Pendiri Hijab Elzatta 24 Tahun Berbisnis Hijab

Profil Pengusaha Elidawati

 
pendirielzatta.png
 
Sosok pendiri hijab Elzatta telah berbisnis hijab lama. Nama Elidawati mungkin asing bagi kamu, tapi wanita 50 tahun ini adalah sosok dibalik brand kenamaan Elzatta. Dia lah pemilik Elzatta produsen berbagai produk hijab bercorak, spesiknya diproduksi di negara Turki. 
 
Dimana toko terakhir di Indonesia, didirikan di Mal Fx, menjadi toko ke-50 yang bersanding dengan Dauky, perlengkapan casual busana muslim. Menurutnya berbicara busana muslim brand -nya memiliki strategi yang berbeda dengan produk lain sejenis.
 
Kisah perjalanannya pun unik menunjukan bagaimana sebuah brand kuat seharusnya dipasarkan.  Diawal berdiri, 3 bulan setelah berdiri, Elidawati pun mendapatkan hambatan pertama. Ia sempat digugat oleh sebuah lini pakaian ZARA.
 

Awal Berbisnis Hijab


"Awalnya brand yang saya dirikan bernama "Zatta", yang diambil dari nama putri saya. Namun tiga bulan setelan brand itu dipublikasikan pihak ZARA berkeberatan. Secara tidak sengaja saya menambahkan nama saya pada brand sehingga menjadi "Elzatta Hijab"," kata Elidawati.

Akan tetapi dari situ, ia malah tersadar tentang arti pentingnya nama atau brand. Sejumlah perubahan  pun segera dilakukan oleh perempuan yang mengambil jurusan sejarah saat masih duduk di bangku kuliah ini. 

"Selain mengubah nama brand, saya mengambil langkah perubahan lainnya. Bila umumnya toko yang menjual jilbab hanya memajang produk, saya mengubah interior dan display produk Elzatta Hijab agar menciptakan kelas produk yang saya jual. 
 
Termasuk mengeluarkan ikon baru dalam produk Elzatta Hijab," kata Elidawati. Elzatta Hijab telah berdiri selama 24 tahun, berkecimpung lama di dunia fashion hijab sebelum tren hijab ini menggema. Bisa dibilang sosoknya menjadi salah satu pioner dalam dunia fashion hijab. 
 
Ia telah memulai usaha sejak 1989. Awal karir di industri hijab dan busana muslim dimulai dari pergaulan Elidawati ketika remaja di Masjid Salman di kawasan Institut Teknologi Bandung (ITB).

"Dulu yang pakai hijab hanya kalangan tertentu, ibu- ibu pejabat banyaknya," ujar wanita 51 tahun itu saat berbincang dengan Wolipop di kantor Elzatta di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, belum lama ini.

Suatu hari, rekannya di Masjid Salman, Fenny Mustafa memiliki ide ingin membuat brand muslim dengan produk yang lebih fashionable. Fenny meminta bantuan El, sapaan akrab Elidawati, untuk membantunya dalam mengembangkan brand-nya tersebut. 
 
El yang sebenarnya tidak terlalu mengerti dunia fashion, kala itu sempat merasa ragu untuk ikut terjun di bisnis busana muslim. Namun akhirnya wanita lulusan Pendidikan Sejarah Universitas Padjajaran (UNPAD) itu bergabung.

Fenny lalu meminta El untuk memperluas bisnisnya hingga membuka toko busana muslim di Jakarta. Toko yang jug ditempatinya dan suaminya sebagai rumah. "Bentuknya rumah biasa yang dijadikan toko. Nggak terlalu besar, di belakangnya saya jadikan tempat tinggal," kenang El.

Hijab 90 -an


El mengaku tahun 90 -an sulit untuk memasarkan hijab, tidak seperti sekarang. Hanya orang- orang tertentu yang memakai jilbab. Dan, ada pula pandangan bahwa mereka yang memakai jilbab hanya orang tua atau akan terlihat tua di zamannya.

"Saya mengenalkan hijab dengan ikut ke komunitas pengajian. Ada ibu- ibu pengajian jalan- jalan aku ikut. Kita benar-benar dari nol sampai akhirnya bisa masuk ke Sarinah Thamrin," kenang El.

Di 2012 El memutuskan keluar dari pekerjaannya dan membentuk brand hijab sendiri bernama Elzatta Hijab dibawah PT Zatta Mulya. "Keluar karena adanya regenerasi supaya perusahaan semakin maju," jelas El.

El memulai Elzatta hanya dengan 17 pekerja hingga kini sudah lebih dari 500 karyawan. Pada enam bulan pertama, wanita yang hobi travelling itu tidak menyangka bahwa produknya semakin dikenal masyarakat. 
 
Salah satu strategi agar dikenal orang adalah mensponsori hijab di sinetron 'Tukang Bubur Naik Haji'. Dari situ, semakin banyak mitra yang membuka toko. Setiap brand baginya memang memiliki strategi berbeda- beda terangnya. 
 
"Kami mengembangkan dengan cara berbeda dan fokus," katanya. Perjalanan dan pengalaman kerja sebagai manager marketing, direktur marketing dan marketing direktur operasional di PT. Shafira memberi andil bagi dirinya.

Kini Elzatta telah memiliki lebih dari 60 toko; 40 toko mitra dan 23 toko resmi. Elzatta sendiri lebih fokus berjualan kerudung. Hijab yang mengambil bahan dan diproduksi di Turki tersebut memiliki motif warna cerah dari bahan yang lembut dan glossy. 
 
Meski 70 persen memproduksi hijab, namun 30 persennya tetap ada koleksi busana muslim. Produk yang dijual oleh Elzatta berkisar dari harga Rp 60 ribuan sampai Rp 150 ribuan.

"Corak dan motifnya dari Turki, dikerjakan di pabrik Turki," kata Elida, lulusan jurusan Sejarah Universitas Padjajaran pada 1988.

Inspirasi hijabnya ini dari kerudung bahan paris polos yang dipakai mulai dari kelas bawah hingga sekelas ibu menteri. Ia mencari bahan yang pas hingga ke Turki dan akhirnya menemukan model scarf bercorak warna warni yang mempercantik kaum wanita. 
 
Target konsumen untuk usia 23 tahun hingga 35 tahun. "Tahun ini kami akan melebarkan sayap ke Sumatera seperti Pekan Baru, Aceh sampai Papua. Fokus kami di luar Jawa," katanya.

Tukang Kayu Online Pengusaha Muda Satrianov

Profil Pengusaha Satrianov


pengusahakayu.png

Pengusaha muda Satrianov memiliki prinsip sederhana. Semua dapat dijual termasuk jasa tukang kayu online. Bisnis online memang sedang tumbuh- tumbuhnya. Kami bahkan sempat berpikir apa sih yang tidak bisa dijual online. 
 
"Jual online saja tuh barang" begitu kiranya jika kita punya usaha apapun. Tak hanya fashion, media dan produk- produk lain, ada jasa yang bisa dijual. Kini ada tukang kayu yang bisa juga dijual online. Tak percaya? Tanyakan Satrianov, sejak 2012, ia telah mengembangkan bisnis tukangkayu.com.

Bisnis Kayu


Siapa sangka, bisnis online macam ini bisa saja bahkan terus tumbuh.Mulanya ada di tahun 2001 -an. Secara kebetulan, suatu waktu, dia yang sedang mampir di satu workshop kayu (furnitur) di Jakarta Barat, mendadak berbikir iseng. 
 
Iseng- iseng sambit mengobrol dengan si empunya waktu itu, Satrianov secara tiba- tiba terpikir: andai bisnis ini bisa dipasarkan secara online. Siapa tau bisa menghasilkan sesuatu begitulah pikirnya berlanjut.

Karena tak ingin ide itu hilang begitu saja. Dia spontan saja langsung menawarkan diri untuk menjual jasanya secara online.

Ternyata pemilik workshop tersebut cukup antusias. Dia setuju dengan ide Satrianov, setuju untuk memberi imbalan untuk setiap proyek yang dijual. 

 "Saat itu saya benar-benar tidak tahu apa-apa tentang desain interior, furnitur, dan kayu," dia mengenang. Maka, lahirlah Tukangkayu.blogspot.com, blog gratisan yang jadi media pertamanya.

Anak muda ini tidak punya pengalaman dan pengetahuan yang andal diseputaran mabel dan desain interior. Maklum lah, dia kan alumni Komunikasi Universitas Padjadjaran. 
 
Namun, minatnya pada dunia perkayuan ada dan menjadi awalan yang baik, desain interior dan pemasaran sangatlah besar baginya kala itu. "Hanya punya semangat bahwa interior design dan build itu sesuatu yang menarik dan seru bagi saya," ujarnya.

Berangkat keisengan, tak disangka, pasar menyambut.  Lewat blog itulah Satrinov mendapatkan order pertama, hanya membuat sebuah boks kayu. Dan sesuai perjanjian, ada fee yang dikantongi dari order yang terjual. Uang komisi kemudian diputar ulang untuk usahanya ini. 
 
Membeli domain premium dan menyewa hosting. Dari blog gratisan blogspot.com menjadi halaman ngejreng tukangkayu.com. "Jadi, modal saya memang nol rupiah," ungkapnya.

Perlahan- lahan banyak pelanggan mulai mengontaknya. Lucunya, ia sering gugup, tak bisa menjawab apa yang mereka inginkan. Para klien yang bertanya kepada orang yang awam. Otomatis Satrianov harus rajin- rajin bolak- balik bertanya kepada rekan kerjanya, si tukang kayu tersebut. 
 
Pertanyaan dari soal- soal teknis kayu dan pertukangannya. Untuk desain, dia belajar otodidak di internet.

Setelah satu tahun berjalan, jumlah klien datang stabil. Dia pun akhirnya memutuskan membuat workshop sendiri meski ala kadarnya. Kebetulan pula ada satu temannya yang tertarik bekerja sama dengan patungan modal. 
 
Uang Rp 20 juta dia kumpulkan bersama kawannya, lalu dipakai untuk menyewa tanah, membangun workshop dan membeli mesin basic. "Perlu punya workshop sendiri untuk memudahkan kontrol," katanya.

Sejak saat itu, fokusnya adalah investasi alat- alat pertukangan dan menambah orang secara bertahap. Kini, berangkat dari iseng, Tukangkayu.com terus melaju dengan berbagai tawaran seperti menjadi kontraktor yang membuat atau memproduksi interior, disesuaikan dengan keinginan dan ruang klien. 
 
"Pada akhirnya bukan urusan kayu saja yang kami lakukan, namun juga lighting dan sipil. Tetapi, core-nya tetap di urusan kayu," katanya menjelaskan.

"Sebulan paling tidak ada dua proyek," ungkap Satrianov seraya menjelaskan lebih lanjut, harga jasanya akan tergantung pada jenis bahan, finishing, dan aksesori yang digunakan.

"Kami cukup puas menggunakan jasa Tukangkayu.com. Dari sejumlah penawaran yang masuk, Tukangkayu.com memenuhi spesifikasi kami. Mereka juga kooperatif. Hanya saja, mungkin faktor interaksi langsung perlu diperbanyak dan standar mutu perlu ditingkatkan," ujar salah satu kliennya.

Yang membuatnya cukup terkejut, meski tanpa jasa search engine optimization (SEO), website-nya selalu dicari orang dan punya rating tinggi di Google. Pengusaha muda Satrianov mengajarkan kita jadi tukang kayu online.
 
"Saya dulu memilih nama Tukangkayu.com karena terdengar aneh atau lucu, ternyata 'kebodohan' nama itu justru menarik orang. We might not the greatest carpenter in this country, yet. But for Google, we're number one," ujar Satrianov kepada SWA.co.id seraya tertawa. 
 
Kini dia pun berbagi pekerjaan dengan mitra bisnisnya. Dirinya menanganiurusan desain serta produksi, sedangkan kawannya lebih fokus ke pemasaran. Belajar dari Satrianov, keisengan bisa menjadi bisnis bila ditekuni dengan antusiasme disertai keinginan terus belajar. 
 
"Website yang paling sering saya kunjungi sampai sekarang www.houzz.com. Itu kitab sucinya desain interior," ungkap kelahiran Palembang 24 November 1984 ini, berminat mencoba?

Pembuat Aksesoris Massicot Kisah Pengusaha

Profil Pengusaha Amanda Mitsuri dan Ramadhan Muhammad

 
 
aksesorismassicot.png
 
Ini kisah mereka, Amanda Mitsuri dan Ramadhan Muhammad, kisah pengusaha pembuat aksesoris Massicort. Produk Massicot nampaknya semakin menggelobal. Dengan mencul diberbagai media, dan berbagai kesempatan salah satunya melalui Jakarta Fashion Week. 
 
Mereka lah, Amanda Mitsuri dan Ramadhan Muhamad, pendiri dan pemilik usaha pembutan perhiasan dari resin tersebut. Keduanya sama- sama merupakan lulusan Desain Produk, Institut Teknologi Bandung (ITENAS).

Bisnis Bareng

 
Tak hanya kalangan muda, produk buatan Massicot juga digemari orang tua.Mereka memang menawarkan desain yang berani dan tak biasa, anek warna- warna unik. Bahkan produk mereka sukses menarik perhatian pengusaha asal Jepang. 
 
Awalnya keduanya telah memiliki usaha masing- masing. Amanda pernah bekerja sebagai desain grafis yang bernaung dibawah karya bernama Orna- Orana di tahun 2007 -an.

Saat Amanda berpacaran dengan Ramdhan, keduanya mendapatkan ide untuk membuka usaha sendiri. Ya, usaha yang tak jauh- jauh dari dasar ilmu akademis mereka.

"Kebetulan kami pacaran, dan kita berdua suka eksplorasi bentukbentuk dan sering buat konsep sama-sama. Akhirnya, kita putusin buat usaha bareng aja," ujar Amanda.

Kebetulan Ramdhan suka bereksperimen dengan resin. Resin sendiri adalah istilah untuk zat cair sintetis (atau non- sintetis) yang memiliki sifat akan mengeras menjadi padat. Melalui apa yang dia bisa lakukan, ditambah kemampuan Amanda dalam mendesain. 
 
Massicot adalah produk batu permata tiruan yang kemudian akan dibentuk perhiasan. Desainnya, kini, bahkan mulai merambah ke produk lain, seperti gelang, sepatu, dan clutch.

Dalam produknya, Amanda bisa menghasilkan 50- 100 model resin dengan bahan 20- 30 kg. Massicot juga menawarkan produk premium. Nama brand Massicot+ menawarkan perhiasan resin berpadu dengan emas. Tepatnya ada dua jenis produk yang ditawarkan: premium dan luxury.

Berdua mereka mengerjakan semuanya sendiri. Semua idenya mereka kembangkan sendiri. Sumbernya, bisa dari banyak hal, keduanya bekerja sama membangun produk Massicot dari bawah. Dari desain dan master produknya adalah Amanda dan Ramadhan yang membuatnya. 
 
Kemudian produknya dikembangkan menjadi produk- produk siap pasar. Soal idenya, Ramadhan mencontohkan ketika keduanya berlibur di Bali. Ketika mereka melihat birunya ombak, nah, dari sana muncul ide. Warna biru itu diaplikasikan dalam resin kemudian dibentuk sedemikian rupa. 
 
Jika bicara tentang berapa lama produknya dibuat. Ramadhan menyebut ada kendala tersendiri. Terutama memang usaha mereka yang masih produk hand made. Tergantung cuaca, karena studio mereka ada di Bandung yang udaranya dingin, resin bisa lama mengering.

Produk Massicot mengandalkan pemasaran melalui online. Walau akhirnya mereka akan mendapati resiko produknya jadi mudah ditiru. Dan, akhirnya, banyak usaha lain yang sejenis bermunculan. "Wah banyak ya yang mirip sama kita tapi ya kita biarin saja," ungkap Amanda. 
 
Ramadhan menambahkan bahwa produknya benar- benar berbeda. Orang pasti akan tau produk Massicot yang asli. Menggunakan sistem hand- made produknya memiliki jiwa. Setiap ide produknya berasal dari apa yang pembuatnya temukan. 
 
Itulah yang menjadi pembeda dari para peniru tersebut. Amanda menambahkan dari online juga ada kelebihannya. Produk mereka lebih cepat untuk dikenal, jelasnya. Saat ini Massicot juga dapat ditemui di The Goods Dept untuk penjualan offline, dan beberapa butik di Jepang, New Zealand, dan Australia.

Kesempatan bagus datang ketika merek mendapatkan slot di acara Jakarta Fashion Week. Stand mereka saat itu berdampingan dengan Majalah Cleo. Produk yang sudah stand- out ditambah diposisi yang strategis membuat mata tertuju pada produk Massicot. 
 
Dari dulu hanya kalangan tertentu yang ngeh akan marketing online mereka. Kini, melalui Jakarta Fashion Week, banyak artis- artis pecinta fashion mulai tertarik untuk memakai produk mereka.

Melalui Fashion Week pula produk Massicot dilirik oleh pangusaha asal Jepang. Dari pasar lokal saja, kini, produk mereka bisa ditemui di Jepang mulai tahun 2013. Kisahnya ketika itu ada satu pameran untuk sebuah toko di Jepang. 
 
Amanda hanya bermaksud untuk menitip produknya. Eh, ternyata Massicot berhasil meski tak disangka- sangka jadi salah satu brand yang dijual disana. Sistem bisnis mereka di Jepang jelasnya lagi ialah produk harus ada desain baru tiap dua minggu.

Dan akhirnya, Massicot juga mulai merambah pasar lain seperti New Zealand dan Australia.

Prospek bisnis


Masalah copy style atau produk tiruan di pasaran nampaknya tak sanggup mematahkan semangat Amanda. Buktinya ia malah semakin bersemangat termasuk untuk produk baru Massicot+.

"Sekarang ini kami juga sedang mengembangkan Massicot+, perbedaan dengan yang biasa sebenarnya dari bahan. Kalau yang biasa kami tidak pakai emas sedangkan yang Massicot+ ini pakai emas. Kalau soal harganya kisarannya Rp600.000 – 1.500.000 per- buah," imbuhnya.

Memandang masa depan brand Massicot bukan lagi soal produk bisnis. Keduanya memiliki visi dan prinsip sendiri dalam mengembangkan produknya. 
 
"Kadang pembeli kami ketika melihat potongan kue atau melihat apa selalu bilang wah ini Massicot. Ini bagi kami sangat penting karena saya ingin Massicot ini bukan hanya dilihat sebagai sebuah brand atau kalung saja tapi lebih dari itu," kisah pengusaha.
 
Meski kesempatan untuk menjual produk atau memamerkan di berbagai pemaran, Massicot nyatanya tak gegabah.

Mereka tak mau sekedar menjual. Meski banyak toko- toko di luar negeri yang mau bekerja sama. Selama itu sesuai visi mereka bisa saja. Proses bisnisnya masih jauh. Masih banyak ide yang belum dieksplorasi oleh mereka berdua lagi. 
 
Meski pilih- pilih keduanya masih bersemangat membangun pasar. "Rencananya tentu kami akan memperbesar pasar kami ya kalau bisa memperluas pasar luar negeri," jelas Ramadhan. "Selain itu kami ingin sekali mencari orang yang pas untuk bekerja dengan kami," lanjutnya. 
 
"Mungkin ini agak susah karena kami mencari yang benar-benar satu visi karena Massicot ini kan kami buat dari awal sampai marketing berdua saja. Kami ingin menemukan orang yang benar-benar cocok dengan kami. Kami juga ingin cari investor untuk lebih mengembangkan bisnis kami," imbuh Amanda.

Produk- produk perhiasan dan aksesori Massicot ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu produk premium dan luxury. Untuk premium dibanderol dengan harga Rp 200.000 – Rp 350.000 dan luxury dijual dengan harga Rp 600.000-Rp 1.500.000. 
 
Margin keuntungan yang didapat dari Massicot ini pun besar. "Keuntungannya bisa mencapai 50%," kata Amanda.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba