Profil Pengusaha Michael Sampoerna
Michael Sampoerna merupakan putra sulung Putra Sampoerna. Dia ditugasi membaca masa depan bisnis rokok PT. HM Sampoerna. Menduduki jabatan Direktur pada 2000, sekaligus menggantikan sang ayah yang telah pensiun.
Kita pernah membahas kisah Putra Sampoerna dengan tajuk sama. Dimana dikisahkan Philip Morris membeli perusahaan PT. HM. Sampoerna pada 2005 silam. Hasil penjualan kemudia didiversifikasi ke aneka bisnis, mulai dari properti, perkebunan, dan infrastruktur.
Pengusaha muda kaya raya yang memiliki pendidikan mumpuni. Michael tercatat pernah belajar di Millfeld School, Somerset, Inggris. Kemudian dia berkuliah di London School of Economics, yang mengambil bisnis keuangan, sekembalinya pada 1998 langsung berkutat dengan bisnis rokok.
Kebijakan Michael termasuk mengembangkan A Mild. Bersama sang ayah, mereka mengambil fokus rasionalisasi atas kebijakan cukai. Produk A Mild sendiri mengandung nikotin lebih rendah dibanding rokok umum.
A Mild sendiri malah sukses besar walau bernikotin rendah. Produk ini menjadi harapan baru bagi produk keluaran Sampoerna.
Keluar dari bisnis rokok tidak membuat mati kutu. Michael membukitkan mampu menahkodai arah kapalnya. Sang mantan Presider HM Sampoerna sekarang berbisnis kayu. Namanya tersembunyi di balik hiruk pikuk perusahaan lamanya. Dia ternyata tengah membangun kerajaan bisnis baru melalui agrobisnis.
Michael membeli saham 40 persen PT. Sumber Graha Sejahtera, yang bergerak di bidang kehutanan, pengelolaan gedung, perindustrian termasuk pertanian. SGS merupakan pemilik 27,05 persen dari bisnis PT. Sumalindo Lestari Jaya Tbk (SULI), Michael terdengar membeli SGS lewat perusahaan.
Dia membeli melalui Three Six Nine, telah diangkat menjadi Komisaris Utama per- 26 April 2005. Michael mengurusi bisnis perkayuan terpadu. Tidak ada perubahan dari inti bisnis dijalankan oleh Sumalindo. Ia bahkan membuat sumber energi mandiri demi mengurangi biaya produksi.
Michael juga tertarik membeli saham miliki Kiani Kertas lewat Bank Mandiri. Namun rencananya ini dikatakan gagal karena kebuntuan negosiasi.
Michael membeli saham 40 persen PT. Sumber Graha Sejahtera, yang bergerak di bidang kehutanan, pengelolaan gedung, perindustrian termasuk pertanian. SGS merupakan pemilik 27,05 persen dari bisnis PT. Sumalindo Lestari Jaya Tbk (SULI), Michael terdengar membeli SGS lewat perusahaan.
Dia membeli melalui Three Six Nine, telah diangkat menjadi Komisaris Utama per- 26 April 2005. Michael mengurusi bisnis perkayuan terpadu. Tidak ada perubahan dari inti bisnis dijalankan oleh Sumalindo. Ia bahkan membuat sumber energi mandiri demi mengurangi biaya produksi.
Michael juga tertarik membeli saham miliki Kiani Kertas lewat Bank Mandiri. Namun rencananya ini dikatakan gagal karena kebuntuan negosiasi.