Biografi Wang Jianlin Orang Terkaya China Bisnis Properti

Pengusaha Properti Terbesar China



Sama halnya dengan sosok Li- Ka Shing, sosoknya bukanlah terlahir dari keluarga orang super kaya. Tetapi mentalnya lah yang membangun kekayaan tersebut. Wang Jianlin, presiden direktur Wanda Group, adalah putra seorang tentara. Seperti hal ayahnya, Wang juga pernah menjadi tentara diumur masih 15 tahun. Ini sangatlah berat. 

"Sebuah pelatihan musim dingin diadakah oleh Chairman Mao saat itu dan dimana anak muda harus melatih daya tahan lewat berbaris panjang dan berkemah untuk membentuk tubuh," kenangnya. "Itu sangatlah sulit karena saya masuk ketika ada the yeying- lalian military movement."

"Dalam dua bulan kami berjalan 1.200 kilometers!" jelasnya.

Tahun 1978, dia dipromosikan menjadi pimpinan platon, dan direkomendasikan mendapatkan pendidikan khusus kemiliteran. Meski memiliki mental tangguh, faktanya sosok Wang muda bukanlah seorang atletik, tidak pernah sama sekali baik dalam merayap, melewati rintangan, ataupun menyerang. Dia cuma memiliki apa yang disebut mental. Bahwasanya dia percaya akan kemajuan China dibawah komunsisme.

Ia seorang revolusiner. Dia merasa melalui komunisme bisa membebaskan seluruh China. Sementara itu di luaran sana China mulai berubah menjadi raksasa ekonomi dunia. Deng Xiaoping memimpin dan merubah tatanan ekonomi lebih marketif. Tetapi Wang tertinggal dan tidak aktif hingga memasuki tahun 1986. Sosok Wang memang bukanlah pengusaha sejak awalnya hingga tahun itu.

Setahun sebelumnya ebijakan militer ditegaskan. Dimana pemerintah mengurangi kebutuhan pasukan sampai satu juta orang. Inilah yang membawa Wang ke arah dunia bisnis. Ia merubah arah karirnya menjadi seorang administratif untuk pemerintahan. Dua tahun kemudian, di 1988, dia mengambil alih satu perusahaan terafiliasi pemerintah Xigang Housing Development. Bukan tanpa beban karena perusahaan itu telah memiliki banyak hutang.

"Inovasi berarti konsisten merubah pola lama," ucap orang terkaya China 2015 ini. Tetapi bukan cuma itulah kunci sukses Wang, tidak cuma inovasi tetapi kemampuan memprediksi dalam keberanian.

Raja real estate


Kekayaan pertama Wang datang dari perusahaan hampir bangkrut. Xigang Housing Development akhirnya mendapatkan hutang dari seorang kawan Wang. Orang yang bekerja di Bank tersebut memberinya modal untuk bergerak. Sukses Wang terbilang cepat sukses merubah kota kumuh menjadi ladang real estate. Lalu usaha Xigang Housing berubah menjadi perusahaan real estate model join stock terbatas.

Hal baik tidak selamanya bertahan. Itulah yang dirasakan seorang Wang ketika pemerintah melihat bisnis real estate bahaya. Terlalu banyak spekulasi dan tumbuh terlalu cepat, pemerintah China memutuskan meredam hal tersebut; pemerintah berhenti mengucurkan dana.

Tahun 1992, Wang mulai mencari hutang sana- sini, bahkan mengunjungi 50 bank berbeda. Dia sudah berdiri didepan kantor direktur sampai sepuluh kali dan yang terpanjang adalah sepanjang hari. Hanya saja hasilnya tidak sama sekali. Itu merupakan sebuah ingatan buruh bagi Wang. Sebuah penghinaan baginya yang punya jiwa tentara.

"Jadi saya berkata kepada diri saya sendiri saya harus kuat, membuat brand, dan memberishkan nama saya suatu hari," kenang Wang kembali.

Dia mengingat 17 tahun masa pelatihan militer. Itu membuatnya tetap kuat dan terus berusaha maju. Hingga sekarang, mentalnya masih terlatih di kehidupan sehari- hari, dimana ia tidur jam 11 malam dan tidak seperti pengusaha China lain; dia tidak minum atau merokok. Hal lain, dia suka menyanyi lagu Tibet atau Mongolian ketika meeting kantor sambil bergaya militer. Wang punya beberapa hobi tetapi tidak spesifik di olah raga.

Anehnya ketika ia sukses membalas rasa malu tersebut. Banyak permintaan dari pemerintah kota untuk Wanda Group agar membantu pembangunan. Wang pun mempunyai prinsip sendiri, yakni "Melayani mereka (pemerintahaan) yang menginginkan kota lebih baik." Dia juga meminta perusahaan jujur dan fokus ke tujuan. "Kami tidak menyuap pejabat dan, meski dekat dengan pemerintah, kita tinggal jauh dari politik," katanya.

Tidak masalah dari mana latar pendidikan kamu tetap keberanian yang utama. "Apakah anda sukses masuk Tsinghua dan Universitas Peking, atau Harvard dan Yale, nyali yang yang terpenting dan yang membuat orang kuat, " kata Wang kepada sekelompok mahasiswa Universitas Harvard beberapa tahun lalu.

Ia menyebut titik balik Wanda Group ketika menemui masalah. Ketika itu mereka menghadapi kegagalan di proyek komersial pertama tahun 2003. Tahun 2006, mereka memulai proyek perjalanan wisata kota, dan menunjukan perubahaan.

Wang meminjam uang $80.000 untuk Dalian Wanda Group membangun. Dia adalah pimpinan dari Wanda Group yang mana sekarang merupakan developer terbesar di China, sejak 1988. Wanda Hotels dan Wanda Resorts Co Ltd telah membuka 71 bintang lima dan sangat mewah disepanjang China. Dia juga berinvestasi miliaran dollar di Sydney, London, Chicago, dan Los Angles.

Wand Group juga mulai agresif masuk ke bisnis entertainment. Seperti membeli 150 teater di China, dan juga memiliki 380 teater di US, Kanada, dan negara lain. Wang membeli AMC Entertainment sebuah perusahaan frenchise untuk aneka bisnis hiburan. Wanda Group juga membangun usahanya sendiri lewat Superstar, satu tempat karoke berjumlah 90 buah dipenjuru China. Awal tahun 2015, Wang membeli saham 20% Atlitico Madrid.

Wang memiliki satu putra bernama Wang Sicong -media China memanggilnya National's Husband. Mungkin karena obsesinya akan uang, wanita dan kekerasan. Fakta dia memang dididik kebaratan telah memberikan kesan negatif. Tetapi Wang Sicon merupakan salah satu eksekutif penting Wanda Group bukan anak manja. Pria 27 tahun yang pernah membuat geger dunia maya lewat foto anjingnya mengenakan dua Apple Watch.

Berbohong Masih Bekerja Jane Membangun Mimpinya

Profil Pengusaha Sukses Jane Lu


 
Mencari kerja sangat sulit bagi anak muda jaman sekarang. Orang tua jaman sekarang cuma berpikir anak mereka kuliah di tempat tepat. Kemudian belajar hingga lulus, bisa masuk ke perusahaan berdasarkan latar belakang pendidikan. Tidak semudah itu ternyata menjalankan hidup. Langkah awal memasuki dunia kerja itu adalah tekanannya.

Jane Lu bukanlah anak bodoh. Bahkan dia punya pekerjaan sendiri sebelum lulus kuliah. "Saya mendapat nilai 99+ UAI (persentase tertinggi ranking di kuliah), saya belajar perdagangan di UNSW... Pada dasarnya saya berada ditempat nyaman tepat untuk gadis Chinese baik," ujarnya. "Maksud saya, saya bahkan belajar main piano di umur delapan tahun."

Dia pernah bekerja di perusahaan besar. Sebut saja, dia pernah bekerja menjadi akunting di firma Ernst & Young. Bekerja selama beberapa tahun disana membuatnya merasa kosong. Ada kehampaan dibali rutinitas membosankan di perusahaan.

"Saya hanya muak terjebak di ruang hijau," jelas Jane.

Ada suatu masa ketika Jane melihat ponselnya. "Saya berkata: Tiga jam telah berlalu, Tiga jam telah berlalu, saya secara harafiah tiga jam lebih mematikan dari sebelumnya dan dari semua yang saya lakukan hanyalah menghapus referensi kedua dari spreadsheet ini ... apakah ini hidup saya?

"Jadi saya keluar," tegasnya.

Pengangguran


Setelah cukup lama membahas hidupnya sebagai pegawai. Dia mulai berpikir apa hal selanjutnya. Itulah yang kemudian membawanya ke sebuah bisnis. Ketika Jane mendengar teman- teman dekatnya sedang memulai sebuah bisnis. Tanpa berpikir panjang keputusan keluar dari perusahaan bulat. Ia merasakan lega, tetapi lain hal rekan kerjanya yang menyebut "idiot". Pasalnya, ia memilih keluar ketika tengah krisis ekonomi global.

Berbisnis sendiri?

"Semua orang menjadi berlebih- lebihan. Dan di sana saya cuma pergi- berhenti dari pekerjaan saya untuk menjalankan toko pop-up, " katanya.

Dia memulai sebuah toko retail. "Jadi saya keluar dari pekerjaan dan secara buta mengikuti," tuturnya. Pada bulan pertama berjalan baik hingga akhirnya sepi. Patner bisnisnya bahkan memilih menarik diri dari bisnis mereka. Itulah akhir dari perusahaan bernama Fatboye Group. Keputusannya keluar dari pekerjaan saat itu didukung penuh oleh keluarganya.

Ia menyebut kedua orang tua adalah inspirasi. Mereka (orang tua) menyebut Jane sangat berani. Tetapi ia melihat keberanian adalah kedua orang tuanya. Bayangkan mereka adalah imigran China yang melepaskan pekerjaan sebagai tukang bersih- bersih dan sebagai buruh. Mereka jauh- jauh pindah ke Australia, memulai sesuatu yang baru.

"Itulah apa yang disebut keberanian," tutur Jane penuh bangga.

Keluarga memberikan pinjaman untuk membuka toko retail di pusat kota. Sayangnya, seperti dijelaskan apa yang diatas, usahanya bangkrut bahkan meninggalkan hutang $50.000. "Apakah saya lupa menyebut bahwa nama bisnis kami Fatboye Group? Yeah, go figure," ingat Jane sambil diikuti derai tawa. Pada umunya, ia dalam keadaan sangat jatuh, "...dan saya terlalu banyak harga diri untuk meminta pekerjaan saya lagi," tutur dia.

Tidak ada pilihan lain kecuali Jane haru kembali ke Ernest & Young. Tetapi tekanan itu kembali hadir bahkan semakin kuat apalagi darah Chinese -nya berdesir; seharunya tidak berakhir begini. Akhirnya, ya, ia memilih untuk keluar lagi. Dia melakukan sendirian atas keputusannya sendiri. Dalam benaknya bayangan orang tua tentang karir ideal.

"Jadi, saya hanya tidak bisa masuk ke diri saya untuk mengatakan bahwa saya telah keluar dari pekerjaan itu (lagi)," ujar Jane. Inilah dimana masa dirinya "membohongi" kedua orang tua. Kegagalan pertama kali itulah yang memaksanya berpura- pura menyesal. Faktanya dia malah berusaha mengembalikan usahanya lagi ke jalan. Meski hidupnya harus terseok- seok mengerjakan bisnis sendirian; tidak ada pegawai tersisa.

"Jadi, itu hanyalah keputusan logis untuk dilakukan. Saya tidak bercerita kepada mereka," Jane menjelaskan.

Dalam tekanan dirinya butuh akting sempurna. Apalagi faktnya dia masih tinggal bersama orang tua dan satu kesalahan menghancurkan semua. Untuk itulah selama enam bulan, Jane bangun jam enam pagi, langsung memakai pakaian kerja dan "berpura- pura" berangkat kerja. Dan menurutnya hal tersulit menjadi seorang pengangguran adalah harus bangun pagi seperti orang bekerja.

"Jadi, saya akan bangun pagi, mengenakan setelan saya, sarapan dengan keluarga saya. Menunggu bus ke kota, kadang- kadang dengan ibu saya." Sesampainya di pusat kota, Jane hanya lalu- lalang di CBD (Central Business District) mencoba mencari jalan keluar.


Toko online


Tidak ada hal yang bisa dilakukan Jane ketika itu. Ia pun kembali menggeluti bisnis sebelumnya. Bedanya, ia memilih membuka toko online sendiri dan masih berbohong soal pekerjaan. Tentu orang tua memang tidak akan paham soal jual- beli online dan ia merasa tidak untuk kali ini. Dia tidak menceritakan tentang usaha keduanya ini.

September 2010, Jane bertemu seorang gadis yang ingin membangun bisnis online sendiri, disinilah ia merasa terpanggil. Satu malan ditemani segelas wine munculah nama Show- Pony. Yang mana nama tersebut menjadi Showpo jika diucapkan. Perlua dijelaskan Jane punya hutang dari bisnis sebelumnya, juga hutang dari biaya kuliah, kemudian ditambah hutang karena keluar dari cadetship total, total ada $18.000 hutang baru.

"Itu totalnya $60.000 diumur saya ke 24 tahun. Bukan tempat nyaman untuk memulai usaha atau bukan juga nyaman untuk dimanapun," jelasnya, mau tak mau usaha kali ini harulah sukses.

Motivasi terbesar dalam mengerjakan bisnis adalah dia tetap bangun pagi. Cuma Jane tidak perlu lagi harus melapor dan bekerja atas apa passion -nya. Mungkin akan enak jika dia bangun kemudian jalan ke pantai bersama teman penganggurannya; tetapi tidak. Setiap hari merupakan bekerja keras dan lebih keras lagi. Ia sadar bahwa sukses akademis dan karir tidak membawa ia kemanapun.

Hidup itu panjang menurut Jane. Tetapi tidak cukup panjang untuk sekedar bersenang- senang saja. Justru ia meyakinkan bahwa kita harus bekerja cerdas bukan keras. Pola kerja kamu memang akan memenuhi setiap sisi kehidupan, tetapi itu tidak membuat kamu monoton. "Jadi mengapa tidak bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja, " tambahnya.

Dasarnya dia tidak punya uang sama sekali. Bahkan terlalu banyak hutang yang harus ditanggung oleh Jane. Jadi yang bisa dilakukannya hanyalah berpromosi lewat sosial media. Dia mencoba membuat komunitas dan mulai membranding ulang. Komunitas online dan beberapa orang staf akhirnya menjadi wajah dari produk itu sendiri. Ia juga aktif membangun kualitas disetiap foto produknya di Instagram ataupun Facebook.

Disinilah kemenangan produk Jane, ketika perusahaan besar belum masuk ke aspek sosial media. Mereka belum bisa juga mengkapitalisasi internet. Marketing lewat membangun komunitas loyal dimana disana tidak cuma menjual produk.

"Pada dasarnya, saya tidak punya uang ketika saya memulai bisnis sehingga saya perlu sosial media untuk memperkenalkan mereka kepada komunitas," tutur Jane.

Keluarga Jane merupakan imigran ketika ketegangan politik 1994. Dia masih berumur delapan tahun dan itu adalah pengorbanan orang tua hingga ia berkembang seperti sekarang. Meski menjadi pengusaha online yang ternama di Australia masih meninggalkan perasaan aneh -dijadikan role- model pengusaha wanita pantang menyerah.

Padahal menurutnya, dia hanyalah seorang pemula yang bahkan bisnis pertamanya bangkrut.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba