Tidak Malu Menjadi Pengusaha Gerobakan

Profil Pengusaha Muhammad Ferryal


beranipengusaha.png
 
Tidak malu menjadi pengusaha gerobakan. Anak muda berusia 20 tahun, namanya Muhammad Ferryal R, dan berbisnis kuliner bukan monopoli wanita. Suksesnya tidak disangka- sangka sebab berawal dari hobi makan.

Dia hobi makan hobi makan lumpia rebung. Ferryal cuma mencoba memperkenalkan kesukaanya. Nasib memang tak disangka arahnya. Bermodal resep di internet, pemuda 20 tahun ini, sukses besar menghasilkan omzet Rp.25 juta per- bulan.
 

Jadi Pengusaha Muda


"Saya suka makan lumpia rebung. Makanya badan saya melar begini. Dari situ dimulailah niat membuka usaha  lumpia," terangnya.

Pertama kali membuat tak langsung enak. Butuh waktu hingga rasanya sesuai harapan. Hampir 2 bulan sudah resepnya selalu bergonta- ganti. Sambil disela- sela bermainnya, Ferryal akan iseng membuat lumpia lagi, begitu sudah matang langsung diberikan temannya. 
 
Begitu terus prosesnya hingga ia mendapatkan resep enak. Dia tak kecewa jika komentar negatif muncul. Ia juga tanggap jika ada orang memberikan masukan.

Ketika sudah mantap akan resep lumpianya. Dia segera menjajakannya melalui grobak dorong. Pemuda 20 tahun, mahasiswa Bisnis Pariwisata Universitas Brawijaya Malang ini, tak malu harus mendorong- dorong gerobaknya keliling Kota Malang. 
 
Modal awalnya cuma Rp.5 juta hasil tabunganya sejak lama. Dia memang nekat mendorongnya menepi di tempat ramai dan strategis.

"Saat ini saya sudah punya 5 gerobak lengkap dengan pekerjanya," aku Ferryal bangga.

Jangan salah meski cuma modal gerobak dorong. Dia sukses mereguk omzet Rp.20- 25 juta. Bukan tanpa kendala dirinya menjelaskan. Harga bahan baku naik turun menjadi kendala besar. Kalau di hari- hari harga bahan bakunya turun, ia mengaku bisa mereguk untung lebih. 
 
Kalau pun bahan bakunya naik tak membuat Ferryal rugi; meski untungnya mepet aja. Di Malang, satu lumpianya dijual cuma Rp.2 ribu. Bisnis yang bernama Lumpi Kriuk ini, kedepannya, ia telah targetkan merambah Kota Surabaya. Pantang menyerah menjadi modalnya. 
 
Tapi menurut penulis, hal yang paling menonjol dari sosoknya justru keberaniannya. Sosoknya tak malu cuma berjualan gerobak keliling. Ia merupakan contoh pengusaha muda visioner.

"Tak ada modal itu bukan hambatan, yang penting kemauan dan tekad yang besar. Pokoknya banyak cara untuk memulai wirausaha," tegasnya.

Lumpia Kriuk itulah nama produk olahannya. Tak cuma terbatas di lumpia goreng biasa saja. Farryal sudah berhasil membuat varian rasanya. Olah lumpia tanpa bahan pengawet ini, mempunyai tiga varian rasa utama, rasa Jamur Ayam, Jagung Manis, dan Bhin Ayam. 
 
"Semuanya tanpa bahan pengawet," tuturnya. Di Malang sendiri sudah ada lima outlet resminya.

"Saat ini Lumpia Kriuk dapat dibeli di Pasar Besar, Blimbing, Watugong, kawasan Adi Sucipto, Sukun dan Sigura- gura," jelasnya lagi.

Keinginan menjadi wirausaha memang sudah lama. Dan, langsung itu sukses melalui resep rahasia Lumpia Kriuk miliknya. Berkat lumpia pula dirinya dipilih menjadi salah satu peserta Wirausaha Muda Mandiri. Namanya masuk menjadi salah satu perwakilah kampus. 
 
Untuk acara ekspo -nya Wirausaha Muda Mandiri memberi kesempatannya memperkenalkan. Bahkan sukses menjual tiga ribu buah di acara tersebut. Ia tidak malu menjadi pengusaha gerobakan. Tidak capai berkeliling Ferryal berkeliling berjualan.

Pengusaha Wanita Papua Sukses Mie Rumput Laut

Profil Pengusaha Yubelina Rumbino


pengusahapapua.png

Pengusaha wanita Papua namanya Yubelina Rumbino. Dia sukses berkat mie rumput laut. Sebagai masyarakat asli Papua, dirinya tau betul kualitas alamnya sampai ke dasar laut. Ia menjadi pertama yang melihat peluang tersebut.

Dia warga asli Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, yang membuat mie berbahan asli rumput laut. Ini benar- benar kering seperti halnya mie terbuat dari beras saja. Mungkin menjadi satu- satunya dan pertama kali di Indonesia. 
 

Sukses Mie Rumput Laut

 
Mie rumput laut diperjual belikan berwujud kering, membuatnya jadi awet dan tahan lama. Yubelina pun menceritakan kisahnya. Ide awal muncul ketika melihat harga rumput laut di daerahnya terlalu murah. Padahal di pesisir laut Kepulauan Yapen, rumput laut tengah pada musimnya buat dipanen. 
 
Di tempatnya tinggal pula dikenal sebagai sentra penghasil rumput laut terbesar di Papua. Apa yang salah?

Sejak dulu warga Yapen memang sudah pandai mengolah rumput laut. Namun, jika dijual bentukan mentah maka harganya tidak menjanjika. Oleh karena sejak empat tahun silam, Yubelin mencoba membuat aneka produk olahan rumpu laut. 
 
Daripada menumpuk dan dijual pun harganya tidak bagus. Proses pembuatan dari mie instan rumput laut masih terbilang sederhana; butuh sentuhan investai mungkin.

"Proses pembuatannya ada beberapa tahanp," jelas Yubelina. Pertama, ambil rumput lau segar kemudian ia keringkan, kemudian direndam, lalu dikeringkan kembali kedua kalinya. Selepas itu barulah diproses untuk dibuat adonan mie.

Kedua, rumput laut kering habis dikeringkan kedua kalinya, dimasak direbus hingga akhirnya berbentuk jadi bubur. Inilah bekal adonan mie rumput laut yakni bubut rumput laut. Bubur kemudian ditambahkan bahan- bahan lain agar pada seperti adonan. 
 
Layaknya membuat adonan kue saja, benar- benar masih berbahan sehat seperti telur, sedikit tepung terigu, dan garam. Karena namanya mie rumput laut penulis berpikir akan sengat sedikit tepungnya. Ia mengungkapkan tahapan diatas bahkan tidak membutuhkan sentuhan mesin berat.

Setiap harinya, Yubelina membutuhkan 10kg bubur rumput laut, yang bisa dibuatnya menjadi 20 sampai 30 bungkus mie rumput laut. "Satu bungkus isinya 400 gram," terangnya. Per- bungkusnya kemudian dijual 20 ribu. 
 
Jumlah produksinya masih terbatas karena kurangnya pasokan listrik. Dalam seharinya bisa produksi sampai 150 bungkus seharinya. Dia cuma dibantu satu orang pegawai. Hanya dibutuhkan satu keryawan membantunya merebus bubur. 
 
Soal pengeringan mie masih membutuhkan energi panas matahari. "Kalau pakai mesin pengering daya listriknya tidak akan cukup," jelasnya. Meskipun dibuat sangat sederhana tapi permintaanya membludak loh. 
 
Bahkan Yubelina sering kelabakan melayani permintaan pembeli. Dibanding mie telor atau mie instan, mie rumput laut keringnya dijamin lebih bebas dari bahan pengawet. Ia juga menambahkan mienya lebih kenyal. Menjadi oleh- oleh paling laris jika para pengunjung mengunjungi kawasan Yapen. 
 
Mereka akan membawanya ke Jakarta dan Surabaya. Omzetnya bisa mencapai Rp.8 juta per- bulan. Memang punya kekenyalan tersendiri ketika kamu memasaknya. Dan, yang pastinya dijelaskan ini lebih sehat dibanding mie lain. Apalagi rumput lautnya dibuat di perairan sehat yakni di Papua.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba