Pendiri Joger Biografi Joseph Theodorus Wulianandi

Biografi Pengusaha Joseph Joger


biografi pendiri joger

Kisah pendiri Joger Bali usaha pakaian terunik dunia. Biografi Joseph Theodorus Wulianandi, tentu asing diletinga kamu, tapi bicara produk, siapa yang tak kenal produk merek Joger. Ya, kali ini kita berbicara tentang pendiri sekaligus otak dibalik tulisan nyeleneh.

Joseph Theodorus Wuliandi, atau bisa juga Mr.Joger.BAA.BSS, singkatan dari Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-siapa. Dia lah sang maestro dibalik produk- produk unik, aneh, dan gila, bahkan kata- katanya terkadang "menipu", tapi entah mengapa kita begitu menyukainya.

Pemilik pabrik kata- kata mengungkapkan bahwa dia tidak memiliki kemampuan berbahasa khusus dan dia bukanlah orang pintar hanya orang yang memiliki tekad untuk maju terus. Minimal tidak menjadi seorang pengangguran atau kemudian menjadi sampah masyarakat di negeri tercintanya ini.

Menjadi Pengusaha


Itulah motivasi utama Mr. Joger. Dia hanya mempunyai keyakinan dan keberanian sebagai modal awal untuk membangun karya- karyanya. Pria kelahiran Denpasar, 9 September 195, yang menyebut dirinya memang berbeda sejak kecil.

Hidupnya ialah merdeka, tidak terikat, dan unik, persis seperti karya- karyanya kini. Karakter ini pula yang melekat dalam produk Joger hingga sekarang. Baginya "Sedikit itu lebih baik asalkan cukup" daripada "banyak tapi masih merasa kurang."

Tapi akan lebih menyedihkan jika miskin tidak bahagia pula. Alkisah, Pak Joseph ini atau kemudian dikenal dengan Mr Joger di sekitar tahun 1970an, yang sedang menempuh kuliah di Hotelfachshule, Bad Wiesee, Jerman Barat, berkenalan dengan Mr. Gerhard Seeger.

Keduanya menjadi kawan akrab yang sangat baik seperti saudara mungkin. Saking baiknya, saat Mr Joger menikah dengan istrinya Ibu Ery Kusdarijati, Mr Gerhard Seeger rela memberikan hadiah uang sebesar USD 20.000. Uang yang banyak itu, jika di rupiahkan, akhirnya dipakai untuk modal usaha.

Awalnya sih tak terpikirkan nama apa, tapi karena mengingat kebaikan sang sahabat, jadilah Pak Joseph menggunakan nama Gerhard dalam bisnisnya. Joseph berinisiatif menggabungkan namanya dan Mr. Gerhard menjadi satu.

Jadilah nama Joger tersebut, jika dilihat seksama merupakan gabungan Joseph dan Gerhard. Bermula dari satu toko souvenir kecil di Jalan Sulawesi, Denpasar, di depan Pasar Badung, nama Joger resmi dilahirkan tanggal 19 Januari 1981.

Nama Joger ini melekat terus, hingga akhirnya pada tanggal 7 Juli 1987, Joger membuka satu toko souvenir besar di Jalan Raya Kuta, Bali, yang semakin ramai, sampai sekarang. Tadinya yang hanya berencana membuka satu toko besar akhirnya memilih membuka satu lagi.

Alasanya karena membludaknya pengunjung yang mengejutkan si pemilik sendiri. Mereka sampai memenuhi jalan di depan toko, membuat kemacetan, dan tempat parkir kecil itu selalu penuh oleh berbagai kendaraan bermotor.

Setiap hari, ribuan pengunjung mendatangi pusat kata- kata Joger. Bahkan, kalau hari libur nih, untuk masuk tokopun mesti antri saking banyaknya orang yang akan masuk.

Dan bermula dari kaos, sekarang ini di Joger banyak sekali item produk yang bisa dibeli, mulai dari souvenir kecil, tas, batik, kaos, stiker, jam aneh yang memutar tidak searah jarum jam biasa, bahkan hingga sandal dan sepatu. Semuanya laris manis diburu pengunjung, terutama kaos khasnya.

Perjuangan hidup


Ternyata dibalik kesuksesan besar itu ada proses yang perlua dijalani. Kala sekarang, Joger sudah punya beberapa mesin sendiri, dengan proses digital yang cepat, bahkan hampir tak pernah berhenti karena saking banyak pesanannya.

Saat awal mula sekali, Joger merupakan perwujudan kerja keras Joseph dan istrinya, yang kala itu hanya berbisnis sovenir biasa. Belum punya mesin membuat Mr. Joger tak putus asa. Dia melakukan semuanya sendiri dari pembuatan dan penciptaan kata- kata unik itu.

Karena belum ada mesin, desain tersebut akrhirnya ia "orderkan" kepada orang lain yang punya mesin. Saat itu, semuanya dicetak manual. Desain dan kata-kata original khas Mr Jogerpun akhirnya mulai dijajakan di tokonya. Di salah satu sudut ruangan toko berbaris produk karyanya.

Tantangan selanjutnya membangun merek, sekaligus merebut kepercayaan orang untuk membeli produknya. Mr. Joger tetap pantang berputus asa. Mr. Joger memanfaatkan beberapa koneksi untuk menjajakan produknya pada wisatawan lokal maupun asing.

Joseph bergerilya dari mulut ke mulut, dari satu tourist guide ke tourist guide yang lain, mengabarkan kepada mereka agar mau merekomendasikan produk Joger kepada mereka para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Lambat laun tapi pasti, kerja kerasnya mulai mendapatkan hasil. Dengan keunikan produknya yang memang berbeda dari biasanya, ia mulai mendapatkan perhatian dari banyak pihak, termasuk media masa. Mereka mulai meliriknya menjadi sumber berita.

Muncul lah profilnya di berbagai media masa, baik itu lokal maupun nasional. Sejak kemunculannya di berbagai media inilah, tidak pelak lagi, Joger mulai menancapkan kakinya menjadi salah satu barang souvenir wajib yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Pulau Dewata.

Yang menarik dari Joger adalah kreativitasnya yang seakan tidak pernah surut di tangan Joseph. Konsep kata-kata yang digunakan begitu orisinil, unik, menggelitik, dan penuh sindiran. Tetapi tidak bisa dipungkiri, kata- kata yang terkesan konyol itu sangatlah filosofis, dan penuh permenungan.

Kreativitas itu pun sepertinya tidak pernah berhenti disitu. Konsep pemasaran yang tidak biasa yang dijalankan Joger sangat berhasil (Istilah kerennya Anti Marketing).

Orang biasanya selalu hanya ingin mengungkapkan hal-hal baik pada dirinya, tetapi sejak awal, Joger bilang: "Joger jelek, Bali bagus". Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras.

Joger bukanlah berhasil dengan tiba-tiba. Keberhasilan Joger berasal dari upaya kerja keras terus menerus dari pemiliknya, dan juga tim kerjanya. Mereka melakukan berbagai cara dan upaya agar tokonya bisa besar.

Mereka terus mencoba konsisten agar produk buatannya tetap kreatif, dapat diterima, dan semakin dapat memberikan manfaat.

Usaha Ikan Bakar Babe Lili Penuh Perjuangan

Profil Pengusaha Babe Lili


ikan bakar babe lili

Usaha ikan bakar Babe Lili memang fenomenal. Rasanya sudah tidak terbantaskan, diulas berbagai media masa. Tak aneh memang, namanya begitu melejit tidak hanya di kalangan masyarakat, tetapi artis, dan para pejabat. Rasanya enak mumpuni memiliki cita rasa khas.

Restoran miliknya yang berdiri di jalan Wahid Hasyim tak pernah berhenti bau ikan dibakar. Aromanya begitu kuat dari alat- alat pembakaran ikan itu, tapi siapa sangka itulah, restoran yang berdiri sejak 1996 hanya bermodal Rp.38.000 sudah besar

Berkat kegigihan restoran tersebut telah bermetamorphosis menjadi restoran besar. Usaha ikan bakar Babe Lili bukan kaleng- kaleng.

Bisnis serabutan


Pekerja serabutan, begitulah kehidupan pria yang bernama asli Mardji, sebelum akhiranya berdagang. Sejak usia 11 tahun, Babe Lili keluar dari rumahnya, hidup sendiri tanpa bantuan keluarga. Ia dikala masih mudah adalah seorang pengelana yang hidup tanpa tujuan.

Hidupnya berantakan bahkan sempat dianggap sudah tiada atau meninggal. "Pekerjaan apapun saya jalani, dari satpam dan supir bajaj, semua pernah saya lakukan, hingga terjebak di dunia hitam, mengkonsumsi obat-obatan," ucap bapak berusia 74 tahun ini, kalem.

"Pokoknya haram jadah!," ucapnya mengenang masa lalunya. Di tahun 2006 bisa dibilang masa dimana ia mendapatkan kesadaran dan pemikiran baru. Sebabnya, Babe Lili merasa sakit hati bukan kepalang

"Saya sakit hati melihat orang bule bisa berbisnis makanan mereka di Indonesia. Anehnya, orang kita malah menyukai makanan mereka. Saya berpikir untuk menciptakan makanan khas laut di tengah kota. Ikan bakar laut pilihan saya," kisahnya bersemangat.

Babe Lili tak cuma bersemangat tapi nekat memulai bisnis. "Ya, 38.000 modal awalnya. Dulu, saya sering menjajakannya dari rumah ke rumah. Saya keliling ke tiap perumahan untuk menawarkan ikan bakar buatan saya," lanjut sang pengusaha.

Harga jual masih murah yakni Rp.2000 perekor tidak seperti sekarang. Nah, dari sanalah ikan bakar buatannya mulai digandrungi orang. Bukan hanya dari kalangan bawah, artis dan pejabat pun banyak tertarik. Pengusaha yang memiliki 20 -an karyawan, mengaku bangga mampu menginspirasi orang.

Tak aneh jika restoran ini mampu mengabiskan 60- 70 kilogram ikan laut. Kata Babe Lili, ikan bakanya itu dibumbui setelah dibakar setengah matang. Hal tersebut agar bumbu meresap ke dalam. Di restoran H. Babe Lili ada 8 jenis ikan serta sambal dan lalapan yang dapat dinikmati bersama. 

"Ya, ada sekitar 8 jenis ikan laut yang dijual disini. Sebutlah, ikan kambing-kambing, baronang, kerapu, kakap, kue, bawal, hiu dan ayam-ayam. Selain itu, saya pun menyediakan berbagai olahan udang dan cumi," ucapnya.

Harganya pun masih terbilang cukup terjangkau, dari 35 ribu – 45 ribu rupiah. Kini bisnisnya itu telah bercabang 2 lokasi di Jakarta. Hasilnya, ia pun bisa naik haji dan keliling Eropa bersama istri dan anak tercinta.

"Sebelumnya, saya tak pernah berpikir bisa naik haji dan keliling Eropa. Alhamdulillah, ini berkah," ucap ayah 3 anak ini penuh syukur. Setelah hampir 14 tahun berlalu, Babe Lili pun memilih untuk istirahat dari bisnisnya.

Hidupnya kini tak jauh dari sajadah. Ia hanya sekali-kali terlihat di restoran induk, di jalan Wahid Hasyim, karena lokasinya yang berdekatan dengan rumahnya. Sementara, cabang-cabang restorannya ada di daerah Dharmawangsa dan Bintaro dikelola oleh anak-anaknya.

Inilah bisnis dimana kamu bisa mewarisakan sesuatu untuk dikenang dan jadi tumpuan. Usaha ikan bakar Babe Lili mengajarkan kebangkitan tanpa pandang bulu.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba