Pengusaha Gian Pizza 100 Persen Mozzarella

Profil Pengusaha Gian Singh Sekhon 


pengusahapizza.png
 
Pengusaha Gian Pizza tidak serta merta sukses. Ada kisah Gian Singh Sekhon, pria asing yang lantas jatuh cinta dengan Indonesia dan menetap. Dia mantan teknisi sebuah perusahaan penerbangan Arab Saudi. 
 
Nah, dari pekerjaan di perusahaan Aerogulf inilah, ia terpaksa berpindah- pindah tempat tinggal. Hingga pekerjaan itu membawanya menetap cukup lama di Kanada.
 

Pengusaha Pizza

 
Disini lah, keahlian Gian dalam mengolah pizza krispi khas Kanada ini terbentuk. Kamu sudah merasakan enaknya Gian Pizza -kan? Kreasi Gian Pizza memang menggoda karena keringnya 100 persen terbebas minyak. 
 
Selain itu restoran Gian Pizza dibuat sederhana mungkin tidak seperti halnya restoran lain. Ia tinggal cukup lama di Kanada sekitar 7 tahun. Hobinya memasak membawanya berbisnis sendiri. Ia lantas membuka Bella Pizza disana. Usaha pertama tersebut ternyata mendapat sambutan positif. 
 
Hingga akhirnya, Gian harus berpindah lagi ke negara lain, dan kini giliranya untuk tinggal di Indonesia. "Saya pikir suatu hari saya harus buka resto disini," paparnya. 

Memulai bisnis dari nol tidak semudah dipikirkan. Sejak menetap di tahun 2000, baru empat tahun kemudian Gian bisa membuka restoran lagi. Sebelum berbisnis dirinya meminta ijin ke usaha Bella Pizza. "...mereka "no problem"," tutur Gian kepada Okezone.

Pertama kali dibuka langsung mengusung selogan pizza khas Kanada. Respon positif masyarakat pecinta pizza pun langung diterima. Pasalnya makanan ini memang berbeda dari pizza kebanyakan. Gian Pizza beda cita rasa dibanding kompetitornya mulai teksturnya. 
 
Pizza memiliki ketebalan sesuai, adonan wangi, serta ada keju mozarella berkualitas hingga saus resep rahasia. Makan pizza Kanada berarti tidak memakai pisau karena disana memang makanan rakyat. Kesan makanan mahal sudah tidak berasa sama sekali ketika kamu masuk ke outletnya. 
 
Enaknya Gian Pizza serta suasana inilah menjadi alasan pelanggan setia tumbuh. Untuk mereka yang tidak terbiasa tangan disiapkan pisau dan garpu ketika akan makan.

"Kami memasak pizza menggunakan teknik hand toast. Alatnya kami datangkan dari Kanada," jelas Afifah Sekhon, Direktur Gian Pizza.

Makan pakai tangan memang seolah menjadi aturan Gian Pizza. Tetapi tidak juga memaksa kita melakukan hal tersebut. Pizza Kanada mencerminkan kerakyatan dibanding pizza Italia. Dipastikan tidak adanya unsur minyak melekat di dough begitu tipis dan krispi ketika masak. 
 
Meski begitu masih berasa lembut tidak sangat kering seperti leker. Gian Sekhon memang bukan ahli kuliner. Tetapi kecintaanya dalam memasak pizza membawa jauh. Usaha ini dibuka pertama kali di kawasan Depok, Jawa Barat, di tahun 2004.
 

Rahasia Bisnis

 
Kualitas keju didatangkan dari luar agar benar- benar enak. Kemudian ditambah saus berbahan 11 rempah berbeda asli Kanada. "Sausnya kami buat home made, tidak ada ready made," jelas Afifah lagi.

Meski gerai kecil tetapi kejunya benar- benar 100 persen mozzarella. Roti bundar asal Italia ini lantas dikonsep jadi berbagai pizza negara lain. Mulai pizza Jerman berbendera Jerman dan bertoping sosis khas negara ini. 
 
Lalu ada pizza asli Italia bertoping standar keju mozzarella. Kemudian Gian Pizza juga mempunyai pizza Greek yang bertoping black olive dan fetta cheese khas Yunani.

Untuk khas Indonesia sendiri pernah dibuat pizza bakso. Sayangnya, kala itu, terasa masih asing terlalu cepat dirasa dikeluarkan sebagai menu utama. "Ke depan nanti, kami akan kembali membuatnya," jelas Afifah lagi.

Seiring berjalannya waktu sampai sekarang sudah memasuki tahun ke sepuluh. Gian Pizza masih konsisten dan bahkan berekspansi dari segi rasa dan menunya. 
 
Mereka punya lasagna, spageti, salad ayam dan tuna, cheese bread, chicken wings, garlic bread, bruschetta, salad buah, dan submarine. Nama submarine sendiri adalah yang terspesial dibanding lainnya.

Ini adalah roti home made berlapis- lapis beraneka toping. Menarik karena cuma disajikan di 10 cabang asli bukan lisensi waralaba. Yah semenjak 2015, setelah 10 tahun, lewat pimpinan baru barulah Gian Pizza mulai melirik lezatnya sukses waralaba. 
 
Dengan modal omzet Rp.60 juta sampai Rp.100 juta siapa tidak tergiur. Ini belum momen tertentu seperti bulan puasa omzetnya Rp.150 juta per- bulan.

"Per- hari kita bisa jual 40 loyang. Weekend 80 loyang," jelas putri dari Gian Sekhon ini.

Paket investasi waralaba Rp.195 juta, Rp.295 juta, dan Rp.395 juta. Tipe investasinya disesuaikan dengan konsep kios, restoran mini, atau restoran besar. Untuk waralabanya tidak serta- merta agresif tetapi memilih investora yang benar- benar serius tertarik.  
 
"Saya cari orang yang mau turun tangan, orang yang mempunyai passion dan sabar," tutup Gian Sekhon.

Ingin Menjadi Pengusaha Muda Kue Cubit Eropa

Profil Pengusaha Edi Hartono


kuecubit.png
 
5 Ia pernah bekerja di perusahaan, tetapi tidak bertahan lama. 
 
Edi memilih membuka usaha jualan keset unik hingga agen telur. Meski gagal, ia tidak kapok meski usaha agen telurnya merugi puluhan juta.
 

Menjadi Pengusaha Muda


Aneka ragam jajanan dijajakan di jalan. Edi pun tergiur akan untung ditawarkan usaha ini. Pertama kalinya, di tahun 2012, Edi membuka usaha makanan krepes. Tidak kunjung juga berhasil usahanya yang disusul oleh kegagalan usaha kentang crispy. 
 
Namun, semua berubah, ketika Edi memutuskan mengajak beberapa teman bekerja sama. Salah satunya adalah Melanie Safitri mengerjakan bisnis kue cubit.

"Kita mengangkat kelas kue cubit yang tadinya original saja," tutur Melanie. Kue cubit biasa kini diberi aneka toping enak, seperti choco hazelnut, red velvet dan lain- lain. Modal usaha dikumpulkan Edi bersama teman cuma Rp.6 juta tetapi menghasilkan omzet Rp.10 juta per- bulan.

Tentu ini semua berkat konsep waralaba. Sukses kue cubit yang diberinya nama Kue Cubit Eropa tidak bisa terbendung suksesnya.

Walau tidak memiliki latar belakang kuliner tidak membuatnya surut. Ia mencari banyak referensi soal kue cubit diberbagai tempat. Contohnya yaitu membeli kue cubit yang katanya enak di sekitaran Jabodetabek. 
 
Juga ia mencari ke nnnseluruh penjuru Internet. Satu bulan sudah Edi mencoba resep tersebut satu per- satu. Sampai ia mennnnemukan rasa yang tepat seleranya.

"Kita mau angkat kue cubint jadi camilan berkelas dengan sentuhan rasa-rasa Eropa seperti ini. Sisi Eropanya dari warna, tekstur, rasa dan toping-nya," jelasnya.

Kerja keras membawa hasil maksimal bagi bisnisnya. Edi mulai menjajakan Kue Cubit Eropa dan menuai respon baik dari masyarakat. Kue cubit ini memang modifikasi dari kue cubit tradisional. 
 
Total ia membuat 8 varian rasa: taro, original, cappucino, vanilla late, red velvet, green tea, sampai black forest. Untuk topingnya ada ceres, silver queen, kit kat, sampai toblerone.

Kue Cubit Korea

 
Awalnya Edi berniat berbisnis untuk dirinya sendiri. Ia lantas mengikuti beberapa pameran produk. Dari mengkuti aneka pameran itulah sampai suatu hari seseorang menanyakan waralaba. 
 
Nah, sejak itulah konsep dibikin, Edi menawarkan satu paket investasi terjangkau: paket ekonomis Rp.9,9 juta ketika pameran dan normanya Rp.13 juta dan paket exclusive Rp.20 juta.

Cuma modal mengikuti aneka pameran peminat waralabanya sudah meledak. Total 30 mitra bisnis langsung terjaring seketika pertama kali dari 53 mitra. 
 
"Kebanyakan beli yang ekonomis," paparnya. "Beberapa bulan kita buka secara mandiri, lalu ada permintaan franchise. Akhirnya kita buka franchise. Nggak sampai satu tahun bisa di-franchise-kan."

Banyak ibu- ibu rumah 5tangga tertarik memutar uangnya. Mereka mau berbisnis tetapi tidak merepotkan soal menjalankan. Adapula guru dan anak muda yang menjajal pengalaman berbisnis. 
 
Edi lantas menawarkan satu diskon kepada pengusaha muda dibawah 25 tahun. Ia bahkan menyediakan booth gratis kepada tiga orang setiap tahunnya. "Tinggal kirim proposal saja," imbuhnya.

Fasilitas didapat oleh mitra waralaba adalah booth, kompor, loyang, banner produk, seragam kerja, bahan baku awal, kemasan sampai SOP cara pembuatan. Selepas mandiri, mitra waralaba bisa melanjutkan lewat pembelian bahan ke Edi. 
 
Gambarannya Rp.9,9 juta menghasilkan laba bersih per- bulan Rp.3 juta. Lantas ia memakai asumsi omzet Rp.350.000 per- hari selama 30 hari.

"Harga per kotak kue cubit Rp 10 ribu isi 10 kue. Omzet per bulan bisa Rp 9-10 juta per bulan. Tanpa fra0nchise fee dan royalty fee," tuturnya.

B0ahkan menurut cerita Edi, ada seorang mitra sukses untung Rp.1 juta per- hari, atau balik modal dalam waktu kurang dari satu bulan. Semua itu tergantung kepada tempat berjualan jelasnya. 
 
"Saran kami buka di perumahan, pertigaan, food court, dekat sekolah atau dekat kampus," kata Edi. Menanggapi soal karyawan jutek maka ia menawarkan konsep mystery guest.

"...ngecek karyawan. Kita ada tim dibagi per- wilayah, salah satu tugasnya untuk cek kualitas pe0layanan," tutup Edi.

Seniman Kuningan Pengusaha Miniatur Ontel

Profil Pengusaha Heri Suryono


senimankuningan.png
 
Kisah pengusaha miniatur ontel. Merupakan bagian masyarakat Seniman Yogyakarta. Kreatifitas yang tak terbatas menghasilkan barang seni menarik. Seniman Yogya menghasilkan kerajinan kayu, kramik, aneka produk kulit, batik, kain tenun, olahan serat alam dan logam. 
 
Tetapi berbeda pengusaha miniatur ontel ini.  Heri Suryono khususkan menghasilkan kerajinan logam. Berbagai produk telah dihasilkan mulai minatur becak, dokar, dan ontel. Sukses pengusaha asal Kota Gede ini sudah mengikuti aneka pameran, seperti Inacraft. 
 
Ini merupakan salah satu pameran terbesar di Indonesia. Adapula pameran lain bernama Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI) yang mulai menarik perhatian.

Seniman Kuningan

  
Suryono merupakan pemilik Wilidi Craft. Usaha turun- temurun yang dipolesnya sedemikian rupa. Ia sukses berkat kreatifitas aneka miniatur becak, dokar, dan ontel sejak 1996. Latar belakang keluarga tentulah jadi alasan dirinya mahir. 
 
Tetapi kalau bukan karena kreatifitas maka hidupnya akan biasa. Pasalnya usaha milik ayah dan kakeknya berbeda jauh. Mereka mengerjakan usaha kerajinan cor logam kuningan.

Sementara pembuatan miniatur terkesan sepel. Padahal, kalau dilihat segi keuntungan, apalagi Yogya sebagai salah satu pusat kebudayaan; Suryono menang banyak. Pengetahuan tentang logam dimanfaatkan baik lewat produk modern. 
 
Walaupun fokus usaha di aneka minatur, jangan salah, Suryono masih mengerjakan usaha cor kuningan keluarga. Soal produksi kerjinan logam dirinya tidak segan turun tangan. Di bengkelnya terdapat aneka desain produk logam dan miniatur logam. 
 
Walidi Cor Kuningan -sekarang Wilidi Craft, mempunya 18 orang karyawan. Mereka terbagi enam orang mengerjakan kerajinan kuningan dan enam orang lagi akan bekerja di percetakan dan pengecoran. 
 
Usaha Suryono tidak pernah sepi dari pelanggan setiap hari. Meski pun sepi, Wilidi Craft menurutnya masih memproduksi barang untuk distok. Kendati demikian barang stok sudah terlebih dahulu diperhitungkan. 
 
Ia hanya membuat produk stok yang bisa dijual pasar ke depan. Wilidi Craft mampu memproduksi minatur sebanyak 400 unit per- bulan. Untuk produk cor kuningan lebih banyak karena sudah punya mesin yakni 500- 600. Pemasaran produk sampai di Bali, Jawa, Sumatra dan Kalimantan.

Untuk pasar ekspor akunya sudah masuk Malaysia, Singapura, Belanda dan Amerika Latin. Kegiatan rutin ekspor adalah pasar Malaysia dan Belanda. Guna meningkatkan daya jual maka mengikuti pameran menjadi salah satu cara Suryono sekarang ini.

Desain minatur pun bekembang tidak sebatas sepeda ontel. Mereka bisa membuat strika kuno, meriam, atau kalau kamu mau bisa lewat foto. Nah, satu ini yang membedakan usaha milik Suryono, dimana cuma modal foto sudah bisa jadi minatur peris. 
 
Pengalaman menarik usahanya adalah ketika pesanan dari Malaysia. Entah apa maksudnya mereka impor meminta tidak diberi lebel Made In Indonesia.

"Malaysia biasanya pesan kosongan, atau tidak ada label MadeinIndo (Indonesia)," paparnya. Tetapi untuk negara lain tidak terjadi hal semacam itu. 
 
Suryono cuma bisa mengiyakan saja. Dimana harga miniatur yang ukuran sedang Rp.65 ribu dan kecil Rp.45 ribu. Adapula ukuran mini dijual Rp.22.500 dan untuk becak mini seharga Rp.100 ribu.

Pembuat Mainan TK PAUD Pengusaha Fiber

Profil Pengusaha Sukses Sugiono


pengusahafiber.png

Pengusaha fiber tersebut bernama Sugiono. Hanya pembuat mainan TK PAUD, namun ia layak kita beri apresiasi. Sosok seorang manusia biasa yang beradu nasib berwirausaha. Setamat sekolah STM di Blora, dia pindah ke Solo dan bekerja serabutan. 
 
Mulai berjualan cilok, roti terang bulan, serta pekerjaan lainnya berkeliling kampung. Ide bisnis muncul ketika bersentuhan langsung dengan anak- anak. Bermodal ijasah STM -nya, Sugiono lantas melamar kerja ke sebuah perusahaan mainan elektronik.
 

Pengusaha Mainan PAUD


Cuma bekerja delapan bulan hingga mengantungi Rp.1 juta. Uang tersebut lantas digunakan untuk memulai usaha utamanya. Modal Rp.1 juta dijadikan produk papan seluncur anak TK. Ia cukup mencari tukang fiber yang biasanya digaji Rp.17.000 per- hari. Tidak mau setengah dikeluarkan uang Rp.45.000 per- hari. Inilah bukti bakat berbisnis seorang Sugiono terlihat.

Jadilah bisnis mainan anak ini berkembang. Semakin banyak pesanan, dirinya semakin percaya diri akan arah usaha kedepan. Meski begitu usaha barunya tidak begitu efektif. Usaha yang dimulai sejak 2004 ini cuma bermodal marketing door- to- door dari Pedan, Kelaten. 
 
Perlu usaha keras ekstra memang buat mainan fibernya laku tinggi. Akhirnya, Sugiono masuk ke ranah iklan di Internet, memanfaatkan berbagai situs iklan gratis.

Usaha tersebut berhasil membawakan pesanan besar. Suatu hari, dia ditelepon oleh sesorang asal Meulaboh, Aceh. Kala itu tengah diadakan proyek pembangunan playground pasca gelombang Tsunami. 
 
Semua untuk anak- anak Aceh yang tengah dirundung duka. "Itu pesanan pertama saya yang bernilai besar," kenangnya.

Semenjak itu pesanan datang tidak terbendung. Seperti pesanan dari Kota Bogor berupa 200 unit perahu bebek. Belum lagi pesanan dari Pantai Benter Purbalingga, Selecta Malang, hingga Sindrap Sulawesi. 
 
Ia juga mendapatkan pesanan dari mal- mal di kota- kota kecil. Mereka memesan kereta- kerat apian kecil beserta relnya dan paket wahana playground. Menjamurnya water park atau water boom di daerah, ternyata menimbulkan fenomena menarik. 
 
Orang pikir mereka adalah hasil buah karya orang Jakarta. Padahal kenyataanya tidak seperti pikiran kita. Siapa sangka bahwa beberapa wahana di Solo adalah hasil karya seniman lokal. Mereka merupakan pengusaha sekitar salah satunya adalah Sugiono.

"Ada orang Solo mencari pembuatnya ke Jakarta. Justru saat itu orang Jakarta sendiri yang memberi tahu bahwa mereka juga memesan dari Solo," ucap pemilik Rumah Fiber ini.

Tujuh tahun sudah sosoknya bermain di bisnis fiber. Sudah tidak terhitung berapa karyanya memanjakan kita dan anak kita. Fokusnya kini mengerjakan aneka pesanan water park. Nama Sugiono di Solo memang tidak begitu dikenal tetapi tidak di Jepara, Colomadu, Tasikmadu, dan Kudus. Dia lah sosok dibalik wahana air di kawasan tersebut.

"Sekarang saya sedang mengerjakan water park di Taman Puncak Sindrap, Sulawesi." tutunya kepada Solo Pos. Selain itu, usaha Rumah Fiber miliknya juga masih fokus mengerjakan yang kecil- kecil. Yang terbaru ia mengerjakan pesanan bak sampah pemerintah daerah dan perusahaan.

Juga termasuk mengerjakan wahanan mainan koin. Itu loh yang sering kita lihat dibeberapa mal ataupun di minimarket. Belum lagi pesanan buat taman kanak- kanak. Tidak terbayang sibuknya si mantan penjual cilok ini sekarang. 
 
Kalau memesan sekarang sudah dipastikan menunggu. Karena Rumah Fiber punya begitu banyak pesanan diterima. Sugiyono sendiri bukan karakter bekerja muluk- muluk. Pencapaian sekarang disukurinya karena memang masih buatan tangan. 
 
Pembuatan dan finishing menggunakan tangan menjadi andalan. Mungkin lebih berseni dibanding hasil karya perusahaan produksi masal.

Usaha Konveksi Mahasiswa Modal Kartu Sakti

Profil Pengusaha Fadliansyah Nasution


usahakonveksi.png
  
Membayangkan usaha konveksi mahasiswa. Mau modal apa? Kisah pengusaha muda kelahiran Medan, 21 Februari 1989, yang mana usahanya dibidang konveksi dan fotografi. Menjadi wirausahawan muda memang selalu membawa kisah menarik ditiru. 
 
Alkisah, di suatu hari, Fadli mulai menuturkan pengalamannya kepada Koran Sindo Medan. Ia bercerita awal mula masuk ke dunia ini. Dimulai dari mengkover pesanan baju seragam sekolah di SMA 1 Rantauprapat tahun 2006 lalu.
 

Usaha Modal Kartu Mahasiswa


Fadli belum berpikir jauh untuk memulai usaha sendiri. Dia masih fokus mengerjakan kuliahnya apalagi masih semester pertama. Memasuki semester tiga, barulah Fadli merasakan panggilan berwirausaha kembali. 
 
Tepat di tahun 2008, mahasiswa semester tiga Ilmu Komputer Universitas Sumatra Utara ini memulai, dimana ia memulai lewat usaha pembuatan baju. Awal sekali bahkan usahanya tanpa modal. Fadli mengkisahkan cuma bermodal kartu mahasiswa. 
 
Dirinya bisa masuk ke dunia konveksi. "Kebetulan, adik saya kuliah di Bogor, dekat dengan Bandung. Jadi, saya mulai kepikiran, kenapa enggak saya memulai usaha sendiri?," jelas Fadli. 
 
Nah, disanalah ia mulai akali itu, memberikan pesanan pembuatan baju seragam sekolah. Bermodal kepercayaan itulah semua usahanya akan dimulai. Dia menggunakan model pembayaran dimuka dan ditambah kartu mahasiswa. 
 
Ia menjelaskan kembali, "jadi, saya bisa minta tolong dengan adik saya untuk buat baju di Bandung." Sukses mendapatkan pesanan dari dua sekolah, uang untung tidak dipakai buat kepentingan pribadi. Fadli memilih memutar modal kembali. Modal digunakan untuk membuat aneka baju selanjutnya.

"Niatnya untuk menambah uang jajan kuliah, saya musti jemput bola ke sekolah- sekolah," jelasnya kepada Okezone.com. Ia sadar akan batasan usahanya tersebut. Usaha yang bernama FAN (Focus and Network) ini memilih digerakan dari sekolah- ke sekolah. 
 
Hingga, tahun 2010, ia membuka usaha baru yakni dibidang fotografi. Sasaran utama adalah foto pre- wedding dan wedding.

"Selain itu juga menerima percetakan spanduk dan brosur," akunya.

Di tahun 2010, dia mengajak teman- teman bergabung mengerjakan usaha. Namun, sayangnya, usaha milik mereka malah kandas ditengah jalan.

Usaha bersama itu sempat jatuh bangun dan akhirnya kandas. Tetapi keadaan tidak lantas membuatnya jatuh terpuruk. Ia masih bersemangat membangun usaha itu kembali. "Saya kan masih punya simpanan hasil usaha saya yang lama," ujar Fadli. 
 
Dia pun gunakan untuk membuat usaha baru dan brand baru. Ia juga mulai aktif meningkatkan kualitas layanan. Kalau dulu konsep bisnis business- to- costumer, kini, pengusaha muda ini memilih business- to- business dan hasilnya mengejutkan. 
 
Fadli menemukan titik terang lewat konsep B2B ini. Pesanan menjadi semakin banyak saja berdatangan. Bahkan beberapa perusahaan besar di Medan memesan kepadanya. Tidak cuma dalam kota, tetapi bahkan Aceh, Kalimantan, dan lain-lain, ikut memesan. Perbulan FAN miliknya menerima 500- 1000 potong.

Berkat itula omzet usahanya juga naik mencapai puluhan juta. Sukses dalam berbisnis, ternyata, Fadli juga adalah seorang kepala sekolah loh. Dia kepala sekolah SMK Islamic Technology Mariana AL Hidayah. Ia mengaku meski sibuk tetapi FAN selalu menjaga kualitas. 
 
Fadli bahkan rela mengawasi sendiri disela- sela kesibukan. Ia juga rela menjemput bola menawarkan ke aneka instansi.

"Kalau sudah begitu, kita enggak akan takut dengan persaingan, karena orang akan percaya dengan produk yang kita buat," tutup presiden chapter wirausaha mandiri di Sumut ini.

Pengusaha Laundry 24 Jam Strategi Pengalaman

Profil Pengusaha Kukuh Ginanjar


laundry24jam.png

Menjadi pengusaha laundry 24 jam. Kisah Kukuh Ginanjar belajar melalui pengalaman orang lain. Ia menjadikan pengalaman sebagai senjata.  Pengusaha muda jasa cuci asal Bandung ini masuk dikala tidak tepat. Pasalnya usaha laundry sudah menjamur ketika dirinya memulai. 
 
Kukuh lantas rela jauh- jauh mempelajari pasarnya ke Yogyakarta. Dari sana strategi bisnis pun ditemukannya yakni memberi garansi. Tetapi bukan garansi biasa karena ia menjanjikan garansi setrika pakian satu hari jadi.

Pengusaha Laundry

 
Kukuh pelajari betul seluk- beluk usaha laundry di Yogyakarta. Strategi pengalaman orang tersebut memang unik Cara unik tersebut ternyata efektif apalagi di Bandung belum begitu ramai. Pengunjung berdatangan meminta dia cucikan langsung ketika mendengar.

"Saat itu, di daerah kampus memang sudah ada laundry, tapi banyak yang mengeluh soal pelayanannya," kata Kukuh kepada Republika.

Kukuh mahasiswa Semester tiga STT Telkom Bandung, Jawa Barat, ini membuktikan. Kamu perlu banyak mengamati sebelum memulai berbisnis. Agar tidak mengecewakan pelanggan maka muncul ide kuota. 
 
Inilah cara lain Kukuh mengakali menumpuknya pesanan pasca marketing. Jika sudah melebih kuota maka dengan sangat terpaksa ditolak.

Dalam tempo sebulan usahanya menjaring dua ton pakaian kotor. Pemuda asal Klaten ini mengaku semua itu bermodal pas- pasan. Modal awal seorang Kukuh cukup 300 ribu di kantong. 
 
Tekatnya bulat memulai satu usaha sendiri. Ia menyisihkan 200 ribua buat sewa tempat. Sisa uang kemudian digunakan sebagai biaya buat promosi mulai spanduk dan lain- lain.

Kalau peralatan?

Ia ternyata punya cara tersendiri. Dia rajin menemui teman- teman menawarkan satu proposal bisnis. Berkat keahlian melobi Kuku bisa mendapat Rp.5 juta. Uang patungan tersebut barulah digunakan sebagai modal buat peralatan. 
 
Memang sedari dulu dirinya dikenal sebagai pengusaha. Jiwa entrepreneurship terasah oleh pengalaman mulai dari usaha pulsa, donat, kaus, hingga susu murni.

"Saya sadar sebagai anak yang lahir dari keluarga sederhana mau tak mau harus kreatif mencari tambahan biaya," tutur Kukuh.

Bisnis Laundry 24 Jam


Ia sendiri tidak sebebas kita. Meski begitu bisnisnya tetap melejit sambil menjalankan ikatan dinas. Ya, betul, dia kala itu tengah menempuh pendidikan ikatan dinas, dan ini memberinya bebas biaya kuliah. Akan tetapi ayahnya yang cuma guru SD tidak memberi banyak. 
 
Alhasil, Kukuh tetap banting tulang mencari tambahan untuk hidup di negeri rantau. Sang ayah beristri ibu rumah tangga biasa dan memiliki empat orang anak. Kukuh sadar merasakan betul kekurangannya dalam keuangan.

Keprihatinan membawa dia serius menjalankan bisnis. Dalam waktu lima tahun, Waroenk Laundry mampu melebarkan sayap ke berbagai wilayah. Cabang tersebar dari Sumedang, Jombang, Bangka Belitung, dan juga Palembang. 
 
Tarif laundry cukup Rp.5000 per- kilo untuk mahasiswa. Untuk umum Rp.6000 saja tidak terlalu jauh. Sistem komputerisasi mempermudah jalannya perusahaan milik Kukuh ini.

Sistem komputer termasuk dalam hal pelayanan. Sistem pengecekan via SMS bisa langsung diterima oleh administari sejak diterima dan proses packing. Ini memungkinkan pelanggan memantau cucian setiap saat lewat sistem notifikasi. 
 
Orang tidak perlu bolak- balik datang mengecek cucian. Lain fungsi, sistem ini juga berlaku dalam pengawasan pegawai di tempat kerja.

Menerapkan banyak strategi dan model manajemen membuat Kukuh yakin. Ia meyakinkan bahwa usahanya ini akan berkembang bagus, dan terbukti. "Kami siap menjadi barometer laundry Indonesia," tuturnya.

Lantas bagaimana strategi marketing mumpuni. Maka, Kukuh memperkenalkan konsep bisnis 24 jam. Ini menjadi yang pertama buat bisnis laundry Indonesia. Dia juga menggalang konsep go green melalui produk detergen ramah lingkungan. 
 
Waroenk Laundry tidak pula menyediakan pembungkus plastik. Tidak cuma itu ternyata, soal limbah pun sudah Kukuh pikirkan, dimana melakukan proses filterisasi ketika menggunakan air. Promosi lewat SMS dikembangkan olehnya. 
 
Ia lantas menawarkan menyisihkan Rp.100,- untuk yang tidak mampu. Terakhir adalah menawarkan konsep kemitraan alias waralaba. Kukuh menawarkan paket investasi Rp.49 juta paket mini. Paket standarnya senilai Rp.79 juta dan medium Rp.107 juta. 
 
Untuk perbedaan itu terletak dijumlah mesin cuci dan pengering. Jika paket mini satu mesin cuci dan dua pengering, paket standar dua mesin cuci dan tiga mesin pengering. Ia menambahkan paket renovasi tempat, komputer, training karyawan, dan furnitur. 
 

Strategi Bisnis Laundry

 
Di luar investasi tersebut buat kamu yang tambahan Rp.6 juta sebagai biaya pengiriman. Asumsi balik modal jika semuanya terpenuhi adalah enam bulan sampai 11 bulan.

"Tarif terjangkau menjadi kelebihan kami," paparnya.

Sukses berbisnis waralaba membawa Kukuh jauh melompat. Bayangkan pemuda 25 tahun ini sekarang bisa membuka banyak cabang dan terakhir membuka anak perusahaan. 
 
"Waroenk Laundry menawarkan sistem waralaba agar jangkauan outlet dapat merambah ke berbagai pelosok," ujarnya. Lompatan itu tidak serta- merta membuat hatinya sombong.

Dia bahkan menyempatkan mengerjakan pesanan alamemeternya. Pria yang juga lulusan SMAN 1 Klaten ini, dipercaya mencucikan pakaian mahasiswa di asrama. Total 4.000 pakain kotor mahasiswa dari 16 tower dipegangnya sendiri. 
 
Kembali ke anak usaha, masih berhubungan dengan bisnis utamanya, ia membuka satu usaha kebutuhan laundry berupa diterjen dan pewangi. Anak perusahaan kedua menjual alat- alat cuci, seperti mesin cuci dan pengering. 
 
Buat kamu konsumen bisa melihat di www.pusatlaundry.com dan www.bospengering.com. Usaha lain yakni menciptakan alat konverter mengurangi daya mesin 2.200 watt menjadi 150 watt. Ide mendirikan perusahaan dimulai saat dirinya pernah ditipu oleh suplier mesin cuci dan pengering. 
 
Ia kehilangan 30 juta tetapi tidak menghasilkan apapun.

"Saya hanya mendapatkan alat- alat kualitas rendah," sebut finalis Wirausaha Muda Mandiri 2010 ini.

Menjadi pengusaha muda bukan perkara mudah. Ia sempat ditentang ayah dan ibunya. Berbekal ilmu kuliah dari satu kampus terkenal, harapan mereka Kukuh menjadi pegawai perusahaan bonafit. Apalagi sosok sang kakak adalah dokter lulusan UGM.

Biografi Bupati Trenggalek M. Nur Arifin Pengusaha

Profil Pengusaha Mochammad Nur Arifin


biografibupati.png
 
Biografi Bupati Trenggalek M. Nur Arifin. Siapakah dia merupakan pengusaha muda menginspirasi masyarakat. Hanya usaha sepele tetapi ternyata menghasilkan miliaran.  Anak muda satu ini tidak pernah malu berjualan panci.
 
Karena dalam benaknya, ini bisnis spektakuler yang patut dia coba. Meski merupakan bisnis keluarga sering memberikan rasa tidak nyaman. Mochammad Nur Arifin, pemuda kelahiran 1990, yang kini menjadi Wakil Direktur UD Cipta Karya Abadi. 
 
Selain itu dia juga dikenal sebagai komisaris MG Corporation dan PT. Karya Mugi Sentoso.
 

Bisnis Panci


Dia merupakan pewaris usaha keluarga. Ia sendiri punya visi memajukan usaha keluarga tersebut. Meski pun gempuran produk China menggempur, usaha pembuatan panci tetap mengepul. Justru masuknya produk dari China malah membuatnya semakin semangat. 
 
Pemilik usaha UD Cipta Karya Abadi ini, mengatakan potensi masih terbuka lebar.

"Dari permintaan sebanyak 30.000 unit, kami hanya sanggup memenuhi sekitar 21.000 unit perbulan," ujar pria yang akrab disapa Avin ini. Permintaan kitchen set menjadi paling tinggi. Terutama, Avin menjelaskan untuk produk khusus panci.

Produk bermerek CKA, diklaim Avin, telah menguasai pasar Pulau Jawa. Bahkan menurutnya lagi share marketnya mencapai 65% panci. Atau, 65% panci di rumah- rumah sekarang merupakan buah karya perusahaan miliknya. Usaha yang dirintis oleh Alamarhum Mugianto. 
 
Dimana sang ayah memulai sejak tahun 1990 -an yang awalnya cuma distributor panci. Sejak 2007, setelah sang ayah meniggal, usaha ini lantas berubah.

Fokus usaha berubah bagaimana caranya memproduksi panci. Berekspansi lewat pembukaan pabrik wajan cor alumunium. Sosok ibu menjadi pengambil alih nahkoda dibantu Avin dan dua adiknya. Mereka bersama bisa mempertahankan eksistensi usaha panci tersebut. 
 
Mereka memanfaatkan berbagai macam rongsokan alumunium untuk dijadikan panci. Itu kejelian seorang Avin cepat berekspansi menguasai dua kota disekitar. Dari sanalah sampai berdiri dua pabrik di kawasan Jawa Timur, yakni Mojokerto dan Trenggalek. 
 
Avin juga menambahkan pabrik di Mojokerto menghasilkan 6.000 unit. Sementara itu di Trenggalek bisa menghasilkan lebih besar yakni 15.000 unit. Dua pabrik tersebut bukan sekedar memproduksi panci loh. Ia memplot dua pabrik tersebut juga menjadi tempat pengolahan alumunium.

Usaha pembuatan panci yang dianggap sepele itu menjadi "wah". Kini, Avin sudah memiliki 2.000 orang karyawan yang tersebar di 22 cabang seluruh Indonesia. Ia dibantu oleh 1.500 karyawan untuk sales. 
 
Avin mampu menjual wajan alumunium ke seluruh penjuru Indonesia. Model bisnis direct selling, setiap cabang itu ditergetkan menjual 1.000 panci. Metode marketing langsung tersebut terbukti ampuh, apalagi ada stimulus bonus.

"Melalui metode ini, kami tetap bisa melakukan produksi sebagai stok yang untuk sewaktu- waktu bisa dipasarkan" imbuh Pengusaha muda.

Batang alumunium rongsokan cukup dicor diatas 2000 derajat. Dari sana lah, Avin mampu mencetak ratusan unit panci dari sana. Selepas benar cair, cairan langsung dituangkan ke cetakan panci berbahan baja. Panci tersebut lantas dihaluskan agar rapih. 
 
Proses terakhir jelasnya ialah finishing atau dipercantik agar terlihat wajan sempurna. "Pengawasan berupa QC diperlukan agar aluminium yang berhasil dicetak dalam menghasilkan produk berkualitas," tutur pemuda yang kini juga pengusaha properti dan Bupati Trenggalek ini.

Penulis Pengusaha Keripik Singkong Gadung

Profil Pengusaha Siti Maria Ghozali 


penulispengusaha.png

Penulis pengusaha keripik singkong gadung. Penulis bernama Siti Maria Ghozali tidak familiar di telinga. Atau, kamu akan lebih kenal nama penanya Maria Bo Niok. Meski kamu tidak mengenalnya, penulis meyakinkan dia adalah sosok wanita hebat. 
 
Dia dikenal oleh kalangan aktifis sebagai wanita vokal. Khususnya menyuarakan hak buruh migran wanita di Hong Kong. Wanita berumur 40 tahun, seorang novelis, hal lain adalah dia seorang pengusaha wanita asal Wonosobo.
 

Menjadi Penulis dan Pengusaha


Mari telah menulis sejak 2002, ketika dia tinggal di Hong Kong. Seorang teman mailist menyadarkan dirinya menulis merupakan bakatnya. Sosok teman itu selalu mendukung, menyemangati, bahkan seolah menjadi guru jarak jauh Mari. 
 
Hasilnya ia telah menulis tidak kurang dari 20 judul cerita pendek. Dan kebanyakan dipublikasikan oleh tiga majalah Indonesia yang diterbitkan di Hong Kong.

Tiga majalah yang dikhususkan untuk buruh migran, seperti Intermezo, Berita Indonesia, dan Rose Mawar. Kebanyakan ceritanya tidak jauh dari pengalaman pribadi. A Ne Ge , contohnya, merupakan cerita pendek tentang kehidupan buruh migran Hong Kong. 
 
Utamanya bagaimana kesulitannya mereka berkomunikasi satu sama lain.

"Mereka menggunakan tiga kata A, Ne, Ge yang menjelaskan 1001 kosa kata dengan pekerja migran," tuturnya.

Karya lainnya meliputi Embun Pagi di Hong Kong (A Morning Dew in Hong Kong), Desah Keluh Pejuang Devisa (Grievance by Foreign Exchange Fighters), Batik, dan Kelobot Tembakau Kasih (Love of Klobot Cigarette).

Sekembalinya ke Indonesia, Maria memutuskan tidak kembali ke Hong Kong. Tepatnya waktu itu, tahun 2004, dia kembali ke kampunya di desa Pasunten, Lipursari, Wonosobo Jawa Tengah. Disana pula ia bisa menemukan cara lain untuk hidup. 
 
"Saya tidak mau jauh dari anak- anak saya lagi," jelasnya kepada pewarta the Jakarta Post. Ibu enam anak ini memiliki jiwa entrepreneurship. Inilah yang coba dituangkannya selepas di Indonesia.
 
Lahir dari keluarga sederhana pasangan Siti Ngaisah dan Muhammad Ghozali, Maria membuktikan dirinya merupakan sosok tangguh. Dia menjalankan bisnis kecil- kecilan di 2004 yakni sebuah wartel. Dia juga jadi guru bahasa Kanton di sekolah lokal. 
 
Untuk tambahan dia (saat menjadi migran) juga pernah belajar Kanton di Abraham Collage di Hong Kong. Dia masih sempat menulis novel Ranting Sakura Dalam Bingkai Abstrak. Sambil menunggu kembalinya ke perusahaan penerbit. 
 
"Saya selesai menulis dalam sembilan bulan tetapi ide telah ada selama empat tahun. Beberapa cerita dalam novel berdasarkan pengalaman saya sendiri. Beberapa yang lain dari teman-teman saya," kata Maria.

Pengusaha Keripik Singkong Gadung

 
Umur 12 tahun, Maria pergi dari rumah kedua orang tuanya, ke Bandung bekerja menjadi pembantu. "Saya harus pergi dari rumah karena saya harus bekerja, bekerja, dan bekerja. Tidak ada waktu buat saya bermain," pungkasnya. 
 
Tetapi kemudian ketika diperjalanan, hidup merantau jauh dari orang tua justru malah membuatnya kesepian. Dia dibayar kecil dari pekerjaanya di Bantung. Selepas dua bulan malah pulang ke rumah.

Sekembalinya, ia bersekolah kembali hingga lulus sekolah menengah atas. Dia lantas dinikahkan diumur 17 tahun. Untuk bertahan hidup, memenuhi kebutuhan sehari- hari yang bisa dilakukan adalah menjual burung di pasar. 
 
Suatu hari pasar tradisional Wonosobo tersebut terbakar habis -membawa semua barang dagangan. Api besar menghanguskan segala modal Maria. Tetapi yang terberat adalah ketika itu membuatnya harus bercerai.

Tidak cuma bercerai tetapi ia (sang suami) meninggalkan hutang menumpuk.

Itulah Maria memilih menjadi buruh migran di negara orang. Dia meninggalkan anaknya kepada keluarga. Ia mempunya lima orang anak. Dimana yang termuda masih bayi empat bulan, dimana Maria meminta bantuan seorang babysitter untuk menjaganya di Jakarta. 
 
Pergi jauh dari orang tuanya membuatnya menjadi sedih, bosan, dan kesepian. Menulis merupakan bentuk penyaluran luapan tersebut.

Hingga, suatu hari di 2002, dia bertemu sosok Stevi Yean Marie, seorang penulis puisi asal Yogyakarta. Dimana semenjak itu ia menjadi guru Maria Bo Niok secara online.

"Dia adalah orang yang menemukan bakat menulis saya. Dia selalu berani mengoreksi saya ketika saya membuat kesalahan," kata Maria.
 
Setahun sudah Maria mendapatkan pelatihan wirausaha. Pelatihan bagaimana merubah ketela menjadi kripik gadung di Balai Latihan Kerja, Wonosobo. Usaha yang didasari bahwa ketela memang banyak di daerah itu. Maria sendiri langsung mempraktikan pelatihan tersebut. 
 
Prosesnya memang cukup rumit tetapi akhirnya ia bisa. Ia lantas memberi nama usahanya UD Mari. Dia menjadi penulis pengusaha. Keripik ketela rasa gadung lantas dikemas dengan merek. Warga desa Lipursari ini lantas menitipkan produk tersebut menjadi oleh- oleh khas. 

"Banyak toko mau menerima keripik buatan saya," ujarnya bangga. Kian lama usahanya semakin berkembang. Bahkan keripik gadung Mari sudah tersedia di toko oleh- oleh dan juga supermarket. Ia tak sanggup lagi mengerjakan sendiri. Usaha keripik tersebut lantas dibantu 4 orang karyawan.

"Bahan bakunya gampang dicari, kok. Di sekitar desa saya banyak ketela," celetuknya. Jikalau kurang pun, ia bisa membeli dari desa lain. Perbulan usaha UD Mari memproduksi satu ton ketela. Usahanya ternyata bisa menjadi rezeki buat warga sekitar. 
 
Pasalnya dia mengajak warga memasok bahan ketela siap masak. Yaitu ketela yang sudah dikupas, dirajang, dan dibersihkan, ia bahkan berani membeli seharga Rp.1.500 per kilo. Harga normal ketela di daerahnya Rp.200 per- kilo. Maria memberikan nilai lebih bagi petani di kampunya. 
 
Alhasil usahanya terus tumbuh sebagai jawaban kebaikan hati Maria. Harga jual dari keripik rasa gadung adalah Rp.45 ribu. Memang relatif mahal diakuinya dibanding produksi rumahan lain. Ia meyakinkan produk UD Maria benar- benar berkualitas. 
 
Mereka sendiri tidak saling bersaing karena sudah punya pelanggan. Meski sederhana Maria senang usahanya berjalan. Dia bahkan sudah siap berjualan lewat Facebook. Lewat nama Mari Singkong Rasa Gadung. Disela- sela berbisnis sendiri Maria masih aktif menulis. 
 
Selain itu ia juga aktif mengajar anak- anak di kampung. Ia mendirikan Rumah Rumbia, sebuah taman bacaan yang gratis buat anak- anak sekitar. Dia sendiri dibantu kawan- kawan soal pengedaan buku.

Juragan Bawang Goreng Bisnis Bapeda

Profil Pengusaha Dewi Rahmaniati 

 
bisnisbawang.png
 
Bisnis bawang goreng menjanjikan dicoba. Sebut juragan bawang goreng satu ini bermula kegemaran makan suami. Ibu Dewi Rahmaniati, pernah membawakan bawang goreng untuk suaminya. Ia lantas mecoba meniru cara membuatnya. 
 
Hasilnya, bukan cuma enak, tetapi jauh lebih enak dan diakui oleh sang suami langsung. Tak terburu- buru ditawarkan bawang goreng tersebut ke keluarga. Lagi- lagi respon positif diterima oleh Dewi, jadilah awal mula bisnis bawang goreng Bapeda.
 

Juragan Bawang Goreng


Teman- teman datang juga berpendapat sama. Mereka bahkan tertarik memesan ke Dewi. Hingga ia lantas memutuskan menjual bawang goreng racikan tersebut. Produk bernama Bapeda bukan Papeda. Artinya itu kepanjangan dari Bawang Goreng Pedas Bunda. 
 
Panggilan Bunda merujuk kepada panggilan sang anak pertamanya. "Biar berbeda dengan panggilan ibu lainnya," ujarnya.

Dengan variasi rasa menggoda membuat Bapeda bukan bawang goreng biasa. Ada rasa teri, pedas, original teri dan orginal bawang. "Permintaanya dalam jumlah sedikit," ujar Dewi. Namun, itu tidak membuatnya jadi patah arah. 
 
Bahkan Dewi menyanggupi Bapeda rasa teri Medan spesial. Itu semua untuk menyenangkan satu pelanggan saja.

Di Agustus 2011, bisnisnya mulai berkembang dari 1kg, 2kg, hingga maksimal memproduksi 5kg.

Jujur kualitas bawang yang dihasilkan Dewi masih rendah. Menurutnya masih berminyak dan terkadang ada rasa pahit. Pada awalnya, ia pun menggunakan bungkus plastik biasa, kesemuanya merupakan proses yang berjalan. 
 
Hingga permintaan semakin banyak menumbuhkan asa. Sekali produksi, kala itu, ia mengaku sudah menghasilkan 2kg atau omzet Rp.600.000. Ia bertekat memperbaiki kualitas produknya. Sang ibu mertua sempat merasa tidak nyaman dengan kegiatan baru tersebut. 
 
Alih- alih meminta Dewi berhenti, sang mertua malah memberikan solusi berupa alat pengiris bawang. Dia juga membangunkan dapur sendiri. Tiga bulan kemudian, Dewi membeli alat penyaring, hingga hasil bawangnya tidak terlalu berminyak. Dewi juga mengganti kemasan dengan toples. 
 
Serta memulai menjual Bapeda nya melalui Facebook. Sukses Dewi didukung kerabat dan saudaranya. Ia juga dibantu oleh sang suami, yang kebetulan merupakan Ketua Suzuki Jeep Indonesia (SJI) wilayah Bandung, yang kerap aktif mempromosikan Bapeda ke komunitasnya. 
 
Teman- teman sang suami menyambut baik dan mengajak istri mereka menjadi reseller.

"Paling banyak Jakarta 30 orang," pungkasnya.

Makanan unik satu ini sudah mempunyai 50 reseller yang tersebar di Bandung, Jakarta, Surabaya, Malang, Batam, Palembang, dan Sumatra Utara. Bahkan sudah merambah jauh lewat tangan teman- temanya sampai ke Malaysia, Singapura, Dubai, Kuwait, dan California. 
 
Di Malaysia sendiri, ia punya kerabat sekaligus pelanggan tetap. Ia setiap sebulan sekali membeli 100 toples. "Teman- teman saya suka ternyata," paparnya.

Untuk musim lebaran permintaan bisa melonjak sampai 1.200 toples. Kemasan rapi serta terdapat hiasan pita membuat Bapeda menarik dijadikan parsel. Ia lantas berpromosi bahwa Bapeda cocok jadi pelengkap kupat sayur dan opor. 
 
Ketika musim Haji, Bunda akan berpromosi bahwa Bapeda bisa menjadi bekal kamu ke tanah suci.

"Terkadang reseller tidak kepikiran," jelas Dewi. Meski terkesan mulus dan tanpa hambatan ketika memulai usaha; faktanya tidak demikian. Dia bercerita pernah suatu ketika alat pemotongnya rusak. Ia pun langsung ke Maxindo buat reperasi. 
 
Sayangnya, itu membutuhkan waktu lama, padahal Dewi sudah ditunggu banyak pelanggan. Dalam ingatannya lagi waktu begitu sempit, ditambah jasa pengiriman akan tutup H-1 minggu.

"Kalau mau nangis, saya mungkin nangis darah," kenang Dewi. Disaat mendesak muncul sosok yang juga seorang pengusaha. Ia pemilik usaha nasi liwet instan. Dengan senang hati, ia menawarkan pinjaman Dewi alat pemotong bawang miliknya. 
 
Dia bahkan mau mengantarkan langsung ke tempat. "Ini benar- benar jalan dari Tuhan," kenangnya haru.

Alat tersebut disebutnya lebih bagus ketimbang mesin. Jika mesinya menghasilkan 20 toples maka pakai alat potong ini bisa 25 toples. Alat tersebut lantas menjadi andalan Dewi menghadapi permintaan pelanggan. 
 
Kekurangan dibanding mesin, ya apalagi kalau bukan pedih dimata, karena tidak ada penutup maka aroma bawang menyebar. Untuk kedepan, harapanya menambah mesin lagi, itupun kalau permintaan nambah.

"Biar jadi 'Juragan Bawang Goreng' sebenarnya," candanya. Dewi sendiri memang dikenal kalangan teman- teman sebagai Juragan Bawang Goreng.

Membuat Kaos Pengusaha Muslim Modal 3 Juta

Profil Pengusaha Sukses Warsandi


pengusahamuslim.png
  
Pengusaha muslim modal 3 juta sukses menghadapi pandemi.  Pemuda 23 tahun yang telah memulai usaha semenjak dini. Sejak kecil merupakan keharusan baginya agar bekerja keras. Ia sempat tidak melanjutkan sekolah. 
 
Tetapi dia tidak menyerah, malah pemuda bernama Warsandi ini makin gila bekerja saja. Akhirnya, Warsandi sukses di pendidikan, menjadi Sarjana Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, UIN Sunan Kalijaga.
 

Pengusaha Muslim


Perjalanan Warsandi memang terbilang unik. Ayahnya adalah tukang becak sedangkan ibunya cuma ibu rumah tangga biasa di Kaliurang. Semenjak kecil, Sandi bekerja mandiri mengumpulkan biaya sekolah sendiri. 
 
Keinginan tetap sekolah membuatnya tetap bertahan. Ia memang sempat berhenti satu tahun lebih ketika lulus sekolah dasar (SD) mau ke menengah pertama (SMP). 

Selepas cukup biaya, ia melanjutkan sekolah menengah atas sendiri (SMA), kemudian berhenti sejenak dan masuk perguruan tinggi.

"Lelaki sejati datangi ayahnya, bukan putrinya," seloroh Andi menunjukan bisnisnya sekarang. Sebuah kata- kata unik yang terlahir dari pengamatan dan pengalaman hidup.

Andi langsung hijarah ke Jogja ketika lulus SMP. Masuk ke SMK, semua biaya merupakan hasil kerja, salah satunya bekerja menjadi pembersih kuburan. Ia harus berpisah dengan kedua orang tua dan tinggal di sebuah panti asuhan.  Disana dirinya bekerja agar bisa menopang biaya sekolah. 
 
Pemuda asli Karawang, Jawa Barat ini, lantas menatap hidupnya dalam kewirausahaan.. Aneka usaha telah dijalani seorang Warsandi. Pertama kali berjualan buah- buahan, jualan gorengan keliling, berdagang asongan, kerja di penggilingan kopi, dan juga membersihkan kuburan. 
 
Untuk soal membersihkan kuburan ternyata dilakoninya pas tamat SDN 03 Rengasdengklok, Karawang, dan juga lagi selepas lulus dari SMP Terbuka 1 Rengasdengklok. Ketika kuliah lantas Warsandi berjualan sendiri. Modal Rp.50.000 disulapnya menjadi bisnis jual Snackdes. 
 
Atau, lebih jelasnya jualan panganan ringan asal desa yang di kampusnya menjadi favorit. Ketika sore telah tiba, Sandi berangkat ke Kaliurang membeli aneka snack, yang kemudan dijualnya kembali. Usaha satu ini berjalan sejak masih siang hingga larut malam.

Untuk malamnya, ia gunakan sebaik- baiknya mengerjakan tugas kuliah. Kemudian ia kembali ke makanan desa itu. Dibungkusinya satu per- satu untuk dijualkan besok. Tidak jarang Sandi bekerja larut sampai pukul 02:00 WIB dini hari.
 

Aneka Usaha


"Lumayan, dari asalnya hanya berjualan snack seharga Rp3.000 per bungkus hingga pernah menjual snack yang seharga Rp10.000 per- bungkus," papar Sandi.

Untung berjualan aneka jajanan desa itu sampai Rp.100.000 per- hari. Sedikit- demi sedikit usaha jualan itu berhasil bahkan bisa mengirimi kedua orang tua. Tetapi usaha itu tidak memuasakannya, sejak 2012, usaha lain sudah digenjotnya sebagai usaha utama. 
 
Matanya tertuju kepada tren usaha clothing di Indonesia sendiri. Dia lantas membuka usaha clothing bernama Naidu Positive. Bermodal awal Rp.3 jutaan sudah bisa berjualan. Ia terus kembangkan sampai menghasilkan omzet Rp12 juta per- bulan. 
 
Sandi mengaku tidak punya pengetahuan sama sekali soal clothing. Semua dijalankan sambil berjalan dan belajar dari berbagai sumber. Salah satunya ya ia pernah mengikuti seminar wirausaha mandiri.

"Selain dapat uang saku, saya juga dapet coaching, pemahaman soal visi- misi, pelatihan marketing, dan membuat laporan keuangan," aku Sandi.

Usaha clothing memang baru bagi pemuda kelahiran 1991 ini. Kios sederhana, namun rapih tertata, ukuran 3 m x 3,5 m memamerkan aneka kaus buatan sendiri. Di ruangan tersebut lah, Sandi melayani sendiri pembeli yang berkunjung. 
 
Namun, ia menjelaskan, usahanya lebih banyak menerima pesanan via online. Tidak kurang ratusan kaus diproduksi dan dipesan lewat internet sampai 1.000 -an.

Keuntungan menjadi pengusaha muda?

Ia sudah bisa meminang gadi impiannya awal tahun 2015. Dia juga mendapatkan pengakuan masyarakat luas lewat ajang Wirausaha Baru Bank Indonesia 2012. Andi juga bisa bersekolah kembali berkat beasiswa Uno Foundation (MRUF) periode 2013- 2014. 
 
Meski sibuk, ia tetap melanjutkan kuliahnya dan tengah mengerjakan skripsi.

"Pintar- pinta membagi waktu saja," katanya.

Selain itu berkat kerja kerasnya, Sandi sudah punya satu unit rumah di Kaliurang. Rumah yang rencananya akan ditinggali ayah dan ibunya, adik- adiknya, dan istrinya. Visi besar Warsandi pun akan tetap diuji dalam hal berwirausaha ini. 
 
"...impian saya mendirikan usaha tingkat internasional," lanjutnya. "Tapi saya mencoba dari hal- hal kecil dan lokal seperti usaha clothing dulu," tutup Sandi.

Bakmi Naga Kembangan Bisnis Waralaba 30 Tahun

Profil Pengusaha Susanty Widjaya 


bakminaga.png
 
Kembangkan bisnis waralaba membuat usaha 30 tahun bertahan. Dia adalah pengusaha wanita, yang melanjutkan bisnis warisan. Banyak pengusaha enggan melanjutkan memilih usaha. Tetapi beberapa orang berhasil bisa bangkit dari keterpurukan berkat keluarga. 
 
Lewat ketekunan dan cinta akan keluarga, Susanty Widjaya mencoba kembali lewat Bakmi Naga. Dia mencoba bangkit dari keterpurukan.
 

Bisnis Keluarga


Bakmi Naga merupakan usaha mie yang telah bertahan 36 tahun lamanya. Berdiri sejak 1979, didirikan oleh generai pertama yaitu Ny. Liong. Menjaga kualitas menjadi andalan produk ini tetap bertahan. "Dari nenek moyang saya rasanya tidak berubah," papar Susan.

"Keunggulan bakminya tidak mengandung air abu." Lantaran memang usaha ini mengandalkan bakmi buatan sendiri. Cita rasanya tidak sama dibanding mie lain. Ia menambahkan air abu berkaitan dengan penyakit mag. 
 
Karena kalau mengandung air abu, Susan menjelaskan, ini akan menyebabkan kembung dan kumat lah si penyakit mag tersebut. Kualitas terjaga mampu menghantarkan Bakmi Naga menjadi brand kuat. Ditambah melalui sistem franchise selepas 30 tahun; tidak terbendung lah pamornya. 
 
Bakmi Naga tercatat memiliki 59 outlet berbeda mulai dari Sumatra, Jawa, Sulawesi, hingga Ternate sejak 2010. Menurut catatan Susan rata- rata outlet barunya bisa menghasilkan Rp.5 juta per- hari, dimana untungnya 25 persen.

Bakmi Naga sendiri merupakan brand lama tangguh. Dimulai dari menjajakan lewat gerobak, kini masuk ke restoran dan diwaralabakan. Mungkin bukan dari nol ketika Susan mencoba masuk ke Bakmi Naga. 
 
Tetapi dia telah melewati masa kegalauan dalam hidupnya. Memilih antara menjadi pengusaha atau pegawai di satu perusahaan mapan.

Alasan keluarga menjadi sangat begitu penting bagi kehidupan Susan. Ketika nama Bakmi Naga telah begitu populer, ia kembangkan skema bisnis franchise. Usaha yang dimulai dari grobak tahun 1980 -an ini, telah sukses menjelma menjamur di mal- mal. 
 
Dia memang patut bersyukur usaha ini merupakan usaha keluarga. Kalau bukan dukungan anak, suami, dan keluarga, siapa lagi yang mengangkatnya menjadi seperti sekarang.

"Mereka memberikan pelajaran tentang hidup dan bisnis kepada saya. Jika mereka bisa, kenapa saya tidak," tuturnya.

Filosofi "never give up" dijadikan modal bangkit dari keterpurukan. Pantang menyerah dalam melewati segala keterpurukan. Dia adalah seorang ibu rumah tangga. Seorang pengusaha sukses, tetapi masih tetap menjadi istri yang baik. 
 
Semua itu dilewati karena dukungan keluarga dibelakangnya. Wajah usaha Bakmi Naga pun mulai bertransformasi menjadi PT. Naga Jaya Sejahtera Indonesia. Usaha Bakim Naga sendiri menyediakan tiga investasi: restoran, food court, dan gerobak. 
 
Untuk model dari restoran sendiri menyediakan investasi Rp.500 juta. Tipe food court sendiri dan gerobak masing- masing itu nilai investasinya Rp.250 juta dan Rp.55 juta. Biaya waralaba sendiri Rp.150 juta dan berlaku salama lima tahun. 
 
Bakmi Naga mengutip royalti Rp.6 juta dan biaya pemasaran Rp.2,5 juta. Perkiraan penjualan menurut Susan adalah 250 mangkok per- hari. Pemegang franchise diperkirakan balik modal selama 14 bulan.

Alamat Bakmi Naga

Jl. Janur Kuning VI Blok WL 2 No. 1B
Kelapa Gading, Jakarta
Telp. 021-45789688
021-96500688

Pengusaha Penyamakan Kulit Miliaran Rupiah

Profil Pengusaha Muchammad Yusuf Tojiri


pengusahakulit.png
 
Dia merupakan inspirasi pengusaha penyamakan kulit. Beromzet miliaran rupiah dia mensuport bahan baku dan turunannya, seperti tas kulit, sepatu, dan aksesoris lainnya. Jumlah usaha penyamakan kulit sendiri di Kabupaten Garut mencapai 400 usaha. 
 
Sayangnya, beda dengan industri turunannya, usaha penyamakan kulit biasanya masih level rumahan. Tidak ada perkembangan berarti dikehidupan mereka pula.
 

Pengusaha Kulit


Sejak tahun 1992, sosok Muchammad Yusuf Tojiri mencoba merubah paradikma usaha penyamakan kulit. Seorang sarjana ilmu agama yang diplot ibunya menjadi guru. Bukannya menjadi guru saja, pria 46 tahun ini malah memilih banting stir menjadi pengusaha penyamakan kulit. 
 
Alasannya karena merasa terpanggil fakta usaha penyamakan kulit keluarga tidak berkembang.

"Bisnis penyamakan kulit sangat menjanjikan. Besarnya permintaan selalu dua kali lipat dari kemampuan kita berproduksi," terangnya.

Keluarganya memang punya usaha penyamakan kulit turun- menurun. Tetapi tidak bisa mengaplikasikan apa itu manajemen perusahaan. Yusuf sendiri bukanlah seorang sarjana ilmu bisnis. Tetapi dirinya punya konsep, inovasi, dan kemauan untuk selalu belajar.

Untuk menaikan kemampuan usaha kecil keluarga, Yusuf rela merogoh kocek sendiri. Dia mengambil uang dari beasiswa Supersemar 23 tahun lalu. Modal Rp.600.000 tersebut lantas digunakan sebagai modal awal dari nol. 
 
Usaha yang dijalankan sambil tetap berkuliah di UIN Bandung. Uang receh yang ia gunakan untuk membeli 60 lembar kulit.

"Kemudian saya samak kulit itu dan dijual. Ternyata untungnya lumayan," kenang Yusuf.

Ia sendiri tidak langsung menikmati hasil jerih payahnya. Uang hasil jualan langsung diputar kembali sebagai modal awal. Bertahap dari keuntungan membuat jumlah kulit meningkat. Kulit yang disamak oleh Yusuf mulai mengikuti jumlah permintaan pasar. 
 
Pada 2006, ia sukses membeli tanah di Sukaregang, tujuannya adalah membuat pabrik penyamakan kulit. Sistem memutarkan keuntungan terus dilakoninya. Sedikit- demi sedikit namun pasti usahanya menyentuh level tertinggi. 
 
Yusuf mulai membeli mesin penyamakan kulit. Dibantu modal dan konsultasi oleh PT Sarana Jabar Venture, impian seorang Yusuf tentang usaha berkelas mulai tercapai. Akhirnya, berkat kerja keras tak kenal berhenti, usaha Endies Leather Company bernilai aset Rp.28 miliar dan beromzet Rp.800 juta.
 

Merintis Usaha Penyamakan Kulit


Yusuf memulai dari mengamati tantangan terbesar dari usaha milik keluarga. Ia pun mulai mengikuti berbagai macam pelatihan dari Balai Besar Kulit, Karet dan Plastik Yogyakarta. Dari pelatihan tersebut lah ditemukan ramuan pas buat menciptakan kulit terbaik. 
 
"...misalnya untuk ketebalan kulit untuk jaket, sarung tangan, dan aksesoris lain," papar Yusuf.

Kelebihan Endies Leather Company ialah inovasi produk tidak monoton. Bahkan menyentuh produk turunan bila dibutuhkan. Seperti baru- baru ini memproduksi sarung tangan kulit sendiri. Produk yang menjadi buruan para pecinta olah raga golf ataupun baseball. 
 
Ia sudah melihat pasarnya dan banyak industri meminta dirinya memproduksi. Namun, mengingat permintaan lain juga menumpuk, Yusuf memilih menahan diri untuk tidak jor- joran.

"Jujur saja, saya kwalahan. Dan tidak berani memasok kepastian bahan bakunya. Misalnya, dari Amerika ada merek Timberland pernah meminta saya memasok kulit, namun saat ini masih saya tolak karena pesanan lokal saja kadang masih kwalahan," ujarnya.

Usaha Elco (singkatan) memang dikenal akan kualitasnya. Bahan kulit yang dihasilkan terbilang lebih rapih dalam hal ketebalan. Selain itu adapula kelebihan dibidang warna, dimana Elco memiliki warna yang tidak dimiliki oleh usaha sejenis.
 
Saat ini, perusahaan milik Yusuf mempekerjakan 200 orang karyawan. Dimana laba bersihnya mencapai 120 juta per- bulan. Usaha lain yaitu 12 gerai penjualan jaket kulit dan produk turunan lain. 
 
Mereka tersebar yakni di Bali ada 7 gerai, dan sisinya ada di Yogyakarta, Surabaya, dan Garut. Soal pengelolaan ia serahkan kepada masyarakat dimana dia tinggal menyetok barang. Produksi Elco sudah mencapai 120 square meter kulit.

Yusuf sendiri berharap bisa mencapai angka 200 square meter. "Saya mempekerjakan 100 orang, padahal dulu cuma mempekerjakan 3 orang karyawan. Tidak menyangka, padahal orang tua saya dulu inginya saya menjadi guru agama," paparnya. 
 
"Ternyata menjadi pengusaha lebih menguntungkan," canda anak ketiga dari enam bersaudara ini.

Proses finishing memang dioptimalkan. Dimana semua disesuaikan akan permintaan konsumen. Selepas dari pengolahan kemudian diserahkan ke perusahaan leather garment lain atau leather tailor. Agar tidak menjadi layanan buruk maka kulit rejeck akan diolah sendiri. 
 
Mereka dijadikan aneka tas kulit, jaket, sabuk, atau aksesoris lain, yang kemudian dipajang di showroom. Hasil produksi sendiri kemudian dipasarkan sampai ke Bali. Mesin sendiri baru memenuhi kapasitas 30%, jadi masih ada sisa 70% kapasitas terisisa yang sebenarnya sayang kalau tidak dimanfaatkan. 
 
Masalah ketersediaan bahan baku dan pengolahan limbah sama menjadi hambatan utama. Dibutuhkan biaya sekitar Rp.5 miliar cuma untuk mengolah limbah produksi. Menurutnya ini sudah mendesark. Oleh karenanya diharapkan pemerintah bisa menyediakan lahan pengolahan limbah ini.

Hal lain, Yusuf juga mencoba mengembangkan tempat pengolahan limah sendiri. Bekerja sama dengan pihak Universitas Islam Bandung diharapkan bisa menciptakan solusi bersama.

Sebagai pengusaha yang tengah maju usahanya. Ia memang "gatal" untuk berekpansi jauh bahkan sampai ke lini bisnis lain. Tetapi hal tersebut selalu ditahan- tahan, semua berkat konsultasi PT. Sarana Jabar Venture yang selalu mengingatkan. 
 
Ia mengatakan,"banyak pengusaha tidak bisa menahan diri melakukan ekspansi usaha... Akhirnya banyak yang kolaps."

Pengusaha IPB Membuat Boneka Domba Akar Wangi

aProfil Pengusaha Tatang Gunawan 


pengusahaipb.png

Akar wangi dikenal menjadi bahan utama pembuatan minyak. Pengusaha IPB ini membuat boneka akar wangi.  Menurut penelitian Indonesia menempati tiga negera terbesar untuk bahan mentah ini, selain Bourbon dan Haiti. 
 
Di daerah Jawa Barat pada khususnya, tepatnya di daerah Garut, nama Tatang Gunawan tersohor berkat akar wangi.
 

Usaha Boneka Domba


Sejak kuliah dirinya bersama rekan yaitu Larasati Widyaputri, Istiq Farila, dan Ihwan Nul Padli, punya tujuan yakni membangun bisnis hijau sendiri. Lewat green entrepreneurship memanfaatkan sumber daya alam lokal dan akhirnya menemukan akar wangi. 
 
Kesuksesan para alumni mahasiswa pertanian IPB ini, adalah produk bernama Ecodoe. Atau, buat kamu warga Jawa Barat, pasti sudah familiar akan ikon boneka bulu domba wangi ini.

"Produk pertanian tidak selalu identik berkutat dalam hal pangan saja," tuturnya.

Proyek Ecodoe bertujuan mengambangkan budaya lokal. Apa tanaman komoditas pertanian lokal yang bisa menjual. Selain itu disisipi misi- visi menghijaukan. Memang banyak limbah pertanian bisa dikembangkan menjadi aneka kerajinan. 
 
Inovasi dibutuhkan disetiap sentuhan termasuk akar wangi. Oleh Ecodoe, akar wangi akan diangkat menjadi tanaman pertanian produktif.

Jujur Tatang Gunawan tidak sadar akan akar wangi. Dia bahkan tidak tahu akar wangi itu banyak tumbuh di tempat kelahirannya. Ia juga baru tau kalau akar wangi bisa diambil minyaknya. Itupun baru tau ketika sudah masuk jurusan pertanian. 
 
Disaat kuliah di IPB itulah, dia menyadari kalo akar wangi bisa disuling menjadi bahan baku kosmetik, pelumas senjata, obat- obatan, dan lain- lain.

Sayangnya, menurut pendapat Tatang masih sedikit pemrosesan limbahnya. Akar wangi lebih dominan oleh masyarakat disuling minyaknya bukan akarnya. Padahal bau akar wangi masih tersisa meski minyak telah disuling. Ini menggelitik ide bisnis Tatang. 
 
Ia mencoba memanfaatkan konsep zero waste. Artinya tidak ada satupun tersisa dari tanaman ini menjadi limbah. Mahasiswa Institut Pertanian Bogor memang dikenal kreatif. Terutama mereka soal kewirausahaan membuat produk turunan tani.

"Kami kemudian mengumpulkan bulu domba itu dan mengolahnya menjadi Ecodoe," terangnya.

Dia mencoba mengambil aspek akar wangi segar. Memilik harus yang masih kuat khas dan tahan lama. Ia lantas bertemu tiga sekawan sesama mahasiswa IPB. Bersama mereka kemudian mengkonsep bulu domba dan akar wangi. 
 
Seperti halnya akar wangi, lain hal di negara seperti Australi dan Selandia Baru, Indonesia justru meliha bulu domba menjadi limbah. Padahal senyawa keratin yang ada didalamnya sulit terdegradasi.

Ini akan mencemari lingkuhan loh, jikalau tidak ditanggulangi bisa berbahaya. Dan, seperti hal bisnis online lainnya: Ecodoe mengkonsep matang marketingnya lewat online. Mereka berjualan lewat Facebook dan Instagram. 
 
Mereka juga punya toko online sendiri di www.ecodoe.com. Minim modal itulah kehebatan dari empat sekawan asal IPB ini. Menarik minat pembeli online, menarik investor datang menawarkan kerja sama offline.

Bisnis Ramah Lingkungan

 
Mereka resmi mendirikan toko offline di Bogor. Mereka juga bermitra gerai di SMESCO Jakarta dan juga di Kaliunda Gallery di Bali. Tim Ecodoe menyasar para turis dalam negeri maupun manca negara. Visi dari bisnis mereka pun semakin jelas "menjadi brand green souvenir andalan Indonesia. 
 
Tujuan mereka tidak lain sampai ke manca negara.

"Kami juga ikut bermacam-macam kompetisi bisnis untuk tambah modal, hingga yang kemarin di Singapura. Intinya, masalah modal karena ketidaktahuan jaringan," kata Tatang lagi.

Sempat ditentang orang tua ketika membangun usaha, Tatang dan kawan tidak menyerah. Mereka terus saja membuktikan bahwa peluang bisnis terbuka. Ecodoe bahkan memerkan diri mereka ke orang tua bahwa ini bukan sekedar berwirausaha. 
 
Buktinya ialah mereka bisa memberdayakan peternak asal Wonosobo. Bisa membuka lapangan pekerjaan, belum lagi ibu- ibu pengrajin akar wanginya di Garut.

Untuk pengemasan mereka bekerja sama dengan masyarakat Bogor. Banyak pihak terlibat dalam bisnis ini. Ia meyakinkan bahwa bisnis Ecodoe merupakan bisnis bersama. " Kami making money tak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Ada benefit buat masyarakat sekitar," tambahnya.

Hasil karya Ecodoe meliputi bros kupu- kupu seharga Rp.12.000. Kemudian paling mahal yaitu replika dari akar wangi seharga Rp.150.000. Bentuk nan- cantik ditambah wangi khas, membuat souvenir karya mereka begitu digemari. 

Pesanan pun sudah datang merata di kota- kota besar se- Indonesia. Bahkan merambah Singapura, Malaysia, Filipina, Jepang, dan Italia. Tim Ecodoe lewat kerja kerasnya berhasil meraih banyak penghargaan.

Penghargaan meliputi emas dan perak di tahun 2014, untuk prestasi pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional oleh DIKTI di Universitas Diponegoro, Semarang. Kemudian pernah menjuarai juara 1 Sociopreneur Expo di UIN Syarif Hidayatullah tahun 2014. 
 
Terakhir ini bahkan mereka memenangkan ajang internasional Singapore International Foundation. "Kami akan ekspansi pada beberapa pekan ke depan," tutur Tatang kepada SWA.

Usaha yang dirintis sejak Februari 2014 ini, telah membuktikan ke kita bahwa berwirausaha tidak cuma lah soal berjualan. Tetapi anak muda berwirausaha juga berarti bisa menyelamatkan lingkungan. 
 
"Kami senang tiasa merubah desain agar lebih modern," tambah salah satu anggota Ecodoe, Ihwan Nul Padli mahasiswa dari jurusan peternakan IPB. Nilai ekonomis keduanya bisa diangkat setinggi- tingginya lewat aneka inovasi.

Untuk reseller Ecodoe sendiri masih dalam perencanaan. Banyak tawaran kerja sama yang sayang kalau dilepaskan. "Kami punya cita- cita turis asing yang datang ke Indonesia tak lengkap kalau tidak membawa pulang oleh- oleh dari Ecodoe," tutupnya.

Pengusaha Jaket Kulit Kalong Usaha Selepas PHK

Profil Pengusaha Sutarmanto 


pengusahajaket.png
   
Usaha selepas PHK membuat produk- produk kulit. Sutarmanto pengusaha jaket kulit Kalong. Meski sempat berbisnis donat, nyatanya, Sutarmato lebih asik menggarap bisnis fashion. Utamanya fashion kulit yang sudah dikerjakannya semenjak muda. 
 
Dia dulu pernah bekerja menjadi manajer PPIC sebuah perusahaan kulit asing. Mereka mensuplai aneka produk kulit dunia seperti Pierre Cardin, Tommy Hilfiger, Burton, Harley Davidson, dll.
 

Usaha Selepas PHK


Sayangnya, ketika krisis ekonomi menerpa membuat perusahaan tutup, begitu pula nasib pekerjaannya yang ia banggakan. Tutuplah tumpuan hidup seorang Sutarmato. Bekerja menjadi pegawai puluhan tahun begitu saja hilang. Ia terpaksa menghidupi diri lewat berjualan donat. 
 
Selain itu masih bekerja sana- sini tetapi tidak kunjung memiliki pendapatan tetap. Lalu perusahaan memilih merelokasikan pusatnya ke China.

"Setelah berhenti bekerja, saya sempat jualan donat yang saat itu lagi booming," pungkasnya.

Dia mulai berjualan ke sekolah- sekolah. Namun 2- 3 tahun kemudian mulai turun pendapatan. Apalagi kalau bukan terlalu banyak orang berbisnis sama. Masuk pertengah 2000 nasib baik datang kepadanya. Lewat apa yang pernah dulu dikerjakannya. 
 
Modal awal Rp.24 juta diambil dari dana pensiun. Modal lainnya, ya, pengalaman bekerja dibidang yang sama. Sutarmato membuka usaha kulit sendiri. Produksi awalnya adalah aneka jaket kulit dan celana kulit. 
 
Respon positif didapatnya. Dia mulai menghubungi mantan rekan kerjanya di perusahaan dulu. "Saya menghubungi teman- teman yang dulu sama- sama kerja di pabrik itu dan sedang menganggur," tuturnya. Mereka sepakat membuat kembali produk kulit standar ekspor.
 
Mereka adalah para pemilik keahlian khusus dari tukang potong, tukang pola, tukang jahit, dan lain- lain. Sukses kemudian dipajang lah aneka produk kulit itu di depan ruko kecil ukuran 2x5 meter.  Tempat itulah awal mula berdatangan pesanan aneka produk kulit milik Sutarmato.

Kisah Pengusaha Jaket Kulit


Andalan utama selain kualitas adalah marketing nama Kulit Kalong. Usaha yang terdengar ngejreng kalau kita sandangkan produk sejenis. Pengusaha lokal ini mengaku jaket kulitnya bukan dari kulit kalong loh. Dia mengambil nama tersebut juga bukan tanpa sebat. 
 
Sutarmato beralasan ketika memulai bisnis baru ini, para penjahit harus bekerja keras di malam hari. Mirip binatang kalong yang aktif bekerja ketika malam tiba.

Mereka para kalong bekerja keras tetapi menghasilkan. Hasilnya jaket dan celana kulit kualitas ekspor. Ia juga berani berekspansi lewat aneka produk lain. Semua berdasarkan permintaan pelanggan dari dompet, sepatu, tas, ikat pinggang, sarung tangan, bahkan topi kulit. 
 
Harga dipatok berfariasi sesuai jenis produk yang dibeli. Untuk bahan baku sendiri terbuat dari kulit kambing asli, sapi ataupun kulit domba. Kulit- kulit tersebut disamaknya ke pabrik besar agar terstandar. Dia juga punya suplier kulit dari Bandung, Jawa Barat. 
 
Selain lokal, usaha Kulit Kalong juga mengimpor kecil- kecilan ke Korea Selatan dan Italia. Ia bisa menjual rata- rata 200 item per- outlet. Kalau bicara produk paling dicari, yah apalagi, kalau bukan aneka model jaket kulit. Pelanggan datang dari Bogor, Jakarta, beberapa dari Sumatra dan Kalimantan.

"Biasanya mereka datang langsung," paparnya. 
 
Harga jual jaket kulit mulai Rp.650 ribu- Rp.3 juta, kemudian sepatu kulit Rp.400- Rp.500 ribu, dompet kulit harga Rp.200 ribu- Rp.500 ribu, topi seharga Rp.100 ribu- Rp.250 ribu, ikat pinggang mulai Rp.350 ribu- Rp.600 ribu, tas wanita Rp.700 ribu- Rp.4 juta, dan tas pria Rp.1,5 juta- Rp.3 juta.

Dia juga memanfaatkan internet berjualan secara online. Pembeli pun bisa berkunjung langsung ke tempat dia berjualan. Untuk target pasaran bervariasi menyesuaikan. Kalau remaja menurutnya lebih suka model yang lebih fashionable. 
 
Untuk kalangan pekerja memilih yang terproteksi berkendara, dan kelompok pekerja di kantoran lebih ke semi- jas. Soal kualitas dirinya siap diadu dengan produk sejenis; dibuktikan harga relatif mahal.

Tetapi bukan itupula lah patokannya tetapi nama. Brand Jaket Kulit Kalong sudah tersohor memiliki kualitas lebih baik. Dengan proses pemasakan yang sempurna. Kulit dibuat berdasarkan standar impor bukan cuma lah mengejar pasar lokal. Meski bahannya sama tetapi cara memasaknya sudah bagus.

"Kalau yang murah biasanya dipakai sebulan saja sudah kusut atau menyusut dan bau. Kalau produk kami jaminan tidak bau, tidak luntur, tidak mudah menyusut," ungkap Sutarmoto.

Kendala? Tidak ada, dia merasa mudah saja soal menjalankan bisnis jaket kulit ini, cuma saja tenaga kerja susah didapat. Bayangkan ketika bahan baku mencukupi tetapi penjahit handal jarang. Dia sendiri punya 3 outlet berlokasi di Bogor, Jawa Barat, dibantu 15 orang karyawan. 
 
Sutarmoto sendiri optimis akan kemajuan usaha miliknya. Pasalnya pertumbuhan sepeda motor terus meningkat.

"...orang makin tau kalau pakai jaket kulit asli lebih awet bisa sampai 20 tahun," ujarnya. Dia menambahkan lagi,"kalau sintetis paling 1 tahun."

Ia berharap usaha 13 tahun ini bisa terus berkembang. Sutarmoto berharap jaket kulitnya semakin disukai oleh masyarakat. Soal ekspor masih pada tahapan menjual lewat orang ke ketiga. "Sementara fokus pasar lokal saja," tutupnya.

Website: www.kulitbogor.com

Pengusaha Muda 25 Tahun Berkat Kulit Ikan

Profil Pengusaha Wildan Mathlubi


pengusahamuda.png


Ide bisnis dari pengalaman praktek kerja lapangan (PKL) menjanjikan. Contoh pengusaha muda 25 tahun ini. Kisah sukses Wildan Mathlubi. Dimulai dari kerja praktik di pabrik fillet ikan. Kemudian dia melihat banyak limbah tidak terolah.
 
Ia menemukan bahwa banyak limbah berceceran. Utamanya limbah kulit ikan yang sebenarnya masih bisa diolah. Ide bisnis menggunakan bahan baku kulit ikan muncul.
 

Bisnis Pengusaha Muda


Pengusaha muda 25 tahun ini berkeinginan mengolah kembali limbah kulit ikan. Sejak saat itulah, semenjak bekerja lapangan di pabrik fillet ikan Jakarta pada 2005, putra pasangan H. Tatang Sudrajad dan Sri Halawiyah ini, cukup memanfaatkan kulit ikan terbuang yang mencapai puluhan kilogram.

"Dari yang saya tau, kulit ikan itu mengandung banya protein," jelasnya. Maka terbersitlah ide tersebut ketika dia bekerja disana.

Dimulai ketika dirinya masih sebagai mahasiswa jurusan perikanan IPB. Ia memulai dari level paling bawah. Dimana modal awalnya cuma Rp.200.000 saja. Uang tersebut dibelikan bahan baku kulit ikan patin dan juga ikan kakap dari Muara Angke sebanyak 10 kilogram. 
 
Cuma bermodal peralatan sederhana kemudian dia dan satu orang karyawan sukses. Jadilah olahan kerupuk kulit ikan kaya protein tersebut.

Sasaran utama produk olahanya adalah masyarakat menengah ke bawah. Kerupuk tersebut lantas diberinya nama Willy. Dimana, ia jual seharga Rp.500/bungkus kecil dan Rp.4.500/ons, untuk kemudian dipasarkan ke restoran dan warung- warung makan. 
 
Berkat tempat tinggal yang dekat pasar, yakni Kelurahan Pasir Kuda RT 03 RW 04 Kecamatan, mudahlah Wildan menjual produk unggulannya. Responnya menjadi begitu sangat masif.

CV Usaha Muda miliknya kemudian menjadi Alfa Dinar. Usaha bermodal Rp.200 ribu itu terus mengalirkan keuntungan. Dia menuturkan usahanya mampu memproduksi 4 kuintal kulit ikan patin/bulan, 4 kuintal kulit ikan kakap/bulan, dan 1 kuintal daging ikan/bulan. 
 
Soal omzetnya mencapai melejit sampai Rp.20 juta per- bulan. Ia tidak hanya di Bogor, tetapi meluas sampai Jakarta, Bandung, Bekasi, Tangerang, Purwakarta, dan Surabaya.

"Saya memiliki agen di daerah-daerah agar mempermudah proses pengiriman barang," papar Wildan, yang kini dibantu 8 orang karyawan.

Motivasi Usaha


Motivasi usaha agar maju membuat ia semakin agresif. Bahkan Wildan terus berkreasi lewat apa yang dikerjakannya. Ia semakin serius mengerjakan kerupuk kulit ikan pating. Kemudian menjalar ke aneka ikan lain. 
 
Usaha ini membantu banyak orang loh, mereka para tetangga yang ikut membantu bekerja keras. Selama dua tahun berjalan usahanya tumbuh tanpa terkendala apapun.

Memiliki latar belakang Fakultas Perikanan menjadikan itu modal. Pemuda 25 tahun ini mempunyai beragam inovasi. Melalui proses sebulan percobaan, Wildan melahirkan cemilan baru di Juli 2007. Camilan keripik ikan teri kelapan dan dendeng ikan. 
 
Produk kerja samanya dengan nelayan asal Tuban, Jawa Timur dan Cirebon, Jawa Barat. Ikan memang begitu melimpah di kedua daerah tersebut dan dipandangnya sebagai prospek.

"Bahan bakunya cukup banyak sehingga memudahkan untuk suplai bahan baku," ujarnya.

Prospek yang cerah didukung oleh respon masyarakat. Ia kemudian membuat kerupuk berbahan dasar ikan tongkol yang dijualnya seharga Rp.50.000/kg. Tak disangka permintaan dari luar semakin deras mengalir ke perusahaanya. 
 
Jadilah Wildan harus mencari lebih banyak tenaga kerja. Ia mengisaratkan tidak ada syarat khusus bagi mitranya.

"... asalkan mau bekerja keras bersama- sama, punya kejujuran dan kamauan keras," pungkasnya.

Untung bersih rata- rata dikantungi 30% dari omzet penjualan. Alfa Dinar miliknya semakin bersinar berubah menjadi perusahaan besar. Metamorfosis tersebut dibuktikan di tahun 2008. Dimana Wildan mulai bekerja sama dengan perusahaan terkumka di kawasan Muara Baru Jakarta Utara. 
 
Bentuk kerja sama berupa siap menjadi agen memasarkan produk olahan ikan. Dia membidik segmen mahasiswa dan pelajar. Produk olahan ikan berupa bakso, otak- otak, dan juga kaki naga. Melalui kerjasama tersebut, ia mulai belajar membuat aneka bakso ikan sendiri. 
 
"Tujuan kami dapat menambah lapangan pekerjaan bagi masyarakat," tambah Wildan. Berkat kerja kerasnya tersebut nilai aset perusahaan naik. Faktor inilah yang membuat Wildan bahkan berani merambah diluar bidangnya.

"Dalam waktu dekat saya juga berencana menciptakan berbagai aksesoris dari kulit ikan," urai Wildan.

Meski tergolong anak baru gede di bidang industri ikan. Wildan terbilang percaya diri akan kemampuannya. Ia bahkan telah merambah sektor diluar makanan. Dia menyulap aneka kulit ikan menjadi aneka aksesoris. Inspirasi datang ketika mendapati satu fenomena. 
 
Fenomena kulit yang terlalu tebal buat dibikin kerupuk ataupun keripik. "ada juga yang tidak dijadikan keripik karena terlalu tebal dan hasilnya keras," jelas Wildan.

Wildan memperoleh sekitar 25- 30 kilogram ikan patin dan kakap. Sayangnya, tidak semuanya bisa diolah menjadi keripik ikan. Dari sana juga tidak bisa dijadikan kerupuk ikan. Alhasil perusahaanya menghasilkan limbah menumpuk. 
 
Untuk itulah dibawanya contoh kulit tersebut ke Departemen Kelautan Perikanan (DKP). Hasilnya, mereka DKP pun setuju akan konsep diberikan Wildan tentang aksesoris.

Bahan baku setengah jadi tersebut kemudian dipilah. Karyawan Wildan mulai sibuk memilah kulit yang layak dijadikan bahan aksesoris. Untuk tahap awalnya kulit dibawa dahulu ke laboratorium DKP. 
 
Dimana disanalah dilakukan standarisasi pewarnaan dan pengawetan. Ini dipastikan terpisah karena menggunakan bahan kimia pengawet; Wildan tidak sembarangan.

"Setelah berubah ke bahan setengah jadi kemudian dikembalikan ke kami untuk diolah," terangnya.

Juara ketiga ajang The Real Business Plan Training Series IPB 2004 ini, menyebut bahwa dirinya optimis akan usaha barunya tersebut. Wildan masih percaya bahwa aksesoris kulit ikan akan diterima masyarakat. 
 
Dia bahka berencana besar membuat aneka alas kaki berbahan kulit ikan. Adapula aneka aksesoris seperti dompet dan aneka gantungan kunci. Cuma kata semangat yang terus dikobarkan Wildan Mathlubi sampai sekarang.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba