Masih Jadi Karyawan Meski Punya Usaha Sepatu Lukis

Profil Pengusaha Sukses Gilang 


 
Kanvas sekarang sudah menjadi alas lukis lama. Kini, pengrajin berlomba- lomba, menciptakan peluang berbeda lewat sentuhan karya. Sambil menyalurkan hobi lukis. Seorang pemuda 28 tahun bernama Gilang memulai berbisnis. Bermodal talenta lukis dan alas lukis berbeda yakni tas dan sepatu.

Keromon berawal dari keadaan mendesak. Bingung mau bayar kuliah. Gilang lantas mencari ide tentang usaha. Gilang memulai bisnis lukis sejak kuliah. Sejak duduk di bangku kuliah semester 3, jari tangannya sudah memoles anaka barang dijadikan media lukis.

Tanpa menggelontorkan uang sepeser pun. Ia bercerita modal awalnya cat. Itupun pinjam dari teman saja. Ia mencoba memakai sepatu sendiri. Menjadikan barang sendiri jadi eksperimen, eh ternyata, hasilnya tidak mengecewakan. Dia upload foto ke sosial media. Dan pembeli pertama menanyakan hasil karyanya.

Dijual beberapa rupiah lantas dipakai lagi. Ia mengganti uang cat milik temannya. Kemudian dia bikin lagi lalu hasilnya diputar menjadi modal. Kuas dan cat dibelinya kembali. "Dengan kata lain nol rupiah untuk modal awal," jelasnya.

Bisnis berlanjut


Sukses Gilang karena menerapkan konsep custom. Dimana ia menyerahkan desain kepada konsumen. Dia hanya mengikuti arahan sembari memberi saran. Justru melalui cara tersebut bisnis berkembang. Disisi lain mengasah daya kreatifitas seorang Gilang akan trend kebanyakan di masyarakat.

Gambar tergantung bisa karakter, atau lukisan wajah, ataupun pemandangan dan batik. Semuanya Gilang bisa gambar diatas media lukis sepatu. Keahlian Gilang tidak serta- merta bisa. Namanya bakat kalau tidak diasah akan tumpul. Melalui bisnis sepatu lukis bakasnya terasa ke arah lebih komersial tetapi "nyeni".

Bisnis ini dijalankan lumayan lama. Sampai bertahun- tahun, dan Gilang menikmati bisnis sampingannya tersebut. Untung diraup Gilang bersih minimal Rp.6 juta per- bulan. Cukup lewat jualan di sosial media dia bisa segitu. Kendala bisnis tidak ada yang berarti jelas Gilang kepada jurnalis Okezone.

Kendala utama ya mungkin di bahan baku. Harga sepatu lukis harganya bisa menjadi mahal. Karena banyak orang melihat pasar yang sama. Bisnis sepatu lukis memang sudah banyak dikenal. Tetapi Gilang mengaku meski harga bahan baku naik, harga sepatu lukis dipatoknya tidak naik, karena harga harus tetap bersaing.

Dia sudah menjual lebih murah dibanding lainnya. Karena itulah orang bisa menjadi reseller karena dia ambil untung minimal. Itulah cara marketing diterapkan Gilang. Perbanyak pilihan produk menjadi satu cara Gilang lebih maju. Mulai wedges, heels, dan boots lukis tengah dikembangkan Gilang Keromon.

Pengusaha muda

Umurnya baru 28 tahun tetapi bisnisnya moncer. Pemilik Keromon, brand fasion lukis, Gilang sendiri tidak cuma berbisnis. Dia dikenal sebagai workaholic. Terbukti aneka profesi dia jabani. Mulai dari jadi fotografer pre- wedding sampai karyawan swasta. Semua demi memenuhi rasa hausnya akan pengalaman.

Kunci sukses pengusaha sampingan: Membagi waktu semaksimal mungkin. Jam 08.00 sampai 16.00 sore dia karyawan swasta. Naik jam 19.00 sampai 23.00 dia akan menjadi pengusaha. Kemudian pada Sabtu- Minggu dia akan menjadi fotografer pre- wedding.

Padahal dia memproduksi 150 buah sepatu lukis per- bulannya. Semua masih dilakoni sendiri lantaran dia belum menemukan pegawai kompeten. Dulu ada sih karyawan tetapi kerjanya tidak serius. Mencari sosok karyawan penuh dedikasi bukan cuma skill memang susah. "...dan mau bekerja keras," Gilang menjelaskan.

Namun tetap dia tidak mau pantang menyerah. Dia akan tetap mencari pegawai. Karena tujuannya akan jadi lebih luas. Bukan sekedar usaha sampingan. Gilang ingin membuka workshop. Untuk kedepan dia akan merekrut karyawan dari kalangan marjinal. Mereka pekerja keras yang dipinggirkan karena masalah hidup.

Sebagai pengusaha muda, Gilang menjadi panutan mematahkan mitos bahwa bisnis butuh modal besar. Dia bahkan tanpa modal. Semua berkat sifatnya yang humble ke teman. Disinilah kita bisa belajar bahwa jadi pengusah ialah tentang konektifitas.

Kisah Raja Perak Malang Berbisnis Karena Gagal Karyawan

Profil Pengusaha Faishal Arifin


 
Siapa sangka Faishal Arifin pernah menjadi supir angkot. Pengusaha muda 28 tahun ini memulai segalanya dari nol. Sampai sekarang banyak orang menyebutnya Raja Perak. Ia berkisah setalah lulus kuliah jurusan ekonomi manajemen, Universitas Widya Gama, Malang, tahun 2008, kok susah ya mencari pekerjaan.

Untuk menunjukan bahwa kuliahnya tidak sia- sia. Dia banting stir menjadi pengusaha dadakan. Dia memilih jualan ayam bakar. Selepas berjualan beberapa lama, dia kemudian bangkrut, uangnya ludes juga dibakar api karena kiosnya kebakaran. Karena tidak ingin menyerah akan nasib, Faishal memilih merantau ke Kalimantan.

Di Kalimantan, pengusaha kelahiran 3 Juni 1987, ini juga gagal mendapatkan pekerjaan seperti di Malang. Dia bahkan ditolak masuk perusahaan tambang. Harapan merubah nasib seolah mau tertutup. Tidak mau menyerah kembali ke Kota Malang.

Bisnis perak


Faishal melihat banyak perajin batu permata. Muncul perasaan tertarik akan usaha tradisi tersebut. Lalu ia iseng mencoba ikutan mendalami. Semakin lama menumbuhkan minat akan usaha perhiasan. Pengalaman belajar perhiasan membuat dia nyaman. Bagaimana kalau nanti diseriuskan saja menjadi usaha di Malang.

Dia memboyong ilmu batu permata Kalimantan. Di Malang, Maret 2009, dia mulai membuat perhiasan yang modalnya hanya koran bekas. Tepatnya gambar perhiasan majalah bekas. Ditiru kemudian dijadikan perhiasan sendiri. Berjalan ke Pasar Comboran, Malang, menemukan majalah bekas bergambar perhiasan.

"...saya gunting dan kliping, itu yang saya jadikan modal," imbuh Faishal.

Pesanan pertama datang dari seorang ibu- ibu. Ia tidak menyangka. Bahkan pesanan tersebut tidak sedikit. Ia akhirnya malah kebingungan karena tidak punya peralatan.

Ia kemudian ingat seorang kenalan. Orang Malang juga yang pernah bekerja menjadi perajin. Kemudian ia mengajaknya menjadi mitra. Hasil untungnya dibagi dua, yang mana nanti juga dibelikan peralatan usaha bersama. Modalnya ala kadar ia bercerita cuma mengeluarkan uang Rp.150 ribu.

Faishal cukup membeli peralatan dari tukang perhiasan yang bangkrut. Lumayan lah, dijual murah, tetapi masih layak digunakan. 

Cuma modal nekat


Dia pernah berkeliling dari Banjarmasin- Martapura. Mulai mencari pekerjaan biasa, atau mencoba masuk menjadi pegawai BUMN, ataupun coba ikutan tes PNS. Gagal. Ia malah ketagihan belajar membuat aneka perhiasan di sana. Kembali ke Malang dia sempat urungkan niat menjadi pengusaha.

Ia sempat mencoba lagi. Mencari pekerjaan tetapi kembali gagal. Titik inspirasi mengembalikan niatan awal. Dia menemukan majalah bekas ketika jalan- jalan. Tidak memiliki uang sama sekali. Dia berjalan tanpa arah ke Pasar Comboran, Malang.

Dia bolak- balik ke pasar jalan kaki karena tidak punya kendaraan. Ayah dua anak ini kemudian menemukan majalah berisi katalog perhiasan. Nekat dia meminta majalah bekas tersebut. Beruntung sang penjual mau memberi majalah tersebut cuma- cuma. Sepulangnya dia gunting kecil- kecil kemudian ditempat dalam map.

Esok harinya dia lari ke pusat pemerintahan. Mencoba menawarkan gambar tersebut. Dia melewat aneka keribetan birokrasi. Tidak gampang memang apalagi dia menjual harapan. Sesampainya disana, seorang ibu- ibu tertarik, seolah menguji keseriusan Faishal bahkan dia rela memberikan DP yang diminta Faishal.

Padahal nih, gambarnya dari majalah luar negeri, dia cuma asal menawarkan saja. Hasilnya DP senilai 60% harga disepakati. "Kala itu, pemesan perhiasan tersirat rasa curiga," kenang Faishal. Karena tidak mau melepas kesempatan. Dia rela menyerahkan KTP asli dan fotokopinya menjadi jaminan.

Syaratnya harus jadi seminggu ke depan. Kemudian dia ingat kawan lama perantauan. Dan dengar- dengar dia sudah bekerja di toko perhiasan. Keduanya kemudian negosiasi dan saling sepakat kerja sama. Faishal akan dibantu sang kawan memenuhi pesanan. Selesai, hasilnya memuaskan sesuai harapan pembeli dulu.

Cuma bermula sebuah proyek tungga menjadi viral. Melalui mulut ke mulut usahanya mulai dikenal oleh orang. Pesanan makin banyak. Karena tidak sanggup sendiri. Dia mengajak rekan awalnya kembali tetapi lewat kerja sama lebih dari sekedar untung.

Dia diajak menjadi pegawai, menjanjikan insentif, dan memaparkan pandangannya ke depan. Faishal tidak mau sekedar menjual janji. Akhirnya sang kawan mau hingga sekarang masih setia. Dari banyak orderan, mereka melewati bersama dan diselesaikan dengan sangat baik.

Kesuksesan Faishal kemudian terdengar sampai ke Walikota Malang, Moch. Anton. Mbah Anton lantas menjadi pelanggan tetap buat aneka kesempatan. Menjadikan perhiasan Fasihal souvenir sampai ke tangan orang lain di luar daerah. Menjadi satu kebanggan bagi Kota Malang karena ada pengusaha perhiasan perak hebat.

Ia kemudian rajin diajak ke aneka pameran wirausaha. Lewat itu dia berkenalan dengan eksportir. Seorang eksportir bahkan mengajaknya menjual sampai ke Ethiopia. Sadar akan kekurangan tenaga kerja. Tetapi tidak mau hilang kesempatan, dia merekrut beberapa perajin kecil Malang, Wajak, dan Pujo, Kab. Malang.

Mereka dilatih kusus, diberikan bekal peralatan, dan semakin banyak saja perajin datang bergabung ke usaha dijalankan Faishal.

Jika diandaikan kalau saja tidak nekat. Nilai usahanya akan setara modal Rp.35 juta. Beruntung tekad keras menjadi modal sangat berharga. Serta keberuntungan disetiap keputusan Faishal.  Omzet dicapai sampai ke angka Rp.350 juta. Tidak cuma berproduksi dia juga memberika pelatihan kepada masyarakat sekitar.

Konsep social entrepreneurship dijalankan dia. Tujuannya adalah agar memberikan lebih banyak peluang buat masyarakat Malang. Lahirnya bisnis yang diberinya nama Silver 999, merupakan bukti bahwa dia bekerja keras dan tekun. Dibalik itu keuntungan tumbuh dengan tanggung jawab akan kepentingan sosial kita.

Silver999 meyakinkan kita. Lewat penelitian mereka yakinkan aman alergi. Tahun 2010, dia bekerja sama dengan PT. Sucofindo, melalukan jaminan sertifikasi bahwa produknya berstandar kesehatan. Untuk hal ini Faishal menjadi mitra binaan agar mudah verifikasi.

Jika sebelumnya hasil menyontek. Faishal meyakinkan produknya kin 100% desain sendiri. Katika ada boming batu permata usaha dijalankannya mampu meraup omzet Rp.500- 600 juta -itupun buat ekspornya saja.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba