Kisah Pengusaha Makanan Sintetis Ala Novel Si- Fic


Usaha Makanan Masa Depan


Mungkin anda akan terkejut mendengar kata makanan sintetis atau makanan tiruan . Dari The New Yorker, Lizzie Widdicombe bertemu seorang pria yang sukses memberi kita variasi makanan masa depan. Pengusaha muda asal Bay Area ini berbagai ceritanya dengan The New Yorker. Apa yang telah diciptakannya? Ia menciptakan Soylent, makanan sintetik,  makanan yang merupakan gabungan antara teknologi dan makanan. Ini adalah masa depan yang ada di depan mata kita, umat manusia.

Jika kamu ingin lebih jelas, Soylet adalah makanan hasil dari olahan suatu binatang tak bertulang belakan, Plankton. Terkejut?

Di 2012, seorang anak muda berusaha keras mewujudkan cita- citanya sebagai entrepreneur. Bukanlah satu perkara mudah baginya. Dia telah melakukan berbagai hal, menciptakan start- up bisnis yang tak kunjung sukses. Untuk menyimpan lebih banyak uang, Rob Rhinehart mencoba untuk menggalakan kehidupan berdiet. Ia benar- benar berdiet -diet yang tidak sehat dan murah. Merasakan bahwa makanan juga termasuk masalah teknis, ia memutuskan berhenti dengan masalah software dan pemrograman.

Rhinehart mulai mengumpulkan daftar nutrisi. Ia mencari segala sesuatu tentang makanan di Internet. Bukan sembarang makanan tapi makanan berbentuk bubuk dan pil. "Hasilnya, Bubur bahan kimia, tampak seperti limun lengket, "Widdicombe menulis. Rhinehart menyebut produk itu Soylet, nama yang juga sama dengan novel science- fiction dari tahun sembilan limaan. Bermodal satu produk kemudian dipasarkan melalui tulisan blog khusus.

Rhinehart mengusung selogan "How I can stop eating food" atau bagaimana cara saya untuk berhenti makan makanan. Sebagai catatan produk buatannya terus mengalami penurunan harga. Dia jadi menjual dari $4.070 ke $15 untuk setiap bulannya. Untuk menambah keyakinan pembeli, ia menyebut produk Soylet mampu membuat kulit lebih terang dan rambut lebih tebal. Kandungan gizinya sudah mencukupi tanpa menambah berat badan. Respon positif tak ayal datang atas produk buatannya tersebut. Siapa yang tak mau?

Dibantu seorang teman satu kamar kos dimulailah perjalanan bisnis produk makanan sintetis.


"Pekan lalu, tiga puluh ribu unit komersial pertama yang dibuat Soylent, dikirim kepada pelanggan di seluruh Amerika," Widdicombe menulis. Selain modal dari patungan atau crowd funding, produksi produk Soylet dibiayai oleh kapitalis ventura Silicon Valley. Widdicombe menulis bahwa, dalam pengalaman sendiri, Soylent tetap kenyang nya, meskipun itu menunjukkan berapa banyak waktu kita berputar di sekitar makanan. Rhinehart, yang telah tinggal hampir sepenuhnya mengierjakan Soylent untuk lebih dari satu tahun.

Jika kamu berharap mengetahui dari mana sumber Soylent, itu adalah bahan-karbohidrat, protein, lipid-dari ganggang. "Kalau begitu kita tidak perlu pertanian," katanya, menambahkan bahwa "superorganism" Soylent memproduksi akan menghilangkan kebutuhan akan pabrik-pabrik, juga. Untuk membantu desa penuh orang kurang gizi, Rhinehart mengatakan Widdicombe, "kamu cukup memesan satu kontainer" penuh Soylent yang terbuat dari alga.

"Ini akan membawa energi matahari dan air dan udara, dan menghasilkan makanan." Kemudian semua kita harus lakukan adalah memperbaiki masalah perumahan di dunia, "dan orang-orang bisa bebas." jelas seorang Rob Rhinehart.

Robot Perang Dijual Satu Juta Dollar

 
Jika kamu penggemar video game mecha seperti Front Mission, kamu akan tercengang dan membayangkan merek menjadi kenyataan. Robot ini memang memiliki kemiripan (menurut penulis). Kurata, dikembangkan oleh perusahaan Suidobashi Heavy Industry, yang menyandang nama "kendaraan robot terbesar pertama" di dunia.

Memfokuskan diri sebagai satu persenjataan paling mutahir di pertengahan 2012. Robot berpilot menusia pertama, dengan spesifikasi persenjataan berat dikedua tangannya. Meski merupakan kendaraan robotik berpilot usut punya usut mereka juga menyediakan pengendali jarak jauh. Mungkin untuk menghindari kemungkinan penyalah gunaan. Pengendali jarak jauhnya menggunakan operasi sistem 3G berbasis laptop, tablet atau pun smartphone.

Suidobashi Heavy Industri dalam ekspedisi pertama mereka di Tokyo memberikan kita bagaimana cara mengenderai robot satu ini.

Mereka percaya diri dengan menunjukan kemampuan gerak dan persenjataan Kurata.





Robot Kurata ini dikembangkan oleh seniman Kogoro Kurata (diambil dari namanya sendiri), dan seorang ahli robot, Wataru Yoshizaki. Kurata menyatakan bahwa ia terinspirasi oleh mecha yang sering ditampilkan dalam anime, terutama yang dari seri Armored Trooper Votoms bukan Front Mission loh, kala itu ia melihat robot sebagai impian seorang anak. Dan, sang penemu pun punya obsesi menjadikan apa yang dilihatnya menjadi kenyataan!

Bisnis robot


"Ketika aku masih kecil, saya pikir ada akan menjadi robot raksasa di masa depan. Tapi tidak peduli berapa lama aku menunggu, orang-orang hanya mampu membuat robot kecil, seperti Asimo. Akhirnya, saya berpikir "aku tidak bisa menunggu lagi, dan berangkat untuk membuat satu sendiri," jelas Kurata tentang obsesisnya.

Tujuan Kurata sebenarnya hanya menciptakan sebuah karya seni bukan perang dunia ke 4, diinspirasi oleh mecha dimana dia akan menyaksikannya tumbuh kembangang. Kendaraan robot Kurata memiliki berat berkisar 4.500 kg, serta tinggi sekitar 4 meter. Kendalinya dapat diawaki oleh satu orang; operator yang akan duduk di kurusi di dalam "tubuh" robot, dengan perangkat kontrol ada di depan mereka. The Kuratas juga bisa saja dikontrol secara eksternal oleh remote control.

Kuratas memiliki empat roda, tiga puluh sendi exoskeleton yang dikendalikan oleh pilot atau juga dapat dikendalikan dari jarak jauh. Remote Operator menggunakan ponsel layar sentuh 3G dengan sistem antarmuka utama. Sistemnya berbasis user interface on-board pilot adalah sistem perangkat berbasis Kinect. Sistem Kinect sendiri pertama dikenalkan pada game console milik Xbox dimana fokusnya ada pada sensor gerakan. Jadi robot yang satu ini bergerak berdasarkan meniru gerakan motorik pilot atau pun perintah suara.

Robot ini bisa dipersenjatai dengan beberapa senjata, mesin 6.000 putaran per- menit untuk senjata bertipe BB Gatling Gun yang ada dikedua tanganya,  "LOHAS", peluncur misil botol air atau mungkin juga kembang api, atau juga misil asli (jika dikembangkan), tangan besi yang disebut "Iron Claw" yang mampu memungut benda, dan terhubung dengan pilot seperti "apa yang tampak dengan produk Nintendo Power Glove". Situs utama Suidobashi menawarkan dua senjata lainnya, sebuah "Kuratas pistol ", dan" Pilebunker".

Masih menurut Suidobashi, persenjataan akan aktif dan menembak ketika pengendara tersenyum -sistem yang dikenal "the smile shot". Sistem penguncian target akan langsung terhubung dengan persenjataan berupa dua senapan barel di kedua tangan. Saat ini, Kuratas tidak mampu berjalan, tetapi mampu bergerak melalui empat roda tersebut dengan kecepatan berkisar 10 km/jam. Kuratas dibanderol seharga US $ 1.353.500 (atau ¥ 134.555.495, atau € 1.040.976) Per 25 April 2013.

Pada awal 2015, perusahaan besar yang diprakarsai Kogoro Kurata ini, telah siap go publik. Bukan tentang saham tapi go publik untuk menjual produk Kurata untuk umum. Menarik karena robot ini dijual 'murah' di internet melalui Amazon Jepang. Sebuah keputusan aneh dan riskan karena menjual produk semacam ini ke situs ecommerce. Coba bayangkan jika TNI membelinya dari Amazon, mencari tau sistemnya, kemudian mengkopi untuk dibuat masal.

Seolah mencontoh plot dalam serial Gundam, Kurata diharapkan akan mengembakan antusias dalam hal persenjataan modern. Diharapkan pada tahun 2079, produk 'Gundam' atau humanoid vehicle akan menjadi satu tren di dunia. The Verge sebelumnya pernah memuat berita awal perusahaan ini menjadi sorotan dunia. Di 2012, perusahaan dengan santainya menunjukan hasil nyata, yang lantas semakin mendapatkan fans yang datang ke situs mereka.

Kala itu mereka menjual robot buatan sendiri melalui pesanan langsung seharga $1,35 juta, kini, siapapun bisa membelinya jika berkunjung ke Amazon Jepang.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba