Mantan Loper Koran Sukses Wirausaha Ratusan Juta

Profil Pengusaha Andika Rama Lubis


mantan loper koran sukses
 
Memilih wirausah banyak dia korbankan. Mantan loper koran di Amerika Serikat ini, melakukan aksi nekat membangun perusahaan dekorasi yang tak jelas. Pasalnya dia tidak memiliki pengalaman dan mana bisa bisnis begini menghasilkan.

Andika Rama Lubis menjual dekorasi melalui usaha bernama Eprodeco. Mungkin karena Andika memiliki cita rasa dan daya seni. Usahanya dilirik pengelola mal besar sepanjang Kota Jakarta. Klien usaha Andika mulai dari mall Plaza Indonesia, dan brand terkenal seperti Panasonic dan XL Axiata.

Andika kecil sudah diajari harus bekerja keras bila mau sesuatu. Menginginkan sesuatu berarti dia harus bekerja keras mendapatkannya. "Kalau mau mainan, saya harus beli sendiri dari hasil tabungan, ditambah uang ayah sedikit," kenang Andika.

Perjuangan Mantan Loper Koran


Pengusaha sukses kelahiran Kinabalu, 18 September 1974, bekerja keras dari kecil sampa dewasa. Ia juga menjadi saksi ayahnya bangkrut pada krisis 98. Usaha desain interior ayahnya bangkrut, berarti Andika harus mencari uang sendiri. Dia pontang- panting mencari uang biaya kuliah.

Ia bekerja serabutan mencari uang sendiri. Untung, tiba- tiba Citibank menawarkan program kartu kredit mahasiswa. Tugasnya menjadi agen penjualan kartu kredit. Keuntungan lumayan buat nambah uang kuliah.

Disela- sela kehidupan keras masih tersimpan mimpi. Ia memiliki sifat tidak mudah menyerah hingga terwujud. Lulus kuliah, Andika bekerja di suatu perusahaan, namun tidak bertahan lama. Kemudian ia nekat berangkat Amerika demi berkuliah kembali.

Uang minim tidak membuatnya takut belajar pengalaman keluar negeri. Dia meminjam uang Rp.10 juta dari neneknya untuk tiket. Terbanglah sang pengusaha meskipun situasi tengah genting. Tepat di pristiwa WTC 11/9, pesawatnya terbang sampai ke Negeri Paman Sam dan lolos pembatasan visa.

Beruntung dia lolos administrasi masuk ke Amerika tanpa kendala. Pamannya memberi uang $100 sebagai uang jalan. Dia sangat berhati- hati, sampai- sampai tak makan ketika transit Singapura dan Jepang. Andika tinggal di rumah tantenya atau menumpang hidup selama kuliah.

Artinya dia tidak berani meminta uang bila memenuhi kebutuhan. Itu berarti Andika diharuskan kerja mencari uang sendiri. Ia memutuskan menjadi loper koran. Pekerjaan paling mudah didapatkan bila kamu pindah kesana.

Beruntung ada outlet koran dekat rumah tantenya memberi peluang. Buat mengantar koran, Andika meminjam mobil tantenya, upahnya lumayan sampai terkumpul $1.500 dua minggu. Ini bahkan bisa dipakai mengganting uang nenek dalam dua bulan.

Dika beruntung menemukan orang- orang baik. Ada warga China- Amerika meminjamkan ID -nya selama visa belum keluar. Dia bisa gunakan itu selama bekerja sambilan. Singkat cerita, Dika bisa mendapatkan visa pelajar, yang digunakan mendaftar Universitas swasta jurusan manajemen bisnis.

Sembari berkuliah, dia bekerja menjadi penjaga toko, mulai dari jam 16:00 sampai 22:00. Tidurnya cuma dua jam karena pukul 24:00- 06:00 mengantar koran. Dika melanjutkan kuliah pukul 07:00- 13:00. "Saya melakukan (tidur dua jam) rutinitas itu selama empat tahun," ia menjelaskan.

Tahun 2003, datanglah kabar duka dari Indonesia, ayahnya meninggal dunia karena sakit. Ibunya meminta Dika kembali pulang. Ia wajib menggantikan ayahnya menjadi tulang punggung. Dengan berat hati, dia harus meninggalkan kuliah harus kembali pulang.

Sukses Wirausaha pertamanya gampang yakni event organizer dan creative design. Dika mengajak teman dimana membukukan omzet Rp.2 miliar. Tampak mudah membangun bisnis, sayangnya, Dika harus berhadapan konflik internal sampai memutuskan keluar.

Dika tetap semangat hingga meminjam uang istri. Dia bersama istrinya, Rany Fauziah Pospos, yang bersama menggunakan tabungan keluarga. Mereka bekerja sama membuat usaha tandingan. Wanita yang dinikahinya 2005 ini, ikut membantu mendirikan usaha bernama Andrafa Abiatama.

Bertahap Dika mendapatkan proyek termasuk hitungan besar. Pertama ia mendapatkan proyek dari perusahaan Panasonic. Mereka diminta menyediakan aneka marchendise dan produk printing. Dika juga mengambil proyek dekorasi mall dan interior apartemen.

Sejumlah apartemen di Jakarta pernah mendapat sentuhan perusahaanya. Dia juga pernah mendapat tawaran dekorasi acara sirkus. Nilai proyek sirkus ini sampai Rp.700 juta yang nanti akan dinaiki gajah. PT. Andrafa Abiatama memiliki ratusan klien dan mayorita proyek peluncuran produk.

Biografi Bill Gates Awal Mula Microsoft Bisnis Legenda

Biografi Pengusaha Bill Gates


biografi bill gates
 
Microsoft bisnis legenda karena mampu mendominasi. Dalam biografi Bill Gates ternyata dibutuhkan waktu membangun ini. Tidak serta merta Gates menemukan software sejuta umat. Pada masanya itu banyak operating system tumbuh- berguguran.

Cerita dimulai berikut asal usul Bill Gates melegenda. Dia anak ke empat dari pasangan William H. Gates. Sr dan Mary Maxwell Gates. Nama panjang Bill Gates sama dengan ayahnya, yakni William Henry Gates. Uniknya dia merupakan pemilik nama sama ke empat tetapi memiliki imbuhan III.

Namanya William Henry Gates III padahal pemilik nama ke empat. Gates kecil merupakan kelahiran Seattle, Washington, 28 Oktober 1955. Gates memiliki darah keturunan campuran Inggris, Jerman, dan Iris Skotlandia.

Karir Bill Gates


Ayahnya merupakan pengacara hebat dan ibunya direktur di First Interstate Bancsytem dan United Way of America. Gates punya kakak perempuan Kristie (Kristianne) dan adik perempuan Libby. Ia ketika masih kecil bertumbuh kecil dan kurus.

Gates menjadi target bullying tetapi dia tidak pernah sibuk melawan. Didikan orang tua lebih ke arah kompetisi ketimbang kekerasan. Mereka menyarankan main bola atau berenang. Pemenanglah yang akan mendapatkan pujian hingga hadiahnya.

Umur 13 tahun, dia bersekolah di Lakeside Prep School, yang mana Gates mulai membuat program komputer. Disaat itu tengah ramai mesin Teletype Model 33 ASR terminal, dan komputer blok yang dijual General Electrics.

Gates tertarik memprograming BASIC program milik komputer dari General Electric itu. Bahkan dia rela bolos pelajaran matematika untuk ini. Ia kemudian membuat program berbahasa pemrograman awal ini. Uniknya dia membuat game tik- tak- toe untuk melawan komputer, bukan hal berguna.

Gates sangat tertarik akan bahasa pemrograman ini. Dia selalu ingin tau apa membuatnya bekerja. Itu semua berubah ketika pengedaan mesin dan komputer itu berhenti. Sekolah tidak lagi mendapatkan dana untuk pembelajaran. Gates mulai melirik komputer lain bernama DEC PDP minicomputer.

Operasi sistemnya PDP- 10 miliki Computer Center Corporation (CCC). Gates pun mengajak teman untuk bisa mengelola itu. Mereka antara lain Paule Allen, Ric Weiland, dan Kent Evans. Dimana empat orang ini menemukan kelemahan sistem hingga dihadiahi komputer gratis.

Mereka membangun klub sekolah bernama Lakeside Club. Tujuannya menghasilkan uang melalui dunia komputer. Empat sekawan ini sering sekali mengutak- atik komputer milik CCC. Tujuannya biar mendapatkan hadiah komputer gratis.

Gates senang mempelajari sistem milik CCC bahkan pergi langsung. Daripada sibuk mengirim surat via teleprinter (seperti telegram), Gates remaja lebih memilih datang sendiri ke dalam gudang. Dia pun mengutak- atik komputernya langsung mencari bug atau kecacatan sistem.

Gates nampak mencari untung tidak puas cuma satu. Di sana, dia belajar sistem lain dari Fortan, Lisp, dan bahasa mesin lain. Dia juga mengajukan kerja sama jadi tidak sekedar mampir ya. Belajar sambil berbisnis Gates untung besa, sampai perusahaan ini tutup di 1970.

Guru Leakside melihat anak didiknya memiliki bakat dalam komputer. Tetapi dia juga melihat sisi komersil dimata Gates remaja. Alhasil dia lebih memilih Gates dan Kent Evans ikut school- class scheduling system. Dimana mereka diberikan waktu membantu komputer sekolah dan diupah pula.

Keduanya bekerja keras agar programnya dapat dipakai di tahun senior. Diakhir masa juniornya, tiba- tiba terdengar kabar buruk bahwa Evans meninggal, dia terjatuh ketika mendaki gunung. Pristiwa tersedih Gates ketika bersekolah, apalagi keduanya tengah menyiapkan komputer di tahun senior.

Paul Allen lalu membantu Gates menyelesaikan tugas tersebut. Umur 17 tahun, ia tumbuh dan mulai serius berbisnis, dan ia kemudian mengajak Allen mendirikan Traf-O-Data. Bisnisnya ini mengenai Gates membuat sistem pembaca data mentah dari mesin penghitung trafik jalan.

Tarf-O-Data berbisnis berdasarkan kemampuan membaca Intel 8008. Tahun 1973 musim semi, Gates mendapatkan nilai test SAT 1590 dari 1600, nilainya sangat tinggi hingga layak masuk ke Harvard Collage. Dia mendapatkan beasiswa masuk untuk sekolah persiapan masuk Harvard University itu.

Awal dia nampak mengikuti harapan orang tua masuk jurusan hukum. Namun dia memilih masuk ke matematika dan ilmu komputer. Di Harvard inilah, dia bertemu sosok Steve Ballmer, yang mana dia dua tahun berjalan malah drop out.

Ballmer sendiri tinggal dan meneruskan magna cum laude. Tahun 2000, Ballmer menjadi CEO dari Microsoft ketika Gates mundur sampai 2014.

Merintis Bisnis Microsoft


Awal mula Microsoft tidak akan terjadi tanpa Traf-O-Data. Perusahaan kecil yang didirikan oleh dua pria bernama Bill Gates dan Paul Allen. Keduanya sama- sama terobsesi akan sistem komputer masa tersebut.

Umur mereka terpaut sedikit, dimana Allen kelas 10, dan sedangkan Gates kelas 8 di Leakside. Allen menjadi bagiam tim pertemanan Gates. Mereka mengolah terminal komputer yang langka, bahkan bisa disebut barang mewah.

Keduanya membedah bersama program komputer bikinan perusahaan komputer. Pada musim panas, ketika masih sekolah menengah, Gates tengah bekerja sambilan mengukur mesin trafik jalan. Dia menghitung pola hitungan kendaraan roda empat bersensor.

Kendaraan roda empat dan lain- lain akan melewati tabung karet bersensor. Setiap 15 menit, maka si mesin akan membuat lubang berpola dalam lembaran kertas. Disini dia akan menghitung berapa jumlah kendaraan lewat.

Sayangnya, kertas ini dibaca manual maka ditulis pula catatan manualnya, inilah mengapa mesin ini tidak efisien. "Prosesnya monoton, tidak efisien, dan membunuh mata," ucap Allen menjelaskan. Ia sepakat dengan Gates bahwa semua dapat dirubah lebih efisien.

Gates berumur 17 tahun sedangkan Allen umur 19 tahun. Keduanya lantas mempekerjakan anak- anak lebih muda. Mereka murid di Leakside yang dipekerjakan mengumpulkan kertas itu. Tiap kertas berlubang akan dimasukan dalam komputer.

Mereka akan diberi upah perkertas mereka masukan ke sistem komputer. Gates dan Allen memberi upah 5 sen perkertas. Hingga, datanglah orang ke tiga, yang membantu membangun mesin otomatis pembaca. Mereka mulai mengumpulkan uang sampai $360 atau setara $2.300 sekarang.

Uang yang akan dibelikan microprossesor 8008 untuk mesin Traf-O-Data. Mesin akan menganalisa data dari kertas data dari Departemen Jalan Washington. Bisnis mereka berkembang sampai bisa ke daerah lain.

Traf-O-Data mematok tarif $2 untuk pengumpulan data di berbagai daerah, termasuk di dekat Seattle dan British Columbia. Allen menulis ini dalam bukunnya, "dalam siraman pertama entrepreneurship, kami memilki mimpi muluk tentang uang mengalir datang."

Bisnis ini berjalan bahkan setelah mereka lulus sekolah menengah. Traf-O-Data bahkan memiliki sejumlah pegawai. Baik Gates dan Allen lebih fokus mengerjakan kuliah di Harvard. Tetapi waktu berlalu, bisnis ini tak lagi cocok, dimana pemerintah telah menyediakan layanan sejenis gratis.

Bisnis Traf-O-Data katanya mengumpulkan $20.000. Uang tersebut dijadikan modal mendirikan bisnis Microsoft. Banyak masalah kenapa bisnis Traf-O-Data gagal. Pertama Allen meyakini bahwa mereka tidak meneliti pasar. Mereka tidak mampu menghitung pengeluaran perusahaan masa depan.

Atau, keduanya tidak melihat bahwa pemerintah ragu membeli dari anak sekolahan. Mungkin bisnis ini memang sangat terbatas. Tetapi ini menjadi landasan pertama Microsoft membuat produk. Ini menjadi jalan Gates dan Allen belajar mengenai gunannya microprossesor masa depan.

Bila bukan karena mencoba berbisnis ini maka selamanya mereka sama. Gates dan Allen hanya akan  menjadi siswa dan mahasiswa. "Dalam pengalaman ku, setiap kegagalan memiliki bibit sukses di masa depan - bila kamu mau belajar darinya," tutur Allen.

Keduanya sepakat bahwa masa depan bukan dalam hardware. Sementara Steve Jobs tengah disibukan mendirikan Apple computer. Baik Gates dan Allen percaya bukan masalah komputer di dalam mesin trafik.

Tahun 1975, terbitlah MITS Altair 8800 didasarkan Intel 8080 CPU, ini komputer berbentuk yang pertama untuk personal. Inilah yang membuat Gates dan Allen kembali bersamangat. Bayangan mereka akan membuat komputer sendiri dan menjualnya.

Bertahap pandangan mereka berubah berjualan software sendiri. Pasalnya sekawan ini melihat bahwa komputer banyak kelemahan. Bisnis membuat komputer pribadi pun tengah naik daun. Jadi mereka memilih berbisnis software pendukung saja. Gates drop out dari Harvard di tahun 1975.

Dimana kedua orang tuanya mendukung anaknya untuk keluar. Mereka melihat mata anaknya sangat bersemangat berbisnis komputer. Tetapi ternyata, Gates tidak resmi keluar, dan berkata, "Bila semua tidak bekerja semestinya, saya selalu bisa kembali sekolah. Saya resminya tengah pergi (cuti)."

Pada Januari 1975, majalah Popular Ellectronics menampilkan Altair 8800, dan Gates segera saja menghubungi pembuatnya Micro Instrumentation and Telementary System (MITS). Ia dengan sangat percaya diri mengaku sudah membuat sistem BASIC khusus.

Sistem tersebut dirancangnya demi mengembangkan Altair 8800 itu. Gates pun meminta bertemu si pengurus MITS di Albuquerque, Ed Roberts. Padahal Gates tidak pernah membuat apapun hanya mau mendapatkan perhatian.

Operating System Sendiri


Hasilnya Gates dan Allen dipanggil datang pihak MITS tersebut. Mereka diharuskan menunjukan satu demo. Dia dan Allen mulai mengotak- atik pemrograman BASIC. Gates membuat kertas memori yang akan digunakan. Programnya mirip apa dalam teletype berbentuk kertas panjang melingkar.

Mereka terheran- heran karena berhasil membuat program. Bahkan beberapa kali sistem dimasukan berhasil. Bahasa pemrograman mesin Altair memang sulit. Untung pengelaman mengerjakan proyek trafik memiliki microprosessor sama dengan Altair.

Ed sendiri mengakui bahwa sistemnya belum lengkap. Gates dan Allen datang melengkapi sistem itu dalam BASIC. Allen terbang ke Albuquerque, New Mexico, pada Maret 1975 dan mencoba sistem mereka. Pengetahuan tentang BASIC berkat pengalaman mereka mengerjakan sensor trafik.

Allen tampil tidak meyakinkan. Gates menelephon Ed seolah mereka merupakan perusahaan hebat. Tampilan Allen sederhana tetapi lebih meyakinkan dibanding sang patner. Ketika Ed Roberst tertarik dengan cerita mereka. Namun dia tidak yakin akan kemampuan Allen menyelesaikan masalah.

Mesin Atari Basic sering mengalami crash, itu karena penerjemah BASIC nya kurang komplit. Inilah tugas keduanya melengkapi sistemnya. Sistem Atari Basic sendiri masih dalam percobaan. Dan Allen meminta sedikit waktu tambahan sebelum menunjukan kerja mereka.

Alhasil Ed dan Allen harus menginap di hotel dimana perbedaan mereka mencolok. Dimana Ed bisa menyewa kamar lebih mahal dibanding Allen. Ed membayar $40 lebih mahal. Ketika ia mulai masuk ke kamarnya, dirinya terheran- heran mengenai kemampuan si Allen ini.

Ed mengangkat Allen menjadi Vide President dan Director of Software di MITS. Lantas bagaimana nasib otak dibalik pristiwa ini. Gates malah dipekerjakan sebagai pegawai biasa. Statusnya malah cuma Software Specialist; tidak masalah keduanya telah masuk.

Gates masih di Harvard sembari mengerjakan BASIC. Sekolah keras kepada siswanya yang mencoba membuat produk komersil. Bahkan mereka memberikan waktu berbayar kepadanya. Di 22 Juli, dia dan Allen mendapatkan kontrak Altair Basic dimana sangat menguntungkan.

Kontrak berisi $3000 uang tanda tangan dan lisensi atas program BASIC -nya. Total Gates dan Allen mampu mengantongi $180.000. Sementara MITS menerima lisensi global atas penjualan di seluiruh dunia selama 10 tahun.

MITS juga punya hak menawarkan program ke perusahaan lain. Keuntungan membeli Altair Basic terletak dalam paket pemrogramannya. Dimana pembeli menerima komputer, memorinya, dan juga layarnya seharga $75 dibanding terpisah $500.

Personal komputer masa itu masih seperti kotak permainan. Penggunanya orang tertentu yang tentu memiliki uang. Para penghobi tergila- gila dengan Altair karena lengkap. Anehnya Ed Roberts tidak melisensi 8080 BASIC nya dipakai perusahaan lain.

Alhasil Micro- Soft menjual software BASIC tersebut tanpa komputer. Tepatnya di 1977, MITS dan Micro- Soft bertarung di meja hijau. Ya MITS hanya memiliki hal lisensi global hardware, namun isinya bebas diperjual belikan perusahaan Micro- Soft ini.

Mengapa Ed tidak kepikiran melisensi terpisah softwarenya. Karena baik Gates dan Allen tercatat jadi pegawai perusahaanya. Ia pun merasa bahwa secara otomatis itu merupakan miliknya.

Ketika kerja sama mereka berakhir maka lahirlah Microsoft. Alkisah IBM merupakan terdepan dalam peralatan. Mereka memproduksi banyak hardware termasuk komputer. Kali ini, IBM tengah fokus menggarap personal komputer berbasis BASIC, dan mereka mencoba meminta "tolong" ke Gates ini.

Bill Gates lantas menyarankan perusahaan Digital Research (DRI), yang memiliki sistem terkenal CP/M. Namun mereka tidak menemukan titik temu lisensi. IBM kembali bertanya apakah Microsoft bisa membuatkan operation system.

Gates sendiri baru mampu mengolah program dalam opertion system tersedia. Sementara Gates tidak mempunya operation system sendiri. Beberapa minggu kemudian, Gates menemukan ide cemerlang membeli operation system orang, dan mencoba mengeditnya menjadi milik mereka.

Maka dia mendatangi Tim Peterson pemilik Seattle Computer Products (SCP). Padahal nih, operating system buata mereka untuk produk sejenis PC, tetapi bukan. Microsoft mampu membeli lisensinya penuh untuk 86- DOS.

Bahkan Gates mempekerjakan Tim untuk mencocokan ke personal computer. Mereka lantas menjual itu menjadi PC DOS senilai $50.000 sekali seumur hidup. Memang Microsoft cuma mendapatkan sedikit uang upah, tetapi mereka mendapatkan nama dengan dipakai perusahaan besaer sekelas IBM.

Inilah cikal- bakal Microsoft dari jualan program menjadi operating system pula. Kerja sama antara IBM dan Microsoft berlanjut. Dimana Microsoft cuma jualan software bukan hardware. Sementara IBM fokus mengerjakan produk- produk keras komputer personal.

Lahirlah produk terkenal bernama Microsoft Windows pada 20 November 1985. IBM sendiri malah meminta Microsoft membuat satu operating system khusus, OS/2. Kamu mungkin pernah mendengar pertarungan Microsoft vs Apple.

Ceritanya Microsoft merupakan pengembang Machintosh. Bahkan mendapatkan prototipe dahulu, dan hak membuatkan isisnya. Maka lahirlah SAND atau Steve's Amazing New Device. Gates pernah menyarankan John Sculley, CEO Apple, untuk melisensi semua software bahkan memorinya.

Dia beranggapan bahwa Machintosh adalah standar bagi bisnis komputer. Butuh semua aspek untuk dilisensi melihat perkembangan perusahaan komputer lain. Pandangan ini datang dua tahun setelah Gates membuat Interface Manager, yang dibrand Windows tetapi tidak laku.

Pandangan Gates karena IBM memilik modal dan banyak ahli teknologi. Namun ternyata "ditolak" oleh Jean Louise Gassee. Pihak Apple mulai melihat Gates pengganggu dan punya niat buruk. Gates dianggap sekedar penjual software dan memiliki kedekatan dengan IBM (pesaing utama mereka).

Tawaran bantuan Gates melisensi Machintosh terbaru ditolak. Windows semakin agrersif untuk lebih mengembangkan interface mereka. Gates memilih fokus mengerjakan Windows, dan Apple mulai mengembangkan LISA, yang malah digadang menyaingi Machintosh sendiri.

Windows semakin maju dan mulai dijual. Apple mampu meraup untung $1 miliar dollar, sedangkan Micosoft cuma $25 juta. Gassee melihat produk ini tidak mengancam. Bahkan yakin Machintosh lengkap, dari sofware dan hardware tidak dapat terpisahkan dan disamai 10 tahun ke deepan.

Namun beda dengan Scullen, dimatanya semua nampak mirip Machintosh, dari special menu yang berisi ukuran memori. Bahkan software dasarnya untuk menulis dan menggambar mirip. Microsoft memiliki prototipe awal Machintosh berupa Word dan MultiPlan, yang tentu sudah ketinggalan.

Tetapi Scullen tidak rela Microsoft meniru walau ini merupakan tiruan prototipe. Scullen coba untuk masuk ke jalur hukum. Namun Gates mempunya pemikiran, bahwa Windows telah dahulu dibuat sebelum Machintosh, dan sudah ada buktinya.

Walau dibuat dari bahan prototipe Gates lebih kreatif. Termasuk bundle terpisah bernama Microsoft Office. Inilah daya tawarnya kepada Sculley dan Machintosh. Apalagi produk Mac tengah naik daun dan ditangan Microsoft.

Gates pun mengancam berhenti mendukung pengembangan Mac di masa depan. Walau Apple punya produk komputer lain kalah dari Mac. Gates menawarkan Office termasuk Excel. Apple pun rela memberikan lisensi interface, dengan janji Microsoft akan mendukung Mac kedepan.

Siapa sangka malah penjualan software lebih diminati ke depan. Dalam film "Pirates of the Silicon Valley" dikatakan bahwa keduanya "terinpirasi" teknologi Xerox. Apple dan Microsoft sama- sama mengambil dari sana. Bedanya Microsoft memilih menjual s

Resep Donat Kampung Membawa Berkah Pengusaha

Biografi Rosidah Widya Utami 

 
jualan donat kampung sukses

Berkah pengusaha Rosidah Widya Utami, ibu satu yang memiliki satu hobi tidak bisa ditinggalkan. Ibu ini memang hobi memasak terutama roti. Ini rahasia resep donat kampung yang membawanya menjadi pengusaha sukses.

Bagi wanita yang juga lulusan administrasi Universitas Brawijaya ini, meski bekerja sebagai tenaga administrasi, memasak tetaplah menjadi pilihan mengisi hari- harinya.Suatu hari Rosidah bahkan rela melepaskan pekerjaan demi memasak.

Demi agar dia bisa memenuhi rasa cintanya terhadap masak memasak. Rosidah membulatkan tekat membuka sebuah usaha kecil aneka makanan juga kue. Tahun 2001, Rosidah bermodal Rp.100.000 memulai bisnis aneka masakan dan kue di rumahnya.

Setelah beberapa bulan berjalan, Rosidah merasa lebih baik fokus pada satu olahan. Ia pun memilih kue donat karena itu dianggap banyak digemari masyarakat umum. Bisnis ini dijalankan melalui rumahnya di wilayah Jombang, Jawa Timur.

Donat tersebut kemudian diberi nama Dona Kampung Utami (DKU).

Apa Resep Donat Kampung


Karena dipasarkan di wilayah "kampung", makalah tak salah jika harganya pun harus disesuaikan. Rosidah saat itu mematok harga Rp.500 per- buah, murah bukan? "Saya pilih donat karena banyak yang suka," katanya. Dia merintis bisnis bermodal peralatan seadanya.

Namun, kualitas tetap jadi nomor satu bagi bisnisnya meski cuma donat kampung. Untuk mengaduk donat sekala industri dibutuhkan mixer besar. Rosidah sanggup menggunakan mixer ukuran biasa.

"Peralatan saya minim. Dibawah standar pabrik kue. Tapi itu tidak menyurutkan langkah saya," tegasnya.

Dia dibantu oleh seorang pegawai saban hari mengerjakan ratusan kue. Rosidah memulai dengan menjajakan donatnya ke sekolah- sekolah. Karena harganya murah namun terjaga kualitasnya jadilah bisnisnya berjalan lancar.

Agar produknya semakin dikenal ia pun mulai rajin mendatangi pameran produk olahan. Rosidah pastilah menjadi pertama ketika acara wairausahawan diselenggarakan di Jawa Timur. Tidak mau berhenti promosi, sebagai seseorang melek teknologi, bisnisnya mulai masuk ke dunia internet.

Dia bermodal blog pribadi berjudul Donat Kampung Utami. Saban hari dirinya tak lupa menuliskan aktifitas bisnis melalui blog tersebut. Melalui blog pribadinya banyak pesanan berdatangan. Di tahun 2008, seorang investor asal Malaysia tertarik buat membeli resep donat miliknya.

Bahkan ia diundang langsung ke negaranya. Sang inverstor Malaysia tersebut kemudian membuka bisnisnya sendiri. Dia membuka gerai donat di Penang, Malaysia, bernama Nash Donut. Kini Nash Donut memilik empat gerai disana.

Hasil dari bisnisnya sendiri ditambah pendapatan royalti itu bisa dibilang lumayan. Rosidah lalu menggunakan uang tersebut sebagai modal gerai donat di kawasan Jombang, Jawa Timur. Pada 2009, ia membuka gerai donat bernama Roshberry Donuts and Coffee di Jombang.

Selain resep, pengusaha negeri Jiran tersebut juga ikut membeli tepung donat tersebut dari Rosidah langsung. Jadilah usaha lainnya yaitu berjualan tepung donat juga sampai ke Malaysia.

Dia menjual tepung- tepung itu seharga Rp.50.000-Rp.200.000 per 1,5 kilogram. Belajar melalui sang mitra di Malaysia bahwa bisnis butuh marketing agar usahanya berkembang. Rosidah mulai membenahi sistem pemasaran dan operasional bisnisnya.

"Melihat di Malaysia, donat saya bisa dipasarkan dengan baik, saya mulai fokus membenahi menejemen," ujar dia.

Dengan membuka gerai donat sendiri makan donatnya akan mendapatkan penghargaan di mata masyarakat. Ia pun tak segan untuk menaikan donatnya menjadi harga premium yaitu Rp.4000. Logo produknya diubah dengan standar lebih baik.

Rosidah mulai mengiklankan donatnya di berbagai media internet seperti melalui Facebook dan Google. Pelanggan donatnya tidak hanya di Jombang tapi merata di pulau Jawa, Sumatra, hingga Kalimantan, dan itu juga berkat teknologi internet tentunya.

Selama 11 tahun mengendalikan usahanya, ia telah merubah arah bisnis ini dari kampung menjadi grup usaha. DKU mulai membuka berbagai usaha selain tetap fokus pada intinya yaitu usaha donat. Ia merambah dunia restoran mendirikan rumah makan Sari Rasa di Jombang.

Usaha lain ada empat bisnis berbeda, bahkan dua bisnisnya tak terkait sama sekali dengan dunia kuliner. Ia membuka bisnis jasa hosting website dan juga masuk bisnis fasion.

Untuk dua bisnis lainnya, DKU membawahi DKU Cookies, bagian usaha lain yang memproduksi pembuatan aneka kue salain donat. Rosidah kemudian membuka produk- produk olahan khas asli Jombang. 

Melalui bisnis kue keringanya saja telah memiliki omzet Rp.500 jutaan tiap bulan puasa atau lebaran. Selama 8 tahun Donat Kampoeng Utami (DKU) di tahun 2008 resmi berubah nama DKU Donuts & Coffee Indonesia, dan informasinya menyebar ke seluruh Indonesia.

Melalui berita di media massa dan tv, perusahaan milik Rosidah ini telah memiliki peran strategis dalam menaikkan image bisnis kuliner, khususnya bidang donat dan kopi berkualitas internasional di Indonesia, dimana dikuasai merek waralaba asing. 

Bersamaan informasi tersebut, Rosidah W. Utami selaku sang CEO, menjadi dikenal sebagai satu- satunya pakar resep tepung donat. Tahun 2008, perusahaannya telah 8 tahun mengikuti ujicoba resep donat bertaraf internasional.

DKU Donuts & Coffee Indonesia telah menjalin kerjasama dan memperluas aplikasi resepnya di kawasan Asia. Di luar negeri seperti Malaysia, resep donat premium DKU telah menjadi pemain resep utama memiliki reputasi baik buat donat kualitas premium yang lantas dikemas berbentu kafe bertaraf internasional memiliki investasi milyaran rupiah.

Pada 2010, DKU resmi membuka kesempatan waralaba, untuk membangun, dan mengguritakan bisnis donuts & bakery di dalam negeri. Tak perlu investasi terlalu tinggi hingga milyaran rupiah, kita cuma minimum modal waralaba senilai Rp 50 juta.

Waralaba donat berkonsep kafe modern ia tawarkan, berbentuk tempat nyantai, nongkrong, serta asik ngobrol bagi para masyarakat yang menyukai gaya hidup dinamis, bahkan dilengkapi fasilitas hotspot loh - free wifi zone istilahnya.

Inilah kisah donat kampungan sukses merambah kota berkat dukungan media masa dan sosial media di internet. Semoga resep donat kampung membawa berkah buat kita pengusaha pemula.

Kantor pusat:

Roshberry Cafe, BMart Swalayan Lantai 2 Jombang,
Jl. Merdeka 159-B Jombang, Jawa Timur
Telepon : (0321) 855339
Email / Facebook : roshberrydonuts@yahoo.com

Kontak person pemilik dan marketing

Rosidah W. Utami / Choirul Anwar
Alamat : Griya Indah AA-2 Jombang, Jawa Timur
Telepon : (0321) 864285 / 3374186
Hotline : 0858.5035.8188
Email / Facebook : rosidahwidya.utami@yahoo.co.id

Berkebun Sayuran Organik Kerja Sambilan Pegawai Negeri

Profil Pengusaha Dian Meidianti


kerja sambilan pegawai negeri

Tidak sedikit masyarakat urban mencoba berkebun sayuran organik. Kerja sambilan menguntungkan dan tidak menguras energi. Begitu pulang bekerja langsung ganti seragam harian. Ia, Diah Meidianti sangat mendalami profesi barunya sebagai usahawan selain pegawai negeri.

Dia langsung berganti kostum kaos dan celana hitam. Perempuan yang biasa dipanggil Mei, yang meluncur di Taman Galaksi, tepat dipinggiran Jakarta. Di perumahaan tersebut ia tampat tengah sibuk mengangkut sayuran.

Mei mengelola perkebunan kecil. Itu bukanlah rumahnya melainkan lahan kosong. Luasnya 3.500 meter persegi dan ditanami sayuran semusim. Nampak aneh memang karena disekitarnya menjulang tembok- tembok rumah. Tanah kecil tersebut nampak nyempil diantara padatnya perumahan elit itu.

Taman Galaksi memang banyak diminati orang. Alih- alih Mei membangun rumah, malah dibuatnya menanam sayuran. Lahan terjepit yang memang disengaja dijadikannya kebun. Lahan kosong yang disewa Rp.1,5 juta pertahun pada 2006.

Lulusan Insitut Pertanian Bogor yang tidak mau berdiam diri. Usahawan yang memilih menjalakan ilmunya ketimbang dilupakan. Ia secara tekun menanam 10 jenis sayuran bergiliran menurut musim. Dia tengah menanam kangsung, selada, bayam merah, kacang panjang dan terung.

"Saya sengaja memilih sayuran berumur pendek, agar cepat panen," tips Mei.

Mei memang senang berkebun. Sampai- sampai ia mengikuti pelatihan ketika di Nakhonratchasima, Thailand, selama 4 bulan penuh. Dia belajar menanam pakcoy, mentimun, dan pare. Sayur- mayur itu ditanam dalam guludan atau bedeng.

Ada 280 guludan dengan luas masing- masing 1,2 x 10 m. Ini menghasilkan 300 kg panen perbulan dengan berbagai jenis, dari kangkung caisim, bayam, pakcoy, dan bayam merah. Sisanya 240 kg yang menghasilkan kacang panjang, mentimun, daun gingseng, terung ungu, dan pare.

Kerja sambilang menguntungkan inilah wirausaha. Walau dilihat sepele, namun dia mempu menjual itu semua sampai habis. Pasalnya wanita kelahiran Surabaya, 27 Mei 1963 ini, memiliki dasar kuat mengenai teknik menanam organik.

Mei menggunakan pupuk non- kimia yang menghasilkan panen bermutu tinggi. Semua sayuran itu dipasarkan ke pasar swalayan di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Harganya murah Rp.6000- 700 perkg. Namun karena dia memproduksi banyak maka omzet mencapai Rp.17 juta perbulan.

Dikurangi biaya produksi, pupuk, dan tenaga pendukung masih sisa. Ia mampu mengantongi untung bersih sekitar Rp.7 jutaan. Itu sudah termasuk sewa tanah bila tidak akan mencapai Rp.10 jutaan. Ini sangat tinggi mengingat hanya kerja sambilan pegawai negeri.

Pengusaha Sukses Timothy Tendiokusuma Investasi

Profil Pengusaha Timothy Tandiokusuma


sukses investasi

Menjadi pengusaha sukses merupakan harapan kita pemula. Kalau bisa, meniru kesuksesan Timothy Tandiokusuma investasi di Holywings. Dia juga pemilik saham bisnis Mixology dan Money Market. Ia mungkin berusia 26 tahun, namun sudah memiliki perusahaan private equity sendiri.

Apa itu private equity menurut pengertian merupakan usaha investasi. Perusahaan yang mengelola dana dari berbagai sumber. Uangnya nanti akan ditaruh dalam bisnis baru baik bisnis startup atau tradisional. Perusahaan milik Timothy bernama Black Boulder Capital atau BBC.

Berkat kerja kerasnya sudah memiliki 15 perusahaan kelolaan. Total aset usaha private equity sampai Rp.1 triliun. Dari segitu banyak, beberapa sangat mencolok, dan Timothy tengah bekerja keras untuk semakin membesarkan.

Pengusaha Sukses


Usaha tersebut antara lain Mixology, usaha F & B atau Food and Bevarage, yang tengah digandrungi anak muda buat nongkrong. Mixology sudah menyebar ke berbagai daerah selain Jakarta, antara lain di Lampung, Surabaya, dan Bali.

Walau dia bukan pemilik tunggal namun bisnisnya moncer. Menaruh telur dalam banyak keranjang, bila Holywings merupakan nomor satu, sekarang Timothy punya saham di nomor duanya, Mixology. Ia mengatakan dalam hal investasi perusahaan butuh kejelasan.

Ya dia tidak sembarangan namun memilih usaha terbaik. "Proyek yang kami pilih umumnya sudah punya track record baik," ia jelaskan. Menjadi investor baiknya mulai menanam modal ketika masih awal. Dia selalu memperhatikan mana usaha baru yang kelak akan menguntungkan.

"Ketika mereka memulai proyek baru, kita ikut di situ, sehingga meminimalisasi risiko kegagalan," terangnya kepada Liputan6.

Tidak sekedar dia berinvestasi ke usaha makanan dan minuman. Atau berinvestasi ke sesuatu yang nampaknya mudah saja. Timothy juga tercatat memiliki saham kecantikan kuku dan bulu mata. Dia menjadi investor untuk brand Joanne Studio, yang fokus menggarap aksesoris kecantaikan wanita.

Joannes Studio merupakan produsen terbesar eyelash extension, yang telah memiliki lebih dari 33 buah cabang dan tersebar di 10 kota. Perusahaanya juga bergerak di bidang money market. Dimana dia bermain di saham, komoditas, dan derivatif.

Investasi Black Boulder Capital juga bermain di Amerika selain Indonesia. Usia muda dan berhasil berbisnis, Timothy mengaku semua berawal ketika usianya masih 17 tahun. Dia yang berkuliah di Seattle University, sempat menjalankan majalah Vuelto yang berbahasa Indonesia di Seattle.

Selama di Amerika Serikat, dia juga menjajal bisnis impor kopi asli Indonesia, dan memang lumayan ketat. Bisnis distributor kopi memang banyak pemaian tetapi dia berhasil. Satu perusahaan membawa kopi khas Indonesia masuk ke tanah Amerika.

Menjadi catatan bahwa Timothy sempat drop out ketika kuliah. Tepatnya ketika kuliah di Washington University, dimana dia lantas pindah ke Seattle dan mantab berbisnis di sana. Dia empat tahun hidup di negeri orang. Timothy mandiri bahkan menolak tawaran melanjutkan bisnis keluarga.

Bahkan dia lebih memilih menetap dan berkuliah di Seattle University. Empat tahun disini, dia lalu kembali ke Jakarta membawa modal Rp.1 miliar, uang hasil tabungannya berbisnis selama masih di Amerika Serikat.

Dia percaya diri membawa bekal pengalaman pula. Timothy mulai berinvestasi usaha kecil- kecilan namun gagal. Timothy bangkrut. Kasihan, semua usahanya tempat berinvestasi gagal, dan membawa kerugian di usianya masih 23 tahun.

Timothy sempat jatuh terpuruk sampai memutuskan bangkit. Baik teman dan keluarga mendukung dia kembali berbisnis. Timothy menemukan jalannya melalui dunia investasi money market. Dimana dia memilih mengelolanya dalam bentuk saham atau non- bisnis.

Hasilnya Timothy mampu menghasilkan uang dan kembali percaya diri. Teman- temannya pun mulai percaya dan berinvestasi dari Rp.25 juta- Rp.50 juta. Uang sedikit itu kemudian dibalikan Timothy berlipat ganda. Percaya diri uang investasi teman- temannya mampu terkumpul sampai miliaran.

Dia kembali mencoba investasi ke sektor rill. Berkat pengalamannya bangkrut dulu, ia memilih untuk menganalisa lebih dahulu. Timothy berinvestasi ke perusahaan berjalan. Ada 15 perusahaan telah dia masuki, dimana perannya sebagai investor pasif maupun semi- pasif.

Timothy siap kembali masuk ke investasi aktif. Melalui proyek premium outlet di kawasan Soewarna di Bandara Soekarno- Hatta, Tangerang, Banten. Dia pun menggandeng pengusaha lain, seperti Rudi Salim, Predisen Direktur Prestige Image Motor, membangun kawasan premium tersebut.

Dia tengah fokus dengan perkembangan namanya factory outlet. Terutama di kawasan Bandung, nah, di kawsan Soewarna tersebut akan dijadikan premium outlet pertama di Indonesia. Total area luasnya 14 ribu meter yang akan dikerjakan pada 2021.

Bila di Bandung tergetnya menengah ke bawah. Maka di premium outletnya akan berkonsep tenant- tenant brand premium. Target mereka adalah produk- produk luar yang dijual lebih rendah. Jadi tidak akan mahal dibandingkan aslinya diluar karena telah lewat musim.

Factory outlet juga bisa menerima barang defect atau tidak sempurna. Dibandingkan perusahaan nanti susah payah menjual ke toko- toko; inilah gunannya premium outlet. Timothy optimis berbisnis cara private equity begini.

Dia terus belajar agar dipercaya perusahaan atau pribadi menanamkan dananya ke Black Boulder. Dia optmis meskipun masih muda. Masih banyak orang menganggap Timothy pemula. Namun yakinlah, dia akan bekerja keras dengan ketekunan tinggi, bahwa mereka akan mempercayakan investasinya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba