Biografi Luther Kombong Mantan PNS Sawit

Profil Pengusaha Luther Kombong

lutherkombong.png
   
Biografi Luther Kombong, mantan PNS, nama pengusaha yang mungkin sudah familiar untuk warga Kalimantan Timur. Pria kelahiran Rantapeo Sulawesi Selatan, 27 September 1950, yang dikenal sebagai pengusaha kaya raya dan salah satu kader terbaik dari Partai Gerindra. 
 
Seorang politikus, pengusaha terkenal, yang ternyata dulunya pernah mengecap rasanya jadi orang bergaji. Untuk pengalaman politik selain pernah menjadi calon Gubernur Kaltim. Dia tercatat menjadi anggota DPR sejak 2004. 
 
Dua periode sudah dia menjabat menjadi anggota DPR Komisi IV -membadani pertanian, perkebunan, Kelautan, Perikanan dan Pangan. Selain pengusaha dan politik, ia juga mantan PNS di Dinas Kehutanan sejak 1985.

Biografi Luther Kombong


Sebelum menjabat direktur utama PT. Pancakarya Margabhakti dan PT. Dwiwira Lestari Jaya. Sosok Luther ya seperti kebanyakan orang biasa alias bergaji. Cuma bedanya dia cerdik dalam hal berbisnis. Ia bahkan sukses ketika masih berstatus pegawai negeri sipil. 
 
Pengusaha berdarah Toraja dan tumbuh besar di Kalimantan Timur. Merupakan pengusaha lokal bisnis sawit di Kaltim. Unik, jarang loh ada pengusaha lokal sukses di sawit.

Bahkan hampir tidak ada pengusaha lokal sukses disini. Menurut artikel sumber, pengusaha di Kalimantan, kelau pengusaha lokal cuma pemilik hak pengusahaan hutan (HPH). Jadilah cuma beberapa saja yang bisa punya tanah luas. 
 
Jarang sekali pengusaha lokal bisa sebesar Luther Kombong -kebanyakan merupakan perusahaan besar dari luar Kaltim. Sebut saja nama- nama perusahaan besar seperti Astra Argo Lestari, Lonsum, Sinarmas.dll.

Pengusaha yang memulai usahanya dari bawah. Setamat SMA, Luther tak mungkin kuliah karena masalah ekonomi, untungnya ia mampu masuk PNS di Dinas Kehutanan Kalimantan Timur. Berkat kerja kerasnya lah dia bisa mendapatkan pekerjaan. 
 
Terbukti selama bekerja di dinas, tak sedikit usaha sampingan dijalaninya sambil bekerja. Mulai dari berbisnis restoran kecil- kecilan, kantin sekolah, penyewaan mobil, sampai ikut proyek prasarana. Justru dibisnis sampingan lah uang lebih besar berasal. 
 
Hingga ada seorang relasi nyeletuk kepadanya, "kalau jadi PNS terus, kamu tak akan bisa kaya atau cukup." Luther harus menjadi entrepreneur sejati. Seorang yang mampu melihat peluang bisnis. Soal mental sendiri sudah dianggapnya Luther punya. 
 
Tahun 1986, ia baru bisa mengajukan surat pengunduran diri. Disaat mengajukan surat itulah banyak kolega bahka atasan yang menahannya. Sang atasan malah menawarinya cuti di luar tanggungan negara. Sayang, tekadnya menjadi pengusaha sudah bulat. 
 
Ia sempat mengikuti saran tersebut. Tetapi, hasratnya condong ke pengusaha tak tertahan lagi. Selepas tak lagi menjadi pegawai, Luther membangun bisnis konstruksi. Targetnya mengerjakan proyek pemerintah di bidang infrastruktur. 
 
Luther banyak membangun jalan- jalan antar daerah. Proyek pemerintah daerah yang fokus di kawasan transmigrasi. Berjalan waktu ia lantas "bosan" akan tingkah Pemda. Menurutnya pemerintah daerah terlalu birokrasi dan bertele- tele. 
 
Kalau birokrasi mungkin bisa ditunggu, tapi menurutnya kalau soal bertele- telenya; ia tak tahan lagi. Udah bekerja setengah mati tapi uangnya susah keluar. "Kami bekerja tapi seperti pengemis," ujarnya. Perusahaan miliknya sudah tak mau lagi berurusan. 
 
Pilihannya cuma satu bekerja sama dengan perusahaan swasta muni. Berkat kharismanya, kemampuan berbisnisnya memanggil perusahaan besar mendekat. Dia dipercaya oleh perusahaan besar macam Sumalindo. 
 
Ia lantas menjelaskan, "sukses dipercaya oleh perusahaan-perusahaan besar itulah yang membuat saya beranjak naik." Tak cuma naik tapi seperti halnya balon ditiup. Berkat hal apa namanya kepercayaan bisnis ayah dua anak ini moncer. "Seperti balon ditiup," ia menganalogikan.

Meski sukses berbisnis konstruksi justru memunculkan kegalauan. Lantaran fakta dia dan perusahaan sangat tergantung rekanan. Sistem kontrak karya membuat usahanya berhenti, ketika tak ada lagi kontrak kerja sama. 
 
"Ketika kami nggak dipakai lagi, maka kerjaan tak ada. Kami ingin bisnis yang long-term, bukan bisnis kontraktor seperti ini," Luther menjelaskan. Dibenak Luther cuma ada bisnis perhotelan, rumah sakit, perkebunan atau sekolah.

Pengusaha Sawit


Meski banyak ide tak lantas semuanya cocok. Dia membaca itu lewat keadaan Kaltim. Secara umum buat bisnis perhotelan, rumah sakit, dan sekolah belum saatnya. Mau memilih batu bara yang sedang "booming" malah menurutnya terlalu banyak unsur perjudian. 
 
Kurang menarik baginya yang mencari kepastian jangka panjang. Akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa bisnis sawit lah.

"Saya pikir bisnis ini paling cocok untuk Kal-Tim karena alamnya memang memungkinkan," ujar Luther.

Idealisme Luther sebagai pengusaha dicoba seketika. Semasa itu, tahun 1998, dia sempat ditawari ijin HPH. Gampangnya, kamu tinggal tebang pohon atau jug bakar pohon, tanami tanaman sawit dan jadi duit dan begitu seterusnya. Ini tak menggoyahkannya karena fokus ada di tanah perkebunan. 
 
Tanah hak siap pakai tanpa ada jeda waktu. Jika pengusaha kebanyakan sukses di HPH, tidak seorang Luther, sekali lagi bisnis long- term bukan short term! Ini baru kesampaian di akhir 1998 lewat hak pemanfaatan hutan. Total ada perkebunan sawit seluas 20 ribu hektar. 
 
Semenjak punya kebun sawit sendiri kiprahnya sebagai pengusaha bergulir. Di tahun 1999 mulailah proses penanaman. Untungnya waktu itu, ia mendapatkan bibit bagus asal PT. London Sumatera Plantation -yang gagal tanam karena didemo warga. 
 
Modal sendiri menjadi andalannya ketika membangun bendera PT. Dwimitra Lestari Jaya.

"Saya memakai tabungan sendiri dari hasil keuntungan bisnis-bisnis saya sebelumnya," katanya mengenang.

Karena modal sendiri pantas jikalau pertumbuhan bisnisnya tak cepat. Tak secepat pengusaha sawit yang sudah dimodali kredit bank. "Makanya pertumbuhan kami nggak bisa secepat mereka yang menggunakan kredit bank," lanjutnya merendah. 
 
Toh, akhirnya bisnis sawit itu terus berkembang, bahkan sudah mencapai 35 ribu ha di Sangkurilang dan Berau. Untuk konsesi kedua seluas 15 ribu ha dipegang oleh putra pertamanya. Dari kebun pertamanya katanya sudah ditanami 8 ribu ha. Sementara yang sudah bisa berpanen ada 3 ribu ha. 
 
Kebun itu mampu mempekerjakan 1.600 pekerja. Sebagian pekerjanya datang dari desa- desan miskin di Pulau Jawa. Kemudian dibangun juga satu pabrik berkapasitas 30 ton per- jam. Yang mana rencananya akan meningkat sampai produksi 60 ton per- jam. 
 
Cerdasnya Luther mampu memanfaatkan perkebunannya. Ia sempat membangun pabrik kayu lapis dan vinil sekala sedang. Usaha plywood atau pengolahan kayu agar tidak ada limbah. Ketika membuka lahan terlebih dahulu ada pemotongan kayu hutan diameter 20- 30cm. 
 
Agar tidak mengikuti aturan dari pemerintah bahwa tidak ada pembakaran atau limbah. Satu- satunya cara ya lewat adanya pengolahan plywood. Untuk itulah perusahaan bernama PT. Panca Karya Marga Bakti. Usaha kayu lapis yang telah mempekerjakan 400 -an karyawan.

Luther masih merasa dirinya bukan siapa- siapa. Tak hentinya ia bersyukur atas jalannya roda kehidupannya. Seorang anak cuma lulusan SMA sampai akhirnya menjadi pegawai negeri dan seterusnya. 
 
Usaha berkembang menurutnya tak melulu harus punya modal besar. Meski terlihat besar sekarang, parlu kamu tau awalnya ratusan alat pengolahan miliknya adalah hasil leasing. Semuanya berkat kemampuannya membaca meperhitungkan.

Ada aset properti dibelinya di Samarinda Seberang seluas 100 ha, dibeli semasa belum krisis, dan harganya baru Rp.15- 20 ribu per m2. Sekarang tanah tersebut ditaksir seharga Rp.500 ribu per- m2. Nilai asetnya naik sampai satu triliun bukan karena apa. 
 
Tapi karena ia pandai menyimpan uang dan berstrategi. "Padahal waktu krisis saya sempat mengira ini langkah bisnis saya yang salah," ujar Luther, yang rencananya akan membangu hotel disana.

Prinsip bisnis Luther sederhana kok, ada lima prinsip agar kamu bisa jadi the next Luther Kombong:
 
(1) mau bekerja keras, (2) punya keberanian, yaitu berani mengambil keputusan, (3) jujur, agar menarik kepercayaan mitra, (4) memelihara lingkungan, (5) punya manajemen yang baik, termask manajemen uang kamu sendiri buat berinvestasi. 
 
Prinsip kejujuran menjadi andalan seorang Luther Kombong. Istilahnya kalau kamu udah bisa dipercaya kamu telah kaya.

"Karena orang kalau sudah percaya akan berani meminjamkan barangnya atau uangnya kepada kami. Kalau kami tidak dipercaya maka hubungan itu akan putus," tutur Luther yang kini lebih sibuk berpolitik sementara putra pertamanya yang menjalankan bisnis. 
 
Meski bisnis sawit tampak megah diluar. Fakta menurut dia, iklim investasi dibisnis ini lemah. Utama soal ada atau tidak kepastian hukum. Tidak ada political- will memajukan pengusaha. Pemerintah tak serius memilah mana pengusaha yang taat pajak, pengusaha yang membuka lapangan pekerjaan baru, dengan yang mana pengusaha yang sekedar spekulan. 
 
Ilegal dan legal menurutnya di Indonesia itu beda tipis. Birokrat sendiri lebih suka bisnis ilegal yang dilegalkan.

"Kita tertinggal jauh dari Malaysia," tambahnya.

Jaminan keamanan dinilainya lemah banyak perkebunan sawit dirusak warga. Padahal kalau mau pemerintah bisa membuat kebijakan pemberdayaan masyarakat. Belum lagi bunga bank masih cukup tinggi. 
 
"Kalau kondisinya kondusif, kami pasti sudah bisa tanam 20-30 ribu hektar sampai sekarang," tutup Direktur Utama PT Dwimitra Lestari Jaya ini seraya berharap. Sumber: Sudarmadi, Business Journalist and Researcher SWA.

Pengusaha Gila Usaha Briket Kulit Kacang

Profil Pengusaha Edy Gunarto 


pengusahagila.png
 
Pengusaha gila usaha briket kulit kacang. Dasarnya memang menjadi pengusaha keputusan ggila. Ia harus mampu membuat peluang bisnis. Merubah ketidak mungkinan menjadi kenyataan. Termasuk hal- hal paling kecil -remeh temeh, semisal dia mengolah kulit kacang. 
 
Edy Gunarto, cuma warga dusun biasa (awalnya), asli Dusun Plebengan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, dan Yogyakarta, mampu merubah kulit kacang menjadi briket. Edy sudah bisa memasarkan produknya di berbagai kota, seperti Surabaya dan Jakarta.
 

Usaha Briket

 
Lewat kulit kacang saja namanya dikenal diantara pengusaha kelas rumah tangga. Mereka adalah orang- orang yang butuh bahan bakar alternatif pengganti. Gagasan sederhana yang lantas memulai keisengan. 
 
Mulai dari rasa terlalu banyak sampah kulit kacang di desanya. Sampah bertumpuk dibiarkan di pinggiran jalan atau begitu saja di kebun- kebun.

Di rumah Edy sendiri kulit kacang tak kalah banyaknya. Apalagi sang istri ternyata seorang pengepul kacang. Dimana istrinya menerima kacang hasil panen para petani. Setelah itu kacangnya dikupas oleh istrinya, dijual setelah bersih tanpa kulit. 
 
Kacang asal Desa Sidomulyo itu biasanya dijual di pasar tradisional, terutama di pasar Bringharjo, yang mana cuma menyisakan setumpuk kulit kacang di rumah. Semakin menumpuk lagi berkat jasa Edy pula. Berkat mesin canggih buatannya yang mampu mengupas 2 kuintal dalam sehari. 
 
Alat tersebut semakin ganas selepas dimodifikasi ulang. Olehnya, kini, mesin pengupas kacang buatannya mampu mengolah 1,5 ton per- hari. Alat tersebut dijelasnya meniru alat perontok padi karena prinspinya hampir sama.

"Dengan bantuan alat pengupas, kacang tanah yang tertampung semakin banyak," jelasnya. Serta semakin banyak pula kulit kacang tertumpuk di rumahnya.

Berkat mesin itu keuntungan bisnisnya makin menanjak. Tapi bukan karena itu namanya menanjak, menjadi sosok pengusaha inspirasi kamu. Berkat mesin pengupas kacang, petani kacang datang tidak cuma berasal dari daerah Bantul. Tetapi juga petani asal Kulon Progo dan Gunung Kidul. 
 
\Itu membuat usaha istrinya makin pesat saja.

"Dampak lainnya, ya semakin menumpuknya sampah kulit kacang di rumah kami," ujarnya.

Kulit itu bahkan terkumpul sampai bertruk- truk. Kulit itu dijualnya ke pengrajin tahu seharga Rp.30.000- Rp.35.000 per- truk. Kulit kacang tersebut digunakan oleh para perajin sebagai bahan bakar. 
 
Di sanalah ada terbersit ide bagaimana memanfaatkan kulit kacangnya. Kebetulan juga ada pelatihan pembuatan briket di kampung Edy. Ada pelatihan membuat briket serbuk gergaji, yang sayangnya, lebih mudah mencari kulit kacang dibanding kayu.

"... di tempat saya sulit dan yang tersedia kulit kacang, ya saya coba saja," ujar Edy, lantas dicarinya sumber bacaan tentang kulit kacang dan briket. Dia tertarik bagaimana cara membuat briket kulit kacang. Masa eksperimen dilakukan dengan mencampur kulit kacang dan serbuk gergaji. 
 
Lambat laun, akhinya Edy sukses menemukan cara 100% kulit kacang. Pada awal eksperimen, proses pembakaran tidak sempurna jika cuma memakai kulit kacang. Menurut hasil penelitiannya semua bahan organik bisa. Mampu dirubah olehnya menjadi bahan briket. 
 
Begitu pula bahan kulit kacang yang berton- ton tersebut. Cuma butuh diakali dulu sampai benar- benar bisa 100% dari kulit kacang. Hasil penelitian Edy ada cangkang jarak, tempurung kalapa, bahkan bonggol jagung bisa diolahnya jadi briket. 
 
Penggunaan bahan lain digunakannya jikalau stok kulit kacang menipis.

"Karena di daerah sini terkenal sebagai sentra kacang, stok kulit kacang praktis selalu tersedia meskipun pada masa-masa tertentu stok kulit kacang kadang memang agak berkurang," jelasnya.

Pengusaha Gila

 
Selain kulit kacang ada pula bonggol jagung sebagai alternatif. Pabrik briket kecilnya mampu menghasilkan 70kg briket. Setiap 1kg briket membutuhkan 2kg kulit kacang. Dalam sehari dibutuhkan 180kg kulit kacang setiap harinya. 
 
Selain sampah milik sendiri juga dibelinya dari masyarakat sekitar. Dibelinya Rp.50 per- kg, yang mana Edy menjual kemasan 2kg -an. Briket- briket tersebut kemudian dijualnya Rp.2.500 per- kg.

Produksinya masih rendah dibanding permintaan yang meninggi. Kendala paling utama bisnisnya adalah soal peralatan yang masih sederhana. Harapan akan adanya investor akan sangat membantu. Mungkin dia bisa berproduksi setingkat pabrikan. 
 
Mengingat potensi kulit kacang (organik) masih terbuka lebar. Pria lulusan STM 2 Jetis Bantul ini memodifikasi peralatannya sendiri. Ambil contoh pengaduk molen briket meniru kerja mesin pabrik. Alat buatannya seharga Rp.2 juta, kalau beli bisa mencapai Rp.5 juta. 
 
Alat cetak briketnya? Tenang, Edy mengunakan alat pencetak genteng. Itupun sudah dimodifikasi pula Pemanfaatan briket cukup memakai tungku tanah liat seharga Rp.10.000. Memang ini khusus dibuatnya karena belum pernah ada. 
 
"Setelah saya bicarakan dengan para perajin, mereka lalu memproduksi tungku gerabah sehingga konsumen tidak kesulitan mendapatkannya," kata Edy.

Menyalakan briket dalam tungku juga mudah. Briket tinggal ditaruh didalam lubang yang atasnya sudah ada tungku. Dinyalakannya juga gampang cuma pakai secuil kertas atau kain (sudah menyala api). 
 
Tidak sesulit kalau memakai briket batu bara. Uletnya seorang Edy menghasilkan secercah harapan. November 2008, ia memenangkan perlombaan, juara pertama lomba yang diselenggarakan Universitas Indonesia dan Citi Peka.

Ia memenangkan ajang entrepreneurship. Berarti juga ada kesempatan mendapatkan bantuan dana. Atas hal prestasinya diatas briket kulit kacang memenangkan Rp.11 juta. Uang tersebut rencananya akan digunakan buat modal kembali. 
 
Usahanya dirasa akan semakin berkembang lagi. Pasalnya kala itu minyak tanah subsidi mulai langka dipasaran. Tanpa subsidi harga minyak tanah mencapai Rp.8.000 per- liter. Nilai ekonomisnya sudah melebih briketnya.

Ini bisa pula menjadi bahan bakar alternatif pemerintah. Sayangnya, briket ini kalah pamor dengan briket dari batu bara. Apalagi kalau bukan masalah "uang" menjadi hambatan. Briket kulit kacang atau bahan organik lain kalah seksi dibanding briket batu bara. 
 
Terlalu banyak orang masuk dibisnis batu bara dan bisa terusik. Menggunakan briket organik nyatanya ramah lingkungan. Lebih irit kalau dibanding minyak tanah (meski tak secocok tabung gas). 
 
Cocok buat mereka yang memasak nasi, sayur, dan lauk, cocok lagi untuk mereka yang punya usaha pengolahan tahu atau tempe. Satu liter minyak tanah delapan ribuan, sementara briketnya cuma Rp.2.500 per- kg. Ini tidak pula menimbulkan asap mengepul mengotori langit- langit.

Kini, briket kulit kacangnya menjadi idaman industri ruma tangga. Salah satunya industri batik, yang mana nilai 3000 kg bisa buat memasakn satu jam.

Usaha Mabel Rotan Bangkrut Banyu Bangkit

Profil Pengusaha Banyu Widjaya 


usahamabel.png

Sempat usaha mabel rotan bangkrut tetapi tidak menyerah. Pengusaha kelahiran Cirebon, 43 tahun silam, merupakan sedikit dari pengusaha rotan. Tujuh tahun sudah, Banyu Widjaya mempertahankan bisnisnya. Sudah berbisnis furniture rotan sejak 2007 silam. 
 
Kemudian dia buka lapaknya di Jalan Solo Km 12, Mangunan. Dulunya dia buka di Jalan Solo Km 11, kemudian karena alasan tertentu dia akhirnya pindah ke tempatnya sekarang. 
 
Sejak Januari 2015 dia berusaha keras berjuang, dari Cirebon pengalaman pahit pernah dirasa bahwa berbisnis furniture rotan tidak segampang dulu. Apalagi era global sekarang persaingan makin sengit. Ia bercerita, tahun 2004 silam, usaha furnitur di tempatanya dulu, Cirebon, gulung tikar. 
 

Usaha Lagi

 
Banyu bangkit usaha mabel lagi. Perasaingan global menjadi faktor utama. Hanya sedikit pengusaha rotan mampu bertahan. Tinggal 30 persen saja pengusaha rotan mampu berjuang termasuk Banyu sendiri.

Karena itulah dia pergi beranjak ke Yogyakarta, harapan bahwa berbisnis rotan di Yogya lebih baik. Banyu memang berjuang sangat keras. Dia membangun bisnis finishing. Perakitan sudah dilakuakn di Cirebon. 
 
Mulai merangkai rangka, menyamakan jari, mengikat komponen dan menganyam rotan sudah jadi. Di Yogyakarta dia tinggal mengoleskan impra. Tujuannya agar produk awet, tidak juga keliatan lusuh jika kita memandang. Produknya dibuat lebih menarik dengan cara tersebut. 
 
Beberapa bulan jalan akhirnya dia bisa mempekerjakan karyawan. Artinya untung dihasilkan lebih baik dibanding berbisnis di Cirebon.

Kayu rotan sebenarnya bisa menjadi bisnis menjanjikan. Pasalnya kualitas tidak kalah dengan bahan kayu lain. Memiliki umur bahkan lebih awet dibanding beberapa kayu biasa. Selain itu nilai artistik rotan lebih keliatan dibanding kayu lain.

Rotan kan bisa bertahan sampai tujuh tahun. Tergantung perawatan bisa sampai lebih malah. Fokus usaha dia jalankan memang masih sebatas furniture. Mulai dari kursi, sampai perlengkapan makan lengkap dia punya. Juga beberapa pernak- pernik furniture hias. 
 
Bahan mulai rotan alam, Banyu juga memakai rotan sintetis. Dia kini bekerja bersama tiga karyawan. Bekerja jualan dari jam 7.00 sampai 21.00. Berkat usahanya dia mampu membantu orang. Juga mampu memberi makan istri dan kedua anaknya. 
 
Hidup Banyu dipenuhi rasa cukup karena usahanya bertahan sampai sekarang.

Pengusaha Kerajinan Koran Ranny Kreasi

Profil Pengusaha Haerani Erlina Fairida 


kerajinankoran.png
 
Ranny Kreasi pengusaha kerajinan koran.  Tren bisnis daur ulang koran namapnya bisa jadi pilihan. Ini bisa menjadi pilihan sobat pengusaha muda. Unik, lewat lembaran- lembaran koran bekas itu bisa dijadikan aneka produk. Menghasilkan nilai ekonomi yang cukup tinggi. 
 
Dulu kami pernah membahas kisah sukses FX. Harso Susanto. Lewat tangan dinginnya merubah koran bekas jadi aneka furnitur. Kini, kisah Haerani Erlina Fairida, ibu rumah tangga yang merubah koran bekas jadi aneka pajangan.

Bisnis Kerajinan Koran

 
Pemilik Ranny Kreasi berkisah kepada Moneter.co kapan tepatnya.  Awalanya sih karena timbul rasa ingin memanfaatkan limbah koran bekas. Mau didaur ulang cuma mau dijadikan apa. Diakuinya ini sebagai proses iseng- iseng. 
 
Koran- koran diubahnya menjadi aneka wadah keperluan sehari- hari. Melalui belajar otodidak keahlian Ranny mulai terasah. Lewat teman- teman yang berkunjung, lambat laun karya seni itu diminati, apa dijual?

"...bagus ya ini belum ada di pasaran. Terus dari situ ada pesenan dari beberapa teman dan saudara jadi semangat," kata Ranny menirukan.

Permintaan makin banyak datang. Modal pertama Rp.100 ribu dibantu seorang karyawan. Mereka bersama mencoba memenuhi kebutuhan pesanan. Sayangnya, tak semudah itu menjalankan bisnis karena benar melelahkan. 
 
Ranny sendiri sudah bereksperimen lewat bentuk, warna, dan macam- macam kegunaan. Usahanya semakin diminati, apa yang bisa dilakukannya. Untuk memenuhi permintaan bergabunglah Ranny dengan PKK. Lewat organisasi tersebut didapatkan dana pinjaman lunak. 
 
Modal tersebut digunakan kembali untuk memenuhi kebutuhan pasar. Tambahan modal dari PKK senilai Rp.500 ribu. Digunakan untuk menambah jumlah karyawan dan membeli bahan perlengakapan. Total ada 3 karyawan perajin, ditambah 20 karyawan produksi sampai sekarang. 
 
Setelah mampu memenuhi kebutuhan apa selanjutnya. Ranny mulai bermanuver mengikuti aneka perlombaan kerajinan. Tahun 2012, ia memenangkan lomba Juara 1 UKM Award dari Kementerian Koperasi dan UKM. 
 
Kemudian Ranny Kreasi juga memenangkan Juara 1 Sapta Pesona Alam dari Dina Pariwisata. Ada pula aneka pameran yang mulai diikutinya hingga sampai ke luar negeri Bangkok International Gift Affair dan Bangkok International House Fair 2012.

"Akhirnya saya dikenal sama Dinas dan Kementrian Perindustrian serta Dekrenas," jelasnya. Usahanya ini memang punya banyak manfaat buat lingkungan.

Pengusaha Kerajinan


Penjualan Ranny Kreasi dimulai lewat orang- orang terdekat. Penjualan beralih lewat penjualan door- to- door. Hasilnya membangun nama dan pesanan meningkat. Soal lomba dimulai dari paling bawah yakni lewat lomba kelurahan. 
 
Lomba itu fokus tentang usaha masyarakat mendaur ulang. Dia pernah menang Ciputra Entrepreneur 2012 loh. Inilah usaha yang dikenal sebagai industri kreatif. Kerajinan dan bisnis yang banyak membantu masyarakat sekitar.

Istilahnya 3R: Reuse, Recycle, dan Reduce, Ranny menjelaskan bagaimana kita memanfaatkan kembali, lalu mendaur ulang bentuk, dan ini mengurangi sampah tak terpakai. Mengurangi sampah- sampah yang merusak lingkuangan. 
 
Oleh dinas penanangan entrepreneurship, dia diajarkan lebih dekat soal marketing. Mereka lah yang memberikannya kesempatan mengikuti bazar, pameran, bahkan membantunya masuk ke mall.

"Seperti kemarin di pameran inacraft belum selesai pameran hanya dalam waktu 4 hari produk habis terjual," jelasnya.

Beda FX Harso Susanto menghasilkan furnitur. Namun, keduanya sama- sama sempat diremehkan. Itu karena produknya dibuat 100% kertas koran. Memulai sejak tahun 2010, produknya dari vas bunga, tikar, tempat buah, tempat payung, tutup saji, tempat tisu, dll. 
 
Harga jualnya dari termurah Rp.5 ribu- Rp.150 ribu. Ranny Kreasi bertempat di Jalan Saaba, Jakarta Barat 11640, perempuan 51 tahun ini awalnya cuma ibu rumah tangga biasa. Konsumen tidak percaya ini koran. Katanya sih tidak memiliki ketahanan lama. 
 
Baik Harso dan Fanny sudah punya resep caranya sendiri. Namanya pengusaha harus bisa menghadapi aneka tantangan. Termasuk soal pandangan sebelah mata pembeli. Ranny membuktikan hal tersebut langsung. Ibu dari dua anak dan sudah punya satu cucu ini sudah mendapatkan pengakuan.

Cara pembuatan sederhana, ambil kertas koran selebar 5cm, basahi dan linting panjang berfariasi sesuaikan panas matahari. Sangat tergantung matahari, kalau pakai pemanas menurutnya hasil keringnya tak akan rata. 
 
Selepas kering bentuk sesuai keinginan modal kertas lem. Setelah itu setelah kering benar barulah difernis biar awet. Total ada tiga cara digunakan oleh Ranny: bubur kertas, bahan kering, dan bahan direndam dulu.

Kendala terbesar bisnisnya ada di panas matahari. Soal membentuk barang cukup pakai cetakan sederhana. Sebut saja ember bekas buat cetakan tempat payung. Bisnisnya juga merambah souvenir pernikahan. Ranny Kreasi bisa memproduksi 500 souvenir tiap bulan. 
 
Dia juga aktif mengajar pembuatan kerajinan kepada ibu- ibu PKK. Seperti di daerah Cakung, ada satu kelompok 30 orang, yang memintanya mengajari mereka cara membuatnya.

"Saya beri pelatihan lewat PKK dan Dharma Wanita. Kemarin ada permintaan dari Kedutaan Malaysia di Indonesia minggu ini untuk melatih ibu- ibu kedutaan," jelasnya kepada Detik.

Masa liburan sekolah dihabiskannya mengajar anak- anak sekolah. Ia berangkat ke Malaysia, atau datang ke anak- anak binaan Bambu Apus. Ranny mencoba membantu anak kena kasus agar, ketika keluar dari tempat itu bisa menjadi mandiri. 
 
Kesenangan menurutnya adalah bisa menghasilkan. Dan, juga bisa memberi manfaat buat orang banyak. Hadapi MEA, Ranny cukup optimis, apalagi permintaan eksporny ada. Dia pernah mendapat pesanan asal Saudi Arabia. 
 
Dua kali pesan tapi jumlahnya sampai 100 buah souvenir. Apalagi bicara Eropa- Amerika yang mulai jenus produk tak ramah lingkungan. Masih ada peluang bagi Ranny dan pengusaha lain. Bahkan orang Tiongkok terheran- heran produknya terbuat dari koran. 
 
Padahal kita tau betul bagaimana raksasa industri ini berkreasi. Wanita berjilbab ini yakin akan kualitas produknya. Kendalanya mungkin dia belum bisa berproduksi banyak memenuhi semua pesanan. Karena memang masih dibuat manual tangan manusia. 
 
Bicara pemasaran buat hadapi pasar bebas ASEAN adanya internet dan workshop sudah dipersiapkan.

Tertipu Puluhan Juta Pengusaha Putu Sudarma

Biografi Pengusaha I Putu Ngurah Sudarma


putusudarma.png

Pengusaha Putu Sudarma sudah ingin menjadi entrepreneur. Jiwa entrepreneurship nya harus dibayar mahal, ia tertipu puluhan juta. Ia ingin menjadi pengusaha sejak masih duduk dibangku kuliah. I Putu Ngurah Sudarma ancang- ancang buat cari modal. 
 
Dia lantas masuk STIE Pariwisata Yapri Aktripa Bandung. Sudarma sadar disinilah akan jadi ladang bisnisnya. Hanya saja, ada satu fakta tak bisa dipungkirinya, membangun usaha butuh modal besar. Untuk itulah keinginan menjadi pengusaha ditahannya.
 

Jiwa Entrepreneurship

 
Selepas kuliah hasrat terbesarnya menjadi bagian dari industri kapal pesiar. Sebuah batu loncatan pikir Sudarma. Lewat berkerja di pesiar, ia akan mampu mengumpulkan uang, karena di sana uang gajinya sangat besar. Ia segera melamar ketika selesai sekolah. 
 
Sayangnya, apa yang sudah ia rencanakan tak sesuai harapan. Sudah puluhan lamaran dimasukan ke aneka perusahaan kapal pesiar tidak terbalas, dari Royal Caribbean, Holland America Line, sampai Carnival Cruise Line.

Sialnya lagi malah terkena tipu sampai 40 juta. Dia tertipu agen cruise line di tahun 2006. Mungkin karena pola pikirnya kala itu yang berpikir bisnis itu mahal. Menjadi pengusaha buktinya tak selalu mahal. Ambil saja contoh pengusaha kami disini. 
 
Uang 40 juta sebenarnya bisa menjadi bisnis. Tapi entahlah bisnis apa yang ia ingin kala itu tak tersampaikan.

"Sampai sekarang uang itu tak kembali," sesalnya, padahal uang itu ternyata boleh pinjam orang tuanya lewat rentenir. 

Ayahnya telah menjaminkan tanahnya buat membayar rentenir. Nasi telah menjadi bubur, maka dia Sudarma seolah lupa tujuan jadi pengusaha, namun tak menyerah untuk bekerja di kapal pesiar. 
 
Sudarma kemudian bekerja di spa milik temannya yang berwarga negara Australia. Menurutnya bekerja di spa sebenarnya iseng. Sambil menunggu kesempatan buat bekerja di kapal pesiar dan menunggu uang Rp.40 juta kembali. 

Selepas tujuh bulan bekerja di spa, pikirannya berbeda dan menyerah menunggu panggilan ke kapal pesiar. Sebelum bekerja di spa tersebut, ternyata Sudarma pernah bekerja di Singapura. Menurut berita dia pernah bekerja menjadi pelayan sebuah kasino di kapal. 
 
Cuma bertahan 2 tahun, ini karena bukan pekerjaan yang ia inginkan. Mencoba kembali melamar ke kapal pesiar, enam kali ditolak perusahaan, dan akhirnya ia masuk bekerja di spa. Disaat bekerja di spa bertemulah ia dengan kekasih hatinya. Sosoknya seolah menjadi pelega disuramnya nasib hidupnya. 
 
"Untung saat stress itu saya tidak bunuh diri," kenangnya. Disaat galau tak menentu hadirnya sosok wanita membawanya damai. Akhirnya Sudarma memutuskan untuk menikahi sang pujuan hati. Disini keberuntungan seorang Sudarma seolah berubah.

Sang kekasih hatinya, Komang Astini, dinikahinya di awal 2007. Mereka berdua bersama bekerja di tempat yang sama. September 2007, ia memutuskan keluar dari tempat spa tersebut, alasanya karena dia merasa ide- ide bisnisnya ditolak sang pemilik spa. 
 
Ia pun memutuskan mengejar mimpi lamanya yaitu menjadi pengusaha. Sementara itu gajinya saja tak cukup membayar hutang ayahnya. Lantas mau modal berapa dia memulai usahanya. Sang ayah mencoba membantunya kembali. Dia rela meminjamkan uang Rp.60 juta, bermodal pinjaman lewat tanah warisan sang ayah. Sebenarnya ini adalah beban tersendiri baginya. 
 

Wirausaha Spa

 
Modal Rp.60 juta digunakan buat menyewa tanah. Ia membangun tempat pijat sederhana. Yang cuma berisi peralatan dan perlengkapan seadanya. Bahkan tempatnya mendapat julukan spa kandang kuda. Sudarma membuka tempat spa di kawasan Ubud.

Alasan khusus adalah karena tempat itu berasa aura spiritual dan seni budayanya. Ubud baginya adalah desa internasional. Menurutnya hampir setiap orang menatap Ubud. Baik aspek bisnisnya, tempat bekerja, tujuan wisata dan istirahat, atau buat mereka yang menikmati masa pensiun ada di Ubud. 
 
Menurutnya bisnis spa menjadi sebuah penyalur imajinasi. Alasan lainnya? "Itulah tempat termurah," jelasnya lagi, yang disusul tawa berderai Membuka usaha ternyata passion pria kelahiran Singaraja 10 Juni 1980 ini. Sang Spa berdiri di gang kecil di Jalan Jembawan, Ubud. 
 
Tempatnya tanpa polesan dinding, cuma punya dua ruangan, cuma punya dua terapis diawalnya yakni dirinya dan istrinya Astini. Pulau Bali memang surganya bisnis spa. Tetapi, tak semua bisnis spa memiliki kisah menarik, seperti halnya kisah Sudarma. 
 
Menarik karena bisnis ini dimulai dari nol. Cuma bermodal sewa tanah lokasi yang seluas 3m x 6m. Bersama dia dan istrinya, yang juga mantan pegawai spa, keduanya bekerja untuk spa milik mereka sendiri. Uang sewa tempat dibayar Rp.10 juta selama 10 tahun. 
 
Pekerjaan spa dilakukan semuanya oleh mereka berdua. Semuanya dimulai dari hal paling bawah, dari pembangunan gedung, layanan antra jemput pelanggan, dan pemberian treatment pijat, semuanya itu dilakukan oleh Sudarma dan istrinya tanpa bantuan. 
 
Bersama- sama pula mereka melakukan aneka promosi. Mulai membuat desain brosur sendiri. Hingga menyebar brosur pun bersama. Fokus awalnya ialah mempromosikan spa lewat restoran, hotel, villa, dan cottage di kawasan Ubud.

Usaha spa miliknya lantas dinamai Sang Spa. Sayang, Sang Spa tidak terlalu diminati meski keduanya agresif dalam berpromosi. Modal motor butut membantunya menyebarkan 1.000 brosur. Sebagian besar brosur dibuat fotokopi agar harganya lebih murah. 
 
Motor tua yang dikendarai Sudarma sendiri juga digunakan buat antar- jemput pelanggan. Hasilnya pengunjung cuma datang satu- dua orang maksimal lima orang saja per- hari. Terkadang juga tidak ada pelanggan sama sekali. Layanan ditawarkan pertama kali begitu sederhana dan simple. 
 
Bulan pertama pendapatan Sang Spa cuma Rp.980.000 (tergolong rendah di Bali). Dia tak berputus asa mempromosikan spa miliknya lagi. Pada bulan ke dua, mulailah ia fokus lagi membesarkan kembali bisnis Sang Spa. 
 
Kali ini mereka berdua tak sendiri lagi, dibantu oleh sang keponakan dan adik sepupunya. Mulai lah tampak pelanggan mulai bertambah. Pengunjung bertambah sampai kesulitan menangani. "... karena setiap hari dan bulan pelanggan yang datang ke Sang Spa semakin bertambah," jelasnya. 
 
Memasuki bulan kedua ini omzet bisnisnya melesat jadi Rp.5,6 juta. "Masih sangat jauh dari utang yang harus dilunasi," timpal Sudarma. Astini sendiri sempat merasa putus asa akan keadaan. Ia merasa ini akan sangat sulit, hingga memutuskan bekerja di tempat lain. 
 
Ini semua agar bisa membantu sang suami. Mereka berdua masih terus mencoba melunasi hutang. Kalau dihitung- hitung total hutang mereka berdua sampai angka Rp.100 juta. Cinta sang istri terlihat begitu kuat membuat Sudarma semakin semangat. 
 
Inilah asal mula nama Sang Spa. Ini merupakan kepanjangan nama tiga orang: "S" dari nama ayah yang memberi mereka hutang, "A" untuk nama istrinya Astini, sedangkan "NG" berasal dari dirinya, Ngurah. Bulan ketiga akhirnya omzet bisa menembus Rp.15 juta.

Sudarma akhirnya berani mengambil satu pegawai. Sejak saat itu pula usahanya semakin tumbuh pesat saja. Di bulan Agustus 2009, ia memutuskan memutar uangnya kembali, yaitu lewat membuka satu tempat spa lagi. 
 
Sang Spa 2 didirikan di tanah sewa seluas 600 m2, yang hanya berjarak 100 meter dari Sang Spa 1. Dibulan sama, di tahun 2010, ia mengambi alih kontrak bisnis spa di Jalan Monkey Forest, dijadikannya Sang Spa 3.

Sukses Sang Spa karena pelayanannya memuaskan. Pelanggan rela merekomendasi Sang Spa ke keluarga dan teman. Melalui mulut- ke mulut bisnisnya menyebar ke seantero Bali. "Jadi dari mulut ke mulut," ujarnya. Beberapa tamu spa -nya juga mempromosikan Sang Spa lewat internet. 
 
Senang hati mereka menyebarkan lewat Blog, Facebook, Travel Pod, Tripadvisor, dll. Hal lainnya ada standar pelayanan wajib yaitu pelatihan tiga bulan. Satu bulan pelatihan, terapis baru bisa lengsung praktik kerja dengan pengawasan satu terapis senior. 
 
Buat menyenangkan terapis baru, Sudarma bahkan rela membayari mereka meski masih di dalam masa training. Kalau mereka lolos pelatihan maka akan dikontrak dua tahun. Total sudah ada 68 terapis bekerja di tiga spa -nya. 
 
Bulan Agustus 2012, Sudarma sempat membuka Sang Spa 4 di Kuta, sayangnya, terpaksa harus ditutup. Kini, bisnis Sang Spa menyebar, setiap harinya ada 70 orang atau 80 orang per- hari. Mayoritas pengunjung adalah para turis asing.  
 
Mereka yang berlibur di Bali, asal Australia, Jepang, Taiwan, Malaysia, Singapura, Eropa dan lain- lain. Bisnis yang dirintis sejak Januari 2008 ini, mampu menghasilkan omzet Rp.3,5 miliar per- tahun. 
 
Sementara itu Sudarma dan Astini merasa lebih tenang hidup sederhana. Mereka tinggal di rumah kos sederhana sejak awal. Dari motor butut sudah berubah menjadi dua minibus dan satu BMW. Untuk spa lamanya yang mirip "kandang kuda", dijadikan mereka tempat mengasuh 13 orang anak asuh. 
 
Mereka bersekolah formal dan diajarkan menjadi terapis. Layanan antar jemput area sekitar Ubud masih gratis. Sementara diluar Ubud ada tarif sendiri. Dibawah bendera PT. Ngurah Sudarma, tahun 2014, sejak itu fokusnya membengun sistem manajemen.

Hasrat lain, Sudarma ingin menjadi konsultan spa di tiga tahun mendatang. Tambahan dia membuka satu kafe disebarang Sang Spa 2. Kafe yang akan menawarkan minuman herbal. Selain itu ada pula satu vila yang dibangun di daerah Pejeng. 
 
Atas prestasinya tersebut I Putu Ngurah Sudarma pernah memanangkan ajang Wirausaha Muda Mandiri 2013. "Semuanya memang bermula dari mimpi, motivasi dan semangat," tutur penggemar buku biografi dan motivasi ini.

Pengusaha Boneka Lucu Dewanto Purnomo

Profil Pegawai BUMN Jadi Pengusaha


pengusahaboneka.png

Menjadi pengusaha boneka lucu ternyata mengasyikan. Begitu pikir pria berkacamata, yang relakan pekerjaan mapan di sebuah perusahaan milik negara. Dia mau jadi pengusaha. Dalam sebuah episode di Kick Andy, kamu mungkin pernah melihat profilnya, rasa salut terasa buat bapak 
 
Dewanto Purnomo atas inspirasinya kepada kami. Bagi kamu yang belum pernah melihat episodenya, maka kami tuliskan kisahnya disini, untuk kamu bisa pelajari.
 

Usaha Mainan


Menjadi orang gajian seperti dirinya pastilah tak mudah beralih dari pegawai (apalagi BUMN) menjadi pengusaha. Apalagi bisnisnisnya berjualan boneka untuk pria setengah baya seperti dirinya, aneh, pasti berasa aneh gimana gitu tetapi it's work.
 
Tapi, it's work... Ia berhasil melewati fase- fase sulit, bermodal berjualan lewat internet, akhirnya menguasai bisnis jualan boneka lucu.

Awal karir dimulai dari menjadi pegawai perusahaan PT. Erlangga Mahameru. Kerja dibagian sales berjualan buku pelajaran ke sekolah- sekolah di tahun 2005. Selama empat bulan menimba ilmu menjadikan Dewanto ahli dalam penjualan. 
 
Sukses kerja membawanya bisa melompat ke perusahaan yang lebih mapan, Bank Danamon. Selama lima tahun mengabdi, dari 1995- 2000, ia mendapatkan gaji lumayan tinggi yakni Rp.2 juta per- bulan.

Kemudian bekerja di BUMN di PT. Permodalan Nasional Madani selama 11 tahun. Dia telah menjadi orang bergaji Rp.7- 10 juta. Awal mengenal wirausaha sebenarnya sudah sejak tahun 2005. Dimana dia pernah menjadi salah satu mitra waralaba mie ayam. 
 
Sukses bisa berkembang pesat hingga punya satu gerobak lagi. Tak puas dibelinya waralaba lagi di tempat berbeda sampai ada 45 master franchise di Bekasi. Total uang masuk ke kantongnya melonjak mencapai Rp.3.400.000 per- hari. 
 
Omzet perbulan sudah bisa dibayangkan mencapai Rp.102.000.000 per- bulan. Menakjubkan, tapi sayangnya, Dewanto harus rela menelan pil pahit kebangkrutan di tahun 2010. Ada dua hal yang mendasari bisnisnya gagal menurutnya. 
 
Satu adalah karena yang manajemen buruk. Keduanya dia yang masih sibuk bekerja di Permodalan Madani. Ya, ketika bisnis itu menjadi sangat besar. Justru ia mengalami kesulitan mengontrol bisnisnya lagi. Ini diakuinya lewat pewarta Detik.com. 
 
Perjalanan yang menjadi catatan khusus bagi bisnis selanjutnya. Dimana di bisnis selanjutnya ialah menjadi agen susu segar di tahun 2006- 2010. Sudah ada total 100 orang pelanggan setia menunggu Dewanto tiap pagi. Namun, sayang, lagi- lagi bisnis ini gagal dan dijual seharga Rp.25 juta.

"Saya beli bisnis itu dengan harga Rp.10 juta dan saya jual Rp.25 juta, saya untung Rp.15 juta," jelasnya.

Dulu, disaat bekerja di BUMN, ada kawannya yang juga aktif "nyambi" pengusaha. Sang kawan terlihat tengah  kwalahan menjual dagangan. Saat itu, Dewanto sudah cukup lama mengamati bisnis online dan sudah cukup ahli. Lantas dibantunya sang kawan membuat toko online. 
 
Masih ada peluang besar untuknya di bisnis online ini. "Tentu saja saat itu hanya sebagai usaha sampingan," jelas Dewanto.

Menurut pengamatan banyak orang mencari barang di mesin pencari. Oleh karena itu setelah mantap dicarilah kata apa yang paling diminati dibeli. Satu kata ditemukan yaitu "boneka". Segeralah dibangun tiga situs www.bonekalucu.com, www.bonekabesar.com, dan www.bonekabear.com. 
 
Ternyata animo masyarakat cukup besar. Ini mendorongnya semakin yakin, hingga mulai mencari- cari teman seperjuangan. Mulailah pria penghobi baca ini memilih masuk lebih dalam, bahkan rela merogoh kocek pribadinya sampai Rp.15 juta. 
 

Pengusaha Boneka

 
Mulailah pegawai BUMN kelahiran 1971 ini mencari dimana bonekannya. Dia mulai dari pusat produksi boneka terbesar di Indonesia yaitu di Kota Bekasi.

 "Selama wanita masih bisa melahirkan, bisnis boneka cerah," katanya.

Memulai bisnis boneka sejak 2009 -an. Semakin lama semakin mantap menatap bisnisnya. Aneka boneka telah dijual lewat toko online. Target eceran sampai grosiran disanggupinya. Pembelian juga tidak terbatas untuk hadiah tapi juga kebutuhan promosi. 
 
Beberapa perusahaan memesan boneka sekala besar untuk kebutuhan promosi. Mereka akan membeli lewat toko onlinenya. Ternyata boneka prospek omzetnya mencapai Rp.5- 10 juta. "Modal Rp 15 juta dan dapat omset perbulan Rp 5-10 juta dan akhirnya saya keluar dari BUMN," terang Dewanto. 
 
Tahun 2010 tekatnya untuk berpisah dari perusahaan yang digelutinya kesampaian. Ia memberanikan diri fokus berbisnis boneka online. Sejak keluar dari BUMN omzet bisnisnya naik menjadi Rp.10- 30 juta per- bulan.

Dan, terus berkembang, bahkan di tahun 2011 saja, sudah Rp.100 juta dan lebih.

"...target saya tahun 2012 adalah lebih meningkat dari Rp 100 juta rupiah," lanjut Dewanto.
 
Permintaan boneka khusus perusahaan jumlahnya besar. Diakuinya banyak pesanan ia tolak ketika awal- awal berbisnis. Alasannya apalagi kalau bukan keterbatasan sumber daya manusia. Tidak sayang loh, karena ia bertutur penjualan grosir dan eceran jauh lebih besar. 
 
Ini disebabkan perusahaan lebih banyak meminta diskon dari pembelian banyak.

"Selain itu, waktu pemesanannya pun kadang sangat mepet," katanya.

Dewanto masih menerima permintaan boneka korporasi. Tentu melalui peningkatan produktifitas, termasuk bersama teman- teman lain membuka gerai baru di sejumlah daerah. Gerai tersebut akan memenuhi kebutuhan boneka anak dan mainan lain. 
 
Termasuk memenuhi kebutuhan perusahaan sekitarnya. Penjualan grosir maupun eceran datang banyak dari luar Pulau Jawa. Ini memang sudah dibaca olehnya. Penjualan online menjadi cara mereka yang keuangan mampu. 
 
Tetapi ada batas ruang dan waktu menghalangi. Dia mencontohkan pesanan dari pegawai Freeport, dimana mereka bekerja di Papua, mau mengirim boneka buat anaknya di Medan sebagai hadiah ulang tahun. 
 
"Maka mereka pun mencari penjual boneka di internet dan meminta mengirimkan boneka itu ke Medan," paparnya.

Jumlah penjualan meningkat membuatnya semakin bersemangat. Ditambah beberapa mitra pemasok dan pabrik yang memproduksi boneka. Ada 12 mitra tercatat menjadi bagian dari usahanya. Mereka siap untuk mensuplai kebutuhan boneka. 
 
Apalagi beberapa permintaan menyangkut boneka spesifik (custom). Ini hanya bisa dipenuhi pabrikan boneka tertentu. Pengalaman berjualan boneka lama, membuat Dewanto seolah hafal boneka berkualitas.

Ciri fisik boneka yang berkualitas menurutnya, yaitu jika dipencet tangan bentuk boneka segera kembali ke bentuk semula. Penjualan boneka juga mengikuti trend. Ambil contoh warna merah laris di tahun baru China. Warna pink atau merah muda laris memasuki hari Valentine. 
 
Umumnya warna boneka yang selalu terjual adalah warna coklat. Trend sekarang ini, untuk warna- warna ngejreng sudah jadi pilihan seperti hijau atau ungu. Adalah "ketidak pastian" menjadi hambatan tersendiri, tidak pasti apakah sukses atau gagal. 
 
Ketika memutuskan keluar perusahaan, orang pertama yang akan protes keras adalah istri kamu kemudian keluarga besar kamu. Butuh waktu dua tahun lebih hingga Dewanto memutuskan keluar. Sambil bekerja di kantor, disela- sela waktunya, ia kerjakan untuk berjualan boneka online.

Cukup melelahkan sampai perasaan tidak enak itu muncul dan akhirnya Dewanto keluar.

"Apalagi saya sempat menerima surat peringatan (SP) dari atasan.Saya selalu ikhlas ketika dapat SP, karena memang sering telat kalau ordernya lagi banyak. Saya juga kerap meminta ijin" kenang Dewanto.

Oleh karenanya ketika surat peringatan muncul, Dewanto sudah siap untuk kemungkinan terburuk. Tercatat sudah ada 440 pelanggan eceran, 34 pelanggan grosir, 15 perusahaan, itu di tahun 2009 sampai 2012 saja. 
 
Padahal kala itu masih diantara menjadi pegawai atau pengusaha. 440 pengecer meyumbang 20%, grosir ada 65%, dan perusahaan menyumbang 15% pendapatan. Pelangganya tersebar dari Aceh sampai Papua.

Tahun 2009- 2012 pasaran lokalnya meningkat pesat seiring sadar eCommerce. Boneka miliknya juga aktif mengikuti trend teknologi. Seperti baru- baru ini menggarap boneka emoticon blackberry. Cuma dibantu 10 karyawan usaha yang terlihat kecil menghasilkan Rp.10 juta sekali pesan. 
 
Target selanjutnya adalah bagaimana agar produk karyanya go internasional. Ia yakin masyarakat luas akan melihat manfaat berbelanja online kedepan. Tips jualan online menurut Dewanto Purnomo lakukanlah riset terlebih dahulu. 
 
Pastikan kamu mencari apa yang digemari orang lewat situs seperti www.researchinternet.com, yang akan menjadi satu panduan mencari produk apa paling dicari. Selepas itu carilah distributor atau produsen produknya. 
 
Cari barang contoh dan potongan harga khusus. Barulah membuat toko online sederhana bermodal sekitar Rp.5 juta- 10 juta. Selain dari pengalaman juga kesiapan secara mental dan modal buat bergelut di dunia bisnis online. Kesiapan itu menurutnya adalah adanya produk apa yang akan dijual.

Modal Percaya Diri Pengusaha Keripik Durian Tamita

Profil Pengusaha Tawardi Ramli


pengusahakeripik.png
 
Mau jadi pengusaha modal percaya diri. Dia pengusaha keripik, yang dengan PD -nya bertanya kepada pengelola supermarket. Pria pemberani ini bertanya,"produk apa yang tengah dibutuhkan?". Tidak mau mencoba- coba menjadi pengusaha.
 
Dia langsung bertanya kepada marketnya. Bertanya panganan apa yang mereka inginkan darinya. Ternyata jawabannya adalah kebutuhan akan keripik nangka. Mendengar itu langsung menyanggupi permintaan mereka. Padahal, perlu kamu tau, ia sama sekali belum memulai bisnisnya.
 

Usaha Modal Percaya Diri


Bahkan bentuk keripik nangka pun tidak tau. Sebuah mall di Medan tersebut juga tak kalah aneh. Mereka mau saja "dibodohi" oleh Tawardi. Ini kejeniusan seorang pengusaha bukan penipuan. Ia menyanggupi langsung mengerjakan aneka bisnis apapun itu. 
 
Pria asal Deli Serdang, Sumatra Utara, akhirnya menjadi pengusaha dibidang aneka keripik buah.

"...bentuk keripik nangka saja saya tidak tau," jelasnya kepada Tribunnews.

Terlanjur menandatangani kontrak mau- tau mau haruslah mau. Terpaksa, akhirnya Tawardi mencari jalan dan menemukannya sampai di Malang. Dipesan keripik asal Malang dibawa ke Medan. Bukan pula untuk dijual malah dipelajari lagi. 
 
Diamatinya bentuk, terkstur, serta rasa khas si keripik nangka Malang. Sampai ia bisa memproduksi keripik nangka sendiri.

Bantuan datang dari LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), membantunya modal berupa mesin pemotong keripik. Ternyata bantuan tersebut ada prihalnya tersendiri. Tawardi menyebutkan dirinya merupakan korban konflik Aceh yang lari ke Medan. 
 
Dia pindah ke Sumatra sejak tahun 2000-an lalu. Sejak tahun 2004, ia sudah punya bisnis sendiri, yakni mengolah nangka menjadi keripik. Lewat nangka merambah ke kripik buah lain.

Tawardi punya keripik mangga, salak, cempedas, nanas, jamur tiram, tape singkong, hingga durian. Andalan pengusaha satu ini bukan keripik nangka. Justru keripik duriannya menjadi andalan karena menjadi keripik durian satu- satunya di Indonesia. 
 
Kemasan 60gram per- bungkus keripik durian dijual seharga Rp.30.000. Sementara itu keripik lain dijual Rp.20.000, itupun berisi 100gram. Ditambah olehnya keripik buatannya bebas pengawet.

Memakai pembukus alumunium foil membuat keripik awet sampai 4 tahunan. "Tapi saya tulis di kemasan expire hanya satu tahun," katanya. 
 
Keripik buah yang berlabel Tamita, diambil dari bahasa Aceh yang artinya yaitu "yang dicari", Tawardi berharap keripiknya memang menjadi incaran banyak orang. Sekali produksi, kini, ia menghasilkan 400 buah bungkus. Dibantu oleh kerabat dan keluarganya menjadikan bisnis ini lebih efektif.

Permintaan akan produknya memang banyak. Tapi dia belum bisa memenuhinya sendiri. Soal pemasaran pun baru di Sumatra Utara dan punya agen di Bandung. Ketika ditanya ekspor, ia mengaku tak sanggup, alasan karena tenaganya tidak ada. 
 
Keterbatasan modal dan peralatan menghalanginya. Namun tak mematahkan ia mengikuti pameran di Bangkok loh. Bukan perkara mudah ternyata berbisnis seperi ini.
 

Masa Lalu Pengusaha

 
Menelisik lebih dalam, menemukan Tawardi dalam kenangan masa lalu. Dia mulai menceritakan kisah masa lalunya kepada pewarta. Akibat konflik Aceh membuatnya kehilangan harta sampai Rp.1 miliar. Sekitar 12 tahun lalu, dia bukanlah orang biasa, namun pengusaha kopi asal Aceh. 
 
Dia sudah terbiasa soal jual- beli. Bisnisnya sudah mencukupinya buat hidup layak. Hasil berbisnis kopi kala itu sudah lebih dari cukup untuk -nya. Konflik Aceh memakan korban banyak penduduk sipil. Tak mau mengambil resiko nyawa, pergilah dia dari Aceh ke Medan. 
 
Dia mengontak sanak saudara disana. Sampai dia menyelamatkan diri meninggalkan harta, bisnisnya, dan kenangannya. Cuma menyisakan sepetak rumah sederhana di Kota Medan. Itulah harta yang tersisa dimana ia dan keluarganya tinggal. 
 
Meski sudah puluhan tahun masih tersisa gurat emosi ketika mulai bercerita. Kisah konflik Aceh membuat keluarganya terseok- seok di tempat orang. Air mata masih mengalir sedikit dari matanya itu, ketika mengingat kembali beratnya memulai kembali. 
 
Dia punya passion dibidang bisnis. Tawardi jatuh cinta kepada bisnis kopinya hingga hilang. Ketika di Medan pikirannya cuma memulai kembali usaha. "Saya tidak punya apa-apa lagi ketika tiba di Medan, tapi dengan modal nekat," ujarnya.

Seketika didatanginya Carrefour menanyakan peluang usaha. Buat awalan cuma bertanya produk apa yang bisa ia pasok. Gayung bersambut karena mall besar itu memberikan kesempatan buat UMKM. Dan mereka butuh pemasok buat keripik nangka. 
 
Padahal kita tau Tawardi bukanlah siapa- siapa kala itu. Bisnisnya tidak bersisa, yang tersisa hanya kemampuanya  meyakinkan orang lain. Tanpa berpikir panjang diterimanya secarik kontrak. Ditanda tangani tanpa tau apa itu keripik nangka. Ia pun pontang- panting sampai ke Malang. 
 
Berkeliling mencari informasi mengenai keripik nangka. Tak dirasa akhirnya bisa mengisi kebutuhan supermarket. Pria yang bernama Tawardi Ramli ini tak menyerah. Dia bisa memproduksi sendiri dan menyuplai kebutuhan orang. Sayangnya, dia harus menelasn pill pahit kehidupan sekali lagi.

Pasalnya, olahan Tawardi tak cocok buat supermarket tersebut, bukannya untung malah merugi. Jadilah ia hanya memasok dua kali pengiriman. Prinsipnya pengalaman adalah modal sejati. Itulah dirinya, justru jadi semakin bersemangat. 
 
Memutar otak bagaimana agar bisa berproduksi sempurna. Maka lah, di tahun 2004, Tawardi secara intens melakukan komunikasi dengan LSM. Lembaga nirlaba Swiss Contack lah menjadi solusi bisnis.

Lembaga khusus yang membantu masalah Aceh ini memberikan bantuan. Khusus buat mereka warga korban konflik dan juga tsunami Aceh. Nah, Tawardi beruntung kebagian satu mesin vacuum frying. Cocok, mesin penggorang krispiy ini digunakan buat keripik nangkanya lagi. 
 
Seketika ia bisa memproduksi kembali aneka jajanan kripik. Satu mesin itu diberikan mereka secara gratis.

"Mulanya saya hanya memasok keripik nangka saja, tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai membuat inovasi lain," ujarnya.

Omzet bisnisnya meningkat sampai Rp.3 juta per- hari. Karena Medan terkenal akan buah duriannya. Maka ia berinisiatif membuat keripik durian. Inilah andalan bisnis aneka keripik Tamita. Nama itu bisa merambah ke seluruh Indonesia lewat keripik durian dan pewarta digital. 
 
Di tahun 2008 dibukannya pasar dari Jakarta, Yogyakarta, Makasar, hingga Bandung. Sudah menjadi pengusaha lama membuatnya paham strategi. Dibuatnya harga bisnisnya bisa bersaing dengan produk sejenis. Hal unik dilakukannya yakni mengurangi pasokan di pasar ritel. 
 
Loh, bukannya banyak yang malah pengen masuk? Alasan utama sistem pembayaran yang tidak sesuai waktu produksi. Ia menyebut uangnya harusnya langsung masuk ke kas, diputar kembali jadi bahan, hingga bisnis bisa terus berjalan bukan lewat sistem konyasi.

Ayah gadis kecil bernama Mentari, lanta menjelaskan bisnis Tamita bisa naik 150% lewat musim Lebaran. Omzetnya mencapai Rp.4 juta per- hari. "Saya sangat bersyukur, dari tahun ke tahun usaha saya semakin meningkat deras," puji syukur Tawardi. 
 
Soal varian keripik baru? Ia tengah mengkonsep keripik berbahan ikan tawar khas Danau Toba. Kini, dia berharap bisnisnya makin besar dan berkembang dari sekarang.

Es Krim Durian Monthong 36 Pengusaha Awenk

Profil Pengusaha Awenk Liem


eskrimdurian.png
 
Es krim durian Monthong 36 milik pengusaha Awenk. Usaha durian memang enggak ada matinya. Ini contohnya durian menjadi es krim, hingga pancake durian. Rasa memabukan dan bikin nagih. Tekstur lembut bikin enak di lidah.  Harumnya, rasanya, benar- benar menggigit ketika kamu coba rasakan. 
 
Pengusaha ini bernama Awenk Liem. Tak banyak jejak kami temukan lewat internet tentang profil pribadi dan usahanya. Dia dikenal sebegai pengusaha dibalik brand Durian Monthong 36.
 

Usaha Es Krim Durian


Es krim Durian Monthong 36 sudah lama menawarkan kerja sama waralaba. Bisa dibilang Awenk lah pionirnya usaha es krim durian di Kota Jakarta. Waktu itu, katanya tak punya pilihan lain selain harus menjadi pengusaha, memilih mundur dari perusahaan. 
 
Mencari- cari bisnis hingga melihat penjual es krim durian di 1999 -an. Usaha sederhana itu belum setenar sekarang lewat aneka variasi.

"...saya coba jual es krim duran di tahun 1999. Alhamdulillah bisa bertahan dan berkembang," ucapnya.

Meski belum bermerek, usahanya laris manis berkat resep pribadinya. Mereka pecinta durian itu menikmati betul bisnis barunya. Baru satu tahun barulah nama Durian Monthong 36 barulah jadi. Es krim Monthong 36 memang spesialis durian. Harga jualnya seporsi 10- 15 ribu. 
 
Setelah sukses es krim tawaran lainnya buah dari inovasinya adalah pancake durian. Pancake durian original isinya monthong. Ada pula pancake durian rasa pandan berisi durian medan asli. 
 
Tak lekas berpuas hati, ada produk lain seperti puding durin dan es potong durian, pilihannya rasanya ada yang coklat, vanila, alpukat, strawbery, kacang hijau dan alpukat. Agar rasanya legit memang dibutuhkan durian jenis monthong yang tebal dan legit. 
 
Sedangkan durian Medan -nya dipasok langsung dari Medan langsung sebagai variasi. Hitungannya tak lagi kiloan tapi ton- tonan dikirim dari Sumatra Utara. Total ada 3 ton durian tiap bulannya, "tapi dikirimnya secara bertahap," ujar Awenk. 
 
Tanpa bahan pengawet membuatnya cocok dikonsumsi oleh anak- anak dan manula. Bahkan soal fla atau toping pun tidak ada campuran neko- neko. Ia mengontrol kualitas produknya sendiri. Melalui pengolahan yang baik, membuat es durian Monthong 36 bertahan sampai 3 bulan.

Ia bisa berproduksi 150kg es krim durian dan 2000 pancake durian. Keuntungan bersih dikantongi Awenk 300 juta. Keuntungan bersihnya dari sana 15% nya. Untuk meyakinkan mitra waralabanya, bisnis ini memiliki aspek legal lewat CV. Monthong 36. 
 
Tahun 2014, bisnisnya mendapatkan 3 penghargaan, yakni Best Brand Award 2014, Citra Pengusaha Franchise dan The Best Kulineraward 2014. Tepat lima tahun lebih bisnisnya bermodel waralaba. Awenk memiliki 60 cabang sendiri dan 62 milik mitra. 
 
Paket investasi ada 4 jenis, total investasi dari Rp.7,5 sampai 50 juta. Paket A, senilai 50 juta, terdiri seragam, gerobak, banner dan produk awal 50 bal es krim dan 200 pcs pancake durian. Dimana per- balnya ada 40- 50 gelas es krim, sedangkan Paket B, modal Rp.17 juta dapat booth 1,8 meter, seragam, banner, brosur, 100 cup dan 200 pancake durian.

Paket C investasinya Rp.12 juta, ada booth, seragam, banner, brosur, dan bahan baku awal es krim bernilai 100 cup besar, 100 cup kecil, dan 200 pcs pancake durian. Tterakhir ada Paket D yang investasinya Rp.7,5 juta dimana isinya seperti Paket C. 
 
"Sistemnya kita juga bisa retur," ujar Awenk. Dan, menariknya tidak ada batasan waktu kontrak, franchise fee maupun royalti fee! Hanya saja, agar tidak merubah rasa, Awenk mewajibkan membeli di pusat.

Ketika bisnis kamu sukses, kamu bisa membeli es krim lagi dari tempatnya atau berhenti. Namun ia menyarankan pembelian minimal 100 bal es krim dan 2000 pcs agar harga pengirimnya lebih murah. Harga satunya bisa ditanyakan Awenk langsung. 
 
Ia menjelaskan mitra bisa mencapai omzet Rp.30 juta dan untung 40%. Ini benar- benar menarik rata- rata balik modal dari mitranya hanya 2 bulan. Kendalanya, menurut Awenk ada pada buahnya yang musiman, ketika permintaan tinggi maka akan sukar buat memenuhi. 
 
Untuk mengatasi hal tersebut pihak CV. Monthong 36 telah menyiapkan ruang stok. Dimana ketika musim durian maka Awenk akan menyetok durian disana.

Ibu Pecinta Burung Berbisnis Mudah

Profil Pengusaha Ibu- Ibu Muda

 
pecintaburung.png
 
Kisah ibu pecinta burung membuktikan berbisnis mudah. Para ibu muda tak monoton berjualan itu- itu saja. Biasanya mereka berjualan baju atau makanan. Nah, kali ini para ibu pecinta burung, tak cuma berjualan mereka juga mampu menternakan.
 
Mereka sukses dari hobi, hingga menghasilkan banyak keuntungan. Berikut daftar perempuan- perempuan luar biasa berbisnis burung yang notabennya passion -nya laki.

1. Kisah Ny. Alex asal Depok


Ibu muda satu ini sukses menangkar burung cucakrowo. Bermodal cuma halaman rumah lamanya di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, terlihat kandang- kandang kecil berejer berisi Cucakrowo. Ny. Alex menyebut ini bukan hasil seberapa karena rumahnya ini sudah tak cukup. 
 
Saking banyaknya permintaan dan hasil dari tangkarannya ciamik. Pemilik CBS Bird Farm ini haruslah memindahkan bisnisnya ke tempat lain.

Dipindah lah bisnisnya ke rumah barunya semuanya ya berkat bisnis ini. Sukses menangkar cucakrowo ini mampu membuatnya bisa membeli rumah baru, di kawasan Jalan Sawang Permai Baya, Kampung Kupu RT. 02/RW. 08, di depan GKLH An- Nur, Bedahan Pasir Putih, Depok. 
 
Suksesnya menangkar Cucakrowo menghasilkam 28 kandang indukan produktif. Setiap bulan kadangnya mengasilkan anakan laris manis terjual.

Cucakrowo milik CBS Bird Farm memang eksotis. Beda dari biasanya dijual dipasaran. Ny. Alex tepatlah memilih cucakrowo kepala hitam. Dimana dikepalanya ada bercak bulu berwarna hitam. Warna itu menurun ke anak- anaknya dan ternyata mengundang perhatian pecinta burung. Anak menetas dalam perawatannya, akan ia biarkan diasuh induknya 1 minggu. Barulah diangkat dan dipanen, maksudnya dipindahkan ke ruang inkubator.

Sebuah ruangan hangat beralas rerumputan atau alang- alang. Siap dipasarkan setelah umur 1,5 bulanan dimana sudah bisa makan sendiri. Nah, sukses menangkar burung cucakrowo, kamu bisa mengikuti jejak Ny. Alex dalam budidaya jangkrik. 
 
Ini bisa menambah pundi- pundi uang keluarga loh. Sukses mengangkar cucakrowo apalagi burung idaman ibu muda satu ini; burung murai batu. Bahkan dalam jangka waktu dekat Ny.Alex akan mendatangkannya dari Sumatra.

2. Kisah Ibu Andri Bogor


Kalau ibu berhijab satu ini sudah lebih jago soal menangkar burung. Juga punya burung cucakrowo yang ia tangkar di lahan terbatas, tak jauh dari rumahnya yakni di komplek Mutiara Bogor Raya Blog E9/No 1, di daerah Kutalampa, Bogor. 
 
Pertama kali punya burung buat ditangkar. Ia mengaku cuma punya tiga pasang indukan cucakrowo, dan dua pasang indukan jalak bali. Berkat usahanya kini sudah ada 17 kandang permanen. Untuk jenis burungnya juga sudah bertambah, yakni burung jenis lovebird. 
 
Jenisnya juga beragam antara lain lution, albino, blorok, dan lain- lain. Yang mana dari setiapnya menghasilkan burung- burung nan- eksotis. Usaha bernama MBR Farm memberikan perawatan 10 hari buat induknya. Kemudian dimasukan inkubator dan dirawat sendiri selepas umur 1,5 bulan.

Dua minggu setelah dilepas dari induknya; sang induk bertelor kembali.

Diakuinya dirinya cuma penangkar pemula. Dari perawatan dan lain- lain dikerjakannya sendiri. Mulai proses penjodohan, memanen anakan, hingga perawatan sebelum penjualan. Sukses menangkar membuatnya siap untuk memperbesar folume kandangnya.

3. Ibu Sadimin dari Cibinong


Beda wanita diatas, ibu yang satu ini bertekat menjadi breeder, justru karena ingin membantu bisnis sang suami. Enam tahun lalu, Sadimin, memulai usahanya menjadi penangkar sendiri. Usaha bernama Dwi Jaya Bird Farm Cibinong ini khususkan menangkar burung cucakrowo. 
 
Mereka lantas bersama membangun ini dari nol. Modal usaha pun didapat dari menjual sepeda motor. Uang tak seberapa dibelikannya dua pasang induk cucakrowo. Hasilnya dari indukan produktif ini jadilah satu pengorbanan manis. Bayangkan dari satu pasang terus berkembang biak. 
 
Kesemuanya seolah tanpa ada hambatan. Memang jika tak berkorban mana ada kesuksesan. "Alhamdulillah, semuanya lancar. Baru sehari masuk kandang, induk langsung bertelur," kenang Ibu Sadimin.

Mau tau kunci sukses Ibu Sadimin breeder cucakrowo?

Pertama adalah kamu harus penyuka burung. Penangkar dari hobi atau hati biasanya akan lebih sukses. Ini jika dibandingkan mereka yang punya uang banyak tapi tak suka burung. Kalau hobi pasti sayang ketika nanti diharuskan merawat burung. 
 
Kedua, kamu tak boleh malu ketika harus belajar dari awal bagaimana cara merawat burung. Caranya ya kamu harus belajar -berteman dengan para penangkar burung yang lebih profesional. Bertanya lah dari mereka dan belajar lah dari mereka. 
 
Nah, terakhir atau ketiga, maka perlu kamu ketahui bahwa ini adalah mahluk hidup. Butuh tempat penangkaran yang baik bukan alakadarnya. Meski dari nol haruslah kamu paham resiko burung mati, sakit, terlepas, atau dicuri oleh orang, dan juga gagal beternak.

"Misalnya, induk sudah jodoh dan bertelur. Tetapi saat mengeram tidak menetas. Bisa juga sudah menetas, tiba- tiba anakan dibuang oleh induknya," ujarnya. 
 
Perlu sebuah kesabaran buat kamu menjalani prosesnya. Diperlukan kesabaran, dievaluasi kembali apa yang salah, jikalau gagal maka itu pengalaman yang nyata, yang bisa kamu ingat ketika menjalankan kembali.

4. Kisah Ibu Marni asal Samarinda


Kalau Bu Marni sama juga mau membantu sang suami. Wawan, nama suaminya memang hobi soal burung, tapi biasanya soal perlombaan jadi beda kalau mau menangkar burung. Karena merasa tidak kunjung merasa beruntung maka beralihlah menjadi penangkar kenari dan lovebird. 
 
Tiga tahun lalu, keduanya membangun satu kandang di kawasan Suryanata Air Putih, Samarinda. Usahnya tak disangka maju pesat. Dan, Wawan kwalahan untuk mengerjakanya sendiri. Dari sinilah sang istri datang ikut membantu nyemplung di bisnis penangkaran burung. 
 
Telaten sang suami mengajar Ibu Marni dari memberi minum, makan, kemudian membersihkan kandang. Memulai dari kenari dan lovebird, kedua breeder semua istri ini juga melirik cucakrowo.

Sayangnya, memiliki dua pasangan indukan cucakrowo, belum menghasilkan piyikan jadi tapi ini tak lantas menjadikan mereka menyerah. Mereka bersama tetap berusaha hingga mendapatkan piyikan cucakrowo.

Mantan Buruh Korea Berbisnis Sendiri

Profil Pengusaha Saipunawa Raepani


mantanburuh.png

Mantan buruh Korea korban krisis moneter. Dia berbisnis sendiri hingga menjadi pengusaha sukses. Ia menyebut pristiwa moneter 98 hikmah. Namanya Saipunawas Raepani. Modalnya mesin jahit lima buah dan juga pinjaman uang Rp.12 juta. 
 
Kini, dia dikenal jadi pengusaha boneka. Bahkan namanya tercatat diberbagai media masa termasuk Kontan. Seperti apakah kisahnya?
 

Berbisnis Sendiri


Hanyalah pria biasa kelahiran Bumiayu, Brebes, sekitar 45 tahun silaman dimana terlahir dari keluarga yang berkurangan. Ayahnya seorang petani dan ibunya cumalah penjahit. Makanya Saipun bisa menjadi sosok pekerja keras. 
 
Ketika kecil dirinya terbiasa hidup kekurangan. Ketika musim paceklik maka Saipun tak akan bisa membayar sekolah. Karena paceklik membuat ayahnya tak menghasilkan apa- apa.

"Kalau diomelin guru gara-gara belum bayar, saya sih ndableg saja," kenangnya.

Berbeda dengan anak- anak jaman sekarang. Sosok Saipun kecil justru malah suka namanya sekolah. Kalau dimarahi guru karena belum membayar sekolah; ia cuek. Bahkan terus berangkat ke sekolah menuntut ilmu. 
 
Ia baru berhenti ketika akan memasuki jenjang perguruan tinggi. Karena tidak bisa melanjutkan sekolah tinggi apa yang dilakukannya. Pria yang akrab dipanggil Nawas ini kemudian menceritakan lebih lanjut. Dia memilih merantau saja ke kota Surabaya. 
 
Mengadu nasib di Kota Pahlawan aneka usaha sudah dilakoninya. Yang penting halal, dari jualan mie ayam, bubur ayam, pokoknya apa- apa saja yang halal dan bisa dimakan katanya. Di tahun 1986, ia putuskan memilih pindah ke Bekas bersama kakaknya. 
 
Mulailah ia jualan ayam potong ikuti jejak kakaknya sejak 1990. Berjualan ayam potong dilakukannya saban hari di Pasar Bantargeban, Bekasi. Sayang, bisnis ayam potong sukses dijalaninya selama lima tahun itu bangkrut. 
 
Akhirnya Nawas menjadi pengangguran dan apalagi yang ia bisa lakukan. "Tapi saya di rumah enggak bisa diam," ujar Nawas. Bisnis apa saja, apa saja bisa dijualnya ya dijualnya. Semisal jualan boneka, alat elektronik, dan juga mesin jahit bekas.

"Nah, dari situlah saya mulai kenal dengan para perajin boneka. Barulah ada feeling ke sana (boneka)," tutur Nawas.

Di tahun 2000, akhirnya, dia diterima menjadi karyawan pabrik boneka di Korea. Mendapatkan ilmu disana dirasanya cukup barulah berani mandiri. Dia langsung membuka usaha sendiri. 
 
Bisnis dibawah bendera PD Dwi Putra Mandiri Toys, sayangnya, usaha patungan tersebut malah harus kandas ditengah jalan. Mungkin saja karena kekurangan modal dan masalah pribadi. Masalah tengah menguji ketekunan Nawas. 
 
Apakah ia akan berbisnis lain lagi atau memilih melanjutkan. Akhirnya ia memilih melanjutkan usaha PD Dwi Putra Mandiri Toys sendiri. Tak punya modal, beruntung, ada seorang kawan mau membantunya. Kawanya memodali Nawas Rp.12 juta ditambah lima mesin jahit ditangannya. 
 
Dari modal tersebut menghasilkan produksi 100 boneka per- hari. Dia tak sendirian bekerja, dimana dibantu lima orang mitra bersama. Usahanya tumbuh, dimana pesanannya dari 100 boneka menjadi 3000 boneka/bulan.

Rumahnya sekaligus tempat produksinya di Bantargebang Barat sudah kwalahan. Tahun 2006, ia membuka ruangan tambahan, tepat dibelakang rumahnya jadi tempat pembuatan boneka tambahan. 
 
Luas bangunannya 550 meter persegi, mempekerjakan 55 orang karyawan, dimana mulai bekerja dari 08:00- 16:00 WIB. Tempat tersebut untuk proses produksi, meliputi pemotongan kain, penjahitan pola, memasukan dakron dan finishing.

"Dengan menggunakan 18 mesin jahit, dalam sehari kami bisa memproduksi sampai 500 boneka," sebutnya.

Semangat Pengusaha


Bertambahnya permintaan akan boneka karyanya. Membuat Nawas berpikir bagaimana mendapatkan mesin jahit baru. Untuk hal tersebut diselesaikannya lewat mesin- mesin jahit bekas pabrik. Kalau ada yang jual mesin jahit masih bagus kualitasnya; ia beli. 
 
Begitu dibeli akan diserahkan langsung kepada para warga di sekitar rumahnya. Mereka adalah mitra Nawas dalam hal produksi. Mereka ikut membantu perusahaan kecil miliknya berproduksi.

"Satu orang mitra bisa sampai lima mesin dan mereka boleh mengerjakan di rumah masing-masing. Hasilnya, produksi boneka kami pada 2004 secara kumulatif bisa mencapai 2.000 buah karena yang kerja banyak," bebernnya.

Dengan hormat, Nawas selalu menyebut mereka sebagai mitra kerja bukan karyawannya. Hasilnya, berkat bantuan mitra kerjanya, perusahaan PD Dwi Putra mampu menghasilkan 8.000 boneka per- bulan. Usaha miliknya masih terus berkembang. 
 
Berkat kepandaiannya bernegosiasi penjualan produknya menyebar. Tak cuma terbatas di Bekasi, tapi sampai ke Jakarta, Samarinda, dimana omzet bisnisnya telah mencapai angka Rp.600 juta.

Cukup memanfaatkan jaringan ketika berjualan ayam dulu. Kegagal berubah menjadi kesuksesan. Kemudian kakaknya yang berdagang ayam banting stir jadi pedagang boneka. Sukses Nawas membawa kebanggan bagi keluarganya. 
 
Sambil bercanda ia menyeletuk, "Jadi, kalau dulu kami keluarga ayam, sekarang keluarga boneka." Untuk model bonekanya perusahaan ini menghasilkan 500 model. Kisaran harga perbuah cuma Rp.7000- Rp.125.000.

Jika ditanya model paling laris, maka ada pilihan boneka lumba- lumba, panda, bebek, bentuk pisang, juga bonek Spongebob. Kalau bicara paling laris maka haruslah yang mengikuti pasaran. 
 
Ia menjelaskan produk miliknya selalu mengikuti kebutuhan pasar. Mengawasi tren karakter- karakter booming seperti halnya model tokoh kartun Shoun the Sheep.

Roti Bakar Bandung Madtari Kisah Wirausaha

Biografi Pengusaha David Maidy


rotibakar.png

Roti bakar Bandung Madtari memang melegenda. Kisah wirausaha bersejarah seperti Cendol Elizabeth dan Rumah Makan Sederhana. Usahanya didirikan oleh pria bernama David Maidy. Pengusaha yang membuat kafe bernama Kafe Madtari asli Bandung.

Merupakan sebuah kafe di kawasan Dago. Mempunyai cita rasa mak nyus berkat kejunya yang banyak. Ini sudah dirintis sejak 1997 oleh Om David. Awal usahanya bermula dari bisnis kaki lima bukan mewah. Dan ketika itu ia sadar telah menemukan peluang emas. 
 

Usaha Roti Bakar

 
Pria asli Garut melihat pisang begitu bejubel di kampungnya. Pisang- pisang itu tak punya nilai jual tinggi. Dalam benaknya ada ide gila bagaimana mengolahnya menjadi sebuah bisnis. Itulah awal mula bisnis pisang bakar Madtari.

Pergi lah Om David ke Bandung bermodal Rp.6 juta ditangan. Mulailah berjualan kaki lima bernama Pisang Bakar Madtari. Kala itu, ia masih berumur 36 tahun, dari cuma berbisnis pisang bakar saja berkembang jadi kuliner lain. 
 
Seperti menyediakan aneka mie goreng, kemudian terpopuler juga yaitu roti bakarnya. Menurut Om David nama Madtari berasal dari nama orang tuanya. Agar selalu mengingat kedua orang tuanya ketika berbisnis.

Adapula kepercayaan bahwa ini akan membawa hoki. Meski terlihat sederhana pada jaman itu ceruk pasarnya mungkin masihlah luas. Om David sukses membuka usaha di kawasan Dago Plaza tahun 1997. Ketika ada penggusuran untuk pembuatan taman; Madtari juga ikut pindah ke BPRS. 
 
Kafe tempat favorit nongkrong anak muda itu lantas mengalami beberapa kali pindah tempat, dari Bank Bumi Putra, Dipatikur hingga sampai Ranggagading Dago. Masa tersulit bisnisnya menurutnya ada di empat tahun pertama sejak 1997- 2001. 
 
Empat tahun pertama ia akui menjadi hal tersulit dalam hidupnya."Empat tahun pertama itu jangan bicara soal keuntungan dulu, yang penting cukup aja buat makan dan hidup," ungkap Om David. Ia menyebut apa yang didapatnya merupakan buah kesulitannya dulu. 
 
Bicara soal rahasia sukses kafe Madtari tentu orang bisa sudah membaca. David pun mengamini hal tersebut. Harganya yang murah disebutnya menjadi faktor utama. Tapi bukan itu faktor satu- satunya menurut kami. 
 
Disisi lain soal pelayanan, tempat, dan kualitas disebutnya tak sebanding kafe lain. Meski begitu jikalau tidak punya cita rasa harga murah seberapapun percuma. Soal harga, Om David rela memangkas untungnya meski berada di tempat bersewa tinggi. 
 
Lebih murah dibanding pesaingnya di Kota Bandung. Siasatnya mengakali sewa tinggi cukup menjalankan bisnis buka 24 jam! Soal keju banyak khas Madtari, ternyata, Om David sudah mengerjakan kerja sama dengan Craft. 
 
Produsen keju tersebut istilahnya mengendors usaha miliknya. Kerja sama sejak 2007 ketika jumlah penjualan dari kafe ini sangat tinggi. Meski didukung Craft dan harganya jadi super miring, bukan berarti Craft kena imbas dari segi penjualan. 
 
Keuntungan Craft memang jadi menurun jelasannya, cuma beberapa persen saja. Hasil bagi Craft adalah brand- awareness oleh pelanggan Madtari. Meski tak memakai keju murah, meski tak diendors oleh Craft, Om David mengaku masih bisa mengambil untung. 
 
Tak lain adalah dari penjualan aneka minuman. Keuntunganya cukup besar loh menurutnya. Dalam hal pengelolaan keuangan tak menggunakan pembukuan. Oleh sebab itu dirinya tak tau pasti soal berapa ia dapat tiap harinya.
 

Kisah Wirausaha

 
Sambil bercanda Om David lalu menyebut satu bulannya bisa buat membeli Alphard. Sayang sekali memang dan dirinya sadar akan hal itu. Ia menyarankan buat kamu pengusaha baru aturlah pembukuan mu. Jangan dicontoh karena dia termasuk yang cuma beruntung. 
 
Modalnya kepercayaan dibayar kepercayaan kepada karyawannya. Dia yakin bahwa selama kita menghargai tiap keringat mereka; mereka tak akan berani macam- macam. Hal ini bisa dilihat ketika karyawannya sakit. 
 
Tak segan dirinya ikut sibuk memanggilkan dokter. Untuk marketing Madtari tak punya cara nyeleneh. Tidak ada namanya brosur atau iklan besar- besar. Modalnya adalah mulut- ke mulut, antara satu orang ke orang lainnya. 
 
Pria penghobi bikers ini juga menjelaskan buka tipikal ambisius. Dalam perjalanan baru ada tiga cabang dibuka Madtari. Dan, ketiganya tepat berada di tanah hak miliknya, ia memang memilih mencoba bermain aman yakni membeli asetnya total. 
 
Ketika itu sebenarnya tempat pertama miliknya sendiri adalah hasil sewa. Yah, mungkin belajar dari kafe utamanya yang sewanya semakin mahal. Dirinya memilih meinvestasikan apa miliknya dalam bentuk tanah. Jadi istilahnya membangun candi- candi kecil disekitar candi utamanya. 
 
Jikalau nanti canti utamanya ditengah runtuh; candi kecil dipinggiran akan menahan.

"Jadi Madtari pusat adalah candi besarnya dan ketiga cabang adalah candi kecilnya. Jika Candi besar runtuh, setidaknya masih ada candi-candi yang kecil," ungkap Om David.

Untuk kedepannya dirinya tak menutup cabang baru. Jika ditanya apakah akan diwaralabakan. Sepertinya hal itu jauh dipikirannya.

Sajak 1999 berdiri wujud Mandtari menjadi sosok usaha tak lekang oleh jaman. Kafe roti bakar sederhana ini katanya menghasilkan ratusan juta. Kalau tanya Bandung dan roti bakarnya, maka inilah pilihan utama bisa kamu kunjungi langsung. 
 
Rasa kejunya menutupi rotinya (menggunung). Menurut sang Manajer sekaligus pemilik, David Maidy, menjelaskan konsepnya masih sama tak berubah. Ia meyakini model warung kopi dimana pengunjung dinyamankan.

Namanya sebagai roti bakar rakyat belum lekang. Harganya dari Rp.5000 untuk roti biasa sampai termahal Rp.13.000 -an buat spesial. Bosan makan roti maka jawabannya ada pisang bakar. Masih tak puas bisa juga coba mie instan dan kopinya. 
 
Kalau badang meriang maka minumnya jahe kencod. Bisa menghangatkan tubuh dan mengusir penat. Ini terhitung murah kok cuma Rp.5000 sampai Rp.11.000. Fokus bisnisnya itu memang ada di pasar pelajar.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba