Biografi Pengusaha Yogi Tyandaru
Menjalankan bisnis sekaligus beribadah Yogi Tyandaru membuktikan. Dia mampu merubah warung rokok menjadi toserba. Namanya Fajar Toserba dikenal masyarakat Kuningan. H. Yogi bukanlah tipikal pengusaha ambisius mengejar keuntungan dunia.
Ayah mertuanya, H. Jana, sempat menjadi pedagang rokok keliling selama 11 tahun di Jakarta. Usaha jualan rokoknya berkembang dari Tanah Abang, Mangga Dua, dan Pasar Pagi. Berkat jualan di pusat perdagangan Jakarta, H. Jana menjadi mengenal transaksi perdagangan berbagai barang.
Asal Mula Fajar Toserba
Dia tau dimana membeli sepatu, pakaian, hingga ikat pinggang. Dibukanya toko kecil di rumahnya di Jalan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, pada 1997. Usaha tersebut berkembang pesat, hingga H. Jana bisa membuka cabang di Pasar Kramat Mulya dan di Jalan Raya Jalaksana.
Toko Jalaksana menjadi cikal bakal Fajar Toserba. Yogi kemudian menikah dengan putri tunggal H. Jana. Ayah mertuanya langsung meminta Yogi membantu. Lulusan Fikom Unisba Bandung ini, tentu tidak memiliki minat dan menolak ajakan membesarkan warung tersebut.
Jiwa jurnalisnya bergejolak memilih tetap bekerja di Jakarta. Dia gemar berpetualang mencari berita dimana saja. Jakarta ternyata bukan tempat ramah bagi Yogi. Dua tahun lamanya dia menderita sakit entah karena apa. Banyak pengobatan dilakukan namun tidak menghasilkan kesembuhan.
Yogi intropeksi diri mengapa terkena penyakit begini. Dia mengintropsi diri apa kesalahan dan dosa masa lalunya, terutama kepada orang tua. Dia ingat, pernah menolak permintaan sang mertua untuk menolong bisnisnya. Ia pun sadar kemudian membantu membesarkan Fajar Toserba.
"Saya akhirnya sadar dan minta maaf kepada orang tua," ia bercerita.
Dua tahun dirinya berangsur sembuh setelah bekerja di sana. Yogi ikut membantu mengembangkan bisnis Fajar Toserba ini. Ayah mertua Yogi tidak lantas memberi jabatan strategis. Alih- alih dirinya menjadi manajer, dia harus merangkak dari bawah menjadi cleaning service di toko tersebut.
"Coba bayangkan, lulusan Sarjana menjadi cleaning service," Yogi menambahkan. Kemudian naik jabatan menjadi penjaga barang hilang.
Di tempat barunya, ia berhadapan langsung dengan costumer tetapi bagian tidak enaknya, alias dia harus mendapatkan perlakukan tak enak karena pengunjung harus menitipkan barang. Karir Yogi semakin "tidak jelas" menempati banyak pos bergantian.
Silih berganti dia menduduki seluruh jabatan terdapat di perusahaan mertuanya. Mulai dari menjadi pelayan toko, sopir angkut barang, petugas input data, hingga menjadi kasir. Ia pun sempat berburuk sangka akan perlakukan martuanya.
Tanpa mengeluh Yogi menjalani pekerjaan tersebut sampai selesai. Ujunya, Yogi menyadari, bahwa ada pelajaran besar dibalik perjuangannya membesarkan Fajar Toserba. Ayah mertuanya tidak ingin dirinya menjalankan bisnis ini secara instan.
Ini dianggap menjadi kegagalan pengusaha lokal menyangkut regenerasi. Biasanya, generasi pertama sukses membangun bisnis, dan generasi kedua malah menghancurkannya.
Yogi mungkin tidak mengawali warung rokok ini menjadi toserba. Tetapi dia mampu merubah dari 13 cabang toserbanya menjadi lebih besar. Omzet tahunan yang kurang dari miliaran rupiah, mampu ia angkat sampai semilyar lebih, tetapi enggan menyebut pastinya namun bisa sampai 30 miliaran.
Berbisnis menurutnya jangan mengandalkan strategi duniawi. Mulailah kamu Sholat, bersedekah, dan dakwah. Yogi bukanlah tipikal pemuda yang ambisius ingin mencapai sesuatu. Dia sendiri anak yatim bekerja sendiri membiayai sekolah hingga berkuliah.
Yogi Tynadru merupakan nama diberikan sang ayah kepadanya. Nama yang tidak dimengari artinya hingga seorang teman berkata: Yogi diambil dari bahasa "yoga" atau bermeditasi atau berdoa. Lalu Tynadru berasal dari "thian", yang artinya langit atau titian, dan "andaru" yang berarti kebahagiaan.
Barang kali ayahnya berharap sang anak akan menjadi orang Sholeh. Sosok yang diharapkan akan mendekatkan diri kepada Allah. Yogi kecil tumbuh baik. Sekolah dari dasar sampai menengah atas diselesaikan di Kuningan.
Tahun 1994 ia berkuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung, dan dia menyukai dunia retorika dan pidato, hingga menjadi juara 1 Lomba Retorika Tingkat Nasional pada 1995. Ia menunjukan kemampuan mempersuasi yang semakin terasah.
Dia terlahir dari keluarga ekonomi lemah. Ia tumbuh besar menjadi anak yatim. Disaat kuliah, maka ia tinggal di kosan murah. Dia hidup prihatin, hingga berusaha sendiri agar menjadi mandiri secara keuangan. Dia mulai berjualan dari pintu ke pintu, menjual obat pembersih muka dan celana panjang.
Yogi tidak malu menjual celana panjang itu ke teman- teman sekelas. Tinggalnya di kosan murah di Jalan Gergelog, yang terpenting dekat masjid. Ketika adzan berkumandang dia langsung bergegas ke Masjid. Walaupun berpergian dia tidak akan melewatkan Masjid dan datang tepat waktu.
Ketika liburan tiba, ia akan menjadi santri di beberapa Pesantren di Jawa Timur, dan ikut berdakwah sampai beberapa hari di luar kota. Yogi dikenal sosok agamis dan santun dimata teman- teman. Faktanya ketika SMA tidak, dia dikenal sebagai sosok anak bandel yang gemar berkelahi.
Teman SMA Yogi bahkan terkaget- kaget melihatnya berubah. "Mereka bilang, Gi, sugan teh maneh moal meunang hidaya," tirunya. Saking tidak memiliki uang, Yogi sampai memakai pakaian yang tidak diganti beberapa hari. Temannya bahkan sempat komplain namun tidak ada pilihan.
Dia memang punya beberapa pakaian. "Maklum orang kere," celetuknya, mengakui dirinya sendiri orang miskin, maka dia memiliki keinginan kuat menjadi orang kaya.
Yogi ingin menjadi kaya dan Sholeh berkat bertemu Restianto, Direktur Hotel Bandung Giri Graha di Jatinangor. Dia tengah melobi perusahaanya untuk mensponsori Pesantren Kilat Nusantara Fikom Unisba, acara pesantren kilat buat anak- anak SMA.
Sosoknya dikenal pengusaha Sholeh, Kaya, dan Berakhlak, dan ia menunjukan kepada Yogi bahwa menjadi kaya itu enak.
"Kayaknya jadi orang kaya itu enak, kemana-mana gampang, mau apa aja mudah. Di perjalanan bisa berhenti untuk shalat di masjid karena pakai mobil sendiri. Mau sedekah mudah. Mau bangun mesjid mudah", ungkapnya.
Lulus kuliah 1998, dirinya kemudian berangkat ke beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Tidak nyaman akan kondisi politik membutnya berhenti berkeliling. Dia memilih menetap di Kuningan, bertemu gadis asal daerahnya dan menikah, lalu pergi ke Jakarta mengadu nasib.
Ternyata sebelum sibuk menjadi jurnalis, Yogi sempat bekerja menjadi asisten Direktur Operasional Le Monde Baby, perusahaan ritel pakaian bayi. Inilah alasan mengapa Yogi menarik perhatian sang mertua. Pengalaman tersebut dilanjutkan Fajar Toserba yang menempanya beberapa tahun.
Banyak orang bertanya- tanya mengapa Fajar Toserba sukses. Kenapa Yogi mampu mengangkatnya sesukses sekarang. Ia pun bercerita bahwa membangun minimarket tidak perlu dikeramaian.Unik karena dia memilih membuka di tanah lapang, jauh dari pemukiman, dan menyisakan banyak ruang.
Tanah tersebut kemudian dijadikannya masjid dan dimakmurkan. Banyak kegiatan dilakukan disana sehingga terjalin keramaian. Bila merujuk pada teori ekonomi dan marketing ini kesalahan. Di sana terbangun masjid besar bukan mushola, berarti mengalurkan banyak uang bahkan lebih besar dari tokonya.
Ini merugikan tetapi Yogi memang tidak bertujuan keuntungan. Ia meyakini bahwa rejeki datangnya dari Allah. Meramaikan masjid dan meningkatkan ketawaan merupakan kunci. Allah menjanjikan bahwa rejeki kita lebih besar dalam berdagang.
Kini Fajar Toserba memiliki 350 pegawai, yang dibekali ilmu agama, berdagang, serta dimotivasi mereka buat hidup lebih baik. Para karyawan diajarkan Sholat wajib tepat waktu, menghidupkan masjid, dan ikut berdakwah kepada masyarakat.
Yogi memang sibuk tetapi selalu turun ke lapangan. Pada kesempatan tertentu ia akan mengunjungi cabangnya. Tanpa ramai- ramai ia akan berjalan masuk sampai ke kantor manajer. Dengan tegas satu pegawai melarangnya masuk, karena disana merupakan tempat manajer Fajar Toserba.
Ia hanya manggut- manggut dan tersenyum penuh arti. Sang karyawan ternyata tidak mengenali pemilik Fajar Torserba tersebut. Yogi tidak marah. Bahkan dia tidak menjelaskan siapa dirinya dan statusnya disana. Dia memang rendah hati. Yogi menyadari bahwa rejeki merupakan titipan Allah dan akan kembali.
Berkat didikan mertua membuatnya lebih bijaksana menghadapi hidup. Aneh dia memiliki rumah mewah tetapi tidak ditempati. Malah ia rubah menjadi gudang dan tempat tinggal karyawan. Ada dua ilmu wajib dimiliki pengusaha, yakni kemampuan matematika dan berbicara untuk penjualan.
Dia tidak pandai matematika. Tetapi Yogi telah terlatih komunikasi dari Fikom Unisba. Pengusaha diharapkan pandai bicara agar menunjukan fleksibilitas. Memilih tinggal di rumah lebih sederhana, meskipun sederhana rumahnya tidak jauh dari masjid, hanya beberapa belas meter seperti prinsipnya.
Toko Jalaksana menjadi cikal bakal Fajar Toserba. Yogi kemudian menikah dengan putri tunggal H. Jana. Ayah mertuanya langsung meminta Yogi membantu. Lulusan Fikom Unisba Bandung ini, tentu tidak memiliki minat dan menolak ajakan membesarkan warung tersebut.
Jiwa jurnalisnya bergejolak memilih tetap bekerja di Jakarta. Dia gemar berpetualang mencari berita dimana saja. Jakarta ternyata bukan tempat ramah bagi Yogi. Dua tahun lamanya dia menderita sakit entah karena apa. Banyak pengobatan dilakukan namun tidak menghasilkan kesembuhan.
Yogi intropeksi diri mengapa terkena penyakit begini. Dia mengintropsi diri apa kesalahan dan dosa masa lalunya, terutama kepada orang tua. Dia ingat, pernah menolak permintaan sang mertua untuk menolong bisnisnya. Ia pun sadar kemudian membantu membesarkan Fajar Toserba.
"Saya akhirnya sadar dan minta maaf kepada orang tua," ia bercerita.
Dua tahun dirinya berangsur sembuh setelah bekerja di sana. Yogi ikut membantu mengembangkan bisnis Fajar Toserba ini. Ayah mertua Yogi tidak lantas memberi jabatan strategis. Alih- alih dirinya menjadi manajer, dia harus merangkak dari bawah menjadi cleaning service di toko tersebut.
"Coba bayangkan, lulusan Sarjana menjadi cleaning service," Yogi menambahkan. Kemudian naik jabatan menjadi penjaga barang hilang.
Di tempat barunya, ia berhadapan langsung dengan costumer tetapi bagian tidak enaknya, alias dia harus mendapatkan perlakukan tak enak karena pengunjung harus menitipkan barang. Karir Yogi semakin "tidak jelas" menempati banyak pos bergantian.
Silih berganti dia menduduki seluruh jabatan terdapat di perusahaan mertuanya. Mulai dari menjadi pelayan toko, sopir angkut barang, petugas input data, hingga menjadi kasir. Ia pun sempat berburuk sangka akan perlakukan martuanya.
Tanpa mengeluh Yogi menjalani pekerjaan tersebut sampai selesai. Ujunya, Yogi menyadari, bahwa ada pelajaran besar dibalik perjuangannya membesarkan Fajar Toserba. Ayah mertuanya tidak ingin dirinya menjalankan bisnis ini secara instan.
Ini dianggap menjadi kegagalan pengusaha lokal menyangkut regenerasi. Biasanya, generasi pertama sukses membangun bisnis, dan generasi kedua malah menghancurkannya.
Yogi mungkin tidak mengawali warung rokok ini menjadi toserba. Tetapi dia mampu merubah dari 13 cabang toserbanya menjadi lebih besar. Omzet tahunan yang kurang dari miliaran rupiah, mampu ia angkat sampai semilyar lebih, tetapi enggan menyebut pastinya namun bisa sampai 30 miliaran.
Berbisnis menurutnya jangan mengandalkan strategi duniawi. Mulailah kamu Sholat, bersedekah, dan dakwah. Yogi bukanlah tipikal pemuda yang ambisius ingin mencapai sesuatu. Dia sendiri anak yatim bekerja sendiri membiayai sekolah hingga berkuliah.
Sukses Terus Belajar
Yogi Tynadru merupakan nama diberikan sang ayah kepadanya. Nama yang tidak dimengari artinya hingga seorang teman berkata: Yogi diambil dari bahasa "yoga" atau bermeditasi atau berdoa. Lalu Tynadru berasal dari "thian", yang artinya langit atau titian, dan "andaru" yang berarti kebahagiaan.
Barang kali ayahnya berharap sang anak akan menjadi orang Sholeh. Sosok yang diharapkan akan mendekatkan diri kepada Allah. Yogi kecil tumbuh baik. Sekolah dari dasar sampai menengah atas diselesaikan di Kuningan.
Tahun 1994 ia berkuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung, dan dia menyukai dunia retorika dan pidato, hingga menjadi juara 1 Lomba Retorika Tingkat Nasional pada 1995. Ia menunjukan kemampuan mempersuasi yang semakin terasah.
Dia terlahir dari keluarga ekonomi lemah. Ia tumbuh besar menjadi anak yatim. Disaat kuliah, maka ia tinggal di kosan murah. Dia hidup prihatin, hingga berusaha sendiri agar menjadi mandiri secara keuangan. Dia mulai berjualan dari pintu ke pintu, menjual obat pembersih muka dan celana panjang.
Yogi tidak malu menjual celana panjang itu ke teman- teman sekelas. Tinggalnya di kosan murah di Jalan Gergelog, yang terpenting dekat masjid. Ketika adzan berkumandang dia langsung bergegas ke Masjid. Walaupun berpergian dia tidak akan melewatkan Masjid dan datang tepat waktu.
Ketika liburan tiba, ia akan menjadi santri di beberapa Pesantren di Jawa Timur, dan ikut berdakwah sampai beberapa hari di luar kota. Yogi dikenal sosok agamis dan santun dimata teman- teman. Faktanya ketika SMA tidak, dia dikenal sebagai sosok anak bandel yang gemar berkelahi.
Teman SMA Yogi bahkan terkaget- kaget melihatnya berubah. "Mereka bilang, Gi, sugan teh maneh moal meunang hidaya," tirunya. Saking tidak memiliki uang, Yogi sampai memakai pakaian yang tidak diganti beberapa hari. Temannya bahkan sempat komplain namun tidak ada pilihan.
Dia memang punya beberapa pakaian. "Maklum orang kere," celetuknya, mengakui dirinya sendiri orang miskin, maka dia memiliki keinginan kuat menjadi orang kaya.
Yogi ingin menjadi kaya dan Sholeh berkat bertemu Restianto, Direktur Hotel Bandung Giri Graha di Jatinangor. Dia tengah melobi perusahaanya untuk mensponsori Pesantren Kilat Nusantara Fikom Unisba, acara pesantren kilat buat anak- anak SMA.
Sosoknya dikenal pengusaha Sholeh, Kaya, dan Berakhlak, dan ia menunjukan kepada Yogi bahwa menjadi kaya itu enak.
"Kayaknya jadi orang kaya itu enak, kemana-mana gampang, mau apa aja mudah. Di perjalanan bisa berhenti untuk shalat di masjid karena pakai mobil sendiri. Mau sedekah mudah. Mau bangun mesjid mudah", ungkapnya.
Lulus kuliah 1998, dirinya kemudian berangkat ke beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Tidak nyaman akan kondisi politik membutnya berhenti berkeliling. Dia memilih menetap di Kuningan, bertemu gadis asal daerahnya dan menikah, lalu pergi ke Jakarta mengadu nasib.
Ternyata sebelum sibuk menjadi jurnalis, Yogi sempat bekerja menjadi asisten Direktur Operasional Le Monde Baby, perusahaan ritel pakaian bayi. Inilah alasan mengapa Yogi menarik perhatian sang mertua. Pengalaman tersebut dilanjutkan Fajar Toserba yang menempanya beberapa tahun.
Banyak orang bertanya- tanya mengapa Fajar Toserba sukses. Kenapa Yogi mampu mengangkatnya sesukses sekarang. Ia pun bercerita bahwa membangun minimarket tidak perlu dikeramaian.Unik karena dia memilih membuka di tanah lapang, jauh dari pemukiman, dan menyisakan banyak ruang.
Prinsip Berbisnis
Tanah tersebut kemudian dijadikannya masjid dan dimakmurkan. Banyak kegiatan dilakukan disana sehingga terjalin keramaian. Bila merujuk pada teori ekonomi dan marketing ini kesalahan. Di sana terbangun masjid besar bukan mushola, berarti mengalurkan banyak uang bahkan lebih besar dari tokonya.
Ini merugikan tetapi Yogi memang tidak bertujuan keuntungan. Ia meyakini bahwa rejeki datangnya dari Allah. Meramaikan masjid dan meningkatkan ketawaan merupakan kunci. Allah menjanjikan bahwa rejeki kita lebih besar dalam berdagang.
Kini Fajar Toserba memiliki 350 pegawai, yang dibekali ilmu agama, berdagang, serta dimotivasi mereka buat hidup lebih baik. Para karyawan diajarkan Sholat wajib tepat waktu, menghidupkan masjid, dan ikut berdakwah kepada masyarakat.
Yogi memang sibuk tetapi selalu turun ke lapangan. Pada kesempatan tertentu ia akan mengunjungi cabangnya. Tanpa ramai- ramai ia akan berjalan masuk sampai ke kantor manajer. Dengan tegas satu pegawai melarangnya masuk, karena disana merupakan tempat manajer Fajar Toserba.
Ia hanya manggut- manggut dan tersenyum penuh arti. Sang karyawan ternyata tidak mengenali pemilik Fajar Torserba tersebut. Yogi tidak marah. Bahkan dia tidak menjelaskan siapa dirinya dan statusnya disana. Dia memang rendah hati. Yogi menyadari bahwa rejeki merupakan titipan Allah dan akan kembali.
Berkat didikan mertua membuatnya lebih bijaksana menghadapi hidup. Aneh dia memiliki rumah mewah tetapi tidak ditempati. Malah ia rubah menjadi gudang dan tempat tinggal karyawan. Ada dua ilmu wajib dimiliki pengusaha, yakni kemampuan matematika dan berbicara untuk penjualan.
Dia tidak pandai matematika. Tetapi Yogi telah terlatih komunikasi dari Fikom Unisba. Pengusaha diharapkan pandai bicara agar menunjukan fleksibilitas. Memilih tinggal di rumah lebih sederhana, meskipun sederhana rumahnya tidak jauh dari masjid, hanya beberapa belas meter seperti prinsipnya.