Umur 16 Tahun Pengusaha Sukses Daur Ulang

Profil Pengusaha Maddie Bradshaw


bisnis daur ulang tutup botol

Maddie Bradshaw menunjukan bisnis daur ulang menjadi berbeda. Umurnya masih 16 tahun sukses menjadi pengusaha sukses. Ia menghasilkan $1,6 miliar melalui berjualan lewat Amazon dan lain- lain. Menjual lebih dari 600.000 kalung ke lebih dari 6000 retailer di Amerika Serikat.

Bermula dari gadis ini yang masih berusia 10 tahun penuh kreatifitas. Dia ingin menghias lokernya tetapi bosan. Maddie tidak menemukan cara kreatif beru mendekorasi. Ingin menemukan sesuatu yang original. Hingga dia bertemu pamannya yang mempunyai mesin minuman ringan.

Dia memberikan 50 tutup botol minuman kepada Maddie. "Teman ku melihat tutup botol ini, mereka mau membuat sesuatu dari itu," tuturnya.

Passion Pengusaha


Rasa antusias ketika melihat tutup botol tersebut. Ia lalu membuat pendan berbahan tutup botol. Dia mendekorasi menjadi perhiasan cantik. Namanya Snap Caps bertujuan menangkap dan merayakan keunikan tiap gadis.

Bukan sekedar mendekorasi, tetapi dia membuat tema dari bintang musik dan cerita anak. Dia cukup menjual 50 buah pertama kali. Begitu masuk toko langsung produknya laku keras. Barulah dia sadar bahwa ini akan menjadi sesuatu ke depan.

Dalam perjalanan ia menyadari uang bukanlah tujuan. Maddie hanya mencoba bersenang- senang. Tidak ada pikiran akan sesukses sekarang. Inilah yang membawanya senang membuat, dan tidak ada rasa takut kegagalan.

Bermodal $300 uang dari ibunya, membeli beberapa bahan, dan menghasilkan miliaran pertama dari sana. Ia mengajak saudara perempuannya Margot bergabung. Keduanya mendirikan perusahaan yang membuat perhiasan.

Margot menjadi vice- president bekerja dari desain, membuat, dan mengikuti pameran. Keduanya mulai mengikuti serangkaian peremuan bisnis. "Hal terbaik ialah perusahaan tumbuh bersama kami, ketika selera berubah maka desain pun berkembang," catatnya.

Maddie mendapatkan banyak sorotan dari berbegai media masa. Alhasil banyak anak- anak lain yang mencoba menghubungi. Para remaja ini bertanya bagaimana menjadi pengusaha sepertinya. Maddie pun meluncurkan buku berjudul "You Can Start Business, Too".

Bahkan dia meluncurkan beasiswa bagi para calon pengusaha. Ia senang mampu mengajak dan lalu menolong siapapun. "Tidak semua punya orang memiliki modal memulai seperti aku," jelasnya. Dia memang menarik perhatian media lokal dan nasional.

Dari ABC's, The View, dan Shark Tank meliput kesuksesn Maddie. Begitu pula penghargaan Teen Choice Awards. Dia merasa nerves ketika diwawancarai pembawa acara terkenal, Barbara Walters. Maddie bersemangat untuk membahas kemajuan hingga rencana masa depan perusahaan.

Pada Februari 2012, acara Shark Tank, Maddie menawarkan investasi $300.000 kepada kelima Shark investor. Ia menawarkan juga mentorship dengan perjanjian saham 13% dari perusahaan. Tiga orang setuju dengan penawaran yakni Mark Cuban, Robert Herjevic, dan Lorie Greiner.

Total investasi sampai miliaran dollar dari kelimanya. Semua direncanakan agar perusahaanya bisa go internasional. Bagi kalian remaja yang mau berwirausaha, ia mengatakan, "Ikuti passion kamu. Jika kamu memiliki ide dan mencintainya, maka orang lain akan suka, juga."

5 Pengusaha Sukses Berbisnis Limbah Sampah

Daftar Pengusaha: Sukses Berbisnis Limbah



Ia tidak menyangka hidupnya akan berbalik 180 derajat, justru karena limbah sampah.

Baedowy cuma bekas pegawai merasakan betul bekerja hingga tengah malam. Hidupnya berbalik itu ketika nekat memutuskan keluar dari kantornya. Dia saat itu 25 tahun, nekat hengkang dan memulai berbagai bisnis guna bertahan hidup. Dia kemudian berbisnis botol plastik bekas.

Modal awalnya hanya 50 juta, sebagian milik mitra bisnisnya. Baedowy kemudian mendirikan pabrik pengolahan sampah plastik, namun mulai ditinggalkan mitranya. Keduanya belum berpengalaman berbisnis.

Dilain hari mesin penghancur plastiknya sering sekali rusak. Jadilah Badowy berniat menjual bisnis ini. Tak kunjung laku, pengusasha ini memutuskan mengutak- atik mesinnya sendiri. Hasilnya dia malah menjadi ahli.

Ajaib ini berhasil membuat berbagai mesin pengolah sampah. Bisnisnya maju pasat bahkan mampu membeli tanah senilai satu miliar.

Singkat cerita, ia mendirikan perusahaan CV. Majestic Group, sebuah perusahaan pengolahan sampah yang bermitra sekaligus menjual mesin daur ulang. Dia tiap bulannya terhitung harus mengirimkan dua mesin ke China, sedangkan untuk olahan plastik sekitar dua kontainer tiap bulan. 

2. John Peter

John Peter baru saja naik kelas 2 SMP, ketika terpaksa keluar dari rumah berbekal seadanya. Dia hidup di tengah kota Cirebon, saat itu berumur 18 tahun. Dia selalu membawa sebuah koper berisi pakaian kamanapun langkahnya berjalan.

Sebuah keluarga TiongHoa kemudian mengangkatnya, memberikan rumah dan makan hingga lepas sekolah menangah. Di keluarga tersebut, ia belajar berbisnis secara otodidak melalui pengalaman.

Selepas sekolah, ia berniat melanjutkan ke ITB, dan diterima di jurusan ilmu kimia. Untuk itulah, John muda bekerja memastikan pendidikannya tetap berjalan lancar. Ditengah perjalanan, ia juga aktif kegiatan pelayanan di geraja menemukan sesuatu. Dia sadar bahwa pemulung berpenghasilan menjanjikan.

Berbekal tekat, meski buta akan menejeman bisnis, dirinya memulai bisnis sampah menjualnya ke pengepul. Waktu berlalu, ia telah memiliki beberapa pemulung dibawah naungannya; meraka bekerja sama.

Paling menarik ketika John rela tinggal satu atap, bersama- sama mencari uang dari ditumpukan sampah. Hingga bisnis tersebut mulai tumbuh dimana sebuah mesin pengolah telah terbeli. Dia lalu membeli mesin karena tertarik melihat harga biji plastik lebih mahal.

Dimana harga biji plastik bisa senilai Rp. 8.500 per- kg sedangkan berbentuk mentah hanya Rp.400 saja. Dia juga tak lagi menjual sampahnya ke bandar lain. Dari 18 juta per- bulan, bisnis itu tumbuh senilai Rp.800 juta- Rp.1 miliar per- bulan.

3. Indra "Novint" Noviansyah

Lajang 24 tahun ini dikenal akan keuletannya berbisnis sampah. Pembuktianya yaitu mampu mendirikan bisnis mandiri, yaitu bisnis sampah plastik, sendiri. Putra asli Pontianak merantau hingga ke kota Jakarta. Di sana selain berkuliah dirinya juga bermitra membangun bisnis sampah plastik.

Berbekal semangat ia tertarik memboyong bisnis ini hingga ke Pontianak. Melalui jalan kapal laut, dibawalah mesin berat seharga ratusan juta itu dari Jakarta ke Pontianak.

Guna meningkatkan kesadaran akan nilai sampah plastik, dia bekerja sama membangun bank sampah, selain itu juga bisa dapat bahan baku lebih murah. Dia menaruh tong- tong sampah khusus tanpa perantara pengepul, juga aktif berkeliling memberi penyluhan.

Pengusaha muda ini membeli sampah mereka langsung. Novint tidak hanya bekerja sama dengan masyarakat umum, tetapi hingga level pelajar, meski berlomba dengan para pengumpul sampah berat dirasanya.

4.Achmad Iskandar

Ide awalnya ketika dirinya mengikuti pameran dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Nasional di Balikpapan, Kalimantan Timur. Tepatnya Juli 2008, ia tengah berkeliling menikmati produk- produk daur ulang sampah plastik.

Dia terpikir kenapa semua hasil produknya selalu berbentuk konvensional seperti taplak, tas plastik, hingga produk lain yang sudah sering dilihat. Iskandar yang pernah menggeluti bisnis tanaman hias terbersit dipikirannya untuk membuat sesuatu yang berbeda.

Idenya adalah menciptakan vas bunga dengan plastik hasil daur ulang. Dia mencoba berbagai cara. Yang terakhir, Iskandar menggunakan wajan guna memasak sampah- sampah plastik tersebut. Setelah matang, ia akan menuangkannya ke sebuah cetakan. Dari sinilah sebuah vas unik berbahan plastik tercipta.

Ia menjual produknya masih di kawasan Kalimantan Timur. Tiap vasnya diberi harga bekisar Rp.25.000 per- buah, dan sudah bermotif.

Dia menemukan Marmo, batu tiruan yang bisa digunakan di lantai atau dinding. Marmo kemudian dia jual seharga 140.000 per- meter persegi. Dia mengaku membeli bahan baku sekitar Rp.500 per- kilogram, sedangkan satu vas beratnya 1 kg.

Artinya, ia mampu mengantongi laba bersih Rp.24.500 per- kg plastik. Dia juga sudah mempatenkan teknik pembuatan vas plastik daur ulangnya.

5. FX Harso Susanto

Bisnisnya berbicara tentang kerajinan tangan. Dia tidak hanya mengolah sampah, tetapi merubahnya menjadi aneka furnitur dan aksesoris. Namanya FX Harso Susanto, seorang seniman asal Yogyakarta yang merubah cara pandang tentang bisnis daur ulang.

Cara pembuatan produknya mudah, ia cukup mengumpulkan koran bekas kemudian mencampurnya dengan lem kanji. Dia memulai dengan memilin- milin kertas itu kemudian mulai membentuk betuknya.

Furnitur itu dibuat 100% berbahan kertas koran. Kendati berbahan kertas, furnitur itu bisa menahan beban hingga 200 kilogram. Bicara harga produk tersebut dibandrol Rp.8.000- Rp.300.000. Pemasarannya melalui berbagai cara, terutama media online di berbagai situs jejaring sosial.

Untuk sekarang ia mengaku mampu membuat 50 jenis. "Pernah saat mengikuti pameran di Jakarta, bapak President SBY mencoba menduduki kursi buatannya," imbuh pria gondrong ini

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba