Mengembangkan Startup Bisnis Fashion Ren the Runway

Profil Pengusaha Jennifer Hyman dan Jenny Fleiss


startup fashion terkenal
 
Jennifer Hyman sosok antusias akan teknologi terbaru. Ingin mengembangkan startup bisnis fashion tetapi rumit. Dia bukanlah seorang fashionista. Bukan pula pemilik latar belakang fashion atau desain pakaian. Dia pemilik bisnis startup senilai $190 juta, dan nilai valuasi terbesar di kawasan Inggris.

Ren the Runway memberikan pengalaman terbaru wanita. Bayangkan kamu bisa menyewa pakaian karya desainer terkenal. Kamu bisa menyewa pakaian atau aksesoris buat pergi ke pernikahan, pesta perusahaan atau pribadi, bahkan buat kencan satu malam.

Anak milenial yang tertarik akan pakaian fashion New York akan berhemat. Daripada mereka akan berkeliling mencari pakaian desainer. Alih- alih kamu membeli mahal, mengapa tidak menyewa saja lewat website atau 5 toko milik Jennifer.

Ini akan memberikan kamu bermacam- macam pakaian kapanpun. Buat menghadiri acara bertema tertentu, atau kamu bisa pakai buat berfoto untuk Instagram. Memiliki lebih dari 8 juta pengguna dan menyasar kaum profesional.

Bisnis Masa Depan


Dia bukan sekedar pioner dalam bisnis penyewaan. Lebih dari itu dia seorang pejuang hak, memberi peluang wanita menjadi eksekutif, menjalankan inkubator pengusaha wanita, dan menjadi pembicara akan sexual harassment. Ternyata dia pernah mengalami pelecehan seksual ketika bertemu investor.

Jennifer sosok ahli, memiliki gelar MBA dari Harvard Business School, dan memiliki kemampuan buat melihat pasar. Ia mampu mengenalisa kebutuhan pasar, kebiasaan konsumen, pengelolaan di bidang logistik, dan venture capital.

Tipikal CEO Teknologi bukan pengikut trendsetter. Dia makan pasta lima kali di malam hari selama seminggu. "Saya obsesif," ia mengatakan. "Saya sangat terobsesi akan makanan Meksiko dan Italia, saya merasakan pasta seperti.... makanan menenangkan," ia menambahkan.

Makan pasta memberikan energi bagi sang pengusaha muda. Ini akan membuat hari- harinya jauh lebih baik. Bayangkan menjalankan bisnis fashion tanpa pantangan. Ia tidak minum minuman diet, tidak menghitung kalori, tidak berpikir mengenai makanan karbo "berbahaya".

"Perusahaan ini secara fundamental merubah hubungan kamu dan pakaian kamu," ia tambahkan.

Rent the Runway mungkin tidak menghasilkan pakaian. Tetapi tokonya di Union Square, Manhattan, merupakan mimpi para wanita. Desain bangunan beserta isinya minimalis. Dinding berwarna putih atau abu- abu cerah.

Kamu akan menemukan pakain desainer global berjejer. Toko ini telah dikurator sedemikian rupa hingga bikin kamu betah. Pakaian dipajang menonjolkan kesan dan padangan sang desainer masing- masing. Pakaian dijapang seolah tidak ada satupun tidak menarik buat dibeli.

Penempatan sudut telah diperhitungkan tidak ada kebetulan. Dengan kaca- kaca berjejer ditempeli tulisan motivasi. Tulisan elektronik bertuliskan pesan positif buat tubuh kamu. "Ini bermula ketika Facebook begitu besar dan kamu tidak mau berfoto dengan pakaian yang sama," ia melanjutkan.

Serial Entrepreneur

Beda Jennifer Hyman yang memulai satu startup langsung sukses. Rekannya Jenny Fleiss sudah tidak asing dalam dunia startup. Dia merupakan CEO Jetblack, keduanya merupakan teman sekampus di jurusan sama. Begitu Ren the Runway sukses ia memilih turun menjadi eksekutif perusahaan.

Bukan berarti dia tidak peduli karena masih tercatat pemilik. Ia memilih menjadi dewan Direksi dan penasihat. "Saya seorang serial entrepreneur dalam hati," tuturnya. Ia sudah terbiasa menghadapi masalah baru, dan mulai menyelesaikan masalahnya.

Jenny telah melewati masa sulit bersamaa Ren the Runway. Memiliki 30 tim kerja utama membuat Jenny merasa cukup. Dia telah menitipkan pemikiran hingga rencana ke depan. Tim kerja tersebut sudah lebih dari cukup. Jenny fokus mengembangkan Jetblack menjadi startup masa depannya.

Jetblack merupakan jasa pembelian barang apapun. Para wanita sibuk akan membeli barang dimana saja dengan biaya langganan. Pembelian untuk dikirim sekarang juga atau besok. Pengiriman tidak menambahkan biaya fee ataupun ongkos kirim.

Passionnya lebih membara ketika merintis bisnis apapun. Ia memang serial entrepreneur. Apakah dia semudah itu menjadi entrepreneur. Faktanya dia pernah disarankan bekerja di perbankan, jangan maau mengharapkan sukses melalui entrrepreneurship atau kewirausahaan.

Saran terburuk menurutnya ialah bekerja dulu buat pengalaman. Yang kemudian kamu tarus ke dalam CV kamu. Kita tidak bekerja untuk membangun resume pekerjaan. Tetapi dia melakukan sesuatu yang dia passion kan. Mengejar pengalaman bekerja memang aman tetapi melalaikan pengusaha.

Khusus buat kamu yang tidak yakin bekerja merupakan pertaruhan aman. Dia tidak berpikir karir ini semudah "Saya akan bekerja karena akan membangun resume dan akhirnya bekerja di tempat itu". Ia mengatakan tidak semudah tersebut, karena karir jaman sekarang adalah seperti gym penuh latihan.

Kamu harus bertahan dengan segala dorongan. Orang bisa berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Berpindah dari satu industri ke industri lainnya. Mungkin tidak akan menemukan satu tempat benar- benar aman.

Bila kamu mau bekerja dahulu, pastikan belajar mengenai kepegawaian dan industri. Inilah yang dia lakukan hingga menguasai industri lain. Entrepreneurship mengumpulkan pengalaman bukan untuk sekedar resume (CV kamu).

Tahu Organik Pengusaha Rudik Setiawan Premium

Profil Pengusaha Rudik Setiawan


pengusaha rudik setiawan

Tahu organik buat semua kalangan orang. Pengusaha Rudik Setiawan melihat bisnis dari kacamata berbeda. Dia mencoba mengembangkan bahan panganan organik yang sedang ngetrend akhir- akhir ini. Rudik mencoba berbisnis tahu goreng, bukan sembarang tahu, melainkan tahu berbahan organik.

Bermodal tekat, dia mencoba mengambil pangsa pasar kelas menengah atas. Alasanya dipahami karena bahan bakunya sangat mahal. Tapi, ia mengaku keuntungan tiap produksi bisa mencapai 15-20 persen saja.

Rudik bukanlah sembarang pengrajin tahu. Pendidikan S2 -nya mengambil jurusan agribisnis di Universitas Muhammadiyah, Malang, sehingga membuatnya paham manfaat produk olahan berbahan organik. Dia juga mengetaui aspek bisnisnya ke depan.

Pria kelahiran Malang, 4 Oktober 1984 ini, sudah memulai bisnis tahu sejak SMA kelas 3 di tahun 2001. Ketika itu dirinya melihat bagaimana bisnis tahu berkembang pesat. Tepat disebelah rumahnya ada pabrik tahu yang menyewa tempat.

Usaha Tahu


Rudik menginvastasikan modalnya ke usaha tahu tersebut. Investasi senilai 25 juta didapatnya dari hutang tetangga. Di tahun 2003, pemilik usaha tersebut bangkrut lalu membawa lari semua investasi miliknya.

Jadilah dia mengambil alih semua bisnis ini, ditambah lagi hutang investai dan hutang lain. Bertahap dia berhasil mengumpulkan uang, sedikit- demi sedikit bermodal menjual ampas tahu. Dia masih kekurangan bahkan terpaksa menjual tanah milik kedua orang tuanya.

Singkat cerita, tepat 29 Mei 2004, Rudik mengganti nama pabriknya menjadi industri tahu RDS (berasal dari ketiga anaknya, Rasendria El Furqonia, Dzufairo El Kamila dan  Muhammad Sirhan Syahzani). Ia tak menyerah kemudian melanjutkan bisnis bermodal uang sisa menjual tanah.

Dia setidaknya masih memegang uang 15 juta ditangan, semuanya itu dipasrahkan di bisnis tahu tersebut. Tak disangka persaingan bisnis begitu keras, dia mendapatkan cobaan lain yaitu pengusaha lain yang mencoba mempengaruhi pegawai.

Pengusaha saingan itu mencoba mempengaruhi mereka keluar. Caranya mudah dengan menjanjikan akan diberi uang saku cukup banyak, asal mereka mau keluar dari pabrik. Akhirnya ia ditinggalkan pegawai- pegawainya, setidaknya ada enam orang telah keluar, menyisakan dirinya saja di satu bulan berbisnis.

Namiun Rudik bertahan melalui anak- anak remaja di desanya, Klampok Singosari, Malang. Mereka memang lah buta akan pembuatan tahu tapi mau apalagi, diangkat lah mereka menjadi pegawai.

"Saya cari orang baru yang benar- benar tidak tahu tentang dunia tahu, disitulah mereka saya didik mulai dari nol," papar sarjana matematika, Universitas Brawijaya, Malang ini.

Dia menemukan pangsa pasarnya sendiri. Ia sadar betul kelebihan produk organik segera mengambil inovasi. Rudik  nekat merubah bahan baku tahunya menjadi kedelai organik. Meski mahal dia tetap yakin bisnisnya akan berhasil.

Dia mencoba berbagai hal menjadikan bisnisnya lebih efisien termasuk soal mesin. Rudik merancang sendiri mesinnya termasuk bagaimana mengemas tahunya.

"Saya habiskan waktu beberapa minggu untuk bisa menemukan teknik pembungkusan tahu agar awet dan menarik," ujarnya. Pabriknya menghabiskan 4 kintal kedelai organik tiap harinya, atau memproduksi sekitar 2 ribu- 2,5 ribu potong.

Bisnis Premium


Pangsa pasarnya meliputi pasar tradisional hingga supermarket atau mini- market di daerah Malang. Bukan hanya kelas atas saja ternyata menikmati tahu organik; tetapi semua lapisan masyarakat. Itu membuat  mereka yang mencoba umumnya ketagihan akan rasa.

Rasa mengalahkan uang dikeluarkan, ada sensasi sendiri ketika menikamti tahu Rudi. Rasanya terasa lebih lembut, tidak sangit, ataupun masam. Berlebel organik tahunya dijual seharga Rp.3000 per- kantong untuk kualitas biasa (berlebel pelangi warna merah).

Pengusaha Rudik Setiawan  menerapkan kualitas tinggi (berlebel pelangi warna hijau), Rudik akan menjualnya ke berbagai pasar swalayan seharga Rp.6000 per- kantong. Harganya lebih mahal dua kali dengan tahu biasa di pasaran yaitu Rp.1400 per- kentong.

Meskipun mahal tahu- tahu tersebut tetap laris manis dipasaran. Sang pemilik mengaku beromzet Rp.150 juta per- bulan. Meskin harga jual tinggi, ia mengaku tidak panik ketika harga kedelai naik. Seperti beberapa waktu yang lalu, dimana harga kedelai naik dari Rp.3.500/kg jadi Rp.8000/kg.

Dia begitu yakin karena memang biaya keseluruhan telah diperhitungkan matang- matang, mengingat dirinya ahli matematika. Bahan baku organik itu sendiri bukanlah dari impor melainkan petani lokal bersertifikat asal kawasan Jawa Timur.

Layaknya pengusaha lain tidak berhenti melihat kesempatan. Dia mampu merubah limbah tahunya menjadi bahan pupuk. Kala itu dirinya berpedoman bahwa tahunya tidak mengandung kimiawi. Dia kemudian membangun aliran menuju sawah milik orang tuanya, hasilnya volume panen meningkat.

"Saya juga mengembangkan limbah itu menjadi nata de soya dan biogas," ucap pria lulusan S2 agrobisnis tersebut.

"Tidak ada kata gagal dalam bisnis, yang ada cuma rugi saja, biasanya kita rugi materi, tetapi dibalik itu saya mendaptkan keuntungan immaterial, misalnya mental, pengalaman, relasasi, dan sebagainya yang tidak bisa dihargai dengan uang, jadi semua kerugian merupakan investasi untuk masa mendatang," tambahnya.

Bisnisnya memproduksi berbagai macam, ada tahu iris besar, iris kecil, dan stik tahu. Tahu iris besar dijual Rp.2.000- Rp.2.500 per- potong, khusus industri yang mengolahnya lagi. Iris kecil dijual Rp.1.700- Rp.2000 per- potong, sedangkan stik tahu akan dijualnya seharga Rp1.500 per- 400 gram.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba