Pengusaha Kubah Masjid Usaha Sembari Beramal

Profil Pengusaha Suyanto

 

pengusahamasjid.png
 
Apa dikerjakan pengusaha kubah masjid Suyanto berakar beda. Dia mengajarkan kita usaha sembari beramal. Ilmunya didapat dari pengalaman bukan karena perkuliahan. Guru terbaik bagi kehidupan seorang pengusaha. Suyanto memiliki latar belakang pendidikan berbeda dari usahanya. 
 
Ia seorang sarjana perikanan. Bukannya pengusaha dibidang perikanan, malah pengusaha kubah masjid terus untunga hingga punya banyak rumah kos- kosan. Cerita awalnya, usaha sembari beramal, eh, kok usahanya mendapatkan banyak pesanan hingga berkembang.

Pengusaha Kubah Masjid


Dibesarkan keluarga sederhana asal Demak, selepas sekolah menengah atas, Suyanto harus kehilangan sang ayah. Sang kepala keluarga meninggalkan ibu dan lima adik untuk dihidupi. Sebagai anak laki- laki  tertua, ia memang tidak berpangku tangan begitu saja. 
 
Tahun 1995, Suyanto hijrah ke Jakarta mencari- cari penghidupan. Sambil bekerja tak lupa ia pun melanjutkan sekolahnya, cari- cari beasiswa. Dia akhirnya diterima berkuliah sampai Sekolah Tinggi Ilmu Perikanan. 

Di Jakarta, sambil terus berkuliah, ia tak lupa membantu ibu dan adik- adiknya. Ia lantas memilih menjadi kuli panggul di Pasar Kramat Jati. Rutinitas itu dijalani Suyanto hingga tahun 1999 -an seiring dengan kelulusannya. 
 
"Adik saya banyak, gaji pegawai negeri tentu tidak cukup. Saya ke Brunei supaya dapat uang banyak," jelasnya.

Selama setahun di Brunei, sarjana perikanan ini bekerja sebagai sopir. Pada tahun 2000, Suyanto akhirnya melamar ke sebuah perusahaan dan berhasil menjadi kapten kapal perikanan bergaji besar. Dia menghasilkan Rp 7 juta per- bulan. 
 
Namun, ia hanya bertahan dua tahun bekerja di kapal. Dia pulang karena mendengar adik- adiknya tidak mau sekolah. "Untuk apa saya bergaji besar kalau adik saya cuma jadi kernet. 

"Tahun 2002, saya pulang dan mencoba mendampingi adik-adik," jelas pria kelahiran 19 Desember 1977 ini.

Di tahun yang sama, Suyanto memilih merantau kembali setelah menemui keluarganya di kampung. Kali ini, ia ingin bekerja di Banjarmasin. "Saya pikir, kerja di Kalimantan enak. Saya lihat, ada tetangga yang pulang dari Kalimantan dan sukses," katanya. 
 
Hidup di Banjarmasin ternyata tidak semudah yang dibayangkan olehnya. Ia sempat menjadi tukang ojek dengan motor sewaan. Kemudian dia beralih profesi menjadi sopir untuk selanjutnya.

Disaat menjadi sopir itulah Suyanto sering melihat proses pembuatan masjid. Secara iseng, ia menawarkan diri untuk memasok kubah masjid. Pertengahan tahun 2005, ia bekerja sambilan sebagai tenaga pemasar di sebuah bank pemerintah. 
 
"Sambil mencari nasabah, kadang saya berjualan sayuran sambil cari masjid yang membutuhkan kubah,"€ ujarnya. Ia yang melihat kubah yang dipakai jelek. "Saya akan mencarikan kubah yang bagus dari Jawa," tutur Suyanto. 

Kebetulan memang ia mempunyai teman di daerah Pati yang menjadi perajin kubah. Tindakannya bukan soal uang jelasnya lebih lanjut. Waktu itu niatnya cuma membantu, soal keuntungan tidaklah penting. 
 
Buktinya meski ia sudah bisa mensuplai kubah; ia memilih untuk tetap bekerja. Sayangnya, Tuhan bekerhendak lain, makin banyak saja orang meminta kubah darinya. 

"Ternyata, tidak mudah untuk mendapatkan proyek itu. Saya harus mempunyai dokumen-dokumen, surat izin usaha perdagangan (SIUP), dan surat-surat lain,"€ kenangnya lagi. 
 
Dari peristiwa inilah, pada 2005, ia memutuskan mendirikan bahan usaha berbentuk CV. Modal untuk usahanya juga tak besar. Suyanto memilih menggunakan uang muka pengurusan masjid.

"Saya sudah mendapat kepercayaan, proyek itu memang saya dapatkan tapi harus dilengkapi surat-surat," jelasnya.

Sambil bekerja di CV miliknya Suyanto masih tercatat sebagai pegawai bank milik negara itu. Dia bahkan berhasil menjadi salah satu pemasar terbaik. Pada tahun 2007, dia direkrut bank swasta dan menduduki posisi unit manajer. 
 
Peruntungan Suyanto pun terus datang, usaha maju sejalan dengan kariernya bersinar. "€œSaya ditarik menjadi pegawai PT Permodalan Madani Nasional," kata dia yang kini menjabat Wakil Kepala Cabang PNM Banjarmasin. Untuk CV miliknya, Suyanto juga tak lepaskan, justru makin bersinar saja.

Jika sebelumnya hanya sebagai pemasok kubah yang didatangkan dari Jawa. Suyanto mulai berani membuat kubah masjid sendiri yakni berbahan stainless steel, aluminium, dan galvalum ataupun baja ringan. 
 
Ia mengembangkan usaha dengan membangun fondasi dan finishing bangunan masjid (pemasangan gipsum, kaca hias, pengecatan), hingga perencanaan pembuatan kubah masjid dalam berbagai bentuk. Tak cukup sampai di situ, saat ini, Suyanto juga mengembangkan usaha rental mobil dan kos- kosan. 
 
Saat ini, dia memiliki 100 kamar kos- kosan. "Persaingan usaha makin ketat dan usaha semacam ini bisa saja mati. Sebab, sekarang banyak pengelola dan kontraktor masjid yang langsung membeli kubah ke Jawa," dalihnya. 
 
Suyanto juga sedang berupaya membangun sebuah bank perkreditan rakyat (BPR) bersama dua rekannya. "Saya ingin membantu orang yang butuh modal," tutupnya.

Membuat Situs Ecommerce Pengusaha Tokobagus

Profil Pengusaha Arnold Sebastian

 

pengusahatokobagus.png
 

Sang pengusaha Tokobagus.com atau sekarang dikenal OXL, bukanlah warga negara Indonesia melainkan turis asal Belanda. Sosok Arnold Sebastian layaknya pemuda asing lain, dimana pakaiannya kasual, kulit putih, dan berambut pirang.


Dia jauh dari bayangkan pendiri perusahaan miliaran rupiah. Segi pendidikan juga tidak begitu menterang dibanding pendiri Facebook. Arnold lulusan IT Madison University tahun 1999, dimana mendapatkan pekerjaan menjadi freelance programer.


Arnold dipekerjakan perusahaan menghasilkan Gulden. Lantas mengapa dia pindah ke Indonesia mengais rupiah. Dia bahkan capek- capek jatuh miskin demi website OXL.co.id kini. Pengusaha muda ini memang ambisius ingin mengikuti jejak pendiri Amazon.

 

Ambisis Pengusaha TokoBagus


"Amazon.com adalah karya luar biasa karena mempertemukan pembeli dan penjual tanpa dibatasi ruang," jelasnya. Ia nekat berangkat ke Amerika, namun malah terdampar di Indonesia, tepatnya malah tinggal di Surabaya.


Dia tetap berambisi dimanapun. Ketika berlibur ke Bali, dimana dia melepaskan lelah selepas mencoba "manguasai" Amerika. Arnold kepincut keindahan Pulau Dewasata. Dirinya nyaman sampai pikiran gila kembali merasuki. Dia ingin menciptakan Amazon -nya sendiri sekarang.


Ditambah Arnold mengamati Indonesia mulai berkembang. Jaman tersebut internet Indonesia mulai menggeliat. Kecepatan mungkin belum cepat namun menjanjikan pertumbuhan. Disisi lain, situs- situs populer belum merajai, beberapa nama terkenal seperti Kaskus tetapi belum cukup.


Arnold berkata,"bisnis online justru tidak banyak digarap di Indonesia". Ia melihat peluang bisnis begitu menganga. Pemuda tersebut langsung merombak rencana liburan. Semula beberapa bulan, tapi kini dia bertekat menetap lama sembari mendirikan Tokobagus.com ini.


Ia melakukan survei sederhana. Dan Arnold sepakat membangun mimpinya melalui Indonesia. Bisnis teknologi tersebut diberinya nama TokoBagus. Ia mengerjakannya di sebuah kontrakan, memiliki 3 orang karyawan.


Awal dia memperkenalkan TokoBagus, pengunjungnya sangat minimalis kecil. Di 2005 sampai 2006, pengunjung baru naik puluhan ribu, dan Arnold terus mengupdate situsnya semakin lebih baik. Pada 2007, usahanya meningkat semenjak memanfaatkan iklan setasiun dan radio, tetapi tidak banyak.


Justru pertumbuhan internet yang meningkatkan pendapatan. Beruntung Arnold memulai lebih dahulu dibanding lain. Tahun awal 2008, pengguna internet meningkat, sudah menyentuh 31 juta IP hingga terus bertambah.


Trend persaingan antar internet provider semakin membantunya. Makin banyak promosi dilakukan hingga makin banyak pengunjung. Tarif internet semakin rendah sampai makin banyak pengguna. Dia pun menyiapkan dana operasional sampai 5 tahun kedepan.


Arnold pun menargetkan tiga tahun menghasilkan pendapatan. TokoBagus.com berkonsep iklan baris dimana pembeli dan penjual bertemu. Produknya terus bertambah hingga spesial barang bekas. Inilah konsep yang membawanya lebih banyak dikunjungi.


TokoBagus menyediakan aneka elektronik, otomotif, rumah, peralatan rumah tangga, aneka jasa dan lowongan. Website hadir pertama di Bali, didirikan oleh Arnold Sebastian dan Remco Lupkerm yang mendapatkan pengunjung perharinya sejuta lebih sejak 20 Mei 2014.

 

Remco Lupkerm sendiri merupakan warga negara Belanda. Pengalamannya dalam dunia digital lebih banyak. Pindah setelah dirinya mendirikan Toko Bagus. Remco sempat mengerjakan Ambient Digital Indonesia. Dimana ia kerjakan selepas keluar dari perusahaan di Belanda, dan pindah ke Indonesia.


Usaha Ambient Digital Indonesia berfokus jaringan video iklan. Ia menjelaskan dua iklan berbeda: Iklan TV memberikan kesadaran akan dunia digita. Mengajarkan orang bahwa kita bisa membeli barang lewat Internet.


Tetapi ia menjelaskan penjualan akan datang melalui internet. Iklan internet memberikan pengunjung sekaligus konversi. Indonesia merupakan pasar baru membutuhkan didikan iklan. Kunci sukses situs digital ialah memanfaatkan segala jaringan beriklan aneka macam jalur.


Arnold berkata internet akan sangat membantu Indonesia. Negara luas kita membutuhkan internet untuk menghubungkan satu sama lain. Hasilnya 2,7 juta anggota yang bertransaksi setiap hari, dan punya angka transaksi miliaran rupiah.


Pengunjungnya 10 juta orang perhari membuka situs web tersebut. Bayangkan dibanding mall jaman sama cuma hasilkan 30 ribuan perhari. Walau begitu Arnold mengalami kesulitan ketika awal- awal membuka.


Statusnya sebagai warga negara asing menjadi momok. Tetapi ia meyakinkan bahwa mencintai negara kita ini. Arnold bahkan bangganya berbicara bahasa dengan lancar. Mengapa dia berhasil kembangkan situs web, padahal di jamannya situs mulai bermunculan menjadi penggagas.


Ia melihat kebanyakan web menawarkan duduk dan diam. Padahal orang dapat bertransaksi lewat situs web mereka. Ketidak jelasan website pada masanya dimanfaatkan Arnold. Dia menciptkan ruang buat orang "keluar" mencari barang dimanapun.


Arnold juga belajar mengenai penampilan web. Bahwa orang harus melihat semua simple, dan good interfance atau tampilan ciamik layaknya situs trading. Kata pesimis merupakan kata pertama ia punyai ketika memulai. Dia wajib menang menghadapi resiko dan tantangan.


Ditambah dia melihat timnya bekerja keras. Mereka pun menggantungkan hidup keluarganya di tangan Arnold. Ia tidak punya waktu buat ragu. "Saya memang tidak bisa lepas dari pikiran- pikiran lain, 'nanti bagaimana kalau saya gagal'," ia mengenang.


Dia terus melangkah kedepan walau mungkin gagal. Banyak orang yang memandang sinis, bahwa ia akan gagal menghasilkan uang dari situs TokoBagus. "I don't care wath they think about me," sang pengusaha yakin.


Arnold pernah merasakan pengunjung sangat sedikit. Sampai iklan juga tidak mempan menaikan jumlah pengunjung. Dia sempat menelephon penjual, menawarkan sana- sini, pokoknya gimana biar orang mau memakai layanannya.


Bahkan ia menawarkan konsep gratisan. Tiga tahun berjuang, di tahun 2008, usahanya mendapatkan lirikan investor sampai terus berkembang terus. "Saya itu programmer dan lebih suka berlama- lama nongkrongin komputer," terang dia.


"Saya enggak bisa namanya public speaking. Untuk itu saya perlu patner dalam bisnis ini," ia yang kemudian mengajak sosok Remco Lupker.


Ia mulai belajar pula melalui Remco belajar public speaking. Dia akhirnya mengikuti aneka seminar buat menaikan kemampuan. Banyak dukungan sampai ia meyakini mampu menjadi techopreneur. Ia mengatakan menjadi entrepreneur di Eropa gila- gilaan.


Membuat Situs eCommerce


Gaji karyawan di Eropa mahal dan kompetitornya gila- gilaan. Sementara Indonesia masih memiliki banyak ruang tumbuh. Ia mengatakan bahwa situsnya sudah berjalan sejak 24 Oktober 2003, namun barulah di 2004 momentumnya tepat.


"Saya ini self employed. Selama 16 tahun saya enggak punya boss. Pertama kali saya ke Indonesia itu ya langsung ke Bali," jelasnya. Dia datang sebelum bom bali. Arnold langsung kepincut akan suasana Bali. Arnold berbisnis di Bali menawarkan jasa pembuatan website ke perusahaan.


Membuat usaha di Indonesia memang dikenal ribet. Apalagi buat bule seperti dirinya menyesuaikan birokrasi pasti ribet. Untung ia langsung bertemu pihak berwenang dan berhasil meyakinkan. 

 

"Saya ingin mereka tau bahwa apa yang saya kerjakan bersama ide- ide saya di Indonesia adalah sesuatu yang turut berkontribusi membangun negara Indonesia," Arnold meyakinkan.


Membangun TokoBagus merupakan perjalanan memperbaiki. Tiap kekurangan akan diperbaiki lebih baik ke depan. Kita bisa melihat banyak perubahan besar di tokobagus.com. Arnold pun memindahkan kantor pusatnya ke Jakarta.


Tujuannya tentu agar lebih dekat ke pelanggan. Ia menjelaskan pula bahwa Jakarta merupakan pusat SDM bagus. Di Bali, jumlah SDM sesuai kebutuhannya terbatas pada masa tersebut. Namun ia tak memungkiri orang Bali lebih kreatif.


Pengusaha Tokobagus semenjak kecil sudah mengenal komputer. Dia sudah diperkenalkan komputer oleh ayahnya. Dari sanalah dia kenalan dengan dunia programming ini. Orang banyak kepikiran kalau ahli programming merupakan orang enggak cool.


Pas di SMA, kalau orang senang bermain komputer, teman akan berkata bahwa orang tersebut nerd atau uncool. Dengan manajeman dan infrastruktur mumpuni meyakinkan. Arnold meyakini akan jadi situs eCommerce nomor satu.


"Saya itu orangnya enggak bisa diam, selalu punya hasrat menciptakan sesuatu yang baru," jelasnya. Ia terus mengembangkan Tokobagus, dan bersiap menciptakan sesuatu yang baru.


Bali merupakan tempat pertamanya tinggal. Arnold kepincut atmosfer tenang dan ramahnya. Ketika sudah di Jakarta, Arnold malah kembali tinggal di Bali. Dia kesulitan menemukan ide ketika usahanya telah berjaya. 

 

Dia kelelahan ketika bertemu orang banyak, melakukan banyak meeting dan lakukan ini- itu. Ia lalu kembali ke Bali dan menemukan traveling. Bisnis barunya adalah happyholiday.to, tujuannya memberi peningkatan maksimal jasa travel online.


Nama TokoBagus sendiri sudah tidak ada. Itu sudah digantikan OXL, yang mana merek jaringan toko online besar dunia milik Naspers. OXL memiliki cabang sampai di 206 negara. Grup OXL sendiri merupakan investor TokoBagus yang bernilai 30- 40 juta dollar.

Penulis Penjual Mie Ayam Kisah Wirausaha

Profil Pengusaha Aveus Har

 
 
Kisah wirausaha penulis penjual mie ayam.  Siapa sangka di sebuah warung mie ayam, di pinggir Jalan Patimura, Wiradesa, Pekalongan, ada sosok penulis novel hebat. Di warung kecil berukuran 4x4 meter, sore itu tak ada kesibukan jual- beli. Yang ada hanya sosok sang penjual mie ayam dan dialah. 
 
Mas Harso, pemilik warung mie ayam sekaligus penulis novel yang kita tengah bicarakan. Ketika ditemui di waktu senggang, pria ini tengah sibuk sendiri mengetik- ketik ponselnya. Bukan mengetik pesan singkat atau berchatting ria, dia sibuk mengetik novel, hebat.
 

Penulis dan Penjual Mie Ayam


Tidak ada yang tau bahwa dirinya ialah seorang penulis novel. Ia bisa dibilang cukup produktif meski disela- sela berbisnis mie ayam. Harso tercatat sudah menghasilkan 7 judul novel: 6 novel sudah dicetak dan satu lagi masih dalam proses diterbitkan oleh salah satu penerbit besar. 
 
Karya lain ada cerpen- cerpen di surat kabar, majalah, dan juga antalogi bersama, yang jumlahnya tak terhitung.

 
Pria yang kini dikaruniai dua anak itu beberapa tahun yang lalu,  diberinya nama Aveus Har, yang mana dengan nama itu pulalah dia menuliskan karya- karyanya selama ini. 
 
Selain menulis sendiri, melalui wadah Komunitas Rumah Imaji, Aveus juga bersama rekan- rekannya memprakarsai penerbitan buku berjudul "Cikal: Bunga Rampai Sastra Remaja dan Pelajar Kab. Pekalongan", sebuah pencapaian yang luar biasa waktu itu. 
 
Mendengar bahwa selain menulis, kegiatan sehari-hari Aveus adalah berdagang mie ayam. Menambah kekaguman penulis artikel ini.

Menulis karya fiksi memang tak sepopuler karya ilmiah. Apalagi di kota kecil Pekalongan, tak bisa jadi satu tujuan katanya. Namun, dari sedikitnya, justru Aveus jadi sosok yang langka, menginspirasi semua orang tak terbatas di kota kecil Pekalongan. 
 
Di tempat ini iklim sastra dan literasi belumlah berkembang kala pertama ia menulis bahkan hingga sekarang mungkin. Disela- sela berjualan mie ayam, ia menulis apapun di kepalanya. Cara Aveus Har berhasil melahirkan karya-karyanya tidaklah "ngoyo" atau dipaksa- paksa, semua mengalir. 
 
Bahkan dia terlihat tetap semangat meski harus pindah dari tempat berjualannya semula. Ternyata tempatnya berjualan yang sekarang adalah tempat berjualan yang kedua. Meski ada masalah, toh, Aveus tetap menghasilkan karya lagi. Dimanapun tempatnya tak ada masalah soal inspirasi.

Warung yang sekarang ditempatinya adalah lokasi kedua, setelah lokasi yang pertama di pinggir jalan raya pantura dibangun lampu merah sehingga tidak memungkinkan untuk dijadikan tempat jualan. 
 
Di tempat itu pula, pengusaha mie ayam ini menghasilkan satu novel berjudul "Flawless Hope", yang bahkan berhasil memenangkan lomba. Ia memenangkan juara pertama lomba penulisan novel Bentang Populer bertema "Wanita dalam Cerita" disaat warungnya akan tergusur.

Kabarnya, Desember tahun ini, novel tersebut akan terbit jadi buku, yang nantinya akan berjudul "Sejujurnya Aku". Bagaimana bisa menulis jika dari jam 11 pagi sampai 8 malam dia berjualan. Rahasia menulisnya memang ada di ponselnya seperti yang diberitakan. 
 
Setiap hari, di sela menunggu pelanggan, dia menulis bab demi bab novelnya hanya berbeka; sebuah ponsel berfitur standar, yang kemudian disalinnya ke dalam komputer seusai warungnya tutup dan sebelum mempersiapkan kebutuhan jualan untuk hari berikutnya.

"Saya belajar menulis kira-kira sejak SMP, waktu itu di mading sekolah. Pertama kali karya dimuat adalah di majalah Ceria Remaja," kisah wirausahanya.

"Sayangnya, beberapa bulan setelah memuat karya itu, majalahnya berhenti terbit." Beruntung dia msih sempat menyimpan edisi majalah yang memuat karyanya tersebut, yang didapatnya dari seorang teman yang kebetulan penjual koran.
 
Dia juga sempat menunjukkan majalah itu kepada teman-temannya, sewajarnya penulis yang bangga karyanya berhasil dimuat di media massa. Itulah kisah pertama seorang Harso.

Kisah Wirausaha

 
Setelah itu, karya- karyanya mulai rajin terbit di beberapa majalah dan surat kabar, di antaranya, Aneka, Kawanku, Wow, Anita Cemerlang, dan lain-lain, yang sebagian besar majalahnya kini sudah berhenti terbit; juga di banyak antologi bersama. 
 
Mungkin banyak dari kita yang sering kali berdalih tidak punya waktu untuk menulis seharusnya belajar dari Aveus Har. Rutinitas sehari-harinya yang jauh dari dunia buku dan tulis- menulis tidak menjadi alasan baginya untuk berhenti.

Baginya, menulis adalah hasrat, obsesi, gairah, mimpi yang kesemuanya menyatu menjadi masakan lezat dan bergizi bagi kebahagiaan diri. Kebahagiaan yang ingin dibagikan kepada pembaca melalui karya-karyanya. 
 
Bahkan ada seorang pembawa acara berseloroh bahwa Harso sebenarnya bukan penjual mie ayam yang menjadi penulis novel. Lanjutnya bercanda menyebut Harso adalah penulis novel yang menyamar jadi penjual mie ayam untuk medapatkan cerita.

Buku- buku yang sudah diterbitkannya selain novel banyak: Ada kumpulan cerpen "Lintang", novel "Pangeran Langit", novel anak "Asibuka! Mantra Rahasia', buku "Yuk Menulis Diary, Puisi, dan Cerita Fiksi" (keempatnya diterbitkan oleh Penerbit Andi). 
 
Dia menulis novel "Sorry That I Love You" dan novel "Roller Coaster Cinta" (yang kedua novelnya diterbitkan oleh Media Pressindo Group). 
 
Suatu saat, jika kamu berkesempatan bertandang ke warung mie ayamnya miliknya, barangkali setelah asik berbelanja batik di International Batik Center (IBC) Pekalongan yang memang tak jauh dari situ, sambil menikmati semangkuk Mie Ayam Mas Harso. 
 
Di sana kamu sekaligus bisa belajar tentang proses kreatif seorang penulis novel. Tidak mahal, cukup dengan Rp. 7.500 untuk semangkuk mie ayam dan segelas teh hangat, barangkali kamu akan memperoleh ilmu dan motivasi menulis.

Mau Usaha Banjir Orderan Coba Jualan Pot Tanaman

Profil Pengusaha Muhammad Burhanuddin

 

pengusahatembikar.png
 

Coba jualan pot tanaman dan lihat hasilnya. Mau usaha banjir orderan ketika pandemi cobalah. Lamanya pandemi Covid 19 membuat stress. Banyak orang kehilangan pekerjaan sampai tidak laku jualan. Namun beberapa sektor masih bertahan, bahkan menanjak berkat trend tanaman hias.


Salah satunya Muhammad Burhanudin (34), yang memiliki usaha kerajinan pot tanaman berbahan tanah liat. Workshopnya terletak di kawasan Desa Plumpungrejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Ia bertahan menjadi pengrajin tembikar sampai sekarang.


Total kenaikan omzet menanjak sampai 100%. Kenaikan omzet didukung trend gaya hidup masayarakat di masa pandemi. Orang kan diharuskan tinggal di rumah tanpa keluar. Mereka mulai melirik kegiatan buat bercocok tanam hingga memelihara tanaman.


Orang kan kini senang mengkoleksi tanaman hias. Mereka membutuhkan pot tanaman unik- unik. Dulu, beberapa motif jarang dilirk, kini pot bungan berbahan tanah liatnya begitu digemari. Burhan berakat bahwa pot gerabah sekarang diminati menjadi hiasan rumah.


Mau usaha banjir orderan maka buatlah tembikar tanah liat. Usahanya membuat pot tanah liat begitu laku keras. Burhan cukup menambahkan goresan motif atau garis sederhana. Kerajinan tembikar punya dua motif utama: Motif timbul dan tak timbul atau berupa lukisan ataupun gores.


Kebanyakan paling dicari motif gores karena semi- timbul. Walau tampak bermotif namun tidak berat dibandang. Goresen atau ukiran sederhana tersebut menambah elegan. Pot ukir dijualnya tentu tidak semahal tanamannya.


Namun tetap berharga karena memang proses pembuatan dan ukirnya rumit. Dari yang terendah dijual Rp.5000- 10.000 dan paling mahal Rp.1 juta. Yang mahalnya biasa berbentuk vas bunga besar atau berupa guci buat hiasan ruangan utama rumah.


Omzetnya normal Rp.25 juta, naik Rp.50- 70 juta selama pandemi Covid 19. "Soalnya kan booming tanaman hias, karena banyak di rumah aja," jelasnya kepada Detik.com. Coba jualan pot tanaman hasilkan lebih banyak penghasilan.


Tentu dia tidak cuma menjual pot karena banyak produk. Sudah puluhan tahun Desa Plumpungrejo jadi sentral tembikar. Banyak orang ngambil membeli atau menjual aneka produk. Terutamanya peralatan rumah tangga, seperti cobek dan kuali.


Burhan sendiri spesifikasi membuat pot tanaman. Dia pun sudah mengajak pengrajin lain membuat, bahwa jauh sebelum pandemi dia telah usahakan. Burhan terus berinovasi biar kerajinan tanah liat di Desa Plumpungrejo lestri.


Soal penjualan dia sudah memiliki reseller atau penyalur. Pembeli tidak cuma datang dari lokal, tapi sampai Maleng, Surabaya, Tulungagung, Kalimantan dan Bali. Terutama Bali tembikarnya mampu dijual sampai keluar negeri.


Burhan sendiri termasuk masih muda. Kebanyakan pengrajin sudah puluhan tahun dan sepuh. "Jadi in suatu kesempatan bagi masyarakat meningkatkan kreativitas juga untuk lebih berkembang lagi," ujar wirausahawan tersebut.

Mantan Manajer Hotel Sukses Berbisnis Donat

Profil Pengusaha Serene Tay

 

mantanmanajer.png
 

Pengusaha wanita asal Singapura bercerita sukses berbisnis donat. Wanita bernama Serene Tay adalah mantan manajer hotel. Pekerjaan utama Serene meliputing marketing dan pemasaran. Tepatnya dia kerja di Hotel Raffles City Center di Singapura.


Serena kemudian banting stir membuat donat. Dia memilih begitu karena bisnis keluarga. Diceritakan dari keluarganya ada usaha grosir. Mereka membeli donat pembuat roti buat dipasarkan. Target mereka ialah memasok ke tok- toko roti.


Tentu donatnya sudah bersertifikasi halal. Serene tumbuh dikeliling donat bertumpuk- tumpuk. Awal dia bekerja membantu admin, akuntansi, perencanaan, marketing dan SDM. Tentu dia ingin menyentuh donat alias memasak dong.


Bekerja dikelilingi donat dirinya memahami keinginan pembeli. Mereka suka yang empuk, seperti tekstur bantal. "...saya merasa donat buatan saya seperti bantal empuk ketika saya menggigitnya," ia menjelaskan. Terpenting adonan tidak boleh keras atau kaku.


Serene spesialis donat isi terutama berisi durian pengat. Ia memilih jenis donat jenis bombolini karena tidak mau bersaing. Serena memilih pasaran yang lebih menonjolkan isian. Donat pun digoreng pakai sedikit minyak sayur. Donatnya nampak kokoh dan padat, tetapi empuk layaknya bantal hotel.


Serene memiliki langkah istimewa: Ia memiliki saringan hingga mesin pengembang adonan. Tekstur dijamin lembut langsung mengembang ketika digoreng. Donat tersebut dijual perkotak berisi 8 buah. Isiannya dari durian, strawberry, chocolate ganache, passionfruit mango curd, dan matcha.

Desainer Gaun Pengantin Wirausaha Gladys Natalia

Profil Pengusaha Gladys Natalia

 
desainergaun.png
 
Perjalanan wirausaha Gladys Natalia semenjak berusia 15 tahun. Desainer gaun penganting yang tiap rancangannya senilai puluhan juta. Dan, diusianya ke 26 tahun, ia telah memiliki apa yang diimpikan beberapa gadis remaja. Dia memiliki karir cemerlang mendesain pakaian.
 
Pengusaha wanita, muda, cantik, dan karirnya yang cemerlang. Siapa dia? Tak banyak yang diketahui secara mendetail tentang kehidupan pribadi, tapi biarlah karyanya yang menjawab, mari kita telisik walau sedikit.
 

Perjalanan Karir Desainer


Desainer gaun pengantin bernam Gladysposa Brides berdiri 2012. Dia telah memiliki satu bukti bahwa desainer muda pun dapat sukses di bisnis bridal, dan bisnis pakaian wedding sekaligus. 
 
"A woman should have brain, beauty, and behavior and a passionate curious person, she’s doesn’t try to become a women of success, but become a woman with value", itulah kutipan yang selalu menjadi pegangannya. 

Yang dimiliki Gladys adalah bakat yang telah diasah sejak kecil. Awalnya, ia mengaku mendesain cuma untuk mengisi waktu sepulang sekolah. 
 
Lalu, seiring waktu, Gladys mulai mencintai desain, memilih untuk kursus desain dan dari sanalah ia fokus menekuni hingga kuliah di bidang fashion desain. Selepas dari Raffles Design Institute, Shanghai, dua tahun lalu dan kembali ke Indonesia, lima kali ditolak melamar kerja. 
 
Gladys tak berputus asa. Dari pertama kali mendirikan usaha, ia telah mencoba melamar pekerjaan hingga lima kali. Gladys mencoba melamar bekerja menjadi asisten desainer. Alasan mereka sih, tidak membutuhkan asisten baru. 
 
Tapi dia tahu betul bahwa asisten desain memang cocok- cocokan. Jadi akan sulit untuk ada lowongan baru yang tersedia. Karena tak ada pekerjaan selam satu tahun, daripada menganggur, akhirnya kursus macam- macam. Ya, dari kursus desain, kursus masak, dll.

Akhirnya ia memutuskan untuk memulai usaha sendiri. Usaha yang bernama Gladysposa ini resmi didirikan pada bulan Agustus 2012. Meski kedua orang tuanya lebih dari cukup untuk membantunya, itu tak cukup. 
 
Gladys ingin mandiri meski orang tuanya punya perusahaan otomotif di berbagai tempat di Indonesia. Dari merasakan susahnya cari pegawai lewat koran, mengatasi mereka dari nol, itu telah ia alami semua. Tapi menurutnya itu bukanlah masalah.

Namanya pengalaman pasti punya pembelajaran dibaliknya. Pengalaman pertama mengikut pameran ada di 1 exhibition di Ritz Carlton, ada sebuah bazaar wedding yang dia sengaja ikuti untuk memamerkan 6 baju dan dress kid saja, kurang lebih total ada 8 pieces. 
 
Ketika itu selain pakaian wedding, ia juga menyasar pasar anak- anak, ia memilih  desainer kids customed yang memang memang masih belum ada di Jakarta. Jadi marketnya masih sangat luas imbuhnya. Dan, ternyata memang benar, marketnya sangatlah bagus.

Ada tanggapan yang luar biasa. Usaha yang baru saja tumbuh itu pun sudah tumbuh lagi. Meskipun begitu, di belakang sebenarnya ada banyak lika- liku manajemen yang terjadi. "Orang tua saya adalah tipe orang yang tidak mengajari saya harus seperti apa. 
 
Nasihat mereka : saya harus nyebur kolam dulu. Sampai akhirnya tidak bisa keluar, baru mereka tarik saya ke luar. Jadi apapun yang saya kerjakan, saya sendiri yang cari solusinya," ungkapnya.

Dia lalu mempelajari dulu sistem manajemennya seperti apa. Buka-buka internet dan sebagainya. Nah, dalam setahun, lewat 2 bulan setelah ikut pameran itu, akhirnya ia mendapat mitra bisnis sekelas Ciputra World (Surabaya). 
 
Dia mengisi setiap acara mereka. Setiap kali billboard Ciputra World mendapat event, mereka pakai karya- karyanya. Misalnya saja tanggal 21 November 2012, ia memamerkan rancangan dia yang waktu itu bertemakan La Vie En Rose di Ciputra World Surabaya.

"Busana saya waktu itu terinspirasi dari keindahan bunga mawar dengan pilihan warna-warna pastel seperti putih, pink, atau biru. Walaupun ada pula warna tegas seperti merah," jelasnya.

Kemudian Gladysposa ikut acara MNC TV dan Fashion TV. Beberapa kali ia ikut fashion show di acara TV mereka selama selang waktu 6 bulan. Dan di bulan ke-7 dan ke-8, Gladys sudah mendapat fashion show di Pasific Place dan beberapa mall lainnya.
 

Wirausaha Muda

 
Awal tahun 2012, ia juga beberapa kali sudah mengadakan road fashion show tunggal sendiri di Ritz Carlton.

"Saya merasa sangat berterima kasih kepada Tuhan karena tidak sampai setahun, saya sudah bisa mendesain baju Miss World untuk September besok," tutur sang desainer gaun pengantin.

Ciri khas karyanya adalah semuanya pasti berhubungan dengan rose atau mawar. Kalau tidak bordirannya, siluetnya, atau apapun semua berhubungan dengan rose. Dan saya tidak pernah lepas dari itu karena saya pikir itu adalah signaturenya. 
 
Kalau nama caracter designnya "La vie en Rose," menampilkan keindahan, desire, love, beauty, romantic, dan sweet. Bahannya memakai bahan silk atau organza. Semuanya itu hasil karyanya adalah handmade.

Mengerjakan apa yang dicintai, yakin bahwa pekerjaan apa dilakukan akan membuatnya bersemangat tetap berkarya. "Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life", kira- kira begitulah motonya. Kalo cuma passion belum tentu menguntungkan. 
 
Nampaknya Gladys tau ini, nyatanya bisnis di bidang fashion itu tak ada matinya. Menjadi kebutuhan mendasar manusia.

Di mata gadis cantik ini ada juga peluang bukan sekedar menjalankan pekerjaan yang hanya disenangi saja. Dalam bisnis fashion, khususnya untuk wedding, pembuatan setiap busananya tidak sesederhana seperti yang ada di bisnis fashion di bidang retail. 
 
Oleh karena itu, butuh sedikit waktu lebih untuk mengerjakan satu baju saja dimana proses pengerjaannya pun secara handmade. Selain itu, harus ada batas waktu yang ditetapkan olehnya sehingga dalam pengerjaannya tidak terburu-buru serta tidak mengecewakan klien.

Namun, setelah produk jadi harganya bisa tinggi, harga jual 1 wedding gown rata- rata mencapai Rp.50 juta keatas. Jadi sudah terbayang yang bisa dihasilkan gadis muda ini sepanjang karirnya.

Kini, Gladys pun siap menggarap pasar premium. Semua berkat kerja keras dan penghargaan yang telah ia dapatkan. Selain menjadi seorang bridal designer, kids designer, dan yang akan datang ia akan masuk ke lingerie designer juga. Untuk bridal saya juga buat shoes wedding. 
 
Gaun premiumnya akan dijual di pasaran berkisar Rp 50-80 jutaan per piece. Catatan aneka penghargaan putri pertama dari 2 bersaudara pasangan Sugiharto dan Linda Purnawan ini memang layak memasukan dirinya sebagai generasi usaha bridal bermasa depan cerah.

Portofolio tersebut di antaranya :

1. Pernah menangani event-event besar sekelas Miss World Fashion Designer, Miss Earth Fashion Designer, serta Harpers Bazaar Event di Ritz Carlton.

2. Sering berkolaborasi dengan MNC TV dan Ciputra World Surabaya untuk setiap event-eventnya.

3. Pernah membuat baju robotic pada saat berumur 18 tahun. Baju tersebut hanya berupa rok pesta, dimana di dalamnya terdapat tombol sehingga ketika ditekan, rok tersebut dapat terangkat menjadi sebuah rok pendek. 
 
Waktu itu, gadis kelahiran Surabaya 25 Desember 1988 ini mengambil tema Cultural  Futuristic, yakni perpaduan antara baju daerah dengan bayangan era beribu-ribu tahun mendatang dimana semuanya terbayang serba robotic yang canggih.

4. Mendapat award bergengsi pada saat berusia 19 tahun yaitu, “The Youngest Bridal Designer,” di sebuah event The Pallace Jewelery.

5. Awal Juli 2013, mendapatkan award 3rd Runner Up Miss Wirausaha Kreatif Indonesia tahun 2013. Dan sekarang mulai masuk ke dunia Kementerian untuk menjalankan tugasnya memajukan pembangunan Indonesia terutama sebagai ikon young enterpreneur.

Setiap orang pasti mengalami titik lelah atau titik jenuh dalam melakukan sesuatu hal secara terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama pula. Tidak terkecuali seorang Gladys Natalia yang pernah merasakan frustasi dalam menjalankan bisnis di bidang fashion ini.

Saat ia berada dalam kondisi tersebut maka yang dilakukannya adalah menyendiri di ditempat yang tenang untuk berkontemplasi. 
 
Kemudian, ia akan akan memutar musik yang berirama jazz. Perlahan, dia pun mulai dapat masuk kedalam suasana yang nyaman sehingga muncul imajinasi- imajinasi yang menghasilkan ide baru untuk merancang suatu gaun atau busana.

"Saya ingin go international, terutama untuk lingerie, saya melihat pasar internasional itu lebih bagus daripada pasar Indonesia. Karena orang Indonesia masih cenderung menahan diri untuk membeli suatu lingerie buatan desainer sementara antusiasme pasar luar negeri terkait produk ini memang lebih tinggi."

Dalam menjalankan bisnis, seorang entrepreneur itu juga penting untuk menentukan GOAL dan vision. Set your goal, dan jadikan itu sebagai support dan ambisi saat kamu merasa putus asa dan kehilangan semangat. 
 
Dengan memiliki visin dan goal yang telah ditentukan maka perjalanan bisnis kamu akan semakin terarah dan akan lebih mudah dalam mengendalikannya.

Usaha Oleh- Oleh Khas Jogja Coklat nDalem

Profil Pengusaha Meika Hazim

 
coklatndalem.png
 
Menjalankan usaha oleh- oleh khas Jogja, Coklat nDalem. Berikut cerita pengusaha Meika Hazim, 32 tahun, yang coba melestarikan budaya lokal. Caranya tidak lain melalui produk- produk coklat. Unik, telah menjadi khas Yogyakarta sekali produknya dan diliput lini masa.
 
Itu berkat mereka tidak hanya menyuguhkan coklat sebagaimana mestinya. Meski diolah modern cita rasanya etnik memanjakan lidah kita yang rindu suasana Kraton. Bermula ketika dirinya bertraveling bersama suami, Wednes Aria Yuda, hingga secara tak sengaja menemukan produknya. 
 
Dia dan suaminya, yang kala itu tengah bertraveling, menemukan sosok olahan biji dari pohon Theobroma Cacao sangat prospektif.
 

Khas Coklat Yogyakarta

 
Tak disangka- sangka pemikiran sekilah tersebut diseriusinya. "Oleh- oleh coklat yang paling gampang, dengan Indonesia sebagai penghasil kakao ketiga terbesar di dunia kenapa tidak kita membuat produk coklat sendiri," ungkapnya.

Meski bisnis coklat telah menjamur. Itu tak menyurutkan langkah Meika dan Yudha. Sebagai penghasil produk kakao terbesar ketiga, baik sekala rumahan atau korporasi besar tentu melirik si buah manis ini. Penikmat coklat tak lagi cuma anak- anak, itu jadi nilai coklat nDalem. 
 
Rasanya yang beda tentu lebih menyerap ke semua lapisan masyarakat. Melting dimulut, dihati masyarakat Indonesia.

Mengusung nama produk "Coklat nDalem", keduanya berkolaborasi membuat bisnisnya. Fokusnya ialah jadi ikonik asli Yogyakarta. Usaha yang didirikan 1 Maret 2013 memang terus fokus menjadi produk oleh- oleh khas Yogya. 
 
Hasilnya, dibanding produk coklat lain, produknya punya keunikan seperti dimana tempat mereka dibuatnya. Bukan cuma rasa tapi kemasannya sangat unik.

Kemasan yang bercerita tentang budaya yang tumbuh dan berkembang di tanah Yogyakarta, Jawa dan Indonesia.Menurut Meika coklat tak sekedar jadi bisnis bagi mereka. Ada idealisme didalam tiap batang produknya. 
 
Lewat perantara coklat, ia ingin mewujudkan rasa cintanya kepada Indonesia. Menurut wanita berhijab ini rasa coklatnya khas Indonesia yang berbeda dengan nagara lain. Ke Indonesiaan yang tercipta dari rasanya, cara penyajian, dan dekorasinya.

Ia melengkapi ilustrasi disetiap produknya. Pada bagian belakang kemasan coklat miliknya ada arti tentang setiap ilustari. Uniknya tulisan arti dibelakang kemasan itu ada dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Tujuan dari keduanya apalagi kalau bukan untuk menempatkan produk go international.

"Kami berharap agar cerita tentang budaya Indonesia ini makin banyak yang bisa menerimanya," ujar Meika.

Nilai pembeda yang manerik para pelancong Kota Gudeg untuk mampir, mencicipi lezatnya Coklat nDalem. Gerai usahanya ada di jalan Kauman, Seturan, dan dimana ada belasan toko cenderamata di kota ini. Di luar Yogya, ada di KemChick’s Pasific Place, Jakarta, umbuhnya.

Usaha mereka tak semudah yang anda bayangkan. Karena mengerjakan semua dari nol, keduanya harus aktif berbagi tugas. Untuk hal produksi sekarang ada ditangan wanita lulusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian UGM ini. 
 
Sedangkan sang suami, ada dibagian marketing. Sebelumnya Yudha lah yang mengurusi bagian riset produk sedangkan dirinya menyangkut legalitas. Begitulah keduanya bekerja sama membangun usaha coklat ini.

Kerjasama ini berjalan harmonis sampai sekarang. Keduanya fokus pada satu bisnis ini, saling berbagi tugas dijalankan agar tetap memproduksi produk inovatif.

"Mas Yuda lebih banyak stay di Jogja untuk mengawal pemasaran online dan segala urusan bisnis coklat, dan saya sendiri lebih aktif keluar untuk mengikuti pameran baik di sekitar daerah Jogja, luar kota bahkan sampai luar negeri," kata pengusaha wanita ini.

Produk coklat nDalem ada 18 rasa yang dikelompokan jadi lima lini. Setiap lini akan memiliki tiga variasi rasa. Lanjutnya, kelima rasa tersebut:

1. Rasa Klasik Dark, Extra Dark, Less Sugar Dark Chocolate, dimana menggunakan motif batik pernikahan ala Yogya

2. Pedas Cabai, Jahe dan Mint yang kemasannya berdekorasi wayang kartun Bima, Wisanggeni dan Gathotkaca. 
 
Filosofisnya ada pada kesamaan karakter “pedas” di telinga jika berbicara.; (3) Rempahnesia, terdiri dari rasa Cengkeh, Sereh dan Kayumanis yang berdekorasi gambar Bregada (prajurit) Keraton Yogyakarta

4. Wedangan terdiri dariWedang Ronde, Wedang Uwuh dan Wedang Bajigur yang berdekorasi landmark terkenal di Yogya di mana wedang-wedang tersebut bisa diperoleh, yaitu Alun-alun Utara, Alun-alun Selatan dan Imogiri

5. Kopinesia yang merupakan perpaduan cokelat dengan isian biji kopi Arabica yang diambil dari berbagai daerah penghasil kopi di Indonesia seperti Gayo Aceh, Merapi Jogja, Kintamani Bali, Bajawa Flores, Kalosi Toraja dan Wamena Papua. 
 
Untuk lini Kopinesia didekorasi dengan ilustrasi tarian daerah dari mana kopi tersebut berasal.

Usaha Oleh- Oleh Unik


Jika dilihat dari cara mengemas produknya, Coklat nDalem, memang sangat serius. Pasangan ini serius untuk mengkonsep mereka secara matang. Nyatanya, kedua pengusaha suami- istri ini memanglah memiliki latar belakang kebudayan dan pariwisata kental. 
 
Dimana Meika itu MBA di UGM, sedangkan sang suami, lulusan Teknologi Pangolahan Pangan di kampsu yang sama. Keduanya memang asli orang Yogya, istimewa. Bila dirunut balik di 2013, Meika berani mengundurkan diri dari tempatnya bekerja. 
 
Ia telah sangat mantap ingin menjadi seorang entrepreneur. Sang suami yang seorang entrepreneur tepatnya jadi pengusaha dibidang agen perjalanan wisata. Sosok wanita cantik berkacamata ini, sudah melirik coklat sudah semenjak ia dinobatkan jadi Diajeng Jogja tahun 2005. 
 
Baru kala itu, idenya begitu kuat, sampai- sampai rela melepaskan pekerjaan. Keduanya lantas bersama membangun konsep bisnis mereka. Bersama mereka lantas mendirikan sebuah perusahaan CV. nDalem Mulyo Mandiri. 
 
Bagi Meika sendiri, soal pemasaran bukan masalah, pengalaman dalam dunia marketing beberapa perusahaan menjadi andalan. Ditelisik salah satu perusahaan tempatnya ternyata unik pula yaitu Dagadu Djogja. Bermodal uang tabungan 40 juta keduanya mantap menatap bisnis coklat.

Agar mudah dikenal tidak hanya online tapi offline dilakoni. dengan mengikuti berbagai pameran di dalam Kota Yogya, luar kota, bahkan juga keluar negeri. 
 
"Tahun 2013, kami berkesempatan mengikuti pameran di Hong Kong dan Malaysia. Maret tahun ini, kami telah mengikuti pameran di Jepang," ujarnya bangga.

Berjudi Jadi Pengusaha Donat Kalis Dimas

Profil Pengusaha Dimas Kalis

 

pengusahadonat.png

Berjudi jadi pengusaha mengapa demikian. Sebab Dimas harus merelakan semua demi Donat Kalis. Ia sempat memutuskan kerja tetapi gagal. Alih- alih hidup nyaman, dia harus berkeliling melamar pekerjaan tanpa arah. Dimas merupakan pegawai swasta perusahaan Jakarta.


Selama 11 tahun dia bekerja disuatu perusahaan tetap. Titik jenuh muncul menggugah hati. Dia inginkan suatu perubahan termasuk lingkungan. Dimas jenuh akan rutinitas hidup di Jakarta. Dia ingin bekerja di Yogyakarta; Ia lantas melamar pekerjaan sebuah perusahaan.


Mendadak Buka Usaha


Nekat Dimas berangkat ke Yogyakarta tanpa pekerjaan. Dia bekerja di Yogyakarta. Ternyata pekerjaan barunya tidak seenak dibayangkan. Karena suatu hal, Dimas memutuskan keluar pekerjaan dan menjadi pengangguran.


Dia terus melamar tetapi susah ya. Dimas makin terpuruk secara finansial pada 2018. "Di 2018 posisi saya lagi jatuh tidak punya penghasilan sama sekali," terangnya kepada Detik.com


Dimas sempat menyerah. Hingga ia memutuskan melamar pekerjaan di Jakarta kembali. Beberapa surat lamaran dikirim tidak kunjung direspon; Dia terjebak di Yogyakarta. Keadaan kepepet memaksa Dimas memulai wirausaha.


Dimas memilih usaha kuliner. Berjudi jadi pengusaha kopi tanpa pengalaman. Tanpa ia memiliki satu pengalaman meracik kopi, Dimas membuka usaha kedai kopi. Pikirannya gampang karena usaha kopi tengah naik daun. Selain kopi disuguhi pula makanan pendamping yakni donat.


Ia berpikir sederhana mereka punya usaha kopi, tetapi tidak makanan. "Awalnya ingin juga bisnis kopi tapi pengetahuan saya tentang kopi itu nol besar," ia melanjutkan. Dimas ingin makanan manis buat pendamping kopi makalah donat.


Pernah berpikir berbisnis kuliner lain tetapi tidak sesuai hati. Begitupula ketika dia memilih bisnis kopi begini. Dia memutuskan cuma mengerjakan donat. Tergetnya malah mencoba memenuhi kebutuhan kedai kopi lain.


Berbeda sebelumnya ia memilih mempelajari membuat donat. Bahkan dia berangkat ke Jakarta dan Bali. Bukan buat melamar pekerjaan. Melainkan Dimas mencari- cari contoh donat premium. Baru di 2019, berulah donat diproduksi, dimana awalnya menjual memakai sistem pesanan atau Preorder (PO).


Dimas nanti menawarkan donatnya ke teman- teman. Betul mereka tengah berjualan kopi kekinian, dan ia menangkap peluang. "Kita tawarin ke coffee shop, tapi mereka bimbang laku gak ya. Ada yang mau ambil tetapi tidak mau order lagi. Wah ini kenapa," kenang usaha pengusaha donat ini.


Dia memutuskan melakukan Plan B, alias membuka tempat jualan donat sendiri. Ia merelakan semua tabungan terakhir sejumlah Rp.50 juta. Sebuah perjudian karena uang terakhir bahkan masih kurang. Ia cuma mampu membeli peralatan produksi hingga toko.


Uang tidak cukup cuma mampu menumpang sebuah rumah makan. Kebetulan ada gudang kecil di kawasan tempat makan itu. Tepat di hari ulang tahun istrinya, pada 23 Juli 2019, maka bukalah toko Kalis Donuts yang tempatnya kecil.


Nama Kalis merupakan nama tahapan adonan yang sudah diuline dengan baik. Dimas langsung pakai bahan terbaik ketika memproduksi. Produknya dijual dari Rp.8 ribu sampai Rp.10 ribu perbuah. Lalu dia bekerja sama dengan Se'i Sapi Kana, menjual donat seharga Rp.25 ribu.


Namun ketika membuka toko kecil awal "kesengsaraan" masih lanjut. Dimana tidak memiliki modal membeli bahan. Alhasil Dimas membeli bahan baku melalui sistem ecer, bahkan sempat berhutang ke toko. Buat makan sehari- hari dia mengambili sisa bahan baku membuat donat.


Dimas ambil putih telurnya buat dimasak di rumah. "Saya ke toko sampai bilang, 'Pak boleh enggak saya bayar nanti sore setelah toko saya tutup'," kenangnya. Kondisi berbalik justru diwaktu tidak pernah diduga.


Caranya menjadi sukses juga tidak terbayangkan. Jadi datanglah seorang influencer temannya teman Dimas. Dia berkunjung ke Yogyakarta sembari liburan. Sembari dia mencari makanan unik buat dia review. Nah temannya Dimas mempromosikan Donat Kalis ke si influecer tersebut.


Si influencer rupanya tertarik akan donat tiramisu regal. Dibelinya beberapa dijadikan oleh- oleh. Dan dia ternyata merviewnya positif. "Setelah dia review, malamnya mulai banyak notifikasi di IG kita, banyak yang ngepoin Kalis," kenang Dimas.


Besoknya kan dia membuka toko jam 10, dan ternyata sejak jam 9 sudah mengantri mengular, alhasil dalam 1,5 jam produksi ludes. Bertahap nama Kalis semakin dikenal dan tidak berhenti. Dimas punya trik unik menggaet selebriti atau influencer lain.


Dimana Kali akan kepoin aku mereka yang liburan ke Yogya. Terus Kalis akan DM mereka, walau ada saja yang tidak merespon, ada yang sekedar terima kasih, adapul mau mereview. Tim Kalis sudah macam detektif mencari mereka.


"Jadi memang kita semacam detektif lah cari tahu siapa yang lagi ke Jogja, kita langsung DM dia. Ya responnya beragam, ada yang bales, ada yang review, ada yang nyuekin, ada yang terima kasih aja. Dari situ si kita pelan-pelan mulai dikenal," terang Dimas.


Singkat cerita usahanya menanjak sampai memperluas toko. Produksinya meningkat dari 400- 500 buah perhari jadi 2000 pcs. Paling laku produksi donat regal tiramisunya ikonik. Kali sudah punya cabang di Semarang yang dibuka Oktober 2020, dan Palembang pada Desember 2020.


Omzet tertingginya pernah Rp.600- 700 juta perbulan. Dimana 35% merupakan biaya produksi juga termasuk gaji pegawai. Total 63 pegawai dari produksi sampai penjualan diseluruh cabang. Total 65% keuntungan bersih, dan nanti juga akan dibagikan ke pihak yang invest disini.

Pengusaha Bumbu Masak Sukses Waralaba

Profil Pengusaha Yanty Melianty Isa


pengusahabumbu.png
 
Dia membuktikan bahwa sukses waralaba tidak melulu makanan jadi. Pengusaha bumbu masak, Yanty Melianty Isa, salah satu penggagas berwaralaba brand bumbu masak. Ialah sosok pendiri perusahaan PT. Magfood Inovasi Pangan. 
 
Usaha yang telah didirikannya semenjak Februari 2001, telah memiliki pengalaman 17 tahun menangani berbagai perusahaan multi- nasional sebagai mitra. Bidang yang ditanganinya ialah food seasoning dan product development. 
 
Sudah berbagai perusahaan menyerahkan bisnisnya ditangan Yanty. Bisnisnya dibidang bumbu instan bukan berarti usahanya juga instan. Ia bahkan rela meninggalkan pekerjaan mapan di berbagai perusahaan multi- nasional. 
 

Merintis Usaha

 
Semua karena kecintaanya akan dunia kuliner, dan hasratnya untuk memiliki perusahaan sendiri. Lulusan Institut Teknologi Bandung (1994) tersebut tercatat 17 tahun berkiprah di bidang pengembangan produk beberapa perusahaan multinasional. 
 
Tiga diantaranya adalah di PT Mayora Indah Tbk, PT Nestle Indonesia, dan PT Mustika Ratu Tbk. Dan kembali lebih jauh sebelum Megafood didirikan, lebih jauh sebelum dia bekerja di perusahaan. Sosok Yanty adalah bocah 10 tahun yang sudah gemar memasak dan berwirausaha. 
 
Kecintaanya akan kewirausahaan telah muncul dan tumbuh sejalan waktu bersama kesenanganya memasak. Waktu masih kelas 3SD, ia telah memenangkan lomba di majalah Femina dimana lomba itu diperuntukan untuk orang dewasa. 
 
Dia waktu itu membuat resepnya sendiri, yakni Sop Tahu Sawi Asin. Dia meminjam KTP ibunya untuk mengikuti lomba. Seusai kuliah, pekerjaan pertamanya adalah konsultan teknik lingkungan dalam proyek pengolahan limbah dan air. 
 
Tapi, Yanty hanya bertahan 1,5 tahun bekerja di perusahaan konsultan ini. Terjun ke banyak proyek pemerintah begitu mengusik nuraninya. "Banyak proyek dikorupsi, jadi saya memutuskan membuka perusahaan konsultan sendiri, khusus untuk proyek swasta,"€ ujarnya.

Pada tahun 1992, istri Isa Surya ini kemudian bekerja di sebuah perusahaan sanitasi. Lagi- lagi tak awet, ia hanya bertahan setahun dan memutuskan pindah ke Nestle. €
 
"Agar bisa terus berinovasi, saya harus bekerja di perusahaan fast moving product atau consumer goods," tuturnya, mengikuti nalurinya yang memang gemar memasak.

Kecintaanya akan berwirusaha terasah sampai sudah bekerja sekalipun. Ia masih menyempatkan diri untuk mempunyai usaha di bidang water treatment tapi gagal. Dia juga punya usaha pakaian yang masih ada sampai sekarang. 
 
Barulah di tahun 2001 usahanya sukses moncer jadi bisnis besar.Semuanya karena ia tak mau lagi hidup di zona nyaman. Dimana dia memilih berhenti bekerja. Usaha yang bermodal sedikit menjadi tantangan besar selepas tak lagi jadi karyawan.

Yanty memulai usahanya dengan usaha Magfood Inovasi Pangan hanya ditemani satu karyawan. Usaha yang dirintisnya sejak 2001 membuahkan hasil dan merembet ke beberapa bidang usaha lain. 
 
Perusahaan pertama yang didirikannya 8 tahun lalu itu bergerak dalam bidang pengembangan varian bumbu serta produk baru industri makanan dan minuman.

"Saya kasih karyawan saya PR untuk men-develop produk, jadi kalau saya ngantor ada orang yang melanjutkan pekerjaan di bisnis saya ini," terangnya menambahkan.

Tidak puas akan apa yang dicapai usahanya di awal. Dua tahun berselang, dibuatlah satu usaha baru yang bernama Magfood Red Crispy pada 2003. Yanty menginvestasikan sekitar Rp10 juta sebagai modal awal Magfood Red Crispy. 
 
Bisnisnya ada dibisnis makanan cepat saji, yaitu bisnis ayam goreng. "Sempat berhenti bekerja satu tahun, dengan modal minim saya mulai dari satu gerobak di Bintaro," ujar Yanty.

"Dulu saya berbisnis tetapi kebanyakan gagal. Ada yang karena berantem, tutup, lalu saya pilih usaha sendiri. Saya memang memiliki cita-cita membuat bisnis dari rumah, tetapi mereknya nanti harus multinasional," ujarnya.

Kesemua usahanya dimulai dari sebuah garasi mobil yang dijadikan kantor sekaligus tempat produksi. Usaha itu tumbuh mempunya 40 orang karyawan yang berdesakan di tempat itu. Bukan perkara mudah bagi wanita berjilbab ini, ia butuh satu inovasi. 
 
Dia tak menggunakan cara konvensional dalam berbisnis ini. "Jadi bukannya saya jaga gerobak satu, itu lama besarnya. Saya orang manajemen, jadi saya selalu berpikir untuk mendidik orang, membuat sistem dan menjaga sistem," jelasnya.

Waralaba Sukses


 Ia menekankan kepada kita: pengembangan bisnis itu penting sebagaimana sulitnya itu. Sedikit demi sedikit telah ia rasakan bagaiman cara menngendalikan segala sesuatu tanpa harus hadir di tempat yang bermasalah.

"Walau kantornya di rumah dan masih berantakan, tetapi kita harus cari cara mengembangkan bisnis. Di kondisi seperti itu dulu saya mengusahakan ikut pameran waralaba yang besar-besar, mana bayarnya berat pakai dolar AS lagi."

Mengembangkan usaha rumahan memang butuh konsentrasi dan dedikasi yang besar. Pasalnya, privasi hidup sudah tentu terganggu oleh bisnis yang dikembangkan itu. Tidak hanya itu, tetapi juga ada saja kendala pada masa merintis usaha datang silih berganti. 
 
Begitu yang dirasakan Yanty selama mengerjakan dua usaha yang berbeda. Usahanya di Magfood dan Magfood Red Crispy buktinya bisa dia kawal hingga total ada 400 karyawan.

Salah satu kendala diawal adalah tidak adanya pekerja yang kompeten. Mereka yang terdidik biasanya akan mundurk jika melihat usahanya masih usaha rumahan. Tapi jangan lantas membangun kantor besar jelasnya. Dia lebih memprioritaskan kepada keberlangsungan usahanya dulu. 
 
Dia lebih memilih memfokuskan pikiran kepada pengembangan produk. Pemasukan hasil usaha pun tidak dicampuradukkan dengan penggunaan dana pribadi.

"Saya menahan diri selama 7 tahun untuk bisa punya tempat usaha sendiri, mobil juga masih sewa pada waktu itu." terang Yanty

Kunci kesuksesan baginya ialah pengembangan usaha dan pengembangan diri sendiri. Keduanya merupakan investasi terbesar bagi Yanty. Dalam mengembangkan diri pengusaha penting untuk selalu menjaga reputasi. 
 
Menurut dia, tidak berguna kelihaian berbisnis yang disertai kemampuan berinovasi, kreatif, dan produktif tanpa disertai kemampuan menjaga nama baik dalam berbisnis.

Kini, reputasi baiknya dipertaruhkan dalam mengembangkan merek baru Magfood Amazy, makanan cepat saji yang dirintis sejak 2 tahun lalu. Peluang usaha tersebut menawarkan beberapa pilihan gerai penjualan dan skala usaha. 
 
Tipe usahanya berupa booth standing, food court, kafe mini hingga kafé dengan menyetor dana Rp40 juta-Rp163 juta-an. Untuk biaya royalti, Yanty mematok 3,5% dari omzetnya untuk masing-masing pilihan.

"Ini bisnis uang receh, tetapi saya yakin break even point (BEP/titik impas) untuk setiap tipe yang dipilih hanya memakan waktu sekitar setahun. Kalau mau berhasil di bisnis ini kuncinya adalah harus punya minat di bisnis makanan dan pelayanan." terangnya.

Omzet gerai- gerai itu, baik yang berbentuk booth maupun restoran cukup lebar dan cukup untuk kita pikirkan prospeknya, yakni antara Rp 300.000 -Rp 12 juta per hari. 
 
Sayang, Yanty enggan membeberkan laba bersih yang berhasil ia kantongi dari kedua bisnis waralabanya, Magfood Red Crispy dan Magfood Amazy. "Usaha kami masih akan berkembang terus," katanya beralasan.

Lantaran memulai bisnis dari nol, di tiga tahun pertama, Yanty harus jatuh bangun membangun bisnis bumbunya. Untuk mencari pemasok atau menawarkan contoh dan formula bumbu ke calon klien, ia terpaksa mengerahkan supir. 
 
"Mencari pemasok bahan baku juga sulit karena saya cuma usaha kecil," katanya. Untuk menyiasati kesulitan ini, Yanty mencari calon pemasok lewat internet.

Yanty juga gencar menjadi agen penjual bumbu. "Saya menawarkan ke agen bahan makanan dengan mengirimkan formula buatan kami," katanya. Para agen itu kerap didatangi adalah produsen makanan kecil. Ternyata, sebagian besar menyukai formula bumbu dari Magfood. 
 
"Kami juga punya rasa yang tailor made, sesuai dengan pesanan," katanya.

Agar lebih merasakan kualitas bumbu buatannya, pada tahun 2001, Yanty mendirikan jaringan penjualan ayam goreng Red Crispy, yang didirikan bersama seorang teman sebagai pendorong bisnis bumbunya. 
 
Tujuannya agar orang tau bagaimana rasa bumbu racikan mereka di Megfood Inovasi Pangan. Sayang, kongsi itu pecah dan ia memutuskan meneruskan sendiri dengan merek baru, Magfood Red Crispy dan Magfood Amazy.

Kini, Yanty tengah berambisi membangun perusahaan hilir dengan menjadi produsen minyak goreng. Dimana dia telah memiliki kebun kelapa sawtinya sendiri. Bisnis lain? Ia memiliki ide membuat perusahaan biskuit, menakjubkan.

Es Mendem Duren Sukses Pengusaha

Profil Pengusaha Yustinus Agus Nugroho

 
mendemduren.png
 
Es Mendem Duren begitu mengejutkan. Sukses tersebut pengusaha bermula hobi makan durian. Dia mampu merubah hobi bisa jadi duit. Pria yang bernama lengkap Yustinus Agung Nugroho. Bersama istrinya, Anne Kartika, sukses mengembangkan bisnis es durian. 
 
Usahanya bernama Mendem Duren atau mabuk durian. Dalam bahasan Jawa menunjukan bagaimana memang nikmatnya rasa durian yang memabukan.

Meski gagal karena bisnis handphone, lobster, dan laundry -nya bangkrut. Ia tetap bangkit. Berkat hobi makan durian jadi uang miliaran berkat konsep waralaba. Idenya datang ketika suatu ketika sang istri ingin membeli durian.
 

Es Krim Durian

 
Sulitnya, Anne meminta es krim rasa durian yang memang disenangi suaminya. Lalu terpikir kenapa tidak membuatnya sendiri saja. Lalu pria kelahiran Palembang, 8 Januari 1980, itu menggunakan idenya tersebut dalam bisnis berikutnya. 
 
Waktu itu pula, empat tahun lalu, dirinya juga sedang menghadapi kesulitan ekonomi. Gagal berbisnis membuatnya berhutang hingga ratusan juta rupiah. Solusi dalam kegundahan memberikan harapan bagi Agung. 
 
Sang pengusaha dan istrinya Anne akhirnya bertekat untuk berbisnis es durian ini. Bermodal gerobak kayu, tanpa rasa malu, ia menjalani usahanya ini dari nol. Mengusung kata Mendem Durian dimaksudkan agar para pembelinya jadi ketagihan. 
 
Modalnya Rp.7 juta hasil jualan motor sang istri. Tak disangka respon masyarakat luar biasa. Dalam dua jam saja, dagangannya bisa laris manis terjual. Usaha yang dirintis sejak 10 Oktober 2009, menyediakan dua jenis rasa, yaitu rasa susu coklat dan putih. 
 
Ia kemudian membagi produknya dalam tiga ukuran berbeda: Kids (70 gram), Large (125 gram), dan Jumbo (200 gram). "Bisnis ini didirikan benar- benar dari ketidak sengajaan," cetusnya. Nampaknya Agung tidak mau kehilangan momentum. 
 
Memasuki 2010, ancang- ancang waralaba sudah ada dana akhirnya jadi. Saat itu, es krim Mendem Duren sukses sukses tembus 14 gerai dalam satu tahun saja. Dimana 6 gerai miliknya sedangkan 8 milik mitra. 
 
Semakin tak terbendung, dari Desember 2011 sampai akhir 2012, sudah ada 58 gerai berhasil didirikan oleh Mendem Duren. Bahkan per- Mei 2013 sudah ada 90 gerai jadi, yaitu 7 cabang milik sendiri, dan 83 gerai lainnya dimiliki mitranya (franchisee).

Perkembangan yang begitu pesat tak lepas dari pemasaran masif. Agung memanfaatkan berbagai media baik offline atau online, melalui media sosial. Ia juga rajin menjalani kerja sama dengan majalah/ tabloid waralaba nasional serta ikut acara kuliner nasional. 
 
Fokusnya ialah agar mendemers sebutan bagi fans Mendem Duren, agar tetap mendukung perkebangan produknya dan pelayanannya. Ia pun menyebut modal awalnya bagi para franchiser sekitar 45 juta.

Ia menjelaskan dari semua mitranya yang tersebar di seluruh Indonesia. Ia mencatat bahwa gerai Tarakan, Kalimantan Timur dan Karawang, Jawa Barat, menjadi gerai pemegang rekor balik modal. Hanya dalam kurun waktu 1,5 tahun saja sudah balik modal. 
 
"Untuk penjualan 50 cup/hari balik modal bisa 11 bulan, 75 cup/hari balik modal 7 bulan, dan 100 cup/hari balik modal lima bulan," ujar pria yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini.

Durian yang digunakan adalah durian lokal jadi kadar alkoholnya lebih kentara. Es krim buatannya memang bikin mendem tapi bukan memabukan loh. Perbulannya ia bisa menghabiskan 30.000 butir durian. 
 
Apa yang membuat usahanya maju pesat, ternyata terletak dari sedikitnya pengusaha yang bermain. Andai ada, mereka tak berkonsep, berjualan dengan gerobak seadanya, belum lagi kualitas jualannya.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Agung bahwa: Mendem Duren, kini telah memiliki varian produk, dari es mendem duren putih, es mendem duren cokelat, juice mendem duren putih, dan juice mendem duren coklat. Namun,  masih sama cara berjualannya dalam ukuran gelas. 
 
Harga jumbo bisa dijual dari Rp.10.000 hingga Rp.18.000 per- cup.  Dia juga meyakinkan kita bahwa stok durian untuk tiap garai terjamin. Meski buah musiman ia meyakinkan kita ada stok bagi setiapnya. Bahkan jika tak musim, Agung memastikan harga tak akan ikut naik, jelasnya lebih lanjut. 
 
Bagi yang berminat investasi pre- bootnya mebayar cukup Rp.35 juta, gratis fee kemitraan 2 tahun, tenda 2x2, frezer 200 L, gerobak stainless, ice chruser, blender, neonbox 2pcs, bahan awal ±700cup, peralatan, perlengkapan, promosi, buku panduan dan DVD pelatihan. 
 
Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi fans page -nya di Facebook.

Usaha Bandeng Tanpa Duri Kantongi Omzet 50 Juta

Profil Pengusaha Erni Herawati

 

usahabandeng.png

Ingin kantongi omzet 50 juta cobalah inspiriasi berikut. Ibu dua anak ini usaha bandeng tanpa duri. Ibu bernama Erni Herawati, perempuan 46 tahun yang mana merupakan hasil mencari kesibukan. Ibu rumah tangga yang memiliki waktu luang sembari mengurus suami dan dua anak.


Ikan bandeng memang dikenal banyak durin. Hingga orang enggan membelinya dan memilih ikan lain. Nah, inilah cikal bakal usahanya, dimana bandeng bikinannya tanpa duri. Alhasil ikan bandeng buatannya menjadi makanan khas oleh- oleh.


Dia menjelaskan kedua anaknya mau masuk sekolah dasar. "Mulai lah saya berjualan, karena sejak kecil sudah belajar berdagang dengan orang tua," jelas Yesi kepada Detik.com


Pengusaha ini menceritakan kembali awal Bandeng Rorod. Bagaimana dia mampu menjadikannya oleh- oleh khas Bekasi. Usaha bandeng tanpa duri memiliki makna. Baginya bandeng merupakan menu khas keluarga. Ini dinikmati keluarga bersama- sama dan tidak memandang usia.


Dulu dia menemukan makanan sejenis di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Selatan. Ide Yesi gampang bahwa bandengnya akan disenangi. Resep makanan keluarganya dijamin memanjakan. Nanti tinggal bandeng dikemas agar mudah dipasarkan.


Yesi mulai bergeriliya ke teman- teman dan tetangga. Di tahun 2011, dia memasarkan masakan khas keluarganya, bertahap bersama suami sepakat membuka rumah makan Betawi. Sembari dia pasarkan Bandeng Rorod ke masyarakat.

 

Justru orang berdatangan menanyakan Bandeng Rorod ke rumah makan. Begitu mendapatkan reaksi positif, Yesi menggelontorkan 10 juta buat modal. Dia semakin banyak mendapat penggemar, bahkan sampai keluar Jawa.


Inovasi dihadirkan Yesi termasuk bandeng frozen. Menggunakan sistem agensi, maka ia memiliki 50 orang agen tersebar di Jabodetabek, dijual di toko oleh- oleh, dan mensuplai ruma makan Betawi yang di Bekasi. Yesi sendiri malahan menutup rumah makan miliknya.


Fokus Yesi mengembangkan sekaligus terus melakukan inovasi. Contohnya Yesi membuat tahu bakso bandeng, steak bandeng, dan cilok bandeng. Berkat inovasinya dia mampu mengantongi omzet Rp.50 juta perbulan.


Titik sekarang bukanlah kesuksesan mudah. Awal dia pernah diberikan pesanan banyak, sampai tiga hari tiga malam mengerjakannya. Bayangkan dia lakukan pembersihan duri ikan semalaman. Dalam tiga hari, Yesi mengambili duri menggunakan tangan manual sebanyak pesanan sendiri.


Satu persatu pack dia tangani sampai 200 pesanan terpenuhi. Beruntung teknologi sekarang memberi kemudahan mencabut duri. Kini dia sudah mampu membeli peralatan lengkap bandeng tanpa duri. Yesi memberikan pelajaran bahwa berbisnis haruslah fokus.


Dia menambahkan, harus menjaga kualitas atau tingkat, dan terus melakukan inovasi. "Harus fokus pada bisnis yang dijalani, tidak mudah pindah ke lain hari," tuturnya, dan buat yang mau beli silahkan ke @bandengrorofoficcial

Pengusaha Decky Suryata Bisnis Salak Pondoh Jutawan

Profil Pengusaha Decky Suryata

 
bisnissalak.png
 
Inilah pengusaha Decky Suryata memulai bisnis salak pondoh. Sejak bangku sekolah menengah di Yogyakarta, sosoknya memanglah gemar berbisnis bahkan sejak sekolah dasar. Terakhir, ayah dua anak ini dikenal sebagai pengusaha muda sukses berkat aneka olahan berbahan salak pondoh. 
 
Siapa dia, bagaimana cara bisnisnya mencapai kesuksesan seperti sekarang. Menelusuri lebih dalam kamu akan menemukan sosok tahan banting. Meski sudah berbagai bisnis dilalui dan berhenti di tengah, dia tetap melanjutkan setiap ada kesempatan bisnis baru.

Decky Suryata lahir di Klaten, Jawa Tengah, pada 28 Desember 1983, dimana semenjak kelas 3 SD ia telah berbisnis mandiri. Decky yang punya banyak komik menumpuk di rumahnya, memilih untuk menyewakannya.
 

Bisnis Salak Pondok

 
Dia menyewakan komiknya itu dengan harga Rp200,00-Rp300,00. Decky juga pernah berjualan macam- macam aksesoris seperti gantungan kunci. Cukup membawa produk tersebut dari tetangga kemudian dijual ke teman- temannya waktu itu ia masih tinggal di Kalimantan.

Pindah ke Yogyakarta, bisnis Decky masih bekisar di kegiatan pinjam- meminjam buku, tidak hanya komik. Dia memang menyukai kegiatan membaca buku. Dia ingin agar teman-teman sebaya dia di desanya juga suka membaca buku.

"Awalnya saya bisnis jual-beli handphone (HP). Saya jual HP pemberian ayah yang mestinya untuk alat komunikasi. Keuntungannya saya gunakan untuk beli HP yang selanjutnya dijual lagi," kisahnya tentang bisnis lain semasa sekolah menengah.

Dari bisnisnya ia bisa punya counter  telepon sendiri di kawasan Jalan Monjali.  Sebagai seorang remaja, Decky mengaku memang tergolong nakal. Jujur- jujuran, sebagian dagangan miliknya kala itu adalah barang black market alias tak resmi. 
 
Dan,  dari 10 barang yang ia berhasil jual, paling hanya 1 atau 2 yang bagus.  Karena  itulah di tahun 2006 kiosnya ditutup. Ia juga pernah berjualan chip operator seluler bekas. Namun, bisnisnya gagal lagi, karena chip bekas nya hilang.

Oleh karena bisnisnya bangkrut ia butuh berhenti sejenak. Dan Decky memutuskan untuk menikah di waktu itu ketika bisnisnya mandek dan kuliahnya di UGM tersendat. 
 
"Nikah! Ha ha ha... Habis mau bagaimana? Kuliah saya di Fakultas Ekonomi UGM mampet, bisnis bangkrut, jadi nikah sajalah. Siapa tahu justru ada rezeki. Saya menikahi teman SMA saya, namanya Fara. Sekarang anak kami sudah dua," kisahnya yang tak berhenti di kegagalan.

Tiga bulan sejak menikah ia ingin berbisnis lagi. Kala itu Pakdhenya punya usaha sendiri dan Decky pun ingin ikut nimbrung dalam bisnisnya itu. Ia ingin mandiri meski harus dari nol lagi. Apa yang dilakukannya? Ia kala itu berjualan burger keliling. 
 
Melalui bisnis burger dia dikenal, usahanya cukup ambisius karena memang ada cara terbaik mengembangkan bisnisnya. Decky memanfaatkan sistem waralaba kala itu yang memang masih jarang untuk bisnis burger.

Tumbuh pesat dari 40 gerai jadi 60 gerai dalam beberapa tahun. Akhirnya, bisnis yang bernama Burger' Qu itu laris manis tumbuh sampai ratusan gerai di berbagai tempat. Selain burger Burger' Qu juga menawarkan hotdog dan kentang goreng. 
 
Tepat di tahun 2009, Burger' Qu tak lagi menawarkan waralaba karena sudah terlalu banyak. "Saya tidak lagi mengembangkan waralaba yang pernah saya tawarkan sebelumnya," kata Decky yang gerainya telah tersebar di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya.

Memang harga kemitraan yang ditawarkan bisnis Burger' Qu tergolong murah, dibawah 10 juta. Waktu iu ia menawarkan tiga paket kemitraan Burger'Qu. Yakni, paket medium, eksklusif, dan super eksklusif. 
 
Dimana paket- paket ekonomisnya banyak dilirik. Untuk paket medium, jelasnya mitra harus menyiapkan investasi awal hanya sebesar Rp 4 juta. Dengan modal sebesar itu, mitra akan mendapatkan satu unit gerai, peralatan memasak, pelatihan pegawai.

Selain itu, adapula paket bahan baku awal yang untuk kebutuhan operasional selama dua hari pertama, atau senilai Rp 220.000. Sementara untuk paket eksklusif, mitra akan mengeluarkan uang sebesar Rp 6 juga. Mitra akan mendapatkan fasilitas yang sama dengan paket medium. 
 
Cuma bedanya pada paket ini ada penambahan fasilitas promosi berupa banner atau spanduk. Paket ketiga adalah paket super eksklusif dengan investasi awal Rp 18 juta.

Paket eksklusif ini lebih lengkap karena ada penambahan pada perlengkapan promosi berupa banner dan juga neon box, disertai gerai yang lebih berkelas dan menarik. Kerja sama untuk tiga paket itu berlangsung selama tiga tahun, setelah itu harus diperpanjang lagi. 
 
Pada saat itu, Decky menjanjikan, setiap mitra dapat menjual burger sebanyak 20 porsi sehari dengan harga berkisar Rp 5.000-Rp 7.000 per porsi. Dari situ, mitra akan mendapat omzet Rp 5 juta per bulan.

Sebuah keuntungan dengan hanya menjual makanan cepat saji. Usahanya pun terus berkembang hingga bisa mencapai 350 outlet di seluruh Indonesia. Namun, bisnisnya akhirnya berhenti karena pebisnisnya sudah mulai banyak sejak 2009- 2010. 
 
Barulah kemudian, ia memiliki bisnis lain yaitu salak pondoh yang menjadi kuliner khas Yogyakarta.

Kenal Pengusaha Decky Suryata


Dicky berserta istrinya sama- sama mensurvei pasar. Ia juga menemui para petani salak pondoh. Dan dari apa yang didengarnya kenyataan sungguh sangat menyedihkan. Dia menjelaskan bahwa bila musim panen, harga salak para petani anjlok dan hasil panen dibiarkan busuk. 
 
Jadi tiap kali pa­nen, petani menggali tanah lagi untuk menimbun salak busuk itu sebagai pupuk. Lebih parah lagi bila tiba musim buah musiman seperti durian dan rambutan, harganya semakin jatuh.

Bertolak dari kepedulian itulah dia dan istri mau membeli hasil panen petani lebih tinggi dari para pengepul. Lalu, apa yang dilakukannya, bersama istrinya malah mencari- cari cara mengolahnya. Biar gak terbuang apa yang sudah dibelinya. 
 
Di Yogyakarta sendiri, salah pondoh bakan seolah menjadi limbah karena memang saking banyaknya dan terkadang tak terjual baik. Dikatakan Decky lagi, padahal jika di luar Yogyakarta, salak pondoh sangat diminati masyarakat, bahkan harganya cukup mahal, tapi disini seperti 'sampah'.

"Atas dasar itu, saya memikirkan bagaimana 'sampah' ini bisa jadi 'emas', muncu lah ide dijadikan makanan seperti cake, sirup dan bakpia, apalagi bakpia isi salak belum ada di daerahnya yang terkenal juga dengan makanan khas bakpia-nya," tuturnya.

Tapi masalahnya, kata Decky, dirinya tidak punya keahlian membuat cake, sirup apalagi bakpia. Tak patah arang, dia bersama sang istri cari- cari resep, mulai cari di-internet, resep warisan keluarga. 
 
Dengan berbagai macam percobaan akhirnya ketemu resep andalan dan rahasia brownies dan bakpia dari buah salak pondoh. Sebagai tambahan sang istri tidalah pandai memasak. Semuanya mereka lakukan secara otodidak malah juga secara eksperimental.

"Istri saya, kan, tidak punya basic  memasak. Makanya saya kumpulkan aneka resep kue. Akhirnya ketemu brownies kukus salak pondoh. Saya mempromosikannya lewat media sosial. Begitu kue keluar dari kukusan dan bentuknya sudah kelihatan bagus, saya foto. Langsung saya  upload.  Soal rasa belakangan, hajar saja," celetuknya.

Waktu itu ia menjaslak hanya bermodal sekitar Rp 4 juta- an, itu pun sebagian merupakan hasil pinjaman. Dari modal itu, dia dan istri membeli berbagai perlengkapan seperti membeli mixer, baskom, oven kecil dan bahan baku pendukung. 
 
Dengan berbagai resep dari internet, resep orang tua, buku dan lain- lain di mix begitulah rahasia suksesnya. Hasilnya bagus banyak peminat ingin mencicipi produk buatannya itu. Sambil jalan, ia mulai membenahi kue kukus tersebut agar rasanya lebih baik.

Suatu ketika ada chef yang menghampirinya; bertanya berapa telor dipakainya. Bukannya mengkomplain malah si chef membeberkan jumlah telor seharunya. Lumayan lah bisa belajar gratis pikirnya. Produknya itu pun dibeli pula oleh dia imbuhnya. Ia mengaku:

"Tapi kami tidak mau menyerah, akhirnya dapat adonan dan hasil brownies yang pas, sari salak terasa dilidah dan menarik. Dari resep itu, kami keliling ke tetangga, keluarga dan kerabat. Alhamdulillah responnya bagus dan laku, dengan hasil penjualan tersebut kami putar lagi beli buat beli bahan dan dijual lagi," terangnya.

Meski sudah memiliki kebun salak sendiri hasilnya kurang saking larisnya. Padahal dahulu hasil buahnya itu hanya dijadikan pupuk kompos pada 2008- 2009, sekarang justru dibutuhkan banyak. Produksi dari kebun salak diolah beragam seperti bakpia salak, dodol salak, sirup salak dan lainnya. 
 
Perlu ada trobosan karena ia tak mampu berbisnis sendiri. Lalu ide untuk memiliki petani binaan terpikir agar bisa fokus antara bisnis dan bahan baku.

"Susah kalau saya harus tambah luas kebun salak saya, beli? Bisa juga, tapi saya lebih berpikir lebih baik membina petani salak yang banyak di daerah tempat tinggal saya di Danikerto, Jawa Tengah," kata Decky.

Hingga akhir 2009 dirinya sudah memiliki 5 petani binaan. Namun sukses yang didapat Decky saat itu harus berakhir saat bencana Gunung Merapi pada Oktober 2010 menerjang desanya. Otomatis ia kini kembali menjadi pengangguran lagi,

"Saya jadi pengangguran lagi. Biar irit, tiap hari kami makan di warung  angkringan," celetuknya lagi.

Kebunnya dan kebun petani binaan serta harta lainnya porak poranda diterjang wedus gembel (awan panas) dari gunung Merapi. Habis semua hasil jerih payahnya, namun dia bukan lah pengusaha yang mudah untuk putus asa. 
 
Dengan harta yang tersisa dia dan istrinya mulai menata kembali hidup dan usahanya.

"Tinggal melanjutkan saja yang kemarin, resep andalan sudah ada, pelanggan setia tetap setia, dan kebun kita perbaiki kembali, dan sampai hari ini, semua berjalan seperti semula, usaha brownies salak pondoh terus maju," katanya

Tahun 2011 laba bersih usaha Decky tersebut sudah mencapai sekitar Rp 50 juta. Saat ini dirinya justru semakin berjaya setelah gagal dan bangkru, ia sudah mempunyai 'showroom' brownies setara 3 (tiga) ruko berlantai 2 yang dengan luas lapangan parkir yang dapat menampung 5-7 bus besar. 
 
Brownies salak pondoh dan bakpia andalan Decky tersebut diberi nama Salaka dengan nama toko Terminal Sukses. Produk jadilah Brownies Salaka sendiri dijual Rp 30.000 per kotak dan Bakpia salaka dibandrol Rp 25.000.

Decky pun membuka peluang bagi yang ingin menjalin kerjasama dengannya. Kamu berminat? Ia beralamat di Danikerto, RT 01 RW 07, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, Jogjakarta.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba