Tampilkan postingan dengan label Pengusaha Thailand. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengusaha Thailand. Tampilkan semua postingan

Biografi Top Tao Kae Noi Rumput Laut Goreng

Biografi Aitthipat Kulopongvanich


biografi top tao kae noi
 
Biografi Top Tao Kae Noi rumput laut Thailand. Pengusaha muda bernama Aitthipat Kulapongvanich atau Top Ittipat (Top TaoKaeNoi), seorang miliarder muda asal Thailand. Hanyalah pemuda 16 tahun yang menjadi pecandu game online. 
 
Menghabiskan hari- harinya di tempat game online, dari hanya sekedar bermain untuk bersenang- senang hingga terobsesi mencari uang. Dia mendapatkan uang pertama dari mengikuti lomba. Top menghasilkan 400 ribu bath dari menjual berbagai perlengkapan karakter game online.

Bisnis Online Sukses


Awalnya, Top hanya remaja 16 tahun biasa, memiliki hobi biasa yaitu bermain game online. Kala itu game online sangat digandrungi oleh remaja Thailand. Dari sekedar hobi, game online berubah menjadi hidupnya kala itu, bahkan melebihi pendidikannya. 
 
Bahkan jumlah komputer di kamarnya lebih dari 3 unit, dan itu kesemuanya dipergunakan hanya untuk bermain game online. Namun ternyata hobi inilah yang pertama kali memperkenalkan hidupnya ke dunia bisnis.

Top mendapatkan uang dari sekedar menjual item atau senjata- senjata karaker miliknya di game online. Dari bisnis iseng tersebut, ia bahkan menghasilkan uang 1 juta baht bahkan sebuah mobil telah mampu dibelinya. Mobil seharga 600 baht (sekitar 600 juta rupiah). 
 
Namun bisnis tersebut tak bisa berlangsung lama, karena tindakan tersebut dianggap ilegal, rekening game online miliknya diblok. Kebijakan pemilik game online ini membuatnya kehilangan sumber pendapatan dari menjual item miliknya.

Dia juga pernah memenangkan perlombaan game, menghasilkan 400 baht sekali itu.

Dengan sisa uang yang ada, ia mencoba hal lain dalam mencari uang yaitu menjual barang elektronik, namun ini gagal. Top ditipu, semua barang elektronik yang ia jual ternyata barang palsu dan uangnya pun tidak dapat dikembalikan. 
 
Di saat yang sama, keluarganya bangkrut meninggalkan utang sebesar 40 juta Baht (sekitar 12 milyar rupiah). Rumah milik keluarganya pun disita oleh bank. Dan ketika game online tak lagi setenar dulu, Top tak bisa berharap banyak, namun obsesi akan uang telah berubah menjadi ambisi.

Di umur 17 tahun ia memutuskan untuk keluar saja dari sekolah, menyisakan uang hasil bisnis game onlinenya sebagai modal. Dia mendatangi pakan raya bisnis, menemukan sebuah franchise atau waralaba dari Jepang. 
 
 
Karena tak ada biaya untuk mengikuti franchise sebuah mesin chesnut (kacang), ia akhirnya memutuskan membuat waralaba sendiri. Dia tak sanggup membeli secara penuh, jadi ia memilih menyewa mesin itu, lalu membuat mesinnya sendiri.

Dia bersama pamannya mencari strategi berjualan yang baik agar bisnisnya dapat sukses. Ia juga melakukan beberapa eksperimen untuk mendapatkan resep terbaik untuk produk kacangnya agar memiliki rasa yang khas dan unik. 
 
Usahanya pun membuahkan hasil setelah itu, Top membuka kedai kacang di mal dan melakukan ekspansi bisnisnya besar-besaran. Dia menyebut bisnis Roasted Chestnut telah sukses mencapai puncaknya. Bisnisnya ada diberbagai mal seperti Tesco, Carrefour, dan lain- lain.

"Saya punya lebih dari 30 cabang yang membawa dalam penjualan 3 juta baht per bulan," jelasnya. Namun ternyata usahanya memiliki kendala, mesin pembuat kacang panggang yang digunakan Top menimbulkan asap dan mengotori atap mal. 
 
Pengelola mal Tesco, dimana lebih dari 25 cabang bisnisnya bertempat, meminta dirinya menghentikan mesin pemanggang itu.Pihak mal meminta Top menutup kedainya dan membatalkan kontrak kedai yang telah dibuat.
 
"Kamu bisa lemah, tetapi tidak pernah menyerah untuk menjaga permainan berlangsung," ucap Top dalam wawancara untuk Yahoo Singapura. Di titik ini Top hampir putus asa. Ditambah lagi, ia tidak berhasil masuk kuliah di universitas negeri dan harus masuk universitas swasta akibat kemalasannya di sekolah selama ini. 
 
Walaupun telah bangkrut dan terlilit banyak hutang, orangtua terus berusaha agar anaknya dapat kuliah. Dia menolak tawaran orangtuanya dengan mengatakan akan membiayai kuliahnya sendiri.

Akhirnya Top bisa kuliah dengan menggadaikan jimat ayahnya yang ia pernah curi. Dia tercatat sebagai mahasiwa di Univeristy of the Thai Chamber of Commerce. Dalam benak Top Ittipat kala itu hanyalah bagaimana cara berbisnis kembali disela- sela kuliahnya. 
 
Dia hanya berpikir jika saya menjual produk, saya akan mendapatkan uang dari sana selesai. Dia masih memiliki bisnis chestnut, meski sudah tak seramai dulu, bisnisnya sudah turun 50% semenjak pembatalan kontrak. Sisanya ia mulai berpikir ulang apa yang akan dia jual nanti.

Pemilik Tae Kae Noi

 
Untuk menutupi penjualan chestnut yang turun drastis, Top berjualan buah kering dan juga rumput laut. Dia terus memutar otak untuk mengembalikan kejayaan bisnisnya. Ia menemukan ide baru untuk menjual rumput laut goreng. Top memulai kembali bisnis ini dari bawah. 
 
Segala hal dilakukannya untuk mengembangkan konsep bisnisnya. Ia mencari sendiri rumput lautnya, lalu belajar bagaimana cara menggoreng rumput laut agar menghasilkan produk baik dan enak.

Ia juga mempelajari bagaimana caranya agar rumput laut gorengnya tidak cepat basi jika disimpan lama. Top mempelajari ini itu untuk mengembangkan bisnis rumput lautnya. Dia sendiri telah mengeluarkan biaya lebih dari 100 ribu Baht. Tidak hanya sampai disitu. 
 
Dia menemukan resep rahasia untuk rumput laut gorengnya. Ia kembali memutar otak tentang bagaimana memasarkan produk baru tersebut. Jalannya datang dari sebuah mini market bernama 7- Eleven.

Masalah lain datang ketika 7- Eleven mengembalikan produknya. Mereka meminta agar produknya lebih baik berdasarkan standar milik mereka. 7- Eleven meminta agar Top memperbaiki cara pengemasan serta memiliki pabrik untuk memenuhi permintaan pasar. 
 
Dia berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi permintaan 7-Eleven, namun ia terus menemui kebuntuan. Top begitu putus asa sampai-sampai ia sempat berpikir untuk berangkat ke China bersama orangtuanya.
 
Sebelum berangkat ke China, ia memutuskan melakukan usaha terkahir yaitu pinjaman bank untuk memenuhi permintaan 7- Eleven. Karena tidak ada modal, ia mengajukan pinjaman ke bank, namun ditolak karena tak cukup umur. Saat itu umurnya masih 19 tahun ketika mencoba membuat pabrik sendiri. 
 
Akhirnya Top dengan sangat terpaksa menjual mobil kesayangannya yang dulu dibelinya dari bisnis item atau senjata game online. Top membuat pabrik kecil untuk usaha rumput laut gorengnya di kantor kecil milik keluarganya yang tersisa. 
 
Usaha dan kerja kerasnya tidak sia-sia karena selalu melanjutkan apa yang pernah dikerjakannya. Dengan sekuat tenaga, akhirnya Top mampu memenuhi semua syarat dari 7-Eleven sehingga produknya dapat dijual di 7-Eleven Thailand. 
 
Dalam jangka waktu 2 tahun, sejak hari itu, Top Ittipat berhasil membayar semua hutang keluarganya dan berhasil mengambil kembali rumah keluarganya. Nama Tao Kae Noi sendiri berasal dari ayahnya, ketika kontrak bisnis itu ditanda tangani, ia mendengar ayahnya berkata 
 
"Anakku akan menjadi TaoKaeNoi." Di umur 26 tahun, produk rumput laut gorengnya yang dinamai “Tao Kae Noi” merupakan rumput laut goreng terlaris di Thailand, bahkan telah masuk juga ke berbagai negara lain termasuk Indonesia. 
 
Usaha Top ini memiliki penghasilan 800 juta Baht (sekitar 235 milyar Rupiah) per tahun, dan mempekerjakan sekitar 2000 karyawan. Ia menjelma menjadi salah satu miliarder termuda. Dia adalah CEO TaoKaeNoi Food & Marketing Co., LTD. Bisnisnya menyangkut produk rumput laut dan jajanan mudah dimakan. 
 
Dia menghabiskan waktu satu tahun untuk memperluas ke 30 cabang, dan ketika itu terkenal, ia mencoba untuk menjual lebih banyak jenis produk di toko-toko seperti buah persik kering, lengkeng kering dan rumput laut. Yang paling populer adalah rumput laut dari produk- produk lainnya.

Hari ini, Tao Kae Noi adalah merek rumput laut-makanan ringan terkemuka, dengan pangsa pasar sebesar 70 persen. Ia terus melanjutkan untuk menciptakan produk rumput laut goreng dalam kemasan, yang dengan cepat menjadi sukses di Thailand, dan diekspor ke Indonesia, Jepang, Taiwan, Singapura, dan Amerika Serikat. 
 
Ia merancang logo nya sendiri sebagai anak laki-laki dengan bendera. Memang produknya ini berkesan seperti produk Korea, tetapi bukan. Dia berhasil dengan Tao Kae Noi, dan menjadi Miliarder. Top akan berusia 27 tahun bulan Desember ini dan sudah menjadi miliarder. 
 
Produk Tao Kae Noi-nya tersedia di banyak negara serta melalui Amazon.com. "Apa yang menggelitik saya adalah sikapnya. Saya ingin tahu apa yang mendorong dia untuk menjadi sukses. Dia tak kenal takut dan tidak pernah menyerah," kata Songyos, produser film "the Billionaire". 
 
Kisah suksesnya difilmkan, menurutnya film tersebut telah 80% benar, sangat menginspirasi bagi pengusaha untuk sukses.

Miliarder Thailand 6 Pengusaha Keren Perlu Kamu Tau

Profil Pengusaha Thailand Terkaya

 
 
pengusaha miliarder thailand
Chaleo Yoovidhya
 
Thailand bukan cuma tujuan wisata yang menarik. Siapa sangka negara ini telah sukses menghasilkan pengusaha kelas dunia. Berikut profil miliarder Thailand pengusaha keren ini. Negara yanng memiliki penduduk lebih dari 67 juta dan $300 miliar kekuatan ekonomi. 
 
Meski para pengusahnya saat ini masih dikuasai oleh kalangan orang tua, tapi mereka membawa perubahan dan inspirasi. Sebut saja pengusaha muda asal Thailand, yaitu Top Tao Kae Noi yang sukses melalui jajanan rumput laut.

Mungkin dia terinspirasi dari salah satu tokoh list kami ini. Berikut lebih lengkapnya 6 miliarder keren asal Thailand dimana kesemuanya berumur 50 tahun ke atas. Mereka menemukan berbagai bisnis revolusioner, menghasilkan jutaan dollar dari bisnis mereka.

1. Chaleo Yoovidhya


Dia adalah salah satu pendiri minuman berenergi ternama dunia, Red Bull, yang dimana memiliki 49% saham. Di 2009 saja, perusahaan Red Bull menghasilkan $4,4 miliar dalam penjualan. Minuman berenergi yang isinya kaya kafein, super-manis dan campuran populer bagi para penghuni klub malam serta pekerja lelah di seluruh dunia. 
 
Chaleo, di usia 78, adalah salah satu warga terkaya Thailand, dengan kekayaan bersih bahwa "Forbes" baru-baru ini diperkirakan mencapai sekitar US $ 4,2 miliar. Red Bull memulai debutnya di tahun 1987, dan sekarang menikmati pasar yang luas hingga kesuluruh penjuru dunia. 
 
Mereka berbagi pasar dengan minuman berenergi lain. Posisinya sebagai minuman energi untuk para olah ragawan memberikan level tersendiri. Sukses Red Bull didukung berbagai kejuaraan dari motor trail hingga NASCAR. 
 
Sebagai tambahan menurut Newly Purnell, penulis dari CNN, menyebut bahwa minuman ini berbasis minuman ringan Krating Daeng, lihat persamaanya?

2. Charoen Sirivadhanabhkadi


Charoen sukses mendirikan ThaiBev atau Thai Beverage Plc, merupakan salah satu produsen minuman beralkohol terbesar Asia Tenggara. Perusahaan ini paling dikenal memproduksi bir Chang, yang kuat, minuman berhias gajah membasahi peluit orang Thailand dan sukses meluncurkan juta backpackers '"Chang-overs."

ThaiBev juga merupakan sponsor dari tim Liga Utama Inggris Everton Football Club, dan ikon Chang (gambar gajah) menghiasi kaos klub. ("Chang" adalah Thailand untuk gajah.) 
 
Perusahaan ini juga sukses memproduksi firewaters lokal Sang Som dan Mekhong rum (istilah "rum" digunakan secara longgar di sini), serta brews murah Archa dan German Beer -terinspirasi Federbrau.

Charoen diperkirakan bernilai lebih dari US $ 4 miliar - tidak buruk mengingat usianya telah 66 tahun dan hanyalah seorang putra dari vendor pancake kerang goreng.

3. William E Heinecke


William E Heinecke adalah nama dibalik produk- produk dunia seperti Burger King, Diary Queen, dan juga Swensen di Thailand. Memang dia bukanlah orang dibalik produk tersebut, namun melalui bisnisnya produk dunia ini melenggang bebas di Thailand. 
 
Pria 61 tahun ini adalah pendiri Minor Group, perusahaan grup yang memiliki ribuan restoran dan 27 hotel, tersebar di seluruh penjuru Asia Tenggara. Di dirikan pada 1967, Minor Group atau Minor International juga membuka berbagai restoran waralaba. 
 
Mereka juga memiliki restoran lain -selain Burger King, Diary Queen, dan Swensen, dibawah kendali Minor Group seperti Marriott, the Four Seasons, Pizza Company dan Sizzler. Thailand telah berbaik hati kepada Heinecke: ia diperkirakan memiliki kekayaan $ 425.000.000. 
 
Heinecke lahir di AS tapi keluarganya pindah ke Thailand saat ia masih remaja. Dia sekarang resmi menjadi warga negara Thailand. Purnell dari CNN menambahkan bahwa Heinecke adalah salah pengusaha tangguh, mengalahkan Pizza Hut pada permainan mereka sendiri. 
 
Dia kala itu membeli waralaba Pizza Hut di Thailand tahun 1980, tetapi memiliki perselisihan kontrak dengan perusahaan induk AS. Pizza Hut kemudian ditutup di Thailand, tapi Heinecke membangun sebuah perusahaan baru - Pizza Company - menggunakan lokasi toko tua Pizza Hut. 
 
Hasilnya: ia menangkap sekitar70 persen dari pasar pizza Thailand hanya dalam waktu enam bulan.

4. Kraisorn Chansiri


Kraisorn Chansiri, 76 tahun, adalah pendiri Thai Union, salah satu perusahaan terbesar untuk produksi tuna. Telah 25 tahun perusahaan yang didirikannya melayani kebutuhan ikan tuna atau seafood secara umum untuk dunia. 
 
Perusahaan ini produk terbesarnya memang ikan tuna beku dalam kemasan kaleng, bahkan mereka sukses mengalahkan produsen tuna beku asal Eropa. Kala itu Thai Union sukses membeli perusahaan tuna asal Eropa bernama MW Brands senilai $860 juta.

5. Vichai Raksriaksorn

/
Vichai jadi yang termuda dalam list ini. Pengusaha yang menjadi CEO sekaligus direktur utama King Power, perusahaan retailer travel dan memiliki banyak cabang di berbagai airport di Thailand. 
 
Outletnya ada yang di Bandara Suvarnabhumi Bangkok, serta bandara di Chiang Mai dan Phuket; ada juga toko Bangkok pusat kota.

6. Tan Passakornnatee


Tan Passkornnatee, 51 tahun, adalah pendiri Oishi Group, pemilik restoran Jepang yang sangat populer. Dia memiliki Oishi sushi buffet, ada Oishi "expresses," ada ramen bar Oishi, ada teppanyaki Oishi, dan banyak lagi. Bahkan ada merek teh hijau Oishi. Dan Tan bahkan tidak Jepang.

Pria kelahiran Malaysia yang memulai dari menjadi buruh kasar di umur 17 tahun, sebelum memulai satu bisnis pertama - newstand - dan akhirnya pindah ke bisnis real estate. Dia kehilangan semuanya pada tahun 1997, kemudian membangaun kembali kekayaannya dimulai dengan studio pernikahan.

Beberapa tahun yang lalu Tan menjual merek Oishi ke Charoen Sirivadhanabhakdi, pemilik ThaiBev dan nomor dua di daftar CNN. Dia tinggal sebagai CEO sampai tahun lalu. Dia lalu memulai restoran dan minuman lain usaha melalui perusahaan barunya, Mai Tan. 
 
Meskipun kekayaan bersih Tan tidak diketahui, menurut Bangkok Post dia sekarang investasi 2,4 miliar baht (US $ 78 juta) di sebuah pabrik produksi minuman di Ayutthaya untuk menciptakan merek minuman fungsional sendiri.

Biografi Pengusaha Yoga Startup Pelatihan Online

Profil Pengusaha Pelatih Yoga


aplikasi instruktur yoga online

Biografi Pengusaha kelahiran Jerman, yang berimigrasi hingga ke Amerika Serikat. Waktu itu Alex Klien yang masih berusia 16 tahun. Sebelum menjadi pengusaha, Alex sudah dikenal sebagai musisi, melalukan tur bersama band punk, dimana dia bermain sebagi basis.

Pertengahan 20 -an Alex memutuskan menjadi fisikawan. Tujuan untuk memecahkan masalah energi dunia. Dia melanjutkan karir di Fisika Plasma. Menarik bukan biografi pengusaha ini berputar. Itulah kita tidak boleh meremehkan kemampuan orang lain.

Tahun 1999 Alex menemukan konsep alternatif fusion confinement. Apapaun artinya itu merupakan hal terkeren kita dengar. Calon pengusaha yang terus melakukan aneka percobaan. Memiliki konsep matang merupakan prinsip bekerja Alex.

Hingga, di tahun 2008, ia mengumpulkan uang $3,5M modal dan digunakan untuk membangun satu reaktor fusi. Dia menciptakan teknologi ini di laboratorium diluar Boston, MA. Prinsip dipegang oleh Alex adalah "Pasti Bisa".

Prinsip Alex tersebut patut kita coba. Dari menjadi musisi bekerja menjadi ilmuwan. Bekerja di akademisi maupun laboratorium pemerintah. Meskipun halangan menghadang penemuannya. Tidak sesuai diharapkan. Sudah memiliki etos kerja besar untuk menjadi biografi pengusaha sukses.

Secara pribadi dia membangun dan menguju satu dari tiga fusion. Didanai oleh pihak swasta, Alex mampu menghasilkan kesuksesan membanggakan. Begitu proyek fusi tersebut ditutup maka menjadi puncak kesuksesan lain. Dia telah sukses di pengetahuan apakah yang dilakukan nanti.

Biografi Pengusaha Teknologi Yoga


Ia telah mencapai kesuksesan dari usaha. Sekarang ingin mengerjakan usaha berbeda. Beberapa bulan dia dan istri mengunjungi Chiang Mai, Thailand. Awalnya mereka akan tingga satu minggu berlibur. Begitu banyak hal menarik membuat mereka betah tinggal di Thailand.

Awalnya berniat tinggal sementara malah tidak kembali. Mereka memutuskan menetap di Thailan semenjak itu. Mereka baru menjadi pengusaha beberapa bulan. Mendirikan startup teknologi yang diberi nama YogaTrail tiga bulan kemudian.

Suami istri ini ditemani seorang rekan lagi. Mereka beritga menjadi pendiri startup Yoga, seperti yang dikutip dari Asianentrepreneur.com. Apakah YogaTrail itu, sebuah bisnis startup bagaimana kita bisa belajar Yoga. Menciptakan kemudahan siapapun belajar Yoga dimanapun.

Sebuah situs direktori menemukan pelatih Yoga. Mereka mencatat semua studio Yoga dimanapun. Startup yang akan menunjuk pelatih Yoga dan program latihan. Situs gratis yang tersedia bagi para guru Yoga membuat profil sendiri.

Semenjak dilaunching startup bisnis ini berkembang. Sudah memiliki 50 ribu lebih profil profesional dan 20 ribu profil praktisi Yoga. Mereka sebenarnya menemukan olah raga ini sejak 2008. Ketika mereka berlibur ke India berkeliling dan menemukan Yoga.

Bisnis Yoga memiliki makna berbeda. Setiap orang memiliki pengertian bebeda dari olah raga ini. Dari melihat sebagai atletik contortions seperti sauna. Atau mereka yang memahami Yoga sebagai aktifitas bersilah berjam- jam.

Pengusaha yang mencoba mematahkan konsep kuno. Kamu tidak akan duduk berjam- jam didepan lilin diatas terpal dan mengucap mantra. Maka dari itulah bisnis YogaTrail memudahkan orang untuk menemukan. Orang butuh berjam- jam mencari guru Yoga sebagai olah raga kesehatan.

Ide bisnis startup memudahkan mencari tempat. Situs yang membantu orang menemukan informasi. Termasuk opini para praktisi membantu latihan Yoga. Startup yang membantu orang awam berlatih Yoga. Orang bisa mencari tempat berlatih, teman latihan, guru dan sumber daya lain.

Mereka juga membangun forum diskusi Yoga. Biografi Pengusaha Alex mengaku menemukan ide bisnis sejak lama. Ketika dia menjadi guru fisika di Universitas lokal. Dia sudah mendengar konsep web preneur atau mereka yang berbisnis online.

Maka mereka mengerjakan bisnis startup YogaTrail. Dia bertemu dengan Sven Ernst -pendiri ketiga YogaTrail- dan melanjutkan pekerjaan. Sosok Sven menjadi pihak ketiga sekaligus investor. Dia sendiri adalah Direktur cabang Asia Buzzwoo!, agensi pengembangan dari Jerman.

Mereka sedang mencari- cari bisnis startup lokal. Sven mencari klien untuk pengembangan. Lalu dia menemukan YogaTrail. Dimana Alex melalukan presentasi pendanaan startup dari Sven.

Ketika mengajar fisika di sebuah universitas lokal, dan ia menemukan tentang "web entrepreneur". Hingga berdirilah YogaTrail berkat Buzzwoo!. Sven memang fokus menangani startup baru. Mereka menangani konten, PR, pemasaran, layanan, desain, dan pengembangan modal.

Bisnis Startup Yoga Inspirasi


Bisnis semacam ini paling susah mencari dan mengatur orang. Pernah mendapatkan developer yang tidak kompeten. Pegawai yang tidak mampu mengikuti perkembangan proyek YogaTrail. Beberapa lama kemudian dia memilih resign. Kesulitan juga harus dihadapi seorang Alex sebagai pemula.

Pegawai developer itu meninggalkan Alex begitu saja. Menyisakah program ditengah kode. Labih sulit menemukan seseorang yang mampu melanjutkan koding. Alex akhirnya mengangkat pegawai dari awal. Dia mengerjakan ulang kode YogaTrail dari awal.

Ia sebenarnya mencari orang yang bisa melanjutkan. Untung sistem YogaTrail mampu diselesaikan tepat waktu. Teknologi mereka diterima baik orang- orang di luaran sana.

Ini sangatlah melegakan bagi Alex. Komunitas Yoga merupakan kelompok unik. Yang mana bereka beragam latar belakang. Tujuan mereka juga berbeda tentang Yoga. Ada mereka para esoteris yang mencari pencerahan spiritual Ashram.

Adapula mereka para eksekutif muda, para pegawai yang melakukan Yoga ketika stress dan sambil istirahat makan siang. Alex membuat merek YogaTrail netral. Menarik semua hal tentang spektrum Yogi. Jadilah tempat dimana semua kebutuhan kita soal Yoga lengkap.

Sebelum memulai YogaTrail, mereka melakukan marketing di Facebook, sosial media lain dan blog khusus. Sehari bisnis startup diluncurkan sudah menarik 30.000 pengguna. Mereka juga menarik pengguna lain melalui aneka sosial media.

Menjadi pengusaha harus siap persaingan ketat. Terkadang persaingan kotor memabayangi. Dimana mereka menyalin apa yang YogaTrail bangun. Contohnya, biografi pengusaha YogaTrail membangun aplikasi galeri di Facebook, enam minggu kemudian ada tiga aplikasi sama tapi berbeda.

Mereka sama- sama membagikan gambar ribuan ke halaman Facebook. Versi mereka, dari desain dan fungsional sama bahkan namanya sama.

"Sekitar 6 minggu setelah kami meluncurkan itu, ada tiga versi lain dari hal yang sama, dengan tepat desain dan fungsi yang sama ... satu orang bahkan menggunakan nama yang sama untuk app nya! Pada terbalik, saya kira ini berarti kita melakukan somethings benar ...," terang Alex.

Bisnis Yoga sendiri menghasilkan pasar $20B. Jujur banyak diluar sana para oportunis. Mereka yang bergaya profesional dan seolah organisasi non- komersial. Sayangnya mereka berbicara tentang keuntungan. Ini kita membicarakan bisnis besar bukanlah sekedar bekerja sosial.

Bahkan beberapa mencoba menguasai pasar dominan. Mereka mencoba mengeruk untung tetapi itu tetap kurang. Pasar bisnis Yoga sendiri masih mencakup 5% saja. Pokoknya dalam berbisnis harus jelas. Tentukan tujuan, apakah kamu akan mencari untung atau murni pengusaha sosial.

Ambisi Buruh Ilegal di Suburnya Bisnis Jamur Thailand

Profil Pengusaha Than Wai Aung 



Ia berkata, "saya tidak pernah mau menjadi pegawai siapapun." Kisah seorang imigran asal Burma yang kini tinggalnya di Thailand. Pendatang asal Vietnam tersebut terjebak. Dalam rutinitas bekerja menjadi buruh di negara lain. Setelah mendapatkan pelatihan pria 44 ini menjadi pegawai kontruksi sebuah perusahaan.

Than Wai Aung menghabiskan waktu selama hampir 16 tahun -semenjak pindah ke Bangkok, Thailand. Dia juga bekerja tidak cuma membangun perumahaan di Bangkok, termasuk membangun beberapa properti di kawasan North.

Hingga tiga tahun berselang, Than lantas mengunjungi sebuah provinisi, yakni Ratchaburi, sebuah provinsi perbatasan Thailand. Disana dia menemukan sebuah kegiatan menarik hati. Warga sekitar asik menanam jamur untuk bertahan hidup. Dorongan membawa Than menetap di kawasan tersebut, tidak bekerja lagi.

Bekerja konstruksi menurutnya sangat berat. Sementara membudidaya jamur dianggapnya asik. Karena ia mengatakan suka alam. Kecintaan akan alam inilah dia bertahan. Justru ketika passion -nya menemukan jalannya. Ternyata pasaran Ratchaburi justru tidak mampu menampung bisnis budidayanya.

Terlalu bersemangat hingga jamurnya banyak rusak. Tidak mau jamurnya rusak, akhirnya dia memutuskan kembali ke Kota Bangkok.

Bisnis alami


Pertama kali menginjakan kaki di Thailand. Dia tidak bisa berbicara bahasa lokal. Tidak pula mampu bicara bahasa Inggris sempurna. "Itu sangatlah susah," kenang Than. Mencari pekerjaan juga semakin susah. Dia cuma bekerja menjadi pekerja konstruksi. Karena tidak punya surat ijin jadilah dia terkadang ditangkap.

Dari bekerja menjadi buruh konstruksi, Than hanya menghasilkan antara 200 hingga 300 bath -atau di sekitaran $6- 9 per- harinya. Pandangan tentang jamur juga sudah ada. Ketika dia bekerja menjadi buruh konstruksi dia merasa kenapa tidak ditanam. "Kenapa tidak membudidaya itu?"

Pikiran lain, ya, tidak ada satupun teman melakukan hal sama. Dia merasa inilah pekerja utamanya. Dulu, pernah dia bekerja menjadi di perusahaan farmasi Vietnam, angan- angan Than memang sudah menjelajah mau menjadi boss buat dirinya sendiri.

"Dan ketika saya datang ke Thailand, saya tau saya tidak akan pernah kaya bekerja dengan orang lain," ia menambahkan, inilah mimpi besarnya.

Bicara mengenai Vietnam tidak ada masa depan. Dan ketika kamu berbicara buruk tentang militer. Kamu akan ditangkap. Oleh karenanya dia datang ke mari (Thailand). Dia berkata di Vietnam perasaan takutnya sampai 24 jam. Kamu tidak boleh asal ngomong. Sangatlah susah hidup dibalik ketakutan di sana dulu.

Hingga dia datang dan menetap di Ratchaburi, di Barat Thailand, yang mana berjarak dekat dengan garis perbatasan antar dua negara. Berbipikir mengenai bisnis jamur. Awalnya tidak berjalan seperti dia akan bayangkan. Tidak ada seseorang mengajarinya menanam dan memanen jamur, dia belajar otodidak loh.

Dia pernah nih menaruh terlalu banyak air. Alhasil media tanamnya, kantung- kantung baglog, miliknya malah membusuk dan bibit jamur tidak tumbuh. Namun perjalanan waktu hasilnya ternyata menggiurkan. Apalagi pertumbuhan Thailand menaik. Oleh karena itu, banyak orang Vietnam menyusup masuk ilegal.

Disisi lain, ada keburukan disana, banyak perusahaan konstruksi mempekerjakan imigran gelap. Mereka mau dibayar murah karena tidak punya surat. Mangkanya kisah Than termasuk sangat langka. Dia bahkan mampu menjual tinggi ke Thailand. Dia beralih menjadi pengusaha jamur menghasilkan lebih banyak uang.

Bisnis sederhana


Dia menyewa tempat di dekat kota Thailand. Dimana tempat itu dikenal kering, diantara kolam ikan lah dia mendirikan gubug kecil. Biaya sewanya lumayan kecil yakni $16- $32. Karena letaknya dekat Bangkok ia merasa cukup buat memasarkan hasil panennya.

Than juga niat mengikuti pelatihan dari International Labor Organization (ILO), yang menjalankan sebuah program bernama Community Based Enterprise Development (C-Bed), mana tujuannya memberikan dukungan kepada pengusaha kecil kemudian saling berbagi pengalaman.

Ketika awal berbisnis dia buta. Kalau untung uangnya pasti dihabiskan. Lewat pelatihan dia mulai membagi buat disimpan. Sebagian lagi dijadikan modal kembali. Dia memperhitungkan berapa bibit dibutuhkan buat menghasilkan untung. Menghitung berapa kilo dia beproduksi nanti. Berapa banyak jamur dia menjual dan simpan.

Dia kembali ke tempatnya. Mulai mengamati setiap baglog berisi bibit. Rak- rak kayu menampung hasil jerih payah Than. Rajin membersihkan jamur agar akarnya bebas spora. Dia mulai memanen, menimbang, kemudian dia akan mengantar ke tempat distribusi lewat motor, dimana di sana masih dibawah konstruksi.

Pembeli utama Than kebanyakan juga para buruh Burma. "Saya mau menjadi orang kaya -cukup kaya buat membeli mobil. Melalukan apapun yang saya mau lakukan -tanpa kamu takut menjadi melarat," ia berujar.

Sakarang dia bisa menjual apapun dia budidayakan. Than sudah memiliki perlengkapan. Cuma masalahnya dia belum memiliki lahan. Dia butuh lahan lebih luas dan sedang mencari. Than juga bisa jualan baglog ke orang- orang. Ini lebih menambah pendapatan Than. Meski efeknya nanti akan banyak kompetitior, ia tidak takut.

"Saya suka bekerja keras untuk bisnis saya," jelasnya. Dalam sebulan dia menghasilkan omzet sampai 20 ribu bath!

Jika dulu dia menawarkan diri: Sekarang distributor datang sendiri mengunjungi kebunnya. Dia memiliki ide mengurangi harga, tetapi justru dia mengurangi waktu dan biaya, dimana dia menggunakan biaya buat bahan bakar motor. Dia awalnya bekerja tanpa tujuan. Kapanpun dia dapat untung langsung dipakainya!

Untuk memperluas bisnisnya, dia mempekerjakan beberapa pegawai, yang ternyata juga imigran Burma. Ia punya tujuan memperluas produksi. Dia ingin mencapai 70- 80kg per- hari. Pelatihan kewirausahaan telah memberinya pengetahuan soal memperluas bisnis.

"Saya bisa melihat dalam dua sampai tiga tahunan saya akan menjadi entrepreneur (sejati)," tutup.

Donat Thailand Diwaralabakan Daddy Dough

Profil Pengusaha Peter Thaveepolcharoen 




"Saya suka bisnis donat ini jadi saya tidak pernah gentar untuk tidak menyerah," tulisnya. Sebuah kisah dari pengusaha muda asal Thailand, Peter Thaveepolcharoen, seorang direktur perusahaan waralaba bernama Daddy Dough.

Ia menceritakan bahwa bisnis bukan hal lama. Ini merupakan bisnis keluarga. Namun, hanya dari sentuhan tangan dingin Peter, usahanya berkembang menjadi tiga gerai utama. Selanjutnya usaha pemuda 27 tahun tersebut adalah membuka waralaba atau franchise global.

Alkisah dia hanyalah pegawai IT. Pekerjaan dengan gaji 100.000 bath. Nyaman bekerja saja ternyata tidak cukup. Dalam ketidak mungkinan, apapun bisa terjadi Peter malah memilih keluar dan membuka bisnis. Ia bermodal resep keluarga. Kesulitan justru dianggapnya menjadi karena dia masih lah sangat muda.

Kini pria 33 tahun ini sudah memiliki perusahaan besar. Nama Daddy Dough, berbekal resep sang ayah, sudah sangat dikenal di telinga masyarakat Thailand. Kepada IndoTrading, kisahnya bermula ketika umur masih 23 tahun, dan ia sempat bekerja selama dua tahun menjadi pegawai IT.

Bisnis tekat


Ia suka IT tetapi bukan passion. Berwirausaha merupakan panggilan hati. Inilah dirasakan Peter ketika ia mengeluhkan alur kerjanya. Bercerita ke ayah malah membuahkan ide berwirausaha. Sang ayah justru jadi orang pertama yang mendorong anaknya menentukan nasib.

Dorongan tersebut dibuktikan lewat pengunduran diri. Reaksi ayah ya tetap meyakini bahwa Peter akan jadi sukses. Lebih sukses lagi dibandingkan bekerja menjadi pegawai IT. Terbukti bisnisnya telah sukses mengantungi untung 15 sampai 30 kali lipat gaji ketika menjadi pegawai dulu.

Bayangkan dia mampu mengantungi omzet 80 juta baht global. Latar belakangan pendidikan pun tidak jadi masalah. Seorang lulusan sarjana komputer dan kemudian pindah ke jurusan manajemen. Tidak nyambung lagi dengan bisnis donat, Peter merupakan lulusan travel industry management.

Selepas sekolah menengah sebenarnya dia sudah disuruh. Ayah Peter mengajaknya membesarkan bisnis donat milik keluarga. Justru ketika dia tertekan dengan rutinitas pegawai. Perasaan bahwa bekerja bukan jadi passion -nya muncul -tetapi berwirausaha sendiri.

Meski ditangan Peter baru berjalan setahun setengah. Optimisme tinggi ditambah passion akan wirausaha tidak tertandingi. Kebetulan fakta bahwa bisnis donat belum begitu populer di Thailand. Sentuhan tangan anak muda membuat Daddy Dough memiliki cita rasa sehat mengikuti perkembangan jaman tidak jadul.

Ketika masuk ke bisnis keluarga bukan mudah. Ketika itu bisnis ayah sudah berbentuk restoran. Dan dia tidak mau tuh menjalankan restoran. Dianggapnya sistem yang sudah ada sudah terlalu mapan. Inilah pula alasan kenapa dia tidak mau melanjutkan usaha keluarga.

Dimarahi jadi pegawai


Tidak mau melanjutkan usaha keluarga. Ia malah bekerja menjadi akun eksekutif di perusahaan software. Ayahnya sempat marah tetapi pasrah. Ketika kebosanan rutinitas kerja datang ke Peter. Dia sendiri malah yang datang kepada ayahnya.

Inspirasi terbesar Peter adalah Roti Boy. Sebuah bisnis berkonsep seperti Krispy Kreme -nya Amerika. Sebuah fenomena waktu itu katika dia ke Bangkok. "Saya ingin membuat kembali fenomena," ia tambah. Demi menghormati ayah maka dia menggunakan resep ayah.

Bisnis dia imajinasikan ternyata lumayan. Uniknya dia membuka satu toko donat kecil diantara restoran sang ayah pada Agustus 2006. Penjualan ternyata bagus loh tetapi masalah ketika membuka cabang ke Siam Paragon di Desember 2007. Butuh waktu sepuluh bulan, akhirnya dia bisa membuka hingga brandnya dikenal.

Ia berkisah banyak orang gagal. Mereka gagal ketika membuka bahkan tempat kecil di mall. Inilah kenapa Peter mendapatkan tentangan dari ayah. Yah tetapi keduanya akhirnya sepakat bekerja sama untuk melaju ke depan. "Kamu tidak benar bisa memisahkan kehidupan pribadi dan bisnis," terang Peter.

Paling tidak dia dan ayah bisa saling jujur. Tidak diam ketika berbisnis hingga saling menyalahkan diakhir. Membuka usaha sendiri justru Peter tidak punya hari libur. Dia bahkan tidak memiliki malam minggu. Jika kamu pekerja kamu bisa lupakan pekerjaan ketika weekend.

"...tetapi saya tidak bisa," jelasnya. Bahkan ketika dia tengah mendorong keranjang belanjaan. Pikiran Peter akan ke perusahaan yang tengah dia rintis. Tetapi dia menganggap itu kenikmatan tersendiri.

Dia cuma keluar seadanya. Istilahnya kita mencari angin ke pantai ketika malam sabtu. "Saya sangat senang akan pekerjaan saya." Keinginan membuat donat kualitas internasional selalu terngiang. Dia bahkan sudah ingat dan fokus siapa pesaing utama mereka, Mr. Doughtnut.

Ia ingin membuat kita kenal produknya. Kunci sukses bisnis Daddy Dough sampai sekarang diantaranya ada di kualitas bahan baku. Peter menggunakan coklat Belgia yang lembut.

Bisnis waralaba


Dia menggunakan toping coklat Belgia. Ini merupakan pertama bagi negara Thailand. Donat miliknya juga tidak memakai lemak trans, yang mana merupakan andalan kebanyakan perusahaan makanan. Total ada 40 varian donat aneka rasa toping. Kualitas coklat merupakan andalan Daddy Dough tidak sekedar rasa.

Dengan resep rahasia, Peter yakin usaha dijalankannya akan semakin besar ke depan. Bahkan dia jaminkan bahwa tidak ada satupun tau resep miliknya. "Ibu dan ayah saya mengarahkan saya untuk menjadi pengusaha sejak kecil," imbuhnya.

Dia sama sekali tidak tau soal waralaba atau franchise. Dia cuma liat keluarganya sukses waralaba. Untuk mencapai tujuan ekspansi maka waralaba menjadi pilihan. Masalah lain, selain kesulitan ekspansi, ialah ia sulit mendapatkan pekerja berkualitas.

Menurut Peter semua orang bisa membuka toko. Tetapi mendapatkan tenaga berkualitas susah. Ini adalah tantangan lain ketika dia sudah menemukan waralaba. Dia bercerita bahwa beruntung sampai awal, mereka sudah mampu membuka lima cabang utama. Tetapi untuk mendapatkan pekerja berkualitas tidak secepat itu.

Butuh waktu bersama membangun bisnis. Tidak memiliki pengalaman menjadi masalah pengusaha muda. Termasuk pengalaman mencari dan menyeleksi pegawai.

Inovasi dari 15 menjadi 40 merupakan cara. Bagaimana Daddy Dough mencoba tetap berekspansi. Jika ia pertama kali menjual donat 15 baht sekarang 28 baht. Jumlah toko naik sampai 30 cabang tersebar. Dia ingat sepuluh tahun lalu: Mereka menjual 300 donat sekarang mencapai 1500 donat setiap harinya.

Berawal dari seorang pengusaha, ayahnya, yang bernama Somchai Thavepholcharoen membuka toko donat di Amerika kemudian di Thailand. Dimana di Thailand, Somchai malah beralih membuka sebuah restoran, daripada membuka toko donat. Dan ketika ayah Peter melihat bisnis donat lokal berkembang menggila.

Ia mengajak Peter melanjutkan bisnis keluarga. Resep donat andalannya kemudian diwariskan kepada sang anak, Peter. Tidak apa- apa kalau bangkrut Peker berpikir. Pengusaha muda tersebut bermodal 5 juta baht lantas memulai usaha donat.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba