. Untunglah dirinya sigap merubah arah usahanya ke arah bisnis aneka olahan susu.

Produk yogurt pertama dilabeli Cimory. Anak usaha Macro Group yang lima tahun ini sanggup berkembang mencolok. Tak terpikir sebelumnya bahwa dia akan fokus pada bisnis tersebut. Di atas lahan 3.000 meter sebuah pabrik yogurt didirikan dibantu oleh masyarakat lokal. 
 
"Kami membeli susu segar dari peternak di Jawa Barat seminggu itu 200 ton. Kemudian dibuat yogurt 250 ton," ungkapnya kepada Depoknews.

Usaha bapak tiga anak tersebut lebih menggelinding dari usaha lainnya. Apa yang membuatnya berbeda di penjelasannya itu adalah bakteri sehat milik mereka masih hidup. Dibanding produk sejenisnya, Cimory ini terbuat dari 90 persen susu segar, dan bakterinya itu diimpor hidup- hidup. 
 
Jadilah olahan perusahaan itu bisa jadi lebih baik. PT. Cisarua yang bermula dari usaha kecil ini fokus pada konsumsi susu segar. Dibandingkan perusahaan lain yang fokus pada susu bubuk.

Fakta bawah konsumsi susu di Indonesia masih rendah; jadi hambatan sekaligus kesempatan. Fokus pada olahan susu segar membuatnya beda dibanding perusahaan susu lain. Sayangnya, orang Indonesia masih ada rasa enggan untuk mengkonsumsi produk turunan susu tersebut. 
 
Di Eropa, kebanyakan olahan susu dibuat dari bahan segar langsung minum. Oleh karena itu pula usaha Bambang moncer ke luar negeri. Meskipun begitu idealismenya tetap ada pada pasaran lokal.

Ia juga punya cita- cita atau idealisme lain selain diatas. Selain bagaimana mengajarkan mengolah makanan lebih baik. Cita- citanya yakni agar masyarakat bisa mengkonsumsi produk bergizi. Bagaiman cara untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat.
 

Bisnis Yogurt

 
Ia sendiri mengaku menjadi pengusaha idealis membuatnya lebih banyak berkorban. Tapi bukankah keberhasilan seorang pengusaha ada pada dedikasinya. Selama dirinya masih bisa berusaha maka akan dijalankannya.

Berbicara tentang konsumsi susu. Di Amerika adanya dorongan pemerintah lewat iklan masyarakat Got Milk memberi perusbahan besar. Sementara itu di Thailand tak cuma mendorong minum susu. Di negara tersebut menurut Bambang mendorong konsumsi susu segara sebagai hal utama. 
 
Menurutnya susu ternak lokal juga baik ketika mampu mengolahnya. Cimory mampu mengolah melalui sistem bernama pasteurisasi. Beda di luar negeri berbisnis di Indonesia membuat usaha merugi terus.

"Awalnya kami rugi terus," pengakuan pria Semarang ini.

Dari pada menghujat dan mengeluh karena hal tersebut. Biografi Bambang Sutantio memilih menanggapinya dengan light the candle. Atau, dirinya nekat untuk mengajarkan pentingnya minum susu segar. 
 
Bahkan perusahaanya itu rela mengadakan program edukasi bernama Dairy Educational Tour. Lalu  perusahaannya mengundang anak- anak sekolah dasar untuk diperkenalkan kepada farming. Apa saja yang diajarkan antara lain yaitu bagaimana cara memarah susu, sampai menonton film dokumenter.

Sejauh pengamatannya hasilnya cukup memuaskan. Tour itu diadakah setiap hari dimana banyak sekolah- sekolah dan ibu- ibu ikut mendaftar. Harapannya ini bisa menajadi langkah awal memperkenalkan susu segar. 
 
Melalui marketing word of mouth setidaknya bisa merubah sedikti pola pikir. Jika dibanding produk olahan susu lain. Yogurt Chimory memang kesannya mahal. Tapi kenyataanya, itu bukan dari perusahaannya yang mahal. 
 
"Yang membuat harga susu kami mahal adalah supermarket," ujarnya. Perihal pernyataanya tersebut ia lantas menjelaskan. Dia mengeluh bahwa pihak ritel tidak fair dalam kelola produk titipannya. 
 
Khususnya di Indonesia dimana menurutnya, Cimory tidak bisa diatur di lemari es dengan suhu diatas 4 derajat celcius. Itu membuat produknya cepat rusak dan harus diretur.

"Itu semua harus kamu perhitungkan cost- nya," ujarnya.

Bukan pengusaha sukses namanya jika tidak bisa 'mengakali'. Pria berlatar belakang pendidikan teknologi pangan Universitas Berlin tersebut memilih door- to- door. Yah, Chimory sekarang menafaatkan sistem baru yaitu delivery order -layaknya loper koran saja. 
 
Ada call canter buat kamu untuk memesan produk apa yang ada di perusahaanya. Sistemnya ada berlangganan atau sekali order. Meski begitu marketing cara ini belum dioptimalkan sekali.

Nantinya, ia menjelaskan ada brosur dan iklan- iklan layanan pengiriman. Dengan cara tersebut Bambang bisa menjual seharga pabrikan. Selain sistem menaruhnya di supermarket atau layanan pesan antar, adapula Cimory Shop. 
 
Sebuah toko khusus menjual susu segar, adapula yogurt, sosis dan makanan lain. Cimory Shop sendiri direncanakan selain di Cisarua tapi juga Jakarta. Kawasan Cisarua sendiri dijadikannya pilot proyek agar bisa menyerap 100% susu lokal.

Tidak berhenti disitu saja cara Bambang memasarkan produknya. Dia juga mengadakan program minum susu. Meski terkendala modal dimana jika pasang iklan diatas akan mahal; Bambang tak putus asa, caranya yakni memasang iklan dibawah misalnya melalui acara talk show radio.

Bisnis Angkringan Dikala Corona Prospek Cerah

Profil Pengusaha Rizki Damanik

 

angkringanmedan.png
 
Jaman susah banyak orang mencari prospek cerah. Bisnis angkringan dikala Corona kenapa tidak. Kisah pengusaha milenial, Rizki Damanik, mahasiswa lulusan Ilmu Komunikasi UMSU pada 2019. Dia bersama dua rekannya Ori Rizki dan Ahmad Muhajir.


Ketiganya sepakat bahwa Corona membuat semua susah. Tidak cuma Rizki melainkan semua orang. Anak muda kehilangan pekerjaan atau susah kerja. Kondisi lapangan sulit menguji ketangguhan milenial. Yang ditantang membuat trobosan demi mendapatkan penghasilan.

 

Prospek Cerah Angkringan


"...bisa dibilang milenial ini diuji dan ditantang untuk berani dalam hal bertindak ya," terang Rizki kepada Detik.com.

 

Dirinya tertantang untuk mengajak teman- temannya agar berani. Terutama kita harus berani bisnis angkringan ini. Tentu Rizki memiliki kekhawatiran dalam benak, bahwa usahanya nanti bakal sukses atau tidak.

 

Tetapi dia tetap melanjutkan bersama teman usaha angkringan Titik Nol. Di tahun 2020, Rizki benar- benar merasakan getirnya usaha ditengah pandemi. Sempat dia merasakan ingin menyerah karena takut. "Sedikit agak goyang sih awalnya, bakal ramai atau enggak," terusnya.


Tujuannya membuka usaha ialah tidak sekedar uang. Tidak buat mencari uang sebanyak- banyaknya, melainkan dia membuka usaha membantu banyak orang. Ia ingin membuka lapangan pekerjaan tidak sekedar uang.


Kenapa membuka bisnis angkringan dikala Corona. Dia melihat prospek cerah. Bahwa slogan "Jogja itu Istimewa" benar. Kemudian dia memikirkan apa mencolok di daerah Yogyakarta. Maka ia berhasil menemukan angkirang adalah jawaban.


Tahun 2018 silam, ia memang mau membuka angkirangan, tetapi kesempatan datang tahun depan. Di 2019, dia mengamati memang angkirang punya prospek cerah. Kebetulah dia mendapatkan tugas buat observasi dari organisasi kampus.


Ini usaha angkringan memang tidak pernah mati. "Dari situ, saya terniat sepertinya cocok nih dibawa ke Medan," Rizki menambahkan. Usahanya bulan pertama sama sekali tidak menguntungkan. Barulah dia menghasilkan omzet sampai Rp.10 juta perbulan bersih.

 

Angkringan titik nol bukan sembarangan jualan. Mereka selain membawa suasana Yogya tetapi juga cita rasa. Boleh dibilang Rizki terlambat menjalankan usaha angkringan. Namun dia merupakan orang yang berani membuka dikala pandemi.

 

Maka nama Titik Nol menjadi perwujudan usaha mereka. "Kami membuatnya tidak ketika orang- orang gencar membuat angkringan. Tetapi kami mulai prosesnya dari nol," ucapnya. Minuman khas angkringan Titik Nol adalah Kopi Joss dan Wedang Udhu.

 

Bahan pembuatannya didatangkan langsung dari Yogyakarta. Kopi Joss sendiri merupakan minuman kopi yang dimasukan arang panas. Buat camilannya angkringan Titik Nol menyediakan aneka sate, gorengan, dan bacem yang bisa dibakar.

Juragan Lele Banting Stir Usaha Abon Lele

Profil Pengusaha Sukses Samian

 

juraganlele.png
 

Samian juragan lele banting stir usaha lain. Pasalnya dia dihantam badai Corona sampai bikin abon lele. Dia menjelaskan semua dikarenakan "keterpaksaan". Pembudidaya lele asal Kampung Kamal, Kelurahan Senipah, Kutai Kartenagara, Sumatra Utara.


Dia padahal memulai usaha tahun 2019. Begitu dihantam pandemi kesulitan melanda Samian. Omzet jualan lele mentahnya turun drastis. Semian tak mau tinggal diam menghadapi kenyataan. Dia mengolah lelenya menjadi abon.


Awal mulanya dia menjual ikan sampai ke Balikpapan. Di sana, nanti ada tengkulak, nah dialah yang akan membeli semua. Tetapi tengkulak tidak lagi datang semenjak Corona. Padahal, total 5000 bibit ikan dia budidayakan, hasilkan tak kurang 6 kuintal yang tidak akan laku terjual.


Menurunnya permintaan menjadi sebab faktor utama. Lele dibiarkan hidup dan diberi makan tanpa dijual. Alhasil mereka semakin besar sampai melebihi batas ideal. Menurut penjelasan juragan lele ini, idealnya ikan konsumsi 7- 8 ekor yang beratnya 1 kilogram.


Ikan lele miliknya terlalu berat dimana 1 kilogram total 2- 4 ekor. Ternyata masalah begini bikin lele tidak laku dipasaran walau normal. Kondisi begini membuatnya dan kelompok taninya melakukan suatu inovasi.


Dia menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) Kampung Kamal. Setengah panen akan dijadikan abon. Dibantu ibu- ibu mereka mengolah setengah panen seberat 6 kuintal. Produksinya ramai- ramai ketika awal pandemi Covid 19.


Bahan ikan 2,5 kg diolah menjadi 8 ons abon. Per- 1 ons dikemas kemudian dijual Rp.15 ribuan. Bila dijual ke tengkulat perkg dijual Rp.18 ribu. Walau orang sudah familiar membudidayakan ikan lele jaman sekarang. Menurutnya menyiapkan bibit sulit dimasa 0 sampai 3 bulan sulit.

5 Pengusaha Muda Bertalenta di Bidangnya

Profil Jutawan Muda Dunia

pengusaha muda bertalenta

Pengusaha muda yang memiliki banyak ide serta keberanian. Beberapa memilih menolak uang jutaan dollar, memegang penuh bisnisnya dan menghasilkan lebih dari itu. Mereka adalah pengusaha muda yang fokus dan Forbes telah memperhatikan gerak- gerik mereka ini.

Mereka yang mampu melawan stigma oportunis dan merangkak dari bawah. Orang- orang muda yang penuh talenta dalam bidangnya masing- masing.

1. Pete Cashmore 27 tahun, Mashable

Pete Cashmore mendirikan blog terpopuler berisi berita- berita tantang teknologi menarik. Mashable didirikan ketika Cashmore tinggal di rumah bersama orang tuanya di Aberdeenshire, Skotlandia. Ketika itu ia berusia 19, dan menjadi chief executive hingga sekarang di umur 27 tahun. 
 
Hari-hari ini Cashmore menjalani kehidupan sang maestro media, bekerja membagi waktunya antara Skotlandia, San Francisco, New York dan Los Angeles. Dia menyebut Mashable "sumber utama berita, informasi dan sumber daya untuk generasi yang terhubung."

Ada spekulasi ia akan menjual Mashable di nilai $ 200 juta, tapi dia tetap bertahan. Akun @ Mashable menjadi salah satu akun Twitter paling-diikuti di dunia, dengan lebih dari 3.7 juta pengikut. BusinessWeek menyebut Mashable sebagai salah satu blog yang paling menguntungkan di dunia. 
 
"Bagaimana alat web dan sosial bersih- karya yang mengubah interaksi manusia dan membentuk kembali budaya" mendorongnya membuat Mashable.

Dia mengatakan kepada sebuah stasiun radio Boston: 
 
"Komunikasi Lebih baik ... semakin kita berinteraksi tidak hanya kita menjadi lebih toleran terhadap ide-ide baru dan cara-cara berpikir yang berbeda, kami juga menciptakan lebih banyak ide-ide baru, karena apa ide jika mereka tidak tabrakan antara orang-orang dari latar belakang yang berbeda."

2. Jessica Matthews 25 tahun, Uncharted Play


Jessica Matthews adalah co-founder dari Uncharted Play, sebuah perusahaan dibidang sosial. Perusahaan yang ia bentuk bersama teman sekelas di Harvard. Mereka bekerja mencari energi alternatif dari sekedar menendang bola. Mereka membuat sebuah "energy- harnessing soccer ball". 
 
Mantan President Bill Clinton juga menyebut dialah sang inovator terbaik. Bahkan President Obama senang bermain dengan bola ini. Lebih lanjut, perusahaan menciptakan soket pada bola dengan baterai didalam. 
 
Jadi ketika kita bermain bola tersebut selama 30 menit, energi kinetik akan mengisi baterai. Ini dapat digunakan untuk menciptakan cahaya selama beberapa jam. Penemuan ini akan membantu mereka yang tidak memiliki lampu listrik. 
 
Membantu mereka yang mengandalkan tenaga minyak untuk cahaya. Penemuan selanjutnya akan berbicara tentang tali lompat, skateboard, dan lain- lain.

3. Lucy Baldwin 28 tahun, Goldman Sachs


Wanita 28 tahun yang kini bekerja sebagai menejer direktur di Goldman Sachs, London. Dia disana bertugas sebagai kepala bank investasi untuk jaringan retail Eropa serta kepala tim kualitas konsumen. Nona Baldwin tau betul tentang kurang lebih $3 miliar di bisnis mewah secara global. 
 
Dia pernah bekerja analis merger dan akuisis, namun beralih ke penelitian equitas. Dia melihat bisnis keuangan memiliki banyak kesempatan.

Dia mengatakan dalam konferensi di London pada tahun 2012, dia terkesan dengan seberapa cepat analis muda di bidang ini diizinkan untuk memiliki kontak dengan eksekutif. Mereka dari eksekutif perusahaan yang cenderung tertutup membutuhkan gerakan pintar. 
 
Nona Baldwin berada di barisan depan untuk perempuan dibidang keuangan dan melihat perusahaan dari kebijakannya. Dia melalui Website Gateway, mengatakan jelas: perusahaan keuangan tidak mempromosikan equitas untuk kepentingan diri sendiri - benar- benar membantu yang terbawah. 
 
"Jika anda melihat sekelompok perusahaan yang terdaftar, mereka yang memiliki tenaga kerja yang beragam tampil lebih baik."

4. AJ Forysthe 25 tahun, iCracked


AJ Forsythe, 25 tahun, telah memulai iCracked yaitu memperbaiki - atau membeli - perangkat Apple mobile, termasuk iPhone dan iPad - dan sekarang perusahaan berharap untuk membuat sekitar $ 10 juta dalam penjualan tahun ini.

iCracked memiliki jaringan insinyur (disebut "iTechs") di 11 negara yang dapat dengan cepat memperbaiki ponsel dan perangkat Apple lainnya.

Forsythe mengatakan ia berencana menghadiran iCracked di setiap kota di dunia dalam dua tahun ke depan. "Pikirkan iTechs kita sebagai pribadi, spesialis perbaikan elit yang datang kepada Anda, dimanapun Anda berada di klik tombol," katanya.

5. Amir Taaki 25 tahun, Dark Wallet


Amir Taaki, 25 tahun, adalah Inggris-Iran co-founder Dark Wallet, sebuah layanan yang ingin menjadi "The Anarchist's Bitcoin App Of Choice." Orang-orang di balik Dark Wallet yaitu komunitas yang bergerak di sekitar Bitcoin, mata uang digital, yang mulai terkenal di seluruh dunia

Dark Wallet mengatakan memungkinkan pengguna untuk menghabiskan Bitcoin dan menerima mata uang seperti layanan lain. Yang berbeda dari layanan "dompet" lain, Dark Waller dirancang untuk melindungi status Bitcoin sebagai anonim, mata uang akan sulit dilacak.

"Banyak pengembang Bitcoin menonjol adalah aktif dalam kolusi dengan anggota penegakan hukum dan mencari persetujuan dari legislator pemerintah," kata Dark Wallet di situsnya. Namun layanan ini berbeda dimana orang tetap bisa berteransaksi tanpa "persetujuan khusus".

Kami percaya ini bukan kepentingan diri pengguna Bitocoin atau bukannya melayani kepentingan bisnis untuk si kaya yang membentuk self-titled Yayasan Bitcoin ...

"Kami tidak perlu menjadi perusahaan dikontrol oleh orang gila. Ketidaktaatan adalah satu-satunya cara. "

Kisah Pengusaha Startup Listrik Uncharted Play

Profil Pengusaha Jessica O. Metthews


startuplistrik.png
 
Kisah pengusaha startup listrik Uncharted Play. Taukah kamu, sifat yang perlu dimiliki untuk menjadi pengusaha adalah sifat acuh. Menjadi acuh merupakan berkah bagi Jessica O. Matthews dalam sebuah artikel. 
 
Baginya acuh berarti tak sekedar berpikir tentang diluar kotak, ketika tak tau batasannya. Kita tak pernah tau parameter kota itu sendiri. Apakah yang anda kerjakan benar- benar ide segar. Atau, itu pernah dilakukan orang lain, lalu gagal.

"Itu sangat mudah untuk berpikir di luar kotak ketika anda tidak tahu apa parameter kotak itu apa," katanya.
 

Pengusaha Sosial


Jessica dikenal sebagai seorang CEO sekaligus salah satu pendiri sebuah perusahaan. Nama start- up -nya Uncharted Play, uniknya perusahaan ini hanya punya tujuh pegawai, termasuk dirinya. Sebuah perusahaan berbasis di New York City, yang menjual penemuan bernama Soccket. 
 
Apa itu? Hanya bola sepak yang mampu menghasilkan energi listrik. Itu dihasilkan, disimpan, lalu digunakan oleh satu buah bolam lampu.

Lampu LED yang terpasang pada Soccket mampu menyala tiga jam. Semua pengisian hanya membutuhkan si pengguna menggunakannya bermain. Meski terlihat sepele atau anda akan berpikir buat apa, usahanya ini sangat membantu bagi meraka yang tertinggal. 
 
Khususnya bagi anak- anak di negara tertinggal tanpa listrik. Sejak didirikan Mei 2011, Uncharted Play telah membagikan sekitar 10.000 bola Soccket di Amerika Serikat, Meksiko, dan sebagian Afrika. 
 
Untuk menghasilkan keuntungan, Uncharted Bermitra dengan perusahaan sponsor seperti Western Union dan State Farm, yang membayar untuk mendistribusikan bola sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial mereka. Perusahaan ini menghasilkan sekitar $ 2 juta dalam pendapatan.


Jessica, 26 tahun, memang memiliki kelebihan sejak kecil. Keberanian telah tertanam dalam banaknya. Putri dari dua orang anak pasangan imigran asal Nigeria yang tinggal di sebuah wilayah Poughkeepsie, M.Y. Dia sangat mencolok dimasa remajanya. 
 
Bayangkan saja beberapa pelajaran tambahan untuk science dan untuk olah raga, lari menjadi salah satu pelajaran tambahan. Dia bisa berlari 400 meter dalam 52 detik.

"Saya sangat cepat," ungkapnya bangga. "Orang tua saya selalu mendorong kita dalam segala sesuatu dalam hidup. Filosofi mereka adalah, jika anda ingin berlari secepat anda bisa, anda harus menjadi yang memimpin di jalan."

Setelah kakaknya Tiana, 27, mengundurkan diri untuk Harvard, karena kecelakaan. Di Harvard, di kampus yang sama, Jessica mengambil kuliah psikologi dan ekonomi. 
 
Hingga ada satu waktu para mahasiswa diajak berdiskusi tentang tugas science untuk sesuatu yang artistik dan punya nilai sosial. Inilah yang membuka jalan terciptanya Soccket sekarang.

"Saat itulah saya pertama kali datang dengan ide untuk Soccket, "katanya menganang." Itu hanya fisika SMA, menggunakan senter kocok- nyala dan sebuah roda hamster."

Ia yang baru saja menyelesaikan MBA di Harvard, ketika menjalankan proyek Uncharted Play. Sekarang, prototipenya telah tak terhitung jumlahnya sejak yang pertama. Dia ingin membuat sebuah dorongan besar dengan Soccket di sepak melalui Piala Dunia di Brasil. 
 
Dia berharap menjual bola di sana, yang saat itu dihargai $.99 sekaligus mempromosikan produknya. Ini diharapkan membangkitkan minat organisasi- organisasi non-pemerintah, yang kemudian mempromosikan Soccket baik sebagai perangkat praktis dan alat pengajaran ilmiah. 
 
Penemuan Jessica memiliki potensi, baik untuk membantu anak- anak mengerjakan PR, sekaligus untuk memupuk rasa ingin tahu mereka. Penemuan Soccket membawa energi ke dalam permainan menyenangkan. Membantu anak- anak mengerjakan tugas.

Soccket akan membantu mereka terutama untuk mereka yang ada di negara dunia ketiga, seperti negara- negara Afrika.

Mainan hemat energi


Cerita favorit Jessica tentang Soccket adalah tentang seorang anak Nigeria pemalu yang bukanlah siswa yang baik. Tapi setelah ia mencoba Soccket, beberapa hari kemudian, ia menemukan bagaimana benda itu bekerja. 
 
Dia membuka kulitnya, belajar mengenainya, lalu berpikir tentang menggunakanya untuk mengisi listrik DVD player.

"Pada akhirnya, saya ingin membantu orang menjadi penemu sendiri sehingga mereka tidak merasa mereka telah menemui jalan buntu setelah mereka sudah tak punya ide," kata Jessica, yang menjelaskan bahwa Uncharted Play akhirnya bisa menjadi inkubator bagi pencipta lain. 
 
"Tapi pertama- tama, kami ingin membangun merek ini dan mendapatkan jalan kami di luar sana," ia lanjut.

Perusahaan ini telah menghasilkan sumber energi lain. Mainan kedua dan berpotensi, yang lebih universal dan serbaguna bernama Pulse ($129, jika membeli satu, mensponsori satu, di unchartedplay.org). 
 
Tim tujuh orang, yang mencakup kakak Jessica, yang ketika artikel ini dimuat di usatoday.com, tengah membuat Pulse (tali lompat elektrik) di rumahnya. Ia menggunakan serangkaian printer tiga dimensi bertengger di meja.

"Anda dapat melakukan perjalanan dengan mudah dengan Pulse, dan setelah 15 menit melakukan lompat tali, yang baik untuk anda, itu akan memberikan enam jam cahaya LED atau mengisi baterai iPhone50%," katanya. 
 
"Di banyak (negara-negara berkembang), sering hanya anak laki- laki yang diperbolehkan untuk bermain sepak bola. Jadi ini adalah sesuatu yang anak perempuan bisa menggunakan."

Jessica mengatakan Uncharted Play tengah mengarahkan pandanganya ke skateboard pembangkit listrik dan bola basket sebelum "menangani isu-isu sosial lainnya segera, seperti makanan dan air."

Semua apa yang dihasilakan Jessica bukanlah kejutan bagi ibunya.

"Ketika Jessica masih TK, dia mengatakan kepada gurunya dia ingin tumbuh untuk membantu orang," kata Florence Matthews, yang membantu suaminya, Idoni, menjalankan bisnis perangkat lunak milik keluarga, Decision Technologies International.

"Dia memiliki begitu banyak ide, ketika ia membahas ide- ide itu dengan saya, saya langsung sakit kepala,"

Matthews mengatakan dia tak terkejut bahwa ide besar pertama putrinya ialah Soccket, mengingat bahwa keluarganya sering berkunjung ke desa kecil di Nigeria dimana selalu ada bau busuk lampu minyak tanah. Tidak ada listrik di sana. 
 
"Untuk melihatnya membantu orang-orang yang membuat saya sangat bahagia," katanya lagi.

Tapi Jessica tak lengah akan pujian. Jika tidak, ide- ide besar di luar sana tidak akan menjadi miliknya, dia menegaskan.

"Masalah terbesar yang kita miliki di dunia adalah masalah pasokan akan ide," kata Jessica. Dan kisah pengusaha startup listik ini memberi pandangan kita.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba