Tampilkan postingan dengan label Marketing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marketing. Tampilkan semua postingan

Pengusaha Aghnia Nabila Berbisnis Risoles Dimana Saja

Profil  Pengusaha Aghnia Nabila 

 
bisnis aghnia nabila pertama kali
 
Pengusaha Aghnia Nabila,  gadis cantik yang sukses berkat bisnis sederhana. Bahkan kamu juga bisa menirunya nanti di rumah. Apa sih bisnisnya? Siapa kah dia, dialah Agnian Nabila, meski berstatus mahasiswi semester enam di Fakultas Hukum Universiats Padjajaran, dia tak berhenti berusaha.
 
 Meski ia tercatat aktif mengikuti kegiatan senat di kampunsnya. Nabila memang tercatat aktif di BEM sebagai kader pengembangan sumber daya manusia.

Dia tercatat memenangkan Young Caring Professional Award berkat kewirausahaannya. Usia muda tak menghalangi bisnisnya. Gadis kelahiran Bandung, 5 Desember 1991 ini, memulai dari sekedar apa hobinya. Yaitu membuat makanan menjadi hobi sekaligus bisnisnya. 

Rahasia Bisnis Bob Sadino Secuil Tentang Kerja Keras

Artikel Bisnis Bob Sadino

 
 
Apa rahasia bisnis Bob Sadino hingga mencapai kesuksesan. Secuil tentang kerja keras yang dimulai dari usaha kecil= kecilan. 
 
Bisnis bisa merangkak, menikmati semuanya dari awal hingga akhir. Dua hal yang menjadi kendala ketika kita akan memulai usaha: modal. Adanya passion dalam setiap usahanya. Passion untuk tetap berusaha.

Bob Sadino mengawali usaha dari kecil- kecilan. Ketika masih muda dia memulai dengan menjual kue dan menjajakan kue itu berkeliling. Dimana dia tidak membuat kue itu sendiri. Kalau kamu bisa membuat kue apa salahnya mencoba. 
 
Awalnya, dia menjual kue produksi buatan tetangganya. Dia tak menghasilkan produknya sendiri. Kamu, kita pun bisa memulai dari hal sekecil ini.

Toko Online Sepatu Wanita Mimpi Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Resty Lestari


kisah pengusaha muda pemilik real inc
 
Mimpi pengusaha muda ini ingin memiliki brand sendiri. Sebuah toko online sepatu wanita yang menjual produk bikinan sendiri. Resty Lestari sudah memulai usahanya sejak 2009 silam. Dimana dia mulai dari menjual produk ke teman- temannya sendiri di Kampus.

Prospek bisnis fashion tumbuh berkat sosmed. Munculnya influencer fashion menambah prospek. Tak ayal usaha Resty berkembang pesat mengikuti arus. Brand bernama Real Inc mampu bertahan, bahkan berkembang berkat tumbuhnya sosmed, yang sangat diperhitungkan.

Bayangkan sebulan dia mampu mengantongi omzet ratusan juta. Pasalnya bagi wanita satu pasang sepatu saja tidak cukup. Sekali posting bisa menempel aneka produk, tidak terkecuali sepatu yang kemudian ditarget brand Real Inc.

Mimpi Toko Online Sepatu Wanita


Bagi seorang fashionista keseharian merupakan pilihan. Tidak boleh monoton dari ujung kepalanya hingga ujung kuku. Dari bisnis hijab sampai sepatu Resty berjalan maju. Berapa banyak sepatu yang dimiliki seorang fashionista.

Kemudian berapa banyak pasang sepatu seorang influencer. Pastilah mereka membutuhkan lebih dari satu sepatu. Untuk OOTD artinya Outfit of The Day, maka brand Real Inc menawarkan produk lokal, kelebihan perusahaan milik Resty adalah dibuat berdasarkan pesanan.

"Pertama kali saya memasarkan jasa ini kepada teman- teman kampus saya melalui buku katalog yang dibagikan," kenang Resty.

Mahasiswi sebuah Universitas Swasta di Jakarta, yang menawarkan layanan jasa pembuatan sepatu dengan custom. Ada berbagai model jadi jangalah khawatir buat pembeli. Karena custom maka toko online sepatu wanita ini memberikan bermacam ukuran sepatu.

Sejak 2012 dia mulai menyiarkan produknya melalui BBM. Dari broadcast BBM lah toko online sepatu wanita miliknya berkembang. Awal dia menjajakan ke para teman, keluarga, dan siapapun yang terdekat.

Pesan berantai ini kemudian menjadi viral dan menyebar pesat. Darisana Resty kebanjiran orderan untuk custom sepatu. Mampu menggaet lebih banyak pelanggan online dari sini. Ketika sosmed mulai ramai kembali, dengan munculnya Twitter maka Resty punya ide membuat brand sendiri.

Inilah awal mula Real Inc "Saya beri nama (brand sendiri) dan nama Real Inc lah yang saya pilih," ia menambahkan. Pengusaha muda ini memasarkan melalui Twitter produk miliknya. Modal toko online sepatu wanita miliknya hanyalah Rp.3 juta saja.

Apakah modal segitu besar, ternyata hasilnya berpuluh kali lipat dibanding harapan. Dia mampu mengantungi Rp.70 juta dari transaksi. Omzet perbulan Real Inch semakin menunjukan perbaikan. Rata- rata mengantungi omzet Rp.20- 30 jutaan, dan naik tajam ketika Ramadhan atau tahun baru.

Omzetnya mencapai Rp.60- 70 jutaan dari penjualan sepatu. Menurut Resty masalah utama bisnis ini ialah proses pembuatan. Ya karena dibuat custom dan handmade, dibutuhkan waktu tertentu hingga satu produk jadi.

Sekitar 12 pengrajin membantu Resty menjalankan Real Inc. Ia tinggal mengontrol, dan menganalisa kepuasan konsumen. Hasilnya bagus karena kualitas selalu terkontrol olehnya. Pembuatan sepatu itu mulai dari pola, pengaplikasian bahan baku, jahit, pengeleman, mecentak dan penyelesaian.

Proses dilakukan dengan baik tanpa mengeluh. Pengusaha muda ini juga menyediakan produk yang sudah siap pakai. Siap kirim dan siap pakai oleh konsumen tanpa menunggu dulu. Meskipun sudah dikenal dia mengakui masih banyak perlu dikembangkan ke depan.

Pemasaran sekarang melalui Twitter dan Instagram. Ia juga membuat webstore atau toko onlinenya sendiri. Kedepan dia ingin membangun toko offline, dimana orang dapat mencoba dan membeli itu langsung tanpa lewat koneksi.

Wanita Berbisnis Tas Motif Aceh Menembus Pasar Ekspor

Profil Pengusaha Nailatul Amal


tas aceh ekspor ke luar negeri
  
Wanita ini berbisnis tas motif Aceh menembus pasar ekspor. Dulu Nailatul Amal hanya memproduksi sedikit. Bisnis tas memang tidak mudah apalagi banyak pemain. Ia ingat betul bagaiman sukarnya, menawarkan tas produksinya kepada masyarakat.

Meskipun sukar tidak menyurutkan warga Desa Rayeuk, Kec. Nisam, Aceh Utara ini. Sekarang tidak hanya dipasarkan di Aceh, tetapi Sumatera, Jawa, dan luar negeri. Nailatul mengeskpor ke Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura.
 

Berbisnis Tas


Ke depan bahkan menyasar ke Norwegia, Spanyol, dan Denmark. Awal mula, tahun 2006, Nailatul sudah mulai  berbisnis namun tidak mudah. Pasang surut dia menjalankan bisnis tas motif Aceh, dia sama sekali tidak takut menghadapi persaingan produk yang sama.

"Saat itu saya hanya membuat manik- manik untuk jilbab yang biasa dipakai dan disukai konsumen," kenang pengusaha ini, yang tetap bekerja sambil berwirausaha.

Wirausaha tas merupakan satu bentuk passion baginya. Tidak mudah tetapi dia bertekad menjalankan, apapun resikonya sambil tetap bekerja.Tahun 2009 produknya mulai dilirik banyak pembeli. Waktu itu dia mengirim ke Medan, Sumatra Utara.

Bisnis tanpa nama tempat produksi tas milik Nailatul. Kini, nama Syirkatunnisa menjadi produk khas ekspor, ia memulai memproduksi dari sudut rumahnya. Dari mengerjakan semua sendiri, pengusaha wanita ini mampu mempekerjakan sekitar 30 orang pegawai, memproduksi ratusan tas untuk dijual.

Ia juga pernah merasakan rugi sebelum laku. Nailatul ingat bagaimana tidak lakunya tasnya ini. Mungkin karena tas motif Aceh masih awam. Dibanding tas- tas bermotif batik yang sudah di pasaran. Namun, kini, dia berbangga hati karena tas nya sampai ke Amerika Serikat.

Pasar menyukai tas etnik bermotif khas Aceh tersebut. Perusahaan kecil miliknya memproduksi tidak kurang 3000 buah. Pasarnya dijual baik di dalam negeri maupun luar negeri. Untuk sekarang ini dia menambahkan justru pesanan terbanyak datang dari Amerik Serikat.

Pasar Amerika meminati produk tas besar dan dompet. Amerika memberikan prospek besar baginya sekarang. "Alhamdulillah, permintaan besar. Bu Iriana Jokowi juga pernah beli tas dan kain di sini tahun lalu," bangga pengusaha ini kepada pewarta Detik.com.

Disini di rumah tanpa plang nama mempekerjaka ibu rumah tangga. Produksi bukan sekala dalam negeri, tetapi sudah pangsa pasar ekspor. Omzet perbulan menyentuh Rp.250 juta sampai Rp.400 juta. Paling ramai kalau masuk tahun baru, natal, valentin, dan paskah.

Wanita yang akrab dipanggil Mi Cut ini, menjelaskan apa itu motif Aceh. Menurutnya tas ini berbasis bahan bordir. Motifnya khas mengandung perpaduan Arab dan India. Produknya bermacam- macam tas dari kecil sampai besar, dari tas keong sampai koper, diproduksi oleh Mi Cut.

Dia memafasilitasi masyarakat lokal. Harganya dari 10 ribu sampai 350 ribuan dinamis. Ia berharap pihak pemerintah memperhatikan UKM seperti dirinya. Karena kita tau UKM memberikan dampak yang besar. UKM mengurangi pengangguran dan mengurangi kriminalitas di jalanan Aceh.

Suksesnya Mi Cut ternyata memili cerita lain. Soal marketing dia menambahkan tidak spesifik dalam promosi. Intinya mengutamakan kualitas desain dan pelayanan. Mengikuti acara pameran menjadi satu cara dia menjalankan bisnisnya, itupun tidak memaksa harus menjual banyak.

Baginya produk dapat tampil menarik perhatian orang. Lewat pameran internasional akan membuka celah ekspor. Disamping itu menjalankan perbaikan- perbaikan lagi. Sambil nanti akan menyiapkan kapasitas produk.

Pacaran Sambil Usaha Jualan Kerupuk Rajungan Crabby

Biografi Pengusaha Hella Ayu Setyaninda


usaha kerupuk rajungan
  
Inovasi bisnis harus dilakukan pengusaha muda kita. Pacaran sambil usaha jualan kerupuk rajungan. Nyatanya Hella dan Dani mampu membuktikan. Bahwa pacaran tidak selamanya merusak hidup kita di masa depan. Jalani gaya pacaran kamu dengan kegiatan lebih baik seperti usaha jualan kerupuk.

Pacaran sambil usaha jualan kerupuk. Kedua sejoli asal Semarang ini sudah dilakukan sejak SMA. Sejak 24 Agustus 2014 silam, sudah bertahun- tahun merintis usaha tetapi belum menemukan titik suksesnya. Apakah keduanya menyerah, justru mereka menikmati setiap usaha dijalankan.

Ide bisnis usaha jualan kerupuk rajungan karena kesempatan. Bahwa Semarang termasuk daerah yang menghasilkan rajungan. Sebagian besar tidak diolah melainkan di ekspor langsung.

Pengusaha Muda Sejak SMA

Keduanya berpacaran sejak SMA sudah berwirausaha. Kedua pengusaha muda ini mengambil para rajungan kecil. Pasalnya mereka tidak layak ekspor dan dibuang nelayan. Mereka juga mengingat seorang importir asal Amerika pernah berkata, "jangan cuma mengirim rajungan mentah saja, tapi perlu diolah juga."

Kerupuk mereka komposisinya tidak cuma daging, juga cangkang. Diolah sedemikian rupa hingga menjadi kerupuk. Sumber rajungan dari nelayan asal Mangkang Wetan, Semarang. Daging dan kulit mampu mereka olah hingga menjadi kerupuk.

Mendapatkan bahan baku termasuk gampang. Cara marketing mereka memanfaatkan sistem reseller. Mereka menarget ibu rumah tangga yang butuh tambahan. Kerupuk rajungan mereka hingga kini sudah berproduksi hingga lebih dari 200- 300 kg per- bulan.

Untuk awal mereka hanya beromzet 10 juta keatas. Tetapi belum beromzet sampai 50 juta. Produknya ada dua macam mentah dan matang. Ukuran produk mentah 250 gram, 500 gram, dan 1000 gram. Lalu produk kerupuk rajungan matang antara 80 gram sampai 100 gram.

Mereka menggunakan pasir untuk menggoreng. Tujuannya mengurangi koleterol pada kepiting.Di tahun 2016 jumlah reseller mencapai 100 orang. Mereka ingin mencoba ekspor tetapi ada kendala produksi. Kan kalau ekspor membutuhkan ribuan kilogram untuk diekspor ke luar negeri.

Kerupuk yang kemudian diberi nama Crabby dipasarkan ke berbagai daerah. Mereka menjual dari Jawa, Sumatra, dan Papua. Untuk reseller kabanyakan dari Jawa Tengah. Pasangan pengusaha muda ini mengikuti berbagai ajang wirausaha muda, seperti Wirausaha Muda Mandiri.

Merintis Wirausaha Jualan Kerupuk Rajungan

Lantas bagaimana wirausaha muda ini melanjutkan usahanya. Proses dilalui Hella Ayu Setyaninda memang tidak menghianati hasil. Gadis 21 tahun asal Kendal yang yakin bahwa kunci sukses satu usaha ialah keuangan. Kesehatan keuangan akan mendorong perusahaan berkembang dan bertahan.

Hella hanyalah gadis kelahiran Kaliwungu, Kendal, 10 April 1994 ini. Adalah mahasiswa Semester 7 Universitas PGRI Semarang. Yang mana peduli akan keadaan lingkungan kawasan Mangkang. Dia bersama beberapa teman bermodal cuma Rp.5 jutaan saja.

Sebenernya dia sudah berbisnis kerupuk rajungan sejak lama. Awalnya keprihatian orang tua teman yang membuang rajungan kecil. Ia lantas memutar otak bagaimana caranya ya. Dia tidak mau tinggal diam. Akhirnya Hella memutuskan menjadikan itu kerupuk rajungan saja.

Awalnya kerupuk dibuat terlalu tebal potongannya. Akhirnya dia mengkonsumsi sendiri deh kerupuk tersebut. "Tapi saya terus penasaran, karena kerupuk rajungan masih langka," tuturnya. Sulung dari tiga bersaudara ini kemudian melanjutkan usaha jualan kerupuk rajungan.

Butuh waktu hingga dia mencapai titik sukses sekarang. Banyak pengembangan Hella lakukan agar sesuai trend. Butuh waktu sampai masyarakat sadar bahwa ini bukan kerupuk biasa. Harga jual dari kerupuk rajungan memang diatas rata- rata.

Agak mahal jadi membutuhkan waktu memasarkan. Ukuran 100 gram saja dijual lumayan mahal yakni Rp.55 ribuan. Usahanya dijalankan di kawasan Mangkang, Semarang. Perbulan Hella mampu memproduksi 100 kantung dan terjual habis.

Respon konsumen bagus dijual sampai Batam, Bali, dan Kalimantan. Dia termasuk wirausaha yang super mandiri. Pasalnya Hella tetap bertahan tanpa meminjam ke Bank. Sebenarnya sudah banyak Bank yang datang menawari. Melihat perkembangan bisnsi kerupuk Crabby, ia optimis mampu tanpa hutang.

"Saya sejak awal enggan berhutang ke Bank, meski banyak yang menawari," ujar Hella.

Kemampuan menjaga kesehatan keuangan dibutuhkan. Memutar uang menjadi modal kembali tanpa menghentikan pertumbuhan. Ia mengatakan bahwa "Tidak apa- apa jika harus ngirit dulu, saya yakin hasilnya segera menyusul."

Dari gaji pegawai, pengadaan, dan biaya oprasional dibuat sedemikian rupa. Yang dinilai bukanlah keuntungan dan modal, tetapi kemampuan mengoprasikan keuangan. "Sebagai pengusaha pemula saya bisa mengurus keuangan tanpa masalah."

Pendiri Mayora Biskuit Kelapa Jodi Hendra Atmadja

Biografi Pengusaha Jodi Hendra Atmadja


biografi jodi hendra atmadja
 
Siapa pendiri Mayora biskuit kelapa, adalah Jodi Hendra Atmadja. Tidak banyak soal biografi Jodi Hendra Atmadja bisa disampaikan. Tetapi dia merupakan toko kunci ekspansi bisnis Mayora hingga sukses besar. Bayangkan ide pendiri Mayora biskuit kelapa itu sederhana loh teman- teman.

Beruntung persaingan makanan ringan belum ketat. Ia mempunyai ide membuat aneka makanan ringan kemasan. Nah, jadilah aneka makanan salah satunya biskuit kelapa, waktu itu mereka mampu bersaingan dengan roti Khong Guan yang tengah naik daun.
 

Kisah Pendiri Mayora


Kelahiran 1946, Jogi terlahir dari keluarga sederhana dan berwirausaha. Layaknya keturunan Tiong Hoa lainnya. Ingin membangun usaha sendiri mandiri. Padahal dia tercatat sebagai lulusan Dokter dari Universitas Trisakti. Bukannya menjadi Dokter malahan menjadi wirausaha, apakah berhasil.

Dia mengajak dua rekannya sesama profesional: Mereka Drs. Raden Soedigdo dan Ir. Darmawan Kurnia, yang sama- sama bukan pengusaha. Jadilah berdiri PT. Mayora Indah, pada 17 Februari 1977 di Jakarta. Andalan mereka aneka produk makanan ringan kemasan yang dijual masal.

Mayora terus berkembang susai harapan Jodi Hendra. Dalam biografi Jodi Hendra Atmadja, ialah menjadi sosok penting ekspansi bisnis Mayora. Nama- nama perusahaan seperti PT. Torabika Eka Semestas dan PT. Hiebe Schokolade Mas Gemilang, yang makin berkembang bersinar terang.

Tangan dingin pengusaha Jodi menaikan pamor biskuit. Dulu dikenal nama kue Khong Guan begitu primadona. Istilahnya makanan orang kaya, lalu munculah kue kelapa yang rasanya unik. Dengan bahan baku berbeda dan sama- sama enak; keduanya bersaing ketat menjadi produk nomor satu.

Sukses Jodi menghantarkan Mayora makin ekspansif. Salah satunya mengeluarkan produk bernama Kopiko. Ya permen berbahan dasar kopi ini menjadi pertama. Akhirnya tahun 80 -an, menjadi produk permen yang merajai pasar karena tanpa perasaingan.

Sejak awal berdirinya sudah memilih Jodi dipucuk. Hasilnya itu biskuit kelapa booming pada tahun 1970 -an. Pertama kali didirikan pada 1977, Mayora sudah menguasai 40 persen pangsa pasar untuk makanan ringan. Mereka kemudian merambah ke 90 negara dan meraup omzet Rp.17 T pada tahun 2017.

Tak ayal harta kekayaan Jodi melejit mengangkat namanya. Untuk menjadi pengusaha janganlah berpuas. Kesuksesan produk harus diikuti oleh inovasi berkelanjutan. Contohnya merambah bisnis di bidang minuman kemasan, yakni teh kemasan walaupun dikuasai Group Sosro.

Jogi juga merambah ke bisnis air putih kemasan. Yakni melalui PT. Tirta Freshindo Jaya, yang lagi- lagi tidak takut berhadapan dengan pemimpin pasaran. Intuisi dari Jodi ditambah kemampuan untuk mengambil keputusan.

Kekayaanya tercatat diantara Rp.33 T dan posisinya antara nomor 10 dari daftar Forbes. Untuk hal regenerasi maka dia sudah menyiapkan ketiga putranya, yakni Andre Sukendra Atmadja, Hendarta Atmadja dan Wardhana Atmadja, yang jadi Direksi di Mayora sendiri.

Berani mengambil resiko Teh Pucuk Harum jor- joran. Untuk iklan hampir setiap hari melihatnya di tayangan televisi. Riset Nielsen mengatakan per- 2011- 2012, Teh Pucuk Harum sudah mengluarkan biaya iklan sampai 226,39 miliar.

Untuk air mineral brandnya apalagi kalau bukan Le Mineral. Produksinya melalui lima pabrikan dari Makassar, Medan, Pasuruan, Ciawi dan Sukabumi. Di 2016, dua pabrik dibangun di Palembang serta Cianjur, Jodi sama sekali tidak takut berhadapan langsung dengan penguasa pasar Aqua langsung.

Pemilik Usaha Waroeng Steak Pengusaha

Biografi Pengusaha Jody Brotosuseno

 
jodysteak.png
 
Dialah pengusaha dibalik usaha Waroeng Steak. Biografi Jody Brotosuseno, pemilik usaha yang berani mengorbankan tenaga dan pikiran. Otaknya dituntut harus membuat terobosan baru. Wirausahawan dituntut memiliki ide- ide segar,  tak cuma berpatok apa yang tersedia di bumi Indonesia.
 
 Menjadi pengusaha dibidang kuliner butuh pembeda. Perlu identitas kuat untuk membedakan kamu dengan binsnis kuliner lain. Jika menjadi pengusaha bakso sudah umum ada disekitar, maka bagaimana jika jadi pengusaha steak. 
 
Tak perlu memanggil chef asing. Kamu cukup belajar keras untuk membuat menu itu menjadi nyata. Ini kisah pasangan Jody Brotosuseno dan Siti Hariyani. Kisah jatuh bangun membangun berbagai usaha sudah dilakoninya.
 

Pengorbanan Pengusaha

 
Peluang aneka kuliner sudah mereka coba, dari roti bakar, berjualan susu, sampai bisnis kaos partai, yang cuma musiman. Semua usaha mereka jalani tapi tak bertahan lama. Belum ketemu chemistry -nya kalo kata orang. 
 
Nah, karena wirausaha sudah mendarah daging, keduanya lantas memulai bisnis kembali. Awal kesuksesan bisnisnya baru di tahun 2000, Jody dan Anik cuma membuka usaha warungan. Bukan lah juga warung biasa keduanya membuka warung steak. 
 
Ya, makan ala barat itu mampu diolahnya jadi usaha di warung makan. Hasilnya, mengejutkan, usaha yang mengawali semuanya di teras rumah. Keduanya sepakat membuka usaha warung steak pertama di Jalan Cendrawasih 30 Demangan Yogyakarta.

Mereka mencoba sesuatu cuma bermodal jiwa entrepreneurship. Waroeng Steak n Shake, atau terkenalnya bernama WS, hanya dibangun di pekarangan rumahnya. Idenya jika steak makanan barat itu cuma untuk orang tertentu, WS mencoba menghadirkannya. 
 
Tak kan lagi jadi makanan mahal khas hotel karena WS mencoba membuat sedemikian mungkin. Jody dan Anik, keduanya telah membuat satu gebarakan baru.

Mereka mencoba menawarkan steak dan shake di warung pinggir jalan. Tak ada kesan mewak ketika kita menyambangi pusat atau cabangnya. Semua cuma bermodal 5 hotplate, 5 buah meja makan, dan sebuah ruang berdaya tampung 20 orang, kini usahanya tumbuh pesat. 
 
Usut- punya usut ternyata sosok Jodi sendiri bukanlah orang susah seperti kita akan bayangkan. Ayah Jodi, Sugondo dikenal pemilik jaringan restoran Obonk Steak dan Ribs.
 
Berlatar belakang pengusaha sukses, kaya, tak membuatnya jadi anak orang kaya manja. Justru dia sangat pekerja keras. Dia pernah berkuliah Arsitektur, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, tapi berhenti ditengah jalan. Jadilah ia hanya berijasah SMA saja. 
 
Karena tak melanjutkan pendidikan Jodi harus putar otak untuk bekerja. Sayangnya, tak mudah bekerja dengan ijasah SMA saja. Mau- tak mau dia akhirnya memilih untuk bekerja di restoran ayahnya.

Ketika itu ia cuma bekerja menjadi pegawai biasa. Gajinya tak sanggup memenuhi kebutuhan, apalagi setelah ia memutuskan untuk menikah dengan Siti Hariani atau Aniek pada 1998. Gajinya itu dirasa tak lagi cukup. Jodi pun tak merengek meminta jabatan. 
 
Justru ia makin getol berusaha sendiri. Pertama kali usaha, ia mulai dengan berjualan aneka makanan sambil bekerja di Obonk. Awalnya ia berjualan susu segar, roti bakar, dan jus buah. Namun semua usahanya itu sia- sia ketika perlatannya banyak dicuri orang. 
 
Jodi lantas berjualan kaos partai, dimana saat itu partai membengkak dari tiga jadi 48 partai. Alhasil menjual kaos partai jadi prospek bisnis yang menguntungkan saat itu. Hasil penjualannya, akhirnya, ia bisa mengontrak rumah sendiri di kawasan Demangan, Yogyakarta.
 
Selepas pemilu, Jodi dan Anik memutar otak kembali, apalagi dengan kehadiran putra pertama mereka, Yuda Adiaksa. Akhirnya pasangan pengusaha ini memilih berbisnis steak. Tapi tak mau mencontoh bisnis milik ayahnya. Jodi memilih usaha steak warungan. 
 

Usaha Waroeng Steak

 
Usaha pertamanya dibuka di teras rumah karena tak punya modal menyewa tempat. Jodi memilih kata "waroeng" agar menegaskan apa yang dijualnya tidak mahal. Namun usaha baru itu terbentur modal dimana Jodi dan Aniek cuma punya 100.000 dikantong. 
 
Akhirnya ia menjual motor satu- satunya untuk modal. Dalam biografi Jody Brotosuseno dikatakan bahwa mereka kerjakan semua sendiri. Pertama- tama Jodi mengerjakan dapur dan melayani pembeli, sang istri bekerja sebagai kasir. 
 
Warungnya itu tak langsung sukses. Pernah dalam sehari mereka cuma menjual 30.000. Pembeli masih sepi karena memang konsep bisnisnya sangatlah baru. Siapa yang berpikir bahwa steak itu murah waktu itu. 
 
Beberapa pembeli pun ikut memberi saran agar warungnya lebih ramai. Sarannya, ia lantas membuat spanduk besar berwarna mencolok di depan warung steak -nya. Di spanduk itu dituliskan harga steak yang murah itu. Ia juga mempromosikan melalui selebaran. 
 
Dari semua usaha promosi itulah, warung milik Jodi mulai ramai, utamanya mereka dari kalangan mahasiswa dan pelajar. "Malah kami mulai kewalahan," ungkapnya. Meski sudah ramai, nyatanya, Jodi cuma punya 10 hotplate di meja. 
 
Jadilah orang- orang sampai harus mengantri untuk dilayani di mejanya. Untuk mengatasi hal itu Jodi pun mengambil hotplate dari meja. Prinsipnya habis pakai, cuci, langsung bisa digunakan lagi untuk pelanggan lain. Pelan tapi pasti Waroeng Steak mulai menambah peralatan. 
 
Ia juga merekrut pegawai untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Setahun ia telah berbisnis di Demangan, ia lantas membuka cabang. Gerai kedua tak begitu sulit dimulai. Kerabatnya mau untuk ikut menanamkan modal. Dengan konsep bagi hasil jalanlah gerai keduanya.

Pola yang sama digunakan hingga ke 8 gerai tercatat dibuka. Selanjutnya Jodi bisa mendanai sendiri gerai ke 9 dan seterusnya.
 
"Asal bisa menyesuaikan inovasi dengan kebutuhan pasar, bisa berkembang terus. Masukan pelanggan selalu kami perhatikan," tuturnya.

Masukan menjadi ciri khas WS untuk berkembang hingga sekarang. Jodi selalu bertanya apa keinginan dari mereka para pelanggan. Menu- menu baru pun disuguhkan menyesuaikan permintaan. Meski warungnya itu mengusung menu steak dan shake, Jodi masih menyediakan menu nasi. 
 
Jika biasanya kamu ketemu steak dan kentang tidak khusus untuk Waroeng Steak. Saat usahanya makin berkembang ia pun yakin memilih untuk konsentrasi dibisnisnya. Sejak 2002, ia terus fokus menambah jumlah gerai di seluruh penjuru Indonesia. 
 
Total ada 50 gerai telah ia buka di sejumlah kota. Jodi pun membuka gerai aneka makanan berbendera Festival Kuliner.  Konsep ini ia sebut sebagai konsep dimana tidak hanya ada WS, ada pula Waroeng Penyetan dan Bebaqaran serta ada delapan gerai waralaba lain. 
 
Untuk ekspansi lain, diluar bisnis kuliner, Jodi memilih membuka arena futsal. Sukses Waroeng Steak menariknya tak menerapkan konsep waralaba. Ya, tak ada waralaba Waroeng Steak, namun untuk pangsa luar negeri, Jodi memilih mewaralabakan miliknya.  
 
Wajarlah jika ia sanggup membangun bisnisnya sendiri.  Untuk satu gerai, di wilayah Yogyakarta contohnya, ia mengantongi 500 juta. Jumlah cabangnya jadi 30 gerai yang tersebar di Jakarta, Medan, Bogor, Bandung, Semarang, Malang, Solo, Palembang, Yogya, Bali dan terakhir ada di Pekanbaru. 
 
Omzetnya ya, bisa kita bayangkan, bisa mencapai miliaran rupiah. Melalui mottonya "bukan steak biasa" berfokus pada menempatkan makanan mahal jadi milik siapa saja. Di konsep ini kamu bisa membuat kuliner eklusip jadi umum. 
 
Contoh lain yaitu gerai makanan susi yang juga mulai diwaralabakan. Tak semua bisnis harus diwaralabakan juga bisa kita ambil hikmahnya dari kisah ini. Tapi menggunakan konsep waralaba kamu bisa lebih cepat. 
 
Dia hanya memanfaatkan konsep warlaba dari bisnis barunya Waroeng Penyetan dan Bebaqaran. Ini konsep bisnis bagus jika kami rasa.

Wirausaha Mandiri Bisnis Bed Cover Persahabatan

Profil Pengusaha Dinar Esfandiari Santoso


wirausaha bed cover

Menjalankan wirausaha mandiri tidak harus sendiri. Contoh bisnis bed cover dijalankan ketiga sahabat ini. Menjadi pengusaha bersahabat apakah tidak susah. Tidak selamanya kamu berjuang sendiri mencari uang. Berikut kisah wirausaha bisnis bed cover bertema persahabatan.

Mereka tiga bersehabat, adalah Dinar Esfandiari Santoso (38), Ira Karmawan (39), dan Rani Seogeng (38), berkolaborasi menjadi pengusaha bisnis mandiri. Sejak lama ketiganya melihat bagaimana pasar bedding (tempat tidur) berkembang.
 

Wirausaha Bed Cover


Kenapa bisnis bed cover selalu dikuasai pemain besar. Tidak tanggung- tanggung, banyak pengusaha asing yang ikutan masuk di bisnis bed cover. Bersama mereka membangun bisnis bed cover sendiri dari nol.

Meskipun persaingan ketat mereka merasa punya jalan. Tujuan mereka menjadi pemain lokal yang unggul. Ide mereka sederhana namun tidak sesederhana itu. Terutama fakta ketiga wanita cantik ini berhadapan pemain lama

Keberanian saja tidak cukup jika mau menjadi pengusaha. Mereka kesulitan menemukan pegawai yang tepat. Ketika mereka menemukan produk berkualitas. Nyatanya pengalaman dibutuhkan lebih dari harapan.

"Kami harus berburu SDM yang memiliki keterampilan menjahit dan mengaplikasikan bordir sesuai standar kaulitas yang telah kami tetapkan," ungkap Dinar. 

Mereka menggunakan bahan polos, lalu memberikan gambar- gambar lucu. Produk mereka memang berawal dari ide sederhana. Namun belum digarap serius oleh pemain besar bed cover. Untuk modal mereka mengumpulkan uang pribadi bukan meminjam bank.

Alasannya bank memberikan bunga lumayan tinggi. Apalagi merintis bisnis memiliki resiko yang tidak kecil. Semakin besar modal dikeluarkan maka semakin beresiko. Bayangkan jika mereka mau meminjam uang, terus gampang mengeluarkan uang, bisnis mereka tidak jadi bisa bermasalah.

Tips wirausaha dari Dinar tentang modal bisnis. Semakin banyak kita memegang uang, maka akan semakin mudah mengeluarkan uang. Pengeluaran uang tidak penting akan menambah resiko bunga. Pokoknya mereka harus membangun bisnis terlebih dahulu.

Dari konsep sampai manajeman harus kuat untuk mandiri. Agara mereka mampu mengembalikan uang pinjaman bank. Beruntung salah satu dari mereka mendapatkan suntikan dana. Dari keluarga salah satunya, mereka mendapat pinjaman tanpa bunga alias dibayar mencicil.

Tidak memiliki latar belakang berwirausaha. Mereka mencari celah dibalik produk mereka. Beberapa kali mereka mengikuti nazan yang diadakan asosiasi di Jakarta. Melalui asosiasi asing tersebut bukan hanya pembeli mereka datang, tetapi mereka menambah koneksi dengan pengusaha lain.

Disitulah bisnis Simply Idea, nama usaha dijalankan mereka, mulai mengikuti bazar mingguan yang diadakan oleh sebuah mal. Mereka beresiko mencari cara memperluas pasar. Coba- coba, mulai untuk mencari departement store diajak kerja sama.

Kebetulan produk bedding seperti mereka buat belum ada. Mereka tertarik akan konsep desain, tapi ada syaratnya berupa revisi. Dalam sebulan mereka harus merevisi sebelum jualan. Setelah itu baru bisa dipasarkan di sana.

"Misalnya soal packaging dan cara mencuci," ingat Dinar.

Ketika mulai masuk ke department store ternyata ada syarat- syarat perlu dipenuhi. Mereka memang tak mau setengah- setengah memperkenalkan produknya, Simply Idea. Dalam berbisnis bersama diakui bahwa ada friksi- friksi kecil diantara ketiganya. Mereka berlalu dari permasalahan kecil agar tak cepat membesar. 
 
Prinsipnya hanyalah memang sulit menyatukan tiga kepala menjadi satu. Justru ketiganya mengaku saling mengisi dan tidak mau membuang salah satunya.

Bisnis Persahabatan


Mereka memang sedari awal adalah sahabat baik jadi mudah. Sejak awal, masing- masing telah menangani divisi berbeda- beda. Mereka mengerjakan sesuatunya sesuai dengan apa yang disenangi. 
 
"Saya menangani marketing, Rani bertanggung jawab untuk produksi, sedangkan Ira mengurus keuangan dan kepagawaian," tutur Dinar. Mengatur hubungan dengan pelanggan menjadi prinsip bisnis tiga sekawan ini. Mereka bahkan siap menyediakan layanan purna- jual sebagai bentuk komitmen.

Mereka menambahkan layanan seperti membantu membetulkan renda bed cover lepas. Hal sepele inilah yang ternyata cukup ampuh menggaet pelanggan Simply Idea.

"Bagusnya, hingga kini, tak banyak yang menggunakan layanan ini. Karena, produk kami berkualitas tinggi, baik dari jenis kainnya maupun kerapian jahitan di setiap bentuk aplikasinya," jelasnya lagi. Namun, Dinar juga menerangkan ada syarat dan ketentuan tertentu untuk layanan purnajual tersebut.

Setiap 3 bulan, mereka akan mengeluarkan produk- produk baru. Kalaupun produk dikeluarkan masih sama jenisnya pastilah temanya akan berbeda. Misalnya tema mobil balap akan menggunakan motif mobil A. 
 
Lalu dilain waktu, mereka akan mengeluarkan produk sama namun bergambar mobil B. Ini akan memberikan penyegaran tersendiri termasuk bagi pemesan. Atau, mereka akan mengeluarkan konsep sama satu paket produk.

Seperti konsep princess, semua aplikasinya serba princess mulai seprai sampai kelambu, lengkap dengan aplikasi bergambar tongkat peri. Ini akan menarik imajinasi sang anak agar benar- benar berasa seperti di kastil. 
 
Simply Idea akhirnya bisa mandiri, menarik produknya dari department store, namun mereknya sudah terlanjur terkenal disana. Mereka cukup membuka big sale selama 4 hari. Hasilnya, mereka bisa diserbu oleh pembeli dan semakin kokohlah merek mereka dimata pelanggan.

Simply Idea mulai menciptakan produk custom made. Biasanya mereka ibu- ibu yang ingin mengisi kamar anaknya secara spesial. 
 
"Jatuhnya memang jadi lebih mahal, karena harus membuat pola baru. Desainnya bisa mereka gambar sendiri atau kami yang membuatkan," kata Dinar, yang membolehkan orang memesan via website tanpa minimum order.

Pada 2006, Simply Idea mengeluarkan produk mukena karena permintaan itu selalu ada. Reaksi terhadap mukena kreasi Simply Idea ternyata memuaskan. Mereka bahkan mengeluarkan produk mukena baru. 
 
"Dua tahun lalu, buyer menantang kami untuk membuat baju muslim anak. Kami segera mencari konfeksi yang berbeda dari konfeksi untuk pembuatan mukena. Sayangnya, karena tak mau kehilangan order, konfeksi itu melemparkan ke konfeksi lain. Hasilnya benar-benar tidak sesuai. Saat itu kami mengalami kerugian besar," kisah Dinar.

Meski produknya terkesan lucu- lucu, mereka tetap menjalankan bisnisnya secara profesional. Mereka bahkan bahkan rela menyewa jasa konsultan bisnis dan keuangan. Tujuannya agar meraih target yang telah dirancang oleh perusahaan. 
 
Konsultan ini juga membantu mereka membenahi soal keuangan terutama soal profit sharing -nya. "Konsultan itu juga mengarahkan kami dalam berstrategi, menerapkan sistem marketing paling efektif, membenahi keuangan, bahkan memotivasi kami untuk terus maju," kata Dinar.

Simply Idea mulai menambahkan sistem online dan offline di dalam marketing mereka. Divisi online lebih banyak bersentuhan konsumen langsung, misalnya aktif memberi informasi tentang produk- produk terbaru, mencari tahu animo pasar terhadapa produknya, dan mengumpulkan konsumen ketika ada event besar semacam event Inacraft atau big sale. 
 
Mereka bahkan berencana membuka butik di tempat strategis. Targetnya tentulah masyarakat kelas menengah atas yang sadar bedding.

"Sedangkan marketing offline bertugas menjual produk kepada konsumen yang tidak dapat dijangkau oleh sistem online, yang biasanya membeli dalam jumlah besar. Untuk melakukan terobosan  pasar di dalam dan  luar kota, manajer departemen ini secara bertahap akan punya 5 kaki tangan alias downline. Berbeda dari MLM, sistem marketing ini hanya punya satu layer kaki saja," ungkap Dinar.

Simply Idea juga bekerja sama dengan Mothercare Indonesia, produk yang berbasis di Inggris. Sistem kerja sama mereka mudah yaitu mereka ikut menyuplai produk yang tidak ada di perusahaan milik mereka untuk Indonesia. 
 
Mereka harus menyediakan kelambu yang tentunya tidak ada di Inggris. Warna kelambu itu akan disesuaikan produk boks bayi yang diterbangkan langsung dari Inggris. Tawaran lain dari Austarlia serta dari Selandia mengalir deras.

Soal jenis produk yang akan dikerjakan serta motifnya telah disepakati bersama. Namun, Dinar menjelaskan soal harga belum menemui kata sepakat.

Twitter: @simpy_idea

Biografi Reza Nurhilman Keripik Maicih Sejarah Bisnis

Biografi Pengusaha Axl Reza Nurhilman


axl pemilik maicih
 
Biografi Reza Nurhilman atau Axl, anak ketiga dari 3 bersaudara yang tidak gampang mengeluh. Sedari kecil Axl tinggal dan dibesarkan oleh orang tua angkatnya, di Kota Cimahi, Jawa Barat. Axl sudah tinggal bersama keduanya hingga duduk bangku SMP, dan wirausaha adalah jalannya.

Baginya yang telah tak memiliki figur ayah, hanya sang ibu menjadi penghidup ketiganya kini. Ia tak pantang menyerah dan mandiri dalam berbagai hal. Semasa SMA menjadi masa- masa bersejarah bagi hidupnya. Reza menjadi sosok pekerja keras dalam pergaulannya. 

Pergaulan membawa pengusaha muda ini, menjadi pecinta musik rock seperti Gun 'N Rose. Reza kemudian dikenal oleh komunitasnya. Dipanggil Axl karena rasa fansnya terhadap sang vokalis, Axel Rose. Hingga tahun 2005- 2009 menjadi masanya menjadi seorang remaja labil.

Dimana dari kehidupan remajanya itu, Reza berubah 180 derajat mulai menjadi sosok memiliki visi besar dan impian (terlampau) tinggi.

"Saya itu lulus SMU di tahun 2005, empat tahun saya menganggur, dalam artian tidak kuliah. Saya baru kuliah itu 2009," jelasnya.

Pengusaha Axl Reza Nurhilman Maicih


Empat tahun sudah Reza menganggur tanpa pekerjaan. Diamana hidup digunakan mengerjakan aneka bisnis. Reza pernah jual beli barang seperti elektronik, pupuk. Semua dia jual, dan akhirnya punya produk yang tepat, dan kendaraan tepat yaitu Maicih, bisnis keripik menjadi jalan hidupnya kini.

Waktu itu saat SMA, biografi Reza Nurhilman tidak mengambil kuliah dulu. Fokusnya hanya dia mengerjakan usaha apapun. Selama empat tahun masa pencarian bisnis. beruntung Reza menemukan keripiki Maicih. Baginya mencari uang lebih penting daripada pendidikan kala itu.

Di tahun 2010, biografi Reza Nurhilman telah bergelut dengan makanan kampung. Produk bernama Maicih memang bercita rasa kampung. Bukan tanpa kesulitan bagi Maicih mencapai puncak bisnis sekarang. Ada dua versi Maicih bisa kita temui di pasaran waktu itu.

Tak ada konfirmasi secara pasti, apakah Axl bukanlah pemilik asli Keripik Maicih. Namun di situs Maicih.com, disebut jelas bahwa Maicih merupakan produk asli buatan Bob Merdeka. Lantas apakah hubungan antara Axl dan Bob Merdeka.

Sumber lain, menyebutkan bahwa keduanya merupakan satu kongsi dimana ada perpecahan diantara mereka. Sebagai tambahan keduanya juga memilik badan usahanya masing- masing. Dan, keduanya memiliki pasar berbeda satu sama lain.

Bilamana Maicih milik Reza menjadi pemenang di Bandung dan sekitar, maka akan berbeda Maicih saingannya. Maicih milik Bob Merdeka jadi pemenang di wilayah Yogyakarta. Kedua pengusaha muda ini juga memiliki resep berbeda rasanya.

Keripik Maicih versi Reza bisnisnya lebih 'wah' dan lebih beraneka jenis. Ya, makanan pedas asal Bandung ini lebih tereksplorasi secara bisnis komersil. Sehingga berbagai penghargaan telah didapat Reza dari berbagai institusi atas pencapaiannya.

Pengusaha muda 26 tahun ini, hingga sekarang, masih sibuk memberikan pelatihan- pelatihan agar menginspirasi anak- anak muda dan mencetak jutawan- jutawan baru. Ia bahkan mendirikan AXlent Academy tujuannya membantu anak muda berwirausaha.

Di bisnis lain, Axl Maicih mengeluarkan Icihers Magazine, dan terakhir buku yang disebut Revolusi Pedas yang diterbitkan oleh Blitz Megaplex Grand Indonesia, Jakarta pada tanggal 29 Juni 2012.

Usahanya kini merupakan impian demi orang- orang dikasihi serta agar bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, Reza pun kerap tampil sebagai pembicara di berbagai kampus di Jakarta dan Jawa Barat, menjadi wakil dari budaya lokal dalam acara-acara tertentu.

Reza juga belasan kali diliput atau jadi pembicara berbagai media cetak (majalah dan koran) maupun elektronik di sejumlah tv dan radio di tanah air. Dibawah bendera PT. Maicih Inti Sinergi, ia telah ekspansi ke berbagai usaha, seperti properti (Maicih Property).

Bisnisnya ini bahkan tidak hanya di lokal Bandung dan Jawa Barat atau Jakarta saja. Nama jajanan khas Bandung ini terus menyebar hingga ke seluruh penjuru Indonesia. Melalui badan berbentuk PT, kini kemasan keripik telah semodern mungkin dan bisa dijumpai di mini market manapun.

Dulu, hingga sekarang, Reza selalu memanfaatkan situs jejaring sosial utamanya yaitu Twitter. Faktor sukses lain Maicih versinya ialah proses marketing khas anak muda Bandung; cerdas, inovatif, dan berani.

Bukan Pengusaha Muda Biasa


Berawal modal 15 juta, ia merencanakan konsep bisnis bersifat nomaden atau berpindah- pindah. Dengan konsep tersebut pembeli akan dibuat kelabakan bahkan sebelum menikmati pedasnya keripik. Pembeli harus mengikuti tiap langkah si empunya bisnis dari Twitter.

Dia juga memanfaatkan Facebook meski agak kurang karena bersifat tidak actual. Melalui Twitter dan  Facebook, keduanya memberi andil besar bagi usaha ini. Produknya sukses membuat warga Bandung penasaran melalui strategi pemasaran tak lazim.

Dari bisnis ini ia mengumpulkan untung atau omzet senilai 4 miliar. Berkat strategi tersebut banyak pembeli rela mengantri panjang ketika sukses menemukan warung si Maicih.

"Strategi pemasaran sengaja saya pilih berpindah-pindah sehingga orang penasaran untuk selalu mengetahui di mana keripik Maicih nongkrong," terangnya.

Berikut sejarah Maicih versi Reza Nurhilman dimana tokoh Maicih itu begitu nyata. Reza bertemu sosok si emak- emak (Nenek-nenek) memang mempunyai resep keripik lada atau keripik setan yang rasanya enak. Sosok emak- emak tersebut bukan bernama Maicih.

Namun dia sendiri lah membuat nama tersebut agar lebih nyeleneh dan mudah diingat orang. Sosok emak-emak ini identik dengan ke-icihan karena selalu pakai ciput. Nama aslinya bukanlah Mak Icih, sehingga biar nyeleneh saja jadi diberi nama Maicih.

Menurut Reza, Emak tersebut tidak menjual keripik setannya secara komersil. Disitu lah ia mulai bekerja sama bersama pengusaha lokal memproduksi keripik miliknya. Pada pertengahan 2010, ia bermodal 15 juta dan produksi 50 bungkus per hari.

Varian awalnya hanya keripik dan gurilem yang diproduksi dari level 1 sampai dengan level 5 dan dipasarkan secara bekeliling. Ia kemudian memanfaatkan akun sosial media secara word of mouth dengan hashtag #maicih.

Sejarah Maicih Keripik Pedas Anak Muda


Awal tahun 2011, bisnisnya diresmikan secara resmi bernama CV. 29 Synergi. Perusahaan ini kemudian meraih kesuksesan mulai dikenal masyarakat bermerek dagang "Maicih" sejak Februari 2011 dan sudah bisa diliput oleh salah satu acara di Trans TV di program Realita Bingkai Berita.

Biografi Reza Nurhilman atau Axl, bersama tim Maicih telah menggunakan akun Twitter official dari perusahaan @infomaicih sebagai salah satu senjata utama bagi pemasaran mereka. PT. Maicih Inti Sinergi memisahkan diri dari produsen awal dan memiliki pabrik sendiri.

Setelah permintaan semakin meningkat dia melebarkan sayap produk. Dimana perusahaan resmi didirikan pada tahun 2011, yang mencatat nama Reza Nurhilman sebagai Komisaris. Nah, maka mungkin disinilah kami mengira bisnis Maicih terbelah menjadi dua.

Kami tak tau pasti bagaiman atau apakah ini, hanya merupakan salah satu strategi menguasai pasar. Entahlah. Untuk menghindari pemalsuan produk, Logo 'Maicih' telah dipatenkan hak ciptanya secara legal. Jadi bisa dibilang pemilik sah adalah Reza, tetap ada orang lain yang menjalankan.

Tapi kenapa masih ada pihak lain tidak dipidana; sebuah strategi marketing? Produk Maicih sendiri berbendera PT. Maicih Inti Sinergi, memproduksi : Keripik pedas level 3, level 5, keripik pedas level 10, baso goreng (basreng), gurilem, seblak pedas original, dan seblak keju pedas.

Produk Maicih resmi hanya didapatkan di Jendral dan Tim Jendral tercantum di twitter @infomaicih.
Adapun susunan manajerialnya juga unik seperti negara. Ada sang Presiden (presiden direktur atau CEO), lalu Menteri Pangan, Perhubungan, SDM, dua Menteri Menkominfo, dan Menteri Keuangan.

Sedangkan total jenderal yang ada saat ini adalah sebanyak 144 orang, terbagi menjadi 4 kategori jenderal, yaitu: Jenderal Sepuh, Jenderal Batch 1, Jenderal Batch 2, dan Jenderal Batch 3. Itulah kisah sukses Maicih sejak awal yang bisa kami ungkap sementara.

Website: maicih.co.id

Anak Medan Jadi Pengusaha Es Krim Salak

Profil Pengusaha Germadana Irza

 
anakmedan.png
 
Anak Medan jadi pengusaha es krim selak. Dia sudah berbisnis semenjak 2015. Namanya adalah Germadana Irza. Selain karena bisnisnya unik, tetapi juga ada satu fakta bahwa dia sendiri masih kuliah. 
 
Pengusaha muda yang masih duduk di bangku kuliah di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri, Universitas Sumatra Utara (Sumut). Meski memulai bisnis ketika ia masih berkuliah omzetnya menembus angka 20 juta. Idenya itu ada ketika melihat bagaimana salak begitu berlimpah.

Pengusaha Es Krim Salak

 
Disisi lain harga salak Padang Sidempuan tersebut tak laku diolah sehingga harganya murah. Loh, bukannya kalo murah justru harusnya laris diborong? Kenyataanya baru sedikit yang memanfaatkan ini sebagai bahan baku olahan. 
 
Selama ini, di Medan, variasi cemilan salak masih itu- itu saja dan sudah banyak ada di kawasan lain; sebut saja ada keripik salak, manisan salak, dodol salak, keripik salak, kurama salak dan lain sebagainya. Selain itu pamornya kalah dengan salak pondok.dll.

Oleh karena itulah muncul ide membuat olahan yang berbeda. Bersama seorang kawan Alyefi Asrar, diolah lah salak menjadi makanan es krim. Ya, salak- salak itu diolahnya jadi ice krim lezat. 
 
Ditemui oleh Medan Bisnis Daily, di tempatnya JL. Abdul Hakim, Gema begitu sapaan akrabnya, menyebutkan bahwa bisnisnya bermodal sebuah proposal. Kedua mahasiswa itu cuma bermodal proposal Dikti untuk lolos sebuah seleksi. 
 
Mereka coba- coba masuk sebuah program kewirausahaan di 2011. Menang bermodal proposal menghasilkan uang Rp.6 juta. Hadiah itulah yang digunakan untuk mengaplikasikan apa yang cuma tertulis. 
 
Usaha baru dibuka dipertengahan 2012, karena tak cukup modal, pada tahun itu mereka mengikuti lomba kembali dan menang. Mereka mendapatkan uang modal lagi dari Bank Mandiri. Uang tambahan sebesar 8 juta sudah ditangan mereka ketika memanangkan lomba tersebut. 
 
Sebelum masuk lomba kembali, Gema telah mencoba- coba dulu produk prototipe -nya. Ada beberapa kali gagal karena komposisinya salah. Ia mengaku tetap bersemangat meski gagal. Akhirnya komposisi baru benar, yang mana ia jabarkan berasa asam kelat dan manis. 
 
Harga salah yang satu kilonya cuma Rp.5 ribu disulapnya jadi gelas- gelas kecil berharga lumayan. Menggunakan bahan baku dari salak Padang Sidempuan dilakukannya secara sengaja. Semua untuk mendorong ekonomi lokal yang kalah dengan serbuan salak pondoh atau salak dari daerah lain.

"Makanya saya berpikir bagaimana caranya salak ini bisa naik derajat dan popularitasnya," imbuhnya.

Aneka cara sudah pernah dicobanya untuk mengolahnya. Tapi ia memilih es krim dengan alasan sederhana yakni semua orang suka es krim.

Apakah halangan berbisnis es krim terbesar. Gema mengungkapkan kepada media Detik.com, halangan itu ada pada bagaimana menyimpan saat penjualan. Ia mengakatkan es krim butuh suhu dingin yang stabil. Hal inilah yang menjadi tantangan terbesar baginya. 
 
Namun, Gema tak menyerah, pemuda ini tetap mencari- cari cara seperti halnya mencari resep es krim sempurna.

"Coba- gagal itu pernah. Yang lain juga pasti pernah. Dari yang mulai rasanya terlalu asam, sampai es krimnya terlalu keras sampai gak bisa dimakan," ungkapnya.

Kalau mau usaha, ya, gak boleh gampang menyerah ujarnya kembali. Idenya tentang es krim salak, kini komoditas salak Padang Sidempuan mulai dikenal. Dari coba- coba sampai akhirnya mendapatkan suntikan modal dari aneka lomba.
 

Bisnis Rumahan

 
Sukses bisnis es krim Zalacca membawanya hingga sampai ke Jakarta. Bermodal cuma enam juta dibelinya freezer, mixer dan juga bahan baku salak, untuk ketahanan produknya disisaitinya sedini mungkin.

Hobi bersepeda motor dijadikan modalnya memasarkan es krim. Ada sekitar 3 sepeda motor yang sudah ia modifikasi menjadi mesin pendingin. Ketiganya dijadikan outlate keliling Zalacca Ice Cream. Digunakannya motor- motor itu berkeliling menjajakan dagangannya. 
 
Dijualnya itu, awalnya, bermodal motor vespa karena memang ia hobi vespa. Uniknya motor tersebut ternyata cukup ampuh untuk memanggil pelanggan. Berkat ketekunan kini usahanya meraup omzet Rp.15- 20 juta.

"Tergantung, kalau hujan laku sedikit. Kalau panas laku banyak," candanya. Dalam sepekan produksi Gema sudah mencapai 6kg per- harinya. Totalnya 12kg untuk tiap pekannya, dan itu menghasilkan 48 kg es krim siap dijualnya. 
 
Bisnisnya dibilang tak monoton, selalu ada yang baru, khas anak muda maka ada beberapa jenis es krim; Zalacca Ice Cream Cup, Zalacca Ice Cream Wafer, dan ada yang palinga menggiurkan yakni Ice Cream Brownies dan Rainbow. 
 
Variasi rasanya juga tak melulu berasa seperti salak, adapula rasa nangka, coklat, vanila, strawberry, dan pandan. Uniknya bahan utamanya tetap salak tapi rasanya berbeda- beda. Es krim buatanya terjamin karena tak pakai bahan pengawet. 
 
Jadi jika kamu beli maka akan tahan cuma dua minggu saja. Untuk dijual es krimnya itu bisa habis dalam dua hari saja, menakjubkan bukan? Soal harga dari yang termurah Rp.3 ribu sampai 10 ribu per- cupnya. Pemasarannya untuk sementara secara berkeliling saja. 
 
Dari kawasan kampus USU lalu sampai ke SD Muhammadiyah dan Perumahan Setia Budi. Kedepan ada rencana untuk mengembangkan konsep waralaba. Itulah sebabnya ia sudah berancang- ancang untuk perizinan PIRT dan juga label Halal dari MUI. 
 
Adapula rencana untuk masuk ke pasar ritel di minimarket- minimarket. Berjuang keras membawanya hingga Jakarta melalui ajang bernama Mirausaha Muda Mandiri. Meski sempat tak lolos di tahun 2013, akhirnya, ia bisa kesampaian masuk ke jajaran finalis. 
 
Kalau dulu cuma mengirim biodata, Gema di tahun 2014, sudah punya 3 outlate sukses. Targetnya menasional membuatnya lebih bersemangat. Target jangka pendek ujarnya kepada media adalah membuka 10 outlate sendiri di Medan. 
 
Pengusaha muda ini memang memulai sedikit- demi sedikit tanpa mau berhenti dan putus asa. Berkat WMA tingkat regional Gema sudah mendapatkan banyak tawaran. Penawaran kemitraan tak cuma datang dari Kota Medan saja. 
 
Target jangka panjangnya, ia mengharapkan punya food truck sendiri, yang mana akan diusahakan selama tiga tahun sejak 2014.

Bisnis Sambal Roa Judes Kegemaran Artis

Profil Pengusaha Rimayanti Wardani 


sambelroa.rpngrr
 
Wanita ini kecanduan sedapnya sambal. Bisnris sambal Roa Judes kegemaran artis. Kisahnya dimulai ketika Rimayanti Wardani atau akrab disapa Rima, tengah menjalankan kuliah di Jurusan Humas, Interstudi, Jakarta, tahun 1999.
Dimana setiap teman satu kos datang selalu membawakan sambal ikan roa. Satu kali sih tidak apa, tetapi Rima keterusrarn meminta Debi, sang sahabat yang asli Manado membawakan setiap pulang kampung.

"Karena suka, saya pun minta diajarkan membuat sambal ikan roa oleh kerabat teman saya yang tinggal di Manado," kenang Rima.
 

Bisnis Sambal


Dia memang bukan orang Manado. Tetapi rasa itu begitu melekat dilidahnya sampai tak terlupakan. Ia tidak pernah berpikir untuk menjualnya. Semua lantaran kegemaran saja sampai belajar via telephon. 
 
Rima minta diajari oleh kerabat Debi di Manado. "Melalui arahan telephon, saya coba- coba membuatnya," kenangnya.

Tetapi resep sambal itu menjadi berbeda. "Resep sambal saya ubah sedikit agar rasanya sesuai dengan lidah saya," tuturnya. Jadilah kegemaran menyatap sambal roa sudah bisa terpenuhinya sendiri. 
 
Namun, Risma masih belum sadar akan potensi bisnis dibalik itu, hingga di pertengahan 2012, seorang teman membawakan kali ini bukan sambal tetapi ikan roa. 

Sang teman membawakan ikan roa mentah karena hobi Rima. Masalahnya, jumlah ikan roa mentah itu terlalu banyak, sehingga Rima lumayan kerepotan membuat sambal sendiri. "Setelah saya jadikan sambal, hasilnya jadi sangat banyak," paparnya. 
 
Karena kebanyakan itu sambal roa dimasukan ke bekas toples selai. Sampai tanpa terasa sudah delapan toples didapatkan Rima dari sana. Rima lantas iseng memotret sambal dalam toples itu. Kemudian dipajangnya ke profil Blackberry miliknya. 
 
Kemudian ada teman sekantor meminta dibawakan itu. Dalam sekejab, ia menjual semua sambal roa buatanya kepada teman sekantor. Sukses menjual membuatnya mendadak bersemangat. Karena apa? Karena teman- teman yang tidak mendapatkan meminta dibuatkan lagi.

Melihat permintaan cukup banyak muncul lah ide bisnis. Wanita yang pernah bekerja sebagai asisten manajer pemasaran sebuah perusahaan provider telekomunikasi ini, langsung menelephon teman yang mungkin kenal pemasok ikan roa di Manado. 
 
"Syukurlah, ada sebuah koperasi di Manado yang bisa memasok ikan roa asap sebagai bahan baku utama," tutur Rima bersemangat.
 

Merintis Bisnis

 
"Kalau beli di Jakarta harganya sangat mahal," tuturnya lagi.

Sukses dibawalah empat toples lagi di pajang diatas meja kerja. Keisengan tersebut disambut oleh teman- teman sekantor Rima. Cuma bermodal uang Rp.500 ribu sudah bisa menghasilkan sambel roa. Pulang dari kantor pasti Rima langsung masuk ke dapur mengolah ikan roa. 
 
Ia dibantu sang suami Ciptoning Adiwijoyo membuat sambal roa. Dalam hitungan menit saja sambel roa yang dibawanya ke kantor ludes. Rima membuat lagi dan ditawarkan lewat BBM. Ternyata banyak permintaan berdatangan memesan sambal roa.

Jika Rima berkutat di dapur, maka sang suami inisiatif menganalisa aspek bisnis, sambil sesekali membantu istri belanja cabai ke pasar. Sepula dari kantor ia sempatkan mampir ke pasar Pondok Gede. Pulang- pulang dia membawa sekantung besar belanjaan. 
 
Pembuatan sambal biasanya selepas Rima menyusui anaknya. Ia akan berkutat di dapur sampai jam 3 pagi. Ia tidak pernah mengeluh. "Isitilahnya, ada cinta di setiap ulekan," tuturnya sambil tersenyum. Untuk kemasan kemudian dibeli lah botol- botol plastik di pasar di Jalan Pramuka Jakarta. 
 
Soal desain logo dikerjakan oleh Rima sendiri. Logo ikan roa bersirip sembilan melambangkan tanggal kelahirannya. Warna merah pada logo melambangkan pedasnya sambal. Lalu nama Sambal Roa Judes sendiri diambil dari kepanjangan Juara Pedas.

Banyak tantanga dilalui Rima memasarkan sambal roa. Setiap pagi, ia akan membawa ransel dan tentengan penuh toples- toples berisi sambal, kemudian melangkah ke kantor. Bukannya naik mobil tetapi naik turun angkot dan busway. 
 
Perasaan bercampur aduk tetapi ditahannya. "Suatu saat nanti, apa yang saya alami ini bisa menjadi kebahagian di masa yang akan datang," kenangnya. Penuh semangat dari hari- ke hari jualannya semakin meningkat. Dari delapan botol menjadi sepuluh botol tiap harinya.

Tempo delapan bulan semenjak berjualan, Rima bisa memberangkatkan ibunya naik haji ke Tanah Suci. Di bulan Juni 2012, Rima memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan dan memilih mengerjakan bisnis baru ini semakin serius. 
 
Ia mulai menggarap aspek sosial media Facebook dan Twitter. Yakin akan prospek bisnis sambal, terbukti lewat meningkatnya permintaan reseller. Rima pun tidak cuma mengincar materi tetapi juga semangat.
 
Rima mengajak teman- teman terdekat menjadi reseller. Dia ingin membantu teman- teman terutama perempuan agar mendapatkan uang tambahan. "Saya ingin menanamkan prinsip saling berbagi," tutur Rima.

Sejak dulu ia memang dikenal memiliki passion dan pekerja keras. Ketika masih SMP, Rima kecil sudah tau berjualan aksesoris, hingga kuliah dan bekerja sempat berjualan parfum. Wanita yang juga dosen paruh waktu ini memang senang memiliki penghasilan tambahan. 
 
"Saya tahu bagaimana senangnya jika kita bisa mempunyai penghasilan tambahan. Apalagi bagi para ibu rumah tangga," celetuknya.

Juragan Sambal


Sebutan juragan sambal kemudian disematkan. Oleh teman- teman karena pekerjaan barunya sebagai pengusaha sambal. Ia pun lantas menamai resellernya sebagai bandar sambal. Kisah berlanjut, yang mana usahanya semakin membesar, bahkan permintaan akan sambal menyebar ke penjuru Indonesia. 
 
Rima lantas menunjuk lima distributor besar dari teman- teman terdekat. Distributor bintang lima itu ditugasi wilayah penjualan. Mereka menerima permintaan dan merekrut reseller dibawah masing- masing. Menurut Rima kekuatan Sambel JuDes terletak di sistem jualan langsung. 
 
Melalui sistem reseller dicoba saling silaturahmi antar reseller. Menurutnya sistem ini meminimalkan brang terparkir lama di etalase. Sementara itu, kalau dia menitipkan ke toko maka tidak ada koneksi yang terbentuk. 
 
Barang pun tidak otomatis akan berpindah tangan. Jeda itulah yang dipangkas lewat distributor dan reseller dibawa dirinya. Tentu mereka akan mendapatkan harga spesial. "...mencapai 20- 30 persen," paparnya.

Marketing Rima terbilang unik karena nekat. Dia mampu mendekati para selebriti Indonesia. Memberikan mereka secara cuma- cuma sambal roa. Sistem endors yang dilakukanya belum marak dilakukan pengusaha lain. 
 
Hasilnya? Foto- foto Sambal Roa Judes terpampang di foto Twitter. Banyak follower si selebriti yang mengomentari dan tertarik.

Selebriti pertama adalah pasangan Zaskia Mecca dan Hanung Bramantyo, penyanyi Nina Tamam, presenter Andhara Early, bahkan sampai Chef Bara Pattiradjawane. "Saya cuma meminta alamat mereka, lalu kirim sambalnya," beber Rima. 
 
Bulan Februari 2013, penjualan sambal roa mencapai 3.000 botol, yang mana oleh suami Rima disarankan lebih fokus.

"Suami bilang, saya tidak boleh serakah. Rezeki ini titipan Tuhan. Artinya, bisa diambil kapan saja. Saya disarankan untuk memilih satu, antara pekerjaan kantoran atau berjualan sambal," ceritanya.

Semenjak dirinya berhenti bekerja memang sambal roa naik. Penjualan naik drastis dibanding sebelum dia berhenti bekerja. Bulan Januari omzet jualan sambal sudah mencapai Rp.30 juta, sedangkan April ketika ia tidak lagi bekerja mencapai Rp.170 juta. 
 
Produksi dua hari saja mencapai 500 botoh seharga Rp.37.500 botol yang mana tersebar ke seluruh Indonesia dan luar negeri. Pasar mencapai Jerman, Kanada, Jepang dan Jeddah. Adapula salah satu pasar swalayan yang menjualnya di etalase. 
 
Meski begitu pesanan terbanyak ya dari distributor dan reseller. Salah satu kunci sukses menurut dia adalah kualitas bahannya. Ia tidak main- main soal kualitas ikan roa mentah itu. Ikan harus benar- benar kering agar tidak cepat berjamur. 
 
Sementara cabainya harus benar segar, memiliki batang berwarna merah segar. Berkat usaha sambal Rima memiliki uang lebih. Resolusi terus dirancang olehnya hingga akhir tahun terwujud. Yakni ia bisa menabung, investasi tanah, serta wakaf untuk almarhum ayahnya. 
 
Kalau dibilang tidak punya uang sudah biasa. Tetapi ketika ia memiliki banyak uang rasanya luar biasa. "Ketika saya bisa memiliki uang dan membaginya dengan orang lain," tutup Rima.

Pengusaha Laundry 24 Jam Strategi Pengalaman

Profil Pengusaha Kukuh Ginanjar


laundry24jam.png

Menjadi pengusaha laundry 24 jam. Kisah Kukuh Ginanjar belajar melalui pengalaman orang lain. Ia menjadikan pengalaman sebagai senjata.  Pengusaha muda jasa cuci asal Bandung ini masuk dikala tidak tepat. Pasalnya usaha laundry sudah menjamur ketika dirinya memulai. 
 
Kukuh lantas rela jauh- jauh mempelajari pasarnya ke Yogyakarta. Dari sana strategi bisnis pun ditemukannya yakni memberi garansi. Tetapi bukan garansi biasa karena ia menjanjikan garansi setrika pakian satu hari jadi.

Pengusaha Laundry

 
Kukuh pelajari betul seluk- beluk usaha laundry di Yogyakarta. Strategi pengalaman orang tersebut memang unik Cara unik tersebut ternyata efektif apalagi di Bandung belum begitu ramai. Pengunjung berdatangan meminta dia cucikan langsung ketika mendengar.

"Saat itu, di daerah kampus memang sudah ada laundry, tapi banyak yang mengeluh soal pelayanannya," kata Kukuh kepada Republika.

Kukuh mahasiswa Semester tiga STT Telkom Bandung, Jawa Barat, ini membuktikan. Kamu perlu banyak mengamati sebelum memulai berbisnis. Agar tidak mengecewakan pelanggan maka muncul ide kuota. 
 
Inilah cara lain Kukuh mengakali menumpuknya pesanan pasca marketing. Jika sudah melebih kuota maka dengan sangat terpaksa ditolak.

Dalam tempo sebulan usahanya menjaring dua ton pakaian kotor. Pemuda asal Klaten ini mengaku semua itu bermodal pas- pasan. Modal awal seorang Kukuh cukup 300 ribu di kantong. 
 
Tekatnya bulat memulai satu usaha sendiri. Ia menyisihkan 200 ribua buat sewa tempat. Sisa uang kemudian digunakan sebagai biaya buat promosi mulai spanduk dan lain- lain.

Kalau peralatan?

Ia ternyata punya cara tersendiri. Dia rajin menemui teman- teman menawarkan satu proposal bisnis. Berkat keahlian melobi Kuku bisa mendapat Rp.5 juta. Uang patungan tersebut barulah digunakan sebagai modal buat peralatan. 
 
Memang sedari dulu dirinya dikenal sebagai pengusaha. Jiwa entrepreneurship terasah oleh pengalaman mulai dari usaha pulsa, donat, kaus, hingga susu murni.

"Saya sadar sebagai anak yang lahir dari keluarga sederhana mau tak mau harus kreatif mencari tambahan biaya," tutur Kukuh.

Bisnis Laundry 24 Jam


Ia sendiri tidak sebebas kita. Meski begitu bisnisnya tetap melejit sambil menjalankan ikatan dinas. Ya, betul, dia kala itu tengah menempuh pendidikan ikatan dinas, dan ini memberinya bebas biaya kuliah. Akan tetapi ayahnya yang cuma guru SD tidak memberi banyak. 
 
Alhasil, Kukuh tetap banting tulang mencari tambahan untuk hidup di negeri rantau. Sang ayah beristri ibu rumah tangga biasa dan memiliki empat orang anak. Kukuh sadar merasakan betul kekurangannya dalam keuangan.

Keprihatinan membawa dia serius menjalankan bisnis. Dalam waktu lima tahun, Waroenk Laundry mampu melebarkan sayap ke berbagai wilayah. Cabang tersebar dari Sumedang, Jombang, Bangka Belitung, dan juga Palembang. 
 
Tarif laundry cukup Rp.5000 per- kilo untuk mahasiswa. Untuk umum Rp.6000 saja tidak terlalu jauh. Sistem komputerisasi mempermudah jalannya perusahaan milik Kukuh ini.

Sistem komputer termasuk dalam hal pelayanan. Sistem pengecekan via SMS bisa langsung diterima oleh administari sejak diterima dan proses packing. Ini memungkinkan pelanggan memantau cucian setiap saat lewat sistem notifikasi. 
 
Orang tidak perlu bolak- balik datang mengecek cucian. Lain fungsi, sistem ini juga berlaku dalam pengawasan pegawai di tempat kerja.

Menerapkan banyak strategi dan model manajemen membuat Kukuh yakin. Ia meyakinkan bahwa usahanya ini akan berkembang bagus, dan terbukti. "Kami siap menjadi barometer laundry Indonesia," tuturnya.

Lantas bagaimana strategi marketing mumpuni. Maka, Kukuh memperkenalkan konsep bisnis 24 jam. Ini menjadi yang pertama buat bisnis laundry Indonesia. Dia juga menggalang konsep go green melalui produk detergen ramah lingkungan. 
 
Waroenk Laundry tidak pula menyediakan pembungkus plastik. Tidak cuma itu ternyata, soal limbah pun sudah Kukuh pikirkan, dimana melakukan proses filterisasi ketika menggunakan air. Promosi lewat SMS dikembangkan olehnya. 
 
Ia lantas menawarkan menyisihkan Rp.100,- untuk yang tidak mampu. Terakhir adalah menawarkan konsep kemitraan alias waralaba. Kukuh menawarkan paket investasi Rp.49 juta paket mini. Paket standarnya senilai Rp.79 juta dan medium Rp.107 juta. 
 
Untuk perbedaan itu terletak dijumlah mesin cuci dan pengering. Jika paket mini satu mesin cuci dan dua pengering, paket standar dua mesin cuci dan tiga mesin pengering. Ia menambahkan paket renovasi tempat, komputer, training karyawan, dan furnitur. 
 

Strategi Bisnis Laundry

 
Di luar investasi tersebut buat kamu yang tambahan Rp.6 juta sebagai biaya pengiriman. Asumsi balik modal jika semuanya terpenuhi adalah enam bulan sampai 11 bulan.

"Tarif terjangkau menjadi kelebihan kami," paparnya.

Sukses berbisnis waralaba membawa Kukuh jauh melompat. Bayangkan pemuda 25 tahun ini sekarang bisa membuka banyak cabang dan terakhir membuka anak perusahaan. 
 
"Waroenk Laundry menawarkan sistem waralaba agar jangkauan outlet dapat merambah ke berbagai pelosok," ujarnya. Lompatan itu tidak serta- merta membuat hatinya sombong.

Dia bahkan menyempatkan mengerjakan pesanan alamemeternya. Pria yang juga lulusan SMAN 1 Klaten ini, dipercaya mencucikan pakaian mahasiswa di asrama. Total 4.000 pakain kotor mahasiswa dari 16 tower dipegangnya sendiri. 
 
Kembali ke anak usaha, masih berhubungan dengan bisnis utamanya, ia membuka satu usaha kebutuhan laundry berupa diterjen dan pewangi. Anak perusahaan kedua menjual alat- alat cuci, seperti mesin cuci dan pengering. 
 
Buat kamu konsumen bisa melihat di www.pusatlaundry.com dan www.bospengering.com. Usaha lain yakni menciptakan alat konverter mengurangi daya mesin 2.200 watt menjadi 150 watt. Ide mendirikan perusahaan dimulai saat dirinya pernah ditipu oleh suplier mesin cuci dan pengering. 
 
Ia kehilangan 30 juta tetapi tidak menghasilkan apapun.

"Saya hanya mendapatkan alat- alat kualitas rendah," sebut finalis Wirausaha Muda Mandiri 2010 ini.

Menjadi pengusaha muda bukan perkara mudah. Ia sempat ditentang ayah dan ibunya. Berbekal ilmu kuliah dari satu kampus terkenal, harapan mereka Kukuh menjadi pegawai perusahaan bonafit. Apalagi sosok sang kakak adalah dokter lulusan UGM.

Biografi Bupati Trenggalek M. Nur Arifin Pengusaha

Profil Pengusaha Mochammad Nur Arifin


biografibupati.png
 
Biografi Bupati Trenggalek M. Nur Arifin. Siapakah dia merupakan pengusaha muda menginspirasi masyarakat. Hanya usaha sepele tetapi ternyata menghasilkan miliaran.  Anak muda satu ini tidak pernah malu berjualan panci.
 
Karena dalam benaknya, ini bisnis spektakuler yang patut dia coba. Meski merupakan bisnis keluarga sering memberikan rasa tidak nyaman. Mochammad Nur Arifin, pemuda kelahiran 1990, yang kini menjadi Wakil Direktur UD Cipta Karya Abadi. 
 
Selain itu dia juga dikenal sebagai komisaris MG Corporation dan PT. Karya Mugi Sentoso.
 

Bisnis Panci


Dia merupakan pewaris usaha keluarga. Ia sendiri punya visi memajukan usaha keluarga tersebut. Meski pun gempuran produk China menggempur, usaha pembuatan panci tetap mengepul. Justru masuknya produk dari China malah membuatnya semakin semangat. 
 
Pemilik usaha UD Cipta Karya Abadi ini, mengatakan potensi masih terbuka lebar.

"Dari permintaan sebanyak 30.000 unit, kami hanya sanggup memenuhi sekitar 21.000 unit perbulan," ujar pria yang akrab disapa Avin ini. Permintaan kitchen set menjadi paling tinggi. Terutama, Avin menjelaskan untuk produk khusus panci.

Produk bermerek CKA, diklaim Avin, telah menguasai pasar Pulau Jawa. Bahkan menurutnya lagi share marketnya mencapai 65% panci. Atau, 65% panci di rumah- rumah sekarang merupakan buah karya perusahaan miliknya. Usaha yang dirintis oleh Alamarhum Mugianto. 
 
Dimana sang ayah memulai sejak tahun 1990 -an yang awalnya cuma distributor panci. Sejak 2007, setelah sang ayah meniggal, usaha ini lantas berubah.

Fokus usaha berubah bagaimana caranya memproduksi panci. Berekspansi lewat pembukaan pabrik wajan cor alumunium. Sosok ibu menjadi pengambil alih nahkoda dibantu Avin dan dua adiknya. Mereka bersama bisa mempertahankan eksistensi usaha panci tersebut. 
 
Mereka memanfaatkan berbagai macam rongsokan alumunium untuk dijadikan panci. Itu kejelian seorang Avin cepat berekspansi menguasai dua kota disekitar. Dari sanalah sampai berdiri dua pabrik di kawasan Jawa Timur, yakni Mojokerto dan Trenggalek. 
 
Avin juga menambahkan pabrik di Mojokerto menghasilkan 6.000 unit. Sementara itu di Trenggalek bisa menghasilkan lebih besar yakni 15.000 unit. Dua pabrik tersebut bukan sekedar memproduksi panci loh. Ia memplot dua pabrik tersebut juga menjadi tempat pengolahan alumunium.

Usaha pembuatan panci yang dianggap sepele itu menjadi "wah". Kini, Avin sudah memiliki 2.000 orang karyawan yang tersebar di 22 cabang seluruh Indonesia. Ia dibantu oleh 1.500 karyawan untuk sales. 
 
Avin mampu menjual wajan alumunium ke seluruh penjuru Indonesia. Model bisnis direct selling, setiap cabang itu ditergetkan menjual 1.000 panci. Metode marketing langsung tersebut terbukti ampuh, apalagi ada stimulus bonus.

"Melalui metode ini, kami tetap bisa melakukan produksi sebagai stok yang untuk sewaktu- waktu bisa dipasarkan" imbuh Pengusaha muda.

Batang alumunium rongsokan cukup dicor diatas 2000 derajat. Dari sana lah, Avin mampu mencetak ratusan unit panci dari sana. Selepas benar cair, cairan langsung dituangkan ke cetakan panci berbahan baja. Panci tersebut lantas dihaluskan agar rapih. 
 
Proses terakhir jelasnya ialah finishing atau dipercantik agar terlihat wajan sempurna. "Pengawasan berupa QC diperlukan agar aluminium yang berhasil dicetak dalam menghasilkan produk berkualitas," tutur pemuda yang kini juga pengusaha properti dan Bupati Trenggalek ini.

Bisnis Kraukk Beku Produk Hangat Penghasilan

Profil Pengusaha Yudhi Dwinanto


bisniskraukk.png

Mantan pegawai negeri ini sukses usaha frozen food. Bisnis Kraukk beku bukan sembarangan. Lewat canggihnya dunia digital menjamur ke dunia nyata. Sukses Yudhi Dwinanto bisa menjadi inspirasi buat pengusaha toko online. Dia memulai dari sekedar hobi menjadi bisnis. 
 
Mencari ide bisnis mapan memang susah- susah gampang. Itulah kenapa konsep bisnis sampingan bisa dijalankan.
 

Bisnis Makanan Beku


Ide bisnis ditemukan disekitar kita. "Ide berbisnis itu bisa dari hobi, kemampuan, atau pengalaman," kata dari Direktur Utama Kraukk Indonesia ini.

Ia pernah menjadi pegawai negeri di Kementerian Agama sejak 2007. Karena mau menambah uang maka mulailah Yudhi berbisnis sampingan. Hasilnya lumayan dari usaha berjualan udang tempura. Dia mengambil barang dari pabrikan di Jawa Timur. 
 
Pertama kali cuma coba- coba kemudian sukses dinikmati oleh teman dan keluarga. Lama kelamaan Yudhi makin menekuninya seperti hobi. Ia meyakinkan tidak akan mengganggu kerja. Inilah kenapa awal sekali langsung memilih toko online. Usaha bermodal website gratisan. 
 
Ternyata usaha ini terus berkembang. Selepas tahun pertama, Yudhi mulai mengalami kendala, karena pabrikan itu tak mau mengirim barang lagi. Pasalnya perusahaan mau fokus di ekspor. Alhasil dirinya dan toko online kecilnya tidak dapat jatah.

Sempat terpuruk usahanya tidak membuat jatuh. Dia mulai mencari mitra kerja lain. Melalui dunia maya pada 2008, bertemulah dia dengan seorang mitra bisnis menawarkan sampel tempura udang. Sama seperti kualitas pabrikan asal Jawa Timur. 
 
Bahkan lebih enak kalau dari segi rasa. Menurut sang mitra produk tersebut asli buatan sendiri. Selain membuat tempura udang, ternyata mitranya tersebut bisa membuat produk- produk lain.

Jadilah keduanya sepakat bekerja sama. Sang mitra akan fokus dalam pengembangan produk, sementara ia akan fokus di pemasaran. Hasilnya luar biasa menjanjikan, dimana di tahun 2009, mereka resmi membuka toko online sendiri www.kraukk.com. 
 
Dari menawarkan 10 produk kemudian berkembang pesat menjadi 20 -an produk. Ia menjual produk beku dan pembeli tinggal goreng di rumah. Karena memanfaatkan media online, maka produk Kraukk menawarkan penggambaran menggoda. 
 
Lewat itulah pembeli tersihir membeli produk olahan mereka langsung. Yudhi diawal menawarkan produk sekitar 10 jenis yaitu aneka olahan udang, olahan kepiting, cumi- cumi, ikan dan ayam. Produk nugget lah yang menjadi andalan utama produk- produk Kraukk.

Harganya meliputi nugget kepiting satu kemasan Rp.12.000, udang Rp.19.500, breaded shrimp torpedo, udang utuh tanpa kulit dibungkus tepung roti seharga Rp.21.000, drumstick ikan Rp.19.000, drumstick cumi Rp.19.500 dan banyak lagi. 
 
Sekali lagi karena modal toko online, maka www.kraukk.com menampilkan rangkain foto- foto realistis dan semenarik mungkin. Dengan gambar bagus maka pengunjung akan betah di toko.

Lambat laun desain www.kraukk.com menjadi makin menarik saja. Dan semakin interaktif dengan pelanggan yang datang ke sana. Yudhi lantas memanfaatkan konsep reseller lewat situsnya. Melalui keanggotaan maka pelanggan bisa mempromosikan dan mendapat untung. 
 
Tahun pertama saja, ia telah memilik 1.000 anggota yang merupakan pasar potensial. Mereka juga saling aktif mempromosikan lewat sosmed masing- masing. Alhasil anggota terdaftar melonjak sekitar 5000 -an. 
 
Nah, karena Yudhi sudah merasa tidak lagi sanggup lagi, maka diputuskan mempekerjakan web admin. Dia sendiri akan fokus pada marketing tidak mengurusi web. Hasilnya adalah pendapatan terus melonjak lebih pesat. Kalau diawal cuma berputar- putar di kawasan Jakarta. 
 

Jualan Produk Beku

 
Yudhi kian memutar otak memaksimalkan usahanya marketing. Jadilah produk Kraukk bisa hadir di penjuru Indonesia. Ia mulai menawarkan konsep ditributor luar kota. Ternyata sambutan masyarakat bagus. 
 
Hal tersebut telah dibuktikan lewat dua distributor tersulit; Papua dan Maluku. Sistem ini menggampangkan pelanggan yang di luar jangkauan mesin pendingin. Sistem ini didukung pengiriman kargo setiap bulan kepada distributornya. 
 
Dia juga mencantumkan nama mereka di laman web. Kalau ada pembeli dari laur Jawa, maka cukup kontak distributornya.

Untuk Jakarta sudah tercipta armada khusus pengiriman cepat. Ini seperti bisnis makanan- makanan cepat saji asal Amerika itu loh.

Selain itu masih bisa menerima pembelian secara ecer. Yudhi juga berhasil bekerja sama dengan beberapa perhotelan di Jakarta. Lewat tangan dingin itu mampu mensuplai aneka nugget secara berkala. 
 
Meskipun sukses itu sudah ditangannya, pengusaha ahli makanan beku ini memilih mundur, bukan memilih mundur dari kewirausahaan tetapi mundur dari pegawai negeri sipil. Tepatnya di tahun 2012, ia memilih fokus berbisnis Kraukk.

Dia sadar bisnis Kraukk sudah terlalu besar buat "disambi". Hasilnya semakin berasa ketika ia memilih fokus disana. Hasil tersebut terlihat dari jumlah produksi meningkat tajam. Produksi bahkan menurutnya sudah ada 12 ton per- bulan. 
 
Usaha ini lantas merambah dunia nyata lewat aneka staff kantoran, termasuk ada manajer operasional. Untuk bagian produksi sudah 20 orang karyawan. Selama itu fokus Yudhi masih di bisnis online hingga. Ia sadar usaha Kraukk masih bisa berkembang. 
 
Itu adalah melalui media dunia nyata yakni lewat mengikuti aneka pameran. Hasil? Dia baru buka beberapa jam sudah mengantongi laku 100kg. Usaha lain yang tengah dikembangkan adalah restoran seafood berbahan Kraukk. Yudhi ingin memasang toko online menjadi usaha nyata tanpa menghilangkan akarnya; berekspasi istilahnya.

Kontak pengusaha:


Kraukk Indonesia.
Jl. Kostrad Raya No. 1 Petukangan Utara,
Pesanggrahan, Jakarta Selatan, DKI Jakarta
E-mail: kontak [at] kraukk.com | Ph. (021) 71559993
Hotline: 0813 2222 3580 - www.kraukk.com

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba