Profil Pengusaha FX Harso Susanto
Bisnis kreatif koran bekas FX Harso Susanto. Pengusaha kerajinan asal Yogyakarta, yang kini tengah sibuk menggeluti bisnis sampahnya. Berbisnis berbeda dari biasanya, karena bukan hanya mencari untung tetapi ramah lingkungan."Tapi juga menjaga lingkungan dari limbah kertas koran," jelasnya.
Dia berbeda dengan pebisnis sejenis mengerjakan sampah plastik. Harso asik sibuk memilah sampah- sampah kertas terutama kertas koran. Dibawah bendera Peperfurniture.com, ia mencoba melebarkan sayap bisnisnya sejak 2006.
Berbisnis Harso bicara banyak tentang kerajinan tangan. Ditambah tempatnya berdagang spesial di kawasan Yogyakarta, tak ayal beberapa bule terlihat naksir kepada barang buatannya. Tidak jarang mereka meragukan kualitas dari produknya tersebut.
Ada keraguan ketika orang membeli kerajinan ini. Kala itu, ada seorang wanita asal Inggris ingin membeli meja kertas, yang tak disangga kerangka kayu. Wanita Inggris tersebut terlihat tergopoh- gopoh membawa benda buatan Fransiskus Xaverius Harso Susanto itu.
Bisnis Kreatif Koran Bekas
Ada keraguan ketika orang membeli kerajinan ini. Kala itu, ada seorang wanita asal Inggris ingin membeli meja kertas, yang tak disangga kerangka kayu. Wanita Inggris tersebut terlihat tergopoh- gopoh membawa benda buatan Fransiskus Xaverius Harso Susanto itu.
Seolah tau kegelisahan si wanita, Harso segera menaruh sekaleng lem yang beratnya sekitar 10kg -an diatas benda tersebut. Dia tersenyum memperlihatkan karyanya bukanlah mainan melainkan meja sungguhan.
"Waktu itu, perempuan asal Inggris tersebut membeli 100 buah barang- barang kerajinan saya mulai dari nampan, tempat majalah, sampai keranjang kotak," kenangnya.
"Waktu itu, perempuan asal Inggris tersebut membeli 100 buah barang- barang kerajinan saya mulai dari nampan, tempat majalah, sampai keranjang kotak," kenangnya.
Pria berdomisili di Sanggrahan, Yogyakarta, memulai usahanya karena kecintaan akan barang bekas dan lingkungan. Rasa cinta itu semakin memuncak disaat mendampingi anak- anak jalanan beberapa tahun silam.
Beberapa tahun tersebut, Harso memang sudah getol membuat- memperkenalkan barang- barang kerajinan dari bahan kertas, merasa persaingan belum ketat.
Dia segera saja menyusun konsep bisnisnya. Harso membuat berbagai kerajinan dari koran bekas, beberapa aksesoris tersebut dijualnya lewat internet. Namun dunia memang sangat cepat berubah terutama bagaimana iklim bisnis di Indonesia.
Dia merasakan betul bisnisnya mulai terasa kembang kempis. "Banyak calon pembeli yang mengirim e-mail membatalkan pembelian. Wah, ini sudah jadi tanda- tanda surut," kata pria kelahiran Temanggung, Jawa Tengah ini.
Seolah tidak mau tergerus krisis itu, ia segara mencari cara agar kreatifitas tak berhenti begitu saja. Energi dari bapak dua orang anak ini disalurkan melalui produk baru. Dia bersama empat rekannya mulai memproduksi barang- barang furnitur sekala besar.
Tentunya barang- barang tersebut akan lebih sulit dibentuknya. Tak ada teknik pembuatan khusus melainkan hanya berbekal lem kanji. Cara pembuatan produk ini memang relatif mudah tetapi harus serius. Kertas koran cukup dilumuri lem kanji, sesudah itu dipilin- pilin kemudian dibentuk.
Tetapi, pembuatannya memang butuh satu ketelitian ungkap Harso. Kertas itu dipilin lalu dipasang sesuai bentuk mengikuti modelnya. Pengeleman setiap jalinan demi- jalinan wajib mendapatkan perhatian khusus.
Furnitur karyanya dibuat 100% berbahan kertas koran bekas tanpa campuran bahan lain, semisal besi atau kayu. mKendati bahan utamanya hanya kertas, terbukti itu mampu menahan beban hingga 200 kilogram.
"Pernah saat mengikuti pameran di Jakarta, bapak President SBY mencoba menduduki kursi buatannya," imbuh pria gondrong. Menurutnya produk karyanya telah mendapatkan sambutan sangat positif.
Dia fokus memasarkan produk lewat jalur online. Kini, bengkel bekerjanya di Janti, Yogyakarta, sudah sering didatangi para turis asing. Banyak turis asing yang berminat akan produk karyanya. Mereka akan memesan secara besar untuk dibawa ke negera masing- masing.
Dibantu empat karyawannya, ia mampu mendapatkan omzet berkisar 10 juta- 20 juta. Produknya dijual beraneka harga disesuaikan tingkat kesulitan. Harga produk kerajinan furniturnya berkisaran harga Rp.8.000 - Rp.600.000.
Hingga sekarang, pengusaha Harso, masih terus memasarkan produknya melalui peperfurniture.com. Ia bahkan mengaku sudah mampu memproduksi 50 jenis barang.
Beberapa tahun tersebut, Harso memang sudah getol membuat- memperkenalkan barang- barang kerajinan dari bahan kertas, merasa persaingan belum ketat.
Dia segera saja menyusun konsep bisnisnya. Harso membuat berbagai kerajinan dari koran bekas, beberapa aksesoris tersebut dijualnya lewat internet. Namun dunia memang sangat cepat berubah terutama bagaimana iklim bisnis di Indonesia.
Dia merasakan betul bisnisnya mulai terasa kembang kempis. "Banyak calon pembeli yang mengirim e-mail membatalkan pembelian. Wah, ini sudah jadi tanda- tanda surut," kata pria kelahiran Temanggung, Jawa Tengah ini.
Seolah tidak mau tergerus krisis itu, ia segara mencari cara agar kreatifitas tak berhenti begitu saja. Energi dari bapak dua orang anak ini disalurkan melalui produk baru. Dia bersama empat rekannya mulai memproduksi barang- barang furnitur sekala besar.
Tentunya barang- barang tersebut akan lebih sulit dibentuknya. Tak ada teknik pembuatan khusus melainkan hanya berbekal lem kanji. Cara pembuatan produk ini memang relatif mudah tetapi harus serius. Kertas koran cukup dilumuri lem kanji, sesudah itu dipilin- pilin kemudian dibentuk.
Tetapi, pembuatannya memang butuh satu ketelitian ungkap Harso. Kertas itu dipilin lalu dipasang sesuai bentuk mengikuti modelnya. Pengeleman setiap jalinan demi- jalinan wajib mendapatkan perhatian khusus.
Tidak Patah Semangat
Furnitur karyanya dibuat 100% berbahan kertas koran bekas tanpa campuran bahan lain, semisal besi atau kayu. mKendati bahan utamanya hanya kertas, terbukti itu mampu menahan beban hingga 200 kilogram.
"Pernah saat mengikuti pameran di Jakarta, bapak President SBY mencoba menduduki kursi buatannya," imbuh pria gondrong. Menurutnya produk karyanya telah mendapatkan sambutan sangat positif.
Dia fokus memasarkan produk lewat jalur online. Kini, bengkel bekerjanya di Janti, Yogyakarta, sudah sering didatangi para turis asing. Banyak turis asing yang berminat akan produk karyanya. Mereka akan memesan secara besar untuk dibawa ke negera masing- masing.
Dibantu empat karyawannya, ia mampu mendapatkan omzet berkisar 10 juta- 20 juta. Produknya dijual beraneka harga disesuaikan tingkat kesulitan. Harga produk kerajinan furniturnya berkisaran harga Rp.8.000 - Rp.600.000.
Hingga sekarang, pengusaha Harso, masih terus memasarkan produknya melalui peperfurniture.com. Ia bahkan mengaku sudah mampu memproduksi 50 jenis barang.
Twitter: FX.Harso Susanto (@semestarec)