Membangun UD Pengekspor Arang Sampai Korea

Profil Pengusaha Ana Riswati 


 
Lulus Diploma 3 Akuntansi membuatnya selalu berhitung pasti. Termasuk menghitung jalannya berwirausaha kelak. Sayangnya, seperti halnya pengusaha lain, sebaik apapun hitungan mu pastilah kegagalan terpampang nyata. Tinggal bagaimana kita menghadapi, seperti hal Ana Riswati yang sukses berbisnis arang sampai ke luar negeri.

Ana, perempuan 35 tahun ini ketika ditemui oleh pewarta Detik.com, bercerita asal muasal bisnis batu arang. Dia berkisah semua karena hasratnya berwirausaha. Jadi jatuh bangun sudah menjadi hal biasa. Ini sudah masuk dalam hitungan perempuan berambut sebahu ini.

"Beberapa kali jatuh bangun," ucapnya getir. Kisah awal Ana bermula ketika seorang kawan mengeluh susah mencari arang. Seketika pikirannya masuk bagaimana kalau berbisnis arang. Bagaimana kalau dia memulai membuat arang yang katanya langka.

Tetapi tidak semudah dibayangkan teman- teman. Penyebabnya adalah salah perhitungan disaat memulai. Awal dia cukup membeli arang jadi lantas dijual kembali. Usaha dagang tersebut malahan merugi melulu. Ya tanpa mempunyai pengalaman apapun. Ana lantas berniat memproduksi sendiri komoditas berbahan kayu tersebut.

Sambil berproduksi sambi mempelajari seluk beluk arang. Termasuk belajar membuat dari sentra arang agar lebih tajam. Dia mulai menjadi pengepul mengumpulkan arang warga. Lama- lama usahanya jadi membesar berkat ketekunan. Ana resmi mendirikan UD Sri Bintang, mulai menyeleksi arang berkualitas untuk dijual kembali.

Permintaan pun naik drastis memasuki pasar lokal. Seperti perhitungan awal meski agak meleset dibelakang tidak masalah. Dari pasar lokal nama UD Sri Bintang naik menjajal luar daerah. Bahkan dia tidak perlu turun gunung menawarkan produk -orderan datang sendiri. Sampai Ana sendiri khawalahan melayani pesanan.

Memang arang buatan Ana berbeda dari sebelumnya. Dia bekerja sama bersama warga meningkatakan dari segi kualitas. Karena sadar akan kesalahan hitung, ia pun belajar langsung ke orang yang sudah sukses dulu di bisnis arang. Total empat nama dijadikan guru olehnya sebelum terjun berbisnis kembali.

Ia tidak membocorkan namanya. Tetapi Ana menyebut sebagian besar merupakan orang Yogyakarta. Inilah kenapa pengusaha harus selalu belajar. Ilmu tersebut dipadukan dengan hasrat Ana berbisnis. Ia mengutak- atik formula pembuatan arang sendiri.

Pasar ekspor


Memenuhi pasar dalam negeri sudah biasa. Kini Ana telah merambah pasar luar negeri hingga Korea bahkan Arab Saudi. Tidak ada rahasia sukses khusus dibagikan dia. Cuma ketekunan dimiliki perempuan sederhana yang jauh dari polesan bedak. Rahasia sukses, dengan tersipu malu, bahwa itu berkat kualitas produknya.

"Kunci kepercayaan konsumen adalah jika kita dapat mempertahankan kualitas," ujar Ana. Perusahaan saat ini menjual arang dikemas apik bersama pematik api. Tujuan utama ekspor arang UD Sri Bintang adalah Korea Selatan serta beberapa negara asal Timur Tengah; Arab Saudi, Kuwait, dan Lebanon.

Produk buatan Ana sudah dikenal oleh banyak orang. Perempuan kelahiran Maret 1977 ini tetap menjaga mutu produksi. Inovasi selalu dihadirkan oleh Ana ditengah perjalanan. Sebut saja pemanfaatan bermacam teknologi untuk pengeringan misalnya.

Perusahaan Ana sudah menggunakan oven untuk mengeringkan 70% produksi. Oleh karenanya kadar air di dalam arang relatif lebih rendah. Karena dioven maka arang buatan Ana lebih berat dibanding dibakar. Ia mengakui roda kehidupan tidak selamanya diatas. Berbagai kendala dihadapi bahkan harian, seperti datang musim hujan.

Untunglah dia memanfaatkan oven sebagai pembakar. Hanya, masalah lain muncul, kerap jalanan menjadi licin hingga pengiriman terganggu. Kendaraan pengangkut terkadang tidak mampu menembus medan tempat bahan baku utama.

Usaha sederhana menghasilkan omzet Rp.240 juta. Merupakan sandaran hidup keluarga Ana serta para karyawan berjumlah 26 orang. Mereka sebagian perempuan yang sudah bekerja sejak 2008. Obsesi besar Ana adalah bagaimana membangun pabrik arang bertungku besar. Secara rasional dia mengaku berpikir untung besar.

"...tapi buat saya ada yang tidak kalah penting," lanjut Ana. Baginya menjaga perusahaan agar tetap berjalan merupakan hal terpenting. Dia tidak memaksa berekspansi segera. Pekerja harus tetap bisa bekerja dan juga mendapatkan pendapatan setiap bulan.

Biografi Orang Terkaya Benua Afrika Aliko Dangote

Orang Terkaya Dunia Pertama Afrika 



Orang terkaya se- Benua Afrika itulah sosok Aliko Mohammad Dangote. Atau orang memanggil namanya cukup Aliko Dangote. Merupakan cicit salah satu orang terkaya di Afika, bernama Alhaji Alhassan Dantata, miliarder yang mana meninggal tahun 1955.

Dangote mengatakan, "Saya ingat ketika saya masih di sekolah dasar, saya akan pergi dan membeli karton permen (kotak gula) dan saya akan mulai menjual mereka hanya untuk membuat uang. Aku sangat tertarik dalam bisnis, bahkan pada saat itu."

Merupakan garis keturunan etnik muslim Hausa, dari Kano State. Pria kelahiran 10 April 1957 terlahir dari keluarga kaya raya. Unik karena dia tidak tergantung akan kekayaan keluarga. Bahkan menurut sumber, ia meminjam uang $500 dan memulai bisnis sendiri. Bayangkan Dangote tidak berbisnis minyak ataupun barang tambang.

Ia tidak pernah tinggal bersama pemangku kebijakan. Dangote bukan orang politik sama sekali pada masa muda. Lantas apa yang dilakukan oleh seorang Dangote? Menarik, dia cukup melakukan apa yang pernah dilakukan oleh Sam Walton, pendiri Wal- Mart, di Amerika Serikat.

Namanya menjadi dikenal di penjuru Afrika. Memulai berinvestasi kecil, menyasar target besar, dan mampu mengambil kesempatan depan mata.

Tangan midas


Pencapaian seorang Dangote bukan semalam. Dia terlahir sebagai orang biasa. Dangote, layaknya anak lain, belajar merangkak, berjalan lalu berlari.  Ia juga menangis tetapi di sekolah, dia fokus mengerjakan apa yang dekat dengannya. "Itu membutuhkan saya 30 tahun untuk mencapai dimana saya berada," jelas Dangote.

Masih terngiang bisnis pertama ketika sekolah berjualan sekotak permen. Ia menjualnya demi sedikit uang jajan. Sejak muda mata itu memang terfokus kepada berbisnis. Kesadaran akan resiko terbayar oleh hasrat ketika kesempatan di depan mata. Dia tumbuh dan akhirnya memiliki sentuhan midas. Ingat Dangote juga pernah jatuh bangun.

Peneliti ekonomi asal Harvard University menjelaskan: Pengusaha Amerika tidak boleh gagal dalam ketidak pastian. Bayangkan hidup Dangote memulia tanpa bantuan. Memulai berbisnis komoditi dan sukses, lantas menyasar bisnis gula refinasi, dan semen. Terakhir bahwa dia memulai bisnis petrokimia yang sangat jauh akar.

Tentu kesuksesan Dangote mengundang rasa iri. Itu termasuk para pejabat ditaktor yang melihatnya sebagai sosok sapi perah. Namun, dia tetap bersabar, tujuan lain seorang Dangote bukan cuma kekayaan. Dia ingin membangun Afrika lewat setiap bisnisnya.

"Saya membangun konglomerasi dan menyatukan setiap orang kulit hitam di dunia sejak 2008 tetapi itu tidak dibangun semalam," ucap Dangote.

Dangote melihat setiap aspek kesempatan selalu mengandung resiko. Memulai usaha gula padahal Afrika itu terkenal miskin, membangun usaha agro (padi), dan komoditas lain untuk Afrika.

Dangote Group bermula sebagai perusahaan komoditi kecil. Berbisnis sejak tahun 1977, sekarang bernilai multi- miliar naira (mata uang Afrika). Bisnis tersebar di Benin, Ghana, Nigeria, dan Togo. Sekarang sudah juga masuk di bisnis pemrosesan makanan, pembuatan semen dan muatan. Ia menjadi pemain utama di bisnis semen dan gula.

Bisnis tanpa batas


"Bulan ini, pejabat eksekutif kepala perusahaan terbesar Amerika pergi pada bercerita ke berbagai media untuk mengutuk ketidakpastian yang disebabkan oleh tebing fiskal. Dalam waktu yang tidak pasti seperti itu, mereka mengatakan, mereka ragu- ragu untuk berinvestasi di ekonomi AS," ujar Jonathan Berman di satu review Harvard Business.

Dia, Alhaji Aliko Dangote, terlahir dari kehidupan kaya raya kerena keluarga. Tetapi hidup dalam ketidak pastian sosial Afrika. Anak ke sepuluh kelahiran 10 April 1957 di keluarga muslim kaya. Dia berbisnis sejak lama. Yang pasti pertama berbisnis serius ketika kuliah Al- Azhar University Cairo, Mesir. Modalnya saja hasil hutang kepada paman.

Dangoter berhutang $500 kemudian dijadikan bisnis dagang. Ketika itu umurnya masih 21 tahun, bisnis jual- beli komoditas itu ternyata menguntungkan. Dangote Group terdiri perusahaan Dangote Sugar Refinery, Dangote Cement, dan Dangote Flour, kemudian bisnis petrokimia terbesar di Afrika.

Pada bulan Juli 2012, dia mendekati pihak Nigerian Port Authority, ide bisnis menyewa tempat terbengkalai itu untuk dijadikan fisilitas pembuatan tepung. Di tahun 90 -an, Dangote mengajukan proposal pinjaman ke Bank Nigeria, dia meminjam uang lebih kecil dibanding biasa. Membawa bisnis transpor, puluhan bis dibawa ke Nigeria.

Obajana Cement membangun fasilitas produksi semen Afrika. Lain hal, Dangote memulai bisnis garam dan juga pabrik tepung, maka dia juga mengimpor beras, ikan, pasta dan penyubur tanaman. Soal produk lain yakni mengekspor kapuk, kacang cesnut, cokelat, biji wijen, dan juga jahe ke banyak negara.

Dia mempunyai bisnis bidang real estate, perbankan, tekstil, minyak, dan gas. Perusahaan miliknya memiliki 11.000 pekerja dan menjadi konglomerat Afrike terbesar.

Dangote juga merambah bisnis telekomunikasi membangun 14.000 kilometer kabel fiber. Januari 2009 dia mendapatkan penghargaan provider of employment untuk industrial Nigeria. Orang terkaya Afrika ini terus mengembangkan bisnis semen ke pelosok Benua Afrika. Dia menerima tantangan membanguns bisnis bidang petrokimia.

"Sebagai investor yang percaya Nigeria, tahu Nigeria dengan baik dan sumber daya yang dibuat di Nigeria, kami telah merespon tantangan dengan keputusan kami untuk berinvestasi $ 9 miliar kilang petrokimia dan juga kompleks pupuk yang berlokasi di OKLNG Free Trade Zone," jawab Dangote.

Komplek diatas akan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah Afrika. Oleh karenanya, pada 14 November 2011, Dangote mendapat penghargaan nasional, yaitu Grand Commander of the Order of the Niger (GCON ) oleh Presiden Nigeria kala itu, Goodluck Jonathan.

Selain berbisnis dia dikenal aktif kegiatan amal. Dia termasuk paling rajin, bersama Bill Gates, melalui Bill Gates Foundation berinvestasi kesehatan -termasuk menghapus polio di Afrika. Sumbangan CSR pun juga terhitung banyak:

1. Sumbangan $500.000 untuk UNICEF melawan campak
2. Sumbangan $6,4 miliar International Cancer Canter Abuja (ICCA)
3. Mendonasi mesin analisis buat Lagos General Hospital
4. Sumbangan $2,6 miliar untuk korban banjir dan wanita di Kogi
5. Berpatner Bank of Industry (BOI) meningkatkan jumlah lowongan pekerjaan
6. Keuntungan kerja sama Dangote dan BOI lain

"Untuk membangun bisnis yang sukses, anda harus memulai dari yang kecil dan juga bermimpi besar. Dalam perjalanan kewirausahaan, kegigihan tujuan adalah yang tertinggi," -Aliko Dangote.

Awal Dangote dirangking Forbes masuk orang terkaya ke 67 di dunia dan Afrika. Nah, tahun 2014 ini, dia tercatat menjadi orang terkaya 23 naik sangat jauh, sampai sekarang. Kekayaanya mengalahkan pengusaha Arab- Utopia, Mohammed Hussein Al Amoudi di 2013 senilai $2,6 miliar dan menjadi orang terkaya dunia pertama yang asli Afrika.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba