Alasan Memilih Wirausaha Sendiri Conie P. Putri

Profil Pengusaha Conie Pania Putri



Menjadi pegawai tidak bahagia. Itulah kiranya penulis katakan ketika membaca kisah Conie. Wanita yang bernama lengkap Conie Pania Putri, 36 tahun, ternyata pernah mendapatkan gaji Rp.20 juta. Bahkan dia sudah punya mobil mewah dan rumah bernaung.

Kenapa masih berwirausaha dan berhenti bekerja. Conie mengaku tidak lekas puas. Bagianya ada satu hal yang kosong ketika dia bekerja untuk orang lain. Dia pernah bekerja sebagai penjual, admin, sampai naik pangkat manajer, perusahaan asal Palembang pada 2004 hingga 2012.

Memilih menjadi pengusaha karena tidak puas akan empat tahun. Meski naik pangkat sampai jadi Direktur Utama membawahi beberapa provinsi; dia tetap tidak puas.

Alumni Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang, yang mendapatkan banya fasilitas dari perusahaan ini resah. Fasilitas mewah tidak memuaskan Conie. Alasan bewisausaha Conie: Setinggi apapun jabatan yang anda miliki. Anda tetaplah pegawai. Sekecil apapun usaha anda, maka anda lah bosnya.

"Sekecil apapun usaha yang anda punya, anda lah bosnya," Conie bertutur. Keresahan bukan soal apa. Tapi dia sudah terbiasa difasilitasi orang lain. Kini, dia mau jadi pengusaha, berwirausaha berarti dia harus siap memulai dari nol.

Gaji besar menjadi direktur, tidak susah cari duit, tetapi Conie bosan. Jenuh tetap jadi karyawan mengikuti tiap kebijakan perusahaan. "...tidak bisa ambil kebijakan, itu perusahaan orang," gusarnya. Berkat relasi kuat serta pengalaman jadi presiden, Conie mantap keluar dan memilih membuka perusahaan sendiri.

Awal- awal diakuinya sukar banyak masa sulit membangun usaha. Uang modal boleh pinjam sana- sini, dia tidak turun semangat. "Pokoknya saya buka usaha sendiri," serius Conie. Ia sepakat melakukan kongsi usaha dalam bentu perusahaan PT. Srikandi Tiga Putri -usahanya memenuhi kebutuhan alat kesehatan.

Dengan sabar lambat laun usahanya punya jalan setelah tiga tahun. Dalam kurun waktu tiga tahun sejak tahun 2012, usahanya menghasilkan omzet Rp.1 miliar. Kerjanya pun tidak ngoyo karena keputusan ada ditangan. Ia menyebut dia lebih fleksibel soal waktu. Kalau dulu berangkat jam 7 pagi pulang malam karena lembur.

Sebagai wanita muslimah dia tidak lupa akan hak pegawai. Hak karyawan menjadi tonggak kejayaan dari perusahaan tersebut. Bahkan dia mengajak mereka bewisata sampai Singapura. Bekerja menurutnya sesuai hati nurani. Usaha itu juga menambah amalan seperti diajarkan oleh Rasulallah Nabi Muhammad.

Dia berharap kita juga mengikuti jejaknya berwirausaha. Memang butuh ektra sabar tuturnya, tetapi bukan berarti kita tidak bisa loh. Begitulah kisah pengusaha berjilbab -yang suka warna pink itu- yang juga aktif dalam kegiatan komunitas sedekah Jum'at.

Anak SMP Sukses Berbisnis Perlengkapan Olahraga

Profil Pengusaha Rizki Adventus 


 
Umur 18 tahun sudah sukses berbisnis sendiri. Cerita klasik tetapi langka karena sedikit pengusaha muda di Indonesia. Kisah kali ini, Rafael Rizki Adventus, pemuda kelahiran Jakarta, 4 September 1994, yang sudah berbisnis sejak kelas 2 SMP. Waktu itu dijelaskannya memulai dari berbisnis network marketing.

Hingga kelas 3 SMP kesempatan mendatangi Rizki. Bisnis sebenarnya itu datang ketika sekolahnya butuh kostum basket dan futsal. Kebetulah ia salah satu pemain utama dalam tim olah raga sekolah. Suntikan aneka motivasi entrepreneurship memberika keberanian melangkah.

Mantap, dia menawarkan diri agar menjadi suplier perlengkapan olah raga. Fokus bisnis waktu itu memenuhi aneka kebutuhan akan pakaian olahraga, macam jersey, jaket, kaos basket ataupun futsal. Modal uang dia tidak pikirkan langsung tancap gas.

Rizki sendiri terlahir dari keluarga kurang mampu. Dia hobi bermain basket, futsal, ataupun olah raga pada umumnya. Dibanding teman sekolah, bisa dibilang mereka lebih berkemampuan secara finansial. Sukses bagi dia menyenangkan orang tua melihat Rizki sukses.

"...saya harus sukses," jelas Rizki kepada Merdeka.

Merek Motion dijadikan sandaran berbisnis modal pas- pasan. Niat dijadikan langkah pertama Rizki. Maka soal modal uang pun dapat diakali dia.

Kerja sama


Rizki bersekolah di SMPK Sang Timur Tomang. Disekitarnya hidup anak sebaya yang lebih berkecukupan. Ia sendiri sosok mandiri sejak kecil. Keberadaan lingkungan berbeda mendorong Rizki kreatif. Alasannya ia ingin "mengikuti" gaya mereka. Meski begitu faktanya secara ekonomi sama sekali tidak mendukung.

Agar mampu, maka dia berpikir keras mencari kesempatan lain. Rizki mulai mencoba berbisnis aksesoris ponsel. Ia lantas menjual produk kesehatan milik MLM. Bekerja keras dia mampu mencapai Top Seller di penjualan gelang kesehatan.

Bayangkan dia mampu menjual 49 gelang kurang dari satu bulan. Omzet Rp.7.350.000 dihasilkan anak bau kencur yang bahkan belum 17 tahun. Untung dia dapat bersih yaitu Rp.2.2.70.000, mendapat uang banyak mendorong Rizki ingin menjadi pengusaha sukses. Rekor penjualannya kembali ketika ia menjual pembalut wanita.

Tempo cepat ia mampu menjual 3 boks pembalut wanita cukup 45 menit setelah pembelian pertama. Lebih jelasnya produk dikeluarkan sore di malam hari sudah terjual 3 boks dalam 45 menit. Alhasil dia mendapat nama diantara pelaku usaha network marketing tersebut.

Sukses MLM justru memberikan efek negatif. Terutama bagi orang disekitar lingkungannya. Ia dilihat seperti menjual produk tidak bermutu. Rasa putus asa kala itu sama sekali tidak berasa. Rizki malah terus terobsesi memiliki usaha lebih.

Berbisnis MLM tidak lagi memuaskan hasrat. Bagianya pola pikir pemilik usaha menjadi obsesi. Dia ingin mempunya usaha sendiri. Mengendalikan perusahaan sendiri langsung tanpa perantara. Bersangkutan hobi Rizki ialah olah raga maka bisnisnya tidak jauh.

Ia mencari jalan bagaimana menjadi pengusaha muda. Ide membuat kostum futsal tidak mudah. Awal sekali ia merasakan betul sukar masuk ke bidang garmen. Tidak memiliki pengalaman, Rizki sempat putus asa buat mendekati pemilik garmen usaha. Sempat berpikir berhenti menggeluti usaha yang tengah diincar tersebut.

"Itu hal biasa, yang penting kita komitmen, fokus dan konsisten," jelasnya. Komitmen bermimpi menjadi satu pemilik usaha. Fokus kepada masa depan termasuk menentukan langkah apa. Penuh percaya diri datanglah Rizki ke salah satu tempat produksi.

Dengan penuh percaya diri diajukan proposal kerja sama. Memulai bisnis bernama Motion Sport seorang diri tanpa bantuan. Pemasaran memanfaatkan teknologi meliputi Facebook, Twitter, dan Kaskus. Cara lain ialah menjadi bagian dari aneka kegiatan olah raga.

Motion masuk ke kompetisi olahraga, mulai dari level terendah SD, SMP, SMA/SMK, hingga Universitas. Ia akhirnya berhasil mencetak angka Rp.100 juta pada September 2012. Anak kedua dari tiga bersaudara ini tidak mau sukses sendiri. Ia mengajak tiga temannya masuk menjadi bagian Motion Sport.

 www.motionsportindonesia.com

Mobil Jualan Pindang Ma Ecot Bandung Kisahnya

Profil Pengusaha Asep Fahmi 


 
Hidupnya tidak bisa berjauhan dengan pindang. Fakta hidup mahasiswa Institut Koperasi Indonesia (Ikopin) di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, bernama Asep Fahmi. Dia merupakan generasi ke- empat usaha yang dikenal seantero Bandung, yaitu Pindang Ma Ecot. Sejak kecil dia sudah diarahkan orang berwirausaha saja.

Jangan jadi pegawai begitu kiranya pesan orang tua. Tetapi mereka sama sekali tidak mengarahkan putranya meneruskan jejak keluarga. Alhasil pria 37 tahun ini sempat menanggur selama empat tahun. Dia sibuk tak jelas hingga menikah dengan seorang wanita bernama Noneng, 33 tahun.

Sempat menganggur maka usaha pertama dilakoni Asep adalah suplier ayam. Dia menjadi suplier ayam ke supermarket besar di Bandung. Lumayan hasil usahanya sampai dia bisa mengkredit mobil sendiri.

Takdir Tuhan


Enam sudah menjadi suplier ayam. Asep nampak tak betah bekerja begitu. Mulai lah dia berpikir bagaimana usaha sendiri. Tanpa tergantung orang lain seperti saran orang tua. Akhirnya Asep menganggur kembali dan ini membuat istrinya berkomentar. Kenapa sih tidak berbisnis pindang seperti orang tuanya.

Apalagi Asep masih harus membayar cicilan mobil. Berpikir ulang, dia akhirnya berniat melanjutkan bisnis pindang khas Nagreg. Padalah dia maunya menjual produk milik orang lain. "Dari istri dapat ide ngapain jual baru produk orang lain sementara produk orang tua sendiri sudah terkenal."

Ia pun setuju melanjutkan usaha jualan pindang pusaka warisan buyut. Meski warisan keluarga faktanya dia harus memulai usaha dari nol.

Dia berencana membuka usaha di Jalan Riau Martadinata. Modal tambahan selain resep ialah mobil pribadi yang belum lunas cicilan tersebut. Namun dia merasa khawatir karena disana merupakan daerah bebas PKL. "Saya takut digembok," imbuhnya.

Ia lantas berkeliling Bandung mencari tempat. Kebetulan Asep melewati Jalan Karapitan. Disana lah mulailah dia berjualan disana. "...disini sampai sekarang," tuturnya. Tepatnya dia berjualan belakang Horizon sejak di 2012. Lulusan marketing membuatnya tidak takut menjajakan produk.

Resep pindang pusaka tersebut dijual lewat mobil. Prinsip berjualan seperti layaknya PKL saja. Setiap hari dia tidak jenuh berjualan pidang.

Respon awal di tahun pertama menurutnya harus siap mental. Namanya berjualan kadang ramai, kadang juga sepi, dirasakan dia butuh mental sekuat mungkin. Tahun kedua pelanggan mulai terbentuk bahkan selalu saja ramai. Bahkan Sabtu- Minggu banyak pesanan datang terutama dari ibu rumah tangga.

Sehari dia menjual satu panci pindang berisi 150 pindang ikan mas ukuran Rp.15.000 sampai Rp.20.000.

Usaha warisan dari nol

Kalau ramai dia mampu menjual semua 150 pindang habis. Omzet Asep mencapai Rp.2 juta per- bulan dari jualan pindang saja. Asep mulai berjualan pukul 09.00 WIB hingga sore. Pukul 19.00 dia sudah kembali ke rumah di Nagreg.

Pulang ke rumah langsung tidur, karena besoknya dia dan istri harus bersiap membuat pindang. Pindang itu dibuat pas malamnya dijual di paginya.

"Capek sih, saya harus bangun pagi, berangkat ke Bandung jualan, kemudian balik lagi ke Negreg," kenang Asep.

Kelamaan terbiasa meski paling sulit diawal bangun tidur. Kalau sudah terbiasa bangun pagi ya dia mampu bangun pagi buta. Ia bekerja keras bersama sang istri. Rahasia kerja mereka ialah, istri mulai dari menyiapkan ikan mas, memproses matang sampai setengah matang. Ketika suami pulang, Asep mengolah itu jadi pindang.

Berjualan pindang selama empat tahun memberinya satu rumah makan di Nagreg. Dia mampu melanjutkan cicilan mobil bahkan mencicil rumah. Cicilan mobil yang diberinya nama Divisi Penjualan Pindang Pusaka Ma Ecot 2, Cabang Negreg, itu sudah lama terlunasi bahkan bisa beli lagi.

Sukses maka dia berencana membuka satu rumah maka lagi di Cianjur. Untuk Divisi Ma Ecot 2 masih dia pertahankan sebagai bentuk kedekatan ke masyarakat.

Sukses Asep membuat banyak orang mengikuti jejaknya. Beberapa bahkan malah mengaku- ngaku sebagai pindang Ma Ecot asli. Agar mengatasi hal tersebut, dia memperkuat rumah makan di Nagreg serta tanpa dia berhenti meyakinkan.

Awalnya orang tidak percaya orang yang berjualan di mobil itu asli. Apalagi nama Ma Ecot lebih dikenal oleh masyarakat asli Nagreg. Padahal Asep awalnya justru berjualan pindang lewat mobil keliling. "Tapi setelah mencoba, mereka tahu dari rasa," ujar bapak dua anak ini.

Bisnis Asep tidak berhenti di masakan Pindang. Ia juga menjual masakan khas Sunda, seperti pepes ikan mas, pepes ayam, telor ikan mas, rendang jengkol, abon ikan peda, kacang merah manis pedas, dan juga ada sambal goreng tempe.

Selain di Nagreg, Karawitan, kamu bisa menemukan olahan tersebut di tempat lain, tepatnya di Mekarwangi, Bandung. Tempat itu dikelolah oleh sang kakak, Ahmad.

Food Blogger Khusus McDonald James McGowan

Profil Pengusaha James McGowan


 
James McGowan tidak tertarik makanan McDonald's biasa. Tidak tertarik Big Macs, juga dia tidak tertarik akan McNuggets. Jangan bicarakan soal McMuffin juga. Bagianya dia berbicara tentang McSpecial's. Ini kisah seorang food blogger khusus McDonald.

Pria berumur 28 tahun bekerja sebagai developer software juga blogger, asalnya dari Amherstburg, Canada. Dimana hidupnya ialah soal makan. Sebagai food blogger fokusnya menulis di blog Travelling McD's, yang mana dia berburu menus spesial McDonald ke berbagai negara.

Sebagai tambahan kami memberikan sedikit informasi. Bahwa perusahaan McDonald memiliki menu spesial di setiap negara dimana franchise -nya berada. Selama lebih dari lima tahun, dia bersama seorang wanita, yang mana istrinya telah berkunjung ke 53 negara berbeda dan mereview 300 menu spesial- regional milik McD's.

Sebagai catatan dia tidak lupa mereview McDonald Jepang, dimana sedang booming McChocolate Potato, itu loh kentang goreng berbalut cokelat yang baru- baru ini diluncurkan. Dia memberikan nilai binta 3,5 dari lima. "Terhormat. Ada drama yang layak antara, garam, dan lemak utuh dalam penggorengan," ia jelaskan.

McGowan juga menikmati Curry Crab Stick Pie khas McD's Thailand. Dia memberikan nilai bintang empat meski penulis Metro.co.uk menyebutnya kurang menggugah selera.

"Saya masuk mengharapkan bahwa itu akan terasa seperti sedikit bubuk kari ditaburi dengan kepiting, tapi itu benar- benar pasta kari kuning bagus dengan bahkan sedikit cabai," tulisnya.

Dia agak tidak suka Chicken Teriyaki McRice dari McDonald. McGowan menyebut kurang menakjubkan. Ia tidak merasakan sesuatu spesial -maka dia memberikan bintang 2,5.

Menurutnya paling horor ialah Aloha Heat Burger dari Hong Kong. Dimana deskripsikan sebagai nanas yang yang dicampur keju sampai pedasnya jalapeno. Tetapi McChurros khas Korea sangat enak. Lalu ada juga dari Singapura yaitu Bubblegum McFizz yang "too blue" (menyedihkan.red).

Dia berbicara kepada The Wall Street Journal bahwa ada sekitar dua juta orang mengunjungi blognya, untuk alasan apapun.

Orang asing pernah berbicara kepadanya kenapa jauh- jauh ke Thiland tidak memotret kuil. Atau apapapun yang hubungannya dengan keindahan Thailanda bukan McDonald. Secara gamblang McGowan menyebut itu memang. Banyak orang berharap melihat kuil indah. Mereka tidak mengharapkan nasi salmon di McDs.

Tapi dia menambahkan, "Saya tidak merokok. Saya tidak minum. Inilah keburukan saya". Ia menikmati tiap menu McDonald di setiap negara. Meski junk food tidak baika buat kesehatan. Dengan PD -nya dia berkata berat badannya malah turun.

Lucunya ternyata meski menikmati McDonald, McGowan lebih memilih makanan sehari- hari yang dimasak oleh sang istri. Jadi jangan salah, apa yang dilakukannya sekedar hobi bukan kebutuhan konsumsi sehari- hari. "Kami juga menghindari makanan goreng kering semampu kami coba," imbuhnya.

Ia tidak dibayar ketika menikmati McDonald. Bahkan dia jarang menggunakan pesawat terbang untuk aktif berpergian. Dan, anehnya McDonald, dia masih "lovin' it". Dia berencana pergi ke Oman, Mongolia, Qatar, dan Vietnam.

Blog: www.travellingmcds.com

Baju Plastik Kresek Bekas LKP Bu Nandang

Profil Pengusaha Erni S. Nandang 



Fenomena kantung plastik berbayar nampaknya harus berkaca kepadanya. Sosoknya pendiri Lembaga Kursus Pelatihan (LKP) Bu Nandang. Adalah Erni Suhaina Ilham Fadzry, atau orang kenal jika memanggil namanya Erni S. Nandang. Sosok dibalik kesuksesan memanfaatkan barang bekas termasuk kertas kresek.

Perjalanannya sudah lama sejak 2008, memberdayakan masyarakat agar hidup lebih kreatif. Caranya ialah memanfaatkan barang bekas disekitar. Termasuk kertas kresek yang dijadikan aneka kerajinan. Mengolah sampah menjadi kerajinan menjadi satu- satunya solusi kita sekarang.

Total tiga kecamatan dirangkul Erni, dari Cilacap Tengah, Utara, dan Cilacap Selatan. Dalam metodenya ia memberikan pembelajaran entrepreneurship. Bagaimana cara berpikir di luar kotak menghadapi tumpukan sampah.

Prinsipnya harus merubahnya menjadi barang indah. Nilai seni akan mendongkrak barang bekas mempunyai nilai jual. "Slogan kami merubah sampah menjadi berkah," papar Erni. Menjadikan sampah menjadi indah dan juga menghasilkan pundi- pundi uang tentunya.

Pelatihan termasuk aneka workshop, seminar, serta sosialisasi langsung. Sebagai LKP, Bu Nandang tidak mau mematok peserta disetiap acaranya. Pada prinsipnya mereka bekerja untuk sosial entrepreneurship. Ia juga memberikan kursus reguler. Dimana pesertanya menurut artikel kami baca mencapai 700 -an orang.

Dia bersama mengarahkan warga menjadi wirausaha. Lantas mereka bersama bisa membangun kelompok sendiri yaitu kelompok bina usaha (KBU). Tujuannya adalah bersama mengerjakan bisnis daur ulang aneka sampah termasuk sampah kresek bekas.

Ada enam KBU terbangun berkat Bu Nandang. Usaha mereka mengerjakan aneka kerajinan sampah. Jika berbicara anggota maka kebanyakan merupakan ibu rumah tangga dan pemuda pengangguran.

Bekerja bukan bicara


Produk olahan sendiri dibagi menjadi dua jenis, yakni limbah dan non- limbah. Khusus non- limbah maksud dari itu adalah produknya bukan dari bahan bekas. Dimana variasinya kecil dibanding yang limbah. Kalau produk limbah antara lain dari limbah plastik kresek, kertas bekas, pecahan kaca, sampai elektronik jadi.

Produk jadinya meliputi hantaran pernikaha, tempat tisu, keranjang, ataupun aneka pernak- pernik souvenir. Ia menambahkan harga bervariasi mulai Rp.1.500 sampai Rp.100.000. Semuanya dijual melalui toko sendiri yang dikhususkan. Dua toko tersebut dimiliki langsung oleh LKP Bu Nandang.

Nantinya setia KBU tidak lagi pusing menjual. Mereka cukup menitipkan ditempat Erni. Pendapatan rutinnya mencapai rata- rata Rp.250.000 sampai Rp.2.000.000 per- bulan setiap KBU. Omzet LKP Bu Nandang sendiri mencapai Rp.100 juta sampai Rp.200 juta.

Lulusan Sastra Bahasa Inggris dari Universitas Padjajaran ini menyebutkan. Walau omzetnya besar tetapi ia menggunakan uang tersebut untuk perputaran modal. Termasuk digunakan untuk aneka kegiatan sosial dari Bu Nandang sendiri. Dana operasi pendidikan operasional selalui disiapkan untuk melatih warga sekitaran Cilacap.

Tidak cuma berhenti di Cilacap, Erni sudah merambah tempat lain termasuk sampai ke Jakarta. Melalui cara datang ke aneka pameran kewirausahaan ataupun seminar. Erni juga membuka kemungkinan buat kamu bisa masuk menjadi sponsor.

Pakaian kresek


Gebrakan terbaru LKP Bu Nandang ialah pakain pengantin. Loh, maksudnya? Usaha yang digagas Erni ini bagaimana merubah plastik kresek menjadi pakaian pengantin. Dibantu kreatiftas hal mustahil menjadi hal nyata. Baju pengantin dari bahan plastik tersebut bahkan dibandrol jutaan.

Erni mengaku mengantungi omzet Rp.10 juta setiap bulan. Ide pembuatan aneka pernak- pernik pernikahan sudah lama dijalankan Erni. Namun, di tahun 2010, ide gila muncul bagaimana menghadirkan plastik kresek hadir dalam pernikahan. Waktu itu salah satu anak didik LKP Bu Nandang ada yang mau menikah.

Dia merupakan murid terbaik LKP. Maka Erni berniat memberikan hadiah lebih dari sekedar aneka produk plastik kresek biasanya. Erni memutuskan membuat souvenir ditambah pakaian pengantinnya. Diluar apa ia maksud untuk produknya, banyak tamu malah tertarik hasil karya LKP Bu Nandang ini.

Semenjak itu permintaan akan aneka keperluan pernikahan berbahan kresek makin berdatangan.

Kesadaran akan lingkungan agak banyak mendorong penjualan. Ini membuat usaha kertas kreseknya maju pesat. Dia meyakinkan baju kresek tidak gampang robek. Tidak pula menimbulkan alergi kulit. Erni sudah memiliki cara mengatasi tingkat kebersihan plastik.

Bahan baku dikumpulkan Erni dari warga sekitar LKP Bu Nandang. Ada tempat khusus buat mengepul itu di tempat. Termasuk juga pemberian anggota LKP sendiri dari rumah masing- masing. Meski disoroti, Erni menolak kalau ia harus memakai kresek baru. Meski murah tetap Erni memilih kresek bekas karena alasan khusus.

"Kalau memakai kresek baru, nilai penyelamatan lingkungan tidak ada sama sekali," jelasnya. Prosenya itu memang panjang tetapi demi menjaga kualitas.

Pertama kresek dibersihkan lalu dipilah. Pilihlah platik tebal yang kuat karena memang ada kresek tipis. Lalu dia menggunakan alat khusus mengubah kresek menjadi lembaran. Kemudian kresek digulung diikat gelang karet. Ia lalu menyatukan itu menjadi bentuk segitiga. Kemudian baru ditempel dipola yang telah disiapkan Erni.

Setelah itu dijahit layaknya kain pada pakaian biasa. Pola kecil disatukan sedikit- demi sedikit menjadi satu bentuk baju pengantin. Ia menambahkan gliter berbahan kabel bekas agar lebih manis. Erni dibantu oleh para muridnya di LKP Bu Nandang

Dibutuhkan 1.000 lembar plastik kresek untuk sepasang pakaian pengantin. Agar menjaga bahan baku tetap tersedia, Erni bahkan rela membangun tiga gudang khusus. Gudang penyimpanan ini sempat diprotes oleh sang suami. Tetapi enteng Erni menjawab itu akan menjadi uang. Memang betul akhirnya ini menjadi bisnis unik.

Harga jual pakaian pengantin kresek menembus juta rupih. Nilai nominalnya tidak disebutkan, tetapi dapat ia sampaikan mencapai jutaan rupiah. Untuk aneka souvenir seperti replika candi Borobudur djual Rp.35.000 per- unit. Kecil- kecil dijual antara Rp.500 per- unit. Mereka dijual Erni dalam bentuk paket hantaran pernikahan.

Semakin banyak pesanan untung semakin besar. Pasalnya margin untung besar karena bahannya dari plastik bekas. Berbagai pelatihan masih dijalankan LKP Bu Nandang selain membuat fasion dari kresek.

Keripik Pisang Kharisma Buzamar Optimisme Petani Pisang

Profil Pengusaha Buzamar


 
Sering kali panen pisang di Lampung terlalu banyak. Bahkan saking banyaknya sampai harga anjlok. Alhasil ia sebagai seorang petani menelan pill pahit. Harga pisang menurun drastis sampai- sampai pisang seolah jadi limbah. Walau harga murah malah sepi pembeli memborong pisang.

Dia, Buzamar, lantas memiliki ide membuat usaha hilirisasi, maksudnya agar mendongkrak harga pisang. Dia juga mengakali minat konsumen akan buah tropis ini. Pilihan untuk berbisnis pisang olahan memang tidak salah. Buzamar lantas merubah pisang menjadi keripik ketika harga pisang murah.

Sekarang ia mampu memproduksi sampai 240kg setiap minggu. Ketika kamu berkunjung di tempat produksi miliknya, maka bau harum semerbak menghampiri.

Bisnis pintar


Sebagai petani pisang Buzamar sendiri pusing. Tujuh keliling dia memikirkan panen pisang melimpah, tetapi pembeli tidak meningkat. Bahkan cenderung sepi membuat pisang terbuang. Warga asli Desa Sungairambi Utara, Kec. Pariaman Utara ini, melihat harga pisang jatuh anjlok.

Tahun 2006, ia memutuskan untuk merevolusi hidupnya, tidak dapat dibiarkan terus menerus harga pisang hasil panen anjlok. Uang Rp.150 ribu digunakan untuk mengolah empat tandan pisang jadi keripik. Lalu dia mengemasnya dalam plastik kecil dan menjualnya.

Untuk mempermudah penjualan dijualah kecil- kecil. Ia membungkus pisang kecil dijual Rp.500 -an. Yang lantas dia titipkan ke warung- warung. Awal berbisnis respon pembeli biasa saja. Hasilnya keripik buatannya banyak tak laku. Meski begitu suami wanita bernama Marniati ini, tidak mau menyerah seketika.

Pria 48 tahun ini memilih memperbaiki keripik pisangnya. Mulai bentuk keripik, rasa, sampai kemasan lantas diperbaiki olehnya.

Mengkoreksi bisnis memang benar adanya. Kesalahan itu diperbaiki hingga mendongkrak penjualan. Makin lama nama keripik pisanya mendapatkan tempat di hati. Usaha bernama Kharisma Flora tersebut tidak lagi tidak laku. Perlahan kemasan disesuaikan ke arah lebih modern agar menarik hati.

Keripik pisang Kharisma dijual seharga Rp.8000 per- bungkus isi 250gram. Produksi lalu melonjak menjadi 6kg per- minggu dan seterusnya. Pemasaran meluas sampai ke Medan bahkan ke Jakarta. Rasa keripik juga dibuat sagala macam seperti rasa cokelat, manis, dan keju.

Ia menaikan taraf hidup keluarga petani pisang asal Lampung. Dari bisa membeli sepeda motor sampai menguliahkan anak sampai ke Jakarta. Namun sayangnya, usaha Buzamar makin terkendala bahan bakunya yaitu pisang raja jantan.

Pasalnya banyak petani mengikuti jejak Buzamar. Adapula petani yang sudah menjual pisangnya meski saat itu belum panen. Maka jadilah dia tidak mendapatkan buah pisang cukup. Bahkan agar sukses, pengusaha- pengusaha yang meniru langkah Buzamar ini membeli dengan harga lebih tinggi dari pasaran.

Itu karena petani masih gampang tergoda bujuk rayuan. Terutama pembelinya bukan orang asal Sumbar. Dia yang asli Sumbar malah tidak kebagian. Dulu pisang jadi limbah maka berkat Buzamar, pisang menjadi satu komoditas mahal untuk olahan keripik pisang.

Gaya Lukis Inai di Instagram Keke Carelsz

Profil Pengusaha Ikke Faulisa Carelsz 



Punya cita- cita membuka usaha rias pengantin sendiri. Alumni FKIP Jurusan Tata Rias, UNIMED ini, tidak mudah berputus asa. Namanya Ikke Faulisa Carelsz fokus di jasa lukis inai dan rias pengantin. Sudah lebih dari lima tahun perjalanan karirnya. Sedikit banyak sosial media memberikan efek sendiri dalam usaha ini.

Untuk awalan dia mengumpulkan modal. Agar usahanya terus membesar, wanita yang akrab disapa Keke ini memberikan jasa rias pengantian langsung. Jemput bola Keke meraih sebanyak mungkin pelanggan. Tidak lupa dia menyasar pasaran anak muda -merias untuk acara wisuda.

"Saya menjalani usaha lukis inai dan make- up pengantin," paparnya kepada Medan Bisnis. Tidak mau cuma segitu rencana kedepan ialah usaha bridal house sendiri.

Soal sosial media, cara marketing Keke meliputi blog, Facebook dan Instagram @keke_carelsz, yang mana itu cukup mendorong usahanya. Pelanggan disuguhi foto- foto hasil karya lukis inainya. Maka mereka dapat menghubungi Keke langsung di sosmed.

Bisnis ini ternyata berjalan dalam ketidak sengajaan. Ia bercerita asal mula berbisnis rias pengantin. Khusus buat inai dia memang suka karena film India. Berkat itulah dia jadi sering menggambar inai. Ia bermula dari menggambar iseng di kertas.

Keahlian makin terasah ketika masuk bangku kuliah. Seorang dosen mau mengajari Keke cara membuat inai. Ini terjadi pas semester empat kuliah. Segala sesuatu tentang lukis inai sebenarnya sudah dipelajari. Tapi dia belum mampu mengaplikasikan ke kulit. Lalu Keke nekat mencoba lukis inai melalui kulitnya sendiri.

Nah, lama- kelamaan, Keke mampu membuka usaha lukis Inai sendiri. Modal bisnis lukis inai sekitaran Rp.100 ribu. Dibayar pertama kali juga seharga Rp.100 ribu. Uang modal tersebut bukan dari kantungnya sendiri. Tetapi diberi oleh pelanggan buat membeli bahan ke sejumlah pasar di Medan.

Perlengkapan lain dibeli setelah usahanya berjalan. Dia menggunakan uangnya sendiri. Asik berbisnis sempat membuat Keke memilih cuti kuliah loh. Agar lebih ahli, dipelajarinya tutorial melukis inai dari situs Youtube. Meski tidak punya tempat usaha sendiri, Keke sudah bekerja sama dengan dua perias pengantin kenamaan Medan.

Di akhir pekan, Keke mengantungi pemasukan Rp.3 juta per- bulan. Itu cuma melukis inai saja. Untuk rias pengantin ataupun make- up, Keke menghasilkan juga Rp.3 juta per- bulan lain. Sayang semenjak tidak lagi membeli bahan di Medan, tatapi membeli di Poso, usahanya jadi lebih mahal. Tetapi kualitas bahan inai lebih bagus.

Soal omzet rutinnya yaitu antara Rp.5 juta sampai Rp.6 juta. Uang digunakan sebagai kebutuhan sehari- hari juga perputaran modal, termasuk menabung.

4 Pelajaran Marketing dari Marketing Jenius DJ Khaled

Artikel Bisnis Pelajaran Marketing



Snapchat lagi ngetrend terutama bagi marketer membangun brand. Pelajar marketing berikut ini merupakan pelajaran dari selebriti DJ Khaled -seorang produser recording Amerika, host radio, DJ, dan label recod. Ia memilih menggunakan Snapchat agar lebih dekat dengan fans, membangun brand, serta menunjukan jati diri.

Ia menunjukan bagaimana merubah pola pikir haters. Bagaimana menggaet penggemar baru lewat segala dia soroti di apalikasi ini.

Tentu ada pelajar dapat diambil. Dia adalah marketer bagaimana membangun brand. Sebuah pelajaran yang diulik oleh Chirag Kulkarni, Co- Founder dan CEO Insightfully, melalui Inc.com. Ada empat hal bisa kamu pelajari dari cara marketing DJ Khaled. Bagaimana dia membangun brand besar lewat aplikasi Snapchat.

1. Kuasai satu media

Pernah kah kamu bertanya entrepreneur, murid, ataupun remaja siapa orang paling mereka favoritkan ikuti di Snapchat?

Maka DJ Khaled mendominasi hal tersebut. Dia menggaet segala kalangan lewat Snapchat, bahkan segala akan entrepreneurship. Jika kamu melihat sosial media lainnya, kamu tidak akan melihat selengkap Snapchat DJ Khaled.

Faktanya bahwa banyak teman mengajak dia agar bangun dan segera menulis hal baru untuk inspirasi setiap hari.

2. Jaga pesannya konsisten

Hal kesalahan dari seorang marketer lewat sosial media adalah merubah pesannya kesehari- hari.

Ketika orang berpikir tentang DJ Khaled maka pesanan topiknya adalah soal "we the best" ataupun soal hal- hal berhubungan dengan Hip- Hop yang dia produseri. Apakah mungkin dia akan merubah pembicaraan jadi musik lainnya? Mungkin tetapi dia tidak melakukannya, orang tidak akan tahu brand apa yang diangkatnya.

Seperti kamu harus memarketing diri kamu maka bicaralah satu bahasa, konsisten. Janganlah coba berbicara tentang sosial media sekarang dan billboard selanjutnya. Tetaplah konsisten, macam DJ Khaled.

3. Menjaga kata kunci atribut dan sinyal spesifik akan brand

Ketika Chirag pertama kali mendengar tentang DJ Khaled, mengikuti Snapchat -nya, maka ia menyadari hal banyak kata- kata memiliki kata kunci bertautan kuat, seperti "Kunci kehidupan", "Terberkahi", dan "Ayo kita lihat apa untuk makan pagi."

4. Tunjukan sisi sebenarnya kamu

Menunjukan diri kamu sebenarnya adalah karakeristik yang orang tidak banyak tunjukan. Utamanya seperti apa sih kehidupan entrepreneur, sekaligus selebriti, rapper, penghibur kesehariannya. 

DJ Khaled selalu aktif memposting sarapan dengan putih telur, sosis, dan air putih, ditambah status yang bulat utuh, kamu akan melihat dia bekerja keras untuk menulis yang memotivasi kita lebih bekerja keras. Paling baik dari seorang DJ Khaled ialah dia tidak lupa berkomunikasi dengan fansnya.

Marketing Sederhana Paling Ampuh Jualan Camilan

Profil Pengusaha Sukses Farida



Menjadi karyawan sewasta tidak menjamin hidup. Itulah kiranya dirasakan seorang wanita bernama Farida, warga Medan, kelahiran 17 Maret 1978 yang memilih wirausaha. Dulu dia pernah bekerja sebagai pegawai di sebuah hotel. Lantas ia memilih mengundurkan diri dan mulai berjualan aneka cemilan.

Usaha bermodal Rp.120 ribu, ya, pengusaha berhijab ini memang terlihat modal nekat. Tetapi dia sadar akan kemampuannya mengolah masakan. Maka sejak 2011 dimulailah perjalanan Farida berbisnis cemilan. Soal memasak bersyukur dia sempat bekerja di dapur meski pekerjaan utamanya di purchasing.

Alasan utama keluar dari pekerjaan hotel karena pendapatan tidak tetap. Jam kerja juga sangat menguras tenaga hingga sampai larut malam. "Kok sepertinya begini- begini saja ya, lama- lama makin jenuh," kenang Farida.

Berhenti bekerja di hotel, dia langsung tancap gas memulai usaha. Meski minim modal tetap itu dikerjakan ia penuh semangat. Anak ketiga dari empat bersaudara membobol uang tabungan seadanya. Usaha pertama ia cuma membuat dua jenis camilan, yaitu kue bawang original dan jagung. 

Selesai dia langsung menjajakan langsung dari pintu ke pintu. Pertama menjual, Farida menjelaskan dia jual di kawasan Lapangan Merdeka. "Alhamdulillah, waktu itu saya mendapatkan hasil Rp.290.000," kenang dia lagi. Dia menyebutkan untung dia dapat sampai dua kali lipat! Waktu itu langsung uang diputar kembali jadi modal.

Sukses tidak cuma dibeli tetapi mendapat pesanan acara tertentu. Juga merambah pesanan kantor ataupun dari instansi pemerintah.

Inovasi bisnis


Total delapan jenis cemilan lantas dikembangkan Farida. Tentu itu belum cukup, dalam perjalanannya usaha yang bernama Savira ini terus berkembang. Ada delapan kue: Kue bawang ubi ungu, kue bawang wortel, kue bawang kentang, kue bawang labu, kue mercu, kue ketawa, peyek teri, peyek kacang tanah, dan peyek kacang hijau.

Termasuk abon nangka khas buatan Farida. Harga bervariasi dari Rp.45 ribu sampai Rp.75.000 per- kg. Ia menjelaskan awalnya melihat produk orang lain. Namun, dia tidak meniru malah memperbaikinya lewat gaya olahan sendiri.

"Alhamdulillah, lama- lama produk saya bisa diterima di pasaran," ujarnya. Mungkin karena latar pendidikan SMK membuatnya selalu inovatif dan berani.

Usaha dijalankan Farida tidak mulus. Faktanya ada masa jatuh bangun termasuk ketika memasarkan. Coba kamu bayangkan dia membawa bungkusan cemilan banyak, dan dia harus berjalan kaki dan tak jarang dia malah diusir keamanan. Hal tesebut tidak membuat Farida patah semangat loh.

Kegigihan ditunjukan olehnya tanpa memiliki toko sendiri. Semakin banyak olahan camilah ditunjukan Savira menggugah selera. Total produksi perhari mencapai 1kg sampai 3kg, naik sampai 400 hingga 450kg per- bulan atau 100kg per- hari. Untuk kemasan lebih baik hingga lebih berwarna menarik perhatian.

Pemasaran sudah mencapai pasar retail. Sudah masuk ke supermarket, minimarket, plaza, dan kedai kue. Ia bersemangat karena didukung Dinas Koperasi Provinsi, Disnaker Medan, Diskop Deliserdang, Cikal USU, pernah membantunya soal permodalan. Kini, Farida sudah memiliki toko sendiri, seperi cita- citanya awal.

Ia masih menjual door-to-door. Dan perputaran uang disebutnya sangat cepat dibanding menunggu pembeli datang. Resiko barang sisa pun lebih minimal dibanding cuma nongkrong di toko. Ditemui oleh pewarta MedanBisnis, tokonya Jl. Citarum VII, Medan Krio Kab. Deli Serdang, ia tampak bersemangat menata camilan.

Ia mengisahkan pernah sekali salah sasaran. Pernah nyasar masuk ke Dinas Koperasi, eh, ia malah diajak buat mengikuti pameran di PRSU. Terus cara marketing sederhana tersebut dilakukan mulai kantor, pasar, ataupun sarana publik. "Enaknya promosi langsung sama orang," tuturnya.

Terus berbisnis


Banyak feedback didapatkan ketika berjualan keliling. Farida tanpa sungkan mengajak bicara pembeli. Dia menanyakan selera mereka serta apa kekurangan dalam produknya. Bertemu konsumen banyak masukan ia terima. Inovasi pun mengikuti selera pasar namun tetap mengedepankan inovasi.

Dirintis 6 tahun silam, usahanya telah beromzet Rp.10 juta per- bulan. Margin untung Farida mengaku bisa mencapai 30% hingga 40%. Susahnya berjualan door- to- door ialah ketika dia disangka pedagang asongan. Dicemooh calon pembeli seperti pedagang asongan sudah menjadi makanan sehari- hari.

Tetap dia tidak mau merubah gaya berjualannya. Agar pelanggan percaya tidak lupa dibawa taster, agar para pelanggan langsung mencoba di tempat. Kalau sudah tau rasanya maka orang tidak lagi akan mencemooh Farida lagi. "Enak jualannya kayak kacang goreng. Tapi, capek pasti," paparnya.

Kalau ada acara besar keagamaan usahanya meledak. Seperti 2013, ia menyebut angka produksinya sudah naik sampai 300kg camilan dalam dua minggu. Meski sudah laris manis, Farida kekeh tidak menaikan harga jualan aneka camilan Savira.

Sukses aneka camilan, Savira mulai melirik olahan abon, tidak sekedar abon tetapi abon nangka. Untuk satu hal ini tidak membutuhkan modal yang besar. Ia menyebut Rp.140 ribu sudah menghasilkan abon nangka.

Ia mewujudkan visinya menciptakan abon berbahan nabati. Waktu itu Farida kepikiran nangka juga karena tidak sengaja. Awalnya dia berencana memakai jantung pisang. Ketika dia mencari, eh, malah dia ketemu nangka. Mencari malah menemukan nangka lagi. Begitu seterusnya itu hingga seperti jadi tanda dari langit.

Keinginan membuat abon nabati karena dirasa belum ada. Farida lantas mencari tau lagi agar meyakinkan. Ia menemukan di internet bahwa baru di Pula Jawa ada abon nangka. Kenapa tidak membuat berbahan buah atau sayuran inilah ide bisnisnya.

Agar beda dari abon nangka Jawa, maka Farida menambahkan ikan teri khas Medan. Itu dipelajari Farida secara otodidak melalui serangkaian percobaan. Baru satu pekan diluncurkan, respon masyarakat ternyata sangat baik. Cara membuatnya mudah seperti abon biasa, "dikeringkan, dan ditumis kering dan kemudian digoreng.

Dalam seminggu sejak peluncuran, yang sebelumnya produksi 4kg bahan baku naik 5kg. Harga jualpun dia patok seharga Rp.12.000. Untuk marketing masih sama yaitu jemput bola atau door- to- door. Dia optimis apalagi menjelang musim lebaran. "Karena bisa dimakan sama lontong," tuturnya.

Wanita Berbisnis Properti Hj. Harfana Alwi

Profil Pengusaha Harfana Alwi 



Meski tidak mendirikan perusahaan dari awal. Harfana Alwi, masih sempat merasakan perjuangan mereka.: Kakek dan ayah Anha -begitu biasanya dia dipanggil- memang sosok visioner. Hingga mimpi mereka mampu terbawa merasuk ke diri Anha. Sejak sang kakek sudah memiliki mimpi menjadi wirausahawan.

Ayah Anha lantas melanjutkan mimpi tersebut. Berbisnis properti menjadi impian ayahnya, H. Muhammad Alwi, seorang dokter gigi yang hidup berkecukupan. Ayahnya menyisihkan uang sedikit- demi sedikit. Lalu ia menempatkan uang tersebut dalam tabungan.

Berbekal uang tabungan saja tidak cukup. Lantas kakek Anha yang hanya petani memberikan modal lagi. Ia menjual tanah agar putranya menjadi pengusaha. Berkat itulah, pada 1985, ia mendirikan perusahaan bidang properti bernama PT. Harfana Halim Indah. Ayah bertekat kuat agar menjadi pengusaha properti ternama.

Dalam perjalanan berbisnis banyak kendala. Termasuk kendala permodalan, maka M. Alwi membernikan diri meminjam ke Bank. Uang nekat tersebut lantas digunakan dengan penuh kepercayaan diri. Akhirnya dia mencapai apa visi mereka berwirausaha.

Hidup Anha telah melihat perjalanan penjang mereka. Maka gadis kelahiran 26 September 1990 asal Bone, Sulawesi Selatan ini, serta merta terjun berbisnis properti lewat usaha ini. Anak pertama dari tiga bersaudara terlahir di keluarga penuh jiwa kewirausahaan.

Ia masih melihat banyak potensi dapat digali lebih. Sebagai anak muda tentu darah mudanya mengalir, juga daya pandang jauh melalui aneka inovasi.

Berbisnis bersama


Dia ikut nimbrung dalam perjalanan. Tetapi bukan tanpa ketidak tahuan. Sejak kecil dia sudah mendapatkan pengetahuan sejak kecil. Kini, Anha sendiri masih berstatus mahasiswi Kedokteran Universitas Hassanudin. Lainnya, ia juga memegang peran sebagai Direktur Utama di perusahaan.

Pengetahuan akan wirausaha modern membawa kemajuan. Ia memiliki strategi sendiri dalam hal bagaimana meningkatkan loyalitas. Sentuhan dalam sistem organisasi yang tidak didapat dari ayahnya. Strategi dalam hal pengembangan properti yakni meneropong lebih dalam.

Maksudnya ialah dia mencari tempat dengan sedikit pesaing. Disana dia juga melihat jumlah keramaian, jadi ia membidik tempat strategis, mengembangkan, dan memanfaatkan mobilitas. Anha termasuk memperhatikan soal akses kendaraan umum. Lingkungan yang nyaman, maka ia tinggal menggaet investor masuk kesana.

Fokus gadis bergelar Hajah ini ekpansi ke kawasan Sulawesi Selatan, juga kawasan Bombana dan Palopo. Proyek dikerjakan PT. Harfana Halim Indah, diantara lain BTN Harfana Halim Indah Permai, BTN Alam Indah Permai, Bomana Indah Permai, Perumnas Tibojong Indah Permai dan Palopo Harfana Indah Permai.

Anha memang membidik kawasan Sulawesi, bahkan ke Sulawesi lain seperti Sulawesi Tenggara dan Tengah. Menjadi pengusaha tidak berarti harus memiliki pendidikan ekonomi. Sosok ayah dan Harfana Alwi mampu menunjukan siapapun bisa menjadi pengusaha.

Berprilaku bijak dalam menjalankan bisnis keluarga penting. Ingatlah selalu visi orang tua ketika memulai membangun bisnis tersebut. Waktu masuk keluarkan segenap pengetahuan kamu disana. Ayah Anha menjadi sosok penutan karena mampu menularkan kewirausahaan. Jadilah sosok yang selalu memilik passion agar menular.

Pembatik Tulis Purbalingga Belajar Secara Otodidak

Profil Pengusaha Yoga Prabowo 


 
Nama Yoga Prabowo harum menjadi pembatik tulis termuda. Ternyata dirunut, perjalanan hidupnya panjang loh, mulai dari menjadi pegawai pabrik kayu di Desa Toyareka, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga, pada 2006. Dia lantas tak melanjutkan bekerja karena perusahaan krisis dan memilih keluar.

Menurut cerita bahwa pabrik labil. Alhasil pegawai diliburkan tanpa keterangan. Pegawai termasuk Yoga juga lebih sering tidak digaji. Yoga keluar dari pabrik kayu di tahun 2007. Pemuda kelahiran 17 Mei 1984 ini lantas bekerja sampai ke Bali.

Usut- punya usut disana dia bekerja sebagai penajag outlet. Dan ketika terjadi kejadian bom bali, makalah hilang sudah pekerjaan Yoga kembali. Dia lantas pulang tetapi mampir di Yogyakarta. Sambil bekerja pada sebuah perusahaan pembuatan batik; Yoga sempat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi seni di Kota Yogya.

Disanalah, di Yogyakarta, pemuda asli Purbalingga meniatkan belajar batik. Motif ditekuninya adalah motif khas Purbalingga. Meski berhasil belajar "mbatik" motif Purbalingga secara otodidak, Yoga nyatanya malah jadi kebingungan bagaimana menjual.

Terkoneksi jaringan


"Saat itu saya bingung bagaimana mempromosikannya, maka saya hubungi teman saya di Semarang untuk titip batik Purbalingga," tuturnya. Nah, disanalah hanya dalam seminggu saja, Batik Purbalinggan karya Yoga mendapatkan pesanan dari Disperindag Semarang.

Lalu munculah Batik Tirtamas, dimana pesanan pertama datang dari kalangan dinas, khususnya Yoga lantas menjelaskan dari Desperindag Provinsi Jawa Tengah. Mereka pemasannya adalah Indra Hanafi dan Mukti Sarjono (Desperindag Tekstil) dan dari Staff Kementrian Perindustrian & Perdagangan, Tobing berminat.

Bahkan Tobing menyebut usaha dilakukan Yoga sangat hebat. Kalau saja ini dijual ke luar negeri maka akan laku keras. Akan tetapi Yoga sadar betul usaha batik tulisnya masih dalam proses berkembang; dia belum sanggup persyaratan berkas kwitansi dan lain- lain.

Perjalanan batik Purbalingga buatan Yoga unik. Ketika Pemprov Jawa Tengah membeli batik di Semarang, lalu mengadakan pertemuan dengan Pemkab Purbalingga, nama Yoga Prabowo terkenal seketika.

"...saat kunjungan kerja Pemprov menggunakan batik buatan saya yang dibelinya di Semarang lalu beliau meminta oleh- oleh batik yang coraknya seperti Batik yang dipakainya saat itu," jelas Yoga.

Nah, ketika itu, Yoga memberikan satu kodi Batik Tirtamas, yang lantas tersisa cuma empat sisanya malah dibeli oleh Bupati Prubalingga Bpk. Triyono. Lantas serta merta dia bertanya kepada Pemkab kenapa ada pengusaha seperti dia tidak ada yang sadar. Justru pemerintah Provinsi lebih tau ketimbang Pemkab sendiri.

Semenjak kejadian tersebut semua kepala dinas dikumpulkan. Mereka kemudian diminta membantu Yoga agar bisa mengembangkan batik Purbalingga.

Koneksi internet


Kelebihan Yoga ialah dia pembatik tulis. Dia bekerja lewat rasa serta estetika lebih kuat. Menjadi jutawan muda berkat batik Purbalingga. Warna alami memberikan efek terbaik serta terlihat elegan, eksotis, dan juga mewah. Batiknya diminati oleh kolektor batik tulis berbagai kota di Indonesia.

Ia menyebut ada kulit kayu, daging kayu, bunga serta dedaunan. Oleh karena itulah dia memilih Yogyakarta menjadi basis usaha. Menurutnya batik Yogya banyak memanfaatkan alam jadi cocok. Untuk penjualan juga melalui sosial media, website atau blog, jadilah batik kian laris manis.

Dia menjual antara Rp.300 ribu sampai Rp.3 juta. Awal mengenal internet sendiri berawal dari akun pribadi yang kemudian berkembang. Dari sekedar mengisi waktu luang, sembari itulah dia berjualan batik buatan dia sendiri. Pelanggan tetap batik Tirtamas sendiri datang dari luar Jawa. Melalui sosmed saja menyumbang 40% penjualan.

"...lumayan besar," ujar Alumni Angkatan 96', Jurusan Pariwisata dan Perhotelan di Akademi Pariwisata Yogyakarta.

Yoga juga bersyukur berkat adanya jasa paket terintegrasi teknologi. Penggunaan jasa pengiriman sudah jadi kebutuhan bagi bisnisnya. Para pelanggan pun menuntut pengiriman cepat khusus ke luar Jawa. Tidak sedikit permintaan datang dari tempat pedalaman seperti di Kalimantan; ia menggunakan jasa kargo yaitu JNE.

Menurutnya infrastruktur di daerah sekarang ini sudah lebih baik. Pengiriman dapat diandalkan, sementara ia dengan santainya memajang hasil karyanya di internet. Meskipun sukses berkat sosial media, ternyata ada juga sisi negatifnya, yakni perlindungan akan desain miliknya.

Ini dirasakan betul olehnya. Ekslusipan motif batiknya menjadi kritis. Siapa saja, bahkan bukan pembeli, bisa saja mengakses hasil karyanya. Tidak bisa dipungkiri karyanya dijiplak dan diproduksi masal. Pernah sih ia berpikir mematenkan motif, hanya mematenkan berarti mengeluarkan biaya tidak sedikit.

"Karena mematenkan satu biayanya sampai Rp.2 jutaan," jelas Yoga, yang kini sudah berkeluarga dan sudah punya anak dua.

Hingga Yoga sekarang lebih selektif hal menerima pesanan. Ia melihat sendiri mereka yang mengunjungi akun media sosial miliknya. Dia memberikan kontak BB atau nomor telepon buat mereka yang beritikad baik. Ia menyebutkan kalau pembeli serius akan langsung mengontak. "Dari situ baru saya tampilkan batik- batik saya."

Survei Online Untung Berkat Bekerja Bersama

Profil Pengusaha Ryan Smith



Bisnis survei online itu mudah. Kamu tinggal mencari orang, lakukan survei, lalu menjual informasi tersebut ke para pemilik usaha besar. "Itu semuanya apa survei itu sendiri -itu merupakan wujud komponen analisis," jelasnya, Ryan Smith, CEO perusahaan paling menjanjikan di Amerika, Qualtrics.

Ia merupakan salah satu nama besar di bisnis survei online. Ryan sebenarnya mendirikan perusahaan sejak 2002, bersama sang ayah tapi tidak menemukan investor manapun selama dekade. Hingga Qualtrics lahir memanfaatkan booming era digital. Dimana perusahaan menghasilkan pendapatan sendiri senilai $50 juta.

Menurut cerita Ryan lewat Techcrunch. Dia mengatakan perjalanan panjang memodali sendiri lumayan asik. Ryan menceritakan bagaimana mereka datang ke pameran. Termasuk mencari tau bagaimana agar tidak ikut membayar masuk.

"Itu tertanam di DNA bahwa mereka sebenarnya menjalankan bisnis kuat," ujar Bryan Schreir dari Sequoia Capital. Dari sana melalui tekanan kuat, keterpaksaan (kepepet.red), mereka menjadi lebih kreatif dalam hal melihat kesempatan.

Termasuk memfokuskan diri dulu dibidang pendidikan. Selama tiga tahun, Qualtrics bertahan membangun diri bersama prospek bidang pendidikan. Bayangkan seorang Sarjana S3 mendatangi kamu, menjadi satu dari ribuan pelanggan selanjutnya, memintaan bantuan bagaimana mengadakan penelitian lewat survei.

Tidak mudah karena anak sekolahan selalui meminta upah. Mereka susah diajak kerja sama. Dimana ketika kamu mengadakan survei tradisional: Mereka akan fokus di tempat lain ketika pertanyaan pertama datang. Qualtrics memberikan aspek pemikiran tersebut, berpindah dari pendidikan menjual survei kepada pebisnis.

Survei sekolah


Mereka menjual kecil- kecilan. Sebagai perusahaan software apa yang mereka dapat kecil. Hanya saja, Ryan memiliki kepandaian dalam hal mengatur keuangan. Fakta kakak tertuanya, Jared, merupakan nama besar di teknologi -menjadi teknikal operator Google China- yang lantas ikut terjun bersama Ryan menjadi teknisi.

Lalu ayahnya merupakan profesor marketing di BYU's School of Business. Maka sang ayah, Sam Smith, jadi tumpuan Qualitrics masuk ke pendidikan. "Kami masuk ke Universitas bisnis dimanapun kami mau," jelas Ryan. Para mahasiswa marketing lantas membeli Qualtrics ketika mereka sudah diterima di perusahaan.

Salah satu klien yang bangga menggunakan software ini adalah JetBlue. Mereka kesulitan untuk mengukur opini konsumen soal penerbangan pribadi, dibanding sebagai perusahaan. Untuk inilah pendekatan online jadi krusial bagi Qualtrics mengangkat feedback dari penumpang JetBlue.

Bagaimana mengukur jam berapa penumpang berangkat ke Philadelphia, dimana selalu saja ada kesulitan ya karena banyak orang sibuk. Mereka selalu kepepet untuk mendapatkan kopi pagi. Maka perusahaan seperti JetBlue diharapkan mampu memberikan kopi gratis dan donat. Fleksibilita menjadi andalah dari software survei ini.

JetBlue sendiri pernah mengalami pengalaman buruk. Maka CEO JetBlue, Kyle Groff, kembali ke masa dia menggunakan software Qualtrics. Dia ingat betul menggunakan software familiar tersebut ketika lulu kuliah. Dan inilah kelebihan perusahaan yang telah membangun nama dari kecil.

Ryan sendiri mengaku permodalan panjang dibagi dua. Dia dan sang ayah, membagi keuangan sebanyak 50- 50, jadi keduanya lantas bekerja sama menjadi tim solid. Sebagai keluarga mereka memiliki visi sama akan software survei sekarang dan mendatang.

"Kamu harus seperti orang buta, makan apapun yang kamu bunuh (usahakan.red)," ujar Ryan.

Pertumbuhan pendapatan naik sejalan berbagai perbaikan. Qualtrics mengaku mengantongi 6.000 pengguna dan 550 pegawai bekerja bersama. Perusahaan asal Utah, Amerika Serikat ini, baru- baru saja membuka kantor di Dublin, menjadi yang selanjutnya dari kantor di Sydney, Seattle, dan Washington DC.

Dan Ryan menolak tawaran pembelian perusahaan senilai $500 juta, waktu itu, dia sudah berumur 33 tahun selama satu dekade menjalankan usaha tanpa bantuan investasi.

Kerja seimbang


Bagaimana menolak uang sebanyak itu?

Mungkin suatu saat, kamu akan menjadi pemilik sebuah perusahaan, dan ada orang yang berminat membeli perusahaan kamu. Maka Ryan Smith memberikan pencerahan bagaimana agar tetap bertahan bekerja tanpa berputus asa -jadilah seimbang antara kerja dan keluarga. Ia ingat bagaimana dia berkonsultasi bersama istri.

Jumlah segitu lebih banyak dibanding apa yang dihasilkan perusahaan. Lebih besar dibanding pendapatannya ketika itu menjalankan perusahaan. Dalam waktu 30 detik sebelum memutuskan, dia dan istri berbalik arah dan menolak menjual. Alasannya simple karena menganggap bisnis ini adalah bagian dari keluarga mereka.

Selama satu dekade mereka telah bekerja untuk perusahaan. Dia sudah nyaman menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga. Menjadi entrepreneur bukanlah masalah dalam keluarga mereka; sudah kebal soal masalah itu sendiri. Menjadi perusahaan prifat berarti semua modal merupakan hasil pembiayaan sendiri, ini susah sekali.

Satu keluarga sepakat membuat usaha Ryan tetap menjadi perusahaan keluarga. Itu tidak mudah menjadikan dia sukses di keluarga dan pekerjaan. Bagaimana dia tetap kompak dengan ayah dan saudara laki- lakinya. Ini bukan soal pendapatan minim mendadak kaya seketika; ini soal kerja bersama penuh kegembiraan.

Menjadi pengusaha sekaligus kepala keluarga sangat liar. Seperti pesawat yang bisa berubah arah seketika, ia harus mengetahui arah angin, maka dibutuhkan satu orang sebagai kemudi keluarga. Dan lainnya akan jadi bagian sistem pesawat. Kembali ke rumah dan menghabiskan weekend bersama anak, esoknya Ryan harus bersiap.

Ketika seseorang bertanya tentang tanggung jawabnya. Maka dia menjelaskan:

1. Seorang suami
2. Seorang ayah
3. Seorang anak laki- laki
4. CEO
5. Atasan
6. Saudara
7. Seorang cucu
8. Seorang teman

Dia mencatat jika dia membawa sang istri berkencan dan membawakan bunga banyak, menjadkan rasanya dia itu seperti suami baik. Dan jika dia mengajari putri kecilnya cara menaiki sepeda, dia menjadi sosok ayah yang lebih baik.

Berbeda dengan pengusaha yang hanya usaha, memiliki rencana masa depan tahunan adalah kelebihan. Tapi pengusaha sekaligus family man seperti dirinya butuh rencana mingguan. Dia mencatat semua hal bagaimana agar menjadi seimbang antara bisnis dan keluarga.

Pekerjaan mingguan Ryan adalah:

1. Sebagai suami -mengajak istri makan malam dan memberi bunga
2. Sebagai ayah -mengajar putrinya naik sepeda
3. Sebagai anak -mengunjungi orang tua. Menggabungkan poin 2 & 3

Ryan sadar bahwa orang akan berencana satu fase hidup. Tetapi dia memilih mebuat berbagai fase rencana jangka pendek. Karena menurutnya orang seperti -merencanakan saty fase hidup- akan jadi lupa langkahnya bagaimana mencapai tujuan utamanya, bahkan kalau sudah tercapai mereka bingun apa lagi selanjutnya.

Sepatu Kulit Batik Kulkith Agnes Tandia

Profil Pengusaha Agnes Tandia 


 
Jadi pengusaha tidak harus mahal. Di usia 22 tahun, Agnes Tandia sukses berbisnis padahal bermodal cuma Rp.300 juta. Dia bercerita awal memulai dari mencoba- coba. Keisengan membuat jaket kain batik ternyata berbuah usaha. Jaket tersebut dipakai ke kampus dan akhirnya teman- teman mulai menanyakan dia.

Kebetulan dia berkuliah Jurusan Kriya Tekstil Seni Rupa, Ilmu Teknologi Bandung (ITB), tahun 2008. Maka tak salah jika ide bisnis menjurus ke kain perca. Jika kain batik tulis makin lama makin mahal. Lantas apa kabar sisanya, cuma menjadi tumpukan limbah.

Agnes mencoba mengangkatnya kembali. Semenjak jaket batik tersebut dibawa, banyak teman yang tertarik untuk membeli. Pesanan sangat banyak bagi Agnes mencapai 100 buah, memakain uang modal tiga ratusan ribu. "Omzet pertama jaket saya mencapai Rp.3 juta sebulan," kenangnya.

Bisnis batik unik


Ditemui di toko batik miliknya, bilangan Sukamulaya, Bandung, maka Agnes bercerita kembali tentang apa perjalanan bisnisnya. Bermodal sedaanya dibuatlah empat jaket. Itu langsung ludes hingga uang untung dapat diputar kembali. Melihat kain perca batik menumpuk ide lain muncul, termasuk membuat sepatu batik.

Di tahun 2009, Agnes memamerkan sepatu batik tersebut ke ajang Inacraft. Respon positif kembali nampak dihadapannya. Waktu itu padahal cuma "nebeng" stand milik kakak kelas. "Saya juga menitipkan kartu nama sebanyak mungkin."

Ketika itu usia Agens masih 19 tahun. Sukses berbisnis jaket melebarkan sayap ke sepatu batik. Berbeda di jaket yang batik kesemuanya. Sepatu Agnes memakai sistem menaruh perca diatas sepatu. Atau lapisan luar sepatu ditempeli batik sisa produksi jaket. 

Semakin banyak peminat, Agnes merespon hal itu lewat menamai usahanya Kulkith. Lewat ajang pameran Incraft di Jakarta Convention Center (JCC), usahanya makin dikenal oleh publik dan batik Kulkith mampu mengantungi Rp.8 juta. Padahal modalnya membawa sepatu dua lusin ke Inacraft cuma Rp.2 juta.

Agnes makin mantap saja bahwa batik merupakan passion. "Dari dua lusin saya bawa, yang tersisa hanya lima pasang," lanjut Agnes. Terobosan terbaru dilakukan olehnya meliputi sandal batik, dan juga sepatu kulit berlapis kain batik.

Sepasang sepatu dibandrol Rp.325.000 ketika di Inacraft. Dengan entengnya dia mengaku "pasrah" kalau laku ya bersyukur tetapi kalau tidak, ya tidak apa- apa. Karena memang kala itu, ia sudah dikenal sebagai seorang pengusaha jaket batik. Begitu sepatu batik laku keras maka dia meninggalkan usaha membuat jaket.

Alasan utama karena respon pasar lebih kuat. Untuk menambah jenis sepatu digunakan berbagai referensi termasuk melalui internet.

Ya karena modal terbatas maka Agnes juga menjual di internet. Berbagai cara pemasaran dilakukan olehnya. Yang paling mengena ialah melalui perantara fashion blogger. Nama Diana Rikasari dijadikan brand booster melalui review. Dia mulai menjelaskan detail produknya ke Diana Rikasari. "...dia pakai dan dia review di blog."

Bisnis online


Tujuan usaha tidak selalu soal untung. Satu hal ingin dicapainya ialah menjadi trend setter yakni bagaimana ia mengajak kaum muda mencintai batik. Memang dulu batik terkenal tua tidak cocok dipakai dikesempatan di luar formal.

Langkah pertama ialah lewat membuat jaket batik. Bermodal minim target pasar cuma sebatas teman- teman di kampus. Agnes dengan bangga memakai jaket buatan sendiri. Jaket dengan capuchon dua sisi yang bisa dipakai bergantian. Ini dipakai sebagai tes pasar juga bagaimana tanggapan anak muda.

Agnes melihat disana ada peluang bagi pasar anak muda. Sukses membuat batik, limbahnya tercecer, maka kain perca tersebut dijadikan sepatu juga sandal. Limbah batik dari hasil produksi jaket memang terbilang banyak menumpuk. Dia memilih sandal serta sepatu karena kebutuhan batik tidak banyak.

Untung karena dia berada di Bandung, maka tidak sulit dia menemukan penjahit ahli. Sebagai wanita maka ia termasuk mengikuti trend; disaat musim model Gladiator maka dia ikut, musim flat shoes maka batik Kulkith tidak ketinggalan.

Dia tidak sulit mendapatkan penjahit bagus. Ditambah bekal ilmu dari kampus, serta pandangan kedepan akan batik menjadikan Agnes sang juara. Perpaduan antara estetik corak batik dan kulit sintetis. Soal bahan baku dikatakan Agnes mudah didapat. Bahan batik sendiri terbilang lengkap, dari Pekalongan, Cirebon, Solo.

"...Yogyakarta. Malah sampai kain tenun ikat pun ada," Agnes menjelaskan. Karena saking cinta akan batik, ketika bepergian dia sempatkan membeli batik di daerah.

Disaat bersamaan kemajuan sosial media mendukung. Selain melalui perantara fashion blogger, yang sudah punya banyak follower setia. Usaha lain dilakukan Agnes yaitu melalui Facebook. Waktu itu semua orang berlomba bersosial lewat Facebook. Berbeda dia malah menjadikan Facebook tempat dia berjualan.

Jangkauan Kulikith meluas layakan sosial media. Ia mampu merambah Malaysia dan Belanda. Tahun 2009 juga dia mengirim lima lusin ke Belanda. Target pasar sendiri dia memilih memproduksi cuma sepatu batik wanita. Pasalnya menurut Agnes wanita lebih peka soal desain.

Setiap bulan dia merilis tiga desain baru sesuai trend. Harga juga disesuaikan tidak terlalu mahal, tidak terlalu berat di kantong wanita. "Jika harganya murah, mereka akan sering berbelanja," lanjut Agnes. Meski murah dia tetap fokus akan menjaga kualitas bahan. Lanjut yaitu pemilihan corak batik yang cocok buat sepatu.

Keluhan datang justru masalah tenaga kerja berkualitas. Utamanya dibidang desain, dibutuhkan kreatifitas yang tinggi untuk bisnis tersebut.

Langkah ke depan


Kini dia mampu menggaji empat orang karyawan. Penjualan naik menjadi 300 pasang per- bulan cuma lewat sosial media. Agnes juga aktif mengikuti aneka pameran kewirausahaan. Agnes lantas merintis bisnis offline store merekrut saudara serta teman. Juga termasuk toko di Bali, Agnes masih mantap membesarkan usaha ini.

Kalau permintaan naik seperti kala Lebaran, Agnes mengakali lewat mengajak pegawai tambahan. Semakin hari nama Batik Kulkith semakin terkenal. Soal ekspor belum sampai kesana, karena diakui olehnya masih sukar soal perijinan ditambah masih ada keluhan di pembeli lokal.

Masalah seperti gambar tidak seperti sepatu dibeli. Hal lain masih berputar dalam hal ukuran sepatu. Tidak sampai menurunkan omzet sih. Namun hal kecil tidak dia nafikan, justru semakin diminimalisir agar usahanya makin ke depan. Agnes lalu memperbaiki sistem menejemen bisnis Batik Kulkith.

Agnes juga bereksperimen melalui aneka macam akesesoris. Masih diarea yang dia senangi yakni kain batik. Kenapa mengambil batik? Karena Agnes mencintai batik. Jika biasanya batik dipakai di acara pernikahan, maka ditangannya batik menjadi fashionable, bisa dipakai kapan saja. Tidak perlu ada acara khusus buat batik.

Meski membuat produk lain seperti membuat jaket kembali. Nama Kulkith kadung dikonotasikan sebagai brand sepatu batik. Ia tidak menolak kenyataan ini. Meski begitu menjadi bukti bahwa brand -nya kena di hati masyarakat luas. Namun persaingan semakin ketat membuat Agnes harus siap selalu berkreasi lagi.

Produk batik semakin banyak. Tidak sedikit meniru desain diluncurkan Kulkith. Agar bisa bertahan dia pilih memiliki identitas tertentu. Ciri pada produknya dianggap penting. Meski sama sepatu batik tetapi fitur yang dihadirkan berbeda. "Intinya kita harus terus melakukan inovasi," tambahnya.

Tukang Sayur Ganteng Kaya Berkat Ketekunan

Profil Pengusaha Samsul Arifin 



Mahasiswa ini tidak malu harus berjualan sayur. Samsul Arifin menyatakan bahwa dia berjualan karena ingin membiayai kuliah. Memulai usaha bermodal seadanya. Namun, berkat kegigihan, ia kini menghasilkan omzet mencapai omzet Rp.6 juta.

Ia pedagang di Pasar Blok A Jakarta Selatan. Sambil berjualan sayur kuliah tetap dijalankan. Dia adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Professor DR Hamka, sambil menyambi menjadi tukang sayur. Ketika ditemui pewarta, ternyata dia masih berumur 24 tahun sudah nekat berbisnis.

Meski dinilai orang usaha sepele. Faktanya menghasilkan uang lebih dari yang dibayangkan. Bahkan oleh dia sendiri ketika menjalankan usaha tersebut. Meski terlihat riang sudah banyak masa sulit dilalui dulu.

Bermodal Rp.1 juta, uang tersebut digunakan untuk membeli sayur langsung dari petani. Dimulai sekitar 6 tahun jadi bukan serta- merta sukses seketika. "...sekarang usia saya 24 tahun," tutur Samsul. Waktu dirinya memulai masih berumur 20 tahunan.

"Awal dagang buat menutup uang kuliah," tutur dia. Omzet usaha dari gerai kecil tersebut naik sampai jadi Rp.180 juta per- bulan. "Kalau 1 bulan dihitung saja sendiri," ucap dia kembali.

Cara membeli sayur langsung ke petani memang lebih baik. Harga didapatkan pun lebih baik dibanding dia membeli di pasar dan dijual kembali. Benar- benar sayur segar didapatkan Samsul. Berkat ketukanan maka ia mampu menaikan gerai kecil di Blok A tersebut jadi berjaya.

Bahkan usahanya sudah menjadi dua. Dia tidak cuma punya gerai di Pasar Blok A Jakarta Selatan, tetapi juga di Pasar Induk Kramat Jati. Untuk di Blok A mempekerjakan 5 orang karyawan membantu. Di Pasar Kramat Jati dijaga dua orang.

Tidak cuma kuliah


Berkat usaha tersebut tidak cuma berkuliah. Dia bahkan membangunkan rumah buat ibu tercinta. Dari dia berjualan sayur bisa kuliah, beli mobi, beli motor, tanah, "...bangunin ibu rumah," tutur Samsul senang. "...dan mudah- mudahan untuk biaya kuliah," senangnya lagi.

Dia tidak muluk soal bisnisnya sekarang. Samsul cuma berharap pemerintah mampu menstabilkan harga. Ia berharap pertumbuhan ekonomi serta stabilitas keamanan. Layaknya mahasiswa, dia rajin mengamati setiap kebijakan dikeluarkan pemerintah.

Kalau aturan konsisten pastilah nasib pedagang akan tetap hidup. Samsul pun mengajak kita agar tidak malu menjadi apapun. "Jangan takut enggak punya modal, kalau mau usaha pasti ada jalan," Samsul menyarankan.

Dikesempatan lain, pemudah yang pernah diliput khusus oleh Detik.com, menceritakan kembali kisah sukses milikinya. Dikesempatan tersebut diceritakan oleh jurnalis warga Kompasiana -oleh Max Andrew Ohandi, maxandrew.com- Samsul tengah menghandiri acara bersama pedagang kecilan di Koperasi Sejahtera.

Telisik, ternyata usaha jualan sayur bukan hal baru, dia melanjutkan usaha kecil- kecilan orang tua dulu. Tapi usaha tersebut disebutnya hampir bangkrut. Untuk membangkitkan usaha itu, ia meminjam uang saudaranya sebesar Rp.1 juta. Tahun 2008, lebih tepatnya dia berhutang sekitar Rp.957 ribu, dibelikan beberapa peti sayuran.

"Saya pun gigih menjual sedikit demi sedikit peti sayuran tersebut dengan satu jenis sayuran saja," Samsul menceritakan kembali. Yah awalnya dia cuma menjual satu macam sayur yang dirasanya paling laku.

Dari untung dikumpulkan dibelikan kelengkapan sayur lainnya. Telaten Samsul memutarkan uang kembali tidak dipakai kepentingan pribadi. Hingga akhirnya mampu membeli beberapa peti sayur berbeda. Lalu dari sana muncul pertanyaan dari seorang wanita bernama Ibu Rumiyanti, seorang pedagang sayur juga.

Pertanyaan bagaimana menambah pelanggan dan tanggapan Samsul tentang harga cabe tinggi. Maka Samsul menjawab langsung yakni lewat pricelist. Maksudnya dia akan mensurvei dulu, membagikan harga sayuran dijualnya ke pemilik warung atau warteg. Melalui strategi tersebut sukses menjawab pertanyaan pertama dari si Ibu.

Untuk pertanyaan kedua, tanggapan Samsul tentang harga cabai naik- turun, dia menyarankan penjual sayur agar lebih bersabar mengamati harga. Ketika harga naik tinggi namun tiba- tiba turun drastis. Jangan langsung diturunkan. Samsul menyarankan tunggu 3 atau 4 hari apakah harga benar turun.

Kalau harga tiba- tiba naik lagi, maka mau- tidak mau pedagang menjual lebih mahal. Akibatnya konsumen jadi ilfil atau kecewa akan keadaan harga. "Oleh sebab itu harus ada jarak menaikan harga atau menurunkan harga," saran Samsul.

Sebagai penutup dia menceritkana kisah seorang Bapak yang kios sayurnya terbakar. Sang bapak akhirnya memilih melamar kerja di Supermarket tetapi ditolak. Lantaran bapak itu tidak memiliki email. Maka, suatu hari, dia mencoba membeli 4 peti sayur untuk dijual. Hasilnya mengejutkan dia bangkit berhasil mendapat untung.

Sampai suatu ketika seseorang mau menjadi pelanggan tetap. Si bapak mengiyakan ajakan kerja sama itu. "Baiklah nanti kita bicarakan lewat email lengkapnya ya pak," ujar pelanggan itu. Lalu ia menjawab tidak punya email. Pelanggan lantas menyaut, "apa bapak tidak punya email? sedangkan bapak tidak punya email saja sukses."

"KALAU SAYA PUNYA EMAIL SAYA AKAN MENJADI PEGAWAI SUPERMARKET," jawabnya, yang penulis simpulkan kesuksesan terkadang hadir dari ketidak mampuan. Usaha apapun kalau kamu mau menseriusi maka akan menghasilkan nilai.

Wirausaha Tanpa Usaha Kisah Dapur Tulis

Profil Pengusaha Agoeng Widyatmoko 



Gara- gara diPHK perusahaan, hidup Agoeng Widyatmoko berubah 180 derajat. Beruntung bekal jurnalistik itu mampu dia gali kembali. Jika kebanyakan orang akan mencari kerja. Maka Agoeng lebih memilih menulis buku. Dia terbilang nekat tidak mau bekerja lagi. Padahal uang pesangon cuma cukup buat beberapa bulan saja.

Lelaki kelahiran Yogyakarta memilih berwirausaha. Selepas dia diberhentikan oleh perusahaan media tempat dia bekerja sebelumnya.

Wirausaha tanpa usaha


Menjadi penulis dirasa tepat menjadi langkah awal. Berwirausaha tidak melulu menghasilkan produk untuk konsumsi. Namun, membangun bisnis apapun jenisnya, pastia akan menemui kesukaran begitupula Agoeng merasakan. Dimulailah rancangan tulisan atau portfolio karangan, lalu Agoeng segera menulis dalam bentuk buku.

Hanya ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Buku pertama miliknya gagal di pasaran. Agoeng tak patah arang mencoba. Buku pertama diterbitkan di tahun 2005, berjudul "Cara Jitu untuk Mendapatkan Kredit di Bank -Panduan untuk UMK". 

Menarik bukan?

Fakta bahwa dia tidak pernah berwirausaha tidak diketahui. Ia nekat menulis buku tersebut dan gagal. Buku kedua juga bertema kewirausahaan, pada 2006, Agoeng meluncurkan buku ke dua langsung meledak. Buku yang berjudul "100 Peluang Usaha" tersebut, lantas sukses besar menjadi best seller.

Waktu itu dia bertemu momen tepat karena belum sebanyak sekarang. Kalau sekarang kamu tingga buka di internet akan berjejer aneka buku kewirausahaan. Sukses buku tersebut bahkan diminta cetak tujuh kali. Ia pun lantas diundang menjadi pembicara wirausaha.

"Ada yang bertanya, dari 100 peluang itu, saya sudah coba usaha apa aja?" kenang Agoeng. Seolah sadar bahwa dia butuhkan lebih dari sekedar menulis tetapi mempraktikan.

Semenjak menikah dengan Anita Marfi, tahun 2007 menjadi titik baliknya masuk ke dunia wirausaha yang sesungguhnya. Dia bersama istri lantas membuka jasa penulisan bernama DapurTulis. Istrinya sendiri bahkan rela keluar dari pekerjaan untuk berjualan. Sedangkan Agoeng bertugas sebagai pengontrol kualitas tulisan.

Pada masa itu memang masih belum banyak jasa penulisan. Untuk mendapatkan klien, Agoeng rela berjalan jauh mencari klien. Mereka harus kemana- mana menjajakan layanan. Jasa paling banyak diminta dari klien adalah jasa pembuatan annual report, buku biografi, atau juga mengisikan situs perusahaan atau perorangan.

Usaha tersebut dijalankan bermodal rumah kontrakan sepetak. Di rumah tersebut tempatnya sempit, tidak memungkinkan ia mengajak klien ke rumah. Justru dari tempat tersebut, pasangan suami- istri ini, sepakat untuk saling menghibur dalam keterbatasan.

Keseriusan berkah


Serius mengerjakan bisnis jasa penulisan. Dari sekian puluh klien ditemui, maka datanglah klien pertama dari rekomendasi teman sang istri. Inilah menjadi titik bangkitnya usaha mereka. Cuma bermodal obrolan ringan di kampus Depok.

"Pertama dapat klien Alhamdulillah langsung disuruh ngisi konten website lembaga wisata internasional, Singapore Tourism Board" terangnya.

Menjadi klien pertama sekaligus membuka referensi pekerjaan sejenis. Agoeng mulai mendapat pekerjaan lebih banyak lagi. Mulai juga mengakat karyawan dan beberapa karyawan lepas. Usaha DapurTulis berjalan menjalankan beragam layanan jasa menulis.

Paling membanggakan ialah dua buku biografi yang sempat dia bantu, kemudian masuk serta dibahas khusus di acara Kick Andy.

Pencapaian tertinggi DapurTulis ketika diberikan kepercayaan pemerintah menangani yang namanya Annual Report ASEAN Secretariat, yang kemudian digunakan dalam pertemuan ASEAN Summit 2011 di Bali oleh Presiden Amerika, Barack Obama.

Berkat usaha jasa penulisan dirinya sekarang membangun rumah kantor di Depok, Jawa Barat. Menurutnya itu senilai nilai usahanya selama setahun setengah saja. Tetapi perlu ditekankan, namanya usaha berbasis kreatifitas sukar dihitung nominal. "Sebab, bisnis berbasis kreatifitas tidak ada patokan harganya," tuturnya.

Agar omzet tetap, Agoeng memilih menyasar LSM dan yayasan, disinalah pasar dianggapnya banyak serta itu memiliki nilai sosial. Sekarang tim DapurTulis aktif membagikan ilmu menulis, secara formal maupun lewat seminar, wujud lain yakni lewat lembaga pelatihan menulis.

Ia mengingkan orang semakin banyak paham soal nilai tulisan. Karya tulis merupakan mendidik, menjadi satu cara mewariskan ke anak cucu. "Bukan semata soal uang," tandasnya. Agoeng pun bersyukur karena pernah diphk, karena disanalah jiwa wirausahaanya menemukan tempat dan berkembang seperti sekarang.

Kunci sukses Agoeng, "...lakukan apa yang kita bisa semaksimal mungkin, pasti ada jalan."

17 Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes

Pengusaha Muda Indonesia



Anak muda Indonesia kembali mengharumkan nama Indonesia. Jika disana ada Ryo Haryanto, inilah tujuh belas anak muda mengharumkan nama Indonesia melalui entrepreneurship. Tidak tanggun- tanggung karena dari semua negara di Asia Tenggara, kita menyumbang paling banyak.

Dan uniknya, ketika menyabet hampir keseluruhan kategori, di setiap kategori ada pemuda- pemudi kita yang berusia dibawah 30 tahun. Seperti judulnya yaitu 30 Under 30 Forbes Asia. Ini merupakan satu ajang khusus penganugrahan bergengsi untuk entrepreneur dibawah 30 tahun. 

Selain daftar orang terkaya, majalah Forbes memang sedang getolnya memperhatikan Asia. Terutama ikut mengantisipasi lahirnya miliarder baru dunia.

Empat anak muda khusu di bidang tekonologi. Mereka, entrepreneur muda sukses berkat layanan aplikasi. Seperti Kevin Aluwi, salah satu pendiri sekaligus CFO -nya aplikasi Gojek; Benny Fajaria, salah satu pendiri Qlapa; Arief Widhiyasa, salah satu pendiri Agate Studio; Fery Unardi, salah satu pendiri sekaligus CEO Traveloka.

Uniknya, total ada 17 anak muda asli Indonesia, mereka merepresentasikan semangat perjuangan Indonesia sendiri, mereka merepresentasikan Hari Kemerdekaan kita. Inilah mereka:

Kategori Entertainment & Sport

1. Joey Alexander Sila, 12 tahun, Musisi

Arts

2. Helga Angeline Tjahjadi, 25 tahun, salah satu pendiri Burgreens

Retail & Ecommerce

1. Carline Darjanto, 28 tahun, Entrepreneur
2. Merrie Elizabeth, 28 tahun, CEO & Creative Director Blobar Salon
3. Yasa Paramita Singgih, 20 tahun, Pendiri & President Men's Republic
4. Ferry Unardi, 28 tahun, salah satu pendiri & CEO Traveloka

Finance & Venture Capital

1. Moses Lo, 27 tahun, Pendiri & CEO Xendit
2. Abraham Viktor, 23 tahun, salah satu Pendiri & CEO Taralite

Entreprise Tech

1. Abraham Ranardo, 25 tahun, salah satu Pendiri Mailbird

Consumer Tech

1. Kevin Aluwi, 29 tahun, salah satu Pendiri & CFO Gojek
2. Benny Fajarai, 25 tahun, salah satu Pendiri Qlapa dan Kreavi
3. Arief Widhiyasa, 28 tahun, salah satu Pendiri Agate Studio

Social Entrepreneur

1. Heni Sri Sundani Jaladara, 28 tahun, Pendiri Smart Farmer Kids In Action & AgroEdu Jampang Community
2. Muhammad Alfatih Timur, 24 tahun, salah satu Pendiri & CEO Kitabisa

Healthcare & Science

1. Mesty Ariotedjo, 28 tahun, salah satu Pendiri WeCare.co.id
2. Leonika Sari Njoto Boedioetomo, 22 tahun, Pendiri & CEO Reblood

Korban Lapindo Kuliahkan Anak Berkat Pepaya Calina

Profil Pengusaha M. Syifa 



Kisah korban lumpur Lapindo itu bernama M. Syifa. Disebutkan oleh pewarta Sidoardjonews.com, pria 54 tahun ini memang dikenal petani kuat. Pernah sekali ia membudidayakan buah blewah, itulah buah musiman yang rasanya segar dimakan. Sayangnya, keberuntungan belum dipihaknya jadi dia memilih usaha lain yang sejenis.

Dia seorang petani asal Desa Kandang RT 09 RW 05 Kec. Krumbung, Kabupaten Sidoarjo. Merupakan sosok petani ulet setiap hari bangun menaburi tanahnya dengan bibit blewah. Ia berharap menghasilkan buah yang berkualitas. Hanya tanah tersebut ternyata tidak cocok ditanami tanaman blewah hingga mati.

Sejak kecil ia memang menyukai bercocok tanam. Mulai blewah, mentimun emas, kegiatan bercocok tanam yang awalnya cuma sekedar mengisi waktu luang. Pria beranak delapan ini kesehariannya merupakan guru pengasuh santri. Sampai dia menjadi korban lumpur Lapindo yang menyesengsarakan hidup orang banyak.

Tetapi tidak mengurangi kegigihan bercocok tanam Syifa. Atas saran seorang temannya, ia lantas beralih ke bisnis pepaya, bercocok tanam pepaya Thailand

Diejek petani


Dia disarankan oleh teman menanam pepaya Thailan. Ia pun berangkat ke Trubus Surabaya membeli benih tersebut. Sayang pepaya Thailand tersebut ternyata tidak didapatkan. Lantas pemilik toko menyarankan dia bercocok tanam pepaya Kalifornia atau Calina.

Saran tersebut diikuti Syifa tanpa pikir panjang. Dibawalah benih pepaya Calina, yang katanya berasal dari negeri Amerika sana. Lima saset ditangan berisi dua puluha biji seharga Rp.30 ribu. Ia menaburkan benih itu ke tanah. Namun, sekali lagi kegagalan ditemui oleh Syifa, bedanya dia tetap ngotot.

Ia meyakini akan sukses. Jadi dia tidak memilih tanaman lain. Meyakini kegagalan diawal merupakan proses yang harus dilaluinya. Percaya akan insting, dia melanjutkan menanam pepaya Calina, "mungkin langkah awal saya untuk melatih kesabaran dan lebih mengenal tentang pertanian," imbuhnya.

Suami Nur Wasilan ini meyakini bahwa Allah pasti menjawab keseriusannya. Kegagal tidak dihitung, terus ia menanam sambil mencari informasi tentang tanaman tersebut. Bahkan dia membeli dua kali lipat dari jumlah bibit sebelumnya dibeli, yaitu sepuluh saset.

Total 200 biji disebar hanya menjadi saratus tiga puluh pohon. Itu saja masih ada pohon yang mati. Jadi dia cuma menghasilkan saratus dua puluh tujuh. Empat bulan berlalu dan pepaya akhirnya berbunga. Hingga ia sekarang menikmati buahnya dipetik. Dalam seminggu pepaya dipanen dua kali, sekali menghasilkan dua kintal.

Pernah sekali dalam proses menanam pepaya dia diejek. Lantaran harga pepaya murah di pasaran. Ngapain menanam pepaya kalau tak laku dijual. "Keuntungan didapat dari mana," kenang Syifa. Gagal dan omongan orang malah menjadi semangat dia menanam lebih banyak. Tanah seluas 1,7 hektar ditanami pepaya Calina semua.

Memang menanam pepaya tidak semudah omongan. Pepaya barulah akan mengeluarkan bunga setelah 6 bulan, setelah 8 bulan sudah tumbuh buah pepaya. Panen menghasilan dua kwintal dijual Rp.350 ribu. Dia menghasilkan omzet sekitar Rp.5,6 juta. Satu tahun minimal pemasukan sampai Rp.60 juta terangnya.

Berkat sabar


"Saya pun menyekolahkan anak- anak saya ke perguruan tinggi," tuturnya. Dalam proses pemasarannya juga tidak ribet. Dia yang kini sudah menjadi Pimpinan Anak Cabang Jam'iyattul Qurra' Wal Huffaz (JQH) NU, Kec. Kerumbung, mengaku pembeli malah datang sendiri. Tidak perlu lah jauh- jauh dia menjual ke pasar tradisional.

Meski begitu lagi- lagi omongan datang. Dia tetap yakin bahwa pepayanya tidak akan cuma dibeli kalangan sekitar.

"Nandhor kates piro kayane, nandhure yo suwe," ejek tetangga.

Alumni SMP N 1 Porong ini tetap bersikukuh budidaya pepaya. Hasil nyata ditunjukan Syifa lewat membeli mobil dan mampu menyekolahkan delapan anaknya. Karena dia memang menyukai bercocok tanam, maka dia tidak merasakan letih mengerjakan.

Dia terkadang dibantu istri dan anak ketika panen. Selain pepaya, dia merambah cabe, terong, dan melon di kebun di sela- sela pohon pepaya. Syifa juga menanam pepaya jenis merah delima dari Solok Sumatera, lalu pepaya Solinda dari Bangkok, Thailand.

Ekpansi bisnis Syifa termasuk memproduksi bibit sendiri. Lewat gelas plastik bekas air mineral ditaburi bibit hasil tanamannya. Akhirnya tetangga ikutan membeli bibit dan pelanggan juga membeli bibit. Mochamad Syifa menjual pepaya secara satu seharga Rp.6.000 sampai Rp.7.000, yang rasanya manis, atau datang ke rumahnya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba