Keripik Kimpul Variasi Mahasiswa Pengusaha

Profil Pengusaha M. Tholabuddin dan Arini Kusumaningtyas


bisnis keripik kimpul

Cobalah rasa keripik kimpul variasi mahasiswa pengusaha ini. Mohammad Tholabuddin, alumni Fisipol Administrasi Negara, dan Arini Kusumaningtiyas, alumni Teknologi Industri Pertanian, yang mengembangkan umbi kimpul. Bahan baku bernama latin Xanthosoma Sp, yang lebih umum menjadi pakan ternak.

Mereka berdua menang ajang Shell Livewire Business Startup 2009. Mereka mengalahkan lebih dari 300 pengusaha lain. Uniknya semua berkat umbi bahan pakan ternak tersebut. Nama usahanya adalah Blue Taro Chips. Dikemas dengan kemasan ukuran 100 gram, yang dijual seharga Rp.5000 pada saat itu.

Produk mereka tidak menghasilkan pencemaran lingkungan. Blue Taro Chips ini diproduksi dengan higenis dan menyerap banyak tenaga kerja. Dari Blue Taro, Thola mendirikan perusahaan bernama Kharisma Food, yang memiliki 40 orang karyawan di pabriknya di Magelang.

"Di Bandung produk kami laku keras. Dalam satu bulan, satu ton Taro Chips langsung habis terjual," tuturnya.

Melimpahnya jenis umbi- umbian di Indonesia belum dikembangkan. Tahun 2009, olahan berbahan umbi belum setenar sekarang, salah satunya kimpul yang bahkan sampai sekarang belum setenar ubi ungu dan singkong.

Kimpul sendiri memiliki bentuk seperti jahe sekilas. Telas kimpul mudah ditemukan tetapi banyak menjadi pakan ternak. Dibiki keripik ternyata rasanya tak kalah dari singkong atau ubi ungu. Tetapi taukah kamu, bahwa kimpul juga dijadikan bahan roti, pasalnya bahan ini mudah mengembang ketika diolah.

Namun kemampuan kimpul tak sebaik terigu soal mengembang. Ini karena kandungan kalori dan lemak yang sedikit. Ya, kandungan yang minim itulah yang membuat kimpul lebih sehat. Di beberapa negara dan Indonesia, kimpul lebih ke dijadikan obat- obatan, yang aman buat dikonsumsi penderita diabetes.

Karisma Food menyediakan empat varian rasa, seperti barbeque, keju, jagung manis dan original. Perusahaan telah mampu memproduksi 1- 3 ton perbulan. Thola mampu menghasilkan omzet sampai Rp.50 juta perbulan, dan keuntungannya sampai Rp.20 juta perbulan.

Kisah Aziz Setyawijaya Bisnis Fotografer Nomaden

Profil Pengusaha Aziz Setyawijaya


bisnis fotografer

Kisah Aziz Setyawijaya dikenal berkat bisnis fotografer berkonsep memorial. Dikisahkan dia tidak memiliki kamera. Pengusaha muda lulusa Jurusan Ilmu Politik dan Sosial, Universitas Gajah Mada, yang terlahir dari keluarga sederhana di sebuah desa dekat sungai.

Dia bergabung klub fotografi tetapi tidak punya kamera. Aziz lantas meminjam kamera milik teman- temanya. Kemudian Aziz memiliki ide membuat usaha memorial foto. Bisnis buku memorial yang berisi foto tersebut akhirnya sukses.

Monoton begitu mungkin pikirnya mengenai buku foto lulusan. Ketika kamu lulus SMA, pasti pihak sekolah akan memberikan buku kenang- kenangan. Ide Nomaden muncul dari ketidak puasan Aziz akan buku kenangan. Benda yang lazim diberikan tersebut dirasa belum memiliki konsep baik.

Nomaden Experimental Artworks merupakan bisnis berbasis memorial book organizer. Didirikan di September 2007, menekankan konsep seni fotografi sebagai pengganti profil umum siswa. Dari ini Aziz menjadi finalis Asian Best Entrepreneur versi Majalan BusinessWeek.

Aziz kemudia mengikuti Business Startup Award LiveWire 2009. Ia lolos menjadi finalis dan berhak atas uang 20 juta. Pengusaha muda ini juga mendapatkan pendampingan selama dua tahun. Hasilnya Aziz mampu mengaplikasikan itu ke dalam bisnis- bisnis lainnya.


Menjadi Entrepreneur Berkat Singkong Shoyu Pia Cake

Profil Pengusaha Malariantika Yulianggia


kue pia singkong
 
Nama Malariantika Yulianggia dikenal berkat singkong Shoyu Pia Cake. Menjadi entrepreneur yang masuk dalam daftar Asia's Best Young Entrepreneur 2009, versi Majalan BusinessWeek. Dia sendiri tidak spesifik menginginkan menjadi pengusaha.

Anggi angkatan 2008, Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Universitas Brawijaya Malang. Bermula dari rasa ketertarikan akan bahan baku lokal. Saat itu tahun 2009, belum seramai sekarang olahan ubi masih terbatas, maka ia berinisiatif merubah singkong menjadi produk olahan.

Namanya Shoyu Pia Cake yang berasal dari Bahasa Jepang untuk singkong. Bahan pangan ini sangat berlimpah di Indonesia. Namun ulahanya terbatas kala itu, maka ia menciptakan tepung alternatif pengganti terigu. Bahan tapung tersebut dipakai sebagai pengganti kulit pia yang biasanya.

"Jika dibuat dengan tepung terigu kulit pia mudah pecah," jelasnya. Inilah mungkin yang menjadi dasar dirinya masuk. Ia menemukan tepung alternatif tidak umum pada olahan kue pia.

Pemilihan kue pia karena cukup digemari masyarakat. Biaya produksi kue pia juga murah dibanding membuat kue biasa. Ia membuat modifikasi dengan dua rasa, yaitu Shoyu Pia Kering dan Hot Shoyu Pia. Bicara mengenai ubi ternyata dia tidak sembarangan memilih bahan ubinya.

Anggi memulai usaha bermodal uang cuma Rp.1 juta. Dalam setahun, dia mampu menaikan omzet sampai 7- 11 juta perbulan. Shoyu Pia menggunakan bahan baku mocaf, berupa umbi bunga dahlia dan umbi jalar. Dia memproduksi kue ini di Mertojoyo Malang, yang dibantu 6 orang karyawan.

Shoyu Pia merupakan produk hasil business plan untuk kompetisi. Dia waktu itu duduk dibangku kuliah Semeseter 2. Ini merupakan kompetisi pertama Anggi, dan sampai sekarang masih bisnis ini bertahan. Ia lalu rajin mengikuti banyak kompetisi dan hasil hadiah digunakan modal.

Dia pernah ikut pula kompetisi Shell Live Wire. Anggi sendiri tidak bermaksud menjadi entrepreneur sama sekali. Entrepreneur muda ini ingin membuka lapangan pekerjaan. Ingin menolong sesama, dan akhirnya dia masuk hingga merasakan kesenangan ketika di dalam.

Banyak potensi dapat dikembangkan layaknya bermain game saja. Indonesia merupakan salah satu negera berpotensi. Sebagai generasi penerus, dia ingin menolong sesama, dan memberikan peluang usaha bagi anak muda.

Wanita kelahiran 1 Juli 1990, menjadi pengusaha berarti membuat ide menjadi nyata, dan pikiran itu diwujudkan dalam bentuk bisnis. Dia sebagai pengusaha memiliki kebebasan waktu. Tetapi Anggi mengingatkan manajemen waktu, karena suatu- waktu bisnisnya mungkin membutuhkan kamu.

Jadi Miliarder Sederhana Box Aaron Levie Bercerita

Profil Pengusaha Aaron Levie


 
Jadi miliarder sederhana cukup menjadi diri sendiri. Entreprneur startup Box, pria kelahiran 1985, Aaron Levie tumbuh di Mercer Island hingga akhirnya berkuliah dan keluar dari kampusnya (drop- out), University of Southern California.

Dia memilih keluar dari kuliah, lalu membesarkan bisnis komputer cloud dari kamarnya. Dia dikenal sebagai miliarder muda, entrepreneur Amerika dan inovator komputer. Sang penemu layanan caloud Box, sebuah platform komputer yang kemudian berubah menjadi Box.Inc.

Mereka perusahaan penyedia jasa penyimpanan data. Dari bisnis Box.com, Aaron menjadi seorang multi jutawan dengan total aset $100 juta. Tampil sebagai CEO perusahaan yang berkembang pasat, Box.Inc menawarkan bisnis kebebasan penyimpanan data gratis hingga premium.

Bisnis dari Kamar


Kliennya sekelas Google dan Twitter yang mewakili era komputerisasi. Aaron selalu sibuk menulis kode di depan layar komputer. Dia sangat sibuk bahkan sekedar untuk keluar dari kamar. Pengusaha muda yang tidak pernah meninggalkan kantor dari malam hingga dini hari.

"Saya berkerja sangat keras berjam- jam, saya suka apa yang saya lakukan. Saya sangat terstimulasi dan bergairah untuk bekerja," ucap Aaron.

"Tetapi di waktu sama, saya menyadari anda harus memiliki level tertentu untuk disiplin dan punya ketetapan hati untuk hidup sukses -anda bekerja keras dan membuat lifestyle sebagai pengorbanan. Itu termasuk untuk semua orang." 

Menurutnya pengusaha harus rela berkorban lifestyle. Bekerja keraslah daripada memilih bersenang- senang dahulu. Tundalah gaya hidup kamu sampai mencapai tujuan. Mendisplinkan diri dan punya ketetapan hati untuk menjadi entrepreneur sukses.

Meski, perusahaan miliknya kini telah berkembang secara pesat, menghasilkan jutaan dollar seketika. Ia menjalankan semua dari kamar di kampusnya, dan kemudian pindah ke apartemen ditengah kota.  Dia sebagai CEO dan pendiri sedangakan seorang teman Dylan Smith bekerja sebagai co- founder.

Mereka tidak pernah lepas dari kehidupan sekitar komputer sejak masa kuliah. Aaron dan Dylan hidup bersusah payah. Mereka anak kuliahan yang mempunya uang buat sekedar makan. Aaron bahkan mengawali akhir tahunnya dengan banyak berhemat.

Keduanya akan kembali duduk di depan komputer sepanjang hari, dan makan mie instant. Ini seperti kebanyakan start- up bisnis, perusahaanya memiliki dana terbatas sebagai modal dan sumber modal terbaik mereka hanyalah kantong mereka sendiri.

"Kami memiliki uang yang sedikit untuk memulai. Saya harus membayar diri sendiri hanya $500 perbulan dan hidup dengan mie instan dan spageti."

"Dan untuk awal dua tahun pertama dan setangah tahun saya harus tidur di matras di kantor. Itu hidup seperti di sebuah kapal selam- Saya akan menggulung matras dan mulai bekerja. Saya akan pergi lebih dari dua hari tanpa keluar kantor."

Melaju empat tahun didepan, Aaron seharusnya hidup mewah dari bisnisnya. Ketika kini di usia 20 tahun, dia mengaku sama sekali tidak tertarik hidup mewah sama sekali. Baginya yang terpenting ia tidak lagi harus tidur di lantai dengan hanya matras.

Dia memiliki apartemen cukup berkendara sekitar tiga jam ke kantor. Entrepreneur muda yang kini menikmati spagetinya selain mie instant. Ia sering terlihat beberapa kali melakukan pertemuan bisnis di McDonald. Tidak ada yang berubah, tetapi kehidupannya kini menjadi lebih baik berkat Box.

"Saya yakin tidak untuk uang dan wibawa. Untuk saya itu tidak semenarik daripada orang yang berhasil hidup untuk menciptakan suatu produk. Itulah yang mendorong saya."
 
Dia mungkin menghasilkan jutaan dollar.  Box.com menawarkan layanan penyimpanan data, bekerja sama dengan perusahaan besar seperti Google Apps, Gmail, Netsuite, dan Salesforce. Box.Inc memberikan playanan freemium (free & premium), memberikan layanan gratis hingga berbayar VIP.

Aaron memiliki moto bekerja untuk bekerja sama, dan berbagi untuk setiap file yang disimpan. Salah satu yang terbaik, jasa OpenBox memberikan platform berbagi tanpa batasan. Itu memungkinkan orang menyimpan dan membagi filenya di berbagai situs media seperti Twitter.

Bahkan, Box hadir diaplikasi android untuk iPad pertengahan 2012. Kita cukup mengunduh aplikasi, menginstal, kemudian jadilah sebuah ruang khusus penyimpanan tanpa batas. Kita bisa mengupload agenda, foto, video atau aplikasi lain.

Perusahaan miliknya mengambil manfaat dari kurang efisiennya penyimpanan data. Levie melalui perusahaanya membuat orang tidak perlu membeli lagi hard drive atau server sendiri. Orang cukup menyewa tempat menaruh semua data ke Box, lalu memakai gadget mengunduh filenya kembali.
 

Bisnis Cloud Computing


Mereka melayani penyimpanan file untuk perusahaan, bisnis kecil, dan bahkan personal. Inti dari layanan Box.Inc merupakan layanan menyangkut file sharing, kolaborasi, dan bekerja untuk file- file yang diupload di Box.com.

Di awal bisnis mereka mendapat investasi pertama dari Mark Cuban di 2005, dan naik $1,5 juta dari Dreper Fisher Jurvetson di 2006. Di akhir 2007, perusahaan mendapatkan investasi sebanyak dua kali. Pertama, Box mendapatkan $6 juta dan $7.1 juta dari U.S Venture Partners dan Dreper Fisher Jurvetson.

Dari keseluruhan, perusahaan Box.Inc mendapatkan $14,6 juta. Tetapi kenapa Aaron tetap makan mie instan. Mengapa dia tetap tinggal di apartemen sederhana dan bersepeda. Pendapatan Box mencapai $70 juta naik 160% dari 2011.

Itu bernilai sekitar $1 miliar setelah mendapatkan banyak investasi. Box tidak terlalu buruk sebagai bisnis yang diluncurkan di 2005 oleh dua orang drop- out. Mereka, Aaron Levie dan Dylen Smith, mampu menunjukan bakat mereka diluar masalah akademik.

Dari Oktober 2009, perusahaan mengakuisi Increo Solution, platform perangkat pembaca dokumen dan media Blackboard dan Embedit. Hasilnya di 2007, Box meluncurkan kemudahan memasang, menimpan dan melihat file langsung dari mana saja kapan saja, di seluruh jaringan internet dunia.

Pertengahan 2012, perusahaan mendapat investasi $120 juta dari General Atlantic. Box.Inc memiliki total aset $1,2 atau $1,5 miliar. pertama kali diluncurkan, di tahun 2005, banyak sekali orang yang belum pernah mendengar komputer cloud, dan tidak percaya akan teknologi itu.

Mereka tidak yakin dengan berbagai isu keamanan serta jaminan kecepatan upload data. Hal itu menjadi tantangan tersendiri ketika Aaron harus bekera keras siang malan untuk membuktikan ini masa depan.

"Anda harus mengingat industri komputer sangat berbeda di tahun 2005. Itu adalah lima tahun sebelum iPad lahir."

Box mendapatkan banyak penolakan dari investor. Mereka adalah investor yang potensial tetapi tidak bisa ikut menikmati booming layanan data cloud pertama kali. Tetapi, tetap percaya diri, ia tetap mencari investor yang lain dengan beberapa surat terbuka.

Meski mereka kebanyakan berkata "tidak", tidak akan pernah menumbangkan semangat. Akhirnya, Box sendiri menjadi perusahaan yang menolak mereka (yang menolak). Box menolak segala upaya pembelian dari sejumlah perusahaan tersebut. Siapa yang tertawa terakhir?

Jadi miliarder sederhana bisnis ini memiliki perkembangan fundamental. Kita butuh membuat dasar industri komputer. Box sendiri memiliki kesempatan tidak terbatas untuk maju. Industri data sangat menjanjikan, terutama bagi mereka yang bisa lebih cepat.

Berkat Dimentori Kini Pengusaha Tas Kulit Nasional

Profil Pengusaha Aesta Fajar


pengusaha tas kulit
 
Berkat dimentori Wawan Hermawan pada 2015, Aesta Fajar belajar menjadi pengusaha tas kulit nasional. Perusahaan ekspor impor tas asal Yogyakarta, yang tertarik mengajak empat pemuda ini dalam inkubasi bisnis. Mereka akan bekerja sekaligus diajari cara menjadi pengusaha di masa depan.

Mereka lalu mendirikan Alra Lifestyle berbisnis tas kulit. Mengapa memilih berbisnis tas kulit, ya karena prospek harga jualnya baik di Yogyakarta. Selain bisnis tas kulit mereka juga merambah tas kanvas batik. Nama Alra sendiri merupakan akronim dari ucapanya syukur dalam bahasa Arab.

Perjalan bisnis tas Alra Lifestyle tergolong tidak mudah. Total lima orang bersama dirinya mencoba berbisnis. Mereka berasal dari latar belakang beda, ada yang teknik industri, IT, teknik kulit, dan desain produk. Mereka menjadikan satu pengetahuan masing- masing untuk berbisnis.

Semua bermula ketika pihak kampus mengajukan kerja magang. Ini menjadi salah satu syarat lulus Jurusan Manajemen, Universitas Islam Indonesia (UII). Dia magang ke PT. Harpa Inti Mandiri, yang pemiliknya Pak Wawan, dan bertemu empat orang pemagang lain.

Di perusahaan terdapat 20 orang pekerja tetap. Dengan 10 orang pekerja yang menjadi pengrajin tas kulit. Kenapa Fajar bisa sampai disana karena pernah bertemu Wawan. Saat itu, di Kadin Yogyakarta, sang Wakil Ketua Kadin itu memanggil sang mahasiswa yang tujuh tahun kuliah tidak lulus.

Mencoba Tes Pasar


Dia sempatkan buat meminta jalur buat magang di perusahaan. Ia bertemu empat orang tersebut, dan ternyata berakhir meminta lebih. Mereka sepakat meminta tidak cuma bekerja magang di sana. Minta agar bisa diajari menjadi pengusaha kerajinan seperti dirinya.

Kelima pemuda ini lalu mulai menjalankan bisnis Alfra Lifestyle. Mereka tidak memiliki karyawan satupun. Bisnis dibawah naungan inkubasi milik Herpa Inti. Fajar bersama empat rekannya memilih bisnis tas kulit dan kanvas. Ini sesuai dengan potensi Yogyakarta yang banyak tas kulit dan batik.

Prinsip bisnisnya bahwa tas bukan sekedar fungsional. Ini sudah masuk gaya hidup bukan lagi cuma ketika butuh. Awal bisnis, dia menaruh proses produksi ke pihak ketiga, sementara soal desain dia dan kawan- kawan lakukan sendiri.

Berbisnis bukan hal baru bagi seorang Aesta Fajar. Dia pernah menjadi pemasok bawang ke sejumlah pasar di Bringharjo, Yogyakarta. Maklum dia kelahiran Tegal, yang dikenal sebagai produsen bawang walau akhirnya rugi. Fajar lalu menutup bisnis tersebut memilih membuka usaha baru.

Sebelumnya, Fajar pernah berbisnis ikan bermodal uang dari PT. Pegadaian, dan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Modal ini kemudian dijadikan modal berbisnis bawang tadi. Pada 10 bulan pertama, Fajar memilih mengetes pasar karena tidak tau model, warna, dan berapa harganya.

Mereka lalu membuat aneka bentuk tas, tetapi tidak terlalu banyak. Tim Alfra kemudian mengikuti pameran dan menawarkan ke teman terdekat. Selama perjalanan, tanpa menghasilkan apapun, hingga mulailah teman- temannya hengkang satu- persatu.

Karena tidak memiliki modal Fajar rela mencari celah. Termasuk mengikuti pameran gratisan demi publisitas. Ia rajin mengikuti pameran Pemerintah Daerah Yogyakarta, atau dari Dinas Perindustrian dan Dinas Kebudayaan. Dia mendapatkan jawaban ketika mengikuti aneka pameran tersebut.

"Lebih senang yang minimalis. Untuk warna, babay pink atau kuning," jelasnya.

Walau demikian dia tetap memproduksi aneka warna. Inilah kunci sukses Alra Lifestyle dimana dia punya banyak warna. Sistem kemitraan juga dirasakan cocok memasarkan produk. "Selama pameran, banyak yang tanya, kalau beli lebih dari satu dapat diskon berapa," tuturnya.

Mereka ternyata tanya karena ingin menjual kembali. Sekarang, Alra Lifestyle memiliki lebih dari 20 reseller tersebar di Jawa dan Sumatera. Keputusan lain datang ketika dia menghentikan penjualan tas kanvas. Semua itu karena harga jual tas kanvas menjadi lebih murah, dibanding tas kulit miliknya.

Ternyata semua keputusan karena dia mengetest pasar dahulu. Fajar mengatakan, dua produk dalam satu wadah bisnis fashion, justru akan menghabat satu sama lain. Sebab pengembangan produk- produk fashion itu bersifat terus menerus, dan pengusaha membutuhkan modal yang besar.

"Kami kan baru mulai usaha, maka memutuskan untuk stop dulu yang kanvas," jelas Fajar.

Strategi Bisnis


Tahun 2016, dia menjajal mengikuti ajang Innovating Jogja, kompetisi berbasis inovasi industri batik, kulit, dan kerajinan. Ajang kerja sama antar negara Europen Union- Indonesia Trade Cooperation Industry. Alra masuk 12 pemenang dan ikut program akselerasi, dan mendapatkan modal Rp.30 juta.

Ia kemudian mendapat masukan soal legalitas hak kekayaan intelektual dan badan hukum. Fajar juga pemenang dari Wirausaha Muda Mandiri 2016, Kategori Industri Perdagangan dan Jasa Kelompok Mahasiswa Sarjana dan Diploma.

Berkat dimentori Fajar mendirikan PT. Alra Makmur Cahaya Selaras. Pengusaha tas kulit yang kini mempunya banyak karyawan. Ia mulai membagi tugas perusahaan ke beberapa orang lain. Bila kamu ingin punya usaha besar maka kerjakan dalam tim.

Dia membangun standar operasional agar tidak keroyokan. Tiap orang akan memiliki fungsi masing- masing. "...sifatnya saya sebagai kontrol," tuturnya.

Ia lalu membuka bengkel pembuatan tas sendiri di Bantul. D isini dikenal sebagai sentra kerajinan, alhasil memiliki sumber daya manusia dan bahan baku cukup. Fajar pernah punya pengalaman pahit soal kongsi pihak ketiga.

Dia mengatakan mereka terkadang membuang- buang bahan baku. Ambil contoh, satu bahan kulit yang harusnya menjadi dua tas, malah cuma jadi satu tas oleh sang penjahit. Dengan membuka satu bengkel sendiri, dia kini memiliki pegawai di bagian penjahitan yang lebih efektif.

Fajar menjual melalui media online sejak 2017, dari Facebook, Instagram, dan juga toko online. Dia menjelaskan bukan cuma mengurangi biaya. Tetapi juga agar mendapatkan sorotan sehingga naiklah penjualan. Cara konvensional memang membuat penjualan naik, tetapi biaya dikeluarkan ikutan naik.

Awal 2018, dia fokus mengerjakan pasar online secara konsisten dan komprehensif. Fajar merekrut orang khusus mengurusi digital marketing. Penjualan produk meningkat, satu tas seharga Rp.500 ribu sampai Rp.1 jutaan, dan setiap bulan dia mampu menghasilkan Rp.200- Rp.450 juta.

Ini hanya bermula dari ketika dia mengikuti ajang Inacraft. Fajar yang niatnya mau membawa tas berwarna camel, eh malah membawa tas berwarna kuning. Dari situ, fungsi tes pasar menghasilkan sesuatu, ia menyadari bahwa orang menyukai warna cerah terutama ketika diaplikasikan di tas kulit.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba