9 Pengusaha Muda Terbaik Indonesia Mendunia

8. Malariantikan Yulianggi Umur 19 tahun Company: Shoyu Pia Cake Ketika ia tengah mencari produk tentang produk lokal. Dia menemukan singkong di anak tirikan. Tapi satu kenyataan, Malarianti menemukan bahwa masih ada beberapa orang menikmatinya. Tapi tidak semua orang menyenanginya. Jadi dia mulai membuat produk modern Shoyu Pia Cake. Dari cuma punya enam pegawai di awal, sekarang, dia bisa memiliki lebih dan lebih banyak lagi pelanggan.

Biografi Mualaf Cantik Pengusaha Batik Trusmi

"Semua pengusaha punya jatah gagal," optimisnya.

20 Wirausaha Muda Mandiri 2015

Untuk kategori industri, perdagangan dan jasa 1. Juara 1: Gita Adinda Nasution (Kolagit -obat diabetes dan komplikasinya) 2. Juara 2: M Zulqarnain A R (Iwearzule -custom clothing) Untuk kategori boga 1. Juara 1: Filsa Budi Ambia (Peyek Kepiting -jajanan peyek daging kepiting) 2. Juara 2: Martalinda Basuki (UD Klasik -minuman coklat murni)

Profil Dea Valencia Pengusaha Batik Kultur

"Desainernya saya sendiri padahal nggak bisa gambar. Imajinasi. Saya ada satu orang yang diandalkan, kerja sama dengan saya. Apa yang ada di otak saya transfer ke dia untuk dijadikan gambar," kata Dea.

17 Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes

Retail and Ecommerce 1. Carline Darjanto, 28 tahun, Entrepreneur 2. Merrie Elizabeth, 28 tahun, CEO dan Creative Director Blobar Salon 3. Yasa Paramita Singgih, 20 tahun, Pendiri dan President Men's Republic 4. Ferry Unardi, 28 tahun, salah satu pendiri dan CEO Traveloka

Tampilkan postingan dengan label Pengusaha Filipina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengusaha Filipina. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 September 2017

Jual Permen Kiloan Bebas Pilih Sendiri Pengusaha

Profil Pengusaha Rosmerie dan Rich Andreas 



Jika orang Filipina atau orang Pinoy berpikir tentang permen, maka bisa dipastikan tidak ada terbersit dalam pikiran mereka sebuah ide bisnis. Inilah kenapa Rosemerie "Bubu" Andrew melihat peluang bisnis tersebut ketika orang lain tidak pernah terpikirkan.

Dia bersama sang suami, Ricky Andreas, memulai bisnis permen pada 1996, yang kemudian diberi namanya Candy Corner, dimana bisa meledak menghasilkan banyak gerai di mal- mal.

Rose membawa permen yang tidak ada di negaranya. Konsep bisnisnya adalah mencampur permen, kita tinggal mengambil apa yang kita suka sedikit, ditambah ini- itu dijadikan satu kemudian tinggal membayar. Ia melihat konsep ini di negara lain. Dan dia yakin orang Filipina akan senang melakukan hal yang sama.

Tantangan bisnis


Tantangan berbisnis ini adalah tempat jualan. Karena permen itu murah, jadi kita butuh banyak orang yang membeli, bagaimana caranya agar banyak orang lewat di sana. Rose mengaku betul bahwa biaya sewa di mal mahal. Tetapi mereka meyakini memiliki kemampuan untuk menarik pembelian.

Tantangan lainnya adalah masalah jumlah permen. Perlu diketahui Rose tidak bisa sembarangan mengimpor permen. Karena jika impor akan dihitung kiloan, semakin banyak impor, maka biaya pengiriman akan makin membengkak sedangkan harga jual harus murah.

Lambat laun mereka menjadi pemain besar di bisnis permen. Bukan lagi beberapa tetapi sampai kontainer berisi permen. Candy Corner menjadi pemilik retail permen serta vendor bagi penjual kecil. Apa yang bisa membuat bisnis mereka tetap menghasilkan volume penjualan tetap.

Ialah bagaiman mempertahankan level kegembiraan dan ekslusipan. Ada standarisasi dalam pengiriman permen cokelat ke grosir, supermarket, ke pasar malam, dan outlet kecil, dimana semakin banyak varian, rasa, jenis, permen yang dijual Candy Corner.

Mungkin hal paling membanggakan adalah, fakta bahwa Rose merupakan ibu dari tiga orang anak. Rose mengatakan bahwa keluarga adalah nomor satu. Jika bukan karena mereka yang mendukung bisnis ini maka bisa dipastikan semua tidak akan terjadi.

"Jika mereka membutuhkan aku setiap waktu, aku tidak akan pernah sukses mengerjakan pekerjaan dan juga rumah tangga, jadi aku mengajarkan mereka independensi sejak dini," paparnya.

Dia membawa pembelajaran tentang pentingnya kejujuran, apalagi jika menyangkut akademis. Sebagai seorang mompreneur, Rose juga aktif dalam organisasi bernama Entrepreneur's Organization (EO). Tujuan utamanya membangun koneksi, bagaimana menjadi seimbang antara bisnis dan pribadi, mengisi hidup lebih lagi.

"Aku adalah wirausahawan ibu," ia lanjutkan, "Aku bahagia dengan pernikahanku, dan Ricky dan aku yang membesarkan 3 anak yang menakjubkan sedangkan tetap aktif dalam EO," tegasnya.

Bisnis penuh rintangan


Bisnis ini sempat booming pada era 90' an, tetapi lain ceritanya jika kita berbicara kita berbisnis pada tahun milenia ini. Tetapi mereka membuktikan mampu bertahan dengan berbagai strategi. "Permen dilihat sebagai cara membuat orang senang. Itu adalah hadiah kecil murah."

Diantara kisah bertahannya tersimpan kisah pilu jatuh- bangun. September 1999, pusat bisnis mereka yang ada di Bagong Ilog, Pasig City, terbakar hingga habis. Mereka mendapatkan telephon pada malam harinya. Begitu pagi harinya mereka tiba, itu semua sudah terlambat!

"Apinya terlalu besar untuk dikendalikan," ujar Ricky.

Mereka tidak bisa melakukan apapun kecuali menonton. Mereka kehilangan apapun semua kantornya itu hangus terbakar. Di dalamnya ada inventaris senilai $129.192,66, dan totalnya adalah $193.788,99. Yang tersisa adalah boks anti- api dan sebuah map berisi buku check, buku pass, dan tiga gulung tisu toilet.

Rose mengatakan mereka butuh seminggu untuk recover. Mereka pindah ke kantor lain di New Manila, untung surat asuransi masih ada di dalam boks anti- api. Semuanya sedang dipersiapkan namun sayangnya, pihak asuransi menolak menanggung semuanya walaupun mereka sudah lama berasuransi.

Beruntung mereka sudah membuat periapan terpisah. Dimana semua tentang hari Natal sudah dipersiapkan. Dimana semua stok permen sudah ada di tempat masing- masing. Persiapan yang sudah matang untuk dua bulan ke depan.

Sambil menyusun kembali inventory, mereka meminta tambahan waktu buat memperpanjang kredit tempat mereka. Disisi lain, mereka mencari hutang kanan dan kiri, dari teman, bank. Mereka juga harus berurusan dengan kantor pemerintah untuk mengurus dokumen- dokumen.

Mereka harus merendahkan harga diri mereka. Memohon kepada suplier untuk menghandle pembayaran lebih lama dan tetap mensuplai. Mereka meminta pinjaman lagi ke manapun. Mereka tetap berekspansi meskipun modalnya terbatas. Mereka mulai berhemat mengendalikan pengeluaran mereka ke depan.

"Itu menyangkut banyak kesabaran, fokus, tidur sampai larut malam -dan, ya, menahan semua tekanan dari luar," tutur Rose.

Rose -yang merupakan lulusan Asian Institute of Management, mengambil Master di Entrepreneurship- meyakinkan diri untuk menahan kredit mereka. Pembayaran apapun tertunda tidak bisa dihindari. Tetapi dia mampu meyakinkan suplier, kreditur, investor, dan meyakinkan mereka bahwa bisnis mereka akan terbayar.

Semua hal tersulit berjalan selama lima tahun. Pada 2005, semua kredit mereka sudah terbayar, dan arus kas sudah berjalan. Tidak ada solusi cepat. Orang terdekat mereka cuma menyarankan untuk menabung ke 10 tahun kedepan. Dan itu tidak ada lagi saran lebih baik lagi dibanding semuanya.

Menyerah bukanlah pilihan, Rose mangatakan, tetapi godaan untuk itu akan selalu datang. Agar mereka tetap pada tekatnya, termasuk membuat waktu keluarga ke luar negeri bersama. Mereka meyakinkan diri untuk tetap bersama bangkit. "Api itu mungkin masalah terbesar dan tersulit pernah kami alami," tutupnya.

Sabtu, 19 November 2016

Jual Sandal Japit Premium Anne Merambah Fasion

Profil Pengusaha Anne Arcenas Gonzales 



Dia bersama sang suami memulai bisnis nol. Sebelum menjadi distributor resminya brand Havaianas pada 2003 di Filipina, keduanya, Anne Arcenas- Gonzales dan suaminya, Freddy, hanya berbekal kamar tidur di rumah mereka sendiri. Tak satupun percaya bahwa mereka menjual jutaan pasang tiga tahun kemudian.

Menurut majalah Entrepreneur Filipina, keduanya mengimpor sampai 2 juta pasang. Keduanya cuma mau mendapatkan barang bagus. Bersama mereka mendirikan perusahaan bernama Terry S.A, Inc. "Karena kami sangatlah amatiran, kami tidak menyadari bahwa akan memakan waktu kami (sangat sibuk)," paparnya.

Harapan mereka tidak akan sebesar ini. Tetapi mereka mampu membangun seluruh perusahaan, dan yang awalnya cuma berkantor di kamar tidur. Meskipun mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan. Ia memulai dengan mengimpor lewat menja distibutor perantara kecil.

Mereka kemudian menjual sandal Havaianas. Mereka menjual bersaing ke toko fasion, dari Aura Athletic sampai Rustan's Department Store. Perusahaan utaaa Havaianas, Alpargatas S. A, memang memfokus buat menjual melalui distributor kecil di penjuru dunia.

Kesempatan besar


Dan ketika Anne berhasil menjual seluruh stok mereka. Dimana cuma butuh waktu satu setengah tahun. Ia langsung bertekat memperbesar bisnisnya. Ada masanya ketika ia berpikir "Apa saya benar mau membuat ini ke level selanjutnya?" Semuanya berjalan lancar tapi apakah akan berjalan lebih lanjutnya.

Perasaan bercampur antara keyakinan dan keraguan. Mereka merasakan jalannya saling bersinggungan. Sang ayah keduanya, mengingatkan bahwa apa mereka akan pertaruhkan adalah uang. Mereka membuat bisnis tersebut sebagai startup, bukan menarget jutaan atau miliaran uang.

Adanya kesempatan itulah yang mereka incar. Bukan berlebihan menarget sesuatu kira- kira begitu. Anne dan Freddy membuka kartu kredit dan bekerja sama dengan Jon Syjuco, yang merupakan juga patner toko fasion Aura Athletica -yang kemudian dibeli oleh perusahaan Anne, Terry S.A.

Tidak kesempatan lain untuk tumbuh. Kemudian Terry S.A., pada 2005, membuka toko pertama khusus menjual sandal Havaianas, di Glorietta, Makati City, dimana sudah ada 38 cabang sekarang ini. Pada 2009 mereka memenangkan hak distribusi resmi Havaianas di Malaysia dan Singapura juga.

"Saya tidak berpikir (Alpargatas) menyadari bahwa kami akan menjadi negera utama mereka, konsisten setiap tahun, dan menjadi negera utama mereka (dalam hal jumlah penjualan)," terang Anne.

Apa penyebab sandal premium ini begitu digandrungi. Mereka mengadakan event berjudul "Make Your Own Havaianas", terbatas lokalan kecil tetapi konsisten terus dijalankan. Hingga banyak selebriti mulai melirik brand mereka. Mereka menjadi fans, disana dan memakainya, yang mana juga membantu brand.

Salah satunya ada selebriti Filipina bernama Pia Magalona -dimana banyak ibu muda yang mengefans dia, akhirnya ikutan mengoleksi sandal Anne. Mereka membentuk kelompok bernama Havaianaticos, yang menggemari produk mereka, yang mana diikat dalam bentuk tema pertemanan.

Kekuatan Havainas adalah kemampuan global. Tumbuh sangat cepat secepat mungkin, menguasai pasaran cepat secepat mungkin. Utamanya memanfaatkan selebriti lokal agar menaikan pamor. Kemudian mulai lah menyulam kampanye luas. Inilah cara ampuh bagi brand baru menjajaki pasaran dimanapun.

Kisah sukses Havainas merupakan kisah sukses brand baru. Dimana formula utama digunakan kita adalah sebuah dedikasi, presisten, dan berkomitmen membentuk grup orang. Yang mana akan membuat inovasi produk tulus berasal dari pelanggan kita.

Terry S.A menjual Havainas bersama brand- brand lainnya, termasuk bisnis clothing karya mereka sendiri, yang diberi nama Thread 365, dijual melalui toko multi- brand milik mereka CommonThread, dimana sudah membuka di Malaysia, Singapura, dan Filipina pada 2003 silam.

Anne masih tidak bisa tidur awal -nampaknya sekarang karena memiliki lebih dari 500 orang karyawan- dan dia menerima ketidak nyamanan itu. "Kegelisahan adalah tandanya kamu khawatir," Anne menurutkan. Ketika kamu mau melakukan sesuatu terbaik, tetapi merasa sangat percaya diri, maka disanalah akan jatuh.

Rasa gelisah berbeda dari ketakutan akan kompetitor. Tetapi lebih ke bagaimana menjalankan bisnis lebih baik. Kualitas produk Anne pikirkan matang. Dia percaya bahwa pasar bisnis ini besar. Cukup besar buat kompetitor dan dia bersaing sehat. Bukan masalah terlalu optimis dan mengacuhkan kompetitor.

"Kami masih disini," jelasnya. Menjelaskan bahwa produk Anne bagus. Memiliki brand bagus yang mampu mendukung penjualan. "...dan sangat fokus ke senjata kami tersebut."

Kamis, 01 September 2016

Bermimpi Mewarisi Penginapan Kecil Eksotis

Profil Pengusaha Lei Andre


  
Bermimpi besar itulah Lei Andre Hofman. Tidak banyak diketahui dari sosok cantik belia ini. Hanya saja dia merupakan sosok pengusaha muda. Andre menurut entrepreneur.com.ph, berumur 19 tahun, mewarisi satu usaha penginapan kecil nan- elok di sebuah kota kecil.

Sebuah penginapan sekaligus butik, merupakan sebuah warisana usaha ditempat strategis, sebuah kota yang kecil terkenal akan pusat olah raga surving. Sekitar utara Kota Dingalan, Filipina, "Jika kamu naik kapal, itu akan membutuhkan beberapa jam untuk sampai di Baler (tempatnya)," singkat Andre.

Butuh waktu karena kota itu diputari gunung. Namanya Fil- Dane Inn terkenal bahkan ketika kamu mengetik namanya di Google. Merupakan warisan kedua orang tuanya didirikan sejak 1990-an. Merupakan tempat pemberhentian sehari. Merupakan tempat menginap semalam backpacker, atau bertraveling sekeluarga.

Untuk menjalankan bisnis, Andre bekerja sendiri bersama satu krew ketika hari biasanya. Kalau musimnya liburan maka dia akan sangat kerepotan, dan bahkan akan mengajak keluarganya bekerja.

Bisnis lokal


Andre tau bisnis tempat wisata butuh sentuhan lokal. Bayangkan mempekerjakan orang bukan orang asli di daerah. Apakah mereka mengetahui segala tentang keindahan tempat itu. Inilah kenapa dia selalu memilih untuk mengajak pekerja asli daerah. Semua hasilnya kan kembali ke kota itu sendiri sebuah kegiatan sosial.



Dia menjadikan modal nilai kearifan lokal. Semua didapatkan dari pelatihan internasional dan tinggal bersama di tempat multi- kulturan. Bagi anak muda 19 tahun merupakan pencapaian luar biasa. Cewek cantik yang berdarah campuran Filipinan- Denmark, ini adalah mahasiswa manajemen Enderun Collage.

Dia bekerja dulu menjadi internship di Kota Denmark. Tempat kelahirannya ini menjadi awal baginya sadar bahwa Filipina memiliki nilai. Dulu dia pernah tinggal di Iran, China, Spanyol, bahkan Saudi Arabia, lalu ia tinggal di Filipina menetap ketika umurnya 16 tahun.

Kembali ke Filipina, dia sudah mengantungi pelajaran informal, bagaimana menghadapai beragam etnis dan kulutran. Tetapi kalau berbicara tentang uang masalah lain.

Di Denmark persamaan kedudukan mencolok. "Itu hal tentang Danish. Kami menyebutnya Jante Law," ia menjelaskan. Di Filipina adanya hirarki kedudukan dalam berbisnis. Perusahaan pastilah tidak akan memberi kemudahan buat karyawan biasa ngopi sama General Manager.

"...dan hanya untuk makan malam dengan mereka, dan diduk disana, dan minum bersama?"

Mulailah dia memperlakukan pekerja sebagai keluarga. Dia bahkan menutup penginapan cuma buat makan bersama mereka.

Dia menyebutkan juga orang Filipina butuh batasan. Nilai profesionalisme butuh garis lurus antara berlaku sopan santun dengan terlalu nyaman bersama pendatang. Meski begitu dia tetap melakukan pendekatan sopan santun asli Filipina, dengan beberapa sentuhan.

Praktiknya daerah penginapan miliknya masih perawan. Jadi dia mengajak pengunjung berkeliling sendiri. Ia juga menciptakan perasaan seperti di rumah sendiri. Makanan dapat disiapkan sendiri di dapur. Kalau bicara koneksi Wi- Fi sudah sudah bagus, tetapi prasarana tempat gym baru akan disediakan mendatang.

Untuk aliran listrik berterima kasih dengan panel surya. Beruntung tempatnya benar- benar banyak sinar matahari panas.

Pengusaha muda


Mengambil alih bisnis keluarga tiga tahun lalu adalah sulit. Bagi pengusaha muda satu ini tidak ada kata jadi. Dia bahkan tidak tau marketing bisnisnya. Butuh waktu buat mendapatkan perhatian dunia. Yah sekarang dia waktu itu langsung menstabilkan pendapatan penginapan.

"Satu pengunjung dalam semalam bagus karena permulaan," ujarnya. Maka targetnya lima tahun kedepan adalah 70% sampai 80%.

Mimpi Andre mengubah kota kecilnya menjadi terbaca di peta. Merupakan tempat nyaman buat mereka yang mau melepaskan rutinitas di kota besar. "Tetapi aku tidak mau merubahnya menjadi tempat hiburan malam," tandasnya.

Jangkauan seorang Andre bahkan mencapai sepuluh tahun kedepan. Dia mengajak pengusaha mudah buat mengikuti petanya. Ia mengajak anak muda buat tetap belajar atau mengikuti karir. Berbisnis dibidang ini memang latar belakang keluarganya, dan dia sangat peduli akan hal tersebut.

Dia sejak dulu memang sudah berwirausaha. Dari usaha produk fasion ketika masa sekolah menengah, lalu dia berbisnis produk kecantikan pas kuliah. Tetapi dia kini mengerjakan bisnis keluarga. Yang dia lihat akan memiliki prospek panjang. Dia melihat bisnis tersebut dengan kecintaan akan tempat asalnya.

"Semua pengunjung adalah raja dan ratu... kamu mau melayani mereka untuk kepuasan sendiri dan kepuasan mereka," tutup Andre.

Rabu, 17 Agustus 2016

Pengusaha Produk Menyusui Bayi Urban Mom

Profil Pengusaha Edric Eng Cha dan Kristine Gonzales 



Apa dibayangkan kamu tentang ibu menyusui. Sebuah kerepotan tetapi sangat penting untuk dilakukan. Oleh karena itu bisnis dijalankan sepasang pengusaha ini berhasil. Mereka, Edric Eng Cha dan Kristine Gonzales, memulai usaha berkaitan dengan ibu menyusui.

Semua produk dijabarkan mereka sebagai jalan. Bagaimana seorang ibu menjaga tumbuh kembang bayi. Ini tidak cuma produk mempermudah menyusui. Tetapi juga produk makanan ramah bayi. Apakah kamu akan terkejut mendengar roti susu ibu ataupun selimut menyusui?

Roti susu ibu merupakan produk bebas susu buatan. Bukan susu sapi bukan pula susu bubuk kemasan. Keduanya memulai bermodal 100.000 peso. Menjual aneka produknya lewat toko online sendiri. Gonzales menyebutkan semua bermula dari inspirasi sepupu Edric. Dan kemudian berlanjut menjadi satu thesis kuliah mereka.

"Kami melihat bagaiman dia takutnya tentang anak terakhirnya," ujar Gonzales. Ini semua karena sepupunya mengalami kesulitan hamil -jadi hanya punya satu anak.

Bisnis serius


Ia melanjutkan mereka lantas membuat penelitian. Mereka bergabung dengan grup online. Tujuannya adalah mengobservasi dan meneliti ibu muda sekarang. Wanita sekarang, sebagai ibu, lebih memilih memegang anak mereka sendiri. Kalau dulu sih ibu memilih meninggalkan anak ke pengasuh.

Sebuah kesadaran mengenai ibu harus merawat anak sendiri. Oleh karena itulah, mereka menyiapkan cara mudah merawat putra- putri mereka sendiri. "Urban Mom fokus ke produk buatan lokal," imbuh Gonzales. Ia menyebutkan produk mereka mempermudah hidup ibu mudah dan gampang.

Mereka fokus ke produk ibu merawat bayi. Lebih fokusnya ke produk menyusui bayi. Produk andalan yang mereka suguhkan seperti Milking Treats: Produk jajan yang meningkatkan jumlah asi dikeluarkan ibu. Ini sangat populer bagi ibu yang keluar susunya sedikit.

Untuk penjualan Urban Mom menjual online. Mereka aktif mengikuti banyak bazar seperti Baby and Family Expo, Ustepreneur, dan Babypalooza. Kedepan produk Urban Baby masih memilik masa depan buat lebih tumbuh.

"Produknya masih terbatas terdistribusi, perusahaan menginginkan satu cara memperluas distribusi," tutur ia kembali.

Tidak ada agen penjualan lebih hebat dari ibu sendiri. Karena mereka tau tentang kehamilan mereka sendiri. Mereka tau tentang apa terbaik buat anak mereka. Meski mereka berdua belum menjadi pasangan ibu dan ayah. Bisnis mereka menjadi bisnis pertama layaknya anak butuh perhatian ekstra.

Mereka bahkan membolos kuliah buat mengikuti bazar. Justru kesulitan kuliah mereka menjadi cara unik melampaui batas mereka sendiri. Mereka mendapatkan tekanan nyata ketika berbisnis nyata. Namun masih dianggap pengalaman berharga bagi mereka dan bisnis mereka, Urban Mom.

Bisnis berlanjut mereka membuka toko khusus ibu. Ketika teman sekuliah bingung mengerjakan skripsi atau thesis. Maka keduanya sudah mengaplikasikan dan membuka usaha sendiri.

Bisnis Urban Mom lebih dari sekedar menjual kue. Hari ini, mereka menjual selimut menyusui, botol buat menyusui, dan lainnya membantu ibu merawat bayi. Inspirasi mereka adalah ibu sekarang yang mulai sadar merawat bayinya sendiri lebih utama.

Berawal dari sepupu Erick yang susah punya anak. Selepas delapan tahun akhirnya memiliki anak bayi. Lalu kita diamkan saja anak satu- satunya. Tentu tidak. Oleh karena itulah, Urban Mom melahirkan banyak hal buat membantu ibu muda, inilah kisah pengusaha produk ibu menyusui anak.

Selasa, 28 Juni 2016

Kisah Manis Pahit Choa Seniman Coklat Filipina

Biografi Pengusaha Raquel T. Choa 



Menjadi pengusaha bisa saja merupakan pilihan hidup. Terkadang mungkin karena keterpaksaan agar tetap hidup. Menginginkan hidup lebih baik maka Raquel T. Choa berusaha. Dia hidup sangat sederhana. Ia sejak berumur muda sudah berjualan lilin dan sampaquita untuk membantu orang tua.

Umur 12 tahun, dia sudah bekerja menjadi kasambahay di Laguna, Filipina. Berjalanan waktu ia mengingat betul hidupnya "tidak jauh dari coklat". Dia ingat belajar menyajikan dan menyiapkan coklat dari sang nenek, Leonila Borgonia, yang bekerja menjual nanay.

Dia ingat, di umur 12 tahun, neneknya lah yang membawa dia pergi dari Cebu ke Laguna. "Saya tidak takut untuk bekerja karena saya bepikir saya harus benar- benar bekerja," kenangnya sedih.

"Saya memiliki masalah listrik di provinsi sampai saya tidak bisa melihat apa yang saya lakukan," imbuhnya lagi. Dari bekerja sebagai kasambahay uangnya digunakan untuk pulang ke Cebu. Dia ingin bertemu orang tuanya. Namun ternyata kedua orang tua Choa berhutang ke rentenir dan menjaminkan rumah serta tanah.

"Mereka tidak meninggalkan rumah karena mereka dibutuhkan untuk membayar hutang," dia berujar. Inilah hidup dimana Choa harus bekerja kembali buat membayar hutang orang tua.

Bisnis coklat


Umur 7 tahun sudah paham tentang konsep tablea. Adalah nama untuk jajanan coklat berbentuk tablet. Dia sudah tau bau coklat bahkan dari jauh. Inilah dasar dia menjadi ahli coklat untuk membangun bisnis Ralfe Gourment Chocolate Boutique, dimana dia memulai usaha dari 2010.

Layaknya kisah film Charlie and the Chocolate Factory, dia ingin berbisnis coklat sendiri. Awal sih dia tidak paham mengenai detailnya. Hanya saja Choa mau berbisnis tablea buat bertahan hidup. Dia lantas meminta diajari nenek. Choa belajar membuat coklat hingga bagaimana membuat minuman coklat.

Disaku Choa ada 10.000 peso dan membelikan ratusan kilo biji coklat. Dari sanalah, dia belajar aneka cara membuat produk coklat, mulai mengeringkan, menggoreng, dan membuat biji tersebut menjadi aneka bentuk produk olahan.

Bukan perkara mudah berbisnis. Ketakutan akan biji- biji coklat tidak laku dipasaran hinggap. Dia takut kalau bisnis tidak berkembang. Maka berkardus biji coklat akan terbuang sia- sia. Bagi seorang chef untuk olahan coklat, kualitas biji segar memang sangatlah penting, jadi apa solusi buat bisnis Choa sekarang.

Dia ingat bagaimana seorang chef sekitar mengejek. Menyebut coklat miliknya adalah dirty- chocolate. Ini karena proses pembuatan masih menggunakan tangan. Namun dia tetap percaya diri atas apa pengajaran dari nenek. Karena juga Choa menyukai buatan tangan langsung lebih nikmat.

Bisnis Choa makin mengembang. Beruntung dia didukung oleh suami, Alfred, seorang teknisi mesin, dan juga rekan bisnisnya, Edu Pantino, yang mendukung langkahnya. Sampai dia mendapatkan julukan orang- orang sebagai ambasadornya coklat di Filipina.

Tidak ada rahasia dalam berbisnis coklat. Dia menyebut passion dan cinta kamu punya. Jikalau kamu melihat sesuatu penuh cinta. Bermodal sebuah bisnis sederhana dia menjadi ahli coklat. Tawaran franchise mengalir dari China atau Taiwan tetapi dia malah menolak.

"Kamu memberi apa yang terbaik apa yang kamu punya," tutur dia. Akan tetapi untuk franchise dia memilih tidak karena menurut Choa bisnis soal keluarga dan anak- cucunya kelak.

Bisnis passion


Banyak orang tidak tau bahwa dia terlahir miskin. Bayangkan dia cuma makan nasi sekali setahun, sisanya makan jagung dan sayuran saja. Dia tinggal bersama nenek di rumah kaki gunung Barangay. Disana dia mulai belajar bertani, menjual sayur, dan biji coklat. Menjadi petani coklat sejak kecil diajari neneknya sendiri.

Dia ingat berjalan melewati sungai agar dapat sekolah. Bersemangat dia mampu menjadi siswa berprestasi di sekolah. Meskipun dia harus belajar tanpa lampu karena tidak ada listrik. Dia lantas tinggal dan bekerja di Manila. Choa mencucikan baju orang, menjual lilin, sampaquita hanya untuk bertahan hidup.

Dalam sebuah artikel dia menyebut tidak pernah menyesal. Dia tidak pernah menyesal terlahir miskin. Choa tidak pernah susah ketika masih kecil. Bahkan menurunya karena itulah menjadi dorongan baginya agar bisa seperti sekarang. Berkat itu dia sangat menghargai kenikmatan apapun meski sedikit.

"Masa kecil saya menyenangkan dan gembira. Hidup saya itu mudah, bersemangat menunggu musim panas tiba. Jikalau ini bukanlah bagian dari masa kecil saya, maka saya tidak akan seperti sekarang saya. Semakin kamu menderita, semakin kuat kamu," tegas Choa.

Entrepreneur satu ini memang sangat optimis. Di masa mudanya, Choa tidak pernah berharap akan kaya, ia hanya bermimpi bahwa dia akan bekerja kantoran dan bagian dari perusahaan korporasi. Dia mengakui ia tidak pernah bermimpi akan menjalankan usaha sendiri seperti empat tahun belakangan ini.

Sebagai pengusaha wanita, seorang business woman, maka dia menyarankan kamu agar tetap semangat buat menjalankan bisnis baru mu. Jangan pernah menyerah, kamu harus mencoba sesuatu yang baru, kegagalan akan selalu mengikuti keberhasilan, dan menempatkan kita berbeda dari orang biasa lakukan setiap hari.

Buatlah produk bernilai dibicarakan dan bernilai uang. Pastikan kamu selalu punya pengalihan. "Jikalau orang terus membeli produk kamu, maka kamu ada di jalur tepat," saran Choa.

Ingatlah selalu mendukung pembeli. Berikanlah apresiasi kepada pelanggan. Dia mencatat: Ketika kamu mulai berbisnis jangalah memikirkan tentang pesaing. Jangan sibuk sendiri mengamati mencoba mengalahkan pesain, namun jadilah lebih percaya diri akan kemampuan sendiri.

Akan selalu ada batasan kamu dengan kompetitor. Malah kalau kamu fokus diantaranya, kamu akan hilang fokus karena kita akan selalu bersaing. Fokuslah ke kepercayaan diri bahwa kamu lebih unik. Pasaran akan luas bagi kalian berdua jika kamu percaya. Carilah perbedaan dan lebih banyak latihan agar menonjol lagi.

Choa meyakinkan kita bahwa bisnis bukan tentang memiliki setumpuk modal. Taruhlah kepercayaan diri jadi investasi dan passion menjadi modal kapital kamu.

Usaha dari nol


Karena miskinnya keluarga Choa tidak dapat membeli susu. Maka sumber nutrisi mereka hanya coklat yang mereka tanam sendiri. Mereka minum coklat meski pahit tanpa gula. Ini menjadi nutrisi mereka sehari- hari. Kenapa pahit tanpa gula, ternyata keluarga Choa memilik filosofi sendiri, bahwa gula tidak baik bagi coklat.

Umur 13 tahun, dia bekerja sendiri pulang- pergi, lantas membuka kantin sendiri di pabrik. Dimana dia lalu bertemu rekan satu kerjanya di pabrik. Seorang entrepreneur Alfred Choa, yang umurnya 18 tahun waktu itu. Menjadi ibu rumah tangga dia masih bersemangat membuat aneka coklat sendiri dari kedua tangannya.

Tahun 2009, kebakaran melanda rumah mereka, dan Choa akhirnya meminta diajari membuat tablea. Dia lalu mendandani garasi, memasang meja billiar, dan menjual tablea dan produk coklat lainnya sementara dia mengawai renovasi rumahnya.

Apapun kamu lakukan lakukan passion kamu. Pikirkan sesuatu yang unik seunik kamu sendiri. "Itu ada di tangan kamu," ujar dia. Lakukan sesuatu datang dari hati. Jangalah kamu sekedar mengikuti tren. Lakukan apapun untuk menggapai kebahagiaan kamu. Itulah yang akan nampak di hasil akhir produk kamu nantinya.

Kenapa memilih berbisnis coklat? Dia mengenang pembicaraanya bersama Edu Pantino. Seorang Argentina yang mau bekerja sama dengan Choa. Dia sebenarnya sudah tau bahwa coklat bisa dijadikan sesuatu dari masa kecilnya.

Orang Argentina ini menantang Choa tentang produk andalan Filipina. Akhirnya dia terkenang namanya satu produk "tablea". Cukup lama sebelum membuka bisnis dia berpikir. Aneka ide mentok hingga dia bertemu coklat. Yah Choa akan berbisnis jamuan aneka produk coklat -termasuk tablea- yang dibuka di garasinya.

"Harta karun saya dan membuka kan jamuan coklat di garasi rumah kami," ia menjelaskan. Choa tidak cuma menjual coklat murni. Dia menyediakan aneka makanan, seperti pizza dan pasta yang juga dibumbui coklat tentunya. Tidak butuh waktu lama mengimplementasi ide membuka usaha serba coklat tersebut.

Sebagai ibu rumah tangga, beranak delapan, maka sudah biasa baginya bekerja di dapur. Dia cukau mulai lagi mengingat ajaran nenek. Dengan belajar lebih intensif kembali maka dia menemukan celah. Dari satu ke dua eksperimen mampu dia menciptakan produk unik dan menu enak yang dijualnya lewat tiga bisnisnya.

"Ini tidaklah mudah," dia menambah.

Dia menciptakan ratusan kilo tablea untuk bahan masakan ke hotel- hotel sekitar. Dia dibantu Pantino masuk ke hotel sebagai teknisi coklat. Dia secara bertahap menjelaskan tablea sebagai produk berkualitas nasional. Mulai mereka menerobos jaringan hotel internasional dan menjadikan seni membuat coklat diakui dunia.

Bisnis keluarga


Ingatan Choa kembali ke jaman umur 8 tahun. Dia ingat sang nenek menyiapkan tablea. Membuatnya jadi makanan lain nikmat dimulut gadis kecil itu. Waktu itu dia belum menyadari bahwa biji coklat atau kakao adalah bahan utama membuat coklat manis. "Itu adalah sarapan kami setiap hari," kenangnya.

Ketika nenek menjelaskan coklat merupakan pengganjal perut mereka. Dan coklat memiliki kandungan gizi baik. Choa mendengarkan seksama penjelasan tersebut. Maka ketika dia mendapatkan resep bagaimana membuat tablea tertanam dibenaknya.

Dia lantas dinikahi pengusaha, Alfred Choa, diumur 16 tahun dan kecintaan akan coklat semakin membesar. Justru ketika menjadi ibu rumah tanggan dan memiliki delapan anak, ibu dari Michael Ray, Michelle Honey, Anthony, Jonathan, Hanna, Alfredo, Rose Angeline dan John Paul, justru malah menjadi pemilik perusahaan sendiri.

Masa kecil sulit membuat dia tidak takut akan resiko. Dia percaya diri mengambil keputusan di perusahaan. Ia menjadi seniman coklat dimana coklat mengalir di imajinasinya.

"Sukses berarti melalukan hal baik. Saya melakukan hal baik dan seterusnya," ujarnya.

Sukses tablea membawa visi Choa ke masa depan. Dia ingin mengekspor produk coklat khas Filipina jadi komoditi internasional. Fakta dijelaskan Choa, negara mana yang mendapatkan pohon coklat pertama, yaitu ketika Spanish mulai menjelajah tahun 1670.

Jawaban tersebut pasti sudah kamu ketahui. Selanjutnya mimpi wanita 36 tahun ini bagaimana cara membuat produk coklat Filipina mendunia. Dan jika dia ingin lakukan itu, dia akan membawa lebih banyak kardus berisi coklat dan membawa ke pasar global.

Dia memutuskan akan mengekspor coklat. Bukan cuma berkardus coklat siap makan. Tetapi bagaimana cita rasa coklat khas Filipina menyebar ke dunia. "Saya tidak pernah berpikir saya akan berbisnis dengan coklat sekarang," ia tambahkan.

Jumat, 20 Mei 2016

Cari Barang di Situs Sulit OXL Nya Filipina

Profil Pengusah RJ dan Arianne David 


 
Tahun 2006 mereka tengah menikmati liburan mereka di Tagtay, Filipina. Mereka lantas berbincang tentang bisnis website. RJ David seorang teknisi mekanik. Ia hanya developer website dan seorang freenlancer bisa otodidak. Sementara itu pacarnya Arianne delos Reyes bekerja di UCPB departemen teknologi, belajar ilmu komputer.

RJ tengah menangani klien asal Korea. Tujuan RJ adalah menciptakan banyak website untuk tujuan komersil. Ia menemukan lewat trafik, makin banyak pengunjung datang, mereka bisa menawarkan iklan. Dimana pihak klien yang memintakan dibuatkan website menjual iklan ke luaran sana.

Ternyata banyak orang butuh mengiklankan di internet. Sejak paham akan hal itu, RJ memutuskan mencoba menciptakan lompatan bisnis. Dalam perjalanan membuat website buat sendiri RJ dan Arianne didukung oleh keluarga soal apapun. Sampai mereka benar mampu hidup mandiri dan menghasilkan uang karena resign.

Untuk awalan mereka akan menjual iklan gratis. Memberikan tempat buat kamu menjual produk lama kamu. Orang bisa jual atau membeli barang apapun. Orang pun dapat mengklasifikasikan produk berdasarkan apa kategori disiapkan, dari aksesoris, furnitur, pakaian bahkan rumah ataupun mobil bisa.

Namanya "Sulit" memberikan makna worth it atau berharga -diambil dari bahasa Filipina sulit na sulit. Lantas namanya ditaruh di website bernama Sulit.com.ph. Mereka secara terbuka bersaing dengan Ebay, Buy&Sell, 88DB, dan Auction.ph. Berkat pengalaman ditambah keberuntungan Google membuat RJ menemukan titik.

Bisnis online


Waktu tepat ditambah pemilihan kata hebat. Ditambah lagi keahlian RJ dalam hal SEO membuat situsnya gampang ditemukan mbah Google. Uang modal untuk domain sebesar Rp.600 ribuan dan hosting senilai kalau dirupiahkan Rp.170 ribuan untuk sewa selama enam bulanan, atau totalnya sampai Rp.800 ribuan.

Dimana mereka, RJ dan Arianne, sepakat bekerja bersama di kamar RJ. Total RJ serta pacarnya dapatkan makan gratis, listrik gratis, sampai mereka benar- benar menghasilkan. Untuk pertama- tama soal marketing RJ membuat software. Tujuannya menangkap alamat email dari situs lain buat dikirimi email viral.

Dia mendapatkan 100.000 email lantas mengirim ajakan. Ajakan bagaimana jika mereka mengecek website buatan mereka. Dari jumlah email tersebut, hanya 22 orang mendaftar, dan 50 orang lagi disetiap email yang terkirim. Lantas dibuatlah program Nokia 3210 dimana menangkap nomor hp ketika menscan iklan disana.

Waktu itu tidak ada smartphone, jadi tidak salah jika dia mendapatkan banyak pengunjung dan banyak orang terheran- heran.

Iklannya gratis cuma terbatas 65.000 karakter dimana pesain miliki 160 karakter. Bulan pertama berlalu, ia mendapatkan iklan pihak ketiga senilai $5, kemudian naik $25 dan seterusnya sampai $125. Bulan ketiga sampai melonjak trafiknya mencapai angka tidak terduga.

Bukan hanya bertahan akan kategori, mereka justru membuka kategori lain hingga mencapai 100 kategori. Kemudian kategori kemudian mencapai 300, tetapi hilang tinggal 200 -an. Pasalnya beberapa kategori bisa menyulut masalah seperti guns & ammo atau barang personal, dimana tidak ada lisensi atau keamanan yang terjamin.

Mereka bekerja sendiri. Dua orang ini mulai menjadi marketing, developer, menjadi programer bersama. Mereka pun menikah pada tahun 2008. Nama Sulit lantas menjadi Netpreneur Connection Enterprise.Inc, dimana memiliki 90 pegawai bekerja di gedung dua lantai di Ortigas.

Sulit.com.ph lantas mengadakan kerja sama dengan Myriad Investment Holding pada Agustus 2009.

RJ menjelaskan siapa pemakai situs mereka: Umur antara 18- 35 tahun, dimana 57% adalah pria sedangkan sisanya 43% adalah wanita. Kategori populer mulai mobil dan real estate. Dimana 85% merupakan warga Metro Manila, diikuti warga Cebu, Rizal, Bulacan, dan Davao.

RJ David menyebutkan Sulit.com.ph memiliki 2 juta member terdaftar, 2 juta pageview, dan memiliki jumlah pengunjung rata- rata 700.000 pengunjung unik. Pengunjung lewat mobile bertambah dimana waktu itu ia menyebutkan 1,8 juta pageview dan 112.000 pengunjung unik.

Bisnis miliaran

Setiap saat website milik mereka akan mencari saran. Feedback diminta agar mengetahui pola belanja dari warga Filipina. Mendaftar disini gratis, tetapi buat kamu yang mau iklannya lebih menonjol dan tampi setiap kali bisa membayar langganan. Melalui cara ini pula RJ mencoba mengelimansi penjual nakal memasang iklan palsu.

Sulit juga memberikan feedback kepada penjual. Dimaksudkan untuk mengindentifikasi dokumen penjualan agar lebih melegalkan.

Disini merupakan tempat terbaik menurut RJ bagi para pengusaha online. Bagaimana mereka menjual lebih banyak. Tujuan RJ melalui website nya adalah agar orang Filipina tidak menyimpan barang. Bagaimana jika menjualnya untuk membantu orang lain dan diri sendiri.

Ini termasuk membantu mereka merapikan rumah. Dengan menjual beberapa barang bisa menghemat tempat kan? "Item ini bisa dijual untuk menghasilkan uang buat keluarga," imbuh RJ.

Sekarang ini, perusahaan Sulit telah menjadi bagian dari OXL. Menjadi satu bagian perusahaan besar yang menyebar bahkan ke Indonesia. OXL fokus mengakuisisi atau memerger situs sejenis dan mengklasifikasi mereka menjadi satu brand. Merubah nama dari Sulit ke OXl menurutnya punya keuntungan juga kerugian.

Penginvastasi merupakan Naspers di tahun 2009. Perusahaan asal Afrika ini memang sudah minat di bidang internet. Salah satunya juga termasuk ikut masuk ke saham OXL tahun 2010. Untuk pertama kali RJ sempat berpikir akan menjadi brand global dengan Sulit. Ingin kayak Google ataupun Facebook, tetapi ia sadar sulit.

Menurutnya ketika nama Sulit sudah berarti beda di Indonesia. Semuanya menjadi sulit bagi perusahaanya untuk menjadi brand global. "Kami menyadari merubah nama akan memberikan efek jangka panjang dan akan memberikan sakit sebentar," tutur dia.

Ia sendiri menyimpan rahasia berapa OXL membayar untuk merger. Tetapi sumber menyatakan mereka bisa menghasilkan jutaan peso dari iklan. Sulit mendominasi industri iklan disana. RJ menyebutkan ada dua jenis pengusaha online: Mereka yang punya potongan besar dari pie kecil, atau memiliki potongan kecil dari pie besar.

"Kami merupakan terakhir, kami tidak masalah menjadi bagian kecil dari perusahaan global," ia tambahkan.

Banyak cara bagi startup buat tumbuh seperti sekarang. RJ menjelaskan waktu awal mereka harus siap buat berjaga bergantian. Ada banyak tugas seperti menyeleksi iklan, menjawab pertanyaan, dan banyak sekali hacker mencoba menyusup. Mereka bekerja bergantian karena Arianne masih bekerja di Bank waktu itu.

Ketika setahun berlangsung, dimana iklan dari pihak ketiga mulai berdatangan dan menghasilkan uang cukup, maka Arianne memilih berhenti. Dari berbisnis cuma berdua, mereka lantas memiliki 129 pegawai, dimana mereka memiliki kantor di Manila dan Cebu dengan situsnya sendiri www.cebu.oxl.ph, dengan 5000 listing tiap hari.

Banyak penghargaan diraih RJ di bidang teknologi bisnis. Termasuk Technopreneur Award of the Second Go Negosyo Technoentrepreneurship Summit tahun 2013, dan banyak lagi. Ia sangat senang menjadi sosok inspirasi bagi pengusaha teknologi. "Mereka semakin mudah setiap tahun," imbuhnya.

Senin, 11 April 2016

Membuka Gym Sendiri Pengusaha Filipina

Profil Pengusaha Ricardo Marinduque 



Filipina tengah gencarnya memberikan bantuan modal. Terutama bagi Filipino yang bekerja di luar negeri jadi pengusaha di negeri sendiri. Berharap agar memberikan pilihan ekonomi terbaru bagi pekerja luar negeri. Nah salah satunya pengusaha sukses mendapatkan adalah Ricardo Marinduque, pekerja luar negeri.

Selama 15 tahun, dia bekerja menjadi buruh asing, Ricardo mantap memilih berbisnis gym sejak tahun 2005. Dia meminjam $4.500 dari Overseas Workers Welfare Administration.

Menjadi pengusaha tidak mudah. Ricardo membutuhkan waktu lama sampai mantap menjadi pengusaha. Ia juga membutuhkan dorong tidak cuma keluarga, tetapi pemerintah. Lulus sekolah menengah atas, ia langsung terjun ke dunia korporasi, dia langsung mencari pekerjaan tidak kuliah.

"Hidup itu susah," paparnya.

Bisnis untuk hidup


Dia mulai dengan menjadi pramusaji sebuah restoran. Pertama kali dia bekerja di daerah Malate, kemudian ke Manila, dan dan kemudian Makati. Tahun 1989, menurut wawancara bersama Enterepreneur.com.ph, ia melanjutkan bahwa dia lantas bekerja keluar negeri.

Menjadi buruh migram (TKI.red) menjadikannya pelayan buat rumah sakit militer, Saudi Arabia. Lantas dia masuk menjadi crew kapal mewah, bekerja menjadi bartender, penyaji wine, serta pelayan. Beruntung dia dapat menikmati perjalanan sampai ke tempat eksotis.

"Tujuan pertama adalah Tahiti," pungkasnya. Kemudian sampai ke Eropa, Amerika Serikat, bahakan sampai ke lautan Karabia.

Ketika umurnya sudah 40 tahun dunia terasa letih. Ia memilih kembali ke Filipina dan tingga menetap. "Itu sangat sukar bekerja jauh keluar. Anda harus jauh dari keluarga dan jam terasa sangat lama," kenangnya yang kini hidup tenang menjalankan usaha gym sendiri.

Bekerja di luar negeri membuatnya punya cukup uang. Banyak bisnis kecil- kecilan dilakukan mantan buruh migran ini; mulai dari apartemen sewa, tempat karaoke, minimarket. Tetapi mereka tidak mampu bertahan lama. "Saya tidak ada passion dengan mereka," Ricardo berdalih.

Tetapi hasratnya lebih ke arah olahraga. "Saya sangat suka ke arah olah raga, seni bela diri, ataupun angkat beban," jelasnya.

Tahun 2003 seorang kawan menawarinya mengambil alih bisnis. Membeli sebuah gym lama. Butuh waktu ia berpikir lama tapi melihat peluang. Benaknya waktu itu ialah akan susah jika membangun gym dari nol. Itu juga akan sangat mahal membeli peralatan baru. "Jadi saya mengambil kesempatan ini," ujar Ricardo.

Meski perlengakapan standar sudah ada. Dia merasakan butuh lebih dari peralatan tersebut. Jadilah keluar uang kembali senilai P200.000 untuk membeli peralatan memenuhi 200 meter persegi ruangan. Karena dia mempunyai passion, dia sudah menebak kebutuhan mendasar latihan harus dia miliki dan tambahkan.

Tentu saja, passion saja tidak cukup merubah bisnis tersebut sukses. Walau dia sudah menyediakan ruang bagi bela diri, karate, juga tekwondo sebagai latihan tambahan.

Tahun 2005, dia sempat patah arah, memutuskan untuk kembali gulung tikar berhenti berbisnis kembali. Itu semua karena penjualan melambat. Itu tidak berjalan baik. Dia sangat tergantung pengunjung mampir. Sama sekali tidak menarik perhatian klien tetap.

Untuk itulah dia mengikuti berbagai seminar tentang bisnisnya. Juga termasuk seminar manajemen termasuk yang diberikan oleh Overseas Workers Welfare Administration (OWWA). Dia serius belajar dari seminar yang diselenggarakan oleh University of the Philippines Collage of Human Kinetics.

Ricardo juga mempelajari tenteng nutrisi, anatomi, berbagai latihan dasar, penanganan kecelakaan, dan juga pelatihan lain spesifik. Dia juga belajar program kepemimpinan.

Lalu dia masuk menjadi anggota asosiasi pengusaha gym atau Association of Fitness Professionals of the Fililppines (AFPP). Melalui organisasi itulah ia menemukan channel bagaimana mengatasi masalah. Termasuk bagaimana menjalankan industri olah raga ini.

Pengusaha terus belajar


Dia hobi membaca banyak buku bisnis. Semua agar bisnisnya dapat naik terus, tidak malah gagal kembali. Kini kebanyakan kliennya merupakan pekerja kantoran. Bisnisnya mengalami kepadatan ya di pagi dan siang hari. Untuk meningkatkan kualitas dia menyewa pelatih berlisensi dan memberika pelatihan terprogram.

"Sebelum klien melakukan program pelatihan, kami mengadakan penilaian fitnes dan meneliti kesehatan," ia menyebut.

Jika perlu bahkan meminta catatan kesehatan dianjurkan. Ini agar Ricardo bisa menentukan sertifikasi tingkat kesehatan serta level pelatihan. Bisnis gym bernama Stamina Fitness Center ini semaki berkibar. "Itu sangat lah sukar. Akan ada waktu dimana saya selalu merasa akan gagal karena tidak tau lebih tentang bisnis saya jalankan."

"Karena ini hobi saya, saya mendatangi seminar untuk belajar lebih banyak," tambah Ricardo. Ia meyakinkan bahwa bisnis kecil dapat berkembang dan menjanjikan.

Berbicara tentang perjalanan bisnis, Ricardo berkata tentang kisah suksesnya, "ketekunan, kesabaran, dan pemahaman tentang bagaimana memadai."

"Bisnis adalah resiko anda ambil, satu hal yang kamu luangkan waktu dan kamu perjuangkan. Saya tidak bisa kuliah, tetapi saya belajar segalanya lewat pengalaman," tuturnya bijak.

Enam tahun kemudian Ricardo kembali meminjam uang. Tetapi, untuk kali ini, Ricardo sedang tidak akan menutup usahanya dan memulai kembali. Justru dia tengah berencana membuka cabang baru Stamina Fitness Center. Usahanya berjalan sangat baik, mungkin butuh waktu hingga bisa membuka cabang.

"Tidak ada bisnis akan gagal jika kamu memberikan perhatian," terangnya. Ricardo merupakan sedikit dari masyarakat Filipina yang mendapatkan kesempatan baru. Mendapatkan pinjaman lunak untuk memberikan lapangan pekerjaan baru.

Selasa, 08 Maret 2016

Bagaimana Rasanya Menjadi Pewaris Universitas Swasta

Profil Pengusaha Candice Gorianuy 


  
Menurut pengakuannya sendiri, dia terpaksa harus "menendang dan berteriak" coba menolak bisnis keluarga hanya beberapa bulan selepas dia lulus kuliah, Anteneo de Manila University di pertengahan 1990 -an.

Hanya saja hidup -dan ayahnya- memiliki rencana lain bagi Yvette Candice Gorianuy, yang pada akhirnya ia tidak bisa menolaknya. Dia sekarang dikenal sebagai sosok berpengaruh di Filipina.

Seorang entrepreneur maju berjiwa kepemimpinan kuat. Padahal, seingat Candice dulu, dia ingin menjadi pengacara dibanding menjadi pengusaha. Sudah masuk ke jurusan hukum, lulus, dan mencoba melanjutkan pendidikan lagi. Hingga, waktu itu, ketika sekolah hukum baru dimulai, ayah mengajaknya makan malam.

Ayahnya berkunjung ke Manila dan mengajaknya makan malam. Ayah Candice, Augusto Go, merupakan seorang businessman dan juga pemilik University of Cebu.

"Saya pikir dia takut saya akhirnya jadi gelandangan," tawanya renyah. "Jadi dia dudukan saya dan berkata ke saya "Aku membuka kampus baru dan aku mau kamu menjalankannya"," kenang Candice.

"Jadi sebagai hadiah kelulusan mereka, beberapa anak akan keluar negeri, atau orang tua mereka memberi mereka perjalanan ke Eropa, ataupun dapat mobil," ujarnya kepada Inquirer.net -terdengar penuh rasa iri jika didengar. "Saya... pergi bersekolah untuk berlari."

Pada awalnya dia berpikir akan menolak saja kesempatan menjalankan sekolah. Tetapi akhirnya tidak dapat dilakukan karena perasaan tanggung jawab.

"Pelajaran dipetik dari cerita diatas ialah: Jika seorang laki- laki datang -siapapun itu- mengajak kamu makan malam mewah, dia mau sesuatu dari mu," candanya lagi, disusul tertawa terpingkal. "Itu berlaku melampaui batas level."

Perjalanan panjang


Selama 14 tahun menjalankan karir di University of Cebu, bekerja menjadi education consellor, Candice bertanggung atas empat kampus yang terkenal di pusatnya, Visayan Island. Dia juga menjalankan kampus terpisah untuk institusi lain bernama Collage of Technology Science.

Candice semakin bertanggung jawab atas kampus swasta tersebut. Bahkan Candice malah mengambil gelar master di bidang pendidikan, di Harvard University.

Dia belajar banyak dari kampusnya orang sukses tersebut. Lalu membawa pengetahuan tersebut ke tempat dia bertugas. Memang reformasi dibutuhkan terkadang menyakitkan. Harus ada orang baru yang masuk dan orang lama keluar dari kampus.

Menurutnya, meskipun begitu, ketika seorang pemipin menggelindingkan "perubahan" dan "reformasi", maka kamu akan menemukan momentum.

Jika kamu memiliki passion tentang kualitas dan layanan terbaik, maka kamu harus percaya atas cara kamu membangun organisasi. Maka kamu akan menarik perhatian mereka yang memiliki sudah pandang sama. Ia menambahkan bahwa kamu harus tenang, karena kamu akan menarik orang bervisi sama dan akan merubah sistem.

Memang, berawal dari sekolah kampus kecil oleh sang ayah, pada 1964 lantas tumbuh besar. Semua orang berkata sekitar 44.000 mahasiswa belajar di berbagai kampus didirikannya. Mereka mulai dari mengambil jurusan kelautan, teknologi informasi, keperawatan, dan paling baru, teknik mesin.

"Kami merupakan kampus swasta terbesar di negara ini," aku Candice, "Tetapi saya maunya kualitas, lebih dari sekedar angka."

"Kami berinvestasi di fasilitas dan orang," tambahnya. Hal paling baru, Candice juga ditugaskan menjalankan rumah sakit St. Vincent General Hospital, rumah sakit level tiga yang memiliki 100 kasur, yang dia ingkan jadi rumah sakit terbesar dan layanan terlengkap di Cebu.

Sekali lagi, baginya situasi baru memberikan tantangan kembali bagi karirnya. Sebuah situasi komunitas yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam bisnis mereka. Untuk mengisi waktu luang dari kejenuhan akan rutinitas, maka dia memiliki satu hobi sekaligus passion lain; berkuda.

Bisnis sekolah


Jika waktu memungkinkan, dia akan bersekolah kuda di Lahug, Whistlejacket Farms, dimana dia mencoba menyempurnakan gaya berkudanya; dia menyukai berkuda bukan pamer lompatan.

"Itu salah satu hal mewah saya menikmati," jelas Candice. Berkuda sangat menarik, karena setiap sisinya itu memiliki kepribadian berbeda, kita tengah berbicara sifat sang kuda sendiri.

Menurutnya, berkuda mengurangi stress bekerja menjalankan kerajaan universitas miliknya, dan dapat jadi satu titik penyemangat di pagi hari.

Candice juga menyukai musik terutama menjadi fans band U2. "Band terbaik di dunia," tambah Candice lagi, mencoba meyakinkan kamu. Maka tidak salah jika dia memiliki semua DVD konser milik mereka. Dia juga masuk ke kelompok penggemar khusus, memberikan tiket konser awal dimanapun terutama New York.

Dia berkata bahkan dia dapat memasan dua tiket satu tahun kedepan. Jika event -nya sudah direncanakan selama satu tahun sebelumnya, maka Candice dapat duluan. Ia pernah sekali memesan dua tiket sekaligus. Dan ketika pewarta bertanya, Candice menjawab, untuk kemungkinan mendapat lelaki masa depannya.

Akhirnya Candice membuang tiket tersebut. "Tetapi itulah jalan hidup. Saya bisa menjadi impulsif, tetapi saya coba mencoba melanjutkan hidup, hidup untuk memenuhi diri sendiri."

Jadi dimana pelampiasan cintanya setiap waktu?

"Untuk kuda- kuda saya? Selalu," ujarnya sambi tertawa tetapi lantas berubah menjadi serius. "Ketika orang tepat datang, maka akan selalu ada waktu."

Bertanya tentang pencapaian paling membanggakan sejauh ini, maka tidak tentang suksesnya mengangkat kampus swasta miliknya. Ataupun tentang senangnya pemegang saham, ataupun tentang tantangan terbaru yaitu ia harus menjalankan rumah sakit.

Tetapi dia malah menunjukan kliping koran sebuah pristiwa. Yakni kecelakaan kapal tenggelam tahun 2008, dimana banyak orang terselamatkan berkat sang kapten. Dan perlu kamu tau nih, kapten kapal laut ternyata adalah mahasiswa University of Cebu. "Kami menjadi lebih terorganisir karena kami tau apa yang kami mau."

"Inilah momentum paling membanggakan," ucapnya. "Saya berpikir kami membuat perbedaan disini."

Minggu, 21 Februari 2016

Tukang Sol Sepatu Naik Pangkat Pengusaha

Profil Pengusaha Rodolfo Getes 



Karena penuh dedikasi, Rodolfo Getes mendapatkan kemujuran. Bagaimana tidak dari tukang bikin dan memperbaiki sepatu. Kini, sejak 2012, dia menjadi franchisor perusahaan milik bosnya Mr. Quickie. Secara langsung sang pemilik, Emiliano Caruncho III, memberikan kesempatan super langka tersebut.

Mr. Quickie sendiri merupakan usaha perbaikan sepatu dan tas waralaba. "Disaat tahun itu saat pesta Natal, saya menjadi salah satu dari dua pegawai berprestasi," tuturnya. Nah, si Getes ini sendiri bekerja untuk Emiliano di cabang Mr. Quickie, cabang SM North Edsa sejak 1985.

Sang atasan lantas menawarkan mengambil cabang Isetann. Dua puluh lima tahun kemudian, setelah dia bisa berprestasi dalam bekerja, akhirnya tukang sepatu tersebut mendapatkan cabangnya. Pegawai berprestasi yang sangat loyal selama 10 tahun, dianggap cocok menjadi kepala franchise. Pada dasarnya ini sebuah promosi.

Tetapi lebih dari itu. Dimaksudkan bagi mereka pegawai yang bermaksud mau pensiun dini. Para pegawai dimanapun jabatannya bahkan pegawai yang notabennya rendahan sekalipun bisa. Cukup mendaftarkan diri ke bagian pengembangan perusahaan.

Tambahan lain Mr. Quickie juga memberikan pinjaman rumah buat usaha, ataupun membawa pinjaman dari Bank Pulau Filipina, Ka- Negosyo, juga memberikan pinjaman biaya franchise. Hanya saja, di kasus Getes tidak perlu membayar apapun, tinggal terima limpahan gerai franchise sudah laku. Dia dipilih karena loyalitas serta kerja keras.

"Ketika saya mengambil alih gerai, saya tidak perlu membayar apapun. Dan saya sudah diberi perlengkapan dan bahan saya butuhkan untuk menjalankan," jelasnya senang. Hanya saja butuh waktu 10 tahun sampai hal itu terjadi didepan mata.

Loyalitas pegawai


Akhirnya itu menjadi gerai miliknya, dibawah namanya, di tahun 2012. Pegawai itu menjadi pengusaha tidak perlu mengeluarkan biaya. Getes tidak memiliki apapun tetapi sanjungan. Atasannya sangat tulus memberikan dia semuanya.

Kita cukup kita menjadi loyal, bekerja keras, sampai akhirnya kebaikan kita terbalas.Jujur sekarang hidup Getes berbeda. Lebih stabil secara finansial karena bisnis sendiri. Jika tidak, dia menilai mungkin suatu ketika dirinya akan melompat ke pekerjaan lain.

Beruntung karena Getes memilih bertahan dan hal tersebut dinilah oleh sang atasan.

Selain Getes menjalankan gerai tersebut juga mendapatkan bantuan. Ini menjadi masalah keluarga -menjadi bisnis keluarga dimana istri dan anak ikut bergabung. Mereka tanpa sungkan membantu memperbaiki sepatu ataupun tas. Keahlian mereka tersebut didapatkan oleh pelatihan Getes sendiri.

Jika bukan karena dari keluarga, maka Getes tidak akan bertahan. Ini karena kecintaanya akan memperbaiki sepatu tetapi dia butuh semangat. Tidak mudah menjadi loyal sekaligus bekerja keras bersamaan. Jadilah kita sosok industrialis. Jadilah kita sosok mencintai pekerjaan, dan cintalah apa yang kamu kerjakan.

Meski dia kini seorang pengusaha tetapi tetap memperbaiki sepatu. "Tetapi saya mencintai pekerjaan saya, dan saya mencinta apa yang saya kerjakan," jelasnya. "Saya tidak mampu mengeluarkan hal tersebut dari dalam sistem."

Rabu, 17 Februari 2016

Investor Mica Tan Memulai Sejak Umur 13 Tahun

Profil Pengusaha Maria Francesca Tan 



Memulai bermimpi merupakan hal terbaik. Hingga dia menemukan ada kesalahan dalam mimpinya. Ia pun memilih mundur meraih mimpi lain. Maria Francesca "Mica Tan" berharap dirinya kelak akan menjadi dokter. Masih berusia 6 tahun sebuah kewajaran untuk anak sekecil itu. Sampai dia melihat sisi lain, itu tidak seindah terlihat.

Dia mengingat bagaimana setiap hari dia bertanya ke ayah. Berapa uang dihasilkan ayah saat pulang bekerja. "Suatu hari, dia bercanda berkata dia menghasilkan nol," kenang gadis kecil Mica. Kenapa pertanyaan itu terlontar ternyata ada sebab. Dia sudah kadung ingin menghasilkan uang sendiri.
Menjadi dokter bukanlah solusi. Bukan juga menjadi aktor seperti kebanyakan mimpi anak- anak. Hingga ia berumur 13 tahun, masih masa pencarian bagaimana menghasilkan banyak uang. Ia terobsesi menghasilkan uang sendiri, apalagi semenjak membaca buku Rich Dad Poor Dad karya Robert Kiyosaki.

Sejak berumur 13 tahun, percaya atau tidak, Mika sudah belajar tentang saham waktu itu. Bahkan dia sudah aktif trader sejak umur segitu.

"Saya adalah tipikal anak usia 13 tahun di sekolah saya berseragam dan ransel ketika saya memutuskan untuk pergi ke Bursa Efek Filipina sehingga saya bisa mencari pelatihan dan seminar tapi sayangnya itu hanya tersedia untuk lulusan sekolah," kata Mika.

Tidak mau mundur dia belajar sendiri. Dia sudah tidak mau bermimpi menjadi dokter lagi. Untungnya, suatu ketika seorang wanita asal Regina Capital, firma broker, yang menganggap dia serius dan mau mengajarinya. Itu merupakan titik balik terbesar dalam hidupnya.

Akses trading


Berkat mentornya itulah dia mendapatkan akses ke pasar saham. Mica terus belajar sampai umur 18 tahun. Ia terus belajar bahkan lewat berbagai buku tentang trading. Wanita itu bernama Mrs. Martia Limlingan yang menyabut dan duduk disebelahnya. "...dan selanjutnya itulah disaat saya mulai diajari tentang pasar saham."

Tokoh inspirasi seorang Mica Tan adalah Donald Trump. Dia bahkan mengikuti jejak sang idola lewat kuliah di Fordham University, New York. Sukses membawa dia masuk ke tempat kuliah bergengsi itu. Namun, dia mulai mengalami kegalauan, perasaan aneh menghinggapi benaknya.

"Jika saya mau menjadi miliarder, saya harus menyukai belajar lewat miliarder asal Filipina," tandasnya. Ia akhirnya memutuskan tidak melanjutkan kuliah. Tetapi sebelum membatalkan keberangkatan ke New York, Mica menyempatkan diri berbisnis dagang.

"Dua bulan sebelum berangkat ke New York saya memutuskan membiarkannya pergi dan memulai bisnis distribusi, " kata pengusaha muda ini.

Baginya berbisnis langsung berarti kampus dunia nyata. Kehidupan nanti akan menjadi universitas, menjadi satu sekolahnya. Lulus sekolah dia langsung berbisnis menjadi distributor independen perusahaan minuman. Ia juga mulai belajar investasi malaikat menggabungkan pemilik modal dan pemilik usaha.

Masa itulah dia mulai berpikir memanggil teman, guru, dan pemilik industri. Meyakinkan mereka agar mau mendirikan satu perusahaan MFT Group of Companies di 2014. Ia sangat menghargai mereka para top eksekutif perusahaan. Pasalnya, mereka yang meyakinkan uang mereka kepada gadis berusia 20 tahun.

Investasi hybrid


Dasar investasi MFT Group ialah investasi hybrid. Mereka menarget perusahaan yang sudah berjalan lebih dari tiga tahun dan stagnan. Banyak alasan meliputi bisnis mereka yang berhenti berkembang. Maka itulah ia akan hadir bukan menyasar perusahaan startup baru lahir.

Dibanding investasi malaikat lain, usaha dijalankan oleh Mica tergolong beresiko tinggi. Tetapi dia menyebut bukan sekedar uang, keinginan membantu pengusaha lain tumbuh merupakan panggilan. Untuk itulah dia juga mengajar tempat belajarnya dulu Regina Online Investing, bersama membantu perusahaan bermasalah.

Terdengar anek kisah Mica Tan memang berbeda. Menurut penulisa sosok Mica mampu menjadi contoh buat kamu mendidik anak. Ia juga meyakinkan bahwa seorang entrepreneur harus siap mengambil resiko. Itu termasuk ketika dia memilih lari ke pasar saham, menolak pendidikan bergengsi, malah memilih berjualan saja.

"Melakukan hal- hal saya takuti untuk lakukan. Cari niche anda sendiri dan menjadi lebih baik. Kelilingi diri anda dengan orang- orang yang lebih baik daripada anda karena anda akan belajar banyak dari mereka."

Kenapa harus membantu bisnis kecil. Mica memiliki jawaban unik: Kita bisa berbicara tentang menubuhkan bisnis, membuat uang bekerja untuk kita, tetapi itu akan menjadi lebih dari sekedar itu. Istilahnya kalau sudah menjadi entrepreneur penuh passion tujuan kita adalah membuat sebuah bisnis bekerja.

Dia hanya membantu orang yang terjatuh. Kita akan membantu mereka yang membutuhkan asisten. Menjadi bekal bagi mereka naik keatas. Mica senang melihat bisnis kembali berjalan dan menghasilkan uang bukan sekedar soal keuntungan.

Sebagai inspirasi dia membeberkan jadwal detailnya. Dia bangun sangat pagi mengkondisikan diri. Berjalan ke kantor, ia akan berbicara dengan patner bisnis meski melalui telephon. Sesampai duduk di kantor, maka dia akan mengecek laporan keuangan, legal, dan aktif ke bagian marketing.

"Saya memiliki pertemuan sarapan, makan siang, dan makan malam setiap hari - saya pastikan untuk tidak pernah makan sendirian, " katanya

Hari- hari Mica mengenai berbicara dan menangani banyak orang, pekerja pabrik, pemilik bisnis dan klien, investor potensial, serta pemilik bisnis. Meski melelahkan tetapi dia menemukan energi. Dia menginginkan mendukung bisnis di Filipina. Tujuan utama Mica mendorong entrepreneur muda membangun negara Filipina.