Franchise Toko Elektronik Pengusaha Tan Eliezar

Profil Pengusaha Tan Eliezer

 
 
Pernah mendengar franchise toko elektroni. Inilah kisah pengusaha Tan Eliezer menemukan kunci. Ia menemukan bahwa bisnis properti tak ada matinya. Meski kedaan ekonomi tengah tak menentu, ya properti masih akan terus diminati. 
 
Pertumbuhan properti sejalan dengan penggunaan alat- alat elektronik. Itulah apa yang tengah dibidik seorang Tan Eliezar, pengusaha sukses dibidang elektrik, anek produk elektronik. Melalui bendera usaha PT. Cakrasemesta Abadi Sejahtera, menawarkan konsep bisnis baru bisnis waralaba elektrik.
 

Rahasia Pengusaha


Dia menawarkan waralaba atau franchise aneka produk elektrik. Konsepnya sih one stop shoping, dimana ada Toserba Elektrik yang kita jalankan. Nanti franchisor, kita akan disuplai aneka kebutuhan elektrik dari pusatnya. Bedanya PT. Cakrasemesta merupakan suplier besar. 
 
Jadilah jika kita jadi bagian didalamnya kita bisa mengakomodir permintaan besar sekalipun. Praktis tinggal kita menyiapkan diri bagiamana kita untuk mempromosikan. Ternyata mengembangkan bisnis franchise toko elektronik memungkinkan.


Tan juga menjelaskan fokusnya tidak hanya meretail pada pewaralaba. Ia juga fokus memperkenalkan pada para kontraktor besar dan memberikan fasilitas suplier- kontraktor. Seperti dikutip dari profilnya di halaman ciputraentrepreneurship.com, dengan kekuatan jaringan perusahaan miliknya. 
 
Maka tidak hanya promosi ke pelanggan tapi juga menjemput bola ke para kontraktor. Fakta bahwa kebutuhan aneka produk elektrik memang tinggi. Pemenuhan kebutuhan bisa saja kita semua lakukan tanpa ribet mencari suplier. Kira- kira begitu konsep Toserba Elektrik sebenarnya. 
 
Perlu diketahui jika franchise unik satu ini tidak hanya menjual lampu loh. Adanya produk elektronik lengkap setidaknya bisa mendukung kualitas para franchisor. Sebut saja adanya produk listrik umum, lightning, perlengkapan, pompa, stabilizer USP, ganset bahkan CCTV!

Tan memang menyebutnya toko serba ada dan memang itulah adanya. Toko kelontong elektronik yang terus mendapatkan suport, menjadikan usaha kita lengkap. Dia kemudian menjelaskan tak hanya produk lokal tapi juga produk impor. 
 
Toserba Elektrik menjual perangkat dari China, Jerman, Italia, Amerika. Bahkan, kata Tan, pembeli ditempat kita bisa memesan khusus produk dari mana. Toserba Elektrik akan menawarkan apa saja termasuk instalasi litrik dan perakitan panel listrik.

Kisah awalnya bisnis ini dikelalo Tan pada 1995. Sebuah perusahaan dagang, dimana dijalannya ia sadar ada satu usaha yang berumur panjang, yaitu bisnis elektrik. Tentu dibanding dengan bisnis kuliner dimana banyak kuliner baru bermunculan. 
 
Dan beruntungnya Tan punya berbackground karyawan perusahaan suplier elektronik. Dia mepunyai banyak relasi kontraktor maupun penyalur elektronik lain. Ia pun tak segan berbagai bagaimana sukses bisnisnya. 
 
Dia menyebut hal pertama yang dilakukannya ialah membangun kepercayaan dan brand image. Semuanya, Tan melanjutkan, tidak hanya kepada para kontraktor tapi juga mitranya. Dia juga harus membangun kepercayaan diri dan brand itu dalam dirinya sendiri. 
 
Dia juga memberikan beragam kemudahan, tentu itu semua agar mereka percaya kepadanya.

"Mulai dari soal kemudahan pembayaran, hingga soal kwalitas barang elektronik yang saya suplai bagi mitra atau konsumen saya," ungkapnya.

Program franchise dimulai tepat di 1 Februari 2011. Tan mengaku optimis tentang usaha franchise unik ini. Ia yakin Toserba Elektrik akan dilirik orang. Adanya tiga paket investasi yang perlu diketahui menurutnya. Yaitu pertama, dia menawarkan paket silver investasinya Rp 200 juta. 
 
Kedua, paket Gold total investasi Rp 250 juta; dan ketiga, yang terakhir paket Diamond investasinya Rp 350 juta. Selain ketiga paket tersebut, Toserba Elektronik juga coba menawarkan bentuk investasi yang terbaru yaitu bernilai Rp 23 juta.

Toserba Elektronik merangkul calon- calon pebisnis baru yang tertarik. Dan hebatnya, dengan berani ia dan Toserba Elektronik miliknya menjanjikan mitra bisa balik modal selama dua bulan. Nah, disinilah ada kelebihan, dimana Toserba Elektrik akan memperkenalkan mitra dengan pihak kotrakator. 
 
Itunganya, misalnya, ada 25 kotraktor mekanikal, dan juga ada 25 kotraktor sipil. Ia menjelaskan satu kotraktor bisa saja belanja 5 juta perbulan, itu belum ditambah penjualan retailnya. 
 
"Jika setiap bulan satu kontraktor belanja Rp 5 juta saja, itu ditambah dengan penjualan retail, kami bisa perkirakan keuntungan yang bisa didapat Rp 280 juta. 
 
"Itupun jika kita pakai perkiraan pembelian kontraktor tidak besar, karena biasanya satu kontraktor saja bisa belanja hingga puluhan juta rupiah," ujar Tan Eliezar lagi.

Sukses franchise unik Toserba Elektrik sukses dari Jakarta, Riau, hingga ke Papua. Targetnya menjadikan bisnisnya sukses merangkul 100 orang mitra. Sebagai seorang entrepreneur, Tan Eliezar sadar, bisnisnya ini tergolong baru di Indonesia. 
 
Namun jika dilihat punya nilai dimana uniknya itu bisa dijadikan franchise. Tan sangat optimis bisa membantu banyak pebisnis. Dia berharap usahanya kian berkembang dan bisa dijadikan pilihan bisnis jangka panjang.

Kisah Korban Tsunami Bangkit Wirausaha Roti

Profil Pengusaha Nelly Nurila

 
korbantsunami.png
 
Kisah korban tsunami ini bangkit wirausaha roti. Nelly memang pengusaha kecil tangguh. Kisahnya menghadapi terjangan Tsunami Aceh patut diapresiasi. Dia tak punya modal apapun. Pengusaha butuh modal besar katanya. 
 
Tapi, Nelly Nurila mampu bangkit hanya bermodal satu mixer. Dia dan mixer itu punya kisah. Kisah pengusaha kecil asal Aceh yang sukses melalui bantuan LSM.

Sepuluh tahun silam, Nelly nyaris menjual satu- satunya mixer besi miliknya selepas tsunami menerjang. Mixer berharga itu menjadi teman, keluarga, dan penolong sekaligus. Namun, dia membataklan niatnya untuk menjual mixer itu. 
 

Korban Tsunami Sukses

 
Sang suami meyakinkan Nelly mixer kecil itu bisa berarti kelak. Mixer itu akan digunakan sebagai bukti untuk mendapatkan bantuan dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat. Ucapan sang suamia terbukti benar. 
 
Waktu itu ada tim dari Bogasari, yang kemudian membantu usaha roti dan kuenya bangkit. Nelly menunjukan mixer itu dan jadilah ia salah satu yang menerima program bantuan.
 
Kisah pun berlanjut, dia mendapatkan bantua dari sejumlah LSM lain pasca tsunami, seperti dari Terres Des Hommes dan CARE. Melalui mereka Nelly mengumpulkan modal membeli alat lain, yaitu oven dan loyang.

Tahun 2007, akhirnya, Nelly berhasil mengumpulkan uang untuk membeli tanah 400 meter. Dan, dibangunlah satu pabrik kecil disana. Awalnya cuma 6 karyawan kala itu kenangnya. Enam pegawai kemudian berubah jadi 70 orang dan menghasilkan 60.000 roti per- hari. 
 
Usaha yang kemudian dikenal dengan nama pabrik roti Nusa Indah. Memiliki pabrik 1.000 meter- persegi setelah sepuluh tahun tsunami. Wirausaha roti bernama Roti Nusa Indah, adalah sebuah pabrik roti yang berproduksi di wilayah Gampong Nusa, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, Aceh. 
 
Dan, pemiliknya pengusaha bernama Nelly Nurila, perempuan kelahiran 39 tahun silam suka bangkit pasca tsunami memporak-porandakan Aceh, 26 Desember 2004 silam. Dia berkisah, sejak tahun 2001, ia dan suaminya memang memang sudah membuka usaha roti. 
 
Hingga tahun 2003, total ada empat orang karyawan dan berkembang walau keterbatasan. Rotinya kemudian pasarkan di sekitar kawasan Aceh Besar dan Banda Aceh.
 
 
Namun nasib berkata lain. Kala itu, ketika terjadi tsunami, semua hartanya hilang cuma ada satu mixer itu. Untunglah dia, sang suami dan anaknya selamat, dan mere ereka pun harus tinggal di tenda untuk waktu yang cukup lama. 
 
Setelah lima bulan tsunami dia dan suaminya, Muchlis Ismail (43), mencoba bangkit dengan berjualan nasi Lhoknga Aceh. Ia menjual nasi untuk dijadikan modal membuka usaha roti.

Uang bantuan dari LSM ditambah uang berjualan nasi dikumpulkan. Pada Oktober 2005, Nelly sudah mulai membuat roti sendiri. Saat itu, ia berkisah hanya membuat 2 kilogram tepung. Segalanya serba terbatas tak terbatas pada perlatan tapi juga bahan. 
 
Adanya Bogasari membantunya dengan kebutuhan akan bahan baku roti. Nelly sendiri mengaku tak begitu handal membuat kue, meski bisa.

Dia berkisah di 2001, belajar dari program memasak TVRI. Semuanya dilakukan secara otodidak. Awal- awal tentu ia membuat rotinya tak berbentuk tapi akhirnya bisa. Dan pristiwa tsunami itu datang ketika ia tengah berusaha mandiri. 
 
Awalnya dibagikan gratis ke tetangga, ketika respon positif, ia barulah menjual roti miliknya. Meski baru belajar membuat roti barat, dia sudah dikenal pandai membuat roti basah sekitar 14 tahun. Tapi kisah indah tersebut tak berlaku pada pengusaha lain.

Sebut saja kisah Bakhtiar, seorang penjahit, tidak mendapatkan bantuan apapun! Dia dulu dikenal pernah membuka usaha jahit dimana pendapatannya 70.000 per- hari. Bantuan rehabilitasi yang berupa uang tunai diyakini tidak begitu membantu. 
 
Khususnya untuk Bakhtiar dan beberapa orang lain. Dalam jangka pendek mungkin baik, namun tak akan membantu untuk jangka panjang. Menjadi pengusaha itu berarti akan selalu  fokus pada usahanya dengan segala kreatifitas.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba