Usaha Keripik Sayur Sederhana Omzet 9 Juta

Profil Pengusaha Sunarsih Hariwati 


usahakeripik.png

Usaha keripik sayur sederhana memberikan harapan. Buat ibu- ibu kalau sudah bosan keripik aneka buah. Pengen mendapatkan penghasilan tambahan, maka jualan keripik sayur merupakan pilihan. Dari jualan keripik wortel, sayur kubis, kacang panjang atau wortel bisa,
 
Dikutip dari Koranjitu, seorang pengusaha asal Jaten, Karanganyar, sudah sejak 1997 -an, Ibu Sunarsih Hariwati memulai usaha aneka keripik sayuran. Dibawah label Chrisna Snack, Sunarsih awalnya cuma memproduksi keripik daun bawang. Bisnis pertama yang masih level rumahan.

Jualan Keripik Sayur

 
 
Ibu Sunarsih memulai dari jajanan bernama luncang. Atau, bisa juga disebut jajan cumi- cumi atau kalau kamu bingung. Itu adalah keripik daun bawang khas, yang sayang tidak cukup memuaskan. Para pelanggan inginkan hal berbeda dari Sunarsih. 
 
Jawaban atas itu ada di potensi daerah yang penghasil sayur. Ia menciptakan inovasi dibidang keripik. Kalau di Malang terkenal keripik buah, maka ini keripik sayur khas Karanganyar.

Daerah tersebut memang penghasil sayur mayur. Sayang, banyak miris karena dia banyak melihat banyak orang dewasa tidak suka sayur. Kalau yang tua saja tidak suka sayur. Tidak dibayangkan Sunarsih apa yang terjadi kepada generasi muda. 
 
"...jadi saya bikin bentuk keripik," pungkasnya. Disela- sela kegiatan produksi keripik dia bercerita.

Memang masih tergolong usaha rumahan atau home industry. Pekerjaan produksi juga masih dikerjakan oleh keluarga sendiri. Jumlah ada empat orang karyawan (masih keluarga) selain dirinya. 
 
Kendala terbesar keripik ini menurutnya cuma masalah mesin saja. Oleh karena itupula dirinya enggan mengangkat karyawan lain. Dia masih betah dengan usaha nan sederhana. Wanita kelahiran 17 Desember 1962 ini belum punya mesin besar buat berproduksi.

Sekitar 6- 7 tahun lalu, ada kegiatan jalan sehat yang dihadiri Bupati Rini Iriani, melihat sukses Sunarsih yang mampu mengangkat potensi daerah. Tanpa segan pemerintah daerah menawarkan pembinaan. 
 
Ini disambut baik olehnya melalui ikut serta pembinaan. Dampak dari pembinaan ialah terjalin kerja sama antara produk Sunarsih dan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kab. Karanganyar. Rina sendir tertarik akan usaha ini.

Usaha Sederhana


Sunarsih memilih sayuran terbaik di daerah Karanganyar. Dipilih terlebih dahulu barulah dibuat keripik sayur. Untuk keripik daun kenikir pilihan harus berdaun hijau tua. Ini mengandung anti- oksidan tinggi bila dikonsumsi. 
 
Adapula wortel berawarna cerah diambil dari daerah bernama Cepogo. Dipilih yang berwarna orange cerah. Kemudian keripik kacang panjang yang hijau cerah. Ia mengaku tidak mengalami kesulitan bahan baku.

Cukup dibeli di pasar terdekat semua tersedia. Setelah terkumpul, sayur kenikir, wortel, dan kacang panjang langsung diblender halus. Adonan dihaluskan diberi bumbu biar terasa gurih dan dicampur tepung. Selepas itu kamu bisa campur hingga kalis. 
 
Adonan siap dipotong- potong berbentu sesuai keinginan. Adonan keripik tinggal digoreng saja hingga kering. Selepas itu, Sunarsih biasanya akan segera mempacking agar tidak cepat rusak.

Sebelum dipacking jangan lupa ditimbang dulu ya. Chrisna Snack menghabiskan 10kg sayuran untuk empat jenis keripik. Packing kemasan terdiri dari ukuran 175gram, 1,5kg, dan 3kg. Untuk ukuran 175gram seharga Rp.9000. 
 
Kemasan 1/2kg seharga Rp.17.000 dan kemasan 3kg seharga Rp.105 ribu. Buat kamu yang mau jadi reseller ada kesempatan besar. Tentu Sunarsih sudah menyiapkan harga grosir atau potongan. Soal pemasaran sementara sekitar Surakarta, lewat toko roti, toko oleh- oleh, dan reseller perorangan. 
 
Kalau ada tamu dari luar kota datang di Karesidenan Karanganya, maka Sunarsih siap menyetok kebutuhan makanan khas. Dari situ sudah mengantongi omzet Rp.9 juta per- bulan. Tambahan pemasukan meningkat jika sudah masuk di musim lebaran.

Kendala maka ada dua: kendala permodala yang masih mengganggu. Istri dari Kristianto Wicaksono ini, yang kerap merasakan namanya di PHP soal modal usaha. "Waktu pelatihan katanya ada bantuan tapi sampai sekarang belum ada kejelasan," jelas Sunarsih. 
 
Karena minim modal kalau ada yang minta sistem titip. Sunarsih harus berpikir dua kali kalau tidak laku. Bayangkan kalau tidak laku mau modal apa produksi lagi.

"Padahal saya butuh uang untuk perputaran modal," keluhnya. Ibu Sunarsih memang selama ini turun tangan langsung.

Jika tidak maka rugi apalagi tidak punya karyawan. Hitunganya rugi juga kalau memakai sistem titip. Padahal mimpi Sunarsih termasuk memberdayakan petani. Sistem titip maka uang datang ketika barang laku terjual. 
 
Dia juga berharap bantuan berupa mesin. Saat ini cuma mesin kecil berproduksi terbatas. Bila saja mesin besar tentu bisa berproduksi sampai luar Surakarta. Dan, itu akan membuka lapangan pekerjaan baru di sekitar.

Alamat: Chrisna Snack Perum. Josroyo 19 RT 7 RW 20, Jaten, Karanganyar
Telepon : 085647229748

Pengusaha Sendal Kelom Geulis Merambah Eropa

Profil Pengusaha Junjun Arif Nugraha 


pengusahakelom.png
 
Menjadi pengusaha sendal kelom menjanjikan. Kini Kelom Geulis merambah Eropa, berkat kegigihan dan kecerdasan memanfaatkan dunia digital.  Arif termasuk generasi kedua usaha keluarga. Sejak lulus dari kampusnya, mata Junjun Arif Nugraha sudah tertuju kepada sendal kelom. 
 
Usaha pembuatan sandal tradisional khas Jawa Barat. Maklum saja, usaha ini sudah digeluti kedua orang tuanya sejak 1980 -an. Oleh karenanya Arif merasa terpanggil meningkatkan nilai sandal kelom dimata masyarakat. Lewat internet marketing usahanya tersebut ternyata tidak sia- sia.
 

Jadi Pengusaha Sandal Kelom


Usaha sandal geulis dirintis kedua orang tuanya dari toko eceran di kawasan Pasar Tasikmalaya, Jawa Barat. Mereka awalnya pedagang yang mengambil dagangan. Mengambil aneka kerajinan dari para perajin sekitar wilayah Tasikmalaya untuk dijual kembali. 
 
Ayah Arif bahkan bisa memasok sampai ke Bogor hingga Jakarta. Kios kecil milik mereka terus tumbuh. Sebagai pedangan kedua orang tuanya termasuk jeli dalam mengambil pasar.

Terbukti, dari perjalanan permintaan pelanggan akan sandal geulis semakin banyak saja. Di wilayah Bogor khususnya sudah beberapa tempat dipasoknya, seperti di Pasar Cisarua dan Cipanas. Untuk wilayah Jakarta sendiri sudah masuk sampai ke Pasar Jatinegara. 
 
"Saat itu, saya sering bantu- bantu orang tua jaga kios," imbuh Arif. Karena jumlah permintaan semakin meningkat, kedua orang tua Arif memilih membuka bengkel sendiri.

Tepatnya di tahun 1995, orang tuanya membuka bengkel pembuatan sendal khas Tasikmalaya tersebut. Selain memproduksi selom geulis juga memproduksi sendal kulit. Kemudian dibawah bendera PD Zunzun semakin berjayalah usaha mereka. 
 
Berjalannya waktu modal kedua orang tua Arif semakin kuat. Sampai berdiri satu bengkel lagi memperkuat kapasitas produksi mereka. Sumber daya manusia pun naik menjadi 40 perajin berpengalaman. 

"Usaha orang tua saya menunjukkan kemajuan pesat saat krisis 1998, saat itu banyak pesanan yang masuk," kenangnya.

Arif menjelaskan kebanyakan pesanan datang untuk pasar ekspor. Sedangkan pemasaran dalam negeri terbatas Jawa Barat dan Jakarta. Kisah ini semakin berjalan apik ketika Arif mengambil alih bisnis. Jika cerita pengusaha banyak unsur kesedihan dan kegagalan. 
 
Justru kedua orang tua Arif semakin sukses berbisnis. Hingga, di tahun 2006, karena faktor usia mereka mewariskan ini ke tangan seorang Junjun Arif Nugraha.

Merambah Eropa


Usaha Arif terbilang makin memoncerkan PD Zunzun. Itu juga termasuk berkat pengetahuan selama kuliah di kampus Universitas Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Sosok Arif dianggap sebagai generasi kedua yang perlu kamu contoh. 
 
Di tangannya produk mampu merambah daerah- daerah lain. Bahkan sudah sampai ke tanah Eropa berkat internet. Tahun 2007 fokusnya adalah membangun internet marketing. Upayanya itu tidak sia- sia.

Tahun itu permintaan akan produk Kelom Geulis naik. Ia kebanjiran pesanan dari berbagai daerah di penjuru Indonesia. Pesanan bahkan naik sampai 200 persen. Semua orderan masuk melalui website buatannya. Arif bahkan mengaku kwalahan. 
 
Alhasil pemenuhan pesanan terkadang terkendala dan terpaksa harus dia tolak halus. Untuk saat ini, PD Zunzun hanya mampu memenuhi permintaan Kelom Geulis untuk 2000 pasang per- bulan.

Harga jual Kelom Geulis diantara Rp.15.000- Rp.25.000 per- pasang. Omzet penjualan mencapai Rp.160 juta- Rp.200 juta per- bulan. Soal laba bersih Arif blak- blakan menyebut 10 persennya. Pelanggan darinya sendiri adalah para pedagang grosir asal daerah masing- masing. 
 
Biasanya, ia menjelaskan mereka akan jual menjadi Rp.50.000 per- pasang. Untuk eceran jumlah permintaannya jauh lebih besar. Arif bahkan tidak sanggup lagi. Terobosan dalam marketing menggunakan online menjadi kunci. 
 
Namun ingat memperbaiki manajemen dan kualitas harus berjalan beriringan. Itulah kunci sukses Arif lewat pembelian 40 unit mesin jahit baru berbagai jenis dan ukuran. Adapula mesin pendukung lain yang lebih modern. 
 
Seperti mesin cangklong, mesin press otomatis, mesin penipis kulit, ruang oven, mesin oven elektrik, gergaji besar, penyedot debu, dan peralatan lain. Bahan dasar pembuatan sandal Kelom Geulis sendiri dari kulit sintetis atau kayu. Seluruh produksi sudah ada standarisasi satu atap. 
 
"Sehingga lebih gampang mengawasi quality control dari produk kami," ujar Arif lagi. Jadi tidak salah kalau namanya menjadi salah satu pengusaha muda rujukan. PD Zunzun meski kecil tetapi sudah memiliki berbagai inovasi dalam produksi. 
 
Tahun 2007, PD Zunzun mendapat pengakuan Dji Sam Soe Award.

Secara pribadi, Arif juga pernah mendapatkan penghargaan bernama Lelaki Sejati Pengobar Inspirasi 2010 dari Bentoel.

Sejak mengambil alih dari kedua orang tua, sejak 2006, fokus Junjun Arif Nugraha ialah memperbaiki brand miliknya. Lewat penjualan interaktif berbekal media sosial digalang. Terobosan tersebut memang tidak sia- sia. Dia sukses membangun image kembali Kelom Geulis. 
 
Pesanan bahkan naik 200% dan semua orderan masuk lewat website toko online milik perusahaan. Trobosan lain adalah memperbaiki variasi desain dan bentuk kelom. Modal dan bentuknya Kelom Geulis menjadi lebih bervariasi. Bahkan motif mega mendung khas Cirebon sudah dimasukan. 
 
Selain itu, adanya ukiran cantik dari bahan kayu semakin menarik kaum hawa. Jadi tidak monoton berbahan kulit sintetis saja.

"Harga sandal ini menjadi mahal," tutur Arif.

Sandal khas Tasikmalaya ini makin moncer. Tidak cuma dikenal di dalam negeri tetapi hingga Eropa sampai ke Spanyol. Kalau dulu paling mentok sampai pasar Jakarta. 
 
Ditangan Arif, Kelom Geulis sudah merambah ke seluruh Pulau Jawa, sampai pula ke Indonesia Timur, seperti Sulawesi Tenggara, Manado, Gorontalo, Bali dan ke Pulau Sumatra. "Saya juga memasarkan kelom geulis hingga ke Sumatra," tutupnya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba