Jual Kerajinan Bonggol Jagung Jutaan

Profil Pengusaha Eddie Juandi 


jualkerajinan.png

Jual kerajinan bonggol jagung berapa pendapat Eddie. Menjadi pegawai sebuah perusahaan pipa terkemukan tidak membuatny puas. Di dalam dirinya terdapat jiwa kreatifitas tinggi butuh penyaluran. Eddie Juandi memiliki penghasilan lebih dari cukup. 
 
Penghasilan rutin tidak membuatnya berhenti dan duduk nyaman. Pria 57 tahun ini benar- benar menginginkan lebih dari sekedar asik mengerjakan laporan.

Ia mulai memutar otak keras. Semenjak tidak bekerja di perusahaan, aneka usaha sudah dilakukan Eddie di rumah. Hingga takdir membawa hidupnya kepada bonggol jagung. Perjalanan mencari usaha berbahan baku mudah dan murah, tetapi menghasilkan produk elegan. 
 

Usaha Kerajinan Bonggol

 
Dia menemukan bonggol jagung menjadi solusi tepat usaha. Pasalnya, Bogor tempatnya tinggal, adalah tempat dimana jagung menjadi komoditas unggulaan. Sayang, ketika jagung banyak diolah menjadi manisan, maka bonggol jagung terbengkalai seperti sampah. 
 
Ia memungut boggol jagung tersebut. Dia teringat suatu hari ketika berkunjung ke rumah teman. Dia memberi Eddie sebuah hiasan dari tempelan bonggol jagung. Eddi tergelitik untuk mengutak- atik bonggol jagung itu menjadi aneka produk.

Imajinasi mengembara membawa pikiran produk dari bonggol jagung. Kebetulan memang di Bogor, jagung menjadi komoditas utama sebagai bahan manisan. Namun bonggolnya terbuang menjadi limbah. 
 
Eddie bisa kapan saja menggunakan itu cuma- cuma. Kecintaan akan seni kriya terekspresikan lewat aneka produk dari bonggol jagung. Awal usaha tersebut terbentur akan fakta: Bonggol jagung itu rapuh mudah rusak. 
 
Dia pun tidak tau caranya bagaimana mengeraskan bonggol jagung. Solusi pertama lewat cairan formalin, tetapi, setelah ia pikirkan ini sangat berbahaya untuk dirinya. Tidak puas membawa dirinya ke teman- temanya di Institut Pertanian Bogor (IPB). 
 
Lewat mereka lah Eddie mendapatkan campuran kimia yang relatif aman. Hingga pada suatu titik, perasaan tidak puas kembali menyeruak akan zat kimia tersebut. Dia meyakini pasti ada cara alami mengeraskan dan mengawetkan bonggol jagung.
 

Rahasia Usaha

 
Jawaban baru ditemukan ketika ia bertemu Suku Dayak Kalimantan. Kearifan lokal memperkenalkan ia dengan pengawetan alami, seperti menggunakan garam, pinang, pasak bumi, serta bahan lainnya.

Kerja keras Eddie terbayar mendapatkan hasil seperti diinginkan. Usaha kerajinan bonggol kayu Eddie pun dilanjutkan kembali. Dalam perjalanan sudah tidak terhitunga berapa kali dirinya gagal. Bahkan sang istri mulai meragukan apakah bonggol jagung tersebut laku. 
 
Lewat marketing mulut ke mulut usahanya mulai bisa menampakan hasil. Pesanan mengalir selama perjalanan waktu tersebut. Ia semakin bertekat menaikan nilainya. Eddie bersemangat mengikuti aneka pameran kerajinan. Tidak cuma di dalama negeri tetapi sampai ke luar negeri. 
 
Optimisme bertambah ketika mengetahui bonggol jagung jadi satu- satunya. Kini aneka produksi bonggol jagung bisa ditemui di Singapura, Jepang, Belanda, dan Prancis.

"Amerika Serikat saja sebagai negara penghasil jagung terbesar di dunia hanya mengolah bonggol jagung sebatas menjadi pipa rokok," tutur Eddie.

Eddie bisa menghabiskan 40- 50 karung bonggol jagung. Ini cukup bersumber dari satu pasokan pasar saja. Itu saja masih berserakan di jalanan menjadi limbah. 
 
Hasil karya Eddie meliputi kap lampu, khususnya kap lampu duduk, kemudian tatakan gelas, tempat tisu, anyaman tas, cooler laptop, sampai tas laptop.

"Waktu itu kalau nggak salah tahun 2008, ada teman ngasih vas bunga. Saya kaget, ternyata vas bunga itu terbuat dari bonggol jagung," kenang Eddie.

Untuk satu kap lampu bisa dikerjakan sampai 4 hari. Karena butuh ketelitian dan waktu lama tak ayal harga bisa mencapai Rp.350 ribuan. Meski karya bonggol jagung sudah dikenal, soal bisnis masih belum tumbuh signifikan. 
 
Eddie sadar gairah saja tidak akan mendatangkan modal tetapi prospek bisnis. Sementara kalau modal investasi dari pemerintah menurut Eddi masih kecil dari harapan.

Pendekatan sosial coba dijalankan Eddie. Seperti mengajukan aneka proposal pembiayaan lewat Pemerintah Kota atau Kabupaten. Banyak pemerintah daerah tertarik menjadikan bonggol jagung sebagai sarana. Ia pun lantas mulai mengajar di daerah- daerah. 
 
Eddie bersama pemerintah berhasil menginisiasi bengkel- bengkel kecil kerajinan bonggol jagung. Bertempat di showroom milik pribadinya di Jalan Pembangunan 2 No. 42 Kedung Halang, Bogor, Jawa Tengah, setiap harinya Eddie menghasilkan berbagai produk bonggol jagung. 
 
Usahanya cukup disuplai dari pasar- pasar tradisional di sekitar Bogor. Bonggol tersebut dibersihkan terlebih dahulu, baru itu kemudian dikeringkan. Lantas dia akan menambahkan cairan khusus pengawet disana hingga masuk cetakan.

Bonggol dibentuk lingkaran kecil melalui cetakan kayu. Setelah itu disusun menjadi landasan bentuk aneka kreasi bonggol jagung. Meski manual tetapi hasilnya ternyata sangat rapih. Untuk dijual harga kreasi bonggol ini saharga Rp.1 juta sampai Rp.3 juta tergantung ukuran dan tingkat kerumitan.

Bisnis Sambal Roa Judes Kegemaran Artis

Profil Pengusaha Rimayanti Wardani 


sambelroa.rpngrr
 
Wanita ini kecanduan sedapnya sambal. Bisnris sambal Roa Judes kegemaran artis. Kisahnya dimulai ketika Rimayanti Wardani atau akrab disapa Rima, tengah menjalankan kuliah di Jurusan Humas, Interstudi, Jakarta, tahun 1999.
Dimana setiap teman satu kos datang selalu membawakan sambal ikan roa. Satu kali sih tidak apa, tetapi Rima keterusrarn meminta Debi, sang sahabat yang asli Manado membawakan setiap pulang kampung.

"Karena suka, saya pun minta diajarkan membuat sambal ikan roa oleh kerabat teman saya yang tinggal di Manado," kenang Rima.
 

Bisnis Sambal


Dia memang bukan orang Manado. Tetapi rasa itu begitu melekat dilidahnya sampai tak terlupakan. Ia tidak pernah berpikir untuk menjualnya. Semua lantaran kegemaran saja sampai belajar via telephon. 
 
Rima minta diajari oleh kerabat Debi di Manado. "Melalui arahan telephon, saya coba- coba membuatnya," kenangnya.

Tetapi resep sambal itu menjadi berbeda. "Resep sambal saya ubah sedikit agar rasanya sesuai dengan lidah saya," tuturnya. Jadilah kegemaran menyatap sambal roa sudah bisa terpenuhinya sendiri. 
 
Namun, Risma masih belum sadar akan potensi bisnis dibalik itu, hingga di pertengahan 2012, seorang teman membawakan kali ini bukan sambal tetapi ikan roa. 

Sang teman membawakan ikan roa mentah karena hobi Rima. Masalahnya, jumlah ikan roa mentah itu terlalu banyak, sehingga Rima lumayan kerepotan membuat sambal sendiri. "Setelah saya jadikan sambal, hasilnya jadi sangat banyak," paparnya. 
 
Karena kebanyakan itu sambal roa dimasukan ke bekas toples selai. Sampai tanpa terasa sudah delapan toples didapatkan Rima dari sana. Rima lantas iseng memotret sambal dalam toples itu. Kemudian dipajangnya ke profil Blackberry miliknya. 
 
Kemudian ada teman sekantor meminta dibawakan itu. Dalam sekejab, ia menjual semua sambal roa buatanya kepada teman sekantor. Sukses menjual membuatnya mendadak bersemangat. Karena apa? Karena teman- teman yang tidak mendapatkan meminta dibuatkan lagi.

Melihat permintaan cukup banyak muncul lah ide bisnis. Wanita yang pernah bekerja sebagai asisten manajer pemasaran sebuah perusahaan provider telekomunikasi ini, langsung menelephon teman yang mungkin kenal pemasok ikan roa di Manado. 
 
"Syukurlah, ada sebuah koperasi di Manado yang bisa memasok ikan roa asap sebagai bahan baku utama," tutur Rima bersemangat.
 

Merintis Bisnis

 
"Kalau beli di Jakarta harganya sangat mahal," tuturnya lagi.

Sukses dibawalah empat toples lagi di pajang diatas meja kerja. Keisengan tersebut disambut oleh teman- teman sekantor Rima. Cuma bermodal uang Rp.500 ribu sudah bisa menghasilkan sambel roa. Pulang dari kantor pasti Rima langsung masuk ke dapur mengolah ikan roa. 
 
Ia dibantu sang suami Ciptoning Adiwijoyo membuat sambal roa. Dalam hitungan menit saja sambel roa yang dibawanya ke kantor ludes. Rima membuat lagi dan ditawarkan lewat BBM. Ternyata banyak permintaan berdatangan memesan sambal roa.

Jika Rima berkutat di dapur, maka sang suami inisiatif menganalisa aspek bisnis, sambil sesekali membantu istri belanja cabai ke pasar. Sepula dari kantor ia sempatkan mampir ke pasar Pondok Gede. Pulang- pulang dia membawa sekantung besar belanjaan. 
 
Pembuatan sambal biasanya selepas Rima menyusui anaknya. Ia akan berkutat di dapur sampai jam 3 pagi. Ia tidak pernah mengeluh. "Isitilahnya, ada cinta di setiap ulekan," tuturnya sambil tersenyum. Untuk kemasan kemudian dibeli lah botol- botol plastik di pasar di Jalan Pramuka Jakarta. 
 
Soal desain logo dikerjakan oleh Rima sendiri. Logo ikan roa bersirip sembilan melambangkan tanggal kelahirannya. Warna merah pada logo melambangkan pedasnya sambal. Lalu nama Sambal Roa Judes sendiri diambil dari kepanjangan Juara Pedas.

Banyak tantanga dilalui Rima memasarkan sambal roa. Setiap pagi, ia akan membawa ransel dan tentengan penuh toples- toples berisi sambal, kemudian melangkah ke kantor. Bukannya naik mobil tetapi naik turun angkot dan busway. 
 
Perasaan bercampur aduk tetapi ditahannya. "Suatu saat nanti, apa yang saya alami ini bisa menjadi kebahagian di masa yang akan datang," kenangnya. Penuh semangat dari hari- ke hari jualannya semakin meningkat. Dari delapan botol menjadi sepuluh botol tiap harinya.

Tempo delapan bulan semenjak berjualan, Rima bisa memberangkatkan ibunya naik haji ke Tanah Suci. Di bulan Juni 2012, Rima memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan dan memilih mengerjakan bisnis baru ini semakin serius. 
 
Ia mulai menggarap aspek sosial media Facebook dan Twitter. Yakin akan prospek bisnis sambal, terbukti lewat meningkatnya permintaan reseller. Rima pun tidak cuma mengincar materi tetapi juga semangat.
 
Rima mengajak teman- teman terdekat menjadi reseller. Dia ingin membantu teman- teman terutama perempuan agar mendapatkan uang tambahan. "Saya ingin menanamkan prinsip saling berbagi," tutur Rima.

Sejak dulu ia memang dikenal memiliki passion dan pekerja keras. Ketika masih SMP, Rima kecil sudah tau berjualan aksesoris, hingga kuliah dan bekerja sempat berjualan parfum. Wanita yang juga dosen paruh waktu ini memang senang memiliki penghasilan tambahan. 
 
"Saya tahu bagaimana senangnya jika kita bisa mempunyai penghasilan tambahan. Apalagi bagi para ibu rumah tangga," celetuknya.

Juragan Sambal


Sebutan juragan sambal kemudian disematkan. Oleh teman- teman karena pekerjaan barunya sebagai pengusaha sambal. Ia pun lantas menamai resellernya sebagai bandar sambal. Kisah berlanjut, yang mana usahanya semakin membesar, bahkan permintaan akan sambal menyebar ke penjuru Indonesia. 
 
Rima lantas menunjuk lima distributor besar dari teman- teman terdekat. Distributor bintang lima itu ditugasi wilayah penjualan. Mereka menerima permintaan dan merekrut reseller dibawah masing- masing. Menurut Rima kekuatan Sambel JuDes terletak di sistem jualan langsung. 
 
Melalui sistem reseller dicoba saling silaturahmi antar reseller. Menurutnya sistem ini meminimalkan brang terparkir lama di etalase. Sementara itu, kalau dia menitipkan ke toko maka tidak ada koneksi yang terbentuk. 
 
Barang pun tidak otomatis akan berpindah tangan. Jeda itulah yang dipangkas lewat distributor dan reseller dibawa dirinya. Tentu mereka akan mendapatkan harga spesial. "...mencapai 20- 30 persen," paparnya.

Marketing Rima terbilang unik karena nekat. Dia mampu mendekati para selebriti Indonesia. Memberikan mereka secara cuma- cuma sambal roa. Sistem endors yang dilakukanya belum marak dilakukan pengusaha lain. 
 
Hasilnya? Foto- foto Sambal Roa Judes terpampang di foto Twitter. Banyak follower si selebriti yang mengomentari dan tertarik.

Selebriti pertama adalah pasangan Zaskia Mecca dan Hanung Bramantyo, penyanyi Nina Tamam, presenter Andhara Early, bahkan sampai Chef Bara Pattiradjawane. "Saya cuma meminta alamat mereka, lalu kirim sambalnya," beber Rima. 
 
Bulan Februari 2013, penjualan sambal roa mencapai 3.000 botol, yang mana oleh suami Rima disarankan lebih fokus.

"Suami bilang, saya tidak boleh serakah. Rezeki ini titipan Tuhan. Artinya, bisa diambil kapan saja. Saya disarankan untuk memilih satu, antara pekerjaan kantoran atau berjualan sambal," ceritanya.

Semenjak dirinya berhenti bekerja memang sambal roa naik. Penjualan naik drastis dibanding sebelum dia berhenti bekerja. Bulan Januari omzet jualan sambal sudah mencapai Rp.30 juta, sedangkan April ketika ia tidak lagi bekerja mencapai Rp.170 juta. 
 
Produksi dua hari saja mencapai 500 botoh seharga Rp.37.500 botol yang mana tersebar ke seluruh Indonesia dan luar negeri. Pasar mencapai Jerman, Kanada, Jepang dan Jeddah. Adapula salah satu pasar swalayan yang menjualnya di etalase. 
 
Meski begitu pesanan terbanyak ya dari distributor dan reseller. Salah satu kunci sukses menurut dia adalah kualitas bahannya. Ia tidak main- main soal kualitas ikan roa mentah itu. Ikan harus benar- benar kering agar tidak cepat berjamur. 
 
Sementara cabainya harus benar segar, memiliki batang berwarna merah segar. Berkat usaha sambal Rima memiliki uang lebih. Resolusi terus dirancang olehnya hingga akhir tahun terwujud. Yakni ia bisa menabung, investasi tanah, serta wakaf untuk almarhum ayahnya. 
 
Kalau dibilang tidak punya uang sudah biasa. Tetapi ketika ia memiliki banyak uang rasanya luar biasa. "Ketika saya bisa memiliki uang dan membaginya dengan orang lain," tutup Rima.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba