Profil Pengusaha Muhammad Burhanuddin
Coba jualan pot tanaman dan lihat hasilnya. Mau usaha banjir orderan ketika pandemi cobalah. Lamanya pandemi Covid 19 membuat stress. Banyak orang kehilangan pekerjaan sampai tidak laku jualan. Namun beberapa sektor masih bertahan, bahkan menanjak berkat trend tanaman hias.
Salah satunya Muhammad Burhanudin (34), yang memiliki usaha kerajinan pot tanaman berbahan tanah liat. Workshopnya terletak di kawasan Desa Plumpungrejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Ia bertahan menjadi pengrajin tembikar sampai sekarang.
Total kenaikan omzet menanjak sampai 100%. Kenaikan omzet didukung trend gaya hidup masayarakat di masa pandemi. Orang kan diharuskan tinggal di rumah tanpa keluar. Mereka mulai melirik kegiatan buat bercocok tanam hingga memelihara tanaman.
Orang kan kini senang mengkoleksi tanaman hias. Mereka membutuhkan pot tanaman unik- unik. Dulu, beberapa motif jarang dilirk, kini pot bungan berbahan tanah liatnya begitu digemari. Burhan berakat bahwa pot gerabah sekarang diminati menjadi hiasan rumah.
Mau usaha banjir orderan maka buatlah tembikar tanah liat. Usahanya membuat pot tanah liat begitu laku keras. Burhan cukup menambahkan goresan motif atau garis sederhana. Kerajinan tembikar punya dua motif utama: Motif timbul dan tak timbul atau berupa lukisan ataupun gores.
Kebanyakan paling dicari motif gores karena semi- timbul. Walau tampak bermotif namun tidak berat dibandang. Goresen atau ukiran sederhana tersebut menambah elegan. Pot ukir dijualnya tentu tidak semahal tanamannya.
Namun tetap berharga karena memang proses pembuatan dan ukirnya rumit. Dari yang terendah dijual Rp.5000- 10.000 dan paling mahal Rp.1 juta. Yang mahalnya biasa berbentuk vas bunga besar atau berupa guci buat hiasan ruangan utama rumah.
Omzetnya normal Rp.25 juta, naik Rp.50- 70 juta selama pandemi Covid 19. "Soalnya kan booming tanaman hias, karena banyak di rumah aja," jelasnya kepada Detik.com. Coba jualan pot tanaman hasilkan lebih banyak penghasilan.
Tentu dia tidak cuma menjual pot karena banyak produk. Sudah puluhan tahun Desa Plumpungrejo jadi sentral tembikar. Banyak orang ngambil membeli atau menjual aneka produk. Terutamanya peralatan rumah tangga, seperti cobek dan kuali.
Burhan sendiri spesifikasi membuat pot tanaman. Dia pun sudah mengajak pengrajin lain membuat, bahwa jauh sebelum pandemi dia telah usahakan. Burhan terus berinovasi biar kerajinan tanah liat di Desa Plumpungrejo lestri.
Soal penjualan dia sudah memiliki reseller atau penyalur. Pembeli tidak cuma datang dari lokal, tapi sampai Maleng, Surabaya, Tulungagung, Kalimantan dan Bali. Terutama Bali tembikarnya mampu dijual sampai keluar negeri.
Burhan sendiri termasuk masih muda. Kebanyakan pengrajin sudah puluhan tahun dan sepuh. "Jadi in suatu kesempatan bagi masyarakat meningkatkan kreativitas juga untuk lebih berkembang lagi," ujar wirausahawan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.