Dianggap Gila Mau Jadi Pengusaha Kopi Pesisir

Profil Pengusah Yuri Dulloh 


 
Yuri sempat dianggap gila. Namun niatnya tetap bertahan sampai sekarang. Pasalnya dia tidak sekedar mau mengejar materi. Dua hasrat terbesar: Pertam Yuri Dulloh ingin menghijaukan kampungnya di Kebumen. Yang kedua adalah mengembangkan potensi kopi lokal asli.

"Saya dianggap gila ketika mulai menanam kopi di pekarangan rumah," kenang Yuri. Alasan Yuri tetap ada kepada pendiriannya, tidak lain karena sejarah Kebumen yang pernah menjadi pusat kopi Belanda. Disana ditanami aneka tanaman termasuk kopi dan berhasil.

Ditanami lah rumahnya di Desa Pucangan, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Tidak bisa dipercaya kalau kopi dapat ditanami di daerah pesisir. Dia juga merambah aneka macam jenis kopi ketika penelitiannya terbukti. Mulai Arabica, Liberica, Robusta, dan Javanica, mampu tumbuh subur di sana.

Buahnya memerah menghasilkan kopi tanpa cela. Tidak ada rasa berubah. Aroma juga nikmat layaknya itu kopi berasal dari daerah beralam sejuk pegunungan. Banyak orang terheran- heran kok bisa tanaman kopi tumbuh di daerah pantai ya.

Mimpi wirausaha


Ia bercerita hidup merupakan tantangan. Dia pernah mengerjakan aneka usaha. Merantau ke Jakarta tidak lain menjadi upaya Yuri merubah nasib. Dia pernah menjadi guru les, penjaga toko, salesman, captai bar, penjaga pintu tol, bahkan terakhir menjadi tukang masak restoran.

Antara Jakarta, kemudian ia ke Madiun, bersinggah di Semarang dan kembali ke Kebumen karena lelah. Mungkin hiruk pikuk kota besar dirasakan cukup. Tahun 2006 dia mencoba membuka usaha gypsum, dan juga menjadi tenaga pemasaran pabrik semen. Juga termasuk usaha jual- beli tanaman bonsai di pasar.

Sibuk berbisnis hingga sore Yuri sempatkan beristirahat. Disela- sela waktu, ia sempatkan mengobrol dengan masyarakat. Sebuah informasi mencengangkan bahwa di Kebumen, dulu, sekitar 5- 10 tahun silam berdiri pabrik kopi Kebumen. Namun kopi mereka tanam adalah kopi Lampung bukan Kebumen.

Apakah Kebumen memiliki kopi lokal. Pertanyaan tersebut menggelitik. Ia melanjutkan obrolan. Hingga ia menemukan fakta Kabupaten Kebumen punya kopi Salam. Sayangnya, produk kopi Salam sudah tinggal kenangan, sudah ditinggalkan masyarakat sangat lama.

Katanya warna kopi lebih pekat. Rasa kopi Salam konon memilik cita rasa lebih tajam juga. Berhentinya budidaya karena harga kopi rendah. Kopi belum sengetran sekarang. Alhasil petani mengganti tanaman kopi mereka menjadi cengkeh. Beberapa membiarkan tanaman mereka mati dan lahan tidak produktif.

Seketika dia mendapatkan inspirasi wirausaha. Ia ingin membudidayakan kopi. Bayangan kedai kopinya sendiri dan tanaman ditanam sendiri. Ia memulai dengan menanam 20 batang pohon. Berbekal akan rasa kepercayaan bahwa Kebumen pernah menjadi pusat tanaman kopi.

Tradisi menaman kopi memang sudah hilang. Banyak warga menganggam Yuri gila. Rasa optimis dia terus tumbuhkan. "Lah nyatanya tumbuh dan besar dan lebat," paparnya. Dia menaman di pekarangan rumah. Ia menunggu telaten pohon kopinya tumbuh. Sembari itu dia mengajak tetangga buat ikutan menanam kopi.

Tahan banting


Dia mengatakan sisa pohon kopi masih ada. Mereka tersembunyi diantara rimbunnya lahan tidak terpakai. Lantas Yuri menawarkan kerja sama kepada masyarakat. Ia menawarkan sistem bagi hasil. Yuri belikan bibit, menanam, merawat, dan memanen, sementara masyarakat mengikhlaskan tanahnya ditanami kopi.

Yuri ikhlas membagi dua hasil. Namun tidak semua petani langsung mengiyakan permintaan itu. Beberapa malah menolak. Untuk itulah dia serius membuktikan bahwa daerah pesisir juga bisa.

Fokus Yuri mengembangkan lahan kritis. Tanah yang tidak diurus pemiliknya. Dijadikan diolah menjadi tanah produktif. Ketika orang umum memilih pinus buat penghijauan. Yuri memilih menanam kopi jadi solusi penghijauan juga. Gerakan penghijauan produktif ini menggaung sampai Kulon Progo.

Menyiasati bisnis kopi diawal. Ia menggunakan untung bisnis gypsum. Dia juga merelakan gajinya jadi tenaga marketing. Sampai dua tahun barulah usaha dijalankan membuahkan hasil. Lahan tidak produktif itu mulai ditumbuhi pohon kopi berbuah. Kian banyak warga mengikuti jejak Yuri menanam aneka jenis kopi.

Pokoknya tidak boleh ada tanah menganggur. Kebumen harus berswasembada memiliki komoditi andalan. Ia mengakui semua dipelajari otodidak. Berbagai strategi menanam mulai okulasi dan stek dicoba. Dari hobinya bereksperimen dia bahkan menghasilkan perpaduan lima jenis biji kopi.

Tujuh tanaman kopi dikembangkan Yuri. Menurut Kompas.com, bahkan mengembangkan kopi lokal yang pernah hampir punah. Kalau melihat tanaman kopi liar di jalan, Yuri akan langsung cabut dan dibawanya ke Kebumen. Banyak tempat dia coba, mematahkan pendapat bahwa kopi cuma ditanam di tanah pegunungan.

Bahkan ada pohon kopi berusia 40- 50 tahun loh. Masih subur berbuah tetapi tidak dirawat layaknya satu komoditi. Dari biji kopi, Yuri merambah teh berbahan daun kopi, kemudian kulit kopi dijadikan pupuk cair dan padat. Hobi eksperimen bersumber dari berbagai tempat. Dia juga orangnya hobi berdiskusi tentang sesuatu.

Ia juga bertanya kepada perajin kopi di luar daerah. Dia lantas mengembangkan produksi kopi jadi. Alasan karena dia tau menjual biji kopi hasilnya dikit. Kopi olahan dihargai lebih tinggi dia sarankan. Sudah jadi makanan sehari- hari hasil eksperimen Yuri tidak sesuai harapan.

Pernah bahkan dia kehilangan 100 kilogram biji kopi. Kegagalan bagi Yuri adalah awal kesuksesan. Lalu ia mendirikan perusahaan sendiri. Brand yang bernama Yuam Roasted Coffee. Yuam berarti namanya dan juga nama Kecamatan Ambal. Dia juga belajar menyeduh kopi sendiri, belajar kursus barista di Jakarta.

Yuri juga bekerja sama dengan banyak kafe- kafe. Total ada 10 kafe dari Kebumen, Magelang, Purworejo, Sukoharjo, Semarang dan Yogyakarta. Yuri sendiri mengaku masih mau terus bereksperimen lewat kopi. Dia juga ingin lebih banyak membantu para petani khususnya kopi.

Impian lain Yuri, adalah tanaman kopi khas pesisir, aneka jenis kopi bisa ditanam di kawasan pantai. Dan ia tidak akan berhenti hanya di Kebumen. Yuri menargetkan pasar ekspor. Sejak 2009, dia memulai usaha, hasilnya mencengangkan contoh satu pohon usia lima tahun menghasilkan 25kg sekalinya panen.

Inovasi kopi


Kopi enak tidak harus mahal. Prinsip inilah mendorong Yuri berkreasi. Hobi eksperimen membawa dia menciptakan suatu alat unik. Yuri menyulap bambu menjadi alat penyaring kopi. Bambu dipotong lantas ia jadikan bak saringan ekspreso. Harga saringan asli ditaksir mencapai Rp.4 sampai Rp.50 juta rupiah.

Nah, kalau kopi sudah kena alat, maka harganya kopi ekspreso mencapai Rp.20 ribu- 50 ribu. Ia mencoba merubah paradigma tentang kopi ekspreso. Ia menawarkan kopi standar kafe. Proses pembuatan saringan ekspreso cukup sederhana loh. Bambu dibikin kayak gelas diberi lubang buat menyaring ampas.

Memang buat menyaring butuh waktu lima sampai sepuluh menit. Pria 37 tahun ini mengatakan hasilnya layak disandingkan ekspreso. Tetapi rasanya tidak kalah, bahkan mungkin unik dibanding kopi ekspreso standar. Pembuatan kopi macam ini sejak 2011 silam, dan dia juga menghias alat penyaring tersebut.

Ada pernak- pernik dipinggiran saringan bambu. Juga ditambahi aneka gambar dan diperhalus teksturnya. Ia menyebut agar banyak masyarakat tertarik. Satu paket kopi bambu seharga Rp.60 ribu sudah termasuk satu saset kopi Kebumen hasil tanamnya.

Sebagai mantan pengusaha muda. Yang masih tertahan menekuni bisnisnya. Ia mengaku masih saja sempat dicemooh gila. Butuh waktu dia memperkenalkan kopi bambu lewat workshopnya. Dia bahkan khusus memperkenalkan lewat komunitas. Dan mulai banyak barista Jakarta membeli kopi bambu karya Yuri.

Untuk melindungi hasil karya. Ia mendaftarkan kopi bambunya. Memang soal hak cipta menjadi masalah tersendiri. Balitbang sendiri menawarkan diri. Melakukan pendampingan agar bisnis terlindungi secara intelektual.

Kisah Tukang Angkut Ikan Menjadi Jutawan

Profil Pengusaha Jhon Nesimnasi 



Awal bisnis tidak menyenangkan. Kehidupan sebelum menjadi suplier ikan layaknya kuli. Jhon Nesimnasi, memulai menjadi pengakut ikan. Jhon sudah hidup susah sejak kecil, sudah terbiasa akan namanya kerja keras. Dia bekerja sebagai pengakut ikan.

Kuli ikan, sebelum usahanya sendiri dibuka 2002 silam, ia setiap saat ada kapal merapat akan segera berlari. Jhon akan membantu mengangkuti. Ikan dibawa ke pasar dan nanti ia mendapatkan imbalan lumayan. Lumayah loh, ia mengaku sehari bisa mengantungi Rp.100 ribu.

Meskipun begitu tidak mudah. Persaingan sesama ditambah kehidupan keluarga yang susah. Hidup adalah bekerja keras. Kedua orang tuanya tidak mampu membiayai sekolah Jhon. Maka ketika pulang sekolah, Jhon kecil langsung berangkat ke pantai, mengangkut ikan- ikan membantu para nelayan bekerja.

Dimulai sejak sekolah menengah pertama atau SMP. Dia bersama kawan mulai ikut bekerja bersama. Jhon menjadi bakul ikan.

Kisah sukses


Nasib berubah ketika tempat itu dirubah menjadi pelelangan ikan. Pantai kecil tersebut sudah memiliki satu tempat khusus. Nah, karena Jhon dikenal dapat dipercaya, maka para nelayan menerima bantuannya. Ia dijadikan suplier buat nelayan menyetorkan ikan.

Ia mengatakan menghasilkan Rp.20 juta. Itu diluar biaya yang Jhon keluarkan buat anak buah loh. Ada 16 orang dipekerjakan dia. Tugas mereka membongkar ikan dan membawa ke pelelangan. Sebagai suplier dia bekerja mengumpulkan ikan hingga dipasarkan ke pasar- pasar di daerahnya, dan pengolahan ikan juga.

Setiap harinya pria 40 tahun ini bisa memasarkan sampai 10 ton ikan. Ikan dipasarkan banyak macam, dari ikan cakalang, tuna, layang, tongkol, dan kakap. Moda dikeluarkan Jhon terbilang kecil. Kepercayaan akan John membuat bisnisnya lancar. Usahanya terus berkembang lewat kemitraan bersama.

Jhon pun merasakan berkat kebaikan nelayan. Dia memberikan timbal balik. Yakni memberikan modalnya ke nelayan. Sebagai gantinya meminta dia menjadi supliernya. Para nelayan akan menjual ke Jhon buat dia pasarkan. Namun dia menggunakan harga lelang yang disepakati bersama.

Uang dibutuhkan nelayan senilai Rp.2- 7 jutaan. Utama nelayan akan memancing tuna. Lamanya lumayan sampai tujuh hari melaut. Atau bahkan mereka bisa memancing sampai sepuluh hari. Kemitraan dijalankan Jhon mampu membeli dia satu kapal sendiri. Dan dibawah naungan Jhon ada 22 kapal mitra milik nalayan.

Kondisi angin laut menjadi tantangan tersendiri. Bahkan ketika musim angin barat, dalam dua bulan dia bisa tidak mendapatkan ikan. Kalaupun nelayan bisa menangkan ikan ya terbatas. Pria asal Kupang ini dulu pernah terjerat rentenir. Dia harus membayar bunga sampai 10- 20 persen dari total uang dipinjamkan.

Hingga situasi tersebut dapat diatasi selepas 4- 5 tahun. Paling terberat adalah karena hutang Jhon tidak boleh dicici. Kewajiban membayar hutang tersebut akhirnya terbayar. Karena dia memakai uang bukan buat sembarangan. Hasil usahanya penampungan ikan, gudang seluas 8x13 meter, dimana ikan disalurkan.

Asal Usul Pengusaha Batik Creative Batik Abstrak

Biografi Pengusaha Khaleili Nungki 



Wanita 27 tahun ini beruntung. Namun keberuntungannya tidak mudah. Berbekal pendidikan ekonomi dari Universitas Islam Indonesia, dia memilih membuat batik. Padahal dia sama sekali tidak pernah belajar membatik. Sejak kecil nih, katanya, dia bercita- cita menjadi pengusaha sukses bukan karyawan saja!

Lulusan cum laude tentu mudah mencari pekerjaan. Tetapi kecintaan akan batik kadung kian membesar. Wanita bernama lengkap Khaleili Nungki Hashifah (Nungki). Lantas merasakan dia ingin membuka usaha batik sendiri. Tahun 2012 barulah dia memutuskan membuat batik sendiri otodidak.

Nungki pernah bekerja menjadi spg, mengajar les bahasa Inggris, dan terakhir ia berjualan batik printing online. Disana kecintaan akan batik tumbuh. Dia mengaku berjualan pakaian sudah bukan hal baru. Sudah lama sejak jaman sekolah dia menjual aneka pakaian.

Ketika UNESCO mengamini bahwa batik merupakan warisan budaya asli Indonesia. Namanya menanjak dan menghasilkan miliar rupiah berkat batik.

Alkisah pengusaha


Belajar batik bukan mudah. Awalnya karya Nungki dianggap cocok menjadi ukiran. Setengah mengejek itu (batik nya) tidak laku ditempel di kain. Kegigihan terus belajar dia mengambil jalur lain. Ketika pengusaha lain condong ke batik kontemporer dia mengambil jalur batik abstrak.

Creative Batik sudah dilaunching sejak 2010. Sambil berjalan waktu dia menyempurnakan tekniknya. Dia, kelahiran 27 Juli 1989, tidak mau ketinggalan ketika batik menggeliat. Berbekal pengalaman online dia yakin mampu menjual.

Uang Rp.500 ribu dia membuka workshop kecil. Nungki membeli perlengkapan batik. Wanita yang tinggal Selokraman KG III/1069 RT 49/11 Kota Gede, Yogyakarta, dia mencoba aneka batik kontemporer hingga batik abstrak. Mencoba menciptakan keunikan dengan motif batik abstrak karyanya sendiri.

Perpaduan antara motif Jawa kuno dan abstrak. Pewarna alami adalah prinsip dipakai oleh Nungki. Teknik dia menggunakan teknik celup dan colet. Menyerap lekat dengan teknik celup dia lakukan. Kemudian dia menggunakan teknik colet buat menciptakan gradasi, terutama antara abstarak dan kontemporer miliknya.

Eskperimen Nungki menghasilkan sesuatu. Warna cerah membuat batik karyanya disenangi anak muda. Ia terus melakukan eksprimen. Mulai membuat kain batik. Karena keterbatasan bahan dia berpikir, akhirnya dia memilih menciptakan pakaian jadi, yang dibatik dia sendiri.

Bahan katun dan sutra menjadi andalan. Dia potong kain batiknya sendiri, dijahit dijadikan kemeja, blaze, dress, syal atau aksesoris. Seperti pengusaha muda lainnya dia pernah merasakan susah. Pasang surutnya karena pengadaan bahan baku terkadang seret. Itu mempengaruhi tahap produksi jadi omzetnya tidak tetap.

Bahkan dia mengaku cenderung merosot. Gadis lajang ini mencoba bertahan mengikuti ritme pebisnis muda. Hasratnya masih kuat melawan kesukaran. Namun kesabarannya diuji ketika masalah mendera itu datang. "Saya ingin anak muda itu bisa pakai batik asli," paparnya.

Bertahan berusaha


Kegigihan dia terbayar kesuksesan mendatang. Tahun 2012 menjadi tahun tersulit baginya. Memasuki ke 2013, keadaan mulai membaik bagi Creative Batik, bisnisnya mulai membaik. Omzet bertahap mulai lah naik kembali ke posisi semula. Dia kemudian merekrut 15 orang memproduksi 150 pcs per- bulannya.

Dia memadukan antara marketing offline- online. Untuk itu dia mengikuti aneka pameran nasional. Dia juga menjajakan bisnisnya di blog. Lewat www.batikabstrakkontemporer.blogspot.com, Creative Batik menelisik memasuki pasar internasional pula. Produk miliknya dipamerkan di Amerika, Suriname, dan Filipina.

Galeri di Yogyakarta dan Jakarta menjadi pelanggan tetap. Omzet nya mencapai Rp.13 juta per- bulannya waktu itu. Kini, dia minimal menghasilkan Rp.50 juta, dan bahkan bisa sampai Rp.100 juta. Nungki makin bersemangat memperluas ragam batik. Termasuk menambah lini pemasaran agar tetap berekspansi lagi.

Dia meningkatkan kualitas produk. Juga dalam hal pengemasan barang serta pengiriman. Konsultan desain juga dipanggil agar konsumen puas. Ada garansi produk ditambah diskon agar tidak monoton. Keinginan menambah luas workshop. Juga menambah kapasitas produksi tidak dipungkiri begitu menggeliat.

Keinginan membuktikan batik bukan buat orang tua (saja). Keinginan ini menambah gelora dalam benak seorang Nungki.

Dia berkisah ayahnya adalah pembatik. Lebih tepatnya mengukir kayu bak batik. Disanalah desain batik ia miliki tumbuh. Dipadunkan desain pakem yang sudah ada. Kegigihan buat memperkenalkan batik khas miliknya sendiri. Dia mulai memasarkan online dulu. Begitu percaya diri, dia menawarkan ke toko- toko.

Proses batik tradisional memang sulit. Pantas lah kalau harga dijual Nungki lumayan. Tetapi setara dengan proses pembuatan yang sampai memakan minimal satu minggu. Sentuhan gradasi, warna, hingga desainya begitu menarik. Motif dan warna benar berkualitas menempel pada kain buatan Creative Batik.

Membuat Bubur Sop Arang Enak

Profil Pengusaha Muhammad Farid



Namanya tidak begitu populer. Justru ditangan Muhammad Farid. Makanan ini kemudian naik daun karena ke khasannya. Inilah kisah Farid, sang pengusaha muda, pebisnis kuliner yang bernama bubur sop arang. Makanan perpaduan antara Palembang dan Arab, bubur gurih belum banyak diketahui orang.

Justru makanan tidak terkenal. Malah membawa nama Farid sampai diliput Viva.co.id. Pemuda tampan ini bercerita tentang petualangan mencari bisnis. Sampai dia menemukan bahwa makanan kesukaanya langka. Bubur sop arang susah didapatkan kecuali ada pernikahan. Itupun pernikahan orang keturunan Arab saja.

Dia sering mencari tetapi susah. Hampir tidak dapat. Hobi makan membawa dia ke ide bisnis. Kesimpulan gampanya: Karena dia suka dan belum ada penjualnya. Usaha pertama tersebut bermodal Rp.150 ribu. Dia menyebut sisa hasil gaji bulan sebelumnya.

Disamping berbisnis terselip pesan moril. Keinginan melestarikan makanan khas Palembang. Jadilah dia lebih bersemangat mengembangkan usaha. 

Menurutnya orang Palembang sudah mulai jarang. Lebih suka menikmati makanan cepat saji. Padahal menurut Farid rasa bubut sop arang lebih "ajib" dibandingkan semua. Sulit memang jadinya mengenalkan makanan tersebut. Kesulitan bukan halangan buat menjalankan kewirausahaan!

Dalam tiga pekan, berkat kegigihan Farid mengantungi Rp.2,5 juta. Dia menceritakan bagaimana cuacanya terkadang menantang. Tidak bersahabat. Hingga dia terpaksa mengantarkan pesanan pakai motor. Karena kemasan ala- kadar maka rusak lah. "Suka dukanya banyak, terutama soal destribusi," paparnya.

Dia menerapkan bisnis layanan antar. Menjemput pelanggan sendiri langsung. Kalau pelanggan jauh yah lumayan susah ya. Farid mengatakan pembuatan bubur memang mudah. Namun, khasnya, justru terletak pada aneka macam rempah khas Palembang. Dicampur kaldu ayam, kapulaga, cengkeh, dan beras.

Semua bumbu ditumis sampai harum. Lantas tambahkan parutan kelapa. Semua bahan digongseng. Jadilah usaha andalan Farid. Kini, halangan rintangan terbayar, bisnis miliknya dikenal masyarakat. Namanya Bubur Sop Arang -Arang kepanjangan dari Arab Palembang-, yang omzetnya mencapai Rp.10 jutaan.

Pirton Hutagalung Anak Pengusaha Metromini

Profil Pengusaha Metromini Kaya  


 
Tidak mudah bagi Pirton Roul Hutagalung merantau. Apalagi dia harus memulai semua dari nol. Dia tau bagaimana rasanya kesusahan. Bermula dari bisnis sang ayah, Mangaradja Haolanan Hutagalung, hanyalah seorang petani karet. Merintis bisnis agrari kecilan sampai lahan didapat semakin luas.

Namun sang ayah lantas menyadari bisnisnya kurang menjanjikan. Ayah Pirton sendiri merupkan orang kepercayaan Jendral Maraden Panggabean dan TB. Simatupang, lantas memilih pergi ke Jakarta. Disana meski punya kenalan dia tetap bekerja keras!

Ia berusaha jualan toko kelontong kecil. Di sebuah gang kecil, kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, yang mana Pirton selalu terkenang kegigihan ayah. Toko tersebut dinamakan Toko Sandang Pangan, dimulai sejak tahun 1957.

Berubah haluan bisnis


Insting ayah Pirton mulai terasah. Ketika ada kesempatan dia langsung belok. Arah bisnisnya kemudian ke bisnis transportasi. Keberuntungan mulai hinggap. Tahun 1962, Gubernur DKI kala itu, Ali Sadikin tengah mencari sosok mengurusi usaha bus Ikarus, dalam rangka mensukseskan Asian Games IV di Jakarta.

Sang ayah mengelola usaha tersebut. Bisnis yang kemudian diberi nama CV. Kawan & Co. Bisnis Ikarus tumbuh pesat. Dia lantas dipercayai lebih. Dia dititipi pengelolaan angkutan umum kota "metromini". Bisnis kecil merah tersebut merupakan pasrahan Bus Robur khasnya Jerman Timur, oleh Gubernur Henk Tuang.

Alasan utama kenapa ayah Pirton kebagian. Bahwa BUMN, pada 1969, tidak mampu mengelola unit yang begitu banyak usai pesta olah raga GANEFO. Didirikan lah perusahaan atas nama PT. Arion Paramita. Ia mampu meningkatkan kesukses dan melakukan difersivikasi bisnis ke macam bisnis lainnya.

Usaha dijalankan meliputi properti, hotel, travel dan industri. Aset perusahaan Arion Mal, Hotel Arion Swiss -belhotel Jakarta dan Bandung, Hotel Citra Cikopo, dan Grand Maharaja Ballroom. Dimana ada 18 buah perusahaan dibawa kerajaan bisnis mereka, menaungi 1.000 orang karyawan.

Adapula 150 armada bus Arion, dibawah naungan Arion Permata Group, digunakan untuk membantu antar jemput maskapai Singapore Airline dan Japan Airline.

Kisah sukses tersebut lantas dilanjutkan Pirton. Bersama tiga saudara lainnya bahu- membahu agar tidak jatuh. Tidak mudah mereka memperluas bisnis keluarga. Namanya bisnis keluarga harulah kompak loh. Ia bersama tiga saudaranya mengikuti filosofi ayah, "memeras botol sampai setetes dua tetes air.

Ikhtiar dan doa dipanjatkan. Ketiganya bersama sang ibu, MD Hutagalung, bersama membangun bisnis atas dasar kebersamaan.

Ambisi Buruh Ilegal di Suburnya Bisnis Jamur Thailand

Profil Pengusaha Than Wai Aung 



Ia berkata, "saya tidak pernah mau menjadi pegawai siapapun." Kisah seorang imigran asal Burma yang kini tinggalnya di Thailand. Pendatang asal Vietnam tersebut terjebak. Dalam rutinitas bekerja menjadi buruh di negara lain. Setelah mendapatkan pelatihan pria 44 ini menjadi pegawai kontruksi sebuah perusahaan.

Than Wai Aung menghabiskan waktu selama hampir 16 tahun -semenjak pindah ke Bangkok, Thailand. Dia juga bekerja tidak cuma membangun perumahaan di Bangkok, termasuk membangun beberapa properti di kawasan North.

Hingga tiga tahun berselang, Than lantas mengunjungi sebuah provinisi, yakni Ratchaburi, sebuah provinsi perbatasan Thailand. Disana dia menemukan sebuah kegiatan menarik hati. Warga sekitar asik menanam jamur untuk bertahan hidup. Dorongan membawa Than menetap di kawasan tersebut, tidak bekerja lagi.

Bekerja konstruksi menurutnya sangat berat. Sementara membudidaya jamur dianggapnya asik. Karena ia mengatakan suka alam. Kecintaan akan alam inilah dia bertahan. Justru ketika passion -nya menemukan jalannya. Ternyata pasaran Ratchaburi justru tidak mampu menampung bisnis budidayanya.

Terlalu bersemangat hingga jamurnya banyak rusak. Tidak mau jamurnya rusak, akhirnya dia memutuskan kembali ke Kota Bangkok.

Bisnis alami


Pertama kali menginjakan kaki di Thailand. Dia tidak bisa berbicara bahasa lokal. Tidak pula mampu bicara bahasa Inggris sempurna. "Itu sangatlah susah," kenang Than. Mencari pekerjaan juga semakin susah. Dia cuma bekerja menjadi pekerja konstruksi. Karena tidak punya surat ijin jadilah dia terkadang ditangkap.

Dari bekerja menjadi buruh konstruksi, Than hanya menghasilkan antara 200 hingga 300 bath -atau di sekitaran $6- 9 per- harinya. Pandangan tentang jamur juga sudah ada. Ketika dia bekerja menjadi buruh konstruksi dia merasa kenapa tidak ditanam. "Kenapa tidak membudidaya itu?"

Pikiran lain, ya, tidak ada satupun teman melakukan hal sama. Dia merasa inilah pekerja utamanya. Dulu, pernah dia bekerja menjadi di perusahaan farmasi Vietnam, angan- angan Than memang sudah menjelajah mau menjadi boss buat dirinya sendiri.

"Dan ketika saya datang ke Thailand, saya tau saya tidak akan pernah kaya bekerja dengan orang lain," ia menambahkan, inilah mimpi besarnya.

Bicara mengenai Vietnam tidak ada masa depan. Dan ketika kamu berbicara buruk tentang militer. Kamu akan ditangkap. Oleh karenanya dia datang ke mari (Thailand). Dia berkata di Vietnam perasaan takutnya sampai 24 jam. Kamu tidak boleh asal ngomong. Sangatlah susah hidup dibalik ketakutan di sana dulu.

Hingga dia datang dan menetap di Ratchaburi, di Barat Thailand, yang mana berjarak dekat dengan garis perbatasan antar dua negara. Berbipikir mengenai bisnis jamur. Awalnya tidak berjalan seperti dia akan bayangkan. Tidak ada seseorang mengajarinya menanam dan memanen jamur, dia belajar otodidak loh.

Dia pernah nih menaruh terlalu banyak air. Alhasil media tanamnya, kantung- kantung baglog, miliknya malah membusuk dan bibit jamur tidak tumbuh. Namun perjalanan waktu hasilnya ternyata menggiurkan. Apalagi pertumbuhan Thailand menaik. Oleh karena itu, banyak orang Vietnam menyusup masuk ilegal.

Disisi lain, ada keburukan disana, banyak perusahaan konstruksi mempekerjakan imigran gelap. Mereka mau dibayar murah karena tidak punya surat. Mangkanya kisah Than termasuk sangat langka. Dia bahkan mampu menjual tinggi ke Thailand. Dia beralih menjadi pengusaha jamur menghasilkan lebih banyak uang.

Bisnis sederhana


Dia menyewa tempat di dekat kota Thailand. Dimana tempat itu dikenal kering, diantara kolam ikan lah dia mendirikan gubug kecil. Biaya sewanya lumayan kecil yakni $16- $32. Karena letaknya dekat Bangkok ia merasa cukup buat memasarkan hasil panennya.

Than juga niat mengikuti pelatihan dari International Labor Organization (ILO), yang menjalankan sebuah program bernama Community Based Enterprise Development (C-Bed), mana tujuannya memberikan dukungan kepada pengusaha kecil kemudian saling berbagi pengalaman.

Ketika awal berbisnis dia buta. Kalau untung uangnya pasti dihabiskan. Lewat pelatihan dia mulai membagi buat disimpan. Sebagian lagi dijadikan modal kembali. Dia memperhitungkan berapa bibit dibutuhkan buat menghasilkan untung. Menghitung berapa kilo dia beproduksi nanti. Berapa banyak jamur dia menjual dan simpan.

Dia kembali ke tempatnya. Mulai mengamati setiap baglog berisi bibit. Rak- rak kayu menampung hasil jerih payah Than. Rajin membersihkan jamur agar akarnya bebas spora. Dia mulai memanen, menimbang, kemudian dia akan mengantar ke tempat distribusi lewat motor, dimana di sana masih dibawah konstruksi.

Pembeli utama Than kebanyakan juga para buruh Burma. "Saya mau menjadi orang kaya -cukup kaya buat membeli mobil. Melalukan apapun yang saya mau lakukan -tanpa kamu takut menjadi melarat," ia berujar.

Sakarang dia bisa menjual apapun dia budidayakan. Than sudah memiliki perlengkapan. Cuma masalahnya dia belum memiliki lahan. Dia butuh lahan lebih luas dan sedang mencari. Than juga bisa jualan baglog ke orang- orang. Ini lebih menambah pendapatan Than. Meski efeknya nanti akan banyak kompetitior, ia tidak takut.

"Saya suka bekerja keras untuk bisnis saya," jelasnya. Dalam sebulan dia menghasilkan omzet sampai 20 ribu bath!

Jika dulu dia menawarkan diri: Sekarang distributor datang sendiri mengunjungi kebunnya. Dia memiliki ide mengurangi harga, tetapi justru dia mengurangi waktu dan biaya, dimana dia menggunakan biaya buat bahan bakar motor. Dia awalnya bekerja tanpa tujuan. Kapanpun dia dapat untung langsung dipakainya!

Untuk memperluas bisnisnya, dia mempekerjakan beberapa pegawai, yang ternyata juga imigran Burma. Ia punya tujuan memperluas produksi. Dia ingin mencapai 70- 80kg per- hari. Pelatihan kewirausahaan telah memberinya pengetahuan soal memperluas bisnis.

"Saya bisa melihat dalam dua sampai tiga tahunan saya akan menjadi entrepreneur (sejati)," tutup.

Jual Sandal Japit Premium Anne Merambah Fasion

Profil Pengusaha Anne Arcenas Gonzales 



Dia bersama sang suami memulai bisnis nol. Sebelum menjadi distributor resminya brand Havaianas pada 2003 di Filipina, keduanya, Anne Arcenas- Gonzales dan suaminya, Freddy, hanya berbekal kamar tidur di rumah mereka sendiri. Tak satupun percaya bahwa mereka menjual jutaan pasang tiga tahun kemudian.

Menurut majalah Entrepreneur Filipina, keduanya mengimpor sampai 2 juta pasang. Keduanya cuma mau mendapatkan barang bagus. Bersama mereka mendirikan perusahaan bernama Terry S.A, Inc. "Karena kami sangatlah amatiran, kami tidak menyadari bahwa akan memakan waktu kami (sangat sibuk)," paparnya.

Harapan mereka tidak akan sebesar ini. Tetapi mereka mampu membangun seluruh perusahaan, dan yang awalnya cuma berkantor di kamar tidur. Meskipun mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan. Ia memulai dengan mengimpor lewat menja distibutor perantara kecil.

Mereka kemudian menjual sandal Havaianas. Mereka menjual bersaing ke toko fasion, dari Aura Athletic sampai Rustan's Department Store. Perusahaan utaaa Havaianas, Alpargatas S. A, memang memfokus buat menjual melalui distributor kecil di penjuru dunia.

Kesempatan besar


Dan ketika Anne berhasil menjual seluruh stok mereka. Dimana cuma butuh waktu satu setengah tahun. Ia langsung bertekat memperbesar bisnisnya. Ada masanya ketika ia berpikir "Apa saya benar mau membuat ini ke level selanjutnya?" Semuanya berjalan lancar tapi apakah akan berjalan lebih lanjutnya.

Perasaan bercampur antara keyakinan dan keraguan. Mereka merasakan jalannya saling bersinggungan. Sang ayah keduanya, mengingatkan bahwa apa mereka akan pertaruhkan adalah uang. Mereka membuat bisnis tersebut sebagai startup, bukan menarget jutaan atau miliaran uang.

Adanya kesempatan itulah yang mereka incar. Bukan berlebihan menarget sesuatu kira- kira begitu. Anne dan Freddy membuka kartu kredit dan bekerja sama dengan Jon Syjuco, yang merupakan juga patner toko fasion Aura Athletica -yang kemudian dibeli oleh perusahaan Anne, Terry S.A.

Tidak kesempatan lain untuk tumbuh. Kemudian Terry S.A., pada 2005, membuka toko pertama khusus menjual sandal Havaianas, di Glorietta, Makati City, dimana sudah ada 38 cabang sekarang ini. Pada 2009 mereka memenangkan hak distribusi resmi Havaianas di Malaysia dan Singapura juga.

"Saya tidak berpikir (Alpargatas) menyadari bahwa kami akan menjadi negera utama mereka, konsisten setiap tahun, dan menjadi negera utama mereka (dalam hal jumlah penjualan)," terang Anne.

Apa penyebab sandal premium ini begitu digandrungi. Mereka mengadakan event berjudul "Make Your Own Havaianas", terbatas lokalan kecil tetapi konsisten terus dijalankan. Hingga banyak selebriti mulai melirik brand mereka. Mereka menjadi fans, disana dan memakainya, yang mana juga membantu brand.

Salah satunya ada selebriti Filipina bernama Pia Magalona -dimana banyak ibu muda yang mengefans dia, akhirnya ikutan mengoleksi sandal Anne. Mereka membentuk kelompok bernama Havaianaticos, yang menggemari produk mereka, yang mana diikat dalam bentuk tema pertemanan.

Kekuatan Havainas adalah kemampuan global. Tumbuh sangat cepat secepat mungkin, menguasai pasaran cepat secepat mungkin. Utamanya memanfaatkan selebriti lokal agar menaikan pamor. Kemudian mulai lah menyulam kampanye luas. Inilah cara ampuh bagi brand baru menjajaki pasaran dimanapun.

Kisah sukses Havainas merupakan kisah sukses brand baru. Dimana formula utama digunakan kita adalah sebuah dedikasi, presisten, dan berkomitmen membentuk grup orang. Yang mana akan membuat inovasi produk tulus berasal dari pelanggan kita.

Terry S.A menjual Havainas bersama brand- brand lainnya, termasuk bisnis clothing karya mereka sendiri, yang diberi nama Thread 365, dijual melalui toko multi- brand milik mereka CommonThread, dimana sudah membuka di Malaysia, Singapura, dan Filipina pada 2003 silam.

Anne masih tidak bisa tidur awal -nampaknya sekarang karena memiliki lebih dari 500 orang karyawan- dan dia menerima ketidak nyamanan itu. "Kegelisahan adalah tandanya kamu khawatir," Anne menurutkan. Ketika kamu mau melakukan sesuatu terbaik, tetapi merasa sangat percaya diri, maka disanalah akan jatuh.

Rasa gelisah berbeda dari ketakutan akan kompetitor. Tetapi lebih ke bagaimana menjalankan bisnis lebih baik. Kualitas produk Anne pikirkan matang. Dia percaya bahwa pasar bisnis ini besar. Cukup besar buat kompetitor dan dia bersaing sehat. Bukan masalah terlalu optimis dan mengacuhkan kompetitor.

"Kami masih disini," jelasnya. Menjelaskan bahwa produk Anne bagus. Memiliki brand bagus yang mampu mendukung penjualan. "...dan sangat fokus ke senjata kami tersebut."

Susahnya Menjadi Pengusaha Kentang Goreng

Profil Pengusaha Robby Widjaya 



Pepatah mengatakan kegagalan awal kesuksesan. Inilah kisah Robby Widjaya. Pengusaha sukses yang satu ini begitu sangat bersemangat. Padahal sekitar lima tahunan lalu, dia sudah hidup nyaman menjadi salah satu pemasok aneka perlengkapan farmasi. Sampai nekad membuka usaha bersama empat kawannya.

Dia bersama kawan pengen membuka usaha gampang. Bikinnya mudah dibanding bisnis lain. Lalu mereka menemukan bisnis kentang goreng. Untuk membuat berbeda tidak memakai saus sambal. Ia memilih buat meracik bumbu sendiri ditambah mayonais, mak nyus.

Aneka rasan toping mengejutkan. Ayah seorang anak yang idenya dadakan. Tetapi ternyata hasilnya cukup menggiurkan. Pada 8 Desember 2005, resmi lah nama bisnis mereka, yaitu K- Patats menjadi merek dagang mereka. Adapun abjad K pada namanya berarti kepanjangan "King" atau raja.

Bisnis tidak gampang


Sementara Patat merupakan bahasa Belanda -bukan berarti jorok loh. Artinya tidak lain yah kentang, atau jika digabungkan maka namanya Raja Kentang. Ia ingin menciptakan sesuatu yang baru dalam tren bisnis kentang goreng kita.

Bisnis ternyata tidak semudah diucapkan. Awal dia bermimpi bisnis miliknya akan menjadi raja. Lalu dia malah mengalami kerugian. Tiga bulan pertama omzet penjualan dibawah Rp.100 ribu. Satu gerai miliknya sepi pembeli. Gerai di Pasar Atum tersebut ternyata dibiyaai patungan, bahkan sampai nilai puluhan juta.

Masa sulit membutuhkan komitmen bersama. Semangat teman Robby ternyata tidak sehabat itu. Bentuk komitmen tidak mampu membendung rasa putus asa. Bisnis mereka dianggap tidak prospektif. Sementara Robby masih ingin melanjutkan K- Patats. Beberapa masih bertahan bersama Robby memilih tetap jalan.

Bendera bisnis mereka harus tetap jalan. Aneka promosi makin gencar dilakukan. Sekitar gerai mereka mulai mempromosikan manfaat kentang. Mengenyangkan tidak menggemukan. Bulan empat bisnis milik mereka mulai naik cepat. Pertumbuhan bahkan mencapai tidak cuma puluhan tetapi ratusan persen.

Komitmen menurut Robby merupakan kunci. Komitmen bisni seseorang akan bisnisnya berbeda. Makin kamu berkomitmen maka akan ada jalan. Inilah perbedaan antara orang berwirausaha mengikuti trend dan mereka yang berhasrat menjadi wirausaha sebenarnya.

Hasilnya dapat dilihat, ketika pertengahan 2006 -an, dia mengingat orang mengantri baik remaja ataupun dewasa buat membeli kentang goreng saja. Anak- anak juga suka kentang goreng mereka. Bahkan antrean satu orang bisa menunggu sampai dua jam. Pelanggan mencapai 80 orang mengular menunggu pesanan mereka.

Sukses bisnis Patats tidak membuat puas. Mereka lantas menerapkan sistem inden. Maksudnya orang bisa memesan, dibayar dimuka, kemudian bisa ditinggal buat belanja dulu. Untuk mengakali mereka lantas memugar agar tempat menjadi lebih luas.

Peralatan diperbanyak untuk menangani pembeli membludak. Lebih cepat memasak tetapi tidak merusak kualitas rasa. Ia juga menambah jumlah pegawai mereka. Setelah masuk September, mereka lantas mulai menawarkan sistem franchise, dimana mereka menemukan mitra pertama yang mau mendukung dua gerai.

Dua gerai di Tanjung Delta Plaza dan Royal Plaza, dibuka bersamaan. Gerai mereka bahkan sampai ke kota lainnya, seperti Surabaya, Jakarta, Bandung, Solo, Malang, dan Semarang. Di luar Jawa ada di Manado dan Makassar sampai ke Jayapura, bisnis kentang aneka saus miliknya makin mantap.

Bahkan sampai di Tanjung Selor, yang pengiriman bahannya sulit, dia tetap menerima tantangan tersebut karena komitmen. Membesarkan bisnis sudah pernah dirasakan sulit. Banyak tantangan ditanggapi penuh kepercayaan diri. Penyemangat utamanya adalah komitmen berbisnis agar sukses besar.

Dua tahun sudah bisnsi Robby eksis. Karena daerah pengiriman ada yang sulit. Harga Patats pun melonjak sampai dua kali. Namun justru karena medannya sulit, maka tidak ada perasaingan berarti di sana. Langkah selanjutnya dia ingin membuka bisnis sampai Malaysia dan Singapura juga.

Biografi Mekarsari Ida Widyastuti Pebisnis Camilan

Profil Pengusaha Camilan Sidoarjo


 
Keterbatasan memaksa orang menjadi pengusaha. Kisah klasik yang masih relevan sampai sekarang. Inilah kisah Ida Widyastuti. Pengusaha asal Demak ini sudah merasakan pahit hidup lengkap. Wanita kelahiran 30 Oktober 1974, begitu lahir, pahit menarima kenyataan ibunya meninggal ketika dia dilahirkan.

Sekeluarga hidup di bawah garis kemiskinan. Sudah begitu, Ida kecil mendapat cemooh anak- anak lainnya, karena Ida tidak punya ibu. Memasuki masa SMP, nenek dari bapak meninggal, Mbah Suripah merupakan sosok pengganti sang ibu, mulai merawat, mengasuh, dan membesarkan.

Untuk mencapai pendidikan tingkat lanjut. Ia tinggal bersama Bude Mustaqarah, kakak ibunya ini memberi ruang baginya berpendidikan. Selepas lulus SMA Muhammadiyah 1 Jombang, tekadnya memasuki dunia perkuliahan tetapi tidak punya biaya.

Hidup pekerja keras


Dia kemudian menjadi karyawan di Batam. Mencoba bertahan hidup di perantauan. Sudah lima tahun dia bekerja di perusahaan Jepang dan mendapat gaji tetap. Kepahitan Ide tidak berakhir meski sudah nampak berkecukupan. Karena menjadi pegawai gaji Ida tidak banyak!

Sambil bekerja ia memutuskan berbisnis. Caranya, ketika jam istirahat, dia akan segera membuka lapak di ruangan dekat toilet perusahaan. Barangnya lantas dipasok dari Yogyakarta. Bisnis sampingan tersebut sudah dibilang lumayan. Sambil berjualan Ida mengasah strategi marketingnya lewat teman sekantor.

Keinginan penuh menjadi pengusaha memanggil. Hingga dia menikah dengan Harris Setiawan, yang lalu mengajaknya pindah ke Surabaya. Disela merawat anak dia kemudian berjualan kembali. Jualan emping melinjo ke Pasar Gedangan, Sidoarjo, tahun 2001 -an.

Inspirasinya dari saudara yang memproduksi keripik melinjo. Memang hasrat menjadi pengusaha tidak bisa ditahan. Ida membuktikan selama fakum. Selama tidak berjualan apapun. Dia merasakan kebosanan yang sangat. Apalagi dia harus pindah- pindah mengikuti sang suami, yang bekerja di Astra.

Dia berjualan menjajakan emping melinjo. Lelah dirasakan Ida keluar masuk toko oleh- oleh. "Hasilnya pas- pasan untuk mencukupi kebutuhan sehari- hari," paparnya. Harga murah lantas dipakai Ida. Hasilnya meningkatkan omzet usaha. Kemudian mulai banyak orang datang mengambil dagangan emping ke Ida.

Harris lantas ikutan nimbrung berbisnis. Hingga ujungnya mengundurkan diri. Ia melihat kerepotan sang istri ditambah semangat berbisnis. Selain itu prospek bisnis makanan khas Jawa Timuran nampak mulai menjanjikan. Tidak cuma emping melinjo, Ida mulai merambah bisnis lain untuk mendongkrak omzet.

Bisnis jajanan


Sementara Harris membawakan berbuntal emping. Ida akan sibuk menawarkan barang. Tahun 2003, bisnis yang bernama Emping Kawanku, mulai menujukan geliat luar biasa. Ida sudah berhasil menguasai pasaran Malang dan Probolinggo. Karena murah ya sampai jualannya menjalar ke Kalimantan.

Ida fokus menggarap bisnis camilan. Lainnya dia mengembangkan camilan keripik pisang. Untuk satu ini, awalnya dia bergeriliya dulu, mengunjungi pemasok cemilan se- Jakarta dan Jawa Barat. Kerja sama dia buat untuk menjajakan produksinya.

"...kami ditolak olehs suplier karena mayoritas pemain lama," kenang Ida. Namun justru semangatnya makin menggebu.

Ia memutuskan tidak bekerja sama dengan suplier. Justru turun lebih ke dalam lewat produsen langsung. Ia belajar sampai ke Bandung, Cianjur, Indramayu, Kuningan, Ciamis, dan Cirebon. Ida memang orangnya begitu telaten. Setiap apa tujuannya ditekuni meski halangan menghadang.

Berawal pemikiran iseng, dimana tempat asalnya keripik melinjo laris manis, kini dia menjajakan tidak cuma di tempat tinggalnya tetapi sampai ke luar pulau. Awal jualan keripik melinjo dia membeli basah. Dari produsennya di Demak, kemudian dia menggorengkan sendiri dengan bumbu sendiri.

Awalnya dia sempat ditolak karena harga mahal. Terlalu mahal buat bisnis lokal kawasan Gedangan. Selalu konsisten dan berupaya keras. Sambil menggendong putranya bernama Nabil Hilmi Dafa, dia menjajakan bisnisnya hingga akhirnya menemukan beberapa pembeli.

Pemasok emping begitu mengenal Ida. Dia lantas dijuluki Ida Bakul Emping. Merambah bisnis lain, dia mengajak orang lain dalam bisnisnya. Dia mengajak industri rumahan lain buat memasakan sesuai resep. Masalah muncul ketika dia terlalu bernafsu merambah bisnis cemilan lainnya.

Tabungan mereka sempat hampir ludes karena salah perhitungan. Bantuan sang suami banyak membantu, alumnus Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya, ikut membantu berbisnis kembali. Padahal kalau orang awam liat Ida berjualan emping saja sudah cukup sangat menghasilkan.

Namun isting pengusaha Ida sudah terlanjur terasah. Hasrat kewirausahaan Ida juga semakin bergairah. Dia tidak cuma mengejar uang. Tahun 2005, bisnisnya ingin lebih, bisnis aneka cemilan tersebut lantas dia namai dari Kawanku menjadi Mekarsari. Inspirasi bunga yang mekar layaknya harapan akan bisnisnya.

Camilan sukses


Ia membutuhkan waktu dua tahun. Aneka kegiatan UKM disambangi Ida. Tujuannya agar ambisis menjadi pengusaha aneka camilan terlaksana. Inilah kenapa dia siap menggelontorkan uang Rp.50 juta. Uangnya dipakai membiayai perajin camilan dibawah asuhan bisnis UD. Roemah Snack Mekarsari tersebut.

Jumlah besar ditambah kualitas rasa. Kelamaan sampai menembus ke Bali loh. Melihat pasokan pisang yang melimpah di Trenggalek, dia berminat membuat bisnis pisang. Kebetulan menurutnya pisang tanduk mereka unik, karena besar- besar, dan rasanya manis.

Dua pabriknya di Trenggalek dan Sidoarjo, selalu mengolah tujuh ton setiap harinya. Bisnis keripik pisang miliknya diperkuat kerja sama 250 mitra petani. Tahun 2009, dia membuka gerai di Pondok Jati, Sidoarjo, dimana ribuan orang pasti berkunjung ke sana, yang bukannya sampai 24 jam sepanjang waktu.

Cabang lain ada di Krian, Sidoarjo, Denpasar, dan Bali. Hobinya traveling merambah menjadi bisnis baru. Yang mana diluar bisnis camilan. Dia membuka bisnis agen tour. Kemudian juga membuka agen ekspedisi sendiri. Pokoknya dia menjelma menjadi pengusaha besar berkaryawan 160 orang.

Meski begitu bisnis tidak selamanya untung. Contohnya dia pernah diajak bekerja sama bisnis vanili. Dia rugi ratusan juta. Cuma mendapatkan bisnis tidak berprospek. Uangnya sisa Rp.50 juta dan sisa vanili yang mencapai angka Rp.43 juta, sisanya rekan kerjanya bawa kabur entah kemana.

Ia menggandeng banyak UKM. Prinsipnya amanah karena dia sendiri pernah ditipu. Total 50 UKM sudah bekerja sama. Kemudian ada petani pisang sampai 200 orang memasok. Karena memperdayakan bisnisnya petani pisang, dia mendapatkan penghargaan Green Entrepreneur dari Wirausaha Mandiri.

Bisnis keripik pisang mulai tahun 2004. Potensinya besar berbisnis keripik pisang. Sejak awal bisnisnya dimulai modalnya Rp.600 ribu, tetapi perjalannya banyak keringat dan tangis. Bisnis pisangnya bernama Omah Pisang Bananos. Keistimewaan bisnisnya adalah menggunakan bahan alami semuanya.

Harum bau pisang asli terasa. Membuktikan bahwa pisangnya banyak. Keripik pisang berbagai rasa harga terjangkau diminati segala kalangan. Kini, dia bahkan memproduksi buat dijual ke manca negara. Ekspor ke Malaysia, Singapura, Filipina, dan Qatar rajin memesan.

Sukses keripik adapula opak pisang. Semua dikemas layaknya perusahaan makanan ringan besar. Dia selalu siap mencari cara memenuhi permintaan pasar.

Bisnis inspirasi


Tiga tahun berdiam diri karena tidak bekerja. Kemudian lahir seorang anak menjadi jalan. Ida tidak mau lagi hanya diam. Semangat kewirausahaan didukung keberuntungan. Dia kebetulan berkunjung ke kerabat di Demak. Disana dia melihat kerabatnya tengah asik berbisnis kecil- kecilan keripik melinjo.

Perjalanan Demak ke Sidoarjo, Ida lantas berpikir untuk membawa usaha tersebut pulang. Tahun 2001 dia mulai menjajakan emping melinjo. Pernah ditipu teman suami yang menawarkan kerja sama. Uang modal yang semula Rp.600 ribu berkembang menjadi Rp.500 juta, kemudian ditipu sampai habis Rp.300 jutaan.

Tiga bulan dirinya meratapi nasib ditipu. Namun kecintaan akan kewirausahaan membawa dia bangkit. Lalu dia berbisnis kembali. Dorongan sang suami berperan besar dalam masanya. Kebangkitan juga didorong oleh kawan- kawan Harris. Mereka ikut mensuport memasarkan bisnisnya kembali.

"Saya berasal dari kebaikan kawan- kawan Mas Harris yang turut membantu permodalan," kenang Ida. Maka dibalik pernah ditipu kawan sendiri. Kini Ida malah dibantu kawan- kawannya lain. Jangan berhenti percaya ketika kamu pernah tertipu orang.

Perempuan memang punya banyak keterbatasan. Ini ditutupi sang suami yang akhirnya ikut berbisnis. Dia bertekat membantu sang istri. Hingga bisnis mereka meledak sampai sekarang. Kenapa Ida memilih buat ekspansi ternyata ada alasan lain, tidak cuma sekedar hasrat berwirausaha saja loh, teman.

Dia mengevaluasi bisnis emping melinjonya. Kelemahan utama bisnisnya adalah kesadaran masyarakat akan efek bagi kesehatan. Melinjo memang dikenal memberi efek samping kesehatan. Dari dulu berbisnis camilan curah, kini, fokusnya mencari pemasok camilan!

Tidak kurang 200 jenis camilan. Dia mengirim satu truk ke Bali setiap minggu, Mataram dua truk, lalu ke Kalimantan sekitar 28 boks, Jawa Tengah satu truk, dan Jakarta satu truk juga. Itu saja masih belum bisa memenuhi kebutuhan karena banyak sekali permintaan.

Raja Sapta Oktohari Pengusaha Promotor Tinju

Biografi Pengusaha Ketua HIPMI 


 
Pria punya selera. Bisnis miliknya telah menjangkau adrenalin kelakian. Raja Sapta Oktahari bukan lah pengusaha muda biasa. Dikenal sebagai pebisnis promotor, dikenal pula ketua umum Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), seorang petualang yang menyalurkan adrenalinnya ke bisnis ditekuni.

Mulai menjadi promotor tinju, Formula Asia Drift, kemudian mendatangkan Justin Bieber -yang penuh akan kontroversi-, ataupun mendatangkan David Foster. Tidak cuma mempromotori termasuk menambang dan bisnis penyewaan jet. Penggagas gerakan Bike to Work Kalimantan ini memang pria sejati.

Dia adalah komosaris OSO Group. Berkisah masa SMA dijalaninya dengan bersusah. Dia mulai berbisnis jualan pakaian bersama teman sekolah ke Tanah Abang. Mangkanya sepulang sekolah, di rumah, dia akan menenteng banyak kantung kresek berisi pakaian.

"Jualan pakaian itulah, usaha saya yang pertama," tuturnya kepada Viva.co.id

Belajar berbisnis menurutnya cukup mengalir. Orang tua tidak mengajarinya khusus. Tidak cuma berhenti berbisnis, dia juga disibukan kegiatan OSIS, jadi yah, Okta jarang sekali berada di rumah.

Dari berorganisasi membuatnya lebih percaya diri. Pengalaman berorganisasi dibawa sampai ke Amerika Serikat. Ketika berkuliah di Oklahoma dipercayai menjadi Wakil Ketua Perimpunan Mahasiswa Indonesia -Amerika Serikat (Permias).

Bisnis sejak muda


Dia bangga karena dia adalah perpaduan terbaik. Antara ayah dan ibunya, dimana ayah memberi Okta dalam hal kedisplinan. Dia juga mengingatkan bahwa hidup berlajar dari pengalaman. Jujur Okta sering sekali berontak bahwa kenapa begini, kenapa begitu, akhirnya dia merasakan ada benarnya.

Lingkungan mendorong pola pikirnya. Ketika SMP, ia mengadakan lomba balap tingkat DKI Jakarta, di masa itulah pula dia berminat akan dunia tinju. Terutama ya karena sang ayah juga promotor tinju. Puncak ketika ayah mempromotori Ellyas Pical dan Raul Diaz tahun 1988.

Tinju menjadi bisnis kenapa tidak. Ia memadukan kesukaan akan olah raga menjadi bisnis: Sebut saja ada bersepeda up hill, arung jeram, balap mobil, menembak dan bungee jumping. Selesai SMA dia lanjutkan berkuliah ke Oklahoma City University, Amerika Serikat.

"Padahal cita- cita saya waktu kecil ingin jadi pilot," selorohnya. Usia 22 tahun, selesai berkuliah, dia lalu kembali berbisnis pakaian (garmen) langsung ke pusatnya, Tanah Abang.

Okta tidak malu masuk ke pasar. Pengalaman tersebut begitu luar biasa bagi lulusan luar negeri. Tidak malu merupakan kunci sukses Okta. Baginya bisnis tidak sekedar menjual, berdagang, juga intuisi harulah berperan. Lantaran dia sendiri tau rasanya ditipu, dibohongi orang, dicuri, dicelakai, dijahati, sudah biasa.

"Disitu saya juga nipu, saya juga bohongin. Hahaha. Jadi mereka tak bisa bohongin saya," candanya.

Sebuah pembelajaran besar langsung. Dia tidak menemukan itu di pendidikan formal. Bagi pria kelahiran Jakarta, 19 Oktober 1975, terlahir dari keluarga konglomerat OSO Group, Oesman Sapta Odang, tetapi tidak pernah malu mengakui bahwa dia pernah gagal total!

Bisnis pengusaha muda


Baginya terjun langsung ke bisnis merupakan kenikmatan. Melihat jelas bagaimana transaksi perdagangan berjalan. Uang miliaran berputar di depan mata. Banyak jenis manusia berada di satu tempat tersebut. Dia berhadapan langsung dengan pembeli. Memaksa dirinya berpikir keras akan perkembangan bisnisnya.

Dia menggunakan kemampuan bahasa asing miliknya. Dan tidak malu belajar bahasa India sendiri. Dia juga menggunakan ilmu ekonominya di luar negeri. Bagaimana transaksi antar negara. Termasuk juga bagaimana memilih kain terbaik, memilih produk garmen terbaik, dibawa ke toko dan dijadikan contoh.

Belajar berbisnis dari level pejabat sampai sopir. Belajar komunikasi mereka langsung. Dia belajar cara menempatkan ritme komunikasinya. Pengalaman menjadikan dia komunikatif, banyak idenya, kreatif, dan pandai bergaul, layaknya pembelajaran dari sang ayah.

Kegagalan dianggapnya bukan kekalahan. Pembelajar setiap kegagalan membawanya ke puncak. Tidak ada rasa lelah menjadikan kehidupan nyata layaknya perkuliahan. Awalnya dia sempat berpikir hidup menjadi pegawai. Mencari kerja dianggap akhir perjalanan pendidikan formalnya.

Namun ujungnya ketika bekerja: Dia bekerja sangat keras, tidak ada uangnya. Jugalah bukan pula bisnis buat eksistensi atau cuma buat gaya- gayaan. Ia tidak memungkiri bisnis memang untuk mencari uang. Dia akhirnya mampu memisahkan antara komersialisasi dan idealisme.

Dia memang mengaku sempat idealis. Akan bisnisnya, tetapi akhirnya Okta memilih mengkomersialkan apa benaknya. Kunci bisnis adalah distribusi. "Yang kita mau pasti kita bisa. Tapi kalau kita gak mau ya, pasti jadi enggak bisa."

Namanya besar berkat bisnis promotor. Khusus laga tahun 2008, dimana dia menyelenggarakan tinju kelas dunia, tidak cuma di Indonesia tetapi Amerika. Dia mempromotorkan laga Daud Yordan. Dan mengajak orang Indonesia melihat tinju bukan sekedar hiburan atau tontonan. "Tinju itu seni," papar Okta menambah.

Okta memiliki ambisi jelas. Bagaimana menjadi mandiri secara finansial. Pengen mendapatkan uang buat berpergian ke berbagai tempat. Kekayaan utama menurut Okta adalah koneksi. Kan enak tuh jalan bareng temen ke tempat- tempat seru, yang tidak banyak orang bisa.

Sejak kecil dia sebenarnya ingin menjadi pilot. Nah, dari sanalah, mungkin hasratnya tersalurkan lewat satu bisnis yakni Enggang Air Service. Dimana mereka melayani penerbangan eksklusif. Mereka memiliki banyak jenis pesawat jenisa Legacy, kapasitas 16- 12 penumpang, serta dua pesawat Cessna Citation.

Bersama bisnis lain, termasuk PT. Perikanan Teluk Batang, bisnisnya termasuk penangkapan ikan dan penyimpanan ikan. Punya 17 kapal dengan kapasitas 300 ton per- hari. Tempat penyimpanannya mencapai 3000 meter persegi dan diolah menjadi ikan kalengan.

Untuk bisnis sekuritas dia memiliki PT Reinvestama Surya Optima, yang sudah menyebar ke berbagai pelosok Indonesia. Kemudian PT. Rennaisasance Sinergi Optima, bidang trading, mining, serta investasi. Kemudian ada Mahkota Promotion, bisnis event organizer, yang mengangkat namanya.

Semuanya tidak lain merupakan hasil usaha dari nol. Bayangkan Okto juga sempat berjualan besar loh. Dari Makassar, merambah sampai Pare- Pare, kemudian sampai ke tanah leluhur di Kalimantan. Termasuk usaha properti Mahkota Mayong, dengan hotel megah di pinggir kota Sukadana, Kalimantan Barat.

Semenjak sang istri meninggal, Okto belum kelihatan serius dengan wanita manapun, pada dasarnya dia suka wanita keras, tegas, independen, menghargai diri sendiri, pintar dan punya kharisma. Kalau soal fisik ayah dari Sultan (13) biasanya dekat dnegan cewek- cewek mungil.

Jika ditanya tentang fantasi liar. Maka dia menjawab dia sudah memilikinya. Setiap usaha dijalankan oleh Okta ya berasal dari pemikiran liarnya. "...menjadi orang alim," selorohnya menyebut kalau benar- benar apa yang dia inginkan kelak.

Cara Membuat Es Krim Sayuran Berbuah Jutaan

Profil Pengusaha Elia Kurniawati 


 
Wanita satu ini memang sudah dekat dengan ubi ungu. Karena sang suami, seorang guide, yang hobinya bawa pulang ubi ungu. Sebagai wanita kreatif menyulapnya menjadi es krim. Oleh- oleh ubi ungun menjadi bisnis es krim barulah memasuki tahun 2013.

Dia mengaku ubi ungu sempat membuat pusing. Lantaran banyak tetapi pengolahannya monoton. Ubi ungu biasanya dilah direbus. Meski laku disantap suami dan anaknya, Elia Kurniawati, ingin membuat olahan spesial.

Ketika ia membuat es krim ubi ungu, respon keluarganya begitu cepat. Ludes sudah es krim buatannya sampai nambah. Kemudian sang suami nyeletuk menantang Elia. Dia ditantang yuk membuat es krim lain dari bahan tidak terduga.

Bisnis laris


Dari ubi ungu menjadi anake macam. Andalah Elia adalah aneka es krim sayuran. Marketingnya bagaimana membantu orang tua. Bagaimana agar anak- anak mereka menyukai sayuran. Percobaan pertama dilakukan dan ditawarkan kepada anak- anaknya.

Mereka suka ternyata, dan es krim tersebut membuatnya tenang. Anak- anak kini sudah dapat menikmati sayuran. Perempuan asal Kota Batu ini, memanfaatkan melimpahnya suyuran di kota asalnya: Seperti ada ubi, brokoli, tomat dan wortel.

Buahnya ada es krim apel, buah naga, stroberi, dan mangga, bisnis Elia menaikan nilai buah lokal. Lalu ia mengembangkan es krim jamur. Prinsipnya mengolah sumber daya lokal apapun. Baginya produk terbaik mampu meningkatkan nilai ekonomis benda.

Wanita 27 tahun ini merubah konsep es krim kita. Adanya campuran sayuran dan buah benar- benar segar. Olahannya juga seimbang antara susu dan buahnya. Total varian masih 17 rasa, yang mana dijajakan di aneka pusat oleh- oleh. Juga ke Malang, Kediri, Kalimantan, dan Sulawesi, harganya Rp.5- 7 ribuan.

Aneka kreasi


Ia mampu mengolah 20 varian rasa. Dalam sebulan dia mampu menjual sekitar 2.000 cup es krim sayuran. Uniknya dia mengikuti pasaran lokal. Dimana jika satu kota tengah musim buah ini; maka dengan cekatan dia akan membuat itu. Contoh Kediri tengah musim pisang, maka dia akan membuat es krim pisang.

Karen disana pisangnya melimpah. Mungkin Elia lebih hemat dalam hal bahan baku. Contoh lain ketika ada musim buah naga di Banyuwangi, dan wortel di Kota Batu. Meskipun begitu bisnis Bingu Bidu punya masalah lain yakni mencari stok buah bagus.

Meski sudah musimnya, kalau buah tidak berkualitas, maka Bingu Bidu tidak akan mengambil. Kesulitan mencari stok apel ketika musim hujan sudah biasa. Stok buah naga yang kosong di pasar juga, membuat ia dan suami memeras otak.

Padahal ketika imlek kamerin dia sampat membuat es krim buah naga. Dan produk buatanyan mereka ternyata sangat menarik perhatian. Sayangnya soal stok buah berkualitas terkadang masalah. Permintaanya banyak tetapi stoknya sulit. Pokoknya bagaimanapun mereka harus menemukan stok buah naga tersebut.

Bisnis mereka dibawah bendera perusahaan CV. Berkah Omah Sejahtera, berawal dari membuat es krim berbekal buku resep. Seiring perjalanan Elia menyempurnakan resepnya, seiring percobaan dia lakukan agar es krimnya lebih awet, tanpa pemanis buatan, pokoknya beda dari buatan pabrik.

Awalnya dia memakai blender, susunya lebih banyak, hasilnya halus sekali layaknya es krim pabrikan. Tapi justru disanalah kelemahan brand -nya. Dia yang menawarkan es krim sayuran asli dicurigai. Apakah benar dia menjual sayuran asli. "...enggan membeli, selain bentuknya sama, kami salah harga dan rasa," tuturnya.

Ia memperbanyak porsi buah dan sayuran. Caranya buah atau sayuran diblender dulu. Pertama buah dan sayurnya jangan lupa dibersihkan. Dimasukan mesin blender sampai halus. Kalau sudah siap, adonannya diaduk bersamaan susu sampai mengental menjadi krim.

Kemudian ia dinginkan di suhu 27 derajat celcius. Pengiriman menggunakan foam khusus. Karena sudah menjadi es katanya mampu bertahan empat bulan. Karena kualitas buah dan sayurnya terjamin maka harga bisa dipatok es krim biasa.

Ketika orang terkejut akan harga, Elia segera menjelaskan tetek bengeknya, mulai penggunaan bahan yang terbaik, proses pengolahan, kemudian soal penjualan. Ditambah pembeli mencoba langsung ketagihan karena rasanya.

Tiga tahun berbisnis, dia bersama suaminya, Cholis, mereka bersemangat membangun bisnis mereka. Ia berencana membuat es krim berdasarkan kotanya. Jadi es krim buah dan sayuran dibuat berdasarkan apa sumber daya daerahnya. Contohnya, Kediri, mereka akan membuat es krim salaknya di sana langsung.

Karena kalau mereka harus memesan akan sulit. Stoknya berkualitas sulit didapat jika memesan. Soal lain adalah ia ingin menambah tenaga kerja. Dua hal tersebut adalah pencapaian yang mereka tengah kejar. Dia berpikir akan menambah modal. Omzet sementara mereka mampu mengantungi puluhan juta dari es krim.

Bisnis Stefi Siera Guru Cantik Anak- Anak

Profil Pengusaha Stefi Siera Ngangi 


 
Kehidupan merupakan serangkaian keputusan. Pengusaha adalah pengambil keputusan terbesar. Mereka, bisa dibilang mempertaruhkan nasib, inilah kisah Stefi Siera Ngangi, usia 18 tahun sudah terbiasa hidup pindah- pindah di luar negeri. 

Adalah putri seorang mantan model pragawati, Sri Hastuti, yang sukses usia belia. Yang cita- citanya sejak kecil adalah menjadi balerina. "Saya enggak tidak rugi tidak menjadi belarina," ujarnya kepada Majalah Digital, Pinkorset.

Pasalnya dia ingin memberikan pendidikan. Dia ingin menjadi pendidik. Lantas mendirikan usaha bernama KiwiKids Preschool & Kindergarten, Kiwi School, dan Stefie's House of Creativity. Ia dikenal senangnya belajar sejak kecil. Dia hobi menyalurkan bakatnya, melalui aneka kursus, dan berbuah aneka telenta.

Ketiga bisnisnya diatas tidak berjalan begitu saja. Siera beserta stafnya sudah merasakan naik- turun. Akan tetapi rasa senang melihat anak tumbuh kembang; Siera mengaku lebih senang. Seolah membuyarkan rasa susah dia pernah lampaui dulu.

Multi talenta


Dia merupakan murid pintar SD Tunas, Jakasampurna, Tangerang. Ketika sekolah menengah, dia pindah ke Singapuran, bersekolah di MachPherson Secondary School. Dan SMA -nya di Gisborne Girls' High School, New Zeland,yang mana diselesaikan dengan baik olehnya.

Di New Zeland, dia termasuk pelajar berbakat, meski begitu dia tetap mengikuti pelatihan dan senang jika berhubungan dengan teman baru terutama dari belahan dunia lain. Dia pernah mengikuti pertukaran pelajar ke Kanada, bersekolah di Springbank Community High School, terletak Bragg Creek, Alberta.

Siera pernah tercatat belajar di Namarina, Martha Tilaar, pendidikan Studio One Gisborne, di New Zeland. Dan Siera juga tercatat sekolah di Diane Logan Dance School, Gisborne, New Zeland. Ya dari berbakai pendidikan dia mendapatkan keahlian operet, modeling, dan ballerina, hasilnya ikut ajang putri daerah.

Pemilihan Gisborne karena nilai tukar dollarnya. Disana nilai dollar -nya lebih rendah. Kehidupan di sana lebih mudah dibanding Singapura. Ujungnya juga, Siera jadi jago berbahasa asing, banyak temannya datang dari negara lain, dan uniknya Siera menjadi mahasiswi asal Indonesia satu- satunya.

Anak perempuan satu- satunya dari tiga bersaudara. Jadi anak tertua muncul keinginan membantu keluarga. Diantara kesibukan bersekolah dia menjalankan bisnis. Masa remaja Siera jika nampak di mata awam, ya, hilang berjalannya waktu. Gadis 18 tahun ini tetap pada pendiriannya menjadi sosok mandiri lebih lagi.

Tekat kuatnya didukung sifatnya. Dia memiliki sifat merencanakan target 5- 10 tahun ke depan. Maka dia setiap melakukan sesuatu melihat jauh. Tidak ada pilihan sia- sia di mata gadis cantik ini. Semenjak dia kembali ke Indonesia. Keinginan mendirikan bisnis pendidikan makin mengakar kuat, dan dia berjuang keras.

Lewat sosial media, spanduk, billboard, atau paling sederhana menggunakan brosur sudah menjadi biasa ia lakukan. Tidak pernah merasa malu. Sukses baginya mudah menerima dan bersyukur. "Sukses itu adalah ketika kita mencapai apa yang orang lain belum punya." Karena orang belum tentu punya apa kamu miliki.

Menjadi pengusaha


Sekembali dari Kanada, Siera ingin melanjutkan kuliah, ingin menjadi balerina profesional hingga harus lah berkuliah sampai ke London. Untuk satu ini dia mendapatkan "tentangan" Kedua orang tua Siera ingin anaknya membiayai kuliah sendiri. Tantangan tersebut diterima toh dia memang ingin menjadi mandiri.

Usaha pertamanya ketika usia 17 tahun. Dia membuka usaha les privat buat ngumpulin biaya kuliah. Modal awal adalah brosur atau flayer disebar- sebarkan. Ia mengajari anak- anak kelas balet. Promosi awal dia rela memberikan pelatihan gratis. Hasilnya lumayan menarik banyak orang tua mau mendaftarkan diri.

Dua bulan saja bisnis laris manis. Dari sanalah, dia mengumpulkan uang, akhirnya membuka tempat di ruko seberang rumah dari dorongan orang tua. Berawal dari garasi rumah dia memberika les privat balet. Lantas dia memiliki satu tempat sendiri hasil kerja kerasnya sendiri.

Meski dibiayai menyewa, untuk selanjutnya dari operasional dan sewa, Siera harus membanting tulang lebih keras lagi. Nama bisnisnya Stefi's House of Creativity (SHOC). Pertama membuka cuma punya 5 siswa. Dia juga mengajari langsung mereka. Di tahun pertama dia memiliki 60 orang siswa belajar disana.

Tahun kedua naik menjadi 80 siswa. Di tahun 2007- 2008 hampir 100 siswa mendaftar. Tempo 1,5 tahun dia mengembalikan modal orang tua. Bahkan ia semakin sukses saja. Masalah datang ketika dia tengah menanjak karir sebagai pengusaha. Pemilik ruko menendangnya dan tidak mau memberi sewa perpanjang.

Banyak orang tua siswa komplain. Inilah pertama di bisnis pendidikannya mendapat komplain wali murid. Namun dia tetap berjuang dan meluluskan anak didiknya. Dia kemudian menempati roku milik ibunya. Dia meski di lantai tiga ruko Bekasi, kegagalan dia tidak diratapi malah bersemangat membangun dari nol lagi!

Dia kemudian mendapatkan tugas baru. Ia dipasrahi usaha sang bunda. Miss Siera, begitu sapaan siswa yang ia ajar, kini memegang jalannya Kiwi Kids Preschool & Kindegarden yang dibuka tahun 2004. Yang mana sudah memiliki tiga cabang di Cikarang, Karawang, dan Batam.

Kemudian mendirikan Kiwi School, yang barulah berjalan sejak 2010 -an. Untuk semua kegiatannya di dunia pendidikan: Siera mengesampingkan mimpinya. Dia tidak lagi mau menjadi balerina. Malahan dia mulai mendalami diri di Montesseri Education, mengambil pendidikan non- tutorial anak 0- 6 tahun.

Kunci sukses bisnis pendidikan. Hanyalah satu yakni kesabaran ekstra. Melihat kesuksesan di bidang jasa membutuhkan waktu lama. Hasilnya paling dirasa adalah ketika kita berhasil mencerdaskan anak. Hasrat lainnya di bidang kewirausahaan: Ialah Siera ingin membuka usaha tempat pementasan sendiri.

Wanita kelahiran 18 Maret 1988 ini  juga mau go internasional. Membuka bisnis day care dan preschool lagi. Ia ingin membuka usaha berstandar internasional. Dia juga pengen punya bis pendidikan keliling. Ia ingin merangkul anak- anak yang kurang mampu. Ingin memperbesar sanggar tari menjadi dance academy.

"Serta memilik gedung pementasan sendiri segara. Amin," ujarnya menutup.

Gadis Cantik Pengusaha Clay Putri Pucen

Profil Pengusaha Putri Melati Kusumaningrum


 
Impiannya menjadi pengusaha. Dia adalah Putri Melati Kusumaningrum, atau biasanya dipanggil Pucen, biar akrab katanya. Didukung kemajuan teknologi, pengusaha muda berusia 20 tahun  ini cuma berbekal ketrampilan dan situs jejaring sosial Instagram.

Dari tempat tinggalnya, sekaligus jadi pusat produksi, Jalan Ring Road Utara No.34, Desa Maguwoharjo, di Kecamatan Depok, Kab.Sleman, Yogyakarta. Gadis yang tengah menempuh pendidikan mahasiswa, yang sudah semester 6 jurusan Bahasa Prancis, UGM, mengaku sukses berkat hobinya semenjak remaja.

Bisnis SMP


Tepatnya sejak SMP, dia memiliki hobi unik, yang jarang dimiliki anak seumurannya. Yakni hobi membuat miniatur buatan tangan. Kecil- kecil lucu, dimana dia membuat miniatur dari tangannya sendiri. Ia juga hobi membaca buku kerajinan lokal, yang sukses ekspor dan impor.

Muncul lah ide bisnis aneka kerajinan berbahan clay. Ia mulai menawarkan ke teman- teman sekelas. Dia membuat gantungan kecil kemudian dijajakan. Waktu menjajakan barangnya, dia masih duduk bangku SMP 215 Jakarta Barat.

Pucen lantas terus mengembangkan produknya. Dari aneka miniatur menjadi lebih luas. Sejak lulus SMA dia mulai membuat karakter. Yang kemudian dia menawarkan lewat sosial media Facebook. Hasilnya ia melah tercengang karena banyak orang tertarik. Kemudian dia berlanjut menajajaki Instagram juga nanti.

"Saya kwalahan untuk memenuhi pesanan calon pembeli," ceritanya. Mereka sangat tertarik loh. Bahkan pemesan merambah sampai ke luar negeri.

Namun dia tidak menjual ke luar negeri. Lantaran biaya kirim lebih mahal dibanding bahan utama clay. Nama bisnisnya Sisterclay, tepat berdiri pada 4 Maret 2011 silam, bisnisnya sempat membuat keteteran sekolah. Kemudian ia memberi kuota 50 frame saja, ukuran 15cmx20cm, karakter imut dalam frame itu laku.

Saking lakunya harga Rp.180 ribu tidak masalah. Di tahun 2014 menjadi titik omzetnya menanjak. Alhasil dia kini sudah memiliki pegawai sendiri. Sisterclay memproduksi clay karakter sesuai pemesan. Cocok buat pasangan couple yang ingin mengabadikan kenangan mereka.

Kewajiban sebagai mahasiswa juga harus dijaga loh. Maka Pucen pandai- pandainya mengakali jadwalnya berkuliah. Harga frame Sisterclay antara Rp.230 ribu ukuran 20cmx25cm, dan Rp.250 ribu buat ukuran 24cmx30cm. Untuk dua ukuran saja sudah memproduksi 200 sampai 350 frame artistik setiap bulannya.

Dalam sehari dia mengatakan, pemesanan sampai enam sampai dua belas frame. Agar mampu memenuhi pemesanan yang meningkat dia mempekerjakan tenaga tambahan. Calon pembeli dijaring lewat sosial media miliknya di Instagram. Nama akunya Sisterclay, penjualan tidak termasuk ongkos kirim ya teman.

Pembelinya datang dari berbagai penjuru Indonesia. Pembeli asal Papua bahkan rela membiayai dimana ia membiayai biaya pengiriman yang mahal. Ia berminat mengembangkan usahanya ke luar negeri. Sayangnya ya terbentur biaya pengiriman ke luar negeri.

Bahkan ke Malaysia saja, Pucen bilang belum sanggup, namun demikian niatnya tidak menurun. Ia ingin lebih dari bisnisnya. Hasrat terbesarnya adalah tidak menjadi pegawai seperti kedua orang tua. Berbisnis ini ia mampu menghasilkan banyak uang. Dia sudah bisa menggaji pegawai sampai Rp.1,5 juta per- bulan.

Dia bisa membiayai kuliah sendiri. Pucen ingin seperti kakaknya yang juga pengusaha. Tidak mau menjadi karyawan meski gajinya besar. Menjadi pengusaha dia mampu menolong orang lain. Berkat Sisterclay ia bisa membeli mobil sendiri.

Dia memberikan saran hargai hobi kamu. Kemudian cari passionya. "Hargai hobi kamu, cari passionya lalu gali terus," saran Pucen. Maka ketika kamu memulai tidak akan ada hambatan berarti. Dia memulai dari produk sederhana kemudian berkembang lebih kreatif. Jadi jangan tunggu lama menyempurnakan produk kamu!

Biografi Made Bali Pemilik Bisnis Kayu Bekas

Profil Pengusaha Made Sutamaya 



Jika orang ke pantainya Bali bersenang- senang. Disebuah sudut, ada sosok Made Sutamaya, yang tengah asik mencari sampah. Barang tidak berguna tersebut dirubahnya menjadi emas. Loh, bagaimana caranya, ya dengan merubahnya menjadi barang daur ulang. Inilah kisah pengusaha asal Bali.

Made mengingat semua bermula puluhan tahun silam: Made tengah asik melamun memandangi tumpukan sampah di tepi pantai. Dia mengingat ada puluhan potong ranting, potongan kayu juga ada, aneka ukuran menumpuk seperti gunung. Tiba- tiba kepikiran mengumpulkan mereka.

Dikumpulkan kemudian dirubah menjadi sesuatu. Made dari sekedar iseng mampu menghasilkan jutaan rupiah.

Bisnis sampah


Alkisah dia bercerita pernah bekerja di galeri seni. Made paham soal mabel, terutama bagaimana membuat kerajinan furnitur. Lantaran tragei bom Bali 2002, bisnis perusahaan tempatnya bekerja mengalami masa sulit. Sepi maka berdampak kepada penghasilan Made pribadi.

Ketika dia melihat tumpukan kayu limbah di tepi pantai. Muncul lah ide membuat furnitur berbahan dasar kayu bekas. Dia memang bukan ahli desain interior. Namun kreatifitasnya melalang buana lebih jauh. Jika penulis istilahkan melampaui mereka yang berpendidikan tinggi.

Bayangkan membuat furnitur berbahan bekas?

Bahannya gratis. Ia tinggal mengumpulkan dan dibawa pulang. Selain itu juga membantu lingkungan pula. Ia menceritakan penuh semangat -sambil memunguti ranting pohon, namun awalnya dia sama sekali tidak membayangkan bentuknya, bahan kayu- ranting bekas mau dibikin apah.

Dia memungut kayu bekas sampai dua kantung. Dibawanya ke rumah, lantas dimasukan ke galeri kecil- kecilan miliknya. Ayah empat anak ini lantas membongkar- bongkar ranting tersebut. Seolah seperti satu permainan puzzle hingga Made menemukan bentuk tepat.

"Saya menjadikan ranting- ranting itu penghias pinggiran kaca rias," jelasnya. Setelah itu Made akan mulai menawarkan dan laku Rp.200.000.

Ia menuturkan terbantu akan pamor Bali. Kerajinan tangannya begitu tersohor dikalangan wisatawan asing. Ya mudah baginya menjual hasil karya tersebut. Mereka bahkan meminta lebih variatif soal model. Inilah peluang usaha dibayangkan Made. Makalah dia pulang, semakin bersemangat buat mencari limbah kayu.

Ia akhirnya mendesain hiasan dinding, meja rias, harganya bervariasi dari ratusan ribu sampai bisa jutaan rupiah. Mungkin terlihat gampang tetapi tidak juga. Made lantas bercerita kepada Indotrading.com soal perjalanan bisnisnya. Dimulai tahun 2003, sempat bekerja di perusahaan mabel sampai 23 tahun lamanya.

Bisni Kiosk Gallery ternyata susah- susah gampang. "Ya saya memang punya mimpi ingin sekali menjadi pengusaha," Made semangat. Modal awalnya memang murah, tinggal kantung plastik, kayu bekas, dan juga paku. Sangat beruntung pengalaman bekerja di toko mebel begitu berasa mendukung bisnisnya kini.

Punya galeri sendiri


Ia yang hanya lulusan sekolah menengah atas. Mendadak menjadi jutawan bermodal sampah. Kayu didapat gampang ketika musim hujan. Kan kayu akan hanyut dari asalnya lewat sungai lalu ke laut. Kemudian dia mengumpulkan mereka jika sudah terbawa ombak ke pantai.

Ia menjelaskan bahan dikumpulkan ialah patahan kayu dan ranting. Membangun bisnis tidaklah mudah. Ia ingat betul awalnya dia cuma ngontrak. Dari uang jerih payah menawarkan kesana- kemari. Uang tersebut dibuat ngontrak satu rumah, yang disulapnya menjadi workshop sederhana. "Awalnya saya ngontrak dulu..."

Sukses kemudian penghasilan Made dijadikan rumah. Membeli rumah, kemudian Made kembali menjadi "pemulung" dipinggiran pantai. Dengan jarinya merakit sendiri produknya. Kebanyakan kayu tersebut ia katakan masih layak pakai. Tinggal dikeringkan karena habis terendam di laut lumayan lama.

Dirakit dulu kemudian barulah didesain bentuk. Kayu dijadikan berbagai perkakas rumahan. Kalau sudah bentuk interior dianggapnya paling susah. Dia menyebutkan butuh lebih dari sekedar merakit. Desain yang dia rencanakan harus detail termasuk penggunaan bahan kayu apa.

Dilanjutkan mau bagaimana agar konstruksinya kuat. Beda jika dia membuat patung burung, ya tinggal ia pakai imajinasi.

Bebekal pengalaman bekerja sebagai pegawai furnitur. Dia juga memiliki pengetahuan tentang desain interior. Kioski Gallery cuma berbekal paku dan kayu bekas. Potongan kayu panen ketika musim hujan tiba. Namun ketika musim panas, makalah dia kebingungan ketika harus mencari kayu- kayu bekas.

Dia hanya memilih kayu terbaik. Interior desain bikinan Kioski Gallery tidak disangka. Wujudnya seolah dibuat oleh lulusan sekolah desain. Keperluan interior produknya ekslusip, harganya bervariatif ya dari bernilai ratusan ribu sampai jutaan. "Macam- macam ya hingga Rp.6 juta," paparnya.

Konstrukis kayu kuat. Ketahanan luar bisa. Dia sudah memilah dahulu. Kayunya keras sekali, kenapa keras ternyata ada rahasia alam, bayangkan saja ikan keras terendam air laut. Ikan diawetkan pakai garam kan? Nah, prinsip ini diaplikasikan kekerasan kayu tersebut, kayu- kayu terendam sampai berpuluhan tahun bisa.

Konstruksi kayu terbentuk karena proses kimiawi. Terombang- ambi di air kemudian mengawetkan produk buatannya tanpa pelapis kayu! Ketahanan kayu menurut Made sampai 20- 30 tahunan. Bisnis yang dijalankan Made merupakan hobi. Jadi senang lah menekuni bisnis tersebut dan menghasilkan uang.

Bahannya kayu bekas di pinggiran pantai. Sambil menyelam minum air laut. Sambil menjadi pengusaha juga menjaga lautan. Sambil menghasilkan uang lingkungan terselamatkan. Beruntung Made tinggalnya di pinggiran panta jadilah kepikiran. Pria kelahiran 10 Oktober 1967 ini memang bukanl sembarangan orang.

Bisnis Eropa


Macam desain interiornya sudah merambah Eropa. Dari lampu sampai meja rias, semuanya adalah hasil pemikirkan kreatif Made Sutamaya. Sejak didirikan 2003 silam, kini, bisnisnya sudah merambah sampai ke Eropa, mulai Belanda, Prancis, Italia, sampai Afrika.

Pertama kali berbisnis dia membayangkan. Dia menunggu sambil melamun di galerinya, di Tegalalang, Bali. Karena sepi sangat dia terpaksa bergerak. Made bergrelia mencari pembali sendiri. Jalan terbaik ia mengikuti aneka pameran. Inilah alternatif mencari pembeli dan meningkatkan brand awerness nya.

Berawal dari pameran satu, ke pameran lainnya Kioski Gallery mulai mendapatkan pesanan. Made sangat menyarankan buat pengusaha pemula seperti kita: Ikutilah pameran bisnis dimanapun. Sukses menjual di event atau pameran, dia banting stir memanfaatkan sosial media Facebook, Twitter, dll.

Made mulai dikenal sebagi desainer interior kayu bekas. Omzetnya mampu nembus Rp.300 jutaan loh. Ia menyabet banyak penghargaan berkat itu. Sebut saja Prama Karya Award 2015 oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Dibantu oleh 30 orang karyawannya, yang kebanyakan merupakan putus sekolah.

Ibu- ibu pengangguran direkrutnya. Ia membina dan mempekerjakan mereka. Kemudian dia memiliki 250 mitra bisnis tersebar di seluruh Indonesia, ada di Bali sendiri, Lombok, Jawa Timur, dan Sumbawa. Dia sendiri aktif mengajak anaknya menjadi penerus bisnis sekarang. Ia mengikutkan banyak pameran bersama dia.

"...mereka juga dilibatkan dalam pembuatan seni ini," Made berharap usahanya tidak akab berhenti disini. Akan ada penerus buat bisnis kelak yakni anak- anaknya.

Tantangan buat Made ialah bahan baku ada ketika naik air. Ketika banjir bahan kayu akan banyak kumpul. Maka ketika musim panas maka dia menyiasati. Termasuk mengumpulkan kayu tersebut dahulu. Saran dari Mada bahwa pengusaha harus agresif memasarkan. Janganlah menunggu pelanggan datang tetapi datangi.

Kaya Karena Jualan Bros Untungnya Resign Pekerjaan

Profil Pengusaha Novi Indah 



Sukses Novi Indah memang sangat sederhana. Cuma berbekal "sampah" disulapnya menjadi uang puluhan juta. Bayangkan dari kulit ikan dijadikan omzet Rp.14 juta per- bulan. Umur 29 dia nekat keluar pekerjaan karena ingin menjadi pengusaha.

Berwirausaha memang sudah menjadi tujuan akhir. Awalnya dia mendapatkan cibiran loh. Tetapi dia dapat buktikan bahwa dia mampu. Ide merubah sisik ikan menjadi bros berhasil. Jadilah ibu satu anak ini mampu menghasilkan uang berbekal limbah ikan.

Dia putuskan berhenti pekerjaan. Walaupun begitu tidak mudah, bayangkan apa mungkin hobi mengkoleksi limbah ikan menjadi uang. Tidak terbayangkan dibenak pikiran orang biasa. Tetapi pikiran pengusaha Novi membawanya ke arah kewirausahaan.

Ide bisnis Novi sangat simple kok. Dibenaknya apa buatanya unik. Tidak semua orang terpikirkan akan membuat bros darisana. Orang bilang dia mengerjakan bisnis ecek- ecek -bisnis murahan. Bisnis sampah karena memang begitu bahannya. Namun di luar sana ternyata lebih banyak orang menghargai usahanya ini.

"...saya dihina tapi saya jalan terus," Novi mengenang awal mulanya.

Lantas dia memberinya nama Vay Craft Indonesia. Cara membuat bros kulit ikan gampang nih. Awal- awal sisik ikan dicuci sampai bersih 2 kali pencucian. Dia menggunakan diterjen biasa. Lantas dicuci kembali dan dikeringkan dengan diangin- anginkan.

Ia mengatakan tidak menggunakan sinar matahari. Kemudian diberi pemutih atau pewarna tekstil sesuai selera. Harga jualnya Rp.20- 30 ribuan. Usaha dimulai sejak 2008 menghasilkan omzet Rp.6 jutaan diawal bisnis. Wanita asal Sidoarjo tersebut lantas melebarkan sayap bisnisnya sampai ke penjuru Indonesia.

Kemudian dia merambah produk lain. Limbah kain perca dirubahnya menjadi bisnis. Dia membuat aneka bros sampai tas. Harga tas berkisaran Rp.115- 200 ribu per- buah. Untuk jualan tas sendiri omzetnya ia dapat Rp.4 jutaan. Bros kain perca kisaran Rp.10- 15 ribu dan omzetnya mencapai Rp.4 jutaan.

"Saya akan total berwirausaha," paparnya. Dia sendiri meyakinkan dirinya membesarkan. Total semu

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba