Patungan Kandang Ayam Hadi Pengusaha Sukses

Profil Pengusaha Abdullah Hadi 


mantan tki sukses beternak ayam

Hadi adalah pengusaha sukses bidang peternakan. Abdullah Hadi melakukan bisnis patungan kandang ayam. "Saya memilih sendiri strategi bisnisnya serta strategi menjalankannya," terangnya. Yang punya visi- misi kewirausahaan kuat. 
 
Ketika TKI Indonesia lain, lebih memilih menanam investasi tanah, maka ia memilih membangun usahanya sendiri. 

Dan tidak sembarangan, tidak sekedar membuka warung makan. Hadi pernah berbisnis budidaya lele. Uang hasil menabung dari gaji TKI. Kini, dia malah dikenal sebagai pengusaha ayam kini, mantan TKI ini lantas mulai bercerita tentang kisahnya.

TKI di Korea


Demi sukses, tahun 1997, Hadi berangkat ke Korea Selatan lewat uang gadai. Ia memantapkan diri buat menjual tanah milik orang tua. Tiga tahun di Korea dia bekerja di perusahaan terpal. Tiga tahun sudah dia bekerja di sana. 
 
Hadi meninggalkan Korea kembali ke tanah Sukolila, Kab. Pati, Jawa Tengah. Mimpinya menjadi pengusaha di bidang perairan. Yakni menjadi pengusaha lele, dan akhirnya lewat uang bekerja di Korea, jadilah Hadi berbisnis lele.

Alasan dia ingin jadi pengusaha lele. Karena daerahnya banyak air -cocok dibuat empang lele mungkin. Tapi keberuntungan tidak membawa ia sukses. Padahal dia sudah pakai semua uang hasil mengumpulkan uang gaji itu. 
 
Namun kegagalan tidak bisa ditolak maka Hadi jatuh, "Saya gagal pulang dari Korea"

"Cita- cita yang saya idamkan jadi pengusaha, gagal," kenang Hadi.

Ketika dalam keterpurukan itulah, Hadi memilih menemui Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI). Tujuannya mencari usaha apa lagi bisa dijalankan. Adakah program pemberdayaan buat TKI macam dia. Ternyata ada. 
 
Dan program tersebut difokuskan untuk bagaimana cara beternak ayam. Program pemberdayaan tahun 2015, dia bersama tiga orang lainnya, para TKI asal Korsel ini lantas diajari membangun peternakan ayam modern. 
 
Kandang sebesar 100x10 meter persegi dan sudah ada pengolahan limbahnya terintegrasi. Namun ternyata usaha ini membutuhkan biaya sampai Rp.1- 2 miliaran. Untuk itu pihak BNP2TKI beri jalan lewat hutang dari Bank BNI, dengan jaminan sertifikasi tanah. 
 
Uang Rp.2 miliar ditangan makalah tinggal membangun kandang ayam. Dua kandang ayam besar sudah dikerjakan Hadi siap menghasilkan.

Hadi bermitra dengan PT. Super Unggas Jaya (Suja), anak perusahaan Cheil Jedang Feed Indonesia, yang mana merupakan perusahaan peternakan asal Korea. Mereka menjadi pemasok bibit ayam Kop kepada Hadi dan kawan.

Ayam siap panen dalam usia 22 hari, bobot 1kg dan 29 hari bobotnya 1,6kg, dan bisa dihargai Rp.4000- 5000/ekor. Singkatnya dalam 24 kadangnya sekarang ada 600.000 ekor. Untuk selanjutnya dia mengajak sesama TKI Korsel untuk membangun pusat rejekinya sendiri.

"Saya ingin mereka menjadi pengusaha di Indonesia, tidak perlu kembali bekerja di negeri orang," jelas Hadi.

Setiap empat orang akan investasi satu kandang, dimana populasi ayam 30.000- 40.000 ekor. Modal awal ya uang mereka bekerja di Korsel. Total omzet per- kandang sampai Rp.135 juta- Rp.180 juta/bulan. Hadi sendiri memiliki 220.000 ekor.

Bisnis Hadi dinamai Sonagi yang berarti bersih- bersih dalam bahasa Indonesia. Tidak cuma berhenti di ayam, Hadi membuka bisnis pertanian dan kursus bahasa Korea sebagai tambahan. Hadi memang layak kita sebut pengusaha sukses.

Raja Mahar Bangkalan Madura Selalu Berbisnis

Profil Pengusaha Devriansyah Kurniawan


selaluberbisnis.png
Pengusaha muda yang selalu berbisnis walau banyak rintangan. Kelak dijuluki Raja Mahar Bangkalan Madura. Dia sempat merasa iri akan pengusaha kota karena dukungan pemerintah pusat. Meski sama- sama mendapatkan penghargaan tingkat nasional.
 
Mereka bahkan diajak makan malam dan bonus oleh pemerintah daerahnya, berkat mengharumkan nama daerah.

"Sementara saya, biasa- biasa saja. Iri sih," tuturnya kepada Jatim Times. Berkat perasaan tidak pernah puas membuatnya terus berbisnis bahkan berekspansi. 
 
Pengusaha 28 tahun ini berkata berbisnis merupakan hidupnya. Berbekal jiwa seni tinggi mendulang uang puluhan juta.
 

Pengusaha Kelas Nasional


Dimulai 2010 silam, ia mempunya hobi melukis diatas kenvas, dan menjalar sampai ke sepatu. Devri jujur mengaku menjadi pelukis di kanvas lukis tidak menjanjikan. Sulit menjual lukisan biasa jika dijual langsung ke masyarakat. 
 
Tidak semua masyarakat paham akan nilai seni, mereka membutuhkan produk nyata dipakai. Sempat menyabet banyak penghargaan. Dari sebelumnya mewakili Madura, kini, dia dikenal sebagai salah satu pengusaha ternama membanggakan Jawa Timur. 
 
Sang istri, Syahfitri Tika Suci, mengaku bangga akan ketekunan sang suami. Yang kini dikenal sebagai Raja Mahar Bangkalan,  cerita selengkapnya akan dibahas disini.

Mulai berbisnis sepatu lukis. Tangan kreatif Devria tertoreh di kanvas berbentuk sepatu. Ini lebih menjual ia mengakuinya. Pemuda kelahiran 8 Desember 1989 ini mulai memasarkan produk sepatu lukisnya itu. 
 
Modal ia dapatkan lewat pinjaman koperasi. Dari pinjaman koperasi mahasiswa sebesar Rp.1 juta dibelikan sepatu polos.

"...dan bahan- bahan lukis lainnya," tambahnya. Walaupun bisnis dijalankan tidak sesuai dengan pendidikan yang ia tekuni kala itu.

Mahasiswa Teknik Industri lulusan Universitas Trunojoyo Bangkalan, Jawa Timur, ini tetap berkarya dengan penuh kecintaan. Berkat hobi mampu mempekerjakan sembilan orang karyawan. Berkat bantuan mereka jadi usahanya berkembang pesat merambah berbagai bisnis.

Iamenembus pasar luar negeri. Itu berkat strategi marketing online dan offline dijalankan dia. Untuk bisnis sepatu lukis waktu itu masih menjadi bisnis utamanya. Alumnus SMK 2 Bangkalan tersebut mau belajar sebagai pengusaha secara otodidak. Ia ingin merubah pola pikir mahasiswa lulusan baru.

"Lulus nanti tidak selalu harus mencari kerja. Tetapi membuka pekerjaan bagi orang- orang di sekitarnya," ia berujar.

Produk bikinan Devria berkembang. Fokus usahanya lebih ke aneka souvenir serta mahar pernikahan. Kita sebut saja lukisan dari bahan uang logam atau kertas, kaca, toples fanel berbentuk kue tart, membuat toples kartun, serta bentuk lain yang cocok dijadikan hadiah.

Intinya dia cuma menyalurkan bakat melukisnya ke bisnis. Kamu pun dapat melakukannya tinggal mencari media tepat saja. "Dan ini harus diasah dan dilatih terus- menerus," katany selalu berbisnis.

Berawal dari pengalaman kesulitan membayar uang sekolah. Keterpaksaan ini membuat hobi menjadi bisnis serius. Istilah terkenalnya adalah the Power of Kepepet.
 

Kepepet Usaha

 
Dimulai sejak 2009 bisnis terus berkembang hingga ia melegalkan bisnis menjadi PT. Devri Art Production bersiap bersaing dengan kompetitor.

Dia hanya melakukan perubahan. Menaruh lukisan dalam media non- konvensional sampai dijual dan terjual menghasilkan jutaan. Tahun 2013 memang menjadi titik awal perkembangan bisnisnya. Dia melihat prospek kedepan bisnis mahar. 
 
Dan ia langsung mengeksekusi dengan gayanya sendiri. Pengusaha muda asal JL. Jokotole G.III No.2 Kel. Kraton, Bangkalan Madura. Mampu mengembangkan bisnis mahar sampai tiga cabang.

Cabangnya meliputi Sumenep, Sampangan, dan Pamekasan.  Tetapi tetap pusat bisnis mahar miliknya ya di Bangkalan. Produk andalan Devria adalah mahar berbentuk masjid. Untuk produk satu ini sudah dipesan bahkan oleh orang Kalimantan Barat hingga Sumatra.

Ia membuat harga mahar terjangkau. Modelnya variatif dan motifnya menyesuaikan. Bisnisnya juga menjamin tidak akan butuh waktu lama pengerjaan. Harga mulai Rp.250 ribu sampai Rp.1 jutaan. Penjualan utama ya melalui penjualan online.
 
Kreatifitas tersebut berakhir ditempat yang tepat. Devrian kini dikenal sebagai pemilik usaha Raja Mahar. Ia memang bukan pemain baru di bisnis souvenir. Pengusaha muda asli Bangkalan ini telah mampu mengantongi omzet mencapai Rp.17 juta per- bulan. 
 
"...dan akan meningkat saat musim kawin," imbuhnya.

Raja Mahar fokus berpromosi online dan offline. Pengembangan bisnis offline melibatkan agen, yang sudah tersebar di empat kabupaten Madura. Promosi online meliputi website juga Facebook. Bentuk pelayanan optimal terus ditingkatkan agar Raja Mahar semakin terkenal.

Kunci sukses menurutnya adalah kejujuran dalam bisnis. Bentuk kejujuran contohnya kesanggupan suatu hari, Raja Mahar mendapatkan pesanan uang mahar Rp30 juta dengan uang pacahan Rp.100 ribu. Dan Devrian mengaku sempat terkejut dan takut. 
 
Uang tersebut tergolong nominal besar selama dia mengerjakan mahar.

Kepercayaan memegang uang sebanyak itu bukan main. Bisa saja dia memanfaatkan bisnisnya buat mencari untung lebih. Bayangkan uang Rp30 juta tetapi jasa merangkainya cuma Rp.300 ribu. Meski begitu dia tetap senang karena Raja Mahar makin terkenal. 
 
Kedepan ia berharap penjualan mencakup penjuru Jawa Timur.

"Di Madura sendiri belum ada kompetitor, kami satu- satunya," akunya. Geliat dari bisnis mahar Devri mulai terdengar. 
 
Menjual aneka mahar seperti mahar pernikahan berbahan dasar uang kertas atau logam bermotif Masjidil Haram, Mekah, ataupun minatur Suramadu, bentuk ikan arwana, atau kamu bisa memesan minatur kamu dan pasangan kamu, yang contohnya tertata rapi di etalase.

Paling menarik perhatian adalah lukisan siluet Walikota Surabaya, Tri Risma, dan juga Presiden RI, Jokowi, yang terbuat dari bahan uang logam. Menurut Devri untuk produk satu ini tengah hit. Membuat aneka siluet tokoh nasional menjadi pekerjaan sehari dia dan pekerjanya.

"...hanya membutuhkan waktu sehari," Devri berujar.

Musim nikah menjadi berkah, dibulanan Juli, maka ia bersama perusahaanya CV. Devri Art Production akan dicari. Julukan Raja Mahar -sekaligus brandnya- sudah melekat disosok pengusaha muda ini.Setiap hari 10- 12 pesanan mahar dikerjakan. Jika hari biasanya (diluar musim nikah) maka cuma bisa mengerjakan 1-2 per- hari.

September 2015, Devri melepas masa lajangnya, dimana maharnya ia menyebutkan mahar empat dimensi berbahan uang kertas. Promosi pun dilakukan bersamaan berupa panflet untuk Kantor Urusan Agama (KUA), Kantor Kecamatan, dan Salon.

Mulai berbisnis dengan sepatu lukis yang laris dijual di hari valentine. Agar tetap menghasilkan, Devri lantas putar haluan berbisnis toples flanel berbahan kain bludru bermotif bunga. Toples- toples tersebut lantas dia jual pas bulan Ramadhan 2011 lalu, sampai Idul Fitri. 
 
Disusul bisnis siluet wajah pada 2015 yang merembet ke mahar. Melihat peluang di Madura ada. Maka dia mantap berbisnis mahar dan terbukti pesanan sudah setiap hari. Ia bahkan jarang tidur kalau musim pengantin. 
 
Berkat bisnis mahar, putra sulung empat bersaudara ini telah mempekerjakan empat orang, yang ternyata teman kuliahnya dulu.

"Kendalanya ya modal. Belum ada bantuan dari pemerintah," ia menyebut. Bantuan baru sebatas memberi tau kalau ada event atau pelatihan wirausaha. Disaat dia memanangkan lomba tingkat nasional dapat juara I tetapi ketika tingkat daerah cuma juara II.

CEO Cantik Michelle Surjaputra Berbisnis Makanan Korea

Profil Pengusaha Michelle Surjaputra


ceocantik.png
 
Perkenalkan CEO cantik Michelle Surjaputra pemilik Bonchon Indonesia. Michelle berbisnis makanan korea tetapi apa rahasianya. Penampilannya yang belum "matang" diusia muda, tetapi siapa sangka wanita yang satu ini bisa dibilang salah satu CEO terbaik di Indonesia. 
 
Pengusaha yang masih 25 tahun, tidak lagi disebut anak ABG tapi juga belum cukup matang untuk menduduki jabatan CEO di PT Michelindo Food International. Jangan menilai seseorang dari fisiknya. 
 
Dia, Michelle Surjaputra, membuktikan hal tersebut dari segi usia. Bagi anda yang berjalan- jalan ke mall, pasti akan melihatnya.

Restoran cepat saji bernama BonChon, dan Michelle lah wanita dibalik restoran cepat saji khas Korea yang mulai masuk 2012 ini.

Modal Nekat

 
"Walaupun pengalaman magang kerja saya cukup banyak, tapi inilah pekerjaan resmi saya yang pertama. 
 
Ya, kalau dibayangkan, dulu saya hanya seorang anak yang baru berusia 22 tahun dan mencoba untuk membuka usaha yang sepenuhnya didukung oleh ayah saya," ujarnya ditemui pewarta FIMELA.com usai memimpin regular meeting di kantornya.

Hampir seluruh keluarganya tinggal dan berkarya di Amerika, termasuk dirinya dulu. Mulai dari sekolah, lalu menempuh pendidikan sekolah tinggi dan akhirnya bekerja di sana, membuatnya total 16 tahun tinggal di negeri Paman Sam tersebut. 
 
Tapi ada yang membawanya kembali ke tanah air bersama suksesnya kini. Jika anda bertemu dengannya jangan kaget jika bahasa Indonesianya belepotan, lebih banyak didominasi bahasa Inggris.

Menurut perempuan yang gemar olah raga ini, ia telah mendapatkan pekerjaan sesuai keinginannya disana tapi tidak ia tidak menemukan tantangan di pekerjaanya saat itu di Amerika. 
 
Ingin mendapatkan tantangan lebih ia nekat berhenti dan kembali ke tanah air tapi tak lantas langsung membawa BonChan ke Indonesia. Lulusan dari New York University- Leonard N. Stern School of Business pada 2011 lalu, ia sempat bekerja menjadi PR marketing dan karyawan Bank Indonesia.

Di Indonesia ia menyadari keinginan terdalamnya adalah menjadi pengusaha seperti sang ayah, Michelle lalu melakukan beberapa riset mengenai perilaku konsumen di Indonesia. Hasilnya, orang Indonesia ternyata suka makan ayam, dan saat ini sesuatu yang berbau Korea sedang digemari.

"Orang Indonesia mereka suka ayam. Fried chicken dan nasi. Di Indonesia juga sedang tren serba Korea. Aku juga sadar bahwa mereka juga ingin semakin sehat, jadi itu pas banget," ucapnya.
 
Apalagi saat aku di NYU, aku bisa makan BonChon berapa kali dalam sebulan. Jadi, kenapa tidak membawa BonChon ke Indonesia?" ungkap Michelle bersemangat, mengenang awal- awal berbincang dengan wolipop di kawasan Kemang, Jakarta Selatan belum lama ini.

Perempuan yang berhasil menempati juara 1 turnamen triathlon internasional di Bintan ini mengaku bahwa kepulangannya ke Indonesia sebenarnya adalah proses "coba-coba" saja. "Karena satu hal, saya akhirnya kembali ke Indonesia. 
 
Lagipula saya berpikir, kenapa saya tidak mencoba kembali ke Jakarta. Siapa tahu saya bisa meneruskan bisnis ayah saya atau melakukan hal lain. Kalaupun saya tidak suka, nantinya saya bisa kembali lagi ke Amerika dan melanjutkan pendidikan saya," ujar Michelle.

Dia berkeliling mal dan tempat hiburan di Jakarta. Ketika itu ia juga sering main ke mall karena satu lain hal. Waktu di Indonesia, neneknya yang sakit membuatnya mau tak mau berkunjung ke mall dekat tempat neneknya dirawat. 
 
Sambil masuk ke mall mungkin juga sambil mengamati tingkah polah masyarakat Indonesa. Dari tempat itulah ide membawa BonChon muncul. Pengalamannya di Amerika menikmati BonChan di sana membuatnya langsung ngeh ketika melihat kebiasaan nongkrong orang Indonesia.

Ia berencana memboyong franchise BonChon, menjadi pemegang merek dagangnya di Indonesia.

"Saya mengajukan ide kepada ayah dan ayah mendukung untuk mewujudkan ide tersebut. Business plan saya kerjakan sendiri, conference call, dan beberapa perjuangan lainnya saya lakukan hingga akhirnya gerai pertama Bonchon hadir di Indonesia pada tahun 2012 awal,” kenang Michelle.

Meski merek satu ini cukup terkenal di negara asalnya Korea, ia tak bisa serta merta memboyong franchise ini. Saat itu wanita kelahiran 1988 ini harus bersaing ketat dengan lima calon kandidat kuat pemegang merek dagang. Dia tak gentar. 
 
Michelle tetap mengajukan diri dengan menulis referensi dirinya ke situs BonChon. "Lumayan susah yah. Saya ke email address yang ada di websitenya. I explained myself. Dan mereka bilang, why don’t we conference call? 
 
Jadinya hari rabu kita conference call, mereka bilang sudah ada lima kandidat yang bagus untuk bawa Bonchon ke Indonesia. 
 
"Tapi mereka bilang 'go ahead, write your business plan'. Jadinya dalam dua hari saya bikin 50 halaman dan mereka suka banget. Lalu saya ketemu dengan CEO dari Korea di Manila. Ternyata obrolan kita klik banget dan startnya dari situ," urai wanita yang hobi olahraga lari ini.

Dibalik kesuksesannya ia mengaku sang ayah adalah contoh baginya menjadi pengusaha. Beliau baginya ialah sosok pantang menyerah memulai bisnis dari nol. 
 
Sedangkan ibunya adalah sosok yang 110 persen selalu mendukung langkahnya dari lulus kuliah hingga memutuskan berbisnis sendiri. Kedua orang tua baginya adalah sumber inspirasi. Di 2013, ada 10 restoran baru yang rencananya akan diluncurkan, selain resto yang pertama di kawasan Grand Indonesia.  
 
Di tahun 2013 totalnya ada sebelas cabang BonChon sudah ada di mal-mal besar di Indonesia seperti Grand Indonesia, Living World Alam Sutera, Citywalk Sudirman, Gandaria City dan lainnya. 
 
Di tahun 2011- 2013, PT Michelindo Food International (MiFI) fokus untuk membangun branding, menciptakan demand dan membentuk business model. Nah, kini saatnya ekspansi lebih luas lagi ke seluruh Indonesia.

Namun, mimpi ekspansi ini tidak mungkin dilakukan sendiri, karena memerlukan modal yang besar, dan ditambah keterbatasan waktu dalam melakukan managemen kontrol ke seluruh cabang. 
 
Menurut pengusaha muda ini, untuk menjadi franchisee BonChon tidaklah sulit, asalkan memiliki lokasi usaha yang strategis. Bisa saja di mal atau standing outlet. Selain itu, syarat  luas outlet minimal 150 meterpersegi untuk lokasi di dalam  mall dan 100-400 meterpersegi untuk lokasi di ruko.

"Sejauh ini kami telah menerima sekitar 200 aplikasi waralaba dari beberapa daerah seperti dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Makassar dan Medan," imbuh kelahiran Jakarta, 15 November 1988 ini.

Kendati calon investor antusias, tahun 2014 ini, Michelle cuma akan mematok target jumlah franchisee 5-10 waralaba. Seleksi ketat dilakukan demi menjaga standar kualitas produk, layanan dan memberi keuntungan besar bagi investor. 
 
Berapa biaya untuk membeli franchise BonChon? MIFI mematok biaya franchise fee sebesar US$ 50.000 – 80.000 selama masa kontrak 5+5 (5 tahun+5 tahun perpanjangan). Lalu ada masa perpanjangan ini dengan negosiasi kontrak baru.

Bagi calon investor yang ingin berinvestasi di bisnis F&B, tapi tidak dapat terlibat langsung dalam jalannya operasional, MIFI menawarkan peluang  kerja sama dalam bentuk management fee. 
 
Untuk model bisnis ini investor hanya menyediakan tempat dan  membayar franchise  fee saja, sedangkan untuk segala hal tentang operasionalnya dikendalikan langsung oleh MiFI dengan  imbal hasil sebesar 5% dari penjualan. Target pasar BonChon adalah konsumen kelas A dan B.

Untuk itu, dituntut kualitas yang baik, sehingga BonChon komit pada kesegaran bahan makanan, termasuk dapur. "Di sini ayamnya tidak ada proses pembekuan, tak menggunakan bahan kimia dalam bumbu ayam," dia menjelaskan.

Untuk pasokan bahan baku ayam, BonChon mengandalkan mitra-mitra suplier di sekitar lokasi outlet. Saat ini sudah memiliki empat suplier ayam dari Bandung dan menjajaki kerja sama dengan suplier di kota lain. 
 
Michelle optimis bisnis Food&Beverage ini masih sangat menjanjikan untuk dicoba. Dengan daya beli yang meningkat, jalan franchise BonChon juga akan berkembang seiring permintaan akan masakan khas Korea ini. Impian lain adalah menjadikan BonChon Indonesia sebagai BonChan terbaik di dunia.

Dikeluarkan Kampus Jadi Pengusaha Muda Idaman

Profil Pengusaha Jodi Janitra

 
kuekering.png
 
Dia pernah dikeluarkan kampus. Tidak putus asa malah jadi pengusaha muda idaman. Terjun di dunia bisnis kue kering sejak usianya 21 tahun; dia gagal di pendidikan. Walau, kini, dia merupakan pemilik perusahaan sendiri bernama PT. Bonli Cipta Sejahtera. 
 
Dia memegang lima merek kue kering. Jodi Janitra, adalah pemilik lima merek roti kering enak; Ina Cookies, Kersen Cookies, JnC Cookies, La Difa Cookies, dan Valya. Khusus merek La Difa dan Valya membidik segmen premium.

Kedua brand itu juga sudah diekspor ke Malaysia, Hong Kong, dan Kanada. Dia penuh dedikasi atas apa yang dicintainya walau gagal kuliah.
 

Menjalankan Usaha


Bagi Jodi yang kini berusia 27 tahun bisnis kuliner bukanlah hal baru. Dia yang merintis usahanya sejak 6 tahun silam tepatnya di tahun 2008, kedua orang tuanya sudah mengenalkan bisnis ini. Jodi berkisah, dulu, kedua orang tuanya pernah menjual jahe gajah tapi bangkrut di 1993. 
 
Sejak saat itu, kedua orang tuanya memilih bisnis kuliner lain, dari jualan gado- gado, molen, dan roti keliling. Bisnis mereka jalan ditempat Ia teringat bagaimana dia harus ikut menghabiskan roti tiap harinya, roti- roti yang tak laku dijual. 
 
"Pas saya tamat SMA, saya bertekad untuk membuka usaha yang lebih serius lagi," ujar pria kelahiran 7 Januari 1987 ini.

Tapi keinginan itu sempat tertunda karena kedua orang tuanya "memaksa" Jodi berkuliah. Dia kemudian melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Pariwisata di Bandung. Pengusaha Jodi mengambil jurusan Patiseri. Belum genap setahun belajar, Jodi malah dikeluarkan dari kampusnya itu. 
 
"Karena saya tidak memiliki minat di bidang itu," ujarnya. Dia tidak langsung berbisnis roti setelah dikeluarkan kampus.

Apa yang dilakukannya? Ia terlalu sibuk bekerja membantu mengelola kafe milik keluarga bernama Bober Cafe. Baru pada tahun 2008, Jodi memilih mencoba peruntungan sendiri di bidang kue kering ini. Kala itu, ia sama sekali tidak bisa membuat kue kering. 
 
Untungnya orangtua, tante, dan sepupunya mau membantu Jodi untuk menciptakan resep baru. "Jadi, kami bagi tugas. Mereka yang membuat kue, saya yang urus dan keuangannya," jelasnya. Sambil berjalan ia pun ikut serta membantu mencari resep sambil tetap belajar mencapur roti. 
 
Hasilnya ia sukses membuka satu pabrik pembuatan kue di Bojong Kenong, Bandung, dengan 1.000 karyawan. Kapasitas produksinya dalam sehari bisa mencapai 6 ton kue atau setara dengan 12.000 stoples kue kering. 
 
Adapun kue yang habis terjual dalam sebulan 1,5 juta stoples. Omzetnya rata– rata Rp 120 juta. Namun, saat ada momentum seperti Natal, Imlek, dan Lebaran, omzetnya bisa mencapai Rp 200 juta.

Bisnis kue kering


Biasanya bisnis semacam Jodi akan laris atau hanya muncul ketika musim tertentu saja. Semisalnya hari- hari besar seperti lebaran, namun tidak untuk produknya. Roti keringnya bisa dinikmati kapan saja. 
 
Sejak awal memang dirinya sudah bertekat untuk menggarap pasar kue yang bukan musiman. Jodi sudah bertekad menjadikan bisnis kue keringnya sebagai bisnis sepanjang tahun. Sekalipun tidak ada momen hari-hari besar, seperti Lebaran atau Natal, kuenya harus tetap laris terjual

Berbekal tekad dan semangat itu pula, bisnis kue keringnya bisa eksis sepanjang masa dengan omzet ratusan juta per bulan. Sebagai pebisnis, Jodi memang memiliki semangat pantang menyerah dalam membesarkan bisnis kue kering. 
 
Dia menjalankan bisnis tersebut dari nol, meski minim pengalaman dan tidak punya satu pendidikan khusus di tata boga, ia tetap semangat bermodal cita- cita. Jika ditanya soal pendidikan Jodi menjawab dia sebenarnya tidak begitu berhasil dalam dunia akademis.

Jujur. Jodi telah dua kali gagal di sekolah karena memang tidak punya ketertarikan. "Saya juga sempat kuliah di Universitas Widyatama Bandung, lagi-lagi, saya dikeluarkan," katanya. Jadilah, Jodi hanya belajar dari pengalaman orangtuanya yang sudah puluhan tahun menekuni bisnis kuliner. 
 
"Itulah yang menjadi modal utama saya di bisnis ini," katanya. Berbekal tekad kuat ia tak berhenti belajar membuat kue secara otodidak. Sebagai pengusaha dia paham betul perlunya inovasi produk.

Jodi juga pintar membangun relasi. Makanya, saat awal merintis bisnis, banyak temannya yang mau menjadi investor untuk menambah modal usahanya. "Kami saling percaya saja dan serius menjalani usaha," kata dia. 
 
Dari modal tersebut digunakannya untuk mengakuisisi dua usaha sejenis. Dia membeli dua usaha rumahan kue di daerah Bojong Koneng, Bandung, tak jauh dari tempat tinggalnya.

Dua industri rumahan itu adalah Ina Cookies dan J&C Cookies. Setelah diakuisisi, dari dua industri rumahan itu dilebur dalam satu bendera usaha miliknya, yakni PT Bonli Cipta Sejahtera. Jodi kemudian merekrut mereka yang disekitar lingkungannya yang tak memiliki pekerjaan. 
 
Awal mula merintis bisnis, Jodi memutar otak agar kuenya bisa dikenal masyarakat dan bukan hanya dinikmati saat Lebaran saja. Untuk memperkuat branding, ia lalu aktif mengikuti pameran kue dan roti di daerah- daerah. Jodi juga gencar melakukan promosi lewat internet. 
 
"Pembelian bisa dilakukan lewat internet dan dikirim melalui ekspedisi," katanya. Dari segi rasa, ia menjamin kue kering buatannya dibuat tanpa bahan pengawet dan bisa tahan sampai tiga minggu. Segi citarasa juga dijamin enak. Saat ini, ia telah memiliki lima merek kue kering. 
 
Sebanyak dua brand khusus membidik segmen premium. Kendati demikian, bukan berarti kue- kue untuk masyarakat menengah bawah memiliki citarasa kurang enak. 
 
"Semua produk rasanya beda-beda," ujarnya. Namun, khusus merek Valya dan La Difa, kemasannya harus dibuat lebih menarik, harus cantik dan kelihatan ‘wah’. "Jadi kalau dijadikan kado juga lebih cantik," kata dia. Info tentang usahanya lebih lanjut silahkan buka situs www.bcs.co.id.

Kiat Menjadi Pengusaha Mahasiswa Berternak Kelinci

Profil Pengusaha Iswandi

 

usahakelinci.png
 

Beternak kelinci Iswandi merintis bermodal Rp.2,5 juta. Kiat menjadi pengusaha adalah berusaha dan yakin. Iswandi asli Lamongan mengambil jurusan peternakan. Dia masih tercatat menjadi mahasiswa Universitas Islam Lamongan. Tiga tahun berjalan dia mampu menjalankan usaha sembari kuliah.


Warga Disun Jurug, Desa Primpen, Kecamatan Bluluk, mampu membiayai kuliah. Bahkan dia memberi uang kepada orang tua dan adik- adiknya. Penghasilan rata- rata perbulan adalah 4 juta rupiah. Modal ia berbisnis beli 25 ekor kelinci, dan berbekal kadang buatan sendiri.


Ketertarikan akan kelinci bermula ketika masih kuliah itu. "Intinya kelinci itu punya prospek besar," ia lanjut. Modal 25 ekor terdiri indukan kelinci lokal dan peranakan. Kelinci peranakannya merupakan hasil kawin silang beberapa tahun lalu.


Dan mereka (kelinci peranakan) tersebut sudah berkembang biak. Pagi dan malam dia rutin melakukan penelitian akan kembang biak kelincinya. Dari kebutuhan makan dan minum disediakan. Hingga dia mengatur soal perkawinan. Begitu melahirkan Iswandi akan sibuk sampai lewat malam.


Ia mengikuti perkembangan si kelinci dari awal sampai akhir masa kuliah. Walau menyibukan Iswandi mengaku enjoy menikmati. Dia memang senang bertenak. Kemudian pembeli datang terutama asal Jawa Timur, terutama Kediri, Malang, dan Bali.


Pembeli rata- rata mengunjungi rumah Iswandi. Tidak pula sedikit mendatangi Pasar Agrobis Babat. Ia akan membawakan dan bertemu cash on delivery. Berkat ketekunan hasilkan 4 sampai 12 ekor anakan lahir. Terus apa kiat menjadi pengusaha mahasiswa pertanian tersebut.


Dia menyebutkan beternak kelinci cukup 3 jenis makanan: Amapas tahu, dedhak, dan juga konstentrat. Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), yang mana mengeluarkan Rp.300 ribu- Rp.400 ribu perbulan. "Yang bikin cepat gemuk itu ampas tahu," jelasnya kepada Tribunnews.com


Mengurusi kelinci cukup mudah cuma butuh ketelatenan. Ia membawa kelinci makan rumput tiap pagi dan sore hari. Kalau kesulitan tinggal diganti ampas tahu atau konstentrat. Dua kali sehari kandang kelinci dibersihkan agar tak kena penyakit.


Proses kembang biak tinggal kelinci betina dikumpulkan jantan. Dalam satu kandang khusus, mereka akan kawin. Begitu hamil langsung dipisahkan sampai melahirkan. Sebulan, sekarang, dia mampu menjual 100 ekor kelinci.


Jenis kelinci potong harga anakan Rp.20 ribu ekor hingga Rp.35 ribu. Harga kelinci daging potongnya Rp.35 ribu perkilogram sampai Rp.50 ribu. Buat indukan dia menjual Rp.80 ribu sampai Rp.90 ribu perekor. 

 

Kelinci nanti siap dijual di usia 1,5 tahun. Anakan kelinci nanti dipasok ke toko hewan atau kampus kesehatan. Menurutnya beternak kelinci lebih mudah, karena penyakit utamanya dikisaran kudis. Yang akan hilang cukup memakai obat injeksi.


Musim pancaroba juga menghasilkan masalah tersendiri. Yakni muncul kurang nafsu makan kelinci tapi bisa diberi vitamin. Walau ia sukses menjadi pengusaha tidak pelit ilmu. Dia menjadi mentor buat pemuda di desanya berternak kelinci.


Ada 20 orang warga binaan ikut beternak kelinci. Dibawah binannya selalu diamati serta dibimbing langsung. Iswandi berharap mahasiswa mau beternak kelinci. Berwirausaha terbukti mampu membantu perekonomian keluarga.


"Lebih ideal lagi ada pasar khusus kelinci di Lamongan," harap Iswandi.

Strategi Usaha Modal Nekat Pengusaha Sapu

Profil Pengusaha Vinasari Kusuma

 
pengusahasapu.png
 
Pengusaha sapu Vinasari Kusuma Ningrum tidak menyangka. Strategi usaha modal nekatnya mampu menaikan level. Dia dulu hanyalah seorang pedagang sapu asal Dusun Dendengan, Kelurahan Bojong, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. 
 
Namanya menjadi sorotan publik berkat prestasinya di bidang kewirausahaan. Wanita 40 tahun itu kini muncul diberbagai media surat kabar. Usahanya hanyalah usaha rumahan, namun sukses merambah pasar Eropa, mengagumkan. 
 
Prinsip itu kesuksesan dapat diraih siapapun asalkan memiliki kemauan dan kerja keras. Bagaimana cerita lengkapnya? Berikut:

Vina begitu sapaan akrabnya berasal dari keluarga sederhana. semula hanylah seorang karyawan di sebuah pabrik kertas di Blabak, Kabupaten Magelang, kini memilih bekerja mandiri dengan hasil yang lebih dari cukup berkat usahanya memproduksi kerajinan sapu dan alat-alat kebersihan rumah lainnya. 
 
Usaha yang dirintis tahun 2009 bersama sang suami, Zaenal Arifin (41), yang juga mantan karyawan pabrik kertas. Saat itu kondisi ekonomi kedua pasangan itu surut, mereka justru memutuskan untuk berhenti bekerja dan memilih menjadi pengusaha.

"Kami nekat saja, karena tidak punya modal sendiri, kami pun mantap meminjam uang modal di bank ketika hendak memulai usaha ini," ujar Vina, saat Kompas.com menyambanginya di Pekan Raya Magelang.

Sebelum memilih kerajinan sapu, Vina sempat mengerjakan aneka kerajinan dari bambu berupa suvenir dan hiasan. Hasilnya pun lumayan sampai dikirim ke Yogya dan Bali. Namun, disaat ada bom bali, usahanya ikut terimbas sampai tak mampu membayar angsuran bank. Miris. 
 
"Bisnis kami memang bagus pada awalnya. Tapi karena ada kejadian bom Bali membuat pihak rekanan menghentikan pesanan. Seketika kami bangkrut dan tak punya apa-apa, saat itu sulit sekali untuk bangun," tutur Vina, sang pengusaha sapu

Beruntung sang suami mendukungnya. Mereka pantang menyerah memulai bisnis lagi dari nol. Sapu dan alat kebersihan rumah tangga menjadi pilihan karena di sekitar tempat tinggalnya banyak yang bisnis produk serupa. 
 
Mereka ingin produk yang lebih berkualitas dan inovatif ujarnya lebih lanjut. Jadilah melalui media internet, mereka pun mencari penyedia bahan sapu dan kemoceng rafia yang berkualitas. Mereka mendapat suplai bahan baku dari baku di Purbalingga, Jawa Barat, yang berkualitas bagus.

“Di sekitar kami banyak pengrajin sapu, tapi untuk bahannya satu pun tak ada yang menyediakan. Kami fokus pada peluang itu hingga akhirnya ketemu alamat di mana saya bisa beli bahan yang nantinya akan saya jual grosiran di rumah," papar wanita asli Kabupaten Wonosobo itu.

Sedikit demi sedikit Vina beserta suaminya mulai memproduksi aneka alat kebersihan rumah, mulai dari sapu, kemoceng, sapu lidi, hingga keset. Seiring berjalannya waktu bisnisnya berkembang cukup bagus. 
 
Berikut strategi usaha modal nekat selain tekat kuat. Vina manfaatkan jaringan ketika masih berbisnis kerajinan bambu dahulu dan membuka jaringan baru yang lebih luas. Sistem online ternyata bekerja pada produk yang bisa dibilang cekeremen atau kampungan.

Selain itu ia sendiri mengikuti berbagai seminar oleh instansi- instansi terkait untuk meningkatkan daya saing produknya. Hasilnya? Produknya mulai disukai.

"Produk kami mulai banyak yang menyukai, karena kami memang mengutamakan kualitas. Sapu kami memang lebih berat, tapi kuat, megar, dan rapi. Harganya relatif murah, berkisar Rp 10.000–Rp 15.000 per buah," urai Vina.

Pembeli tidak saja datang dari Kota dan Kabupaten Magelang, tetapi juga dari Tegal, Bojonegoro, Medan, Pekanbaru dan bahkan pernah mengirim ke Perancis. 
 
Kebanyakan pelanggan mengetahui produknya dari website. Vina dibantu oleh sembilan karyawannya mampu memproduksi sapu hingga 5 ton setiap dua minggu dan bisa bisa mengirim hingga 8 kali ke pelanggannya ke luar kota Magelang. 
 
Dalam dua hari saja omzet mereka mendapatkan omzet penjualan mulai Rp 2 juta – Rp 4 Juta. Zaenal Arifin, suami Vina, menyebut dari bisnis tersebut sudah mampu menyokong kebutuhan keluarga. Zeanal menambahkan dirinya sekeluarga bisa membeli mobil, rumah, hingga membuka bisnis lainnya. 
 
Meski dibilang bisnis sepele tapi jika dikerjakan serius maka berkahnya luar biasa. Selain bisnis sapu dan peralatan rumah tangga, Vina dan suaminya mempunya bisnis fotokopi.  "Alhamdulillah, ini hasil jerih payah kami," ucap Zaenal.

Dirinya pun berharap pemerintah daerah untuk terus memberi dukungan kepada para pengusaha-pengusaha kecil di Magelang agar berkembang. Tidak sekadar mengadakan seminar maupun pelatihan, tetapi juga membantu pemasaran dan membeli produk-produknya.

Pasangan Suami Istri Bisnis Bareng Frozen Food

Profil Pengusaha Ernawati Agustina

 

bisnissuamiistri.png
 

Pasangan suami istri bisnis bareng kenapa tidak. Mereka berbisnis frozen food. Pasangan suami- istri pengusaha, Noer Amin Hidayatullah (31) dan Ernawati Agustina (28), yang asal Desa Dusun Turi, Desa Kepungharjo, Kecamatan Kepanjeng, Kabupaten Malang, yang bahu- membahu membangun usaha.


Mereka berbisnis bareng frozen food atau makanan beku. Awal suami- istri tersebut berharap mendapat uang tambahan. Disusul semangat mereka mencoba kewirausahaan. Minat bisnis kuat Erna bersama suami menjajal makanan beku.

 

Bisnis Suami Istri


Ia tidak ingin bergantung kepada gaji suaminya. Saat itu, ternyata Amin bekerja menjadi juru masak buat satu hotel ternama di Kota Batu. Ernawati mau merintis usaha. Suaminya ikut membantu dan mereka mulai membuat lumpia. Camilan sederhana yang tidak asing di lidah masyarakat.


Mereka berdua lantas menawarkan itu ke teman- temannya. Camilan berisi potongan sayuran mereka disajikan memakai saus tauco. Penjualan camilan melalui pre- order ke teman. 

 

"Kala itu kami berpikir caranya punya penghasilan tambahan. Gaji suami ngepas. Gak ada cadangan buat menabung," lanjut dia.


Wanita lulusan Sarjana Tata Busana Universitas Negeri Malang. Dia tidak berbisnis fashion malah jualan gorengan. "Karena saya suka lumpia," tuturnya. Maka keduanya membuat lumpia kemudian ditawarkan ke orang.


Bermodal awal Rp.170 ribu langsung menjadi saksi bisu. Modal tersebut digunakan buat memenuhi pesanan 20 potong. Pemilihan lumpia juga karena fakta bahwa mereka awet. Camilan tersebut tidak lekang digerus jaman.


Lumpia bikinan Erni disukai sampai diorder ulang. Ia menawarkan ke sosial media Facebook. Inilah menjadi cikal berkembangnya bisnis mereka. Keputusan tersebut dirasakan tepat. Dari sana datanglah orang menawarkan diri menjadi agen atau reseller.


Kemudian disusul banyak lagi menanyakan bisa reseller. Dari sanalah Erni penasaran mengenai konsep bisnis tersebut. Dia lantas mencari tau di Facebook. Tanya cara menawarkan produk lewat sosial media Facebook.


Usaha lumpia mereka berkembang seiring perjalanan. Amin bertugas menjadi juru masak. Erni yang mengurusi marketing produk. Peran keduanya dilakukan sampai sekarang. Varian lumpia berkembang mulai dari isi tuna, rebuang, ayam, udang hingga tuna.


Tahun 2018, pesanan meningkat, Amin kesulitan mengatur waktu antara pekerjaan dan bisnis. Dia keteteran menjadi juru masak hotel. Pulang malam dilanjutkan membuat pesanan dirasa melelahkan. Ia akhirnya memilih untuk resign dan fokus merintis usaha.


Dia resign. "Buka usaha kok lebih menjanjikan. Kemudian saya resign dari kerja jadi koki di hotel," ia menjelaskan kepada Tribunnews. Pria asli Sumenep, alumni jurusan Tata Boga, Universitas Negeri Malang, yang membuat dua alur distribusi.


Mereka menjadi produsen menjual lewat agen dan reseller. Aturan jelas, agen melakukan pembelian minimal 40 pack, dan reseller sekitar 15 pack produk varian. Lumpianya berukuran 8 cm. Satu pack berisi 12 lumpia.


Di area Malang Raya terdapat 10 agen. Jawa Tengah punya 10 agen. Di Jakarta terdapat 3 agen. Di Surabaya 3 agen dan Bali 3 agen. Mereka memberikan target penjual 1 juta perhari. "Sehari kami bisa menjual 100 pack, Alhamdulillah bisa tercapai," tuturnya.


Agar bisnis mereka terus berkembang maka dibuat varian. Erni mulai memvariasi aneka produk frozen food lain. Tujuannya buat mengikuti selera konsumen. Total lumpia Erni memiliki 40 varian rasa. Buat produk lain meliputi donat kentang, risoles, pisang molen, lemper goreng hingga pempek Palembang.


Harga jual antara Rp.14 ribu sampai Rp.40 ribu perpack. Erna merintis usaha dari nol. Berbekal kulkas biasa dijejali makanan beku. Bertahap mereka melengkapi tempat penyimpanan. Sedikit- demi sedikit mereka membli 2 lemari es ukuran besar dan 1 berukuran kecil.


Lemari es itu khusus yang digunakan penjual es krim dan makanan beku. Mereka menyimpan ratusan produk di dalamnya. Mereka lantas menawarkan melalui Instagram @jurlumfoods.ind, dan tengah menunggu HAKI (Hak Kekayaan Intelektual).


Mereka lantas mendapatkan dukungan Desperindag Kabupaten Malang. Erna tidak cuma berbisnis frozen food. Kini dia dikenal pula menjadi pengrajin daur ulang popok. Pasangan suami istri ini terus berbisnis bareng. Mereka memiliki 5 orang karyawan membantu produksi dan perdagangan.


Karyawan mereka merupakan warga desa sekitar mereka tinggal. Sistem penggajian borong senilai Rp. 288 ribu perminggu. Erna menggunakan sistem penyimpanan beku. Ini dirasa lebih efektif membuat produksi mereka tanah lebih lama.


Kenapa produk mereka unggul dikarenakan buat sendiri. Kulit lumpia mereka tidak alot. Cenderung krispi dirasa. Lumpia praktis tinggal goreng. Karena tidak memakai pengawet, produknya hanya bisa bertahan 10 jam diluar, dan bila sudah dijadikan beku bertahan 2- 3 bulan.

Biografi Billy Boen Motivator Young On Top

Biografi Pengusaha Billy Boen

 
billyboen.png
 
Sedikit biografi Billy Boen sang motivator Young On Top. Sukses usia muda, siapa sih yang tidak akan tertarik jaman sekarang. Terdapat nilai tersendiri jika di usia muda kita sudah berhasil mendaya gunakan diri kita secara optimal. 
 
Billy Boen menjawab setiap pertanyaan "apakah kita bisa sukses di usia muda?" Dia menjawab, berpikir besar, bekerja besar itulah seorang pemuda yang dikenal dengan konsep Young On Top -nya. Ia mengaku suka pesta, bergaul, dan bersenang- senang. Tapi ia masih memiliki kerja kerasnya.

Pendeknya, ia menjalani pola work hard, play hard.

Perjalanan karir Billy Boen


Lahir di Jakarta, 13 Agustus 1978, dia adalah merupakan putra dari ayahnya yang bernama Henry Boen. Ia yang kini telah menjadi seorang pengusaha sukses tentunya tidak terlepas dari peran ke kedua orang tuanya, terutama sang ayahanda. 
 
Dari sang ayah Billy menjadi sosok yang siap untuk menjadi seorang pengusaha sukses. Ayahnya mengajarkan nilai nilai positif tentang bagaimana menjadi pemimpin besar kelak, menghargai waktu, ber-attitude baik dan masih banyak lagi.

Hal tersebut nampaknya yang ia tetap bawa hingga saat ini. Tahun 1999, ia melanjutkan pendidikan di Utah State University (USU), Amerika Serikat untuk mengambil S-1 jurusan manajemen. Lalu dilanjutkan ke S-2 setelah cukup dua tahun saja ia menyelesaikan program sarjananya. 
 
Dia melanjutkan S-2 di State University of West Georgia. Ia sukses mendapatkan title Mba dari almamaternya tersebut hanya dalam waktu 1 tahun saja, dan yang lebih membanggakan ia juga lulus dengan predikat cumlaude.

Itulah modal berharga yang ia bawa pulang ke tanah air untuk mulai menapaki jenjang karir, di usianya yang masih muda 22 tahun. Sepulang dari menempuh pendidikan Billy langsung tancap gas. Ia mulai mencari pekerjaan sesuai passion -nya. 
 
Pada sekitar tahun 2000 -an, dia mulai menapaki masa karirnya di dunia kerja. Dengan pencapaian prestasi akademis yang membanggakan, tentunya ia tidak perlu kesulitan mencari spot pekerjaan pada waktu itu.

Hingga pilihan jatuh pada salah satu perusahaan besar yang bergerak dalam bidang peralatan sport PT Berca Sportindo. Dia masuk di perusahaan besar pembuat merek "Nike". Kerjanya pun strategis sebagai asisten manajer membawahi divisi footwear. 
 
Dengan hasil kerja yang memuaskan, dia diangkat menjadi manajer sendiri di divisi lain perusahaan. Hanya dalam waktu satu tahun, ia mendapatkan promosi menjadi manajer all divisions manager, membawahi setiap divisi yang ada meliputi bagian footwear, apparel, aksesoris, dan perlengkapan.

Puncak karir Billy di perusahaan tersebut Berca Sportindo dicapai saat ia akhirnya ditunjuk sebagai Manajer Penjualan & Pemasaran Nike. 
 
Tanggung jawabnya pada waktu itu tidak sembarangan, ia memegang masuknya merk Umbro ke Indonesia dan juga merek footware (sepatu) League yang saat itu masih mulai dikembangkan. Tahun 2005, ia memutuskan untuk masuk ke perusahaan lain yaitu Oakley Indonesia. 
 
Masuk ke pekerjaan baru membawanya ke tantangan baru, yang tidak selalu mudah. Namun integritas dan dedikasinya yang tinggi, berhasil membawanya menjadi General Manager di perusahaan Oakley Indonesia dalam waktu satu tahun sejak pertama kali bergabung. 
 
Sekaligus juga telah mengokohkan dirinya sebagai GM perusahaan Oakley termuda yang ada di dunia. Merupakan Pencapaian yang luar biasa tentunya. 
 
Sukses lain, tahun 2006, biografi Billy Boen bersama rekan Rudy Buntaram, ia mendirikan Jakarta International Management (JIM) yaitu sebuah perusahaan multi usaha yang bergerak di bidang seperti fashion hingga consultan. 
 
Tidak berhenti berekspansi, pada tahun 2008 jejak karirnya tertaut pada salah satu perusahaan, Grup MRA (Mugi Rekso Abadi). Dia menjabat sebagai kepala divisi F&B yang membawahi beberapa café kenamaan seperti Rock Cafe Jakarta, Hard Rock Cafe Bali dan Haagen-Dazs.

Saat ini tercatat aktif sebagai CEO dari PT. YOT Nusantara. Dia lah motivator Young On Top. Billy mengajak anak muda lebih bersemangat.

SejarahYoung On Top


Pada awalnya, YOT  adalah sebuah mereka yang dulunya merupakan judul buku yang ia tulis "Young On Top". Buku tersebut merupakan buah pikirnya yang berisi langkah meraih kesuksesan dalam usia muda. Tentu semuanya berdasarkan pengalamannya sendiri. 
 
Buku yang telah menginspirasi banyak anak muda di Indonesia tersebut nampak nya  merupakan salah satu pencapaian tertinggi dari seorang Billy Boen. Karena potensinya membantu menyemangati pemuda Indonesia makan dijadikanlah proyek lain.

Billy memutuskan untuk mengembangkan merek Young On Top di dalam satu perusahaan, yaitu PT. YOT Nusantara.

"Ketika saya mampu memberikan kontribusi positif terhadap diri sendiri dan orang-orang di sekeliling saya. Dengan buku Young On Top yang saya tulis, saya tidak hanya memberikan pengaruh positif terhadap orang-orang yang saya kenal, tapi kepada orang-orang yang membeli buku saya meski saya tidak mengenal mereka. Sungguh perasaan senang yang belum pernah saya rasakan sebelumnya." -Billy Boen

Yoris Sebastian, Chief Creative Officer OMG Creative Consulting, amat terkesan pada sosok pria 30 tahun ini. Lelaki yang pernah menjadi GM termuda di Hard Rock Cafe se-Asia Pasifik ini, menilai Billy sebagai sosok unik, berbeda dari kebanyakan anak muda yang baru tamat kuliah dari luar negeri. 
 
"Billy selalu memilih pekerjaan yang dia suka dan punya peluang bagus, meskipun gajinya bukan yang top," ujar Yoris.

Sebagai anak gaul masih bisa menulis kata- kata "I'm so far from that, I'm a party person" dalam bukunya. Ini merujuk bahwa meski sukses usia muda bukan berarti anda kehilangan masa muda. "Saya waktu itu jadi GM Oakley yang termuda di seluruh dunia," ujarnya bangga. 
 
Hanya dalam tiga tahun, Billy yang saat itu masih berumur 26 tahun, telah berhasil menaikkan penjualan Oakley hingga tiga kali lipat. Karyawan pun bertambah dari 80 menjadi 240 orang. "Itulah yang saat itu menjadikan penjualan Oakley Indonesia bisa lebih bagus daripada Ray Ban."

Pada 2008, saat berusia 29 tahun, ia digaet Grup MRA, dengan jabatan Kadiv. F&B. "Waktu itu saya membawahkan tiga entitas bisnis – Hard Rock Cafe Jakarta, Hard Rock Cafe Bali, dan Haagen-Dazs – dengan total 500 karyawan," kata Billy bangga. 
 
Namun, ia hanya bertahan kurang dari dua tahun. Rupanya setelah itu ada tawaran lain yang lebih menggoda, yaitu menjadi Direktur Rolling Stone Indonesia. "Saya sempat merasakan comfort zone di MRA Group," katanya mengakui.

Tentang JIM, perusahaan yang didirikan Desember 2009, perusahaan yang mendukung industri fasion. JIM memiliki beberapa divisi, yakni: agensi model (JIM Models), manajemen artis, event organizer, fotografi, fashion consulting dan JIM FTV performing academy (bekerja sama dengan FashionTV Indonesia). 
 
Billy mengklaim JIM Models kini sudah menjadi agensi model terkemuka di Indonesia. Adapun manajemen artis, JIM Artist Management telah menangani sejumlah artis top seperti Aline Adita dan Fedy Nuril.
 
Dia menyebut gaya kepemimpinannya seperti seorang pelatih (coach). Sebelum bertanding dia lah pemberi arahan kepada para pemain. Tapi jika di lapangan, ia berdiri di samping mengamati jalannya tugas sambil  menentukan berbagai strategi, siapa yang akan menjalankan dan berimprovisasi adalah bawahannya atau pemainnya. 
 
"Dia memang tipikal pekerja yang practical," ujar Yoris menilai Billy. Itulah sebabnya, ia melihat Billy memiliki lebih banyak waktu untuk hang out.

Toh, menurut Yoris, Billy sosok yang punya tujuan jelas. "Dia memiliki management by objective yang jelas, dan dia bisa capai." Pada April 2009, Billy menulis buku berjudul Young on Top yang diterbitkan oleh GagasMedia. Hingga kini buku itu sudah lima kali cetak ulang loh. 
 
"Ternyata sampai saat ini di semua cabang Gramedia, buku saya masih di jajaran buku laris," ujarnya bangga. Ke- depan, suami Chatpalee Kiangsiri Boen dan ayah James Chatphimuk Boen ini ingin lebih banyak lagi berbagi lagi.

"Saya ingin menulis lebih banyak buku lagi," ujar Billy yang punya program siaran rutin dengan mengundang wirausaha sukses untuk berbagi kisah sukses siaran udara. Ketika ditanya apa rahasia keberhasilannya, ia hanya menjawab dengan satu kata yaitu: network (jaringan). 
 
Ia meyakini orang tuanyalah yang paling berpengaruh dalam hidupnya sebagai landasan. Sejak kecil, diceritakan Billy, Henry Boen (ayah) dan Liana Boen (ibu) mengarahkan anaknya dengan cara yang baik, tanpa paksaan sama sekali. 
 
Bahkan hal ini terjadi ketika ayahnya ingin menyekolahkannya ke AS, tetapi ia lebih memilih sekolah di Indonesia.

Ia ingat saat itu ayahnya memintanya mengunjungi kakaknya, Berry Boen, yang sedang belajar di AS. Ia diajak kakaknya berkeliling kampus dan berbagai tempat menarik lainnya. Kembali dari liburan, ia mengaku tertarik ingin kuliah di AS.

"Hingga sekarang, saya masih terkesan dengan cara mendidik orang tua saya," kata Billy, yang aktif mengajak anak muda menjadi pengusaha.

Cerita Pengorbanan Ibu Rela Miskin Demi Usaha

Profil Pengusaha Natalia Soetrisna

 
pengorbananibu.png
 
Perempuan mandiri yang rela miskin demi usaha menyembuhkan putrinya. Cerita pengorbanan ibu, seorang pebisnis, dan suatu pristiwa merubahnya. Perempuan mandiri dan percaya diri. Dia dikenal sebagai business women, yang lekan urusan duniawi.

Sejak lulus SMA Loyola, Semarang, Natalia Soetrisna Tjahya langsung mengambil kuliah di fakultas teknik sipil Universitas Parahyangan, Bandung.

Lulus kuliah, dia langsung menjadi konsultan di berbagai perusahaan, setelah sempat bekerja di sebuah bank di Semarang. Hingga akhirnya, Natalia mendirikan perusahaan travel bernama Excalibur di tahun 1999, yang mengantarkannya pada misi perdagangan Indonesia di manca negara.
 

Cobaan Hidup

 
"Apa yang barangkalai orang lain tak bisa kerjakan, saya mampu menuntaskan dengan baik," katanya mengenang. 
 
Kepercayaan diri itu kian membumbung tinggi lantaran orang-orang disekitarnya mempercayainya, lalu semuanya berbalik. Inilah cerita pengorbanan ibu rela miskin demi sang anak.


Maria Monique adalah putri semata wayang miliknya. Lebih berharga dari karir yang cemerlang serta bisnis yang mentereng. "Bagi saya, itu merupakan beautiful jurney," katanya. Putri semata wayangnya itu kini telah tiada, ia meninggal dunia pada 27 Maret 2006. 
 
Ada bakteri mematikan yang bersarang di katup jantungnya. Bakteri itu menyebar menggerogoti otak dan paru-parunya. Monique mengalami fase hidup-mati sampai tiga kali. Secara klinis, dokter telah menyatakannya meninggal tapi berulangkali dia kembali sadar.

Di tahun 2005 Monique terserang panas tinggi. Jumlah trombositnya turun drastis hingga tinggal 40 ribu. Lalu dokter mencurigainya menderita leukimia atau kanker darah.  
 
Gadis kecil itu harus mendapat perawatan berupa suntikan imunoglobin sebanyak tiga kali sehari. Sekali suntik, Rp 5 juta. Hasil pemeriksaan dokter di rumah sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, sebelumnya justru tak mengindikasikan Monique terserang leukemia.

Penyakit apa ini? Kondisi Monique kecil semakin parah, alternatifnya, Natalia harus membawanya ke Singapura untuk sedot tulang sum- sum belakang. Belum sempat mengambil sikap, detak jantung Monique keburu berhenti. 
 
Dokter menyatakan secara klinis Monique meninggal saat itu sebelum diterbangkan ke Singapura. Itulah pertama kali Monique dinyatakan meninggal. Namun beberapa menit kemudian jantungnya kembali berdetak. 
 
Hasil pemeriksaan dokter internis, diketahui ada bakteri bersarang di katup jantungnya. Pada hari 19 Februari 2006, Natalia memboyong Monique ke Singapura. Natalia sampai menyewa pesawat carter, mengingat tubuh Monique penuh dengan alat bantu. 
 
Tiba di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, Monique langsung ditangani. Dokter mendiagnosis, bakteri di jantungnya itu sudah menyebar ke paru-paru. Dengan berbagai peralatan Monique dirawat secara intensif. Namun Monique kembali kolaps. Detak jantungnya kembali terhenti.

Kematian kedua pun terjadi, dan ajaibnya, lima menit berselang jantungnya kembali berdetak kembali. Kejadian tersebut berulang bahkan detak jantungnya sempat terhenti selama satu jam. Tm dokter RS Mount Elizabeth angkat tangan. 
 
Apalagi ketika itu sudah terjadi kerusakan otak. Setelah serangkaian operasi yang dilakukan, Monique menghembuskan napas terakhir. Natalia sudah habis- habisan. Hartanya ludes untuk segala daya upaya. Rumahnya dijual, perusahaannya pun di lego. 
 
Meskipun demikian, dia tak bisa mempertahankan putrinya. "Saya benar-benar dilumpuhkan. Akhirnya hanya kepada Tuhan saya berpasrah diri." Katanya. Biaya pengobatannya mencapai lebih dari 3 Miliar. Padahal uang Natalia yang tersisa hanya 8 juta.

Keajaiban kembali hadir, kasus Monique menuai simpati masyarakat Singapura setelah harian The Straits Time mengulas keajaiban kasus Monique dan kegigihan Natalia. Simpati terus berdatangan bahkan para narapidana turut mendoakan Monique. 
 
Sang dokter bahkan rela tak dibayar bahkan Natalia yang mendapat uang 2,5 Miliar dari para donatur, sehingga soal biaya teratasi. Hingga terbayang olehnya "Monique Monique" yang lain. Ia ingin memberikan sesuatu agar anak-anak itu bahagia.

Apalagi itu adalah permintaan terakhir Monique agar anak- anak sebayanya yang kurang beruntung. Ia kemudian mendirikan Maria Monique- Last Wish Foundation, dia mendedikasikan diri sepenuhnya untuk aktivitas sosial itu.

"Tujuan hidup saya adalah membuat anak-anak berpenyakit kritis tersenyum bahagia," katanya. Pengalaman selama 40 hari menunggui Maria Monique di Mount Elizabeth Hospital Singapura, yang membuat pandangan hidupnya berubah.

Mereka berasal dari mana saja, dari Banjarnegara, Kebumen, purwokerto, Pekalongan, Brebes, Tegal, dan Yogyakarta serta daerah lain di luar pulau Jawa. Wujud pemberian wish bermacam-macam tergantung permintaan si anak sendiri. Seperti  aneka mainan, sepeda, kursi roda dan kaki palsu. 
 
Ada pula yang ingin dipertemukan dengan tokoh idolanya. Untuk anak-anak korban bencana alam, Natalia langsung memberikan sesuatu yang menurutnya menjadi kebutuhan mereka. Intinya apa saja untuk mewujudkan keinginan sang anak yang mungkin bisa jadi yang terakhir. 
 
Selain itu ia juga aktif membuat program- program spesifik untuk membantu anak- anak. Melalui program kursi roda bernama Cahaya Hidupku, Natalia telah menyalurkan 1000 kursi roda dan kini meningkat menjadi 10 ribu program kursi roda.
 

Pengusaha Sosial

 
Kegiatan yayasan pun tak melulu di dalam negeri. Kiprahnya terus merambah ke berbagai negara seperti Cina, dia memberikan bantuan aneka mainan dan alat musik. Di Vietnam, ada 800 anak-anak cacat korban Agent Orange Victim mendapat bantuan serupa. Begitupun untuk 300 anak di Mumbai, India. Pada tahun 2008, Natalia bertandang ke Afrika Selatan.

Dia pernah menyulap perpustakaan di Nkosi Johnson hostage, Afrika Selatan, menjadi hunian bagi orang tua dan anak-anak yang terinfeksi HIV AIDS, menjadi Maria Monique Happy Room. Di "Ruang Kebahagiaan" itu tersedia aneka macam kebutuhan anak- anak. 
 
Ada mainan playstation, custom player, musik, komputer, buku-buku, sepeda, seruling dan gitar. "Ada ribuan item, yang terbanyak custom player, dan itu disukai anak-anak," katanya.

Aktivitasnya mendapatkan perhatian dunia melalui siaran CNN dengan program Impact World. Mereka rela menayangkan  kegiatan yayasan selama seminggu berturut-turut pada pembukaan tahun baru 2010. 
 
"Yang bisa mengalahkan rating acara itu Cuma bencana di Haiti," katany. Toh, Natalia tak merasakan itu sebagai sebuah kesuksesan. "Ini adalah amanat Tuhan, bukan sebuah prestasi," kilahnya.

Semuanya adalah keajaiban, ia tak membangun yayasan ini sendirian. Jika ada permintaan akan ada saja yang membantunya. 
 
Seperti saat ada permintaan di Nias 12 kursi roda, pas ia buka e-mail ada donatur yang juga mau menyumbangkan, dan saat ditanya berapa kursi roda yang mau disumbangkan ternyata sang donatur menjawab 12, "Kok pas banget ya," kata Natalia.

Saat bencana gempa Haiti, Natalia bertandang ke negara tersebut dan memberi kebahagiaan kepada anak-anak korban bencana alam. Dia membuat kegiatan bertajuk "Maria Monique Compassion to Haiti", itu mendapat dukungan pribadi-pribadi dan lembaga- lembaga di Indonesia serta luar negeri. 
 
Penyanyi Titiek Puspa secara khusus menciptakan lagu berjudul "I’m Your Maria Monique", yang nanti akan dinyanyikan saat di Haiti. Aktor Mike Lewis dan Tamara Blezinski mendukung dengan menyerahkan dana hasil penjualan foto pernikahan dan wawancara eksklusif pernikahan mereka senilai sekitar 100 juta pada yayasan. 
 
Tak ketinggalan dukungan dari CNN Impact Your World, Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta dan Tim Oprah Winfrey, World Vision Germany dan Central International School dan Singapore Press Holding, dan lain- lain.

Perusahan Rambu Keselamatan Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Doni Tirtana

 
 
rambukeselamatan.png
 
Yuk mengenal pengusaha muda bernama Doni Tirtana. Dia ini pemilik perusahaan rambu keselamatan. Perusahaan yang bertanggung jawab atas keselamatan. Perusahaannya yang pembuat safety banner atau membuminya kampanye keselamatan dan kesehatan kerja (k3).
 
Biasanya sih kamu akan menemukan di sekitar area industri atau pabrik- pabrik besar berada. Kenapa Doni Tirtana? Dia, melalui perusahaan CV. Lorco Menara Multimedia, Doni dan timnya merancang berbagai karya kreatif untuk menyampaikan pesan keselamatan. 
 
Pesan tersebut ditujukan bagi karyawan perusahaan yang menjadi kliennya. Pesan- pesannya tampil unik, mengena tapi masih ada unsur jenaka yang didukung oleh konsep animasi. Hasilnya kata- kata itu akan terbenam dalam alam bawah sadar masyarakat.
 

Bisnis Unik

 
Ketika melihat gambar helm di kawasan industri misal, secara spontan saja karyawan itupun pasti akan memeriksa apakah kepalanya sudah memakai helm, atau belum sambil dipakaikan helm. Perusahaan berjualan berbentuk banner, masih ada bentukan lain seperti safety poster, bahkan ada video animasi.

Lorco Menara Multimedia menjadi satu- satunya yang serius menggarap pasar ini. Lorco ini didirikan oleh Doni Tirtana sejak 2006 di Bandung, modalnya Rp 15 juta. Awalnya, fokus usahanya adalah jasa dan produksi media cetak (desain grafis), audio dan produksi video khusus. 
 
Ini standar perusahaan multimedia banget. Setelah menyelesaikan kuliah Teknik Fisika Institut Teknik Bandung, Doni mulai berwirausaha dengan membuat CD interaktif dan videografi.

"Di Indonesia pelaku bisnis seperti ini belum ada. Sementara kebutuhan kampanye keselamatan kerja telah menjadi kebutuhan utama. Jadi menurut saya bisnis ini punya peluang besar," jelas Doni.

Titik balik pria kelahiran Malang, 29 Juli 1980, ini ketika di 2007 salah satu seniornya di Unilever meminta mengerjakan video safety induction. 
 
"Sebenarnya, mulanya saya tidak mengerti apa itu safety induction. Bahkan, setelah dijelaskan pun, masih belum ngeh. Tapi tawaran itu saya terima saja," ujar Doni sambil tertawa.

Kala itu, ia menilai proyek untuk pembuatan video safety induction ini cukup besar, yakni Rp 130 juta. Tak mau gagal untuk proyek perdananya tersebut, Doni pun mengajak senior lainnya yang bekerja sebagai process safety engineer untuk turut menggarapnya bersama. 
 
Hasilnya, pihak Unilever cukup puas atas video buatannya. Dia pun bersemangat atas keberhasilannya. Para seniornya pun ikut mendukung, menyarankan agar fokus pada safety campaign design, yang kala itu belum ada di Indonesia. Di luar negeri sendiri sudah banyak pemain safety campaign design. 
 
Tapi di Indonesia belum ada. "Saya pikir ini peluang," terang Doni.
 
Strategi jitu dipilih Doni untuk memasarkan layanan safety campaign design ini, yaitu ikut bergabung di mailing list khusus untuk bidang health, safety and environment (HSE) dan kesehatan, keselamatan, keamanan kerja & lingkungan hidup (K3LH). 
 
Sebab, melalui milis- milis tersebut, ia bisa melihat dan tahu kebutuhan apa saja yang diinginkan suatu perusahaan untuk mengampanyekan K3. Selain maling list, melalui situs Lorco, perusahaan kecilnya mencoba menembus pasar melalui dunia internet. Ternyata ini cukup manjur. 
 
Ditambah tenaga ahli yang ikut membantu mendongkrak SEO dari situsnya. Ini dimaksudkan agar situsnya selalu menjadi yang pertama di mesin pencari Google. Lainnya ia juga beriklan melalui program Google Adword, melalu Google banyak pesanan mengalir. 
 
Di 2009, Doni membangun satu perusahaan baru PT. Safety Sign, fokusnya pada pembuatan rambu- rambu keselamatan. Sekarang namanya Group Lorco terdiri dari berbagai perusahaan. Fokusnya tidak hanya safety banner atau video tapi berbagai rambu- rambu keselamatan dalam berbagai media. 
 
Produk animasi K3 Lorco pun mulai banyak digunakan pihak korporasi besar. Pada tahun 2010, Lorco membuat enam klip untuk Pertamina. Selain Unilever dan Pertamina, perusahaan lain yang menjadi pelanggan loyal Lorco adalah Conoco Philips Indonesia.

Diungkapkan Doni, salah satu proyek besar yang diterimanya adalah membuat safety sign untuk rig offshore PT. Gunanusa Utama Fabricator di Thailand, yakni sebesar US$ 50.000. Pria yang hobi traveling dan snorkling ini mengaku usahanya tak semulus yang terlihat. 
 
Dia pernah ditipu salah satu kliennya. Awalnya, ia dijanjikan untuk bekerja sama sebagai produsen dalam membuat safety sign yang akan diedarkan ke seluruh Indonesia. Ternyata, yang dibeli adalah desainnya saja, dengan janji tidak akan diperjualbelikan.

Namun, setelah 3-4 bulan berlalu, temannya menelepon memberitahukan bahwa desainnya diperjualbelikan dan diedarkan di seluruh Indonesia. Tak hanya itu, keterlambatan pembayaran pun sering dialaminya. 
 
Misalnya, ada salah satu anak usaha Grup Bakrie yang baru membayar invoice setelah setahun.

"Sekarang untuk pembelian produk didasarkan pada kontrak atau PO. Untuk yang sudah jelas gambarnya, tinggal menunggu PO saja. Tetapi kalau belum, kami akan melakukan survei terlebih dulu, lalu diterbitkan invoice-nya," papar Doni kepada SWA.

Usaha Modal 150 Ribu Sahabat Jadi Pengusaha

Profil Pengusaha Norma Pawestri dan Nurinda Fauzia

 

sahabatpengusaha.png
 

Paling enak memang punya sahabat jadi pengusaha. Bersama mereka usaha modal 150 ribu. Hasilnya itu sangat mengejutkan karena untung jutaan rupiah. Norma Pawestri dan Nurinda Fauzia bersama- sama membangun usaha fashion unik.


Norma yang akrab dipanggil Fha dan Nurinda yang akrab dipanggil Chichi, yang berjualan tote bag, sling bag, boneka, dan bantal. Terunik mereka membuat gantungan kunci berbahan kain. Bentuknya unik dari gambar bungkus mie instan, susu UHT, dan bahkan teh botol Sosro.


Keduanya tidak memiliki latar belakang pengusaha. Tidak pernah berjualan sebelumnya tetap nekat. Fha sendiri lulusan Akuntansi STIE YKPN, Yogyakarta, sementara Chichi sendiri lulusan Arsitektur di UGM. Tentu mereka memiliki jenjang pendidikan layak tanpa capek usaha.


Jadi Pengusaha

 

Keputusan menjadi pengusaha memang sulit. Usaha yang bernama Halokamu dimulai 2016 silam di Yogyakarta. Berawal Chichi yang senang menggambar, sedangkan Fla juga sudah mulai berjualan. Fla meyakinkan Chichi buat berdagang.


"Dengan ketrampilan dan pengalaman kami punya, akhirnya kami memutuskan membuka usaha," ujar merekapa kepada Detik.com

 

Brand bernama Halokamu terasa Indonesia banget. Mudah diingat orang lain. Halokamu akan berasa mereka menyapa kita. Modal Rp.150 ribu dipakai buat produksi kemudian dipajang. Mereka foto- foto produknya kemudian diunggah ke Instagram dan Facebook.


"Modalnya memang sangat minim, saat menjalankan bisnis memang kami memang menyiapkan ide, niat dan sedikit modal," ucap dua sahabat jadi pengusaha ini. Lantas memanfaatkan sosial media yang dianggap efektif menarik banyak orang.


Fha awal membuat aneka produk bertemakan makanan. Tentu semua didasari kesukaan keduanya akan camilan Indonesia. Mereka ingin produk unik, menarik, dan cocok digunakan semua kalangan. Bisa menjadi oleh- oleh khas dari anak- anak sampai dewasa.


Ketika camilan dituangkan dalam produk maka semua senang. Yang dibuat merupakan produk- produk kegemaran masyarakat. Makanan lebih membangkitkan kenangan masyarakat melihat. Produk paling laku dijual totebag dan bantal makanan ringan Indonesia.


Mereka menghasilkan omzet Rp.5 juta perbulan. Bila musim liburan mampu meraup lebih banyak. Itu dijual melalui sosial media terutama Instagram. Mereka tidak lupa ikut pameran, berjualan offline juga dilakukan lewat toko oleh- oleh dan kolaborasi influencer.


Halokamu juga membuka reseller untuk memasarkan produk. Untuk produksi mereka mempekerjakan dua karyawan partime. Fha dan Chichi mengajak terutama mahasiswa bekerja. Tujuannya ikut serta membangun mental wirausahawan.


Mereka mengajak mahasiswa ikut mengisi waktu senggang. Mereka bekerja sembari berkuliah. Tugas mereka antara lain menjahit dan bertanggung jawab produk. Pembuatan produk biasanya butuh waktu 4- 7 hari. Itu tergantung jenis produk serta kerumitan desain pesanan.


Halokamu memproduksi totebag, sling bag, pouch, stiker, pouch sedotan, gantungan kunci, tas belanja, buku catatan, scarf, sampai casing hp. Halangan bisnis terbesar Halokamu adalah tenaga kerja. Mereka sulit mendapatkan pegawai memenuhi kualifikasi.


Fha dan Chichi kesulitan menemukan orang pintar gambar sealiran. Mereka meyakini desain gambar dituangkan tidak boleh berubah. Mereka ingin hasil gambar sampai palet warna sama. Cara gambar harus sama karena beda tangan, maka akan beda pula hasil gambarnya.


"Beda tangan itu akan beda hasil gambarnya. Kami tidak mau itu," ujarnya. Harga jual Rp.100 ribu- 130 ribu dibeli di Instagram @halokamu.

Kisah Startup Groupon Entrepreneur Andrew Mason

Biografi Pengusaha Andrew Mason

 
pendirigroupon.png
 
Berikut kisah startup Groupon hingga menjadi fenomenal seketika. Kisah entrepreneur Andrew Mason, yang mendapatkan julukan "CEO terburuk tahun ini", pada 18 Desember 2012 oleh Herb Greenberg. Yang mana disebabkan gaya kepemimpinan "Goofball" nya.

Dia dianggap seperti anak kecil dibanding pemimpin perusahaan. Mason mampu menghasilkan untung tetapi bukan memenuhi target. Tetapi Mason merupakan pengkonsep lahirnya Groupon. Konsep bisnisnya sebuah bisnis menjual cepat ke bisnis lokal.

Kehidupan Sang Pengusaha Muda

 
Bernama lengkap Andrew D. Mason kelahiran 1981. Pendiri dan perancang konsep website diskon buat pebisnis lokal bahkan beasiswa. Dia juga pendiri Descript alat editing audio buat podcast. Mason terlahir sebagai keluarga Yahudi di Mouint Lebanon, Pennsylvania, pinggiran Pittsburgh.

Dia kelulusan Mt. Lebanono High School di 1999. Pernah mendirikan servis antar pagi hari bernama Bagel Express ketika umurnya 15 tahun. Anehnya Mason merupakan lulusan musik di Northwestern University, tetapi bekerja menjadi web designer untuk Eric Lefkofsky.

Dia keluar buat kuliah di University of Chicago jurusan komunikasi publik. Kebetulan dia mendapat beasiswa. Namun ketika dia akan mengambil gelar Master malah keluar. Dia cepat- cepat mau bekerja buat Electrical Audio.

Mason pernah bekerja untuk Innerworkings, perusahaan yang didirikan Lefkofsky. Di 2006, Mason juga mengerjakan bisnis online pertamanya The Point. Dimana Lefkofsky juga memberikan dana uang $1 juta.

The Point merupakan platform sosial inisiatif buat orang. Namun konsepnya masih abstrak bagi market sampai dijadikan ide lain. Mason mengkonsep Groupon pada November 2008. Dia kemudian menjual untuk lebih dari 6 juta dollar.

Groupon mendapatkan uang 50 persen dari deal, dan fee kartu kredit dipakai. Pada 1 Desember 2010, The New York Times, menyebutkan Groupon pernah ditaksir Google. Nilai penawaran fantastis yakni $6 miliar tetapi ditolak!

Situs sosial medial Mashable menaksir pendapatan Groupon $800 juta. Uniknya Groupon bukanlah situs melainkan blog. Groupon awal merupakan perusahaan berbentuk blog. Bahkan itu tidak punya domain .com bahkan sempat numpang.

Lebih tepatnya Groupon menumpang The Point. Alamat webnya Groupon.thepoin.com, dan awalnya berbentuk blog post. Isinya tulisan belum fitur canggih tawar- menawar. Gambar produk ditawarkan memakai sistem embed atau kode tempelan.

Dimana mereka menuliskan mampu menyediakan ukuran, warna, dan pembelian via email. Tidak ada tombol pembelian seperti eCommerce umum. Mason mulai mengarang penjualan kupon pertama. Ya dia membuat kupon online berbekal aplikasi FileMaker.

Bentuk filenya PDF dan akan disebar ke alamat email acak. Dia berhasil menjual 500 kupon makan susi untuk 500 email berbasis Apple. Awal tahun Januari, dia dan co- founder lain, masih mencoba menerka model bisnisnya sampai mendapatkan produk dan harga masuk akan didiskon.

Pada versi pertamanya Groupon memanfaatkan forum. Tujuannya menjajal konsep melalui komunitas kecil dulu.

Dalam dua tahun berdirinya sudah hasilkan untung ratusan ribu hingga jutaan dollar. Nilai asetnya bisa ditaksir lebih dari semilyar dollar. Pertumbuhan bisnisnya cepat melebihi Apple, Facebook, dan lebih cepat dari Google.

Semua berubah ketika nilai sahamnya turun sampai seperempatnya harga IPO. Artinya Mason telah gagal menjadi CEO perusahaan. Seperti dijelaskan diatas dia gagal mencapai target penjualan dan keuntungan sesuai harapan pemegang saham.

Dia mundur dari jabatan CEO dan menjadi pengangguran. Ia lantas menjadi CEO perusahaan kecil bernam Descript. Dia cuma punya 10 pegawai. Ketika ditanya mengenai Groupon, maka pandangan Mason bingung, bayangkan usianya masih 20 tahunan harus mengerjakan bisnis miliaran dollar.

Bayangkan Groupon memiliki lebih dari 100.000 pegawai. Ingat betul, tahun 2006, dia sama sekali bukan pengusaha, tidak memiliki bayangan punya usaha. Banyak teman universitas yang iseng buat berbisnis online.

Harapannya mau membuat bisnis raksasa lalu drop out. Bayangan seperti Google atau Apple sudah biasa dikalangan mahasiswa. Tetapi Mason memiliki pandangan berbeda tentang Silicon Valley. Dia cuma paham orang akan investasi, orang asing akan memberi mu uang miliaran dollar gratis!

Ide pertama bisnis website bernama The Point. Orang akan bersama- sama melakukan sesuatu lewat tombol. "Saya punya masalah dengan perusahaan kabel. Saya mencari kabel atau sesuatu bodoh lain. 'Whoa, itu akan sangat hebat bila mendapatkan sesuatu bersama orang lain'," ucapnya.

Pantang Menyerah

 
Pada suatu titik maka akan menemukan tiping point buat donasi. Dia membayangkan dia akan beli buku pendidikan bersama- sama. Lantas dia dan orang- orang bersama membayar dan membaca itu bersama. Karena sifatnya abstrak maka orang melihat bingung mau diapakan.

"Bahkan kita tidak tau mau diapakan itu," ucapnya. Contoh paling nyata ialah menghimpun dana jutaan dollar. Tujuannya untuk membangun kubas pelindung dari dingin. Tentu bukan contoh bagus karena masih terlalu abstrak, sampai beberapa orang muncul.

Orang- orang ini mengumpulkan uang demi membeli diskon. Syarat diskonnya bila 10 orang beli satu barang khusus. Ini adalah titik ide bisnis Groupon. Namun Mason sama sekali tidak membayangkan bisnis miliaran dollar.

Bahkan pikiran membeli barang berdasarkan diskon konyol. Mereka tetap menjalankan The Point. Dan tidak menghasilkan pendapatan buat dia dan investor. Sempat dia ingin berhenti dan duduk menarik semua dana tersisa dibagikan ke investor kembali.

Daripada bisnis The Point berjalan menghabiskan uang investor. Ia pun mengajak bereksperimen lewat konsep diskon. Mereka menyebar kupon ke email sampai puluhan. Dan lahirlah konsep pertama yang bernama getyourgroupon.com, dan nama Groupon telah diambil orang Inggris.

Beberapa pemilik bisnis menawarkan keikut sertaan. Mason dan tim sudah merasa depresi tentang apa konsep bisnisnya. Alhasil dia terima saja rancangan dari perusahaan lingerie. Kemudian dia mendapat dari Motel Bar, tempat bar dan penjualan pizza.

Mereka menjual 20 buah pizza dalam sehari. Cara mereka berdiri di depan Motel Bar, mengeprint kupon digital mereka, dan menjadikan itu seperti kartus pos dibagi- bagikan. Perhari mereka mulai mendapatkan deal- deal baru, dan berharap menyebar ke kota lain.

Mereka seperti anak kecil menjual kupon kesempatan. Seperti kesempatan bermain bola indoor. Apa orang pikirkan mungkin bodoh tetapi dicoba dulu. Mason dan timmnya layaknya anak kecil mulai mengetok pintu- ke pintu.

Groupon menawarkan kesempatan bagi tiap bisnis kecil. Sialnya, disuatu hari muncul orang yang meniru semua. Dari flayer dibagikan sampai website yang dibuat sama persis. Jujur Mason sama sekali tidak buat entrepreneurship.

Entrepreneur Andrew Mason berharap menjadi musisi. Dalam dunianya itu disebut plagiat tetapi di bisnis disebut kompetitor. Kisah startup Groupon berlanjut diamana muncul kompetitor. Groupon lebih fokus mengerjakan deal harian. 

Semua kereja keras, keringat, kebuntuan selama sembilan bulan lenyap. Orang mulai mengambil titik lemah Groupon disana. "Kesempatan besar itu di luar sana, kita harus berlari secepat mungkin untuk meraihnya sebelum orang lain," tegas Mason.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba