Susahnya Menjadi Pengusaha Kentang Goreng

Profil Pengusaha Robby Widjaya 



Pepatah mengatakan kegagalan awal kesuksesan. Inilah kisah Robby Widjaya. Pengusaha sukses yang satu ini begitu sangat bersemangat. Padahal sekitar lima tahunan lalu, dia sudah hidup nyaman menjadi salah satu pemasok aneka perlengkapan farmasi. Sampai nekad membuka usaha bersama empat kawannya.

Dia bersama kawan pengen membuka usaha gampang. Bikinnya mudah dibanding bisnis lain. Lalu mereka menemukan bisnis kentang goreng. Untuk membuat berbeda tidak memakai saus sambal. Ia memilih buat meracik bumbu sendiri ditambah mayonais, mak nyus.

Aneka rasan toping mengejutkan. Ayah seorang anak yang idenya dadakan. Tetapi ternyata hasilnya cukup menggiurkan. Pada 8 Desember 2005, resmi lah nama bisnis mereka, yaitu K- Patats menjadi merek dagang mereka. Adapun abjad K pada namanya berarti kepanjangan "King" atau raja.

Bisnis tidak gampang


Sementara Patat merupakan bahasa Belanda -bukan berarti jorok loh. Artinya tidak lain yah kentang, atau jika digabungkan maka namanya Raja Kentang. Ia ingin menciptakan sesuatu yang baru dalam tren bisnis kentang goreng kita.

Bisnis ternyata tidak semudah diucapkan. Awal dia bermimpi bisnis miliknya akan menjadi raja. Lalu dia malah mengalami kerugian. Tiga bulan pertama omzet penjualan dibawah Rp.100 ribu. Satu gerai miliknya sepi pembeli. Gerai di Pasar Atum tersebut ternyata dibiyaai patungan, bahkan sampai nilai puluhan juta.

Masa sulit membutuhkan komitmen bersama. Semangat teman Robby ternyata tidak sehabat itu. Bentuk komitmen tidak mampu membendung rasa putus asa. Bisnis mereka dianggap tidak prospektif. Sementara Robby masih ingin melanjutkan K- Patats. Beberapa masih bertahan bersama Robby memilih tetap jalan.

Bendera bisnis mereka harus tetap jalan. Aneka promosi makin gencar dilakukan. Sekitar gerai mereka mulai mempromosikan manfaat kentang. Mengenyangkan tidak menggemukan. Bulan empat bisnis milik mereka mulai naik cepat. Pertumbuhan bahkan mencapai tidak cuma puluhan tetapi ratusan persen.

Komitmen menurut Robby merupakan kunci. Komitmen bisni seseorang akan bisnisnya berbeda. Makin kamu berkomitmen maka akan ada jalan. Inilah perbedaan antara orang berwirausaha mengikuti trend dan mereka yang berhasrat menjadi wirausaha sebenarnya.

Hasilnya dapat dilihat, ketika pertengahan 2006 -an, dia mengingat orang mengantri baik remaja ataupun dewasa buat membeli kentang goreng saja. Anak- anak juga suka kentang goreng mereka. Bahkan antrean satu orang bisa menunggu sampai dua jam. Pelanggan mencapai 80 orang mengular menunggu pesanan mereka.

Sukses bisnis Patats tidak membuat puas. Mereka lantas menerapkan sistem inden. Maksudnya orang bisa memesan, dibayar dimuka, kemudian bisa ditinggal buat belanja dulu. Untuk mengakali mereka lantas memugar agar tempat menjadi lebih luas.

Peralatan diperbanyak untuk menangani pembeli membludak. Lebih cepat memasak tetapi tidak merusak kualitas rasa. Ia juga menambah jumlah pegawai mereka. Setelah masuk September, mereka lantas mulai menawarkan sistem franchise, dimana mereka menemukan mitra pertama yang mau mendukung dua gerai.

Dua gerai di Tanjung Delta Plaza dan Royal Plaza, dibuka bersamaan. Gerai mereka bahkan sampai ke kota lainnya, seperti Surabaya, Jakarta, Bandung, Solo, Malang, dan Semarang. Di luar Jawa ada di Manado dan Makassar sampai ke Jayapura, bisnis kentang aneka saus miliknya makin mantap.

Bahkan sampai di Tanjung Selor, yang pengiriman bahannya sulit, dia tetap menerima tantangan tersebut karena komitmen. Membesarkan bisnis sudah pernah dirasakan sulit. Banyak tantangan ditanggapi penuh kepercayaan diri. Penyemangat utamanya adalah komitmen berbisnis agar sukses besar.

Dua tahun sudah bisnsi Robby eksis. Karena daerah pengiriman ada yang sulit. Harga Patats pun melonjak sampai dua kali. Namun justru karena medannya sulit, maka tidak ada perasaingan berarti di sana. Langkah selanjutnya dia ingin membuka bisnis sampai Malaysia dan Singapura juga.

Biografi Mekarsari Ida Widyastuti Pebisnis Camilan

Profil Pengusaha Camilan Sidoarjo


 
Keterbatasan memaksa orang menjadi pengusaha. Kisah klasik yang masih relevan sampai sekarang. Inilah kisah Ida Widyastuti. Pengusaha asal Demak ini sudah merasakan pahit hidup lengkap. Wanita kelahiran 30 Oktober 1974, begitu lahir, pahit menarima kenyataan ibunya meninggal ketika dia dilahirkan.

Sekeluarga hidup di bawah garis kemiskinan. Sudah begitu, Ida kecil mendapat cemooh anak- anak lainnya, karena Ida tidak punya ibu. Memasuki masa SMP, nenek dari bapak meninggal, Mbah Suripah merupakan sosok pengganti sang ibu, mulai merawat, mengasuh, dan membesarkan.

Untuk mencapai pendidikan tingkat lanjut. Ia tinggal bersama Bude Mustaqarah, kakak ibunya ini memberi ruang baginya berpendidikan. Selepas lulus SMA Muhammadiyah 1 Jombang, tekadnya memasuki dunia perkuliahan tetapi tidak punya biaya.

Hidup pekerja keras


Dia kemudian menjadi karyawan di Batam. Mencoba bertahan hidup di perantauan. Sudah lima tahun dia bekerja di perusahaan Jepang dan mendapat gaji tetap. Kepahitan Ide tidak berakhir meski sudah nampak berkecukupan. Karena menjadi pegawai gaji Ida tidak banyak!

Sambil bekerja ia memutuskan berbisnis. Caranya, ketika jam istirahat, dia akan segera membuka lapak di ruangan dekat toilet perusahaan. Barangnya lantas dipasok dari Yogyakarta. Bisnis sampingan tersebut sudah dibilang lumayan. Sambil berjualan Ida mengasah strategi marketingnya lewat teman sekantor.

Keinginan penuh menjadi pengusaha memanggil. Hingga dia menikah dengan Harris Setiawan, yang lalu mengajaknya pindah ke Surabaya. Disela merawat anak dia kemudian berjualan kembali. Jualan emping melinjo ke Pasar Gedangan, Sidoarjo, tahun 2001 -an.

Inspirasinya dari saudara yang memproduksi keripik melinjo. Memang hasrat menjadi pengusaha tidak bisa ditahan. Ida membuktikan selama fakum. Selama tidak berjualan apapun. Dia merasakan kebosanan yang sangat. Apalagi dia harus pindah- pindah mengikuti sang suami, yang bekerja di Astra.

Dia berjualan menjajakan emping melinjo. Lelah dirasakan Ida keluar masuk toko oleh- oleh. "Hasilnya pas- pasan untuk mencukupi kebutuhan sehari- hari," paparnya. Harga murah lantas dipakai Ida. Hasilnya meningkatkan omzet usaha. Kemudian mulai banyak orang datang mengambil dagangan emping ke Ida.

Harris lantas ikutan nimbrung berbisnis. Hingga ujungnya mengundurkan diri. Ia melihat kerepotan sang istri ditambah semangat berbisnis. Selain itu prospek bisnis makanan khas Jawa Timuran nampak mulai menjanjikan. Tidak cuma emping melinjo, Ida mulai merambah bisnis lain untuk mendongkrak omzet.

Bisnis jajanan


Sementara Harris membawakan berbuntal emping. Ida akan sibuk menawarkan barang. Tahun 2003, bisnis yang bernama Emping Kawanku, mulai menujukan geliat luar biasa. Ida sudah berhasil menguasai pasaran Malang dan Probolinggo. Karena murah ya sampai jualannya menjalar ke Kalimantan.

Ida fokus menggarap bisnis camilan. Lainnya dia mengembangkan camilan keripik pisang. Untuk satu ini, awalnya dia bergeriliya dulu, mengunjungi pemasok cemilan se- Jakarta dan Jawa Barat. Kerja sama dia buat untuk menjajakan produksinya.

"...kami ditolak olehs suplier karena mayoritas pemain lama," kenang Ida. Namun justru semangatnya makin menggebu.

Ia memutuskan tidak bekerja sama dengan suplier. Justru turun lebih ke dalam lewat produsen langsung. Ia belajar sampai ke Bandung, Cianjur, Indramayu, Kuningan, Ciamis, dan Cirebon. Ida memang orangnya begitu telaten. Setiap apa tujuannya ditekuni meski halangan menghadang.

Berawal pemikiran iseng, dimana tempat asalnya keripik melinjo laris manis, kini dia menjajakan tidak cuma di tempat tinggalnya tetapi sampai ke luar pulau. Awal jualan keripik melinjo dia membeli basah. Dari produsennya di Demak, kemudian dia menggorengkan sendiri dengan bumbu sendiri.

Awalnya dia sempat ditolak karena harga mahal. Terlalu mahal buat bisnis lokal kawasan Gedangan. Selalu konsisten dan berupaya keras. Sambil menggendong putranya bernama Nabil Hilmi Dafa, dia menjajakan bisnisnya hingga akhirnya menemukan beberapa pembeli.

Pemasok emping begitu mengenal Ida. Dia lantas dijuluki Ida Bakul Emping. Merambah bisnis lain, dia mengajak orang lain dalam bisnisnya. Dia mengajak industri rumahan lain buat memasakan sesuai resep. Masalah muncul ketika dia terlalu bernafsu merambah bisnis cemilan lainnya.

Tabungan mereka sempat hampir ludes karena salah perhitungan. Bantuan sang suami banyak membantu, alumnus Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya, ikut membantu berbisnis kembali. Padahal kalau orang awam liat Ida berjualan emping saja sudah cukup sangat menghasilkan.

Namun isting pengusaha Ida sudah terlanjur terasah. Hasrat kewirausahaan Ida juga semakin bergairah. Dia tidak cuma mengejar uang. Tahun 2005, bisnisnya ingin lebih, bisnis aneka cemilan tersebut lantas dia namai dari Kawanku menjadi Mekarsari. Inspirasi bunga yang mekar layaknya harapan akan bisnisnya.

Camilan sukses


Ia membutuhkan waktu dua tahun. Aneka kegiatan UKM disambangi Ida. Tujuannya agar ambisis menjadi pengusaha aneka camilan terlaksana. Inilah kenapa dia siap menggelontorkan uang Rp.50 juta. Uangnya dipakai membiayai perajin camilan dibawah asuhan bisnis UD. Roemah Snack Mekarsari tersebut.

Jumlah besar ditambah kualitas rasa. Kelamaan sampai menembus ke Bali loh. Melihat pasokan pisang yang melimpah di Trenggalek, dia berminat membuat bisnis pisang. Kebetulan menurutnya pisang tanduk mereka unik, karena besar- besar, dan rasanya manis.

Dua pabriknya di Trenggalek dan Sidoarjo, selalu mengolah tujuh ton setiap harinya. Bisnis keripik pisang miliknya diperkuat kerja sama 250 mitra petani. Tahun 2009, dia membuka gerai di Pondok Jati, Sidoarjo, dimana ribuan orang pasti berkunjung ke sana, yang bukannya sampai 24 jam sepanjang waktu.

Cabang lain ada di Krian, Sidoarjo, Denpasar, dan Bali. Hobinya traveling merambah menjadi bisnis baru. Yang mana diluar bisnis camilan. Dia membuka bisnis agen tour. Kemudian juga membuka agen ekspedisi sendiri. Pokoknya dia menjelma menjadi pengusaha besar berkaryawan 160 orang.

Meski begitu bisnis tidak selamanya untung. Contohnya dia pernah diajak bekerja sama bisnis vanili. Dia rugi ratusan juta. Cuma mendapatkan bisnis tidak berprospek. Uangnya sisa Rp.50 juta dan sisa vanili yang mencapai angka Rp.43 juta, sisanya rekan kerjanya bawa kabur entah kemana.

Ia menggandeng banyak UKM. Prinsipnya amanah karena dia sendiri pernah ditipu. Total 50 UKM sudah bekerja sama. Kemudian ada petani pisang sampai 200 orang memasok. Karena memperdayakan bisnisnya petani pisang, dia mendapatkan penghargaan Green Entrepreneur dari Wirausaha Mandiri.

Bisnis keripik pisang mulai tahun 2004. Potensinya besar berbisnis keripik pisang. Sejak awal bisnisnya dimulai modalnya Rp.600 ribu, tetapi perjalannya banyak keringat dan tangis. Bisnis pisangnya bernama Omah Pisang Bananos. Keistimewaan bisnisnya adalah menggunakan bahan alami semuanya.

Harum bau pisang asli terasa. Membuktikan bahwa pisangnya banyak. Keripik pisang berbagai rasa harga terjangkau diminati segala kalangan. Kini, dia bahkan memproduksi buat dijual ke manca negara. Ekspor ke Malaysia, Singapura, Filipina, dan Qatar rajin memesan.

Sukses keripik adapula opak pisang. Semua dikemas layaknya perusahaan makanan ringan besar. Dia selalu siap mencari cara memenuhi permintaan pasar.

Bisnis inspirasi


Tiga tahun berdiam diri karena tidak bekerja. Kemudian lahir seorang anak menjadi jalan. Ida tidak mau lagi hanya diam. Semangat kewirausahaan didukung keberuntungan. Dia kebetulan berkunjung ke kerabat di Demak. Disana dia melihat kerabatnya tengah asik berbisnis kecil- kecilan keripik melinjo.

Perjalanan Demak ke Sidoarjo, Ida lantas berpikir untuk membawa usaha tersebut pulang. Tahun 2001 dia mulai menjajakan emping melinjo. Pernah ditipu teman suami yang menawarkan kerja sama. Uang modal yang semula Rp.600 ribu berkembang menjadi Rp.500 juta, kemudian ditipu sampai habis Rp.300 jutaan.

Tiga bulan dirinya meratapi nasib ditipu. Namun kecintaan akan kewirausahaan membawa dia bangkit. Lalu dia berbisnis kembali. Dorongan sang suami berperan besar dalam masanya. Kebangkitan juga didorong oleh kawan- kawan Harris. Mereka ikut mensuport memasarkan bisnisnya kembali.

"Saya berasal dari kebaikan kawan- kawan Mas Harris yang turut membantu permodalan," kenang Ida. Maka dibalik pernah ditipu kawan sendiri. Kini Ida malah dibantu kawan- kawannya lain. Jangan berhenti percaya ketika kamu pernah tertipu orang.

Perempuan memang punya banyak keterbatasan. Ini ditutupi sang suami yang akhirnya ikut berbisnis. Dia bertekat membantu sang istri. Hingga bisnis mereka meledak sampai sekarang. Kenapa Ida memilih buat ekspansi ternyata ada alasan lain, tidak cuma sekedar hasrat berwirausaha saja loh, teman.

Dia mengevaluasi bisnis emping melinjonya. Kelemahan utama bisnisnya adalah kesadaran masyarakat akan efek bagi kesehatan. Melinjo memang dikenal memberi efek samping kesehatan. Dari dulu berbisnis camilan curah, kini, fokusnya mencari pemasok camilan!

Tidak kurang 200 jenis camilan. Dia mengirim satu truk ke Bali setiap minggu, Mataram dua truk, lalu ke Kalimantan sekitar 28 boks, Jawa Tengah satu truk, dan Jakarta satu truk juga. Itu saja masih belum bisa memenuhi kebutuhan karena banyak sekali permintaan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba