Pengusaha Tas WeBe Biografi Wenny Sulistiowaty

Biografi Pengusaha Wenny Sulistiowaty

 
taswebe.png
 
Biografi Wenny Sulistiowaty pengusaha tas WeBe asli Indonesia. Dia merupakan sedikit dari sosok pengusaha pengolah limbah. Wenny merubah enceng gondok menjadi tas. Taukah bahwa tanaman itu sudah dikenal mampu diolah kerajinan.
 
Dia menjadi sedikit banyak pengusaha yang mampu mengemas produk ini secara modern. Berawal dari hobi. Ia memulai semua dari hobinya membuat berbagai kerajinan dari eceng gondok. 

Produknya tidak hanya tas hand- made, ada aksesoris, juga bingkai foto dan vas. Namun, dari kesemuanya, produk tas lah yang paling mendapat banyak perhatian. Produknya kemudian kita kenal sebagai tas WeBe, nama yang diambil dari nama pasangan Wenny dan suaminya (Budi).
 

Bisnis Handmade


"Saya ingin, handmade yang saya produksi berkualitas tinggi, elegan, eksklusif, dan dapat bersaing, baik di dalam maupun di luar negeri," pungkasnya.

Ia mengawali semuanga atas dasar hobi. Dia jadi salah satu pengusaha yang percaya dari hobi bisa menjadi bisnis. Itu bukanlah isapan jempol. Wenny telah membuktikannya sendiri. Sebenarnya ia suka sesuatu yang modis dan bemerek. Maka ketika menuangkannya dalam hobi. 
 
Hasilnya, sebuah produk- produk yang tak kalah kualitasnya dari produk impor. Meski berbahan eceng gondok. Anda tak akan melihat tanda guratan- guratan bahwa produk ini dari tanaman eceng gondok.

Tahun 1998, Wenny tengah mengambil kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah. Waktu itu ia yang tengah mengerjakan skripsi berpikir untuk membuka usaha sendiri. Kala itu sebenarnya tak mendukung karena krisis moneter. 
 
Tapi ia tetap memberanikan diri membuat usaha sendiri. Dia hanya akan memanfaatkan sumber daya sekitar. Tak perlua meminjam ke Bank. Wenny pun mulai membuat berbagai macam kerajinan tangan.

Usaha kecil- kecilan yang jutru menguntungkan. Toko pertamanya dibuka di JL. Wahid Hasyim, Kranggan, kawasan pecinan di Kota Semarang, Jawa Tengah. Usaha pertamanya mempekerjakan ibu- ibu muda, ia dengan penuh kesabaran mengajari mereka. 
 
Wenny mengutamakan kualitas mengajari mereka bagaimana agar bekerja dengan rapih. Memulai dari pameran ke pameran, dia kemudian mengamati dari sekian banyak produk karyanya, tas dari eceng gondok, rotan, mendong, dan agel paling diminati. 
 
Sejak saat itulah ia fokus pada pembuatan tas saja. Bahannya tak hanya dari eceng gondok, tapi bahan lain di sekitara Yogyakarta dan Solo. Dia mencoba untuk membuatnya berbeda dari segi kualitas, model dan warna. Hingga suatu saat ada permintaan ekspor.

Mulai di tahun 2000, ia mulai menjajal pasa ekspor dengan tas- tas buatannya. Dia, kala itu, dibantu oleh suaminya Budi Husodo, yang kemudian bersama membangun PT. Webe Inter Tirzada. 
 
Sasaran ekspornya lalu meliputi negara- negara kawasan Asia, seperti Jepang, kemudan merambah Amerika Serikat dan Eropa. Kala itu ia belum menggunakan merek WeBe sebagai brand andalannya. Dan telah cukup lama mengerjakan pasar ekspornya. 
 
Wenny menjadi sosok yang semakin matang. Dalam berbisnis ini ia mengamati bahwa orang Jepang menyukai apa- apa dari kain. Sementara itu Amerika Serikat dan Eropa menyukai bahan- bahan alam. Melalu pengamatan dia menjual produknya dengan strategi khusus. 
 
Pengusaha tas WeBe memproduksi tas sesuai musim. Baik model ataupun warna kesemuanya telah disesuaikan kebutuhan konsemen di sana, tidak asal kirim.

Pasarnya di luar negeri semakin kokoh. Lalu bagaimana dengan pasar dalam negeri? Justru disini, produknya lebih dikenal di Jakarta, bukannya di Semarang. Setiap ada kunjungan pastilah mereka yang dari pusat. 
 
Itu semua berkat pemerintah kota Semarang sendiri yang merekomendasikan perusahaanya. Hasilnya mereka para ibu- ibu jadi melirik produk buatannya. Dari pengamatan kami, apa yang membuat produk Wenny jadi berbeda adalah konsepnya.

Tas buatan Wenny tak nampak seperti buatan dari eceng gondok. Teksturnya yang seperti produk tas buatan pabrikan luar semakin menyegarkan. Tak ayal dari mulut ke mulut pamor tasnya telah menyebar di penjuru Jakarta. 
 
Tasnya menjadi sasaran kaum sosialita disana. Intinya adalah kualitas. Prinsipnya adalah "Tuhan sudah memberi talenta, tinggal bagaimana tiap individu itu mau mengembangkan. Setelah diberkati, coba pula untuk memberkati orang lain. Tuhan memberi apapun tanpa ada batasan. 
 
Maka, manfaatkanlah apa yang telah diberikan Tuhan, sebelum apa yang diperoleh akan dihentikan suatu ketika tanpa diduga siapapun."

 Tas WeBe


Ekspor tas eceng gondoknya telah mencapai puncak di tahun 2007. Dia sadar akan produknya. Produknya waktu itu yang dijual tanpa merek, perlu dihentikan. Wenny ingin produknya dikenal sebagai tas merek asal Indonesia. 
 
"Kalau saya ekspor tetapi tidak menggunakan merek sendiri, Indonesia, khususnya Semarang, tidak akan dikenal," kata dia.

Seiring masa kontrak ekspornya selesai. Wenny sigap menghentikan ekspor tasnya. Selepas berhenti ekspor ia tak langsung membuat merek untuk produknya. 
 
Langkah pertamanya adalah membangun galery WeBe Gallery dan WeBe Art di Semarang. Tujuannya agar semakin dikenal dulu bahwa produk itu dari Semarang, Indonesia. Ia menginginkan bahwa siapa yang ingin membeli produk buatannya haruslah ke Semarang.

Usaha rumahannya telah berkembang sangatlah pesat. Pabriknya telah resmi didirikan di kawasan industri Candi. Di pabriknya ini anda akan disuguhi bagaimana tas- tas tersebut diproduksi secara besar- besaran. 
 
Seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa pembelinya bukanlah masyrakat biasa. Mereka pembelinya adalah para kolektor dan pecinta seni khususnya. Lalu, bagi masyarakat, mereka masih memandang produk yang bermerek dan modis.

Karena itulah Wenny berbalik arah. Ia menyasar produk- produk berbahan kain. Produk buatannya yang sebelumnya ditujukan untuk ekspor ke Jepang, dibalik arahkan. Hasilnya produk buatannya yang satu ini sangat diminati pasar Indonesia. 
 
Sepanjang tahun 2007- 2009, Wenny hanya fokus pada pengembangan model untuk brand -nya. Ia fokus pada model dan desain tasnya. Adalah sebuah penelitian panjang hanya untuk menemukan warna- warna yang pas.

Kemudian tas bermerek WeBe secara resmi diluncurkan. Dia memperkenalkan mereknya melalui berbagai pameran. 

"Pameran pun saya buat terbatas. Hanya undangan yang menghadiri pameran saya. Seluruh relasi saya, termasuk para pejabat yang pernah datang ke pabrik, saya undang. Cara ini sengaja saya lakukan untuk menciptakan citra eksklusif pada produk merek WeBe," tutur Wenny.

Di tahun 2010 hingga 2011 Wenny berpikir membuka usaha di tengah kota. Jika sebelumnya para pembeli harus masuk ke kawasan industri, kini, tak perlu lagi. Dulu masyarakat yang biasanya akan berombong untuk masuk ke kawasan industri. 
 
Kini, telah tersedia di tengah kota, produknya bisa ditemui di gerainya di tengah kota. Ini memang sudah menjadi cita- citanya sejak dulu tambahnya. Wenny tak hanya membuka gerai. Dia membuka khawasan penjualan suvenir di kawasan Semarang, yang kemudian diberi nama Kampoeng Semarang. 
 
Tak hanya ingin memajukan produknya sendiri. Ternyata Wenny ingin agar perajin asal Semarang pada umumnya dikenal melalui Kampoeng Semarang. Tempat yang lokasinya seluas sekitar 4.000 meter persegi di kawasan Semarang Utara, Kampoeng Semarang. 
 
Tempatnya kerap menjadi tujuan wisatawan untuk membeli suvenir khas Semarang. Wenny, kini, telah memiliki 100 karyawan yang berasal dari daerah rawan rob dan banjir itu untuk menjadi pegawai di Kampoeng Semarang. 
 
Produk tasnya ada 40 macam model dan 40 ragam warna berbeda untuk anda koleksi.Ia menambahkan apa yang menjadi kekuatan brand WeBe sekarang: warna- warna yang kuat. Dimana jika anda memilih warna apa yang cocok untuk pakaian anda, tas WeBe telah siap. 
 
Tas buatannya telah melalui pasang surut sehingga kualitasnya tak dipertanyakan lagi. Baik material dan model semuanya telah dipikirkan matang oleh seorang Wenny Sulistiowaty Hartono. Modelnya tak akan konu karena si empunya sendiri suka dengan produk modis.

Meski tak lagi secara masal melakukan ekspor. Nyatanya produk WeBe tetaplah berupaya meningkatkan ekspornya. Meski begitu dengan banyaknya produk tiruan dari China, menjadi perhatian khusus Wenny. Ia berkata ketika ke Guanzhou, dia menemukan produk tiruannya. 
 
Tas WeBe yang dijual lebih murah dari apa yang dikerjakannya. Meski kesal dia tetap lega karena merek menjual produk tiruan itu asli Indonesia, asli produksi Semarang.

Biografi Wenny Sulistiowaty Hartono


Lahir: Purwokerto, Jawa Tengah,  10 Oktober 1976

Pendidikan:

1. SD Kristen 3 YSKI Semarang, Jawa Tengah
2. SMP YSKI Semarang
3. SMA YSKI Semarang
4. S-1 Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga

Pekerjaan:

1. Pemilik PT Webe Inter Tirzada, 1998
2. Pemilik Kampoeng Semarang, 2012
3. Pendampingan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)

Biografi Tony Fernandes Bisnis AirAsia

Biografi Pengusaha Tony Fernandes

  
tonyfernandes.png
 
Pria dibalik kesuksesan bisnis AirAsia. Biografi Tony Fernandes, atau Anthony Franches Fernandes bermula akan kritik terhadap penerbangan. Di jamanannya hiduplah era dimana perbedaan setatus begitu terasa. 
 
Berbeda di Indonesia yang memang sudah beda, di Malaysia, kamu tak akan menemukan perbedaan sangat mencolok. Satu kendala seorang Tony menjajaki karirnya bukan sebagai orang pribumi. Maka dalam biografi Tony Fernandes tidak mudah.

Ya, di jamannya, mungkin hingga sekarang adanya satu pembedaan tentang orang pribumi atau tidak terasa. Dia tidak mudah mendapatkan modal apalagi kekayaan.

Berani Bermimpi


Alkisah, pertumbuhan Malaysia begitu pesat semua karena ikut andil tangan pemerintahnya. Dimana di tahun semenjak tahun kemerdekaan Malaysi di Agustus 1957, negara yang dulunya negara agrari ini telah berubah menjadi negara industrial. 
 
Di akhir tahun 1960 -an, dengan jenuhnya pasar impor, negara Malaysia memilih untuk menjadi negara eksportir. Mei 1969, muncul demonstrasi karena pemerintah terlalu berpengaruh. Dimana pemerintah ikut campur sangat dalam soal pembagian kekayaan. 
 
Hampir mirip jaman orde baru kita. Disini terbaliknya dimana pemerintah fokus pada orang pribumi bukan orang asing. Di jamannya itu, kekayaan terbagi tiga ras: yaitu ras Bumiputra (pribumi), Chinese, dan India.

Dimana entrepreneurship kokoh didalam diri orang beras Chinese, dan India juga punya kelebihan pada hal tertentu. Sementara orang Bumiputra kurang dalam entrepreneurship -nya.

Tony lahir 30 April 1964, keluarganya tidak pernah berpengalaman atau kenal entrepreneurship, Ayahnya seorang tabib dari Goa (India), sementara ibunya itu seorang guru musik yang keturunan Malaka- Portugal. 
 
Atau dengan kata lain, Tony datang dari keluarga India- Malaysia dari golongan profesional. Dia itu berasal dari kelas menengah. Seperti halnya anak kelas menengah lain, keluarganya tentu mampu mengirim Tony bersekolah hingga ke London.

Fernandes ketika berumura 12 tahun pergi ke London di tahun 1976. Dia bersekolah di Epsom Collage lalu lulus dan melanjutkan pendidikan di London School of Economics, dimana ia lalu lulus pada tahun 1987, dia mendapatkan gelar sarjana akuntansi. 
 
Totalnya dia telah tinggal di luar negeri selama 11 tahun. Perasaan akan rindu orang tua membawanya kembali ke Malaysia.

Sebuah pengalaman terbang  memberikan gambaran penerbangan murah. Saat itu, tetapi, belum terpikirkan apapun tentang bisnis airlines. Bahkan dia tidak bersentuhan walau secuil pun dengan penerbangan komersil. Dia seorang akuntan biasa saja. 
 
Selama perjalanan karir, dia singgah di Virgin Communication, salah satu perusahaan milik Virgin Group. Apa yang dipelajari dari Virgin? Dia belajar banyak tentang bisnis internasional. Memberikan dirinya pandangan tentang apa itu bisnis multi- nasional dan internasional.

Dia tercatat sebagai pegawai berprestasi. Membawanya resume baik hingga mampu masuk sebagai Senior Financial Analysis di Warner Music International di London. Di Warner, tumbuhlah jiwa entrepreneur dalam dirinya. 
 
Warner kala itu mengubah dirinya sebagai hanya seorang akuntan menjadi sosok seorang analis dan strategis. Dia bekerja menjadi seorang analis disana sejak tahun 1989, kemudian di 2001, secara sadar memutuskan mengundurkan diri. 
 
Padahal kamu perlu tau Fernandes sudah menjadi Vice Presidents di ASEAN regional. Rekam jejaknya bekerja di Warner menunjukan sudah 3 kali dirinya menerima promosi. Mengagumkan.

Seorang pakar menyebut alasannya keluar dari Warner bukan tanpa strategi. Seolah ia telah bisa membaca kegagalan satu merger Warner untuk American Online di 2001. Sampai disini kenyataan bahwa sosok Tony Fernandes telah memiliki entrepreneurship didalamnya.

Tetapi kenyataan miris bahwa Tony Fernandes bukanlah orang Bumiputra menjadi menarik. Bagaimana dia sukses, tentu semuanya berkat kemampuanya sebagai seorang entrepreneur sejati.

Perbedaan itu sangat terasa seperti perbedaan antara kasus Malaysian Airline dan AirAsia sendiri. Dan satu fakta menarik, meski CEO, AirAsia secara kepemiliki lebih besar dimiliki orang asli Malaysia. Jadi menjadi entrepreneur sulit bagi mereka yang bukan penduduk asli Malaysia.

Lahirnya AirAsia


Beda Malasysian Airline dimana pemerintah bekerja sebagai entrepreneurnya. Kisah Tony berbeda, yakni ada sebuah perhentian di London. Inspirasinya ketika melihat Stelios Haji-Ioannou, pendiri easyJet airlines di televisi. Dia lah yang menjadi sumber inspirasi Fernandes membangun low- cost carier.

Sosoknya dilihat oleh Fernandes tengah menjelaskan konsep LCC ini di sebuah stasiun televisi. Tony mulai tersadar menemukan ide tentang penerbangan murah. Dia mulai berpikir dia bisa melakukanya nanti di Asia Tenggara.

AirAsia sendiri sejarahnya berawal dari perusahaan sedarah dari Malaysian Airline. Itu didirikan pada tahun 1993, dirikan oleh perusahaan konglomerat milik negara, DRB-HICOM dan mulai bekerja di tahun 1996. Di tahun 2002, secara tertulis MAS atau Malaysian Airline memonopoli udara.

Menjadi bagian milik negara membuat perusahaan mendapatkan dukungan mutlak pemerintah. Artinya juga termasuk komersialisasi. Tapi disadari atau tidak pemerintah lebih memilih MAS itu, menganak tirikan AirAsia. 
 
Kala itu, Tony Fernandes tengah menggarap idenya di tahun 2001, dan kebetulan, tahun itu AirAsia mempunyai hutang sebesar $37 juta.

Awalnya Tony sendiri tidak tau tentang perihal hutang AirAsia. Tujuannya kala itu cuma datang ke Perdana Menteri Mahathir di Juni 2001 meminta ijin terbang. Dia ngotot ingin bertemu Perdana Menteri untuk memberinya ijin membuka usaha. Tony sendiri sudah mempunyai perusahaan bernama Tune Air. Dia bekerja sama dengan tiga orang patner, yang ternyata Bumiputra. 
 
Akhirnya, setelah bertemu Perdana Menteri, ia berhasil meyakinkan Mahathir soal LCC -nya. Ternyata, bukan cuma lisensi, ia juga memerintahkan Tony ambil alih AirAsia juga.

Dia memintanya agar TuneAir mengambil alih AirAsia sendiri, yang berarti mengambil alih hutang- hutangnya. Bukannya untung dia malah "buntung" harus mengambil alih perusahaan terbengkalai.


Beda target fokus AirAsia kala itu orang Asia yang belum pernah terbang. Memakai slogan "Now everyone can fly" mendorong mereka berbondong- bondong ke AirAsia. Dan, cara itu berhasil, AirAsia mengadopsi cara kerja Ryanair.

Caranya menggunakan satu jenis pesawat, menggunakan sistem online memotong biaya travel agen, makan berbayar, mengurangi waktu di tanah atau pesawat harus terbang sangat sering, dan membuat banyak jadwal penerbangan sesering mungkin.

Tau kah kamu siapa orang dibalik ide brilian diatas. Dibaliknya, ada Connor McCarthy, mantan Direktur Operasi Ryanair, yang dijadikan Tony penasihat. Sosok Tony Fernandes memang risk- taker. Entrepreneur sukses menghasilkan miliaran dollar. 
 
Tony tercatat orang terkaya ke- 7 di Malaysia memiliki total kekayaan $650 juta. Itulah sedikit kisah sukses bisnis AirAsia.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba