Profil Pengusaha Jenahara Nasution
Naninda Jenahara Nasution merupakan putri orang terkenal. Tetapi berbisnis hijab mandiri tanpa dia mendompleng nama ibunya, Ida Royani. Putri dari seorang artis pastilah memiliki jalan. Namun dia memulai dari nol, bahkan harus pontang- panting mengurusi desain dan jahitan.
Ia mengenang bermodal penjahit lepas. Jenahara berharap hijabnya menjadi kenyataan. Bukan cuma berakhir menjadi konsep apalagi gambar kertas. Pengusaha hijab ini kemudian memiliki 20 penjahit lepas, dengan 10 tim produksi dan pemasaran.
Dia kini mampu meraup omzet Rp.300 juta perbulan. Jehan memang putri artis era 80 -an tetapi dia tidak tersorot kamera. Bahkan tiba- tiba namanya bersejajar dengan desainer hijab lainnya. Ia bahkan telah mengikuti beberapa kegiatan peragaan busana.
Meniti Karir dari Nol
Menjadi putri seorang artis dan desainer mungkin akan menurun. Jehan lebih tertarik kepada dunia fashio dibanding kerartisan. Itu sudah terbentuk semenjak masih kecil. Alhasil Jehan tidak mendapat sorotan publik. Dia memutuskan menjadi desainer dengan mengambil pendidikan disana.
Tidak mudah ia membangun nama brand "Jenahara" sendirian. "Aku memang bangun Jenahara dari nol banget, kalau orang tidak tua; dia bilangnya dibantu mama," tuturnya. Dia memakai uang sendiri tanpa sepengetahuan mamanya.
Tiba- tiba dia sudah saja memiliki brand fashion sukses. Bahkan ketika pertama kali meluncurkan ibunya tidak tahu. Bikin brand fashion diam- diam membuatnya nyaman. Ibunya baru tau dari teman- temannya. Jehan meluncurkan pada 2011 dengan konsep sangat lama semenjak 2006.
Namanya sudah ada tetapi dia tidak kunjung meluncurkan. Tahun 2006, perlu kamu ketahui, bisnis hijab belum booming karena orang belum banyak pakai. Dia menundanya hingga konsep dapat nanti diaplikasikan. Orang dulu melihat hijab milik orang tua sekarang sudah semakin bergaya.
Bahkan dia hampir pingsan karena hamil masih bekerja. Bayangkan Jehan harus keliling mengurusi bahan kain. Usia kandungannya masih tujuh bulan benar- benar kecapean. Dia tetap bertahan karena ini passionnya. "Jadi aku enggak pernah berat hati menjalaninya," ia mengenang.
Pengalaman mendebarkan tidak terlupakan ketika meniti karir. Dia hampir pingsan ketika hamil 7 bulan. Kini, brand Jenahara telah dipamerkan keluar negeri, mulai dari Hong Kong, Thailand, dan juga Milan. Ia terus berinovasi agar produknya selalu diminati masyarakat.
Dia bukan sekedar mendesain pakaian tetapi mebutuhkan proses. Jehan sempat bersekolah desain di Sekolah Susan Budiharjo pada 2013. Ada anggapan menjadi desainer merupakan bakat. Seperti dia yang merupakan putri desainer pakaian sekaligus artis.
Dari kecil dirinya memang familiar dengan bisnis fashion. Mulai pagelaran busana sampai mampir ke toko bahan. Ditelisik lebih jauh ternyata sang nenek pemilik bakat ini. Katanya ketika jaman Belanda neneknya adalah penjahit. Meskipun dia berbakat tetap dibutuhkan kerja keras hingga sekarang.
|Membayangkan menjadi penggerak modest wear Indonesia. Namanya dikenal karena telah melewati masa belajar lama.
"Mungkin gift mungkin iya, ada sesuatu yang mengalir dari di saya. Tetapi saya percaya kepada dedikasi dan konsistensi, orang harus bekerja keras, dan tawakal kepada Tuhan percaya bahwa semua ini dapat dikerjakan," Jehan percaya.
Pada periode 2006- 2011, konsep Jenahara Black Label telah dikembangkan, dia hanya butuh waktu yang tepat. Begitu waktunya Jehan juga menginisiasi Hijabers Community Indonesia. Jehan sempat vakum karena menikah dan punya anak. Ia tak takut bila karirnya berhenti ketika memilih berhentti.
Tetapi siapa sangka selepas vakum bisnisnya malah moncer. Dia masuk Jakarta Fashion Week 2018, dan diajak masuk Australia Awards. Dia menjadi juru bicara bagi Indonesia. Semua karena tema dari pakaiannya bahwa perempuan kuat di medan perang.
Ia percaya akan perkembangan modest wear diseluruh dunia. Perubahan positif dia sendiri rasakan ke depannya. Potensi dalam negeri sendiri masih besar dikembangkan di Indonesia. Apapun dikerjakan bertujuan mengharumkan nama Indonesia.
Bicara ciri khas semua mengalir mengikuti kreativitas. Karyanya harus orisinil dan penuh kreativitas. Dulu modest wear dianggap kuno, sekarang menjadi gerakan, dimana mulai diikuti desainer dari manca negera. Desainer berlomba menemukan keotentikan dan identitas setiap karyanya.
Tidak mudah ia membangun nama brand "Jenahara" sendirian. "Aku memang bangun Jenahara dari nol banget, kalau orang tidak tua; dia bilangnya dibantu mama," tuturnya. Dia memakai uang sendiri tanpa sepengetahuan mamanya.
Tiba- tiba dia sudah saja memiliki brand fashion sukses. Bahkan ketika pertama kali meluncurkan ibunya tidak tahu. Bikin brand fashion diam- diam membuatnya nyaman. Ibunya baru tau dari teman- temannya. Jehan meluncurkan pada 2011 dengan konsep sangat lama semenjak 2006.
Namanya sudah ada tetapi dia tidak kunjung meluncurkan. Tahun 2006, perlu kamu ketahui, bisnis hijab belum booming karena orang belum banyak pakai. Dia menundanya hingga konsep dapat nanti diaplikasikan. Orang dulu melihat hijab milik orang tua sekarang sudah semakin bergaya.
Bahkan dia hampir pingsan karena hamil masih bekerja. Bayangkan Jehan harus keliling mengurusi bahan kain. Usia kandungannya masih tujuh bulan benar- benar kecapean. Dia tetap bertahan karena ini passionnya. "Jadi aku enggak pernah berat hati menjalaninya," ia mengenang.
Pengalaman mendebarkan tidak terlupakan ketika meniti karir. Dia hampir pingsan ketika hamil 7 bulan. Kini, brand Jenahara telah dipamerkan keluar negeri, mulai dari Hong Kong, Thailand, dan juga Milan. Ia terus berinovasi agar produknya selalu diminati masyarakat.
Berbisnis dengan Passion
Dia bukan sekedar mendesain pakaian tetapi mebutuhkan proses. Jehan sempat bersekolah desain di Sekolah Susan Budiharjo pada 2013. Ada anggapan menjadi desainer merupakan bakat. Seperti dia yang merupakan putri desainer pakaian sekaligus artis.
Dari kecil dirinya memang familiar dengan bisnis fashion. Mulai pagelaran busana sampai mampir ke toko bahan. Ditelisik lebih jauh ternyata sang nenek pemilik bakat ini. Katanya ketika jaman Belanda neneknya adalah penjahit. Meskipun dia berbakat tetap dibutuhkan kerja keras hingga sekarang.
|Membayangkan menjadi penggerak modest wear Indonesia. Namanya dikenal karena telah melewati masa belajar lama.
"Mungkin gift mungkin iya, ada sesuatu yang mengalir dari di saya. Tetapi saya percaya kepada dedikasi dan konsistensi, orang harus bekerja keras, dan tawakal kepada Tuhan percaya bahwa semua ini dapat dikerjakan," Jehan percaya.
Pada periode 2006- 2011, konsep Jenahara Black Label telah dikembangkan, dia hanya butuh waktu yang tepat. Begitu waktunya Jehan juga menginisiasi Hijabers Community Indonesia. Jehan sempat vakum karena menikah dan punya anak. Ia tak takut bila karirnya berhenti ketika memilih berhentti.
Tetapi siapa sangka selepas vakum bisnisnya malah moncer. Dia masuk Jakarta Fashion Week 2018, dan diajak masuk Australia Awards. Dia menjadi juru bicara bagi Indonesia. Semua karena tema dari pakaiannya bahwa perempuan kuat di medan perang.
Ia percaya akan perkembangan modest wear diseluruh dunia. Perubahan positif dia sendiri rasakan ke depannya. Potensi dalam negeri sendiri masih besar dikembangkan di Indonesia. Apapun dikerjakan bertujuan mengharumkan nama Indonesia.
Bicara ciri khas semua mengalir mengikuti kreativitas. Karyanya harus orisinil dan penuh kreativitas. Dulu modest wear dianggap kuno, sekarang menjadi gerakan, dimana mulai diikuti desainer dari manca negera. Desainer berlomba menemukan keotentikan dan identitas setiap karyanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.