Kisah Wanita Diphk Tetapi Tetap Bangkit Wirausaha

Profil Pengusaha Yanti Rusdianti 


 
PHK membawa berkah. Tidak jarang banyak orang mengalami hal tersebut. Pasalnya insting kita akan naik ketika terdesak. Kreatifitas kita akan tiba- tiba muncul. Kita akan memilih jalur kewirausahaan. Kenapa begitu karena menjadi wirausaha tidak terikat dengan aturan perusahaan.

Ini kisah Yanti Rusdianti seorang wanita pemilih wirausaha. Dia mengenang kembali tahun 1998, ketika itu pabrik garmen tempat kerjanya memecatnya, rasa gregetan masih berasa.

Berhenti bekerja, dia kembali dari Surabaya ke Bogor, di sana mencoba melamar pekerjaan. Tetapi dia merasa semangat mencari pekerjaan tidak seperti waktu muda. Yanti berpikir kalau jadi karyawati kan udah bisa dihitung. Gaji perbulan sudah pasti setiap bulannya sama.

Ibu dua anak tersebut maka memilih pengusaha. Ia ingin memberi lebih terutama kepada keluarga. Walau ia sudah bertekat membangun usaha. Tidak semudah tersebut. Masalah utama mau berbisnis apa. Semua bermula dari iseng- iseng membuat usaha. Pertama kali Yanti memilih membuka bisnis kredit.

"Saya sudah tidak punya gaji, tetapi keluarga ini tidak boleh berhenti," kisahnya.

Ia berlanjut ke bisnis kredit aneka perlengkapan dapur. Menawarkan perlengkapan dapur pintu ke pintu. Usahanya ternyata berkembang. Tetapi dia mendapatkan masalahs seketika. Dimana usahanya bangkrut karena semua uang ditipu orang.

Bisnis kembali


Begitu gagal, Yanti tidak patah semangat, malah berbisnis kembali dengan uang seadanya. Kali ini memilih membuka kantin. Bisnis kantin kecil di perumahannya Bumi Indraprasta, Bogor. Bisnis ini kecil, tetapi jadi besar, bahkan menjadi lima kantin dia kelola.

Begitu suksesnya bisnis kantin ini. Sang suami bahkan memutuskan keluar pekerjaan. Dia ingin fokus buat mengerjakan bisnis kantin. Diantara itu, Yanti mulai melirik aneka kue, iseng- iseng mulai membuat aneka kue cake, black forest, dan kue cokelat lainnya.

Memang memasak sudah hobi. Dia mengeluarkan uang Rp.500 ribu buat beli bahan. Awalnya dia malu- malu menunjukan hasil karyanya ke masyarakat. Apalagi mau dijual tidak terpikirkan. Suatu hari dia lantas membawa kue tersebut ke acara arisan ibu- ibu. Barulah Yanti berani menjual di tahun 2002 dengan brand sendiri.

Lewat ibu- ibu arisan pesanan terus mengalir. Dia mengolah 6 ton cokelat batangan setahun atau 500 kilo per- bulan. Ia lantas menamai Waroeng Cokelat. Tentu hasilnya puluhan juta rupiah. Ia semakin percaya diri untuk bisnis Waroeng Cokelat. Jika awalnya cuma menerima pesanan momen tertentu sekarang tidak.

Jika sebelumnya, seperti hari Valentine, dia mendapatkan pesanan. Sekarang kapan saja produk cokelat itu bisa dijual. Dengan kemasan menarik dan modern, maka pembelian juga meningkat di hari biasanya, jadi tidak cuma cokelat dikemas hati saja.

Produk harian


Dia memutuskan produksi tiap hari. Dari sekedar kue berkembang ke aneka cokelat. Ia menemukan aneka resep cokelat enak. Agar semakin kreatif,Yanti tidak segan mengikuti aneka seminar tentang cokelat ke luar kota. "Semua itu (seminar) saya lekukan demi bisnis," jelas Yanti.

Mungkin terdengar bisnis rumahan kecil. Namun siapa sangka dia mampu menembus pasar supermarket. Ia menyetok ke beberapa pasar swalayan di Jakarta. Dia sangat berani mempromosikan bisnis cokelat miliknya. Tidak pernah malu lagi untuk menunjukan ke masyrakat.

Menurutnya agar masuk ke pasar ritel, satu- satunya cara adalah meyakinkan masyarakat bahwa produk miliknya berkualitas. Dia punya hobi mengikuti aneka pameran. Pokoknya jika ada suatu badan yang tengah mengadakan ajang kewirausahaan; dia ikut.

Mengikuti pameran dia mendapatkan banyak pengetahuan. Meskipun sudah untung jutaan Yanti tidak mau berhenti belajar. Contohnya ketika ia belajar bahwa cokelat tidak bisa dijajakan di ruang terbuka. Ya nanti kan bisa meleleh pungkasnya. Walaupun sudah dimasuk ke kulkas setelahnya, kualitas cokelat akan rusak.

Dia mencontohkan pengalamannya sendiri. Setelah dijajakan di ruang terbuka dan dimasukan ke kulkas. Cokelat tidak sebagus kondisi awal. Mangkanya dia sekarang tidak sembarangan memajang produk yang dia buat.Sukses Yanti justru baru mulai membangun mimpinya bahkan ketika orang bilang dia sukses.

Dia pernah mengikuti pameran oleh Kementerian Pertanian. Dimana dia menemukan, di China, Chiang Mai membuat cokelat dengan wadah besar. Beruntung ketika berkunjung di Malaysia dia menemukan apa cetakan sesuai besar. Modal awal Rp.500 ribu sekarang setiap tahun bisnisnya naik 10% setiap tahunnya.

"Jangan pernah takut untuk memulai bisnis. Kalau ada kemauan, pasti ada jalannya," tutup Yanti.

Sukses Pengusaha Mutiara Jualan di Kaskus Makin Mulus

Profil Pengusaha Fredy Imansha 


  
Berbisnis butuh ide, dan terkadang ide bisnis datang mendadak di benak kamu. Pengusaha muda satu ini merasakan ide mendadak muncul. Awalnya sepulang liburan di Indonesia Timur, kok, Fredy Imansha tidak mendapat apa- apa. Semua oleh- oleh dibawanya ludeh habis diambil oleh kerabat dan teman.

Fredy berpikir bisnis ini bagus. Waktu itu sih, pemuda 25 tahun ini membawa oleh- oleh berupa perhiasan mutiara, sekitar tahun 2011 silam. Siapa sangka bisnis mutiara air tawar miliknya bernilai Rp.40 juta!

Bisnis internet


Ia membeli beberapa perhiasan mutiara. Dikasihnya kepada keluarga dan beberapa teman di Jakarta. Sisa ia kemudian jual di Kaskus aja. Siapa sangka akan laku keras loh. Fredy semakin yakin akan peluang bisnis mutiara air tawar. Peluang bisnis aksesoris dan perhiasan mutiara buat dijual ke Jakarta.

Sebulan setelah sisa oleh- oleh habis. Fredy kembali memborong mutiara. Tiga bulan dia bolak- balik buat memborong mutiara- mutiara tersebut. Dia beli mutiara ketika jadi oleh- oleh cuma Rp.2 juta. Sekarang Fredy membeli Rp.10 juta bolak- balik dari Indonesia Timur.

Itu sejalan dengan omzetnya yang naik dari Rp.7 juta per- bulan, jadi Rp.40 jutaan. Perbelanja Fredy bisa memborong 100- 150 mutiara yang dijadikan aksesoris. Ia kemudian menyebar mutiaranya kepada para reseller. Tujuh reseller bahkan ada yang mengambil untung lebih banyak dari Fredy.

Pekerjaan sebagai pemasok dan penjual dilakoni. Kunci sukses bisnisnya adalah faktor harga. Apalagi jika kita bandingkan dengan toko- toko perhiasan di Jakarta. Sebagai tambahan dia melapisi mutiaranya dengan aneka perhiasan lain, seperti gelang perak atau chrome yang khas anak muda.

Ia menyebutnya ekslusif tetapi terjangkau. Karena setiap produknya dia bandrol seharga Rp.100 ribu. Ia lebih memilih jualan lewat online. Pasalnya mengurangi biaya- biaya tidak perlu. Alhasil produknya bisa dihargai lebih murah.

Pembeli kebanyakan anak muda. Mereka membeli buat kado pacarnya. Sempat kwalahan dia menghadapi permintaan pas Valentine khususnya.


Kerajinan Kerang Ekspor Bagaimana Caranya

Profil Pengusaha Nur Handiah Jaime Taguba 



Tidak jarang kita menyepelakan bisnis kecil- menengah kita sendiri. Ternyata diantara pesimisme pasar lokal, ada pengusaha- pengusaha hebat, mereka menjual ke luar negeri dan hasilnya mencengangkan. Kita ambil contoh nih pengusaha kulit kerang bernama Nur Handiah Jaime Taguba.

Lewat tangan kreatif dia merubah kulit kerang. Produk etnik karyanya diekspor sampai ke Eropa, Asia, Afrika, hingga ke Amerika. Nur adalah pemilik perusahaan Multi Dimensi Shell Craft yang membawa kulit kerang Pantura ke kancah dunia.

Bisnis karena cinta


Bisnis Nur berawal dari ketertarikan seorang kawan. Suami kawan tersebut ingin mengekspor kerang buat dijadikan kerajinan. Nah, Nur Handiah, menjadi perantara buat mengirim kerang- kerang tersebut. Tidak lama dia memutuskan berkreasi sendiri.

"Saya penasaran buat apa, akhirnya saya enggak mau kirim bahan bakunya," tuturnya. Setelah dia tau kalau setelah diekspor bahan bakunya naik berkali lipat harga!

Ia berkata, "saya buat barangnya."

Usahanya berdiri pada 2000 silam. Di atas lahan 1000 meter persegi, pabrik kecilnya berdiri mengolah si kulit kerang. Dia mempekerjakan sekitar 60 orang, yang mana adalah tetangganya. Harganya murah kok dari Rp.5000, seperti gantungan kunci, bunga, dan kecil- kecil lainnya.

Tetapi tidak juga terbatas. Nur Handiah juga menyiapkan produk premium. Seperti produk berharga Rp.24 juta, berupa satu set furnitur, mulai lampu, kaca cermin, meja.dll. Inovasi juga terus digalangkan hingga produknya benar- benar menarik.

Berjalan waktu pabrikannya seluas 32.000 m2. Dimana kapasitas sampai 8 kontainer per- bulan. Jangan bilang bisnis dijalankan gampang. Dia sudah mengerjakan bisnis ini selama 12 tahun. Jadilah pantas jika dia sudah mempunyai koneksi dari Eropa, Asia, Timur Tengah, Amerika Latin, sampai ke Afrika.

Perusahaan Nur sekarang nilainya tidak kurang 2 miliar. CV. Multi Dimensi beralih dari pengekspor kulit kerang menjadi produsen furnitur kerang. Fokusnya awal menggunakan kerang simping, namun makin ke sini, dia mulai berinovasi dengan aneka kulit kerang lainnya, seperti kerang dara, hijau, dan kerang hitam.

Tidak berhenti kreasi. Suatu hari, Nur ingin mengaplikasikan kerang dengan media lebih luas, maka jadi sebuah rumah bernama Rumah Kerang Cirebon. Dengan kulit kerang ditempelnya menjadi hiasan outdoor. Lalu dia mulai mendekorasi isinya dengan kerang juga.

Dari korden, furnitur, hingga lampu gantung dari kerang!

Tentu tidak langsung sukses. Nur mengaku sempat kelimpungan soal modal. Untungnya dia mendapatkan perhatian dari sebuah BUMN. Pinjaman bunga lunak tidak disia- siakan. Usahanya lalu menjadi salah satu mitra binaan BUMN tersebut. "Inginnya sih pinjaman tanpa pengembalian. Tapi tidak ada," guraunya.

Selain itu dia dimediasi untuk mengikuti aneka pameran. Menurutnya pengusaha harus rajin cari tau. Ia mengatakan pengusaha pemula haru update dari pemerintah. Mereka menyediakan tempat gratis. Namun, ya, akomodasi harus modalin sendiri. Kelebihannya kita bisa mendapatkan koneksi ke luar negeri seperti dia.

Kita diberi booth gratis kok. Kalau startegi pemasaran, selain ikutan pameran tersebut, maka andalkan strategi mulut ke mulut. Dibantu Pemda Cirebon, usahanya makin gampang menyebar ke seluruh pelosok, maka banyak pejabat datang berkunjung termasuk dua presiden kita Pak SBY dan Jokowi datang melihat.

Agar sukses dia tidak lupa mengikuti trend. Mangkanya dia membuka promosi lewat internet. Salah satu caranya adalah lewat toko online www.capizbalishell.com. Tidak lupa membuka outlet di Yogyakarta, Jakarta, dan Bali. Semua pencapaian itu membuat nama Nur Handiah menjadi satu pengusaha yang ternama Indonesia.

Ide Bisnis Makanan Tradisional Langka Kolombeng

Profil Pengusaha Sukses Sumadi


  
Sumadi bukan orang baru dalam pembuatan roti. Dia pernah bekerja menjadi buruh pabrik roti. Bayangkan puluhan tahun pria 42 tahun ini mengabdi. Penghasilan tidak sebanding dengan keringatnya. Namun, dari sana, ternyata menumpuk tumpukan kerak- kerak pengalaman mengurusi pembuatan roti.

Inilah cikal- bakal pengusaha asal Yogya tersebut. Ketika memutuskan keluar dari pekerjaan tidak mudah. Apalagi niat menjadi pengusaha butuh modal. Bagaimana membuka usaha kalau penghasilan pas- pasan. Ia lantas mencari cara: Sumadi menjual perhiasan sang istri untuk membuka usaha roti.

Berkat kerja keras, keuletan, usaha dijalankan oleh Sumadi sukses. Bermodalkan uang Rp.350 ribu, kini, ia mampu mengantungi omzet minimal Rp.6 juta sehari.

Bisnis tradisional


Warga Dusun Jaten, Desa Triharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, yang mana usahanya dimulai sejak 1999. Usaha kue kolombeng bersama istrinya, Nanik (36), adalah bisnis bermodal perhiasan simpanan mereka. Itu merupakan hasil kerja sepuluh tahun dengan seorang pengusaha roti asal Yogya.

Modal usaha awal buat membangun usaha Roti Kholombeng. Awal Sumadi membuat 1.000 bungkus roti sehari. Roti tersebut lantas dijual ke Pasar Bringharjo, dan beberapa pasar tradisional lainnya di wilayah Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Jadi roti akan dibuat seharian dari pagi sampai siang hari. Lalu dikumpukan lantas akan dijual pada esok harinya. Sumadi akan mengayuh sepeda ontelnya. "Saya jualan, keliling dari satu pasar ke pasar lain," ujar Sumadi.

Roti buatannya kok laris manis. Ternyata memang rasanya mak nyus. Roti buatan Sumadi diborong oleh pedagang besar. Apalagi dia menerapkan harga yang sangat terjangkau. Cocok buat pedagang besar jual kembali ke masyarakat. Yakni roti buatannya dihargai Rp.350 sebungkus berisi 10 roti kolombeng.

Bagi para pedagang pasar itu sangat murah. Singkat, bisnis Sumadi naik pesat, bahkan sudah sangat dikenal oleh orang pasar. Lantaran menjadi kompetitor tunggal pesanan membludak. Sumadi bahkan sampai khawalahan. Waktu itu Sumadi sendiri bersama istri mengerjakan semua proses pembuatan roti.

Menghadapai pesanan membludak Sumadi mempekerjakan karyawan. Bahkan tenaga kerja bertambah yang mana disesuaikan permintaan yang juga bertambah. Ia selalu merekrut tetangga untuk membuat roti. Dia sudah memiliki 7 orang karyawan.

Dibantu tujuh karyawan untuk berproduksi. Berapa Sumadi berproduksi setiap harinya. Dia mengaku bisa berproduksi 1.500 roti per- hari. Disisi penjualan semakin mudah karena nama. Sudah ada pedagang roti grosiran yang langsung menjemput. Pedagang roti juga tidak segan buat mengambil langsung ke pusat produksi.

Sumadi mampu menghabiskan 7 hingga 8 karung terigu. Jika posisi pasar sepi, maka Sumadi hanya bisa memproduksi sampai 5 karung tepung terigu. Pamornya yang naik membuat kerja sama datang sendiri. Pemilik produk terigu menawarkan kerja sama memasok tepung terigu ke tempatnya.

Tidak cuma untuk berproduksi. Ia juga mendapatkan pelatihan penjualan dan produksi di Semarang. Omzet Rp.6 juta sehari itu belum dipotong buat gaji, bahan baku, sudah termasuk transportasi yang sudah tidak lagi memakai ontel. Untuk keuntungan bersih Sumadi dan Nanik sepakat tidak menyebutkan angka.

Sumadi menggaji Rp.30 ribu sehari, kalau pesanan banyak, yah dia mengeluarkan uang tambahan buat para karyawannya tersebut. Dengan sistem pesanan borong memberi rejeki lebih ke karyawan.

Bisnis tak lekang


Mungkin orang lebih mengenal nama roti bolu, roti tar, donat, dan yang terbaru brownies. Siapa sangka diantara roti populer tersebut. Nama roti tradisional Kolombeng ternyata masih eksis. Ditangan dia lah, pengusaha asal Yogya, roti tradisional yang terkenal pada 1950 -an ini, kembali terkenal dan laris manis.

Persaingan ketat justru datang dari roti modern. Lewat kue tradisional, Sumadi mengaku senang karena namanya juga ikut menjadi sorotan. Ia bangga sekaligus bahagia. Ternyata kue kolembeng buatanya bisa bertahan sampai sekarang.

Sebelum fokus di Kolombeng Sumadi mengaku sempat membuat bakpia dan wingko. Resep kue tersebut ada telur, gula, essen jeruk, dan ovelat dicampur menjadi adonan. Lalu dimasukan cetakan aneka bentuk. Mulai berbentuk kotak dan persegi. Kemudian dimasukan ke oven selama 20 menit hingga matang siap.

"Kami bangga karena masih bisa membuat dan memproduksi kue tempo dulu," tutur dia.

Bahan baku pun mudah sehingga mudah diproduksi. Bahan bisa dicari meskipun produksinya masuk ke pedesaan. Pasarnya selain untuk umum, bisa dijual buat acara tertentu seperti pengantin, supitan, sripah, atau saat orang meninggal.

Zaman dulu Kolombeng dikenal merakyat. Enak disajikan dengan minuman seperti teh buat teman kita mengobrol. Di jaman kemerdekaan, kue tersebut digunakan sebagai pemerat persatuaan masyarakat di daerah Yogya. Enak teksturnya unik dan memiliki perjalanan sejarah panjang membuatnya masih digemari.

Membuka Usaha di Papua Jayapura Kisahnya

Profil Pengusaha Widiyawati 


 
Memilih menjadi wirausahawan bukan pegawai. Bukanlah pilihan mudah bagi kita semua. Jujur itu pula yang pernah dirasakan Widiyawati. Apalagi bisa dibilang pekerjaanya sudah mapan puluhan tahun. Di umur 37 wanita berambut cepak ini akhirnya memilih membuka usaha sendiri.

Bayangkan keputusan gila itu terjadi tahun 2006 silam. Ia memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan tambang emas terbesar, ya PT. Freeport Indonesia. Bekerja di Papua, gaji puluhan juta dikantongi oleh Widi.

Baginya karyawan tetap karyawan. Dia ingin naik kelas menjadi atasan. Bekerja di Freeport tentu  lah dia kesulitan mencapai titik itu. Uang tabungan Rp.70 juta digelontorkan buat mendirikan bisnis. Dimana dia bikin tempat spa di Jalan Wijaya, Jakarta Selatan. Ternyata berbisnis spa memiliki persaingan sangat ketat loh.

Bisnisnya gagal, uang tabungan puluhan juta hilang. Tetapi tidak sia- sia pengalaman. Meskipun belum merasakan untung sesuai target. Widi tetap semangat mencoba berbisnis kembali. Terbersit penyesalan karena memilih kengkang dari perusahaan Freeport itu.

"Rasa penyesalan kelaur dari pekerjaan mapan itu ada (untuk berwirausaha)," ia berkata.

Namun dirinya harus siap apapun rintangannya. Keputusan telah diambil dan Widi harus bangkit dari rasa keterpurukan itu. Warga Jurangmangu, Tangerang Selatan, ini memilih kembali ke Papua pada 2009. Dia tidak kembali bekerja di Freeport justru memilih berbisnis di sana.

Bermodal tekat dan nekat, dia membuka bisnis serupa, tetapi dengan modal seadanya. Widi memulai dari nol besar. Bermodal sisa jual aset usaha senilai Rp.30 juta. Itupun sebagian sudah dipakai buat biaya hidup keluarga. Di Papua dia mulai lagi membangun bisnis yang pernah bangkrut tetapi dengan perbaikan.

Jika di Jakarta dia menyewa ruko buat bisnis. Di Papu, Widi cuma menenteng proposal bisnis, dengan percaya diri tinggi dia menawarkan bisnisnya ke hotel- hotel. Modalnya hanya niat, keberanian, dan tentu kemampuan dalam hal bisnisnya tersebut.

Tidak mungkin Widi barani kalau belum paham akan bisnisnya. Ternyata membangun bisnis di Jayapura malah lebih susah. Iklimnya ekstrim dimana sering terjadi hujan. Alhasil soal pengiriman barang jadi sangat terganggu. Tidak membuat Widi menyerah. Ia tetap berjuang mengembangkan bisnis barunya itu.

Bisnis bernama Herbal Aroma SPA mulai dibangun. Kegigihan itu membawanya sukses masuk ke hotel- hotel, salah satunya ada Harison Hotel. Sekarang dia memiliki 15 orang karyawan, 10 laki- laki dan 5 perempuan. Sebulan mampu mengantungi Rp.71 juta bayangkan sudah.

Prospek usaha menurut Widi: Menarik jika melongkok Papua dibangun banyak hotel- hotel berkelas. Kita sebut saja Swiss Bell Hotel, Sahid Hotel, dan Yasmin Hotel.

Widi yang memilik kempapuan melobi. Dia mendapatkan tempat bahkan di lantai satu Hotel Horison, yang mana pengunjung begitu masuk bisa langsung spa. Ia juga sudah memegang kontrak dengan Swiss Bell Hotel yang mana sudah mulai beroprasi. Pendapatan tambah begitu juga karyawan bertambah juga pula.

Menjadi pemula berbisnis di Papua, Widi menawarkan keunikan sendiri, memakai rempah dari Yogyakarta dan Bali. Tiap bulan dia berbelanja ke Yogya dan Bali. Karena unik mangkanya pengunjung memburu itu. Pemilihan bahan pasti akan membuat badan segar. Harganya lumayan mahal karena di Papua yakni Rp.199- 999 ribu.

SItus Tiket.com Kapan Berdirinya dan Oleh Siapa

Profil Pengusaha Dimas Surya Yaputra 



Terkadang kita cukup butuh obrolah ringan menjadi bisnis. Ini adalah kisah empat sekawan, terutama kisah seorang anak muda bernama Dimas Surya Yaputra, atau Dimas Putra yang tergila- gila internet. Bagianya disinilah dia menemukan jati diri hingga berbisnis sendiri.

Tahun 2009 dia menemukan Swinde.com, situs barang lelang yang dibandro dibawah harga sebenarnya di masyarakat. Cuma enam bulan dia mampu menghasilkan pendapatan $1 juta, dan mampu menggaet kurang lebih 80.000 orang pengguna.

Pemuda lulusan Universitas Pelita Harapan, tahun 2007- 2010, jurusan ekonomi yang kemudian lanjut kuliah di Beijing Language and Culture University. Dia mengajak Wesna Agustiawan dan Jeffry Anthony mengerjakan bisnis PhaseDev. Menggaet 30 pengembang perangkat lunak dalam tiga divisi bisnis mereka.

Yakni mengerjakan aplikasi mobile, kemudian pengembangan aplikasi desktop, dan membangun situs web buat kamu. Dimas diangkat jadi CFO yang mengurusin keuangan perusahaan. Mereka memiliki 40 orang karyawan yang merupakan anak- anak muda. Meskipun sudah banyak penghargaan Dimas masih merasa kurang.

"Kami masih jauh dari sukses," ujarnya. Bungsu dari empat bersaudara ini merasa performa produksi nanti harus ditingkatkan. Anak muda penghobi golf dan komputer ini, ingin lebih banyak konten karya mereka PhaseDev lebih menarik masyarakat pengguna.

Bisnis tiket


Dia memiliki ide berbisnis tiket. Bayangkan susahnya kala itu, bagaimana orang harus bercalo ketika mau pergi naik pesawat. Tahun itu tahun 2010, dimana kalau mau pergi dari Medan ke Tegal rasanya super sulit, dan berbanding terbalik kisah sukses startup Tiongkok berbasis Online Travel Agent (OTA).

Meskipun begitu OTA itu beda dengan tiket.com. Bisnis Dimas ini, bersama tiga orang temannya, yakni Wenas Agusetiawan, Gaery Undarsa dan Natali Ardiant, mereka juga didukung seorang investor lokal. Berawal dari obrolan karena malasnya mengantri membeli tiket malah menjadi bisnis.

Dimas berkata inilah peluang besar di internet Indonesia saat itu. Berdiri pada Agustus 2011 dan baru bisa beroperasi Desember 2010. Tidak cuma menjual tiket tetapi mereka memberi informasi rute. Tidak cuma bebas calo tetapi lebih gampang mencari ketersediaan di tempat.

Memang usianya belia, tetapi Dimas tidak ragu membangun mimpi bisnis digital nya. Dalam setahun sejak mereka launching. Mereka berhasil menggaet 100 ribu pengguna. Banyak tiket dijual tidak cuma tiket pesawat, ada tiket bioskop, konser.dll.

Tiket.com menjadi salah satu rekanan bisnis PT. Kereta Api Indonesia. Semuanya memang berawal dari kereta api dahulu dan berhasil. Kebetulan pemerintah tengah membenahi penjualan tiket kereta api. Lalu mereka mulai menjalin kerja sama dengan berbagai maskapai penerbangan.

Ada total enam maskapai, jaringan bioskop 21, mengandalkan jumlah mereka mampu mereguk transaksi tidak kurang dari 1.000 tiket. Untuk modal sendiri Dimas tidak banyak bercerita. Yang pasti mereka siap mengeluarkan biaya agar server tidak mati. Dan dari enam orang karyawan sekarang 40 orang karyawan.

Denim Bekas Bisa Dijadikan Kacamata Gaya

Profil Pengusaha Jack Spencer dan Alex Boswell 


 
Dibanding kamu membuat denim bekas kamu. Kenapa tidak mendaur ulangnya menjadi barang berguna. Ini adalah kisah dua entrepreneur bernama Jack Spencer dan Alex Boswell. Bisnis mereka itu diberi nama Mosevic, yang mana mereka berdua juga pernah berbisnis semacam ini.

Bayangkan mereka merubah denim bekas menjadi kacamata. Koleksi mereka bernama Signature Denim dan Worn Sun Glass merupakan produk laris loh. "Kami membeli denim rusak dari tempat jualan barang bekas untuk amal," tutur Spencer.

Mereka mendapatkan uang buat membiayai kegiatan amal. Uang dari penyumbang pemilik pakaian bekas kemudian digunakan amal. Nah, tidak semua bisa terjual, justru Mosevic membeli yang tidak terjual. Yaitu pakaian denim yang sudah terlanjur rusak atau tidak pantas dipakai lagi.

Caranya adalah menumpuk denim menjadi bentuk. Semua dibuat dengan bahan resin sintetik. Dan nanti akan menciptakan bahan baru yang disebut denim keras. Selanjutnya, dengan komputer, pemotongan dan bentuk tekstur dipertahankan.

Bisnis ajaib


Dengan bantuan kompyter pemotongan akan rapih. Tinggal dipasang frae saja kan. Selain bahannya ramah lingkungan, keren, ternyata produk ini ringan. Setiap produk satuanya unik karena merupakan bahan dari pakaian orang yang berbeda. Ada sejarah tertempel pada tektur setiap denim meskipun sama bahannya.

Proyek ini dimulai Juni 2015 berbekal donasi KickStarter, tapi sebenarnya sudah jauh sebelumnya yaitu empat tahun penelitian.

Spencer memang sangat passion kepada kacamata. Meskipun dia tidak memakai kacamata. Tetapi pikiran dia ingin memulai perusahaan kacamata. Untuk menjadi laris manis, maka dia berpikir caranya agar beda dari kebanyakan orang. Dia sudah pengalaman membuat aneka hal berbekal bahan kimia komposisi.

Hingga dia sadar bahwa resin ternyata bisa digunakan pada bidang kain. Jika kacamata matahari adalah produk mewah, maka ini minimalis, dan mereka berdua sadar bahwa bisnis mereka merubah cara hidup kita dalam memanfaatkan produk daur ulang.

Dan ketika orang suka akan produk mereka, maka pakaian bekas untuk dibuang diminimalis. Kita jangan sampai menjadi generasi pakai- buang. Mereka termasuk entrepreneur yang memahami bahwa menjadi biang perubahan itu harus. Tetapi mereka sadar bahwa mengemas produk sebaik mungkin agar laku dijual.

Tetapi mereka juga ingin kemasan minimalis. Efesiensi tidak cuma pada produk, tetapi kemampuan dalam penjualan lewat internet. Mereka bergerak dari organisasi amal ke perusahaan besar yang punya limbah. Mereka ingin mengubah produk lawas tidak laku terjual.

"Kami berharap produk kami akan meningkatkan kesadaran akan limbah fashion," tutup Spencer.

Menjadi Agent Tagihan Bersama Ruma Buat Rakyat

Profil Pengusaha Aldi Haryopratomo 


 
Namanya Aldi Haryopratomo pengusaha muda bidang sosial. Pemuda yang kini sudah berusia matang, 32 tahun, merupakan kelahiran Jakarta, Indonesia. Merupakan anak orang berada tetapi tidak membuat dia jadi sosok arogan. Pasalnya semenjak usia dini sudah berteman dengan anak- anak yang ekonominya susah.

Empati Aldi kecil tumbuh dengan kesadaran akan lingkungan. Dia tinggal di perumahan untuk pegawai pemerintah. Dimana sekitarnya merupakan kampung- kampung keci. Di sana, justru dia menemukan banyak teman, meskipun lahir dari keluarga berkecukupan bermain ke kampung itu menyenangkan.

"Pengalaman tinggal di dua dunia sangat membentuk saya tumbuh," ujarnya.

Tetapi tidak akan berhasil tanpa orang tua. Dia ingat betul bagaimana dia dan kakaknya dibentuk. Oleh kedua orang tuanya menjadi sosok pengajar kehidupan. Ayah Aldi merupakan pegawai kontraktor khusus membangun jalan negara. Menurut ajaran ayah pekerjaanya adalah untuk membantu hidup orang banyak.

Ayah Aldi percaya bahwa jalan dibangun akan mendorong ekonomi. Semangat membangun tidak cuma buat uang tetapi membangun kehidupan masyarkat Indonesia. Ayah Aldi pekerja keras dengan alasan mulia tak cuma sekedar mencari uang.

Bertahun- tahun Aldi terinspirasi sang ayah. Bagaimana dia juga bisa membangun masyarakat. Tentu saja dengan caranya sendiri. Selepas sekolah menengah di Jakarta, dia melanjutkan ke Amerika, yaitu kuliah jurusan ilmu komputer di Purdue University, Indiana.

Selepas kuliah dia bekerja menjadi teknisi keamanan untuk Ernst & Young. Kemudian dia mengerjakan bisnis untuk UKM bernama Kiva. Dimana Aldi berkeliling Indonesia dan Vietnam, ke pelosok, cuma buat mewujudkan idealismenya. Selepas itu Aldi memilih melanjutkan program MBA ke Harvard Business School.

Bisnis kembali


Tidak berhenti berbisnis sosial. Langkah selanjutnya Aldi ialah Ruma. Dimana dibiayai oleh perusahaan besar Silicon Valley. Dan didukung perusahaan besar asal Indonesia Gunung Sewu Kencana. Ruma lalu mempekerjakan 512 orang, dimana sepertiganya adalah agen lapangan, sisanya bekerja di kantor Jakarta.

Pengusaha muda satu ini bukan mencari uang. Tetapi justru membantu orang lain, sebaik mungkin, agar bisa mendapatkan uang. Pengalaman menjadi pegawai di perusahaan pembiayaan UKM. Maka pada 2009 dia siap meluncurkan bisnisnya sendiri sejenis.

Ruma menyediakan bagi 30.000 perusahaan kecil di seluruh Indonesia kesempatan berbisnis. Mereka akan membantu masyarakat untuk mengakses servis, membayar tagihan, mencari lowongan, dan semuanya dilakukan cukup di aplikasi mobile mereka.

Kemudian para agent merupakan toko- toko kecil yang menawarkan jasa. Ambil contoh sebuah warung dimana orang tidak cuma membeli rokok, tetapi bisa membayar listrik. Dimana dia mengambil inspirasi data Bank Dunia bahwa hanya 16% orang yang memiliki akses ke internet.

Dia selalu memberi semangat kepada agentnya. Mereka pantas mendapatkan hasil dari kerja keras mereka. Hal paling berarti adalah dikelilingi orang yang melakukan hal berarti. Dia beranggapan akan gampang kita sukses jika dikelilingi tim kerja hebat yang memiliki passion pada usaha mereka juga.

Kepercayaan Aldi begitu besar, bahkan tidak segan meninggalkan pengelolaan kepada mereka. Tidak cuma sebentar tetapi sampai dua minggu pergi. Aldi pergi ke pelosok berbekal sepeda motor dan tentu tidak lah mudah dihubungi untuk sekedar meeting.

Apa yang dilakukannya di luar kantor?

Ia akan mengunjungi agent Ruma. Dia akan aktif bertanya kesan dari agent dan juga pelanggan mereka. Dia beranggapan membangun kekuatan dalam mengambil keputusan adalah hal terpenting. Guna menciptakan itu pengusaha harus tau bagaimana perasaan pelanggan, bagaiamana mereka berpikir, rasakan, dan akhirnya butuhkan.

Dia berpikir jika kamu mau jadi anak muda ambisius. Baiknya jangan cuma berpikir bisnis mereka sendiri. Tetapi bagaimana menangani solusi di luaran sana. Entrepreneurship harusnya menginspirasi, bagaimana menyelesaikan masalah, menjadi passion dengan masalah adalah inti dari apa yang kamu butuhkan.

Entrepreneurship adalah sedikit dari banyak cara menyelesaikan masalah. Sayangnya orang menaruh ini dibawah kaki mereka. Menyepelekan kewirausahaan. Akhirnya banyak orang yang bekerja keras akhirnya tidak mendapatkan penghargaan bahkan oleh atasan mereka sendiri.

Meskipun disibukan dengan kegiatan entrepreneurship. Dia tetap meluangkan waktu jalan pagi bersama istri dan anak kembarnya. "Saya berbicara kepada mereka (anak saya) mengenai pekerjaan seperti layaknya orang dewasa," ia menceritakan. Berjalan bersama mereka adalah terapi pikiran Aldi untuk semangat pagi.

Sawerbreeder Kisah Pengusaha Ular Hias

Profil Pengusaha Breeder Ular 


 
Ular memang binatang yang menggelikan. Tetapi siapa sangka dari ular, bermunculan jutawan berkat bisa menternakan mereka. Bukan sembarangan ular tetapi ular hias. Tentu butuh lebih dari sekedar berbisnis. Ada unsur hobi di dalamnya tetapi hobi yang menghasilkan pendapatan uang.

Seperti kisah Faizal Firmansah, warga Mojokampung, Kota Bojonegoro, yang mana baru tiga tahunan ini menggeluti budidaya ular hias. Dimana cuma memanfaatkan ruang di belakang rumah. Faizal bisa hasilkan omzet sampai Rp.25 juta.

Tidak terlalu sulit membudidaya ular. Yang dibutuhkan lingkungan cocok, kandang harus sesuai ukuran dan harus sesuai besar kecilnya ular. Taruh tempat air minum. Dikasih makannya cuma seminggu sekali. Ia mengatakan bahkan satu bulan sekali!

Untuk jenis ularnya ada piton bola Afrika, Korsnake Amerika Latin, lalu beberapa jeni piton Kalimantan. Dia mengatakan tantangan berbisnis ular bukan di prosesnya. Justru datang dari tanggapan akan hewan apa yang dia pelihara. Awalnya dia dimarahi keluarga ketika mulai membudidaya ular -meskipun tidak berbisa.

Karena tetangga banyak yang takut kelau mau bersilaturahmi ke rumahnya. Namun lama kelamaan, karena memang tidak berbisa, tidak berbahaya justru banyak tetangga mulai berdatangan melihat. Harga sendri dia tentukan variasi mulai Rp.500 ribu sampai Rp.5 juta tergantung dari keindahan kulit si ular tersebut.

Sebulan dia mampu menjual tiga sampai lima ekor perbulan. Dan untungnya sendiri jika maksimal sampai Rp.25 juta!

Bisnis bukan iseng


Salah sati penggemar ular, yang menekuni bisnis breeder, adalah Bapak Topan yang mana sejak kecil ular sudah menyatu dalam hatinya. Mungkin ular terlihat buas tetapi tidak bagi pengusaha ini. Bukan sebuah hobi tetapi menghasilkan uang. Pria 49 tahun ini memulai bisnis ular dengan membeli ular impor jenis corn snake.

Pilihan ular pertama buat dibisniskan meragukan. Pak Topan sempat ragu atas pilihannya sendiri. Apalagi dia merintis usaha breeder ular dari nol. Menurut level sebenernya, Corn Snake dianggap cocok buat dia yang masih pemula soal urusan membiyakan ular hias.

Tahun 2003 merupakan titik kunci, dimana dia sekuat tenaga, ada hasilnya Corn Snake Albino miliknya bisa dikembangkan menghasilkan anakan.

Sekali sukses membuat Pak Topan makin percaya diri. Dia yakin mampu menghasilkan hasil breeding berkualitas. Tahun 2006 dia memberanikan diri membawa indukan lebih besar. Yaitu ular Boa Constictor yang dipesannya impor, jenis piton, yang sudah dia pertimbangkan matang menjadi lahan bisnisnya.

Bukan sekedar hobi atau iseng melainkan bisnis. Seseorang selama mampu mengemasnya baik, Pak Topan yakin bisnis ular bisa menjadi kenyataan. Ritme alon- alon asal kelakon sudah berubah cepat. Dimana dia berpikir hobi hewan simple bisa menghasilkan uang.

Ketiadaan waktu membuat hobi ular diminati. Orang kan gampang memberi makan si ular, dimana masih bisa dijadikan sambilan sambil bekerja. Ada empat hal menjadi dasar bisnis ular dijalankan dia. Adalah pertama irit waktu memelihara ular. Lalu perawatan makan hingga tidak makan tempat dan berisik adalah kelebihan.

Inilah kelebihan buat berbisnis ular. Selain tersebut masih ada dua point lagi, yakni pesona eksotisme utamanya pada corak kulit ular itu sendiri. Pola warnanya bisa menjadi unik ketika dikawin silangkan. Inilah alasan lain kenapa Pak Topan nekat berbisnis sawerbreeder ular.

Soal investasi ular adalah investasi tinggi. Menurutnya sesuai dengan proses berkembang biaknya. Topan punya 8 pasang ular piton, 5 pasang boa, dan  2 pasang corn snake. Mereka semua adalah indukan siap buat dibudidaya. Ia memilik indukan berkualitas diatas rata- rata. Modal inilah menjadikan dia percaya diri.

Terutama dikalangan penghobi ular. Alhasil ular hasil budidayanya mampu laku hingga keluar kota. Lewat promosi internet bisa menggapai penjuru Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY. Menurut Topan kenapa dia sukses. Berhasil menghasilkan warna- warna berkualitas karena indukannya bagus, indukan impor punya keunggulan.

Indukan impor merupakan hasil silang. Lebih jinak, mampu menghasilkan persilangan yang lebih bagus, dan besar kemungkinan keturunannya jadi lebih bagus. Karena indukan jinak perawatan juga jadi lebih bisa telaten. Indukan jinak memudahkan persilangan terjadi. Satu jantan dan satu betina tetap setiap periode kawin.

Budidaya Kerang Tambak Kisah Suksesnya

Profil Pengusaha Tambak Misdi 



Namanya Misdi (39), warga Young Panah Hijau, Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan, Sumatra Utara, yang sukses berkat kerang hijau. Bukan main dengan tambak buatannya sendiri. Misdi mengaku bisa dalam 7 bulan mengantungi satu ton kerang. 

Niat budidaya datang karena terbiasa. Misdi dulu pernah bekerja menjadi petani kerang buat seseorang. Kerjaanya di tambak sedikit banyak memberikan pengetahuan. Berbekal pengalaman tersebut, maka dia berniat membuat tambak kerang sendiri.

Bisnis unik


Modalnya sedikit kata Misdi. Ayah tiga anak ini kemudian mulai membuat tambak. Lantas ditaburinya bibit kerang ke seluruh permukaan tambak. Bukan tanpa hambatan berbisnis. Misdi nyatanya tidak punya tanah sendiri. Alhasil dia bermodal menyewa tambak orang sepanjang 70 meter dan lebar 10 meter.

Tidak sampai setahun, kurang lebih cukup 9 bulan, kerang ditabur di tambak sudah membesar saja. Waktu itu, Misdi mempunyai cuma 30 kerang, yang  dia sendiri tidak pasti berapa kilogramnya. Dia nekat beli bibit ke Tanjung Balai, Asahan, dimana kalau pas belinya 400 kilogram seharga Rp.10.000 per- kg.

Prediksinya bila sedikit yang gagal di dalam tambak. Dia mungkin dapat 1 ton sampai 1,5 ton, dimana dia mengatakan harga jualnya jadi Rp.12.000 per- kg. Kenapa bisnis Misdi menggiurkan. Menurutnya ini lebih gampang dibanding memelihara ikan di tambak.

Kerang tidak perlu dikasih makan. Karena makanannya mineral dari air tambak sendiri. Cukup menjaga saja biar tambak tidak rubuh karena erosi. Termasuk memasang jaring halus disekeliling tambak. "...agar tak hanyut terbawa arus pasang surut," tuturnya.

Masa panen maksimal 9 bulan (6 bulan pun sudah bisa) maka ada baiknya punya usaha sambilan. Seperti suksesnya Misdi, suami dari Afrida ini, akan mencari udang pancing atau kepiting bakau di sungai Paluh Pompong, yang mana dia kemudian cukup dijual di pinggir jalan. 

Untuk optimal memang harus setelah umur 9 bulan, besarnya nanti sebesar jempol kaki. Walaupun belum sebesar itu, biasanya orang sudah datang mau beli seharga Rp.10.000 per- kg -dimana jika 9 bulan sampai Rp.15.000 per- kg-, biasanya Misdi lebih memilih untuk dibesarkan sampai 9 bulan.

Jualan Batik Motif Kartun Anak- Anak Doraemon

Profil Pengusaha Ratna Very Viana dkk.



Batik bukan lagi barang orang- orang tertentu. Semua orang memiliki kesempatan sama untuk mengolah motif- motifnya. Semakin familiar di mata masyarakat, banyak pengusaha muda mencoba memvariasikan batik ke dalam berbagai rupa. Batik dipakai di acara apapun baik formal maupun non- formal atau santai.

Kalau anak- anak sukanya batik apa ya? Inilah pasar yang coba direguk empat sekawan: Ratna Very Viana, Trialita Ika Rahmawati, Palupi Yuliani (progdi Pendidikan Fisika), dan Andika Setyo Wicaksono (progdi Teknik Elektronika), membuat batik cap bermotif toko kartun Doraemon.

Agar menanamkan budaya Indonesia yang kental. Maka Doreamon juga dimodifikasi memakai pakaian adat Jawa. Menurut Ratna, mereka memang menekankan kepada motifnya, bagaimana menumbuhkan rasa cinta akan budaya Indonesia.

Untuk mewujudkan produk sebenarnya. Ke empat mahasiswa UNY tersebut, tidak segan mengajak para pengrajin batik lokal membantu. Mereka menggaet kemitraan untuk membuat model cap buat batik milik mereka. Termasuk penjahitan juga sudah menjalin kemitraan jadi sudah sesuai dengan ukuran anak- anak.

Kenapa Doraemon? Karena tokoh kartun ini tidak lekang. Sudah populer di kalangan anak- anak sekarang dan membekas di hati generasi dewasa sekarang. Pembuatan baju nanti akan diselesaikan mitra. Sementara untuk finishing maka mereka berempat yang menyelesaikan motifnya.

Nanti mereka akan kemas dalam plastik dan diberi label Batmon. Label dipasang di kerah baju, dan harga dijual Rp.60 ribu. Lewat promosi dan pemasaran sosial media ditambah promosi mulut- ke mulut. Ada Facebook, Twitter, dan tidak pelit juga memasang iklan di media masa juga.

Pemuda Aceh Berhasil Menjadi Wirausaha Berkat Ban

Profil Pengusaha Muda Aceh Habibi 


  
Awal tahun 2011 silam, pemuda asal Bireuen- Aceh, bernama Habibi mencoba sesuatu yang baru. Tengah bergulat dengan hasratnya menjadi pengusaha muda. Mahasiswa Universitas Almuslim, berpikir kenapa ban bekas mobil dibuang begitu saja. Mereka cuma berakhir di tempat pembuangan akhir sampah saja.

Sambil menambal ban sepeda motor, pikiran tersebut berjalan dan mahasiswa matematikan tersebut mulai memprhitungkan. Bagaimana dia mengubah menjadi bentuk berguna. Menjadi ramah lingkungan adalah kunci sukses bisnis Habibi. "Alam semakin rusak. Karet ban bekas itu kan tidak bisa dihancurkan," ujarnya.

Mungkin ribuan tahun bisa, tetapi apakah sanggup ketika produksi ban bekas terus- menerus. Hingga di Desember 2015, bekal untung bisnis tambal ban motor miliknya di Keude Jeunib, pergi lah Habibi ke toko membeli pisau pemotong karet. Dibelinya pisau dan batus asah, kemudian bor listri, kuas, dan cat.

Semuanya dibeli berhutang di salah satu toko alat bangungan -atau di Aceh disebut Toko Buso- beruntung karena pemilik toko percaya kepada Habibi. Sekitar dua atau tiga ban bekas dijadikan media untuknya berkreasi. Semua pikiran dicurahkan oleh Habibi membentuk kreatifitas artistik berbahan ban bekas.

Semua karena keuletan dan daya tahan menghadapi ketidak pastian. Tidak mudah meyakininya, bagaimana sebuah ban bekas akan menjadi pot bunga berbagai variasi akan laku. Disebarkan produk tersebut ke sosial media, dimulai dari sosmed, dijadikan lapak pertama pengusaha muda ini.

Sambutan postifi bermunculan melihat produk Habibi. Kemudian usaha tersebut diberi nama Seni Pemuda Desa atau SPD, yang mana merujuk kepada statusnya sebagai mahasiswa pendidikan S.Pd. Menurutnya menjadi guru bukan sekedar di kelas. Jangan berpikir kaku sebagai mahasiswa juga harus melihat banyak kesempatan.

Jangan terperangkan di dalam ruang kelas tambahnya. Jangan terjebak mengajar kepada hanya siswa yang berseragam. Lewat entrepreneurship kita bisa memberikan pengetahuan kepada siapapun. Ini termasuk juga cara bagi guru untuk berdikari tidak fokus menggantungkan hidup untuk menjadi PNS.

Dia dibantu teman- teman putus sekolah mencoba berbisnis. Menghasilkan berbagai produk variasi bahan ban bekas, mulai dari vas bunga bermotif, ember, ayunan, dan meja. Cukup ban dikupas kemudian digulung bulat. Dipaku, selanjutnya diperhalus, dan dilukis, jadilah aneka produk termasuk tempat sampah lucu.

Kelebihan tempat sampah dari bahan ban bekas. Ya bebas hujan karena ban bekas tidak akan masalah jika kena air terus- menerus. Juga tidak akan karatan ataupun pecah. Bermodal seratus ribu, kini, Habibi sudah mampu mengantungi omzet jutaan rupiah.

Nama Pemilik Sate Padang Ajo Ramon Pasar Santa

Profil Pengusaha Ramon Tanjung 


 
Sang pemilik Sate Padang Ajo Ramon telah meninggal dunia. Tidak banyak yang bisa penulis tulis di sini. Terutama tentang kisah suksesnya. Namun perlu menjadi catatan inspiratif, bahwa dia merupakan polopor masuknya bisnis sate Padang di Jakarta.

Hampir setiap hari dipadati pengunjung, yang rela menunggu di warung mereka di Pasar Santa, Jakarta Selatan, justru ketika musim libur pembeli mengantri panjang. Anak ke empat Pak Ramon, Iwan lalu mulai bercerita, bisnisnya dimulai sejak 1980 sejak awal bertahan tempatnya masih di Pasar Santa ini.

Jika pindah cuma pindah posisi karena sempat ada renovasi. Aneka penghargaan sudah diterima sate Ajo Ramon terutama lomba sate se- Indonesia bersama Kecap Bango. Sebelum meninggal Ramon Tanjung sempat memesankan anaknya agar bisnisnya tetap berjalan.

Selama 37 tahun bisnis Ajo Ramon mampu mengantongi omzet sampai Rp.500 juta per- bulan. Wisatawan asing juga sudah ramai mencicipi sedapnya Ajo Ramon. Dengan perpaduan pedas dan asin rasa sate ini memang berbeda dengan sate umumnya.

Wisatawan asal Prancis sampai kepedasan ketagihan. "...rasanya sungguh enak...," ujar Tash yang sedang berlibur bersama teman- temanya di Indonesia. Sementara itu penikmat lokal menyebutkan resep Ajo Ramon beda daripada sate padang umumnya. "...gurih, dan bumbunya enggak bohong," jelas Sapto.

Rahasian sukses sate padang menurut Iwan. Beda dari biasanya, pelanggan bisa memilih sendiri satenya dan lengkap, dari lidah, usus, jantung, dan daging aja. Kemudian sate disiram bumbu perpaduan 35 bahan rempah. Penjualan sampai 8 ribu tusuk dengan omzet mencapai Rp.16 juta per- hari dengan tujuh cabang.

Total pegawai bisa dipekerjakan sampai puluhan loh. Kunci sukses menurut anak Ramon Tanjung adalah konsisten. Kualitas ada pada rasa, tidak bisa dipungkiri persaingan makin menjadi. Untuk tetap menjadi pemenang Sate Padang Ajo Ramon mempertahankan kualitas produknya.

Rumahtopi.com Perjalanan Bisnis Ahlinya Topi

Profil Pengusaha Iqbal Rahmanuel 


 
Sukses Iqbal Rahmanuel tidak seketika. Bisnis dijalankan pengusaha muda satu ini memang terlihat sangat sederhana. Bisnis aneka penutup kepala yang bisa dilakukan semua orang. Butuh cara berbeda biar Iqbal mampu memecahkan kebuntuang bisnis.

Ide kreatif perantau Medan adalah menspesifikasi dirinya. Bisnis bertema rumah topi dimana setiap orang akan menemukan topinya di sini. Guna mendukung bisnis Iqbal membangun  www.rumahtopi.com inilah ujung tombak bisnis topi berbasis internet.

Inspirasi mendorong membuka bisnis topi. Dia merasa kesusahan mencari topi. Loncat sana, kemudian ke sini, tidak ada tempat pasti dimana dia memanjakan hobinya. Rumah Topi adalah bisnis menawarkan aneka jenis topi bahkan paling susah dicari sekalipun.

Bukan bisnis topi biasa


Awal dia iseng mencari topi bermodal tidak biasa. Dia mencari topi komando dan topi lukis. Kan susah tidak umum dicari anak muda. Ternyata meskipun lewat internet, masih susah ditemukan dimana bisa dia mendapatkan topi- topi tersebut.

Ia kemudian menemukan masalah sama dirasakn orang lain. Inilah kesempatan bisnis jika Iqbal mampu memenuhi kebutuhan mereka. Sebuah peluang bisnis ketika menemukan permasalah serupa di berbagai forum internet. Bermodal uang Rp.5 juta dia mulai membantun website www.rumahtopi.com dan mulai memasok.

Beberapa jenis topi ditemukan langsung dijual. Topi tersebut jarang ditemukan di pasaran. Berkat ide itu Iqbal mampu mengantongi omzet Rp.17 juta- 20 juta, dimana topi dijualnya 150- 200 topi dan margin untungnya 40% loh.

Dimana ada 25 jenis topi dengan variasi model berbeda banyak. Contoh topi snapback, trucker, newsboy, ushanka, hingga flat cap yang susahnya minta ampun dicari di Indonesia. Cara Iqbal memenuhi produksi ialah dengan menggaet pengrajin topi asal Bandung, lainnya Iqbal mengimpor dari pabrikan di China.

Topi beraneka macam, dari pria, wanita, anak- anak, tersedia di Rumah Topi. Strategis sosial media dia lebih pertegas agar bisnisnya menggaet lebih banyak. Marketing Iqbal memang tidak face- to- face tapi ternyata lebih efektif dibanding perkiraan orang.

"Kami juga melakukan promo langsung dan berinteraksi dengan konsumen di sosial media," tuturnya. 

Tiga tahun berbisnis bukan tanpa kendala teman. Dia mengaku ada beberapa hal: Salah satunya pemasok produk topi, yang mana awalnya dia membuat berdasarkan karena belum ada pegawai. Padahal pesanan besar sekali ketika bisnisnya terus berkembang, Iqbal sempat keteteran tetapi berhasil melewati masa itu.

"...bahkan saya pernah menolak pesanan 1.000 topi," kenang Iqbal. Dengan jujur dia mengatakan kondisi perusahaanya kala itu. Mau bagaimana lagi bisnis Iqbal memang baru dimulai.

"Lebih baik kami jujur supaya konsumen tidak kecewa," paparnya. Keutelan Iqbal terbayar dengan pusat produksi sendiri di Surabaya. Kanapa bisnis Iqbal sukses karena balum banyak orang menggarap pasar itu. Ke depan dia berharap Indonesia menjadi produsen topi berkualitas dunia.

Ia menyebutkan bahwa pengrajin kita itu punya kreatifitas tinggi. Masalah pengrajin adalah di manajemen produknya. Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR angkatan 2012 ini, juga masih semangat mengerjakan kuliahnya.

Bisnis terus


Begitu meliat peluang bisnis topi. Dibenak Iqbal adalah bagaimana agar nomor satu. Bagaimana caranya agar toko onlinenya nangkring di halaman pertama Google. Nama Rumah Topi juga sudah termasuk satu doa dia panjatkan agar menjadi pusat topi Indonesia.

Menurut Iqbal tempatnya merupakan pusat topi terbesar. Pemuda kelahiran 9 September 1993 ini, mulai resmi membuka bisnisnya pada Maret 2012 silam. Selain berbisnis topi, Iqbal juga membuka usaha lain, seperti Raja Tas Kertas dan Es Krim Creamel. Kuliah sambil berbisnis dijalankan penuh semangat tanpa ragu.

Keuntungan dicapai sekarang sampai Rp.20 juta. Iqbal juga sudah memiliki toko offline di Jalan Kapas Kampung No.45, Surabaya.  Meskipun sibuk berbisnis Iqbal tidak lupa kuliahnya. Semua sudah dia jadwal dengan baik. Karena baginya masih merupakan kewajibannya sebagai mahasiswa untuk mengikuti kelas.

Kan kita bisa memilih sendiri jadwal biar tidak benturan. Kesuksesan Iqbal tentu membanggakan kedua orang tuanya. Membuat orang tua bangga sudah lebih dari cukup. Bisnis asyik tetapi menjadi mahasiwa adalah kebanggaan orang tua. Disini dia bisa mengaplikasikan ilmu manajemennya secara langsung kerja.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba