10 Kata- Kata Bijak Pengusaha Dunia

 Artikel Kata- Kata Bijak Pengusaha Dunia

  
kata- kata bijak pengusaha dunia

Kita membutuhkan tokoh untuk ditiru, bukan tentang menjadi sama tapi belajar sesuatu. Mereka, para pengusaha atau entrepreneur, adalah tokoh impian mereka yang menjalankan usaha. Tidak hanya membantu mencarikan jalan atau menghindari kebuntuan. 
 
Mereka juga harus memotivasi untuk tetap berusaha. Dengan pemikiran tersebut Entrepreneur.com telah bersiap, mereka telah menulis 10 kata- kata inspiratif untuk kamu sekalian. Berikut kata- katanya:

1. Steve Jobs (pendiri Apple)

"Waktu kamu terbatas, jadi jangan sia- siakan untuk hidup dalam kehidupan orang lain. Jangan terjebak dalam fanatik -dimana hidup berdasarkan hasil pandangan orang lain. Jangan biarkan suara bising dari opini orang menghilangkan suara hati mu. 
 
Dan yang paling terpenting, punya keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi. Mereka (kata hati dan intuisi) entah mengapa sudah lebih dahulu tau apa sebenarnya yang kamu inginkan menjadi. Selainnya hanya sebuah tambahan," bersumber dari komentarnya di Stanford 2005.

2. Walter Elias a.k.a Walt Disney (pendiri Walt Disney Productions)

"Semua mimpi kita menjadi kenyataan, jika kita punya keberanian untuk mengejranya," dari buku 2004 berjudul "How to Be Like Walt: Capturing the Disney Magic Every Day of Your Life".

3. Richard Branson (direktur utama Virgin Group)

"Motivasi terbesar saya? Hanya terus membuat diri tertantang. Saya melihat hidup hampir seperti satu pendidikan universitas panjang yang tidak pernah saya rasakan -setiap hari saya belajar sesuatu yang baru."

4. Oprah Winfrey (Media mogul)

"Setiap waktu kamu menyatakan apa yang kamu mau dan percaya, kamu lah yang pertama mendengar. Itu adalah pesan untuk kamu dan orang lain tentang apa yang kamu pikir mungkin. Jangan taruh sebuah pagar di dalam diri sendiri."

5. Bill Gates (pendiri Microsoft)

"Itu wajar untuk merayakan kesuksesan tapi yang paling penting itu untuk memperhatikan pelajaran dari kesalahan."

6. Henry Ford (pendiri Ford Motor Company)

"Kesalahan itu mudahnya kesempatan untuk memulai kembali, kali ini dengan lebih cerdas... Sebuah bisnis benar-benar dikhususkan untuk pelayanan hanya memiliki satu kekhawatir tentang keuntungan. Mereka akan begitu memalukan besarnya."

7. Larry Page (pendiri Google)

"Kamu tidak perlu memiliki sebuah perusahaan 100 orang untuk mengembangkan gagasan itu," dari artikel Business Week 2011.

8. Warren Buffett (direktur utama Berkshire Hathaway)

"Dibutuhkan 20 tahun untuk membangun reputasi dan lima menit untuk merusaknya. Jika kamu berpikir tentang itu, kamu akan melakukan sesuatu yang berbeda." -cerita di tahun 2011 di The Guardian.

9. Russell Simmons (pendiri Def Jams lebel)

"Saya telah diberkati untuk menemukan orang-orang yang lebih pintar dari saya, dan mereka membantu saya untuk melaksanakan visi yang saya miliki. " dari artikel 2010 berjudul Russell Simmons Success Secrets Revealed.

10. Jeff Bezos (direktur dan pendiri Amazon)

"Salah satu kesalahan besar orang perbuat adalah bahwa mereka mencoba untuk memaksa minat pada diri mereka sendiri kamu tidak memilih gairah (passion) kamu; Gairah kamu memilih kamu." dari buku 2013 yang berjudul Shortcut to Prosperity: 10 Entrepreneurial Habits and a Roadmap for an Exceptional Career.

Catatan: karena perbedaan interpretasi, penulis mencoba menuliskan secara Indonesia. Jika ada kesalahan kecil pada maksud, tolong benarkan. Sumber asli dari artikel Entrepreneur.com, tempat terbaik buat kamu belajar jadi wirausahawan.

Pendiri Jakarta Islamic School Fifi Proklawati

Profil Pengusaha Fifi Proklawati

 
jakarta islamic school
 
Siapa pendiri Jakarta Islamic School bernama Fifi Proklawati.  Namanya lengkapnya, Fifi Proklawati Jubile. Wanita kelahiran sama dengan hari kemerdekaan Indonesia, tepatnya pukul 10 malam pada 17 Agustus di tahun 1970. Oleh karena itu pula ia diberi nama "Proklawati".  
 
Fifi memiliki latar belakang pendidikan yang bertolak belakang dengan apa yang dikerjakannya sekarang. Ia justru pernah disekolahkan di sekolah kristen Pintu Air, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Mengapa bisa sampai di sekolah sana. 
 

Pengusaha Wanita

 
Usut punya usut, kedua orang tuanya khawatir akan masa depan Fifi. Kala itu narkoba sedang gila- gilanya menjangkit anak muda. Dan, saat itu kebanyakan mereka yang kena justru mereka dari sekolah negeri. 
 
Tambahan lain kala itu belum ada sekolah islam modern yang bermutu dan unggulan. Adanya pondok pesantren justru letaknya juga kebanyakan di daerah bukan di Jakarta. Mungkin hal inilah yang membuatnya kelak mendirikan Jakarta Islamic School.
 
Sejak kelas 1 sekolah dasar gemar membaca buku. Buku apa saja dibacanya. Kecepatan membacanya luar biasa, Fifi mampu membaca 300 halaman per satu jam. 
 
Pantaslah jika Fifi termasuk anak yang kreatif, ada saja idenya termasuk idenya, termasuk "mengerjai" gurunya dengan berteriak "Bu, ada yang ulang tahun." Jadinya jam yang seharusnya pelajaran diganti acara makan kue ultah yang dibeli dari hasil "saweran" teman-temannya yang kaya. 
 
Itulah polah Fifi kecil yang suka bikin "gemes" orang tua dan guru. Saat remaja ia memiliki cita- cita dari kebanyakan wanita pada umumnya. Dia tak mau hanya menghabiskan hidupnya dengan bekerja, menikah, punya anak, punya cucu, dan meninggal tanpa hasil karya apapun. 
 
"Habis itu saya terus mau ngapain?" itu yang ada dibenaknya. Saat kuliah, di Trisakti, ia aktif di kerohanian Islam kampus. Dari situlah ia mulai mengenal Islam sesungguhnya dan sebenarnya dan akhirnya memutuskan untuk konsisten dengan Islam sebagai jalan hidupnya. 
 
Ia memutuskan untuk mengenakan hijab. Sejak kuliah dia sudah hidup mandiri dari berdagang. Usahnya berjualan burger disisihkan sebagiannya untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari dan beramal. Ia juga pernah menjadi pengajar bimbingan belajar. 
 
Dari sini pula Fifi tahu bahwa guru bimbel hanya dapat 40% dari uang lesnya sedangkan 60% masuk ke bimbelnya. Padahal yang capek adalah guru bimbelnya. Ia kemudian mendirikan bimbel sendiri bernama "Fifi College". 
 
Bimbelnya pun menyebar hingga lima tempat. Ini semua dicapai bahkan sebelum lulus kuliah. Setelah menikah, ia harus ikut suaminya yang bersekolah di luar negeri yaitu ke Australia. Di sana, ia kembali berbisnis kali ini dengan membuka katering khusus masakan Indonesia. 
 
Dari situlah ia mendapatkan uang belanja tambahan. Ketika sang suami bersekolah lagi ke Malaysia, Fifi juga harus ikut ke sana. Kala itu ia sudah punya anak usia playgroup. Di Malaysia, ada sebuah aturan untuk anak diusia playgroup, yaitu sang anak harus lulus ujian toiletris.
 

Mendirikan Jakarta Islamic School

 
Sebuah syarat untuk masuk sekolah, namun anaknya belum juga lulus tes ini. Tak mau kehilangan akal akhirnya ia mengajukan diri untuk menjadi pengajar di sekolah tersebut dengan catatan ia juga boleh membawa anaknya, dengan begitu ia bisa mendampingi sang anak saat akan ke toilet. 
 
Itulah Fifi masih dengan kratifitas dan ide- idenya yang diluar kebiasaan. Awalnya sekolah menolak gagasan Fifi namun karena Fifi terus berusaha meyakinkan, sekolah pun menyetujuinya dan masalah pun selesai. 
 
Ia sangat beruntung bisa mengajar di sekolah itu karena banyak ilmu dan pengalaman yang bisa ia dapat. Ada sebuah kesempaan bisnis baru. Fifi melihat prospekn bahwa kebanyakan wanita Malaysia bekerja untuk membantu suami melunasi hutang pada pemerintah yaitu hutang pendidikan dan KPR. 
 
Oleh karena itu anak-anak mereka selalu dititipkan ke jasa penitipan anak atau Nursery. Bahkan yang memiliki anak sampai 7 pun semuanya dititpkan. Dari bayi hingga anak-anak semua seperti disekap di sebuah ruangan. 
 
Dengan anak yang berjumlah 50- 100, semunya dimasukan ke satu rumah yang dijaga hanya 3 atau 4 orang. Mereka bertugas menyuapi, memandikan, dan mengajar. Ia menemukan peluang bisnis dan berhenti dari mengajar. 
 
Fifi menyewa sebuah rumah yang lebih besar dan ia mendapat rumah yang dahulunya dipakai sebagai TK sehingga sudah terdapat mainan jungkat-jungkit yang tertanam di tanah. Dia kemudian menata rumahnya sedemikian rupa sehingga kondusif untuk anak-anak. 
 
Tentu ada yang beda dari bisnis nursery karyanya ini. Dia membatasi anak yang ditampung hanya 12 orang. Dan, jika dititipkan di tempatnya orang tua tak perlu mengajari Al- Quran setiba di rumah. Anak- anak sudah diajari di tempat penitipan miliknya.

Dari sinilah ia belajar tentang bagaimana mengedukasi anak-anak yang memiliki keragaman sifat mereka. Manfaat yang diperolehnya adalah anaknya sendiri mendapat banyak teman dan pandai bergaul.
 
Dia sendiri  menjadi tetantang untuk selalu membaca buku tentang psikologi anak. Setiba di Indonesia, ia menyekolahkan sang anak di SDIT Jakarta. Namun sayang sistem pendidikan Indonesia terbilang kalah jauh dibanding saat di luar negeri. 
 
Fifi merasa anak-anaknya lebih pintar dan kreatif saat TK dibanding saat SD. Ia bertekat mendirikan sekolah sendiri. Fifi ingin membangun sekolah sesuai dengan apa yang didapatnya selama tinggal di Asutralia, Malaysia, dan Singapura. 
 
Dia juga ingin menambahkan pelajaran agama Islam secara khusus di dalamnya.  Gayung pun bersambut. Sekolah yang diidrikan Fifi banyak peminatnya. Namun Fifi membatasi muridnya hanya 16 siswa tiap kelas dengan didampingi 2 guru. Hal ini agar suasan belajar di dalam lebih fokus dan efektif serta hasilnya maksimal. 
 
Sekolah ini kemudian diberi nama Jakarta Islamic School. Uniknya lagi disini siswa tidak dibebani dengan PR lagi. Dia sebenarnya tidak menargetkan materi dari bisnis ini karena niatnya semula hanya memberikan yang terbaik untuk anaknya sendiri. 
 
Bahkan dia mengaku bahwa mendapatkan lebih dari yang ia harapkan dulu. Anaknya sekarang mendapat teman yang banyak, ia memperoleh pengalaman lebih dan juga tentu materi lebih serta networking yang lebih luas.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba