Kisah Nyata Pengusaha Warteg Merintis Karir

Profil Pengusaha H. Karjo


kisah usaha warteg
 
Berikut kisah nyata pengusaha warteg merintis karir. H. Karjo, pria 53 tahun yang sekarang warga Kelurahan Kalinyamat Kulon, Margadana. Pak Karjo menjelaskan merintis usaha warteg itu jangan melihat sekarang. 

Orang lihat ketika pulang kampung, masyarakat Tegal akan nampak mewah karena telah sukses. Para pemilik warteg tersebut pasti pulang bawa mobil. Tetapi Pak Karjo menjelaskan sempat tidak punya uang. Satu keluarga kesulitan buat makan sekitar 20 tahun silam.

"...lihat saja 20 tahun lalu, kami hidup untuk makan saja sulitnya minta ampun," tutur H Karjo. Orang cuma melihat sekarang ketika sukses disisi usaha.

Usaha Warteg


Ketika kamu berkunjung ke rumahnya di Kota Tegal akan berbeda. Diman diluar nampak sederhana tetapi siap sangka banyak isinya. Karjo memiliki beberapa mobil jenis kijang berjejer. Sekarang pun masih membangun rumah ditempat lain senilai Rp. 1 miliar.

Pastilah awam akan melihat bahwa menjadi pemilik warteg enak. Padahal Karjo sempat tidak punya pekerjaan. Pernah dia menjadi pedagang asongan ketika tiba di tahun 1972. Dia yang merantau lantas ikut bekerja di warteg orang lain.

"Kalau boleh dibilang, banyak dukanya pada saat itu. Apalagi setelah menjadi pedagang asongan, saya ngenger (ikut) di tempat usaha warteg orang lain," imbuhnya.

Dia dibayar cuma Rp.60.000 perbulan kadang dibayar kopi. Kadang Karjo dibayar jam tangan atau segelas kopi laken. "Senangnya minta ampun," celetuk Karjo. Kehidupan merantaunya dilakukan sejak 1985.

Pak Karjo bertahap membangun usaha warteg sendiri. Dia banting stir, bersama istrinya mencoba buat mendirikan warteg kecil- kecilan. Karjo membukan warung kecil di kawasan Glodok, Jakarta Barat.

Pasangan suami istri ini tidur bersama menyatu dengan dapur. Bahkan, kalau mau tidur wajib buat mematikan kompor. Warung kontrak dengan biaya sewa Rp. 60.000 pertahun, atau sekarang mah Rp. 9 jutaan.

Kondisi tersebut dilakonai pasangan suami tersebut. Dari waktu ke waktu dijalani tanpa mengeluh malah bersyukur. Ia berkata bahwa suka duka menjadi pengusaha warteg sudah dilalui. Karjo coba menikmati dan meyakini masa depan lebih baik.

Modal Karjo adalah ketekunan menjalankan usaha tanpa mengeluh. Kisah nyata pengusaha warteg merintis karir. Hingga Pak Karjo memiliki tiga warteg berukuran lumayan besar, satu ada di daerah Kemurnia, Jakarta Barat, dua warung di Glodok.

"Ya Alhamdulillah. Berkat karunia Allah, usaha saya sekarang cukup baik," ucap Karjo. Bersama tumbuhnya waktu, suami dari Hj. Siti Fatimah (44), mampu membangun usaha besar.

Berkat kualitas masakan sehingga digemari masyarakat dan para artis. Dia pernah melayani sosok seperti Taufik Savalas, Mpok Atik, dan Gogon. Itu berkat rasa syukur sehingga masakan wartegnya enak.

Bapak enam putra akan pulang kampung ketika telah musim lebaran. Tentu dia sudah nampak mapan sebab telah sukses. Musim lebaran merupakan tempat berkumpul keluarga. Karjo pun bernazar akan membangunkan rumah buat anak- anaknya.

Ketika ditemani pewarta nampak pria paruh baya berkaos oblong bersarung. Dia ditemani istirinya ketika ditemui di ruang tamu. Ia menjelaskan tengah membangun rumah. Enam rumah dengan nilai miliran rupiah buat tempat bernaung.

Nazarnya termasu menanggap dalang wayang golek Ki Enthus Susmono. Walau berkumpul ketika lebaran saja sangat menyenangkan. Cerita sama ditemui pengusaha warteg lain. Mereka juga bermula bersyukur, contoh H. Casmadi, yang bahkan sudah punya masjid dan pesantren dengan 500 santri.

Pengusaha Limbah Wanita Berkarya

Biografi Pengusaha Irene Holle


pengusaha limbah wanita

Irene Holle, pengusaha limbah wanita kelahiran 29 April 1974, membuktikan sukses berbisnis limbah bukan cuma milik pria. Tak pernah terpikir sekalipun, awalnya, tapi kini Irene memiliki PT. Recycle Indonesia Utama Mandiri (Recyclindo), bisnisnya moncer lebih besar dari pengharapan awal.

Irene pernah berangan- angan punya bisnis kuliner atau restoran, bukan pengolahan sampah gini. Kesemuanya berubah, ketika dia menemukan bahwa masyarakat cenderung cuek soal sampah.

Pemikirannya diwujudkan melalui membeli sampah dari staf housekeeping hotel; berupa sampah botol, dan kaleng alumunium, kemudian dijual.

"Kalaupun mimpi punya bisnis, saya ingin berbisnis kuliner atau restoran, karena bidang saya F&B," ujarnya.

Bisnis Sampah


Bisnis sampah Irene mulai tertarik akan pengolahan sampah berkat kursus. Dia kemudian mengambil kursus 3 hari intensif. Irene mengambil kursus intensif zero waste management dari BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi).

"Dari kursus itu, wawasan saya makin terbuka tentang apa yang bisa saya lakukan pada sampah." terangnya.

Disaat mengambil kursus itu, ada pengalaman membekas, salah satunya yaitu disaat kunjungan ke tempat pembuangan sampah Bantar Gebang, Bekasi dan rumah jagal DKI di daerah Cakung. Irene tertegun melihat berbukit- bukit sampah.

Ia seperti mabuk karena tak terbiasa mencium bau sampah begitu banyak. Apalagi, ternyata ia punya alergi debu. Di rumah jagal lain lagi, ceritanya didekat tempat itu ada tempat pembuatan kompos, buanya benar- benar mengganggu.

"Ya, ampun, baunya tajam dan menyengat! Setelah kunjungan itu, saya langsung jatuh sakit. Tapi, dalam 3 hari itu banyak sekali pelajaran berharga yang saya peroleh," tutur Irene.

Usahanya itu berjalan setahap demi setahap. Tidak langsung sukses seperti orang bayangkan sekarang. Dia memulai dengan mengumpulkan sampah- sampah kering, kemudian naik- turun truk membawa wadah plastik kresek ke mana- mana.

Irene, akhirnya, telah memiliki langganan pemasok sampah sendiri. Ia kemudian mendapatkan kontrak mengangkut sampah non- organik. Sisa sampahnya kemudian dibuang ke tempat milik Pemda

Irene tak segan mengeluarkan uang Rp.100 juta jadi modal. Modalnya buat membeli satu truk second- hand dan menyewa lahan sebagai gudang. Ia menjelaskan menyewa lahan mutlak termasuk dalam pengolahan.

Dia menambahkan mengolah sampah organik itu tak mudah, atau bisa dikomplain tetangga salah- salah. Usaha tersebut didirikan di kawasan Cingangka, Sawangan, Depok. Irene juga berminat mencari lahan baru seperti di daerah Parung, Bogor.

Ia ingin memaksimalkan pengolahan sampah. Sejak akhir 2009, di tempat baru, ia mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos.

"Learning by doing. Kami hire konsultan untuk memastikan proses yang kami lakukan ini sudah benar. Misalnya, kompoisi dan kelelembapannya. Kompos harus selalu basah, supaya cepat busuk." terangnya.

Untuk omzet jasa pengangkutan bisa mencapai sekitar Rp.15 juta per- bulan. Balum lagi, pemasukan dari penjualan sampah daur ulang beratnya beratus- ratus kilo, bisa menghasilkan sekitaran Rp.5 juta -an.

Untuk pengolaham sampah organik, kisaran omzet per- bulan bisa mencapai Rp.5 juta. Banyaknya sampah organik sisa bahan makanan dari hotel dan resto membuat Irene memiliki ide lain. Irene pun berpikir tentang membuka usaha peternakan lele di Parung.

Sisa makanan ini cukup dijadikan bahan pakan lele. Dari usaha ini omzetnya bisa mencapai Rp.10 juta. Jadi total pemasukan bisnis bisa mencapai Rp.45 juta per- bulan.

Irene mangaku belakangan dipercaya perusahaan besar mengolah sampah mereka. Banyak perusahaan yang tak ingin sampahnya terbuang begitu saja. Irene menyebut ini usaha menciptakan budaya ramah lingkungan.

Perusahaan juga memiliki tanggung jawab yang dituangkan di CSR mereka. Konsep ramah yang ditawarkan perusahaan miliknya menjadi daya tarik tersendiri.

"Mulai banyak perusahaan yang sudah menerapkan konsep ramah lingkungan kemudian memilih kami. Mereka tidak mau sampahnya tidak diapa- apain. Hal itu rupanya sudah menjadi bagian dari komitmen CSR mereka," tutur Irene.

Sampah- sampah daur ulang sangat diminati oleh perusahaan pengelohan limbah. Sampah seperti kantong plastik, kertas, kardus dan botol kaca, banyak sekali pabrik yang membutuhkan. Salah satu perusahaan yang berminat membeli sampah- sampah tersebut ada sebuah pabrik di Tangerang, Parung, Cikarang.

Sampah- sampah tersebut kemudian diolah menjadi bentuk lain. Sampah alumunium dan kaleng bisa langsung dilebur, digunting, atau diolah menjadi berbagai handycraft; botol gelas bisa dipakai lagi. Jika botol tersebut sudah tidak bisa terpakai, diolah oleh pabrik keramik.

Kardus dan kertas diolah kembali oleh pabrik kertas. Botol soft drink yang terbuat dari bahan jenis polyethylene terephthalate, bisa diolah menjadi bahan kain yang stretch Sampah di Parung akan diseleksi oleh Irene, kemudian dikelompokan berbagai kategori.

Sampah plastik dibagi menjadi beberapa jenis, misalnya ada plastik berupa kemasan botol sampo, kemasan botol air mineral, kemasan soft drink, dan plastik hitam.

Lalu sampah dipisahkan mana bisa didaur ulang dijual lagi. Sampah organik akan dibuat pupuk kompos dan pupuk cair. Sampah dari sisa makanan bisa digunakan pakan ikan dan hewan ternak. Residunya, yang tidak bisa diapa-apakan, baru dibakar di oven pembakaran.

Bisnis Besar


Dulu di awal usahanya Irene harus rela mencari- cari pabrik untuk dipasok sampah daur ulang. Kini, klien itu datang sendiri ke perusahaan miliknya agar mau dipasok. Meski belum berencana untuk membesarkan bisnisnya lebih lagi, ada rencana agar tiap sampah bisa jadi barang pakai lagi.

Belum lama, Irene melakukan percobaan dengan menanam cabai serta papaya jenis california. Ia tengah mengeksplorasi bisnis di bidang nursery untuk memanfaatkan pupuk organiknya.

"Kini saya sedang ingin mempelajari cara membuat pelet ikan dari sisa makanan. Saya dengar di Sumatra Barat ada orang yang mendapat penghargaan, karena sukses mengolah sampah pasar menjadi bahan makanan ikan. Saya sedang mencari infonya," tutur Irene, bersemangat.

Irene punya kebiasaan unik ketika menjalankan hobinya bertreveling ke berbagai negara. Ia tidak memilih tempat- tempat indah sebagai objek potret. Irene asik mengamati tempat sampah dan pengolahan sampah di tiap kota disambanginya.

Ia mengaku takjub akan masalah manajemen persampahan di luar negeri. Tempat- tempah sampah di mana-mana sudah dipisah sesuai jenisnya.

Di Australia, tempat sampah ditandai warna- warni kuning, biru, dan merah. Perusahaan yang menangani pengangkutan dan pengolahan sampah biasanya berdasarkan tender resmi. Di sana, pemerintah punya plan pengolahan sampah dan menerapkan zero waste management.

Di Singapura, ada pengolahan sampah kertas dimana usahanya telah lama dijalankan. Menurut Irene usaha pengolahan sampah di Singapura merupakan masalah serius; bahkan masuk bisnis bermodal mahal.

Namun, setelah tau cara mengolahnya bisa menjadi sumber pendapatan ujarnya. Irene bercerita di Singapura juga punya teknologi pengolahan sampah maju. Sampah dipisah residunya langsung ke tempat pembakaran sampah.

Di Dubai lain lagi, setiap beberapa unit rumah dan vila disediakan kontainer sampah tertutup. Truk sampah datang setiap hari saat masih gelap. Irene merasa miris ketika melihat Indonesia dimana kesadaran membuang sampah sangat rendah.

Ada daerah harus menyewa truk sampah secara patungan. Di tempat pembuangan sampah akhir, semua- semua sampah dibiarkan saja tanpa diolah ditumpuk- tumpuk. Irene berharap pemerintah bersedia menyubsidi tempat-tempat sampah agar tercipta lingkungan bersih.

Di setiap beberapa titik harus disediakan tempat sampah besar atau kontainer.

"Kalau melihat tumpukan sampah, saya geregetan ingin mengangkut. Tapi, kalau saya angkut hari ini, biasanya besok akan ada lagi. Hari ini ada satu, besoknya ada lagi yang melempar," tutur Irene, yang akan menyambut baik para pemain baru di bisnis ini.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba