Berawal Kamera Omnya Gadis 16 Tahun ini Berwirausaha

Profil Pengusaha Sangat Muda Bella Mutia 



Berawal dari kamera punya omnya. Gadis belia 16 tahun ini sekarang pengusaha. Inilah kisah Bella Mutia yang diangkat oleh Studentpreneur.co. Berawal kamera Canon EOS 1100D, Mutia ingin memiliki kamera sendiri. Dia kemudian dihadiahi kamera tersebut dan mulai memfoto.

Tetapi Mutia tidak mau hanya gratisan loh. Gadis berjilbab ini memilih buat mencicilnya. Mengupayakan membelinya bukan dikasih. Harganya Rp.3 juta dicicil Mutia senilai Rp.300 ribu per- bulan dan baru lunas setelah sepuluh bulan. Dari proses mencicil inilah ide bisnis muncul dibenak Mutia.

Sementara belum lunas cicilan. Ternyata Mutia belum sering menggunaknya. Kan sayang, jadi ia sewakan  sajakepada teman- temanya. Lumayan uang mencicil kamera bisa kembali karena disewa teman- teman. Uang sewa tersebut menjadi tambahan buat mempercepat pelunasan kameran omnya.

Bisnis sederhana


Lama kelamaan, ia menyadari satu hal: Kemampuannya memfoto tidak jago- jago amat. Mending kalau tidak terpakai kan disewakan saja. Daripada buat memfoto tidak bermanfaat. Akhirnya si Mutia kembali menawarkan kamera miliknya ke teman. Penyewanya mulai dari mereka yang serius ingin tau tentang fotografi.

Hingga mereka yang ingin sekedar mengabadikan moment spesial. Adapula penyewan yang sekedar mau narsis- narsis pake kameran profesional. Alhamdulillah, hasilnya mengejutkan, dari satu kamera sudah menjadi tiga buah. Uang sewa dipatok Rp.50 ribu buat enam jam pemakaian, murah kan?

Pikirkan saja, kan tidak semua orang mau narsis setiap hari. Beberapa orang cuma butuh kamera untuk momen spesialnya dan sudah selesai. Tidak disangka awal iseng membuahkan bisnis. Bahkan dia sudah bisa membantu ekonomi keluarga.

Apakah ada masalah? Yah, ia berkisah pernah tiga dari empat kameranya dibawa kabur. Mereka hanyalah pelajar beruntung gampang dikenali. Kalau tidak yah Mutia bisa rugi Rp.9 juta. Karena mereka pelajar, akhirnya Mutia tidak memperpanjang ya terpenting kameranya kembali.

Pengalaman tersebut menjadi pelajaran besar. Kebodohan tersebut diganti dengan memperketat syaratnya menyewa. Ia tidak akan menyewakan jika tidak ada identitas. Harus menyerahkan KTP atau Kartu Pelajar asli. Kedisplinan keuangan juga diterapkan Mutia, yakni lewat kuitansi sewa, jadi tidaka ada masalah lagi.

Dia mulai bangkit kembali. Lewat uang sewa segitu, ia mengaku mampu mengantungi omzet Rp.7 juta sampai Rp.6 juta per- bulan. Berkat kedisplinan keuangan bisnisnya terus berkembang. Kedepan dia mau punya lebih banyak kamera baru. Uang segitu digunakan buat apa Mutia?

Dia bilang buat bayar uang sekolah. Juga membiayai sekolah kedua adiknya. Juga sudah bisa mencicil mobil loh. Yah buat mempermudah transportasi keluarga lah. Kedepan memperbanyak properti kamera, bahkan kalau bisa mau membuka studio foto. Dan akhirnya nanti menaikan haji kedua orang tua akhirnya.

Semangat Mutia!

Pemilik Mie Sabuke Muda Pengusaha

Profil Pengusaha Fraga Tanansyah 




Usianya baru 24 tahun tetapi sudah berbisnis sendiri. Fraga Tanansyah, terlahir dari keluarga pecinta mie, maka tidak salah kalau dia berbisnis mie. Untuk usahanya patut diacungi jempol. Karena tidak mudah, apalagi buat konsisten menggeluti bisnis yang sama selama empat tahun.

Ia merasakan betul rasanya salah. Kesalahan strategi bisnis membuatnya jatuh. Namun, pengusaha muda satu ini memiliki passion tinggi akan mie ayam. Hingga menciptakan produk Mie Ayam Sabuke. Ceritanya dimulai sejak 2012 silam.

Bisnis di kampus


Ia barulah menyelesaikan pendidikan teknik telekomunikasi. Menjadi lulusan sebuah universitas negeri, ia tak lantas memilih bekerja, karena apa hasratnya adalah menjadi pengusaha. Ya sejak kuliah dia ingin jadi pengusaha muda sukses.

Demi mewujudkan hal tersebut dia langsung tancap gas. Tidak mau melamar pekerjaan menjadi pegawai. Ia kemudian membuka bisnis mie ayam sangat sederhana.

"Saya emang ingin menjadi pengusaha ketimbang pegawai," seperti yang dilansir oleh Detik.com. Maka dimulailah perjalanan bisnis pemuda tampan satu ini.

Rasanya asik, begitu dia mengomentari kenapa bewirausaha. Ide bisnis gampang tinggal mencari apa yang kita suka. Gampangnya dia melihat keluarganya hobi makan mie ayam. Kenapa enggak berjualan mie ayam saja?

Dia kemudian asik bercerita. Lewat internet dia mencari cara membuat mie ayam. Yah, kan namanya suka mie ayam, bukan pembuat mie ayam jadi dia tidak tau. Meskipun bisa masak tidak mudah bikin mie ayam. Karena niat bisnis sangatlah kuat. Fraga kemudian meracik aneka bahan menjadi mie ayam.

Butuh waktu sampai ia menemukan racikan tepat. Bagaimana membuat mie ayam yang berbeda. Rasanya harus berbeda daripada yang lain. Fraga bekerja sangat keras. Resepnya diolah sampai empat bulanan. Ia akhirnya percaya diri, dan menamainya Mie Ayam Sabuke. 

"Sampai sakit perut. Coba lagi terus cari informasi," paparnya.

Sudah jalan setahun tetapi tidak sesuai harapan. Kendala silih berganti menghampiri. Penjualan malah jadi turun drastis. Impian omzet puluhan juta ternyata berhenti. Pembukuan Fraga tidak lagi dipenuhi angka nol banyak.

Ia kemudian menjajaki aneka pameran, fetival, bazar dan lainnya. Untuk tambahan dia menjajakan lewat sosial media dan website. Hasil dari semua itu tidaklah banyak. Fraga mampu mengantungi Rp.2 juta- Rp3 juta per- hari. Kegiatan tersebut cuma dilakukan Fraga selama semingguan.

Agar menarik minat pembeli kembali. Ia menyiasati lewat produk baru. Fraga menciptakan produk yang bernama Kentang Mustofa. Produk ini dapat dijual terpisah di outlet- outlet. Tetapi juga bisa dijadikan makanan pendamping mie miliknya. Dengan bantuan produk baru, lumayanlah menambah omzet per- hari.

Meski untungnya tipis, Fraga tetap optimis melanjutkan usaha. Untuk penghasilan rutin sudah didukung dari Kentang Mustofa. Sisanya bagaimana menarik lebih banyak pelanggan. Ia mengungkapkan ide buat membuat kendaraan khusus menjajakan Mie Ayam Sabuke. Agar lebih efektif dan efisien dalam penjualan.

Kemudian dia merencanakan mencakup wilayah Jakarta dan sekitarnya. Menjalani kehidupan menjadi pengusaha ternyata tidak mudah. Pelajaran diambil menurutnya: Ambilah referensi matang sebelum kamu memulai berwirausaha. Harus- harus matang sebelum mengambil keputusan membuka usaha sendiri.

Ia mencontohkan dengarkan dulu orang. Lakukan analisis matang mengenai pasar. Lakukan lah analisa seakurat mungkin sebelum membuka usaha. Kini, usaha yang dijalankan bermodal Rp.5 juta, dan sedikit bantuan dari orang tua sudah berjalan baik. Fraga tengah merintis satu gerai sewa di kawasan Bekasi.

Berawal dari mie ayam berbahan bumbu orginal. Makin lama, makin banyak rasanya, seperti mie ayam rasa bayam, wortel, coklat, kopi, strawberi, sampai buah naga. Dia ingin membuat mie ayam berbeda. Dan tanpa bahan pengawet tentunya. Rasanya tuh enak tetapi berbahan sehat tidak merugikan orang lain.

Semua rasanya organik loh. Omzet dihasilkan Fraga sudah mencapai Rp.30 juta- Rp.40 juta. Dimana dia masih berambisi menstabilkan dan memperluas bisnisnya. Berawal dari satu pusat perbelanjaan di wilayah Cijantung, Jakarta Timur. Berpindah- pindah dan menetap untuk membuktikan tekat pengusaha mudanya.

Ahlinya Teh Asli Indonesia Berawal dari Passion

Profil Pengusaha Ratna Somantri 



Pekerjaanya tidak banyak dikenal orang. Tetapi dari sanalah keberuntungan menghinggapi Ratna Somantri. Bahkan nih dia rela melepaskan pekerjaanya. Jenusnya menjadi pegawai sudah dirasakan Ratna. Sampai ia menemukan kegiatan baru dibidang kuliner.

Dilanda kejenuhan rutinitas kerja. Ia yang tinggal di Australia, lantas menyempatkan diri mengikuti kelas pastry di Le Cordon Bleu. Diperjalanan dia mampi ke satu kafe, Tea Center, menyadikan minuma teh ke pelanggan. Bayangkan dalam satu tempat ada 500 macam teh disajikan, dan tidak ada di Indonesia.

Keinginan memasuki bisnis teh muncul. Cerita bisnis Ratna memang panjang. Tetapi merunut ke belakang dia sudah mengenal teh sejak kecil. Sang mama dikenal jagonya meracik teh sendiri. Dia ingat betul rasa khas teh asal Cirbon, Jawa Barat.

Tidak mudah berbisnis


Perempuan kelahiran Cirebon 3 November 1978. Kemudian pulang kampung ke Indonesia. Berbekal rasa ingin tau, ditambah niat menjadi wirausaha: Ratna mengajak seorang teman berbisnis. Untuk membekali diri, Ratna sempat kursus tentang teh di Purple Cane, Kuala Lumpur. Keduanya sepakat membuka kafe teh sendiri.

Nyatanya tidak mudah seperti benaknya. Bisnis mereka tidak bertahan lama. Ujungnya dia menjual saham miliknya. Ia ingin lebih memfokusi tentang teh lebih dalam. "Sahamnya kemudian saya jual, tapi kecintaan saya akan semakin haris semakin bertambah."

Ia sengaja berlibur ke negara- negara penghasil teh. Mulailah dia mempelajari budaya teh mereka. Contoh negera itu ya China, Jepang, Korea, sekalian menikmati aneka teh dan belajar. Ratna lantas mendirikan komunitas pecinta teh. Dia juga meluncurkan beberapa buku tentang khasiat teh.

Dia menulis buku Kisah dan Khasiat Teh. Ratna juga menjabat Ketua Dewan Teh hingga periode sekarang. Ratna memang lebih cocok menjadi spesialis teh. Pilihan profesi yang jarang didengar orang kita. Oh ya, buku tersebut dipublis oleh PT. Gramedia Pustaka, bukunya setebal 115 halaman jadilah sangat lengkap.

Kesukaan akan teh membayanya ke banyak negara. Dia disandingkan master- master teh, baik dari China, Hong Kong dan Kuala Lumpur. Baginya minum teh merupakan kegiatan menyenangkan. Bayangkan kita mencium aroma daun teh, yang merekah diatas air panas dalam cangkir, "...rasanya kepenatan hilang."

Baginya ritual minum teh sangat penting. Semakin gemas ketika ia melihat bagaimana orang minum teh di Indonesia. Padahal teh Indonesia memiliki cita rasa unik. Di Indonesia, teh masih dianggap minuman biasa, padahal di Eropa minum teh sudah menjadi cara orang menaikan gengsi.

Ia memang tau pemilihan daun teh sudah benar. Tapi dalam hal penyimpanan dan pengolahan, orang kita masih salah kaprah. Padahal negara kita merupakan penghasil teh tersebesar. Ia lantas mendorong agar teh kita lebih diperhatikan. Caranya ialah ia mendirikan komunitas dan blog mengenai cita rasa teh lokal kita.

Bisnis sampai profesional


Mudahnya teh dikonsumsi di Indonesia membuat pamornya turun. Alhasil banyak orang menyepelekan cara minum teh. Menurut Ratna, bahkan meski kita biasa minum teh, faktanya nih teh terbaik Indonesia ternyata 60% dieskpor. Kita harus memperbaiki cara kita memperlakukan teh, ujarnya.

Jangan lah negera lain yang justru menikmati teh kita. Jangan biarkan mereka malah lebih menghargai teh berkualitas kita. Ratna menyemangati bahwa teh kita tidak kalah dari China.

Berawal dari bisnis kafe teh. Kemudian gagal, menyisakan hasrat terpendam kepada teh. Ratna lantas mulai berkeliling mencari ilmu tentang teh. Kalau mau bisnis kan harus tau segala tentang bisnis yang akan dijalani. Seiring berjalan pemahaman masyarakat urban, ia kembali dengan sejuta pengalaman.

Dia mulai diajak ke berbagai talk show. Kemudian dia juga menjadi pembicara diskusi teh. Dulu dia masih pesimis kalau ngomongin teh. Eh, di 2011, malah ada acaranya dan peminatnya ternyata banyak loh. Ia menyebut sekarang teh sudah menjadi tren. Termasuk bagaimana menikmati teh dengan baik dan benar.

Dia tidak pernah sengaja menjadi pakar teh. Ratna cuma menggemari budaya teh. Selain itu juga rasanya, yang mana katanya nih, Ratna sudah mencicipi 100 jenis teh. Dia juga mengkoleksi mereka dalam tempat khususnya. Wanita keturunan Sunda- China ini, prihatin akan ketidak tahuan orang akan kualitas berteh.

Banyak orang masih keliru dalam menikmati teh. Bahkan tidak jarang nilai teh malah berkurang. Dari rasa, aroma, dan khasiatnya hilang. "Saya tahu kalau teh enggak bisa sembarangan diseduh," paparnya.

Menurutnya ada dua teknik penyajian teh: Gaya Barat dan Timur. Gaya barat ya gayanya orang- orang Eropa, seperti Inggris, Italia, dan negara- negara sekitarnya. Mereka menyeduh dengan air banyak tetapi daun tehnya sedikit. Penyeduhan butuh waktu 3- 4 menit sebelum diangkat.

Dari Timur menggunakan teko kecil. Daunya banyak berbanding terbalik dengan jumlah airnya. Disedunya cuma sebentar yakni 30 detik. Teh ini menurutnya lebih sehat karena zatnya belum banyak hilang. Hal yang mendasar begitu saja orang Indonesia belum tahu. Lewat berbagai media Ratna mengedukasi tentang teh.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba